SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT by EmbunPagi11

VIEWS: 4,296 PAGES: 14

									SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT
             ADAT JAWA


                Tugas Kelompok
            Mata Kuliah: Hukum Adat
             Dosen: Drs.Suryarama




                   Disusun Oleh :
              1.   Eva Saputri
              2.   Feti Farida Fatma
              3.   Kusrinawati
              4.   Melly Kustina
              5.   Pajar Agustian
              6.   Tri Wahyu Nugroho


       KELAS:         PAGI / SEMESTER III


   FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

         UNIVERSITAS PAMULANG

     Jalan Surya kencana nomor 1, Pamulang
                            KATA PENGANTAR




    Puji syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT, karena berkat karuniaNya
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Hukum Adat ini tepat pada waktunya.

    Makalah Hukum Adat ini penulis beri judul “Sistem Kekerabatn Masyarakat
Adat Jawa”. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas pada mata
kuliah Hukum Adat semester 3 di Universitas Pamulang,Fakultas Keguruan Ilmu
Pendidikan.

    Selama proses penulisan makalah ini telah banyak bimbingan, pengajaran,
kritik dan saran. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak
Drs.Agus Ika Wijaya M.Pd selaku dosen mata kuliah Hukum Adat.

    Penulis menarik kesimpulan bahwa di dalam penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan. Oleh Karena itu penulis mengharapkan kritik, saran, ide, dan
gagasan yang bersifat membangun guna mencapai kesempurnaan. Penulis
berharap semoga makalah ini dapat barmanfaat bagi kita semua.




                                                    Pamulang, Desember 2010




                                                                Penulis




                                      ii
                                               DAFTAR ISI


HALAMAN DEPAN .......................................................................................             i
KATA PENGANTAR .....................................................................................              ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................     iii
BAB I                PENDAHULUAN ...................................................................              1
                     1.1 Latar Belakang ..................................................................        1
                     1.2 Tujuan ...............................................................................   2
                     1.3 Pembatasan Masalah .........................................................             2
BAB II               PEMBAHASAN ......................................................................            3
                     2.1 Sistem Kekerabatan Masyarakat Adat Jawa ......................                           3
                     2.2 Kebiasaan Menetap Setelah Menikah dalam Masyarakat
                          Adat Jawa ...........................................................................   3
                     2.3 Hubungan Antar Individu dalam Keluarga ........................                          3
                     2.4 Pergeseran Fungsi Kekerabatn Adat Jawa .........................                         4
BAB III              PENUTUP ................................................................................     7
                     3.1 Kesimpulan ........................................................................      7
                     3.3 Daftar Pustaka ....................................................................      8




                                                          iii
                                       BAB I


                              PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang dan Masalah

      Menurut L. James Havery, system adalah prosedur logis dan rasional

   untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan

   yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam

   usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

      Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga

   yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota

   kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman,

   bibi, kakek, nenek dan seterusnya

      Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur

   sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu

   masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari

   masyarakat yang bersangkutan.

      Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang kuat dalam sistem

   kekerabatan meskipun hal tersebut tidak diwujudkan ke dalam penyematan

   nama keluarga dibelakang nama pribadi para anggota masyarakatnya. Sistem

   kekerabatan Jawa dapat dilihat dari urutan generasi, dimulai dari tingkat anak,

   keatas yaitu cucu-buyut-canggah-wareng-udek udek-gantung siwur-galih

   asem-debog bosok.
      Berdasarkan latar balakang di atas, penulis tertarik dan termotivasi untuk

   melakukan penelitian yang lebih mendalam dengan mengajukan judul

   makalah:


   “SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT ADAT JAWA”




1.2 Tujuan

      Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

   1. Memberikan wawasan dan penjelasan kepada pembaca mengenai system

      kekerabatan dalam masyarakat Adat Jawa

   2. Agar penulis dan pembaca sama-sama mengetahui tentang kekerabatan

      dalam masyarakat Adat Jawa.



1.3 Pembatasan Masalah

      Karena pembahasan tentang system kekerabatan masyarakat Adat Jawa

   yang begitu kompleks, maka penulis membatasi masalah yang akan dibahas

   dalam makalah ini sebagai berikut;

      1. System Kekerabatan Masyarakat Adat Jawa

      2. Kebiasaan Menetap Setelah Menikah dalam Masyarakat Adat Jawa

      3. Hubungan Antar Individu dalam Keluarga

      4. Pergeseran Fungsi Kekerabatan Adat Jawa
                                 BAB II


                            PEMBAHASAN


A. System Kekerabatan Masyarakat Adat Jawa

           Sistem kekerabatan orang Jawa berdasarkan prinsip keturunan

   bilateral (garis keturunan diperhitungkan dari dua belah pihak, ayah dan

   ibu). Dengan prinsip bilateral atau parental ini maka ego mengenal

   hubungannya dengan sanak saudara dari pihak ibu maupun dari pihak

   ayah, dari satu nenek moyang sampai generasi ketiga, yang disebut sanak

   saudulur (kindred). Khusus di daerah Yogyakarta bentuk kerabat disebut

   alur waris (sistem trah), yang terdiri dari enam sampai tujuh generasi.

           Dari sistem kekerabatan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam

   masyarakat adat jawa adalah sebagai berikut :

   1. Seorang ego mempunyai dua orang kakek dan dua orang nenek

   2. Suku Jawa mengenal keluarga luas (kindred)

   3. Hak dan kedudukan anak laki-laki dan perempuan sama, dimata

      hukum.

   4. Adat setelah menikah adalah Neolokal.

   5. Perkawinannya bersifat Eksogami, meskipun ada yang melakukan

      perkawinan Cross Cousin.

   6. Perkawinan yang dilarang antara lain:

      a. Ego menyebut orang tua laki-laki dengan Bapak atau Rama

      b.   Ego menyebut orang tua perempuan dengan Simbok atau Biyung
c. Ego menyebut kakak laki-laki dengan Kamas, Mas, Kakang Mas,

   Kakang, Kang.

d. Ego menyebut kakak perempuan dengan Mbak Yu, Mbak, Yu.

e. Ego menyebut adik laki-laki dengan Adhi, Dhimas, Dik, Le.

f. Ego menyebut adik perempuan dengan Adhi, Dhi Ajeng, Ndhuk,

   Dhenok.

g. Ego menyebut kakak laki-laki dari ayah atau ibu dengan Pak Dhe,

   Siwa, Uwa.

h. Ego menyebut kakak perempuan dari ayah atau ibu dengan Bu

   Dhe, Mbok Dhe, Siwa.

i. Ego menyebut adik laki-laki dari ayah atau ibu dengan Paman, Pak

   Lik, Pak Cilik.

j. Ego menyebut adik perempuan dari ayah atau ibu dengan Bibi,

   Buklik, Ibu Cilik, Mbok Cilik.

k. Ego menyebut orang tua ayah atau ibu baik laki-laki maupun

   perempuan dengan Eyang, Mbah, Simbah, Kakek, Pak Tua.

   Sebaliknya Ego akan disebut Putu.

l. Ego menyebut orang tua laki-laki/ perempuan dua tingkat diatas

   ayah dan ibu Ego dengan Mbah Buyut. Sebaliknya Ego akan

   disebut dengan Putu Buyut, Buyut.

m. Ego menyebut orang tua laki-laki/perempuan tiga tingkat diatas

   ayah dan ibu Ego dengan Mbah Canggah, Simbah Canggah,Eyang

   Canggah. Sebaliknya Ego akan disebut Putu Canggah, Canggah.
B. Kebiasaan Menetap Setelah Menikah dalam Masyarakat Adat Jawa

           Kebiasaan menetap setelah menikah dalam masyarakat adat jawa tidak

   tertumpu pada suatu pola yang kaku. Pasangan yang baru boleh menetap di

   lingkungan keluaraga pihak istri atau dapat pula di lingkungan pihak keluarga

   suami, tetapi kecenderungan yang umum adalah mereka lebih suka tinggal di

   rumah mereka yang baru, lepas baik dari orangtua istri maupun suami (neolokal).

   Menurut hasil penelitian, kecenderungan ini tampak lebih nyata di daerah

   pedesaan sehingga setiap rumah tangga secara umum dihuni oleh keluarga inti

   yang terdiri dari seorang suami, seorang istri, dan anak-anaknya yang belum

   kawin. Di kota, karena sulitnya mencari sebidang tanah untuk membuat rumah

   yang baru, kecenderungan di atas agak tidak begitu nyata. Sebaliknya, banyak

   kita dapatkan rumah-rumah di kota dihuni oleh keluarga luas, yaitu suatu

   keluarga yang terdiri dari lebih dari sebuah keluarga inti.

           Walaupun (khususnya di desa) kecenderungan untuk membentuk

   keluarga inti dengan memisahkan diri dari keluarga orangtua cukup besar, namun

   ini tidak berarti bahwa hubungan mereka dengan keluarga orangtua, saudara-

   saudara sekandung atau juga sanak kadang yang lain terputus sama sekali.

   Apakah tempat tinggal keluarga baru itu ada di dekat sanak-kadang dekat atau

   tidak, kebiasaan saling berkunjung yang mereka lakukan secara informal, tidak

   terhenti setelah suatu keluarga baru itu misah. Misah membuat baik suami

   ataupun istri dari keluarga baru itu sama-sama mempunyai tanggungjawab atas

   rumah tangganya.

           Ada kebiasaan dari para orangtua yang mampu untuk membekali

   anaknya yang misah itu dengan barang gawan yang dapat berupa barang

   perhiasan emas, ternak, sebidang tanah, atau perkakas rumah tangga. Barang
   gawan kadang-kadang dapat juga berupa barang-barang yang diperoleh seseorang

   melalui waris. Dalam hal waris, adat Jawa tidak membedakan jumlah yang harus

   diterima oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Seorang istri yang berasal dari

   keturunan orang kaya, sangat mungkin mempunyai barang gawan yang nilainya

   atau jumlahnya jauh lebih besar dari yang dimiliki suaminya. Barang gawan

   tersebut adalah milik pribadi yang tidak akan jatuh ke tangan istri atau suami

   seandainya terjadi perceraian.



C. Hubungan Antar Individu dalam Keluarga

           Kata omah dalam bahasa Jawa mempunyai beberapa pengertian.

   Omah dapat berarti rumah atau bangunan rumah, dapat berarti tempat

   tinggal, atau dapat juga berarti betah atau krasan. Arti yang terakhir ini

   rupanya berhubungan dengan gambaran ideal tentang suasana yang

   semestinya ada di dalam somah rumah tangga.

           Secara umum tanggungjawab ayah dan ibu terhadap anak-anaknya

   adalah sama. Kalau berbeda mungkin hanya dalam bentuk penampilannya,

   tetapi intinya sama. Namun dalam kenyataannya, hubungan antara ayah

   dan anak mempunyai pola yang berbeda dengan hubungan antara ibu dan

   anak. Sifat hubungan inilah yang membuat inti tanggung jawab yang sama

   tadi lalu dirasakan oleh si anak, yang kemudian menumbuhkan perhatian

   yang berbeda. Setelah anak menjadi besar, sifat hubungan antara ayah

   dengan anak mengarah pada hubungan yang bersifat kaku, berjarak, dan

   formal. Anak harus bersikap hormat, merendah, tidak bergurau, apalagi

   menentang. Suasana dan sifat hubungan semacam ini akan tampak lebih
nyata pada hubungan antara ayah dan anak laki-laki dewasa. Anak laki-

laki akan merasa kikuk di hadapannya sehingga ia merasa lebih baik

menghindar saja. Perasaan anak perempuan sering lebih bebas, tetapi kalau

terlalu dekat dengan ayahnya, orang akan memandang hal yang demikian

sebagai saru. Jadi, dalam hal ini, baik dengan anak laki-laki maupun anak

perempuan hubungan ayah tetap jauh.

       Dibandingkan dengan sifat hunbungan antara ayah–anak tersebut

di atas, hubungan antara ibu-anak jauh lebih bebas dan dekat. Anak

biasanya akan bersikap lebih mematuhi aturan di hadapan ayahnya, tetapi

di hadapan ibunya ia lebih cenderung memperlihatkan “akunya”. Di

hadapan ibulah anak merasa “menjadi dirinya sendiri”, sementara ibu juga

mengerti akan hal itu. Akibatnya, di dalam keluarga ibu adalah yang harus

dicintai dan ayah adalah yang harus dihormati.

       Hubungan yang renggang yang kadang-kadang disertai sikap

menghindar selain tampak pada ayah dan anak (terutama anak lagi-laki),

tidak jarang juga pada hubungan saudara laki-laki sekandung. Sebagai

akibatnya, anak laki-laki biasanya lebih akrab dengan anak laki-laki lain

yang bukan saudara sekandungnya. Dari hal tersebut kiranya dapat kita

mengerti mengapa di dalam masyarakat Jawa laki-laki lebih banyak

berpikir ke luar daripada ke dalam lingkungan keluarga sendiri. Wanita

rupanya lebih banyak berpikir ke dalam sebab hubungan antara anak

dengan ibu lebih dekat, dan hubungan antara saudara sekandung wanita

demikian juga. Akibatnya, wanita merasa lebih krasan di rumah.
          Uraian di atas memberi dasar pengertian bahwa untuk urusan

   rumah tangga wanita mempunyai peluang yang lebih luas. Sehubungan

   dengan hal itu, maka proses sosialisasi dan enkulturasi seorang wanita

   Jawa umumnya terisi dengan bimbingan dan pengarahan untuk menjadi

   seorang ibu rumah tangga yang baik.



D. Pergeseran Fungsi Kekerabatan Masyarakat Adat Jawa

          Dalam masyarakat Jawa, adanya istilah kindred (keluarga luas)

   menunjukkan arti penting dalam kebersamaan keluarga luas. Namun,

   dalam kehidupan keluarga saya, masing-masing anggota keluarga lebih

   fokus terhadap keluarga intinya, namun hal itu tidak memutus tali

   silahturahmi antar anggota keluarga luas, walaupun memang frekuensi

   silahturahmi tersebut jarang.

          Selain itu, sebutan atau panggilan yang menunjukkan kekerabatan

   keluarga sedikit demi sedikit telah terkikis. Sebagai contoh, dalam

   keluarga saya dalam memanggil orang tua perempuan (ibu) tidak dengan

   panggilan “simbok” atau “biyung”, namun dengan panggilan “mama”.

   Begitu pula dalam memanggil adik laki-laki dari ayah atau ibu, keluarga

   saya menggunakan panggilan “oom” dan panggilan untuk adik perempuan

   dari ayah atau ibu adalah “tante”.

          Dalam hal melanggar perintah dan nasihat orang tua di masyarakat

   Jawa juga mulai tergeser nilainya. Bukan berarti melanggar perintah dan

   nasihat orang tua itu mulai diperbolehkan, namun maksud dari pergeseran
tersebut adalah pergeseran pola pikir yang tadinya sikap menaati perintah

dan nasihat orang tua adalah untuk menghindari “kuwalat“, namun

sekarang karena menghindari timbulnya dosa dan sebagai sikap hormat

terhadap orang yang lebih tua.


Faktor-faktor penyebab perjadinya pergeseran fungsi:


a. Jarak tempat tinggal antar satu anggota lain yang terlalu jauh.

b. Lingkungan sekitar masing-masing keluarga inti yang telah banyak

   mempengaruhi cara hidup anggotanya, terutama yang berdomisili di

   luar lingkungan Jawa.

c. Adanya pengaruh media massa dalam merepresentasikan kehidupan

   keluarga.

d. Adanya pengaruh kepercayaan religi (agama) sehingga sedikit

   menggeser nilai kepercayaan Jawa.

e. Cara pernikahan yang eksogami, sehingga terpengaruh pula oleh suku

   lain
                                BAB III


                              PENUTUP


A. Kesimpulan

         Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat di ambil kesimpulan

  bahwa Sistem kekrabatan orang Jawa didasarkan pada prinsip keturunan

  bilateral (garis keturunan diperhitungkan dari dua belah pihak, ayah dan

  ibu). Dengan prinsip bilateral atau parental ini maka individu mengenal

  hubungannya dengan sanak saudara dari pihak ibu maupun dari pihak

  ayah, dari satu nenek moyang sampai generasi ketiga, yang disebut sanak

  saudulur (kindred). Khusus di daerah Yogyakarta bentuk kerabat disebut

  alur waris (sistem trah), yang terdiri dari enam sampai tujuh generasi.

         Di dalam masyarakat adat Jawa, tata cara sopan santun pergaulan

  sehari-hari berlaku diantara kelompok kerabat (kinship behavior). Bagi

  orang muda adalah keharusan menyebut seseorang yang lebih tua darinya

  baik laki-laki maupun perempuan dengan istilah tersebut diatas, karena

  orang yang lebih tua dianggap merupakan pembimbing, pelindung, atau

  penasehat kaum muda. Melanggar semua perintah dan nasihat kaum tua

  dapat menimbulkan sengsara yang disebut dengan kuwalat.
                              Daftar Pustaka


1. http://mhs.blog.ui.ac.id/niken.puspitaningrum/2009/06/17/fungsi-kekerabatan-

   suku-jawa/

2. http://r4g3sblog.blogspot.com/2010/07/sistem-kekerabatan-komunitas-

   dan-sistem.html

3. Ibda` | Vol. 5 | No. 2 | Jul-Des 2007 | 204-216 5 P3M STAIN Purwokerto |

   Nawawi

4. Kodiran. 2002. ”Kebudayaan Jawa”. Dalam Koentjaraningrat (Ed.).

   Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan

								
To top