ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KELAUTAN DAN KEDIRGANTARAAN BAB VII ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KELAUTAN DAN KEDIRGANTARAAN A PEN by gno14230

VIEWS: 254 PAGES: 44

More Info
									ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI,
  KELAUTAN, DAN KEDIRGANTARAAN
                             BAB VII

          ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI,
            KELAUTAN, DAN KEDIRGANTARAAN


A. PENDAHULUAN

      Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam
Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam (Repelita VI) ditujukan
untuk meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin bagi rakyat, dengan
menerapkan nilai-nilai iptek, mendorong pemanfaatan, pengem-
bangan, dan penguasaan iptek secara seksama dan bertanggung jawab,
dengan senantiasa memperhatikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai
luhur budaya bangsa. Nilai-nilai iptek disebarluaskan melalui upaya
pengembangan iptek dalam mengatasi masalah dan tantangan
pembangunan, menciptakan sistem dan produk baru yang inovatif dan
kompetitif, serta mengembangkan budaya iptek sebagai bagian dari
budaya bangsa. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pene-
litian dan pengembangan, serta pemasyarakatan iptek yang didukung
oleh peningkatan kemampuan dalam sarana dan prasarana serta
kelembagaan iptek dalam proses transformasi teknologi dan industri


                                                              VII/3
secara bertahap. Upaya tersebut dilaksanakan melalui program teknik
produksi, teknologi, ilmu pengetahuan terapan, ilmu pengetahuan
dasar, dan program pengembangan kelembagaan iptek.

     Pembangunan kelautan diarahkan pada pendayagunaan sumber
daya laut dan dasar laut serta pemanfaatan fungsi wilayah laut nasio-
nal, termasuk Zona Ekonomi Eksklusif yang ditujukan untuk mening-
katkan kesejahteraan rakyat serta memperluas kesempatan usaha dan
lapangan kerja. Guna menunjang program pemanfaatan sumber daya
kelautan yang optimal dan lestari, data dan informasi tentang kelautan
terus digali dan disempurnakan melalui program inventarisasi dan
evaluasi potensi laut. Pembangunan kelautan juga dilaksanakan untuk
mendukung dan memperkuat tegaknya kedaulatan dan yurisdiksi
nasional.

     Pelaksanaan pembangunan kelautan pada tahun 1996/97 antara
lain menghasilkan data potensi sumber daya kelautan yang meliputi
flora dan fauna di beberapa perairan Indonesia, dan pengembangan
teknik budidaya biota laut. Selain itu melalui Konvensi Nasional
Pembangunan Benua Maritim Indonesia telah dihasilkan kerangka
dasar pembangunan kelautan sebagai aktualisasi Wawasan Nusantara,
dan telah pula diselesaikan peta batimetri wilayah laut terluar di
Selatan Jawa Barat dan verifikasi titik-titik pangkal Selatan Pulau
Jawa, Barat Pulau Sumatera, dan Selat Malaka dalam rangka pene-
tapan batas laut nasional.

     Pembangunan kedirgantaraan ditujukan pada upaya memperoleh
pengakuan internasional atas hak penggunaan wilayah dirgantara
nasional dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
menghasilkan produk dan jasa kedirgantaraan. Kemampuan peman-
faatan wilayah dan sumber daya dirgantara terus dikembangkan
melalui penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi

VII/4
dalam penggunaan sumber daya yang terdapat di udara untuk keper-
luan energi, pertanian dan industri, pembangunan industri dirgantara,
serta pemanfaatan udara sebagai media transportasi. Selain itu peman-
faatan kawasan antariksa untuk penempatan satelit, penyediaan jasa
kedirgantaraan, penginderaan jarak jauh, survei dan pemetaan udara,
serta prakiraan iklim dan cuaca terus dilakukan.

     Pelaksanaan pembangunan kedirgantaraan tahun 1996/97 antara
lain menghasilkan pengakuan internasional atas kinerja pesawat
terbang N250 buatan Indonesia melalui berbagai uji coba baik di
dalam negeri maupun di luar negeri, pengetahuan tentang peman-
faatan teknologi inderaja seperti untuk pembuatan peta rupa bumi
berbagai skala, peta citra, dan peta digital untuk kebutuhan peren-
canaan dengan menggunakan sistem informasi geografis. Di samping
itu juga telah diperoleh kemajuan atas upaya kita memperjuangkan
hak memanfaatkan wilayah dirgantara nasional melalui partisipasi
dalam berbagai pertemuan di tingkat regional maupun internasional.

B. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

1.   Sasaran, Kebijaksanaan, dan Program Repelita VI

     Sasaran pembangunan iptek dalam Repelita VI adalah meningkat-
kan kemampuan memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai
iptek yang dilaksanakan dengan mengutamakan peningkatan kemam-
puan alih teknologi melalui perubahan dan pembaruan teknologi yang
didukung oleh pengembangan kemampuan sumber daya manusia,
prasarana dan sarana yang memadai, serta peningkatan mutu pendi-
dikan sehingga mampu mendukung upaya penguatan, pendalaman,
dan perluasan industri dalam rangka menunjang industrialisasi menuju
terwujudnya bangsa Indonesia yang maju, mandiri, unggul, dan
sejahtera.


                                                               VII/5
     Sasaran pengembangan iptek adalah terciptanya kelembagaan
iptek yang mampu mendukung berkembangnya kemitraan riset,
kemampuan iptek di bidang pertanian, industri, dan dunia usaha serta
pendidikan iptek yang diharapkan makin tertata dan mampu mengefek-
tifkan kebijaksanaan dan program pengembangan iptek serta mengefi-
sienkan penggunaan sumber dana yang tersedia sesuai dengan perkem-
bangan dan tuntutan pembangunan.

     Sehubungan dengan itu, pokok kebijaksanaan dalam pembangun-
an bidang iptek di dalam Repelita VI adalah mengembangkan nilai-
nilai iptek dan membentuk budaya iptek di masyarakat, mendorong
kemitraan riset, mempercepat upaya manufaktur progresif, meningkat-
kan mutu produk dan proses produksi, produktivitas, efisiensi, dan
inovasi dalam penguasaan iptek, meningkatkan kualitas, kuantitas, dan
komposisi sumber daya manusia iptek, dan mengembangkan penataan
dan pengelolaan kelembagaan iptek.

    Atas dasar sasaran dan kebijaksanaan pembangunan iptek seperti
dikemukakan di atas, disusun serangkaian program-pogram pemba-
ngunan sebagai berikut: (1) teknik produksi, (2) teknologi, (3) ilmu
pengetahuan terapan, (4) ilmu pengetahuan dasar, dan (5) pengem-
bangan kelembagaan iptek.

2.   Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan Tahun Ketiga
     Repelita VI

    Pelaksanaan program-program iptek dalam Repelita VI ditujukan
untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat
untuk menyelesaikan berbagai masalah pembangunan seperti peme-
nuhan kebutuhan dasar manusia, disamping untuk pengembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Hasil-hasil pelaksanaan program iptek untuk




VII/6
tahun ketiga Repelita Vl (1996/97) pada garis besarnya adalah sebagai
berikut:

    a. Program Teknik Produksi

     Program ini ditujukan untuk meningkatkan penguasaan proses
produksi dan mutu produk yang lebih efisien dan efektif dalam
mendayagunakan teknologi bagi peningkatan proses pertambahan
nilai dalam menghasilkan barang dan jasa dalam rangka pemenuhan
kebutuhan dasar manusia, pendayagunaan sumber daya alam dan
energi, serta pengembangan industri.

     Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman
pangan, terus dilaksanakan penelitian untuk menemukan varietas-
varietas unggul baru. Pada tahun 1996/97 telah berhasil dilepas
tambahan 8 varietas baru tanaman pangan, yaitu 4 varietas padi sawah
dataran rendah yang dinamakan Batang Anai, Maros, Digul, dan
Cilosari serta 4 varietas unggul jagung yang dinamakan P6, P7, P8
dan P9. Varietas-varietas baru padi sawah ini memiliki produktivitas 7
ton/hektare, lebih tinggi dari varietas sebelumnya sebesar 6,4 ton/
hektare, rasa enak, serta tahan terhadap wereng coklat dan hama
daun. Sedangkan sifat unggul dari varietas-varietas baru jagung
tersebut antara lain adalah produktivitasnya lebih tinggi yaitu 9 ton/
hektare dibandingkan dengan varietas-varietas sebelumnya yang hanya
mencapai maksimal 6,8 ton/hektare, dan tahan terhadap penyakit bulai
dan karat. Dengan demikian sampai dengan tahun 1996/97 secara
kumulatif telah berhasil dilepas sebanyak 214 varietas tanaman pangan
yang terdiri dari 47 padi sawah dataran rendah, 6 (enam) padi sawah
dataran tinggi, 9 (sembilan) varietas padi sawah pasang surut, 19
varietas padi gogo, 24 varietas padi introduksi, 31 varietas jagung, 2
(dua) varietas terigu, 9 (sembilan) varietas sorgum, 26 varietas
kedelai, 15 varietas kacang tanah, 11 varietas kacang hijau, 1 (satu)


                                                                VII/7
varietas kacang gude/hiris, 4 (empat) varietas kacang tunggak, 5
(lima) varietas ubi kayu dan 5 (lima) varietas ubi jalar. Informasi
ringkas tentang jumlah varietas baru tanaman pangan yang dilepas
disajikan pada Tabel VII-1.

     Di samping tanaman pangan, juga terus diupayakan menemukan
varietas-varietas unggul tanaman lain seperti sayuran, tanaman hias,
buah-buahan, tanaman industri, dan tanaman perkebunan. Hasil yang
dicapai pada tahun 1996/97 adalah ditemukannya viarietas-varietas
harapan bagi tanaman sayur seperti kentang 8 (delapan) varietas,
bawang merah 5 (lima) varietas, cabai merah 5 (lima) varietas, tomat
7 (tujuh) varietas, kacang panjang 5 (lima) varietas, dan buncis
rambat 3 (tiga) varietas. Selanjutnya telah berhasil ditemukan klon-
klon unggulan untuk tanaman hias yang mencakup 2 (dua) nomor
galur untuk mawar bunga potong, 8 (delapan) nomor galur untuk
mawar taman, dan 1 (satu) nomor galur untuk gladiol. Penelitian
tanaman buah antara lain telah berhasil mengembangkan secara
komersil 5 (lima) varietas kelompok jeruk keprok dan 9 (sembilan)
varietas kelompok jeruk manis. Untuk tanaman industri telah dilepas
lada unggul sebanyak 4 (empat) varietas dan kapas unggul sebanyak 6
(enam) varietas; telah ditemukan galur harapan jambu mete sebanyak
11 varietas dan serat sebanyak 3 (tiga) galur harapan. Sedangkan
penelitian tanaman perkebunan antara lain telah menghasilkan 6
(enam) klon karet; 5 (lima) klon kopi arabika, serta 5 (lima) klon teh.

     Penerapan teknik iradiasi dalam upaya penemuan varietas-
varietas baru terus dilaksanakan, dan pada tahun 1996/97 telah
berhasil dilepas satu varietas unggul padi yang dinamakan varietas
Cilosari yang tahan terhadap wereng coklat biotipe-1 dan biotipe-2
(WCK 1,2) dan tahan terhadap hawar daun biru (HDB). Penerapan
teknik iradiasi yang lain dilaksanakan dalam rangka pengembangan
vaksin Haemonchiasis fascioliasis dan antigen Trypanosomiasis, dan


VII/8
telah menghasilkan inokulasi parasit pada domba ekor gemuk dan
telah berhasil diperbanyak secara terus menerus. Teknik iradiasi juga
telah berhasil diterapkan untuk memandulkan serangga Crocidolomia
binotalis dan Plutella xylostella yang bermanfaat untuk pengendalian
hama pada kubis.

     Pemanfaatan teknik iradiasi juga telah dikuasai untuk penguraian
insektisida Pirimifos Metil, Feritrotion, dan Malation menjadi
senyawa yang tidak beracun; pembuatan bahan biologis buatan yaitu
Amnion Chorion untuk penyembuhan luka bakar; diperoleh hasil
ujiklinis tulang sapi liofiliosis iradiasi pada pasien orthopedi di
beberapa rumah sakit; diperoleh hasil ujicoba penggunaan makanan
olahan dengan iradiasi gamma, dan diketahui kelayakan teknis dan
ekonomis teknologi iradiasi bahan-bahan karet yaitu produk kondom
dan sarung tangan dari lateks iradiasi.

      Sejalan dengan peningkatan penggunaan teknologi iradiasi di
masyarakat seperti untuk industri dan pelayanan kesehatan, kebutuhan
akan bahan-bahan isotop juga meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan
ini, dilanjutkan upaya peningkatan penguasaan teknik produksi bahan-
bahan isoptop terutama dalam hal jenis, dan kualitas bahan yang akan
diproduksi di dalam negeri. Pada tahun 1996/97 telah dapat
diproduksi 10 jenis radioisotop antara lain Mo-99, I-131, Ir-192, dan
Zn-65 serta 11 jenis bahan radiofarmaka antara lain hippuran, larutan
NaI-131, dan kit MDP. Di samping untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri, bahan-bahan ini juga telah diekspor antara lain ke
Kanada, Cina, dan Malaysia.

    Dalam rangka mendukung upaya diversifikasi dan konservasi
energi telah dilaksanakan berbagai penelitian tentang pemanfaatan
batubara, energi matahari, energi gelombang, energi panas bumi, dan
energi nuklir. Penelitian pemanfaatan batubara terutama diarahkan


                                                               VII/9
pada batubara berkualitas rendah yang cadangannya sangat besar di
Indonesia. Pada tahun 1996/97 antara lain telah diperoleh data-data
kinerja teknologi Integrated Gas Coal Combined Cycle (IGCC) untuk
pencairan batubara muda yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar
pembangkit listrik; serta data-data kinerja pemanfaatan batubara untuk
industri kertas. Pemanfaatan energi matahari sebagai pembangkit
listrik untuk kebutuhan keluarga telah sampai pada tahap pemasangan
20.000 unit photovoltaic di desa terpencil yang diperkirakan tidak ter-
jangkau oleh jaringan listrik PLN. Selanjutnya juga telah diperoleh
data-data kinerja teknologi binary cycle dalam pemanfaatan energi
panas bumi entalpi sedang (medium enthalphy geothermal) di
Lahendong Sulawesi Utara yang akan digunakan dalam kajian tekno-
ekonomi.

     Di bidang energi nuklir kegiatan penelitian terutama diarahkan
pada upaya swasembada bahan bakar reaktor daya maupun reaktor
penelitian mulai dari eksplorasi dan penambangan uranium hingga
pembuatan pelet-pelet bahan bakar reaktor lengkap dengan selongsong-
nya. Pada tahun 1996/97 dari kegiatan eksplorasi Propinsi Aceh telah
diperoleh data-data geologi, radiometri, geokimia lumpur, dan mine-
ral berat yang akan digunakan untuk menentukan daerah paling pros-
pektif. Sedangkan kegiatan di Rirang Kalimantan Barat telah sampai
pada tahap penelitian ekstraksi Uranium dari bijihnya, dan telah
diketahui kondisi optimal proses pemisahan Uranium dari zat-zat
logam tanah jarang yang juga dikandung bahan galian tersebut.
Pengembangan elemen bakar reaktor riset telah menghasilkan elemen
bakar EB U3O8-Al sebanyak 49 rakitan dan EB U3Si-Al sebanyak 15
rakitan. Jumlah produksi ini telah dapat memenuhi semua kebutuhan
bahan bakar reaktor penelitian yang ada di Indonesia. Sedangkan
pengembangan elemen bakar nuklir untuk reaktor daya telah berhasil
membuat prototipe pelet UO2 lengkap dengan selongsong dan pin



VII/10
elemen bakar untuk reaktor jenis PWR serta perangkat lunak proses
pabrikasinya.

     Penguasaan teknik produksi untuk barang-barang logam terus
ditingkatkan seperti proses tempa, proses permesinan berketelitian
tinggi, proses serbuk logam, proses perlakuan panas, proses penuang-
an tekanan tinggi, proses penuangan gravitasi, dan proses penuangan
sentrifugal yang diterapkan pada pembuatan komponen-komponen
utama mesin satu silinder 100 cc dua tak. Pada tahun 1996/97 antara
lain telah berhasil dibuat prototipe dies untuk komponen connecting
rod dan crankshaft dengan proses tempa; satu set rodagigi dengan
proses permesinan berketelitian tinggi; prototipe bushing rod dan dies
roda gigi dengan proses serbuk logam; peningkatan mampu beban
dies, roda gigi, dan poros engkol dengan proses perlakuan panas;
prototipe dies crank case, blok silinder, dan silinder liner melalui
proses penuangan.

     Upaya penguasaan teknik produksi material maju diarahkan pada
proses pembuatan paduan logam aluminium, paduan logam berdaya
ingat, keramik maju, dan pengolahan laterit. Penelitian paduan alumi-
nium pada tahun 1996/97 dilaksanakan untuk membuat biang paduan
(master alloy) aluminium-silikon, aluminium-boron, aluminium-titan,
dan aluminium-zirkon. Walau masih perlu ditingkatkan lagi, peneli-
tian ini telah berhasil membuat biang paduan tersebut dalam skala
laboratorium.

    Logam paduan berdayaingat (shape memory alloy) banyak
digunakan dalam barang-barang berteknologi tinggi seperti sensor
panas, karena sifat dan bentuk masing-masing logam yang dipadukan
dapat muncul kembali pada temperatur (kondisi) tertentu. Pada tahun
1996/97 penelitian tentang logam paduan berdayaingat dikonsentrasi-
kan pada paduan tembaga-seng-aluminium dan hasil yang diperoleh

                                                               VII/11
antara lain pemahaman tentang pengaruh temperatur, komposisi,
proses laku panas, dan pengaruh unsur pemadu pada pembuatan
paduan Cu-Zn-Al; dan penguasaan bentuk-bentuk aktuator yang dapat
dibuat dari paduan tersebut.

     Dari penelitian keramik antara lain telah diperoleh contoh serbuk
keramik PSZ (Partial Stabilized Zirkon) yaitu serbuk keramik berpori
untuk bahan sensor gas, dan karakterisasi keramik alumina zirkonia
untuk bahan refraktori. Penelitian pengolahan laterit telah menghasil-
kan data efisiensi pemakaian pelarut dalam pengolahan laterit alumina
(bauksit) menjadi aluminium hidroksida, dan karakteristik reduksi
bijih besi laterit.

     Teknik produksi juga diterapkan dalam rangka pemberdayaan
masyarakat di desa tertinggal antara lain dilakukan melalui pening-
katan kemampuan berproduksi. Pemasyarakatan teknologi di daerah
Tiom - Irian Jaya diarahkan pada teknologi budidaya kopi organik
dengan tanaman lokal Kasuarina (Kasuarina oligodon) sebagai
tanaman pelindung sekaligus sebagai sumber pupuk alami yang telah
mencapai 1.758 hektar. Peningkatan kemampuan teknologi masya-
rakat perdesaan Wamena - Irian Jaya dilaksanakan melalui pemben-
tukan kelompok-kelompok tani, pelatihan logam dasar seperti
membuat gerobak dan alat-alat pertanian sederhana, dan pelatihan
kader pandai besi dan montir di pusat pelatihan teknologi tepat guna
di Subang - Jawa Barat. Sedangkan di Flores - Nusa Tenggara Timur
telah dimasyarakatkan teknologi pertanian pada kondisi lingkungan
yang ketersediaan airnya terbatas untuk budidaya cabe dan mentimun
dengan memanfaatkan embung-embung yang sudah ada.

    Upaya penyusunan tata ruang di berbagai wilayah memerlukan
dukungan ketersediaan peta-peta dasar. Untuk itu, dalam bidang
pemetaan dasar hingga tahun 1996/97 telah berhasil disediakan 1.465



VII/12
buah stasiun jaring kontrol horizontal, 5.775 buah stasiun dan 23.107
km lari jaring kontrol sipat datar, 5.447 buah stasiun dan 22.830 km
lari jaring kontrol gaya berat, 184 tugu batas untuk penegasan perba-
tasan, 367 buah stasiun survei geodinamika, dan 3.884 nomor lembar
peta digital. Bila dibandingkan dengan tahun 1996/97, maka pelak-
sanaan kegiatan ini telah menghasilkan tambahan 20 buah stasiun
jaring kontrol horizontal, 222 buah stasiun dan 624 km lari jaring
kontrol sipat datar, 80 buah stasiun dan 500 km lari jaring kontrol
gaya berat, 10 buah tugu batas, 2 (dua) buah stasiun survei geo-
dinamika, serta 69 nomor lembar peta digital (Tabel VII-2).

    b. Program Teknologi

     Program teknologi ditujukan pada usaha mengkaji, menerapkan,
dan mengembangkan cara, metoda, teknik, dan piranti rekayasa baru
yang lebih efisien dan efektif untuk menyempurnakan produk barang
dan jasa yang telah ada maupun membangun yang baru.

     Dalam rangka pengembangan teknologi pengolahan hasil pertain-
an khususnya teknologi pengeringan hortikultura, pada tahun 1996/97
telah berhasil dikembangkan teknologi puffing dengan gas CO2 untuk
bahan baku makanan instan yang lengkap dengan prototipenya.
Teknologi ini sedang diajukan untuk mendapat paten. Di samping itu
telah dikembangkan alat tanam benih langsung, alat tanam padi gogo,
alat panen padi, pengering kakao dan biji-bijian, serta grader jeruk.

     Dalam rangka mencari alternatif proses pembuatan bubur kertas
(pulp) yang bersih lingkungan, dilaksanakan penelitian untuk mengem-
bangkan teknologi proses biopulping dan bioleaching. Untuk itu, pada
tahun 1996/97 telah ditemukan beberapa isolat fungi pelapuk putih
asli dari alam Indonesia dan telah digunakan dalam proses bio-
delignifikasi serta proses pemutihan pulp.


                                                              VII/13
    Kondisi geografi Indonesia menuntut penguasaan teknologi pem-
bangkit listrik berskala kecil. Untuk itu, dilaksanakan penelitian
pengembangan pembangkit listrik tenaga uap berskala kecil (PLTU
Mini) dan pembangkit listrik mikrohidro (PLTM). Pada tahun
1996/97 telah selesai dibuat turbin uap dari PLTU Mini berkapasitas
250 - 500 KVA hasil rancangan tahun sebelumnya dan akan diuji pada
tahun yang akan datang; dan telah dibuat prototip turbin air untuk
PLTM berkapasitas 25 kVA lengkap dengan buku pedoman pem-
buatannya baik dari segi mekanikal, elektro, sipil, dan ekonominya.

     Pengembangan teknologi nuklir dilaksanakan untuk menguasai
teknologi instrumen berbasis radiasi nuklir untuk industri, kedokteran,
dan reaktor. Hingga tahun 1996/97 secara kumulatif instrumen nuklir
yang telah berhasil dikembangkan telah mencapai 25 jenis untuk
berbagai keperluan. Pada tahun 1996/97 telah berhasil dibuat 2 (dua)
buah prototipe instrumen kendali yaitu pada industri baja dan industri
batubara, 3 (tiga) buah prototipe instrumen kedokteran yaitu pengolah
koreksi citra, telemeter surveymeter, dan sistem kontrol mekanik
perangkat sinar-X yang semuanya merupakan komponen dari kamera
gamma, 2 (dua) buah prototipe instrumen reaktor yaitu simulator
sistem informasi pintar dan sensor berkecepatan tinggi. Di samping
itu, telah berhasil diujicobakan renograf hasil pengembangan
sebelumnya di beberapa rumah sakit sebagai sarana diagnostik
kelainan fungsi ginjal.

     Upaya penguasaan teknologi informatik dan otomasi juga terus
ditingkatkan antara lain melalui kegiatan pembuatan simulator dan
multimedia, pembuatan pemroses sinyal digital untuk kontrol industri,
dan pembuatan stepping motor. Pada tahun 1996/97 kegiatan pembuat-
an simulator dan multi media telah menguasai pembuatan program
aplikasi grafik berdimensi tiga yang mampu memvisualisasi ling-
kungan menjadi sebuah dunia semu (virtual world) dan sebuah


VII/14
prototipe sistem antarmuka. Kegiatan pembuatan pemroses sinyal
digital telah menghasilkan rancangan suatu sistem programming logic
controller (PLC) untuk kontrol industri. Stepping motor adalah salah
satu teknologi inti dari sistem otomasi produksi karena jumlah putaran
per menitnya dapat diprogram sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan pe-
ngembangan stepping motor telah berhasil menguasai teknologi kom-
ponen-komponen utamanya seperti stator, rotor, poros, dan rumah.

    Di bidang rancang bangun antara lain telah berhasil dirancang
dan dibuat prototipe alat pantau struktur jalan raya dengan teknik
tanpa merusak dan tanpa menghentikan lalu lintas yang dapat diguna-
kan secara cepat. Di samping itu juga telah dilaksanakan evaluasi tata
cara perencanaan struktur bangunan gedung di Indonesia. Hasilnya
adalah rekomendasi untuk memperbaiki penyimpangan tata perenca-
naan bangunan yang telah diterapkan selama ini.

     Dalam pengembangan model-model berskala besar dalam peran-
cangan sistem transportasi perkotaan dan sistem transportasi antar-
pulau, pada tahun 1996/97 telah diselesaikan antara lain persiapan
penerapan sistem angkutan umum massal Jakarta (Saumaja) yang
mencakup juga rancangan sistem angkutan bawah tanah (subway);
serta data tentang angkutan perkotaan untuk Surabaya, Semarang, dan
Medan. Sedang untuk sistem transportasi antarpulau telah dihasilkan
antara lain rancangan jembatan penghubung antara Jawa dan Madura;
dan data pendahuluan transportasi penghubung Jawa - Sumatera yang
akan digunakan untuk merancang jembatan atau terowongan
penyeberangan.

    c. Program Ilmu Pengetahuan Terapan

    Program ilmu pengetahuan terapan ditujukan pada usaha
penerapan, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan

                                                               VII/15
dasar yang merupakan unsur dalam suatu sistem yang berfungsi
sebagai cara baru bagi pelaksanaan teknologi.

     Penerapan ilmu-ilmu kedokteran dan bioteknologi antara lain
adalah untuk penanggulangan penyakit infeksi nosokomial dan demam
berdarah. Infeksi nosokomial yang sering menyebabkan kematian
disebabkan oleh kuman Pseudomonas aeruginosa yang mudah dijum-
pai dalam bak cuci, sistem distilasi air, cairan desinfektans, cairan
tetes mata maupun dehumidifiers di rumah-rumah sakit. Dalam
rangka mencari sumber utama kuman ini, profil plasmid kuman
diidentifikasi kemudian kuman-kuman tersebut dikelompokkan ber-
dasarkan profil plasmidnya. Untuk itu pada tahun 1996/97 telah
dikuasai metoda pemotongan fragmen-fragmen DNA dari isolat
genom Pseudomonas aeruginosa yang selanjutnya digunakan untuk
mengetahui profil plasmid yang dimaksud.

     Dalam rangka upaya penyakit demam berdarah, antara lain telah
dilakukan penelitian produksi antibodi monoklonal virus dengue
serotipe-3. Dari penelitian tahun 1996/97 antara lain telah diperoleh
antibodi monoklonal dengue-3 dalam sediaan supernatan kultur
sebanyak 17 klon dan sediaan cairan asiter sebanyak 10 klon; telah
diperoleh antigen virus Dengue-1 berkadar 149,9 mikrogram/ml, virus
Dengue-2 berkadar 471,8 mikrogram/ml, virus Dengue-3 berkadar
645,2 mikrogram/ml, virus Dengue-4 berkadar 676,1 mikrogram/ml,
virus JE berkadar 108,6 mikrogram/ml, dan virus Chikungnya
berkadar 284,0 mikrogram/ml; serta telah diperoleh 10 klon antibodi
monoklonal in vitro dan 10 antibodi monoklonal in vivo bereaksi
silang dengan virus tersebut di atas. Hasil ini merupakan langkah
utama dalam upaya pengembangan produksi antibodi tersebut.

    Penerapan berbagai bidang ilmu yang mendukung pembangunan
kesehatan terus ditingkatkan terutama di bidang-bidang pelayanan


VII/16
kesehatan, penyakit menular, ekologi kesehatan, dan bidang farmasi
yang diharapkan dapat memberi masukan bagi perumusan langkah-
langkah yang diperlukan dalam pembangunan kesehatan.

     Dalam rangka pengembangan model pembinaan pelayanan
kesehatan khususnya reproduksi, pada tahun 1996/97 telah dihasilkan
modul panduan pelayanan kesehatan reproduksi remaja, ibu hamil dan
neonatus, serta panduan kesehatan reproduksi bagi pasangan usia
subur/wanita usia subur. Hasil penelitian tahun 1996/97 tentang
perilaku merokok di masyarakat menunjukkan bahwa untuk penduduk
berusia 10 tahun keatas, prevalensi perokok laki-laki tiap hari adalah
45%, kadang-kadang 6,3%, dan mantan 3%. Juga diketahui bahwa
angka prevalensi meningkat seiring dengan meningkatnya umur,
terutama pada umur muda. Umur mulai merokok sebagian terjadi
pada umur 10 sampai dengan 14 tahun, dan terbanyak pada umur 20
tahun.

     Di bidang penyakit menular telah dilaksanakan penelitian
berbagai aspek tentang penyakit malaria, penyakit polio, penyakit
diare, dan tentang imunisasi. Pada tahun 1996/97 hasil yang diperoleh
antara lain pengetahuan tentang reaksi seluler dan humoral penduduk
daerah endemik malaria tropika terhadap peptida kandidat vaksin;
status imun tetanus wanita usia subur di daerah endemik malaria,
reaksi kekebalan tubuh humoral pada penderita malaria Plasmodium
falciparum dan Plasmodium vivax yang diobati dengan halofantrin dan
klorokuin, status antibodi anak setelah imunisasi, serta virus polio liar
di daerah yang melaporkan nol kasus polio selama 3 tahun berturut-
turut.

     Di bidang ekologi kesehatan antara lain dilaksanakan penelitian
tentang bioremediasi, pencemaran udara, pencemaran bakteri pada
sarana air bersih, predator dan parasit nyamuk, dan tentang insek-


                                                                  VII/17
tisida. Hasil yang diperoleh pada tahun 1996/97 adalah pengetahuan
tentang efektivitas saringan bioremediasi tumbuhan herba dalam
menurunkan kadar ion krom dan ion timbal dalam air limbah; standar
pengukuran dan pencemaran udara; bobot risiko pencemaran bakterio-
logi sarana air bersih; dan pengembangan predator dan parasit nyamuk
serta penggunaannya dalam pemberantasan vektor penyakit.

     Di bidang farmasi telah dilaksanakan antara lain penelitian ber-
bagai aspek tanaman obat, dan obat tradisional. Pada tahun 1996/97
telah dihasilkan antara lain pengetahuan tentang khasiat tanaman johar
sebagai obat malaria; budidaya pulasari yaitu tanaman obat tradisional
yang sudah langka dengan pembiakan melalui kultur jaringan; budi
daya Artamesia annua L yaitu bahan obat malaria tradisional dari
Wamena Irian Jaya; serta pengetahuan tentang struktur anatomi
mikroskopik bahan obat dari tanaman berkhasiat.

     Penerapan berbagai ilmu dalam menguasai pembuatan material
maju terus dilanjutkan antara lain untuk pembuatan plastik yang dapat
lapuk (biodegradable plastic), magnet permanen, logam/bahan murni,
serta bahan semikonduktor. Dalam rangka penelitian pembuatan
biodegradable plastic dari pati pada tahun 1996/97 telah berhasil dila-
kukan pembuatan monomer plastik yang diinginkan dalam laborato-
rium dari bahan tapioka, pati jagung, dan bahan monomer Methyl
Acrylate (MA) dengan inisiator Ceric Ammonium Nitrate (CAN).

     Magnet permanen merupakan bahan yang penting dalam tekno-
logi modern. Untuk itu dilaksanakan penelitian, pengembangan tekno-
logi pembuatan magnet permanen yang merupakan paduan logam-
logam tanah jarang, besi, boron atau nitrogen. Pada tahun 1996/97
hasil yang diperoleh adalah telah dapat dibuat dan diketahuinya
karakteristik mikroskopik paduan dengan intensitas kemagnetan yang



VII/18
tinggi. Walau masih diperlukan tahap penelitian lanjutan, keberhasilan
ini cukup berarti sebagai tahap awal.

     Logam murni merupakan bahan yang penting dalam piranti-
piranti elektronik modern seperti bahan super konduktor dan semi-
konduktor. Untuk itu telah dilakukan penelitian pembuatan logam-
logam murni. Pada tahun 1996/97 telah dapat dibuat bahan teknis
indium dan aluminium yaitu dengan kadar 3N (99,9%). Walau masih
belum dapat diperoleh bahan murni dengan kadar 6N (99,9999%)
namun teknik pemurnian yang telah dikuasai dapat digunakan untuk
pemurnian selanjutnya.

     Penguasaan teknologi pembuatan bahan semikonduktor akan
semakin penting seiring dengan perkembangan teknologi mikroelek-
tronika. Untuk itu terus dilanjutkan berbagai penelitian pembuatan
bahan semikonduktor antara lain senyawa tiga unsur CuInSe2, dan
senyawa dua unsur GaSb. Pada tahun 1996/97 telah dapat dilak-
sanakan penumbuhan dan karakterisasi monokristal CuInSe2 dan
GaSb termasuk pembuatan tungku statik tempat penumbuhan mono-
kristal tersebut.

     Penelitian penerapan iptek nuklir antara lain mencakup pengem-
bangan material baru, penelitian fisika nuklir, penelitian keselamatan
reaktor nuklir, dan pengembangan ilmu kedokteran nuklir. Penelitian
material dengan teknik nuklir pada tahun 1996/97 menghasilkan
pengetahuan bagaimana menggunakan berkas neutron untuk mengukur
pengaruh komposisi dan perlakuan panas terhadap kekerasan paduan
logam aluminium. Hasil penelitian fisika nuklir antara lain berupa
pengetahuan tentang penyuntikan ion untuk perbaikan sifat-sifat fisis
bahan, metode penentuan dampak radiologik, dan pengaruh radiasi
netron dengan kekuatan 14 MeV. Dari penelitian keselamatan reaktor
nuklir antara lain telah diperoleh pengetahuan tentang kecelakaan


                                                               VII/19
reaktivitas akibat kehilangan aliran pendingin, kecelakaan daya akibat
kegagalan sistem sekunder, dan metoda analisis tegangan mekanik
pipa-pipa reaktor. Penelitian di bidang ilmu kedokteran nuklir antara
lain telah menghasilkan pengetahuan tentang metode diagnosis dan
terapi kanker thyroid, metoda dekontaminasi lengkap dengan waktu
dan dosis pemberian dekontaminan, serta tingkat kerusakan
kromosom akibat penyiraman sinar gamma.

     Pengkajian dan penerapan ilmu bioteknologi khususnya di bidang
pertanian terus dilanjutkan yang ditujukan antara lain untuk membuat
bioinsektisida, biofertilizer, serta pembiakan tanaman melalui kultur
jaringan. Pada tahun 1996/97 antara lain telah berhasil diterapkan
teknik fermentasi kultur terendam untuk membiakkan bakteri Bacillus
thuringiensis (B.t.) yang bersifat toksin terhadap hama Lepidoptera
pada kubis dan sawi, serta hama Heliothis pada tembakau dan tomat.
Penelitian biofertilizer telah berhasil mengetahui pemanfaatan cen-
dawan Vesicular arbuscular mycorrhiza (VAM) untuk lahan marjinal
dan lahan bekas pertambangan. Selanjutnya telah diketahui pula
strain-strain cendawan yang efektif menyuburkan beberapa tanaman
penting seperti kedelai, dan cokelat. Penerapan teknik kultur jaringan
untuk pembiakan tanaman telah berhasil diterapkan untuk tanaman
vanili, pisang, dan bunga anggrek.

     Dalam rangka pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia
dilanjutkan penelitian penerapan ilmu-ilmu biologi dan bioteknologi
untuk budidaya mimi dan budidaya rotan. Mimi atau belangkas yang
sudah sangat langka di Indonesia, dan zat dari darahnya "Lysate"
dapat digunakan untuk mendiagnosa maningitis dan gonorchae serta
mendeteksi endotoksin dalam darah. Dari penelitian tahun 1996/97
diketahui komposisi pakan yang tepat untuk pematangan telur dan
sperma biota ini; serta derajat pembuahan dari pemijahan mencapai
72,5% dengan derajat penetasan mencapai 12%, selain itu telah


VII/20
diketahui kondisi fisik lingkungan yang memberi hasil optimal bagi
budidaya biota ini.

    Penelitian budi daya rotan jenis manau pada tahun 1996/97 telah
menghasilkan tambahan persemaian seluas 572,5 m2 dengan
penambahan biji bibit sebanyak 48.000 buah. Hasil ini dilengkapi
dengan panduan pengenalan jenis rotan khususnya dua marga rotan
yang ada di Jawa, serta penjajakan kerja sama penerapannya dengan
pihak swasta dan BUMN.

     Penerapan ilmu kimia dan proses antara lain dilaksanakan untuk
pemanfaatan zeolit, proses pembuatan kertas alkali, senyawa-senyawa
kimia bernilai tinggi dari tumbuhan, dan asam lemak bebas dari
minyak kelapa sawit. Dalam rangka pemanfaatan zeolit sebagai
pengolah limbah telah diperoleh jenis zeolit yang mempunyai sifat
penukar ion yang bermutu tinggi. Penelitian meningkatkan retensi
bahan dalam proses pembuatan kertas alkali, telah berhasil menemu-
kan kondisi proses yang optimal dalam skala laboratorium dan telah
berhasil dialihkan dari proses asam ke proses alkali dalam skala
pabrik. Upaya penemuan senyawa-senyawa kimia yang bernilai tinggi
dari tumbuhan famili Moraceae telah berhasil menemukan 7 (tujuh)
jenis senyawa dari tumbuhan andalas termasuk asam betulinat yang
bersifat anti virus HIV dan 4 (empat) jenis senyawa dari tumbuhan
cempedak. Penelitian pemanfaatan asam lemak bebas minyak kelapa
sawit telah berhasil mengubah zat ini dalam skala laboratorium
menjadi azelat yaitu bahan dasar pembuatan nilon.

    d. Program Ilmu Pengetahuan Dasar

    Program ilmu pengetahuan dasar ditujukan pada usaha mendapat-
kan pengetahuan baru yang berorientasi pada usaha pengembangan
ilmu pengetahuan terapan dan teknologi.


                                                            VII/21
     Di bidang ilmu geologi terus dilaksanakan upaya penemuan fakta
dan fenomena geologi Indonesia. Dalam rangka penyusunan model
komprehensif geodinamik di 5 (lima) daerah tektonik prospektif, pada
tahun 1996/97 telah diperoleh data lanjutan tentang geodinamik sesar
Sumatera, subduksi dan kompleks akresi Seram basement continental
Indonesia Timur, perubahan global Pulau Seribu, dan Pegunungan
Jayawijaya. Di samping itu telah selesai disusun satu paket data pri-
mer kebumian yang telah diharmonisasi untuk daerah Garut, Banjar,
dan Ciamis di Jawa Barat dan daerah Mamberamo di Irian Jaya.

     Dalam rangka pelestarian kekayaan flora Indonesia terus dilan-
jutkan kegiatan pelestarian dan pengembangan koleksi flora dataran
rendah basah, flora dataran tinggi basah, flora dataran rendah kering,
flora dataran tinggi kering, dan flora berpotensi obat. Pada tahun
1996/97 telah berhasil ditambah 330 nomor koleksi tumbuhan dataran
rendah basah, 92 nomor koleksi tumbuhan dataran tinggi basah, 80
nomor koleksi tumbuhan dataran rendah kering, 80 nomor koleksi
tumbuhan dataran tinggi kering, serta data penyebaran 490 nomor
tumbuhan berpotensi obat. Penambahan koleksi ini dilengkapi pula
dengan data-data ekologi masing-masing tumbuhan guna
pengembangan metoda pelestariannya.

      Dalam rangka menemukan fenomena-fenomena dinamika masya-
rakat, dilaksanakan penelitian masalah-masalah strategis di bidang
politik dan sosial budaya, studi kependudukan dan ketenagakerjaan,
serta pengkajian dinamika sosial budaya dan proses industrialisasi.
Pada tahun 1996/97 hasil yang dicapai antara lain data-data persepsi
tentang demokratisasi ekonomi dan politik serta persepsi tentang
keadilan sosial dari para pengusaha yang bermukim di Yogyakarta,
Padang, dan Surabaya; data tentang visi dan persepsi aparat birokrasi
di tingkat pedesaan terhadap kebijakan massa mengambang khususnya




VII/22
di daerah Manado, Maluku Tengah, dan Dili; data tentang perilaku
seksual kelompok penduduk berisiko tinggi terhadap penyakit
HIV/AIDS; data mengenai hubungan antara televisi dengan integrasi
nasional diukur dengan primordialisme, gaya hidup materialisme,
serta kecenderungan perilaku menyimpang khususnya di daerah
Medan, Surabaya, dan Ujung Pandang; data mengenai cara orang
muda terutama pelajar SMU memanfaatkan waktu senggangnya guna
mengetahui kesiapan generasi ini menghadapi proses industrialisasi;
dan diketahui bahwa di samping masalah permodalan, pengusaha kecil
juga mengalami lemahnya jaringan kerja sebagaimana ditunjukkan
penelitian di Semarang, Surabaya, Samarinda, dan Pontianak.

    e. Pengembangan Kelembagaan Iptek

    1) Pengembangan Sumber Daya Manusia Iptek

    Untuk memacu pembangunan iptek terus diupayakan penam-
bahan jumlah SDM yang bermutu dan terampil melalui pendidikan
dan pelatihan terutama dalam bidang-bidang yang sangat diperlukan
bagi pembangunan. Di samping melalui pendidikan dan pelatihan,
upaya pengembangan sumber daya manusia iptek juga dilaksanakan
melalui pengembangan paket penelitian kompetitif dan pembinaan
peneliti pemula.

    Sampai dengan tahun 1996/97, jumlah tenaga peneliti dari
Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) Ristek yang dididik di
dalam negeri untuk jenjang S3 dan S2 secara kumulatif telah mencapai
316 orang doktor, 980 orang magister, atau masing-masing meningkat
dengan 28 orang doktor dan 89 orang magister dibanding dengan
tahun 1995/96. Untuk jenjang S3 dan S2 yang dididik di luar negeri
secara kumulatif tercatat sebanyak 314 orang doktor dan 1.582 orang
magister, atau meningkat sebanyak 4 (empat) orang doktor dan 27


                                                             VII/23
orang magister dibanding dengan tahun 1995/96. Sementara itu, untuk
tahun 1996/97 tenaga peneliti di semua lembaga dan departemen
tercatat sebanyak 4.163 orang doktor, serta 52.329 orang magister
dan sarjana, atau meningkat sebanyak 134 orang doktor serta 254
orang magister dan sarjana (Tabel VII-3).

     Kegiatan pendidikan teknisi nuklir yang dilaksanakan atas
kerjasama dengan PTN dimaksudkan untuk menyediakan tenaga siap
pakai baik sebagai operator instalasi-instalasi nuklir maupun sebagai
teknisi laboratorium nuklir. Pada tahun 1996/97 pendidikan ahli
teknik nuklir telah menghasilkan 1 (satu) orang diploma I, 1 (satu)
orang diploma II, dan 43 orang diploma III yang tersebar di bidang
teknofisika dan teknokimia.

    Pengembangan dan pemeliharaan kemampuan sumber daya
manusia iptek khususnya peneliti dilaksanakan antara lain melalui
penyelenggaraan paket-paket penelitian kompetitif yaitu hibah
bersaing (HB), riset unggulan terpadu (RUT), dan riset unggulan
kemitraan (RUK). Hingga tahun 1996/97 jumlah proposal penelitian
yang lolos seleksi melalui program HB mencapai 550 judul, melalui
program RUT mencapai 500 judul, dan melalui program RUK
mencapai 24 judul. Jumlah proposal yang lolos seleksi pada tahun
1996/97 adalah 151 judul dalam HB, 107 judul dalam RUT, dan 11
judul dalam RUK. (Tabel VII-4).

    Pembinaan peneliti pemula baik dari perguruan tinggi negeri
(PTN) maupun dari perguruan tinggi swasta (PTS) telah dilaksanakan
melalui 1.000 judul penelitian dari berbagai bidang ilmu. Khusus di
bidang ilmu kedokteran telah berhasil dibina sekitar 200 orang peneliti
dan teknisi yang berasal dari 17 fakultas kedokteran PTN seluruh
Indonesia melalui 67 judul penelitian.




VII/24
    2) Pembangunan Prasarana Penelitian

     Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kegiatan peneli-
tian dan pengembangan iptek terus ditingkatkan kualitas prasarana dan
sarana iptek secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan. Pada tahun
1996/97 antara lain telah mulai beroperasi mesin berkas elektron
electron beam machine, (EBM) berkekuatan 300 kilo elektronVolt
untuk mendukung berbagai penelitian iradiasi; dan laboratorium kul-
tur sel darah dan laboratorium pencitraan guna mendukung penelitian
iptek kedokteran nuklir. Juga telah dilanjutkan pembangunan laborato-
rium yang berlokasi di Puspiptek Serpong antara lain laboratorium
fisika terapan, kimia terapan, polimer, motor bakar, dan laboratorium
metalurgi. Kelengkapan peralatan laboratorium juga telah ditingkatkan
antara lain untuk laboratorium kalibrasi instrumentasi dan metrologi,
laboratorium sumber daya energi, laboratorium aerogasdinamika dan
getaran semuanya berlokasi di Puspiptek Serpong.

      Penguasaan ilmu kehidupan akan menjadi salah satu unggulan di
masa yang akan datang. Untuk itu, sejak tahun 1996/97 telah dilan-
jutkan pembangunan kompleks laboratorium ilmu kehidupan di
Cibinong - Jawa Barat. Laboratorium yang telah dimulai pembangun-
annya adalah laboratorium bioteknologi, laboratorium limnologi,
laboratorium biologi, serta sarana fisik jaringan keanekaragaman
hayati. Prasarana laboratorium bioteknologi industri yang berlokasi di
Puspiptek Serpong telah mulai beroperasi penuh sejak tahun 1996/97.
Sarana ini antara lain mencakup fasilitas produksi skala laboratorium
untuk eritromisin dengan volume fermentasi 2000 liter, penisilin
dengan volume fermentasi 400 liter, tetrasiklin dengan volume
fermentasi 400 liter, dan sefalosforin dengan volume fermentasi 50
liter. Di samping itu, telah dilanjutkan pembangunan fisik dan
kelengkapan peralatan laboratorium biologi molekuler Eijkman yang
berlokasi RSCM - Jakarta. Karena kelengkapan peralatan dan prestasi


                                                               VII/25
ilmiah tenaga ahlinya, laboratorium ini telah berhasil menjadi salah
satu simpul jaringan penelitian biomolekuler dunia khususnya di
bidang malaria, tuberculosis dan penyakit demam berdarah.
Laboratorium ini juga telah tergabung dalam salah satu jaringan
penelitian genetik manusia seluruh dunia (Human Genome Project).

    3) Penyebaran dan Pemasyarakatan Iptek

     Upaya penyebaran dan pemasyarakatan iptek dilaksanakan antara
lain melalui pusat peragaan iptek, penyelenggaraan lomba karya
ilmiah remaja, dan pelaksanaan pameran iptek.

    Sebagai sarana pemasyarakatan dan pembudayaan iptek, pusat
peragaan iptek di Taman Mini Indonesia Indah ternyata mampu
menarik minat masyarakat. Pada tahun 1996/97 jumlah pengunjung
mencapai 119.109 orang, sehingga jumlah pengunjung sejak dioperasi-
kan pada tahun 1991/92 telah mencapai 286.646 orang, dan sekitar
80% di antaranya adalah pelajar.

     Untuk meningkatkan kesadaran ilmiah dan menumbuhkan rasa
ingin tahu di kalangan remaja maka dilanjutkan kegiatan lomba karya
ilmiah remaja yang mencakup bidang ilmu pengetahuan sosial dan
kemanusiaan (IPSK), bidang ilmu pengetahuan alam (IPA), dan
bidang teknologi. Penyelenggaraan kegiatan ini pada tahun 1996/97
berhasil menarik minat 395 remaja dengan 169 orang diantaranya
adalah perempuan. Penyelenggaraan kegiatan ini menunjukkan
terjadinya peningkatan kualitas keilmuan karya-karya ilmiah yang
diperlombakan yang ditunjukkan oleh pemilihan topik penelitian serta
kedalaman analisis ilmiahnya.

    Penyebarluasan informasi tentang hasil-hasil penelitian serta
perkembangan iptek dilaksanakan antara lain melalui pameran iptek.


VII/26
Pada tahun 1996/97 hasil-hasil penelitian telah pula dipamerkan di
Museum Kebangkitan Nasional, dan pameran riset dan teknologi yang
bertempat di Arena Pekan Raya Jakarta.

C. KELAUTAN DAN KEDIRGANTARAAN

1.   Sasaran, Kebijaksanaan, dan Program Repelita VI

    Pembangunan kelautan dalam Repelita VI dititikberatkan pada
penguasaan, pendalaman, peningkatan, perluasan, dan penyebaran
industri kelautan ke seluruh wilayah Indonesia. Dalam Repelita VI
produksi penangkapan dan budi daya perikanan laut diproyeksikan
mencapai 3,4 juta ton per tahun atau rata-rata pertumbuhannya sebesar
5,2 persen per tahun. Industri perkapalan, diupayakan dapat
membangun dan merawat kapal sampai dengan ukuran 100 ribu dead
weight ton (DWT). Industri bangunan lepas pantai diharapkan mampu
memproduksi konstruksi bangunan lepas pantai sampai sedalam 300
meter. Selain itu, juga akan ditetapkan batas wilayah perairan di Zone
Ekonomi Eksklusif.

     Berkenaan dengan sasaran tersebut, pokok kebijaksanaan pemba-
ngunan kelautan dalam Repelita VI adalah menegakkan kedaulatan
dan yurisdiksi nasional; mendayagunakan potensi laut dan dasar laut;
meningkatkan harkat dan taraf hidup nelayan; mengembangkan
potensi berbagai industri kelautan nasional dan penyebarannya di
seluruh wilayah tanah air; memenuhi kebutuhan data dan informasi
kelautan serta memadukan dan mengembangkannya dalam suatu
jaringan sistem informasi geografis kelautan; dan mempertahankan
daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan hidup laut.

    Sasaran pembangunan kedirgantaraan pada Repelita VI dalam
rangka penegakan kedaulatan adalah terwujudnya penyempurnaan


                                                               VII/27
kelembagaan kedirgantaraan nasional, tersusunnya peraturan perun-
dang-undangan kedirgantaraan nasional, berhasilnya perjuangan dalam
forum internasional tentang geo stationery orbit (GSO), dan ratifikasi
berbagai konvensi internasional.

     Selanjutnya, sasaran pengembangan teknologi kedirgantaraan
pada Repelita VI adalah meningkatkan penguasaan teknologi kedir-
gantaraan, berkembangnya rekayasa dan produksi konfigurasi pesawat
terbang dengan kapasitas 50 - 80 orang dengan kecepatan transonik,
terwujudnya pelayanan informasi inderaja nasional, tersedianya peta
dasar rupa bumi yang mampu memenuhi kebutuhan, serta meningkat-
nya kemampuan nasional untuk mendukung sistem navigasi. Juga
diharapkan dapat memenuhi peta angin dan peta insolasi, terciptanya
industri yang membuat perangkat keras dan lunak bagi pengembangan
energi angin dan surya, meningkatnya kemampuan dalam prakiraan
iklim dan cuaca, serta telah dirumuskannya pola pemanfaatan ruang
dirgantara nasional.

     Berkenaan dengan sasaran tersebut, kebijaksanaan pembangunan
kedirgantaraan dalam Repelita VI pada pokoknya adalah menegakkan
kedaulatan atas wilayah dirgantara nasional; mengembangkan potensi
industri dirgantara; mencukupi kebutuhan transportasi udara dan men-
jamin keselamatan penerbangan; serta menjamin kelestarian fungsi
lingkungan dirgantara.

     Atas dasar sasaran dan kebijaksanaan seperti yang dikemukakan
di atas, maka program pembangunan kelautan dalam Repelita VI
terdiri atas: (1) inventarisasi dan evaluasi potensi laut; dan (2) pengem-
bangan kemampuan pemanfaatan kelautan. Selanjutnya program ke-
dirgantaraan terdiri atas: (1) penyediaan jasa kedirgantaraan; (2) pe-
manfaatan teknologi dirgantara; dan (3) pembinaan kedirgantaraan.




VII/28
2.   Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan Tahun Ketiga
     Repelita VI

     a. Kelautan

     1) Program Inventarisasi dan Evaluasi Potensi Laut

    Program inventarisasi dan evaluasi ditujukan untuk memperoleh
data dasar kelautan, pembuatan peta laut nasional, penentuan jumlah
cadangan potensi sumber daya alam, serta evaluasi kemampuan daya
dukung lingkungan laut.

     Dalam upaya mengungkapkan potensi kekayaan sumber daya
hayati laut dan kepulauan Nusantara, dalam tahun 1996/97 telah
dilaksanakan ekspedisi kelautan di kawasan Laut Cina Selatan dan
Laut Natuna sebagai data dasar untuk pembangunan anjungan lepas
pantai di kawasan tersebut, serta survei massa air untuk mengkaji
produktivitas di perairan Pasifik Barat. Demikian pula telah dilakukan
penelitian kualitas dan sifat-sifat oseanologi yang meliputi fauna, flora
serta kualitas air laut termasuk kondisi lingkungannya di perairan
pulau Enggano, Bengkulu, serta Pulau Toroa dan Uhiwa, Tual,
Maluku untuk pengembangan potensi wisata bahari.

     Dalam bidang pelestarian fungsi lingkungan dan penataan ruang
laut, dalam tahun 1996/97 telah dilakukan berbagai upaya untuk
melanjutkan pengelolaan, perlindungan dan pelestarian lingkungan
laut dan pantai. Untuk itu, telah dilaksanakan Konvensi Nasional
Pembangunan Benua Maritim Indonesia dalam rangka mengaktualisasi-
kan Wawasan Nusantara. Selain itu, telah diteliti bioindikator untuk
mengukur tingkat pencemaran di perairan pesisir dan laut. Dalam
upaya menanggulangi erosi dan abrasi pantai telah diteliti proses serta
prediksi dinamika pantai dari Mempawah hingga Pemangkat,


                                                                  VII/29
Kalimantan Barat, dan dibuat model simulasi perubahan garis pantai
di Pekalongan, Jawa Tengah. Selanjutnya, untuk mengetahui tingkat
pencemaran laut yang berasal dari muara sungai telah diteliti kualitas
air muara sungai Porong dan Mas, Jawa Timur, ditinjau dari kadar
pestisida dalam sedimen. Selain itu juga telah dilakukan penelitian
pencemaran air yang disebabkan oleh senyawa nitrogen di muara
sungai di perairan Ujung Kulon dan teluk Jakarta.

     Dalam upaya penetapan batas wilayah perairan Indonesia dan
ZEE untuk diserahkan ke PBB sebagai acuan penegakan kedaulatan
dan yurisdiksi nasional untuk pendayagunaan dan pemanfaatan fungsi
wilayah laut nasional, dilanjutkan pembuatan peta garis pangkal, peta
ZEE, dan peta landas kontinen. Pada tahun 1996/97 kegiatan ini telah
berhasil menyelesaikan survei batimetri untuk wilayah laut terluar
Selatan Jawa Barat; pemutakhiran titik-titik pangkal di selatan Pulau
Jawa, barat Pulau Sumatera, dan Selat Malaka yang akan digunakan
sebagai dasar penetapan garis pangkal. Untuk menunjang kegiatan ini
telah selesai dibangun 6 stasiun pasang surut berlokasi di Lhoksemawe
- Aceh, Sekupang - Riau, Bengkulu, Pelabuhan Ratu - Jawa Barat,
Kalianget - Jawa Timur, dan Pentoloan Sulawesi Tengah; serta telah
beroperasi 6 stasiun Digital Global Positioning Systems (DGPS) yaitu
di Medan, Jakarta, Denpasar, Menado, Kupang, dan Biak. Selanjut-
nya, telah dimulai pemetaan digital Alur Laut Kepulauan Indonesia
(ALKI) wilayah Barat yang mencakup Selat Sunda, dan sebagian Laut
Cina Selatan.

     Dalam rangka pengendalian pencemaran laut dan pantai wisata,
dalam tahun 1996/97 telah dievaluasi kualitas perairan wilayah pesisir
utara Jawa Barat, perairan sekitar Tual, Maluku, delta Mahakam,
Kalimantan Timur, serta perairan Teluk Waworada, Sumbawa, Nusa
Tenggara Barat.




VII/30
      Dalam upaya untuk mengidentifikasi dampak pemanasan global
wilayah pesisir telah dilaksanakan studi interaksi antara gelombang
dengan arus dan gerakan sedimen di perairan utara pulau Jawa. Selain
itu, dalam tahun 1996/97 telah diterbitkan Atlas Oseanologi Laut Cina
Selatan yang berisi informasi tentang kondisi oseanografi, data
oseanologi, sebaran suhu, salinitas dan zat hara, sebaran khlorofil dan
volume plankton, komposisi dan jenis sebaran lamun, mangrove dan
terumbu karang, fauna moluska, serta potensi ikan niaga di Laut Cina
Selatan. Selanjutnya, telah diterbitkan pula buku tentang Pengelolaan
Keanekaragaman Hayati Pesisir dan Laut Secara Terpadu yang berisi
informasi tentang status, nilai ekonomi, permasalahan serta saran
kebijaksanaan dalam pengelolaan habitat-habitat mangrove, terumbu
karang, lamun, lahan basah, estuarine, perikanan, serta habitat pen-
ting lainnya di Indonesia.

    2) Program Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan

   Program pemanfaatan sumber daya kelautan ditujukan untuk
meningkatkan kemampuan nasional dalam mendayagunaan dan
memanfaatkan potensi kekayaan laut Nusantara.

     Dalam rangka peningkatan kemampuan untuk memanfaatkan,
mengembangkan dan menguasai iptek kelautan telah dilakukan
berbagai upaya untuk mendayagunakan potensi kelautan, khususnya
mengetahui manfaat dari potensi biota laut. Dalam tahun 1996/97,
antara lain dilaksanakan penelitian teknik budidaya rajungan, teknik
pemeliharaan anak kerang mutiara serta jenis-jenis kerang bernilai
ekonomis penting penghuni muara sungai, pemeliharaan ikan Kerapu
Lumpur (Epinephelus suillus), reproduksi dan pembenihan teripang
secara alamiah, prospek perikanan Sidat (Anguilla sp), serta budidaya
algae bersel tunggal. Selain itu, telah diteliti fenomena mikroalgae
beracun serta kisaran baku kelimpahan, komposisi dan sebaran

                                                                VII/31
plankton di perairan Teluk Piru, Seram Barat, dan perairan Morotai
bagian selatan di Maluku dan perairan pesisir Jayapura di Irian Jaya.

    Dalam upaya memenuhi kebutuhan energi melalui pemanfaatan
energi gelombang laut, dalam tahun 1996/97 telah dimulai penelitian
rancang bangun konversi tenaga gelombang dalam bentuk energi
kinetik menjadi energi potensial dalam proses pembangkitan listrik di
pantai Gunung Kidul, Yogyakarta.

    b. Kedirgantaraan

    1) Program Pengembangan Industri Dirgantara

     Program pengembangan industri dirgantara terdiri dari pengem-
bangan industri dan pengembangan kemampuan kedirgantaraan.
Kegiatan industri dirgantara ini merupakan bagian dari kegiatan
industri pada umumnya, sehingga pembangunan industri dirgantara
juga dilaksanakan sesuai dengan arahan pembangunan industri pada
umumnya. Pembangunan industri dirgantara dilakukan sekaligus
sebagai wahana pembangunan sumber daya manusia dan pemba-
ngunan iptek dirgantara, yaitu melalui 4 (empat) tahapan penguasaan:
pengenalan teknologi, integrasi teknologi, pengembangan teknologi,
serta penelitian dasar dalam skala yang luas.

     Pada tahap pengenalan teknologi, sampai dengan tahun 1996/97
telah diproduksi pesawat sekelas 19-24 tempat duduk, helikopter
sekelas 5, 15, 23 tempat duduk, komponen struktur pesawat berbadan
besar dan pesawat militer. Pada tahap integrasi teknologi telah dapat
dihasilkan rancang bangun pesawat sekelas 33-34 tempat duduk (CN-
235). Pada tahap pengembangan teknologi, sampai dengan tahun
1996/97 telah berhasil dikembangkan pesawat high-subsonic berka-
pasitas 50-70 tempat duduk dengan teknologi pengendalian Fly-by-


VII/32
Wire (N-250). Saat ini pesawat tersebut sedang dalam tahap uji
terbang dan sertifikasi serta tahap produksi seri.

     Peran serta swasta terus didorong untuk meningkatkan investasi-
nya dalam industri teknologi informasi. Hal tersebut terutama dilaku-
kan melalui peningkatan berbagai kegiatan litbang dalam bidang
industri teknologi informasi. Dalam industri manufaktur telekomuni-
kasi, sampai dengan tahun 1996/97 telah mampu diproduksi peralatan
untuk stasiun bumi kecil, stasiun bumi mikro untuk transmisi
gelombang mikro digital, sistem TVRO (television receive only)
dengan antena parabola, serta berbagai komponen elektronika dan alat
instrumentasi.

    2) Program Penyediaan Jasa Kedirgantaraan

     Program penyediaan jasa kedirgantaraan ditujukan untuk men-
dorong, menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan industri
jasa kedirgantaraan dalam menghasilkan berbagai produk jasa kedir-
gantaraan. Penyediaan jasa kedirgantaraan tersebut mencakup jasa
penerbangan, jasa telekomunikasi satelit, jasa inderaja, informasi
geografi, survei dan pemetaan, jasa informasi prakiraan iklim dan
cuaca, jasa hujan buatan serta jasa navigasi dan geodesi.

     Industri jasa penerbangan mencakup antara lain jasa angkutan
udara, jasa bandara, jasa navigasi udara, dan jasa penunjang, seperti
jasa pelayanan keselamatan penerbangan, pemeliharaan pesawat,
bandar udara dan sebagainya. Dalam rangka penyediaan jasa peme-
liharaan pesawat terbang, sampai dengan tahun 1996/97 telah dimiliki
"Garuda Maintenance Facility (GMF)" untuk perbaikan pesawat
berbadan lebar, "Universal Maintenance Centre (UMC)" untuk mesin
pesawat, "Aircraft Services (ACS)" untuk kerangka dan struktur
pesawat, dan "Batam Aircraft Maintenance (BAM)" yang mempunyai

                                                              VII/33
kemampuan full overhaul. Sementara itu jasa angkutan udara sampai
dengan tahun 1996/97 telah menjangkau berbagai negara dan berbagai
kota dan daerah di Indonesia.

     Jasa telekomunikasi sampai dengan tahun 1996/97 telah meman-
faatkan satelit komunikasi domestik serta sistem komunikasi satelit
internasional untuk keperluan siaran, komunikasi tetap maupun
komunikasi bergerak di darat, di udara, dan di laut. Selain itu juga
telah dimanfaatkan jasa telekomunikasi bergerak tanpa kabel berupa
telepon selular dan radio panggil. Dalam penyelenggaraan jasa
telekomunikasi siaran telah dioperasikan berbagai stasiun penyiaran
radio dan televisi, unit pemancar radio dan televisi, dan jaringan
siaran satelit terintegrasi (ISBN). Juga telah dimanfaatkan jasa
jaringan informasi digital berupa "gate way" untuk dapat mengakses
ke basis data di dalam maupun di luar negeri melalui baik Ipteknet,
maupun penyedia jasa internet lainnya.

     Dalam penyediaan jasa penginderaan jauh (inderaja) sampai
dengan tahun 1996/97 telah dimanfaatkan berbagai satelit inderaja
resolusi rendah serta satelit inderaja resolusi tinggi. Untuk peman-
faatan teknologi inderaja tersebut, telah dioperasikan sistem stasiun
bumi yang dapat menerima secara langsung data dari inderaja resolusi
tinggi maupun rendah yang berada di Parepare (Sulawesi Selatan),
Pekayon (Jakarta), serta Biak (Irian Jaya). Dari hasil pemanfaatan
teknologi inderaja tersebut, sampai tahun 1996/97 telah dihasilkan
peta rupa bumi berbagai skala, termasuk peta rupa bumi digital, serta
peta citra yang meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia. Di
samping itu telah dilakukan pemetaan tematik meliputi peta sistem
lahan dan kesesuaian lahan, pemetaan tanah, pemetaan hutan dan
pemetaan lahan basah. Juga telah diproduksi sejumlah peta geologi
bersistem, peta potensi sumber daya mineral, peta potensi batu bara
dan gambut, peta geologi dasar laut, peta daerah bahaya gunung api,


VII/34
peta geologi teknik, dan peta hidrogeologi. Data-data tersebut telah
dimanfaatkan untuk inventarisasi, evaluasi dan pemantauan serta
eksploitasi sumber daya alam.

     Selain itu teknologi inderaja juga telah dimanfaatkan dalam
pemantauan kekeringan, perkiraan datangnya musim hujan, peman-
tauan kebakaran hutan, pemantauan daerah rawan bencana banjir dan
letusan gunung berapi, serta penyediaan informasi daerah penang-
kapan ikan laut. Pemanfaatan data inderaja pada tahun 19966/97
dengan metoda Normalized Defference Vegetation Index (NDVI) telah
memberikan informasi tentang luas perkiraan produksi padi
berdasarkan umur tanaman padi dan konsentrasi air pada tanaman di
daerah Kerawang dan Sukamandi, Jawa Barat. Dalam pemanfaatan
inderaja untuk bidang kelautan pada tahun 1996/97 telah dapat
dihasilkan informasi pertumbuhan terumbu karang, parameter fisis air
laut, dan lahan pantai, informasi suhu permukaan laut di perairan Selat
Sunda - Jawa Barat. Selain itu dalam pemanfaatan bidang matra darat
telah dihasilkan informasi perubahan tata guna lahan untuk keperluan
pemutakhiran peta serta pemantauan tingkat kehijauan di Pulau Jawa
yang dapat memberikan informasi daerah yang mengalami kekeringan
khususnya pada musim kemarau. Sedangkan di bidang pemanfaatan
lingkungan pada tahun 1996/97 telah dilakukan pemantauan awan di
atas udara Indonesia yang menghasilkan informasi tentang prakiraan
awal dan akhir musim kemarau di Indonesia.

    3) Pemanfaatan Teknologi Dirgantara

     Program pemanfaatan teknologi dirgantara bertujuan untuk dapat
menjangkau seluruh lapisan masyarakat khususnya masyarakat di
perdesaan dan daerah terpencil dengan menggunakan teknologi
dirgantara yang dapat dirasakan, baik secara langsung maupun tidak
langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan yang telah

                                                                VII/35
dilakukan sampai dengan tahun 1996/97 meliputi pemanfaatan energi
angin dan surya, jasa inderaja, iklim dan cuaca, serta pemanfaatan
hujan buatan.

      Dalam rangka pemanfaatan energi angin sebagai salah satu energi
alternatif, terus dikembangkan berbagai prototipe kincir angin dan
turbin angin baik untuk keperluan pembangkit listrik maupun
pemompaan air di daerah perdesaan yang belum terjangkau aliran
listrik. Sampai dengan tahun 1996/97 telah dibangun desa angin
percontohan di Jepara, Jawa Tengah dan Desa Selayar di Pulau
Lombok yang dapat menghasilkan daya 45 Kw yang telah dapat
dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebanyak 257 kepala keluarga.
Dalam rangka membuat peta potensi energi angin telah dilakukan
pengukuran pada 75 lokasi serta survei dan monitor data angin di 15
lokasi baru, termasuk pengadaan peralatan ukur di Nusa Tenggara
Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Irian Jaya dan Kalimantan
Selatan. Selain itu juga telah dilakukan pengembangan sistem basis
data desa angin percontohan Jepara serta kaji ekonomis produksi lokal
generator dan komponen sistem energi angin. Dari hasil pemetaan
potensi energi angin tersebut, terdapat 36 lokasi yang potensial untuk
dikembangkan, antara lain Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Selatan, Karimun Jawa, Madura, dan Jepara.

     Sementara itu dalam pemanfaatan dan pengembangan energi
surya pada tahun 1996/97 telah dikembangkan dan dipasang perbagai
photovoltaic (pembangkit listrik tenaga surya/PLTS) untuk pembang-
kit listrik di wilayah terpencil atau perdesaan yang tidak terjangkau
oleh aliran listrik PLN untuk keperluan penerangan dan keperluan
rumah tangga lainnya. Di samping untuk kebutuhan rumah tangga,
penggunaan PLTS ini juga sangat efektif untuk instalasi air bersih,
catu daya televisi repeater, dan instalasi pelayanan kesehatan masya-
rakat seperti penyimpan vaksin, serta keperluan radio komunikasi



VII/36
untuk daerah terpencil. Untuk mengefektifkan pemanfaatan PLTS dan
pemanfaatan sumber daya energi setempat, telah dikembangkan
sistem gabungan pembangkit listrik tenaga hibrid, yaitu penggabungan
antara PLTS, PLT diesel dan PLT angin di wilayah Nusa Penida Bali
yang merupakan model untuk penerapan di daerah lain.

     Dalam jasa informasi prakiraan iklim dan cuaca, terus dilakukan
pengamatan kondisi lingkungan atmosfer baik dengan memanfaatkan
berbagai sarana dan prasarana yang meliputi sistem perolehan data
berbasis bumi maupun melalui data satelit. Juga telah dimanfaatkan
roket sonda serta balun stratosfer serta berbagai pos-pos pengamatan
hujan, iklim dan cuaca untuk mendukung kemampuan dalam pra-
kiraan iklim dan cuaca. Untuk meningkatkan pelayanan jasa meteo-
rologi, saat ini sedang dibangun stasiun atmosfer global di Bukit
Tinggi - Sumatera Barat.

     Dari hasil kegiatan penelitian iklim pada tahun 1996/97, didapat-
kan hasil bahwa pertumbuhan awan di Indonesia banyak terjadi di
daerah pertemuan antara masa udara dingin laut dengan masa panas
dari daratan. Sedangkan dalam kegiatan prakiraan rata-rata hujan telah
dibuat model sirkulasi laut di lautan Pasifik dan lautan Hindia serta
perangkat lunak untuk membuat model parameter hujan yang dapat
menghasilkan pola hujan harian. Di samping itu juga telah dilakukan
pembuatan model suhu udara di Indonesia untuk daerah Serang,
Bogor, Bandung dan Cirebon.

     Untuk mendukung informasi kondisi lingkungan atmosfer, pada
tahun 1996/97 telah dilakukan pengukuran kualitas udara di beberapa
kota besar dan daerah industri antara lain di Jakarta, Bandung,
Padalarang, Bekasi dan Cirebon. Sebagai pembanding, juga telah
dilakukan pemantauan kualitas udara bersih di atas udara Lembang.



                                                               VII/37
Hasil pemantauan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pencemaran
udara di beberapa lokasi tersebut masih di bawah ambang batas.

     Pada tahun 1996/97 juga dilanjutkan kegiatan penyedian hujan
buatan terutama di saat musim kemarau baik untuk mempertahankan
kesinambungan produksi listrik tenaga air maupun untuk kepentingan
pertanian dan perkebunan. Kegiatan tersebut didukung dengan ber-
bagai sarana dan prasarana termasuk laboratorium hujan buatan di
PUSPIPTEK Serpong.

    4) Pembinaan Kedirgantaraan

    Program pembinaan kedirgantaraan ditujukan untuk meningkat-
kan produktivitas, efisiensi, dan peran serta masyarakat melalui
peningkatan keterpaduan pelaksanaan dan peningkatan pemanfaatan
kawasan dirgantara.

     Dalam upaya pembinaan kelembagaan tentang tatanan organisasi
kedirgantaraan, pada tahun 1996/97 telah teridentifikasi kerangka
menyeluruh sebagai konsep awal pengorganisasian unsur-unsur
kedirgantaraan nasional. Organisasi dan kelembagaan kedirgantaraan
tersebut terus disempurnakan menuju terwujudnya sistem pengelolaan
yang terpadu, serasi, efektif dan efisien dalam koordinasi dan
pengendalian pemerintah agar sektor kedirgantaraan mampu
memberikan pelayanan dan dorongan bagi berbagai kegiatan ekonomi.

     Dalam rangka menegakkan kedaulatan atas wilayah dirgantara
telah dihasilkan konsepsi kedirgantaraan nasional. Konsepsi tersebut
merupakan pengejawantahan Wawasan Nusantara dalam pendaya-
gunaan dirgantara, memuat rumusan cara pandang dan sikap bangsa
Indonesia tentang dirinya dan lingkungan dirgantara yang merupakan
wilayah kedaulatan atau kawasan kepentingan nasional sebagai suatu



VII/38
kesatuan utuh. Selain itu dalam upaya memperoleh pengakuan
internasional atas hak penggunaan wilayah antariksa dan penguasaan
iptek dirgantara dalam rangka pendayagunaan keunggulan komparatif
wilayah antariksa, dalam tahun 1996/97 Indonesia telah ikut berperan
serta dalam berbagai pertemuan internasional. Di wilayah Asia-Pasifik
Indonesia telah berpartisipasi dalam program aplikasi antariksa
regional untuk pembangunan berkelanjutan di Asia-Pasifik serta
pengembangan pusat pendidikan regional di bidang ilmu dan teknologi
antariksa. Pusat pendidikan tersebut terutama ditujukan untuk menye-
lenggarakan pendidikan dan latihan bagi para pendidik dan ilmuwan
di bidang aplikasi teknologi antariksa seperti penginderaan jauh, ling-
kungan dan atmosfer, serta komunikasi.

     Indonesia juga berperan aktif dalam pengembangan jaringan
tentang penelitian perubahan lingkungan global yang merupakan
kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan penelitian lingkungan global
melalui kerjasama negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Dalam
rangka penegakan kedaulatan dirgantara, terus diupayakan pembi-
caraan di berbagai forum bilateral, multilateral, regional, dan inter-
nasional sebagai langkah perjuangan, pengawasan dan pengendalian
seluruh wilayah udara nasional.

     Dalam upaya menciptakan pelaksanaan pembangunan kedirgan-
taraan secara terpadu efektif dan efisien, pada tahun 1996/97 telah
dikembangkan pusat dokumentasi dan informasi teknik kedirgan-
taraan. Kegiatan tersebut antara lain dilakukan melalui komputerisasi
informasi kedirgantaraan serta pembangunan internet sehingga diharap-
kan pelayanan data dan informasi kedirgantaraan kepada pengguna
dapat dilakukan lebih terpadu, efektif dan efisien serta dapat mendu-
kung penyebarluasan dan pemasyarakatan informasi iptek
kedirgantaraan.



                                                                VII/39
     Selain itu untuk menciptakan sumber daya manusia yang mema-
dai serta mampu meningkatkan produktivitas di bidang iptek kedirgan-
taraan, dilanjutkan peningkatan dan pengembangan kemampuan
sumber daya manusia melalui pendidikan di dalam dan luar negeri
serta pelatihan penjenjangan teknis dan fungsional. Pada tahun
1996/97 kegiatan ini antara lain menghasilkan tambahan 4 (empat)
orang doktor dan 9 (sembilan) orang magister.




VII/40
                            TABEL VII – 1
          VARIETAS UNGGUL TANAMAN PANGAN YANG DILEPAS 1)
                           1993, 1994 – 1996
                               (varietas)




1) Angka kumulatif Mulai Tahun 1989




                                                           VII/41
                             TABEL VII – 2
           HASIL PELAKSANAAN PROGRAM PEMETAAN DASAR 1)
                        1993/94, 1994/95 – 1996/97




   1)    Angka kumulatif
   2)    Angka sementara




VII/42
                          TABEL VII – 3
             TINGKAT PENDIDIKAN TENAGA PENELITI 1)
                     1993/94, 1994/95 – 1996/97
                               (orang)




1)   Angka Kumulatif
2)   Angka Sementara
3)   Dihentikan




                                                     VII/43
                                   TABEL VII – 4
                     PROPOSAL PENELITIAN YANG LOLOS SELEKSI
                      DALAM PAKET PENELITIAN KOMPETITIF 1)
                              1993/94, 1994/95 – 1996/97
                                        (judul)




1) Angka kumulatif




VII/44

								
To top