Pengalihan Informasi Verbal Menjadi Nonverbal - DOC by cis18220

VIEWS: 2,259 PAGES: 55

More Info
									                             Bab I Pendahuluan



I.1. Latar Belakang Masalah


Dalam Dunia kesenian terdapat kecenderungan karya-karya yang menjadikan
manusia dan tingkah lakunya sebagai subjek ungkapan. Karya demikian menggali
sifat alamiah manusia, terutama dalam hubungan dengan kehidupan sosialnya.
Karya demikian digolongkan sebagai karya seni dengan tema sosial. Lebih jauh
ada kecenderungan pada karya seni demikian mengungkap lelucon dan sindiran
terhadap kejanggalan tingkah laku manusia dan situasi sosialnya (Feldman, 1967:
55– 61). Dalam kesusasteraan kecenderungan demikian terdapat pada karya
Aristophanes (Yunani), Nasruddin bin Hodja dan Abu Nawas (Timur Tengah),
Tao Te Cing (Cina) hingga Si Kabayan (Sunda), yang merupakan karya komedi
sindiran (satire) terhadap situasi masyarakat.


Selain pada bidang sastra verbal, karya sindir visual juga sudah muncul pada
relief bangunan baik di Yunani, Romawi, Mesir hingga ke lukisan Cina dan
cukilan Ukiyo-e Jepang (Hoff, 1976: 16 -23). Relief yang melingkari candi
Borobudur di tingkat paling bawah (Rupadathu) menyindir sifat angkara murka
manusia. Karya dengan tema sama ditemukan di Eropa jaman Pertengahan pada
karya Hieronimus Bosch dan Pieter Brueghel. Di Bali dapat dilihat gaya ungkap
demikian pada lukisan langit-langit Balai Kertagosa, Klungkung. Berbagai
contoh menunjukkan kecenderungan universal karya seni rupa yang mengangkat
lelucon dan sindiran sebagai pilihan ungkapan.


Karya sindir mulai menjalankan peranannya sebagai media kritik politik sejak
berkembangnya seni cetak di Eropa masa Renesans. Pada abad-XVI gerakan
reformasi Martin Luther melakukan kritik terhadap gereja Katolik melalui
penyebaran pamflet hasil cetak cukilan kayu (Lucie-Smith, 1981: 34-35, Sibarani,
2001:10). Hal tersebut memperlihatkan kekuatan media cetak yang bisa
digandakan untuk menyebar opini secara luas (Wagiono, 1982: 9). Dengan makin

                                        1
sempurnanya teknologi cetak di Eropa, lahirlah media surat kabar yang menjadi
lahan gambar sindir cetak yang sekarang dikenal dengan karikatur atau kartun
editorial.




   Gambar I.1 Cukilan Kayu menentang Gereja Katolik (Sumber Lucie-Smith 1981)




I.1.1. Terminologi Karikatur dan Kartun


Kata "Karikatur"        berasal dari carricare1 (melebihkan untuk memunculkan
karakter) yang diperkenalkan Annibale Caracci pada abad-XVI sebagai
perlawanan terhadap kemapanan estetik masa Renesans (Heller, 1981: 10).
Caracci membuat gambar dengan mendistorsi wajah teman-temannya. Kemudian
gambar lucu yang menonjolkan karakter pada wajah disebut “Caricature”. Masa
itu karikatur diartikan juga sebagai mendistorsi wajah ataupun sosok untuk
menonjolkan karakteristik seseorang (Koestler, 1964: 70, Lester, 2001: 176).
Studi yang sama dilakukan Leonardo da Vinci dalam mempelajari berbagai
karakter wajah. Menurutnya seniman harus menguasai dan terus melatih diri
tentang sistem klasifikasi wajah dalam berkarya. Pada abad-XVII dan abad-XVIII
studi tipologi wajah dilanjutkankan oleh seniman sesudahnya seperti Charles le
Brun dan Francis Goser (Gombrich, 1960: 347 - 351).

     1 ) car.i.ca.ture n [It caricatura, lit., act of loading, fr. caricare to load, fr. LL carricare]
     (1712) 1: exaggeration by means of often ludicrous distortion of parts or characteristics
     [ Merriam-Webster Dictionary 1994]

                                                 2
Dalam perkembangannya kemudian istilah karikatur juga digunakan untuk
menandai gambar sindiran sosial politik. Tampilan demikian dilihat pada karya-
karya William Hogarth dan Rudolphe Töpffer (Gombrich, 1960: 337). Honore
Daumier pada tahun 1831 bekerja pada majalah "La Caricature" yang berisi kritik
terhadap keburukan situasi sosial di Prancis (Hoff, 1976: 47-48). Arti kata
karikatur telah melebar, dari distorsi anatomi manusia menjadi gambar sindir
sosial-politik. Hingga hari ini sebagian besar masyarakat masih mengartikan
karikatur sebagai gambar sindir masalah sosial politik, bukan sebagai gambar
distorsi wajah ataupun penonjolan karakter tokoh.


Kata "Cartoon" asalnya adalah karton, kertas tebal yang digunakan untuk
membuat sketsa rancangan dalam pembuatan fresco (lukisan dinding). Sketsa
karton tersebut jadi acuan untuk dijiplak ke dinding. Di Museum London dapat
dilihat “cartoon” Michelangelo untuk lukisan langit-langit di Sistine Chapel,
Roma. Pada tahun 1843 Balaikota London mengadakan sayembara pembuatan
“cartoon” untuk lukisan dinding gedungnya. Hasil para peserta dipamerkan di
Balai Kota. Saat itu Majalah satire “Punch” memuat gambar sindir karya John
Leech berjudul "Cartoon No.1", memprotes gagasan Balaikota yang dianggap
pemborosan. “Punch” merupakan majalah satir yang menjadi media kritik
kebijakan pemerintah yang tidak sesuai aspirasi masyarakat. Sejak itu kata
“cartoon” mulai dipakai untuk menyebut gambar sindir (Wagiono, 1983:33).


Karena dirasakan lebih luwes untuk menandai gambar lucu dengan cara gambar
garis untuk maksud apapun, sejak awal abad-XX istilah “cartoon” makin meluas
penggunaannya. Kata tersebut menandai kegiatan gambar lucu dalam cakupan
yang lebih luas. Dalam The Encyclopedia of Cartoons (Horn, 1980: 15-24)
pengertian cartoon dipilah lebih khusus sesuai dengan kegiatan yang ditandainya:
Comic Cartoon atau Gag Cartoon untuk yang lelucon sehari-hari, Political
Cartoon untuk gambar sindir politik, Animated Cartoon untuk filem kartun.
Istilah Editorial Cartoon digunakan khusus untuk kartun media pers cetak (surat
kabar, tabloid, majalah) yang berisi komentar dan sindiran terhadap peristiwa,


                                       3
berita ataupun isu yang hangat di masyarakat. Kata Cartoon ini yang dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Kartun”.


Sebetulnya Steven Heller (1981: 20) mencoba memperkenalkan istilah baru
untuk menandai gambar sindir yang khusus satirikal, Graphic Satire. Istilah ini
tak membatasi pada segi teknik, karya bisa menggunakan teknik cat minyak,
kolase, fotografis, relief, tiga dimensi, campuran teknik (mix media). Karya
graphic satire tidak selalu lucu, bisa sangat serius dan pathetic. Diharapkan
istilah ini dapat melingkupi karya satire secara umum. Sayang istilah tersebut tak
begitu populer. Untuk gambar sindir di media massa, masyarakat lebih sering
menggunakan istilah karikatur atau kartun.


Istilah karikatur dan kartun pun sampai hari ini masih sering digunakan bersama
dalam pengertian yang rancu. Karikatur diartikan sebagai gambar sindir serius
(satire) sedangkan kartun hanyalah gambar lucu (Sibarani 2001: 9-11). Untuk
menghindari kerancuan, penelitian ini menggunakan istilah “kartun editorial”
agar dapat membatasi lingkup kegiatan khusus, yaitu kartun sindiran yang dimuat
di media surat kabar dan majalah sebagai editorial (tajuk rencana). Dalam
penelitian ini kata karikatur dibatasi pada arti asalnya, distorsi wajah dan atau
sosok untuk menonjolkan karakteristik seorang tokoh. Karikatur bisa saja muncul
dalam sebuah karya kartun editorial untuk menampilkan tokoh yang disindir.


Kartun yang menjadi bahan penelitian disertasi ini adalah, kolom kartun editorial
yang biasanya muncul secara berkala dan ditempatkan di halaman yang sama
pada tata-letak surat kabar, menjadi semacam tajuk rencana dalam bentuk visual
(Mahamood, 1999: 1-2). Kolom tersebut berisi sindiran terhadap polah tingkah
tokoh masyarakat, kebijakan pemerintah, ataupun berita maupun isu yang sedang
ramai dibicarakan. Karena ditampilkan secara rutin di halaman utama, maka
kartun tersebut dianggap sebagai sikap dan opini redaksi, sejalan dengan misi
media yang memuatnya. Melalui ungkapan kartun editorial dapat difahami
bagaimana hubungan media dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan dapat
dipelajari budaya komunikasi masyarakat pada tempat dan saat tertentu.


                                       4
I.1.2. Kartun dan Metafora2


Metafora adalah cara penyampaian di mana sebuah tanda yang secara literer
sudah memiliki makna denotatif dari gagasan tertentu, digunakan untuk sistem
simbol lain, hingga muncul analogi antara keduanya. Melalui analogi tersebut
terjadi perluasan arti yang menimbulkan “makna baru” pada topik tersebut.
Metafora tanpa terlalu disadari sangat meluas digunakan pada komunikasi, baik
dalam sastra, naskah agama, periklanan, ataupun dalam pembicaraan sehari-hari.


Kartun menggunakan bahasa tak langsung, berbeda dengan bahasa berita, pidato
dan gosip yang denotatif (Anderson 1990:155). Menurut Gombrich (1963: 129),
pada kartun metafora digunakan untuk mengungkap masalah secara konotatif
melalui pengalihan, agar terjadi perluasan makna dari topik yang diangkat                     .
Pengalihan metaforik bagi kartunis merupakan gudang senjata (cartoonist’s
armoury), untuk mengungkap komentar agar lebih tajam dan kaya makna.


Metafora kartun editorial dilakukan melalui olah rupa dasar (garis, babar, bidang,
bentuk), distorsi, dan juga pengalihan objek dan situasi tutur. Dalam permainan
pengalihan tersebut tersirat pula nuansa emotif3 yang terjadi melalui bentuk
metaforik yang diungkap, pilihan diksi dalam linguistik, atau tanda visual dalam
kartun (lihat juga Bab II.3.5.). Ungkap emotif kartun menunjukkan bagaimana
sebuah kartun bersikap terhadap situasi yang dikomentari.


Pengalihan dari satu sistem tanda ke sistem yang lain dalam komunikasi dilatari
pengetahuan dan perbendaharaan tanda yang dimengerti sebuah komunitas

     2
       met.a.phor n [MF or L; MF metaphore, fr. L metaphora, fr. Gk, fr. metapherein to
     transfer, fr. meta- + pherein to bear--more at bear] (1533) 1: a figure of speech in which
     a word or phrase literally denoting one kind of object or idea is used in place of another
     to suggest a likeness or analogy between them (as in drowning in money); broadly:
     figurative language--compare simile (Merriam-Webster's 10th Collegiate Dictionary,
     Brittannica CD-ROM, 1995)
     3
      emo.tive adj (1830) 1: of or relating to the emotions 2: appealing to or expressing
     emotion <the~use of language (Merriam-Webster's 10th Collegiate Dictionary,
     Brittannica CD-ROM, 1995)

                                             5
tertentu, hingga pembaca (pengamat) dapat menangkap permainan pengirim
pesan (kartunis). Melalui pengalihan metaforik itu dapat terbaca konsep berpikir,
suasana emotif yang terungkap, dan latar kebudayaan suatu komunitas.




I.1.3. Kartun Editorial Masa Demokrasi Parlementer di Indonesia


Suasana bangsa Indonesia pada tahun 1950an memperlihatkan kegairahan yang
tinggi, setelah kedaulatan negara yang diperjuangkan sejak proklamasi akhirnya
diakui secara internasional. Pada periode itulah bangsa Indonesia berusaha
mewujudkan harapan dan cita-citanya dalam mekanisme dan sistem bernegara.
Melalui sistem pemerintahan parlementer para tokoh yang berbeda ideologi dan
partai saling berebut untuk mengatur jalannya negara, baik melalui Dewan
Perwakilan Rakyat maupun menjadi eksekutif kabinet.


Persaingan antar berbagai kekuatan politik melalui sistem perlementer
menyebabkan suasana selalu labil. Kabinet demi kabinet jatuh oleh mosi tidak
percaya. Terjadi tujuh kali pergantian kabinet dalam waktu hanya tujuh tahun.
Pada masa yang sama terjadi pula pemberontakan bersenjata di Jawa Barat (DI),
di Sulawesi Selatan (TII) , di Aceh (Daud Beureuh), di Sumatera (PRRI) dan di
Sulawesi (Permesta). Periode 1950-1957 dapat dikatakan sebagai masa paling
dinamis dalam sejarah demokrasi politik di Indonesia, ditandai oleh pergulatan
ideologi untuk mengarahkan masa depan bangsa. Perbedaan berbagai pandangan
yang berimbang melahirkan situasi yang sangat dinamis dan terbuka. Pada masa
itu pula kebebasan menyampaikan pendapat dimanfaatkan seluas-luasnya.


Dinamika yang sama tampak pada berbagai media, terutama surat kabar yang
terbit pada masa itu. Pada tahun limapuluhan RRI (Radio Republik Indonesia)
adalah satu-satunya media penyiaran yang dapat diterima hingga ke pelosok.
Radio dikuasai oleh pemerintah. Penyebaran pesan pemerintah juga dilakukan
oleh PFN (Perusahaan Filem Negara) lewat filem penerangan di bioskop dan
pemutaran filem keliling dari desa ke desa. Surat kabar dan majalah yang sejak


                                       6
masa penjajahan Belanda telah dikelola oleh swasta, merupakan media yang
sangat berperan sebagai penyampai berita dan opini sosial-politik.


Meskipun wilayah cakupannya hanya di sekitar perkotaan, surat kabar menjadi
media komunikasi utama dalam penyaluran aspirasi politik. Pada masa
Demokrasi Parlementer, partai-partai mengkomunikasikan opini dan menyebar
pengaruh melalui surat kabar terbitannya, yang dikenal sebagai surat kabar
partisan atau surat kabar corong partai (Simanjuntak, 1998: 22). Surat kabar
partai pada masa itu antara lain adalah Abadi (Masjumi), Suluh Indonesia (PNI),
Harian Rakjat dan Bintang Timur (PKI), Duta Masjarakat (NU). Di samping itu
ada pula surat kabar independen yang kuat seperti Merdeka, Pedoman           dan
Indonesia Raya (Smith, 1983: 94-95).


Beberapa surat kabar menggunakan kartun editorial sebagai media penyampai
opini dan kritik. Hal ini bisa dimengerti, mengingat sindiran dalam bentuk visual
lebih menarik dan mudah dicerna. Kartun editorial lalu jadi media efektif untuk
menyatakan pandangan politik. Pada masa kampanye Pemilihan Umum 1955
Suluh Indonesia memasang kartun editorialnya tiap hari di halaman pertama.
Sejak terbit hingga ditutup tahun 1966 Harian Rakjat menyajikan kilas-balik
mingguan yang merupakan komentar dari hari ke hari terhadap peristiwa yang
terjadi. Yang menonjol adalah, kartun editorial dengan bebas menghantam pihak
yang menjadi lawan politiknya. Sejalan dengan tajamnya pertikaian, sifat
ungkapan kartun editorial pun kadang sinis, bahkan sarkastik.


Dalam situasi politik yang dinamis masa itu kartun editorial tumbuh subur
mengungkap komentar dan sikap politik secara terbuka terhadap berbagai situasi
yang terjadi, baik sebagai media polemik antar partai, maupun menjatuhkan
kabinet yang situasinya selalu lemah. Keadaan di mana kekuatan politik
berimbang memberi peluang kebebasan luas bagi kartunis untuk mengolah
bentuk ungkapan opininya. Serangan ditujukan pada kebijakan, peristiwa maupun
ideologi, bahkan pribadi. Keadaan yang nyaris tanpa tekanan ini memberi
keleluasaan pada penampilan kartun editorial untuk menyampaikan kecaman.


                                       7
Pilihan kasus penelitian disertasi pada masa Demokrasi Parlementer (1950 –
1957) karena signifikansi dalam kebebasan berungkap dalam situasi banyak
partai yang diwarnai perbedaan garis politik yang keras. Dalam perkembangan
kartun editorial di Indonesia, masa tersebut merupakan jaman keemasan kartun
editorial, ditandai oleh kebebasan dalam menyampaikan kritik. Keterbukaan ini
sangat berbeda dengan masa Demokrasi Terpimpin (1959 – 1965), di mana
kebebasan didominasi oleh media pers kiri. Berita dan opini terpaksa mengikuti
garis kebijakan Presiden Soekarno dan orang-orang dekatnya (istilah sindiran
yang muncul saat itu adalah ABS, Asal Bapak Senang).


Pada awal bangkitnya Orde Baru (1966), kartun politik kembali memperoleh
keleluasaan berungkap, umumnya untuk menyerang dan menjatuhkan Orde
Lama. Kebebasan kartun editorial tampak pada surat kabar mahasiswa seperti
Harian KAMI dan surat kabar Mahasiswa Indonesia yang mulai melancarkan
kritik pula terhadap kelemahan pemerintahan yang baru berkuasa. Pemerintah
Orde Baru yang dikendalikan oleh Militer tak menyenangi situasi demikian,
sehingga setelah tahun 1974 pengawasan terhadap media pers diperketat kembali.
Dengan makin kuatnya pemerintah Orde Baru, kebebasan pers (dan juga kartun)
ditekan hingga kejatuhan Presiden Suharto pada tahun 1998.


Pada kartun editorial masa Demokrasi Parlementer (1950 –1957) metafora kartun
editorial tak selalu dimanfaatkan untuk memperhalus pesan, tapi lebih sering
digunakan justru mempertajam kritik. Opini diwarnai pula oleh latar budaya
kelompok ideologi, hingga terdapat keragaman besar dalam ungkapan emotif
yang ditampilkan. Melihat naik turunnya kebebasan berungkap sehubungan
dengan situasi sosial politik yang mendukungnya muncul pertanyaan, bagaimana
relasi kartun editorial dengan situasi sosial politik dan budaya, dan dalam konteks
seperti apa metafora kartun pada situasi tertentu dibangun. Mengambil contoh
situasi keterbukaan pada masa Demokrasi Parlementer tersebut. dapat dicermati
aneka metafora kartun editorial berelasi dengan situasi sosial politik dan nilai
budaya masyarakat, serta keragaman ungkapan emotif karya kartun masa itu.


                                        8
I.2. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana bentuk, corak dan gaya metafora pada kartun editorial masa
Demokrasi Parlementer? Dalam hal ini yang diteliti adalah hubungan antara
perupaan kartun editorial dengan situasi sosial-politik dan budaya yang
mendukungnya.


Bagaimana pola, sifat dan intensitas kartun editorial berelasi dengan situasi
sosial-budaya masa tersebut? Dalam hal ini yang akan diteliti adalah intensitas
emotif kartun dengan kondisi sistemik yang mempengaruhinya.




I.3. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara situasi sosial-budaya
dengan penampilan kartun editorial, khususnya bagaimana sebuah situasi
melahirkan metafora pada kartun editorial. Dengan demikian akan diperoleh
pemahaman tentang dampak dari latar belakang sosial, politik dan budaya
terhadap metafora kartun, baik dalam dalam pemanfaatan unsur rupa maupun
pengungkapan makna untuk membangun sikap emotif karya.




I.4. Fokus Penelitian


Penelitian ini meletakkan fokus pada penggunaan metafora visual pada kartun
editorial melalui kajian rupa dasar, bahasa tubuh, serta pengalihan objek dan
situasi. Untuk memahami penggunaan metafora dan aspek emotif yang
terungkap, digunakan data situasi politik dan latar belakang budaya agar dapat
diketahui hubungan antara lingkup kebudayaan, situasi sosial dengan metafora
pada kartun editorial.




                                      9
I.5. Lingkup Penelitian


Objek Penelitian ini adalah kartun editorial yang terbit pada surat kabar di Jakarta
masa Demokrasi Parlementer (1950 – 1957) yang diteliti secara sinkronik, dalam
periode dan lokasi yang sama. Pilihan surat kabar berdasarkan kriteria: surat
kabar yang berpengaruh dan mewakili aspirasi ideologi masyarakat pada saat itu


I.6. Manfaat Penelitian


Temuan penelitian dapat memberi gambaran mengenai interelasi situasi sosial-
politik dengan kebudayaan, yang memicu lahirnya karya karya kartun editorial di
sebuah komunitas. pada satu masa tertentu


Melalui penelitian ini dapat dikembangkan kerangka pendekatan dan metoda
analisis segi perupaan / visual untuk diaplikasikan kepada penelitian lebih lanjut,
baik untuk bidang kartun maupun untuk bidang komunikasi visual lain.


Secara umum hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pengamat sosial
dan seni rupa, pengajar, redaksi media massa dan kartunis, untuk memperoleh
gambaran mengenai keberadaan, peranan kartun editorial dalam masyarakat.




I.7. Pendekatan dan Metodologi


I.7.1. Pendekatan


Secara umum penelitian ini merupakan penelitian seni rupa dengan pendekatan
kualitatif: memahami karya seni rupa yang diciptakan sebuah pranata sosial untuk
memenuhi kebutuhan integratif dalam lingkungan kebudayaan tertentu (Rohidi
2000: 5-6). Penelitian ini memusatkan perhatian pada penggunaan metafora
visual dan aspek emotif dalam sebuah masyarakat pada masa tertentu. Karena
yang diteliti adalah teks visual masa lalu di mana terjadi patina of age (Leeuwen,


                                        10
2001: 103) atau jarak waktu dan makna pada penafsiran gambar, maka
dibutuhkan bahasan mengenai konteks sosial politik dan budaya dimana karya
tersebut dilahirkan agar diperoleh pemahaman yang lebih jernih.


Aspek rupa objek kartun diteliti melalui penelaahan rupa dasar (bentuk, teknik,
corak, susunan) dengan representasi gambar yang muncul melalui rupa dasar.
Bentuk gambar ikonik (image, wimba) tersebut dibaca melalui berbagai tanda
yang muncul, untuk menafsir makna gambar sesuai dengan konteks peristiwanya.


Aspek yang secara umum melatari karya adalah kebudayaan masyarakat dimana
karya tersebut dilahirkan. Pengalihan metaforik sangat dipengaruhi oleh
kebudayaan, terutama tata-nilai dan bahasa yang digunakan. Melalui pendekatan
kebudayaan diharapkan dapat memahami sistem nilai budaya dan perlambangan
masa tersebut yang melatari keberadaan kartun editorial masa tersebut.




I..7.2. Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup data visual (artifak) kartun
editorial pada sekitar tahun 1950 –1957, dan data pendukung berupa buku dan
tulisan yang dapat memberi gambaran situasi sosial-budaya dan politik pada masa
tersebut. Pengumpulan data dan informasi mengenai latar belakang sosial budaya
dilakukan melalui kaji pustaka sejarah mengenai masa tersebut serta buku kajian
seni rupa, sosial dan kebudayaan yang relevan. Data teks diperoleh dari
Perpustakaan Nasional, berbagai perpustakaan umum dan perpustakaan pribadi.
Data teks juga diperoleh dari situs internet yang menyediakan sumber data yang
relevan dengan penelitian ini Saksi hidup yang diwawancarai adalah beberapa
kartunis senior yang telah bekerja sedikitnya duapuluh lima tahun sebagai
kartunis editorial tingkat nasional. Mereka adalah: Dwi Koendoro dari surat kabar
Kompas, Pramono Pramoedjo dari surat kabar Suara Pembaruan dan Sinar
Harapan, T. Soetanto dari surat kabar The Jakarta Post dan Pikiran Rakyat.



                                       11
Pengumpulan data artifak visual kartun editorial difokuskan pada surat kabar
yang berpengaruh di Jakarta, bertiras besar dan dikenal baik oleh masyarakat, dan
dalam catatan sejarah mewakili beberapa ideologi politik masa itu. Surat kabar
yang cukup berpengaruh adalah Indonesia Raya, Abadi, Pedoman, Merdeka,
Suluh Indonesia, Bintang Timur dan Harian Rakjat yang. Data tersebut diperoleh
melalui ketersediaan data di berbagai perpustakaan dengan cara fotokopi,
pemotretan, dan hasil pemindaian (scanning) digital.


Pemilihan kartun difokuskan kepada penggunaan metafora dalam mengungkap
masalah yang berelasi dengan politik. Artifak terkumpul direduksi berdasarkan
kriteria: kartun editorial yang menanggapi peristiwa politik dalam negeri, hingga
didapatkan 344 kartun untuk ditelaah melalui tabulasi tipologis (lihat Bab IV.2.3.
dan Lampiran-5 Tabulasi). Bahasan lebih dalam dilakukan melalui telaah
kualitatif pada 35 kartun editorial yang dipilih sesuai dengan aspek yang dibahas,
mengenai hubungan situasi politik dan latar budaya dengan aspek metafora dan
emotif pada kartun dalam menanggapi isu dan peristiwa politik masa tersebut.




I.7.3. Analisis Data


Penelitian ini menempatkan seni rupa sebagai kajian utama, latar sosial politik
sebagai penunjang untuk dapat membaca peta situasi dan interaksi sosial politik,
dan kebudayaan sebagai upaya pemahaman mengenai tata nilai dan sistem simbol
budaya pada masa tersebut. Analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut:


Analisis rupa dilakukan melalui beberapa langkah. Pertama adalah membuat
klasifikasi tipologis terhadap semua karya yang terkumpul. Dalam hal ini peneliti
menerapkan pendekatan kuantitatif terhadap berbagai aspek yang muncul dalam
344 artifak kartun yang diteliti. Seperti dinyatakan Creswell (1994: 177 –178),
dimungkinkan menggunakan data kuantifikasi dalam penelitian kualitatif.
Penghitungan kuantifikasi dengan angka bukan untuk tujuan pembuktian
korelasional, tetapi sebagai frekuensi dan prosentase melalui tabulasi.


                                        12
Tabulasi tersebut digunakan untuk melihat kecenderungan pemakaian bahasa
dan latar budaya, perupaan, metafora dan aspek emotif karya. Hasil tabulasi
sederhana tersebut dimanfaatkan untuk membaca secara umum hubungan antar
berbagai aspek perupaan kartun editorial dengan situasi politik dan latar budaya


Tipologi pada tabulasi juga mencatat objek /wimba yang digambar, hubungan
objek gambar dan penggayaan. Dalam teori Bahasa Rupanya, Primadi (2005:
130) menyebutnya isi wimba dan cara ungkap dalam dan luar. Data tipologis juga
mencatat berbagai metafora, antara yang digambar dan maksud tersiratnya (antara
topik berita dan kendaraan). Untuk memahami hubungan kontekstualnya, hasil
ini direlasikan dengan situasi sosial politik yang melatari artifak kartun editorial.


Pada kajian situasi sosial politik dipaparkan keadaan politik masa Demokrasi
Parlementer, serta mengulas perkembangan politik masa sebelumnya untuk
mendapatkan pemahaman mengenai masa tersebut. Mengingat kartun editorial
adalah karya yang kontekstual dengan ungkapan politik, maka ditelusuri pula
relasi antara kartun dengan peristiwa sosial politik yang melatarinya. Ungkapan
kartun diwarnai oleh ideologi surat kabar yang memuat di mana simbol dan
peristiwa tak dimaknai sama, tergantung keyakinan individu atau kelompok sosial
tertentu. Interaksi tersebut menggambarkan sikap dan pengambilan peran
kelompok dalam pranata sosial yang dinamis ( Turner, 1978: 309-311).


Gambar merupakan media komunikasi visual yang dimengerti oleh suatu
masyarakat berdasarkan konvensi simbol yang disepakati bersama. Meskipun
bahasa gambar ikonik (Peirce, Barthes), ikonografik (van Leeuwen) atau gambar
deskriptif (Primadi) sifatnya mendekati realistis dibandingkan bahasa verbal, tapi
pengartiannya dalam suatu konteks sangat dipengaruhi latar belakang budaya
penggunanya. Karena metafora menggabungkan dua makna (topik berita dan
kendaraan) dalam satu pigura, maka aspek budaya jadi penting dalam memahami
pemaknaan yang melatarbelakangi kartun editorial masa tersebut.



                                          13
Bila paparan situasi sosial politik mengungkap sisi topik berita dari kartun
editorial, aspek budaya mengungkap pemahaman sisi pengalihan metaforik yang
digunakan. Pendekatan kebudayaan digunakan untuk memahami simbol dan
unsur rupa lain dengan sistem nilai yang melatarbelakanginya. Latar sosial-politik
dan budaya digunakan sebagai bahan acuan mengkaji kartun editorial, untuk
memahami bagaimana aspek politik dan kebudayaan berelasi dengan metafora
kartun editorial dalam mengungkapkan suasana emotif masa tersebut.


Pendekatan di atas akan bermuara pada fokus penelitian; dalam kondisi apa dan
bagaimana metafora diwujudkan dalam kartun editorial pada masa Demokrasi
Parlementer di Indonesia. Pada rangkuman analisis dibahas relasi metafora kartun
dengan situasi politik dan sistem nilai budaya sebagai yang menaungi.


Sebagai penelitian kualitatif maka analisis data dan penyajian data berjalan
bersama dengan pengumpulan dan reduksi data (Huberman & Miles dalam
Denzin & Lincoln, 1994: 428-429). Dalam penyajian data dapat diverifikasi
pertanyaan yang mempertajam arah penelitian, agar dapat dilakukan kembali
pengumpulan data pelengkap sesuai verifikasi tersebut, semacam siklus (Sutopo,
1996: 89-91). Pada model analisis demikian peneliti harus terus waspada
terhadap aliran data yang masuk, pencatatan, deskripsi, klasifikasi, kodifikasi,
analisis data dan interelasi berbagai masukan data dengan tujuan penelitian.


Demi keabsahan digunakan triangulasi, baik dalam pengumpulan data,
narasumber, maupun metoda (Denzin & Lincoln 1994: 214-215). Hal ini
dilakukan melalui wawancara dan korespondensi dengan beberapa kartunis
editorial senior di Indonesia yang telah berkarya lebih dari 25 tahun agar
diperoleh gambaran lengkap untuk mendapat kesimpulan yang sesuai dengan
tujuan penelitian ini.




                                        14
I.7.4. Kerangka Pikir




                     Gambar I.2. Diagram Kerangka Pikir


Diagram di atas (gambar I.2.) menggambarkan kerangka pikir yang digunakan
dalam penelitian ini. Kebudayaan menjadi payung yang merelasikan situasi sosial
politik, sistem nilai dan sistem simbol (dan metafora). Fokus penelitian adalah
pada relasi kartun editorial dengan aspek visual perupaan, yang menggambarkan
aspek latar budaya dan aspek emotif pada tampilan kartun.


Langkah kerja penelitian ini dapat dilihat pada skema di bawah (gambar I.3.).
Bahasan tipologis merupakan tahap observasi artifak, melihat secara umum
kecenderungan yang terdapat pada kartun editorial. Tahap berikutnya adalah
analisis data yang telah dibahas dengan memperhatikan relasinya dengan situasi
sosial politik dan latar budaya. Hasil temuan dirangkum dan disimpulkan.



                                       15
                  Gambar I.3. Skema Langkah Kerja Penelitian




I.7.5. Sistematika Penulisan


Disertasi ini terdiri dari beberapa bab sebagai berikut:


Bab I, Pendahuluan, berisikan ringkasan mengenai karya satir dalam seni rupa,
       perkembangan istilah kartun dan karikatur, kartun editorial dan metafora,
       gambaran umum situasi politik periode Demokrasi Parlementer di
       Indonesia, pertanyaan dan fokus penelitian, tujuan dan manfaat penelitian,
       pendekatan dan metodologi penelitian.


Bab II, Landasan Teori, berisikan ulasan kepustakaan mengenai penelitian
       terdahulu, kebudayaan dan komunikasi gambar dan tulisan, berbagai
       aspek metafora, tentang kartun editorial, serta metafora pada kartun
       editorial yang mengulas masalah unsur rupa dasar, aspek ikonografik,
       bahas tubuh, pengalihan objek dan situasi.


Bab III, Politik dan Media masa Demokrasi Parlementer di Indonesia,
       memaparkan situasi politik dan pemerintahan pada tahun 1950 – 1957,
       didahului dengan paparan latar belakang lahirnya gagasan wilayah dan


                                         16
      kebangsaan di Indonesia, serta gambaran tentang beberapa faksi ideologi
      yang mewarnai peristiwa politik setelah kemerdekaan. Paparan masa
      Demokrasi Parlementer berisi ringkasan peristiwa politik yang penting
      pada masa tersebut. Pada bagian akhir dipaparkan secara ringkas situasi
      surat kabar di Jakarta pada masa tersebut.


Bab IV, Kartun Editorial Masa Demokrasi Parlementer, bab ini diawali dengan
      pandangan umum tentang kartun di Jakarta; laporan temuan tipologis
      mengenai teknik, gaya, serta paparan hasil tabulasi terhadap aspek-aspek
      yang diteliti dari kartun yang terkumpul. Pada bab ini dilakukan analisis
      tabulasi terhadap perupaan, bahasa dan budaya, metafora dan aspek
      emotif dari kartun yang terkumpul. Hasil tabulasi tersebut kemudian
      direlasikan dengan bahasan kualitatif terhadap kartun editorial tujuh surat
      kabar yang mewakili pandangan politik masa itu.


Bab V, Metafora Pada Kartun Editorial, membahas lebih komprehensif tentang
      metafora kartun ditinjau dari segi olah rupa, segi posisi sebagai kritik
      politik, serta wujudnya sebagai cermin budaya. Dari kupasan sintesis
      tersebut dirangkum temuan tentang bagaimana metafora dan aspek emotif
      bekerja dalam kartun editorial, melalui sebuah skema relasional.


Bab VI, Simpulan, yang terdiri dari simpulan temuan-temuan dalam penelitian,
      saran terapan serta saran penelitian lebih lanjut dan saran terapan.




                                       17
                          Bab II. Landasan Teori


Pada Bab ini akan diutarakan latar belakang teori penelitian disertasi tentang
kartun editorial ini. Untuk itu bab ini akan didahului dengan paparan mengenai
beberapa penelitian terkait, baik berkenaan dengan kartun editorial, maupun
mengenai metafora visual. Berikutnya akan diuraikan mengenai kebudayaan,
sistem nilai dan sistem simbol, metafora dan kartun editorial.




II.1. Penelitian Mengenai Kartun Editorial Indonesia



Beberapa Penelitian terdahulu terhadap kartun editorial di Indonesia umumnya
menggunakan artifak kartun sebagai alat untuk menafsirkan situasi sosial budaya
masyarakat tertentu. Penelitian sosial paling komprehensif dilakukan dalam
disertasi Jean Jacques Leduc (1986) yang membahas kartun editorial dari masa
penjajahan hingga Orde Baru (1934 – 1986) untuk memahami bagaimana situasi
politik tiap periode tersebut melalui kartun. Suwirya (Jurnal Sejarah-7, 1999)
meneliti berbagai masalah politik yang diungkap kartun pada masa revolusi di
Indonesia. Ben Anderson (1990: 152-172) membandingkan perbedaan situasi
sosial antara masa akhir demokrasi terpimpin dengan masa awal orde baru
melalui telaah kartun karya Sibarani dan karya Johny Hidayat. Aris Arif
Mundayat dalam tulisan "Alus dan Kasar, komunikasi politik di bawah Orde
Baru" (Buletin Antropologi, 16/1991: 5-26). menelaah situasi komunikasi yang
tak seimbang antara masyarakat dengan pemerintah melalui kartun Dwi
Koendoro. Dalam kasus-kasus di atas artifak Kartun digunakan sebagai jendela
membaca situasi sosial politik masa tertentu.


Penelitian Disertasi yang memusatkan perhatian pada bahasa dilakukan oleh I
Dewa Putu Wijana dalam “Kartun, Studi Tentang Permainan Bahasa”; membahas
tentang aspek linguistik / verbal penciptaan humor pada kartun, terutama pada
kartun sehari-hari (gag & comic cartoon) Indonesia tahun 1980 - 1993. Wijana


                                        18
mengupas secara sangat rinci manipulasi dan penyimpangan bahasa verbal yang
mengakibatkan situasi lucu. Namun dalam penelitiannya aspek non verbal
(gambar) pada kartun tak dibahas, karena bukan merupakan bidang kajiannya
(Wijana. 2003: 9-10). Aspek rupa hanya dipandang sebagai elemen extralingual
dijadikan situasi tutur (speech situation) untuk menyampaikan pesan-pesan verbal
tertulis. Penelitian disertasi kartun editorial ini akan memusatkan perhatian pada
bahasan aspek perupaan (visual). Meskipun dalam kartun editorial aspek verbal
muncul, dalam penelitian seni rupa teks verbal difahami sebagai pigura untuk
mengarahkan atau membatasi interpretasi terhadap gambar.


Penelitian aspek perupaan yang menggali tata bahasa rupa oleh Primadi
(2005:127) berfokus pada tata bahasa (syntagmatic) rupa. Primadi membatasi diri
pada cara membaca bahasa rupa deskriptif (lihat sisi B-C diagram II.1.). Seperti
halnya penelitian Primadi, penelitian disertasi ini tidak membahas sisi estetis
gambar. Penelitian disertasi ini mengambil sisi simbolik dalam bahasa rupa (sisi
A-B) dengan pandangan bahwa, bahasa merupakan pemindahan makna abstrak
(pikiran manusia) melalui simbol-simbol verbal (bunyi) maupun visual (gambar).
Selain membaca secara deskriptif, memahami gambar adalah usaha membaca
sistem simbol yang digunakan dalam budaya komunikasi masyarakat tertentu.




               Gambar II.1. Limas Gambar Representatif Primadi.


Dalam membahas kartun, penelitian ini memusatkan perhatian bukan kepada
humor yang sering dikaitkan dengan kartun, tetapi pada aspek simbolik ungkapan
metafora yang muncul pada kartun editorial. Lebih jauh penelitian ini akan

                                       19
menelaah penggunaan metafora visual dalam kartun editorial melanjutkan yang
telah dilakukan Gombrich (1963: 127–142) mengenai perkembangan kartun
editorial Amerika dan Eropa, yaitu membahas metafora dari sudut mitologi
(pengalihan obyek dan situasi) , karikatur (bahasa tubuh), dan natural metaphor.


Gombrich mengartikan “natural metaphor” sebagai pemanfaatan elemen rupa
untuk membangun emosi / perasaan. Elemen yang dimaksud adalah penggunaan
nilai gelap-terang (chiaroscuro) yang berkonotasi dengan rasa lapang, cerah
(putih) dan rasa sedih tertekan (hitam). Elemen rupa dasar dalam penelitian
disertasi ini akan dikembangkan lebih lanjut, mencakup elemen rupa dasar
(garis, bidang, tekstur) dan prinsip rupa dasar (susunan, irama, tekanan). Dengan
demikian selain telaah dari segi ikonografik dapat ditelaah pula ungkapan emotif
melalui berbagai bangunan elemen rupa dasar.


Apabila segi ikonografik gambar umumnya menjadi perhatian pertama penelitian
ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, maka dalam studi seni rupa yang menjadi
perhatian pertama adalah elemen dan prinsip rupa dasar, yang sering kurang
diperhatikan terhadap karya ikonografik yang dilakukan. Padahal sebuah ikon
visual terbentuk melalui unsur paling dasar dalam komunikasi, yaitu olah rupa.
Penelitian disertasi ini menyumbang       khasanah pengetahuan tentang kartun
editorial dengan memusatkan perhatian pada aspek metafora visual dan segi
emotif yang direlasikan dengan jejaring kebudayaan yang menaunginya.




II.2. Masyarakat dan Kebudayaan


Sebuah komunitas selalu mempunyai sistem sosial untuk mempertahankan
kehidupannya. Semut, lebah hingga kera memiliki organisasi dan sistem
komunikasi    yang   integral   dengan    nalurinya.   Demikian   pula   manusia
mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai komunitas sosial. Meskipun
kodrat fisiknya sangat lemah dalam menghadapi alam, (Morris, 1967: 20-25) tapi
manusia dikaruniai kecerdikan otak untuk mengatasi dan mengembangkan


                                         20
dirinya. Dan itulah yang membedakannya dengan makhluk lain, kemampuannya
memanfaatkan dan memanipulasi alam untuk dirinya.


Manusia bahkan mengembangkan komunikasi sesamanya tidak hanya untuk
kebutuhan primer (makan, bertahan, meneruskan keturunan), tapi juga kebutuhan
lebih tinggi memahami makna-makna yang lebih abstrak. Melalui otaknya
manusia tak hanya mencatat stimuli sebagai tanda indikasi untuk bereaksi
terhadap situasi sesaat. Dalam berkomunikasi antar komunitasnya manusia dapat
menangguhkan reaksi, menyimpan dan menyusun tanda untuk membangun
tanggapan tentang pengalamannya. (Langer, 1957: 30-31). Manusia tak hanya
memakai tanda tapi juga menciptakannya (homo symbolicus).




II.2.1.Kebudayaan Sebagai Sistem Nilai dan Sistem Simbol


Talcott Parsons berpendapat bahwa kebudayaan pada dasarnya adalah tentang
makna, karena itu sangat bergantung pada simbolisme (Walker, 1977: 11). Sistem
syaraf dan otak (dengan motor utama neocortex) yang tumbuh karena interaksi
dengan kebudayaan, tak mampu mengorganisasi pengalaman dan mengatur
perilaku tanpa pedoman yang disusun oleh sistem simbol yang dimaknai bersama
(Geertz,1973:49). Lebih jauh Geertz melihat kebudayaan sebagai jejaring makna
yang dibangun manusia untuk menjaga sistem nilai dan sistem sosial
masyarakatnya. (1973: 446-448)


Tjetjep Rohendi (2000:267) mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan
pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dimiliki manusia sebagai mahluk
sosial; yang isinya adalah perangkat- perangkat model pengetahuan dan sistem-
sistem makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang
ditransmisikan secara historis. Dengan demikian sistem simbol (atau sistem
pemberian makna bersama) merupakan pedoman untuk memenuhi kehidupan
manusia baik primer, sekunder maupun integratif. Di sini terlihat hubungan erat
antara sistem nilai dan sistem simbol komunikasi dalam sebuah kebudayaan.


                                      21
Melalui sistem simbol masyarakat membangun komunikasi dengan sesamanya
bukan hanya mengatasi masalah pragmatis, tetapi juga menyimpan makna
tentang sistem nilai dan pandangan hidup yang dianut. Melalui pemaknaan ini
tampak ciri kebudayaan ataupun sub-kebudayaan (subculture) masyarakat
tertentu. Hal demikian dapat dibaca melalui sistem moral dan norma yang dianut,
sistem kekerabatan, ritual kemasyarakatan, hingga ke artifak yang dihasilkannya.
Sebuah upacara pernikahan misalnya, merupakan ajang komunikasi simbolis
tentang suatu peristiwa yang tadinya sangat alamiah, prokreasi. Kebudayaan
membungkusnya menjadi suatu ritus penuh makna, dimana tergambar nilai yang
dianut komunitas tertentu melalui ritual dan perangkat (fisik) yang digunakannya.


Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis tak berubah. Perubahan dapat terjadi
karena usaha manusianya sendiri mengatasi masalah dalam lingkungannya.
Sudah jadi sifat kodrati manusia untuk terus belajar dan menemukan pemecahan
baru bagi hidupnya. Perubahan juga bisa terjadi karena interaksi dengan
kelompok masyarakat lain, mengambil dari unsur kebudayaan lain untuk
melengkapi diri. Bagi masyarakat pesisir sentuhan dengan kebudayaan lain tak
bisa dihindari karena hidupnya ditunjang melalui interaksi antar komunitas
melalui pelayaran. Yang terjalin bukan hanya komunikasi pragmatis tapi juga
saling belajar nilai yang berbeda-beda.


Situasi Indonesia yang secara geografis merupakan wilayah kepulauan membuat
sentuhan dengan budaya lain menjadi bagian dari budayanya. Negeri ini sering
dijuluki sebagai “melting pot” dari berbagai kebudayaan yang singgah disini.
Hari ini pertukaran demikian makin tak terhindarkan dengan berkembangnya
transportasi udara dan komunikasi massa: surat kabar, radio, televisi, internet.
Sekarang di desa terpencil pun orang cepat tahu berita terkini dari belahan dunia
lain melalui televisi, langsung (realtime) dan visual. Bukan hanya berita yang
diterima, tapi secara tersirat juga aliran informasi mengantarkan sistem nilai
berbeda dari lingkungannya.



                                          22
Percampuran    dengan    kebudayaan    lain    memperkaya    kebudayaan    suatu
masyarakat. Hal demikian yang terjadi di Nusantara sejak masa lalu. Puncak dari
akulturasi budaya terjadi sejak akhir abad-XIX, dengan mulai masuknya komoditi
dari Eropa dan awal pendidikan Barat diterapkan di Indonesia. Selain terjadi
enkulturasi (pemribumian budaya luar) juga melahirkan kebudayaan Indis, yaitu
budaya campuran yang dijalani oleh pendatang Eropa dan pribumi (Soekiman
2000: 11 – 12 & 306 - 307). Meskipun sejak pendudukan Jepang (1942 – 1945)
kebudayaan tersebut tak berlanjut, tapi bekasnya masih tampak pada masyarakat
Indo di Belanda. Beberapa kebiasaan itu selanjutnya diadopsi oleh masyarakat
Indonesia, terutama yang hidup di perkotaan.


Bahasa Indonesia merupakan contoh yang         jelas mengenai percampuran ini.
Bahasa komunikasi Melayu pasar yang tadinya jadi bahasa Esperanto masyarakat
pantai Nusantara, melalui peminjaman kosa-kata bahasa lain (Sumatera, Jawa,
Arab, Portugis, Belanda, Inggris) saat ini menjadi bahasa yang cukup canggih
menyampaikan pikiran yang abstrak. Bahasa Indonesia tak kehilangan sifat
dasarnya, tanpa gender, tanpa tekanan pada struktur waktu, di samping sifat lain
yang menggambarkan budayanya.




II.2.2. Bahasa Sebagai Sistem Simbol


Bahasa sebagai sistem simbol sebuah komunitas             menggambarkan juga
bagaimana anggotanya membayangkan tentang makna dan sistem nilai yang
dipegangnya. Sistem simbol tak hanya tercermin dalam bahasa verbal komunikasi
tapi juga dari bahasa gestural, ritual dan artifak yang mendukung keberadaannya.


Simbol dalam bentuk artifak yang kasatmata dapat berbentuk wujud nyata (benda
buatan, bangunan, peralatan, gambar) maupun tulisan. Meskipun gambar dan
tulisan sama diterakan di atas media (kertas, batu, daun), namun cara
“membaca”nya berbeda. Bila tulisan dibaca secara linear dari satu simbol ke
simbol berikutnya untuk menangkap makna kalimat, gambar dibaca secara total,


                                       23
sekaligus dilihat dan ditangkap maknanya. Bahasa verbal mempunyai tata bahasa
dan sistem makna yang sangat terstruktur hingga dapat menyampaikan sesuatu
secara nyaris tepat. Tentu ini bisa disangkal bahwa, bahasa verbal lebih semena-
mena / arbitrer dalam menentukan tanda bunyi untuk sebuah ikon daripada
bahasa visual yang lebih langsung dan mirip ikon yang dimaksud. Apalagi setelah
bahasa verbal disimbolkan secara visual menjadi lambang bunyi, tak lagi tampak
relasi ikonik dengan huruf sebagai tanda baca.


Menurut sejarah perkembangan peradaban manusia yang pertama kali muncul
sebagai alat komunikasi adalah gambar. Seperti halnya candi di Jawa, gambar
torehan pada bangunan kuno di Mesir pun disusun untuk menceriterakan sesuatu,
semacam komik (Nesbitt, 1957: 4). Baru pada sekitar 4000 th SM gambar mulai
dialihkan menjadi tanda baca dan disusun secara linear dengan aturan baca,
dimulai dengan pictograph dan berkembang menjadi ideograph (Cina) dan huruf
fonetik / bunyi (Asia Kecil). Cara menulis fonetik Asia Kecil lah yang
perkembangannya meluas hingga huruf yang dipakai hari ini (Naveh, 1975: 13-
14). Menurut Primadi (2005: 39-40) sejak itulah gambar makin memudar
peranannya hingga tak lagi dianggap sebagai bahasa komunikasi yang penting,
bahkan dianggap rendah.


Sebetulnya gambar tak lalu berhenti berkembang. Manusia masih tetap
membutuhkan tanda visual lain selain tulisan. Bahasa gestural / sikap tubuh pun
masih digunakan sebagai alat berkomunikasi. Secara visual sikap tubuh dapat
segera ditangkap tanpa melalui kata-kata. Tanda gestural yang tampaknya
alamiah diwariskan secara genetik pun sudah menjadi tanda visual yang dibentuk
secara sosial. Tiap kebudayaan memiliki cara mengungkap diri melalui bahasa
tubuh, sesuai dengan sistem nilai yang dianut komunitasnya.


Melalui bahasa tubuh dapat dibaca selain interaksi antar orang, tapi juga
intensitas relasi, stratifikasi sosial, adab yang berlaku di antara mereka. Melalui
bahasa tubuh bisa terbaca hubungan antara dua orang, apakah akrab ataukah
resmi. Cara berhadapan bisa mengindikasikan antara dua orang, apakah sederajat


                                        24
atau salah satu lebih tinggi status sosialnya. Kebudayaan pun mengatur sikap
tubuh yang dianggap pantas dalam sistem nilainya, cara menunjuk, cara
menghormat dan sikap berdiri, berjalan, duduk.


Kebudayaan sebetulnya tidak pernah berhenti mengembangkan sistem penandaan
visual demikian. Saat ini demikian banyak tanda visual yang dibaca dalam
keseharian masyarakat, dari cara berpakaian, kelengkapan hidup lain (rumah,
perabot, kendaraan, wujud makanan), sampai yang lebih abstrak / artifisial seperti
gambar, logo, lukisan, sistem rambu (sign-system) yang dianggap lebih efektif
dari tulisan karena dalam sekali pandang dapat ditangkap maksudnya. Sistem
visual pada rambu lalu lintas misalnya, menolong orang dalam menangkap
kategorisasi informasi, dan memilih tindakan yang dilakukan menanggapi tanda
visual yang dilihat. Melalui konvensi sistem tanda demikian manusia berinteraksi
secara sosial dengan komunitasnya.


Dari paparan di atas dapat dilihat peranan bahasa visual dalam kehidupan
keseharian manusia. Meskipun tak sekognitif dan struktural bahasa verbal, namun
secara diam-diam bahasa visual mempengaruhi aspek yang luas dalam hidup
manusia. Baru akhir-akhir ini saja orang mulai menyadari dan menelitinya
sebagai faktor yang ternyata dominan membentuk dan mengarahkan kebudayaan.
Ini bisa dilihat melalui maraknya pembahasan mengenai “visual culture” dan
“visual analysis”, mencari cara membaca dan memahami tanda visual.




II.2.3. Gambar dan Komunikasi


Sering dipermasalahkan bagaimana melihat gambar dalam kedudukannya dalam
kesenian. Gambar ikonografik bagi Plato adalah mimesis, peniruan manusia
karena kekaguman pada alam / realitas. Karena itu gambar dianggap rendah,
karena tak menyampaikan makna yang lebih tinggi daripada meniru. Tapi
Aristoteles melihatnya secara lain, bahwa peniruan itu bukan merupakan tujuan
dari gambar, tetapi sebagai medium memindahkan misi melalui gambar tersebut.


                                       25
Beda pandangan ini terus bergulir hingga hari ini terutama dalam wacana seni
rupa, antara seni yang kongkret (concrete art) menyampaikan bentuk murni saja
dengan seni representatif menggambarkan bentuk ikonografik. Gambar kartun
dalam konteks ini merupakan karya ikonografik karena menampilkan representasi
dari realitas. Tapi gambar dalam kartun lebih merupakan jembatan untuk
menyampaikan pesan daripada kekaguman terhadap alam. Lebih jauh, gambar
merupakan medium bukan menyampaikan berita tetapi memberi tanggapan
terhadap sesuatu.


Sebetulnya gambar lebih tepat dilihat sebagai komentar atau tanggapan, karena
dalam penciptaannya gambar menampilkan pilihan (objek), melakukan reduksi
elemen, memberi tekanan pada elemen yang mendukung maksud gambar. Dalam
kasus kartun, penciptaan tak direlasikan dengan sense of beauty sebagai tujuan,
tapi mengungkap kejanggalan sebagai misi pesannya. Dan dalam kartun editorial
bahasa visual adalah kendaraan untuk menyampaikan misi sosial tersebut.


Ungkapan visual bukan hanya berupa gambar tetapi juga tulisan / huruf, karena
umumnya kartun menerakan juga kata verbal sebagai “pigura” dan pelengkap
misi pesan. Selain tulisan dilihat sebagai wakil dari bahasa bunyi (simbol
fonetik), huruf dalam seni rupa merupakan tanda visual. Huruf menyampaikan
dua aspek sekaligus: secara tersurat menyampaikan kata (verbal), secara tersirat
menampilkan karakter visual melalui bentuknya. Huruf tulis tangan (script
writing) lebih berkesan santai dan akrab daripada huruf cetak (lettertype). Huruf
besar (kapital/ uppercase) semua kesannya berteriak dibandingkan huruf kecil
(onderkas/ lowercase). Dengan cara demikianlah perupa memanfaatkan huruf
pada karyanya.


Dalam komunikasi visual, gambar (visual image) dan teks (verbal image) secara
bersama mendukung misi penyampaian pesan Tetapi tidak semua ungkap seni
rupa menggunakan keduanya sekaligus. Karya dapat juga ditangkap maksudnya
tanpa penggunaan ungkap verbal. Sebaliknya, karya rupa dapat pula hanya



                                       26
menggunakan kata (verbal image) tanpa tampilan gambar. Olah visual demikian
mengungkap pesan melalui bentuk dan cara menyusun huruf .




II.2.4. Gambar dan Tulisan


Kalau perhatian dipusatkan pada hubungan antara gambar dan teks, maka ada
setidaknya tiga konfigurasi yang bisa terjadi. Pertama adalah gambar
diperlakukan sebagai wadah saja dalam ungkapan, tekanan isi komunikasi
diletakkan pada teks. Konfigurasi ini yang jadi pandangan Putu Wijana melihat
gambar hanya sebagai speech situation untuk mendukung pesan verbal kartun,
dan dianggap bukan bahasa (extralingual). Kartun tanpa kata tak bisa dibahas
karena linguistik tidak membahas telepati, tebak-tebakan (Allan dalam Wijana,
2003:11).


Dalam perupaan kartun memang terdapat karya yang menampilkan masalah
terutama dalam bahasa verbal, tulisan. Konfigurasi demikian meletakkan elemen
visual hanya sebagai lahan bicara saja, gambar tokoh hanya jadi juru bicara.
Elemen visual dapat saja diganti dengan kata-kata (verbal) yang menggambarkan
situasi pembicaraan. Karya demikian dapat saja tetap dimengerti meski
gambarnya dihilangkan.


Konfigurasi ke dua adalah gambar dan teks saling mengisi dalam menyampaikan
pesan. Gambar dan tulisan pada kartun demikian saling berdialog membangun
makna. Salah satu tak bisa dimengerti tanpa kehadiran yang lain. Kartun
demikian bukan saja bermain dengan tokoh dan situasi, tapi juga dengan bahasa
visual simbolik lain seperti lambang, rambu, diagram. Pada tampilan demikian
relasi gambar dengan tulisan kadang kontradiktif untuk membangun kejanggalan
(disorientasi) antara ucap dengan laku, atau verbal dengan situasi visual.


Banyak kartun yang mengandalkan ungkapannya melalui elemen visual, di mana
teks menjadi bingkai mengarahkan maksud gambar. Pengamat diharapkan


                                        27
menangkap makna melalui penelusuran elemen visual yang ditampilkan, dan
seluruh persepsinya dipigurai melalui tulisan yang tercantum di gambar. Kartun
konfigurasi seperti ini berusaha sangat efisien menggunakan kata agar elemen
verbal tak mendominasi tampilan visual. Dalam kartun editorial sering kata
dibutuhkan sebagai penyambung dengan konteks peristiwa yang dibahas. Kata
verbal dalam beberapa kasus memang sulit dihindari seperti; nama tempat, nama
lembaga, akronim ataupun penanda tekstual suatu peristiwa. Sering juga nama
orang perlu diterakan pada kartun, semacam name-tag, tanda pengenal identitas.


Pada beberapa kasus dapat pula konfigurasi hanya dari elemen visual saja, tanpa
kata. Kartun demikian menggunakan ikon / objek yang sudah dikenal pengamat,
menggabungkannya untuk memperoleh makna baru. Bagi Antonio Attunes
(Lampiran 1. Ceramah 1989) kartun yang dianggap berhasil adalah bila bisa
ditangkap maknanya hanya melalui tampilan visual, karena pada dasarnya
gambar adalah bahasa juga. Ada benarnya bila Putu Wijana mengatakan hal itu
lebih banyak bersifat tebak-tebakan daripada menampilkan secara terstruktur
(linguistik). Tapi justru yang menarik dalam karya kartun adalah permainan
tebakan itu. Di situlah ketegangan “membaca” kartun dinikmati pengamat. Dan di
situ metafora menjadi lahan permainan, konflik antara yang tepikir dan terasa.




II.3. Metafora, Gaya Bahasa dan Konsep Berpikir


II.3.1. Wacana Umum Tentang Metafora


Berbagai definisi tentang metafora umumnya mengacu pada dua hal: pengalihan
(transfer) dan kesamaan (Nöth, 1990:128 - 129). Pengalihan dapat melalui
penindihan atau penggantian, sedang persamaan melalui analogi, perbandingan
dan kemiripan. Thwaites (1994:45) menyatakan, metafora secara implisit maupun
eksplisit adalah perbandingan antar tanda-tanda. Tapi secara garis besar metafora
lebih sering diartikan sebagai pengalihan dari satu tanda ke tanda yang lain.



                                        28
Metafora mulanya pada masa Yunani merupakan bagian dari Retorika, kiat
meyakinkan publik melalui pidato. Metafora merupakan salah satu cara atau gaya
(figure of speech, tropes) di samping berbagai cara yang lain seperti hiperbola,
elipsis, eufemisme, parodi, dll. Retorika baru marak kembali dikaji kembali akhir
abad-XX, karena melihat efektifitasnya dalam komunikasi umum ekonomi
(periklanan). Pada abad-XX pula metafora dalam kajian literatur tidak terbatas
sebagai bagian dari retorika. Metafora menjadi wacana yang mendasar mengenai
cara manusia memaknai realitas.


Tanpa terlalu disadari metafora dalam kenyataan sehari-hari telah digunakan
sebagai cara memberi tekanan pada maksud pikiran. Metafora muncul dalam
ritual budaya dan terutama kesenian. Karena metafora merupakan pengalihan satu
tanda ke tanda dalam sistem lain maka penyampaian pesan jadi tak langsung,
mengandung teka-teki, menggugah dan mengandung nilai seni. Kesenian
umumnya menggunakan metafora dalam mengungkap misinya, seperti tampak
dalam puisi (jadilah kau bintang di langit, aku ini binatang jalang). Metafora juga
ditemukan dalam komunikasi sehari-hari, periklanan (air untuk segar, tali untuk
sesak nafas) dan politik (banteng sebagai semangat juang, beringin sebagai
pengayom). Dalam naskah agama metafora digunakan untuk menyamarkan
situasi harfiah agar dapat dilihat inti maknanya. Hal ini juga dilakukan agar
naskah dapat bertahan lama menghindari kelapukan historis.


Metafora memang merupakan topik yang menjadi kajian beberapa bidang ilmu
seperti filsafat, linguistik, psikologi, sejarah dan teologi, karena dari sisi
kebahasaan metafora adalah penyimpangan yang sulit dihindari terhadap makna
kata. Pertanyaan muncul mengenai kenapa metafora dilakukan; dapatkah
perumpamaan dipegang sebagai sesuatu yang pasti, dan bagaimana metafora
ditanggapi. Dalam filsafat metafora menjadi polemik besar mengenai sejauh
mana kata metaforik dapat mengungkap kebenaran, yang menjadi acuan ilmu
filsafat.




                                        29
Menilik apa yang sering dikutip sebagai catatan tulis tertua tentang metafora oleh
Aristoteles, “Metaphor consists in giving the thing a name that belong to
something else”, (dalam Harries, 1978: 72), dari sini sudah terlihat
kesenjangannya. Memberi sesuatu sebuah nama yang merupakan milik sesuatu
yang lain menyebabkan kerancuan makna, konflik kesamaan dalam perbedaan
(Ricouer dalam Sack, 1978:146). Tetapi Aristoteles justru melihat hal itu sebagai
memperkaya dunia makna seperti yang biasa dilakukan penyair. Demikian pula
Roman Jakobson dan Todorof (dalam Sacks 1978: 142) menilai penggunaan
bahasa figuratif dianggap lebih menarik dibandingkan menangkap bahasa literer
yang kering dan kaku.


Dalam metafora pengalihan diistilahkan dengan, pengalihan dari “topic” (isi
pesan, peristiwa yang ingin diceritakan) ke “vehicle”      (kendaraan, ungkapan
pesan, situasi baru yang digunakan untuk menceritakan). Penggabungan ini
menyebabkan terjadi bisosiasi antara isi pesan dengan bentuk ungkapan pesan.
Pada dasarnya bisosiasi terjadi karena bertemunya dua atau lebih alur logika yang
berbeda (Koestler, 1964: 35). Kejutan terjadi karena muncul keganjilan antara
yang terasa / perceived dengan yang terpikir / thought (Schopenhauer dalam
Eastman, 1921: 155). Pengalihan situasi melalui metafora bertujuan untuk
mengangkat makna di balik topik. Dengan bergabungnya dua makna dalam satu
"panel" terjadi kondensasi dan fusi yang mengakibatkan perluasan makna yang
memunculkan arti baru, re-deskripsi (Soegiharto, 1996: 103).


Dalam pemaknaan ganda ini tak ada satu metoda yang bisa digunakan untuk
membacanya. Tapi secara sosial setidaknya Ted Cohen (dalam Sacks 1978:6)
melihat metafora sebagai media mempererat keintiman. Dalam bermetafora ada
pembicara yang mengundang, pendengar berusaha menerima undangan, dan
melalui pemahaman terbentuk komunitas. Hal ini jadi permainan menarik, karena
dari awal pendengar harus tahu yang dihadapi adalah metafora dan menemukan
apa yang ada di baliknya. Penemuan itu yang dianggap menyenangkan,
menemukan persamaan dalam perbedaan, dan memahami makna baru.



                                       30
Dari pandangan tersebut dapat diketahui bahwa metafora, karena bentuknya yang
nyaris liar, terbaca bila ada kesamaan perbendaharaan alam pikiran yang setara
antar pembicara dengan pendengar. Di sini perspektif budaya dapat menjadi
dasar dalam membaca metafora. Kalau metafora merupakan pengalihan dari satu
sistem tanda ke sistem tanda lain, maka kawasan arti tanda dan pengertiannya
dalam satu komunitas budaya tertentu berpengaruh pada gagasan pengalihan
tersebut. Karena itu metafora sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya
komunikasi masyarakat, di mana berperan tata nilai, adat kebiasaan, ritus, dan
perlambangan.




II.3.2. Metafora Sebagai Kemampuan Sinestesis


Synesthetic adalah kemampuan manusia untuk mensintesakan indera-indera
secara simultan, otak merelasikan stimuli yang diterima dengan sensasi lain yang
tersimpan di memori (the ability to recognize similarities across different sensory
domains). (Seitz,1998: 98) Dalam       synesthesia kemampuan merelasikan dua
sensori berbeda untuk membangun sebuah pengertian lain merupakan hal yang
selalu terjadi dalam proses data di otak. Contoh yang paling sering muncul dalam
synesthesia adalah “colour hearing”, kesan warna pada bunyi, mendengar musik
membayangkan laut; melihat warna tertentu ingat bau tanah.. Dalam beberapa
eksprimen psikologi orang menghubungkan bunyi dengan warna tertentu.
Norman McLaren mengungkapkan relasi bunyi dan rupa melalui film animasinya
“Eyes hear, Ears see” (The Film Board of Canada, 1966). Persilangan yang
terjadi pada metafora bukan hanya kesan inderawi saja, tetapi juga lompatan antar
sistem pemaknaan dalam memori kognitif.


Ellen Winner (1982:342-344) menemukan dalam riset hemisphere otak kiri dan
kanan bahwa, metafora merupakan kerjasama otak kiri yang berpikir literal linear
dengan otak kanan yang berpikir holistik kontekstual. Kalau hemisphere kanan
terganggu pasien tak bisa menangkap metafora. Sebaliknya bila hemisphere kiri
rusak pasien akan membuat metafora janggal. Kemampuan sinestetis bekerja bila


                                        31
kedua sisi otak bekerjasama. Temuan ini menjawab, kenapa metafora sudah
muncul dalam budaya komunikasi manusia sejak masa prasejarah.


Melalui kerumitan kerja otak antara data literal, kemampuan holistik dan
kontekstual, lompatan makna metaforik dimengerti sejak usia dini. Anak di
bawah 3 tahun belum dapat menangkap metafora linguistik karena belum cukup
menguasai perbendaharaan kata. Pada umur tiga setengah tahun anak sudah bisa
melihat rembulan sebagai muka manusia. Analogi yang berkembang dari usia
dini adalah melihat kemiripan dari analogi visual. Analogi ini akan bekembang
terus sejalan dengan makin kayanya memori, kepada analogi operasional (mobil
sebagai manajemen) dan kemiripan maknawi (burung sebagai kebebasan).




II.3.3. Metafora dalam Kajian Linguistik


Metafora dalam linguistik adalah menyampaikan sesuatu dengan memindahkan
ke konteks lain hingga muncul perluasan arti. Dalam Semiotik biasanya
digambarkan dengan penggunakan tanda dari arti sintagmatik ke paradigmatik,
dari arti denotatif ke konotatif. Dikenal empat model pemindahan:


Simile atau disebut juga peribahasa mengumpamakan dengan menggunakan kata
sambung “bagai” atau “seperti”, contoh: Kelakuanmu seperti kucing kelaparan.
Yang ditegur tahu bahwa hanya kelakuannya yang bersifat kucing. Cintanya
bagai punguk merindukan bulan. Yang jatuh cinta bukan seekor burung punguk.


Metonimi adalah penggunaan tanda yang secara operasional ataupun relasional
berada dalam satu lingkup, contoh: Negara dikuasai baju hijau. Pada kalimat ini
yang menguasai sebetulnya tentara yang berbaju hijau. Ini sudah keputusan
Istana. Sebetulnya yang memutuskan bukan istana tetapi penghuninya, yaitu raja.


Sinedoke adalah penggunaan sebagian untuk semua atau semua untuk sebagian,
contoh: Sebaiknya segera angkat kaki dari rumahku. Sebenarnya bukan cuma


                                      32
kakinya yang harus pergi tetapi orangnya (pars pro toto). Indonesia kalah total di
Asian Games. Pada kalimat ini yang kalah bukan Indonesia tetapi atlit peserta
Asian Games dari Indonesia (totem pro parte).


Metafora adalah memindahkan isi pesan ke objek atau situasi yang berbeda,
dalam perpindahan itu terdapat relasi (bentuk ataupun sifat) yang dikonotasikan
sebagai setara, contoh: Pada lirik Tetaplah jadi bintang di langit (Padi) yang
dimaksud bukan menjadi bintang tetapi sifat bintang yang menerangi hati si
penyanyi. Candle in the Wind yang dinyanyikan Elton John bukan tentang lilin
kena angin, tetapi puteri (Diana) yang kehadirannya memberi kecerian ke
sekeliling. Pengalihan yang diungkapkan adalah dalam kesamaan kualitas
maknawi antar keduanya.


Umberto Eco (1979: 280-281) tak membedakan metonimi dengan sinedoke.
Kedua    istilah   dianggap   menggunakan    relasi   yang   sama,   sintagmatik.
Membedakannya hanya merumitkan untuk dua hal yang nyaris sama. Karena itu
Eco menggunakan istilah metonimi saja untuk kedua model itu. Dalam semiotika
umumnya digunakan metonimi, baik untuk pengambilan bagian (pars pro toto)
maupun yang berhubungan dengan relasi operasional.


Kalau simile hanya berbeda dengan metafora karena ada kata "seperti" atau
"bagaikan", maka pada dasarnya keduanya sama berkias metaphoric, karena
terjadi pemindahan objek maupun situasi. Perbedaan hanya pada tekanan relasi
yang mengambil jarak (simile) atau dilebur jadi satu (metafora). Kalau jarak
tersebut diabaikan maka keduanya adalah metafora juga.


Dalam bahasa Indonesia dikenal kata kiasan dan peribahasa. Bentuk peribahasa
mirip dengan simile karena menggunakan kata “bagaikan”. Dalam kiasan bahasa
Indonesia tak memilah rinci, kecuali bahwa kias adalah bahasa tak langsung
melalui perumpamaan dari kata ataupun sistem simbol lain. Karena itu kata
kiasan atau berkias dapat menggantikan istilah metafora yang tak terlalu sempit
pemilahannya, apapun yang memisalkan ataupun mengumpamakan.


                                       33
Dalam linguistik dikenal juga istilah metafora beku (Winner) / banal (Seitz) /
mati (Sugiharto), yaitu metafora yang karena sangat sering dipakai akhirnya
menjadi tanda literal yang tak mengungkap kesegaran arti baru. Metafora mati
terlihat dalam contoh: keras kepala, tangan dingin, jantung hati, unjuk gigi,
dikibuli. Gorys Keraf (1984: 139) menyatakan bahwa banyak kata yang tadinya
metafora karena sering dipakai menjadi makna baru dari kata tersebut, dan
metaforanya sudah dilupakan. Hal ini dibedakan dengan metafora yang baru,
kreatif dan memberi kejutan perluasan arti. Kalau metafora dimaksud untuk
meluaskan konsep, maka yang dapat dianggap sebagai metafora adalah bila
menawarkan suatu relasi baru yang mengejutkan. Metafora demikian meletakkan
pendengar ataupun pengamat dalam situasi aktif mencari relasi antara topik yang
diungkap dan kendaraan yang ditawarkan penyampai pesan.


Tapi pada dasarnya baik beku maupun segar tetap merupakan pengalihan dalam
cara menyampaikan pesan. Metafora beku seperti tinggi hati sudah diterima
sebagai makna baru dari kata sombong, tapi tetap merupakan pengalihan tanda.
Perbedaannya hanya tipis pada kejutan yang dihasilkan oleh metafora baru.
Metafora beku memang tidak melahirkan kejutan karena sudah sering digunakan.
Malah seakan istilah yang beku tersebut sudah menjadi bagian dari kamus bahasa
sendiri. Penggunaannya yang umum menunjukkan bahwa bahasa deskriptif yang
literer tak bisa mengungkap banyak nuansa konsep berpikir manusia. Karena itu
berkembanglah kata-kata baru yang berasal dari metafora yang sudah beku, yang
diperlakukan seakan-akan sebagai bahasa deskriptif. Hingga dari waktu ke waktu
selalu muncul peribahasa ataupun ungkapan baru.




II.3.4. Metafora Sebagai Konsep Berpikir


Metafora pada dasarnya menggambarkan konsep berpikir, memberi tekanan pada
gagasan melalui daya konotasi kata. Dengan demikian metafora segar atau mati
sama-sama dapat dibaca sebagai cara menyampaikan pikiran. Apa dan bagaimana


                                      34
objek dan situasi dialihkan menunjukkan pula bagaimana cara memandang
fenomena melalui kendaraan yang disampaikan. Lakoff dan Johnson (1980: 3-5)
menjelaskan bahwa, inti dari metafora adalah mengerti dan mengalami sebuah
pernyataan dalam terminologi yang lain.


Dalam hal ini pengalihan tersebut bukan hanya bersifat situasional tetapi juga
sudut pandang topik terhadap satu masalah. Contoh pengalihan demikian dapat
dilihat dalam kalimat: mematahkan serangan dengan benteng teoritis yang jitu.
Hal ini menunjukkan bahwa diskusi ilmiah dilihat sebagai adegan perang frontal
saling mengalahkan, bukan wacana mengutarakan kebenaran. Hal yang sehari-
hari ditemukan dalam ungkapan Senin yang akan datang (hari Senin sebagai
objek yang mendatangi pembicara, melihat waktu sebagai ruang). I cannot buy
your opinion (melihat opini gagasan sebagai komoditi jual-beli).


Maka mempertentangkan antara metafora beku dengan yang segar hanya berbeda
dalam kreatifitas pengalihan dan penggunaan kendaraan. Tetapi dalam pemilihan
pengalihan, keduanya mengindikasikan kemana arah pikiran suatu pernyataan
dan bagaimana sistem nilai yang dianut dalam sebuah ungkapan. Karena itu
metafora sebagai pengalihan selalu berhubungan erat dengan latar belakang
kebudayaan masyarakat penggunanya.




II.3.5. Nilai Emotif dalam Ungkapan Metafora


Melalui sudut pandang metafora sebagai konsep berpikir dapat ditemukan aspek
emotif dalam sebuah pernyataan melalui pilihan pengalihan tanda. Diksi
merupakan usaha memilih kata (tanda) supaya tepat, jernih, ataupun efektif
dengan maksud penyampaian. Pilihan itu akan berdampak pada ungkapan emotif
makna kalimat. Dalam penulisan karya ilmiah misalnya, dipilih kata yang
denotatif, artinya tidak bias, dan secara emotif bersifat formal. Berbeda dengan
sebuah puisi, pilihan kata dimaksudkan untuk membangkitkan daya konotasi dan
aspek emotif sesuai ungkap rasa yang hendak diutarakan penulisnya.


                                       35
Sebuah kata mempunyai sinonim ataupun analogi yang memberi tekanan pada
aspek emotif dari suatu ungkapan. Hal ini bisa ditemukan dalam kamus sinonim
ataupun Thesaurus (Keraf 1984: 70). Analogi tersebut secara gradual dapat
menekankan aspek emotif. Beberapa contoh kata di bawah memperlihatkan
peningkatan derajat tersebut. Kata pertama adalah kata literal diikuti secara
gradual dengan kata yang lebih tinggi kadar emotifnya:


    kalah - takluk - tekuk lutut - keok - hancur - habis - mampus
    tak tahu malu - tebal muka - muka tembok - rai gedeg.
    ambil untung - merebut harta - memeras – menghisap


Bagaimana tekanan kata berhubungan dengan emosi sangat tergantung pada
komunitas pengguna kata tersebut. Kata “jahat” yang sebagai arti harfiah “sangat
negatif” dalam bahasa slang anak muda hanya berarti “kurang baik”.         Kata
“tewas” yang dalam bahasa Indonesia berarti “mati”, pada bahasa Malaysia
hanya penegasan dari kata “kalah”. Contoh ini memperlihatkan peranan latar
budaya dalam memberi warna pada aspek emotif pada sebuah ungkapan.


Dalam bahasa gestural, mimik wajah misalnya, aspek emotif lebih mudah
ditangkap secara universal karena ungkapannya langsung terbaca dibandingkan
bahasa verbal yang abstrak bisa semena-mena (tergantung pengertian arti bunyi
kata bahasa tersebut). Perbedaan emotif dapat ditangkap antara tersenyum
simpul, tersenyum lebar, tertawa, dan tertawa keras. Dalam bahasa Sunda ada
ungkapan “seuri koneng” (senyum kuning) yang artinya tersenyum karena malu.
Ada pula mencibir yang mengungkap senyum menghina. Melalui bahasa gestural
aspek emotif yang terungkap secara visual mudah dipahami. Aspek emotif yang
tampil secara visual itulah yang dimanfaatkan dalam ungkap kartun, melalui
elemen rupa dasar, maupun melalui bahasa gestural.




                                       36
II.4. Kartun Editorial

Perkembangan pesat kartun sebagai media sindir politik baru marak setelah
digunakannya mesin cetak movable types abad-XV yang kemudian melahirkan
media surat kabar abad-XVII (Horn, 1980:25-29). Teknik cetak membuka
kemungkinan karya kartun diperbanyak dan disebarkan secara meluas. Perubahan
pandangan masyarakat (worldview) pasca Renesans menuju tatanan sosial baru
yang lebih liberal memacu lahirnya surat kabar sebagai media menyampaikan
aspirasi sosial-politik. Bila pada abad-XVII surat kabar hanya sebagai lembar
berita dan pengumuman yang terbit kalau bahan sudah tercukupi (Morison 1945:
77), maka pada penghujung abad-XVIII surat kabar telah tersebar luas secara
tetap (berkala) bukan saja berperan sebagai penyebar informasi, tetapi juga media
pembentuk opini masyarakat. Sejak Revolusi Prancis surat kabar telah menjadi
ajang polemik politik, baik antar golongan maupun kritik terhadap penguasa.
Dalam situasi demikianlah kartun editorial memperoleh peranan berarti. Tokoh
seperti James Gilray (Inggris, 1757-1815), Honore Daumiere (Prancis,1808-
1874) dan Thomas Nast (Amerika,1840-1902) merupakan kartunis yang berhasil
membentuk opini masyarakat lewat gambarnya (Hoff, 1976: 38-81; St.
Hill,1973:17-19).


Dengan berkembangnya penggunaan media surat kabar sebagai penyebar
informasi dan opini politik, kartun editorial ikut tumbuh sebagai media kritik di
media. Karena bentuknya yang visual, mudah diamati dan ditangkap dengan
cepat (total), menyebabkannya populer dibandingkan teks tertulis yang perlu
dibaca dulu untuk menangkap makna tulisan (linear). Dengan demikian kartun
menjadi populer dalam media, selain sebagai hiburan (humor & gag cartoon)
juga sebagai komentar visual atas kejadian di masyarakat. Kartun komentar dan
sindiran ini yang disebut kartun editorial, yang hingga hari ini menjadi semacam
tajuk rencana visual di majalah dan surat kabar.




                                        37
II.4.1. Metafora dalam Kartun Editorial




     Gambar II.2. Metafora Imperialisme pada Kartun James Gillray (1806)


Penggunaan Metafora atau bahasa kiasan pada kartun editorial oleh Ben
Anderson (1990:155) disebutkan sebagai indirect speech yang khas pada kartun,
berbeda dengan bahasa berita, pidato dan gosip yang denotatif. Menurut
Gombrich (1963: 128) metafora merupakan ungkapan konotatif dalam kartun
yang dimaksudkan sebagai pengalihan atau pun penyamaran. Masalah tak
diungkap secara harfiah agar terungkap makna yang tersirat di balik peristiwa.
Gombrich menyebutkan, metafora merupakan gudang senjata bagi kartunis
(cartoonist’s armoury). Selain itu metafora dalam kartun editorial digunakan juga
sebagai cara menyamarkan topik. Penyamaran yang cerdik dapat menghindarkan
kartun dari delik hukum. Dalam situasi yang represif, menyindir dan berkias
menjadi cara untuk menghindari serangan balik penguasa.


Metafora telah sejak awal dimanfaatkan kartun editorial. Thomas Nast (1840 -
1902) merupakan kartunis yang sering dijadikan contoh dalam menggambarkan
walikota New York sebagai burung bangkai atau karung uang, menonjolkan

                                       38
kekejaman dan keserakahannya. Thomas Nast merupakan pencipta tokoh gajah
dan keledai sebagai metafora dari Partai Liberal dan Partai Demokrat di Amerika
Serikat, yang hingga sekarang menjadi simbolisasi kedua partai tersebut.


Menurut Gombrich (1963: 132) kartun editorial merupakan usaha cerdik kartunis
dalam memampatkan (condensation) gagasan yang rumit ke dalam sebuah
gambar yang mengejutkan dan berkesan untuk diingat. Melalui pemampatan dari
seluruh rangkaian gagasan yang dipadatkan dalam sebuah gambar penuh makna
(pregnant image) menurutnya adalah hakekat dari kecerdikan kartun.


Kartun tak selalu lucu, karena sangat tergantung situasi sosial-politik yang
dikomentari kartun tersebut. Isu yang diangkat pun tak selalu lucu, demikian
pula mengutarakannya. Tapi dalam menciptakan makna baru terhadap topik
yang diangkat, kartun menggunakan metafora untuk mengolah pengalihan dari
topik yang diulas ke bentuk permainan lain (visual) untuk memperkaya
komentar (Gombrich 1963: 133).


Sebagai karya seni rupa, kartun dibangun melalui elemen rupa dasar (titik,
garis, bidang ruang, warna, tonal) dan representasi dari apa yang digambar,
ikonografik atau gambar representatif (Primadi). Karena kartun adalah gambar
garis (outlined drawing) maka secara visual hanya elemen dasar garis, bidang,
gelap terang (tonal) yang membangun sosok objek dan representasinya yang
akan dibahas. Warna sebagai kualitas visual tidak dibahas di sini, karena kartun
editorial yang diteliti adalah kartun hitam-putih.




II.4.2. Kartun Sebagai Bangunan Bahasa Rupa


Menurut pendapat Gombrich, pemindahan dari gagasan (pikiran) menjadi visual
pun sudah merupakan metafora. Karena itu beliau menyebut unsur rupa dasar
sebagai “natural metaphor”. Dalam seni rupa sendiri bahasan demikian disebut
morfologi bentuk seni yang dibahas sebagai elemen rupa dasar (titik, garis,


                                        39
bentuk, ruang, gelap terang dan warna ) dan prinsip rupa dasar (keseimbangan,
irama, tekanan, terbuka-tertutup, proporsi dan skala). Bahasa Rupa Primadi
menyebutnya “cara wimba” (2005: 9), yaitu cara bagaimana objek digambarkan.


Selain menangkap ikon / wimba maka unsur kasat mata yang dilihat pengamat
adalah elemen-elemen rupa dasar . Unsur yang terbentuk melalui elemen adalah
prinsip-prinsip rupa dasar   yang menggiring mata pada konfigurasi tertentu.
Aspek-aspek tersebut secara bersama membentuk “gambar” yang bisa
ikonografik bisa abstrak (tak merekam sesuatu bentuk nyata). Penjabaran
mengenai elemen dan prinsip rupa dasar diharapkan dapat menjelaskan tentang
terjadinya ungkapan rupa yang menghubungkan antara pesan yang disampaikan
dengan kesan dan persepsi pengamat terhadap ungkap pesan tersebut.




a. Elemen Rupa Dasar


Karena kartun editorial yang akan diteliti berbentuk hitam putih dan
menggunakan garis, maka elemen dasar yang akan dikupas adalah elemen yang
muncul dalam penciptaan kartun. Elemen tersebut adalah garis, bentuk dan gelap
terang (tonality)


Garis menurut ilmu geometri adalah elemen rupa yang menghubungkan titik-
titik yang tak terbatas jumlahnya. Konfigurasi titik yang menjurus lurus
membentuk garis lurus. Konfigurasi dapat juga membentuk kurva / lengkung,
ataupun garis tak beraturan. Bagi pengamat berbagai jejak garis mengungkap
karakter tertentu, baik arahnya (lurus, lengkung, bergerigi, bergelombang),
maupun bentuknya (kecil tajam, tebal berat, kasar, gemulai). Karakter tersebut
memberi kesan tertentu terhadap tanggapan pengamat.


Dalam olah rupa garis tentu merupakan jejak yang dihasilkan oleh sebuah alat
yang digerakkan tangan (Feldman, 1967:224). Jejak tersebut mengindikasikan
aksi karena merupakan hasil sebuah kegiatan (tangan). Garis mengindikasikan


                                      40
juga gerak, terbentuk melalui gerakan tangan. Karena itu sering dikatakan garis
merekam perasaan (emosi) ke bentuk kasat mata. Tarikan garis berat kasar atau
kecil gemulai dapat “dibaca” sebagai ungkapan emotif pesan tertentu.


Dalam gambar kartun unsur utama pembentuknya adalah garis, yang dapat
berdiri sendiri sendiri sebagai garis, dan dapat menjadi garis babar (outline) dari
sesuatu yang digambar (Berger, 1989: 42). Karena itu pada kartun tampilan
garis menentukan makna gambar. Garis yang banyak lengkungnya memberi
kesan cair (biomorfik). Sebaliknya garis yang lurus-lurus tebal mengesankan
kaku (geometrik). Apabila kedua ujung sebuah garis bersambung maka akan
terbentuk sebuah sosok. Karakter dari garis babar tersebut sangat menentukan
tanggapan pengamat tentang karakter sosok tersebut.


Elemen berikut adalah bentuk. Bentuk dalam penggunaan kata disini mewakili
kata “form”, dan sosok mewakili kata “shape". Keduanya hanya berbeda sedikit;
bentuk biasanya mengartikan sesuatu yang lebih jelas dan dapat diejawantahkan,
sedang sosok untuk sesuatu yang belum cukup jelas atau malah abstrak. Dalam
tulisan ini bentuk akan digunakan pada sebuah “ikon” yang jelas deskripsinya,
sedang sosok digunakan lebih umum untuk yang jelas maupun tidak. Kadang
digunakan kata “bidang” untuk sesuatu yang lebih terukur (geometrik) dua
dimensi. Kata bidang juga digunakan untuk mengartikan permukaan tempat
gambar diletakkan.


Seperti diutarakan di atas, garis dapat menjadi babar yang membatasi sebuah
bentuk dengan ruang , hingga terjadi ilusi bentuk dalam ruang (Gestalt). Karakter
garis babar mengungkap karakter dari sosoknya. Karena itu dalam menanggapi
sebuah gambar, persepsi tentang apa yang digambar (ikon / wimba) dibentuk oleh
cara menarik garis babar. Kesan muncul dari kualitas babar, hingga terungkap
rasa yang tesirat (emotif) dari bentuk tersebut.


Selain unsur garis dan sosok, gelap terang / tonality dan tekstur ikut membentuk
persepsi terhadap gambar. Dalam gambar yang realistis (taat objek) tonality


                                         41
dipakai untuk memberi kesan volume dan ruang, baik untuk bayangan ataupun
suasana keruangannya. Gombrich menyebut penggunaan demikian sebagai
“Chiaroscuro”, istilah dari teknik gelap terang lukisan masa Renesans.


Baik Gombrich, Berger maupun Anderson sependapat bahwa tonality memberi
kesan pada pengamat bukan hanya peniruan suasana objek yang digambar,
tetapi juga mengungkap suasana emotif yang berpengaruh pada pengamat.
Suasana gambar yang cerah (dominan terang) memberi kesan ringan daripada
suasana yang gelap (dominan hitam). Diantara keduanya ada suasana temaram
(dim light) yang memberi kesan teduh, nyaman, kabur (misty). Tanggapan
demikian sangat manusiawi karena diperoleh dari pengalaman orang tentang
siang malam. Warna hitam secara alamiah mengesankan malam, menakutkan,
misterius. Dalam kebudayaan warna hitam diartikan secara berbeda. Bagi orang
Barat berarti duka, setan, sedang bagi orang timur berarti wibawa. Tetapi di
balik itu dasar persepsinya adalah, hitam mengesankan gelap dan misteri.




               Gambar II.3. Contoh kartun Gelap dan kartun Terang


Wujud gelap terang bisa halus ataupun tekstural. Yang halus maupun yang
kasar, tekstur mengungkap rasa pada indera perabaan. Melihat hamparan kerikil
tajam, tanpa menginjak pun pengamat mengalami reaksi pada syaraf perasa di
telapak kakinya. Gambar dengan arsir krayon kasar memberi dampak berbeda

                                      42
dengan arsir garis pena halus rapih. Dengan demikian tekstur pun bukan hanya
menciptakan kesan volume dan ruang, tetapi juga menyentuh syaraf dan emosi.


b. Prinsip Rupa Dasar


Dalam sebuah bidang beberapa dari gambar disusun agar relasi antar “wimba”
dapat berdialog dan membentuk sebuah cerita untuk ditanggapi pengamat. Tetapi
selain logika penyusunan (keruangan, relasi perspektif), sebetulnya bidang
gambar tetap dua dimensi tidak “etheral” seperti alam nyata. Dan bagaimanapun
bidang gambar adalah “lubang pengintip” berbentuk persegi. Kesan ruang dalam
gambar dapat saja dibuat ilusi seakan tiga dimensional, bagaimanapun gambar
yang ditangkap pengamat pada dasarnya adalah ruang datar dibatasi pigura.


Pigura tersebut adalah yang pertama membentuk kesan gambar. Bidang persegi
mendatar biasa disebut “landscape” dan yang meninggi disebut “portrait”,
mengambil kebiasaan pelukis Eropa dalam memilih bidang untuk objek yang
digambar. Dalam kartun bidang mendatar dapat dilihat sebagai “panggung
sandiwara” dimana lakon dimainkan. Bidang meninggi dipakai untuk
menyampaikan pernyataan, seakan menampilkan sosok yang berujar. Bidang
bujursangkar memberi kesan kokoh dan stabil, tak berarah. Perbedaan lebar dan
tinggi bidang dalam prinsip rupa disebut proporsi.


Bidang gambar tersebut menjadi ruang, atau dapat dianggap semacam dunia
dimana sebuah lakon terjadi dan berbagai bentuk gambar menampilkan diri.
Bagaimana bentuk tersebut muncul, dalam posisi seperti apa, susunan dan
relasinya mengikuti prinsip rupa dasar.


Dalam bidang gambar sendiri susunan bentuk menampakkan berbagai cara
menampilkan keseimbangan. Ada keseimbangan yang disusun simetri, kiri-kanan
sama. Keseimbangan seperti ini memberi kesan kokoh dan statis. Keseimbangan
asimetris meletakkan susunan lebih bebas hingga kesannya lebih dinamis.
Kadang pula susunan dapat lebih berat ke salah satu sisi, agar menimbulkan


                                          43
perasaan tak nyaman, berat sebelah. Ketidakseimbangan ini mungkin juga antara
bagian atas dan bawah. Baik yang simetri, asimetri maupun berat sebelah, semua
dimanfaatkan untuk mempengaruhi perasaan pengamat, tak langsung membentuk
tanggapan emotif terhadap gambar.


Dalam susunan tersebut bila hanya satu bentuk dalam satu ruang), maka ukuran
bentuk tersebut kepada ruang memberi kesan tertentu. Bentuk kecil di tengah
ruang besar memberi kesan melayang. Kalau bentuk kecil berada di garis tepi
bawah mengesankan sepi, kesendirian (solitair). Sebaliknya bentuk besar
memberi kesan sesak dan berteriak.


Bila terdapat lebih dari satu bentuk dalam bidang / ruang gambar maka terjadi
konfigurasi bentuk. Konfigurasi tersebut bisa membentuk irama bentuk, dan juga
mengesankan tekanan / aksen bila terjadi perbedaan perlakuan terhadap salah satu
bentuk. Tekanan bisa tercipta karena perbedaan ukuran (paling besar atau
sebaliknya paling kecil), penempatan dalam bidang (di tengah, di atas, terpisah)
atau melalui perbedaan perlakuan (olahan bentuk, warna, detail). Tekanan dalam
cara wimba (Primadi, 2005: 101-102) digunakan untuk menyatakan penting.




II.4.3. Dari Rupa Dasar ke Ikonografi


Secara keseluruhan sebelum dilihat sebagai sesuatu yang ikonografik, elemen
dan prinsip rupa dasar merupakan stimuli pertama yang dilihat dan secara tak
disadari membentuk tanggapan emotif. Dari bangunan rupa dasar           tersebut
secara tak langsung perasaan pengamat dipengaruhi. Gambar tak hanya
menunjukkan apa yang terlihat (secara ikonografik) tetapi juga apa yang terasa
dari unsur rupanya (dalam semiotika Peirce disebut Qualisign). Aspek rupa
dasar ini yang jadi dasar bangunan visual kartunis dalam berkarya, yang secara
tak langsung mempengaruhi pengamat secara emotif.




                                      44
Gombrich (1963:133) dengan hati-hati meminjam istilah “physiognomic”4 untuk
relasi antara sosok dengan unsur visual (rupa dasar) yang membentuknya hingga
muncul tanggapan emotif pengamat. Persepsi terhadap rupa dasar merupakan hal
alamiah (natural) yang nyaris universal diterima pengamat.


Dalam kartun sebuah bentuk gambar tercipta melalui unsur-unsur garis babar
meniru sesuatu yang dikenal dari alam nyata (mimesis). Pada dasarnya
menggambar sendiri pun sudah suatu kegiatan metafora, memindahkan konsep
pikiran ke dalam bentuk visual. Bentuk ikonografik dalam gambar tak murni
merekam alam nyata seperti halnya sebuah foto. Dalam menggambar yang
dipindahkan adalah tanggapan, bukan realitas itu sendiri. Apapun yang beralih
jadi gambar selalu melalui proses reduksi, seleksi, dan redefinisi pada konsep
yang digambar, baik yang sangat dekat dengan kenyataan (naturalistis) maupun
yang lebih sederhana (stilasi).




                     Gambar II.4 Gambar Kartun Mendekati Realistis


phys.i.og.no.my n, pl -mies [ME phisonomie, fr. MF, fr. LL physiognomonia, physiognomia,
fr. Gk physiognomonia, fr. physiognomon judging character by the features, fr. physis nature,
physique, appearance + gnomon interpreter--more at gnomon] (14c) 1: the art of discovering
temperament and character from outward appearance 2: the facial features held to show
qualities of mind or character by their configuration or expression 3: external aspect.
(Merriam Webster Dictionary CD: 1994)

                                              45
Bentukan babar pada sebuah sosok dapat dikesankan sedemikian rupa hingga
sangat mirip dengan benda yang digambar. Dalam semiotika hal ini disebut
kedekatan antara referent dengan representamen (Pierce), atau signified dengan
signifier (Saussure). Feldman menyebut usaha kedekatan itu sebagai “style of
objective accuracy”. Dalam gaya pendekatan seperti ini garis diusahakan
menterjemahkan senyata mungkin dengan objek yang digambar.

Di kutub lain sebuah babar dapat tak mengasosiasikan kepada sesuatu (tanpa
referent), dan dikatakan bentuk abstrak. Dalam kartun, karena gambar dimaksud
untuk menyampaikan sesuatu (story-telling), maka jarang babar demikian muncul
kecuali sebagai elemen pelengkap membangun suasana. Yang biasanya muncul
adalah bentukan babar yang mengambil jarak dengan objek yang digambar (tidak
“taat objek”) dengan hanya mengambil bagian penting dari objek sebagai
indikasi. Dalam teori Gestalt hal itu ditandai dengan pengurangan (reduksi) dan
pemilihan    hal   yang    penting   saja     (seleksi)   selama   maksud    gambar
(representamen) masih bisa dikenali pengamat. Karena itu kartun dapat dianggap
sebagai “hot media” (McLuhann) di mana pengamat berperan aktif (partisipatif)
dalam menanggapi gambar.


Di sisi lain, gambar kartun yang makin tak “taat objek” memberi kesempatan
pada elemen rupa dasar untuk ikut berperan dalam membangun aspek emotif
gambar. Dalam menanggapi kartun demikian terjadi “tegangan” antara melihat
gambar sebagai representasi alam nyata dengan gambar sebagai permainan
elemen garis dan bentuk. Bangunan garis yang terbentuk dapat dekoratif
(cenderung dua dimensional), ekspresif (garis bebas), garis esensi (stilasi) .




                                         46
                  Gambar II.5 Dampak Garis Pada Ungkapan Kartun



II.4.4. Pengalihan Melalui Bahasa Tubuh


Sebuah kartun hampir selalu menggunakan orang sebagai objek. Dalam
penampilan manusia biasanya dilakukan distorsi (melebih-lebihkan) untuk
memberi tekanan pada karakteristik tokoh ataupun sikap tubuh. Seni Karikatur
yang dikembangkan Annibeli Carracci menjadi salah satu senjata kartunis untuk
memberi ciri pada gambar wajah yang diulas dalam gambar. Kartunis mendistorsi
salah satu ciri tokoh tertentu agar pengamat dapat mengidentifikasi tokoh
dimaksud. Karena itu seperti saran Leonardo da Vinci, seniman harus
mempelajari dan melengkapi kamus karakter manusia dalam bekerja. (Gombrich,
1960: 347-351) Dalam arti yang sebenarnya inilah yang disebut “physiognomy”,
ilmu mempelajari karakter orang melalui wajah. Dan ilmu ini yang
dikembangkan Cesare Lombroso (1835-1909) dalam kriminologi, teori tentang
ciri-ciri orang jahat antara lain melalui bukunya L'uomo delinquente (1876; "The
Criminal Man").


Dalam sebuah karikatur selain muncul ciri fisik wajah tokoh, diungkap tanggapan
terhadap karakter tokoh tersebut. Karikatur dapat memanipulasi tokoh sebagai
orang lunak, baik, licik, ataupun jahat. Hal ini belum tentu sesuai dengan keadaan
tokoh tersebut secara pribadi. Karikatur mengungkap karakter baru tersebut untuk
mempengaruhi kesan publik tentang tokoh itu. Wajah sering dianggap bagian

                                       47
penting dalam berungkap. Wajah seseorang sering kali digunakan sebagai
indikasi awal untuk menebak, baik karakter maupun apa yang ada di lubuk hati
seseorang. Pembesaran bagian kepala dibanding tubuh pada kartun-kartun Ranan
Lurie dimaksud agar pengamat lebih mudah mengidentifikasi tokoh dimaksud
melalui wajahnya. David Levine lebih memilih tubuh sebagai ungkap cerita
karakter Henry Kissinger sebagai menteri luarnegeri Amerika Serikat.


Selain wajah, sosok tubuh digunakan juga untuk memberi tekanan pada apa yang
disampaikan. Primadi justru melihat pemanfaatan bahasa tubuh dibandingkan
wajah merupakan ciri budaya komunikasi visual orang timur (Primadi 2005:72)
Pemanfaatan bahasa tubuh secara dramatis (dilebihkan) dapat dilihat pada teater
rakyat dan juga filem Hongkong dan Jepang. Tubuh digunakan sebagai media
ungkap karena ungkapan dapat ditangkap dari jarak yang cukup jauh dibanding
wajah yang perlu dilihat “close-up”.




              Gambar II. 6. Kartun Ranan Lurie & David Levine, 1981


Dalam kartun pemanfaatan ini dapat dilakukan dari tampilan sosok, anggota
badan, proporsi tubuh, selain atribut (pakaian) sebagai ciri. Nyaris selalu orang
kaya / makmur digambar dengan perut gendut, dan orang susah dengan badan
kurus kecil. Pengalihan ini sudah menjadi semacam metafora beku dalam kartun.
                                       48
Mendistorsi sikap tubuh dalam kartun pun merupakan cara menegaskan sesuatu.
Dalam kartun hiperbola memperpanjang tangan atau kaki merupakan cara
mengatakan sesuatu pula, karena anggota badan adalah bagian yang penting
dalam menyatakan sesuatu.


Atribut lain juga digunakan untuk mencirikan tokoh atau orang. Atribut pakaian
sering dipakai untuk memberi ciri, dan kadang ciri tersebut menjadi stereotype.
Kartunis Amerika kebanyakan menggambar orang Vietnam dan Cina sebagai
petani dengan topi caping, tanpa baju atau hanya memakai singlet, dan celana
pendek (Lihat Lampiran 1 Ceramah). Cara penggambaran tersebut kemudian
menjadi semacam metafora beku juga. Karena pakaian dalam pada kartun
digunakan sebagai ciri penanda, maka yang paling dikenal sebagai ciri sosial
komunitas tertentulah yang digunakan sebagai wakil. Saddam Hussein selalu
digambar dengan kostum militer dan topi baret. Tentu penggambaran demikian
tak lagi sesuai setelah dia ditangkap dan diadili.


Sikap tubuh, proporsi dan anggota badan dalam kartun dapat didistorsi
sedemikian ekstrim karena gambar bukanlah realitas, dan tak perlu taat pada
realitas. Gambar mempunyai bahasa sendiri seperti yang telah diteliti dalam
“bahasa rupa” Primadi (2005: 29-35). Lebih jauh apapun yang dipinjam dari
realitas hanya merupakan titik tolak untuk mengungkap tanggapan, baik yang
terpikir maupun terasa. Jan Lenica pada contoh di bawah mencampuradukkan
antara bagian tubuh dengan simbol, juga antara representasi ikonik dengan
permainan grafis. Melalui gambar berangkai sangat sederhana (cukilan kayu)
terungkap makna yang dalam.




      Gambar II.7. Gambaran seorang Jenderal menurut Jan Lenica (1960)

                                         49
II.4.5. Pengalihan Melalui Objek dan Situasi


Kartun juga meminjam dan mengalihkan objek-objek untuk membuat analogi
antara konsep yang diungkap dan kendaraan (objek lain) yang digunakan, untuk
menawarkan perluasan makna. Hal ini dilakukan melalui pemanfaatan
penindihan bagian tubuh manusia dengan objek lain ataupun penggantian yang
biasanya disebut personifikasi, menggambarkan benda ataupun hewan dan
tumbuhan sebagai manusia.


Pemanfaatan bagian tubuh sebagai kiasan ditemukan juga dalam metonimi,
penggunaan gambar tangan yang kasar sebagai wakil buruh misalnya, atau
menggambarkan telapak tangan dan jari sebagai burung. Dalam Kitab Injil
Tuhan digambarkan sebagai mata, maha melihat. Penindihan sebagian saja pun
sering dilakukan. Pada abad pertengahan pada beberapa naskah agama orang
suci kadang digambarkan berkepala binatang. Dalam legenda Ramayana para
perwira pasukan Sri Rama pun berkepala binatang seperti Anoman, Maesasura,
Lembusura dan teman-temannya. Penindihan tersebut merupakan metafora
menganalogikan tokoh dengan (sebagian) karakter dari binatang tertentu.




Gambar II.8. Tokoh Satria Kepala Binatang Ramayana (Sumber: Gambar Umbul)


Penggantian secara keseluruhan pun dilakukan dalam metafora visual,
mengganti sesuatu dengan objek lain untuk menganalogikan karakter yang ingin
diungkap   dari   gambar    tersebut.   Pawukon   merupakan   perbendaharaan
penggantian yang mengungkap hal abstrak dari karakter, karena karakter sendiri

                                        50
bukan wujud nyata tetapi merupakan sifat / kualitas. Dalam kartun masa kini
tikus sering digunakan sebagai pengganti koruptor, rubah untuk sifat licik.
Penggantian   itu   pun   dapat   terjadi   pada   benda-benda,   baik   yang
dipersonifikasikan sebagai manusia (rumah bisa bicara), ataupun melalui
simbol-simbol visual yang artinya telah disepakati bersama dalam satu
komunitas. Simbol menurut semiotika bukanlah metafora karena pengalihan
konsep terjadi karena konvensi bersama tentang maknanya.


Dalam kartun simbol sering digunakan sebagai pengungkap gagasan, karena
pengertiannya yang sudah dimengerti bersama. Tetapi tak jarang pula simbol
tersebut dimanfaatkan untuk mengungkap interpretasi baru tentang sesuatu.
Menggambarkan Garuda Pancasila tanpa sehelai sayap memberi konotasi yang
keluar dari makna semula. Lambang Garuda Amerika dengan wajah Mr.
Groovy memberi konotasi enteng dan kekanak-kanakan, desakralisasi dari sifat
formal sebuah lambang negara.




        Gambar II.9. Kartun Toni Auth di New York Time, 14 Maret 2003


Pemindahan bisa dilakukan dengan menindih bagian tertentu saja atau
mengubah seluruh eksistensinya. Dua kartun di bawah menunjukkan bagaimana
gagasan tentang seorang presiden diungkap dengan cara yang berbeda. Bila

                                      51
Tom Toles hanya menindih wajah saja, hingga Presiden George W. Bush
tampak berwajah kucing dalam setting meja kerja. Pat Oliphant mengubah
seluruh eksistensi Bush sebagai anjing. Kesan emotif yang diperoleh pun
berbeda. Kartun Toles masih terasa lunak karena hanya wajah saja yang diubah.
Pada Oliphant kesannya lebih keras justru wajahnya mirip tapi dalam tampilan
sebagai anjing yang dirantai.




  Gambar II.10. Karikatur George W. Bush oleh Tom Toles dan Pat Oliphant (2001)


Selain melalui objek-objek, pengalihan bisa dilakukan melalui pemindahan ke
situasi yang lain. Lakoff dan Johnson telah memperlihatkan bahwa metafora
merupakan konsep berpikir memindahkan sebuah pernyataan dengan meminjam
situasi yang berbeda (Lakoff, 1980: 43 – 51), maka yang dipinjam bukan hanya
nama seperti pada Poetica Aristoteles. Menurut Paul Ricouer yang dipindahkan
dalam metafora adalah “sebuah kalimat” atau seluruh situasi. Pengalihan dalam
metafora dipandang sebagai diskursus tentang keseluruhan wacana, atau re-
deskripsi (Ricouer dalam Soegiharto, 1996: 102-104).


Dalam pertunjukan Wayang Kulit Purwa penonton menghadapi sebuah situasi
yang didukung karakter-karakter yang merupakan metafora dari kehidupan
manusia secara kosmologis. Apa yang diceritakan Dalang adalah diskursus
mengenai konflik dan harmoni manusia. Sebuah panggung teater jelas
merupakan lakon metaforis yang dipinjam untuk mengungkap sebuah diskursus
yang sifatnya umum. Pemindahan situasi demikian pun terjadi dalam kartun.

                                       52
      Gambar II.11. H. Daumier: Pemindahan Situasi Ke Mitologi (1867)


Dalam kartun, situasi yang dipilih untuk analogi biasanya sudah dikenal oleh
pengamat. Salah satu situasi yang sering digunakan adalah meminjam legenda
ataupun mitologi untuk dialihkan ke masalah aktual. Para kartunis Eropa pada
abad ke-XVIII banyak mengalihkan melalui mitologi Yunani. Dua hal yang
dipertimbangkan dalam penggunaan mitologi adalah; pengamat sudah mengenal
cerita di balik tokoh-tokoh mitos tersebut hingga kartunis tinggal menjembatani
antara mitos dengan situasi saat ini. Hal berikut adalah bahwa mitologi (Yunani)
dikenal baik oleh masyarakat yang berpendidikan Barat, hingga penampilannya
memberi nilai lebih pada yang bisa menangkap hubungannya (gengsi intelektual).


Setelah media cetak surat kabar menjadi sangat populer kartunis memilih situasi
apa saja untuk pengalihan, dari legenda, cerita fantasi (fairy tales), fabel,
superhero, komik, diagram, hingga ke situasi sehari-hari (olah raga, permainan,
ritus sosial) yang mudah dikenali pengamat, pun peristiwa sederhana seperti
orang terperosok ke lubang misalnya. Pemindahan situasi ini dalam kartun dapat
dilakukan karena gambar tak pernah kaku membatasi logika dan aturan bidang
gambar. Berbagai objek dapat diletakkan dalam satu panel, bahkan dicampur
(fusi) dan dimaknai ulang hingga memunculkan arti baru.

                                      53
                Gambar II.12. R.O. Blechman: Pengalihan Situasi


II.5. Rangkuman


Dari ulasan di atas dapat dilihat relasi kartun editorial dengan kebudayaan yang
melatarinya. Sebagai bahasa komunikasi, baik verbal maupun visual, sumber
tanda dan ikon yang dipinjam dan dialihmaknakan berasal dari sebuah komunitas
tertentu yang telah saling mengerti perbendaharaan tanda dan simbol yang
digunakan komunitasnya (keintiman yang diutarakan Cohen). Penggunaan dan
pengalihan simbol tersebut tak lepas dari tata-nilai simbol yang dianut komunitas
tersebut. Pengalihan makna terlihat misalnya dalam penyebutan nama
kehormatan. Di sebagian Jawa harimau disebut sebagai "si Mbah" (kakek) untuk
mengalihkan dari realita emotif buas ke konsep orang tua yang ramah.


Secara umum metafora yang merupakan pengalihan satu tanda ke sistem tanda
yang lain, dengan cara memindahkan “topik” kepada “kendaraan” lain untuk
mendapatkan analogi baru yang segar, dan ditawarkan sebagai perluasan makna.
Tapi bila analogi itu sering diulang, kesegaran relasi itu hilang dan menjadi tanda
dengan arti tetap, seperti kata kepala batu. Kiasan demikian disebut metafora
beku. Bagi Lakoff dan Johnson, baik yang beku ataupun yang segar, keduanya
tetap merupakan pemindahan situasi yang menunjukkan konsep berpikir, seperti


                                        54
dalam kata membeli hati (berusaha berbaik). Yang dilihat dalam pengalihan
adalah, melalui kendaraan yang digunakan dapat difahami cara berpikir
penyampai pesan tentang topik yang disampaikan.


Pada kartun editorial pengalihan metaforik dapat dibaca melalui setidaknya tiga
cara: pengalihan topik ke dalam elemen rupa dasar, melalui bahasa tubuh atau
wajah (karikatur), dan pengalihan obyek ataupun situasi, baik situasi yang
berbeda maupun situasi dongeng ataupun mitologi yang sudah dikenal pengamat.


Melalui ketiga cara ini sebuah kartun dibangun untuk menyampaikan pesannya.
Dari ketiganya, elemen rupa dasar merupakan faktor yang penting dalam
mengungkap sisi emotif gambar di samping faktor bahasa tubuh yang
ikonografik. Pengalihan melalui situasi menunjukkan perbendaharaan tanda
budaya yang dimengerti pengirim dan pengamat dalam sebuah komunitas
tertentu. Menelaah kartun dari tiga aspek ini akan membuka pemahaman tentang,
bagaimana metafora bekerja dalam olah kartun, baik segi emotif maupun segi
budaya.




                                      55

								
To top