Docstoc

Tarekat Islam

Document Sample
Tarekat Islam Powered By Docstoc
					STUDI ISLAM SEJARAH TAREKAT ISLAM DAN PERKEMBANGAN TAREKAT DI INDONESIA

Disusun Oleh :
ABDI RAMRAN UMAMAH

Fakultas Sains Dan Teknologi Program Studi Sistem Informasi Reguler Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2009

BAB I PENDAHULUAN

Tarekat merupakan cara bagi orang-orang yang menjalankan laku mistis atau tasawuf untuk mencapai tujuan utamanya, yakni memperoleh cita makrifat pada alam gaib dan mendapatkan penghayatan langsung pada zat Allah atau al-Haq. Pada dasarnya, tarekat dalam dunia tasawuf tidak terbatas jumlahnya, karena setiap manusia seharusnya mencari dan merintis jalannya sendiri sesuai dengan kemampuan ataupun taraf kesucian hatinya masing-masing. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika banyak dijumpai berbagai jenis tarekat dalam dunia tasawuf.

BAB II PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Munculnya Tarekat Secara etimologi, kata „tarekat‟ berasal dari bahasa Arab, tariqah, yang berarti jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi, dikerjakan oleh para sahabat, tabi‟in dan seterusnya secara turun-temurun (Atceh 1985: 67). Jadi tarekat adalah suatu metode atau cara yang harus ditempuh seorang salik (orang yang meniti kehidupan sufistik), dalam rangka membersihkan jiwanya sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.1 Metode semula dipergunakan oleh seorang sufi besar dan kemudian diikuti oleh murid-muridnya, sebagaimana halnya mazhab-mazhab dalam bidang fiqh dan firqah-firqah dalam bidang kalam. Pada perkembangan berikutnya membentuk suatu jam‟iyyah (organisasi) yang disebut dengan tarekat.2 Adapun tarekat, sebagai gerakan kesufian popular (massal), sebagai bentuk terakhir gerakan tasawuf, tampaknya juga tidak begitu saja muncul. Kemunculannya

1

Baca Mirce Aliade (Ed.), The Encyclopedia of Islam, Vol. 14 (New York : Macmillan Publishing Co., 1987), h. 342. 2 Baca Ahmad Tafsir, ”Tarekat dan Hubungannya dengan Tasawuf,” dalam Harun Nasution a(Ed.), Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah: Sejarah, Asal Usul dan Perkembangannya (Tasikmalaya:IAILM, 1990), h. i29. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau historitas (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 153.

tampak lebih dari sebagai tuntutan sejarah, dan latar belakang yang cukup beralasan, baik secara sosiologis, maupun politis pada waktu itu. Ada dua faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan tarekat pada masa itu,yaitu factor cultural dan structural.3 Dari segi politik, dunia islam sedang mengalami krisis hebat,seperti: wilayah Palestina, Syiria, dan Mesir menghadapi serangan orang kristen Eropa, yang terkenal dengan perang salib. Selama lebih kurang dua abad (490-656 H./1096-1258 M.) telah terjadi delapan kali peperangan dahsyat,4 serta situasi politik kota Baghdad karena terjadi perebutan kekuasaan di antara para Amir (Turki dan Dinasti Buwaihi). Kerunyaman politik dan krisis kekusaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat islam di wilayah tersebut, dan ini mengalami masa dis-integrasi sosial yang sangat parah, pertentangan antar golongan banyak terjadi, seperti antara golongan Sunni dengan Syi‟ah, Turki dengan Arab, akibatnya kehancuran umat islam terasa dimana-mana.5 Dan dalam situasi ini umat islam berusaha mempertahankan agamanya dengan berpegang pada doktrinnya yang dapat menentramkan jiwa, dan menjalin hubungan yang damai dengan sesama muslim.6

3

Ahmad Tafsir, ”Tarekat dan Hubungannya dengan Tasawuf,” dalam Harun Nasution (Ed.), Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah: Sejarah, Asal Usul dan Perkembangannya (Tasikmalaya:IAILM, 1990), h. 28. 4 Lihat K. Ali, A Study of Islamic History (Delhi: idarat, 1990), h. 273. 5 Lihat K. Ali,op.cit., h. 134-135. 6 Mereka banyak berkumpul dengan para al-ulama al-salihin banyak puasa,membaca Alqur‟an, dan zikr serta mengasingkan diri dari keramaian duniawi yang diyakini sebagai obat penetram jiwa. Baca Abu Bakar al-Makky, Kifayat al-Atqiya’ wa Minhaj al-Asfiya’ (Surabaya:Sahabat Ilm,t, th), h. 49-51.

Masyarakat islam memiliki warisan kultural dari ulama sebelumnya yang dapat digunakan, sebagai pegangan yaitu doktrin tasawuf, yang merupakan aspek kultural yang ikut membidangi lahirnya tarekat-tarekat pada masa itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian ulama sufi, memberikan pengayoman masyarakat islam yang sedang mengalami krisis moral yang sangat hebat. Dengan dibukanya ajaran-ajaran tasawuf kepada orang awam, maka kemudian berbondong-bondonglah orang awam memasuki majelis-majelis zikirnya para sufi, yang kemudian berkembang menjadi suatu kelompok tersendiri yang disebut tarekat. Menurut Harun Nasution sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap, yaitu: tahap khanaqah, tahap tariqah, tahap ta‟ifah.  Tahap Khanaqah Tahap khanaqah (pusat pertemuan sufi), dimana syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat, syekh menjadi mursyid yang dipatuhi. Ini terjadi sekitar abad X masehi dan masa ini merupakan masa keemasan tasawuf.  Tahap Tariqah Sekitar abad XII M, disini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan, dan metode tasawuf. Pada masa ini muncul pusat-pusat pengajaran tasawuf dan juga tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan disini pula tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.  Tahap Ta’ifah

Terjadi sekitar XV masehi, disini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut.pada masa ini muncul organisasi-organisasi tasawuf dan pada tahap ta‟ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyyah, dan lain-lain.7

B. Perkembangan Tarekat di Indonesia Jumlah Tarekat di Indonesia sangat banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di banyak negara di seluruh dunia sampai kini ada tujuh, yaitu:         Tarekat Khalawatiyah Tarekat Naksyabandiyah Tarekat Qadiriyah Tarekat NaksyabandiyahQadiriyah Tarekat Rifa‟yah Tarekat Sammaniyah Tarekat Syaziliyah Tarekat Tijaniyah

1. Tarekat Khalawatiyah
7

Saiful Muzani (ed.), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution (Bandung: Mizan, 1996), h. 366.

Cabang dari Tarekat Aqidah Suhrardiyah yang didirikan di Baghdad oleh Abdul Qadir Suhrawardi dan Umar Suhrawardi. Mereka menamakan diri golongan Siddiqiyah karena mengklaim sebagai keturunan khalifah Abu Bakar r.a. Khalawatiyah ini didirikan di Khurasan oleh Zahiruddin dan berhasil berkembang sampai ke Turki. Tidak mengherankan jika Tarekat Khalawatiyah ini banyak cabangnya antara lain; Tarekat Dhaifiyah di Mesir dan di Somalia dengan nama Salihiyah. Tarekat Khalawatiyah ini membagi manusia menjadi tujuh tingkatan: 1. Manusia yang berada dalam nafsul ammarah Mereka yang jahil, kikir, angkuh, sombong, pemarah, gemar kepada kejahatan, dipengaruhi syahwat dan sifat-sifat tercela lainnya. Mereka ini bisa membebaskan diri dari semua sifat-sifat tidak terpuji tersebut dengan jalan memperbanyak zikir kepada Allah SWT dan mengurangi makan-minum. Maqam mereka adalah aghyar, artinya kegelap-gulitaan. 2. Manusia yang berada dalam nafsul lawwamah Mereka yang gemar dalam mujahaddah (meninggalkan perbuatan buruk) dan berbuat saleh, namun masih suka bermegah-megahan dan suka pamer. Cara untuk melenyapkan sifat-sifat buruk tersebut adalah mengurangi makan-minum, mengurangi tidur, mengurangi bicara, sering menyendiri dan memperbanyak zikir serta berpikir yang baik-baik. Maqam mereka adalah anwar, artinya cahaya yang bersinar. 3. Manusia yang berada dalam nafsul mulhamah

Mereka yang kuat mujahaddah dan tajrid, karena ia telah menemui isyaratisyarat tauhid, namun belum mampu melepaskan diri dari hukum-hukum manusia. Cara untuk melepaskan kekurangannya adalah dengan jalan menyibukkan batinnya dalam Hakikat Iman dan menyibukkan diri dalam Syari‟at Islam. Maqam mereka adalah kamal, artinya kesempurnaan. 4. Manusia yang berada dalam nafsul muthma‟innah Mereka yang tidak sedikit pun meninggalkan ajaran Islam, mereka merasa nyaman jika berakhlak seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan merasa belum tentram hatinya jika belum mengikuti petunjuk dan sabda Beliau. Manusia seperti ini sangat menyenangkan siapa pun yang melihatnya dan mengajaknya berbicara. 5. Manusia yang berada dalam nafsul radhiyah Mereka yang sudah tidak menggantungkan diri kepada sesama manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT. Mereka umumnya sudah melepaskan sifatsifat manusia biasa. Maqam mereka adalah wisal, artinya sampai dan berhubungan. 6. Manusia yang berada dalam nafsul mardhiyah Mereka yang telah berhasil meleburkan dirinya ke dalam kecintaan khalik dan khalak, tidak ada penyelewengan dalam syuhudnya. Ia menepati segala janji Tuhan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Maqam mereka adalah tajalli af’al, artinya kelihatan Tuhan. 7. Manusia yang berada dalam nafsul kamillah

Mereka yang dalam beribadah menyertakan badannya, lidahnya, hatinya dan anggota-anggota tubuhnya yang lain. Mereka ini banyak beristighfar, banyak bertawadhu‟ (rendah hati atau tidak suka menyombongkan diri). Kesenangan dan

kegemarannya adalah dalam tawajjuh khalak. Maqam mereka adalah tajalli sifat, artinya tampak nyata segala sifat Tuhan. 2. Tarekat Naksyabandiyah Pendiri Tarekat Naksyabandiyah ialah Muhammad bin Baha‟uddin AlHuwaisi Al Bukhari (717-791 H). Ulama sufi yang lahir di desa Hinduwan – kemudian terkenal dengan Arifan, beberapa kilometer dari Bukhara. Pendiri Tarekat Naksyabandiyah ini juga dikenal dengan nama Naksyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib. Kata „Uwais‟ ada pada namanya, karena ia ada hubungan nenek dengan Uwais Al-Qarni, lalu mendapat pendidikan kerohanian dari wali besar Abdul Khalik AlKhujdawani yang juga murid Uwais dan menimba ilmu Tasawuf kepada ulama yang ternama kala itu, Muhammad Baba Al-Sammasi. Tarekat Naksyabandiyah mengajarkan zikir-zikir yang sangat sederhana, namun lebih mengutamakan zikir dalam hati daripada zikir dengan lisan. Ada enam dasar yang dipakai sebagai pegangan untuk mencapai tujuan dalam Tarekat ini, yaitu: a. Tobat

b. Uzla (Mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu memperbaikinya) c. Zuhud (Memanfaatkan dunia untuk keperluan hidup seperlunya saja) d. Taqwa e. Qana‟ah (Menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT) f. Taslim (Kepatuhan batiniah akan keyakinan qalbu hanya pada Allah) Hukum yang dijadikan pegangan dalam Tarekat Naksyabandiyah ini juga ada enam, yaitu: Zikir Meninggalkan hawa nafsu Meninggalkan kesenangan duniawi Melaksanakan segenap ajaran agama dengan sungguh-sungguh Senantiasa berbuat baik (ihsan) kepada makhluk Allah SWT Mengerjakan amal kebaikan

3. Tarekat Qadariyah Tarekat Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi QS, seorang ulama yang zahid, pengikut mazhab Hambali. Ia mempunyai sebuah sekolah untuk melakukan suluk dan latihan-latihan kesufian di Baghdad. Pengembangan dan

penyebaran Tarekat ini didukung oleh anak-anaknya antara lain Ibrahim dan Abdul Salam. Sebagaimana Tarekat yang lain, Qadiriyah juga memiliki dan mengamalkan zikir dan wirid tertentu. Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di Makkah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M. Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS, ini adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat. Garis Salsilah tarekat Qodiriyah ini berasal dari Sayidina Muhammad Rasulullah SAW, kemudian turun temurun berlanjut melalui Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra, Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra, Sayidina Muhammad Baqir ra, Sayidina Al-Imam Ja'far As Shodiq ra, Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim, Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa Al Rido, Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi, Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti, Syaikh AlImam Abul Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi, Syaikh Abu Bakar As-Syibli, Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi, Syaikh Abul Faraj Altartusi, Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari, Syaikh Abu Sa'id Mubarok Al Makhhzymi, Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS. Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti

tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, "Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya." Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), Yaman yang disiarkan oleh Ali bin Al-Haddad, di Syiria oleh Muhammad Batha‟, di Mesir oleh Muhammad bin Abdus Samad serta di Maroko, Turkestan dan India yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri dan lainlain, semuanya berasal dari India. Di Indonesia, pencabangan tarekat Qodiriyah ini secara khusus oleh Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi digabungkan dengan tarekat Naqsyabandiyah menjadi tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah .

4. Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah Pada dasarnya tarekat yang sering ditemui adalah tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah. Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah adalah sebuah tarekat yang merupakan univikasi dari dua tarekat besar, yaitu Tarekat Qadariyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Sebelum membahas lebih lanjut tentang Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah kiranya kita perlu memahami tentang apa itu Tarekat Qadariyah dan Tarekat Naqsyabandiyah ?.



Tarekat Qadariyah Nama tarekat ini dinisbatkan kepada seorang sufi besar yang sangat legendaris

yaitu Syekh Muhyiddin Abd Qadir Jailani. Beliau dilahirkan pada tahun 470 H ( 1077 M ) di Jilan ( sekarang wilayah Iraq ) serta beliau meninggal dunia pada tahun 561 H ( 1166 M ). Beliau telah menulis beberapa karya yang berjudul ” Al – Gunyah Li Talibi Tariq Al – Haq ”. Dilihat dari beberapa karyanya, tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang Teolog ( ahli ilmu kalam ), seorang mujtahid dalam fiqih dan juga seorang orator yang piawai. Beliau memimpin sebuah madrash dan ribat ( tempat pemondokan para sufi ) di Baghdad. Sepeninggalnya, kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya yaitu Abd. Salam. Madrasah dan ribat ( tempat pemondokan para sufi ), secara turun – menurun tetap berada dibawah pengasuhan keturunan Syekh Abd. Qadir Al – Jailani. Hal ini berlangsung sampai hancurnya kota Baghdad oleh serangan yang ganas dari tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Serangan tersebut mengakhiri eksistensi madrash dan ribat di Baghdad. Perkembangan ajaran tarekat ini ke berbagai daerah kekuasaan Islam di luar Baghdad adalah suatu hal yang wajar. Karena sejak zaman Syekh Abd. Qadir Al – Jailani, sudah ada beberapa murid yang mengajarkan metode dan ajaran tasawuf ke berbagi negeri Islam. Di antanya ialah : Ali Muhammad Al – Haddad di daerah Yaman, Muhammad Al – Bata‟ihi di daerah Balbek dan Syiria, dan Muahammad Ibn Abd Shamad di daerah Mesir. Demikian juga karena kerja keras dari

ketulusan putera – puteri Syekh Abd Qadir Al – jailani untuk melajutkan tarekat ini sehingga tarekat ini telah tersebar di daerah Islam ,baik barat maupun di timur. Menurut Trimingham, Tarekat Qadariyah sampai dengan sekarang ini ( XX ), masih merupakan tarekat yang terbesar di dunia Islam dengan bejuta – juta pengikutnya.  Tarekat Naqsyabandiyah Nama tarekat ini di nisbatkan kepada seorang sufi besar yang bernama Muhammad Ibn Muhammad Baha‟udin Al – Uwaisi Al – Naqsyabandiyah ( 717 H / 1317 M s/d -791/ 1389 ). Beliau lahir di kota Bukhara desa Hinduan. Ghujdawni adalah peletak dasar – dasar ajaran tarekat ini, yang kemudian ditambahkan oleh Al – Naqsyabandi. Masuknya Tarekat Naqsyabandiyah ini ke Makkah justru melalui India. Tarekat ini dibawa oleh Tajuddin Ibn Zakaria. Dari kota suci tersebut Tarekat Naqsyabandiyah ini masuk ke Indonesia.  Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah Tarekat ini didirikan oleh sufi dan syekh besar masjid Al – Haram di Makkah Al – Mukarramah. Ia bernama Ahmad Khatib Ibn Abd Ghaffar Al – Sambasi Al – Jawi. Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia, yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Beliau adalah seorang mursyid Tarekat Qadariyah, disamping itu ada juga yang menyebutkan beliau dari Tarekat Naqsyabandiyah.. Sebagai seorang mursyid yang sangat alim dan arif billah, beliau memiliki otoritas unutk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya.

Kemudian beliau menggabungkan kedua ajaran tersebut. Beliau menggabungkan kedua tarekat tersebut atas pertimbangan logis dan strategis bahwa kedua ajaran tersebut bersifat melengkapi, terutama dalam hal jenis zikr dan metodenya. Tarekat Qadariyah menekankan ajarannya pada zikir jahr nafi isbat, sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah menekankan model zikr sirr ismu zat, atau zikit lataif. Dengan penggabungan ini diharapkan para muridnya dapat mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang efektif dan lebih efisien. Syekh Ahmad Khatib memiliki banyak murid dari beberapa daerah di kawasan nusantara, dan beberapa orang khalifah. Di anatara khalifah – khalifah yang terkenal dan kemudian menurunkan murid – murid yang banyak sampai sekarang ini, yaitu : 1. Syekh Abd. Karim Al – Bantani 2. Syekh Ahmad Thalhah Al – Cireboni ( Cirebon ) 3. Syekh Ahmad Hasbu Al – Maduri ( Madura ) 4. Muhammad Isma‟il ibn Abd. Rachim ( Bali ) 5. Syekh Yasin ( Kedah – Malaysia ) 6. Syekh Haji Ahmad Lampung (Lampung – Sum –Sel ) 7. M. Ma‟ruf ibn Abdullah Al – Khatib ( Palembang ) Syekh Muhammad Isma‟il ibn Abd. Rachim menetap dan mengajar di Makkah. Sedangkan Syekh Yasin setelah menetap di Makkah, belakangan menyebarkan tarekat ini di Mempawah daerah Kalimantan Barat. Adapun Haji Lampung dan M. Ma‟ruf masing – masing turut membawa ajaran tarekat ini ke daerah masing –

masing. Penyebaran ajaran tarekat ini didaerah Sambas ( asal daerah Syekh Ahmad Khatib ), dilakukan oleh kedua khalifahnya, yaitu Syekh Nuruddin dari Philipina dan Syekh Muhammad Sa‟ad putera asli dari Sambas. Setelah wafatnya Syekh Ahmad Khatib, maka kepemimpinan tarekat ini dipegang oleh Yekh Abd. Karim Al – Bantani. Tetapi setelah Syekh Abd. Karim meninggal dunia, maka para khlaifah tersebut melepaskan diri. Khalifah Syekh Thalhah di Cirebon mengembangkan tarekat ini secara mandiri. Kemudian tarekat ini dilanjutkan oleh Abdullah Mubarak ibn Nur Mubarak ( Abah Sepuh ). Beliau mendirikan pusat penyebaran ini di Tasikmalaya. Dan didirikanlah sebuah pondok pesantren yang bernama Suryalaya. Abah Sepuh kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang bernama Shahibul Wafa Tajul Arifin ( Abah Anom ). Abah Anom mengembangkan metode Riyadah ( psikoterapi alternatif ). Pusat penyebaran tarekat ini tidak kalah penting adalah Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen ( Jawa Tengah ). Tarekat ini berkembang melalui Syekh Abd. Karim Al – Bantani. K.H. Muslih, adalah pendiri dari pondok pesantren tersebut. Setelah itu kepemimpinan diberikan kepada puteranya yang bernama M. Lutfil Hakim sampai saat ini.

4. Tarekat Rifaiyah Pendirinya Tarekat Rifaiyah adalah Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah pada tahun 500 H (1106 M), sedangkan

sumber lain mengatakan ia lahir pada tahun 512 H (1118 M). Sewaktu Ahmad berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur Al-Batha‟ihi, seorang syeikh Trarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya tersebut ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu Al-Fadl Ali Al Wasiti, terutama tentang Mazhab Fiqh Imam Syafi‟i. Dalam usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan khirqah 9 sebagai pertanda sudah mendapat wewenang untuk mengajar. Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.

5. Tarekat Sammaniyah Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan Syeikh Muhammad Saman, seorang guru masyhur yang mengajarkan Tarekat di Madinah. Banyak orang Indonesia terutama dari Aceh yang pergi ke sana mengikuti pengajarannya. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika Tarekat ini tersebar luas di Aceh dan terkenal dengan nama Tarekat Sammaniyah. Sebagaimana guru-guru besar Tasawuf, Syeikh Muhammad Saman terkenal akan kesalehan, kezuhudan dan kekeramatannya. Salah satu keramatnya adalah ketika Abdullah Al-Basri – karena melakukan kesalahan – dipenjarakan di

Mekkah dengan kaki dan leher di rantai. Dalam keadaan yang tersiksa, Al-Basri menyebut nama Syeikh Muhammad Saman tiga kali, seketika terlepaslah rantai yang melilitnya. Kepada seorang murid Syeikh Muhammad Saman yang melihat kejadian tersebut, Al-Basri menceritakan, “kulihat Syeikh Muhammad Saman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus.” Perihal awal kegiatan Syeikh Muhammad Saman dalam Tarekat dan Hakikat, menurut Kitab Manaqib Tuan Syeikh Muhammad Saman, adalah sejak pertemuannya dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani. Kisahnya, di suatu ketika Syeikh Muhammad Saman berkhalwat (bertapa) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datang Syeikh Abdul Qadir Jailani membawakan pakaian jubah putih. “Ini pakaian yang cocok untukmu.” Ia kemudian memerintahkan Syeikh Muhammad Saman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon semula Syeikh Muhammad Saman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW menyebarkannya dalam kota Madinah. Tarekat Sammaniyah juga mewiridkan bacaan zikir yang biasanya dilakukan secara bersama-sama pada Malam Jum‟at di masjid-masjid atau mushalla sampai jauh tengah malam. Selain itu ibadah yang diamalkan oleh Syeikh Muhammad Saman yang diikuti oleh murid-muridnya sebagai Tarekat antara lain adalah shalat sunnah Asyraq dua raka‟at, shalat sunnah Dhuha dua belas raka‟at,

memperbanyak riadhah (melatih diri lahir batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

6. Tarekat Syaziliyah Pendiri Tarekat Syaziliyah adalah Abdul Hasan Ali Asy-Syazili, seorang ulama dan sufi besar. Menurut silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Ia dilahirkan pada 573 H di suatu desa kecil di kawasan Maghribi. Tentang arti kata “Syazili” pada namanya yang banyak dipertanyakan orang kepadanya, konon ia pernah menanyakannya kepada Tuhan dan Tuhan pun memberikan jawaban, “Ya Ali, Aku tidak memberimu nama Syazili, melainkan Syazz yang berarti jarang karena keistimewaanmu dalam berkhidmat kepada-Ku. Ali Syazili terkenal sangat saleh dan alim, tutur katanya enak didengar dan mengandung kedalaman makna. Bahkan bentuk tubuh dan wajahnya, menurut orang-orang yang mengenalnya, konon mencerminkan keimanan dan keikhlasan. Sifat-sifat salehnya telah tampak sejak ia masih kecil. Apalagi setelah ia berguru pada dua ulama besar – Abu Abdullah bin Harazima dan Abdullah Abdussalam ibn Masjisy – yang sangat meneladani khalifah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib. Dalam jajaran sufi, Ali Syazili dianggap seorang wali yang keramat. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ia pernah mendatangi seorang guru untuk mempelajari suatu ilmu. Tanpa basa-basi sang guru mengatakan kepadanya,

“Engkau mendapatkan ilmu dan petunjuk beramal dariku? Ketahuilah, sesungguhnya engkau adalah salah seorang guru ilmu-ilmu tentang dunia dan ilmu-ilmu tentang akhirat yang terbesar.” Kemudian pada suatu waktu, ketika ingin menanyakan tentang Ismul A‟zam kepada gurunya, seketika ada seorang anak kecil datang kepadanya, “Mengapa engkau ingin menanyakan tentang Ismul A‟zam kepada gurumu? Bukankah engkau tahu bahwa Ismul A‟zam itu adalah engkau sendiri?” Tarekat Syaziliyah merupakan Tarekat yang paling mudah pengamalannya. Dengan kata lain tidak membebani syarat-syarat yang berat kepada Syeikh Tarekat. Kepada mereka diharuskan: o Meninggalkan segala perbuatan maksiat. o Memelihara segala ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan lain-lain. o Menunaikan ibadah-ibadah sunnah semampunya. o Zikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin atau minimal seribu kali dalam sehari semalam dan beristighfar sebanyak seratus kali seharisemalam dan zikir-zikir yang lain. o Membaca shalawat minimal seratus kali sehari-semalam dan zikirzikir yang lain. o 7. Tarekat Tijaniyah

Pendiri Tarekat Tijaniyah ialah Abdul Abbas bin Muhammad bin Muchtar AtTijani (1737-1738), seorang ulama Algeria yang lahir di „Ain Mahdi. Menurut sebuah riwayat, dari pihak bapaknya ia masih keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Keistimewaannya adalah pada saat ia berumur tujuh tahun, Konon Tijani sudah menghapal Alqur‟an, kemudian mempelajari pengetahuan Islam yang lain, sehingga ia menjadi guru dalam usia belia. Ketika naik haji di Madinah, Tijani berkenalan dengan Muhammad bin Abdul Karim As-Samman, pendiri Tarekat Sammaniyah. Setelah itu ia mulai mempelajari ilmu-ilmu rahasia batin. Gurunya yang lain dalam bidang Tarekat ini ialah Abu Samghun As-Shalasah. Dari sinilah pandangan batinnya mulai terasah. Bahkan konon dalam keadaan terjaga ia bertemu Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kepadanya beberapa wirid, istighfar dan shalawat yang masingmasing harus diucapkan seratus kali dalam sehari semalam. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan agar Tijani mengajarkan wirid-wirid tersebut kepada semua orang yang menghendakinya. Wirid-wirid yang harus diamalkan dalam Tarekat Tijaniyah sangat sederhana, yaitu terdiri dari istighfar seratus kali, shalawat seratus kali dan tahlil seratus kali. Semua wirid tersebut boleh diamalkan dua waktu sehari yaitu pagi setelah Shalat Shubuh dan sore setelah Shalat Ashar.

C. Tujuan dan Amalan-amalan dalam Tarekat

Tarekat sebagai organisasi para salik dan sufi, pada dasarnya memiliki tujuan yang satu, yaitu taqarrub pada Allah.8 Akan tetapi secara garis besar dalam tarekat terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tata cara dan jenis-jenis amaliah kesufian. Ketiga tujuan pokok tersebut adalah:   Tazkiyat al-Nafs ( Penyucian Jiwa ) Taqarrub Ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah)

Diantara cara yang dilakukan oleh para pengikut tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah : a. Tawassul Bentuk-bentuk tawassul yang biasa dilakukan adalah berhadiah fatihah kepada syekh yang memiliki silsilah tarekat yang diikuti, sejak dari Nabi sampai mursyid yang mengajar zikir kepadanya. Selain itu ada diri juga yang bertawassul nur dengan istigraq atau

(mengekspresikan

tenggelam

dalam

Muhammad),

mengekspresikan bahwa dirinya adalah Muhammad itu sendiri.9 b. Muraqabah (kontemplasi)

8

Karena sebenarnya istilah tarekat sendiri terambil dari kata Tariqat atau metode, yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Baca A. Wahib Mu‟thi, Tarekat: Sejarah Timbulnya, Macam-macam, dan Ajaran-ajarannya Tasawuf (Jakarta:Yayasan Wakaf Paramadina, t. Th.), h. 141. 9 Tawassul dengan cara Istigraq tersebut misalnya dikerjakan dalam tarekat qadiriyah di Mandar, Sulawesi Selatan. Wawancara dengan KH. Ilham Saleh (mursyid), 2 Maret 1997. Disamping cara-cara batin tersebut diatas, tawassul juga biasa dilakukan secara qauli, tetapi cara ini biasanya untuk do‟a dan hajat-hajat tertentu. 10 Secara bahasa arti muraqabah sendiri berarti mengintai atau mengawasi dengan penuh perhatian. Lihat Ahmad Warson Munawir, Kamus Arab Indonesia (Yogyakarta: Al-Munawir, 1984), h. 557.

Adalah duduk bertafakkur atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan menyakinkan hati, diri dengan bahwa seolah-olah Allah berhadapan senantiasa dengan mengawasi Allah, dan

memperhatikannya.10 c. Khalwat atau ‟Uzlah Adalah mengasingkan diri dari hiruk pikuknya urusan duniawi.  Tujuan-tujuan Lain Wirid Suatu amalan yang dilakukan secar istiqomah (terus-menerus).wirid ini biasanya berupa potongan-potongan ayat, atau shalawat, ataupun asma‟ al- husna. Ratib Seperangkat amalan yang biasanya harus diwiridkan oleh para pengamalnya. Tetapi ratib ini perupakan kumpulan dari beberapa potongan ayat atau beberapa surat pendek, yang digabung dengan bacaan-bacaan lain, seperti: istigfar, tasbih, shalawat. Hizib Adalah suatu do‟a yang panjang dengan lirik dan bahasa yang indah yang disusun oleh sufi besar11. Hizib ini biasanya merupakan do‟a andalan sang sufi yang juga diberikan kepada muridnya secara ijazah sharih.

11

Lihat Kitab Dalail al- Khairat kitab yang banyak memuat hizb. Hizb yang ditulis oleh Abu Hasan alSyadili mursyid tarekat syadiliyah. Majmu’at Dalail al-Khairat (Surabaya: Nabhan, 1996.).

BAB III PENUTUP D. Kesimpulan Tarekat adalah suatu metode atau cara yang harus ditempuh seorang salik (orang yang meniti kehidupan sufistik), dalam rangka membersihkan jiwanya sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah swt Menurut Harun Nasution sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap, yaitu: tahap khanaqah, tahap tariqah, tahap ta‟ifah. Jumlah Tarekat di Indonesia sangat banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di banyak negara di seluruh dunia sampai kini ada tujuh, yaitu:      Tarekat Khalawatiyah Tarekat Naksyabandiyah Tarekat Qadiriyah Tarekat NaksyabandiyahQadiriyah Tarekat Rifa‟yah

  

Tarekat Sammaniyah Tarekat Syaziliyah Tarekat Tijaniyah

Secara garis besar dalam tarekat terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tata cara dan jenis-jenis amaliah kesufian. Ketiga tujuan pokok tersebut adalah:    Tazkiyat al-Nafs Taqarrub Ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah) Tawassul Muraqabah (kontemplasi) Khalwat atau ‟Uzlah Tujuan-tujuan Lain Wirid Ratib Hizib

DAFTAR PUSTAKA



Aqib, Kharisudin. AL HIKMAH Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Surabaya: Dunia Ilmu, 1998.



Atjeh, Abu Bakar. Pengantar Ilmu Tarekat : Kajian historis tentang Mistik. Cet. XI, Solo: Ramadani, 1995.



Bruinnessen, Martin Van. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Tradisitradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.



Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam; Edisi Senior, Cetakan VIII, Penebar Salam, Jakarta, September 2000



Ahmad Tafsir, ”Tarekat dan Hubungannya dengan Tasawuf,” dalam Harun Nasution a(Ed.), Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah: Sejarah, Asal Usul dan Perkembangannya, Tasikmalaya:IAILM, 1990.



Abu Bakar al-Makky, Kifayat al-Atqiya’ wa Minhaj al-Asfiya’, Surabaya:Sahabat Ilm,t, th, hal 49-51.

 

"http://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat_Qodiriyah" Sumber Ilustrasi: Sufi Tariqat by studiovalentine.com


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:36274
posted:6/17/2009
language:Indonesian
pages:27
Description: pelajaran Mahasiswa