Penerapan Corporate Governance, Pengungkapan Informasi, Dan Kinerja Perusahaan Di Perusahaan Publik Indonesia by fzx36981

VIEWS: 327 PAGES: 18

More Info
									     PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, ASSET DAN
          GROWTH TERHADAP KINERJA PASAR
                                 Suryana Asba (21204259)
             Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas Gunadarma, 2009


                                       ABSTRAK

         Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bukti empiris yaitu (i)Corporate
governance mempengaruhi terhadap nilai Tobin’s Q (iii) Asset mempengaruhi terhadap nilai
Tobin’s Q (iii) Growth mempengaruhi terhadap nilai Tobin’s Q.
         Corporate governance diukur dengan CGPI (Corporate Governance Perception Indeks)
berdasarkan pada pemeringkatan yang telah disusun oleh IICG (Indonesian Institute of
Corporate Governance) dan Kinerja Perusahaan diukur dengan nilai Tobin’s Q. Metode
statistik yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Sampel penelitian adalah
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan mengikuti survei yang dilakukan oleh
IICG tahun 2005-2007 dan termasuk dalam pemeringkatan CGPI.
         Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat diambil kesimpulan bahwa corporate
governance mempengaruhi nilai kinerja pasar perusahaan.

Kata Kunci   : Corporate Governance,nilai Tobin’s Q


Latar Belakang Masalah

             Isu mengenai corporate governance mengalami perkembangan dari waktu
      kewaktu. Perkembangan ini muncul sebagai reaksi terhadap berbagai kegagalan korporasi
      (corporate failures) sebagai akibat dari buruknya tata kelola perusahaan. Krisis corporate
      governance, pertama kali terjadi pada tahun 1700an yang di kenal dengan the south sea
      bubble. Krisis ini ditanggapi dengan gerakan revolusi regulasi dan praktek bisnis di
      Inggris.
             Masalah corporate governances semakin mendapat perhatikan besar di Asia sejak
      terjadinya krisis financial pertengahan tahun 1997, dimana lemahnya peneraapan prinsip
      corporate governance diyakini sebagai sumber utama kerawanan ekonomi yang
      menyebabklan memburuknya perekonomian beberapa negara Asia.
             Indonesia mulai menerapkan prinsip GCG sejak menandatangani Letter of intent
      (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) yang salah satu bagian pentingnya
      adalah pencantuman jadwal perbaikan pengelolaan perusahaan (corporate governance )



                                                                                              1
di Indonesia sejalan dengan langkah tersebut, pada tahun 1999, pemerintah melalui Kep-
10 /M.EKUIN/08/1999 membentuk suatu lembaga yaitu Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG). Komite ini bertugas untuk merumuskan dan menyusun
rekomendasi kebijakan nasional tentang corporate governanace (CG), anatara lain
meliputi Code for Good Corporate Governance. Selanjutnya komite secara
berkesinambungan bertugas memantau perbaikan dibidang CG Indonesia. Hal ini
kemudian diikuti oleh Bapepam dengan menerbitkan surat edaran Bapepam No.SE-
03/PM/2000 tentang komite audit; menerbitkan peraturan pencatatan Bursa Efek Jakarta
Nomor I-A tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat ekuitas di Bursa pada
tanggal 1 juli 2000 dan beberapa peraturan lainnya, serta memberikan sanksi atas
pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan publik (Khomsiyah,2005).
       Prinsip-prinsip dasar dari good corporate governance (GCG) pada dasarnya
memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan.
Corporate governance lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang
diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para
pemegang saham, dan stakeholders. Sehingga dapat dijadikan sebagai dasar analisis
dalam mengkaji corporate governance di suatu negara dengan memenuhi transparansi
dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan yang sistematis yang dapat digunakan
sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja perusahaan dan bagaimana
korelasi antar kebijakan tentang buruh dan kinerja perusahaan. Meskipun kinerja
ekonomi pemerintah yang lalu diwarnai oleh beberapa pelanggaran prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik (good corporate governance), baik di pasar modal, perbankan,
maupun di sektor riil akibat krisis yang melanda Indonesia lalu sebaiknya prinsip-prinsip
corporate governance tetap dapat dijalankan secara amanah, akuntabel, transparan dan
fair untuk mencapai tujuan terciptanya nilai kinerja perusahaan jangka panjang seraya
terlayaninya semua kepentingan pihak yang berkepentingan dengan jalannya perusahaan
(stakeholders).
       Jika corporate governance merupakan faktor yang signifikan pada kondisi krisis,
maka corporate governance tidak hanya mampu menjelaskan perbedaan kinerja
antarnegara selama periode krisis, akan tetapi juga perbedaan kinerja antarperusahaan




                                                                                       2
dalam suatu negara tertentu. Penelitian tentang variasi penerapan corporate governance
di tingkat perusahaan masih sangat sedikit dilakukan.
       Di Indonesia ada sebuah lembaga swdaya yang setiap tahun melakukan
pemeringkatan praktek GCG untuk perusahaan publik, yaitu The Indonesian Institute for
Corporate Governance (IICG).        Pemeringkatan yang dilakukan berdasarkan survey
terhadap prakti GCG yang menghasilkan skor Corporate Governance Perception Index
(CGPI). Pada tahun 2003 perusahaan publik yang bersedia dinilai praktik GCG nya oleh
IICG berjumlag 31 dari 332 perusahaan yang terdaptar di BEJ atau sekitar 9,3 % (Swa
Sembada,2004). Sementara pada tahun 2004 perusahaan publik yang bersedia dilnilai
praktik GCGnya hanya berjimlah 22 dari 334 perusahaan atau hanya sekitar 6,6 %. Ada
penurunan sekitar 3,3 %. (Swa Sembada 2005). Tahun 2005 mengalami sedikit kenaikan
menjadi 26 perusahaan . Hasil pemeringkatannya diumumkan pada tanggal 11 desember
2006.(Swa Sembada 2006). Perception Indekx 2007 yang dikeluarkan oleh IICG,
terdapat kemajuan perusahaan yang tercatatr di Bura Efek Indonesia dalam menerapkan
GCG.
       Beberapa penelitian yang secara khusus menguji hubungan antara struktur Corporate
Governance dengan pengungkapan informasi telah dilakukan oleh Forker (1992), Ho dan
Wong (2000), dan Sabeni (2002) dalam Khomsiyah (2003). Pentingnya penelitian mengenai
Corporate Governance dan pengungkapan informasi dapat ditinjau dari dua perspektif.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui penerapan prinsip-prinsip Corporate Governance,
mengingat pentingnya peran Corporate Governance dalam struktur pengelolaan bisnis dan
ekonomi moderen yang ditopang oleh pasar modal dan pasar uang (Witherell,2000; Oman,
2001 dalam Khomsiyah, 2003), meningkatkan kepercayaan publik pada perusahaan
(Brayshaw, 2002 dalam Khomsiyah, 2003). Penelitian Ho dan Wong (2000) dalam
Khomsiyah (2003) menunjukkan bahwa Indonesia, Thailand dan Jepang yang mempunyai
tingkat transparansi yang rendah, merupakan negara yang mengalami volatile shocks yang
lebih besar dibandingkan dengan negara yang mempunyai transparansi yang lebih tinggi
(Hongkong, Singapura dan Taiwan). Penelitian yang dilakukan Khomsiyah (2003)
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penerapan Corporate Governance dengan
pengungkapan informasi dalam laporan tahunan perusahaan. Semakin tinggi indeks
implementasi Corporate Governance, semakin banyak informasi yang diungkapkan oleh
perusahaan dalam laporan tahunan.


                                                                                      3
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Coorporate Governance dan Kinerja
                Corporate governance merupakan isu yang tidak pernah usang untuk terus dikaji
      pelaku bisnis, akademisi, pembuat kebijakan, dan lain sebagainya. Pemahaman tentang
      praktik Corporate governance terus berevolusi dari waktu ke waktu. Kajian atas
      Corporate governance mulai disinggung pertama kalinya oleh Berle dan Means pada
      tahun 1932 ketika membuat sebuah buku yangmenganalisis terpisahnya kepemilikan
      saham (ownership) dan kontrol.
                Istilah Corporate governance itu sendiri untuk pertama kali diperkenalkan oleh
      Cadbury Committee di tahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut dalam laporan
      mereka yang kemudian dikenal sebagai Cadbury Report.
      Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate governance merupakan:
                    1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran
                        dewan komisaris, direksi, pemegang saham dan para stakeholder lainnya.
                    2. Suatu      sistem   pengecekan    dan   perimbangan     kewenangan     atas
                        pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang:
                        pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.
                    3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan,
                        pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya
                        (www.madani-ri.com).
                Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
      corporate governance pada intinya adalah mengenai suatu, sistem, proses dan
      seperangkat     peraturan     yang   mengatur     hubungan   antar   berbagai   pihak   yang
      berkepentingan (stakeholder) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang
      saham, dewan komisaris dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan.
      Corporate governance dimaksudkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan
      mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan yang signifikan dalam stategi korporasi dan
      untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan
      segera.


                                                                                                4
   Secara umum terdapat lima prinsip dasar dari good corporate governance yaitu:
1. Transparency (keterbukaan informasi), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses
   pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan
   relevan mengenai perusahaan.
2. Accountability    (akuntabilitas),   yaitu   kejelasan   fungsi,   struktur,   sistem,   dan
   pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana
   secara efektif.
3. Responsibility (pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan
   perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang
   berlaku.
4. Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
   professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manajemen
   yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku dan prinsip-
   prinsip korporasi yang sehat.
5. Fairness (kesetaraan dan kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan setara di dalam
   memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
   perundangan yang berlaku.
Pengaruh Corporate governance Terhadap Kinerja Perusahaan
           Penerapan coorporte governance bukan tanpa insentif. Wicaksono dalam Retta
   2008 menyatakan bahwa CG muncul sebagai upaya untuk mengatasi perilaku manajemen
   yang mementingkan diri sendiri guna menciptakan system pembagian keuntungan yang
   seimbang bagi stakeholder dan menciptakan efisisensi bagi perusahaan. Dalam satu
   dasawarsa terakhir, hasil penelitian-penelitian empiris, codes of corporate governance di
   hamper seluruh dunia dan kesaksian           dari perusahaan yang telah menerapkan CG
   menyimpulkan hal yang senada dari penerapan CG, yaitu CG dapat memberikan
   konstibusi positif bagi perusahaan maupun investor dan steke holder lainnya. Konstribusi
   positif yang dimaksud yaitu CG yang diterapkan dengan baik dapat bermanfaat untuk
   meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
           Kinerja perusahaan ditentukan sejauh mana keseriusannya dalam menerapkan
   good corporate governance. Perusahaan yang terdaftar dalam skor pemeringkatan
   corporate governance yang dilakukan oleh IICG telah menerapkan good corporate



                                                                                             5
governance dengan baik dan secara langsung menaikkan nilai sahamnya. Semakin tinggi
penerapan corporate governance yang diukur dengan corporate governance indeks
perception semakin tinggi pula tingkat ketaatan perusahaan dan menghasilkan kinerja
perusahaan yang baik.
       Secara teoritis praktik good corporate governance dapat meningkatkan kinerja
perusahaan, mengurangi resiko yang mungkin dilakukan oleh dewan dengan keputusan
yang menguntungkan sendiri dan umumnya good corporate governance dapat
meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya yang berdampak
terhadap kinerjanya.


Pengembangan Hipotesis
       Penerapan good corporate governance dipercaya dapat meningkatkan kinerja atau
nilai perusahaan. Pernyataan ini dapat ditemukan dalam berbagai codes of corporate
governance hampir di semua negara. Sebagai contoh, Dey Report (1994) dalam
Kusumawati (2005) mengemukakan bahwa corporate governance yang efektif dalam
jangka panjang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan pemegang
saham. Peningkatan kinerja perusahaan tersebut tidak hanya untuk kepentingan
pemegang saham namun juga untuk kepentingan publik secara umum. Sunarto (2003)
juga menyatakan apabila good corporate governance tercapai maka kinerja saham
perusahaan tersebut akan semakin meningkat. Penerapan good corporate governance
membawa manfaat besar bagi perusahaan.
       Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan hasil survei IICG berupa corporate
governance perception index (CGPI) untuk mengukur corporate governance. Dari
corporate governance pereception index, rating atau pemeringkatan disusun. Alasan
penggunaan indeks ini disebabkan oleh keterbatasan data tentang penelitian penerapan
corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Indeks tersebut
merupakan satu-satunya indeks yang dipublikasikan dari hasil penelitian pada
perusahaan-perusahaan di Indonesia dengan menggunakan instrumen yang telah
disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. Peneliti menggunakan
nilaiTobin’s q sebagai ukuran penilaian pasar dan return on equity (ROE) sebagai ukuran
kinerja operasional perusahaan.



                                                                                     6
       Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan pengaruh corporate
governance terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan. Adapun penelitian-
penelitian terdahulu yang dapat menjadi bahan acuan dalam mendukung hasil penelitian
yang dilakukan oleh penulis antara lain: Peneliti yang telah melakukan studi di bidang ini
adalah Khomsiyah (2005) yang menguji simultanitas penerapan corporate governance
dan kinerja perusahaan. Artinya, peneliti mencoba untuk menguji secara simultan, karena
peneliti menganggap bahwa terdapat kemungkinan bahwa penerapan good corporate
governance berpengaruh pada kinerja perusahaan. Berdasarkan teori yang ada,
seharusnya semakin tinggi penerapan good corporate governance, yang diukur dengan
corporate governance perception indeks (CGPI) dan berada dalam lingkungan hukum
yang buruk maka semakin baik kinerja pada perusahaan tersebut. Dalam penelitian
Khomsiyah (2005) menyimpulkan bahwa corporate governance berpengaruh terhadap
kinerja operasional perusahaan.
Menurut Berghe dan Ridder (1999) dalam Erna Hidayah (2007), menghubungkan kinerja
perusahaan dengan corporate governance tidak mudah dilakukan. Beberapa penelitian
menunjukkan tidak ada hubungan corporate governance dengan kinerja perusahaan,
misal penelitian yang dilakukan oleh Daily dkk (1998) dan hasil survey CBI, Deloitte dan
Touche (1996) dalam Deni Darmawati (2004) dan dalam penelitiannya Erna Hidayah
(2008) menyimpulkan bahwa penerapan corporate governance tidak mempengaruhi
secara langsung kinerja.
       Dalam penelitian ini pengukuran corporate governance dengan menggunakan
corporate governance perception indeks (CGPI) dan pengukuran kinerja dengan Tobin’s
q sebagai ukuran penilaian pasar dan return on equity ROE sebagai ukuran kinerja
operasional diyakini bisa memberikan gambaran mengenai kinerja perusahaan yang baik,
karena esensi penerapan prinsip-prinsip good corporate governance adalah peningkatan
kinerja perusahaan. Perusahaan yang telah menerapkan corporate governance secara baik
akan memiliki kinerja operasional yang baik dan akan diikuti oleh kinerja pasar yang
tampak pada nilai saham perusahaan sehingga dapat diprediksi bahwa perusahaan yang
menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance yang lebih baik akan cenderung
mempunyai kinerja perusahaan yang lebih baik pula. Dengan demikian dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:



                                                                                        7
   H01:       Corporate governance,asset,growth tidak berpengaruh positif terhadap
              Tobin’s Q.


METODE PENELITIAN
     Objek Penelitian
            Objek penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di BEJ yang
     melaksanakan good corporate governance. Pengambilan sampel dilakukan dengan
     menggunakan purposive sampel, yaitu penentuan sampel dengan target atas
     pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan yang digunakan pemilihan sampel adalah :
     perusahaan yang termasuk kedalam kelompok perusahaan terbaik dalam pelaksanaan
     good corporate governance pada tahun 2005-2007. Kelompok perusahaan terbaik dalam
     pelaksanaan good corporate governance tersebut merupakan hasil survey yang dilakukan
     oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) bekerjasama dengan majalah
     SWA.
            Peneliti akan menguji Pengaruh Tata Ruang, Pertumbuhan Dan Ukuran
     Perusahan Terhadap Kinerja Pasar. Penerapan pelaksanaan good corporate
     governance perusahaan dapat dilihat dari skor CGPI. Semakin tinggi skornya maka akan
     semakin baik perusahaan tersebut menerapkan pelaksanaan good corporate governance.
  Variabel Penelitian
     Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikelompokkan sebagai berikut :
     Variabel dependen
            Variabel denpenden dalam penelitian ini adalah kinerja perusahaan. Tobins’q
     sebagai ukuran penilaian pasar (Klapper dan Love, dalam Khomsiyah dkk,2003) Kinerja
     perusahaan yang digunakan adalah kinerja perusahaan yang di proksikan pada Retrun on
     Equity (ROE), dan Tobins’ Q.
            Tobin’s q dihitung dengan menggunakan rumus yang dikembangkan oleh
            Chung dan Pruitt, 1994, yaitu:
            Tobins’q       =   (MVE + PS + DEBT )
                                      TA




                                                                                          8
       Keterangan :
              MVE         : Harga penutupan saham di akhir tahun buku x banyaknya
                          saham biasa yang beredar
              PS          : Nilai Likuiditas dari saha preferen yang beredar
              DEBT        : (Utang lancar – aktiva lancar ) + nilai buku sediaan + utang
                          jangka panjang / nilai buku total aktiva
              Peneliti menyesuaikan rumus tersebut dengan kondisi transaksi keuangan
       perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dengan demikian, rumus yang digunakan
       untuk mengukur tobins’q menggunakan rumus sebagai berikut ( Klapper dan
       Love dalam Khomsiyah, 2005)


       Tobins’q       =      MVE + DEBT
                                    TA
Variabel Independen
       Variabel independen penelitian ini adalah corporate governance. Variabel ini
diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh IICG berupa Corporate
Governance Perception Index (CGPI). CGPI berisi skor hasil survey mengenai
penerapan corporate governance pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta. CGPI adalah program riset dan pemeringkatan penerapan Good Corporate
Governance di Indonesia pada perusahaan publik. Program ini dilaksanakan sejak tahun
2001 dilandasi dengan pemikiran pentingnya mengetahui sejauh mana perusahaan-
perusahaan tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.
Variabel Kontrol
       Di bawah ini merupakan berbagai variabel yang secara teori menentukan
penerapan corporate governance maupun kinerja di perusahaan.
     a. Kesempatan pertumbuhan (growth opportunity):
        Kesempatan pertumbuhan (growth opportunity). Perusahaan yang memiliki
       kesempatan tumbuh yang tinggi pada umumnya membutuhkan dana eksternal
       untuk melakukan ekspansi, sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan
       perbaikan dalam penerapan corporate governance dalam rangka untuk
       menurunkan biaya modal (La Porta dkk., 1999; Klapper dan Love, 2002;



                                                                                      9
              Himmelberg dkk., 1999; Himmelberg, Hubbard dan Love 2001). Jika nilai
              Tobin’s q lebih tinggi untuk perusahaan yang memiliki kesempatan tumbuh
              tinggi, hal ini bisa disebabkan adanya endogenitas pada variabel corporate
              governance dalam asosiasi antara corporate governance dengan kinerja. Dengan
              demikian, penelitian ini memasukkan variabel kesempatan pertumbuhan sebagai
              variabel kontrol. Kesempatan pertumbuhan diukur dengan menggunakan rata-
              rata pertumbuhan penjualan selama tiga tahun terakhir (Klapper dan Love. 2002).
           b. Ukuran perusahaan (Size):
                    Pengaruh ukuran perusahaan terhadap corporate governance masih belum
              jelas arahnya. Perusahaan besar dapat memiliki masalah keagenan yang lebih
              besar (karena lebih sulit untuk dimonitor) sehingga membutuhkan corporate
              governance yang lebih baik. Dengan demikian, penelitian ini memasukkan
              variabel ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Sebagai proksi dari ukuran
              perusahaan (size), umumnya studi-studi yang meneliti hubungan antara size
              dengan profitabilitas perusahaan menggunakan logaritma natural dari total asset
              (Log TA), ini digunakan untuk untuk mengurangi perbedaan signifikan antara
              ukuran perusahaan yang terlalu besar dengan ukuran perusahaan yang terlalu
              kecil, maka nilai total asset dibentuk menjadi logaritma natural, konversi
              kebentuk logaritma natural ini bertujuan untuk membuat data total asset
              terdistribusi normal. Namun ada juga yang menggunakan logaritma natural dari
              penjualan (Log sales). Penelitian ini akan menggunakan Log (TA ) karena
              merupakan proksi yang lebih umum digunakan. Studi-studi terdahulu cenderung
              menemukan hasil yang konsisten, yakni terdapat hubungan positif antara
              keduanya. Ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan log natural dari Total
              asset (Klapper dan Love, 2002 dalam darmawati, 2005).
                                     Size = Log (TA)
Uji Kualitas Data
      Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel
      penggannggu atau residual mempunyai distribusi normal. Salah satu cara yang dapat
      digunakan untuk mengetahui normlitas distribusi data adalah dengan menggunakan
      teknik grafik (plot) yaitu melihat nilai residual pada model regresi yang akan diuji. Jika


                                                                                             10
       sampel berasal dari sebuah populasi yang normal, titik-titik dalam plot akan jatuh
       disekitar garis lurus. Jika sampel berasal dari sebuah populasi yang tidak normal, Plot
       akan terlihat seperti kurva (Dielman dalam Sayidah, 2007). Pengujian ini menggunakan
       normal probably plot of standardized residual yang hasilnya sebagai berikut :
                                                                      Gambar 4.1

                  Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual



                                                  Dependent Variable: TOBINSQ

                                           1.0




                                           0.8
                       Expected Cum Prob




                                           0.6




                                           0.4




                                           0.2




                                           0.0
                                                 0.0   0.2      0.4    0.6   0.8   1.0

                                                             Observed Cum Prob




Berdasarkan gambar 4.1 dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar masih disekitar garis diagonal
dan penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Tidak ada data yang menyimpang secara
ekstrim. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa penyebaran data Tobins’Q mendekati normal
atau memenuhi asumsi normalitas.


Metode Analisis Data
   1. Uji Multikolineritas
       Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan
       asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan linear antara variabel independen
       yaitu corporate governance dalam model regresi.
       Berikut ini adalah hasil uji dari multikolonieritas menggunakan nilai tolerancedan
       variance inflation factor (VIF) menggunakan software SPSS 14.0




                                                                                            11
                                          Tabel 4.2
                                Uji Multikolonieritas
                                                                    a
                                                         Coefficients
                                  Unstandardized        Standardized
                                    Coefficients        Coefficients                        Collinearity Statistics
         Model                   B         Std. Error      Beta          t        Sig.     Tolerance      VIF
         1       (Constant)     -13.512        3.569                    -3.786      .001
                 CGFI              .183         .045           .673      4.033      .000        .816        1.226
                 GROWTH       4.29E-007         .000           .135        .860     .397        .921        1.085
                 SIZE             -.022         .093          -.038       -.237     .815        .866        1.155
           a. Dependent Variable: TOBINSQ


Sumber : Data skunder diolah


     Variabel indeks persepsi corporate governance memiliki nilai VIF sebesar 1.226,
     variabel growth 1.085 dan variabel size 1.155. Menurut Santoso ”jika VIF lebih besar
     dari 5, maka variabel tersebut mempunyai persolan multikolinearitas dengan variabel
     bebas lainnya. Berdasarkan hasil analisis, tidak ada variabel lebih besar dari 5, sehingga
     bias diduga bahwa antarvariabel independent tidak terjadi persoalan multikolonieritas.


     Uji Autokorelasi
     Uji Autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya menyimpangan asumsi
     klasik Autokorelasi. Uji autokolerasi dilakukan dengan menghitung nilai Durbin-Watson
     d statistik berdasarkan kriteria Durbin-Watson.
                                               Kriteria Autokolerasi Durbin –Watson
                  Durbin –Watson                             Kesimpulan
                  < 1,414                                    Ada autokorelasi positif
                  1,414 – 1,724                              Tanpa Kesimpulan
                  1,724 – 2,276                              Tidak ada autokolerasi
                  2,276 – 2,586                              Tanpa Kesimpulan
                  > 2,586                                    Ada autokolerasi negative




                                                                                                                      12
                                                           Tabel 4.3

                                                            Model Summary b

                                                                   Adjusted     Std. Error of   Durbin-
         Model                 R              R Square             R Square     the Estimate    Watson
         1                         .640a           .410                  .342         .68636         2.451
                 a. Predictors: (Constant), SIZE, GROWTH, CGFI
                 b. Dependent Variable: TOBINSQ


      Sumber : Data skunder diolah
       Hasil analisis Tabel 4.3 menunjukkan nilai d sebesar 2.451 untuk model regresi
      dengan variabel dependen Tobin’s Q. Dengan demikian, untuk model regresi
      Tobin’s Q berada pada daerah tanpa kesimpulan, yang berarti tidak dapat
      dinyatakan apakah model regresitersebut mengalami autokorelasi atau tidak.


Uji Heteroskedastisitas
      Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
      penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas, yaitu adanya ketidaksamaan
      varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Di dalam
      sebuah plot residual, nilai residual seharusnya terlihat tersebar secara random,
      tanpa adanya pola yang sistematik. Jika varians tidak konstan, dalam plot residual,
      nilai residual akan terlihat membentuk pola yang sistematik. Kejadian ini
      menunjukkan heteroskedastisitas
                                                                      Gambar 4.2
         Regression Standardized Residual

                                                    Scatterplot



                                        Dependent Variable: TOBINSQ



             2




             1




             0




            -1




                    -2                                 0                        2

                                      Regression Standardized Predicted Value




                                                                                                             13
       Dengan melihat gambar 4.2 dapat dilihat bahwa tidak adanya pola yang jelas,
       serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah 0 pada sumbu Y, maka dapat
       disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi ini.


Analisis Regresi
       Pengujian terhadap hipotesis penelitian ini menggunakan analisis regresi
berganda. Analisis regresi dipakai untuk mencari besarnya hubungan dan juga
menentukan besarnya pengaruh variabel independent, yaitu krakteristik corporate
governance terhadap variabel dependen Tobins’Q dan variabel kontrol growth dan size.
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software SPSS Versi 14.0
       Pengujian terhadap hipotesis pertama penelitian ini menggunakan analisis linear
sebagai berikut:
                   Tobin’s Q =α + 1β CG + 2 β GROWTH + 4 β SIZE + ε
Keterangan :
Tobin’s Q =        Kinerja operasional perusahaan yang diukur dengan
                   Tobin’s Q
CG     =       Skor pemeringkatan Corporate Governance
GROWTH = Kesempatan pertumbuhan
SIZE =         Ukuran perusahaan
α      =       Konstanta regresi atau intersep
1β     =       Koefisien regresi skor Corporate Governance
2β     =       Koefisien regresi kesempatan pertumbuhan
3β      =      Koefisien regresi ukuran perusahaan




                                                                                     14
                                                              Tabel 4.4
                                                    Analisa Regresi Berganda
                                                      Pengujian Hipotesis
                                                      Coefficientsa

                             Unstandardized          Standardized
                               Coefficients          Coefficients                         Collinearity Statistics
  Model                       B        Std. Error        Beta          t        Sig.     Tolerance        VIF
  1         (Constant)      -13.512        3.569                      -3.786      .001
            CGFI               .183          .045            .673      4.033      .000         .816         1.226
            GROWTH       4.29E-007           .000            .135        .860     .397         .921         1.085
            SIZE              -.022          .093           -.038      -.237      .815         .866         1.155
    a. Dependent Variable: TOBINSQ


Sumber : Data skunder diolah


Dari hasil pengujian Tabel 4.4 maka dapat disusun suatu persamaan regresi berganda sebagai
berikut :
Tobin’s Q = -13.512 + 0.83 CG + 4.2 GROWTH – 0.22SIZE + ε
    a. Koefisien konstanta berdasarkan hasil regresi adalah -13.512 dengan nilai negatif, ini
          dapat diartikan bahwa jika corporate governance,growth,size masing-masing bernilai 0
    b. Koefisien regresi 0.83 menyatakan bahwa setiap kenaikkan satu persen variabel corporate
          governance, maka akan menaikkan tobin’s q sebesar sebesar 0.83.
    c. Koefisien regresi 4.2 menyatakan bahwa setiap kenaikkan satu persen variabel growth, maka
          akan menaikkan pula tobin’s q sebesar
    d. Koefisien regresi 0.22 menyatakan bahwa setiap penurunaan satu persen variabel ukuran
          perusahaan (size), maka akan menurunkan kinerja pasar (tobin’s q) sebesar 0.22.
Pengujian Hipotesis
          Uji Parsial Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Tobins’ Q
                    Hipotesis ini menyatan bahwa corporate governance berpengaruh positif terhadap
                    tobins’Q. Kriteria pengujian yang digunakan untuk menerima atau menolak
                    hipotesis (Ha1) diatas adalah:
                    nilai p-value<0.05 maka Ha1 diterima.




                                                                                                                    15
                                                       Tabel 4.5
                                                 Coefficientsa


                         Unstandardized         Standardized
                           Coefficients         Coefficients                         Collinearity Statistics
     Model                B       Std. Error        Beta          t        Sig.     Tolerance        VIF
     1       (Constant) -13.512        3.569                     -3.786      .001
             CGFI          .183         .045            .673      4.033      .000         .816        1.226
             GROWTH 4.29E-007           .000            .135        .860     .397         .921        1.085
             SIZE         -.022         .093           -.038      -.237      .815         .866        1.155
       a. Dependent Variable: TOBINSQ




   Tabel 4.4 menunjukkan pengaruh independent variable terhadap dependent variable.
a. Tabel 4.4 menunjukkan bahwa Corporate Governance berpengaruh secara signifikan
   terhadap tobin’s q sebesar 4.033 dengan p-value sebesar 0.000, karena p-value lebih
   kecil dari α 5% (0.000<0.05), ini berarti Corporate Governance berpengaruh secara
   signifikan terhadap kinerja nilai pasar (tobin’s Q). sehingga corporate governance
   diterima dan H01 ditolak.
b. Tabel 4.4 menunjukkan bahwa ukuran perusahaan (size) tidak berpengaruh secara
   signifikan terhadap tobin’s Q dengan p-value sebesar 0.230, karena p-value lebih
   besar dari α 5% (0.230>0.05), ini berarti ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara
   signifikan terhadap
   tobin’s q.
c. Dalam tabel 4.4 dapat dilihat bahwa growth tidak berpengaruh secara signifikan
   terhadap kinerja pasar (tobin’s q). Dapat dilihat nilai t-statistik sebesar 0.860 dan p-
   value sebesar 0.397, karena p-value lebih besar dari α5% (0.387>0.05) maka dapat
   disimpulkan bahwa pertumbuhan atau growth tidak berpengaruh secara signifikan
   terhadap tobin’s q.
             Hasil analisis ini juga menunjukkan bahwa masing-masing variabel
   kontrol yaitu growth dan size tidak mempunyai pengaruh yang signifikan karena
   tingkat signifikannya diatas batas yang dapat di terima yaitu 0.05.
             Hasil      penelitian        ini      menunjukkan             bahwa       corporate               governance
   mempengaruhi tobins’q sebagai ukuran kinerja pasar perusahaan. Dengan demikian
   tobins’Q sebagai ukuran kinerja pasar perusahaan berpengaruh terhadap besar dan
   kecilnya corporate governance yang tercermin dalam skor pemeringkatan corporate
   governance perception index dengan arah positif yang berarti bahwa semakin besar


                                                                                                                      16
          perusahaan semakin besar pula kemungkinan diterpkannya tobins’Q sebagai ukuran
          kinerja pasar perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan besar juga
          menerapkan Tobins’Q sebagai ukuran kinerja pasar perusahaan.
4.1.1     Uji Simultan
          Untuk mengetahui adakah pengaruh antara variabel X1 (Corporate governance), X2
          (growth), dan variabel X3 (size), secara bersama-sama terhadap variabel Y (tobin’s q)
          pada perusahaan di Indonesia, dilakukan uji simultan. Untuk lebih jelasnya hasil
          perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut:
                                                  Ta bel 4.6

                                                   ANOVAb

                                    Sum of
             Model                  Squares        df          Mean Square         F       Sig.
             1       Regression        8.505            3            2.835         6.018     .000 a
                     Residual         12.248            26           .471
                     Total            20.754            29
               a. Predictors: (Constant), SIZE, GROWTH, CGFI
               b. Dependent Variable: TOBINSQ




          Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS diperoleh nilai signifikan sebesar
0.000. hal ini berarti hipotesis HA1 yang berbunyi corporate governance, size dan growth
secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap tobin’s q perusahaan di Indonesia
dapat diterima


                                  Model Summaryb

                                      Adjusted     Std. Error of      Durbin-
  Model          R      R Square      R Square     the Estimate       Watson
  1               .640a     .410           .342          .68636            2.451
        a. Predictors: (Constant), SIZE, GROWTH, CGFI
        b. Dependent Variable: TOBINSQ


Untuk mengetahui besarnya pengaruh anatara variable size, growth dan size secara simultan
dpat diketahui dari besarnya korelasi antara X1,X2, dan X3 yang dikuadratkan (R square).
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS yang dapat dilihat dari
tabel diatas diketahui bahwa besarnya pengaruh (R square) sebesar 0.410 atau 44,10%. Hal
ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independent Corporate


                                                                                                 17
      Governance dan variabel kontrol size dan growth terhadap variabel dependen tobins’q
      sebesar 44,10 % Sedangkan sisanya sebesar 55.9% dipengaruhi faktor lain yang tidak
      diungkap dalam penelitian ini.


Kesimpulan
      1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa corporate governance mempengaruhi
          tobins’q.
      2. Hasil analisis ini juga menunjukkan bahwa variabel kontrol yaitu growth tidak
          berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tobin’s q perusahaan
      3. Dan size juga tidak mempunyai pengaruh yang signifikan karena tingkat
          signifikannya diatas batas yang dapat di terima yaitu 0.05
          Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa nilai tobin’s q perusahaan di Indonesia
          dapat dijelaskan oleh variabel CG, growth dan size


5.1   Saran
      Atas dasar kesimpulan penelitian di atas maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai
      berikut :
      1. Perusahan-perusahan yang menerpakan GCG secara baik dan konsisten dan bersedia
          untuk dinilai indeks CGPI akan mambantu perusahaan tersebut untuk meningkatkan
          nilai pasar perusahaan tersebut. Hal ini disarankan kepada seluruh perusahaan-
          perusahaan go public untuk selalu konsisten dalam menerapkan GCG dan bersedia
          untuk dilakukan penilaian
              2.      Bagi perusahaan yang belum melakukan penerapan GCG masih terbuka
      kesempatan untuk melaksanakan penerapan GCG, karena penerapan GCG pada dasarnya
      memberikan dampak yang sangat positif bagi perusahaan terutama pada nilai saham
      perusahaan dan nilai pasar perusahaan. Di Indonesia perlu dibentuk badan pemeringkatan
      GCG atas penerapan corporate governance pada perusahaan publik yang memiliki
      otoritas untuk meminta semua perusahaan publik mengikuti pemeringkatan GCG. Hal ini
      penting mengingat system pemeringkatan corporate governance dapat memberikan
      diagnosa atas kekuatan dan kelemahan perusahaan secatra independent dan dapat
      meningkatkan kepercayaan pada pasar kebutuhan.



                                                                                          18

								
To top