Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Earning Management - PDF - PDF by mrb16000

VIEWS: 0 PAGES: 10

More Info
									     Studi Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Praktik Earnings
      Management pada Perusahaan Terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia

                                                Werner R. Murhadi
                             Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen, Universitas Surabaya
                                           Jl. Raya Kalirungkut, Surabaya
                                            E-mail: werner@ubaya.ac.id


                                                    ABSTRACT
           This research is done for the purpose of finding out the effect of Good Governance practice can reduce
      earnings management practice done by company. This research uses companies registered in manufacture
      sector in Indonesia Stock Exchange observation period 2005-2007 as samples. Last sample used in this
      research is 384 years of observation. This research uses OLS method. The result shows that only 2 variables
      have significant effect to Earning Management practice which is CEO Duality and controlling shareholder
      existence. Other independent variables such as independent commissioner and audit committee and also
      shareholder coalition outside the controlling shareholder don’t have any effect to earning management
      practice in the company. Control variable like coverage analyst and debt don’t have any effect either, to
      earning management practice existence.
      Keywords: good corporate governance, earnings mnagament, coverage analyst, debt


                 PENDAHULUAN                                   survey yang dilakukan oleh Graham et al. (2005)
                                                               menunjukkan bahwa manajer lebih menggunakan
     Penelitian ini memfokuskan pada earning                   real earning management dari pada accrual
management, karena masih banyak pertentangan                   management: 80% menurunkan pengeluaran
apakah earning management ini dapat dibenarkan                 discretionary, 55% mempelambat proyek, dibanding-
atau merupakan manipulasi terhadap riil aktivitas dari         kan dengan 28% yang melakukan penurunan
bisnis. Menurut Healy dan Wahlen (1999) earning                cadangan dan hanya 8% yang mengubah asumsi dan
management terjadi ketika manajer menggunakan                  kebijakan akuntansi yang dipergunakan. Survey ini
pertimbangannya dalam menyusun laporan keuangan                menunjukkan kontradiksi dimana meskipun real
yang dapat membuat mislead pada pemangku                       earning management membutuhkan biaya bagi pihak
kepentingan mengenai kondisi mendasar yang ada                 manajemen, namun praktik ini lebih dipilih oleh
dalam suatu perusahaan. Beberapa studi menunjuk-               pihak manajemen. Penelitian yang dilakukan oleh
kan kemungkinan terjadinya intervensi pihak                    Bruns dan Merchant (1990) dan Graham et al. (2005)
manajemen dalam proses pembuatan laporan                       yang mengindikasikan bahwa pihak manajemen lebih
keuangan yang tidak saja melalui estimasi dan                  sering melakukan real earning management dari pada
metode akuntansi yang digunakan tetapi juga melalui            accrual management adalah dengan pertimbangan
keputusan operasional. Healy dan Wahlen (1999),                yakni accrual manipulation lebih mengandung risiko
Fudenberg dan Tirole (1995), serta Dechow dan                  yang tinggi. Peneliti lain yaitu Jiraporn et al. (2006)
Skinner (2000) menunjukkan praktik earning                     mengelompokkan earning management ke dalam dua
management yang dapat dilakukan oleh manajer                   kelompok yakni beneficial earning management dan
yakni mempercepat penjualan, mengubah skedul                   opportunistic earning management. Earning mana-
pengiriman barang, memperlambat pengeluaran                    gement dikatakan bermanfaat bila menggunakan
untuk riset dan pengembangan serta pengeluaran                 kebijakannya untuk mengkomunikasikan informasi
untuk pemeliharaan. Sementara Lo (2007)                        privat yang dimilikinya mengenai prospek
mengelompokkan earning management dalam dua                    perusahaan, dimana hal ini masih belum dicerminkan
katagori yakni real earning management seperti                 dalam laporan keuangan historis perusahaan (Arya,
tindakan untuk mempengaruhi arus kas, dan accrual              Glover, & Sunder, 2003; Demski, 1998; Subrama-
management melalui perubahan dalam estimasi dan                nyam, 1996; Watts & Zimmerman, 1986). Sedangkan
kebijakan akuntansi. Dampak dari kedua tindakan                Earning management dikatakan oportunis bila mana-
earning management tersebut menimbulkan biaya                  jer menggunakan kebijakannya untuk memaksimu-
yang berbeda, dimana tindakan real earning                     kan kepentingannya dengan memanipulasi fakta
management akan memakan lebih banyak biaya bagi                mengenai pendapatannya (Healy & Palepu, 1993).
perusahaan (Roychowdhury, 2006). Pada sisi lain


                                                           1
2    JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.11, NO. 1, MARET 2009: 1-10


     Berdasarkan pada paparan singkat di atas, maka   di perusahaan yang terdaftar di China, dimana
pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang             pemegang saham mayoritas menggunakan pinjaman
mendorong       dilakukannya    praktik     earning   perusahaan untuk mengambil keuntungan pribadi.
management? Healy dan Wahlen (1999) menyatakan        Aktivitas tunneling ini banyak berada di Negara
bahwa motif utama dari dilakukannya praktik earning   sedang berkembang, dimana pada negara tersebut
management ini adalah untuk mislead bagi pengguna     belum banyak dipraktikan GCG. Bila perusahaan
informasi keuangan dan untuk mempengaruhi             benar melakukan aktivitas tunneling maka pemegang
kontrak-kontrak yang akan dihasilkan oleh             saham mayoritas akan menyembunyikan kondisi riil
perusahaan. Pihak yang mungkin terpengaruh dari       perusahaan dan memanfaatkan informasi tersebut
praktik earning management ini sudah tentu adalah     untuk kepentingannya sendiri. Salah satu upaya yang
pengguna laporan keuangan. Penelitian ini             dilakukan pihak manajemen untuk menyembunyikan
selanjutnya akan meneliti apakah terdapat praktik     kondisi riil perusahaan adalah dengan melakukan
earning management pada perusahaan di yang            earning management. Untuk dapat mengurangi
terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan bagaimana       aktivitas earnings management tersebut maka
pengaruh mekanisme good corporate governance          diperlukan penerapan GCG (Klein, 2002; Warfield,
(GCG) terhadap praktik earning management yang        Wild, and Wild, 1995; Dechow, Sloan, Sweeney,
dapat merugikan kepentingan public.                   1996; Beasley, 1996).

              KAJIAN TEORITIS                         Good Corporate Governance

     Healy dan Wahlen (1999) dalam artikelnya              Corporate Governance merupakan mekanisme
menyatakan earning management banyak dilakukan        yang dikembangkan dalam rangka meningkatkan
oleh pihak manajemen dalam rangka meningkatkan        kinerja perusahaan dan prilaku pihak manajemen.
kompensasi dan job security. Selain itu earnings      Beberapa mekanisme GCG meliputi keberadaan
management juga dilakukan dengan maksud untuk         komisaris independen, keberadaaan komite audit,
menhindari wanprestasi dari suatu perjanjian          tidak terdapatnya CEO duality, tidak terdapatnya Top
pinjaman, mengurangi regulatory cost, ataupun         share (controlling shareholder), dan keberadaan
meningkatkan regulatory benefit (Cornett et al.,      koalisi pemegang saham lainnya dalam rangka
2008). Selain untuk kepentingan pihak manajemen,      menghadapi controlling shareholder. Selanjutnya
earnings management juga dapat dilakukan oleh         dibawah ini akan dibahas secara ringkas mengenai
pihak manajemen untuk kepentingan pemegang            mekanisme GCG tersebut.
saham mayoritas meskipun hal tersebut dapat
merugikan pemegang saham minoritas. Hal ini           Keberadaan Komisaris Independen
senada dengan Laporta et al (1999, 2000) yang
mempresentasikan suatu argumen bahwa masalah               Klein (2002) menemukan bahwa board of
utama dalam konflik keagenan dibanyak perusahaan      director dari pihak independen dapat lebih efektif
besar yang telah terdaftar di bursa efek adalah       dalam melakukan pengawasan. Hal ini juga
membatasi pemanfaatan sumberdaya oleh pemegang        dinyatakan oleh Cornett et al. (2008) dimana kinerja
saham mayoritas (yang merupakan pemegang saham        operasi dan stock return bertambah baik dengan
pengendali) yang dapat merugikan kepentingan          semakin meningkatnya komisaris independen.
pemegang saham minoritas. Johnson et al. (2000)       Sementara itu, Chen et al. (2006) juga menemukan
menyebut hal ini sebagai “tunneling” yang             bahwa karakteristik dari board seperti independensi,
dideskripsikan sebagai transfer sumber daya dari      jumlah pertemuan dan masa jabatan dari board
perusahaan untuk kepentingan pemegang saham           berhubungan dengan tingkat fraud dalam suatu
mayoritas. Cheung et al. (2005) melakukan studi       perusahaan. Sedangkan Liu dan Lu (2007)
mengenai aktivitas tunneling di China yang            menyatakan bahwa struktur board tidak hanya
menunjukkan terdapatnya transaksi antar pihak yang    bertindak sebagai mekanisme kontrol dalam proses
masih bertalian antara perusahaan yang terdaftar di   pembuatan laporan keuangan, tetapi juga dapat
bursa efek dengan pihak pemegang saham mayoritas.     mencegah controlling shareholder untuk melakukan
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa transaksi       aktivitas yang dapat merugikan kepentingan
antara kedua pihak tersebut memberikan dampaik        pemegang saham lainnya. Di Indonesia (Siregar dan
yang tidak menguntungkan bagi pemegang saham          Utama, 2008), sistem yang ada dalam perusahaan
mintoritas. Sementara itu, Jiang et al. (2005)        menggunakan two tier system dimana terdapat dewan
mendokumentasikan praktik yang dilakukan meluas       komisaris dan dewan direksi. Fungsi dari dewan
                           Murhadi: Studi Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Praktik Earnings Management   3

komisaris adalah mengawasi pelaksanaan dari dewan             Top Share
direksi. Untuk mencegah kerugian pada pihak
pemegang saham minoritas maka BAPEPAM                              Liu dan Zu (2007) melakukan penelitian
menuntut bahwa 30% dari jumlah dewan komisaris                pengaruh GCG terhadap earnings management,
haruslah independen dari perusahaan dan pemegang              dimana salah satu pengukuran GCG diwakili oleh
saham mayoritas.                                              Top Share yakni pemegang saham mayoritas yang
                                                              menjadi pemegang saham pengendali (Controlling
Keberadaan Komite Audit                                       shareholder). Terdapatnya pemegang saham
                                                              mayoritas yang menjadi pemegang saham pengendali
     Klein (2002) juga menemukan bahwa                        akan mendorong terjadinya expropriate terhadap
keberadaan komite audit akan mengurangi terjadinya            pemegang saham minoritas. Beberapa Laporan
praktik earning management. Di Indonesia, penelitian          Corporate Governance seperti dari McKensey, S&P
yang dilakukan oleh Parulian (2004) dalam Siregar             maupun CLSA menunjukkan bahwa semakin
dan Utama (2008) mengemukakan terdapatnya                     terdispersi kepemilikan saham suatu perusahaan akan
hubungan negatif antara discretionary accrual dengan          mendorong semakin baiknya penerapan GCG dalam
adanya komite audit. Klein (2002) menyatakan                  perusahaan. Claessen et al. (2000) dan Fan dan Wong
bahwa perusahaan yang memiliki komite audit akan              (2001) membuktikan bahwa kepemilikan yang
menghambat perilaku earnings management oleh                  terkonsentrasi khususnya pada satu pemilik akan
pihak manajemen. Hal ini didukung pula oleh                   menyebabkan praktik GCG dalam perusahaan
penelitian lain yang dilakukan Jaggi dan Leung                menjadi buruk, sehingga akan meningkatkan praktik
(2007) menunjukkan bahwa komite audit sangat                  earnings management.
berperanan dalam mengurangi earnings management
pada perusahaan dengan kepemilikan yang                       Koalisi Pemegang Saham
terkonsentrasi. Lin (2006) melakukan penelitian
untuk menguji pengaruh keberadaan komite audit                     Keberadaan controlling shareholder akan
dengan earnings management yang menunjukkan                   mendorong terjadinya pengayalahgunaan oleh
terdapatnya hubungan negatif, dimana komite audit             pemegang saham mayoritas dan merugikan
dapat mengurangi prilaku earnings management yang             pemegang saham lainnya. Namun pemegang saham
dilakukan oleh pihak manajemen.                               lainnya dapat melakukan koalisi dalam rangka
                                                              melawan controlling shareholder. Liu dan Zu (2007)
CEO Duality                                                   menggunakan pendekatan yang sama seperti yang
                                                              dilakukan oleh Zingales (1995) yakni menggunakan
     Yang dimaksud dengan CEO duality adalah                  variabel koalisi pemegang saham diluar controlling
terdapatnya seseorang yang menduduki jabatan                  shareholder dengan cara menggabungkan / koalisi
sebagai CEO sekaligus sebagai chairman of board.              pemegang saham sembilan dari sepuluh pemegang
Keberadaan CEO duality, memungkinkan terjadinya               saham terbesar yang dikenal sebagai Share:2_10,
pemusatan kekuatan yang mungkin dapat                         dimana variabel ini merupakan modifikasi dari
menimbulkan management discretion. Keberadaan                 Herfindahl Index untuk mengukur konsentrasi
CEO yang terpisah akan mendorong monitoring yang              kepemilikan dalam suatu perusahaan.
lebih efektif (Cornett et al., 2008). Hal ini berbeda bila
terdapat rangkap jabatan yang membuat monitoring              Earnings Management
menjadi tidak efektif dan sangat terkait erat dengan
                                                                   Ortega dan Grant (2003) mengemukakan bahwa
tingginya discretionary accrual. Di Indonesia jabatan
                                                              earnings management dimungkinkan karena adanya
ini mungkin tidak secara langsung dirangkap oleh              fleksibilitas dalam pembuatan laporan keuangan
dewan direksi sekaligus dewan komisaris, melainkan            dalam rangka mengubah hasil keuangan operasional
melalui sistem kekerabatan. Banyak perusahaan di              suatu perusahaan. Dengan kata lain, Abdelghany
Indonesia semula adalah perusahaan keluarga yang              (2005) menjelaskan bahwa earnings management
kemudian berkembang dan menjadi perusahaan                    merupakan manipulasi pendapatan yang dilakukan
publik. Hal ini berakibat banyak pula terjadi kasus           untuk memenuhi target yang ditetapkan manajemen.
dimana orang tua sebagai dewan komisaris dan                  Sedangkan, Lo (2008) mengubungkan antara
anaknya berada di posisi dewan direksi, yang                  earnings management dan earnings quality, dimana
mungkin saja mendorong timbulnya management                   perusahaan yang banyak melakukan earnings
discretion.                                                   management memiliki earnings quality yang buruk.
4    JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.11, NO. 1, MARET 2009: 1-10


Namun, perusahaan yang tidak melakukan earnings         menjadi dua komponen yakni discretionary accrual
management bukan berarti perusahaan tersebut            dan non-discretionary accrual. Penelitian ini akan
earnings quality bagus, karena banyak factor yang       menggunakan discretionary accrual yang merupakan
mempengaruhi earnings quality. Pendapat tersebut        modifikasi dari Jones (1991) dan Dechow, Sloan dan
didukung oleh Schipper dan Vincent (2003) yang          Sweeney (1995). Besaran discretionary accrual yang
menyatakan bahwa earnings management akan               positif      menunjukkan         bahwa       perusahaan
berpengaruh terhadap earnings quality. Praktik          mengindikasikan terdapatnya manipulasi income
earnings management yang sering kali dilakukan          yang menaik. Sebaliknya, besaran discretionary
perusahaan meliputi (Abdelghany, 2005):                 accrual yang negatif mengindikasikan terdapatnya
1. Big Bath, yang berarti pengakuan terhadap biaya      manipulasi income yang menurun. Namun,
   dilakukan melalui one time restructuring charge.     penggunaan discretionary accrual memiliki
   Dimana hal ini akan berakibat perusahaan akan        kelemahan (Yu, 2008) yaitu: (1) untuk perusahaan
   mengalami pembebanan biaya secara besar-             yang melakukan merger dan akuisisi, diskontinyu
   besaran pada tahun ini, dan dampaknya pada           dalam operasi maupun perusahaan yang memiliki
   tahun berikutnya perusahaan akan mengalami           aktivitas signifikan di luar negeri akan mengakibatkan
   profit yang besar.                                   penggunaan akrual menjadi tidak tepat bila
2. Abuse of Materiality, yakni dengan memanipulasi      menggunakan pendekatan neraca, dan (2)
   earnings melalui penerapan prinsip materiality,      discretionary accrual akan over estimasi untuk
   dimana tidak terdapat rangae yang spesifik           perusahaan dengan kinerja yang ekstrim,
   mengenai material atau tidaknya suatu transaksi.     pertumbuhan yang sangat pesat dan arus kas yang
3. Cookie Jar, kadang disebut rainy jar atau            sangat volatil.
   contingency reserves dimana dalam periode                 Earnings Management dapat berfungsi positif
   kondisi keuangan yang baik maka perusahaan           bagi pemegang saham bilamana praktik earnings
   dapat mengurangi earnings melalui melakukan          management          tersebut       dilakukan      untuk
   pencadangan yang lebih banyak, pembebanan            menginformasikan hal-hal yang belum terkandung
   biaya yang lebih besar dan menggunakan satu kali     dalam laporan keuangan perusahaan. Beberapa
   write offs. Bila kondisi keuangan memburuk maka      penelitian mendukung pernyataan ini dan menyebut-
   akan dilakukan hal sebaliknya.                       nya sebagai beneficial earnings management
4. Round Tripping, back to back dan Swap, dimana        (Subramanyam, 1996). Penelitian belakang ini seperti
   hal ini dilakukan dengan menjulan suatu asset/unit   yang dilakukan Arya et al. (2003) menunjukkan
   usaha ke perusahaan lain dengan perjanjian untuk     bahwa saat ini terjadi kondisi desentralisasi organisasi
   membelinya kembali pada harga tertentu, dimana       yang menyebabkan informasi semakin tersebar
   hal ini akan memberikan dampak pada peningkat-       dimana tiap orang memiliki informasi yang berbeda-
   kan pemasukan perusahaan.                            beda dan tidak ada satupun yang memiliki informasi
5. Voluntary accounting changes, dilakukan dengan       yang lengkap. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan
   mengubah kebijakan akuntansi yang digunakan          yang melakukan earnings management dapat
   perusahaan.                                          memberikan informasi yang lebih lengkap daripada
6. Conservative Accounting, dilakukan dengan            perusahaan yang tidak melakukan earnings
   memilih metode akuntansi yang paling konser-         management. Penelitian lain oleh Louis (2003) yang
   vatif seperti LIFO dan pembebanan biaya R&D          menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan stock
   dari pada mengkapitalisasinya.                       splits bila manajer optimis akan kinerja perusahaan,
7. Using the Derivative, dimana manajer dapat           dimana saat itu manajer menggunakan earnings
   memanipulasi earning melalui pembelian instru-       management untuk menunjukkan informasi privat
   ment hedging.                                        sehingga berdampak positif bagi kepentingan
                                                        pemegang saham. Namun disisi lain, earnings
     Untuk mengukur earning management yang             management juga dapat digunakan oleh pihak
dilakukan oleh perusahaan, maka metode yang paling      manajemen yang dapat merugikan kepentingan
sering dilakukan adalah dengan menggunakan              pemegang saham seperti dalam bentuk memanipulasi
discretionary accrual. Earnings memiliki dua            kinerja agar memperoleh kontrak kerja dan
komponen utama yakni kas dan accounting                 kompensasi sehingga akan muncul konflik keagenan
adjustment yang disebut sebagai accrual. Penentuan      tipe I antara manajemen dan pemegang saham
arah dan pengukuran dari akrual sangat dipengaruhi      (Holthausen et al., 1995; DeAngelo, 1988, Dechow
oleh pertimbangan pihak manajemen, sehingga akrual      dan Sloan, 1991). Selain itu, dalam kondisi
sangat mudah untuk dimanipulasi. Total akrual dibagi    terdapatnya       controlling     shareholder     dalam
                         Murhadi: Studi Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Praktik Earnings Management     5

perusahaan maka earnings management dapat juga                   Perusahaan yang memiliki komite audit akan
dilakukan oleh pemegang saham mayoritas yang                menghambat perilaku earnings management oleh
berdampak merugikan bagi kepentingan pemegang               pihak manajemen. Keberadaan komite audit
saham public/minoritas sehingga akan muncul konflik         diharapkan dapat menemukan sejak dini praktik-
keagenan tipe II antara pemegang saham mayoritas            praktik yang bertentangan dengan asas keterbukaan
dan minoritas. Penggunaan earnings management               informasi, sehingga diharapkan dapat mengurangi
yang menguntungkan satu pihak dengan                        praktik earning management. Untuk itu dikembang-
menimbulkan kerugian pada pihak lain dikenal                kan hipotesis minor sebagai berikut:
sebagai opportunistic earnings management (Jiraporn         H1b: komite audit berhubungan negatif terhadap
et al., 2006).                                                   praktik earning management.
Pengembangan Hipotesis                                           Keberadaan CEO duality, memungkinkan
                                                            terjadinya pemusatan kekuatan yang mungkin dapat
     Praktik earning management memungkinan                 menimbulkan management discretion. Keberadaan
terjadi di Indonesia mengingat kepemilikan                  CEO yang terpisah akan mendorong monitoring yang
perusahaan di Indonesia cenderung dimiliki oleh             lebih efektif (Cornett et al., 2008). Hal ini berbeda bila
sekelompok tertentu yang merupakan satu keluarga            terdapat rangkap jabatan yang membuat monitoring
dan bertindak sebagai controllling shareholder. Pihak       menjadi tidak efektif dan sangat terkait erat dengan
controlling shareholder dapat menggunakan                   tingginya discretionary accrual.
pengaruhnya kepada pihak manajemen untuk                    H1c: CEO duality berhubungan positif terhadap
melakukan praktik earnings management, sehingga                   praktik earning management.
mendorong terjadinya konflik keagenan tipe II.
Apabila di dalam perusahaan tidak terdapat                      Keberadaan Top Share yakni pemegang saham
controlling shareholder, maka praktik earnings              mayoritas yang menjadi pemegang saham pengendali
management dapat dilakukan oleh pihak manajemen             akan mendorong terjadinya expropriate terhadap
yang dapat mengakibatkan kerugian pada pemegang             pemegang saham minoritas. Beberapa penelitian
saham, sehingga akan mendorong terjadinya konflik           membuktikan bahwa kepemilikan yang terkonsentrasi
keagenan tipe I. Salah satu upaya untuk dapat               khususnya pada satu pemilik akan menyebabkan
mengurangi praktik earnings management adalah               praktik GCG dalam perusahaan menjadi buruk,
melalui penerapan GCG (Klein, 2002; Warfield,               sehingga akan meningkatkan praktik earnings
Wild, and Wild, 1995; Dechow, Sloan, Sweeney,               management.
1996; Beasley, 1996). Dari uraian tersebut, maka            H1d: Top Share berhubungan positif terhadap praktik
dikembangkan hipotesis mayor sebagai berikut:                    earning management.
H1: Penerapan Good Corporate Governance dapat                    Keberadaan controlling shareholder akan
    mengurangi praktik earnings management.                 mendorong terjadinya penyalahgunaan oleh
                                                            pemegang saham mayoritas dan merugikan
     Selanjutnya dibawah ini dibahas masing-masing          pemegang saham lainnya. Namun pemegang saham
bagian dari GCG yang akan membentuk hipotesis               lainnya dapat melakukan koalisi dalam rangka
minor sebagai berikut:                                      melawan controlling shareholder dengan cara
     Keberadaan Komisaris Independen diharapkan             menggabungkan / koalisi pemegang saham.
akan dapat lebih efektif dalam melakukan                    H1e: Koalisi pemegang saham diluar controlling
pengawasan kepada pihak manajemen, sehingga                      shareholder berhubungan negatif terhadap
diharapkan dapat mengurangi praktik earning                      praktik earning management.
management. Namun komisaris independen
diharapkan juga tidak hanya dipilih guna memenuhi               Penelitian ini juga memasukkan variable control
peraturan yang ada di Indonesia, karena bila                berupa coverage analyst (Yu, 2008) yang diukur
tujuannya hanya untuk memenuhi ketentuan pasar              melalui proksi ukuran perusahaan (Premuruso dan
modal maka keberadaan komisaris independent                 Bhattacharya, 2008) dan masuknya perusahaan dalam
menjadi tidak bermakna. Untuk itu dikembangkan              indeks LQ-45, serta penggunaan utang oleh
hipotesis minor sebagai berikut:                            perusahaan (Premuruso dan Bhattacharya, 2008).
                                                                Analyst sering memainkan peran penting untuk
H1a: komisaris independent berhubungan negatif              megnungkapkan keterbukaan informasi pada suatu
     terhadap praktik earning management.                   perusahaan. Dyck, morse dan Zingales (2006)
6    JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.11, NO. 1, MARET 2009: 1-10


menunjukkan bahwa cara paling efisien bagi pihak       tergabung dalam indeks LQ-45 selama periode
eksternal untuk mengetahui kondisi riil perusahaan     pengamatan lengkap, dan (3) tidak mengalami ekuitas
adalah melalui para analis. Sementara itu, Graham,     negatif selama periode pengamatan
Harvey dan Rajgopal (2005) melakukan survey
terhadap 401 eksekutif keuangan, dimana 90% analis     Variabel Penelitian
menyatakan bahwa kelompok paling penting dalam
mempengaruhi harga saham adalah analyst coverage            Earnings Management (EM) dalam penelitian ini
yang merupakan nomor dua setelah kepemilikan           dilakukan melalui total accrual (ACC) dan
institusi. Healy dan Palepu (2001) juga menyatakan     discretionary accrual (DACC). Total akrual yang
bahwa information intermediaries seperti analis dan    didefinisikan sebagai selisih antara net income dan
perusahaan       pemeringkat   dapat     mendorong     arus kas dari aktivitas operasi, dibagi dengan total
keterbukaan informasi privat yang dapat mendeteksi     asset. Total accrual terdiri dari discretionary accrual
prilaku pihak manajemen. Analyst coverage dalam        dan       non-discretionary        accrual.     Sedangkan
penelitian ini diwakili oleh ukuran perusahaan dan     discretionary accrual dalam penelitian menggunakan
perusahaan yang terdaftar di indeks LQ-45.             modifikasi Jones (1991) untuk mendekomposisi firm
perusahaan dengan ukuran besar lebih memiliki          level (Total accrual) dan menggunakan residual
informasi yang lebih banyak daripada perusahaan        sebagai proksi terhadap discretionary accrual. Hal ini
kecil karena perusahaan besar cenderung lebih          tampak dalam persamaan (1) sebagai berikut:
diamati baik oleh media masa dan analis, sehingga                            1       ∆ Re vit       PPEit
                                                        Accit / TAit = α 1 .   + α2.          + α3.       + eit (1)
semakin besar ukuran perusahaan maka diharapkan                         TAit         TAit         TAit
semakin berkurang praktik earnings management          dimana:
(Premuruso dan Bhattacharya, 2008). Sementara itu,     Accit adalah total akrual pada perusahaan i periodet
Camferrman dan Cooke (2002) menemukan                  TAit adalah total asset perusahaan i pada periode t
hubungan yang sangat signifikan antara ukruan dan      ∆Revit adalah perubahan penjualan perusahaan i pada
keterbukaan infomasi, dimana semakin besar ukruan             periode t,
perusahaan maka perusahaan cenderung untuk lebih       PPEit adalah gross property, plant dan equipment
terbuka informasinya. Penelitian ini juga                     perusahaan i pada periode t,
memasukkan perusahaan yang terdaftar di indeks
LQ-45 sebagai proksi dari analyst coverage dengan          Kemudian        menggunakan      OLS     untuk
pertimbangan bahwa perusahaan yang termasuk            mengestimasi persamaan (1), Nilai dari variable
dalam indeks LQ-45 merupakan perusahaan yang           dependen dalam model Jones tersebut adalah normal
paling aktif transaksi di bursa sehingga logikanya     accrual dan residunya merupakan discretionary
akan banyak analis yang melakukan pembahasan           accrual.
lebih dalam mengenai kondisi perusahaan                    Corporate Governance dalam penelitian diukur
dibandingkan dengan perusahaan yang di luar LQ-45.     melalui variable dibawah ini
Penelitian ini juga memasukkan variable penggunaan     1. Independent board (IB) dalam penelitian ini
utang oleh perusahaan, dimana perusahaan dengan           menggunakan persentase dari komisaris inde-
kepemilikan utang yang tinggi akan berdampak pada         pendent dibanding dengan total jumlah komisaris.
meningkatnya peran dari kreditor dalam melakukan       2. Keberadaan komite audit (KA) menggunakan
pengawasan terhadap perusahaan (Premuruso dan             dummy dimana bila 1 terdapat komite audit dan 0
Bhattacharya, 2008; Jaggi dan Leung, 2007; Yu, 2008       bila tidak terdapat komite audit.
dan Bartov et al., 2001)                               3. CEO Duality (Dual) dalam penelitian ini
                                                          menggunakan data dummy, dimana 1 bila
              METODE PENELITIAN                           terdapat CEO Duality dan 0 bila tidak terdapat
                                                          CEO Duality.
Populasi dan Sampel                                    4. Top Share (TS) menunjukkan ada tidaknya
                                                          pemegang saham pengendali (Controlling
     Populasi dalam penelitian ini adalah semua           shareholder) yang sama atau melebihi 51% dari
perusahaan yang terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia      total saham, dengan menggunakan dummy 1 bila
dengan menggunakan sampel perusahaan yang                 terdapat pemegang saham pengendali dan 0 bila
tergabung dalam sektor manufaktur yang terdaftar di       tidak terdapat saham pengendali.
Bursa Efek Indonesia selama periode 2005-2007          5. Share2_5 (S2_5) didefinisikan sebagai lima
dengan kriteria: (1) Data perusahaan dapat diakses        pemegang saham besar selain pemegang saham
dengan lengkap, (2) Daftar perusahaan yang                pengendali. Dimana kelima pemegang saham
                         Murhadi: Studi Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Praktik Earnings Management   7

   besar dapat melakukan koalisi untuk menghadapi           Tabel 2. Hasil Pengujian OLS
   pemegang saham pengendali. Harapan (-)
                                                             Variabel       Tanpa Variabel Dengan Variabel
   Share2_5 diukur sebagai berikut:
                                                                                Kontrol           Kontrol
                 5
                    ⎛S ⎞
                             2                              Konstanta -0,606           -0,292 -2,574 -0,289
   Share2 _ 5 = ∑ ⎜ n ⎟                             (2)     IB              0,037       1,336  0,038 1,385
                n=2 ⎝ S ⎠                                   KA              1,851       1,579  1,822 1,543
                                                            Dual            2,291      2,217*  2,361 2,263*
     Controlling Variables dalam penelitian ini             TS             -2,021 -1,623** -2,102 -1,656**
menggunakan logaritma natural dari asset (ln_asset)         S2_5           -0,017      -0,470 -0,018 -0,504
untuk mewakili ukuran perusahaan, dummy variable            Ln_asset                           0,101 0,237
LQ-45 dengan criteria 1 untuk perusahaan yang               LQ_45                              0,284 0,138
terdaftar di LQ-45 dan 0 perusahaan yang dilura LQ-         LR                                0,000 -0,553
45, serta leverage ratio yang diukur sebagai nisbah         R-Squared             0,036            0,038
utang terhadap total ekuitas perusahaan.                    F                    0,016*            ,072*
                                                            N                      384              384
Teknik Analisis Data                                        Ket: * Signifikan pada α = 5%
                                                                 * Signifikan pada α = 10%
    Untuk menguji apakah terdapat praktik earning
management maka dilakukan uji t dengan criteria                  Pada tabel 2 terdapat dua hasil pengolahan yakni
ACC = 0 bila tidak terdapat earnings management.            hasil pertama tanpa dimasukan variabel kontrol, dan
Selanjutnya penelitian ini menggunakan metode OLS           hasil kedua dengan dimasukan variabel kontrol.
untuk mengetahui pengaruh dari GCG dan variable             Pengujian tanpa melibatkan variabel kontrol akan
control terhadap praktik earnings management.               mencerminkan pengaruh GCG terhadap praktik EM.
Model penelitian tersebut dikembangkan dalam                Dari tabel 2, Uji F menunjukkan hasil signifikan pada
persamaan (3) sebagai berikut:                              α = 5% yang berarti penerapan GCG dapat
                                                            mengurangi praktik EM. Koefisien determinasi
EMi,t = α1 + β1.IB + β2.KA + β3.DUAL + β4.TS +              menunjukkan angka 3,6% yang berarti bahwa
       β5.S2_5 + β6.ln_asset + β7.LQ_45 +β8.LR (3)          penerapan GCG hanya mampu menjelaskan 3,6%
                                                            terhadap praktik EM. Kecilnya angka tersebut
  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN                           mengindikasikan bahwa banyak faktor lain yang
                                                            menyebabkan perusahaan melakukan praktik EM
    Berdasarkan kriteria sampel yang telah ditetap-         salah satunya adalah kemungkinan mengurangi pajak
kan maka dipoleh sampel akhir sebesar 384 tahun             penghasilan yang dibayarkan sebagaimana tampak
observasi. Dari hasil pengolahan data untuk                 pada tabel 1 yakni adanya parktik EM dengan rata-
mengetahui apakah terjadi praktik earnings                  rata negatif. Secara parsial Uji t menunjukkan bahwa
management diketemukan hasil sebagai berikut:               dari lima faktor pengukur GCG, ternyata hanya dua
                                                            yang signifikan berpengaruh terhadap praktik EM
Tabel 1. Hasil Pengujian Uji t                              yakni CEO duality (Dual) dan keberadaan pemegang
                                                            saham pengendali (TS). Dari hasil pengolahan seperti
Variabel N             Means              t                 yang tampak pada tabel 2, maka semakin tinggi
Accrual      384       -1,6953            -3,304*           dualitas antara CEO dengan pemilik yang berarti
* Signifikan pada α = 1%                                    pemilik juga bertindak sebagai CEO maka semakin
                                                            tinggi praktik EM dalam perusahaan. Hal ini
     Pada tabel 1 dari hasil pengolahan data terlihat       konsisten dengan penjelasan sebagai mana
bahwa nilai t signifikan pada α = 1%, yang berarti          dikemukakan di hipotesis 1c. Dari tabel 2, juga
pada periode penelitian telah terjadi praktik earnings      diketahui bahwa semakin tinggi keberadaan
management dengan rata-rata negatif. Hal ini                pemegang saham pengendali maka semakin kecil
mengindikasikan terdapatnya kecenderungan bahwa             praktik EM. Hal ini bertentangan dengan hipotesis
perusahaan melakukan pencatatan atas income yang            yang dikemukakan pada hipotesis 1d. Penjelasan
jauh lebih kecil dari arus kas yang dihasilkan.             yang mungkin dari hasil tersebut adalah mayoritas
      Tabel 2 menunjukkan pengolahan statistik              yang menjadi pemegang saham pengendali di
regresi setelah lolos dilakukan test pengujian asumsi       Indonesia adalah institusi sebesar 69,90% (Murhadi,
klasik.                                                     2008). Hal ini berdampak pada kepemilikan institusi
8    JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.11, NO. 1, MARET 2009: 1-10


yang tinggi akan mampu mengelola perusahaan               megurangi praktik EM dalam perusahaan. Sedangkan
secara profesional sehingga dapat mengurangi praktik      variabel kontrol lainnya yakni penggunaan utang juga
EM. Hasil penelitian juga menemukan bahwa                 memberikan hasil yang tidak signifikan. Penggunaan
keberadaan komisaris independen, komite audit dan         utang yang tinggi seharusnya akan membuat kreditor
koalisi pemegang saham diluar pemegang saham              menjalankan fungsi kontrol terhadap perusahaan. Hal
pengendali ternyata tidak berpengaruh signifikan          ini dapat dijelaskan bahwa pemberian kredit oleh
terhadap praktik EM. Penjelasan dari tiadanya             kreditor kepada perusahaan yang utamanya dalam
pengaruh signifikan dari komisaris independen dan         bentuk obligasi, tidak diikuti oleh adanya kontrol dari
komite audit adalah bahwa kedua pihak tersebut            pemegang obligasi terhadap perusahaan sehingga hal
merupakan pihak yang ditunjuk oleh manajemen              ini berdampak penggunaaan utang tidak mampu
sehingga apabila tidak sejalan dengan keputusan           mengurangi praktik EM dalam perusahaan.
manajemen maka perusahaan dapat melakukan
penggantian. Sedangkan koalisi pemegang saham             KESIMPULAN
diluar pemegang saham pengendali tidak memiliki
kemampuan untuk bersatu dan mempengaruhi praktik               Dari hasil penelitian ditemukan bahwa praktik
EM dalam perusahaan.                                      GCG berpengaruh signifikan terhadap praktik EM
     Pada tabel 2, juga diketemukan hasil pengolahan      yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Namun dari
data dengan menggunakan tambahan variabel kontrol         lima indikator GCG yakni komite audit, komisaris
berupa coverage analyst yang dilihat dari besaran         independen, CEO duality, Top Share dan koalisi
ukuran perusahaan dan masuknya perusahaan ke              pemegang saham, yang berpengaruh signifikan hanya
dalam indeks LQ-45, dan penggunaan utang oleh             dua yakni CEO duality dan Top Share. Dualisme
perusahaan ternyata tidak berpengaruh signifikan          antara pemilik yang sekaligus menjadi CEO
terhadap praktik EM dalam perusahaan. Sedangkan           mendorong peningkatan terjadinya praktik EM.
variabel GCG hasilnya tetap konsisten apakah dengan       Sementara itu, adanya pemegang saham pengendali
menggunakan variabel kontrol maupun tidak.                yang berbentuk institusi mendorong pengawasan
Penggunaan variabel kontrol hanya mampu menaikan          menjadi lebih profesional sehingga berdampak pada
koefisien determiansi dari semula 3,6% menjadi            penurunan praktik EM. Penelitian ini juga
3,8%.                                                     menemukan bahwa coverage analyst dan
     Hasil penelitian baik dengan maupun tanpa            penggunaan utang ternyata tidak berpengaruh
menggunakan variabel kontrol menunjukkan hasil            signifikan terhadap praktik EM. Keberadaan analis
yang konsisten. Salah satu temuan penelitian              dan penggunaan utang tidak mampu mengurangi
menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan dari         praktik EM yang dilakukan perusahaan. Hasil
komisaris independen dan komite audit cukup               penelitian juga menemukan bahwa perusahaan di
memprihatinkan. Hal ini mengingat bahwa tujuan dari       Indonesia banyak yang melakukan EM dengan
keberadaan komisaris independen dan komita audit          kecenderungan negatif. Hal ini berarti perusahaan
adalah untuk dapat melindungi kepentingan pemgang         berupaya untuk memperkecil pendapatan yang
saham minoritas dan stakeholder lainnya. Peran            diterimanya karena adanya faktor pajak.
komisaris independen yang tidak signifikan dapat
dijelaskan bahwa posisi komisaris independen yang                        DAFTAR PUSTAKA
secara persentase relatif kecil membuatnya menjadi
tidak efektif untuk mempengaruhi keputusan yang           Abdelghany, K.E., 2005, Measuring the quality of
ada pada dewan komisaris. Hal ini ditambah dengan              earnings, Managerial Auditing Journal Vol. 20
kondisi budaya bangsa Indonesia yang relatif sungkan           No. 9, 2005 p. 1001-1015
untuk memberi kritikan pada pihak lain. Penjelasan        Arya, A., Glover, J., & Sunder, S. (2003). Are
ini juga berlaku pada komite audit yang juga ternyata           unmanaged earnings always better for
tidak memberi pengaruh signifikan pada ada tidaknya             shareholders?, Accounting Horizons, p.
praktik EM.                                                     111−116 (supplement).
     Penggunaan variabel kontrol berupa coverage
analyst diharapkan dengan ukuran perusahaan yang          Bartov, E., Gul, F.A., Tsui, J.S.L., 2001.
besar dan juga terdaftar di indeks LQ-45 maka                   Discretionary-accrual models and audit
perusahaan relatif diamati oleh publik dan analis pasar         qualifications, Journal of Accounting and
modal sehingga dapat mengurangi tindakan EM oleh                Economics 30, p.421–452.
perusahaan. Namun hasil penelitian menunjukkan            Beasley, M.S., 1996, An empirical analysis of the
bahwa coverage analyst tersebut tidak mampu                     relation between the board of director
                        Murhadi: Studi Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Praktik Earnings Management   9

      composition and financial statement fraud,           Demski, J. (1998). Performance measure
      Accounting Review 71, p.443–465.                          manipulation, Contemporary Accounting
                                                                Research, 15, p.261−285.
Bruns, W., Merchant, K., 1990. The dangerous
      morality of managing earnings, Management            Dyck, A., Morse, A., Zingales, L., 2006. Who blows
      Accounting 72, p.22–25.                                    the whistle on corporate fraud?, Unpublished
                                                                 working paper, University of Toronto, Canada.
Camfferman K, dan Cooke T., 2002, An analysis of
     disclosure in annual reports of U.K. and Dutch        Fan, J., Wong, T., 2001. Corporate ownership
     companies, J Int Account; 1:28.                            structure and the informativeness of accounting
                                                                earnings in East Asia, Journal of Accounting
Chen, G., Firth, M., Gao, D., Rui, O., 2006.                    and Economics 33, p. 401–426.
     Onwership structure, corporate governance,
     and fraud: evidence form China, Journal of            Fudenberg, D., Tirole, J., 1995. A theory of income
     Corporate Finance 12, p.424–448.                           and dividend smoothing based on incumbency
                                                                rents, Journal of Political Economy 103, p.75–
Cheung, Y., Jin, L., Rau, R., Stouraitis, A., 2005.             93.
     Guanxi,     Political    Connections,      and
                                                           Graham, J.R., Harvey, C.R., Rajgopal, S., 2005. The
     Expropriation: The Dark Side of State
                                                                economic implications of corporate financial
     Ownership in Chinese Listed Companies,
                                                                reporting, Journal of Accounting and
     Working Paper. City University of Hong
                                                                Economics 40, p.3–73.
     Kong.
                                                           Healy, P., Wahlen, J., 1999. A review of the earnings
Claessens, S., Djankov, S., Lang, L., 2000. The                  management literature and its implications for
      separation of ownership and control in east                standard setting, Accounting Horizons 13, p.
      Asian corporations, Journal of Financial                   365–383.
      Economics 58, p.81–112.
                                                           Healy, P., Palepu, K., 2001. Information asymmetry,
Cornett, M.M., A.J. Marcus dan H. Tehranian, 2008,               corporate disclosure, and the capital markets: a
      Corporate     governance    and     pay-for-               review of the empirical disclosure literature.
      performance: The impact of earnings                        Journal of Accounting and Economics 31,
      management, Journal of Financial Economics                 p.405–440.
      87 p.357–373
                                                           Healy, P. M., & Palepu, K. G. (1993). The effect of
DeAngelo, L. E., 1988, Managerial competition,                   firms' financial disclosure policies on stock
    information costs, and corporate governance:                 prices, Accounting Horizons, 7, p.1−11.
    The use of accounting performance measures
    in proxy contests. Journal of Accounting and           Holthausen, R., Larcker, D., Sloan, R., 1995. Annual
    Economics, 10, p.3−36.                                       bonus schemes and the manipulation of
                                                                 earnings, Journal of Accounting and
Dechow, P., Skinner, D., 2000. Earnings                          Economics 19, p.29–74.
     management: reconciling the views of
     accounting academics, practitioners, and              Jaggi B., dan S. Leung, 2007, Impact of family
     regulators, Accounting Horizons 14, p. 235–                 dominance on monitoring of earnings
     250.                                                        management by audit committees: Evidence
                                                                 from Hong Kong, Journal of International
Dechow, P.M., Sloan, R.G., 1991. Executive                       Accounting, Auditing and Taxation 16, p.27–
     incentives and the horizon problem, Journal of              50
     Accounting and Economics 14, p.51–89.
                                                           Jiang, G., Lee, C., Yue, H., 2005. Tunneling in China:
Dechow, P.M., Sloan, R.G., Sweeney, A.P., 1995.                   The Surprising Pervasive Use of Corporate
     Detecting earnings management, Accounting                    Loans to Extract Funds from Chinese Listed
     Review 70, p.193–226.                                        Companies,         Working       paper,Cornell
                                                                  University.
Dechow, P.M., Sloan, R.G., Sweeney, A.P., 1996,
     Causes and consequences of earnings                   Jiraporn, P., G.A. Miller, S.S. Yoon dan Y.S. Kim,
     manipulation: an analysis of firms subject to                2006, Is earnings management opportunistic or
     enforcement    actions    by     the    SEC,                 beneficial? An agency theory perspective,
     Contemporary Accounting Research 13, p.1–                    International Review of Financial Analysis,
     36.                                                          doi:10.1016/j.irfa.2006.10.005
10   JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.11, NO. 1, MARET 2009: 1-10


Johnson, S., La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F.,        Ortega, W.R. and Grant, G.H. (2003), Maynard
      Shleifer, A., 2000. Tunneling, American                 manufacturing: an analysis of GAAP-based
      Economic Review Papers and Proceedings                  and operational earning management
      XC, p. 22–27.                                           techniques, Strategic Finance, July, pp. 50-6.
Jones, J., 1991. Earnings management during import      Premuroso, R.F., dan S. Bhattacharya, 2008, Do early
       relief investigations, Journal of Accounting          and voluntary filers of financial information in
       Research 29, p.193–228.                               XBRL format signal superior corporate
Klein, A., 2002, Audit committee, board of director          governance and operating performance?, Int J
      characteristics, and earnings management,              Account Inf Syst, doi:10.1016/j.accinf.2008.
      Journal of Accounting and Economics 33,                01.002
      p.375–400.                                        Roychowdhury, S., 2006, Earnings management
La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., Shleifer,A.,             through real activities manipulation, Journal of
    1999.Corporate ownership around the world,               Accounting and Economics 42, p.335–370.
    Journal of Finance 54, p. 471–517.
                                                        Schipper, K. and Vincent, L. (2003), Earnings quality,
La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., Shleifer, A.,             Accounting Horizons, Annual, p. 97-111.
     Vishny, R., 2000. Investor protection and
     corporate governance, Journal of Financial         Siregar, S.V., dan S. Utama, 2008, Type of earnings
     Economics 58, p. 3–28.                                   management and the effect of ownership
                                                              structure, firm size, and corporate-governance
Lin, J.W., J.F. Li dan J.S. Yang, 2006, The effect of         practices: Evidence from Indonesia, The
       audit committee performance on earnings                International Journal of Accounting 43, p.1–27
       quality, Managerial Auditing Journal Vol. 21
       No. 9, 2006 p. 921-933.                          Subramanyam, K. R. (1996). The pricing of
                                                             discretionary accruals, Journal of Accounting
Lio, Q, dan Z. Lu, 2007, Corporate governance and            and Economics, 22, p.249−281.
      earnings management in the Chinese listed
      companies: A tunneling perspective, Journal of    Warfield, T.D., Wild, J.J., Wild, K.L., 1995,
      Corporate Finance 13, p.881–906.                        Managerial ownership, accounting choices,
Lo, K., 2008, Earnings management and earnings                and informativeness of earnings, Journal of
     quality, Journal of Accounting and Economics             Accounting and Economics 20, p. 61–91.
     45, p.350–357.                                     Watts, R., & J. Zimmerman, (1986), Positive
Louis, H., 2003, Do managers credibly use accruals to         accounting theory, Englewood Cliffs, NJ:
       signal private information? Evidence from the          Prentice-Hall.
       pricing of discretionary accruals around stock   Yu, F., 2008, Analyst coverage and earnings
       splits, Working paper, Pennsylvania State             management, Journal of Financial Economics,
       University.                                           doi:10.1016/j.jfineco.2007.05.008
Murhadi, W.R., 2008, Studi Kebijakan Deviden:
     Anteseden dan Dampaknya terhadap Harga             Zingales, L., 1995. What determines the value of
     Saham, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan                corporate votes, Quarterly Journal of
     UK Petra, Vol. 10, No. 1, Maret 2008.                    Economics 110, p.1047–1107.

								
To top