Metode Perhitungan Debit Aliran

Description

Metode Perhitungan Debit Aliran document sample

Shared by: axw10757
-
Stats
views:
2471
posted:
3/16/2011
language:
Indonesian
pages:
27
Document Sample
scope of work template
							            LAMPIRAN 1
FORMAT SURAT KEPUTUSAN BUPATI / WALIKOTA
  TENTANG PEMBENTUKAN PMU USDRP DAN
        PEMBENTUKAN PIU USDRP
                            Daftar Isi

Bagian A.   Format Surat Keputusan Bupati / Walikota Tentang
            Pembentukan Project Management Unit USDRP

Bagian B.   Format Surat Keputusan Bupati / Walikota Tentang
            Pembentukan Project Implementation Unit USDRP
Bagian A:     Format Surat Keputusan Bupati / Walikota Tentang Pembentukan Project
              Management Unit USDRP



                             WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN]

                         PERUBAHAN SK WALIKOTA/BUPATI No. XXX / XXX /200X
                                                 tentang
                           PEMBENTUKAN PROJECT MANAGEMENT UNIT (PMU)
                                         DAN
                PENGGUNAAN PROJECT MANAGEMENT MANUAL (PMM) SEBAGAI ACUAN
                                        PELAKSANAAN
                       URBAN SECTOR DEVELOPMENT REFORM PROJECT (USDRP)


                              KOTA/KABUPATEN [NAMA KOTA / KABUPATEN]


                             WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN]

      Menimbang :
             a.
                b.

      Mengingat :
             1.
                2.
                3.   Untuk melaksanakan USDRP secara lebih berdaya guna dan berhasil guna, perlu
                     dilakukan penyesuaian terhadap SK Walikota/Bupati No XXX / XXX / 200X tentang
                     Pembentukan Project Management Unit USDRP tertanggal [TANGGAL] tahun 200X

      Memperhatikan :
      1.    Loan Agreement No. 4786-IND dan PHRD Grant Agreement No. TF-053555-IND, tertanggal 20
            Oktober 2005 yang ditandatangani bersama antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia;
      2.    Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan
            Perencanaan Pembangunan Nasional No. 257/M.PPN/05/2003 tentang Tim Pengarah
            Kebijakan Pengembangan Perkotaan dan Sekretaris Tim Pengarah untuk Urban Sector
            Development Reform Project (USDRP);
      3.    SK Walikota/Bupati No XXX / XXX / 200X tentang Pembentukan Project Management Unit
            USDRP tertanggal [TANGGAL] tahun 200X


                                             MEMUTUSKAN

      Menetapkan :
      KEPUTUSAN WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN] TENTANG PERUBAHAN
      PROJECT MANAGEMENT UNIT (PMU) UNTUK PELAKSANAAN URBAN SECTOR
      DEVELOPMENT REFORM PROJECT (USDRP)


      PERTAMA
      Menyempurnakan Project Management Unit (PMU) Kota / Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN]
      untuk pelaksanaan Urban Sector Development Reform Project dengan susunan sebagaimana
      tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.
KEDUA
Project Management Unit (PMU) sebagaimana diktum PERTAMA mempunyai tugas dan tanggung
jawab sebagai berikut:
1.   Memastikan bahwa seluruh pelaksanaan kegiatan USDRP di daerah sesuai dengan Project
     Management Manual (PMM) USDRP;
2.   Mengkoordinasikan dan memonitor kinerja instansi terkait yang terlibat dalam pelaksanaan
     agenda pembaharuan dan program investasi pembangunan perkotaan;
3.   Melakukan koordinasi dan memonitor semua proyek yang dilaksanakan oleh masing-masing
     sektor mulai dari proses pra kontrak, pelaksanaan konstruksi hingga masa pemeliharaan
     berakhir;
4.   Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan proyek pada aspek sosial dan lingkungan (social
     and environmental safeguard);
5.   Memfasilitasi korespondensi antara CPMU dan Project Impementation Unit (PIU) dan
     memonitor tindak lanjut dalam desain serta revisi desain yang dilakukan oleh PIU;
6.   Merumuskan dan menyampaikan Project Progress Report dan laporan Financial Management
     Report kepada CPMU sesuai ketentuan yang diatur dalam PMM;
7.   Membantu Auditor Independen untuk menyiapkan laporan audit.;
8.   Memberikan bantuan advis dalam proses pengadaan kepada PIU dan memastikan bahwa
     proses tersebut dilakukan sesuai dengan PMM;
9. Memastikan ketersediaan dana penamping dari APBD;
10. Memfasilitasi pengelolaan keuangan USDRP di daerah ; dan
11. Memfasilitasi penyiapan subproyek baru yang diusulkan secara partisipatif.

KETIGA
Sekretariat PMU berkedudukan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota / Kabupaten
[NAMA KOTA / KABUPATEN].

KEEMPAT
Segala biaya yang dikeluarkan sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan ini dibebankan pada
APBD Kota / Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN].

KELIMA
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dan apabila ternyata terdapat kesalahan atau
kekurangsempurnaan dalam Keputusan ini, maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.




                                                 Ditetapkan di   : [NAMA KOTA / KABUPATEN]
                                                 Pada tanggal    : XX / XX / 200X


                                                 WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA /
                                                 KABUPATEN]



                                                                  [NAMA JELAS]




Tembusan:
1. Direktur Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum
2. CPMU – USDRP
3. Ketua DPRD Kota / Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN]
4. .....................................
LAMPIRAN


KEPUTUSAN WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN]

NOMOR         : XXX XXX XXX
TANGGAL       : XX / XX / 200X
TENTANG       : PEMBENTUKAN PROJECT MANAGEMENT UNIT (PMU) UNTUK
                PELAKSANAAN URBAN SECTOR DEVELOPMENT REFORM PROJECT
                (USDRP)



     Posisi                           Nama            Jabatan


     Ketua

     Pengelola Dana Operasional PMU

     Ahli Keuangan

     Ahli Perencanaan

     Ahli Pengadaan

     Ahli Monitoring dan Evaluasi
Bagian B: Format Surat Keputusan Bupati/Walikota Tentang Pembentukan Project
          Implementation Unit USDRP



                            WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN]

                                           No. XXX / XXX /200X
                                                  tentang
                        PEMBENTUKAN PROJECT IMPLEMENTATION UNIT (PIU)
                     URBAN SECTOR DEVELOPMENT REFORM PROJECT (USDRP)


                             KOTA/KABUPATEN [NAMA KOTA / KABUPATEN]

                            WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN]

      Menimbang :
             a.
               b.

      Mengingat :
             1.
               2.

      Memperhatikan :
      1.   Loan Agreement No. 4786-IND dan PHRD Grant Agreement No. TF-053555-IND, tertanggal 20
           Oktober 2005 yang ditandatangani bersama antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia;
      2.   Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan
           Perencanaan Pembangunan Nasional No. 257/M.PPN/05/2003 tentang Tim Pengarah
           Kebijakan Pengembangan Perkotaan dan Sekretaris Tim Pengarah untuk Urban Sector
           Development Reform Project (USDRP);
      3.
                                             MEMUTUSKAN

      Menetapkan :
      KEPUTUSAN WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN] TENTANG PERUBAHAN
      PROJECT IMPLEMENATION UNIT (PIU) UNTUK PELAKSANAAN URBAN SECTOR
      DEVELOPMENT REFORM PROJECT (USDRP) DI KOTA / KABUPATEN [NAMA KOTA /
      KABUPATEN]

      PERTAMA
      Project Implementation Unit (PIU) sebagaimana diktum PERTAMA mempunyai tugas dan tanggung
      jawab sebagai berikut:
      1. Memastikan bahwa seluruh pelaksanaan kegiatan USDRP di daerah sesuai dengan Project
           Management Manual (PMM) USDRP;
      2. bertanggung jawab dalam proses pengadaan, pengelolaan keuangan serta pelaksanaan aspek
           sosial dan lingkungan (social and environmental safeguard)
      3. bertanggung jawab dalam perumusan design, kajian design dan pengawasan pekerjaan fisik
           subproyek setiap harinya dari tahap proses pra kontrak, pelaksanaan konstruksi hingga masa
           pemeliharaan berakhir;
      5. Melaporkan semua pelaksanaan subproyek kepada PMU;
      6. Merumuskan dan menyampaikan laporan Financial Management Report kepada PMU sesuai
           ketentuan yang diatur dalam PMM;
7.   Memfasilitasi penyiapan subproyek baru yang diusulkan secara partisipatif.


KEDUA
Sekretariat PIU berkedudukan di Dinas, Badan atau Bagian Pelaksana Subproyek di Daerah Kota /
Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN].

KETIGA
Segala biaya yang dikeluarkan sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan ini dibebankan pada
APBD Kota / Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN].

KEEMPAT
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dan apabila ternyata terdapat kesalahan atau
kekurangsempurnaan dalam Keputusan ini, maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.




                                               Ditetapkan di :    [NAMA KOTA / KABUPATEN]
                                               Pada tanggal :     XX / XX / 200X


                                               WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA /
                                               KABUPATEN]



                                                                 [NAMA JELAS]




Tembusan:
1. Direktur Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum
2. CPMU – USDRP
3. Ketua DPRD Kota / Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN]
4. .....................................
LAMPIRAN


KEPUTUSAN WALIKOTA / BUPATI [NAMA KOTA / KABUPATEN]

NOMOR         : XXX XXX XXX
TANGGAL       : XX / XX / 200X
TENTANG       : PEMBENTUKAN PROJECT IMPLEMENTATION UNIT (PIU) UNTUK
                PELAKSANAAN URBAN SECTOR DEVELOPMENT REFORM PROJECT
                (USDRP)




     Posisi                           Nama            Jabatan


     Ketua

     Pengelola Dana Operasional PIU


     Ahli Keuangan

     Ahli Perencanaan

     Ahli Pengadaan

     Ahli Monitoring dan Evaluasi
                   LAMPIRAN 2
PERUMUSAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM)
                                       Daftar Isi

Bagian A.   Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Kedudukan RPJM dalam
            Kerangka USDRP
            Gambar A1 Proses dan Mekanisme Perencanaan Partisipatif
            Gambar A2 Kedudukan RPJM dalam Kerangka USDRP

Bagian B.   Outline RPJM dalam Kerangka USDRP
            Bagian B1   Outline RPJM
            Bagian B2   Karakteristik Investasi Pembangunan Perkotaan yang Dibiayai
                        dalam Kerangka USDRP
            Bagian B3   Langkah-langkah Penyiapan Program Investasi Pembangunan
                        Perkotaan
Bagian A: Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Kedudukan
          RPJM dalam Kerangka USDRP


     A. Pengertian RPJM dalam USDRP ?

        1. Dalam USDRP, Rencana Pembangunan Jangka Menengah atau RPJM adalah dokumen
           yang mencakup:
           (a) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan
           (b) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
           Seperti yang dijelaskan dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem
           Perencanaan Pembangunan Nasional.

        2. RPJM paling sedikit memuat:
           (a) visi dan misi pembangunan daerah
           (b) arah kebijakan keuangan dan pembangunan daerah
           (c) strategi pembangunan daerah dan kebijakan umum
           (d) program prioritas pembangunan jangka menengah, dan
           (e) indikasi program prioritas pembangunan tahun pertama, lengkap dengan rencana kerja,
               pendanaannya.

        3. Dalam kerangka USDRP, strategi pembangunan dan program prioritas pembangunan yang
           dirumuskan paling tidak memuat strategi dan program untuk
           (a) pengurangankemiskinan melalui pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan
               pelayanan umum;
           (b) pengembangan kapasitas, baik program yang diperuntukkan bagi aparat Pemerintah
               kota/kabupaten maupun non Pemda guna mendukung program investasi yang
               dirumuskan; dan
           (c) program pembaharuan tata pemerintahan dasar, yang meliputi pembaharuan bidang
               partisipasi publik dan transparansi dalam pengambilan keputusan publik, pembaharuan
               bidang pengelolaan keuangan daerah dan pembaharuan bidang pengadaan barang dan
               jasa.


     B. Pendekatan dalam Perumusan RPJM

        1. Pendekatan Partisipatif. Proses perumusan RPJM melibatkan stakeholder pembangunan
           termasuk Urban Forum atau Forum Stakeholder.
           a. Umumnya stakeholder terdiri dari 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: (i) mereka yang
              kepentingannya akan terpengaruh oleh masalah yang akan dibahas atau mereka yang
              kegiatannya akan sangat mempengaruhi masalah yang dibahas, (ii) mereka yang
              memiliki informasi, sumber daya dan keahlian yang diperlukan untuk perumusan dan
              pelaksanaan streategi, dan (iii) mereka yang mempunyai kewenangan mengendalikan
              pelaksanaan dan instrumen.
           b. Partisipasi stakeholder dalam pengambilan keputusan dalam perumusan RPJM.
           c. Metoda yang dapat digunakan untuk melibatan masyarakat antara lain melalui diskusi
              kelompok fokus dengan stakeholder terbatas, konsultasi publik, temu warga dsb.

        2. Pendekatan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Approach.
           Perumusan program pembangunan dilakukan secara holistik / menyeluruh dan jangka
           panjang serta konsisten dengan strategi dan kebijakan pembangunan terkait, meski
           pelaksanaan program dilakukan secara bertahap. Pemanfaatan potensi sumber daya alam
           dan ruang dilakukan secara berkelanjutan.

        3. Pendekatan pembangunan perwilayahan atau Regional Development Approach
           Penentuan program pembangunan mempertimbangkan analisis keruangan dan potensi
           perwilayahan disekitarnya (eksternal). Keterpaduan dalam pemanfaatan dan pengembangan
prasarana secara kolektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara bersama yang
saling menguntungkan (win-win solution).



                              Gambar A1a
              Proses Dan Mekanisme Perencanaan Partisipatif


                                  MASYARAK AT




                Aspirasi &           Konsultasi dan        Aspirasi &
                 Keluhan             Penyepakatan          Kebutuhan


Pengesahan                                                              Pengesahan
 Keputusan                                                               Keputusan


                                          Aspirasi &
                                          Kebutuhan
               PEMERINTAH                                  DPRD
                                      Pengesahan


                              Gambar A1b
                       Tahapan Penyusunan RPJM D


                        RPJP N             RPJP D



                                      Perda RPJP D



                         RPJM N            RPJM D



                                     Keputusan Kepala
                                         Daerah



                                          Rancangan
                                          Ranja SKPD


                                          Musrenbang




                             Ranja SKPD            RKP D




                                            APBD


                                          Perda APBD
Sumber:    - SURAT EDARAN BERSAMA Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
             Bappenas dan Menteri Dalam Negeri no: 0008/M.PPN/01/2007050/264A/SJ tentang Petunjuk
             Teknis Penvelenggaraan Musrenbang Tahun 2007
           - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA
             PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL TAHUN 2005 – 2025
          C. Kedudukan RPJM dalam Kerangka USDRP

            1. Dalam USDRP, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) mencakup Rencana
               Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
               (RKPD). Sesuai dengan UU No. 25 tahun 2004, Rencana Pembangunan Jangka Panjang
               Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM Nasional)
               menjadi acuan dalam perumusan RPJMD.

            2. Selanjutnya RPJMD dijabarkan kedalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dengan
               mengacu pada RKP Nasional.

            3. Mendasarkan RPJM yang dirumuskan, masing-masing kota/kabupaten mengajukan usulan
               proyek investasi untuk USDRP. Usulan proyek investasi tersebut selanjutnya perlu dukungan
               studi kelayakan, dokumen-dokumen AMDAL / UKL/UPL / LARAP (jika diperlukan) dan DED
               sebelum dapat dinilai oleh Tim Penilai dan masuk ke dalam daftar proyek investasi yang akan
               dibiayai melalui pinjaman USDRP.

            4. Setelah langkah administratif dilakukan, baik antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia
               maupun antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, selanjut nya masing-masing kota/
               kabupaten peserta akan melaksanakan kegiatan (konstruksi) sesuai dengan jadwal yang
               telah disepakati bersama antara masing-masing Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan
               Bank Dunia.

            5. Selama masa konstruksi dan operasi/pemeliharaan, secara berkala akan dilakukan kegiatan
               monitoring dan evaluasi untuk menjamin bahwa kegiatan yang dilakukan tetap konsisten
               dengan RPJM serta panduan investasi USDRP.
RPJM NASIONAL             RPJPD



                         RPJM
RPJM NASIONAL          RPJM DAERAH


RKP NASIONAL           RKP DAERAH

                                           PANDUAN
                                          INVESTASI
                                         PERKOTAAN -
                    USULAN SUBPROYEK        USDRP

                     STUDI KELAYAKAN




                                                       MONITORING DAN
                                                          EVALUASI
                       DED PROYEK


                     DOKUMEN TENDER


                       KONSTRUKSI
                      IMPLEMENTASI


                       OPERASI DAN
                      PEMELIHARAAN




                    Gambar A2
       Kedudukan RPJM dalam Kerangka USDRP
Bagian B1: Outline RPJM

 Kajian                        Isi / Keterangan

 1. Kajian kondisi dasar dan   Paling tidak meliputi kajian terhadap:
    potensi sumber daya        - kondisi fisik dasar
    lokal                      - kondisi sosial ekonomi dan kependudukan
                               - kondisi perekonomian dan keuangan daerah
                               - kondisi prasarana dan pelayanan umum
                               - potensi sumber daya alam
                               - potensi sumber daya manusia, dan
                               - potensi kemampuan keuangan daerah.

 2. Analisis Kekuatan,         Analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan pembangunan dimana kajian
    Kelemahan, Peluang dan     kondisi dasar, potensi sumber daya lokal dan peluang serta tantangan eksternal menjadi
    Tantangan                  masukan penting dalam analisis ini.
     Analisis keuangan         Antara lain meliputi analisis potensi / kemampuan daerah untuk membiayai investasi
     daerah                    pembangunan perkotaan baik melalui sumber daya sendiri maupun sumber-sumber lain
                               termasuk dari pinjaman.
 3. Permasalahan kunci         Perumusan dan penyepakatan diantara stakeholder tentang permasalahan kunci
                               pembangunan dan prioritas pembangunan. Permasalahan kunci yang dirumuskan,
                               paling tidak mencakup permasalahan yang terkait dengan upaya pengurangan
                               kemiskinan melalui pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan pelayanan umum.
 4. Kajian visi dan misi       Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang ingin dicapai pada akhir periode
    Pembangunan                perencanaan. Adapun misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan
                               dilaksnakan untuk mewujudkan visi tersebut.
 5. Strategi dan Kebijakan     Antara lain mencakup:
    Pembangunan                - pengembangan skenario pembangunan untuk mengantisipasi ketidakpastian dimasa
                                   datang. Alternatif skenario pembangunan yang dirumuskan selanjutnya bersama-
                                   sama dengan stakeholder dikaji untuk selanjutnya dipilih bersama-sama skenario
                                   yang paling dianggap memadai / sesuai.
                               - perumusan strategi pembangunan. Strategi adalah langkah-langkah yang berisikan
                                   program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi yang dirumuskan yang
                                   dijabarkan ke dalam sejumlah kebijakan, dan
                               - perumusan        kebijakan pembangunan adalah arah/tindakan yang diambil oleh
                                   Pemerintah Daerah untuk mencapai tujuan pembangunan yang dicita-citakan,
   6. Perumusan program        Program prioritas pembangunan jangka menengah yang dilaksanakan secara bertahap
      prioritas Jangka         dalam 5 (lima) tahun kedepan dirumuskan dari hasil kajian dan analisis pembiayaan
      Menengah                 pembangunan; analisis kelayakan teknis, ekonomi, lingkungan dan kelembagaan; serta
                               professional judgement terhadap daftar panjang program pembangunan.
                               Program prioritas pembangunan jangka menengah ini, paling tidak telah memuat nama
                               program / proyek, volume, lokasi, estimasi biaya yang dibutuhkan, jadwal pelaksaan,
                               pembagian tanggung jawab pelaksanaan serta sumber pembiayaannya.
   7. Perumusan indikasi       Merupakan perumusan program prioritas pembangunan yang akan dilaksanakan pada
      program prioritas        tahun pertama yang dilengkapi dengan Lembar Informasi Proyek atau Project Information
      pembangunan tahun        Sheet (PIS). PIS mencakup: (i) ringkasan proyek – nama proyek, sektor, estimasi
      pertama                  kebutuhan biaya dan jenis proyek; (ii) latar belakang proyek – sejauh mana relevansinya
                               dengan strategi pembangunan perkotaan yang dirumuskan, tujuan, target yang hendak
                               dicapai, lingkup pekerjaan, lokasi, manfaat serta kelompok sasaran; dan (iii) deskripsi
                               proyek – metoda konstruksi, pembebasan lahan, pemukiman kembali, dampak
                               lingkungan, jadwal pelaksanaan, sumber pembiayaan serta penanggung jawab proyek.
                               Pogram prioritas tahun pertama ini merupakan program yang telah disepakati
                               (committed) pembiayaannya untuk dilaksanakan setelah melalui tahapan negosiasi dan
                               konsinyasi dengan stakeholder terkait.
Bagian B2: Karakteristik Investasi Pembangunan Perkotaan yang Dibiayai dalam
           Kerangka USDRP



  1. Karakteristik investasi pembangunan perkotaan yang dibiayai dalam kerangka USDRP
     Rencana investasi dalam kerangka USDRP terdiri dari proyek-proyek investasi perkotaan yang
     diprioritaskan dalam program jangka menengah yang potensial untuk dibiayai oleh dana Pinjaman Luar
     Negeri.
     Untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari pinjaman dalam USDRP, proyek-proyek investasi
     pembangunan perkotaan yang diusulkan harus memenuhi sejumlah kriteria (kriteria seleksi sub
     proyek) sebagai berikut:
     1.   merupakan proyek infrastruktur yang merupakan domain PU dan tidak termasuk ke dalam
          negative list proyek USDRP
     2.   bukan merupakan proyek nasional
     3.   sub proyek yang diusulkan termasuk dalam kewenangan sesuai dengan yang tertuang dalam UU
          otonomi daerah
     4.   merupakan proyek yang digagas dan dilaksanakan oleh daerah peserta USDRP
     5.   sub proyek yang diusulkan merupakan proyek dengan prioritas tinggi dalam Strategi
          Pembangunan Perkotaan dan RPJM;
     6.   sub proyek yang diusulkan telah disetujui oleh DPRD yang bersangkutan; dan
     7.   memberikan manfaat bagi pelayanan umum di daerah peserta USDRP
     8.   merupakan proyek yang bersifat cost-recovery / revenue generating dan layak secara teknis,
          ekonomi dan finansial:
          -   sub proyek yang diusulkan bernilai ≥ Rp. 2,5 Milyar per sub proyek;
          -   sub proyek yang diusulkan merupakan proyek yang menggunakan teknologi tepat guna (cost
              effective proven technology).     Kajian dan spesifikasi teknis yang digunakan harus
              mendasarkan analisis teknis terhadap berbagai alternatif yang ada;
          -   untuk sub proyek yang bernilai ≥ Rp. 5 Milyar, menghasilkan economic internal rate of return
              (EIRR) ≥ 10%. Untuk sub proyek dengan kategori ini, daerah diminta juga untuk menyiapkan
              analisis kelayakan ekonomi yang memadai;
          -   untuk seluruh sub proyek yang diusulkan, menghasilkan financial internal rate of return (FIRR)
              ≥ tingkat suku bunga SLA yang disepakati ((LIBOR Base Rate + LIBOR Total Spread) + 5,02%
              per tahun); dan
          -   memenuhi persyaratan safeguard lingkungan dan sosial.
                                       Tabel B 2.1
                 Jenis-jenis Proyek yang Termasuk Lingkup Ke-PU-an dan
                                   Negative List USDRP


Lingkup Ke-PU-an            Negative List USDRP
-   Air Bersih              UU No. 32, 2004   Tidak termasuk investasi pembangunan dan
-   Air Limbah                                pengembangan:
-   Drainase                                  - pelabuhan udara yang dikelola oleh Angkasa
-   Pengendalian Banjir                          Pura
-   Pengelolaan                               - pelabuhan laut di bawah pengelolaan PELINDO
    Persampahan                               - minyak dan gas di bawah pengelolaan MIGAS
-   Terminal Angkutan dan                     - perencanaan dan distribusi jaringan listrik yang
    Kargo                                        dikelola PLN
-   Jalan Kota
-   Perumahan               Ketentuan Bank    Proyek-proyek dengan karakteristik sebagai berikut:
-   Pasar                   Dunia             - yang mengakibatkan penipisan ozon,
-   Rumah Potong Hewan                           mengandung tembakau atau produk tembakau
    dan Tempat Pelelangan                     - Asbes. Tidak satupun proyek yang
    Ikan                                         diperkenankan menggunakan bahan-bahan yang
-   KIP                                          mengandung asbes
-   Revitalisasi Kawasan                      - melibatkan, menghasilkan, menggunakan,
    Strategis                                    menyimpan/memuat bahan beracun dan
                                                 berbahaya (B3) – toksik, korosif atau eksplosif
                                              - pembangunan pada kawasan lindung. Proyek
                                                 yang ditempatkan pada daerah yang dilindungi
                                                 atau yang dapat merubah tujuan dan/atau
                                                 penunjukkan kawasan yang dilindungi, contoh di
                                                 hutang lindung
                                              - kekayaan budaya. Proyek tidak boleh
                                                 mengurangi atau merusak kekayaan budaya.
                                                 Contoh: kawasan cagar budaya
                                              - Cagar alam. Tidak boleh ada proyek yang dapat
                                                 merusak cagar alam.
                            Kegiatan rutin    Tidak termasuk dalam:
                                              - kegiatan rutin administratif Pemerintah Daerah,
                                                 seperti: pengadaan alat tulis kantor, komputer,
                                                 furniture, gaji karyawan, operasional harian
                                                 pemerintah daerah dan sebagainya
                            Lain-lain         Tidak termasuk dalam:
                                              - pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan
                                                 fasilitas militer dan kepolisian
                                              - pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan
                                                 fasilitas keagamaan dan peradilan
                                              - pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan
                                                 gedung perkantoran pemerintah
                                              - melibatkan / mengandung komponen dana tunai
                                                 atau dana bergulir dan sejenisnya;
                                              - “on-going” kontrak atau proyek dari sumber
                                                 pendanaan lain; dan
                                              - pemeliharaan rutin (operasi dan pemeliharaan)
Bagian B3: Langkah-Langkah Penyiapan Program Investasi Pembangunan Perkotaan



      a. pemerintah kota/kabupaten peserta USDRP menyampaikan usulan proyek investasi perkotaan
         (proyek satu tahun / multi-tahun) kepada Tim Penilai. Usulan proyek yang selanjutnya disebut
         sebagai subproyek diambil dari RPJM.

      b. Tim Penilai akan melakukan pengkajian berdasarkan sejumlah kriteria seperti dijelaskan
         sebelumnya di atas. Jika usulan subproyek tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, maka
         secara otomatis usulan tersebut akan ditolak atau tidak dapat dibiayai menggunakan pinjaman
         dalam USDRP.
         Sebaliknya jika usulan subproyek telah/dapat memenuhi kriteria dan masih tersedia dana yang
         cukup dari pinjaman USDRP, maka usulan tersebut dapat diterima sebagai calon subproyek
         yang akan dibiayai oleh pinjaman USDRP.


                                              Tabel B4.1
                              Langkah-langkah Penyiapan Program Investasi


                 Pemerintah Kota / Kabupaten                              Tim Penilai /
                       Peserta USDRP                                     Appraisal Team

        INDIKASI PROGRAM PRIORITAS TAHUN PERTAMA
             (PROYEK SATU TAHUN / MULTI TAHUN)
           SUMBER          SUMBER           SUMBER
         PEMBIAYAAN        SWASTA /          PHLN
         APBN / APBD        MASY.




               USULAN PROYEK INVESTASI
               PERKOTAAN UNTUK USDRP


                                                             DOMAIN PU
                                                          TIDAK TERMASUK                     DROP
                                                           NEGATIVE LIST?
                                                                DLL
                STUDI KELAYAKAN, DED,
                AMDAL, UKL/UPL, LARAP

                                                             KELAYAKAN
                                                     TEKNIS, EKONOMI, FINANSIAL,             DROP
                                                               INST.?




                  CALON SUBPROYEK
                     POTENSIAL
       LAMPIRAN 3
PERUMUSAN STUDI KELAYAKAN DAN
  DETAIL ENGINEERING DESIGN
              Daftar Isi

Bagian A.   Pengertian Studi Kelayakan

Bagian B.   Outline Dokumen DED
Bagian A:    Pengertian Studi Kelayakan dan Substansi Studi Kelayakan



      1. Studi Kelayakan atau Feasibility Study / FS adalah kajian menyeluruh dan mendalam terhadap aspek
         teknis, ekonomi, keuangan, lingkungan dan kelembagaan dengan beberapa justifikasi sehingga
         subproyek yang diusulkan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan.

      2. Tujuan yang hendak dicapai dengan pelaksaan FS adalah:
         a. terlaksananya proyek pembangunan yang memenuhi persyaratan teknis dengan perioda
            pelayanan yang sesuai dengan umur teknis, kapasitas pelayanan yang sesuai dengan rencana;
         b. terjaminnya kesinambungan     pembangunan,    dimana   teknologi  yang   diterapkan
            mempertimbangkan: kandungan lokal, kemampuan keuangan dan kelembagaan pengelola dan
            kemampuan sumber daya manusia yang tersedia;
         c. proyek yang akan dibangun dapat memeberikan dampak yang baik terhadap lingkungan
            sekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik untuk jangka pendek maupun
            jangka panjang;
         d. proyek yang dibangun dapat meningkatkan kondisi dan/atau kualitas kehidupan masyarakat
            termasuk upaya pengurangan kemiskinan, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan
            peningkatan pelayanan umum; dan
         e. masyarakat mampu membiayai operasi dan pemeliharaan sistem yang dibangun secara
            langsung (seperti: retribusi kebersihan, terminal penumpang, dst) maupun tidak langsung (pajak
            yang dipungut dari masyarakat digunakan untuk membangun prasarana jalan, drainase, dst).

      3. Kajian teknis bertujuan untuk menganalisis kelayakan suatu rencana kegiatan atau proyek
         pembangunan ditinjau dari sudut teknologi. Teknologi yang dimaksud di sini tidak terbatas pada
         teknologi keras (hard technology) seperti rekayasa (engineering), namun juga teknologi lunak (soft
         technology), seperti rencana tata ruang. Rencana tata ruang dipandang merefleksikan aspek-aspek
         pendukungnya, seperti kesesuaian fisik-geologis dan spasial. Demikianlah, maka suatu proyek
         dikatakan layak secara teknis jika:
         a. tersedia teknologi yang relatif murah untuk melaksanakannya; dan
         b. berlokasi di tempat yang secara tata ruang dibenarkan

         Untuk mendukung suatu kajian teknis, lazimnya diperlukan berbagai informasi pendukung, seperti:
         a. Hasil pengukuran atau pemeriksaan laboratorium berkenaan dengan keadaan daya dukung,
            dan/atau daya tampung, selain pemeriksaan lain yang relevan sesuai dengan jenis proyeknya;
         b. Rencana Tata Ruang Kawasan (RUTRK/RDTRK/RTRK) untuk mengetahui peruntukan kawasan,
            batasan-batasan pengembangannya, dan keterkaitannya dengan strategi pembangunan daerah;
         c. Rencana tapak (site plan), yang menggambarkan lokasi perencanaan dan gambaran detail
            proyek yang diusulkan;
         d. Rancangan awal (preliminary design) proyek, untuk mengetahui rancangan proyek yang akan
            dilaksanakan, sebagai masukan dalam menyusun rancangan teknik-rinci (Detail Engineering
            Design - DED);
         e. Foto-foto lokasi proyek, untuk mengetahui kondisi aktual di lapangan dari masing-masing proyek
            yang diusulkan.

      4. Kajian Ekonomi
         Kajian ekonomi bertujuan untuk menganalisis kelayakan suatu kegiatan atau proyek pembangunan
         ditinjau dari sudut ekonomi, khususnya ekonomi-makro. Kajian ini pada dasarnya ditujukan untuk
         proyek-proyek yang tidak menghasilkan penerimaan secara langsung (non-cost recovery), seperti
         proyek pembangunan jalan non-toll tidak menghasilkan penerimaan secara langsung, namun
         menyebabkan terjadinya peningkatan harga tanah disekitar pembangunan jalan tersebut. Manfaat
         yang diperoleh, antara lain, adalah adanya akses yang lebih mudah, berkurangnya kemacetan lalu
         lintas, berkurangnya biaya perjalanan dan waktu tempuh, biaya operasional kendaraan lebih rendah,
         kondisi lingkungan yang lebih nyaman, dan lain-lain. Dengan demikian yang menjadi indikator
         peningkatan ekonomi dalam proyek pembangunan jalan tersebut adalah Nilai Jual Objek Pajak
         (NJOP) dan atau harga tanah disekitarnya berdasarkan harga pasar faktual. Indikator lain dalam
   kaitan contoh di atas adalah adanya pertumbuhan aktivitas ekonomi ikutan (multiplier effect) seperti
   kegiatan jasa, perdagangan, perkantoran dan lain-lain.

   Analisis kelayakan ekonomi lazimnya menggunakan metode-metode seperti:
   a. B/C Ratio (Benefit/Cost ratio)
   b. EIRR (Economic Internal Rate of Return)
   Secara sederhana, proyek dikatakan layak secara ekonomi apabila manfaat proyek tersebut lebih
   besar dari biaya ekonomi yang ditimbulkannya.

5. Kajian Keuangan
   Kajian keuangan bertujuan untuk menganalisis perkiraan kapasitas keuangan yang dihasilkan oleh
   rencana kegiatan proyek dalam mengembalikan dana yang diinvestasikan. Kajian ini ditujukan untuk
   proyek-proyek yang menghasilkan penerimaan langsung (revenue generating). Sebagai contoh:
   penyediaan air bersih. Penyediaan air bersih memerlukan Instalasi Pengolah Air (IPA), jaringan
   distribusi dan sambungan rumah (SR), biaya perluasan jaringan dan biaya operasi & pemeliharaan
   (O&M) sistem penyediaan air bersih. Sebagai proyek yang menghasilkan penerimaan langsung,
   maka diperlukan kajian mendalam terhadap beberapa parameter dasar, seperti perkiraan biaya
   investasi, kapasitas produksi, teknologi dan peralatan yang digunakan, fasilitas pendukung, pangsa
   pasar, proyeksi tarif, proyeksi pendapatan dan kemampuan proyek dalam mengembalikan biaya
   investasi yang digunakan.

   Analisis kelayakan keuangan lazimnya menggunakan metode-metode seperti:
   a. NPV (Net Present Value)
   b. FIRR (Financial Internal Rate of Return)

   Secara sederhana, proyek dikatakan layak secara keuangan apabila proyek tersebut dapat
   memenuhi kebutuhan dan keinginan (demand) masyarakat, investasi yang ditanamkan dapat
   memberikan manfaat bagi masyarakat, besarnya nilai keuntungan lebih besar dari nilai bunga bank
   yang berlaku sehingga penerimaan yang dihasilkan dari operasionalisasi proyek dapat
   mengembalikan biaya investasi sesuai dengan jadwal pengembalian investasi yang ditetapkan.

6. Kajian Sosial dan Lingkungan
   Kajian sosial dan lingkungan bertujuan untuk mengetahui dampak sosial dan lingkungan suatu
   rencana kegiatan atau proyek pembangunan. Suatu proyek dinyatakan layak secara sosial dan
   lingkungan jika proyek tersebut memberikan manfaat yang melebihi biaya sosial dan lingkungannya,
   dan distribusi manfaat / biaya tidak menjadikan warga yang relatif kurang sejahtera memburuk
   keadaannya. Perhatian khusus dalam kajian kelayakan sosial diberikan pada proyek yang
   memerlukan pengadaan tanah (dengan atau tanpa pemukiman kembali), dan proyek yang mengenai,
   atau mempengaruhi kehidupan masyarakat terasing dan rentan. Kedua kategori proyek di atas
   diharuskan memberi kesempatan pada warga yang terkena untuk menyatakan persetujuannya atau
   keberatannya terhadap rencana dimaksud. Perhatian khusus pada kajian lingkungan diberikan pada
   proyek-proyek yang memerlukan AMDAL atau UKL/UPL, atau LARAP. Kajian sosial dan lingkungan
   dalam USDRP mengacu pada Kerangka Safeguard.

7. Kajian Kelembagaan / Organisasi
   Kajian kelembagaan bertujuan untuk mengetahui kelayakan proyek atau rencana kegiatan ditinjau
   dari segi kesiapan lembaga (termasuk aturan-main dan personalia) pengelola untuk mengelola
   proyek atau rencana kegiatan tersebut, baik pada tahap persiapan, konstruksi, maupun tahap
   operasi. Kajian kelembagaan pada hakekatnya difokuskan pada upaya menciptakan lembaga yang
   efektif dan kompeten, sehingga dapat dipercaya menangani hal-hal yang berkaitan dengan
   kepentingan publik. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam kajian ini adalah:
   a. kajian terhadap kondisi lembaga (sistem organisasi termasuk struktur dan kultur organisasi,
      fungsi dan tugas dan kewenangan);
   b. kajian terhadap kualitas pengelolaan (termasuk prosedur kerja, teknologi yang dikuasai,
      rekrutmen, penempatan, dan pengembangan personil) dan efektivitas menangani tugas dan
      fungsinya;
   c. kajian terhadap kepemimpinan, termasuk corak kepemimpinan, cara pengambilan keputusan,
      dan inovasi yang telah, sedang, atau dapat diharapkan berjalan;
   d. kajian terhadap akuntabilitas dan transparansi berkaitan dengan pengambilan kebijakan,
      penegakan peraturan dan pelibatan masyarakat.

Outline Studi Kelayakan, dapat dilihat pada format 2 Lampiran untuk permohonan SLA.
Bagian B:      Outline Dokumen DED


          Judul Bab / Sub Bab                                        Isi Keterangan

    I.   URAIAN PROYEK
         1.1 Nama Pemerintah         a.   Pemerintah Kota / Kabupaten [NAMA KOTA / KABUPATEN]
             Daerah, Nama Proyek &   b.   Propinsi [NAMA PROPINSI]
             Nomer Proyek            c.   Program : Urban Sector Development Reform Project
                                     d.   Nomer XXXXX
         1.2 Pemilik Proyek dan      a. Pemilik proyek _____________________________________________
             Peminjam                b. Peminjam _________________________________________________
         1.3 Profil Proyek           a. Penjelasan proyek investasi secara lengkap dengan kapasitas/kelas/type
                                        (lainnya) dan bagian unit-unitnya;
                                     b. Uraian secara garis besar latar belakang yang mendasari dipilihnya sub
                                        proyek ini dalam hal potensi, dan masalah yang perlu diatasi;
                                     c.   Penjelasan secara garis besar maksud dan tujuan dibangunnya infrastruktur
                                          tersebut. Sedapat mungkin kaitkan dengan upaya-upaya peningkatan
                                          pelayanan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan
                                          kemiskinan
         1.4 Lokasi Proyek           a. Penjelasan lokasi proyek secara tepat, paling tidak sampai tingkat
                                        kecamatan dan kalau mungkin sampai tingkat kelurahan;
                                     b. Gambaran situasi sekelilingnya, misalnya luas dan tata guna lahan,
                                        kepadatan penduduk atau bangunan serta jarak dari tempat-tempat
                                        strategis
         1.5 Uraian Singkat Hasil    a. Uraian mengenai besaran sub proyek yang diuraikan di atas, berdasarkan
             Studi Kelayakan            satuan sistem atau infrastrukturnya. Jelaskan pula apakah proyek
                                        merupakan sistem baru atau pengembangan dari yang sudah ada. Kalau
                                        pengembangan jelaskan garis besar sistem yang sudah ada;
                                     b. Penjelasan mengenai wilayah cakupan pelayanan atau jumlah penerima
                                        manfaat dan bentuk manfaatnya, langsung maupun tidak langsung;
                                     c.   Gambaran kelayakannya dari segi ekonomi atau keuangan (tergantung cost
                                          recovery /revenue generating atau tidak) serta dari segi teknik, sosial dan
                                          lingkungan;
                                     d. Penjelasan mengenai jangka waktu perencanaannya.


    II   KRITERIA DAN STANDAR PERENCANAAN
                                     Uraian mengenai kriteria dan standar perencanaan yang digunakan. Umumnya
                                     merupakan Keputusan Menteri atau Petunjuk Teknis dari masing-masing
                                     Departemen Teknis yang sesuai dengan bidangnya. Kriteria dan standar
                                     perencanaan meliputi:
                                     a. Umur perencanaan masing-masing unit, misalnya sistem direncanakan akan
                                        dapat melayani kebutuhan sekian tahun kedepan. Dimensi dan kondisi
                                        bangunan direncanakan sesuai dengan jangka waktu tersebut;
                                     b. Besarnya dimensi/volume untuk pelayanan/perencanaan tertentu, dalam
                                        hal ini ukurannya bisa jumlah pemanfaat (orang), luas lahan (ha) atau
                                        lainnya;
                                     c.   Ketentuan mengenai type atau kelas perencanaan, yaitu yang ditentukan
                                          berdasarkan kebutuhan atau potensi kota/kabupaten;
                                     d. Standar dan kriteria teknis seperti misalnya kelas beton, kelas pipa, kualitas
                                        air bersih dan sebagainya.
                                     e. Dalam hal ini termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar
                                        Internasional yang telah diadopsi oleh Pemerintah Indonesia
             Topik Bahasan                                          Isi Keterangan

III   SURVEY DAN PENELITIAN TEKNIK
                                       Dimaksudkan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam perhitungan
                                       teknis sesuai dengan kebutuhan masing-masing proyek yang diusulkan

      3.1 Survey Topografi             Survey tpografi sesuai dengan kebutuhan, yaitu :
                                       a. Pengukuran luas lokasi/situasi sub proyek, antara lain untuk
                                          menentukan titik lokasi, merencanakan tata letak bangunan atau unit-
                                          unit bangunan;
                                       b. Pengukuran panjang jarak, misalnya untuk merencanakan jalan,
                                          jaringan perpipaan, saluran air (sewerage) dan drainase;
                                       c.   Pengukuran ketinggian, yaitu untuk mengetahui kemiringan tanah
                                            sebagai dasar perhitungan untuk perencanaan jaringan perpipaan,
                                            saluran dsb. Dalam hal-hal tertentu juga untuk menentukan tata letak.
                                       d. Pengukuran situasi harus dilakukan menggunakan alat Teodolith T-0
                                          atau yang derajat ketelitiannya, dan pengukuran jaraknya dilakukan
                                          dengan cara jarak optis. Sedangkan untuk pengukuran dimensi jalan,
                                          jembatan, sungai, parit harus dilakukan dengan pita ukur (midband).

      3.2 Penelitian Tanah             Penelitian tanah atau soil investigation (sondir dan boring) untuk
                                       mengetahui jenis, struktur, kekuatan/daya dukung dan kestabilan tanah
                                       serta kedalaman muka air tanah pada lahan yang akan dibangun serta
                                       untuk mengetahui kedalaman tanah keras. Penelitian tanah ini terutama
                                       perlu bagi bangunan-bangunan yang besar dan berat. Dari hasil
                                       penelitian ini kemudian dihitung dan dipilih jenis dan dimensi pondasi
                                       yang sesuai untuk bangunan yang akan dibangun.
                                       Bila lokasi untuk tata letak bangunan telah ditentukan, maka segera
                                       tentukan pula titik-titik kegiatan sondir dan boring untuk mendapatkan
                                       sampel yang mewakili kondisi dan struktur tanah. Contoh tanah kemudian
                                       dianalisis di Laboratorium Mekanika Tanah, dan hasil yang didapat antara
                                       lain adalah koefisien daya dukung (sigma tanah) untuk keperluan
                                       perencanaan pondasi

      3.3 Penelitian Sumber Air Baku   Penelitian kualitas sumber air yang akan digunakan sebagai air baku
                                       Sistem Penyediaan Air Bersih. Berdasarkan jenis sumber telah dapat
                                       diperkirakan keperluan pengolahan misalnya pengolahan sederhana,
                                       pengolahan tertentu atau IPA lengkap. Lakukan pengambilan sampel
                                       dengan prosedur yang memenuhi syarat yaitu pada kedalaman tertentu,
                                       penuhi botol sampel dan ditutup rapat, kemudian dibawa dan dianalisis di
                                       laboratorium air.
                                       Penelitian lebih mendalam mengenai kuantitas dan kontinuitas air baku.
                                       Secara garis besar biasanya berdasarkan analisis hidrologi/neraca air.
                                       Perlu diperhatikan pula adanya penggunaan air oleh pihak-pihak lain
                                       seperti pengairan, perikanan dll. Untuk sumber mata air atau sungai
                                       dapat dilakukan pengukuran menggunakan berbagai cara atau alat ukur
                                       seperti Thomson dan Cipoletti. Sedangkan untuk sumber „air tanah
                                       dalam‟ dapat dilakukan dengan geolistrik atau pembuatan sumur uji
                                       kemudian dilakukan uji pemompaan (pumping test).

      3.4 Penelitian Air Limbah        Penelitian air limbah yang akan diolah dengan IPAL meliputi kandungan
                                       kimia dan biologi. Ambil sampel dengan prosedur yang memenuhi syarat
                                       dari beberapa titik yang kira- kira dapat mewakili, kemudian lakukan
                                       analisa di laboratorium air

      3.5 Penelitian Porositas Tanah   Penelitian porositas tanah (percolation test) bila diperlukan untuk
                                       merencanakan sistem pengelolaan air limbah (terutama on site) dan
                                       Tempat Pembuangan Akhir sampah. Cara kerjanya adalah dengan
                                       menggali tanah berbentuk kotak dan diberi air kemudian dihitung
                                       kecepatan penyerapannya.
           Topik Bahasan                                       Isi Keterangan

    3.6 Penelitian Hidrologi      Kompilasi data curah hujan selama beberapa tahun terakhir dari stasiun-
                                  stasiun pemantauan yang paling mewakili. Data meliputi frekuensi,
                                  intensitas, lama dan laju alirannya. Bila diperlukan, kumpulkan juga data
                                  tinggi muka air sungai selama beberapa tahun terakhir pada titik-titik
                                  pengamatan yang lokasinya paling mewakili.

    3.7 Survey LHR                Survey Lalu Lintas Harian (LHR) Rata-rata untuk mengetahui volume dan
                                  beban lalu lintas untuk merencanakan jalan, jembatan dan terminal.
                                  Hasilnya untuk menentukan lebar dan kekuatan jalan yang harus
                                  dibangun, ketebalan lapisan dansebagainya

IV. PERENCANAAN BANGUNAN
    4.1 Penentuan Dimensi         Besaran/kapasitas infrastruktur ditentukan dari Studi Kelayakan yang
                                  diharapkan sudah merupakan hasil Real Demand Survey. Berdasarkan
                                  hasil tersebut hitung dan tentukan dimensi struktur atau dimensi unit-
                                  unitnya

    4.2 Penentuan Tata Letak      Suatu infrastruktur dapat terdiri dari berbagai unit yang bersatu atau
                                  terpisah-pisah. Untuk itu tentukan tata letak yang paling optimal dari segi
                                  teknis dan ekonomis serta ketersediaan luas lahan dan bila perlu juga
                                  berdasarkan kontur/elevasi tanah

    4.3 Penentuan Fasilitas dan   Tentukan titik-titik yang membutuhkan aliran listrik seperti lampu,
        Utilitas                  pendingin, mesin, pompa, alarm dll, kemudian hitung kebutuhan daya
                                  listriknya. Setelah itu tentukan sambungan PLN dan atau genset serta
                                  keperluan lainnya. Tentukan pula titik yang membutuhkan sambungan
                                  telepon.
                                  Tentukan ruang toilet, hydran kebakaran, hitung kebutuhan air beserta
                                  panjang perpipaan dan titik lokasi saluran air bersihnya dan saluran air
                                  limbah, tentukan pula tempat parkir dan jalan keluar – masuk lokasi
                                  proyek

V   PERHITUNGAN STRUKTUR
    5.1 Perhitungan Struktur      Berdasarkan hasil penentuan dimensi bangunan, hitung aspek
                                  strukturnya seperti kekuatan tekan dan tarik sehingga dapat ditentukan
                                  kelas dan dimensi beton, pembesiannya, posisi balok, slof dst

    5.2 Perhitungan Pondasi       Berdasarkan hasil penelitian tanah (sigma tanah serta kedalaman airnya)
                                  dan perhitungan struktur (beban/berat bangunan) lakukan perencanaan
                                  pondasi bangunan, yaitu jenis dan dimensinya misalnya pasir dengan
                                  ketebalan tertentu, cerucuk, balok beton atau pile/tiang pancang dengan
                                  dimensi tertentu

    5.3 Perhitungan / Simulasi    Perhitungan/simulasi jaringan distribusi bila diperlukan oleh sub proyek
        Jaringan Distribusi       Sistem Penyediaan Air Bersih dan Sistem Sewerage. Hasilnya antara lain
                                  untuk menentukan diameter pipa yang sesuai untuk masing masing jarak
                                  dan arah/kemiringan. Konsep dasarnya adalah perhitungan hidrolik
                                  saluran tertutup/pipa. Antara lain menggunakan rumus rumus Hazen
                                  Williams dan Darcy Weisbach

    5.4 Analisis Hidrologi        Berdasarkan hasil pengumpulan data hidrologi lakukan analisa dan
                                  perhitungan sehingga dapat diketahui debit banjir untuk berbagai periode;
                                  misalnya 5 tahun, 10 tahun dst.
                                  Analisa ini biasanya dibutuhkan untuk perencanaan drainase atau
                                  kadang-kadang juga diperlukan pada perencanaan Sistem Penyediaan
                                  Air Bersih. Yaitu dalam aspek ketersediaan air baku, misalnya debit mata
                                  air. Perhitungan debit mata air yang dapat dilakukan :
          Topik Bahasan                                        Isi Keterangan

                                  a. Perhitungan debit berdasarkan aliran langsung, yaitu dengan
                                     menggunakan alat ukur (Cipoletti, Thomson, water meter)
                                  b. Perhitungan debit berdasarkan data, yaitu dengan metode curah
                                     hujan, evapotranspirasi (metode metode Thornwaite, Blaney – Gridle,
                                     Hargreves dan Penman), kelembaban tanah, infiltrasi, Ground Water
                                     Storage, Perubahan Tampungan Air Tanah dan Aliran Dasar

  5.5 Perhitungan Hidrolik        Berdasarkan analisa hidrologi maka akan dapat dihitung besarnya curah
                                  hujan dengan periode tertentu, kemudian berdasarkan survei lapangan
                                  dan peta akan didapat: a) kemiringan (slope) lokasi dan b) luas catchment
                                  area. Setelah data-data tersebut lengkap, kemudian proses perhitungan
                                  hidrolik dapat dilakukan yang meliputi; perhitungan kecepatan aliran, debit
                                  dan dimensi bangunan (air) dapat dilakukan

  5.6 Perhitungan Mekanikal dan   Perhitungan mekanikal dan elektrikal tergantung keperluan sub
      Elektrikal                  proyeknya, misalnya yang berhubungan dengan air: dari hasil penentuan
                                  lokasi, debit dan lain-lain dapat dihitung head/tekanan pompa yang
                                  diperlukan. Kemudian, dari spesifikasi pompa-pompa yang dipilih berikut
                                  jumlahnya dapat dihitung kebutuhan listrik serta keperluan tambahan
                                  untuk penerangan dan sebagainya. Selanjutnya dihitung kebutuhan
                                  panel, kabel dan lain-lain.
                                  Kebutuhan lain misalnya: bangunan gedung dan Rumah Sakit yang
                                  memerlukan pendingin (AC) dan elevator atau lift, sedangkan Rumah
                                  Potong Hewan dan Pelabuhan Ikan membutuhkan cold storage. Rumah
                                  Sakit juga memerlukan suatu pengolahan limbah khusus rumah sakit atau
                                  sebuah incenerator, demikian pula sistem pengelolaan sampah suatu
                                  kota.
                                  Semua hal di atas memerlukan perhitungan mekanikal dan elektrikal yang
                                  pada akhirnya berkaitan dengan perencanaan sambungan listrik dari
                                  PLN. Perencanaan tersebut tergantung pada besar kebutuhan dan
                                  jaraknya: cukup menyambung dari listrik yang tersedia atau perlu
                                  membuat gardu baru. Demikian pula jika diperlukan untuk
                                  perhitungan/perencanaan genset dan panel-panelnya

VI PENGGAMBARAN
                                  Hasil kegiatan survei, perhitungan dan perencanaan serta alternatif
                                  terpilih telah ditetapkan, maka hasilnya dituangkan dalam bentuk gambar
                                  teknik yang akan digunakan sebagai gambar kerja. Kemudian gambar
                                  teknik dan spesifikasi teknik akan digunakan oleh kontraktor untuk
                                  menghitung biaya dalam melakukan penawaran, dan pada akhirnya
                                  dipakai sebagai acuan dalam kontrak pelaksanaan pekerjaan

  6.1 Gambar Peta dan Topografi   Sediakan peta-peta yang diperlukan, seperti peta lokasi, peta situasi,
                                  topografi dan lain-lain dengan skala yang memadai. Gambarkan hasil
                                  survei topografi sesuai kebutuhan masing-masing jenis sub proyek.
                                  Ploting data bisa dilakukan langsung menggunakan komputer, dimulai
                                  dari titik poligon utama maupun poligon sekunder sebagai kerangka peta,
                                  kemudian titik detil situasi di plot per jalur pengukuran situasi.
                                  Setelah semua titik-titik hasil pengukuran di plot sesuai dengan
                                  koordinatnya, maka berdasarkan titik-titik tersebut kemudian digambarkan
                                  semua detil situasi maupun lokasi bangunan yang ada


  6.2 Gambar Rencana Bangunan     Hasil perhitungan dimensi dan perhitungan struktur dituangkan dalam
                                  gambar teknik bangunan yang lazimnya menggunakan kertas ukuran A3
                                  hingga A0. Gambar rencana bangunan meliputi gambar tampak, gambar
                                  potongan, gambar detil dan lain-lain lengkap dengan notasi. Skala yang
                                  dipergunakan harus cukup memadai seperti yang lazim digunakan
      Judul Bab / Sub Bab                                         Isi Keterangan

   6.3 Gambar Rencana Mekanikal       Perencanaan mekanikal dan elektrikal dituangkan pula dalam gambar
       dan Elektrikal                 teknik dan digunakan sebagai gambar kerja. Umumnya gambar M&E
                                      berbentuk diagram dengan simbol-simbol, sedangkan untuk keperluan
                                      pekerjaan pengadaan digunakan spesifikasi teknik generik.
                                      Dalam suatu penawaran biasanya produsen telah mempunyai brosur-
                                      brosur spesifikasi teknis yang lengkap dengan grafik-grafik dan Standard
                                      Operating Procedure. Contohnya spesifikasi teknik untuk Diesel Genset
                                      dan Trafo PLN

VII ANALISIS VOLUME DAN BIAYA / BOQ
   7.1 Perhitungan Volume             Berdasarkan pada gambar teknik yang lengkap dengan notasi dimensi,
                                      dapat dihitung volume masing-masing bahan bangunan yang dibutuhkan.
                                      Misalnya: volume beton berbagai kelas, pasangan bata, pasangan
                                      batako, pasangan batu, pekerjaan lantai, pekerjaan baja, pekerjaan kayu,
                                      jumlah pipa dan asesoris dan lain sebagainya

   7.2 Analisis Pekerjaan             Masing-masing satuan pekerjaan dapat dianalisa sehingga didapat harga
                                      satuannya, antara lain pekerjaan pasangan batu, pekerjaan beton dan
                                      sebagainya. Analisa meliputi bahan dan upah tenaga kerja yang dihitung
                                      berdasarkan Daftar Harga Bahan dan Upah Kota/Kabupaten setempat
                                      tahun berjalan/terakhir

   7.3 Perhitungan Biaya              Berdasarkan hasil perhitungan volume dan harga satuan dikalikan,
                                      kemudian dijumlahkan, maka dapat dihitung harga dasar unit bangunan
                                      secara keseluruhan. Sedangkan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu
                                      misalnya instalasi, terdapat dua harga yaitu harga pengadaan barang dan
                                      biaya pemasangan.
                                      Usulan Rencana Anggaran Biaya ini merupakan Engineering Estimate
                                      yang disusun dalam dokumen tersendiri. Bila diperlukan, pekerjaan dapat
                                      dibagi dalam paket tertentu sesuai dengan biaya dan jenisnya untuk
                                      kelas-kelas kontraktor

VIII PENYIAPAN SPESIFIKASI TEKNIK
   8.1 Spesifikasi Teknik Pengadaan   Dalam pelaksanaan pelelangan/tender pengadaan barang perlu disiapkan
       Barang                         spesifikasi teknik dari barang-barang yang dibutuhkan. Misalnya dalam
                                      pengadaan pipa, compresor, pompa, genset, gerobak dorong, arm roll
                                      truck, fork lift, crane, backhoe, incenerator, valve dan lain-lain

   8.2 Spesifikasi Teknik             Dalam pelelangan/tender pelaksanaan pekerjaan sipil perlu disiapkan
       Pelaksanaan Pekerjaan          spesifikasi teknik untuk berbagai kegiatan, misalnya pekerjaan galian
                                      tanah untuk pemasangan pipa, pekerjaan pengecoran beton, pekerjaan
                                      pengaspalan, pekerjaan pengelasan dan sebagainya. Spesifikasi teknik
                                      ini meliputi syarat, kondisi, prosedur dan pentahapan pekerjaan yang
                                      diinginkan

   8.3 Penyiapan Dokumen Tender       Untuk keperluan pelelangan/tender disiapkan dokumen tender, yang
                                      terdiri dari gambar teknik yang sudah disetujui pemberi tugas, spesifikasi
                                      teknik dan konsep kontrak yang antara lain meliputi Bid Bond,
                                      Performance Bond, Surat Perintah Kerja, Jadual Pelaksanaan Pekerjaan
                                      dst.

						
Related docs
Other docs by axw10757