Docstoc

IMPLEMENTASI AKAD MUDHARABAH SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRODUK PENGHIMPUNAN DANA DI BANK SYARI’AH MA

Document Sample
IMPLEMENTASI AKAD MUDHARABAH SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRODUK PENGHIMPUNAN DANA DI BANK SYARI’AH MA Powered By Docstoc
					  IMPLEMENTASI AKAD MUDHARABAH SERTA
DAMPAKNYA TERHADAP PRODUK PENGHIMPUNAN
   DANA DI BANK SYARI’AH MANDIRI KUDUS



                          SKRIPSI
    Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat
       Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)
                 Dalam Ilmu Ekonomi Islam




                       Disusun Oleh:
                        Fariq Falahi
                         052411072




         JURUSAN EKONOMI ISLAM
              FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
                     SEMARANG
                           2010
                        MOTTO

             ِ َ ِ ْ َ َ                    َ َ ْ ُ ِ ُ ُ َ ْ َ َ
‫. عِل فم أان س فَيكون مْنك فم مْرض فىٰ ۙ َوآاخ فُرون َيض فرُبون فففي اْلأ ْأرض‬
ِ
                 ِ ِ َ ِ َ َ َ َُ ِ ِ ْ َ ِْ َ ُ
  ﴾٢٠﴿.... ۖ ‫َيْبَتغون من فضل اللّه ۙ َوآاخرون ُيقاتُِلون في سِبيل اللّه‬

Dia mengetauhi bahwa akan ada diantara kamu
orang-orang yang sakit; dan orang-orang yang
berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
Allah; dan orang-orang lain yang berperang di jalan
Allah (al-Muzzammil: 20)
                     PERSEMBAHAN


     Skripsi ini saya persembahkan untuk orang-orang yang

saya cintai dan banggakan yang senantiasa mengiringi setiap

langkah saya dalam menggapai cita-cita.

 Almamaterku & Pengelola Jurusan Ekonomi Islam IAIN

  Walisongo Semarang.

 Pembimbingku Ibu Dra. Hj. Siti Mujibatun, M.Ag, dan Bapak

  H.M. Fauzi, SE, M.M

 Semua    keluargaku    Abah   Afif   Rifa’i   dan   Umi   Hanik

  Mursyidah serta mas Faiq dan mas Iful.

 Semua keluarga yang ada di Kudus dan di Tayu mbah Kah,

  de Lis, lek Er, de Munir, de Miftah, de Anis, dan sumuanya

  yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

 Special untuk seseorang yang telah mengisi hatiku dan

  selamanya akan ada dalam hatiku (Lusi Handayani).

 Semua kawan kawan MAWAPALA                terutama angkatan

  Jenggala Atmaja.

 Temen-temenku Jono, Ncek, Bambang, Sobri, Amin, Tino

  dll.

 Serta temen-temen seperjuangan Paket EI A angkatan

  2005 : Ulin, Naelus, Asiyah, Alex, Munadin, Aris, Edi, Ciblek,

  Ulya,Dolwaris, Abu dkk.
              DEKLARASI


Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis

menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang

telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan.

Demikian skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-

pikiran orang lain kecuali informasi yang terdapat

dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.




                         Semarang, 03 Juni 2010
                         Deklarator




                         Fariq Falahi
                         Nim : 052411072
                          ABSTRAK PENELITIAN

Fariq Falahi (Nim : 052411072). Implementasi Akad Mudharabah Serta
Dampaknya Terhadap Produk Penghimpunan Dana di Bank Syariah Mandiri
Kudus (studi kasus di Bank Syari’ah Mandiri Kudus). Skripsi Fakultas Syari’ah
Jurusan Ekonomi Islam IAIN Walisongo Semarang, 2010.
        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Bagaimana penerapan serta
dampaknya dari akad mudharabah terhadap produk penghimpunan dana di Bank
Syari’ah Mandiri Kudus; (2) Faktor- faktor apa saja yang mendukung dan
menghambat penerapan akad mudharabah terhadap perkembangan produk
penghimpunan dana di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.
        Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan
analisis deskriptis, yaitu mendeskripkan data-data yang peneliti kumpulkan baik
dari hasil wawancara, observasi maupun dokumentasi, selama mengadakan
penelitian di bank Syari’ah Mandiri Kudus tentang implementasi akad
mudharabah serta dampaknya terhadap produk penghimpunan dana di Bank
Syariah Mandiri kudus.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerapan akad mudharabah
pada produk penghimpunan dana di BSM Kudus hanya diterapkan pada produk
tabungan dan deposito. Hal ini dibuktikan dengan adanya produk tersebut dapat
menarik minat para nasabah yang selama ini takut menyimpan kekayaanya di
perbankan konvensional.
        Dalam penerapan akad mudharabah pada produk penghimpunan dana di
BSM Kudus ada faktor-faktor pendukung dan penghambat. Faktor- faktor
pendukung tersebut diantarany: Adanya prinsip syari’ah Islam yang dijadikan
acuaan di BSM untuk menerapkan sistem bagi hasil pada semua produknya
terutama pada produk penghimpunan dananya, Adanya sarana prasarana dalam
perusahaan yang cukup lengkap, BSM membawa brand (merek) dari Bank
Mandiri dikarenakan Bank Mandiri bertindak selaku pemilik mayoritas BSM.
Sementara Bank Mandiri sendiri merupakan sebuah bank ternama dan dikenal
luas dikalangan masyarakat sehingga keberadaan BSM lebih mudah diterima di
tengah- tengah masyarakat. Sedangkan faktor-faktor penghambat diantaranya :
Tidak adanya pengetahuan dari masyarakat apa itu penerapan sistem bagi hasil,
sehingga diperlukanya sistem edukasi ke masyarakat secara lebih proporsional
sehingga semakin banyak masyarakat yang mengerti tentang sistem bagi hasil
tersebut, Benturan dengan sistem nilai dan tradisi masyarakat desa yang masih
puas menyimpan uang dibawah bantal.
        Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi
dan masukkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam menerapkan akad
mudharabah pada produk pendanaan tersebut, selain itu juga dapat memberikan
pembelajaran yang berimplikasi pada terwujudnya perbankan syari’ah yang
berkualitas.
                               KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrahim...................

            Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang

Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah melimpahkan Rahmat dan

Hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelasaikan penulisan skripsi ini.

Shalawat dan Salam kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga,

para sahabat dan para pengikutnya.

            Berkat taufik, hidayah dan inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan

Skripsi dengan judul: Implementasi Akad Mudharabah Serta Dampaknya

Terhadap Produk Penghimpunan Dana Di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.

sebagai suatu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam (S.EI) pada

Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

            Dengan tersusunya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan

skripsi ini, yang terhormat:

        1. Bapak Drs. H. Muhyiddin, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Syari’ah

            Intitut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

        2. Bapak Dede Rodin M.ag, selaku wali studi yang mempunyai peran

            besarnya dalam menyelesaikan perkulian di Fakultas Syari’ah IAIN

            Walisongo Semarang.

        3. Kajur Ekonomi Islam beserta jajaranya bpk Saefullah, bpk Rahman,

            serta bpk Ratno.
      4. Ibu Dra. Hj. Siti Mujibatun, M.ag, selaku pembimbing I dan Bapak

          Muhammad Fauzi, MM, selaku pembimbing II yang telah bersedia

          meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan

          dan pengarahan dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini.

      5. Semua dosen Fakultas Syari’ah Intitut Agama Islam Negeri Walisongo

          Semarang yang telah membimbing dan mengajar penulis selama

          belajar di bangku perkuliahan.

      6. Pihak Bank Syari’ah Mandiri Kudus yang telah memberikan ijin untuk

          melakukan penelitian dalam penyusunan skripsi ini.

      7. Abah Rifa’i dan Umi Hanik serta kakak-kakakku mas Faiq dan mas

          Iful yang telah memberikan motivasi hingga terselesainya skripsi ini.

      8. Sahabat-sahabatku yang telah membantu penulis dalam penyusunan

          skripsi ini.

      9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

      10. Kemudian atas jasa mereka, penulis sampaikan ucapan terima kasih

          semoga amal baik mereka mendapat balasan yang berlipat ganda dari

          Allah SWT.

          Pada akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak

kekurangannya, namun demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

                                                      Semarang, 9 April 2010

                                                      Penulis

                                                     Fariq Falahi
                                            DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL................................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING......................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN................................................................................iii

HALAMAN MOTTO............................................................................................iv

HALAMAN PERSEMBAHAN...........................................................................v

HALAMAN DEKLARASI...................................................................................vi

HALAMAN ABSTRAK......................................................................................vii

HALAMAN KATA PENGANTAR...................................................................viii

HALAMAN DAFTAR ISI....................................................................................ix

BAB I            : PENDAHALUAN

                    A. Latar Belakang.........................................................................1

                    B. Rumusan Masalah....................................................................8

                    C. Tujuan Penelitian.....................................................................8

                    D. Manfaat Penelitian...................................................................9

                    E. Tinjauan Pustaka....................................................................10

                    F. Metodelogi Penelitian............................................................13

                    G. Sistematika Penulisan............................................................16

BAB II          : TINJAUAN UMUM AKAD MUDHARABAH DAN PRODUK

                    PENGHIMPUNAN DANA

                    A. Prinsip Operasional Bank Syari’ah.........................................19

                    B. Pengertian Akad Mudharabah.................................................32
            C. Macam-Macam Akad Mudharabah .......................................35

            D. Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil.................................41

            E. Pengertian Produk Penghimpunan Dana................................42

            F. Macam-Macam Produk Penghimpunan Dana........................47

BAB III   : GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

            A. Gambaran Umum BSM Indonesia.........................................53

            B. Gambaran Umum BSM Kudus..............................................57

            C. Profil Kabupaten Kudus.........................................................65

            D. Penerapan Akad Mudharabah Serta Dampaknya Terhadap

                Produk Penghimpunan Dana di BSM Kudus.........................67

            E. Faktor- Faktor Pendukung Dan Penghambat Penerapan

                Akad Mudharabah Terhadap Perkembangan Produk

                Penghimpunan Dana di BSM Kudus.....................................78

BAB IV    : ANLISIS PENERAPAN AKAD MUDHARABAH SERTA

            DAMPAKNYA TERHADAP PRODUK PENGHIMPUNAN

            DANA DI BSM KUDUS

            A. Analisis Penerapan Akad Mudharabah Terhadap Produk

                Penghimpunan Dana di BSM Kudus....................................81

            B. Analisis Dampak Penerapan Akad Mudharabah Pada

                Produk Penghimpunan Dana di BSM

                Kudus ..............................................................87
         C. Analisis Faktor- Faktor Pendukung Dan Penghambat

             Akad Mudharabah Terhadap Perkembangan Produk

             Penghimpunan Dana di BSM Kudus.....................................88

BAB V   : PENUTUP

         A. Kesimpulan............................................................................93

         B. Saran-Saran............................................................................94

         C. Penutup .................................................................................95

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
                                    BAB I

                             PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

          Bank Syari’ah merupakan lembaga intermediasi dan penyedia jasa

   keuangan yang bekerja berdasarkan etika dan sistem Islam, khususnya

   yang bebas dari bunga (riba), bebas dari kegiatan spekulatif dan perjudian

   (maysir), bebas dari hal-hal yang tidak jelas (gharar), berprinsip keadilan,

   dan hanya membiayai kegiatan usaha yang halal yang kesemuanya

   merupakan prinsip-prinsip perbankan syari’ah. Bank Syari’ah sering

   dipersamakan dengan bank tanpa bunga. Bank tanpa bunga merupakan

   konsep yang lebih sempit dari bank syari’ah, dimana sejumlah instrumen

   atau operasinya bebas dari bunga. Bank syari’ah selain menghindari

   bunga, juga secara aktif ikut berpartisipasi dalam mencapai sasaran dan

   tujuan dari ekonomi Islam yang berorientasi pada kesejahteraan sosial.1

          Menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 4 Tahun 2003 tentang

   Perbankan, Bank adalah Bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat yang

   melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan

   prinsip syari’ah yang dalam kegiatan tidak memberikan jasa dalam

   lalulintas pembayaran.

          Sedangkan menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998

   tentang perubahan Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan,
          1
            Muhammad Fauzi, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keinginan
   Migrasi Nasabah Bank Umum Syari’ah di Kota Semarang, Semarang, IAIN Walisongo,
   2008, hlm. 11.
                                                                              2




Bank didefinisikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat

dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

        Dalam fungsinya bank sebagai intermediasi antara deposan dengan

kreditur, maka bank harus melakukan kegiatan penghimpunan dana dari

pihak deposan yang nantinya akan disalurkan kepada kreditur. Tujuan dari

kegiatan penghimpunan dana adalah untuk memperbesar modal,

memperbesar asset dan memperbesar kegiatan pembiayaan sehingga

nantinya dapat mendukung fungsi bank sebagai lembaga intermediasi.2

        Kajian penerapan prinsip syari’ah dalam operasi perbankan

syari’ah merupakan agenda penting bagi perbankan nasional. Bank

Indonesia telah mengkaji standarisasi akad produk perbankan syari’ah,

diawali dari akad Mudharabah, Musyarakah dan Murabahah, yang

ditujukan untuk mengidentifikasi penerapan prinsip syari’ah dan

kemungkinan variasinya dalam praktek di sisi lain, masyarakat telah

memiliki persepsi bahwa Bank Syari’ah berbeda, lebih tinggi kualitas

moralnya, etika dan bisnisnya dibanding dengan bank konvensional3.

        Dalam literatur ekonomi dan perbankan syari’ah yang di

publikasikan dengan rentang waktu antara 1960an hingga 1970an,

dijelaskan bahwa bank-bank Islam di konsep sebagai "Lembaga

Keuangan", dimana keseluruhan pinjaman bisnis yang di berlakukan



        2
        http://blog.keuanganpribadi.com
        3
        Muhammad Fauzi, Implementasi Prinsip Syari’ah Pada Perbankan Syari’ah di
Kota Semarang, Semarang, IAIN Walisongo, 2007, hlm. 1-4.
                                                                                 3




kepada pengusaha (partner) berdasarkan prinsip bagi hasil (profit and lost

sharing).

           Meskipun demikian bank-bank Islam sejauh ini tidak bisa di

pungkiri lagi murni menggunakan prinsip bagi hasil (profit and lost

sharing), namun memperluas pembiayaanya dengan menggunakan yang

lainya,        seperti   leasing   terhadap   permodalan    barang-barang     atau

meningkatkan jaringan perdagangan. Bank-bank tersebut mendapatkan

kepercayaan yang luar biasa dari orang-orang, namun tidak adanya hukum

dalam negara Islam yang mengatur hubungan antara investor dan

mudharib berakibat tidak menghalangi mudharib dari penyalahgunaan

dana dengan seribu macam cara yang tidak sah menurut hukum. Dampak

negatifnya adalah penggunaan bank Islam dari metode pembiayaan ini

menjadi turun secara drastis dan mengalokasikan kedalam pembiayaan

lainya yang sebenarnya tidak akan membantu merealisasikan tujuan dari

syari’at4.

           Bank Syari’ah Mandiri adalah salah satu bank Islam yang

menerapkan dual banking sistem dari Bank Mandiri yang menjadikan

kekawatiran akan tercampurnya dana dari syari’ah dengan dana dari

konvensional. Namun perbankan sendiri meyakinkan nasabah bahwa

pengelolaan unit syari’ah akan dibuat terpisah dari sistem informasi

teknologi hingga pengelolaan dananya.5



           4
            Addullah Saed, Bank Islam Dan Bunga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004,
hlm.125.
           5
            www. ekonomy okezone.com
                                                                            4




        Usaha yang dilakukan oleh Bank Syari’ah Mandiri untuk

merealisasikan tujuan dari masyarakat adalah dengan menerapkan prinsip

bagi hasil dalam hal pemdanaan yang dapat dilakukan dalam empat akad

salah satunya diantaranya dengan menggunakan akad mudharabah.

        Bagi hasil dengan akad mudharabah ini merupakan ciri utama dari

lembaga keuangan tanpa bunga atau bank Islam. Akan tetapi bagi hasil

dengan akad mudharabah tersebut sering juga disebut pengganti nama

”bunga”.6

        Sedangkan tujuan utama dari akad mudharabah ini adalah

memperoleh hasil investasi dimana dana yang telah dikumpulkan oleh

bank Islam dari titipan dana pihak ketiga atau titipan lainya, perlu dikelola

penuh dengan amanah dan istiqomah. Dengan harapan dana tersebut

mendatangkan keuntungan yang besar, baik untuk nasabah maupun bank

Islam. Prinsip utama yang harus dikembangkan bank Islam dalam kaitan

dengan manajemen dana adalah bahwa bank Islam harus memberikan bagi

hasil bagi penyimpan dana minimal sama dengan atau lebih besar dari

suku bunga dari bank konvensional, dan mampu menarik bagi hasil dari

debitur lebih rendah dari pada bunga yang berlaku di bank konvensional.7

        Dalam dunia perbankan al-Mudharabah biasanya diaplikasikan

pada produk pembiayaan atau pendanaan seperti pembiayaan modal kerja.

Dana untuk kegiatan mudharabah diambil dari simpanan tabungan

barjangka seperti tabungan haji atau tabungan kurban. Dana juga dapat
        6
            Muhammad, Manajemen Bank Syari'ah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 1989,
hlm. 109.
        7
            Ibid, hlm 106-107.
                                                                                 5




dilakukan dari deposito biasa dan deposito spesial yang dititipkan nasabah

untuk usaha tetentu.8

        Untuk memenuhi kebutuhan modal dan pembiayaan tersebut, Bank

Syari’ah memiliki ketentuan-ketentuan yang berbeda dengan bank

konvensional. Secara umum piranti-piranti yang digunakan Bank Syari’ah

terdiri atas tiga kategori, yaitu produk penghimpunan dana, produk

penyaluran dana dan produk jasa9.

        Prinsip operasional Bank Syari’ah yang di terapkan dalam produk

penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip wadi’ah dan mudharabah.

Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan

bertindak sebagai shohibul maal (pemilik modal) dan bank sebagai

mudharib (pengelola)10.

        Sama halnya dengan produk perbankan konvensional, produk

perbankan syari’ah di bidang penghimpunan dana yang dipercayakan oleh

masyarakat kepada bank bardasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam

bentuk Giro, Deposito, Sertifikat Deposito, Tabungan dan atau bentuk

lainya yang dipersamakan dengan itu.

        Implementasi prinsip syari’ah dalam produk giro menggunakan

akad    wadi’ah     maupun     akad     mudharabah       dan    deposito    hanya

menggunakan akad mudharabah (bagi hasil) karena produk deposito ini

memang di tujukan sebagai sarana investasi. Sedangkan tabungan nasabah
        8
           Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainya, Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 2005, hlm.184-185.
         9
           Heri Sudarsono, Bank Dan Lembaga Keuangan Syari’ah, Yogyakarta :
Ekonisia 2004, hlm.56.
         10
           Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004, hlm. 97.
                                                                          6




bisa memilih untuk menggunakan akad wadi’ah atau mudharabah (bagi

hasil)11.

        Produk penghimpunan dana dengan menerapkan akad mudharabah

tersebut telah diterapkan di Bank Syari’ah. Di mana dalam penerapan

produk ini dapat mendatangkan manfaat bagi bank dan nasabah. Bank

dapat memperluas nasabah dan atau memperoleh loyalitas nasabah di

samping mendapatkan keuntungan atau margin. Sedangkan nasabah akan

mendapatkan       mata   uang   yang   di   perlukan     untuk   kepentingan

bertransaksi.12

        Bank Syari’ah Mandiri hadir di kota Kudus karena melihat pangsa

pasarnya yang besar. Bank Syari’ah Mandiri sendiri hadir sebagai bank

yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang

melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai

rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri,

juga sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia13.

        Akan tetapi ada asumsi sebagian masyarakat di wilayah Kudus

yang masih meragukan dengan adanya penerapan akad mudharabah

terhadap produk penghimpunan dananya apakah memang penerapan

tersebut tidak akan tercampur dengan produk dari bank konvensional,

apalagi dalam sejarahnya Bank Syari’ah Mandiri (BSM) Divisi Usaha

Syari’ah bahkan ikut dalam kredit sindikasi proyek Indosat Multimedia

        11
            Adbul Ghofur Anshori, Penerapan Prinsip Syari’ah Dalam Lembaga
Keuangan Lembaga Pembiayaan Dan Perusahaan Pembiayaan, Jogyakarta : Putaka
Pelajar, 2008, hlm. 19-23.
          12
            Ibid, hlm.33.
          13
            Http://syariahmandiri.co.id
                                                                        7




Mobil (IM3) dan akan memperoleh bunga atas pembiyaan tersebut 19%

per-tahun (RepublikaOnline, 8/8/2002). Padahal, transaksi yang terkait

dengan bunga adalah suatu transaksi yang tidak dapat dilakukan oleh

sebuah bank syari’ah14.

       Dengan adanya permasalahan di atas apakah Bank Syari’ah

Mandiri mampu mengembangkan dan merealisasikan produk syari’ahnya,

terutama Bank Syari’ah Mandiri yang ada di kota Kudus apalagi di sisi

lain kota Kudus dikenal sebagai kota santri yang bernuansa Islami, dalam

hal ini bagaimana Bank Syari’ah Mandiri Kudus mampu menerapkan akad

mudharabah terhadap produk penghimpunan dananya serta bagaimana

dampak dari akad tersebut, selain itu bagaimana Bank Syari’ah Mandiri

mampu menarik kepercayaan dari masyarakat bahwa di Bank Syari’ah

Mandiri pada umumnya dan Bank Syari’ah Mandiri yang ada di kota

Kudus pada khususnya, semua produknya benar-benar menerapkan akad

yang sesuai dengan Syari’ah Islam.

       Berdasarkan perspektif diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti

tentang Implementasi Akad Mudharabah Serta Dampaknya Terhadap

Produk Penghimpunan Dana Di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.




       14
        Http://Economy okezone.com
                                                                           8




B. Rumusan Masalah

          Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka dapat

   dirumuskan identifikasi permasalahan sebagai berikut:

   1. Bagaimana     penerapan        akad     mudharabah    terhadap   produk

      penghimpunan dana di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.

   2. Bagaimana     dampak    dari     akad    mudharabah   terhadap   produk

      penghimpunan dana di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.

   3. Faktor- faktor apa saja yang mendukung dan menghambat penerapan

      akad mudharabah terhadap perkembangan produk penghimpunan dana

      di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.


C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

          Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

   1. Untuk memberikan bukti empiris bagaimana penerapan akad

      mudharabah terhadap produk penghimpunan dana di Bank Syari’ah

      Mandiri Kudus.

   2. Untuk memberikan bukti empiris Bagaimana dampak dari akad

      mudharabah terhadap produk penghimpunan dana di Bank Syari’ah

      Mandiri Kudus.

   3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam

      penerapan akad mudharabah serta bagaimana perkembangan produk

      penghimpunan dana di Bank Syari’ah Mandiri Kudus.
                                                                       9




       Manfaat dari penelitian ini adalah:

A. Manfaat Teoritis.

          Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

   yang bernilai ilmiah bagi pengembangan khazanah ilmu pengetahuan.

B. Manfaat Praktis

   1. Bagi Instasi (Bank Syari’ah Mandiri Kudus)

              Kegunaan bagi instasi hasil dari analisis ini akan dapat

       memberikan pengertian kepada masyarakat luas bahwa Bank

       Syari’ah Mandiri Kudus adalah salah satu bank yang benar-benar

       bebas dari unsur riba karena Bank Syari’ah Mandiri Kudus ini

       menerapkan sistem bagi hasil untuk kesejahteraan masyarakat.

   2. Bagi Masyarakat

              Memberikan pelayanan kepada masyarakat karena dalam

       setiap kegiatan usaha di Bank Syari'ah Mandiri Kudus berdasarkan

       prinsip syari’ah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam

       lalu lintas pembayaran masyarakat tanpa adanya unsur riba karena

       Bank Syari’ah Mandiri Kudus ini hanya menggunakan sistem

       kerjasama dengan akad bagi hasil dan menjadikan masyarakat

       lebih mengenal nilai-nilai dari ajaran agama Islam.
                                                                                    10




D. Tinjauan Pustaka

          Terdapat beberapa karya yang penulis jumpai yang membahas

   tentang bagaimana penerapan dalam pembiayaan di bank syari'ah

   menggunakan akad mudharabah (bagi hasil) Diantaranya yaitu dalam

   penelitianya Muchammad Fuuzi, SE,MM denagan judul penelitianya “

   Implementasi Prinsip Syari’ah Pada Perbankan Syari’ah Di Kota

   Semarang “. Bahwa Bank Indonesia telah mengkaji standarisasi produk

   perbankan syari’ah, diawali dari akad mudharabah, musyarakah dan

   murabahah, yang ditujukan untuk mengidentifikasi penerapan prinsip

   syari’ah dan kemungkinan variasinya dalam praktek, yang hasil

   kesimpulan dijelaskan bahwa implementasi prinsip syari’ah kurang efektif

   diterapkan dalam praktek pembiayaan bank syari’ah.15

          Dalam buku Masalah Besar Bank Syari’ah karya Hendy Hendarto

   bahwasanya prinsip syari’ah dalam operasi perbankan syari’ah merupakan

   agenda yang sangat penting bagi perbankan nasional. Standarisasi produk

   produk perbankan syari’ah di awali dengan mengkaji akad mudharabah,

   musyarakah dan murabahah yang di tujukan untuk mengidentifikasi

   penerapan prinsip syari’ah, dalam penerapan prinsip syari’ah tersebut

   perbankan syari’ah menerapkan          pada semua produknya diantaranya

   dalam produk penghimpunan dananya.16

          Dalam skripsi saudari Aenul Mardiyah Nim. 2101239 Fakultas

   Syari'ah IAIN Walisongo Semarang 2006 judul " Tinjauan Hukum Islam

          15
           Muhammad Fauzi, Loc cit, hlm. 50
          16
           Hendy Hendarto, Masalah Besar Bank Syari’ah, Republika: 2005, hlm. 15.
                                                                            11




Terhadap Agunan Tambahan Dalam Pembiayaan Mudharabah Analisis

Terhadap Pasal 8 UU No. 10 tahun 1998". Hasil penelitiannya dapat

disimpulkan: Bahwa ciri khas pembiayaan mudharabah adalah adanya

saling percaya yang tinggi antara nasabah pembiayaan dan bank. Pada

prinsipnya pembiayaan mudharabah orang yang menerimanya tidak

berkewajiban untuk menjamin kerugian atau kehilangan dari harta modal

mudharabah bila tidak ada unsur kesengajaan. Namun bila kerugian terjadi

karena karakter buruk nasabah maka shohibul maal tidak perlu

menanggung kerugian.17

       Dalam skripsi saudara Widiyanto Nim. 2101200 Fakultas Syari'ah

IAIN Walisongo Semarang 2006 judul " Praktek Bagi Hasil Dalam

Investasi Mudharabah Studi Kasus BMT Tumang Boyolali ". Hasil

penelitiannya dapat disimpulkan: Bahwa dengan adanya BMT yang

mempraktekkan akad mudharabah dalam hal investasinya menjadikan

masyarakat sekitar Tumang tidak kawatir lagi dengan lembaga keuangan

syari’ah yang memberikan modal usahanya, hal ini di buktikan dengan

adanya beberapa nasabah yang memulai usahanya melalui modal dari

BMT.18

       Dalam penelitianya Hardiwinoto 2004 dengan judul analisis

“Faktor-Faktor    Yang    Mempengaruhi       Minat    Perusahaan     Terhadap


       17
          Aenul Mardiyah, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Agunan Tambahan Dalam
Pembiayaan Mudharabah Analisis Terhadap Pasal 8 UU No. 10 tahun 1998, Semarang:
Perpustakaan Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang 2006.
        18
          Widiyanto, Praktek Bagi Hasil Dalam Investasi Mudharabah Studi Kasus
BMT Tumang Boyolali, Semarang: Perpustakaan Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo
Semarang 2006.
                                                                              12




Beroperasinya Perbankan Syari’ah Di Kota Semarang”. Dengan hasil

penelitianya dapat di simpulkan : Bahwa dalam perbankan syari’ah produk

penghimpunan dana harus bebas dari unsur riba, unsur gharar dan maisir

yang mengakibatkan unsur meragukan (subhat), akan tetapi harus sesuai

dengan akad mudharabahnya (profit loss sharing) yang mendasari dalam

setiap transaksi kerjasamanya. Pada Pembiayaan di Bank Syari’ah didasari

prinsip bagi hasil (Profit and Lost Sharing Principle) yang penerapannya

pada produk pembiayaan dan pendanaan. Karena penerapan prinsip bagi

hasil apabila dibandingkan dengan penggunaan prinsip bunga yang ada

selama ini memiliki perbedaan yang signifikan. Salah satunya yaitu

menyangkut resiko yang timbul dari penerapan prinsip itu sendiri.19

        Dari beberapa hasil penelitian yang ada, terlihat bahwa di dalam

bank syari'ah itu lebih berorientasi pada pemenuhan kemaslahatan hidup

umat manusia, selain itu bank syari’ah juga sebagai badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

menyalurkan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup

rakyat banyak.

        Dari beberapa hasil penelitian yang ada, terlihat bahwa ada

kedekatan judul dengan judul penelitian yang peneliti lakukan. Letak

perbedaanya ada pada titik tekan yang peneliti rumuskan. Peneliti menitik

beratkan pada upaya untuk mengimplementasikan akad mudharabah serta

dampaknya terhadap produk penghimpunan dana di perbankan syari’ah.
        19
          Hardiwinoto, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Perusahaan
Terhadap Beroperasinya Perbankan Syari’ah Di Kota Semarang, Tesis Progam Magister
Akuntansi Undip 2004, Tidak di Publikasikan.
                                                                                    13




E. Metodelogi Penelitian

           Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas, maka peneliti

   akan fokuskan penelitianya pada:

   1. Fokus Penelitian

                Penelitian ini memfokuskan pada seputar penerapan akad

       mudharabah terhadap produk penghimpunan dana di Bank Syari’ah

       Mandiri Kudus sekaligus mengetahui faktor-faktor yang mendukung

       dan menghambat untuk menerapakan akad mudharabah terhadap

       perkembangan produk penghimpunan dana di Bank Syari’ah Mandiri

       Kudus.

   2. Pendekatan Penelitian

                Ditinjau dari segi metodologik, penelitian ini merupakan jenis

       penelitian kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan penelitian

       kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Lexy J.

       Moleong adalah: Suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data

       deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan

       prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan

       individu tersebut secara holistik (utuh).20

                Metode penelitian kualitatif juga sering disebut metode

       penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi

       yang alamiah (natural setting)21.


          20
            Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
   Rosdakarya, 2002, Cet. XVII, hlm. 3.
          21
            Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
   Dan R&D, Bandung: CV. Alfabeta, 2008, Cet. IV, hlm. 14.
                                                                                 14




3. Metode Pengumpulan Data

            Dalam pengumpulkan data pada penelitian ini, peneliti akan

    menggunakan beberapa metode yaitu :

    a. Observasi

                Metode ini diartikan sebagai suatu aktivitas yang sempit,

        yakni memperhatikan sesuatu dengan mata22. Dalam kaitannya

        dengan pengumpulan data, metode ini akan dilakukan dengan

        pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang terjadi pada

        obyek penelitian seperti dengan cara mengamati keadaan sekitar

        BSM, proses pelayanan pada nasabah, serta fasilitas yang ada di

        BSM tersebut.

    b. Wawancara (Interview)

                Menurut Esterberg (2002), dalam Sugiyono23 “ Wawancara

        merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide

        melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam

        suatu topik.” Ia juga mengemukakan beberapa macam wawancara,

        yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur.

                Dalam wawancara ini peneliti menggunakan Wawancara

        semiterstruktur.      Tujuannya        adalah      untuk      menemukan

        permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak

        wawancara diminta pendapat dan ide-idenya.24 Dalam wawancara


        22
          Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 1986, hlm128.
        23
          Sugiyono, Op,cit., hlm. 317.
        24
          Ibid., hlm. 320.
                                                                         15




      ini peneliti langsung melakukan tanya jawab dengan nara sumber,

      antara lain kepada pengelola seperti Manajer dan Back Office yang

      ada di Bank Syari’ah Mandiri Kudus beserta sebagian nasabah

      BSM Kudus.

   c. Dokumentasi

               Metode      dokumentasi   adalah   catatan   peristiwa   baik

      berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental. 25 Metode

      ini digunakan untuk menguatkan data-data yang telah didapatkan.

      Adapun dokumen-dokumen tersebut diperoleh dari Bank Syari’ah

      Mandiri Kudus berupa dokumen-dokumen tertulis serta gambar

      kegiatan yang ada di BSM Kudus.


4. Teknik Analisis Data

           Menurut Bogdan dalam Sugiyono26 “Analisis Data adalah

   proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh

   dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

   sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan

   kepada orang lain”.

           Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data

   deskriptif dan teknik analisis SWOT, dimana peneliti menggambarkan

   tentang kekuatan, kelemahan, peluang juga ancaman yang ada di Bank

   Syari’ah Mandiri Kudus. Sedangkan teknik analisis data deskriptif

   yaitu suatu analisis yang bersifat mendeskripsikan makna data atau
      25
        Ibid., hlm. 329.
      26
        Ibid., hlm. 334.
                                                                                16




      fenomena yang dapat ditangkap oleh peneliti, dengan menunjukkan

      bukti-buktinya.27

               Teknik ini digunakan untuk mendeskripsikan data-data yang

      peneliti kumpulkan baik data hasil wawancara, observasi maupun

      dokumentasi, selama mengadakan penelitian di Bank Syari'ah Mandiri

      Kudus.


F. Sistematika Penulisan

      Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :

   1. Bagian awal, meliputi          : Halaman     judul,    nota   pembimbing,

                                      halaman      pengesahan, halaman motto,

                                      halaman kata pangantar, halaman daftar

                                      isi, dan halaman daftar lampiran.

   2. Bagian isi, meliputi :

      Bab I                             : Pendahuluan yang meliputi ; alasan

                                      pemilihan     judul,   rumusan     masalah,

                                      tujuan penelitian, manfaat penelitian,

                                      tinjauan pustaka, metodologi penelitian

                                      dan sistematika penulisan skripsi.

      Bab II                          : Pembahasan umum tentang topik atau

                                      pokok bahasan yang berisi ; prinsip

                                      operasional Bank Syari’ah, pengertian

                                      akad mudharabah, macam-macam akad
          27
              Muhammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung: Angkasa, 1993,
   cet.10, hlm. 161.
                                                  17




          mudharabah, faktor yang mempengaruhi

          bagi     hasil,       Pengertian     produk

          penghimpunan      dana,     serta   Macam-

          macam produk penghimpunan dana.

Bab III   : Gambaran umum objek penelitian yang

          meliputi:    Gambaran       Umum      BSM

          Indonesia,   Gambaran       Umum      BSM

          Kudus,       Profil    Kabupaten     Kudus,

          Penerapan    Akad       Mudharabah    Serta

          Dampaknya             Terhadap       Produk

          Penghimpunan Dana di BSM Kudus,

          Faktor-Faktor          Pendukung       Dan

          Penghambat            Penerapan       Akad

          Mudharabah Terhadap Perkembangan

          Produk Penghimpunan Dana di BSM

          Kudus.

Bab IV    :Pembahasan bab ini meliputi: Analisis

          Penerapan    Akad       Mudharabah    Serta

          Dampaknya             Terhadap       Produk

          Penghimpunan Dana di BSM Kudus,

          Analisis Faktor-Faktor Pendukung Dan

          Penghambat            Penerapan       Akad

          Mudharabah Terhadap Perkembangan
                                                        18




                   Produk Penghimpunan Dana di BSM

                   Kudus.

   Bab V          : Dalam bab ini berisi Kesimpulan, Saran-

                   saran dan Penutup

3. Bagian akhir   : Pada bagian akhir skripsi ini berisi :

                   Daftar Pustaka, Daftar        lampiran-

                   lampiran, serta Daftar riwayat hidup

                   penulis.
                                                                             1




                                    BAB II

     TINJAUAN UMUM AKAD MUDHARABAH DAN PRODUK

                           PENGHIMPUNAN DANA


A. Prinsip Operasional Bank Syari’ah

           Ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang

   mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang di ilhami oleh nilai-

   nilai Islam. Dengan demikian mengatur prilaku manusia untuk memenuhi

   kebutuhan hidupnya dengan sistem Islam.

           Tidak seperti pada ekonomi konvensional ilmu ekonomi Islam di

   ilhami dengan nilai-nilai ketuhanan. Keyakinan akan Tuhan ini membuat

   ekonomi Islam ini tidak bebas nilai. Orientasi waktunya tidak terbatas

   hanya di dunia saja, melainkan sampai di akhirat. Oleh karenanya ilmu

   ekonomi Islam, mempertanggung jawabkanya didunia dan akhirat.1

           Bank Syari’ah Mandiri (BSM) adalah salah satu bank umum milik

   pemerintah yang beroperasi sesuai dengan nilai ajaran agama Islam.

   Dalam menjalankan usahanya, BSM tidak dapat dipisahkan dari prinsip-

   prinsip syari’ah yang mengatur produk dan operasionalnya. Sebagai suatu

   bank yang berlandaskan pada syari’ah Islam, Bank Syari’ah dalam

   menjalankan kegiatan usaha tersebut tidak menggunakan teknik-teknik

   finansial dengan sistem bunga (interest free) seperti pada bank

   konvensional, melainkan dengan sistem bagi hasil atau yang disebut


           1
            Muhammad Ridwan, Konstruksi Bank Syari’ah Indonesia, Yogyakarta: UII
   Press, 2005, hlm. 25.
                                                                                               2




dengan profit and loss sharing principle, dengan teknik-teknik finansial

yang semata-mata didasarkan pada prinsip agama Islam.2

         Adapun prinsip dari agama Islam dalam menjalankan aktivitas

keuangan dan perbankan Islam dapat di pandang sebagai wahana bagi

masyarakat modern untuk membawa mereka kepada pelaksanaan dua

ajaran al-Qur’an yaitu:

1.     Prinsip at-Taawun, yaitu prinsip saling membantu dan saling
     bekerjasama         diantara       anggota        masyarakat         untuk       kebaikan,
     sebagaimana telah dinyatakan dalam al Qur’an:
                                          ِ       ََ ِّ                   َ َ ِ َ
     ‫َيا أاّيها الّذين آامُنوا َلا ُتحلوا شعائَِر اللّحه َوَلا الشحهَر اْلححَرام َوَلا‬
            َ َ ْ ّ
      ْ ِ َ ْ ِ ً ْ َ َ ُ َ َ َ
     ‫الْه حدي َوَلا اْلقلائِد َوَلا آامي حن الَْبْي حت الْح حَرام َيْبَتغححون فض حلا م حن رّبه حم‬
                                                                    َ ّ        َ ََ       َ ْ َ
     ‫َورضَواًنا ۚ َوإاِذا حَلْلُتم فاصطادوا ۚ َوَلا َيجرمّنكم شحَناآن َقحْوم أان صحدوكم‬
      ُْ ّ َ ْ ٍ ُ َ ْ ُ َِ ْ                                      ُ َ ْ َ ْ َ َ              ْ ِ
                                                                     ُ ْ ْ ِ َ ِ ِ ْ َ َِ
     ‫عن الْمسجد الْحَرام أان َتعَتدوا ۘ َوَتعاَوُنوا عَلى الِْبّر َوالّتقَوى ۖ َوَلا َتعححاَوُنوا‬
              َ           ٰ ْ                   َ          َ
                              ِ َِ ُ ِ َ                                 ُ ِ ُْ ِ
                  µ﴾٢﴿µ‫عَلى اْل ِإاْثم َوالْعدَوان ۚ َواتّقوا اللَّه ۖ إاِن اللَّه شديد الْعقاب‬
                                                         ّ                                        َ
     “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
     melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar
     kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
     binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang
     qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang
     yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari
     kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu
     telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah
     berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
     kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-
     halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu
     berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-
     menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
     takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
     dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
     Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”         (al
     Maidah : 2)
         2
          Cik Basir, Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah Di Pengadilan Agama
Dan Mahkamah Syari’ah, Jakarta: Kencana, 2009, hlm. 68.
                                                                                                         2




2. Prinsip menghindari al-Ikhtinas yaitu menaha uang atau dana dan
    membiarkanya menganggur (idle) dan tidak berputar dalam transaksi
    yang bermanfaat bagi masyarakat umum sebagaimana telah dinyatakan
    dalam al-Qur’an:

    ‫َيححا أاّيهححا الّ حذين آامُنححوا َلا َت حاأْكُلوا أام حَواَلكم َبْيَنك حم ِباْلَباط حل إاِّلا أان‬
     ْ          ِ ِ ْ ُ ُْ ْ ُ                                             َ َ ِ َ
                                                   ْ ُ ِ ٍ
    ‫َتكححون تِجححارًة عحن َتحَراض مْنكحم ۚ َوَلا َتقُتلُححوا أاْنفسحكم ۚ إاِن اللّحَه‬
            ّ ُْ َ ُ                   ْ                                  ْ َ َ َ َ ُ
                                                         µ﴾٢٩﴿µ ‫كان بِكم رحيما‬ً َِ ُْ َ َ

    “… hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memekan
    harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan
    yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu…” (Q.S. an
    Nisaa’ : 29)

           Perbedaan pokok antara perbankan Islam dengan perbankan

konvensional adalah adanya larangan riba (bunga) bagi perbankan Islam.

Bagi Islam, riba dilarang, sedangkan jual beli (al bai) dihalalkan.3

           Dalam menjalankan usahanya, BSM menggunakan prinsip-prinsip

yang sesuai dengan ketentuan Bank Syari’ah antara lain sebagai berikut:

1. Prinsip Bagi Hasil

                  Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi tata cara

    pembagian hasil usaha antara penyedia dana dan pengelola dana.

    pembagian hasil usaha ini dapat terjadi antara bank dengan penyimpan

    dana, maupun antara bank dengan nasabah penerima dana.4




           3
               Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, Jakarta: Pustaka
Alvabet, 2006, hlm. 11-12.
           4
            Muhammad, Manajemen Bank Syariah, Yogyakarta: UPP AMPYKPN, 1987,
hlm. 85.
                                                                                          2




           Secara umum, prinsip bagi hasil dalam perbankan syariah dapat

   dilakukan dalam dua akad utama, yaitu mudharabah dan musyarakah.

   a. Mudharabah

              Mudharabah berasal dari kata dharaba                          yang berarti

       memukul atau berjalan. Sedang yang dmaksud dengan memukul

       atau berjalan, yaitu seseorang yang memukulkan tangannya untuk

       berjalan dimuka bumi dalam mencari karunia Allah SWT.5

              Secara      umum       landasan       dasar     Syari’ah       tentang      al-
       Mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha.
       Hal ini tampak dalam ayat berikut ini :
          ِ َ ِ ْ َ َُ                   َ َ ُْ ِ ُ ُ َ ْ َ َ
       ‫... ۚ علِم أان سَيكون مْنكم مْرضىٰ ۙ َوآاخرون َيضرُبون في‬
         ِ ِ َ ِ َ َ َ ُ َ ِ ِ ْ َ ْ ِ َ ُ ِ
       ۖ ‫اْلا ْأرض َيْبَتغححون م حن فض حل اللّحه ۙ َوآاخ حرون ُيقححاتُِلون فححي س حِبيل اللّحه‬
                                                                        µ﴾٢٠﴿µ....

       Dia mengetauhi bahwa akan ada diantara kamu
       orang-orang yang sakit; dan orang-orang yang
       berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
       Allah; dan orang-orang lain yang berperang di jalan
       Allah (al-Muzzammil: 20)6

              Dalam ayat tersebut terdapat kata yadribun

       yang asal katanya sama dengan mudharabah, yakni

       dharaba          yang       berarti        mencari         pekerjaan            atau

       menjalankan usaha.




       5
           Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil (BMT), Yogyakarta:
UII Pres, 2004, hlm. 96.
         6
           Depag RI., Al-quran dan Terjemahnya, Jakarta: 1971, hlm. 29.
                                                                              2




             Dalam       surat     al-Jumuah:       10     adalah      sebagai

       berikut:

       ِ ْ َ ِْ ُ ِ                   ِ ِ َ ُ َّ ِ ِ ُ َ َ
       ‫ف إِاذا قضَيت الصلاة فاْنَتشُروا في اْلا ْأرض َواْبَتغوا من فضححل‬
                                                                         ُ ْ ِ
                           µ﴾١٠﴿µ‫اللّه َواذكُروا اللَّه كِثيًرا لَعلّكم ُتفلِحون‬
                                        َ ُ ْ ُْ َ َ
       Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah
       kamu dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah
       SWT ( Q.S al-Jumuah: 10)

             Dalam surat al-Baqarah 198: juga telah di

       jelaskan:

       َ ْ ُ َ ْ ِ ً ْ َ ُ ْ ٌ ُ ْ ُ َ َ
   ﴿µ..‫لَْي حس عَلْيك حم جَنححاح اأن َتْبَتغححوا فض حلا م حن رّبك حم ۚ ف‬
                                                                           µ﴾١٩٨

       Tidak ada dosa (halangan) bagimu untuk mencari
       karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu (Q.S
       al-Baqarah: 198)

             Dalam ayat tersebut surat al-Jumuah: 10 dan

       surat al-Baqarah 198 di jelaskan bahwa Mudharib

       sebagai enterpreneur adalah sebagian dari orang-

       orang yang melakukan (dharb) perjalanan untuk

       mencari karunia Allah SWT.7


   b. Musayarakoh-Syirkah

             Musyarakoh atau Syirkah adalah kerjasama antara kedua

       belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana masing-

       7
         Warkum sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga Terkait Bamui &
Takaful Di Indonesia, Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2004, hlm .33.
                                                                                             2




      masing pihak memberikan kontribusi dana dengan keuntungan dan

      risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.8

                Landasan dasar al Musyarakah terdapat dalam ayat sebagai

      berikut:


       َِ َ ّ ِِ
      ‫َقال ََلقد ظَلمك بِسَؤال َنعجِتك إاِلَى ٰ ن َِعاجه ۖ َوإاِن كِثيًرا من‬
                                              َ َ ْ ِ ُ َ َ َ ْ َ
             َِ          َ َ ِ                               َ ُْ ُ ْ ِ ِ َ ُ
      ‫الْخَلطحححاء لََيْبغحححي َبعضحححهم عَلحححىٰ َبعحححض إاِّلا الّحححذين آامُنحححوا َوعملُحححوا‬
                                               ٍ ْ
      ‫الصالِحات َوَقِليل ما هم ۗ َوظن داُوود أانّمحا فَتّنحاُه فاسحَتغفَر رّبحُه َوخحر‬
      ّ َ َ َْ ْ َ َ َ ُ َ ّ َ ْ ُ َ ٌ                                              ِ َ ّ
                                                                µ﴾٢٤﴿µ۩ ‫راكعا َوأاَناب‬
                                                                                 َ         ًِ َ
      “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang
      yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim
      kepada sebagian yang lain kecuali orang yang
      beriman dan mengerjakan amal shaleh” (Q.S Shaad :
      24)9

             Menurut fiqh ada dua bentuk Musyarakah, yaitu:

      1) Terjadinya             secara         otomatis           disebut         Syarikah

                Amlak.

      2) Terjadinya atas dasar kontrak disebut Syarikah

                Uqud.

           Syarikah Uqud ada 5 jenis:

           a) Syarikah Inan, dengan ciri-ciri:

                1. Besarnya penyertaan modal dari masing-

                     masing anggota harus sama.




      8
        M. Sholahuddin, Lembaga Ekonomi dan Keuangan Islam, Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2006, hlm. 29.
      9
        Depag RI, Loc cit, hlm. 735.
                                                       2




   2. Masing-masing anggota berhak penuh aktif

      dalm pengelolaan perusahaan.

   3. Pembagian      keuntungan       bisa      dilakukan

      menurut basarnya pangsa modal dan bisa

      berdasarkan             persetujuan.kerugian

      ditanggung sesuai dengan bsarnya pangsa

      modal masing-masing.




b) Syirkah Mufadhah, dengan ciri-ciri:

   1. Kesamaan      penyertaan      modal        masing-

      masing anggota.

   2. Setiap     anggota    harus       aktif      dalam

      pengelolaan usaha.

   3. Pembagian keuntungan maupun kerugian di

      bagi     menurut   pangsa   modal          masing-

      masing.

c) Syirkah Wujuh, dengan ciri-ciri:

   1. Para anggota hanya mengandalkan wibawa

      dan nama baik mereka, tanpa menyertakan

      modal.

   2. Pembagian keuntungan maupun kerugian

      ditentukan menurut persetujuan.
                                                                                           2




            d) Syirkah Adnan, dengan ciri-ciri:

                 1. Sekerja atau usahanya berkaitan.

                 2. Menerima pesanan dari pihak ketiga.

                 3. Keuntungan dan kerugian dibagi menurut

                                              perjanjian

            e) Syirkah           Mudharabah,10              bentuk         syirkah         ini

                 keuntungan dan kerugian sesuai dengan akad

                 yang telah di tentukan sebelumnya.


2. Sistem Jual Beli

            Jual beli secara etimologi berarti menukar harta dengan harta,

   sedangkan secara terminologis berarti transaksi penukaran selain

   fasilitas dan kenikmatan.11

            Prinsip jual beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya

   perpindahan kepemilikan barang. Tingkat keuntungan bank ditentukan

   di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi

   jual beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu

   penyerahan barang.

   ‫الّحذين َيحاأ ْكُلون الّرَبححا َلا َيقومححون إاِّلا كمححا َيقححوم الّحذي َيَتخّبطحُه‬
       ُ َ         ِ ُ ُ ََ                      َ ُ ُ                  َ ُ َ ِ
                          ّ ُ ِ ُ                             ْ ُ َ َٰ ّ َ َ ِ ُ َ ّ
   ‫الشْيطان من الْمس ۚ ذلِك بِاأنّهم َقاُلوا إاِنّما الَْبْيحع مْثحل الرَبححا ۗ َواأححل اللّحُه‬
            ّ َ                                َ
     ُ ْ َ َ َ َ َ َ ِ َ ْ ِ ٌَ ِ َ َ َ ْ ََ ّ ََّ َ
   ‫اْلَبْيع َوحرم الرَبا ۚ فمن جاءُه مْوعظة من رّبه فاْنَتهى ٰ فَلُه ما سَلف َوأامححرُه‬

       10
          Warkum Sumitro, Loc cit, hlm 35-36.
       11
          Ahmad Sumiyanto, Menuju Koperasi Modern, Yogyakarta: PT ISES
Consulting Indonesia, 2008, hlm.154.
                                                                             2




         َ ُ َ َ ِ ْ ُ ِ ُ َ ْ َ َ َ َ َْ ِ
   ﴾٢٧٥﴿µ‫إاَِلى اللّه ۖ َومن عاد فأاول َِٰئك أاصحاب الّنار ۖ هحم فيهححا خالِحدون‬
                                                                           µ

   “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri
   melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
   syaitan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang
   demikian      itu   adalah      disebabkan   mereka
   berkata”sesunguhnya jual beli itu sama dengan riba”
   padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan
   mengharamkan riba” (al-Baqarah : 275)12

             Ada beberapa jenis akad jual beli yang telah banyak

   dikembangkan sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan yaitu:13

   a.          Murabahah

               Murabahah adalah menjual dengan harga asal atau harga

        pokok ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati.

        Dalam prinsip Murabahah ini bank membiayai pembelian barang

        yang diperlukan nasabah dengan sistem pembayaran kemudian.

        Dalam pelaksanaanya dilakukan dengan cara bank membeli atau

        mamberi surat kuasa kepada nasabah untuk membelikan barang

        yang diperlukan atas nama bank. Selanjutnya pada saat yang sama

        bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga pokok

        ditambah sejumlah keuntungan atau mark-up untuk dibayar oleh

        nasabah pada jangka waktu tertentu, sesuai dengan kesepakatan.14

   b.          Bai’ as-Salam


        12
          Depag RI, Op.cit, hlm. 69.
        13
          Ahmad Sumiyanto, Opcit, hlm.154.
        14
          Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Yogyakarta: Ekonisia, 2002,
hlm. 100.
                                                                          2




               Bai’ as-Salam adalah pembelian barang yang di serahkan

        kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan dimuka. Prinsip

        yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dahulu jenis,

        kualitas dan jumlah barang dan hukum awal pembayaran harus

        dalam bentuk uang.

   c.          Bai’ al-Istisna

               Bai’ al-Istisna adalah bentuk khusus dari bai’ as-Salam,

        oleh karena itu ketentuan dalam Bai’ al-Istisna mengikuti

        ketentuan dan aturan bai’ as-Salam. Pengertian Bai’ al-Istisna

        adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen

        (pembuat barang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau

        sepakat lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran.

        Kesepakatan harga dapat dilakukan tawar-menawar dan sistem

        pembayaran dapat dilakukan dimuka atau secara angsuran perbulan

        atau dibelakang.15




   d.          Bai Bitsaman Ajil

               Pengertian Bai Bitsaman Ajil secara tata bahasa dapat

        diartikan sebagai pembelian barang dengan pembayaran cicilan

        atau   angsuran.     Prinsip   Bai   Bitsaman     Ajil   merupakan

        pengembangan dari prinsip Murabahah. Jadi dalam hal ini pihak

        15
          Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainya, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2005, hlm. 187-188.
                                                                            2




        bank membiayai pembelian barang yang diperlukanya atas nama

        bank. Selanjutnya pada saat yang sama bank menjual barang

        tersebut kepada nasabah dengan harga pokok ditambah sejumlah

        keuntungan atau mark-up, dimana jangka waktu serta besarnya

        angsuran berdasarkan kesepakatan bersama antara bank dengan

        nasabah.16


3. Sistem Sewa (al-Ijarah)

             Ijarah adalah lease contract di mana suatu bank atau lembaga

   keuangan menyewakan peralatan (equipment) kepada salah satu

   nasabahnya berdasarkan pembebanan biaya yang sudah ditentukan

   secara pasti sebelumnya.17

             Prinsip ini secara garis besar terbagi menjadi dua jenis yaitu :

   a.           Ijarah, sewa murni

                Seperti halnya penyewaan traktor dan alat-alat produk

        lainnya (operating lease). Dalam teknis perbankan, Bank dapat

        membeli dahulu equipment yang dibutuhkan nasabah kemudian

        menyewakan dalam waktu dan hanya yang telah disepakati kepada

        nasabah.18

   b.           Ijarah al muntahiya bit tamlik




        16
          Martono, Op cit, hlm. 102
        17
          M. Sholahuddin, Loc cit, hlm. 29.
        18
          Muhammad, Loc cit, hlm. 85.
                                                                                           3




                 Merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si

       penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa

       sewa (finansial lease).19


4. Prinsip simpanan murni (al-Wadi’ah)

            Wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak

   ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga

   dan dikembalikan kapan saja si penitip kehendaki.20

            Landasan hukum dalam al-Qur’an adalah :

   ‫َوإاِن كْنُتم عَلى ٰ سحفر َولَحم َتجحدوا كاتًِبححا فرهححان مقُبوضحة ۖ فح إِان‬
   ْ َ ٌ َ َْ ٌ َ َِ َ ُ ِ ْ ٍ َ َ َ ْ ُ ْ
                                                  َ َِ           ِ ّ َ ً ْ ُْ ُ ْ َِ
   ‫اأمن َبعضكم َبعضا فْلُيَؤد الّذي ا ْؤُتمن اأماَنَتُه َولَْيّتق اللَّه رّبُه ۗ َوَلا َتكُتموا‬
       ُ ْ              َ        ِ
   ﴾٢٨٣﴿µ‫الشهادَة ۚ َومن َيكُتمها ف إِانُّه آاثِم َقْلُبُه ۗ َواللُّه بِمححا َتعملُححون عِليحم‬
                 ٌ َ َ َْ َ                                    ٌ     َ َْ ْ َْ َ َّ
                                                                                            µ

   “Jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,
   Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
   amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa
   kepada Allah Tuhannya”(Q.S al-Baqarah: 283)

   a. Wadi’ah Yad Amanah

                 Adalah akad penitipan barang atau uang dimana pihak

       penerima tidak di perkenankan menggunakan barang atau uang

       yang di titipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau

       kehilangan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian

       penerima titipan.

   b. Wadi’ah Yad Dhamanah
       19
          Ibid, hlm. 85.
       20
         Ibid, hlm. 26.
                                                                             3




               Adalah akad penitipan barang atau uang dimana pihak

       penerima titipan dengan atau tanpa izin pemilik barang atau uang

       dapat memanfaatkan barang atau uang titipan dan harus

       bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan barang

       atau uang titipan. Semua manfaat yang diperoleh dalam

       penggunaan barang atau uang tersebut menjadi hak penerima

       titipan.21


5. Sistem non-profit

            Sistem yang sering disebut sebagai pembiayaan kebajikan ini

   merupakan pembiayaan yang bersifat sosial dan non-komersial.

   Nasabah cukup mengembalikan pokok pinjamannya saja.

            Jenis prinsip ini yaitu al-Qardh adalah pemberian harta kepada

   orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata

   lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. 22

            Dalam literatur fiqh klasik, qardh dikategorikan tathwawwu

   atau saling membantu dan bukan transaksi komersial.

            Landasan hukum dalam al-Quran adalah:

                         َِ َ َ َ َ ً ّ ُ ِ ْ ِ َ ْ َ
   ‫من ذا اّلحذي ُيقحرض اللحَه َقْرضحا حسحًنا فُيضحاعفُه َلحُه َوَلحُه أاجحر‬
   ٌ ْ
                                                                            ٌ َِ
                                                                      µ﴾١١﴿µ‫كريم‬
    “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik,
   Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia
   akan memperoleh pahala yang banyak”. (Q.S. al-Hadid :57 : 11)

       21
          Wirdyaningsih, et al. Bank Dan Asuransi Islam Di Indonesia, Jakarta:
Kencana, 2005, hlm. 103.
       22
         Makhalul Ilmi, Teori dan Praktek Mikro Keuangan Syariah: Beberapa
Permasalahan dan Alternatif Solusi, Yogyakarta: UII Press, 2002, hlm. 86.
                                                                                 3




               Qard adalah pinjaman uang. Aplikasi qard dalam perbankan

      biasanya dalam empat hal yaitu:

      a. Sebagai pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji

          diberikan pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran

          biaya perjalanan haji. Nasabah akan melunasinya sebelum

          keberangkatannya ke haji.

      b. Sebagai pinjaman tunai (Cash Advented) dari produk kartu kredit

          syari’ah, dimana nasabah diberi kelaluasaan untuk menarik uang

          tunai milik bank melalui ATM. Nasabah akan mengembalikanya

          sesuai waktu yang ditentukan.

      c. Sebagai pinjaman kepada penusaha kecil, dimana menurut

          perhitungan bank akan memberatkan si pengusaha bila diberikan

          pembiayaan dengan skema jual beli, ijarah, atau bagi hasil.

      d. Sebagai     pinjaman     kepada     pengurus     bank,    dimana     bank

          menyediakan      fasilitas   ini   untuk   memastikan      terpenuhinya

          kebutuhan pengurus bank. Pengurus bank akan mengembalikan

          dana pinjaman ini secara cicilan melalui potongan gaji.23


B. Pengertian Akad Mudharabah

          Mudharabah berasal dari kata dharb, bararti memukul atau

  berjalan, pengertian memukul atau barjalan ini lebih tepatnya adalah

  proses seseorang memukulkan kakinya dengan menjalankan usaha.

          23
            Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan, Jakarta: PT Raja
  Grafindo Persada, 2007, hlm. 106.
                                                                              3




        Secara teknis al Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara

dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh

(100%) modal, sedangkan pihak lainya menjadi pengelola. Keuntungan

usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan

dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal

apabila kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya

kerugian diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si

pengelola harus bertanggunga jawab atas kerugian tersebut.24

        Dalam literatur fiqh Mudharabah adalah kontrak antara dua pihak

dimana satu pihak yang disebut rob al-mal (Investor) mempercayakan

uang kepada pihak kedua, yang disebut mudharib, unntuk tujuan

menjalankan usaha dagang. Mudharib menyumbangkan tenaga dan

waktunya dan mengelola kongsi mereka sesuai dengan syarat-syarat

kontrak. Salah satu ciri utama dari kontrak ini adalah bahwa keuntungan,

jika ada, akan dibagi antara investor dan mudharib berdasarkan proporsi

yang telah disepakati sebelumnya. Kerugian, jika ada, akan di tanggung

sendiri oleh investor.25

        Menurut Imam Saraksi, salah seorang pakar perundangan Islam

yang dikenal dalam kitabnya “Al Mabsut” telah memberikan devinisi

mudharabah dan keterangan sebagai berikut.




       24
         Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek, Jakarta:
Gema Insani Press, hlm. 95.
       25
         Abdullah Saed, Menyoal Bank Syari’ah Kritik Atas Interpretasi Bunga Bank
Kaum Neo-Revivalis, Jakarta: Paramadina, 2004, hlm. 77.
                                                                           3




        Perkataan mudharabah adalah diambil dari perkataan “qard”

(usaha) diatas bumi. Dinamakan demikian karena mudharib (pengguna

modal orang lain) berhak untuk bekerjasama bagi hasil atas jerih payah

dan usahanya. Selain mendapatkan keuntungan ia juga berhak berhak

untuk mempergunakan madal dan menentukan tuuanya sendiri.

        Menurut istilah Syarak, mudharabah dikenal sebagai suatu akad

atau perjanjian atas sekian uang untuk di pertindakan oleh amil

(pengusaha) dalam perdagangan, kemudian keuntungan dibagikan diantara

keduanya menurut syarat-syarat yang di tetapkan terlebih dahulu, baik

dengan sama rata maupun dengan kelabihan yang satu atas yang lain.26

        Dalam transaksi dengan prinsip mudharabah harus dipenuhi

dengan rukun mudharabah yang meliputi:

1. Shahibul maal atau rabul maal (pemilik dana atau nasabah),

2. Mudharib (pengelola dana atau pengusaha atau bank),

3. Amal (usaha atau pekerjaan),

4. Ijab Qobul.27

        Secara umum landasan dasar syari’ah tentang al-Mudharabah

   lebih mencerminkan ajaran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak

   dalam ayat-ayat dan hadist berikut ini :

   a.    Al-Qur’an

                   Ayat yang berkenaan dengan mudharabah adalah sebagai
        berikut:


        26
           Wiroso, Penghimpunan Dana Dan Distribusi Hasil Usaha Bank Syari’ah,
Jakarta: PT Grasindo 2005, hlm. 33-34.
         27
            Ibid, hlm. 35.
                                                                       3




                ْ ََ ْ           َ ُ ِ َ ِ ُ ِ ٍ َ ِْ
      µ﴾٢٠﴿ۚ ‫من خْير َتجدوُه عْند اللّه هَو خْيًرا َوأاعظم أاجًرا‬

      Artinya :”… dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi
             mencari sebagian karunia Allah SWT…..” (Q.S al-
             Muzammil:20)

              Yang menjadi wajhud-dilalah (‫الدللللة‬         ‫وجلله‬   ) atau

      argumen dari surah al-Muzammil: 20 adalah adanya kata

      yadhribun yang sama dengan akar kata mudharabah yang berarti

      melakukan suatu perjalanan usaha.


b.   As-Sunnah

             Diantara hadist yang berkaitan dengan mudharabah adalah

     hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Shuhaib bahwa Nabi

     SAW bersabda:

     ‫ثلث فيهن البركة : البيع إلى أجل والمقارضة وخلط البر‬
                 (‫بالشعير للبيت ل للبيع )رواه ابن ماجه عن صهيب‬
     Artinya: “Tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual beli
              yang di tangguhkan, melakukan qiradh (memberi modal
              kepada orang lain), dan yang mencampurkan gandum
              dengan jelas untuk keluarga, bukan untuk di
              perjualbelikan.” (HR. ibn Majah dari Shuhaib).

c.   Ijma’

             Diantara Ijma’ dalam mudharabah, adanya riwayat yang

     menyatakan bahwa jama’ah dari sahabat menggunakan harta anak

     yatim untuk mudharabah. Perbuatan tersebut tidak di tentang oleh

     sahabat yang lainya.
                                                                                  3




         d.    Qiyas

                       Mudharabah di qiyaskan kepada al-Musyaqah (menyuruh

              seseorang untuk mengelola kebun). Selain di antara manusia ada

              yang miskin dan ada pula yang kaya. Disatu sisi lain, tidak sedikit

              orang miskin yang mau bekerja, tetapi tidak memiliki modal.

              Dengan demikian adanya mudharabah ditujukan antara lain untuk

              memenuhi kebutuhan kedua golongan diatas, yakni untuk

              kemaslahatan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan

              mereka.28


C. Macam-Macam Akad Mudharabah

              Prinsip bagi hasil (profit sharing) merupakan karakteristik umum

  dan landasan dasar bagi operasional bank Islam secara keseluruhan. Secara

  syari’ah prinsipnya berdasarkan kaidah al-Mudharabah. Berdasarkan

  prinsip ini bank Islam akan berfungsi sebagai mitra, baik dengan penabung

  maupun dengan pengusaha yang meminjam dana. Dengan penabung, bank

  bertindak sebagai mudharib ‘ pengelola’, sedangkan penabung bertindak

  sebagai shahibul maal ‘penyandang dana’. Antara keduanya diadakan

  akad mudharabah yang menyatakan pembagian keuntungan masing-

  masing pihak.29




              28
               Rahmat Syafei, Fiqh Muammalah, Bandung: Pustaka Ceria, 2001, hlm. 224-
  225.
              29
               Muhammad Syafi’i Antonio, op.cit, hlm. 137.
                                                                        3




       Prinsip bagi hasil dengan akad mudharabah ini dibedakan menjadi

dua jenis, yakni yang bersifat tidak terbatas (muthlaqah, unrestricted) dan

bersifat terbatas (muqayyadah, restricted).30

1. Al-Mudharabah Muthlaqah

            Mudharabah muthlaqah (investasi tidak terikat) yaitu pihak

   pengusaha diberi kuasa penuh untuk menjalankan proyek tanpa

   larangan atau gangguan apapun urusan yang berkaitan dengan proyek

   itu dan tidak terkait dengan waktu, tempat, jenis, perusahaan dan

   pelanggan. Investasi tidak terkait ini pada Bank Syari’ah diaplikasikan

   pada tabungan dan deposito.31

            Dari penerapan mudharabah muthlaqah ini dikembangkan

   produk tabungan dan deposito, sehingga terdapat dua jenis produk

   penghimpunan dana, yaitu tabungan mudharabah dan deposito

   mudharabah.

            Adapun ketentuan umum dalam produk ini adalah:

   a) Bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana mengenai

       nisbah dan tata cara pemberitahuan keuntungan dan atau

       pembagian keuntungan secara resiko yang dapat ditimbulkan dari

       penyimpanan dana. Apabila telah tercapai kesepakatan, maka hal

       tersebut harus dicantumkan dalam akad.

   b) Untuk tabungan mudharabah, bank dapat memberikan buku

       tabungan sebagai bukti penyimpanan, serta kartu ATM dan atau

       30
        Ibid hlm. 138.
       31
        Wiroso, Loc cit, hlm. 35.
                                                                             3




       alat     penarikan    lainya   kepada     penabung.      Untuk   deposito

       Mudharabah, bank wajib memberikan sertifikat atau tanda

       penyimpan (bilyet) deposito kepada deposan.

   c) Tabungan mudharabah dapat diambil setiap saat oleh penabung

       sesuai     dengan     perjanjian   yang    disepakati,     namun    tidak

       diperkenakan mengalami saldo negatif.

   d) Deposito mudharabah hanya dapat dicairkan sesuai dengan jangka

       waktu yang telah disepakati. Deposito yang diperpanjang, setelah

       jatuh tempo skan diperlakukan sama seperti deposito baru, tetapi

       bila pada akad sudah dicantumkan perpanjangan otomatis maka

       tidak perlu dibuat akad baru.

   e) Ketentuan- Ketentuan yang lain yang berkaitan dengan tabungan

       dan deposito tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan

       prinsip syari’ah.32




2. Al-Mudharabah Muqayyadah

              Jenis Mudharabah Muqayyadah ini dibedakan menjadi dua

   yaitu:

   a. Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (investasi terikat)

                 Mudharabah muqayyadah On Balance Sheet (investasi

       terikat) yaitu pemilik dana (shahibul maal) membatasi atau
       32
          Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih Dan Keuangan, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2004, Cet 2, hlm. 99-100.
                                                               3




memberi syarat kepada mudharib dalam penglolaan dana seperti

misalnya hanya melakukan mudharabah bidang tertentu, cara,

waktu dan tempat tertentu saja.33

        Jenis     mudharabah   ini   merupakan   simpanan   khusus

(restricted investment) dimana pemilik dana dapat menetapkan

syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank. Misalnya,

disyaratkan digunakan untuk bisnis tertentu, atau disyaratkan

digunakan untuk nasabah tertentu.

        Adapun kerakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai

berikut:

1) Pemilik dana wajib menerapkan syarat-syarat tertentu yang

     harus diikuti oleh bank dan wajib membuat akad yang

     mengatur persyaratan penyaluran dana simpanan khusus.

2) Bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana mengenai

     nisbah dan tata cara pemberitahuan keuntungan dan atau

     pembagian keuntungan secara resiko yang dapat ditimbulkan

     dari penyimpanan dana. Apabila telah tercapai kesepakatan,

     maka hal tersebut harus dicantumkan dalam akad.

3) Sebagai tanda bukti simpanan bank menerbitkan bukti

     simpanan khusus. Bank wajib memisahkan dana ini dari

     rekening lainya.




33
 Ibid, hlm. 36.
                                                                       4




       4) Untuk deposito mudharabah, bank wajib memberikan sertifikat

            atau tanda penyimpan (bilyet) deposito kepada deposan.34


   b. Al Mudharabah Muqayyadah Of Balance Sheet

               Mudharabah Muqayyadah Of Balance Sheet ini merupakan

       jenis mudharabah dimana penyaluran dana mudharabah langsung

       kepada pelaksana usahanya, dimana bank bertindak sebagai

       perantara (arranger) yang mempertemukan antara pemilik dana

       dengan pelaksana usaha. Pemilik dana dapat menetapkan syarat-

       syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank dalam mencari

       kegiatan usaha yang akan dibiayai dan pelaksanaan usahanya.35

               Adapun kerakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai

       berikut:

       1) Sebagai tanda bukti simpanan bank menerbitkan bukti

            simpanan khusus. Bank wajib memisahkan dana ini dari

            rekening lainya. Simpanan khusus dicatat pada pos tersendiri

            dalam rekening administrative.

       2) Dana simpanan khusus harus disalurkan secara langsung

            kepada pihak yang diamanatkan oleh pemilik dana.

       3) Bank menerima komisi atas jasa mempertemukan kedua pihak.

            Sedangkan antara pemilik dana dan pelaksana usaha berlaku

            nisbah bagi hasil.


       34
          Op cit. hlm 100-101.
       35
          Heri Sudarsono, Bank Dan Lembaga Keuangan Syari’ah, Yogyakarta :
Ekonisia 2004, hlm. 60.
                                                                                   4




                    Untuk mempermudah pelaksanaan dalam penghimpunan

         dana, biasanya diperlukan akad pelengkap. Akad pelangkap ini

         tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, namun ditujukan untuk

         mempermudah pelaksanaan pembiayaan. Meskipun tidak ditujukan

         untuk mencari keuntungan, dalam akad pelengkap ini bank

         diperbolehkan         untuk meminta       biaya-biaya       pengganti   yang

         dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Basarnya pengganti

         biaya ini sekedar untuk menutupi biaya yang benar-benar timbul.

         Salah       satu   akad     yang    benar-benar    boleh     dipakai    untuk

         penghimpunan dana adalah akad Wakalah.

                    Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah

         memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan

         pekerjaan jasa tertentu, seperti inkaso dan transfer uang. 36




D. Faktor Yang Mempengaruhi Bagi Hasil

   1. Faktor Langsung

                Diantara     faktor-faktor    langsung     (direct    factors)   yang

      mempengaruhi perhitungan bagi hasil adalah investment rate, jumlah

      dana yang tersedia, dan nisbah bagihasil (profit sharing ratio).


         36
              Op cit. hlm 101-102.
                                                                       4




   a) Investment     rate   merupakan   persentase   aktual   dana   yang

      diinvestasikan dari total dana. Jika bank menentukan invesment

      sebesar 80 persen, hal ini berarti 20 persen dari total dana

      dialokasikan untuk memenuhi liquiditas.

   b) Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah

      dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan.

      Dana tersebut bias dihitung menggunakan salah satu metode ini:

      1) Rata-rata saldo minimum bulanan,

      2) Rata-rata saldo harian.

      Investment rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk

      diinvestasikan, akan menghasilkan jumlaah dana aktual yang

      digunakan.

   c) Nisbah (profit sharing ratio)

      1)    Salah satu ciri al-Mudharabah adalah nisbah yang harus

            ditentukan dan disetujui pada awal perjanjian.

      2)    Nisbah antara satu bank dan bank lainya dapat berbeda.

      3)    Nisbah juga dapat berbeda dari waktu kewaktu dalam satu

            bank, misalnya deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12

            bulan.

      4)    Nisbah juga dapat berbeda antara satu account dan account

            lainya sesuai dengan besarnya dana dan jatuh temponya.


2. Faktor Tidak Langsung

   a) Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah
                                                                                     4




          1)    Bank dan nasabah melakukan share dalam pendapatan dan

                biaya (profit and sharing). Pendapatan yang dibagihasilkan

                merupakan pendapatan yang diterima dikurangi biaya-biaya.

          2)    Jika semua biaya ditanggung bank hal ini disebut revenue

                sharing.

      b) Kebijakan Akunting (prinsip dan metode akunting)

                  Bagi hasil secara tidak langsung dipengaruhi oleh

          berjalanya aktifitas yang diterapkan, terutama sehubungan dengan

          pengakuan pendapatan dan biaya.37


E. Pengertian Produk Penghimpunan Dana

          Penghimpunan Dana adalah suatu kegiatan usaha yang dilakukan

   bank untuk mencari dana kepada pihak deposan yang nantinya akan

   disalurkan kepada pihak kreditur dalam rangka menjalankan fungsinya

   sebagai intermediasi antara pihak deposan dengan pihak kreditur.

          Dalam Bank Syari’ah, klasifikasi penghimpunan dana yang utama

   tidak didasarkan atas nama produk melainkan atas prinsip yang digunakan.

   Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional prinsip penghimpunan dana

   yang digunakan dalam Bank Syari’ah ada dua yaitu prinsip wadi’ah dan

   prinsip mudharabah.38

          Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan

   kemampuannya menghimpun dana masysrakat, baik berskala kecil

   maupun besar dengan masa pengendapan yang memadai. Sebagai lembaga
          37
           Muhammad Syafi’i Antonio, Loc cit, hlm. 139-140.
          38
           http://blog.keuanganpribadi.com/prinsip-dasar-produk-perbankan-syariah/
                                                                           4




keuangan, masalah bank yang paling utama adalah dana. Tanpa dana yang

cukup, bank tidak dapat berbuat apa-apa, atau dengan kata lain bank

menjadi tidak berfungsi sama sekali.39

       Pada     dasarnya      bank     mempunyai    empat   alternatif   untuk

menghimpun dana untuk kepentingan usahanya, yaitu:

1. Dana Sendiri

            Meskipun untuk suatu usaha bank sendiri proporsi dana sendiri

   ini relatif kecil apabila dibandingakan dengan total dana yang

   dihimpun ataupun total aktivanya. Begitu penting proporsi dana sendiri

   ini dibuktikan dengan adanya ketentuan dari bank sentral yang

   mengtur tentang proporsi minimal modal sendiri dibanding dengan

   total nilai Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Proporsi ini

   lebih dikenal dengan istilah rasio kecukupan modal (capital adequacy

   ratio-CAR). Apabila CAR suatu bank terlalu rendah maka kemampuan

   bank tersebut untuk bertahan pada saat mengalami kerugian juga

   rendah. Modal sendiri akan dengan cepat habis untuk menutup

   kerugian, dan ketika kerugian telah melebihi modal sendiri maka

   kemampuan bank tersebut untuk memenuhi kewajiban kepada

   masyarakat       akan      semakin      diragukan.   Kemampuan        untuk

   mengembalikan dana simpanan dari masyarakat juga menjadi

   diragukan.

            Penurunan kemampuan ini sangat mungkin untuk menurunkan

   tingkat kepercayaan masyarakat pada bank tersebut, dan penurunan
       39
        Zainul Arifin, Loc cit, hlm. 47.
                                                                        4




   tingkat kepercayaan terhadap suatu bank ini selanjutnya sangat

   membahayakan kelangsungan usaha bank itu. Seperti halnya badan

   usaha lain penghimpun dana sendiri ini antara lain dapat berupa modal

   disektor, dana dari penjualan di bursa efek, akumulasi laba ditahan,

   cadangan-cadangan dan agio saham.

2. Dana dari Deposan

          Pada dasarnya sumber dana dari masyarakat dapat berupa giro

   (demand deposit), tabungan (saving deposit), dan deposito berjangka

   (time deposit) yang berasal dari nasabah perorangan atau badan.

3. Dana Pinjaman

          Dana     pinjaman   yang   diperoleh    bank   dalam       rangka

   menghimpun dana antara lain dapat berupa:




   a) Call Money

              Call money merupakan yang dapat diperoleh bank berupa

      pinjaman jangka pendek dari bank lain melalui interbank call

      money market.

   b) Pinjaman Antar Bank

              Berbeda dengan call money, pinjaman ini dilakukan bukan

      untuk memenuhi kebutuhan dana mendesak dalam jangka pendek,

      melainkan untuk memenuhi suatu kebutuhan dana yag lebih
                                                                        4




       terencana dalam rangka pengembangan usaha atau meningkatkan

       penerimaan bank.

   c) Kredit Liquiditas Bank Indonesia

                Seperti dengan namanya Kredit liquiditas bank Indonesia

       (KLBI) adalah kredit yang diberikan oleh Bank Indonesia terutama

       kepada bank yang sedang mengalami liquiditas.


4. Sumber Dana lain

             Selain dapat berasal dari dana sendiri, dana dari deposan, dan

   dana pinjaman, sumber penghimpunan dana dapat juga barasal dari

   sumber-sumber lain yang tidak dapat digolongkan dalam jenis dana

   diatas.    Sumber    dana   lain   yang   berkembang    sesuai   dengan

   perkembangan usaha perbankan dan perekonomian secara umum.

   Sumber-sumber tersebut antara lain:




   a) Setoran Jaminan

                Setoran Jaminan atau sering disingkat dengan storjam

       merupakan sejumlah dana yang wajib diserahkan oleh nasabah

       yang menerima jasa-jasa tertentu dari bank. Nasabah tersebut perlu

       menyerahkan storjam karena jasa-jasa yang diberikan oleh bank

       mengandung resiko financial yang ditanggung oleh pihak bank.

       Dengan adanya storjam, nasabah diharapkan mempunyai sikap

       komitmen untuk berprilaku positif sehingga dikemudian hari bank
                                                                                 4




          tidak harus mengalami kerugian karena menanggung resiko yang

          timbul.

      b) Dana Transfer

                    Salah satu yang diberikan bank adalah pemindahan dana.

          Pemindahan dana bisa berupa pemindahbukuan antar rekening,

          dari uang tunai kesuatu rekening, atau dari suatu rekening untuk

          kemudian ditarik tunai.

      c) Surat Berharga Pasar Uang

                    Salah satu akibat dari serangkaian paket deregulasi

          perbankan sejak tahun 1980an adalah diperkanalkanya Surat

          Berharga Pasar Uang (SBPU) sebagai salah satu instrumen yang

          dipergunakan pihak bank untuk menghimpun dana.




      d) Diskonto Bank Indonesia

                    Fasilitas diskonto adalah penyediaan janka pendek oleh

          Bank Indonesia dengan cara pembelian promes yang diterbitkan

          oleh bank-bank atas dasar diskonto.40


F. Macam-Macam Produk Penghimpunan Dana

          Pada bank konvensional penghimpunan dana dari masyarakat yang

  dilakukan dalam bentuk Tabungan, Deposito dan Giro yang lazim disebut
          40
             Sigit Triandaru Dan Totok Budi Santoso, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain,
  edisi2, Jakarta: Salemba Empat, 2006, hlm. 96-100.
                                                                            4




dana pihak ketiga. Dalam Bank Syari’ah penghimpunan dana dari

masyarakat yang dilakukan tidak membedakan nama produk, tetapi

melihat pada prinsip, yaitu prinsip wadi’ah dan prinsip mudharabah.

Apapun      nama     produk,     yang    diperhatikan   adalah   prinsip   yang

dipergunakan atas produk tersebut, karena hal ini sangat terkait dengan

besaran hasil usaha yang akan diperhitungkan dalam pembagian hasil

usaha yang akan diperhitungkan dalam pembagian hasil usaha yang akan

dilakukan antara pemilik dana atau deposan (shahibul maal) dengan Bank

Syari’ah sebagai mudharib. 41

       Implementasi akad mudharabah pada produk penghimpnan dana

dalam produk giro, deposito, sertifikat deposito, dan tabungan adalah

sebagai berikut:




1. Giro

            Produk Giro ini dapat menggunakan akad wadi’ah maupun

   mudharabah. Giro yang menggunakan akad wadi’ah didalamnya,

   maka pihak bank selaku penerima titipan dana dapat menggunakan

   dana titipan tersebut yang dipakai akad wadiah ad-dhamanah, sehigga

   biasanya bank akan memberkan imbalan kepada nasabah penyimpan

   sejumlah bonus yang besarnya sesuai dengan kebijakan bank dan tidak

   diperjanjikan diawal. Sedangkan dalam hal bank menggunakan akad


       41
          Wiroso, Loc cit, hlm. 19-20.
                                                                       4




   mudharabah dalam operasionalnya maka didalamnya terdapat

   penentuan nisbah bagi hasil antara bank dan nasabah diawal perjanjian.

            Pada Giro Wadi’ah nasabah terhindar resiko kehilangan atau

   berkurangnya dana yang disimpan jadi lebih sefety, sedangkan pada

   Giro Mudharabah nasabah menanggung resiko berkurangnya dana

   yang disimpan dan sekaligus peluang untuk mendapatkan keuntungan

   financial dengan mendapatkan kompensasi berupa bagi hasil yang

   besarnya sesuai dengan nisbah sebagaimana telah diperjanjikan diawal.

2. Deposito

            Produk Deposito karena memang ditujukan sebagai sarana

   investasi, maka dalam praktik perbankan syari’ah hanya digunakan

   akad mudharabah. Melalui akad mudharabah ini pada awal perjanjian

   sudah ditentukan berapa nisbah bagi hasil baik bagi pihak nasabah

   maupun bagi pihak Bank Syari’ah sendiri.



3. Tabungan

            Seperti halnya pada produk giro, maka dalam produk tabungan

   ini nasabah dapat memilih untuk menggunakan akad wadi’ah atau

   mudharabah. Keuntungan maupun resiko yang ada sama halnya

   dengan giro, sedangkan perbedaanya terletak pada mekanisme

   pengambilan dana yang disimpan oleh nasabah.42



       42
           Adbul Ghofur Anshori, Penerapan Prinsip Syari’ah Dalam Lembaga
Keuangan Lembaga Pembiayaan Dan Perusahaan Pembiayaan, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2008, hlm. 19-20.
                                                                    5




       Dalam Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor 02/DSN-

MUI/IV/2000 tertanggal 1 April 2000 tentang Tabungan memberikan

landasan syari’ah dan ketentuan tentang Tabungan Mudharabah adalah

sebagai berikut:

A.    Landasan Syari’ah Tentang Tabungan Mudharabah

      Firman Allah Q.S Annisa : 29

                       
                  
                          
                           
                      
                          
                                          
      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan
      (mengambil) harta sesame dengan jalan yang bathil, kecuali dengan
      jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu. 43


B.    Adapun Ketentuan Tentang Tabungan Mudharabah, yakni sebagai

      berikut:

      1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal

            atau pemilik dana dan bank bertindak sebagai mudharib atau

            pengelola dana.

      2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan

            berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip

            syari’ah dan mengembangkanya termasuk mudharabah dengan

            pihak lain.

      3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai

            dan bukan piutang



       43
         Wiroso, Loc cit, hlm.47.
                                                                         5




     4. Pembagian piutang harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan

            dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

     5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan

            dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya

     6. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan

            nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan

       Tabungan       mudharabah       merupakan   tabungan   dengan   akad

mudharabah diman pemilik dana (shahibul maal) mempercayakan

dananya untuk dikelola bank (mudharib) dengan bagi hasil sesuai dengan

nisbah yang di sepakati sejak awal.44

       Sedangkan dalam Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor

02/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 1 April 2000 tentang Deposito

memberikan       landasan   syari’ah    dan   ketentuan   tentang   Deposito

Mudharabah adalah sebagai berikut:

A. Landasan Syari’ah Tentang Deposito Mudharabah

   Firman Allah Q.S al-Baqarah : 283

         
    
             
                             
                                
          
   Maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,
   hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah
   ia bertakwa kepada Allah.45

B. Adapun Ketentuan Tentang Deposito Mudharabah, yakni sebagai

   berikut:


       44
        Ibid. hlm. 49.
       45
        Ibid, hlm. 54-55.
                                                                   5




   1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau

       pemilik dana dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola

       dana.

   2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan

       berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip

       syari’ah dan mengembangkanya termasuk mudharabah dengan

       pihak lain.

   3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai dan

       bukan piutang.

   4. Pembagian piutang harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan

       dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

   5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito

       dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

   6. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan.

       Deposito ini dijalankan dengan prinsip mudharabah muthlaqah

karena pengelolaan dana deposito sepenuhnya menjadi tanggung jawab

mudharib (bank).

       Deposito mudharabah merupakan simpanan dana dengan akad

mudharabah dimana pemilik dana (shahibul maal) mempercayakan

dananya untuk dikelola bank (mudharib) dengan bagi hasil sesuai dengan

nisbah yang disepakati sejak awal.

       Semua permintaan pembukaan deposito mudharabah harus

dilengkapi dengan suatu akad atau kontrak atau perjanjian yang berisi
                                                                     5




antara lain, nama dan alamat shohibul maal, jumlah deposito, jangka

waktu, nisbah pembagian keuntungan, cara pembayaran bagi hasil dan

pokok pada saat jatuh tempo serta syarat-syarat lain deposito mudharabah

yang lain.46




       46
         Ibid, hlm. 56-57.
                                                                        53




                               BAB III

          GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN


A. Gambaran Umum BSM Indonesia

  1. Sejarah Berdirinya BSM Indonesia

            Krisis moneter dan ekonomi sejak Juli 1997, yang disusul

     dengan krisis politik nasional telah membawa dampak besar dalam

     perekonomian    nasional.   Krisis   tersebut   telah   mengakibatkan

     perbankan Indonesia yang didominasi oleh bank-bank konvensional

     mengalami    kesulitan    yang   sangat   parah.   Keadaan    tersebut

     menyebabkan pemerintah Indonesia terpaksa mengambil tindakan

     untuk merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di

     Indonesia.

            Dengan adanya tindakan pemerintah untuk merestrukturisasi

     dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia, maka lahirnya

     Undang-Undang No. 10 tahun 1998, tentang Perubahan atas Undang-

     Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, pada bulan November

     1998 telah memberi peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-

     bank syari’ah di Indonesia. Undang-Undang tersebut memungkinkan

     bank beroperasi sepenuhnya secara syari’ah atau dengan membuka

     cabang khusus syari’ah.

            Salah satu bank yang mulai merintis kegiatanya berdasarkan

     prinsip syari’ah adalah PT Bank Susila Bakti (PT Bank Susila Bakti)

     yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank
                                                              54




Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi berupaya keluar dari krisis

1997 – 1999 dengan berbagai cara. Mulai dari langkah-langkah

menuju merger sampai pada akhirnya memilih konversi menjadi Bank

Syariah dengan suntikan modal dari pemilik.

       Dengan terjadinya merger empat bank (Bank Dagang Negara,

Bank Bumi Daya, Bank Exim dan Bapindo) ke dalam PT Bank

Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999, rencana perubahan PT

Bank Susila Bakti menjadi Bank Syariah dengan nama Bank Syariah

Sakinah dan diambil alih oleh PT Bank Mandiri (Persero).

       PT Bank Mandiri (Persero) selaku pemilik baru mendukung

sepenuhnya dan melanjutkan rencana perubahan PT Bank Susila Bakti

menjadi bank syariah, sejalan dengan keinginan PT Bank Mandiri

(Persero) untuk membentuk unit syariah. Langkah awal dengan

merubah Anggaran Dasar tentang nama PT Bank Susila Bakti menjadi

PT Bank Syariah Sakinah berdasarkan Akta Notaris: Ny. Machrani

M.S. SH, No. 29 pada tanggal 19 Mei 1999. Kemudian melalui Akta

No. 23 Tanggal 8 September 1999 Notaris: Sutjipto, SH nama PT

Bank Syariah Sakinah Mandiri diubah menjadi PT Bank Syariah

Mandiri.

       Pada tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia melalui Surat

Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 1/24/KEP.BI/1999 telah

memberikan ijin perubahan kegiatan usaha konvensional menjadi

kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah kepada PT Bank Susila
                                                                             55




   Bakti. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior

   Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/1999 tanggal 25 Oktober 1999,

   Bank Indonesia telah menyetujui perubahaan nama PT Bank Susila

   Bakti menjadi PT Bank Syariah Mandiri.

          Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau bertpatan dengan tanggal 1

   November 1999 merupakan hari pertama beroperasinya PT Bank

   Syariah Mandiri. Kelahiran Bank Syariah Mandiri merupakan buah

   usaha bersama dari para perintis Bank Syariah di PT Bank Susila Bakti

   dan Manajemen PT Bank Mandiri yang memandang pentingnya

   kehadiran Bank Syariah dilingkungan PT Bank Mandiri (Persero).

          PT    Bank   Syariah   Mandiri    hadir       sebagai     bank   yang

   mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang

   melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai

   rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT Bank Syariah

   Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia.


2. Profil dan Kepemilikan Saham BSM Indonesia

          Adapun profil dan kepemilikan saham dari BSM sendiri adalah

   sebagai berikut:

   a. Profil

      Nama                              :   PT Bank Syariah Mandiri

      Alamat                            :   Gedung          Bank       Syariah

                                            Mandiri Jl. MH. Thamrin

                                            No.     5     Jakarta    10340    –
                                                          56




                              Indonesia

Telepon                   :   (62-21) 2300509, 39839000

Faksimili                 :   (62-21) 39832989

Situs Web                 :   www.syariahmandiri.co.id

Tanggal Berdiri           :   25 Oktober 1999

Tanggal Beroperasi        :   1 Nopember 1999

Modal Dasar               :   Rp1.000.000.000.000,-

Modal Disetor             :   Rp558.243.565.000,-

Kantor Layanan            :   328 kantor, yang tersebar di

                              24      provinsi   di   seluruh

                              Indonesia

Jumlah jaringan ATM BSM   :   118 ATM Syariah Mandiri,

                              ATM Mandiri 3.746 unit,

                              ATM Bersama 14.758 unit

                              (include ATM Mandiri dan

                              ATM BSM), ATM Prima

                              10.647 unit dan Malaysia

                              Electronic Payment System

                              (MEPS) 6.505 unit

Jumlah Karyawan           :   3493 orang (Per Desember

                              2008)
                                                                        57




     b. Kepemilikan Saham                   :

         PT Bank Mandiri Tbk.(Persero) : 111.658.712 lembar saham

                                                (99,999999%)

         PT Mandiri Sekuritas               : 1 lembar saham (0,000001%).1


B. Gambaran Umum BSM Kudus

  1. Letak geografis

             BSM Kudus adalah salah satu Bank Umum Syari’ah yang

     beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam. Secara geografis

     BSM Kudus terletak di lingkungan perkotaan, tepatnya di ruko Ahmad

     Yani No. 9 Jl. Ahmad Yani Kabupaten Kudus Propinsi Jawa Tengah.

     Tepatnya cukup strategis sebab dekat jalan raya perkotaan Kudus,

     yang juga dilewati oleh angkutan umum sehingga mudah untuk

     dijangkau dengan menggunakan angkutan dan juga kendaraan pribadi.

             Adapun lingkungan sekitarnya adalah:

     Sebelah utara       : Terdapat jalan raya kearah barat menuju Makam

                         Sunan Kudus, ke timur menuju Gor Kudus.

     Sebelah barat       : Terdapat jalan raya Kudus-Demak. Kearah utara

                         menuju Simpang Tujuh Kudus, kearah selatan

                         menuju Demak.




  2. Latar Belakang Historis
         1
          Dokumentasi BSM Kudus pada hari Senin tgl 08 Maret 2010.
                                                                     58




          BSM Kudus merupakan bank yang berada dibawah naungan

   PT.Bank Mandiri. BSM Kudus ini Berdiri pada tanggal 5 September

   2005 karena Menurut Kepala Cabang BSM Semarang, Priyono,

   terbuka potensi yang besar di Kudus untuk penyaluran kredit ke sektor

   kecil dan menengah. Sektor industri kecil dan industri besar di

   samping beberapa industri yang juga menjadi salah satu alasan BSM

   membuka kantor cabangnya di Kudus.

          Selain itu berdirinya BSM Kudus juga tidak lepas dari kedaan

   masyarakat dikota Kudus yang bernuansa Islami, karena di Kudus

   memang belum ada Bank Umum Syariah yang beroperasi pada waktu

   itu. Dengan adanya Bank Syariah Mandiri Kudus ini akan lebih

   membantu masyarakat sekitar untuk tidak lagi kawatir menggunakan

   jasa perbankan. Sehingga dengan dorongan itulah kota Kudus menjadi

   kantor cabang pembantu Bank Syariah Mandiri (BSM) yang ada di

   Semarang.


3. Visi dan Misi BSM Kudus

   a) Visi

      Menjadi Bank Syari’ah terpercaya pilihan mitra usaha.

   b) Misi

      1) Menciptakan suasana pasar perbankan ayari’ah agar dapat

          berkembang dengan mendorong terciptanya syari’at dagang

          yang terkordinasi dengan baik.
                                                                         59




     2) Mencapai        pertumbuhan         dan      keuntungan         yang

         berkesinambungan melalui sinergi dengan mitra strategis agar

         menjadi Bank Syari’ah terkemuka di Indonesia yang mampu

         meningkatkan    nilai   bagi     para    pemegang      saham   dan

         memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

     3) Memperkerjakan pegawai yang profesional dan sepenuhnya

         mengerti operasional syari’ah.

     4) Menunjukkan komitmen terhadap standar kinerja operasional

         perbankan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir, serta

         memegang teguh prinsip keadilan, keterbukaan dan kehati-

         hatian.

     5) Mengutamakan       mobilisasi      pendanaan     dari     golongan

         masyarakat menengah dan ritel, memperbesar portofolio

         pembiayaan untuk skala menengah kecil, serta mendorong

         terwujudnya manajemen ZIS yang lebih efektif sebagai

         cerminan kepedulian sosial.

     6) Meningkatkan     permodalan       sendiri   dengan   mengundang

         perbankan lain, segenap lapisan masyarakat dan investor asing.


4. Budaya BSM Kudus

         Setelah melalui proses yang melibatkan seluruh jajaran

  pegawai sejak pertengahan 2005, lahirlah nilai-nilai perusahaan yang

  baru dan disepakati bersama untuk di-shared oleh seluruh pegawai

  BSM. Shared value perusahaan ini disingkat “ETHIC”. Yaitu :
                                                                       60




a) Excellence

   Berupaya mencapai kesempurnaan melalui perbaikan yang

   terpadu.

b) Teamwork

   Mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi.

c) Humanity

   Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan relegius.

d) Integrity

   Mentaati kode etik profesi dan berfikir serta berprilaku terpuji.

e) Customer Vocus

   Mamahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan untuk menjadikan

   BSM sebagai mitra terpercaya dan menguntungkan.2

       Selain dengan adanya ETHIC tersebut, budaya dari BSM

Kudus sebagai bank yang beropersi atas dasar prinsip syari’ah Islam

juga menetapkan budaya perusahaan yang mengacu pada akhlakul

karimah (budi pekerti mulia) yang terangkum dalam lima pilar yang di

simgkat SIFAT, yaitu:

a. Siddiq (Integritas)

   Menjaga martabat dengan integritas, awali dengan niat dan hati

   tulus, berfikir jernih, bicara benar, sikap terpuji dan prilaku

   teladan.



b. Istiqomah (Konsisten)
   2
    Observasi di BSM Kudus pada hari Rabu , tanggal 10 Maret 2010
                                                                      61




      Konsisten adalah kunci menuju sukses. Pegang teguh komitmen,

      sikap optimis, pantang meyerah, kesabaran dan percaya diri.

   c. Fathonah (Profesionalisme)

      Profesionalisme adalah gaya kerja bsm kudus. Semangat kerja

      berkelanjutan, cerdas inovatif dan trampil.

   d. Amanah (Tanggung Jawab)

      Terpercaya dengan penuh tanggung jawab menjadi terpercaya

      cepat tanggap, obyektif, akurat dan disiplin.

   e. Tabkigh (Kepemimpinan)

      Kepemimpinan berlandasan kasih sayang selalu transparan

      membimbing, visioner, komunikatif dan memberdayakan.


5. Sistem BSM Kudus

   a) Islam mamandang harta yang dimiliki oleh manusia adalah titipan

      atau amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola,

      dan memanfaatkanya harus sesuai dengan ajaran Islam.

   b) BSM      Kudus        mendorong   nasabah     untuk   mengupayakan

      pengelolaan harta nasabah (simpanan) sesuai dengan ajaran Islam.

   c) Adanya kesempatan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip

      keadilan, kesedrajatan dan sistem ketentraman antara pemegang

      saham, pengelola bank dan nasabah atas jalanya usaha Bank

      Syari’ah.

   d) Prinsip bagi hasil.
                                                                        62




   e) Penentuan besarnya bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan

        berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi.

   f) Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan

        yang diperoleh.

   g) Jumlah     pembagian     bagi   hasil   meningkat   sesuai   dengan

        peningkatan jumlah pendapatan.

   h) Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil.

   i) Bagi hasil tergantung kepada keuntungan proyek yang dijalankan.

        Jika proyek itu tidak mendapat keuntungan maka kerugian akan

        ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.


6. Prinsip Operasi BSM Kudus

           Prinsip Operasi BSM Kudus mengacu pada prinsip-prinsip

   sebagai berikut:

   a)    Prinsip Keadilan

               Prinsip ini tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi

         hasil dan pengambilan margin keuntungan yang disepakati

         bersama antara Bank dan Nasabah.

   b)    Prinsip Kemitraan

               Bank Syariah menempatkan nasabah penyimpanan dana,

         nasabah pengguna dana, maupun Bank pada kedudukan yang

         sama dan sederajat dengan mitra usaha. Hal ini tercermin dalam

         hak, kewajiban, resiko dan keuntungan yang berimbang di antara

         nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun bank.
                                                                                 63




          Dalam hal ini bank berfungsi sebagai intermediasi institution

          lewat skim-skim pembiayaan yang dimilikinya.

    c)    Prinsip Keterbukaan

                Melalui laporan keuangan bank yang terbuka secara

          berkesinambungan, nasabah dapat mengetahui tingkat keamanan

          dana dan kualitas manajemen bank

    d)    Universalitas

                Bank dalam mendukung operasionalnya tidak membeda-

          bedakan suku, agama, ras dan golongan agama dalam masyarakat

          dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil'alamiin.3


7. Struktur Organisasa BSM Kudus

            Dalam menjalankan perusahaan untuk mencapai tujuan yang

    diharapkan maka diperlukan struktur organisasi yang baik dan jelas,

    sehingga dapat diketahui tugas masing-masing dan kesimpangsiuran

    dalam menjalani tugas dapat dihindari.

            Adapun struktur organisasi BSM Kudus adalah sebagai berikut:




3
        Wawancara dengan Pelaksana Back Office, Dedi Yulianto pada Hari Senin,
Tanggal 15 Maret 2010.
                            64




C. Profil Kabupaten Kudus
                                                                    65




       Kabupaten Kudus adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa

Tengah yang Terletak 51 Km sebelah utara Kota Semarang. Sebelah Utara

berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati, Selatan

berbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati, Timur

berbatasan dengan Kabupaten Pati, Barat berbatasan dengan Kabupaten

Demak dan Kabupaten Jepara. Letak secara astronomis 110 36'-110 50'

BT dan 6 51'-7 16' LS. Terletak pada ketinggian rata-rata ± 55 m diatas

permukaan air laut, dengan iklim Tropis, Temperatur sedang, intensitas

hujan ± 2000 mm/tahun atau ± 97 hari/tahun.

       Secara administrasi di kabupaten Kudus terdiri dari 9 Kecamatan

yaitu Kecamatan Kota, Kaliwungu, Jati, Undaan, Mejobo, Jekulo, Gebog,

Bae dan Dawe. Total desa berjumlah 124 desa. Dahulu ke sembilan (9)

kecamatan di bagi menjadi 3 Kawedanan yang masing-masing Kawedanan

membawahi beberapa kecamatan. Ketiga (3) Kawedanan itu adalah

Kawedanan Kudus, Cendono, Tenggeles. Kawedanan Kudus meliputi

Kota, Jati dan Undaan, Kawedanan Cendono meliputi Bae, Gebog, Dawe

dan Kaliwungu, Kawedanan Tenggeles meliputi Jekulo dan Mejobo. Tiap

kawedanan itu karena sebagai struktur diatas kecamatan maka mempunyai

kantor kawedanan. Dan karena sistem kawedanan di hapus, sekarang

bangunan tiap kantor kawedanan di alih fungsikan, sampai sekarang masih

bisa kita lihat bangunannya.
                                                                      66




        Adapun hari jadi Kota Kudus di tetapkan pada hari Senin Pahing 1

Ramadhan 956 H atau Tanggal 23 September 1549 M dan diatur dalam

Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 Tahun 1990 tentang hari jadi Kudus

yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era Bupati Kolonel

Soedarsono. Kemudian Perda tersebut di sahkan oleh Gubernur KDH

Tingkat 1 Jawa Tengah Nomor: 1883/278/1990 Tanggal 7 September

1990.

        Kabupaten Kudus sejak kolonial sampai sekarang dipimpin

seorang bupati mulai dari KR. Adipati Ario Padmonegoro (Putera menantu

Sunan Paku Buwono III), KRT Tjokrohadinegoro, Kanjeng Kyai Adipati

Ario Tjondronegoro III (1812-1837) sampai sekarang H. M. Mustofa

(2008-2013).

        Seperti halnya kabupaten atau kota lainnya Kabupaten Kudus

mempunyai semboyan KUDUS SEMARAK yang artinya Kudus Sehat,

Maju, Rapi, Aman dan Konstitusional.

        Kudus juga terkenal dengan sebutan kota industri, selain itu juga

mendapat sebutan kota kretek karena banyak pabrik rokok yang berdiri di

Kudus, seperti Djarum, Sukun, Nojorono, Jambu Bol, Langsep dan masih

banyak pabrik-pabrik rokok kecil lainnya yang jumlahnya mencapai

puluhan.4




        4
         http://akhirudins.multiply.com, Tanggal 09 Mei 2010
                                                                      67




D. Penerapan Akad Mudharabah Serta Dampaknya Terhadap Produk

  Penghimpunan Dana Di BSM Kudus

  1. Penerapan Akad Mudharabah Pada Produk Tabungan

     a) Tabungan BSM

               Tabungan BSM adalah Simpanan dalam mata uang rupiah

        yang penarikan dan setorannya dapat dilakukan setiap saat selama

        jam kas dibuka di kounter BSM atau melalui ATM.

               Adapun karakteristik Tabungan BSM adalah sebagai

        berikut:

        1) Berdasarkan prinsip syari’ah dengan akad mudharabah

           muthlaqah. Mudharabah muthlaqah adalah akad antara pihak

           pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib)

           untuk memperoleh keuntungan, yang kemudian akan dibagikan

           sesuai nisbah yang disepakati. Dalam hal ini, mudharib (bank)

           diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola modal atau

           menentukan arah investasi sesuai syari’ah

        2) Tabungan dengan bagi hasil yang menarik, aman dan terjamin

        3) Dapat ditarik/setor setiap saat diseluruh cabang Bank Syari’ah

           Mandiri

        4) Dilengkapi degan kartu ATM sekaligus Kartu Debet

        5) Dilengkapi fasilitas BSM Mobile Banking GPRS dan BSM Net

           Banking
                                                              68




6) Nasabah dapat menyalurkan zakat, infaq dan sedekah melalui

   Tabungan BSM.

         Manfaat dari Tabungan BSM adalah sebagai berikut:

1) Dana aman dan tersedia setiap saat

2) Transaksi online di seluruh cabang BSM

3) Mendapatkan kartu ATM sekaligus debet

4) Mendapat bagi hasil yang kompetitif

5) Kebebasan bertransaksi dengan Fasilitas BSM Mobile Banking

   GPRS dan BSM Net Banking.

         Adapun Peruntukan dari Tabungan BSM adalah hanya

untuk Perorangan. Sedangkan persyaratan dari Tabungan BSM

adalah sebagai berikut:

 Dokumen                       Perorangan
 Kartu Identitas               KTP/SIM/Paspor nasabah
 Min. setoran awal             Rp80.000,- dengan kartu ATM
 Min. setoran berikutnya       Rp10.000,-
 Saldo Minimum                 Rp50.000,-
 Biaya tutup rekening          Rp20.000,-
 Biaya Adm/bln                 Sesuai ketentuan BSM

Contoh Perhitungan:

         Saldo rata-rata tabungan Pak Syarman bulan Agustus 2008

adalah Rp10.000.000,- Perbandingan bagi hasil (nisbah) antara

Bank dan Nasabah adalah 60 : 40. Bila saldo rata-rata tabungan

seluruh nasabah Bank Syari’ah Mandiri pada bulan Agustus 2008

adalah     Rp2.000.000.000,-     dan    pendapatan    Bank   yang
                                                                 69




   dibagihasilkan untuk nasabah tabungan adalah Rp123.000.000,-

   maka bagi hasil yang diperoleh Pak Rahman adalah =


    Rp10.000.000,-      x Rp123.000.000,- x 40 % = Rp246.000,-
    Rp2.000.000.000,
    -
   (Sebelum dipotong pajak)

b) Tabungan Berencana BSM

          Tabungan Berencana BSM adalah simpanan berjangka

   yang memberikan nisbah bagi hasil berjenjang serta kepastian

   pencapaian target dana yang telah ditetapkan.

          Karakteristik Tabungan berencana BSM adalah sebagai

   berikut:

   1) Berdasarkan prinsip syari’ah mudharabah muthlaqah

   2) Periode Tabungan: min. 1 tahun sampai dengan 10 tahun

   3) Usia nasabah: min. 18 tahun dan maksimal 60 tahun saat jatuh

      tempo

   4) Setoran bulanan: min. Rp100.000,- atau sebesar target dana

      dibagi periode (bulan)

   5) Target dana: min. Rp1.200.000,- dan maks. Rp200 juta.

          Ketentuan Umum Tabungan BSM adalah sebagai berikut:

   1) Saldo tabungan tidak bisa ditarik dan tabungan tidak boleh

      ditutup hingga jatuh tempo (akhir masa kontrak), kecuali

      dalam keadaan mendesak atau darurat.
                                                              70




2) Penutupan rekening sebelum jatuh tempo dengan kondisi

   tersebut di atas akan dikenakan biaya administrasi

3) Penabung telah memiliki tabungan BSM sebagai rekening asal

   (Source Account)

4) Jumlah setoran bulanan dan periode Tabungan tidak dapat

   diubah

5) Tidak dapat menerima setoran di luar setoran bulanan.

         Persyaratan dari Tabungan Berencana BSM adalah dengan

menunjukan Kartu identitas (KTP/SIM/Paspor).

         Manfaat Tabungan BSM adalah sebagai berikut:

1) Mendapat bagi hasil yang kompetitif

2) Membantu perencanaan keuangan nasabah jangka panjang

3) Keikutsertaan Asuransi secara otomatis, tanpa pemeriksaan

   kesehatan

4) Perlindungan asuransi bebas premi

5) Nasabah dapat memiliki lebih dari satu rekening

6) Kepastian pencapaian target dana.

         Adapun   Manfaat   Asuransi     Tabungan    BSM   untuk

memberikan Santunan tunai yang bertujuan untuk memenuhi

kekurangan target dana. Manfaat asuransi ini dihitung dengan cara

sebagai berikut: Manfaat asuransi = Target dana – Saldo saat

klaim.
                                                                   71




c) Tabungan BSM Investa Cendekia

             Tabungan   BSM    Investa   Cendekia   adalah   tabungan

   berjangka dalam valuta rupiah dengan jumlah setoran bulanan tetap

   (installment) yang dilengkapi perlindungan asuransi.

             Karakteristik Tabungan BSM Investa Cendekia adalah:

   1) Berdasarkan prinsip syari’ah mudharabah muthlaqah

   2) Periode Tabungan : min. 1 tahun sampai dengan 20 tahun

   3) Usia nasabah : min. 17 tahun dan maks. 55 tahun (Catatan: usia

      masuk ditambah periode kontrak sama atau tidak melebihi 60

      tahun)

   4) Saldo minimal : Rp1.000.000,-

   5) Setoran bulanan : min Rp100.000,- s/d Rp4.000.000,-.

             Ketentuan Umum Tabungan BSM Investa Cendekia

   adalah:

   1) Saldo tabungan tidak bisa ditarik dan tabungan tidak dapat

      ditutup hingga jatuh tempo (akhir masa kontrak), kecuali dalam

      keadaan mendesak atau darurat.

   2) Penarikan sebagian saldo dengan kondisi tersebut di atas dapat

      dilakukan sampai dengan saldo minimal.

   3) Penabung telah memiliki tabungan BSM sebagai rekening asal

      (Source Account).

   4) Jumlah setoran bulanan dan periode Tabungan tidak dapat

      diubah.
                                                               72




          Adapun Persyaratan dari Tabungan BSM Investa Cendekia

adalah Kartu identitas (KTP/SIM/Paspor).

          Manfaat Tabungan BSM Investa Cendekia adalah:

1) Mendapat bagi hasil yang kompetitif.

2) Membantu perencanaan program investasi nasabah khususnya

   perencanaan pendidikan kepada putera/puteri.

3) Keikutsertaan Asuransi secara otomatis, tanpa pemeriksaan

   kesehatan.

          Manfaat Asuransi Tabungan BSM Investa Cendekia

adalah:

1) Tahun Pertama kepesertaan:

   a) Meninggal dunia karena sakit (bukan karena kecelakaan):

          Santunan Meninggal sebesar 50x Setoran Bulanan. (setelah

          3 bulan kepesertaan dan maksimal Rp50 juta).

   b) Meninggal dunia atau Cacat Tetap Total karena kecelakaan:

          o Santunan Manfaat Takaful sebesar 50x Setoran

             Bulanan.

          o Pembayaran sisa Setoran Bulanan untuk masa yang

             belum dijalani.

2) Tahun kedua kepesertaan dan seterusnya:

   a) Meninggal dunia karena sakit (bukan karena kecelakaan):

          o Santunan Manfaat Asuransi sebesar 100x Setoran

             Bulanan.
                                                                      73




             o Pembayaran sisa Setoran Bulanan untuk masa yang

                belum dijalani.

         b) Meninggal dunia atau Cacat Tetap Total karena kecelakaan:

             o Santunan Manfaat Asuransi sebesar 100 kali Setoran

                Bulanan

             o Pembayaran sisa Setoran Bulanan untuk masa yang

                belum dijalani.

             Adapun Ketentuan Tentang Premi Asuransi pada Tabungan

      BSM Investa Cendekia adalah sebgai berikut:

      1) Premi asuransi akan didebet secara otomatis dari setoran

         bulanan Tabungan

      2) Premi asuransi ditentukan berdasarkan periode produk:

          Jangka Waktu Menabung          Besarnya Premi

          1 - 5 tahun                    2,50%
          6 - 10 tahun                   3,75%
          11 - 15 tahun                  5,00%
          16 - 20 tahun                  6,50%



2. Penerapan Akad Mudharabah Pada Produk Deposito

          Deposito BSM adalah produk investasi berjangka waktu

   tertentu dalam mata uang rupiah yang dikelola berdasarkan prinsip

   Mudharabah Muthlaqah.

          Adapun karakteristik Deposito BSM adalah sebagai berikut:

   1) Jangka waktu yang fleksibel antara 1, 3, 6 dan 12 bulan
                                                              74




2) Deposito tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo

3) Fasilitas Automatic Roll Over

4) Bagi hasil dapat menambah pokok deposito, ditransfer, atau

    dipindahbukukan ke rekening tabungan atau giro.

       Manfaat dari Deposito BSM adalah sebagai berikut:

1) Dana aman dan terjamin, sesuai penjaminan pemerintah

2) Mendapatkan bagi hasil yang kompetitif

3) Dapat dijadikan jaminan dana talangan/pembiayaan.

       Peruntukkan Deposito BSM adalah sebagai berikut:

1) Individu/Perorangan

2) Badan Usaha/Badan hukum.

       Sedangkan Persyaratan dari Deposito BSM adalah sebagai

berikut:

     Dokumen/Biaya       Perorangan     Perusahaan/Badan
                                        Hukum
     Kartu Identitas     KTP/SIM/Pas      1. KTP Pengurus
                         por Nasabah        2. Akte Pendiri
                                            3. SIUP

                                            4. NPWP

     Min setoran awal    Rp2.000.000,   Rp2.000.000,-
                         -
     Biaya               Rp30.000,-     Rp30.000,-
     Administrasi
     Break Deposito
     Biaya Materai     Rp6.000,-        Rp6.000,-
   Contoh Perhitungan:
                                                                           75




               Deposito Ibu Fitri Rp1.000.000,- berjangka waktu 1 bulan.

      Perbandingan bagi hasil (nisbah) antara bank dan nasabah adalah

      48:52. Bila dianggap total saldo deposito semua deposan adalah

      Rp200.000.000,- dan pendapatan bank yang dibagi-hasilkan untuk

      deposan adalah Rp3.000.000,- maka bagi hasil yang didapat oleh

      Ibu Fitri adalah:

          Rp1.000.000,-     X Rp3.000.000,- X 52 % = Rp7.800,-
          Rp200.000.000,
       -
      (sebelum dipotong pajak)


      Dari beberapa kriteria yang ada pada akad mudharabah terhadap

produk penghimpunan dana diatas dapat menarik minat nasabah untuk

menginvestasikan dananya sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini terbukti

dengan adanya Motivasi dari nasabah dalam memilih menyimpan dana di

BSM Kudus, terpenuhinya kebutuhan nasabah yang beranekaragam dalam

bentuk pembelian atau mengkonsumsi suatu produk (barang dan jasa)

yang diperlukan. Misalnya ketika nasabah membutuhkan biaya untuk

memenuhi kebutuhan maka nasabah dapat mengambil uang secara tunai

melalui ATM dimanapun dan kapanpun.5

      Terpenuhinya kebutuhan dalam memilih menyimpan dana di BSM

Kudus yaitu dengan adanya produk bank yang ditawarkan, yang telah

memberi      kepuasan      bagi   nasabah       secara    menyeluruh       dan

berkesinambungan, serta dalam penarikan bisa dilakukan melalui ATM

      5
       Observasi pada pelayanan BSM pada hari Rabu tanggal 17 Maret 2010
                                                                             76




dimanapun dan kapanpun untuk memenihi kebutuhanya, menurut

pendapat dari bapak Agus.6 Sedangkan menurut bapak Sabar salah seorang

nasabah BSM Kudus juga memaparkan bahwa BSM sudah sesuai dalam

pemenuhan kebutuhan, melalui produk-produk yang ditawarkan. Adanya

produk tersebut dapat memberikan kemudahan untuk memenuhi

kebutuhan dalam pengambilan dana atau penyetoran dana yang bisa

dilakukan sewaktu-waktu.7

       Sedangkan menurut pendapat nasabah dari ibu Nurul bahwa

keamanan yang dilakukan oleh BSM Kudus terhadap penyimpanan dana

sudah cukup aman. Karena dalam memberikan perlindungan dana nasabah

pihak BSM Kudus memberikan No PIN (sesuai aturan BI) yaitu enam

digit angka pada nasabah yang memiliki rekening di BSM Kudus, agar

tidak terjadi pencurian dana.8 Tidak hanya enam digit angka saja, dalam

pengambilan dana tidak boleh diwakilkan meskipun itu keluarganya

sendiri, hal ini menjamin keamanan dari dana nasabah. Menurut pendapat

nasabah dari bpk. Sulyadi.9

       Adapun pendapat nasabah dari bpk Budiono dalam memilih

menyimpan dana di BSM Kudus, merupakan dorongan (motivasi) diri

sendiri. Hal itu dikarenakan BSM Kudus adalah bank yang hadir sebagai
       6
         Wawancara dengan bpk Agus, Nasabah BSM Kudus Pada Hari Rabu tanggal
17 Maret 2010
       7
          Wawancara dengan bpk Sabar, Nasabah BSM Kudus Pada Hari Rabu tanggal
17 Maret 2010
         8
           Wawancara dengan Ibu Nurul, Nasabah BSM Kudus Pada Hari Kamis tanggal
18 Maret 2010.
         9
           Wawancara dengan bpk Sulyadi, Nasabah BSM Kudus Pada Hari Kamis
tanggal 18 Maret 2010.
                                                                   77




bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani

yang melandasi operasinya. adanya unsur syari’ah Islam dalam

operasional dari BSM Kudus serta tidak adanya unsur bunga (riba) dalam

bagi hasilnya dan mengacu pada ketentuan- ketentuan al Qur’an dan al

Hadits.

          Selain itu pemenuhan kebutuhan tersebut diatas seperti yang

diterapkan dalam salah satu struktur organisasi BSM Kudus dengan

adanya Customer Focus yaitu memenuhi dan memahami kebutuhan

nasabah untuk menjadi BSM Kudus sebagai mitra terpercaya dan

menguntungkan.10


3. Dampak Penerapan Akad Mudharabah Di BSM Kudus

   a. Dampak Positif

          1) Adanya perkembangan jumlah investasi mudharabah yang

               meningkat setiap tahunya.

          2) Adanya perkembangan jumlah nasabah mudharabah yang

               meningkat setiap tahunya.

          3) Serta adanya perkembangan kenaikan nominal mudharabah

               yang meningkat setiap tahunya.




   b. Dampak Negatif BSM

          10
           Observasi BSM Kamis tanggal 18 Maret 2010.
                                                                        78




        1) Kurang efektifnya dual banking sistem yang dapat membuat

           dana dari bank syari’ah dapat tercampur dengan dana di bank

           konvensional.

        2) Adanya kekhawatiran penyalahgunaan di perbankan syari’ah

           yang masih melakukan praktek riba.


E. Faktor-Faktor Pendukung Dan Penghambat Penerapan Akad

  Mudharabah Terhadap Perkembangan Produk Penghimpunan Dana

  Di BSM Kudus

  1. Faktor-Faktor Pendukung

     a) Adanya prinsip syari’ah Islam yang dijadikan acuan di BSM untuk

        menerapkan sistem bagi hasil pada semua produknya terutama

        pada produk penghimpunan dananya.

     b) Adanya sarana prasarana dalam perusahaan yang cukup lengkap.

     c) BSM membawa brand (merek) dari bank mandiri dikarenakan

        bank mandiri bertindak selaku pemilik mayoritas BSM. Sementara

        bank mandiri sendiri merupakan sebuah bank ternama dan dikenal

        luas dikalangan masyarakat sehingga keberadaan BSM lebih

        mudah diterima di tengah- tengah masyarakat.

  2. Faktor-Faktor Penghambat

     a) Kurang adanya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan BSM.

     b) Tingkat efektivitas keterlibatan masyarakat muslim dalam bank

        syari’ah tergantung pada pola pikir masyarakat muslim itu sendiri.
                                                                       79




   c) Benturan dengan sistem nilai dan tradisi masyarakat desa yang

      masih puas menyimpan uang dibawah bantal.

   d) Semakin banyaknya pesaing dilingkup perbankan syari’ah.


3. Perkembangan Produk Penghimpunan Dana Di BSM Kudus

            Data tabel perkembangan nasabah yang menginvestasikan

   dananya pada akad mudharabah di BSM Kudus mulai tahun 2005-

   2009:

    Tahun         Jumlah Investasi   Jumlah Nasabah      Persentase
                    Mudharabah         Mudharabah     Kenaikan Nasabah
                                                        Mudharabah
     2005                2               1546               0%
     2006                3               1965               27%
     2007                4               2651               35%
     2008                4               3964               50%
     2009                4               6301               59%

            Di lihat dari tabel diatas menunjukkan jumlah nasabah

   meningkat setiap tahunya terutama pada tahun 2009 jumlah nasabah

   meningkat 59% dari tahun sebelumnya. Dari sisi jumlah nominal

   keseluruhan produk penghimpunan dana BSM Kudus juga mengalami

   perkembangan setiap tahunya, hal ini dapat dijelaskan pada tabel

   berikut:


        Tahun            Jumlah Nominal Penghimpunan      Presentase
                               Dana Mudharabah            Kenaikan
           2005                15,943,210,100.00             0%
           2006                18,892,002,765.00             18%
           2007                22,914,265,020.00             21%
                                                                    80




         2008              29,039,605,320.00                 27%
         2009              41,186,301,396.00                 42%


        Di lihat dari tabel diatas menunjukkan jumlah nominal produk

penghimpunan     dana    mudharabah     meningkat   setiap     tahunya.

Perkembangan terbesar pada tahun 2009 sebesar 42% dari tahun

sebelumnya.

        Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan

nasabah dan produk penghimpunan dana mudharabah BSM Kudus

mengalami peningkatan setiap tahunya.
                                                                         81




                                 BAB IV

        ANALISIS PENERAPAN AKAD MUDHARABAH SERTA

    DAMPAKNYA TERHADAP PRODUK PENGHIMPUNAN DANA

                 DI BANK SYARI’AH MANDIRI KUDUS


A. Analisis   Penerapan    Akad      Mudharabah       Terhadap      Produk

   Penghimpunan Dana Di BSM Kudus

   1. Analisis Penerapan Akad Mudharabah Pada Produk Tabungan

              Sebagaimana        telah   penulis   kemukakan    dalam    bab

      sebelumnya, bahwa produk dana simpanan merupakan dana pihak

      ketiga atau dana masyarakat yang dititipkan dan disimpan oleh bank,

      yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat tanpa pemberitahuan

      terlebih dulu kepada bank dengan media penarikan tertentu.

      Sebagaimana karakter simpanan yang ada pada perbankan lainnya,

      dana simpanan pada perbankan syariah mampu dimanfaatkan oleh

      bank untuk kegiatan operasional bank. Dengan demikian dapat

      dianalisis bahwa karakteristik dari produk ini, motif utama nasabah

      adalah simpanan atau titipan bukan investasi yang dapat ditarik

      sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan oleh bank.

              Dengan karakter yang demikian, maka prinsip yang digunakan

      dalam produk ini adalah prinsip mudharabah. Konsekuensi dari

      penggunaan prinsip mudharabah ini adalah sistem bagi hasil dari bank

      untuk   nasabah.   Namun     nasabah    mendapat   bagi   hasil   yang

      diperjanjikan di awal akad. Di antara produk yang menggunakan
                                                                      82




prinsip ini adalah produk tabungan mudharabah sebagai salah satu

sumber pendanaaan bagi operasional bank.

       Secara umum yang dimaksud dengan tabungan adalah

simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat

tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat

lain yang dapat dipersamakan dengan itu. Adapun yang dimaksud

dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan sesuai

dengan syariah. Dalam hal ini Dewan Syariah Nasional telah

mengeluarkan Fatwa bahwa tabungan yang dibenarkan yaitu tabungan

yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadiah.

       BSM Kudus merupakan salah satu motor penggerak produk

yang berdasarkan prinsip syariah telah mampu memberikan layanan

yang baik bagi masyarakat. Selain itu produk tabungan yang ada di

BSM Kudus sebagai sarana investasi yang murni sesuai syariah yang

memungkinkan nasabah melakukan penyetoran dan penarikan tunai

dengan sangat mudah dan juga memperoleh bagi hasil yang menarik

berdasarkan prinsip atau akad mudharabah. Perbedaan utama dengan

sistem tabungan konvensioal terletak pada sistem perhitungan laba

yang dalam tabungan konvensional menggunakan perhitungan bunga

yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariah Islam.

       Dalam penerapan semua produk tabungan yang ada di BSM

Kudus ini pihak bank menggunakn akad mudharabah muthlaqah.

Berdasarkan analisis dari peneliti bahwa dengan adanya penerapan
                                                                  83




akad mudharabah pada produk tabungan ini dikarenakan antara pihak

pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib) sama

sama mempunyai tujuan untuk memperoleh keuntungan, yang

kemudian akan dibagikan sesuai nisbah yang disepakati. Dalam hal ini,

mudharib (bank) diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola modal

atau menentukan arah investasi sesuai syariah.

       Selain itu dengan menabung di BSM Kudus ini relatif lebih

aman dan dana juga tersedia setiap saat dan dapat juga mengambil

BSM Investa Cendekia yang bermanfaat untuk membantu perencanaan

program investasi nasabah khususnya perencanaan pendidikan kepada

putera puterinya dan keikutsertaan Asuransi secara otomatis, tanpa

pemeriksaan kesehatan.

       Dari kreteria tabungan mudharabah diatas maka dalam hal ini

DSN memberikan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor 02/DSN-

MUI/IV/2000 tertanggal 1 April 2000 tentang ketentuan Tabungan

Mudharabah tercantum dalam al-Qur’an Surat Annisa : 29 yang

artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling

memakan (mengambil) harta sesame dengan jalan yang bathil, kecuali

dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu”.

       Oleh karena itu dalam fatwa ini DSN hanya memperbolehkan

dua jenis tabungan yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip

mudarabah dan wadi’ah. Dalil-dalil yang disampaikan dalam fatwa

tentang tabungan mencakup kutipan-kutipan dari ayat Al-Qur’an dan
                                                                         84




   Hadis, serta alasan menurut akal pikiran. Dalil akal pikiran bagi fatwa

   tentang tabungan pihak dinyatakan oleh para ulama bahwa perlu

   adanya kerjasama antara pihak yang kelebihan dana tetapi tidak bisa

   memproduktifkan        dengan   pihak yang kekurangan        dan tetapi

   mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya.

          Dari    beberapa    keterangan    diatas   maka    penulis   dapat

   menganalisis bahwa dengan adanya produk-produk yang ditawarkan

   oleh BSM Kudus sangat bermanfaat bagi pihak nasabah dan pihak

   bank, karena di BSM Kudus ini semua produk yang ditawarkan

   berdasarkan kepastian sesuai akad yang telah disepakati. Selain itu

   Ditinjau dari perspektif Islam, hal ini juga tidak bertentangan dengan

   syariat Islam karena prinsip yang diterapkan didalam produk ini sesuai

   dengan prinsip syariah Islam yang panarapannya menggunakan prinsip

   bagi hasil yang dihasilkan dari produk yang halal.


2. Analisis Penerapan Akad Mudharabah Pada Produk Deposito

          Selain tabungan mudharabah yang juga termasuk produk bank

   dalam bidang Penghimpunan Dana (founding) adalah Deposito.

   Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan

   atas undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, yang

   dimaksud      dengan    deposito   berjangka   adalah    simpanan   yang

   penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu

   menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.
                                                                    85




       Adapun yang dimaksud dengan Deposito Syariah adalah

deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini,

Dewan Syariah Nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang

menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang

berdasarkan prinsip mudharabah.

       Dengan adanya keterangan sebelumnya maka dapat dianalisis

bahwa produk deposito mudharabah ini samahalnya dengan produk

tabungan mudharabah, akan tetapi dalam deposito mudharabah ini,

Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan

nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Dalam

kapasitasnya sebagai mudharib, Bank Syariah dapat melakukan

berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah

serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah

dengan pihak ketiga.

       Dengan demikian, Bank Syariah dalam kapasitasnya sebagai

mudharib memiliki sifat sebagai wali amanah (trustee), yakni harus

bertindak hati-hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung

jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau

kelalaiannya. Di samping itu, Bank Syariah juga bertindak sebagai

kuasa dari usaha bisnis pemilik dana yang diharapkan dapat

memperoleh keuntungan seoptimal mungkin tanpa melanggar aturan

syariah.
                                                                    86




        Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan

membagikan hasil keuntungan kepada pemilik dana sesuai dengan

nisbah yang telah disepakati di awal akad pembukaan rekening. Dalam

mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab atas kerugian

yang terjadi bukan akibat kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi

adalah miss management (salah urus), maka bank bertanggung jawab

penuh atas kerugian tersebut.

        Selain itu produk deposito di BSM Kudus ini penerapanya

menggunakan akad mudharabah muthlaqah. Dan dari keterangan pada

bab sebelumnya dapat dianalisis bahwasanya dengan deposito

mudharabah yang ada di BSM Kudus ini dapat memberikan fasilitas

dana aman dan terjamin, sesuai penjaminan pemerintah, mendapatkan

bagi hasil yang kompetitif dan dapat dijadikan jaminan dana talangan

atau pembiayaan untuk deposito BSM.

        Hal ini sudah nampak jelas bahwa dalam penerapan akad

mudharabah di BSM Kudus sudah sesuai dengan nilai ajaran agama

Islam   dan     sesuai   dengan   peraturan   pemerintah   yang   telah

mengeluarkan peraturan dan batasan-batasan dalam pengoprasian

Bank Syariah.
                                                                        87




B. Analisis Dampak Penerapan Akad Mudharabah Pada Produk

  Penghimpunan Dana Di BSM Kudus

         Setelah mengamati dampak positif          pada penerapan akad

  mudharabah terhadap produk penghimpunan dana di BSM Kudus, adanya

  perkembangan jumlah investasi mudharabah yang meningkat setiap

  tahunya, adanya perkembangan jumlah nasabah mudharabah yang

  meningkat setiap tahunya, serta adanya perkembangan kenaikan nominal

  mudharabah yang meningkat setiap tahunya.

         Dari keterangan dalam bab sebelumnya sudah nampak jelas bahwa

  dalam menerapkan akad mudharabah pada produk penghimpunan dana

  BSM Kudus sudah menerapkanya sesuai dengan prinsip syari’ah. Karena

  dengan adanya penerapan dari prinsip syari’ah ini yang dapat memberikan

  akad mudharabah pada produk penghimpunan dananya meningkat setiap

  tahunya.

             Dengan adanya keterangan tersebut maka dapat dianalisis

  bahwasanya BSM Kudus ini memang bank yang benar-benar beroperasi

  sesuai dengan ketentuan syari’ah Islam, dan dampak positif itu ada karena

  adanya kepastian dalam menerapkan produk perbankan yang sesuai

  dengan ketentuan fatwa dari DSN serta adanya Undang-Undang tentang

  perbankan syari’ah yang berlaku. Selain itu adanya mutu dan kualitas

  pelayanan BSM Kudus yang selalu meningkat yang menjadi salah satu

  faktor utama barkembangnya BSM Kudus hingga saat ini.
                                                                        88




         Selain dampak positif dampak negatif juga tidak dapat dihindari

  diantaranya Kurang efektifnya dual banking sistem yang dapat membuat

  dana dari bank syari’ah dapat tercampur dengan dana di bank

  konvensional. Selain itu Adanya kekawatiran penyalahgunaan di

  perbankan syari’ah yang masih melakukan praktek riba.

         Dengan keterangan tersebut maka dapat dianalisis bahwa dampak

  negatif itu ada karena Bank Syari’ah Mandiri adalah bagian dari Bank

  Mandiri yang memungkinkan masih adanya ketercampuran antara produk

  dari Bank Syari’ah Mandiri dengan produk dari Bank Mandiri sendiri.


B. Analisis Faktor-Faktor Pendukung Dan Penghambat Penerapan

  Akad Mudharabah Terhadap Perkembangan Produk Penghimpunan

  Dana Di BSM Kudus

  1. Analisis Faktor-Faktor Pendukung

            Setelah mengamati faktor-faktor pendukung yang ada, peneliti

     menilai bahwa faktor-faktor tersebut memang sangat penting

     keberadaanya. Adanya prinsip syari’ah Islam yang dijadikan acuan di

     BSM Kudus untuk menerapkan sistem bagi hasil pada semua

     produknya terutama pada produk penghimpunan dananya merupakan

     nilai plus tersendiri. Karena tidak akan ada artinya Bank Syariah

     Mandiri ini jika pengoperasian dananya masih menyimpang dari

     prinsip dan ajaran syariah Islam.

            Adanya sarana prasarana dalam perusahaan yang cukup

     lengkap dengan mobilitasnya BSM yang memiliki fasilitas office
                                                                          89




     chanelling dengan Bank Mandiri yang melakukan kontrol khusus

     kepada pihak BSM guna memenuhi keinginan nasabah yang

     menginginkan pelayanan syari’ah. Dan kelengkapan sarana prasarana

     tersebut juga sangat mempengarui keberhasilan perusahaan.

            Selain itu Sebagai bank syari’ah terbesar dengan jaringan

     terluas ditanah air BSM memiliki 256 outlet yang tersebar di 24

     provinsi di indonesia. BSM memiliki layanan perbankan yang real

     time dan online disemua outlet dan juga dengan adanya publikasi

     media yang terdapat dimedia massa, dimana pada saat media

     mengupas tentang perbankan syari’ah pihak BSM selalu ikut

     dilibatkan. Hal tersebut juga sangat penting karena dengan adanya

     publikasi media maka BSM Kudus akan lebih mudah dikenal

     dikalangan masyarakat.

            Dengan demikian peneliti dapat menganalisis bahwa dengan

     adanya faktor religiusitas, sarana prasarana serta fasilitas yang ada di

     BSM ini sangat berperan penting terhadap perkembangan BSM Kudus.


2.   Analisis Faktor-Faktor Penghambat

            Selain adanya faktor-faktor yang mendukung dalam penerapan

     prinsip syari’ah Islam yang dijadikan acuan di BSM untuk menerapkan

     sistem bagi hasil, ada juga faktor-faktor yang menghambat. Dari

     faktor-faktor penghambat yang ada hendaknya tidak dijadikan

     penghalang dalam menerapka prinsip syari’ah di BSM Kudus tersebut.
                                                                       90




          Kurang    adanya   pengetahuan    dari   masyarakat      tentang

   keberadaan BSM, serta Tingkat efektivitas keterlibatan masyarakat

   muslim dalam bank syari’ah tergantung pada pola pikir masyarakat

   muslim itu sendiri yang masih meragukan penerapan prinsip syariah

   merupakan hal yang dapat dimaklumi, karena masyarakat sudah

   terbiasa dengan adanya prinsip yang ada di bank konvensional.

          Masih adanya sistem nilai dan tradisi masyarakat desa yang

   masih puas menyimpan uang dibawah bantal juga termasuk hal yang

   perlu diperhatikan khusus. Karena keberhasilan dari penerapan prinsip

   syariah pada BSM Kudus ini tergantung dari pola pikir masyarakat.

          Dengan demikian peneliti dapat menganalisis bahwa dengan

   adanya kultur budaya masyarakat yang masih gemar menyimpan uang

   dibawah bantal, bertambahnya pesaing, minimnya SDM di perbankan

   syari’ah, serta minimnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan

   bank syari’ah. Untuk itu BSM Kudus masih harus memberikan

   pendidikan ketrampilan agar masyarakat lebih mudah memahami

   adanya prinsip syari’ah yang ada di BSM Kudus tersebut. Selain itu

   BSM harus melihat dari faktor penghambat untuk dijadikan acuan

   kedepan agar BSM lebih bisa semaksimal mungkin untuk melayani

   kebutuhan masyarakat.


3. Analisis Perkembangan Produk Penghimpunan Dana di BSM Kudus

          Perkembangan penerapan produk penghimpunan dana di BSM

   Kudus cukup menggembirakan ini disebabkan karena jumlah nasabah
                                                                  91




dari investasi mudharabah dan nominalnya produk penghimpunan

dana selalu bertambah setiap tahunya. Mulai dari tahun berdirinya

sampai sekarang BSM Kudus sudah dapat menunjukkan prestasinya.

      Dilihat dari tabel pada bab sebelumnya bahwa jumlah nasabah

dan produk penghimpunan dana mudharabah BSM Kudus mengalami

perkembangan setiap tahunya. Pada tahun 2009 jumlah nasabah

meningkat hingga lebih dari 50% dan ini merupakan perkembangan

terbesar di BSM Kudus. Hingga saat ini jumlah nasabah dari produk

penghimpunan dana mudharabah mencapai 6301 orang nasabah.

      Dari    keterangan   diatas   dapat   dianalisis    bahwasanya

perkembangan jumlah nasabah itu ada dikarenakan BSM Kudus

merupakan    Bank   Umum     Syari’ah   pertama   di     Kudus   yang

menggunakan produk yang sesuai dengan syari’ah Islam.

      Begitu pula dengan perkembangan produk penghimpunan dana

mudharabah BSM Kudus mengalami perkembangan setiap tahunya.

Perkembangan terbesar pada tahun 2009 jumlah Jumlah nominal

penghimpunan dana mudharabah menjadi 41 milyar lebih.

      Dari tabel 1 dan 2 dapat dianalisis bahwa presentase jumlah

nasabah dan nominal dari produk penghimpunan dana meningkat

setiap tahunya akan tetapi jumlah tersebut masih relatif kecil

dibandingkan dengan jumlah masyarakat Kudus yang mayoritas

penduduknya beragama Islam yang masih banyak menggunakan jasa

perbankan konvensional.
                                                              92




         Dengan keterangan diatas peneliti hanya bisa menambah

masukan kepada pihak BSM Kudus agar bisa menjaga kestabilan dan

meningkatkan kualitas pada BSM Kudus supaya bisa selalu

meningkatkan manajemen promosi ke daerah terpencil sekalipun yang

ada di Kudus. Karena diawal tahun 2010 ini BSM mulai mendapat

pesaing dari Bank Umum Syari’ah yang mulai beroperasi dikota

Kudus.
                                                                      94




                              BAB V

                            PENUTUP



A. Kesimpulan

         Bab ini merupakan kesimpulan dari uraian-uraian bab terdahulu

  yang penulis arahkan untuk menjawab pokok-pokok permasalahan yang

  telah terangkai pada bab sebelumnya.

         Adapun kesimpulannya adalah sebagai berikut:

  1. Penerapan akad mudharabah terhadap produk penghimpunan dana di

     BSM Kudus ini dengan menggunakan akad mudharabah muthlaqah.

     adapun     produk   penghimpunan    dana   yang    menerapkan   akad

     mudharabah muthlaqah ini adalah produk tabungan dan deposito.

  2. dalam penerapan akad mudharabah terhadap produk penghimpunan

     dana di BSM Kudus ini berdampak positif bagi perusahaan dengan

     mengalami perkembangan pada jumlah investasinya, jumlah nasabah

     serta jumlah nominal produk penghimpunan dana setiap tahunya.

     Disamping itu dampak negatif juga tidak bisa dihindarkan, hal ini

     diakibatkan karena kurang efektifnya dual banking sistem yang dapat

     membuat dana dari bank syari'ah dapat tercampur dengan dana dari

     bank konvensional, selain itu adanya kekhawatiran penyalahgunaan di

     perbankan syari'ah yang masih melakukan praktek riba.

  3. Adanya faktor pendukung yang membuat akad mudharabah di BSM

     Kudus dapat diterima oleh masyarakat salah satu faktor pendukungnya
                                                                             95




      adalah BSM membawa brand (merek) dari bank mandiri dikarenakan

      bank mandiri bertindak selaku pemilik mayoritas BSM. Sementara

      Bank Mandiri sendiri merupakan sebuah bank ternama dan dikenal

      luas dikalangan masyarakat sehingga keberadaan BSM lebih mudah

      diterima di tengah- tengah masyarakat. Selain faktor pendukung faktor

      penghambat      juga   tidak   bisa    dihindarkan   salah   satu   faktor

      penghambatnya adalah kurangnya publikasi dari pihak perusahaan

      sehingga masyarakat tidak mengetahui keberadaan dari BSM itu

      sendiri.


B. Saran-saran

          Dengan dilandasi oleh kerendahan hati setelah menyelesaikan

   pembahasan skripsi ini penulis memberi saran-saran. Hal ini dimaksudkan

   sebagai kritik konstruktif yang dilihat dilapangan. Adapun saran-saran

   yang dapat penulis berikan antara lain:

   1. Adanya peningkatan mutu sumber daya insani pengelola melalui

      pendidikan dan pelatihan yang mendalami masalah fikih terutama yang

      berkaitan dengan praktik penghimpunan dana BSM Kudus.

   2. Lebih meningkatkan kualitas pengawasan terhadap beroperasinya

      BSM agar tidak terjadi penyimpangan di BSM.

   3. Lebih      meningkatkan   publikasi     kepada   masyarakat    mengenai

      keberadaan BSM.
                                                                           96




C. PENUTUP

         Dengan kebesaran serta kekuasaan Allah SWT , akhirnya penulis

  dapat menyelesaikan tugas akhir dari studi penulis. Tetapi skripsi ini tidak

  dapat dikatakan sebagai hasil karya penulis sendiri. Karena tanpa

  bimbingan dan terkabulnya do’a skripsi ini tidak akan pernah

  terselesaikan. Penulis yakin, Allah SWT Maha Mendengar semua do’a dan

  Maha Menyayangi semua makhluk-Nya. Jadi minimalitas pengetauhan

  yang dimiliki penulis adalah sebuah anugerah dan ciptaan Allah SWT,

  yang jauh lebih besar dan agung.

         Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat bagi

  penulis sendiri maupun pembaca. Amin…..
                           DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung: Angkasa, 1993,
     cet.10

Ansori, Adbul Ghofur, Penerapan Prinsip Syari’ah Dalam Lembaga
    Keuangan Lembaga Pembiayaan Dan Perusahaan Pembiayaan,
    Jogyakarta : Putaka Pelajar, 2008.

Antonio, Muhammad Syafi’I, Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktik, Jakarta:
     Gema Insani, 2001.

Arifin, Zainul, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syari’ah, Jakarta: Pustaka
      Alvabet, 2006.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
     PT. Rineka Cipta, 1986.

Basir, Cik, Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah Di Pengadilan Agama
      Dan Mahkamah Syari’ah, Jakarta: Kencana, 2009.

Depag RI., Al-quran dan Terjemahnya, Jakarta: 1971.
Dokumentasi BSM Kudus pada tgl 4 dan 26 Maret 2010.
Fauzi, Muhammad, Analisis Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Keinginan
     Migrasi Nasabah Bank Umum Syari’ah Dikota Semarang, Semarang,
     IAIN Walisongo, 2008.

                  , Implementasi Prinsip Syari’ah Pada Perbankan Syari’ah
           Dikota Semarang, Semarang, IAIN Walisongo, 2007.

Http://Akhirudins. Com, 09 Mei 2010
Http://blog.keuanganpribadi.com, 15 Febuari 2010
Http://syariahmandiri.co.id, 15 Febuari 2010
Hendarto, Hendy, Masalah Besar Bank Syari’ah, Republika: 2005.
Hardiwinoto, Analisis Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Perusahaan
     Terhadap Beroperasinya Perbankan Syari’ah Di Kota Semarang, Tesis
     Progam Magister Akuntansi Undip 2004, Tidak di Publikasikan.

Ilmi, Makhalul, Teori dan Praktek Mikro Keuangan Syariah: Beberapa
      Permasalahan dan Alternatif Solusi, Yogyakarta: UII Press, 2002.

Karim, Adiwarman, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan, Jakarta: Raja
     Grafindo Persada, 2004.
                 ,Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan, Jakarta: Raja
     Grafindo Persada, 2007.

Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainya, Jakarta : PT Raja Grafindo
    Persada, 2005.

    , Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
     2005.

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
    Rosdakarya, 2002, Cet.XVII.

Mardiyah, Aenul, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Agunan Tambahan
    Dalam Pembiayaan Mudharabah Analisis Terhadap Pasal 8 UU No. 10
    tahun 1998, (Semarang: Perpustakaan Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo
    Semarang 2006).

Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Yogyakarta: Ekonisia, 2002.
Muhammad, Manajemen Bank Syari'ah, Jogyakarta: UPP AMP YKPN, 1987.
Ridwan, Muhammad, Konstruksi Bank Syari’ah Indonesia, Yogyakarta: UII
    Pres, 2005.
                   ,Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil (BMT), Yogyakarta:
    UII Pres, 2004.

Saed, Abdullah , Menyoal Bank Syari’ah Kritik Atas Interpretasi Bunga Bank
     Kaum Neo-Revivalis, Jakarta: Paramadina, 2004.

                 , Bank Islam Dan Bunga, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Sholahuddin, M, Lembaga Ekonomi dan Keuangan Islam, Surakarta:
     Muhammadiyah University Press, 2006.

Sudarsono, Heri , Bank Dan Lembaga Keuangan Syari’ah, Jogyakarta :
     Ekonisia 2004.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
     Dan R&D, Bandung: CV. Alfabeta, 2008, Cet. IV.

Sumitro, warkum, Asas-Asas Perbankan Islam Dan Lembaga-Lembaga
     Terkait BMI & Takaful Di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
     2002.
               , Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga Terkait Bamui
     & Takaful Di Indonesia, Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2004.
Sumiyanto, Ahmad , Menuju Koperasi Modern, Yogyakarta: PT ISES
    Consulting Indonesia, 2008.

Syafei, Rahmat ,Fiqh Muammalah, Bandung: Pustaka Ceria, 2001.
Triandaru, Sigit dan Budi Santoso, Totok, Bank Dan Lembaga Keuangan
     Lain, edisi2, Jakarta: salemba empat, 2006.

Wawancara dengan bpk Agus, bpk Sabar, Ibu Nurul, bpk Sulyadi, ibu Sri
   Indah dan bpk Soberi, Nasabah BSM Kudus Pada Hari Jum’at Tanggal
   26 Maret 2010.

Wawancara dengan Pelaksana Back Office, Dedi Yuniar pada Hari Senin,
   Tanggal 08 Maret 2010.

Widiyanto, Praktek Bagi Hasil Dalam Investasi Mudharabah Studi Kasus
     BMT Tumang Boyolali, (Semarang: Perpustakaan Fakultas Syari'ah
     IAIN Walisongo Semarang 2006).

Wirdyaningsih, dkk, Bank Dan Asuransi Islam Di Indonesia, Jakarta:
    Kencana, 2005.

Wiroso, Penghimpunan Dana Dan Distribusi Hasil Usaha Bank Syari’ah,
     Jakarta: PT Grasindo 2005.
                        DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama Lengkap                : Fariq Falahi
Tempat Tanggal Lahir        : Kudus, 17 Oktober 1986
Jenis Kelamin               : Laki-laki
Agama                       : Islam
Status                      : Belum Menikah
Alamat                      : Desa Kedungdowo Rt.01 Rw. 02 Kec. Kaliwungu
                                Kab. Kudus
Jenjang Pendidikan          :
   1. MI. Ittihadul Falah Kedungdowo                   Lulus Tahun 1998
   2. MTs NU TBS Kudus                                 Lulus Tahun 2002
   3. MA NU TBS Kudus                                  Lulus Tahun 2005
   4. Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang        Lulus Tahun 2010


Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya.



                                                  Semarang, 02 Juli 2010
                                                  Penulis


                                                  Fariq Falahi
                                                  Nim. 052411072
                      JADWAL KEGIATAN PENELITIAN



No    Waktu           Jenis Kegiatan                         Keterangan
1     Rabu      Survei lokasi bank yang Diterima            oleh ibu Dina            dan

     06/01 2010 akan       dijadikan      obyek dipersilahkan untuk menemui bpk

                penelitian      yaitu     Bank Dedi Yulianto selaku Back Officer

                Syari’ah Mandiri Kudus
2      Kamis    Menemui bpk Dedi Yulianto Dalam penerapan akad mudharabah di

     07/01/2010 dan      menyatakan      tentang BSM Kudus pada produk pendanaan

                proses       penerapan     akad sudah    sesuai    dengan    ketentuan

                mudharabah di BSM Kudus perbankan syari’ah
3      Senin    Mengajukan ijin penilitian Diijinkan dengan            catatan     tidak

     01/03/2010 kepada       pimpinan     BSM mengganggu aktivitas dan kinerja dari

                Kudus                     BSM Kudus
4      Selasa   Menemui bpk Dedi Yulianto Penelitian dapat dimulai pada hari

     02/03/2010 untuk     menyatakan      kapan Senin Tanggal 08/03/2010

                penelitian dapat dimulai
5      Senin    Wawancara            Dengan Menanyakan tentang sejarah BSM

     08/03/2010 Manajer BSM Kudus.               Kudus, Keadaan Karyawan, Jumlah

                                                 Nasabah, Lingkungan Sekitar, Faktor

                                                 Pendukung dan Penghambat di BSM

                                                Kudus
6      Rabu     Observasi      tentang     akad Produk pendanaan yang menggunakan

     10/03/2010 mudharabah pada produk akad mudharabah saat ini produk

                pendanaanya                      Tabungan BSM, Tabungan Berencana

                                                 BSM,    dan      Tabungan       Investia
                                              Cendekia BSM Serta Produk Deposito

                                            BSM
7      Senin     Menggali      data    yang Back officer menberikan data yang

     15/03/2010 berkaitan dengan penilitian dibutuhkan       untuk       melengkapi

                di Back Officer              penelitian
8    17/03/2010 Observasi proses kegiatan di Pelyanan terhadap nasabah sangat baik

                 bagian pelayanan nasabah     dengan    keramah      tamahan   para

                                              pegawai untuk selalu memberikan

                                            yang terbaik untuk nasabah
9      Senin     Wawancara    dengan   Dedi Menyatakan pelayanan,          kendala-

     29/03/2010 Yulianto     selaku    Back kendala     dalam     penerapan    akad

                 Officer                  mudharabah pada produk pendanaan
10     Kamis     Observasi Lingkungan BSM Ruang tunggu nasabah, kenyamanan

     01/04/2010 Kudus                         dalam ruang dan fasilitas yang ada

                                          diruangan
11     Senin     Meminta surat keterangan Tidak diperoleh karena Back Officer

     05/04/2010 telah melakukan penelitian    sedang ada acara dan disarankan untuk

                                          lain waktu
12     Senin     Meminta surat keterangan Mendapat surat          keterangan   telah

     12/04/2010 telah melakukan penelitian    melakukan penelitian
                                   Pedoman Observasi

      Implementasi Akad Mudharabah Serta Dampaknya Terhadap Produk

                 Penghimpunan Dana di Bank Syari’ah Mandiri Kudus

Lokasi Penelitian     : Bank Syariah Mandiri Kudus

Sobyek penelitian     : Implementasi Akad Mudharabah Serta Dampaknya Terhadap

                      Produk Penghimpunan Dana

  No Kemampuan           Proses Transaksi            Cek list   Keterangan

        BSM Kudus
  1     Merancang        Menyediakan produk                    Adanya

        dan mengelola    yang dibutuhkan                        kesepakatan

        dana             nasabah                                dari nasabah

        masyarakat
  2     Memberikan             Memberiakan                    Menerangkan

        kesempatan           kesempatan                         tentang produk

        untuk nasabah        bertanya untuk                     produknya

        untuk memilih        nasabah

        produk                 Membantu

                             nasabah untuk

                             pilihan yang tepat

                             sesuai dengan

                             kemampuannya
  3     Memajang            Piagam                            Pajangan

        hasil                Penghargaan BSM                    ruangan berisi

        penghargaan          di pajang                          besarnya nisbah

        yang diperoleh       diruangan                          bagi hasil dari
    BSM                Adanya pajangan                 tahun ketahun,

                        beberapa                        penghargaan

                        keunggulan BSM                  yang diperoleh

                       Adanya ketentuan                bsm serta visi

                        besarnya nisbah                 misi BSM dll

                       bagi hasil pertahun
4   Bank           Penetaan kursi tunggu               Bentuk kursi

    mensetting     ditata secara rapi sesuai            nyaman untuk

    ruangan secara kebutuhan                            menunggu

    variatif dan

    dinamis
5   Membuat        Adanya sudut baca                    Ruangan sudah

    sudut baca     diruangan                            penuh dengan

    diruangan                                           kursi tunggu
6   Adanya          Bank memberikan                    Adanya mutu

    pelayanan          pelayanan yang                   pelayanan yang

    yang baik          sesuai kebutuhan                 berkualitas

                       nasabah

                    Satpam mengawal

                       nasabah bertransaksi


                                                   Kudus, 14 April 2010

                                                   Observer



                                                   Fariq Falahi
                        PEDOMAN WAWANCARA

1. Kapan berdirinya Bank Syari'ah Mandiri Kudus?
2. Apa yang melatarbelakangi berdirinya Bank Syari'ah Mandiri Kudus?
3. Bagaimana respon masyarakat sekitar dengan kehadiran Bank Syari'ah Mandiri
   Kudus?
4. Berapa banyak nasabah di Bank Syari'ah Mandiri Kudus?
5. Produk apa sajakah yang di kelola Bank Syari'ah Mandiri Kudus?
6. Bagaimana penerapan akad mudharabah pada produk penghimpunan dana di
   Bank Syari'ah Mandiri Kudus?
7. Bagaimana perkembangan Bank Syari'ah Mandiri Kudus?
8. Apa Saja Dampak Positif dan Negatif Dari Produk Penghimpunan Dana di BSM
   Kudus?
9. Apa Saja Fasilitas yang ada di BSM Kudus?
10. Bagaimana Struktur Organisasi BSM Kudus?
 Perkembangan Produk Penghimpunan Dana di BSM Kudus Mulai Tahun 2005 –
                                2009

                                                                   Presentase
                      Presentase  Jumlah     Jumlah Nominal
      Jumlah                                                       Kenaikan
Tahun                 Kenaikan   Investasi    Penghimpunan
      Nasabah                                                    Penghimpunan
                       Nasabah Mudharabah         Dana
                                                                     Dana
 2005        1546            0%     2        15,943,210,100.00       0%
 2006        1965        27%        3        18,892,002,765.00       18%
 2007        2651        35%        4        22,914,265,020.00       21%
 2008        3964        50%        4        29,039,605,320.00       27%
 2009        6301        59%        4        41,186,301,396.00       42%

Rumus :
          t − (t −1)
                     ×100%
            (t −1)
Kenaikan Jumlah Nasabah Tahun 2006 =
                                   =
                                   = 0.27102 x 100%
                                   = 27.102% → 27%

Kenaikan Jumlah Nasabah Tahun 2007 =
                                   =
                                   = 0.349109 x 100%
                                   = 34.9109% → 35%

Kenaikan Jumlah Nasabah Tahun 2008 =
                                   =
                                   = 0.495285 x 100%
                                   = 49.5285% → 50%

Kenaikan Jumlah Nasabah Tahun 2009 =
                                   =
                                   = 0.589556 x 100%
                                   = 58.9556% → 59%

Kenaikan Jumlah Penghimpunan Dana =
Tahun 2006                        =
                                  = 0.184956 x 100%
                                  = 18.4956% → 18%
Kenaikan Jumlah Penghimpunan Dana =
Tahun 2007                        =
                                  = 0.212908 x 100%
                                  = 21.2908 → 21%

Kenaikan Jumlah Penghimpunan Dana =
Tahun 2008                        =
                                  = 0.267316 x 100%
                                  = 26.7316→ 27%

Kenaikan Jumlah Penghimpunan Dana =
Tahun 2009                        =
                                  = 0.41828 x 100%
                                  = 41.828 → 42%
                                           Struktur Organisasi BSM Cabang Kudus

                                               Kepala Kantor Cabang Pembantu
                                                        Agung Wibowo




       Account Officer                                                      Opperation Officer
         Roni Irawan                                                          Arief Yanuar




   1. Satpam
 Pelaksana Marketing Support                  Customer Service                     Teller        Pelaksana Back Officer
          Iqbal Fazza                        Dina Noor Amalia                 Amalia Herdiana        Dedi Yulianto
                                                                               Anis Musthofa
     2. Massenger
     3. Driver
     4. Office boy
*) Sesuai dengan SK DIR No.8/188-KEP/DIR, Tanggal 13 September 2006,
   tentang penetapan Struktur Organisasi Cabang PT Bank Syari’ah Mandiri.
Dokumentasi Foto Dari Kegiatan Penelitian di BSM Kudus:

				
DOCUMENT INFO
Description: IMPLEMENTASI AKAD MUDHARABAH SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRODUK PENGHIMPUNAN DANA DI BANK SYARI’AH MANDIRI KUDUS