Karakter Guru dan murid by klerkeran

VIEWS: 196 PAGES: 5

									  KARAKTER GURU DAN MURID DALAM BINGKAI MASYARAKAT
                    MULTIKULTURAL

                         Daya Negri Wijaya

Ketika kita berbicara tentang pembelajaran berbasis sosial budaya,
kita tidak akan pernah terlepas dari masyarakat majemuk atau
dalam tataran teoretis kita lebih mengenal dengan sebutan
masyarakat multikultural karena tidak bisa dipungkiri bahwa
pembelajaran yang berarti proses belajar mengajar antara guru dan
murid, disadari atau tidak (guru dan murid) berasal dari
masyarakat, yang berganti peranannya ketika berada di dalam kelas
menjadi seorang pebelajar (guru) dan yang belajar (murid).
Masyarakat yang majemuk ini tentu saja mengakibatkan
beragamnya karakteristik dari guru dan murid, hal inilah yang
kemudian menjadi petaka bagi para guru ketika dia tidak mampu
untuk memahami karakteristik peserta didik, hal ini diperlukan
seorang guru untuk dapat mengelola pembelajaran serta mencapai
tujuan pembelajaran yang ia inginkan. Berpedoman dari hal itu,
maka ijinkanlah kami untuk menguraikan terlebih dahulu seperti
apa gambaran singkat dari masyarakat multikultural.
Multikulturalisme terfokus pada pemahaman dan hidup dengan
perbedaan sosial dan budaya, baik secara individual, kelompok, dan
masyarakat. Individu dilihat sebagai refleksi dari kesatuan sosial dan
budaya di mana mereka menjadi bagian darinya. Dalam masyarakat
multikultural, suku bangsa sebagai golongan sosial yang askriptif
dan sebagai pemilik kebudayaan itu tetap ada, namun sebagai
ideologi dan sebuah kesatuan politik diredupkan perannya. Peran
suku bangsa tidak lagi harus berada dalam kehidupan publik atau
masyarakat luas, tetapi berada dalam kehidupan suku bangsa.
Parsudi Suparlan melihat bahwa multikulturalisme merupakan
pengikat dan jembatan yang mengakomodasi perbedaan-
perbedaan, termasuk perbedaan-perbedaan kesukubangsaan dan
suku bangsa dalam masyarakat yang multikultural. Perbedaan-
perbedaan itu terwadahi di tempat-tempat umum, tempat kerja
Masyarakat industri merupakan sebuah tatanan masyarakat yang
memiliki persaingan sangat ketat dalam berbagai aspek terutama
dalam peningkatan taraf hidupnya. Mereka berlomba-lomba untuk
mengejar materi, bagi mereka dengan memiliki materi lebih maka
akan memiliki status tinggi dalam masyarakat. Hal ini juga
berpengaruh pada kehidupan seorang guru, mereka bersaing
dengan para industrialis yang memiliki gaji jauh diatas para guru
sehingga rasa minderpun muncul di benak para guru. Hal ini
ditambah dengan karakteristik para murid yang melihat sesuatu
dari luar yang membuat posisi sang guru dalam posisi terjepit
bukannya dihormati tetapi malah dicaci maki oleh para murid
karena tidak selevel.
Masyarakat informasi merupakan suatu tatanan di dalam
masyarakat yang menekankan penguasaan informasi di atas
segalanya. Mereka berlomba mencari pengetahuan untuk
menguasai dunia dalam segala aspek. Pengetahuan adalah
kekuatan yang menakutkan, hal ini memberikan kita gambaran
bahwa jika kita tidak memiliki pengetahuan maka kita tidak
memiliki kekuatan, jika kita tidak memiliki kekuatan maka kita tidak
memiliki kekuasaan, jika kita tidak memiliki kekuasaan maka kita
akan tertindas dan jika kita tertindas maka kita akan terjerembab
masuk pada lingkaran setan kemiskinan. Dimana posisi para
guru/calon guru? Apakah mereka haus akan pencarian
pengetahuan? Tentu jawabannya semakin terbenam, virus malas
berpengetahuan mulai melanda negeri ini,.,. para calon guru
(mahasiswa) janganlah meneruskan kegiatan ini karena dijamin
para pendiri bangsa ini akan menangis melihat para pelopor
bangsanya terbenam. Guru merupakan garda terdepan dalam
dunia pendidikan maka tetaplah para guru menjadi guru bangsa
yang siap mencerdaskan kehidupan bangsa.
Renungan Untuk Guru Dan Calon Guru
Bagaimana seorang guru mau membangun bangsa ini lewat para
pelopornya jika pengetahuan yang dimilikinya Sangat sedikit serta
bagaimana para pelopor dapat membawa bangsa ini ke era
kejayaan jika pengetahuan yang dimilikinya sedikit pula?
Konkretisasi dari uraian diatas ialah ketika orang Jawa mendengar
janji-janji yang muluk-muluk atau cerita yang serba indah tetapi
tidak dapat diterima akal sehat, maka ia akan berkomentar:
Gombal!!! Jika kita melihat dalam pendekatan historis akan nampak
bahwa praktek penggombalan atau gombalisasi (penipuan melalui
pembodohan) yang terjadi di negeri kita Sejak sebelum
kemerdekaan. Ada penggombalan yang dilakukan bangsa lain
(kolonialisme dan imperialisme) tetapi ada juga penggombalan
yang dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri (feodalisme). Jadi
orang Indonesia menipu sesama orang Indonesia dengan
memanfaatkan kebodohan atau ketidaktahuan orang yang
digombali. Ini merupakan statu kejahatan moral. Praktek
gombalisasi ini sekarang telah menjadi statu fenomena global,
terjadi dimana-mana tidak hanya di Indonesia saja, kita dapat
melihat praktek orang pintar menggombali orang bodoh, orang
berkuasa menggombali mereka yang tidak berkuasa dan akibat
gombalisasi global ini ialah meluasnya kemiskinan dengan segenap
akibatnya.
Kini yang menjadi permasalahan ialah bagaimana mengatasi virus
malas menimba pengetahuan bagi guru dan siswa? Secara
sederhana dapat kami ungkapkan bahwa guru memerlukan gizi
untuk menambah amunisi pengetahuannya saat melakukan
pembelajaran dan murid membutuhkan motivasi untuk dapat
membiasakan diri belajar yang menyenangkan.
Guru merupakan garda terdepan dari pendidikan, tetapi guru
seperti apa yang dibutuhkan pendidikan pada umumnya saat ini?
Tentu saja guru yang kompeten yang dapat menjabarkan isi
dokumen yang terdapat dalam kurikulum ke dalam bentuk praktik
kegiatan belajar di kelas. Maka dari itu menjadi guru yang
profesional yaitu guru yang memiliki kreativitas tinggi yang selalu
memikirkan bagaimana siswanya dapat menguasai ilmu
pengetahuan dengan cara siswa dan bukan dengan cara guru yang
menyadari kondisi yang dimiliki olehnya, siswanya serta sekolahnya
adalah tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu hanya dengan
menjadikan sosok guru benar-benar profesional dalam artian yang
sesungguhnya merupakan kunci bagi terlaksananya kurikulum.
Maka perlu penambahan gizi (pengetahuan baru) untuk guru agar
tercipta kompetensi guru yang demikian. Pemerintah telah
menetapkan guru sebagai tenaga profesional, namun itu saja belum
cukup.
Kita perlu guru yang mau belajar terus-menerus tanpa ada rasa
puas diri. Selain itu guru tersebut harus mampu memahami
masalah anak pribadi demi pribadi. Guru juga dituntut untuk
menjadi pribadi yang fleksibel dan terbuka. Guru juga dituntut
untuk fokus kepada profesinya, tidak tertarik mencari pekerjaan
sambilan. Guru juga harus punya anggaran untuk membeli buku-
buku pengetahuan terbaru (menyisihkan sebagian tunjangan
profesi guru/tunjangan fungsional guru). Guru juga harus ikut aktif
mengikuti perkembangan teknologi informasi, termasuk melalui
internet.
Disajikan pada diskusi BEM FIS, 29 September 2010 dengan Tema:
Prospek Utopis Pembelajaran Berbasis Sosial Budaya di Indonesia
Mahasiswa jurusan Sejarah, FIS UM angkatan 2007, selain itu juga
terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris, FIB UB
angkatan 2009, Penulis mencoba untuk menyeimbangkan antara
kuliah dan organisasi, kuliah tetap memiliki prestasi yang
memuaskan dan dapat memajukan organisasi yang diikuti yakni
HMJ Sejarah Tahun 2009 dan BEM FIS Tahun 2010, E-Mail yang
dapat dihubungi Dayanegri@yahoo.com
Kasman. 2010. Ideologi Kritis Dan Masyarakat Multikultural. Blog
Dalam Worpress (Diakses tanggal 28 Mei 2010, jam 19.10 WIB)

								
To top