Situs Candi Mojokerto by celcomtek

VIEWS: 203 PAGES: 16

									      1. Pusat kerajaan Mojopahit, Mojokerto
      2. Situs Jolotundo, Trawas
      3. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH)




                     OLEH :
                  KELOMPOK 3
                  KELAS VII A

           1.   AWANG SETYA PRAJA
           2.   DUTA TRI PAMUNGKAS
           3.   JAYAN TRI PRASTYO JOHAN
           4.   LATIFATUN NISAK
           5.   LUKMAN HAKIM ARDAN
           6.   REZA SUGESTA
           7.   SIWI OKTAFIA SABTANINGSIH
           8.   YOGA ADITIYA ALDI


DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MOJOKERTO
        SMP NEGERI 2 MOJOSARI
                TAHUN 2008/2009



                        1
                       HALAMAN PENGESAHAN



Laporan Study wisata, wisata ini telah selesai
pada tanggal………………………………….


                                  Disetujui oleh
                                Guru Pembimbing




                              ENY DWI WP, S.pd
                                Nip. 510 146 913


                                  Disetujui oleh
                                    Wali Kelas




                              ENY DWI WP, S.pd
                                Nip. 510 146 913


                                  Disahkan oleh
                                  Kepala sekolah




                              Drs. H. HARYONO
                                Nip. 130 918 208




                                         2
                           KATA PENGANTAR



       Dengan ini kami mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat tuhan yang
Maha Esa, yang telah melimpakan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga
dalam waktu yang sangat panjang dan melelakan kami dapat menyelesaikan tugas
pembuatan laporan study wisata walaupun mengalami kesulitan.
       Kami menyadari bahwa tidak mungkin terbentuk laporan study wisata apa
adanya bantuan serta bimbingan bapak / ibu guru dan rekan – rekan yang telah
membantu membuat laporan study wisata ini oleh karena itu dalam kesempatan
ini mengucapkan terima kasih kepada :


   1. Ibu guru yang telah memberikan bimbingan kepada kami di dalam
       menyelesaikan tugas membuat laporan study wisata ini.
   2. Rekan – rekan yang juga ikut memberikan bantuan di dalam pembuatan
       study wisata ini.


       Namun demikian kami merasa dalam pembuatan laporan study wisata ini
masih banyak kekurangan dan boleh di katakan belum sempurna oleh karena itu
kami menghimbau kepada saudara khususnya para pembaca untuk saran dan
kritik yang bersifat membangun dan menjadikan lebih sempurna dari sebelumnya
dan para pembaca kami ucapkan terima kasih.




                                                         Wassalam




                                                       Tim penyusun




                                        3
                            HASIL PENELITIAN


A. CANDI BRAHU
       Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten
Mojokerto. Berdiri pada ketinggian, 32,79 meter diatas permukaan laut,
memghadap ke barat dengan Azimuth 227 derajat. Menurut Prof. Buchari bahwa
brahu bersal dari kata abu. Bangunan ini terbuat dari batu bata, denahnya
terbentuk segi empat dengan ukuran 18 x 22,5 meter,. Tinggi candi yang masih
tersisa hingga sekarang 22 meter. Bangunan ini sebagian telah rusak, tetapi
sekarang sudah di pugar. Pemugaran pertama di lakukan oleh belanda pada tahun
1920, selanjutnya pemugaran di lanjutkan 1990 / 1991 hingga tahun 1994 / 1995,
di kerjakan oleh proyek pembinaan peninggalan sejarah dan kepurbakalaan bekas
kota kerajaan Mojopahit jawa timur. Candi Brahu tidak mempunyai hiasaan, pada
bagian atap terhadap sisa profil berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk
stupa. Masa pendirian Candi Brahu berasal dari abad XV masehi. Menurut cerita
rakyat Candi Brahu berfungsi sebagai perabuan atau membakar mayat tetapi tidak
ada bukti arkeologis yang mendukung cerita rakyat tersebut. Bilik Candi saat ini
telah kosong, tetapi di dinding timur bilik masih terdapat altar tempat sesaji.
       Adapun riwayat penelitian sebagai berikut : menurut daftar infentaris
lama, di sekitar Candi Brahu dahulu juga terdapat bangunan – bangunan yang lain
yaitu Candi Gentong, Candi Muteran, Candi Tengah. Namun yang ada saat ini
hanya Candi Brahu dan Candi Gentong. Di sekitar kompleks Candi Brahu pernah
di temukan benda – benda kuno berupa benda – benda dari bahan emas dan perak,
6 (enam) buah arca yang bersifat agama Budha dan piring perak yang bertuliskan
kuno. Benda – benda tersebut sekarang di simpan di Museum Nasional Jakarta.
Pada tahun 1963 kira – kira 45 meter di sebelah barat daya Candi Brahu telah di
temukan 4 (empat) lempeng prasasti lembaga dari raja sindok (abad x masehi),
kini benda tersebut di simpan di balai penyelamatan arca.




                                          4
B. CANDI TIKUS




LOKASI
       Candi ini terletak di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan,
Kab. Mojokerto. Dari Candi Bajang Ratu ke arah tenggara sekitar 500 meter.
RIWAYAT SINGKAT
       Bangunan ini merupakan petirtaan, namun masyarakat menyebutnya candi
tikus. Candi ini terbuat dari bahan batu merah, kecuali pancuran – pancuran yang
terbuat dari batu andesit. Dan dibangun ± 3,50 meter di bawah permukaan tanah.
Bentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,5 m x 22,5 m. disebut Candi Tikus karena
pada tahun 1914 di daerah Temon sedang di serang hama tikus, sehingga
penduduk mengalami hambatan dan gagal panen. Kemudian masyarakat
bermusyawarah bagaimana untuk mengatasi hama tikus itu. Lalu masyarakat
mufakat mengadakan pengejaran dan penggalian sarang tikus secara masal.
Sehingga setiap sarang yang ada digali, ternyata dalam penggalian terhadap salah
satu temuan terminatur candi, yang pada waktu itu lokasi ini merupakan gundukan
tanah dan tempat makam rakyat setempat.
       Kemudian temuan terminatur candi di laporkan kepada Bupati Mojokerto
yang bernama R.A. KROMODJOJO ADINEGORO. Atas ijin dinas purbakala
yang pada waktu itu bernama Oudheldkundige dients. Pengalian menampakan
seluruh bangunan selesai pada tahun 1916, pendirian bangunan perkirakan pada
abad XIII – XIV, mengenai fungsi candi ini belum diketahui secara pasti, namun




                                       5
melihat bentuknya merupakan sebuah pamandian suci. Susunan candinya yang
memberi kesan bahwa candi ini mirip dengan Gunung Mahameru di Indiah.
Maka menurut para ahli candi ini konsep pembangunannya tidak lepas dari
kesucian gunung tersebut yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu. Candi
Tikus pernah dipugar pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tapi kita tidak
mendapatkan laporan secara rinci. Namun demikian cukup banyak bukti yang
dijadikan petunjuk antara lain pemasangan kembali menara candi induk, dengan
menggunakan semen dan pembuatan saluran pembuangan disisi selatan mengarah
ke barat dengan menggunakan gorong – gorong. Pada masa era (PEMNAS) Candi
Tikus dipugar direktorat perlindungan dan pembinan peninggalan sejarah dan
purbakala melalui proyek pemugaran dan peningalan bekas Ibukota Majapahit
pada tahun 1984/1985 sampai dengan tahun 1988/1989.
       Adapun pemugarannya dilaksanakan secara sebagian – sebagian dan
pinyatakan purna pugar (diresmikan) pada tanggal 21 september 1989 oleh
dirjenbud departemen pendidikan dan kebudayaan.
       Dalam pembenahan lingkungan diadakan perluasan tanah sehingga
halaman candi semakin luas. Bangunan candi ini disusun menjadi 3 teras pada
susunan utara terdapat tangga masuk serta 2 bilik kolam kecil. Di teras 1 terdapat
12 candi lainnya. Di sepanjang pelipit pondasi dihiasi pancuran yang berjumlah
17 buah yang berbentuk (makara dan padma) yang fungsinya sebagian pancuran.




                                        6
C. GAPURA BAJANG RATU




       Gapura Bajang Ratu terletak di Dusun Kraton, Desa Temon, Kec.
Trowulan, Kab. Mojokerto. Merupakan pintu gerbang tipe “Padu Raksa” yaitu
gapura yang memiliki atap.Gapura ini terbuat dari bata, kecuali lantai tangga sarta
ambang pintu yang terbuat dari batu andesit. Denah bangunan berbentuk segi
empat berukuran 11,5 x 10,5 m, tingginya 16,5 m, lebar lorong dan lebar lorong
pintu masuk 1,40 m. Secara vertical Gapura Bajang Ratu dibagi menjadi 3 bagian
yaitu : kaki, tubuh dan atap. Selain itu mempunyai sayap dan pugar tembok
dikedua sisinya. Pada kaki gapura terdapat hiasan panil yang menggambarkan
cerita “Sri Tanjung”, bagian atas tubuh terdapat ambang pintu yang di atasnya
terdapat hiasan kala dengan hiasan sulur – suluran. Sedangkan bagian atapnya
bentuknya bertingkat – tingkat denga puncaknya berbentuk persegi. Pada atap
tersebut terdapat hiasan berupa kepala kala di api singa, relif matahari, naga
berkaki, kepala garuda dan relif bermata satu atau monocle cyclops.




                                        7
D. GAPURA WRINGIN LAWANG
       Gapura Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan,
Kab. Mojokerto. Bentuk Gapura adalah Candi Bentar (Candi berbelah dua)
dengan ukuran panjang 13 m, lebar 11,5 dan tinggi 13,7. Bahan bangunan bata
dan batu. Fungsi candi untuk memasuki suatu komplek bangunan suci, tetapi
bangunan suci apa atau untuk siapa, sampai saat ini masih dalam penelitian para
ahli. Muhammad Yamin di tempat ini menemukan wajah patung tanah liat yang di
interprestasikan sebagai wajah Gajah Mada, selanjutnya beliau memperkirakan
bahwa gapura tersebut merupakan pintu masuk menuju kediaman Gajah Mada.
Kepala patung tersebut sekarang disimpan di Museum Trowulan. Gapura Wringin
Lawang di pugar pada tahun anggaran 1991/1992 s/d 1994/1995.




                                      8
E. MAKAM TRALAYA




       Makam Tralaya terletak di Desa Sentonorejo, Kec. Trowulan, Kab.
Mojokerto. Makam – makam di Tralaya mempunyai nisan berbentuk kurawal
dengan hiasan antara lain berupa motif tumpal, teratai, karopak dan Surya
Majapahit. Selain itu terdapat tulisan Jawa Kuna berupa angka tahun 1376 – 1611
m, serta tulisan Arab yang memuat surat Ali Imron ayat 18 dan 185 serta kalimat
Syahadat inti tulisan tersebut adalah mengakui ke esaan Allah dan hanya Allah
yang bersifat baqa’/kekal, manusia mengalami kematian adanya makam           di
Tralaya yang merupakan bagian selatan Ibukota Majapahit menunjukan telah ada
penduduk   /   bangsawan    beragama    Islam   hidup   berdampingan    dengan
pemelukagama lainnya yaitu Hindhu – Budha.




                                       9
F. KOLAM SEGARAN




       Sebuah kolam buatan dari zaman kerajaan Majapahit yang dengan melalui
PELITA telah berhasil di pugar kembali. Bangunan ke kunoan menempati areal
tanah seluas lk. 6½ ha, memanjang dari utara ke selatan. Ukuran bangunan 375 m
x 175 m dengan kedalaman kolam sekitar 2 meter. Pintu masuk sekaligus pintu
keluar kolam berada di bagian barat kirannya patut juga untuk di renungkan :
warisan budaya yang utuh adalah modal yang sangat di perlukan bagi generasi
penerus.




                                     10
G. MUSEUM




       Pada tahun 1924 April museum di bangun disebut dengan yayasan OFM,
lokasi museum yang sebenarnya adalah di Mojoagung disebelah polsek dan
tujuannya untuk mengumpulkan dan melestarikan cagar budaya museum ini
sekarang di Desa Trowulan, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto. Manfaat museum
ini adalah untuk sarana pendidikan, penelitian dan untuk sarana obyek wisata .
Berikut ini benda – benda yang ada di museum :


1. Blencong fungsinya untuk mengantungkan lampu, blencong ini pada masa
   Mojopahit di gunakan seni pertunjukan, cerita lakon di ambil dari epos Maha
   Bratama dan Ramayana pertunjukan ini di mulai setelah matahari terbenam.
2. Lampu minyak bahannya dari perunggu fungsinya untuk penerangan lampu
   minyak ini ada pada abad ke 13.
3. Hiasan pintu fungsinya gelangan pada pintu sebagai membuka dan kalau ada
   tamu gelangannya bisa di ketukan pada pintu.
4. Perlengkapan hewan bahanya dari perunggu adanya pada abad ke           13 – 15
   perlengkapan hewan ini biasanya dipakai pada hewan kerbau.
5. Alat rumah tangga ada sendok, garbu, piring dan banyak lagi yang lainnya.




                                       11
6. Gobok ini bahannya dari perunggu yang tengahnya itu mata uang Cina yang
   disebut kepeng.
7. Perhiasan tubuh terdiri dari kalung, gelang dan lain – lainnya bahan dari
   perunggu.
8. Ada juga sumur kuno yang bahannya dari tanah liat namanya jobong yang ke
   dalamannya 5 meter.
9. Prasasti Alasanta adanya pada 6 september 939 masehi
10. Kertas   berfungsi     sebagai   alat   upacara   keagamaan   atau   juga   bisa
   digunakan senjata.
11. Mangkok berfungsi untuk tempat air suci.
12. Genta berfungsi untuk sebagai upacara keagamaan.
13. Arca perwujudtan teradisi Raja/Ratu/Dewa sesembahan Raja.
14. Liliatur Candi fungsinya untuk pemujaan di rumah – rumah bahan dari tanah
   liat abad ke 13 – 15.
15. Arca harisi terbuat dari tanah liat patung ini jenis wanita yang di sebut Dewi
   pelindung anak kecil
16. Arca Terakota anak fungsinya hiasan/mainan arti dai kat terakota tanah yang
   sudah di bakar.
17. Patung Arca Dewa Trimurti.
18. Dewa Siwa adalah perusak dunia.
19. Dewa Wisnu adalah Dewa pemelihara dunia.
20. Dewa Bramana adalah Dewa pencipta dunia.
21. Pipa air orang dulu terbuat dari tanah liat.
22. Jalad Duara adalah pancuran air biasanya dibuat hiasan dinding –        dinding
   kolam.
23. Macam – macam Arca binatang yang terbuat dari batu andesit dan batu putih.
24. Vas bunga berfungsi untuk meletakan bunga.
25. Tempayang berfungsi untuk tempat air.
26. Buyung berfungsi untuk tempat air dan terbuat dari tanah liat.
27. Celengan yang berbentuk babi, gajah, bulat berfungsi sebagai menyimpan
   uang logam.




                                            12
28. Kendi Palembang.
29. Kramik ini kusus di datangkan dari cina, karena mojopahit belum bisa
   membuat gerabah.
30. Kapak perimbas, kapk genggam, kapak penepak alat untuk berburu binatang,
   karena hidupnya masih liar.
31. Mata panah digunakan untuk memburuh binatang yang bagian ujung.
32. Manik yang ada di museum terbuat dari batu jasfer, batu kuarsa.
33. Fosil kepala gajah di temukan di jetis Mojokerto oleh pecinta alam tahun 2002
   umur fosil ini 3 juta tahun sebelum masehi.




                                       13
H. PPLH (PUSAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP)




       Pusat pendidikan lingkungan hidup ini berdiri pada 15 Mei 1988 oleh
Pangeran Bern Hard dari Negeri Belanda. Di bangunnya di Seloliman, karena
tempatnya strategis. Fungsi di bangun PPLH adalah sebagai tempat belajar
tentang lingkungan.
       Tujuan dibangun PPLH mengajak semua lapisan masyarakat supaya
peduli pada li8ngkungan sehingga kerusakan bisa minimalkan metode pendidikan
ada 2 yaitu :
1. POD (Pendidikan Orang Dewasa)
2. partisipasi
       Fungsi hutan adalah sebagai media praktek dan media out bon. Di PPLH
kalau terjadi hujan 3 sampai 4 kali salor water hiter di bangun seperti piramit. Di
PPLH ada juga bagian lokasi apotik hidup tumbuhan disana memerlukan 3 bakteri
yaitu bakteri pathogen, bakteri mesomefolia, bakteri termomefolia.
       Pengelolahan air tercemar dengan sistem tumbuh – tumbuhan adalah salah
satu cara untuk membersihkan air tercemar tanpa bahan kimia, sehingga tidak ada
dampak lain terhadap lingkungan akibat proses jenis air D.




                                        14
       Srully adalah kotoran hewan ternak sapi ataupun kerbau baik padat
maupun cair yang di tampung di sebuah lubang/sumur/tong besar.Di PPLH ada
juga proses peleburan kertas maupun plastik.
A. JOLOTUNDO
       Jolotundo terletak di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten
Mojoketo. Jolotundo adalah sebuah kolam peninggalan kerajaan Airlangga. Dulu
pemandian ini dibuat mandi oleh raja – raja kerajaan Airlangga. Dan sekarang
paenduduk sekitar mempercayai bila mandi di tempat itu akan mendapatkan
anugra dari Tuhan yang berupa segala permintaan.




                                       15
                              PENUTUP



A. KESIMPULAN
         Berdasarkan laporan karya tulis saya tentang study wisata Trowulan,
  PPLH dan Jolotundo dapat saya simpulkan bahwa :
  1. Di Trowulan peninggalan pusat kerajaan Mojopahit.
  2. Di PPLH merupakan tempat penelitian lingkungan hidup baik tentang
     sampah, tenaga alternatif maupun tanaman toga.
  3. Di pemandian Jolotundo tempat peninggalan raja Airlamgga.
         Semuanya merupakan pengetahuaan yang penting untuk pengetahuan
  dan perkembangan jaman sejara masa lampau dan era globalisasi.


B. SARAN
         Dari hasil penulisan laporan saya sarankan kepada semua pihak untuk
  melestarikan peninggalan nsejarah yang bernilai tinggi dan marilah kita
  lestarikan lingkungan, jaga dan budi dayakan agar generasi mudah mendatang
  tidak menanggung beban kehancuran atau kerusakan bumi.




                                                       Wassalam




                                                      Tim penyusun




                                    16

								
To top