Docstoc

LP RJP

Document Sample
LP RJP Powered By Docstoc
					     Laporan Pendahuluan
     RJP (Resuitasi Jantung Paru)
     Oleh : Nur Fitriani Yusman, 0706270964


     Pengertian Resuitasi Jantung Paru
            Resusitasi Jantung Paru adalah suatu tindakan darurat yang merupakan salah satu usaha
     untuk mengembalikan keadaan henti nafas dan henti jantung ke fungsi optimal, guna mencegah
     kematian biologis. Resusitasi merupakan segala usaha untuk mengembalikan fungsi sistem
     pernafasan, peredaran darah dan saraf, yang terhenti atau terganggu sehingga fungsinya dapat
     berhenti sewaktu-waktu, agar kembali menjadi normal seperti semula. Dengan kata lain
     Resusitasi jantung paru merupakan terapi segera untuk henti jantung dan henti nafas.
            Beberapa penyebab henti jantung paru meliputi sebab-sebab pernafasan, pemutusan
     aliran oksigen dan penyebab sirkulasi. Sebab-sebab pernafasan, bisa dikarenakan hipoksia,
     contohnya pada pasien-pasien dengan kondisi sumbatan pada pangkal lidah pada pasien yang
     tidak sadar, atau hambatan jalan nafas karena ada aspirasi isi lambung, dapat pula disebabkan
     depresi pernafasan, kelumpuhan otot-otot pernafasan, keracunan, atau kelebihan dosis obat.
     Pemutusan aliran oksigen yang disbebabkan oleh henti sirkulasi oleh kelainan jantung primer,
     Sedangkan penyebab sirkulasi, apabila fungsi transportasinya terganggu, seperti : syok
     hipovolemik karena pendarahan, reaksi anafilaktik, kasus-kasus tenggelam, overdosis obat,
     ketidakseimbangan elektrolit, ketidakseimbanagan irama jantung.


     Pengkajian Henti Jantung
        Pengenalan terhadap henti jantung bergantung ditemukannya tanda-tanda tidak adanya
     sirkulasi seperti henti jantung paru ditandai dengan :
1.          Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung)
2.          Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakialis
     pada bayi)
3.          Henti nafas atau mengap-megap (gasping)
4.          Terlihat seperti mati (death like appearance)
5.          Warna kulit pucat sampai kelabu
6.          Pupil dilatasi (setelah 45 detik).
    Resusitasi dilakukan pada :
          Infark jantung “kecil” yang mengakibatkan “kematian listrik”
          Serangan Adams-Stokes
          Hipoksia akut
          Keracunan dan kelebihan dosis obat-obatan
          Sengatan listrik
          Refleks vagal
          Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan lain yang masih memberi peluang untuk hidup.
    Resusitasi tidak dilakukan pada :
          Kematian normal, seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat.
          Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi.
          Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu sesudah ½ – 1
    jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP


    Prinsip Utama Yang Mendasari RJP
    -Ketepatan : terapi ditujukan untuk mengembalikan pasien pada kehidupan yang berkualitas.
    -Kecepatan : setelah kegagalan sirkulasi / nafas total terjadi hipoksia vena dalam waktu 3-4
    menit. Selanjutnya, segera terjadi anoksia jantung yang menghambat pemulihan sirkulasi. Akibat
    dari penanganan yang tidak tepat dan cepat adalah kematian pasien.


    Penatalaksanaan RJP
    Pemeriksaan Primer
    Prinsip pemeriksaan primer adalah bantuan napas dan bantuan sirkulasi. Untuk dapat mengingat
    dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, yaitu :
      A airway (jalan napas)
      B breathing (bantuan napas)
      C circulation (bantuan sirkulasi)
    Sebelum melakukan tahapan A (airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada
    korban/pasien, yaitu :
    1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong
   2. Memastikan kesadaran dari korban/pasien.
             Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak penolong harus melakukan
      upaya agar dapat memastikan kesadaran korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh atau
      menggoyangkan bahu korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan
      yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!! /Mbak !!!.
   3. Meminta pertolongan.
   Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera minta bantuan
   dengan cara berteriak “Tolong !!!” untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih
   lanjut.
4. Memperbaiki posisi korban/pasien.
             Untuk melakukan tindakan RJP yang efektif, korban/pasien harus dalam posisi terlentang
   dan berada pada permukaan yang rata dan keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring
   atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang. Ingat! penolong harus membalikkan
   korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama.
   Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur
   yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
5. Mengatur posisi penolong.
             Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan
   sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakkan lutut.
   See Picture:
                      (Posisi Penolong Yang Benar)
A.     (AIRWAY) Jalan Napas
                  Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukkan
     tindakan :
     a)Pemeriksaan jalan napas
          Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda
     asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat
     dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan
     sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan.
     Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan
     jari telunjuk Pada mulut korban.
     b)Membuka jalan napas
          Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak
     sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink,
     inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat
     dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang dagu (Head tild – chin lift) dan Manuver
     Pendorongan Mandibula (Rahang Bawah).
B.     (BREATHING) Bantuan napas
     Prinsipnya adalah memberikan 2 kali ventilasi sebelum kompresi dan memberikan 2 kali
     ventilasi per 10 detik pada saat setelah kompresi. Terdiri dari 2 tahap :
     1.Memastikan korban/pasien tidak bernapas.
           Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar bunyi napas dan
     merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di
     atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
     Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik.




     2.Memberikan bantuan napas.
          Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut,
     mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara
     memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali
     hembusan adalah 1,5 – 2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000 – 1000 ml (10
     ml/kg) atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas
     dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup.
     Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan
     respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas.
     Cara memberikan bantuan pernapasan :
     o Mulut ke mulut
     Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang tepat dan efektif untuk
     memberikan udara ke paru-paru korban/pasien. Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut
     ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus
     dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat
     mengghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung korban/pasien dengan
     ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang
     diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700 – 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang
     berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung,
     sehingga terjadi distensi lambung.




     O Mulut ke hidung
     Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan,
     misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya
     jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban/pasien.
     O Mulut ke Stoma
     Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea
     langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi
     dari mulut ke stoma.


C.     (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi
     Terdiri dari 2 tahapan :
     1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien.
          Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis
     di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah)
     penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser
     ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 – 2 cm raba dengan lembut selama 5 – 10 detik.
     Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan
melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika
tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.




2.Memberikan bantuan sirkulasi.
        Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan
sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai
berikut :
o Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga
bertemu dengan tulang dada (sternum).




o Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah
tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan
sirkulasi.
o Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas
telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada korban/pasien, jari-
jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.
oDengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari
berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali (dalam 15 detik = 30 kali kompresi) dengan
kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 – 2 inci (3,8 – 5 cm).
o Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali
ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk
melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).
o Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat
melepaskan kompresi.
o Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 (Tiap 15 detik = 30 kompresi dan 2
kali tiupan nafas), dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong.
       Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60 – 80 mmHg,
dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari
curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar
sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.


RJP dihentikan bila :
        Jantung sudah berdetak ditandai adanya nadi dan nafas sudah spontan
        Mengecek nadi dan pernafasan
        Penolong sudah kelelahan
        Pasien dinyatakan tidak mempunyai harapan lagi/meninggal


RJP menurut American Heart Association 2010
American Heart Association (AHA) baru-baru ini telah mempublikasikan pedoman cardio
pulmonary resuscitation dan perawatan darurat kardiovaskular 2010 yang dipublikasikan setiap 5
tahun sekali. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkah-
langkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini unutk mengidentifikasi faktor
yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Mereka mengembangkan
rekomendasi untuk mendukung intervensi yang hasilnya menunjukkan paling menjanjikan.
1. Bukan ABC lagi tapi CAB
    Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC: airway,
breathing dan chest compressions, yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan kompresi
dada. Saat ini kompresi dada didahulukan, baru setelah itu kita bisa fokus pada airway dan
breathing. Pengecualian satu-satunya adalah hanya untuk bayi baru lahir. Namun untuk RJP
bayi, RJP anak, atau RJP dewasa, harus menerima kompresi dada sebelum kita berpikir
memberikan bantuan jalan nafas.
2. Tidak ada lagi looking, listening dan feeling
    Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah dengan bertindak,
bukan menilai. Telepon ambulans segera saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak
bernafas dengan baik. Percayalah pada nyali anda, jika anda mencoba menilai korban bernafas
atau tidak dengan mendekatkan pipi anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja. Tapi tetap
saja sang korban tidak bernafaas dan tindakan look feel listen ini hanya akna menghabiskan
waktu
3. Kompresi dada lebih dalam lagi
    Seberapa dalam anda harus menekan dada telah berubah pada RJP 20110 ini.
Sebelumnya adalah 1 ½ sampai 2 inchi (4-5 cm), namun sekarang AHA merekomendasikan
untuk menekann setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada.
4. Kompresi dada lebih cepat lagi
    AHA mengganti redaksi kalimat disini. Sebelumnya tertulis: tekaan dada sekitar 100
kompresi per menit. Sekarang AHA merekomndasikan kita untuk menekan dada minimal 100
kompresi per menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik.
5. Hands only CPR
    Ada perbedaan teknik dari yang tahun 2005, namun AHA mendorong RJP seperti ini
pada 2008. AHA masih menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands
only CPR pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka. Pertanyaan besarnya adalah:
apa yang harus dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak pingsan di depan
mereka dan korban yang bukan dewasa/ AHA memang tidak memberikan jawaban tentang
hal ini namun ada saran sederhana disini: berikan hands only CPR karena berbuat sesuatu
lebih baik daripda tidak berbuat sama sekali.
6. Kenali henti jantung mendadak
    RJP adalah satu-satunya tata laksana untuk henti jantung mendadak dan AHA meminta
kita waspada dan melakukan RJP saat itu terjadi.
7. Jangan berhenti menekan
    Setiap penghentian menekan dada berarti menghentikan darah ke otak yang
mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan
beberapa kompresi dada untuk mengalirkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk
terus menekan selama kita bisa. Terus tekan hingga alat defibrilator otomatis datang dan siap
untuk menilai keadaan jantung. Jika sudah tiba waktunya untuk pernafasan dari mulut ke
mulut, lakukan segera dan segera kembali pada menekan dada.
                                     Daftar Pustaka


Muttaqin, Arif .(2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
   Kardiovaskuler. Jakarta : Penerbit Salemba Medika
Davey, Patrick. (2006). At The Glance Medicine. Jakarta : Penerbit Erlangga
Huon, Gray dkk. (2003). Lecture Notes Kardiologi ed.4. Jakarta : Penerbit Erlangga
Agung (2010). Resusitasi Jantung Paru Pada Kegawatan Kardiovaskuler.
   http://www.agung-skep-ns.co.cc/2010/08/resusitasi-jantung-paru-pada-kegawatan.html
   (diakses Jum’at 4 Maret 2011, pukul 15:13)
Ariefudin. (2011). Pedoman RJP Update 2010 (Revisi).
   http://www.medicalzone.org/2010/index.php?option=com_content&task=view&id=553
   (diakses Sabtu 5 Maret 2011, pukul 20:19)

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:2837
posted:3/15/2011
language:Indonesian
pages:12