Komunikasi dalam kepemimpinan (manajemen keperawatan)

Document Sample
Komunikasi dalam kepemimpinan (manajemen keperawatan) Powered By Docstoc
					                                           BAB I
                                    PENDAHULUAN



Latar Belakang
       Setiap orang yang hidup bersosial dengan orang lain, pasti memerlukan komunikasi agar
apa yang di inginkannya dapat dengar oleh orang lain. Pengaruh komunikasi dalam kehidupan
sehari sangat banyak, sebegitu pentingnya komunikasi dapat merubah prilaku manusia dan dunia
ini. Komunikasi bisa saja membawa sesuatu yang bersifat positif namun bila salah gunakan bisa
mengarah ke sifat negatif dan bahkan nyawa sendiri bisa menjadi taruhan.
       Manusia yang hidup tanpa komunikasi seperti manusia yang hidup di dalam sebuah
ruangan yang tidak ada penghuninya dan tidak ada 1 pun orang berada di sana,hanya dia sendiri.
Artinya manusia ini tidak ingin orang lain berada di sisinya, dan tak seorang pun mendengar apa
yang ada di dalam pikirannya. Begitu sulitnya dan ruginya hidup tanpa komunikasi.
       Seorang pemimpin sangat membutuhkan ilmu komunikasi dalam mengatur sesuatu.
Sedikit saja salah mengkomunikasikan sesuatu maka keselahan dan masalah lah yang di dapat.
Apalagi dalam lingkup kesehatan, sedikit saja salah memberikan komunikasi kepada orang lain
dalam memberikan suatu tugas yang penting, maka nyawa taruhannya. Oleh karena itu, di
bidang apapun komukasi sangat penting.
       Dari tahun ke tahun komunikasi semakin mudah saja, yang dulunya seseorang sulit untuk
berkomunikasi dengan orang lain, sekarang dalam sekejap saja seseorang dapat mengetahui
kabar dari orang yang ingin dia tahu, walaupun jauh tempatnya. Kemajuan tekonologi membuat
komunikasi makin berkembang dan makin mempermudah manusia untuk berkomunikasi.
Kemajuan komunikasi ini harus di manfaatkan untuk kebaikan karena bila salah menggunakan
akan membuat masalah yang besar bagi dunia.




                                                                                             1
                                           BAB II
                                   PERMASALAHAN



Kasus
        Dalam suatu kampus terdapat 5 organisasi otonom yang berada di bawah kepemimpinana
BEM, dari 5 organisasi tersebut ternyata 1 organisasi lebih cepat berkembang dari organisasi
lain, di karenakan mahasiswa yang berada di dalam organisasi tersebut sangat rajin dan
kepemimpinan di dalamnya membuat organisasi tersbut sangat solid. Pemimpin yang berada di
dalam organsasi tersebut menerapkan kepemimpinan demokrasi dan otokratik, sehingga anggota-
anggotanya menjadi sangat di hargai dan merasa memiliki organisasi tersebut. Kehadiran di
dalam organisasi tersebut sangat aktif, hampir 97 % anggotanya selalu hadir dalam setiap rapat
dan kegiatan.
        5 bulan berjalan, ternyata masalah hadir dalam organisasi tersebut, dimana kehadiran
berkurang yaitu 80% anggota tidak bisa hadir dalam setiap rapat di karenakan jadwal kul dan
juga praktek rumah sakit yang bertabrakan dengan kegiatan mereka.
        Kemudian masalahpun tidak sampai di sana, ternyata selama 5 bulan menjalankan
keorganisasian ternyata ada naggota yang berpacaran dalam organisasi tersebut. Hal ini menjadi
masalah karena anggota yang lain sulit berkomunikasi dengan si wanita. Karena mereka
berpacaran, otomatis anggota organisasiperlu menjaga jarak agar si laki-laki tidak cemburu.
Sehingga terkadang si wanita tersebut sulit menjadi bahan pembicaraan dan di jauhi laki-laki
dalam organisasi tersebut. Dalam beberpa hari ternyata si wanita jarang hadir di karenakan
stigma yang ada dalm organsasi tersebut dan laki mengancam bila masalah ini belum di
selesaikan ketua maka mereka akan keluar dari organisasi tersebut.
        Apa yang harus di lakukan pemimpin dalam masalah yanga da di atas ?




                                                                                            2
                                          BAB III
                                     PEMBAHASAN



A. Pengertian
       Banyak sekali definisi yang di opinikan oleh para ahli komunikasi di antaranya. Menurut
Haber (1987, Hal 226) Komunikasi adl. Suatu proses dimana informasi ditransmisikan melalui
sebuah sistem lewat simbol, tanda, atau perilaku yg umum. Komunikasi merupakan suatu proses
pertukaran info atau proses pemberian arti sesuatu (Taylor,1993). Vibizmanagement –
Leadership) – Komunikasi merupakan sebuah komponen penting dalam suatu kepemimpinan.
Seorang pemimpin yang baik salah satunya dinilai dari caranya berkomunikasi. Oleh karena itu,
penting bagi pemimpin untuk memahami guideline mengenai cara yang efektif dalam
berkomunikasi. Jd komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi dari
seseorang kepada orang lain.
David Berlo mengajukan model linear dimana setiap tndkn komunikasi ada 4 elemen
  Sumber :orang yang berinisiatif & mengirimkan pesan
  Pesan : informasi,pendapat,hasil & diarahkan untuk suatu tujuan
  Saluran :jalan yang dilalui oleh pesan yang dikirimkan
  Penerima : penerima yang dituju, penerima pesan
Shannon dan Weaver menambahkan 3 elemen lg dari 4 elemen David Berlo
  Tanda : tanda yg menyimbolkan isi pesan
  Ribut : dorongan yg menghalangi pengiriman tanda
  Arus balik : informasi yg dipancarkan dari tingkatan sebelumnya dan sesudahnya
B. Jenis-jenis komunikasi
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada
tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan non-verbal yang dimanifestasikan secara
terapeutik.
   1. Komunikasi verbal
       Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah
sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka.
Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang

                                                                                             3
dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau
menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang
tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka
yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.
Komunikasi Verbal yang efektif harus:
   a) Jelas dan ringkas
   Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata
   yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai
   dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa
   membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan
   yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan,
   siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara
   sederhana.
   Contoh: “Katakan pada saya dimana rasa nyeri anda” lebih baik daripada “saya ingin anda
   menguraikan kepada saya bagian yang anda rasakan tidak enak.”
   b) Perbendaharaan Kata
   Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan
   ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika
   ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti
   petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti
   klien. Daripada mengatakan “Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda”
   akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.
   c) Arti denotatif dan konotatif
   Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan
   arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata
   serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan
   menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika
   berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak
   mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi,
   terapi dan kondisi klien.
   d) Selaan dan kesempatan berbicara

                                                                                           4
   Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal.
   Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan
   menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien.
   Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu
   digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk
   mendengarkan     dan   memahami     arti   kata.   Selaan   yang   tepat   dapat   dilakukan
   denganmemikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat
   nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan
   kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk
   diulang.
   e) Waktu dan relevansi
   Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis
   kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan
   secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara
   akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi.
   Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan
   dengan minat dan kebutuhan klien.
   f) Humor
   Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit
   yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan
   dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor
   merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat,
   meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi
   pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau
   menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.
  2. Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan katakata. Merupakan cara
yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu
menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian
sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan



                                                                                             5
verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.
Komunikasi non-verbal teramati pada:
a) Metakomunikasi
   Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara Pembicara
   dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan
   dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam pesan yang menyampaikan
   sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar. Contoh: tersenyum ketika sedang marah.
b) Penampilan Personal
   Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama
   komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama.
   Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seseorang berdasarkan penampilannya
   (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993).
   Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekrjaan,
   agama, budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat
   menimbulkan citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik perawat
   mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima, karena
   tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang perawat. Walaupun
   penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan
   lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak
   memenuhi citra klien.
c) Intonasi (Nada Suara)
   Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan yang dikirimkan,
   karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya. Perawat harus
   menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk
   menyamakan rsa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara perawat.
d) Ekspresi wajah
   Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak melalui
   ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering
   digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak mata
   sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak mata
   selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan

                                                                                                 6
   untuk menjadi pengamat yang baik. Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika
   sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga
   perawat tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan
   sejajar.
e) Sikap tubuh dan langkah
   Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap; emos, konsep diri dan keadaan fisik.
   Perawat dapat mengumpilkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan
   langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat, atau
   fraktur.
f) Sentuhan
   Kasih sayang, dudkungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan
   merupakan     bagian   yang    penting    dalam   hubungan   perawat-klien,   namun    harus
   mnemperhatikan norma sosial. Ketika membrikan asuhan keperawatan, perawat menyentuh
   klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau membantu memakaikan
   pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien tergantung kepada perawat untuk
   melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk menghindarkan sentuhan. Bradley &
   Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa walaupun sentuhan banyak
   bermanfaat ketika membantu klien, tetapi perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan
   dapat dimengerti dan diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan
   hati-hati.
C. Komponen Komunikasi
   Terdapat enam komponen komunikasi sebagai berikut
  1. Komunikasi, yaitu orang yang menyampaikan/mengirim pesan
  2. Komunikan, yaitu orang yang menerima pesan
  3. Pesan, yaitu sesuatu yang di sampaikan oleh pengirim kepada seseorang yang dituju
      (penerima) dengan maksud dan tujuan tertentu. Pesan yang disampaikan dapat berupa
      verbal, tertulis, ataupun nonverbal.
  4. Lingkungan, yaitu tempat dimana komunikasi dilaksanakan. Lingkungan ini dapat berupa
      internal maupun eksternal. Lingkungan internal meliputi kepercayaan, nilai-nilai,
      temperamen, dan tongkat stress pengirim pesan dan penerima pesan. Sedangkan
      lingkungan eksternal meliputi cuaca, suhu, faktor kekuasaan, dan waktu.

                                                                                             7
  5. Media pesan, yaitu alat atau sarana perantara yang digunakan oleh pengirim pesan
     dengan tujuan agar pesan bisa sampai kepada penerima. Misalnya pendengaran,
     penglihatan, sentuhan, media cetak, ataupun media elektrinik.
  6. Tingkat pesan, yaitu tingkat pentingnya pesan, yang dapat berbentuk informasi, kata, atau
     simbol lain.




D. Tatanan Komunikasi
  Tatanan komunikasi dimaksud adalah proses komunikasi ditinjau dari jumlah komunikan
  (satu atau lebih) yang terdiri atas:
  (1) Komunikasi pribadi (personal communication)

                                                                                             8
        (a) Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication)
        (b) Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication)
    (2) Komunikasi kelompok (group communication)
        (a) Komunikasi kelompok kecil (small group communication)
        (b) Komunikasi kelompok besar (large group communication)
    (3) Komunikasi massa (mass communication)
        (a) Komunikasi media massa cetak (printed mass media communication)
        (b) Komunikasi media massa elektronik (electronic mass media communication)


        Para pakar komunikasi menggambarkan bentuk komunikasi dalam bentuk yang berbeda-
beda. Hali ini terjadi karena perbedaan latar belakang keilmuan diantara mereka. Namun, secara
garis besar komunikasi dibagi menjadi empat bentuk, yaitu komunikasi personal (personal
communication), komunikasi kelompok (group communication), komunikasi organisasi
(organizational communication), dan komunikasi massa (mass communication).
        Pertama, komunikasi personal. Komunikasi personal dibagi menjadi dua bentuk, yaitu
komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication) dan komunikasi antar pribadi
(interpersonal communication). Komunikasi dengan diri sendiri adalah proses komunikasi yang
terjadi dalam diri individu (dengan diri sendiri). Komunikasi dengan diri sendiri terjadi karena
terjadinya pemberian makna pada obyek. Obyek yang diamati mendapatkan rangsangan panca
indra kemudian mengalami proses perkembangan dalam pikiran manusia. Komunikasi dengan
diri sendiri merupakan landasan untuk melakukan komunikasi antar pribadi. Keberhasilan
komunikasi kita dengan orang lain bergantung pada keefektifan komunikasi kita dengan diri
sendiri. Komunikasi antar pribadi adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang
atau lebih secara tatap muka. Bentuk khusus dari komunikasi ini adalah Komunikasi Diadik
(Dyadic Communication) yaitu dengan karakteristik : proses komunikasi yang berlangsung
antara dua orang dalam situasi tatap muka, dibagi atas percakapan, dialog, wawancara.
Komunikasi diadik memkiliki ciri : pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak dekat
dan pihak-pihak yang berkomunikasi mengirimkan dan menerima pesan secara spontan dan
simultan. Komunikasi antar pribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang
lain.



                                                                                              9
       Kedua, komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok dibagi menjadi dua bentuk, yaitu
komunikasi kelompok kecil (small group communication) dan komunikasi kelompok besar
(large group communication). Komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang
berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka dimana anggota-anggotanya saling
berinteraksi satu sama lain. Tidak ada jumlah batasan anggota yang pasti, dua sampai tiga orang
atau dua puluh sampai tiga puluh orang tetapi tidak lebih dari lima puluh orang. Komunikasi
kelompok kecil dengan sendirinya melibatkan pula komunikasi antar pribadi. Contoh
komunikasi kelompok kecil adalah ceramah, diskusi panel, simposium, forum, seminar, dan lain-
lain. Komunikasi kelompok besar adalah proses komunikasi dimana pesan-pesan disampaikan
oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar dan tidak dikenali
satu persatu.disebut juga komunikasi pidato, komunikasi retorika, public speaking atau
komunikasi publik. Komunikasi kelompok besar berlangsung secara lebih formal, dituntut
persiapan pesan yang cermat, keberanian dan keahlian menghadapi sejumlah besar orang. Daya
tarik fisik, keahlian dan kejujuran pembicara dapat menentukan efektifitas penyampaian pesan.
       Ketiga, komunikasi organisasi. Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu organisasi,
bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam jaringan komunikasi yang lebih besar
daripada komunikasi kelompok. Melibatkan komunikasi diadik, komunikasi antar pribadi dan
komunikasi publik. Komunikasi formal adalah menurut struktur organisasi yaitu komunikasi ke
bawah dan ke atas serta komunikasi horizontal. Komuniksi informal tidak tergantung pada
struktur organisasi seperti komunikasi dengan rekan sejawat.
       Keempat, komunikasi massa. Komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan
media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola
oleh suatu lembaga yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat,
anonim dan heterogen. Proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari
sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat
mekanik seperti; radio, televisi, surat kabar dan film. Pesan-pesan bersifat umum, disampaikan
secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik). Komunikasi antar pribadi,
komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk
mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini.
Penghambat komunikasi
   1. Homophyly : sebagian besar berkomunikasi yg sama dg dirinya sendiri

                                                                                                10
   2. Saluran perintah : pesan diganti dg setiap perubahan
   3. Bingkai refrensi : menerima sebagian pesan, mengabaikan yg lain
   4. Pemeliharaan diri : memutarbalikkan makna informasi utk mempertahankan diri
   5. Krisis : kegembiraan dan rasa penasaran menghasilkan pesan yg membingungkan
Akibat dari gaya kepemimpinan thdp pelaksanaan komunikasi :
  1. Kepemimpinan autokrasi : pelaksanaan komunikasi orang tua anak
  2. Kepemimpinan neurotik : pelaksanan komunikasi anak-anak
  3. Kepemimpinan demokrasi : pelaksanaan komunikasi dewasa-dewasa
E. Kepemimpinan, kekuasaan dan partisipasi
       Fungsi kepemimpinan dalam suatu organisasi, tidak dapat dibantah merupakan suatu
fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan.
Sebagaimana diungkapkan Wahjosumidjo (1992 : 171), kepemimpinan mempunyai peranan
sentral dalam kehidupan organisasi, dimana terjadi interaksi kerjasama antar dua orang atau lebih
dalam mencapai tujuan. Bahkan beberapa pakar mengasosiasikan kegagalan ataupun
keberhasilan suatu organisasi dengan pemimpinnya. Dengan kata lain, perilaku pemimpin, baik
yang bersumber dari personalitas pemimpin itu sendiri, karena dorongan kebutuhan pribadi
pemimpin, maupun karena adanya ketidakcocokan antara tujuan organisasi dengan motivasi
pemimpin, mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai macam tingkat produktivitas dan
moral organisasi (Trimo, 1984 : vii). Atau mengutip pendapat Jauch dan Glueck (1996 : 384),
pemimpin yang efektif merupakan komponen utama untuk memungkinkan kebijakan dijalankan
sebagaimana yang telah direncanakan. Oleh karena itu, memahami teori-teori kepemimpinan
sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah
dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktivitas organisasi secara
keseluruhan.
       Banyak pakar-pakar manajemen dan organisasi yang memberikan definisi tentang
kepemimpinan. Namun jika diperhatikan lebih lanjut, dari berbagai definisi tadi dapat
disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan mencapai tujuan melalui orang lain
(achieving goals through others). Berikut ini disajikan berbagai pengertian kepemimpinan
sebagaimana dikumpulkan oleh As’ad (1986 : 2-3).




                                                                                              11
  1. Kepemimpinan adalah suatu seni dan proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga
      mereka mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompok (Koontz
      dan Donnel, 1982).
  2. Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar bekerja dengan
      ikhlas untuk mencapai tujuan bersama (Terry, 1954).
  3. Kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang
      menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja
      bersama-sama untuk mencapai tujuan (Fiedler, 1967)
  4. Kepemimpinan adalah suatu proses atau tindakan untuk mempengaruhi aktivitas suatu
      kelompok organisasi dalam usahanya mencapai tujuan yang telah ditentukan (Stogdil,
      1977).
  5. Kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh konsensus dan keikatan pada sasaran
      bersama melampaui syarat-syarat organisasi, yang dicapai dengan pengalaman,
      sumbangan dan kepuasan dipihak kelompok kerja (Cribbin, 1982).
  6. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain untuk mencapai tujuan
      yang sudah ditentukan dengan penuh semangat (Davis, 1977).
  7. Kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi orang untuk lebih berusaha mengerahkan
      tenaga dalam tugasnya, atau merubah tingkah laku mereka (Wexley and Yulk, 1977).
       Kepemimpinan (leadership) harus dibedakan dengan kekepalaan (headship). Headship
diartikan sebagai pemimpin karena status dalam struktur organisasi, sementara leadership tidak
selalu mensyaratkan adanya posisi struktural tertentu.
       Dengan demikian, sumber kekuasaan dari kepemimpinan dan kekepalaan juga berbeda.
Kekuasaan seorang pemimpin sumbernya mungkin datang dari kemampuannya untuk
mempengaruhi orang lain, karena sifat dan sikapnya, luas pengetahuan dan pengalamannya,
pandai berkomunikasi, memiliki kesaktian dan kewibawaan, atau karena pandai bergaul dan
berkomunikasi. Sedangkan kekuasaan seorang kepala, berasal dari kedudukannya yang
didasarkan atas otoritas yang dimiliki secara formal. Oleh karena itu, seorang pejabat struktural
belum tentu dapat menjadi pemimpin, dan seorang pemimpin juga belum tentu memiliki
kedudukan sebagai kepala.
       Pada bab Pendahuluan telah disinggung mengenai jenis-jenis, gayagaya atau macam-
macam pemimpin. Dilihat dari cara memberikan motivasi, terdapat kepemimpinan positif dan

                                                                                              12
negatif. Sedang dilihat dari cara menggunakan kekuasaan, terdapat pemimpin yang otokratik
partisipatif, serta bebas kendali. Sementara itu, dilihat dari orientasi si pemimpin, ada dua gaya
kepemimpinan yang diterapkan, yaitu gaya konsideran dan struktur, atau dikenal juga sebagai
orientasi pegawai dan orientasi tugas. Beberapa hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa
prestasi dan kepuasan kerja pegawai dapat ditingkatkan apabila konsiderasi merupakan gaya
kepemimpinan yang dominan. Sebaliknya, para pemimpin yang berorientasi tugas yang
terstruktur, percaya bahwa mereka memperoleh hasil dengan tetap membuat orang-orang sibuk
dan mendesak mereka untuk berproduksi. Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi
konsiderasi, tidak selamanya merupakan pemimpin yang terbaik. Fiedler telah mengembangkan
suatu model pengecualian dari ketiga gaya kepemimpinan diatas, yakni model kepemimpinan
kontingensi. Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bergantung
pada situasi dimana pemimpin bekerja. Dengan teorinya ini Fiedler ingin menunjukkan bahwa
keefektifan pemimpin ditentukan oleh interaksi antara orientasi pegawai dengan tiga variabel
yang berkaitan dengan pengikut, tugas dan organisasi. Ketiga variabel itu adalah hubungan
antara pemimpin dengan anggota (leader – member relations), struktur tugas (task structure),
dan kuasa posisi pemimpin (leader position power). Variabel pertama ditentukan oleh pengakuan
atau penerimaan (akseptabilitas) pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar
diperlukannya cara spesifik untuk melakukan pekerjaan, dan variabel ketiga menggambarkan
kuasa organisasi yang melekat pada posisi pemimpin.
       Model kontingensi Fiedler ini serupa sekali dengan gaya kepemimpinan situasional dari
Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan
pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan
(maturity) pengikutnya. Perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui
kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau
menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok, pengikut dapat menentukan kekuatan
pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.




                                                                                               13
        Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow dan Panton, 1996 : 18 dst), masing-
masing gaya kepemimpinan ini hanya memadai dalam situasi yang tepat – meskipun disadari
bahwa setiap orang memiliki gaya yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk
mengubahnya meskipun perlu.
        Directing adalah gaya yang tepat apabila Anda dihadapkan dengan tugas yang rumit dan
staf Anda belum memiliki pengalaman dan motivasi Rendah untuk mengerjakan tugas tersebut ;
atau apabila Anda berada di bawah tekanan waktu penyelesaian. Anda menjelaskan apa yang
perlu   dan   apa   yang   harus   dikerjakan.   Dalam   situasi   demikian,   biasanya   terjadi
overcommunicating (penjelasan berlebihan yang dapat menimbulkan kebingungan dan
pembuangan waktu). Coaching adalah gaya yang tepat apabila staf Anda telah lebih termotivasi

                                                                                              14
dan berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Disini Anda perlu memberikan kesempatan
kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan meluangkan waktu membangun
hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka.
         Selanjutnya, gaya kepemimpinan supporting akan berhasil apabila karyawan telah
mengenal teknik-teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubungan yang lebih dekat
dengan Anda. Dalam hal ini, Anda perlu meluangkan waktu untuk berbincang-bincang, untuk
lebih melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan kerja, serta mendengarkan saran-saran
mereka mengenai peningkatan kinerja. Adapun gaya delegating akan berjalan baik apabila staf
Anda sepenuhnya telah paham dan efisien dalam pekerjaan, sehingga Anda dapat melepas
mereka menjalankan tugas atau pekerjaan itu atas kemampuan dan inisiatifnya sendiri. Ditengah-
tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu
yang berbeda-beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi – penerapan keempat gaya
kepemimpinan diatas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Inilah yang dimaksud dengan
situational leadership, sebagaimana telah disinggung diatas. Yang perlu diperhatikan adalah
bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu
memiliki tiga kemampuan khusus yakni :
 1. Kemampuan analitis (analytical skills), yakni kemampuan untuk menilai tingkat
     pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
 2. Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills), yaitu kemampuan untuk
     menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap siatuasi.
 3. Kemampuan berkomunikasi (communication skills), yakni kemampuan untuk menjelaskan
     kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang Anda terapkan.
         Ketiga kemampuan diatas sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin, sebab seorang
pemimpin harus dapat melaksanakan tiga peran utamanya yakni peran interpersonal, peran
pengolah informasi (information processing), serta peran pengambilan keputusan (decision
making) (Gordon, 1996 : 314-315). Peran pertama meliputi meliputi peran figurehead (sebagai
simbol     dari   organisasi),   leader   (berinteraksi   dengan   bawahan,   memotivasi   dan
mengembangkannya), dan liaison (menjalin suatu hubungan kerja dan menangkap informasi
untuk kepentingan organisasi). Sedangkan peran kedua terdiri dari tiga peran juga yakni monitor
(memimpin rapat dengan bawahan, mengawasi publikasi perusahaan, atau berpartisipasi dalam
suatu kepanitiaan), disseminator (menyampaikan infiormasi, nilai-nilai baru dan fakta kepada

                                                                                             15
bawahan) serta spokesman (juru bicara atau memberikan informasi kepada orang-orang diluar
organisasinya). Adapun peran ketiga terdiri dari empat peran yaitu entrepreneur (mendesain
perubahan dan pengembangan dalam organisasi), disturbance handler (mampu mengatasi
masalah terutama ketika organisasi sedang dalam keadaan menururn), resources allocator
(mengawasi alokasi sumber daya manusia, materi, uang dan waktu dengan melakukan
penjadualan, memprogram tugas-tugas bawahan, dan mengesahkan setiap keputusan), serta
negotiator (melakukan perundingan dan tawar menawar). Dalam perspektif yang lebih
sederhana, Morgan (1996 : 156) mengemukakan tiga macam peran pemimpin yang disebutnya
dengan “3A”, yakni alighting (menyalakan semangat pekerja dengan tujuan individunya),
aligning (menggabungkan tujuan individu dengan tujuan organisasi sehingga setiap orang
menuju kearah yang sama), serta allowing (memberikan keleluasaan kepada pekerja untuk
menantang dan mengubah cara mereka bekerja).
       Konsep kekuasaan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan konsep kepemimpinan.
Artinya, dalam implementasi fungsi kepemimpinan, biasanya selalu melekat adanya kekuasaan.
Dengan kata lain, kekuasaan bagi seorang pimpinan merupakan alat untuk mempengaruhi
perilaku, sikap atau pemikiran (partisipasi) para pengikutnya. Dalam bentuk gambar, keterkaitan
antara kepemimpinan, kekuasaan dan partisipasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
                 Keterkaitan Antara Kepemimpinan, Kekuasaan dan Partisipasi




       Khususnya yang menyangkut pembahasan mengenai kekuasaan sendiri, jelas tidak dapat
dipisahkan dari masalah dan sumber kekuasaan. Dalam hal ini, Thoha (1995 : 289-295)
menjelaskan bahwa sumber dan bentuk kekuasaan kalau ditelusuri sejarahnya dapat
dikembalikan pada pernyataan Machiavelli yang pertama kali dikemukakan pada abad ke-16.
Machiavelli menyatakan bahwa hubungan yang baik itu tercipta jika didasarkan atas cinta


                                                                                            16
(kekuasaan pribadi) dan ketakutan (kekuasaan jabatan). Itulah sebabnya maka Amitai Etziomi
membahas bahwa sumber dan bentuk kekuasaan itu ada dua yakni kekuasaan jabatan (position
power) dan kekuasaan pribadi (personal power). Dan dari berbagai teori mengenai kekuasaan,
paling tidak dapat dirumuskan adanya 6 bentuk kekuasaan yaitu kekuasaan paksaan, kekuasaan
legitimasi, kekuasaan keahlian, kekuasaan penghargaan, kekuasaan referensi, serta kekuasaan
informasi. Kekuasaan paksaan (Coercive Power). Kekuasaan ini berdasarkan atas rasa takut.
Dengan demikian sumber kekuasaan diperoleh dari rasa takut. Pemimpin yang mempunyai
kekuasaan jenis ini mempunyai kemampuan untuk mengenakan hukuman, dampratan, atau
pemecatan. Kekuasaan legitimasi (Legitimate Power). Kekuasaan ini bersumber pada jabatan
yang dipegang oleh pemimpin. Secara normal, semakin tinggi posisi seorang pemimpin, maka
semakin besar kekuasaan legitimasinya. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan legitimasinya
mempunyai kecenderungan untuk mempengaruhi orang lain, karena pemimpin tersebut
merasakan bahwa ia mempunyai hak atau wewenang yang diperoleh dari jabatan dalam
organisasinya. Sehingga dengan demikian diharapkan saransarannya akan banyak diikuti oleh
orang lain tersebut.
       Kekuasaan keahlian (Expert Power). Kekuasaan ini bersumber dari keahlian kecakapan,
atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang diwujudkan lewat rasa hormat, dan
pengaruhnya terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan keahliannya ini,
kelihatannya mempunyai keahlian untuk memberikan fasilitas terhadap perilaku kerja orang lain.
       Kekuasaan Penghargaan (Reward Power). Kekuasaan ini bersumber atas kemampuan
untuk menyediakan penghargaan atau hadiah bagi orang lain, seperti misalnya gaji, promosi,
atau penghargaan jasa.
       Kekuasaan Referensi (Referent Power). Kekuasaan ini bersumber pada sifat-sifat pribadi
dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan referensinya ini pada
umumnya disenangi dan dikagumi oleh orang lain karena kepribadiannya.
       Adapun kekuasaan informasi (Information Power) adalah kekuasaan yang bersumber
karena adanya akses informasi yang dimiliki oleh pemimpin yang dinilai sangat berharga oleh
pengikutnya. Sebagai seorang pemimpin, semua informasi mengenai organisasinya ada padanya,
termasuk informasi yang datang dari luar organisasi. Dengan demikian, pimpinan merupakan
       sumber informasi. artisipasi dapat diartikan sebagai suatu gerakan atau kekuatan
kelompok atau anggota kelompok (community / group power) yang bertujuan untuk ikut

                                                                                            17
berperan atau berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Dengan mengutip pendapat
dari Midgley, Mathur, serta Oakley and Marsden, Jahja Hanafie (1996 : 130)
mengemukakan bahwa issu utama dalam partisipasi kelompok adalah penekanannya pada
distribusi kekuatan (power distribution), persamaan (equality), keterlibatan (involvement),
pembuatan kebijakan (policy making) dan pengambilan keputusan (decision making).
       Adapun pentingnya partisipasi ini antara lain dikemukakan oleh Bep Fritschi (et.al.,
1993 : 214-215), yang berpendapat bahwa terdapat dua alasan pokok untuk mengembangkan
partisipasi kelompok. Pertama, alas an-alasan yang mengacu kepada kelompok sendiri, yakni
bahwa kelompok berhak untuk ikut terlibat dalam keputusan-keputusan yang menyangkut hari
depan mereka. Kedua, alasan yang berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi, dalam pengertian
jika kelompok benar-benar diberikan kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam proses
organisasional, maka organisasi akan berlangsung lebih efektif dan efisien. Sebagai ilustrasi
mengenai partisipasi, Bank Dunia (1992 : 93) pernah menyatakan bahwa “banyak masalah
lingkungan tidak dapat diatasi tanpa partisipasi aktif dari penduduk setempat”. Tentu saja, apa
yang dikemukakan oleh Bank Dunia tersebut tidak semata-mata meliputi aspek lingkungan,
tetapi juga bidang-bidang lain dalam pembangunan suatu Negara dan masyarakat, serta
kehidupan dalam suatu organisasi besar maupun kecil.
F. Perilaku kepemimpinan
          Kepemimpinan merupakan kekuatan dinamis yang penting dalam memotivasi dan
   mengkoordinasikan     organisasi   atau   institusi   untuk   mencapai   tujuan.   Selain   itu,
   kepemimpinan juga adalah kemampuan untuk menciptakan rasa percaya diri dan
   menghasilkan dukungan dari bawahan sehingga tujuan yang ditetapkan bersama dalam
   organisasi dapat tercapai. Seorang pemimpin dianggap berhasil menjalankan fungsi
   kepemimpinannya apabila berdasarkan upayanya untuk memperlihatkan kriteria perilaku
   berikut dapat menghasilkan keluaran secara efektif. Kriteria itu adalah seperti yang
   dijelaskan DuBrin (2000) berikut ini.
   1. Berpikir seperti pemimpin
          Perilaku kepemimpinan yang baik dapat ditumbuhkan sejak dini. Namun, ia harus
   memiliki dasar talenta untuk cepat tanggap (responsive) terhadap lingkungan. Melalui respon
   yang selalu ditimbulkan sebenarnya ia melatih kemampuan berpikir kritis. Pemikiran kritis
   ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Hal ini karena pemimpin sering menggunakan


                                                                                                18
imaginasi dan teknik penyelesaian masalah kreatif yang berasal dari kemampuan berpikir
kritis tadi. Pemimpin juga harus menciptakan visi bagi organisasi atau lingkungan dimana ia
memimpin. Ia menspesifikasikan tujuan yang luas dan strategi yang digunakan untuk
mencapai tujuan itu. Ia juga memberikan inspirasi yang banyak bagi bawahannya sehingga
mereka menjadi mampu melakukan kegiatan produktif.
       Kemampuan berpikir kritis seorang pemimpin melandasi pelaksanaan fungsi
kepemimpinan yang juga meliputi fungsi manajerial. Oleh karena itu, menggali ide-ide
kreatif, memberikan ide cemerlang tersebut pada suatu pertemuan serta menciptakan
terobosan yang dapat meningkatkan produktifitas tanpa meningkatkan beban kerja bawahan
merupakan hasil upaya berpikir seorang pemimpin. Hal ini akan menghasilkan sesuatu yang
lebih optimal apabila pemimpin juga mampu menciptakan teamwork yang handal dan
kerjasama yang didasasi motivasi yang terpelihara dengan baik. Untuk mencapai situasi ini
pemimpin harus mampu berupaya mempengaruhi banyak orang melalui beberapa cara seperti
misalnya memberi petunjuk, instruksi, dan delegasi (DuBrin, 2000).
       Didalam keperawatan, fungsi kepemimpinan yang dilaksanakan pemimpin perawat
yang memperlihatkan daya berpikir layaknya pemimpin dapat diterapkan secara bertahap.
Pemimpin keperawatan harus mulai berpikir positif tentang dirinya dan orang lain, tentang
situasi yang dihadapi atau yang akan terjadi. Ia juga harus banyak bergaul dengan pemimpin
besar dibidangnya, dan selalu mempelajari visi yang telah ditetapkan dan membandingkan
juga dengan berbagai pandangan pemimpin perawat diluar negeri yang memiliki sikap
futuristic. Yang paling penting, ia juga harus berpikir secara sistem, untuk memahami
bagaimana menerapkan pembaharuan dalam suatu bidang akan mempengaruhi biadng
lainnya baik pada saat sekarang maupun mendatang.
2. Berkomunikasi seperti pemimpin

       Perilaku lain yang dapat memperlihatkan integritas dan kredibilitas pemimpin adalah
kemampuan berkomunikasi. Seorang pemimpin akan memilih kalimat, mengucapkan kata-
kata dan bahasa tubuh yang dapat memberikan pengaruh pada orang lain. Selain itu, materi
komunikasi yang disampaikan dapat memberi inspirasi pada bawahan atau orang lain.
Bahasa yang digunakan oleh seorang pemimpin yang memahami bahwa teknik komunikasi
dapat memperlancar pencapaian tujuan merupakan kekuatan internal diri yang memberikan
pengaruh mendalam agar bawahan terlarut dalam pemikiran yang diharapkan pemimpin.

                                                                                        19
       Cara berkomunikasi layaknya seorang pemimpin juga dapat dilakukan melalui
penggunaan analogi atau metafora yang sesuai yang akan lebih menarik imaginasi pemimpin
dalam mengutarakan ide atau pandangan kreatifnya. Analogi diperlukan ketika seorang
pemimpin sedang berusaha menjelaskan ide atau pandangannya dengan cara lebih jelas
sehingga orang yang diajak berkomunikasi dapat memahami. Sebaliknya, metafora, yang
tampak lebih tersamar dibandingkan dengan analogi juga dapat membandingkan dua hal
yang tidak terlalu mirip sebagai contoh situasi dari apa yang sedang dihadapi (DuBrin, 2000).

       Dalam bidang keperawatan, kepemimpinan dapat dijalankan oleh pemimpin
keperawatan melalui cara berkomunikasi yang efektif. Sikap bicara, sikap berdiri, pandangan
terfokus kepada lawan bicara, dan senyum akan banyak membantu pemimpin perawat untuk
berkomunikasi layaknya seorang pemimpin yang memiliki pengaruh besar terhadap orang
lain. Memberikan cerita tambahan dapat digunakan sebagai variasi materi yang ingin
disampaikan. Yang terpenting adalah materi yang disampaikan harus dapat diterima dan
kejujuran dalam menyampaikan harus dapat ditangkap oleh pihak yang diajak
berkomunikasi. Hindari ucapan sebagai hasil pemikiran negatif, demikian juga gossip yang
tidak diketahui sumbernya; keduanya berpotensi untuk menurunkan kepercayaan bawahan
terhadap pemimpinnya.

3. Bertindak layaknya pemimpin

       Seorang pemimpin harus dapat memperlihatkan contoh peran yang baik sebagai
pemimpin didepan bawahan atau orang lain. Memberi contoh peran atau role modeling pada
orang lain akan merefleksikan siapa pemimpin itu sebenarnya. Contoh peran ini harus
orisinal dan tidak dibuat-buat. Oleh karena contoh peran itu merupakan keteladanan yang
ingin diberikan kepada orang lain supaya dicontoh. Keteladanan ini adalah landasan kuat
untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sesuai dengan harapan. Melalui
keteladanan seorang pemimpin akan mampu menyampaikan budaya organisasi / institusi
kepada orang lain.

       Pemimpin yang menghargai budaya organisasi / institusi akan dapat menghormati
kebijakan yang berlaku dan hal ini akan diikuti oleh pengikutnya. Selain itu, pemimpin juga
seyogyanya mampu memperlihatkan kebiasaan bekerja yang baik, professional, dan


                                                                                          20
mengandung makna keamanan, kenyamanan, dan keselamatan kerja yang selalu
dipertahankan. Untuk menjadi pemimpin yang baik ia harus menjadi sumber inspirasi bagi
orang lain untuk mencapai tujuan. Sumber inspirasi ini ditunjukkan baik berasal dari sikap
kepemimpinan, cara berkomunikasi, cara mengendalikan emosi, dan bertindak yang tepat
sebagai pemimpin dari seseorang pemimpin.

       Kepemimpinan dalam keperawatan dapat ditunjukkan melalui sikap, tindakan, dan
kemampuan berkomunikasi secara efektif dan dapat diteladani oleh orang lain. Dalam
menjalankan fungsi kepemimpinannya, seorang pemimpin perawat memiliki fungsi unik
untuk mempengaruhi bawahannya karena pada umumnya mayoritas bawahan adalah
perempuan yang dipersepsikan kurang menggunakan rasional dan lebih mengemukakan
emosinya dalam menghadapi suatu situasi. Oleh karena itu, pemimpin perawat juga harus
membekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan bermitra dengan tenaga yang berjenis
kelamin sama. Namun demikian, kelebihan juga dimiliki oleu bawahan perempuan yaitu
tekun, setia dan komitmen tinggi. Faktor inilah yang harus diberdayakan pemimpin agar
bawahannya dapat dipengaruhi sehingga tujuan bersama dapat dicapai. Hal ini dapat dicapai
dengan selalu menyediakan diri untuk membantu bawahan/orang lain, mendengarkan
berbagai keluhan dan harapan bawahan.

4. Membantu orang lain memimpin dirinya

       Banyak pemimpin yang lebih mengetengahkan egonya dibandingkan dengan
keinginan memajukan atau memberdayakan orang lain. Hal ini tentu saja dapat menurunkan
efektifitas fungsi kepemimpinannya. Untuk itu, pemimpin harus memahami hakekat
pemberdayaan atau penguatan orang lain terutama bawahan yang memiliki potensi kuat
untuk diberdayakan. Oleh karena itu, sebagai pemimpin ia harus mengetahui siapa yang
layak untuk diberdayakan dan siapa yang tidak layak/tidak mungkin untuk diberdayakan.

       Pemimpin    yang   efektif   seyogyanya   mampu     memberdayakan     bawahannya.
Pemberdayaan adalah suatu pendelegasian otoritas dalam pengambilan keputusan dan
tanggung jawab pemimpin kepada bawahan yang dianggap cocok untuk mengembannya. Ini
berarti, pemimpin membebaskan orang tersebut dari kewajiban berkonsultasi dan berdiskusi
dengan pimpinan. Untuk menetapkan seseorang mampu untuk diberdayakan, ada beberapa


                                                                                        21
faktor yang perlu dipahami pemimpin sebelum memberdayakan seseorang yaitu: makna
pemberdayaan terhadap kewenangan pimpinan pada aspek yang didelegasikan; kompetensi
yang didelegasikan; self-determination dari orang yang didelegasikan; dampak yang akan
diperoleh melalui pendelegasian tersebut.

       Pemimpin      dalam       keperawatan   dapat   mendelegasikan   sebagian   fungsi
kepemimpinannya kepada orang yang diyakini akan mampu mengemban pendelegasian ini.
Hal ini perlu dicermati karena pendelegasian berarti pemberian sebagian kekuasaan,
tanggung jawab, dan kewenangan dalam memutuskan. Oleh karena itu, pemimpin perawat
harus mampu memilih dan menetapkan seseorang dalam menerima pendelegasian tugas yang
memiliki makna penting karena berkaitan dengan kepentingan orang lain misalnya pasien
dan keluarga (di tatanan pelayanan keperawatan) atau mahasiswa dan dosen lain (ditatanan
pendidikan keperawatan).

5. Membantu mengembangkan potensi

       Fungsi kepemimpinan memiliki makna fungsi pembinaan pada orang lain. Pemimpin
yang memahami bawahan akan dapat menetapkan fungsi pembinaan pada saat dan tempat
yang tepat. Melalui pembinaan ini pemimpin berupaya menciptakan perkembangan yang
dibutuhkan oleh bawahan setelah mengkajinya dengan teliti. Untuk dapat berfungsi menjadi
pembina, sebagai pemimpin ia harus bersikap humanistik dan suportif serta mampu menjadi
suri teladan untuk orang lain.

       Membina orang lain mengembangkan potensinya meliputi berbagai kegiatan
kepemimpinan seperti; menunjukkan perhatian terhadap tingkat kesejahteraan orang lain
(bawahan), mendengarkan keluhan dan masalah kerja yang dialami oleh bawahan,
meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan pribadi dan menunjukkan empatinya,
menyampaikan selamat pada yang berhasil, membantu bawahan menyelesaikan masalah,
berperan sebagai pelatih yang menguasai teknik kerja, dan menyediakan diri untuk menjadi
mentor atau penasehat ketika bawahan memerlukannya.

       Disamping itu, peran pembinaan yang dilaksanakan oleh pimpinan terutama sangat
tergantung dari ketrampilan dan teknik berkomunikasi yang bersifat suportif. Komunikasi
suportif mengandung landasan orientasi pada masalah, diberikan secara verbal dan non-

                                                                                      22
     verbal yang sinkron,     menekankan pada pembenaran sehingga orang yang sedang
     berkomunikasi merasa nyaman karena berarti telah memberi pengakuan akan kehadiran,
     keunikan dan arti penting dari orang lain yang diajak berkomunikasi. Komunikasi suportif
     juga bersifat spesifik, terkait logis dengan informasi sebelumnya, dan diakui secara nyata,
     serta mengandung sikap mau mendengar dan memberi informasi.

            Sebagai pembina yang sadar bahwa pengembangan potensi orang lain terletak
     sebagian besar pada dirinya sebagai pemimpin, maka ia juga seyogyanya harus bersedia
     untuk memberi umpan balik dan dorongan positif. Salah satu tugas dasar seorang pemimpin
     adalah memberi umpan balik tentang kinerja dan perilaku yang diperlihatkan bawahan.
     Umpan balik baik yang positif maupun negatif harus diberikan dengan tepat, sesuai tempat,
     dan waktu sehingga dapat membantu bawahan untuk tumbuh dan berkembang serta menjadi
     kekuatan untuk memotivasinya dalam berkinerja dan berperilaku lebih baik. Umpan balik
     yang diberikan sebaiknya pada akhir peristiwa, bersifat spesifik, memberi kesempatan pada
     bawahan untuk menjelaskan, dan berfokus pada perilaku bukan personal bawahan.

            Dalam keperawatan, tidak banyak pemimpin perawat yang mau memberikan umpan
     balik secara terbuka karena takut dipersepsikan salah oleh yang menerima umpan balik.
     Sebaliknya perawat dibawah kepemimpinannya juga belum siap menerima umpan balik
     terbuka terutama yang bersifat negatif. Hal ini karena mereka tidak terbiasa untuk menerima
     kinerja dan perilaku mereka dikritik, dikomentari atau ditanggapi. Pada umumnya, mereka
     dinilai tidak berdasarkan keterbukaan sehingga obyektifitas penilaian menjadi minimal.
     Dengan demikian agak sulit bagi pemimpin perawat untuk menjalankan tugas pembinaannya
     dalam rangka menumbuhkan-kembangkan potensi seseorang bawahan melalui pemberian
     umpan balik namun suportif.

G.      Kepemimpinan etikal dalam keperawatan yang visioner dan transformasional

        Kepemimpinan merupakan fungsi untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja
sesuai dengan arah yang ditetapkan untuk mencapai tujuan. Fungsi ini dilaksanakan meliputi
berbagai aspek dan bidang kerja serta melibatkan kegiatan memotivasi, membina, dan
mengembangkan potensi bawahan. Seluruh komponen yang menjadi cakupan kerja



                                                                                             23
kepemimpinan seseorang dipersepsikan sebagai sub-subsistem yang harus dikoordinasikan
menjadi sistem yang terintegrasi.

       Namun demikian, kepemimpinan ini juga harus dilaksanakan secara etikal karena tidak
jarang pemimpin perawat menghadapi masalah yang melibatkan keputusan etik sehingga
memerlukan kerjasama dengan pihak lain untuk menemukan solusi etik. Pengambilan keputusan
yang melibatkan kepentingan pasien dan keluarga sering menuntut pemimpin perawat untuk
membuat keputusan etik yang mempertimbangkan norma dan nilai-nilai dari berbagai pihak
khususnya pasien dan keluarga. Demikian pula keputusan etik yang harus diambil dalam
masalah sistem pelayanan kesehatan dan perasuransian, keterbatasan sumber-sumber, dan
perilaku tim kesehatan yang dipersepsikan melecehkan pihak lain.

       Dengan kata lain, kepemimpinan dalam keperawatan melibatkan banyak aspek dan unsur
yang terkait didalamnya sehingga diperlukan pemimpin yang mampu menjalankan
kepemimpinannya bukan hanya mempertimbangkan aspek etik saja tetapi juga pertimbangan visi
kedepan dan bagaimana mentransformasikan perubahan dan pembaharuan kedalam kegiatan
harian tanpa menimbulkan kecemasan, ketidak-pastian, dan ancaman bagi yang terlibat
didalamnya serta mewujudkan perubahan itu secara terrencana, bertahap, namun berhasil guna.
Pemimpin seperti ini tentu harus memiliki visi masa depan yang kuat dan melalui pengaruh serta
kekuatannya sebagai pemimpin mampu membawa anggotanya mengarah pada pencapaian visi
tersebut.




                                                                                           24
                                            BAB IV
                                          PENUTUP




A. Kesimpulan
      a. Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang
           kepada orang lain.
      b. Komponen dalam komunikasi ; komunikator, komunikan, pesan, lingkungan, media
           pesan, tingkat pesan
      c. Komunikasi terbagi menjadi 2 yaitu komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal
      d. Tatanan komunikasi ; pribadi, kelompok dan massa.
      e. Penghambat komunikasi Homophyly, Saluran perintah, Bingkai refrensi,
           Pemeliharaan diri dan Krisis
      f. Akibat dari gaya kepemimpinan thdp pelaksanaan komunikasi; Kepemimpinan
           autokrasi Kepemimpinan neurotic dan Kepemimpinan demokrasi
B. Saran
   Gunakanlah komunikasi sebaik mungkin, dengan berkomunikasi anda bisa meraih
   kesuksesan tetapi dengan komunikasi juga anda bisa menjadi gagal dalam meraih masa
   depan bila anda tidak menggunakannya sesuai kaidah yang ada.




                                                                                         25
                                          DAFTAR PUSTAKA




Prof. Elly Nurachmah LEADERSHIP DALAM KEPERAWATAN Disajikan pada Kongres PERSI Jakarta,
       22 Agustus 2005

Makalah andry setiawan dasar-dasar komunikasi “Sifat,bentuk dan strategi komunikasi”. 2008

Blog http://www.geocities.com/purnawankristanto

Makalah Jenny M P, SKp “komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal”

A.G. Lunandi. Komunikasi Mengena. Meningkatkan Efektivitas Komunikasi Antar Yogyakarta. Pribadi.
       Kanisius. 1992
Makalah tri widodo W O, Prilaku Organisasi, bandung. 1998
Suali S, bahtiar y, Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis . Erlangga. Jakarta




                                                                                             26

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3814
posted:3/15/2011
language:Malay
pages:26