FORUM________________DESEMBER-2008

Document Sample
FORUM________________DESEMBER-2008 Powered By Docstoc
					FORUM PENELITIAN                           Tahun 20, Nomor 2, Desember 2008

Analisis Kinerja Keuangan Pemda dengan Pendekatan Analisis Rasio Keuangan
pada APBD di Kota Malang
Eka Ananta Sidharta

Optimasi Penggunaan Campuran Asam Adipat dan Amonium Asetat sebagai
Catcher Formaldehida
Adilah Aliyatulmuna, dkk.

Analisis Disparitas Distribuís Pendapatan di Jawa Timar Tahun 1995—2005
dengan Metode Indeks Theil dan Indeks L
Ro’ufah Inayati dkk.

Kesiapan dan Harapan Mahasiswa dalam Memasuki Dunia Kerja dan Rumah
Tangga
Nurul Ulfatin

Perspektif Gizi dalam Meningkatkan Angka Harapan Hidup Lansia di Kota
Malang
Rias Gesang Kinanti dkk.

Karakterisasi Keausan Abrasif lapisan Karburasi Baja Karbon Rendah
Heru Suryanto, dkk.

Skenario Kebijakan Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Ketahanan
Pangan: Studi pada Komoditas Jagung
Edi Darmono dkk.

Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi pada
Pasien Puskesmas Kecamatan Turen, Malang)
Heri Sudarsono

Studi Degradasi Zat Pewarna Metilen Biru Menggunakan Ferrat (FeO4)2-
Nita Kusumawati

Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi nomor 26/DIKTI/KEP/2005, tanggal 30 Mei 2005 (berlaku
hingga Mei 2008)
   Analisis Kinerja Keuangan Pemda dengan
   Pendekatan Analisis Rasio Keuangan pada
             APBD di Kota Malang

                          Eka Ananta Sidharta


      Abstract: In order to management of area autonomy, local
      government given by wide of Power in carrying out all governance
      business. Monetary management of poured area in the form of
      APBD is one of the aspect execution of area autonomy which must
      be executed effectively and efficient so that can have an in with
      prosperity of society. Pursuant to the mentioned, APBD can be
      made as measuring rod in assessment of monetary performance of
      local government. Assessment of monetary performance of area
      can be conducted with monetary ratio analysis. This research aim
      to to assess monetary performance of Government of Unlucky
      Town.
      Key words: Monetary Analysis, APBD


Sesuai dengan adanya otonomi daerah yaitu berkenaan dengan pelimpah-
an wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana
publik dan pengaturan kegiatan maka peranan data keuangan daerah
harus dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Data keuangan
daerah yang berupa laporan APBD memberikan gambaran statistik
perkembangan anggaran dan realisasinya yang mana merupakan
informasi penting terutama dalam menilai kinerja keuangan pemerintah
serta untuk membantu membuat kebijakan dan pengelolaan keuangan
daerah selanjutnya.



Eka Ananta Sidharta dan Sulastri adalah dosen Akuntansi FE Universitas Negeri
Malang
      Evaluasi terhadap kinerja pemerintah daerah dalam mengelola
keuangan daerahnya dapat dilakukan dengan pendekatan analisis rasio
keuangan terhadap APBD. Penggunaan analisis rasio pada sektor publik
khususnya terhadap APBD belum banyak dilakukan, sehingga secara
teori belum banyak diterapkan. Dalam rangka pengelolaan keuangan
daerah yang transparan, demokratis, efektif, efisien dan akuntabel, maka
analisis rasio terhadap APBD perlu dilaksanakan untuk menilai kinerja
keuangan pemerintah. Hasil dari analisis rasio tersebut dapat dijadikan
sebagai tolok ukur. Tolok ukur tersebut digunakan untuk menilai
kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan
otonomi daerah, mengukur efektivitas dan efisiensi dalam merealisasikan
pendapatan daerah dan mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah
daerah dalam membelanjakan pendapatan daerah serta untuk mengukur
kontribusi masing-masing sumber pendapatan dalam membelanjakan
pendapatan.
      Analisis rasio keuangan pada APBD dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode
disbandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui
bagaimana kecenderungan yang terjadi. Kedua adalah dengan
membandingkan rasio keuangan yang dimiliki suatu daerah tertentu
dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun yang potensi
daerahnya relatif sama untuk dilihat bagaimana posisi rasio keuangan
kedua daerah tersebut.
      Kota Malang sebagai salah satu wilayah yang berada di propinsi
Jawa Timur, merupakan daerah yang sedang berkembang karena adanya
otonomi daerah . Kota Malang memiliki banyak potensi yang dapat
memberikan kontibusi untuk peningkatan sumber penerimaan daerah,
misalnya dari sektor pariwisata dan sektor pertambangan, untuk itu
pengelolaan aset daerah harus dilakukan secara efektif dan efisien yang
hasilnya untuk kepentingan masyarakat . Sesuai dengan tugas
pemerintahan yang telah diuraikan sebelumnya, dalam pengelolaan aset
daerah pemerintah daerah Kota Malang harus memberikan laporan
pertanggungjawaban keuangan daerah yang berupa APBD pada setiap
periode anggaran. Selama ini pemerintah Kota Malang dalam hal
pertanggungjawaban kepala daerah, pelaksanaan anggaran hanya
diwujudkan dalam perhitungan anggaran yang hanya membandingkan
antara anggaran dan realisasinya . Dalam penilaian kinerja keuangan
daerah di pemerintah daerah Kota Malang juga belum menggunakan
analisis rasio keuangan khusus sektor publik (pemerintahan) secara
mendetail sehingga penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan
dan informasi untuk mengetahui baik atau buruknya kinerja keuangan
pemerintah Kota Malang dalam mengelola keuangan daerah. Atas dasar
latar belakang diatas, maka perlu diadakan penelitian dengan
menganalisis APBD yang menggunakan rasio keuangan .


METODE
      Pada dasarnya penelitian ini ditujukan untuk menilai kinerja
keuangan Pemerintah Kota Malang dengan menggunakan pendekatan
analisis rasio keuangan pada APBD yang mana aktivitas tersebut
merupakan suatu tahapan dalam siklus perencanaan dan pengendalian
Manajemen Keuangan Daerah .
      Dari uraian di atas maka penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif karena penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji
hipotesis tertentu tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu
variabel, gejala atau keadaan. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian
yang ingin mengukur kinerja keuangan dengan analisis rasio keuangan
untuk sektor publik di Pemerintah Kota Malang tanpa melakukan
hipotesis.
      Menurut Arikunto (1995:312) penelitian deskriptif memiliki
beberapa kategori antara lain yaitu penelitian survey (survey studies),
studi kasus (case studies), penelitian perkembangan (development
studies), penelitian tindak lanjut (follow-up studies), analisis dokumen
(domentary analysis) dan penelitian korelasional (correlational studies).
Dari jenis-jenis penelitian tersebut, jenis penelitian studi kasus (case
studies) yang digunakan dalam penelitian ini karena dilakukan secara
intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu organisme, lembaga atau
gejala tertentu . Penelitian studi kasus jika ditinjau dari wilayahnya,
hanya meliputi daerah atau subjek yang sempit.
      Subjek penelitian adalah benda, hal, atau orang tempat data untuk
variabel penelitian melekat, dan yang dipermasalahkan. Dengan
demikian, subjek dalam penelitian ini adalah Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD).
      Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk
memperoleh atau mengumpulkan data dalam rangka memecahkan
masalah penelitian atau mencapai tujuan penelitian. Dalam penelitian ini
menggunakan pedoman pendokumentasian untuk mempelajari catatan-
catatan atau data-data pihak terkait.
      Lokasi penelitian adalah tempat yang dijadikan sebagai objek
penelitian. Dalam hal ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Kantor
Pemerintah Daerah Kota Malang di Jalan Tugu No. 1 Malang Jawa
Timur.
      Sumber data merupakan tempat dimana data dan informasi penting
yang dapat menunjang penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi
sumber data adalah bagian keuangan Pemerintah Daerah Kota Malang
yang berupa laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD).
      Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu
dokumentasi, dimana teknik pengumpulan data dokumentasi adalah
teknik untuk mengumpulkan data dengan cara mempelajari dokumen-
dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Data utama yang
digunakan untuk penelitian ini banyak diperoleh dengan cara
dokumentasi yang berupa Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kota
Malang untuk periode tahun anggaran 2003-2005.
      Penelitian ini akan menganalisis data secara induksi, yaitu
pembahasan penelitian yang dimulai dari pengumpulan data terlebih
dahulu kemudian melakukan pembahasan mengenai masalah yang
dimaksud. Untuk lebih dapat memberikan pembahasan yang logis dan
sistematis, maka analisis yang dilakukan akan dibagi berdasarkan pada
permasalahan yang disampaikan pada bab sebelumnya.


HASIL
      Penilaian kinerja Pemerintah Kota Malang didasarkan pada tingkat
pencapaian kegiatan/program yang dituangkan dalam komponen APBD.
Adapun realisasi dari pencapaian kegiatan/program tersebut bisa dilihat
dalam bentuk produk atau jasa yang ditujukan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Selain itu hasil dari analisis rasio ini dapat
dijadikan sebagai motivasi bagi Pemerintah Kota Malang untuk lebih
meningkatkan pelayanan pada masyarakat sebagai salah satu perwujudan
dari akuntabilitas publik yang disertai dengan upayanya untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan .
        Berikut adalah analisis rasio keuangan sektor publik pada APBD
Pemerintah Kota Malang untuk tahun anggaran 2003 sampai dengan
tahun 2005.


Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
      Diketahui bahwa rasio kemandirian keuangan daerah Pemerintah
Kota Malang mengalami peningkatan dan penurunan dari tahun ke
tahun, maka kondisi ini dapat dapat digambarkan pada Tabel dibawah
ini.

Tabel 1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Kota Malang Tahun
        2003-2005

 No     Keterangan                          2003                    2004                  2005
 1   PAD                              54.481.564.336,53 59.557.250.876,56           61.486.083.553,23
     Bag.Pmrint.
 2   Pst&Pinjm.                       352.891.736.400,00 362.176.886.400,00 392.030.651.900,00
% Rasio Kemandirian                        15,44%             16,44%             15,68%
Sumber: Data Diolah

                                 18
                                 16                        16,44%
                                             15,44%                        15,68%
                                 14
                Presentase (%)




                                 12
                                 10
                                 8
                                 6
                                 4
                                 2
                                 0
                                          2003          2004           2005
                                                   Tahun Anggaran

Gambar 1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Kota Malang
         Tahun 2003-2005
      Dari persentase tersebut di atas, terlihat bahwa kemandirian
keuangan daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan
Pemerintah Kota Malang cenderung naik turun. Penurunan rasio
kemandirian ini menggambarkan bahwa ketergantungan pemerintah
Kota Malang terhadap sumber dana ekstern semakin tinggi. Sebaliknya,
kenaikan rasio kemandirian ini menggambarkan bahwa ketergantungan
Pemerintah Kota Malang terhadap sumber dana ekstern semakin kecil.
      Dikaitkan dengan munculnya era otonomi daerah, maka salah satu
unsur yang harus diperhatikan dalam rangka penilaian kinerja keuangan
daerah adalah penerimaan PAD. Dalam rangka menilai kinerja keuangan
Pemerintah Kota Malang, maka harus diketahui bagaimana kemampuan
Pemerintah Kota Malang dalam merealisasikan PAD dibandingkan
dengan target yang telah ditetapkan sehingga bisa diterapkan rasio
efektivitas PAD.
      Berikut adalah Tabel rasio efektivitas PAD Pemerintah Kota
Malang tahun anggaran 2003 sampai dengan tahun 2005.

Tabel 2 Rasio Efektivitas PAD Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005

 No     Keterangan           2003              2004                2005
  1   Target PAD       45.062.589.737,00 47.325.172.342,00   52.860.650.084,00
  2   Realisasi PAD    54.481.564.336,53 59.557.250.876,57   61.486.083.553,23
 % Rasio Efektivitas
 PAD                        120,9%            125,9%              116,3%
 Sumber: Data Diolah



     Proporsi pada Tabel tersebut di atas dari rasio efektivitas PAD
Pemerintah Kota Malang tahun anggaran 2003-2005 untuk memperjelas
adanya kenaikan dan penurunan rasio tesebut yang dapat dilihat pada
Gambar dibawah ini.
                              140
                                                    125,9%
                              120      120,9%
                                                                116,3%


             Prosentase (%)
                              100
                              80

                              60
                              40
                              20
                               0
                                    2003         2004        2005
                                            Tahun Anggaran


Gambar 2 Rasio Efektivitas PAD Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005


      Analisis rasio tersebut dapat diketahui bahwa rasio efektivias PAD
Pemerintah Kota Malang untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2004
mengalami kenaikan. Sedangkan untuk tahun 2005 mengalami sedikit
penurunan. Walaupun mengalami sedikit penurunan kemampuan
Pemerintah Kota Malang dalam menjalankan tugasnya sudah bisa
dikategorikan efektif, karena rasio efektivitas PAD yang dicapai
melebihi 1(satu) atau 100%.


Rasio Efektivitas Pajak Daerah
      Pajak daerah merupakan komponen utama dalam PAD dan
memberikan kontribusi paling tinggi dalam sumber penerimaan daerah.
Hal ini perlu diketahui pula bahwa apakah target yang ditetapkan oleh
Pemerintah Kota Malang tidak melebihi realisasi pajak daerah pada
tahun anggaran tertentu. Oleh karena itu akan dilakukan analisis rasio
efektivitas pajak daerah yang dapat digunakan untuk menunjukkan
kemampuan pemerintah daerah dalam mengumpulkan pajak daerah
sesuai dengan jumlah penerimaan pajak yang ditargetkan.
      Adapun perhitungan dari rasio efektivitas pajak daerah Pemerintah
Kota Malang tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 yang dapat dilihat
pada Tabel dibawah ini:

Tabel 3 Rasio Efektivitas Pajak Daerah Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005

 No       Keterangan                         2003            2004               2005
  1 Target Pajak Daerah    25.067.750.000,00 27.046.608.00,00 30.597.054.117,00
  2 Realisasi Pajak Daerah 25.595.415.250,00 35.319.744.748,00 35.096.200.214,00
 % Rasio Efektivt. Pjk
 Daerah                         102,1%            130,6%            114,7%
 Sumber: Data Diolah



      Dari Tabel 3 di atas dapat diketahui adanya kenaikan dan
penurunan rasio efektivitas pajak daerah dari tahun 2003 samapi dengan
tahun 2005.

                                140
                                                        130,6%
                                120                                    114,7%
               Prosentase (%)




                                100      102,1%

                                80
                                60

                                40
                                20

                                 0
                                      2003           2004           2005
                                                Tahun Anggaran

Gambar 3 Rasio Efektivitas Pajak Daerah Pemerintah Kota Malang Tahun
         2003-2005


      Dari Tabel 3 dapat dilihat perbandingan antara realisasi pajak
daerah dengan target pajak daerah, persentase rasio efektivitas pajak
daerah pada tahun 2003 sebesar 102,9%. Pada tahun 2004, persentase
rasio efektivitas pajak daerah sebesar 130,6% sehingga ada kenaikan
persentase sebesar 27,7%. Sedangkan pada tahun 2005, persentase rasio
efektivitas pajak daerah sebesar 114,7% sehingga ada penurunan sebesar
15,9%. Dari analisis rasio diatas, dapat diketahui pula bahwa rasio
tertinggi berada pada tahun 2004 dan rasio terendah berada pada tahun
2003, seperti terlihat pada Gambar 3.


Derajat Kontribusi BUMD
      Derajat kontribusi BUMD bermanfaat untuk mengetahui tingkat
kontribusi perusahaan daerah dalam mendukung pendapatan daerah.
Adapun proposisi dari Derajat Kontribusi BUMD pada Pemerintah Kota
Malang tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel
dan gambar di bawah ini.

Tabel 4 Derajat Kontribusi BUMD Pemerintah Kota Malaang Tahun 2003-2005

 No         Keterangan               2003             2004              2005
  1   Target Hasil Perusahaan 3. 561.178.242,63 5.771.621.466,68 5.136.979.686,59
      Milik Daerah dan Hasil
      Pengeluaran Kekayaan
      Daerah yang
      Dipisahkan (BUMD)
  2   Realisasi Hasil         25.595.415.250,00 59.557.250.876,56 61.486.083.553,23
      Perusahaan Milik
      Daerah dan Hasil
      Pengeluaran Kekayaan
      Daerah yang
      Dipisahkan (BUMD)
 % Derajat Kontribusi BUMD          6,54%            9,69%             8,36%
 Sumber: Data Diolah



     Berdasarkan Tabel di atas, berikut ini adalah Gambar kenaikan dan
penurunan derajat kontribusi BUMD dibawah ini.
                             10                      9,69%
                              9
                                                                 8,36%
                              8



            Prosentase (%)
                              7
                                     6,54%
                              6
                              5
                              4
                              3
                              2
                              1
                              0
                                  2003            2004        2005
                                             Tahun Anggaran


Gambar 4 Derajat Kontribusi BUMD Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005



      Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat persentase kontribusi hasil
perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan (BUMD) dari keseluruhan PAD. Dari Tabel tersebut di atas
dapat diketahui bahwa persentase derajat kontribusi BUMD tertinggi
berada pada tahun 2004 dengan jumlah 9,69% dan derajat kontribusi
BUMD terendah berada pada tahun 2003 sebesar 6,54%. Sedangkan
pada tahun 2005 persentase Derajat Kontribusi BUMD sebesar 8,36%.
Selisih antara tahun 2003 dan tahun 2004 sebesar 3,15%, dan selisih
antara tahun 2004 dan tahun 2005 sebesar 1,33%.
      Semakin tinggi rasio tersebut semakin baik pula tingkat kontribusi
perusahaan daerah dalam menambah PAD, dilihat dari Tabel 5.6 dapat
diketahui bahwa perusahaan daerah memiliki kontribusi paling rendah
dalam mendukung pendapatan daerah. Hal ini dapat disimpulkan juga
bahwa dari tahun tersebut penerimaan dari perusahaan daerah cenderung
naik turun, dan kontribusi perusahaan daerah dalam menambah PAD di
Pemerintah Kota Malang bila dibandingkan dengan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) lainnya relatif masih rendah.
BAHASAN
Analisis Pertumbuhan Belanja
      Analisis Pertumbuhan Belanja bermanfaat untuk mengetahui
perkembangan belanja dari tahun ke tahun. Dalam paradigma baru
otonomi daerah, pemerintah daerah harus dapat mengendalikan belanja.
Analisis pertumbuhan belanja dilakukan untuk mengetahui berapa besar
pertumbuhan masing-masing belanja, apakah pertumbuhan tersebut
rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Pertumbuhan harus diikuti
dengan pertumbuhan pendapatan yang seimbang, sebab jika tidak
akibatnya dalam jangka menengah dapat mengganggu kesinambungan
keuangan daerah.
      Berikut ini adalah Tabel alokasi belanja daerah Pemerintah Kota
Malang tahun 2003 sampai dengan tahun 2005.

Tabel 5 Realisasi Anggaran Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang Tahun
        2003-2005

 No     Keterangan            2003                2004               2005
  1   Belanja            86.448.899.291,00   98.254.425.553,11 108.439.478.680,50
      Aparatur Daerah
  2   Belanja Publik    308.380.223.323,50 323.099.989.533,00 319.593.328.691,33
 Jumlah Belanja
 Daerah                 394.829.122.614,50 421.354.415.086,11 428.032.806.371,83
 Sumber: Data Diolah



         Dari data Tabel 5 tersebut di atas dapat dihitung besarnya
pertumbuhan belanja dari tahun ke tahun dengan membandingkan antara
realisasi belanja tahun yang bersangkutan dikurangi dengan realisasi
belanja tahun sebelumnya kemudian dibagi dengan realisasi belanja
tahun sebelumnya. Berikut perhitungannya:
a. Pertumbuhan belanja untuk tahun 2003, dengan diketahui realisasi
    belanja tahun 2002 sebesar 330.049.464.141,50
      . . . ., 049
       829 461
        122 141
          614 50
            50300
      394 . . .,
                   ,
                   6%
                   31
           . . .,
           049
         300   141
             46150
b. Pertumbuhan belanja untuk tahun 2004
    . . . , 394
     354 122
      415 614
        086 50
          11 829
    421 . . . ,
                ,
                72
                6%
         ...,
         829
       394  614
             50
           122
c. Pertumbuhan belanja untuk tahun 2005
    . . . , 421
     032 415
      806 086
        371 11
          83 354
    428 . . . ,
                ,
                16
                0%
         ...,
         354
       421  086
             11
           415
        Dari perhitungan di atas, berikut adalah gambar pertumbuhan
belanja tahun anggaran 2003 sampai dengan tahun 2005:

                             35
                                     31,6%
                             30
            Prosentase (%)




                             25
                             20
                             15
                             10
                                                     6,72%
                             5
                             0                                   0,16%

                                  2003            2004        2005
                                             Tahun Anggaran


Gambar 5 Pertumbuhan Belanja Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005


       Dari perhitungan tersebut di atas, persentase pertumbuhan belanja
pada tahun 2003 sebesar 31,6%. Pada tahun 2004, persentase
pertumbuhan belanja naik sebesar 6,72% akan tetapi mengalami
penurunan persentase sebesar 24,88% dari tahun sebelumnya. Sedangkan
pada tahun 2005, pertumbuhan belanja naik sebesar 0,16% sehingga ada
penurunan sebesar 6,56% dari tahun sebelumnya. Dari analisis
pertumbuhan belanja diatas, dapat diketahui pula bahwa persentase
tertinggi berada pada tahun 2003 dan persentase terendah berada pada
tahun 2005. Hal tersebut terlihat bahwa adanya penurunan tingkat
pertumbuhan belanja tahun ke tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
alokasi belanja daerah di Pemerintah Kota Malang dari tahun ke tahun
mengalami kenaikan akan tetapi pertumbuhan belanja tersebut dari tahun
ke tahun cenderung turun.


Rasio Efisiensi Belanja
       Pada dasarnya analisis balanja daerah sangat penting dilakukan
untuk apakah pemerintah daerah telah menggunakan APBD secara
ekonomis, efisien, dan efektif. Dengan digunakannya sistem pengang-
garan berbasis kinerja, semangat untuk melakukan efisiensi
(penghematan) atas setiap belanja mutlak harus tertanam dalam jiwa
pegawai pemerintah daerah. Dalam hal belanja daerah terdapat ketentuan
bahwa anggaran belanja merupakan batas maksimal pengeluaran yang
boleh dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah akan
dinilai baik kinerja belanjanya apabila realisasi belanja tidak melebihi
dari yang dianggarkan.
       Adapun proporsi dari Rasio Efisiensi Belanja Pemerintah Kota
Malang tahun 2003-2005 yang dapat dilihat pada Tabel dan gambar di
bawah ini:

Tabel 8 Rasio Efisiensi Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005

 No      Keterangan             2003               2004               2005
  1    Target Belanja
       Daerah             424.092.658.555,53 441.020.946.225,81 457.337.382.911,49
  2    Reals. Belanja
       Daerah             394.829.122.614,50 421.354.415.086,11 428.032.806.371,83
 % Rasio Efisiensi
 Belanja                       93,1%              95,54%             92,5%
 Sumber: Data Diolah



       Dari perhitungan tersebut di atas, persentase rasio efisiensi belanja
pada tahun 2003 sebesar 93,1%. Pada tahun 2004, persentase rasio
efisiensi belanja sebesar 95,54% sehingga ada kenaikan persentase
sebesar 2,44%. Sedangkan pada tahun 2005, persentase rasio efisiensi
belanja sebesar 92,5% sehingga ada penurunan sebesar 3,04%. Dari
analisis rasio diatas, dapat diketahui pula bahwa rasio efisiensi belanja
tertinggi berada pada tahun 2004 dan rasio efisiensi belanja terendah
berada pada tahun 2005. Lebih jelasnya dapat dilihat Gambar naik
turunnya rasio efisiensi belanja berikut ini.

                           100
                                    93,10%           95,54%      92,50%
                            90
                            80
          Prosentase (%)


                            70
                            60
                            50
                            40
                            30
                            20
                            10
                             0
                                 2003             2004        2005
                                             Tahun Anggaran

Gambar 7 Rasio Efisiensi Belanja Pemerintah Kota Malang Tahun 2003-2005


       Dari persentase tersebut di atas, terlihat bahwa secara keseluruhan
kinerja Pemerintah Kota Malang dalam mengalokasikan belanja daerah
relatif efisien. Disini, terlihat bahwa persentase dari rasio efisiensi
kurang dari 100%, dimana dalam Tabel 5.9 juga bisa dilihat realisasi
belanja daerah tidak melebihi target yang ditetapkan. Hal tersebut
menandakan tigkat penghematan belanja daerah Pemerintah Kota
Malang sudah cukup baik.


Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)
      Struktur APBD baru yang berbasis kinerja memungkinkan terdapat
SILPA pada akhir tahun anggaran. Dilihat dari sistem penganggaran
kinerja (performance budgeting), kinerja anggaran tidak lagi didasarkan
habis tidaknya anggaran, tetapi diukur dari tercapai tidaknya target
kinerja dengan anggaran yang disediakan. Dalam sistem anggaran
kinerja, sisa anggaran tidak berati jejek dan berakibat dipotongnya
anggaran periode berikutnya, bahkan apabila terdapat sisa anggaran
maka sisa tersebut dapat digunakan untuk anggaran tahun berikutnya
sehingga tidak akan hangus dan dana tersebut dapat digunakan oleh
pemerintah daerah untuk sumber pembiayaan penerimaan tahun
anggaran berikutnya.
      Ada tidaknya SILPA dan besar kecilnya sangat tergantung pada
tingkat belanja yang dilakukan pemerintah daerah serta kinerja
pendapatan daerah. Jika pada tahun anggaran tertentu tingkat belanja
daerah relatif rendah atau terjadi efisiensi anggaran, maka dimungkinkan
akan diperoleh SILPA yang lebih tinggi. Tetapi sebaliknya jika belanja
daerah tinggi, maka SILPA yang diperoleh akan semakin kecil bahkan
jika belanja daerah lebih besar daripada pendapatan daerah sehingga
menyebabkan terjadinya defisit, maka tidak ada SILPA untuk tahun
anggaran yang bersangkutan tetapi justru dimungkinkan terjadi Sisa
Kurang Pembiayaan Anggaran (SIKPA). Dengan demikian, adanya
SILPA tersebut akan menunjukkan adanya kinerja anggaran yang baik
pada tahun anggaran yang bersangkutan.
      Berikut adalah Tabel Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)
Pemerintah Kota Malang tahun 2003 sampai dengan tahun 2005.

Tabel 8 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Pemerintah Kota Malang
        Tahun 2003-2005

 No          Uraian             2003               2004               2005
 1    SILPA APBD         87.581.567.683,81 69.447.160.910,49 88.519.020.459,72
  2   Hak dan Kewajiban  (2.519.328.500,00) (2.509.378.922,00) (1.519.545.862,00)
  3   SILPA APBD setelah
      dikurangi hak dan
      kewajiban          85.062.239.183.81 66.937.781.988,49 86.999.474.687,72
Sumber: Data Diolah



      Dari Tabel tersebut dilihat bahwa SILPA APBD setelah dikurangi
hak dan kewajiban tahun 2003 sebesar Rp. 85.062.239.183,81. Pada
tahun 2004, SILPA APBD setelah dikurangi hak dan kewajiban sebesar
Rp.66.937.781.988,49. Sedangkan untuk tahun 2005, SILPA setelah
dikurangi hak dan kewajiban sebesar Rp.86.999.471.687,72. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa adanya penurunan SILPA pada tahun
2004, dengan selisih lebih rendah Rp.18.124.457.195,32 dari tahun 2003
dan adanya kenaikan sebesar Rp.20.061.692.699,23 dari tahun 2005.
Kesimpulan dari penjelasan diatas adalah bahwa kinerja anggaran
Pemerintah Kota Malang relatif baik karena adanya SILPA untuk
masing-masing tahun anggaran. SILPA tersebut membuktikan adanya
efisiens belanja daerah. SILPA cukup penting terutama digunakan untuk
tujuan berjaga-jaga dan keamanan fiskal daerah yaitu berjaga-jaga
sebagai dana cadangan apabila untuk tahun berikutnya terdapat defisit
anggaran. Selain itu, untuk tahun anggaran berikutnya SILPA juga bisa
digunakan untuk kegiatan investasi misalnya membangun sarana dan
prasarana pariwisata sehingga dapat menarik para investor untuk
menanamkan modal sehingga dapat meningkatkan penerimaan daerah.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
     Dari hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan
bahwa kinerja keuangan pada Pemerintah Kota Malang pada dasarnya
sudah baik, bila dilihat dari Rasio Efektivitas PAD, Efektivitas Pajak
Daerah, dan Rasio Efisiensi Belanja. Sedangkan pada Rasio
Kemandirian Keuangan Daerah, Derajat Kontribusi BUMD dan Analisis
Pertumbuhan Belanja belum menunjukkan kinerja yang maksimal.


Saran
       Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya dapat disarankan untuk
Pemerintah Kota Malang antara lain: (1)Upaya intensifikasi dan
ekstensifikasi sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
potensial masih sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan eksistensi
daerah melalui kemandirian dalam bidang pendanaannya; (2)Perlunya
efisiensi penggunaan anggaran dalam penentuan target pendapatan dan
anggaran belanja sebagai suatu perencanaan dan penjabaran kebijakan
pemerintah daerah untuk disesuaikan dengan kemampuan dan potensi
daerah; (3) Perlu rencana keuangan jangka panjang yang mengacu pada
efisiensi dan efektivitas program dan perencanaan dengan
memperhatikan sumber dana yang terbatas, dan di sisi lain pengeluaran
yang harus dibiayai semakin besar; (4) Terus menggali sumber-sumber
pendapatan daerah dengan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi baik
subjek maupun objek pajak yang dimungkinkan untuk digali secara
optimal; (5) Pemininalan pengeluaran daerah/biaya yang tidak terlalu
dibutuhkan misalnya biaya perjalanan dinas atau biaya lain-lain yang
tidak sesuai dalam rencana kerja sebelumnya; dan (6) Bila terdapat
SILPA dapat digunakan untuk tahun berikutnya sehingga harus
dioptimalkan penggunaannya, misalnya digunakan untuk menutup
pembengkakan biaya bila terjadi defisit atau jika terjadi suplus maka
dapat digunakan dalam kegiatan investasi berupa pembangunan dan
pengembangan untuk berbagai sektor yang berpotensi menambah
pendapatan daerah.


DAFTAR RUJUKAN
Depnaker RI. 2002. Modul Kewirausahaan Jilid 1--6 , Jakarta: Depnaker
     RI Direktorat Jendral Pembinaan dan Pemantapan .
Meredith, Geoffrey G. 2000. The Practice of Entreprenneurship,
     Ganeva: International Labour Organization.
Rangkuti, Freddy. 2002. Analisis SWOT Teknik Membedah Kamus Bisnis
     Reorientasi Konsep Perencanaan Strategi Untuk Menghadapi
     Abad 21. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Soemanto, Wasty. 2004. Pendidikan Wiraswasta. Jakarta: PT. Bumi
     Aksara .
Styawan , Joe. 2003. Strategi Efektif Berwirausaha. Jakarta: PT.
     Gramedia Pustaka Utama .
Schwartz, David . 2004. Berfikir dan Berjiwa Besar . Terjemahan .
     Jakarta: Binarupa Aksara .
Suharmanto. 2004. Kewirausahaan: Pengembangan Jiwa
     Kewirausahaan. Malang: Fakultas Teknik UM .
Siswoyo, Bambang Banu. 2003. Pengembangan Usaha Kecil . Malang:
     Fakultas Ekonomi UM.
Witjaksono, Mit .2003. Kewirausahaan dalam Pengembangan Usaha
     Koperasi . Malang: Cipta Sekawan .
Zimmerer, Thomas W. dan Norman M. Scarborough. 2002. Pengantar
     Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Usaha Kecil . Terjemahan.
     Jakarta: PT. Prenhallindo.
     Optimasi Penggunaan Campuran Asam
      Adipat dan Amonium Asetat Sebagai
             Catcher Formaldehida

                           Adilah Aliyatulmuna
                             Bachtiar Fauzi


      Abstract: Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan di
      laboratorium PT. PAI Probolinggo. Penambahan                 catcher
      dilakukan dengan metode pelapisan setelah masuk hot press,
      sedangkan uji emisi formaldehida dilakukan menurut metode JAS
      (Japan Agriculture Standart). Untuk optimasi tersebut dilakukan
      variasi konsentrasi masing-masing komponen, yaitu 2,5 ; 3,5 ; 4,5 ;
      5,5 ; 6,5 % berat untuk asam adipat dan 2,5 ; 3,5 ; 4,5 ; 5,5 ; 6,5 ;
      40 ; 50 ; 60 % berat untuk amonium asetat. Selanjutnya dilakukan
      variasi perbandingan volume catcher campuran pada masing-
      masing konsentrasi optimum. Variasi perbandingan volume
      catcher campuran antara asam adipat dan amonium asetat masing-
      masing adalah 1:9, 3:7, 5:5, 7;3, 9:1. Hasil penelitian menunjukkan
      bahwa catcher campuran yang optimum adalah campuran 6,5 %
      Asam adipat dan 60 % Amonium asetat dengan perbandingan
      volume 5:5. Pelapisan catcher tersebut mampu menurunkan emisi
      hingga 87,57 %. Plywood yang telah dilapisi catcher tersebut
      hanya mengeluarkan emisi formaldehida sebesar 0,21 ppm,
      sehingga plywood yang bersangkutan telah memenuhi standar
      bintang empat (F****) menurut standar JAS. Pada kondisi
      optimum ditinjau dari efektivitas dan harga, maka asam adipat 6,5
      % (tanpa amonium asetat) merupakan catcher terbaik dengan
      harga relatif terhadap catcher impor sebesar 31,92 % dan
      efektivitas relatif terhadap catcher impor sebesar 100 %.
      Kata Kunci: catcher, formaldehida,         plywood, asam adipat,
      amonium asetat.

Adilah Aliyatulmuna dan Bachtiar Fauzi adalah dosen Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Negeri Malang
       Kayu lapis (plywood) adalah salah satu produk berbahan dasar
kayu yang saat ini sangat diminati oleh konsumen. Produk ini banyak
digunakan untuk pembuatan furniture dan flooring. Plywood dibuat dari
lembaran–lembaran kayu (veneer) yang direkatkan menggunakan
perekat atau adhesive dengan bantuan tekanan dan panas. Adhesive yang
sering digunakan dalam pembuatan kayu lapis merupakan resin yang
berbasis formaldehida, diantaranya adalah urea formaldehida (resin
urea), phenol formaldehida (resin phenol) dan melamin formaldehida
(resin melamin). Dalam hal ini pemilihan adhesive yang digunakan
tergantung kebutuhan daya rekatnya, untuk kayu lapis interior atau
eksterior. Desain urea formaldehida umumnya digunakan untuk kayu
lapis interior.
       Resin urea formaldehida digunakan dalam industri kayu lapis
karena harganya yang relatif murah, mempunyai daya rekat baik dan
sudah memenuhi standar sebagai perekat plywood untuk kebutuhan
ekspor. Selain itu, satu keuntungan dari resin urea formaldehida adalah
karena sangat terang warnanya sehingga lebih cocok untuk pemakaian
dekoratif (Stevens, 2001).
       Penggunaan perekat urea formaldehida dapat menimbulkan
dampak negatif yaitu tingkat emisi yang sangat tinggi. Beberapa
penyakit yang telah terdeteksi sebagai akibat dari emisi formaldehida
yang berlebihan antara lain iritasi dari membran mukosa pada mata,
penyakit saluran pernapasan bagian atas, meningkatnya asam lambung
dan beberapa gangguan pada saluran pencernaan lainnya (Ali, 1998).
Studi lebih lanjut telah membuktikan bahwa paparan formaldehida dalam
konsentrasi dan jangka waktu tertentu dapat menyebabkan kanker pada
manusia maupun hewan (Anonim, 1997).
       Menurut IARC (International Agency for Research on Cancer),
Formaldehida dengan konsentrasi kurang dari 0,1 ppm tidak dapat
dideteksi dengan bau. Pada konsentrasi 0,1 ppm sampai 0,5 ppm dapat
dideteksi dengan bau, dan beberapa individu yang sensitif dapat
menyebabkan iritasi pada mata, gangguan hidung dan kerongkongan.
Sedangkan pada orang normal gangguan pada konsentrasi 0,5 ppm
sampai 1,0 ppm. Pada konsentrasi lebih dari 1,0 ppm dapat menyebabkan
ketidaknyamanan diruang terbuka (Dorries, 2004). Komite sick house
syndrome menetapkan bahwa formaldehida merupakan salah satu
senyawa penyebab sick house syndrome (Kawahara, 2000).
       Agar mencapai kriteria yang ditetapkan, harus dilakukan perlakuan
sebelum diekspor, salah satunya adalah dengan menggunakan catcher
untuk menangkap emisi formaldehida sehingga tidak lepas ke udara.
Secara teoritis terdapat beberapa golongan senyawa yang dapat
menangkap formaldehida yaitu senyawa yang mengandung gugus
amina/amida, gugus karboksil, atau senyawa yang mempunyai pasangan
elektron bebas.
       Di PT.PAI (Pamolite Adhesive Industry) catcher pelapis yang saat
ini digunakan adalah catcher impor. Catcher ini sangat efektif dalam
menurunkan tingkat emisi formaldehida, akan tetapi harganya relatif
mahal (Fauzi, 2004). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa catcher
impor terdiri dari campuran berbagai senyawa yang mengandung gugus
amina atau karboksil. Senyawa dalam darmushu terdiri dari golongan
asam amino seperti asam oleat, asam palmitat, asam oktadekanoat, asam
linoleat dan masih banyak lagi (Rochim, 2005). Tetapi senyawa-senyawa
tersebut sulit diperoleh dan harganya relatif mahal. Sehingga perlu dicari
senyawa yang mempunyai gugus amina atau karboksil dengan harga
yang lebih murah dibandingkan catcher impor.
       Dalam penelitian ini dipilih catcher campuran dari Asam adipat
dan Amonium asetat. Keduanya dipilih karena mempunyai gugus amina,
pasangan elektron bebas dan gugus karboksil. Hal tersebut didukung
oleh penelitian Dina (Agustus, 2006) bahwa amonium bikarbonat dapat
menurunkan emisi formaldehida.
       Metode yang digunakan adalah metode pelapisan catcher setelah
keluar hot press. Karena hasil penelitian yang dilakukan Dina (Agustus,
2006) menunjukkan bahwa Amonium bikarbonat dapat digunakan
sebagai catcher dengan metode paling efektif ialah dengan metode
pelapisan setelah keluar hot press. Selain itu metode ini juga sesuai
dengan metode penggunaan catcher impor.
       Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: (1)
Untuk mengetahui konsentrasi optimum Asam adipat dan Amonium
asetat sebagai catcher formaldehida; (2) Untuk mengetahui perbandingan
volume optimum Asam adipat dan Amonium asetat terhadap
efektifitasnya sebagai catcher formaldehida; dan (3) Untuk mengetahui
perbandingan efektifitas dan harga antara catcher yang diuji coba relatif
terhadap catcher impor (darmushu FC-7).
Eksperimen
      Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah variasi konsentrasi
dan volume pelapisan asam adipat dan amonium asetat. Variabel
terkontrolnya adalah perekat urea-formaldehida ( UA-125 ), HU-TBS,
HU-123, tepung terigu dan kayu sengon. Sedangkan variabel terikatnya
adalah nilai LFE.


Alat dan Bahan Yang Digunakan
a. Alat-alat yang digunakan
       Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: neraca
analitik, mixer, wadah plastik, gergaji listrik merek Kuangyung, rubber
scroll, mesin cold press merek Shinto, mesin hot press merk Shinto,
beaker glass 100 mL, pipet ukur 100 mL, pipet tetes, batang pengaduk,
magnetik stirrer, labu takar 1000 mL, pipet volume 100 mL, constant
bath 60oC merek Memmert, pipet ukur 100 mL, erlenmeyer 300 mL, dan
spektrofotometer spektronik 20 merek Milton Ray Company.


b. Bahan-bahan yang digunakan
       Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah adhesive
urea formaldehida (UA-125) produksi PAI yang dipakai tanpa perlakuan
awal, amonium asetat teknis, asam adipat teknis, akuades, amonium
asetat, asetil aseton, asetil anhidrat, catcher impor Darmushu, HU-12,
tepung industri.


c. Prosedur Kerja
Pembuatan Glue Camp
      Perekat UA-125 sebanyak 100 g dicampur dengan 10 g HU-TBS
diaduk hingga homogen menggunakan mixer selama ± 5 menit,
kemudian dimasukkan 20 g tepung terigu dan diaduk kembali hingga
homogen menggunakan mixer selama ± 3 menit. Selanjutnya ditambah
0.7 g HU-12 diaduk hingga homogen menggunakan mixer selama ± 3
menit. Komposisi pembuatan glue camp dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi Pembuatan Glue camp

 No     Bahan Baku          Berat (gram)
 1      UA-125                  100
 2      HU-TBS                   10
 3      Tepung                   20
 4      HU-12                   0,7



Pembuatan Plywood
      Metode yang digunakan adalah pelapisan kayu setelah masuk hot
press. Veneer (1 feet) yang telah kering dan siap digunakan sebagai
bahan kayu lapis sisinya dilapisi glue camp sebanyak 15 gram, diratakan
dengan rubber scroll, kemudian ditutup dengan veneer lain. Hal yang
sama juga dilakukan pada sisi lain veneer. Setelah veneer direkatkan,
selanjutnya dimasukkan dalam cold press dengan tekanan 9 kg/cm2
selama 30 menit pada suhu ruangan. Selanjutnya masuk pada hot press
pada suhu 100o C, tekanan 9 kg/cm2 selama 210 detik. Selanjutnya
plywood siap dilapisi catcher.


Pelapisan Catcher Campuran pada Plywood Setelah Masuk Hot press
      Cather yang digunakan adalah asam adipat dengan konsentrasi
2,5%, 3,5%, 4,5%, 5,5%, 6,5% dan amonium asetat 2,5%, 3,5%, 4,5%,
5,5%, 6,5%, 40%,50%, dan 60%.Untuk pembuatan asam adipat 2,5%
yaitu 2,5 g asam adipat dilarutkan dalam 97,5 mL akuades, diaduk
hingga larut. Dengan cara yang sama dibuat juga larutan asam adipat
3,5%, 4,5%, 5,5%, dan 6,5% dengan berat asam adipat dan akuades yang
ditambahkan.

Tabel 2 Komposisi Pembuatan Larutan Asam Adipat
 Konsentrasi                    2,5%       3,5%   4,5%   5,5%   6,5%
 Berat asam adipat (gram)        2,5        3,5    4,5    5,5    6,5
 Akuades (mL)                   97,5       96,5   95,5   94,5   93,5
    Untuk pembuatan ammonium asetat 2,5% yaitu 2,5 g ammonium
asetat dilarutkan dalam 97,5 mL akuades, diaduk hingga larut. Dengan
cara yang sama dibuat juga larutan ammonium asetat 3,5%, 4,5%, 5,5%,
6,5%, 40%, 50%, 60% dengan berat ammonium asetat dan akuades yang
ditambahkan

Tabel 3 Komposisi Pembuatan Larutan Amonium Asetat
Konsentrasi       2,5%    3,5%   4,5%   5,5%   6,5%   40%   50%    60%
Berat ammonium     2,5    3,5     4,5    5,5    6,5   40     50    60
asetat(gram)
Akuades (mL)       97,5   96,5   95,5   94,5   93,5   60     50    40



       Setelah masuk hot press, plywood siap dilapisi dengan catcher
campuran asam adipat dan amonium asetat. Masing-masing sisi plywood
dilapisi catcher campuran 4 gram. Plywood diletakkan di atas neraca
analitik ditambahkan larutan catcher campuran sampai 4 gram dan
diratakan dengan rubber scroll, hal ini juga dilakukan pada sisi plywood
yang lain.


Pengujian Tingkat Emisi/LFE pada sampel (Standar JAS 2003)
      Plywood yang telah dilapisi catcher masing-masing dipotong
dengan ukuran 5 x 15 cm sebanyak 10 buah, kemudian masing-masing
dimasukkan dalam desikator yang berbeda yang di bawahnya telah berisi
300 mL akuades selama 24 jam (Standar JAS 2003). Penentuan LFE
dilakukan dengan metode kolorimetri spektrofotometri, yaitu dengan
cara memasukkan 25 mL larutan sampel ke dalam erlenmeyer,
ditambahkan 25 mL reagen JAS, ditutup, dikocok, dan kemudian
dimasukkan dalam constant bath 60oC selama 15 menit. Absorbansi dari
larutan tersebut diukur dengan spektrofotometer spektronik 20 pada λ
412 nm.
Optimasi Perbandingan Volume Catcher Campuran Asam adipat dan
Ammonium asetat
      Setelah diperoleh konsentrasi campuran catcher yang efektif, data
digunakan dalam optimasi penggunaan catcher campuran. Langkah-
langkah yang dilakukan dalam pembuatan glue camp, pembuatan
plywood, pelapisan catcher dan penentuan tingkat emisi/LFE sama
seperti pada langkah no 1 di atas.
      Konsentrasi yang efektif pada no 1 selanjutnya digunakan untuk
variasi volume campuran catcher. Variasi volume yang digunakan
adalah campuran 1mL asam adipat dan 9 mL ammonium asetat, 3 mL
asam adipat dan 7 mL ammonium asetat, 5 mL asam adipat dan 5 mL
ammonium asetat, 7 mL asam adipat dan 3 mL ammonium asetat, serta 9
mL asam adipat dan 1 mL ammonium asetat.

Tabel 4 Komposisi Variasi Volume Catcher Campuran
 Catcher campuran       1    2    3    4     5
 asam adipat (mL)       1    3    5    7     9
 ammonium asetat (mL)   9    7    5    3     1



      Sebagai pembanding plywood dilapisi dengan darmushu FC-7,
selain itu juga digunakan plywood tanpa dilapisi catcher sebagai blanko.


HASIL
Pengaruh Variasi Konsentrasi Pelapisan Asam adipat dan Amonium asetat
sebagai Catcher Formaldehida
       Pengaruh konsentrasi pelapisan asam adipat dan amonium asetat
sebagai catcher dapat dilihat dari nilai emisi formaldehida. Pengujian
nilai emisi formaldehida dilakukan dengan metode JAS 2003. Hasil
Pengukuran Emisi Formaldehida dengan Variasi Konsentrasi Asam
adipat
         Hasil pengukuran uji emisi formaldehida dapat dilihat pada Tabel
5.

Tabel 5 Hasil Pengukuran Emisi Formaldehida dengan Variasi Konsentrasi Asam
        adipat

     No      Plywood                      Absorbansi          Kons.                     % penurunan
                                                           Formaldehida                    LFE
     1       Blanko                         0,2414             1,49
     2       Darmushu                       0,0564             0,26                            81,43%
     3       As. Adipat 2,5%                0,0955             0,52                            62,86%
     4       As. Adipat 3,5%                0,0865             0,46                            67,14%
     5       As. Adipat 4,5%                0,0760             0,39                            72,14%
     6       As. Adipat 5,5%                0,0745             0,38                            72,86%
     7       As. Adipat 6,5%                0,0564             0,26                            81,43%



    Jika Tabel 5 diubah dalam bentuk grafik maka akan diperoleh
Gambar 1.

           1.6
     ko              1.49
     ns    1.4
     ent
     ras
     i     1.2
     for                                                           Dar
     ma
             1                                                     asam adipat
     lde
     hid
     (pp   0.8
     m)

           0.6
                                   0.52
                                                    0.46
           0.4                                                     0.39                 0.38
                 0.26
                                                                                                    0.26
           0.2



             0
             Blank          2.5%             3.5%           4.5%                 5.5%             6.5%
                                      konsentrasi as. adipat



Gambar 1 Grafik Pengaruh Konsentrasi Asam adipat terhadap Emisi
         Formaldehida
      Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa penggunaan asam adipat
berpengaruh terhadap nilai emisi formaldehida. Variasi konsentrasi
memberikan pengaruh yang berbeda pada emisi formaldehida yang
dihasilkan. Nilai emisi formaldehida yang dihasilkan dari konsentrasi
asam adipat 2,5%; 3,5%; 4,5%; 5,5%; dan 6,5% berturut-turut 0,52 ppm;
0,46 ppm; 0,39 ppm; 0,38 ppm; dan 0,26 ppm.
      Pengaruh variasi konsentrasi terhadap emisi formaldehida dari
kayu lapis akan lebih jelas bila dilihat dari segi persen penurunan emisi
tehadap kayu lapis tanpa lapisan catcher (blanko). Persen penurunan
emisi formaldehida pada variasi konsetrasi asam adipat dapat dilihat
pada Tabel 6. Jika Tabel 6 diubah dalam bentuk grafik maka akan
diperoleh Gambar 2.

                                                              % Penurunan LFE

       100%           81.43%                                         81.43%
                                          67.14%   72.14%   72.86%
        80%                      62.86%
        60%
        40%
        20%
                0
         0%
              Blank   Darmushu    2.5%     3.5%      4.5%    5.5%     6.5%
                                      Kons. As. adipat



Gambar 2 Nilai Penurunan Emisi Formaldehida (%) pada Berbagai Variasi
         Konsentrasi Asam adipat


      Gambar 2 diatas menjelaskan persen penurunan emisi
formaldehida terhadap banko (kayu lapis tanpa catcher) karena pengaruh
penggunaan catcher. asam adipat dengan variasi konsentrasi 2,5%; 3,5%;
4,5%; 5,5% dan 6,5% dapat menurunkan nilai emisi formaldehida
berturut-turut sebesar 62,86%; 67,14%; 72,14%; 72,86% dan 81,43%.
Persen penurunan tertinggi pada konsentrasi asam adipat 6,5% yaitu
sebesar 81,43% yang merupakan konsentrasi optimum dalam
menurunkan emisi formaldehida. Sedangkan catcher impor dapat
menurunkan emisi formaldehida sampai 81,43% sama dengan catcher
asam adipat 6,5%. Hasil Pengukuran Emisi Formaldehida dengan Variasi
Konsentrasi Amonium asetat. Hasil pengukuran uji emisi formaldehida
dapat dilihat pada Tabel 7.


Tabel 7 Hasil Pengukuran Emisi Formaldehida dengan Variasi Konsentrasi
        Amonium asetat

     No                Plywood                  Absorbansi           kons.                 Presentase
                                                                  Formaldehida
     1      Blank                                  0.2414             1.49
     2      Darmushu                               0.0564             0.26                  81.43%
     3      Amonium asetat 2.5%                    0.2128             1.30                  7.14%
     4      Amonium asetat 3.5%                    0.2023             1.23                  12.14%
     5      Amonium asetat 4.5%                    0.1737             1.04                  25.71%
     6      Amonium asetat 5.5%                    0.1677             1.00                  28.57%
     7      Amonium asetat 6.5%                    0.1346             0.78                  44.29%
     8      Amonium asetat 40.0%                   0.0850             0.45                  67.86%
     9      Amonium asetat 50.0%                   0.0760             0.39                  72.14%
     10     Amonium asetat 60.0%                   0.0714             0.36                  74.29%



    Jika Tabel 7 diubah dalam bentuk grafik maka akan diperoleh
Gambar 3.

                1.60
                       1.49
          ko
          ns    1.40
          ent                    1.30                                     Darmusu
                1.20                    1.23
          ras
          i                                                               amonium asetat
          for                                     1.04
                1.00                                       1.00
          ma
          lde
                0.80                                               0.78
          hid
          (pp
          m)    0.60
                                                                             0.45
                0.40                                                                 0.39
                       0.26                                                                   0.36

                0.20

                0.00
                  Blank       2.5%   3.5%     4.5%    5.5%     6.5%      40.0% 50.0% 60.0%
                                            konsentrasi amonium asetat




Gambar 3 Grafik Pengaruh Konsentrasi Amonium asetat terhadap Emisi
         Formaldehida
      Dari gambar 3 dapat diketahui bahwa penggunaan amonium asetat
berpengaruh terhadap nilai emisi formaldehida. Variasi konsentrasi
memberikan pengaruh yang berbeda pada emisi formaldehida yang
dihasilkan. Nilai emisi formaldehida yang dihasilkan dari konsentrasi
amonium asetat 2,5%; 3,5%; 4,5%; 5,5%; 6,5%; 40%; 50%; 60%
berturut-turut 1,30 ppm; 1,23 ppm; 1,04 ppm; 1,00 ppm; 0,78 ppm; 0,45
ppm; 0,39 ppm; dan 0,36 ppm.
      Pengaruh variasi konsentrasi terhadap emisi formaldehida dari
kayu lapis akan lebih jelas bila dilihat dari segi persen penurunan emisi
tehadap kayu lapis tanpa lapisan catcher (blanko). Persen penurunan
emisi formaldehida pada variasi konsetrasi amonium asetat dapat dilihat
pada Tabel 7. Jika Tabel 7 diubah dalam bentuk grafik maka akan
diperoleh Gambar 4.

  90%
        81.43%
  80%                                                                         72.14%   74.29%
                           % Penurunan LFE                           67.86%
  70%

  60%

  50%                                                       44.29%

  40%
                                              28.57%
  30%                               25.71%

  20%                      12.14%
                   7.14%
  10%

  0%
        Darmushu   2.5%     3.5%     4.5%       5.5%         6.5%    40.0%    50.0%    60.0%
                                         Kons. Am. Asetat

Gambar 4 Nilai Penurunan Emisi Formaldehida (%) pada Berbagai Variasi
         Konsentrasi Amonium asetat


     Gambar 4 diatas menjelaskan persen penurunan emisi
formaldehida terhadap banko (kayu lapis tanpa catcher) karena pengaruh
penggunaan catcher. Amonium asetat dengan variasi konsentrasi 2,5%;
3,5%; 4,5%; 5,5%; 6,5%; 40%; 50%; 60% dapat menurunkan nilai emisi
formaldehida berturut-turut sebesar 7,14%; 12,14%; 26,71%; 28,57%;
44,29%; 67,86%; 72,14% dan 74,29%. Persen penurunan tertinggi pada
konsentrasi amonium asetat 60% yaitu sebesar 74,29% yang merupakan
konsentrasi optimum dalam menurunkan emisi formaldehida. Sedangkan
catcher impor dapat menurunkan emisi formaldehida sampai 81,43%
dengan selisih 7,14 % dengan catcher Amonium asetat 60%.


Pengaruh Variasi Volume Campuran Asam adipat dan Amonium asetat
sebagai Catcher Formaldehida
      Dari penelitian perbandingan volume catcher campuran diperoleh
data pada Tabel 8.


Tabel 8 Data Penentuan LFE Dalam Mencari Perbandingan Volume Catcher
        Campuran Asam adipat dan Amonium asetat.

 No   Plywood             Absorbansi                   kons.                 rata-   Presentase
                                                    Formaldehida             rata
 1    blanko                  0.2715                       1.69               1.69
 2    darmushu                0.0669                       0.33               0.33     80.47%
 3    1:9                 0.0895 0.0760             0.48          0.39       0.675     60.06%
 4    3:7                 0.0805      0.0489        0.42          0.21       0.525     68.93%
 5    5:5                 0.0369      0.0414        0.13          0.16        0.21     87.57%
 6    7:3                 0.0519      0.0399        0.23          0.15       0.305     81.95%
 7    9:1                 0.0564      0.0519        0.26          0.23       0.375     77.81%

     Selanjutnya data pada Tabel 8 dibuat grafik emisi dari masing-
masing plywood yang disajikan dalam Gambar 5.
            180%
                    1.69
            160%

        ko
        ns
            140%                       Darmusu
        ent
        ras 120%                       asam adipat & amonium asetat
        i
        for
        ma 100%
        lde
        hid
        (pp 80%
        m)                           0.675
            60%
                                                   0.525
                                                                                     0.375
            40%    0.33                                                     0.305
                                                               0.21
            20%


             0%
               blank           1:9             3:7             5:5          7:3      9:1
                                       Volume as. adipat & amonium asetat


Gambar 5 Grafik Emisi Formaldehida pada Variasi Volume
      Dari Gambar 5 diketahui bahwa sampel 5:5, yaitu plywood dengan
catcher campuran 6,5% asam adipat dan 60% amonium asetat dengan
perbandingan 5:5 mempunyai emisi yang cukup rendah bahkan melebihi
darmushu FC-7. Berdasarkan standar JAS 2003, nilai emisi sebesar 0,21
ppm tersebut berarti masuk dalam F**** (bintang 4). Artinya catcher
tersebut dapat digunakan sehingga plywood mempunyai nilai emisi yang
memenuhi standar kualitas. Prosentase penurunan emisi dapat dilihat
pada Gambar 6.

                                                       % Penurunan LFE

          100%
                 80.47%                         87.57%    81.95%     77.81%
           80%                      68.93%
                           60.06%
           60%

           40%

           20%

           0%
                 darmusu    1:9       3:7        5:5        7:3          9:1
                                    Perbandingan Volume


Gambar 6 Grafik Penurunan Emisi Formaldehida


        Dari Gambar 6 dapat diketahui bahwa sampel 5:5 mempunyai
keefektifan paling tinggi dibandingkan sampel yang dilapisi catcher
campuran yang lain. Prosentase penurunan emisi tersebut didasarkan
pada perbandingan sampel yang dilapisi catcher campuran terhadap
sampel blanko (tanpa dilapisi catcher). Sampel 5:5 dapat menurunkan
emisi hingga 87,57% melebihi darmushu FC-7 (80,47%).


Perbandingan Harga dan Efektifitas Relatif Catcher Asam Adipat dan Amonium
Asetat Terhadap Catcher Impor
1. Perbandingan Harga dan Efektifitas Catcher Asam Adipat dan
   Amonium Asetat Optimum Terhadap Catcher Impor (Darmushu FC-
   7)
      Perbandingan harga dan efektifitas catcher Asam adipat dan
Amonium asetat terhadap catcher Impor (Darmushu FC-7) dapat dilihat
pada Tabel 9.


Tabel 9 Perbandingan Harga dan Efektifitas Catcher Asam Adipat dan Amonium
        Asetat
                                                           Harga relatif
                                                  Harga/
                           Catcher    Harga/g                terhadap    % Penurunan
 No    Sampel Plywood                             sampel
                         sampel (g)    (Rp)                 darmushu        LFE
                                                   (Rp)
                                                            FC-7 (%)
 1     Darmushu FC-7          8         9,9        79,2         100         81,43
 2     As. Adipat 6,5%        8         3,16      25,28        31,92        81,43
 3     Am. Asetat 60%         8        182,54    1460,32     1843,84           74,29


      Menurut Tabel 9 dapat dilihat bahwa sampel asam adipat 6,5 %
dengan prosentase penurunan LFE sebesar 81,43 % membutuhkan biaya
pembuatan catcher sebesar Rp.25,28/sampel atau hanya 31,92%
terhadap biaya catcher impor (Darmushu FC-7).
      Perbandingan harga dan % LFE dapat dilihat pada Gambar 7.


              Grafik Perbandingan Harga dan % Penurunan LFE

  1600
                                                             1460.32
  1400

  1200
                harga catcher /sampel     % penurunan LFE
  1000

     800

     600

     400

     200       79.2   81.43                     81.43                  74.29
                                       25.28
      0
             Darmushu FC-7            As. Adipat 6,5%        Am. Asetat 60%
                                      Sampel Catcher



Gambar 7 Grafik Perbandingan Harga dan % Penurunan LFE
      Dari Gambar 7 tersebut dapat dilihat bahwa keefektifan catcher
terdapat pada sampel Asam adipat 6,5 % sama dengan darmushu FC-7.
Tetapi bila dilihat dari harga, biaya pemakaian catcher Asam adipat 6,5
% jauh lebih rendah 31,92% dibandingkan catcher impor (darmushu FC-
7).
2. Perbandingan Harga dan Efektifitas Catcher Campuran Asam Adipat
    6,5 % dan Amonium Asetat 60 % dengan Variasi Volume Terhadap
    Catcher Impor (Darmushu FC-7).
        Perbandingan harga dan efektifitas catcher campuran asam
adipat dan amonium asetat dengan variasi volume terhadap catcher
impor (Darmushu FC-7) dapat dilihat pada Tabel 10.


Tabel 10 Perbandingan Harga dan Efektifitas Catcher Campuran Asam Adipat
         dan Amonium Asetat dengan Variasi Volume
                                                          Harga relatif
                        Catcher
                                  Harga/g     Harga/        terhadap % Penurunan
 No   Sampel Plywood    sampel
                                   (Rp)     sampel (Rp)    darmushu     LFE
                          (g)
                                                           FC-7 (%)
 1    Darmushu FC-7       8         9.9        79.2            100      80.47
 2    As. Adipat:Am.      8
                                  164.606    1.316.846     1662.68      60.06
      Asetat 1:9
 3    As. Adipat:Am.      8
                                  128.729    1.029.833     1300.29      68.93
      Asetat 3:7
 4    As. Adipat:Am.      8
                                  92.853     742.820        937.90      87.57
      Asetat 5:5
 5    As. Adipat:Am.      8
                                  56.976     455.807        575.51      81.95
      Asetat 7:3
 6    As. Adipat:Am.      8
                                  21.099     168.794        213.12      77.81
      Asetat 9:1



      Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa sampel catcher campuran Asam
adipat dan Amonium asetat dengan berbagai variasi volume bila
dibandingkan dengan catcher impor (Darmushu FC-7) dari segi harga
tidak optimal. Dimana harga terendah dicapai pada catcher campuran 9 :
1 dengan prosentase LFE sebesar 77,81 membutuhkan biaya pembuatan
catcher sebesar Rp. 168,794/sampel atau 213,12 % terhadap biaya
catcher impor (Darmushu FC-7).
      Variasi catcher campuran dengan prosentase LFE optimal dicapai
pada catcher campuran 5 : 5, tetapi dari segi harga bila dibandingkan
dengan catcher impor (Darmushu FC-7) sangat tidak optimal mencapai
937.90 %. Sehingga dari segi harga catcher campuran Asam adipat dan
Amonium asetat 5 : 5 tidak dapat menggantikan catcher impor
(Darmushu FC-7). Perbandingan harga dan % LFE dapat dilihat pada
Gambar 8.

                         Grafik Perbandingan Harga dan % Penurunan LFE
 1400                    1316.846


 1200                                                          harga catcher /sampel         % penurunan LFE

                                            1029.833
 1000


  800                                                             742.820


  600
                                                                                       455.807

  400

                                                                                                         168.794
  200
          79.2                                         68.93                  87.57              81.95             77.81
                 80.47              60.06

    0
        Darmushu FC-           1:9               3:7                    5:5                 7:3                9:1
              7

Gambar 8 Grafik Perbandingan Harga dan % Penurunan LFE


       Dari Gambar 8 tersebut dapat dilihat bahwa keefektifan catcher
terdapat pada sampel campuran Asam adipat dan Amonium asetat 5 : 5
mencapai persen penurunan LFE sebesar 87,57 dibanding darmushu FC-
7 yang hanya 80,47. Tetapi bila dilihat dari harga, biaya pemakaian
catcher campuran Asam adipat dan Amonium asetat 5 : 5 jauh lebih
tinggi 742,82 % dibandingkan catcher impor (darmushu FC-7). Sehingga
dari segi harga catcher campuran Asam adipat dan Amonium asetat 5 : 5
tidak dapat menggantikan catcher impor (Darmushu FC-7).
Optimasi Penggunaan Asam Adipat dan Amonium Asetat sebagai Catcher
Pelapis Dilihat dari Efektifitas dan Harga Relatif terhadap Catcher Impor.
       Berdasarkan gambar 7 dan gambar 8, dapat dikelompokkan
catcher yang mempunyai efektifitas relatif terhadap catcher impor
tertinggi yaitu Asam adipat 6,5 % dengan efektifitas persen penurunan
LFE sebesar 81,43 % sama dengan catcher impor 81,43 %, Amonium
asetat 60 % dengan efektifitas persen penurunan LFE sebesar 74,29 %
dibanding catcher impor 81,43 % dan catcher campuran Asam adipat 6,5
% : Amonium asetat 60 % 5 : 5 dengan efektifitas persen penurunan LFE
sebesar 87,57 % dibanding catcher impor 80,47 %.
       Konsentrasi dan volume optimum dari larutan Asam adipat dan
Amonium asetat sebagai catcher formaldehida ditentukan dengan cara
membandingkan efektifitas relatif terhadap harga relatif catcher per
sampel kayu lapis. Konsentrasi dan volume pelapisan yang mempunyai
nilai perbandingan paling besar merupakan kondisi optimum dalam
penggunaanya sebagai catcher formaldehida. Perbandingan efektifitas
terhadap harga relatif catcher per sampel ditunjukkan pada Tabel 11.


Tabel 11 Nilai Perbandingan Persentase Efektifitas Relatif Terhadap Biaya yang di
         butuhkan Catcher Pengganti Per Sampel
                                              Amonium       Asam adipat 6,5%:
                               Asam adipat
No          Karakter                         asetat 60 %   Amonium asetat 60%
                                  6,5 %
                                                                  5:5
 1    Harga /sampel (Rp)          25,28       1460,32            742,82
 2    Harga relatif terhadap
      catcher impor (%)           31,92       1843,84              937,9
 3    % penurunan LFE             81,43        74,29               87,57
 4    Efektifitas    relatif
      terhadap      catcher
      impor (%)                   100           91,23             108,82
 5    Perbandingan
      efektifitas    relatif
      terhadap harga relatif
      per sampel                  3,96          0,06               0,15
       Dari Tabel 11 dapat diketahui bahwa konsentrasi Asam adipat
6,5% mempunyai nilai perbandingan efektifitas relatif terhadap harga
relatif catcher per sampel tertinggi yaitu sebesar 3,96 dibandingkan
dengan konsentrasi Amonium asetat 60% dan variasi volume campuran 5
: 5 yaitu berturut-turut sebesar 0,06 dan 0,15. Hal ini menunjukkan
bahwa konsentrasi Asam adipat 6,5% merupakan kondisi optimum
dalam penggunaan sebagai catcher formaldehida pada kayu lapis bila
ditinjau dari efektifitas dan harga relatif terhadap catcher impor dan
harga catcher.


BAHASAN
Pengaruh Variasi Konsentrasi Pelapisan Asam adipat dan Amonium asetat
sebagai Catcher Formaldehida.
1. Hasil Pengukuran Emisi Formaldehida dengan Variasi Konsentrasi
   Asam adipat
      Berdasarkan hasil pengukuran emisi formaldehid dengan variasi
konsentrasi asam adipat dapat diketahui bahwa nilai emisi formaldehida
yang dihasilkan dari konsentrasi asam adipat 2,5%; 3,5%; 4,5%; 5,5%;
dan 6,5% berturut-turut 0,52 ppm; 0,46 ppm; 0,39 ppm; 0,38 ppm; dan
0,26 ppm. Nilai emisi formaldehida terendah dicapai pada konsentrasi
asam adipat 6,5% merupakan konsentrasi yang optimal sebagai catcher
dalam menurunkan emisi formaldehida pada kayu lapis. Nilai emisi
formaldehida yang dihasilkan adalah 0,26 ppm. yang dalam standar
Jepang termasuk dalam kelas F****(≤ 0,3 ppm). Nilai emisi ini sama besar
dengan penggunaan catcher impor yang menghasilkan nilai emisi
formaldehida juga sebesar 0,26 ppm. Persen penurunan emisi tertinggi
diperoleh pada konsentrasi asam adipat 6,5% yaitu sebesar 81,43% yang
merupakan konsentrasi optimum dalam menurunkan emisi formaldehida.
Sama halnya dengan asam adipat, catcher impor juga dapat menurunkan
emisi formaldehida sampai 81,43%. Oleh karena itu, asam adipat sangat
potensial digunakan untuk menurunkan tingkat emisi formaldehid pada
kayu lapis.
      Asam adipat dapat digunakan dalam menurunkan emisi
formaldehida pada kayu lapis karena mempunyai pasangan elektron
bebas sehingga secara teori dapat berikatan dengan formaldehida. Pada
formaldehida, keelektronegatifan yang lebih besar pada atom oksigen
akan menyebabkan terjadinya migrasi elektron ke atom oksigen sehingga
atom oksigen bermuatan parsial negatif (δ-) sedangkan atom karbon
bermuatan parsial positif (δ+) (Schuetz, 1959:148). Resonansi dari gugus
karbonil pada formaldehida seperti yang terlihat pada Gambar 1.


                                            δ+        δ-
                   C       O                C     O



Gambar 4. 4 Resonansi dari Gugus Karbonil


      Pada saat dilapiskan pada kayu lapis, asam adipat akan bereaksi
dengan uap formaldehida yang berasal dari adhesive urea formaldehida
membentuk senyawaan yang lebih besar dan kurang volatil dari pada
formaldehida sendiri. Sehingga emisi yang dihasilkan dari kayu lapis
yang dilapisi larutan asam adipat akan lebih rendah dari pada kayu lapis
tanpa pelapisan larutan asam adipat. Pasangan elektron bebas pada asam
adipat akan menyerang atom karbon yang bermuatan parsial positif (δ+)
pada formaldehida, sedangkan atom hidrogen yang bermuatan positif
akan berikatan dengan atom oksigen yang bermuatan parsial negatif(δ-)
pada formaldehida.


2. Hasil Pengukuran Emisi Formaldehida dengan Variasi Konsentrasi
   Amonium asetat.
       Data hasil pengukuran emisi formaldehid dengan amonium asetat
menunjukkan bahwa penggunaan amonium asetat berpengaruh terhadap
nilai emisi formaldehida, sebab variasi konsentrasi memberikan
pengaruh yang berbeda pada emisi formaldehida yang dihasilkan. Nilai
emisi formaldehida yang dihasilkan dari konsentrasi amonium asetat
2,5%; 3,5%; 4,5%; 5,5%; 6,5%; 40%; 50%; 60% berturut-turut 1,30
ppm; 1,23 ppm; 1,04 ppm; 1,00 ppm; 0,78 ppm; 0,45 ppm; 0,39 ppm;
dan 0,36 ppm. Nilai emisi formaldehida terendah dicapai pada
konsentrasi amonium asetat 60% merupakan konsentrasi yang optimal
sebagai catcher dalam menurunkan emisi formaldehida pada kayu lapis.
Nilai emisi formaldehida yang dihasilkan adalah 0,36 ppm. Nilai emisi
yang dihasilkan ini (0,36 ppm) dalam standar Jepang termasuk dalam
kelas F****(≤ 0,3 ppm). Nilai emisi ini masih sedikit lebih besar dari pada
penggunaan catcher impor yang menghasilkan nilai emisi formaldehida
0,26 ppm.
       Sama halnya dengan asam adipat, amonium asetat juga memiliki
kemampuan untuk menurunkan emisi formaldehid pada kayu lapis. Hal
ini disebabkan karena dalam amonium asetat juga terdapat pasangan
elektron bebas sehingga secara teori dapat berikatan dengan
formaldehida. Amonium asetat akan berikatan dengan formaldehid
membentuk senyawaan yang lebih besar dan kurang volatil daripada
formaldehid sendiri. Oleh karena itu emisi yang dihasilkan dari kayu
lapis yang dilapisi amonium asetat akan lebih rendah dari pada kayu
lapis tanpa dilapisi amonium asetat.
        Dari dua hasil pengukuran emisi formaldehid (dengan variasi
konsentrasi asam adipat dan variasi konsentrasi amonium asetat) yang
telah dilakukan, hasil optimum catcher asam adipat ternyata lebih bagus
dibandingkan dengan catcher amonium asetat. Hal ini didukung dengan
nilai penurunan emisi catcher asam adipat sebesar 81,43% sedangkan
catcher amonium asetat sebesar 74,29% keduanya memiliki selisih
sebesar 7,14 %. Asam adipat memiliki kemampuan menurunkan emisi
formaldehid lebih tinggi dibandingkan amonium asetat karena dalam
asam adipat terdapat dua gugus karboksil. Gugus karboksil dalam sam
adipat ini lebih efektif dalam menangkap emisi formaldehid daripada
amonium asetat yang hanya memiliki pasangan elektron bebas pada atom
nitrogen saja. Untuk mendapatkan konsentrasi optimum, selanjutnya
asam adipat dan amonium asetat dicampur dengan variasi volume
pencampuran sebesar 1:9, 3:7, 5:5, 7:3, dan 9:1.


Pengaruh Variasi Volume Campuran Asam adipat dan Amonium asetat sebagai
Catcher Formaldehida.

     Berdasarkan hasil penelitian perbandingan volume catcher
campuran (Tabel 8) dapat diketahui bahwa plywood dengan catcher
campuran 6,5% asam adipat dan 60% amonium asetat dengan
perbandingan 5:5 mempunyai emisi yang cukup rendah bahkan melebihi
darmushu FC-7. Menurut standar JAS 2003, nilai emisi sebesar 0,21 ppm
tersebut berarti masuk dalam F**** (bintang 4), Artinya catcher tersebut
dapat digunakan sehingga plywood mempunyai nilai emisi yang
memenuhi standar kualitas.
      Sampel 5:5 juga mempunyai keefektifan paling tinggi
dibandingkan sampel yang dilapisi catcher campuran yang lain.
Prosentase penurunan emisi tersebut didasarkan pada perbandingan
sampel yang dilapisi catcher campuran terhadap sampel blanko (tanpa
dilapisi catcher). Sampel 5:5 dapat menurunkan emisi hingga 87,57%
melebihi darmushu FC-7 (80,47%). Sehingga dapat dikatakan bahwa
campuran asam adipat dan amonium asetat dengan perbandingan 5:5
merupakan variasi volume yang tepat untuk memperoleh catcher yang
optimum. Dalam hal ini konsentrasi yang kecil dari asam adipat yakni
6,5% sebanding peranannya dengan 60% amonium asetat. Hal ini
dikarenakan asam adipat memiliki dua gugus karboksil yang lebih efektif
dalam menangkap emisi formaldehid dibandingkan amonium asetat yang
hanya memiliki pasangan elektron bebas pada atom nitrogen saja.
Sehingga diperlukan konsentrasi yang besar dari amonium asetat untuk
sebanding peranannya dengan amonium asetat.
      Sedangkan pada perbandingan campuran 7:3 dan 9:1 bila
dibandingkan penurunan emisi formaldehidanya dengan volume
campuran 3:7 dan 1:9 terlihat bahwa volume campuran 7:3 dan 9:1 lebih
besar nilai persen penurunan emisinya yakni 81,95% dan 77,81%
dibanding 68,93% dan 60,06%. Dapat dijelaskan bahwa pada 7:3 dan 9:1
jumlah asam adipat lebih besar dari 3:7 dan 1:9 sehingga penurunan
emisinya lebih besar, peranan pasangan elektron bebas dua gugus
karboksilnya lebih besar dari pada peranan pasangan elektron bebas atom
Nitrogen dalam amonium (NH4+).
      Pada volume campuran 7:3 dan 9:1 peranan pasangan elektron
bebas terlihat dimana walaupun jumlah asam adipat pada campuran 7:3
lebih kecil dari campuran 9:1 tetapi karena jumlah amonium asetat lebih
besar maka penurunan emisinya lebih besar. Dimana pada campuran 7:3
penurunan emisinya 81,95% dan campuran 9:1 penurunan emisinya
77,81%. Demikian juga dapat dijelaskan pada campuran 1:9 dan 3:7
dengan jumlah asam adipat lebih besar campuran 3:7 memiliki persen
penurunan emisi lebih besar yaitu 68,93% dibanding campuran 1:9
sebesar 60,06%. Dengan melihat nilai penurunan emisi formaldehida
maka tercapai titik optimum campuran asam adipat dengan amonium
asetat pada perbandingan 5:5.


Perbandingan Harga dan Efektifitas Relatif Catcher Asam Adipat dan
Amonium Asetat Terhadap Catcher Impor
       Untuk melihat kelayakan Asam adipat dan Amonium asetat
sebagai catcher pengganti, maka dilakukan analisis harga dan efektifitas
relatif catcher pengganti terhadap catcher impor. Perhitungan biaya
pemakaian dihitung dari berat (gram) yang digunakan per sampel.
Catcher yang digunakan untuk proses pelapisan sebanyak 4 gram/feet2,
masing-masing 4 gram untuk permukaan face dan 4 gram untuk
permukaan back. Jadi, dibutuhkan sebanyak 8 gram catcher per sampel.
Harga catcher pengganti kemudian dibandingkan untuk mengetahui
persentase relatif terhadap catcher impor.
       Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa keefektifan catcher terdapat
pada sampel Asam adipat 6,5 % sama dengan darmushu FC-7. Tetapi
bila dilihat dari harga, biaya pemakaian catcher Asam adipat 6,5 % jauh
lebih rendah 31,92% dibandingkan catcher impor (darmushu FC-7). Dari
hasil analisis perbandingan harga dan efektifitas catcher campuran asam
adipat dan Amonium asetat dengan variasi volume terhadap catcher
impor (Darmushu FC-7), dapat dilihat bahwa sampel catcher campuran
Asam adipat dan Amonium asetat dengan berbagai variasi volume bila
dibandingkan dengan catcher impor (Darmushu FC-7) dari segi harga
ternyata tidak optimal. Dimana harga terendah dicapai pada catcher
campuran 9 : 1 dengan prosentase LFE sebesar 77,81 membutuhkan
biaya pembuatan catcher sebesar Rp. 168,794/sampel atau 213,12 %
terhadap biaya catcher impor (Darmushu FC-7).
       Variasi catcher campuran dengan prosentase LFE optimal dicapai
pada catcher campuran 5 : 5, tetapi dari segi harga bila dibandingkan
dengan catcher impor (Darmushu FC-7) sangat tidak optimal mencapai
937.90 %. Sehingga dari segi harga catcher campuran Asam adipat dan
Amonium asetat 5 : 5 tidak dapat menggantikan catcher impor
(Darmushu FC-7). Selain itu pada gambar 8 dapat dilihat bahwa
keefektifan catcher terdapat pada sampel campuran Asam adipat dan
Amonium asetat 5 : 5 mencapai persen penurunan LFE sebesar 87,57
dibanding darmushu FC-7 yang hanya 80,47. Tetapi bila dilihat dari
harga, biaya pemakaian catcher campuran Asam adipat dan Amonium
asetat 5 : 5 jauh lebih tinggi 742,82 % dibandingkan catcher impor
(darmushu FC-7). Sehingga dari segi harga catcher campuran Asam
adipat dan Amonium asetat 5 : 5 tidak dapat menggantikan catcher
impor (Darmushu FC-7).


Optimasi Penggunaan Asam Adipat dan Amonium Asetat sebagai Catcher
Pelapis Dilihat dari Efektifitas dan Harga Relatif terhadap Catcher Impor.
       Dari hasil perbandingan harga dan efektifitas relatif Catcher asam
adipat dan amonium asetat terhadap catcher impor dapat dikelompokkan
catcher yang mempunyai efektifitas relatif terhadap catcher impor
tertinggi yaitu, asam adipat 6,5 % dengan efektifitas persen penurunan
LFE sebesar 81,43 % sama dengan catcher impor 81,43 %, Amonium
asetat 60 % dengan efektifitas persen penurunan LFE sebesar 74,29 %
dibanding catcher impor 81,43 % dan catcher campuran Asam adipat 6,5
% : Amonium asetat 60 % 5 : 5 dengan efektifitas persen penurunan LFE
sebesar 87,57 % dibanding catcher impor 80,47 %.
       Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa konsentrasi Asam
adipat 6,5% mempunyai nilai perbandingan efektifitas relatif terhadap
harga relatif catcher per sampel tertinggi yaitu sebesar 3,96
dibandingkan dengan konsentrasi Amonium asetat 60% dan variasi
volume campuran 5 : 5 yaitu berturut-turut sebesar 0,06 dan 0,15. Hal ini
menunjukkan bahwa konsentrasi Asam adipat 6,5% merupakan kondisi
optimum dalam penggunaan sebagai catcher formaldehida pada kayu
lapis bila ditinjau dari efektifitas dan harga relatif terhadap catcher impor
dan harga catcher.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
      Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab
sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Konsentrasi optimum asam adipat diperoleh pada konsentrasi 6,5%
    (w/w). Nilai emisi formaldehida yang dihasilkan adalah 0,26 ppm
    dengan persen penurunan LFE sebesar 81,43 %. Sedangkan
   konsentrasi optimum amonium asetat diperoleh pada konsentrasi 60
   % (w/w). Nilai emisi formaldehida yang dihasilkan adalah 0,36 ppm
   dengan persen penurunan LFE sebesar 74,29 %. Nilai emisi
   formaldehida untuk asam adipat 6,5 % dan amonium asetat 60 %
   berdasarkan standar JAS 2003 termasuk dalam kelas F****(≤ 0,3
   ppm).
2. Variasi volume campuran asam adipat dan amonium asetat yang
   optimum dicapai pada perbandingan volume 5 : 5 mempunyai emisi
   yang cukup rendah bahkan melebihi darmushu FC-7. Nilai
   efektivitas relatif terhadap catcher impor mencapai 108,82 % tetapi
   harga relatif terhadap catcher impor melambung tinggi hingga 937,9
   % sehingga tidak layak menggantikan catcher impor.
3. Ditinjau dari efektivitas dan harga, maka asam adipat 6,5 % (tanpa
   amonium asetat) merupakan komponen catcher terbaik dengan
   efektivitas relatif terhadap catcher impor sebesar 100 % dan harga
   relatif terhadap catcher impor sebesar 31,92 % sehingga
   menghasilkan nilai perbandingan efektifitas relatif terhadap harga
   relatif catcher per sampel tertinggi yaitu sebesar 3,96 dibandingkan
   dengan konsentrasi amonium asetat 60% dan variasi volume
   campuran 5 : 5 yaitu berturut-turut sebesar 0,06 dan 0,15.


Saran
      Bedasarkan hasil dari penelitian ini, maka beberapa saran yang
diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
1. Perlu penelitian lebih lanjut dengan mencari pengganti catcher
    Darmushu dengan harga yang relatif lebih murah, mudah didapat dan
    mampu menurunkan emisi formaldehida lebih baik dibanding asam
    adipat.
2. Perlu penelitian lebih lanjut agar diketahui mekanisme interaksi yang
    terjadi antara asam adipat dan amonium asetat dengan formaldehida
    dan antara asam adipat dan amonium asetat dengan kayu sengon.
3. Perlu penelitian lebih lanjut tentang penggunaan asam adipat
    dicampur dengan senyawa lain yang lebih murah misalnya amonium
    karbonat atau natrium karbonat sebagai pengganti catcher impor
    (Darmushu) dengan variasi volume dan jumlah pengulangan.
                        DAFTAR RUJUKAN


Anonim, 2000. Hazardous Substansee Fact Sheet,(online),
      (http://www.state.nj.us/health/eoh/rtkweb/0946.pdf) diakses
      tanggal 6 september 2006.
Anonim, 2003. Sengon,(online),(http://www.tasikmalaya.go.id/sengon.
      php) diakses tanggal 4 desember 2006.
Anonim, 2006. Formaldehyde,(online), (http://id.wikipedia.org/wiki/
      Formaldehida) diakses tanggal 14 November 2006.
Anonim, 2006. Plywood,(online), (http://en.wikipedia.org/wiki/Plywood)
      diakses tanggal 6 september 2006.
Aoyagi. T, 2003. The Certification of Malaysian Companies Supplying
      Affected Products to Japan (to The New JAS Standards).
      MALAYSIAN TIMBER COUNCIL.
Bachtiar.Farid, 2005. PT National Starch Chemical (press.com).
Conner.A .H, Urea-Formaldehyde Adhesive Resins,(online),
      (http://www.fpl.fs.fed.us/documnts/pdf1996/conne96a.pdf )
      diakses tanggal 1 september 2006.
Cameron. R, 2001. Formaldehyde: In The Wood Panel Indutry.Majalah
      Adhesive.
Chemsources, 2005. Chemical Resource International Inc,(online),
      (http://www.chemsources.com, diakses tanggal 15 februari 2005)
Dorries.S, 2004.Formaldehyde Emission From Plywood And Laminated
      Veneer Lumber, online, (http://www.plywoodassn.com.au/pdf)
      diakses tanggal 6 september 2006.
Hawks.L.K, 2002. Formaldehyde,(online), (http://extension.usu.edu/
      files/homipubs/hh04.pdf) diakses tanggal 1 september 2006.
Kawahara, 2000. Indoor Air Pollution,(online),
      (http://www.nihs.go.jp/mhlw/ocs/sickhouse/rep-eng1.html) diakses
      tanggal 1 september 2006.
Lehnert. E, tanpa tahun. Seminar on Formaldehide Emission. Casco
      Nobel SEA Pte Ltd.
Japanese Agricultural Standar, 2003. Japanese Agricultural Standar For
      Flooring. Japan Plywood Inspection Corporation.
PAI, 2002. Instruksi Kerja Laboratorium PT .Pamolite Adhesive
      Industry. Technical Departement PT.PAI
Sugianti.D, 2006. Optimasi Penggunaa Amonium Bikarbonat Sebagai
     Catcher Formaldehida pada Kayu Lapis (Plywood) yang
     Menggunakan Perekat Urea Formaldehida. Skripsi tidak
     diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Schuetz. H, 1959. A Short Course in Organic Chemistry. Second Edition.
     Boston: Houghton Mifflin Company.
Stevens. M. P, 2001. Kimia Polimer. Terjemahan oleh Lis Sopyan.
     Jakarta: Pradnya Paramita.
Stephen.Y, 2004. Formaldehyde Emissions – Understanding the
     standards, (online), (http://plaza.snu.ac.kr/~fpbk21/pdf/2004/1-1-
     3.pdf) diakses tanggal 1 september 2006.
Tanabe. S, tanpa tahun. Material Emission and IAQ Recent Experiences
     in Japan, (online),
     (http://www.umad.de/infos/cleanair13/pdf/full_9301.pdf) diakses
     tangga 1 september 2006.
UNEP, 2002. Sodium Carbonate, (online),
     (http://www.inchem.org/documents/sids/sids/Naco.pdf) diakses
     tanggal 1 september 2006.
Wilhelmsson and Holmstrom, 1992. Chronic toxicity summary
     Formaldehyde, (online),
     (http://www.oehha.ca.gov/air/chronic_rels/pdf/50000.pdf) diakses
     tanggal 1 september 2006.
 Analisis Disparitas Distribusi Pendapatan di
Jawa Timur Tahun 1995-2005 dengan Metode
          Indeks Theil dan Indeks L

                              Ro’ufah Inayati
                              Grisvia Agustin


      Abstract: Income disparity of East Java Province may caused by
      differences of regional growth and limited resources of each
      regions. Development is tend to centralized in rich region.
      According to those reasons, it is important to get more information
      about regional income disparity. There are so many measurement
      of income disparity, two of them are Theil Index and L Index.
      Those two measurement are decomposable into 2 components,
      which are within group component and between group component.
      Theil Index only able to measure income disparity based on
      income average data. L Index able to describe demography
      factor‘s effect to income disparity. The result is after monetary
      crisis in Indonesia, income disparity in East Java become lower
      than before. It caused by decreasing of upper crust public‘s
      income, not by increasing of lower crust public‘s income. The
      evidence is from deterioration of overall regional income of East
      Java Province.
      Key word: regional income disparity, theil index, L index


Pengalaman yang diperoleh oleh banyak negara yang mengaplikasikan
strategi pertumbuhan ekonomi adalah pada satu sisi strategi
pembangunan ekonomi memang meningkatkan pendapatan nasional,
tetapi pada sisi lain strategi tersebut memunculkan masalah lain yang
cukup serius yaitu masalah ketidakmerataan pendapatan.

Ro’ufah Inayati dan Grisvia Agustin adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan FE
Universitas Negeri Malang
Karena makna dari proses pembangunan meningkatkan kesejahteraan
seluruh lapisan masyarakat yang berarti juga memperkecil ketimpangan
distribusi pendapatan seluruh masyarakat.
       Pembangunan bukan merupakan tujuan melainkan hanya alat
sebagai proses untuk menurunkan kemiskinan dan mengurangi
ketimpangan distribusi pendapatan. Jadi berkurangnya ketidakmerataan
distribusi pendapatan merupakan inti dari pembangunan. Sebagai
tambahan berupa rekor meratanya distribusi pendapatan agaknya
merujuk pentingnya kualitas proses pembangunan. Yang penting tidak
hanya meningkatkan "kue nasional" namun juga bagaimana "kue"
tersebut didistribusikan secara merata. Jika pertumbuhan ekonomi yang
tinggi tidak diikuti pemerataan hasil-hasil pembangunan kepada seluruh
golongan masyarakat, maka hal tersebut tidak ada manfaatnya dalam
mengurangi ketimpangan pendapatan.
       Keberhasilan pembangunan ekonomi dapat diukur dengan
memakai berbagai cara dan tolok ukur. Salah satu yang lazim digunakan
ialah dengan Produk Domestik Bruto (PDB). Ukuran ini lazim
digunakan karena selain dapat dipakai untuk mengetahui pendapatan
perkapita juga dapat untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu
daerah. Dari PDB memungkinkan pula dihitung pendapatan per kapita
serta pertumbuhannya. PDB yang secara sektoral dihitung melalui
kegiatan ekonomi dari dunia usaha (establishment). Masalah
ketimpangan ini akan terus berlangsung bila tidak ada upaya yang secara
khusus diarahkan pada pemecahannya. Mereka yang berada di lapisan
atas umumnya lebih mampu meningkatkan keahlian melalui pendidikan
yang lebih tinggi sehingga mempunyai kemampuan yang lebih besar
untuk mendapatkan balas jasa yang lebih tinggi.
       Ketimpangan distribusi pendapatan pada Propinsi Jawa Timur
dapat disebabkan oleh pertumbuhan dan keterbatasan yang dimiliki
masing-masing daerah yang berbeda-beda serta pembangunan yang
cenderung terpusat pada daerah yang sudah maju. Hal ini dapat
menyebabkan pola ketimpangan distribusi pendapatan daerah dan
merupakan salah satu faktor pendorong terjadinya ketimpangan distribusi
pendapatan daerah semakin melebar. Dalam kaitannya dengan hal ini,
tentunya dibutuhkan informasi mengenai keadaan pemerataan
pendapatan berdasarkan daerah.
      Banyak konsepsi yang direkomendasikan oleh para ahli, salah satu
diantaranya adalah pengukuran ketidakmerataan pembagian pendapatan
atau distribusi pendapatan dengan menggunakan lndeks Theil dan Indeks
L. Karena Indeks Theil dan Indeks L dapat dipecah-pecah
(decomposable) menjadi komponen dalam grup dan antar grup. Sehingga
dapat diketahui ukuran ketimpangan dalam Kabupaten/Kota dan antar
Kabupaten/Kota. Digunakan tahun 1995-2005 adalah karena data yang
diperoleh berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)
yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah pada tahun 1998
merupakan awal mula krisis di daerah. Sedangkan untuk tahun 1998
adalah data terbaru yang ada di BPS yang menunjukkan pertumbuhan
ekonomi setelah melalui awal masa krisis moneter. Dengan demikian
dapat dilihat pola distribusi pendapatan dan pertumbuhan ekonomi pada
masa sebelum krisis moneter sampai saat krisis tersebut berlangsung.
Bertolak dari uraian diatas, maka penelitian deskriptif kuantitatif tentang
Disparitas Distribusi Pendapatan di Jawa Timur Tahun 1995-2005
Menggunakan lndeks Theil dan Indeks L menjadi begitu menarik dan
penting dilakukan.


Metode Pengukuran Pembagian Pendapatan
      Salah satu indikator untuk menilai atau menggambarkan tingkat
ketidakmerataan pembagian pendapatan penduduk suatu negara atau
daerah adalah Indeks Theil (Theil Index) dan Indeks L (L-Index). Kedua
metode tersebut pada dasamya bertolak pada hal yang sama yaitu dapat
dipecah-pecah (decomposable) menjadi komponen dalam grup dan
komponen antar grup. Atas dasar pembandingan itulah dibuat ukuran-
ukuran kemerataan/ketimpangan pendapatan.
1. INDEKS THEIL (THEIL INDEX)
Misalkan penduduk dikelompokkan secara eksklusif menurut propinsi,
maka Indeks Theil didefinisikan sebagai (Tadjoedin, Widjajanti
I.Suharyo, dan Satish Mishra; 2001 : 43-44):
              Yij        Yij
T                   ln         ……..……………………………..………………. (2.1)
      i   j   Y          Y
Dimana :
Yij = total pendapatan di propinsi i, grup j
Y     = total pendapatan untuk Indonesia                          Yij
Yij   = rata-rata pendapatan untuk propinsi i, grup j

Y     = rata-rata pendapatan untuk Indonesia



       Indeks Theil dapat didekomposisikan menjadi komponen dalam
grup dan komponen antar grup sebagai berikut :
Ketimpangan total = ketimpangan dalam grup + ketimpangan antar grup

               Yi                    Yi    Y
T                 Ti                    ln i             Tw       Tb    ............……….................... (2.2)
       i       Y            i        Y     Y
Dimana:
                Yij         Yij
Ti                     ln             …......................................…………........................... (2.3)
           j    Yi              Yi
Yi adalah pendapatan total di propinsi, adalah rata-rata pendapatan di
propinsi i, dan ni adalah jumlah penduduk di propinsi i. Dimana :
      Yi
Yi             …………………………………………...………………………………. (2.4)
      ni
      Tw adalah komponen dalam grup dari Indeks Theil dan
didefinisikan sebagai rata-rata tertimbang komponen dalam grup Ti,
penimbangnya adalah proporsi pendapatan untuk Theil. T b adalah
komponen antar grup dari Indeks Theil, yang murni mengukur
ketimpangan karena perbedaan rataan pendapatan antar propinsi.


Indeks L (L-Index)
      Misalkan penduduk dikelompokkan secara eksklusif menurut
propinsi maka Indeks L didefinisikan sebagai (Tadjoedin, Widjajanti
I.Suharyo, dan Sarish Mishra; 2001: 43-44):
                     nij              Y
L                           ln             ............................................…………….. (2.8)
        i       j     n              Yij
Keterangan :
Yij    = rata-rata pendapatan di propinsi i, grup j

 Y     = rata-rata pendapatan untuk Indonesia.
 nij   = penduduk di propinsi i, grup j
 n     = total penduduk Indonesia



      Indeks L bisa didekomposisi menjadi komponen dalam grup dan
antar grup sebagai berikut:
Ketimpangan total = ketimpangan dalam grup + ketimpangan antargrup

                ni                        ni    Y
L                  Li                        ln i        Lw     Lb .……………….………… (2.9)
        i       n                i        n     Y
Dimana :
                    nij              Yi
Li                         ln              ………………………...…………………….. (2.10)
            j       ni           Yij
Yi adalah pendapatan total di propinsi, adalah rata-rata pendapatan di
propinsi i, dan ni adalah jumlah penduduk di propinsi i. Dimana:
       Yi
Yi              ……………………………………….…………………………………. (2.11)
       ni
      Lw adalah komponen dalam grup dari lndeks L dan didefinisikan
sebagai rata-rata tertimbang komponen dalam grup Li, penimbangnya
adalah proporsi penduduk untuk L. LB adalah komponen antar grup dari
Indeks L, yang mumi mengukur ketimpangan karena perbedaan rataan
pendapatan antar propinsi.


Teori tentang Daerah
      Teori ini membagi daerah (region) menjadi 3 golongan:
1. Daerah homogen (homogenous region)
2. Daerah modal (polarized region)
3. Daerah planning (planning region)
       Tujuan utama yang diharapkan dari penelitian ini adalah (1)
Menghitung dan menganalisis tingkat ketimpangan distribusi pendapatan
dengan menggunakan lndeks Theil di Propinsi Jawa Timur tahun 1995-
2005; (2) Menghitung dan menganalisis tingkat ketimpangan distribusi
pendapatan dengan menggunakan lndeks L di Propinsi Jawa Timur tahun
1995-2005; (3) Menghitung tingkat pendapatan per kapita Propinsi Jawa
Timur tahun 1995-2005 berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan
tahun 1993; dan (4) Mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan
angka Indeks Theil dan Indeks L di Propinsi Jawa Timur pada tahun
1995-2005 dan menganalisis faktor penyebab ketimpangan/kemerataan
distribusi pendapatan.
       Penulis berharap bahwa penelitian ini bermanfaat untuk hal-hal
sebagai berikut (1) Manfaat ilmiah, untuk memahami dan mendalami
masalah-masalah di bidang ilmu ekonomi dan ekonomi perencanaan
pembangunan, khususnya terhadap masalah peningkatan pemerataan
pendapatan di Propinsi Jawa Timur; (2) Manfaat praktis, diharapkan
penelitian ini dapat bermanfaat sebagai informasi atau referensi bagi
setiap pembaca atau peneliti lain yang berkenaan dengan bidang
perencanaan pembangunan; dan (3) Manfaat kebijaksanaan, diharapkan
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau masukan
dalam menentukan kebijaksanaankebijaksanaan pembangunan di
Propinsi Jawa Timur.


METODE
       Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif
berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh dengan alat analisis
berupa formula-formula yang berhubungan dengan permasalahan, yaitu
Indeks Theil dan Indeks L serta Uji Hipothesis Beda Dua Rata-rata (Uji
t) yang diamati selama kurun waktu tertentu. Dengan demikian, maka
tulisan ini tidak menggunakan alat analisis berupa statistik inferensial
atau model dengan variabel terikat maupun variabel bebas dalam
analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh
dengan cara studi kepustakaan dari Kantor Badan Pusat Statistik
Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, Kantor BAPPEPROP Tingkat I
Jawa Timur, internet serta dari berbagai literatur dan bacaan seperti
majalah-majalah ilmiah dan beberapa karya tulis ilmiah.


HASIL
Indeks Theil Komponen Dalam Grup (Tw) Untuk Propinsi JawaTimur
      Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kemerataan distribusi pendapatan dalam ke1ompok daerah
Kabupaten dan dalam kelompok daerah Kota di Jawa Timur antara tahun
1995-1997 (sebelum krisis ekonomi) dan tahun 1998-2005 (saat krisis
ekonomi) tidak berbeda. Karena lndeks Theil komponen dalam grup (Tw)
pada tahun 1995-1997 tidak semakin membaik dan tidak semakin
memburuk apabila dibandingkan dengan lndeks Theil komponen dalam
grup (Tw) pada tahun 1998--2005. Krisis ekonomi yang berlangsung
mulai tahun 1998 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
ketimpangan distribusi pendapatan dalam kelompok daerah Kabupaten
dan kelompok daerah Kota.


Indeks Theil Komponeu Antar Grup (Tb) untuk Propinsi Jawa Timur
       Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kemerataan distribusi pendapatan antar kelompok daerah
Kabupaten dan Kota di Jawa Timur antara tahun 1995--1997 (sebelum
krisis ekonomi) dan tahun 1998-2005 (setelah krisis ekonomi) semakin
membaik secara nyata. Karena lndeks Theil komponen antar grup (T b)
pada tahun 1998--2005 semakin menurun bila dibandingkan dengan
Indeks Theil komponen antar grup (Tb) tahun 1995--1997.


Indeks L Komponen Dalam Grup (Lw) untuk Propinsi Jawa Timur
     Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kemerataan distribusi pendapatan dalam kelompok daerah
Kabupaten dan kelompok daerah Kota di Jawa Timur antara tahun 1995-
-1997 (sebelum krisis ekonomi) dan tahun 1998--2005 (saat setelah
krisis ekonomi) semakin membaik secara signifikan. Karena lndeks L
komponen dalam grup pada tahun 1998-2005 mengalami penurunan (Lw)
apabila dibandingkan dengan Indeks L komponen dalam grup (Lw) pada
tahun 1998--2005.


Indeks L Komponen Antar Grup (Lb) untuk Propinsi Jawa Timur
       Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kemerataan distribusi pendapatan antar kelompok daerah
Kabupaten dan Kota di Jawa Timur antara tahun 1995--1997 (sebelum
krisis ekonomi) dan tahun 1998--2005 (saat setelah krisis ekonomi)
semakin membaik secara nyata. Karena Indeks L komponen antar grup
(Lb) pada tahun 1998--2005 mengalami penurunan apabila dibandingkan
dengan lndeks L komponen antar grup (Lb) pada tahun 1995--1997.


BAHASAN
      Ukuran tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di Jawa Timur
pada tahun 1995--2005 secara rata-rata menunjukkan tingkat
ketimpangan sedang, yaitu berkisar antara 0,26--0,41. Rumusan lndeks
Theil diperoleh dari perhitungan pendapatan per kapita pada tiap Daerah
Tingkat II saja di Propinsi Jawa Timur. Sedangkan lndeks L mengolah
data pendapatan per kapita dan jumlah penduduk pada setiap Daerah
Tingkat II tersebut. Sehingga ukuran tingkat ketimpangan distribusi
pendapatan yang diperoleh dari Indeks L tidak semata-mata dipengaruhi
oleh rataan pendapatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
demografi. Karena adanya perbedaan data-data yang diperlukan dalam
membentuk lndeks Theil dan lndeks L maka Indeks Theil dan Indeks L
memiliki manfaat dan kegunaan masing-masing. Indeks Theil sangat
sesuai menggambarkan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan yang
hanya berdasarkan rataan pendapatan. Sedangkan Indeks L mampu
menggambarkan pengaruh faktor demografi terhadap tingkat
ketimpangan distribusi pendapatan.
      Jika lndeks Theil dan Indeks L dibandingkan maka terlihat bahwa
Indeks Theil menunjukkan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan
yang lebih tinggi daripada Indeks L. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
ketimpangan distribusi pendapatan yang murni berdasarkan rataan
pendapatan, lebih tinggi secara signifikan daripada tingkat ketimpangan
yang dihasilkan dari rataan pendapatan dan jumlah penduduk pada
daerah tersebut.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Pada tahun 1995--1997 (sebelum krisis ekonomi) dan pada tahun
   1998-2005 (setelah krisis ekonomi) lndeks Theil komponen dalam
   grup (Tw) kelompok daerah Kabupaten dan kelompok daerah Kota
   di Propinsi Jawa Timur tidak semakin membaik dan juga tidak
   semakin memburuk, maka dengan adanya krisis moneter pada tahun
   1998 tidak mempengaruhi lndeks Theil komponen dalam grup (Tw)
   kelompok daerah Kabupaten dan kelompok daerah Kota di Propinsi
   Jawa Timur pada tahun 1995--2005.
2. Indeks Theil komponen antar grup (Tb) Kabupaten dan Kota pada
   tahun 1998--2005 membaik apabila dibandingkan dengan lndeks
   Theil komponen antar grup (Tb) Kabupaten dan Kota pada tahun
   1995-1997.
3. lndeks L komponen dalam grup (Lw) kelompok daerah Kabupaten
   dan kelompok daerah Kota pada tahun 1998--2005 membaik apabila
   dibandingkan dengan Indeks L komponen dalam grup (Lw)
   kelompok daerah Kabupaten dan kelompok daerah Kota pada tahun
   1995--1997. Karena lndeks L komponen dalam grup (Lw) kelompok
   daerah Kabupaten/kelompok daerah Kota pada tahun 1998-2005
   mengalami penurunan.
4. Indeks L komponen antar grup (Lb) Kabupaten dan Kota pada tahun
   1998-2005 membaik apabila dibandingkan dengan Indeks L
   komponen antar grup (Lb) Kabupaten dan Kota pada tahun 1995--
   1997.


Saran
1. Program pembangunan masyarakat desa berdasarkan konsepsi
   Gerakan Kembali ke desa (GKD) yang pernah dicanangkan oleh
     Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1995
     sebaiknya ditinjau kembali dan lebih difokuskan kepada
     pengembangan potensi masyarakat desa.
2.   Pemerintah Propinsi Jawa Timur sebaiknya lebih mempelopori dan
     memfasilitasi lembaga-lembaga usaha yang bersifat padat karya.
3.   Pemerintah Propinsi Jawa Timur sebaiknya menumbuhkan serta
     memelihara sikap kompetitif (bersaing) dan kooperatif (bekerja
     sama) antar daerah agar setiap daerah mampu bersaing dalam
     meningkatkan kemampuan daerahnya masing-masing serta dapat
     menjalin hubungan kerja sama yang baik.
4.   Perlu adanya pemberian subsidi kepada masyarakat golongan
     menengah ke bawah pada bidang pendidikan dan kesehatan.
5.   Mengusahakan agar hasil produksi kelompok penduduk yang
     berpendapatan rendah dapat ikut serta dalam arus perdagangan yang
     memiliki prospek pemasaran yang jelas.
6.   Mengusahakan pembangunan infrastruktur yang lebih memadai guna
     memudahkan dan melancarkan arus modal/investasi pada proyek
     yang langsung berhubungan dengan masyarakat golongan bawah di
     daerah-daerah.
7.   Menggalakkan program mencintai barang-barang buatan dalam
     negeri dengan meningkatkan kualitas produksi domestik.
8.   Meningkatkan proses alih teknologi.
9.   Pemerintah daerah, dengan dukungan pemerintah pusat, hendaknya
     memberlakukan kebijakan yang mempermudah dan merangsang
     investasi di daerah.
                        DAFTAR RUJUKAN


Arif, Sritua. 1993. Metode Penelitian Ekonomi, Jakarta : Penerbit
       Universitas Indonesia (UI Press).
Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan
       Ekonomi Daerah, Yogyakarta: BPFE.
Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi (BAPPEPROP) Tingkat I
       Jawa Timur. 1997. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah
       Tingkat I Jawa Timur, Surabaya.
Badan Pusat Statistik (BPS); SUSENAS Propinsi Jawa Timur (berbagai
       tahun terbitan).
Booth, Anne dan Sundrum RM. 1979. Distribusi Pendapatan, Ekonomi
       Orde Baru, Jakarta: LP3ES.
Dajan, Anto. 1989. Pengantar Metode Statistik; Jilid I dan II, Jakarta:
       LP3ES.
ECAFE. 1973. On Methods of Measuring Changes in Income Inequality,
       Bangkok.
Glasson, Jhon. 1977. Pengantar Perencanaan Regional. TeIjemahan.
       Jakarta: FEUI.
Ismail, Munawar. 1995. Pertumbuhan dan Pemerataan Pendapatan,
       Analisa Teori dan Bukti Empirik, Jakarta: Prisma No. 1.
Kamaluddin, Rustian. 1993. Beberapa Aspek Pembangunan Nasional
       dan Daerah, Jakarta: Ghalia Indonesia.
M.S, Ahluwalia. 1974. Redistribution with Growth, London: Oxford
       University Press.
Rosyidi, Suherman. 1991. Pengantar Teori Ekonomi Pendekatan
       Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro, Surabaya: Duta Jasa.
Republik Indonesia. 1993 dan 1983. Garis-garis Besar Halauan Negara
       (GBHN), Jakarta.
Sjafrizal. 1985. Teori Ekonomi Regional: Konsep dan Pengembangan.
       Dalam Buku Hendra Esmara (ed). Memelihara Momentum
       Pembangunan, Jakarta: Gramedia.
Sukimo, Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan Proses Masalah dan
       Dasar Kebijakan, Jakarta: FE-UI dan Bima Grafika.
Todaro, Michael. P. 1987. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga,
       Edisi ketiga. Terjemahan. Jakarta: Erlangga.
Tambunan, Tulus. T. H. 2000. Perekonomian Indonesia, Beberapa Isu
     Penting, Jakarta: Ghalia.
Wijaya. 2000. Analisis Statistik Dengan Program SPSS 13.0. Bandung:
     Alfabeta.
   Kesiapan dan Harapan Mahasiswa dalam
  Memasuki Dunia Kerja dan Rumah Tangga

                                Nurul Ulfatin


      Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan
      apakah mahasiswa laki-laki dan perempuan pada bidang studi
      umum dan agama memiliki harapan dan kesiapan yang berbeda
      untuk memasuki dunia kerja dan rumah tangga. Penelitian ini
      dirancang dengan survei terbatas yang melibatkan 150 mahasiswa
      di Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Islam Negeri
      Malang (UIN) yang dipilih secara purposive sampling. Data
      dikumpulkan dengan instrumen angket yang dikembangkan dalam
      bentuk semi terstruktur. Data dianalisis dengan persentase yang
      dibedakan antara responden laki-laki dan perempuan. Hasilnya
      adalah: Pertama, tidak ada perbedaan kecenderungan antara
      mahasiswa laki-laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang
      berlatar belakang pendidikan umum dan agama. Kedua, prioritas
      rencana setelah lulus kuliah adalah bekerja jenis pekerjaan
      profesional yang bersifat layanan jasa, lokasi pekerjaan di daerah
      perkotaan, sistem penggajian secara rutin bulanan, informasi
      pekerjaan dari media massa dan bimbingan karir di perguruan
      tinggi, waktu kerja maksimal sembilan jam sehari, dan memilih
      pekerjaan karena sesuai dengan program studi. Ketiga, harapan
      berumah tangga dipilih waktu setelah mendapatkan pekerjaan,
      persiapan dengan memantapkan pekerjaan, penentuan calon
      pasangan oleh dirinya sendiri, jumlah anak yang diinginkan
      maksimal dua orang dengan pembagian peran yang fleksibel antara
      suami dan istri, dan satu manajemen keuangan dalam rumah
      tangga.
      Kata-kata kunci: mahasiswa laki-laki dan perempuan, dunia kerja
      dan rumah tangga, bidang studi umum dan agama


Nurul Ulfatin adalah dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri
Malang
       Pada saat ini, kondisi objektif perguruan tinggi masih ditandai
adanya (1) angka pengangguran lulusan yang cukup tinggi yaitu 541 ribu
pada tahun 2001; (2) kesulitan mencari kerja dengan masa tunggu (job
seeking period) yang cukup lama (Depdiknas, 2003); (3) terjadi over
suplied lulusan secara kuantitas dan under suplied lulusan secara
kualitas; (4) perilaku jiwa wirausaha lulusan masih rendah; (5) relevansi
lulusan dengan kebutuhan pasar kerja yang masih kurang; (6) kecakapan
hidup rendah yang ditandai lemahnya komunikasi verbal dan melalui
media tulis, lemahnya penguasaan bahasa asing, dan lemahnya
penggunaan teknologi informasi; dan (7) kurang mampu bersaing secara
global (Depdiknas, 2004).
       Padahal, pada era global, hasil pendidikan (lulusan) perguruan
tinggi harus mampu bersaing secara regional, nasional, dan internasional.
Untuk itu, ada empat pilar yang harus dipedomani yaitu belajar untuk:
menjadi diri sendiri, mengetahui, berbuat kreatif, dan hidup dalam
kebersamaan. Di samping itu, sangat diperlukan juga adanya
pemanfaatan teknologi informasi yang mengarah pada pemberdayaan
ekonomi berbasis pengetahuan dan adanya tuntutan belajar sepanjang
hayat.
       Gambaran kondisi kerja pada era global tersebut menuntut adanya
kesiapan dari mahasiswa terhadap kompetensi kerja yang dapat
dikelompokkan menjadi tiga kompetensi utama, yaitu kempetensi
profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi pribadi. Kompetensi
profesional adalah kompetensi yang terkait dengan bidang keahlian atau
pekerjaan. Kompetensi sosial adalah kompetensi yang terkait dengan
hubungan antar manusia dalam kerja. Sedangkan kompetensi pribadi
adalah kompetensi yang terkait dengan kepribadian.
       Di samping mahasiswa mempersiapkan dan akan memasuki dunia
kerja, umumnya mereka juga dituntut untuk mempersiapkan dan akan
memasuki dunia rumah tangga. Kejadian-kejadian kritis seperti
menentukan dan memilih jodoh atau pasangan hidup, serta membentuk
suatu keluarga (rumah tangga) merupakan tugas perkembangan yang
harus disiapkan. Pada dasarnya, gambaran aktivitas baik pada kerja
profesional maupun aktivitas rumah tangga bersifat universal, berlaku
untuk semua orang. Namun, dalam tataran praktis, masyarakat tertentu
mempersepsikan aktivitas kerja dan aktivitas rumah tangga dikaitkan
dengan dimensi gender. Bertolak dari dimensi gender ini, dunia kerja dan
dunia rumah tangga memiliki sisi kesamaan, perbedaan, dan kesetaraan
bagi laki-laki dan perempuan.
       Bertolak dari latar belakang di atas, yang menjadi permasalahan
adalah apakah mahasiswa laki-laki dan perempuan memiliki harapan dan
kesiapan yang berbeda untuk memasuki dunia kerja dan rumah tangga.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan tersebut.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah persepsi mahasiswa
tentang dunia kerja dan rumah tangga, kondisi dan pola kerja dan rumah
tangga yang bagaimanakah yang mereka harapkan, dan usaha-usaha apa
yang sudah mereka lakukan sebagai persiapan untuk memasuki dunia
kerja dan rumah tangga.
       Mahasiswa umumnya berada pada periode yang dikenal sebagai
masa memasuki dunia dewasa. Periode ini berlangsung sejak usia
duapuluhan awal sampai tigapuluhan akhir. Kedewasaan dapat diartikan
sebagai satu pertanggungjawaban penuh terhadap diri sendiri,
bertanggung jawab atas nasib sendiri dan atas pembentukan diri sendiri.
Bertanggung jawab dalam kontek ini bisa diartikan sebagai memahami
arti dari norma-norma susila dan nilai-nilai etis tertentu, berusaha hidup
atas landasan norma etis tadi, serta berusaha mencapai nilai-nilai yang
sudah dikenalnya. Dalam usia kedewasaan ini, setiap individu mulai
memahami konstitusi diri sendiri. Dalam memahami konstitusi diri
sendiri pada usia dewasa, unsur-unsur kemauan dan hati nurani
memegang peran yang sangat besar. Kemauan berfungsi sebagai
unifikator bagi individu karena kemauan mengarahkan semua dorongan,
kecenderungan dan usaha manusia pada satu susunan hirarkhi nilai dan
tujuan tertentu.
       Dorongan dan tujuan yang sangat kuat terjadi pada fase memasuki
usia dewasa adalah memilih dan menentukan pekerjaan dan rubah
tangga. Karena itulah banyak ahli sependapat bahwa fase dewasa ini
diidentikkan dengan fase memasuki dunia kerja dan rubah tangga. Pada
fase ini, kejadian-kejadian kritis sedang dilakukan, seperti menentukan
pekerjaan, memilih jodoh atau pasangan hidup, dan membentuk suatu
keluarga (rumah tangga). Pada fase ini terjadi orientasi karir. Oleh
karena itu, memasuki dunia dewasa juga merupakan suatu periode
penjajakan. Individu yang tergolong pemuda (young) akan lebih
mengembangkan apa arti atau makna dari berbagai peran, keanggotaan,
dan tujuan-tujuan untuk jangka panjang. Periode ini ditandai oleh
pencarian atau penggeledahan peran, membuat pilihan-pilihan awal, dan
merespon tanggung jawab yang muncul pada diri individu, sehingga
pada akhirnya diri individu itu dapat disebut dewasa.
       Batas kedewasaan ditandai ketika pola-pola dan nilai-nilai hidup
mulai jelas dan dipahami, objektivitas mulai diperbandingkan antara diri
sendiri dan dunia luar dan jika terjadi usaha lebih diarahkan untuk
mencoba mendidik diri sendiri. Kartono (1992) menjelaskan bahwa
kedewasaan (terutama perempuan) ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
(1) punya rencana dan tujuan hidup yang jelas, (2) bekerja dan berkarya,
(3) pembentukan diri dan stabilitas normatif, (4) kemandirian yang susila
dan bertanggung jawab, (5) partisipasi aktif dalam masyarakat. Lebih
rinci, Hamalik (1993) mengemukakan bahwa pada awal usia dewasa
sampai usia produktif kerja, seorang individu akan menemukan
konsistensi konsep diri. Konsep diri adalah seperangkat pendapat dan
pentunjuk tentang diri sendiri dalam posisinya dalam masyarakat.
Konsep diri ini terkait dengan posisinya dalam keluarga, dalam
lingkungan sekitar, dalam pergaulan, dan dalam dudia kerja. Konsep diri
ini pada mulanya berkembang dan berubah berkat pengalaman individu.
Pengalaman-pengalaman tersebut juga diperoleh melalui interaksi
dengan lingkungan sosialnya, mulai dari lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan selanjutnya lingkungan
bidang kerjanya. Menurut Hamalik, konsep diri ini dapat dijadikan
prediksi dan proyeksi untuk menjelaskan fenomena individu di masa
berikutnya terutama terkait dengan dunia kerja dan rumah tangga.
       Mana yang harus didahulukan antara fase kerja dan rumah tangga?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara tegas karena merupakan
pertanyaan yang dilematis. Bisa jadi orang atau masyarakat tertentu
memilih berumahtangga dahulu baru kemudian bekerja, atau sebaliknya
bekerja dahulu baru kemudian berumahtangga. Namun, fenomena yang
terjadi di lapangan, akibat perkembangan ilmu dan budaya, terdapat
gejala yang menunjukan adanya pergeseran fase antara dunia kerja dan
dunia rumah tangga. Jika pada masa lampau masyarakat lebih banyak
memilih dan sekaligus mengalami fase berumah tangga terlebih dahulu
baru kemudian bekerja, namun sekarang keduanya berjalam secara
beriringan, bahkan mulai terjadi pergeseran dari fase kerja diikuti fase
berumahtangga. Pada peradaban yang sekarang, banyak pemuda merasa
malu dan sekaligus tidak berani berumahtangga sebelum memiliki
pekerjaan. Kerja, bagi orang dewasa merupakan aktivitas pokok dalam
kehidupannya. Sementara, berumah tangga merupakan aktivitas dari
perkembangan kehidupan manusia.
       Kartono (1992) menjelaskan ada perbedaan prinsip karakter antara
laki-laki dan perempuan dewasa. Perbedaan tersebut dinyatakan dalam
berbagai peristiwa antara lain: (1) betapapun baik dan cemerlangnya
inteligensi perempuan hampir tidak mempunyai interes menyeluruh pada
soal-soal teoretis seperti laki-laki; (2) perempuan lebih praktis dan
meminati segi-segi kehidupan konkrit dibandingkan laki-laki yang
cenderung tertarik pada segi-segi kejiwaan yang abstrak dan jangka
panjang, (3) perempuan lebih hetero-sentris dan sosial dibandingkan
dengan laki-laki yang memikirkan diri sendiri, (4) perempuan lebih peka
terhadap nilai-nilai estetis dibandingkan dengan laki-laki, dan (5)
perempuan lebih totaliter dalam tingkah laku reaktif dibandingkan laki-
laki.
       Bertolak dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa dalam analisis
psikologis, terdapat banyak perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Sebagai konsekuensinya berdampak bahwa banyak tugas-tugas
psikologis yang harus dilakukan oleh perempuan berbeda dengan tugas-
tugas yang harus dilakukan oleh laki-laki. Namun, dalam kenyataan
kehidupan sehari-hari perbedaan tersebut membawa dampak lebih jauh
yang cenderung merugikan perempuan. Kerugian sangat terasa dan
tampak jelas ketiga dikaitkan dengan tugas-tugas dalam dunia kerja dan
rumah tangga. Dari sejumlah hasil penelitian di berbagai banyak negara
menunjukkan bahwa walaupun perempuan banyak yang memasuki dunia
kerja namun tetap menggambarkan peringkat yang rendah dalam posisi
pengambilan keputusan (Adler, 1993). Di Amerika Serikat misalnya,
data statistik tahun 1991 menunjukkan bahwa perempuan yang bekerja
mencapai 56,4% dan di Canada bahkan mencapai 57,4%. Namun, dari
jumlah itu hanya kurang dari 5% perempuan yang bisa membuat posisi
tinggi dalam pengambilan keputusan, yaitu perempuan yang menjadi
kepala perusahaan.
       Analisis yang agak berbeda dilakukan oleh White dan Bednar
(1991). Menurut mereka, pemahaman terhadap orang-orang ditempat
kerja semata-mata tidak didasarkan pada perbedaan jenis kelamin tetapi
pada nilai-nilai, sikap, minat dan kepercayaan yang dianut. Untuk
membentuk ketiganya, faktor internal dan eksternal menurutnya sama-
sama memiliki yang sangat penting. Pertanyaan yang muncul kemudian
adalah apakah memang benar anggapan bahwa perempuan tidak
memiliki minat dan kesiapan dalam mencapai jabatan kerja? Dalam
banyak kasus di berbagai negara misalnya Amerika, Asia, Afrika, Eropa
dan negara-negara di Timur Tengah menunjukkan gejala yang menolak
anggapan tersebut. Terutama yang terjadi pada tahun 1980-an ke atas,
perempuan yang menduduki jabatan manajer dalam perusahaan
umumnya memiliki catatan yang ―excellent‖ untuk kemajuan bisnisnya.
Jadi, yang menjadi masalah bukan pada minat perempuan terhadap karir
manajerial rendah tetapi karena faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain
yang banyak disarankan untuk dikaji adalah faktor keluarga, sosial
ekonomi dan etnik.
       Suatu penelitian yang mengkombinasikan kedua faktor yaitu kerja
dan rumah tangga adalah Burke dan McKeen (1993). Keduanya
menyelidiki orientasi kerja yang dilakukan oleh perempuan yang sudah
berumah tangga. Hasilnya menunjukkan bahwa orientasi itu sangat
ditentukan karena faktor anak. Pada perempuan yang memiliki anak,
maka orientasi lebih mengarah pada model kerja—keluarga (Career—
family). Gitosudarmo dan Sudita (1997) memberikan saran penelitian
yang agak lain yaitu jika untuk kepentingan organisasi kerja, maka
analisis keadaan kerja harus ditonjolkan. Analisis itu meliputi keadaan
psikologis, dimensi inti pekerjaan, dan nilai-nilai pribadi.
       Di Indonesia, menunjukkan gejala yang tidak jauh berbeda.
Perempuan sudah banyak memasuki dunia kerja. Namun, dalam berbagai
faktor perempuan digambarkan dalam posisi yang tidak menyenangkan.
Misalnya kurang terwakili dalam pekerjaan manajerial, hanya
mendominasi jenis pekerjaan jasa, banyak mengelompok pada golongan
kepangkatan rendah, dan sebagainya (Gardiner, 1995). Bertolak dari
uraian di atas, maka sudah sepatutnya dilakukan kajian lebih jauh yang
dapat menjadi pertimbangan strategis pengembangan dunia kerja di masa
yang akan datang. Kajian dilakukan tidak hanya menyelidiki gejala yang
terjadi pada saat perempuan melakukan kerja, tetapi dapat ditarik ke
belakang pada perempuan yang akan memasuki kerja. Kajian yang
dimaksud akan lebih jelas jika dapat mengungkap perbedaannya dengan
laki-laki, baik yang mencakup kesiapan dan harapannya dalam bekerja
maupun berumah tangga.
       Masalah utama yang dijawab melalui kegiatan penelitian ini
adalah: ―apakah ada kecenderungan perbedaan persepsi antara
mahasiswa laki-laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar
belakang pendidikan tinggi umum dan agama dalam memandang
kesiapan dan harapan untuk memasuki dunia kerja dan rumah tangga?‖
Masalah utama ini dirumuskan secara operasional sebagai berikut: (1)
Apakah ada perbedaan persepsi antara mahasiswa laki-laki dan
perempuan di perguruan tinggi umum dan agama dalam melakukan
kesiapan tergadap dunia kerja; (2) Apakah ada perbedaan persepsi antara
mahasiswa laki-laki dan perempuan di perguruan tinggi umum dan
agama dalam memandang harapan terhadap dunia kerja; (3) Apakah ada
perbedaan persepsi antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di
perguruan tinggi umum dan agama dalam melakukan kesiapan terhadap
dunia rumah tangga; (4) Apakah ada perbedaan persepsi antara
mahasiswa laki-laki dan perempuan di perguruan tinggi umum dan
agama dalam memandang harapan terhadap dunia rumah tangga; dan (5)
Apakah ada perbedaan kecenderungan pola orientasi antara mahasiswa
laki-laki dan perempuan di perguruan tinggi umum dan agama terhadap
prioritas kerja dan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kecenderungan perbedaan persepsi antara mahasiswa laki-
laki dan perempuan di perguruan tinggi umum dan agama dalam
memasuki dunia kerja dan rumah tangga.


METODE
      Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan
deskriptif kuantitatif karena hasil penelitian dimaksudkan untuk
mengungkapkan fenomena-fenomena yang terjadi dan dialami oleh
banyak orang yaitu mahasiswa pada umumnya. Hasil penelitian
diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menggeneralisasikan
suatu gejala yang terjadi di berbagai lingkungan yang sama, sehingga
dapat ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum. Penelitian dilakukan
dengan menggunakan rancangan survei terbatas yang melibatkan
mahasiswa laki-laki dan perempuan di perguruan tinggi umum dan
agama. Dengan demikian, subjek penelitian dipilah menjadi dua
kelompok yaitu mahasiswa yang belajar bidang ilmu umum dan
mahasiswa yang belajar dibidang ilmu agama.
      Penelitian ini dilakukan dengan ruang lingkup (1) kesiapan dalam
memasuki dunia kerja; (2) harapan terhadap dunia kerja; (3) kesiapan
dalam memasuki dunia rumah tangga; (4) kesiapan dalam memasuki
dunia rumah tangga; dan (5) pola orientasi antara dunia kerja dan rumah
tangga. Pembatasan masing-masing variabel dijabarkan sebagai berikut.
Variabel kesiapan dalam memasuki dunia kerja meliputi: (1) prioritas
rencana; (2) jenis pekerjaan; (3) sifat pekerjaan; dan (4) cara
mempersiapkan. Variabel harapan terhadap dunia kerja meilputi: (1)
lokasi kerja; (2) sistem penggajian; (3) informasi kerja; (4) jam kerja;
dan (5) pertimbangan dalam memilih kerja. Variabel kesiapan dalam
memasuki dunia rumah tangga meliputi: (1) waktu berumah tangga; (2)
macam persiapan berumah tangga; dan (3) penentuan calon pasangan.
Variabel harapan dalam rumah tangga meliputi: (1) jumlah anak; (2)
peran dalam rumah tangga; (3) pembagian tugas; dan (4) manajemen
keuangan. Variabel pola orientasi dibedakan menjadi dua yaitu orientasi
pada dunia kerja dan orientasi pada dunia rumah tangga. Selain
pembatasan dalam jabaran variabel, dalam penelitian ini juga
diberlakukan pembatasan populasi dan sampel. Populasi dan sampel
penelitian dibatasi pada mahasiswa di dua perguruan tinggi negeri umum
dan agama, yaitu Universitas Negeri Malang dan Universitas Islam
Negeri Malang.
      Populasi penelitian adalah mahasiswa laki-laki dan perempuan
program S1 (sarjana) di dua perguruan tinggi negeri di Malang yang
dikelompokkan berdasarkan program studi umum dan program studi
agama. Sampel perguruan tinggi ditentukan secara purposive sampling
sesuai karakteristik perguruan tingginya. Perguruan tinggi yang menjadi
sampel penelitian untuk kategori bidang umum adalah Universitas
Negeri Malang, sedangkan untuk kategori agama adalah Universitas
Islam Negeri Malang. Sampel penelitian adalah mahasiswa yang belum
bekerja secara formal yang jumlahnya ditentukan secara proportional
random sampling untuk menggambarkan pengelompokan bidang agama
dan umum. Masing-masing kelompok ditentukan 75 orang (laki-laki dan
perempuan). Dengan demikian, jumlah sampel penelitian sebanyak 150
orang dengan rincian 75 mahasiswa (laki-laki dan perempuan) dari
Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang dan 75
mahasiswa (laki-laki dan perempuan) dari Jurusan Tarbiyah dan Bahasa
Arab Universitas Islam Negeri Malang.
       Data dikumpulkan dengan teknik angket. Instrumen angket
dikembangkan oleh peneliti dalam bentuk semi terstruktur. Instrumen
angket disusun berdasarkan jabaran variabel dan indikator dalam
penelitian. Sebelum digunakan untuk mengumpulkan data, instrumen
angket akan diujicoba untuk melihat validitas dan reliabilitasnya.
Ujicoba dilakukan kepada sejumlah mahasiswa (15 orang) di Universitas
Negeri Malang. Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji
hipotesis, karena untuk melakukan uji hipotesis diperlukan sejumlah
persyaratan, baik yang menyangkut kondisi dan jumlah data maupun
statistik, yang dalam penelitian ini banyak ada keterbatasan. Oleh karena
itu, penelitian dimaksudkan untuk melihat kecenderungan berdasarkan
persentase responden dalam menjawab pertanyaan. Untuk memenuhi
maksud ini, data penelitian selanjutnya dianalisis dengan teknik
persentase yang dibedakan antara responden mahasiswa laki-laki dan
perempuan dan antara sampel perguruan tinggi umum dan agama.


HASIL
      Uraian hasil penelitian dipaparkan dengan mengacu pada rumusan
masalah, yaitu (a) perbedaan mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam
kesiapannya memasuki dunia kerja; (b) perbedaan mahasiswa laki-laki
dan perempuan dalam memandang harapannya terhadap dunia kerja; (c)
perbedaan mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam kesiapannya
memasuki dunia rumah tangga; (d) perbedaan mahasiswa laki-laki dan
perempuan dalam memandang harapannya terhadap dunia rumah tangga;
dan (e) perbedaan mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam
orientasinya terhadap dunia kerja dan rumah tangga.


Perbedaan Mahasiswa Laki-Laki dan Perempuan dalam Kesiapannya
Memasuki Dunia Kerja
      Ada empat hal yang dicakup dalam variabel kesiapan memasuki
dunia kerja, yaitu prioritas rencana, jenis pekerjaan, sifat pekerjaan, dan
cara mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Data keempat hal
tersebut disajikan berikut ini.
      Diketahui bahwa prioritas utama rencana mahasiswa, baik
mahasiswa yang berlatar belakang perguruan tinggi umum maupun
perguruan tinggi agama adalah bekerja. Jumlah persentase mahasiswa
yang memiliki rencana untuk bekerja setelah lulus kuliah ini berkisar
antara 64% sampai dengan 86% dari jumlah responden. Jenis pekerjaan
yang dominan diinginkan oleh mahasiswa, baik mahasiswa yang berlatar
belakang perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi agama adalah
pekerjaan profesional (26-55%) dan menjadi karyawan pegawai negeri
(25-47%). Namun demikian, jenis pekerjaan-pekerjaan lain seperti
wiraswasta dan pekerjaan lain (kerja sosial) juga masih diminati oleh
sebagian kecil mahasiswa.
      Dilihat dari sifat pekerjaan yang dominan diinginkan oleh
mahasiswa, baik mahasiswa yang berlatar belakang perguruan tinggi
umum maupun perguruan tinggi agama adalah pekerjaan jasa (50-89%)
dan priortitas kedua adalah pekerjaan yang bersifat produksi (3-30%).
Namun demikian, pekerjaan lain yang bersifat domestik juga masih
diminati oleh sebagian kecil mahasiswa terutama mahasiswa yang
berlatar belakang agama. Sedangkan cara yang dilakukan oleh
mahasiswa untuk mempersiapkan kerja, baik mahasiswa yang berlatar
belakang perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi agama adalah
kuliah dengan tekun (60-71%). Selebihnya, mahasiswa melakukan cara-
cara yang bervariasi, antara lain kursus, magang, wirausaha, dan lain-
lain. Namun demikian, mahasiswa yang melakukan cara-cara ini
jumlahnya sangat sedikit.
      Berdasarkan jumlah persentase dominan tentang persiapan kerja
antara mahasiswa yang berlatar belakang perguruan tinggi umum dan
perguruan tinggi agama, tampak tidak ada perbedaan yang mencolok.
Begitu juga jika dibandingkan antara mahasiswa laki-laki dan
perempuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antara mahasiswa
yang berlatar belakang pendidikan umum dan pendidikan agama, dan
antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan.
Perbedaan Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan dalam Memandang
Harapannya terhadap Dunia Kerja
       Ada lima hal yang dicakup dalam variabel pandangan harapan
terhadap dunia kerja, yaitu lokasi kerja, sistem penggajian, informasi
pekerjaan, jam kerja, dan pertimbangan memilih pekerjaan. Data kelima
hal tersebut disajikan berikut ini.
       Diketahui bahwa lokasi kerja yang diinginkan oleh mahasiswa
secara dominan daerah perkotaan (45--66%). Pilihan yang demikian ini
tampak baik pada mahasiswa dari perguruan tinggi umum maupun
perguruan tinggi agama, begitu juga baik pada mahasiswa laki-laki
maupun mahasiswa perempuan. Sementara, sebagian lainnya memilih
lokasi secara bervariasi antara lain daerah pedesaan, dekat dengan tempat
tinggal orang tua, di dalam pulau jawa, bahkan sebagian ada yang
memilih lokasi lain-lain yaitu mengikuti pekerjaan suami. Pilihan
terakhir ini tampak pada sebagian (10% dan 8%) dari mahasiswa
perempuan yang berlatar belakang perguruan tinggi umum dan agama.
       Sistem penggajian kerja yang diinginkan oleh mahasiswa secara
dominan adalah gaji rutin bulanan (61--92%). Sistem penggajian yang
demikian menjadi harapan baik oleh mahasiswa yang berlatar belakang
perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi agama, dan baik
mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan. Pilihan mahasiswa
terhadap sistem penggajian yang lain semata-mata hanya sebagai
pelengkap atau tambahan dari sistem penggajian secara rutin bulanan.
       Dilihat dari informasi pekerjaan, diketahui bahwa informasi
pekerjaan yang diinginkan oleh mahasiswa sangat bervariasi. Dari
macam-macam cara yang dimungkinkan, cara iklan media masa (koran,
televisi dan radio) banyak dipilih mahasiswa. Namun jumlah responden
yang memilih cara inipun tidak lebih dari 50% dari seluruh responden
yang ada. Di pihak lain, yang lebih menarik dicermati adalah ada
perbedaan kecenderungan pilihan antara mahasiswa laki-laki dan
perempuan. Mahasiswa perempuan baik yang berlatar belakang
perguruan tinggi umum maupun agama cenderung memilih informasi
pekerjaan langsung dari bimbingan karir yang ada di kampusnya.
       Lama waktu kerja yang diinginkan oleh mahasiswa dalam setiap
hari berkisar antara 7 sampai 9 jam sehari (50--70%). Waktu ini
diinginkan secara merata oleh mahasiswa baik yang berlatar belakang
perguruan tinggi umum maupun agama, dan baik pada mahasiswa laki-
laki maupun perempuan. Namun, pada waktu pilihan yang lain, ada
perbedaan yang agak mencolok antara mahasiswa laki-laki dan
perempuan. Pada mahasiswa perempuan ada kecenderungan memilih
waktu bekerja kurang dari 7 jam sehari, sedangkan pada mahasiswa laki-
laki ada kecenderungan memilih waktu bekerja lebih dari 10 jam sehari.
Selain itu, dapat diketahui bahwa pertimbangan utama dalam
menentukan pekerjaan yang diinginkan oleh mahasiswa adalah jenis
pekerjaan (38-58%). Kecenderungan ini merata, baik oleh mahasiswa
yang berlatar belakang perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi
agama, dan baik mahasiswa perempuan maupun mahasiswa laki-laki.
Pertimbangan lain seperti gaji, tempat kerja, dan lain-lain tampaknya
juga menjdi pilihan mahasiswa tanpa ada yang lebih dominan.


Perbedaan Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan dalam Kesiapannya
Memasuki Dunia Rumah Tangga
       Ada tiga hal yang dicakup dalam variabel kesiapan mahasiswa
dalam memasuki dunia rumah tangga, yaitu waktu berumah tangga,
macam persiapan, dan menentukan calon pasangan (suami/istri). Data
dan analisis ketiga hal tersebut disajikan berikut ini.
       Diketahui bahwa waktu yang diinginkan oleh mahasiswa untuk
berumah tangga adalah setelah mendapatkan pekerjaan (44-82%). Pada
mahasiswa yang berlatar belakang perguruan tinggi umum tampak lebih
menonjol memilih setelah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan
mahasiswa yang berlatar belakang perguruan tinggi agama. Pilihan ini
terjadi baik untuk mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan.
Hal lain yang menarik menjadi temuan penelitian adalah pilihan lain-lain
bagi mahasiswa laki-laki yang berlatar belakang perguruan tinggi agama
yang mencapai 20%. Pilihan lain-lain ini sangat bervariasi antara lain:
tergantung ketemunya jodoh, jika sudah bisa mandiri, jika sudah
ditakdirkan oleh Allah, dan sebagainya. Persiapan yang dilakukan oleh
mahasiswa dalam memasuki dunia rumah tangga adalah mempersiapkan
pekerjaan secara mantap (33-52%). Sementara persiapan lain seperti
mempelajari tugas dalam rumah tangga, pengenalan pasangan terhadap
keluarga, dan lain-lain juga dilakukan oleh mahasiswa secara bervariasi.
       Dilihat dari siapa yang menentukan calon pasangan hidup, dapat
diketahui bahwa yang menentukan calon pasangan yang diinginkan oleh
mahasiswa dalam memasuki dunia rumah tangga adalah diri sendiri (61-
86%). Sementara, pihak lain yang juga ikut menentukan dalam memilih
pasangan adalah orang tua, dan setelah itu baru keluarga. Pilihan ini
relatif merata, baik oleh mahasiswa yang berlatar belakang perguruan
tinggi umum maupun perguruan tinggi agama, dan baik oleh mahasiswa
laki-laki maupun perempuan. Hanya saja pada mahasiswa perempuan,
untuk pilihan dari orang tua cenderung lebih banyak daripada mahasiswa
laki-laki.


Perbedaan Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan dalam Memandang
Harapannya terhadap Dunia Rumah Tangga
       Ada empat hal yang dicakup dalam variabel pandangan mahasiswa
terhadap dunia rumah tangga, yaitu jumlah anak yang diinginkan, peran
dalam keluarga, pembagian tugas dlam rumah tangga, dan manajemen
keuangan rumah tangga. Data ketiga hal tersebut disajikan berikut ini.
       Diketahui bahwa jumlah anak yang diinginkan oleh mahasiswa
dalam memasuki dunia rumah tangga adalah 1-2 anak (58-78%).
Kecenderungan yang kedua dari jumlah anak yang diinginkan oleh
mahasiswa adalah 3-4 anak, dan setelah itu lebih dari 4 anak. Pada
pilihan jumlah 3-4 anak, mahasiswa yang berlatar belakang perguruan
tinggi agama cenderung lebih tinggi dari mahasiswa yang berlatar
belakang perguruan tinggi umum. Hal ini berlaku baik untuk mahasiswa
laki-laki maupun mahasiswa perempuan. Sealian itu, dapat diketahui
bahwa pembagian peran yang diinginkan oleh mahasiswa dalam
memasuki dunia rumah tangga adalah peran yang fleksibel antara suami
dan istri (41-66%). Kecenderungan yang kedua dari peran yang
diinginkan adalah suami-istri memiliki peran yang sama (27-38%).
Sementara, dominasi peran oleh suami sebagai kepala rumah tangga
masih sebagai alternatif yang dipilih oleh sebagian mahasiswa (11-21%).
Kecenderungan ini hampir merata, baik oleh mahasiswa yang berlatar
belakang perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi agama, dan
baik pada mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan.
       Dilihat cara mengatur keuangan, diketahui bahwa manajemen
keuangan dalam rumah tangga yang diinginkan oleh mahasiswa
cenderung diatur menjadi satu (68--79%). Alternatif kedua yang dipilih
oleh mahasiswa adalah keuangan diatur satu manajemen tetapi dipilah
berdasarkan sumbernya yaitu sumber dari suami dan sumber dari istri
(13--32%).


Perbedaan Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan dalam Orientasinya
terhadap Dunia Kerja dan Rumah Tangga
       Ada empat pilihan yang ditawarkan kepada mahasiswa sebagai
jawaban terhadap variabel orientasi mahasiswa terhadap dunia kerja dan
rumah tangga, yaitu orientasi pada kerja, orientasi pada rumah tangga,
orientasi pada keduanya, dan atau pada orientasi lain. Data tentang
orientasi ini dipaparkan berikut ini
       Diketahui bahwa orientasi yang cenderung dipilih oleh mahsiswa
adalah prioritas pada rumah tangga (45--54%). Pilihan lain yang juga
agak menonjol adalah orientasi keduanya (kerja dan rumah tangga)
walaupun disadari jika orinetasi ini tidak bisa optimal dilakukan (28--
36%). Sementara, pilihan yang berorientasi pada kerja hampir tidak
dipilih oleh mahasiswa (hanya 2%). Kecenderungan ini hampir merata,
baik oleh mahasiswa yang berlatar belakang perguruan tinggi umum
maupun agama, dan baik pada mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa
perempuan.


BAHASAN
      Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 64-86%
mahasiswa siap memasuki dunia kerja setelah lulus kuliah. Kesiapan
mahasiswa dalam memasuki dunia kerja ini tidak ada perbedaan
kecenderungan yang menyolok antara mahasiswa laki-laki dan
perempuan dan antara mahasiswa di perguruan tinggi umum dan agama.
Temuan ini dapat dijadikan landasan untuk memperkuat perlunya
kesetaraan dan keadilan gender dalam dunia kerja. Di samping itu,
dengan adanya hasil penelitian ini, maka generalisasi pendapat yang
mengatakan bahwa perempuan adalah minoritas dalam angkatan kerja
perlu ditinjau ulang. Seiring dengan adanya kemajuan budaya, para
perempuan di perguruan tinggi sangat sadar bahwa dirinya merupakan
sumberdaya manusia yang potensial dalam angkatan kerja sama dengan
laki-laki. Temuan ini menarik untuk dibahas karena selama ini dunia
kerja lebih didominasi oleh laki-laki. Hal ini sangat dimaklumi karena
angkatan kerja yang sekarang ini ada adalah produk dari pendidikan di
masa lampau. Sementara hasil penelitian ini cukup relevan sebagai dasar
perencanaan kerja dalam periode setelah dua tahun yang akan datang.
       Bila dilihat dari jenis pekerjaan yang diinginkan oleh mahasiswa
pekerjaan profesional dan karyawan pegawai negeri dominan diminati
oleh mahasiswa, baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan, baik
mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan umum maupun agama.
Hasil lain yang menarik untuk dibahas adalah sedikitnya mahasiswa
yang berminat untuk berwirausaha. Padahal, sedikitnya dalam lima tahun
terakhir ini Direktorat Pendidikan Tinggi telah menggalakkan program
wirausaha bagi mahasiswa dengan berbagai cara, antara lain melalui
kurikulum dan matakuliah kewirausahaan (Koswara, 2000);
pengembangan jiwa kewirausahaan melalui magang di industri (Anshar,
dkk., 2002), pengembangan life skills di perguruan tinggi melalui
program hibah kompetisi (PHK), dan pengembangan program kreativitas
mahasiswa (Purwadaria dan Soewandhi, 2001). Begitu juga beberapa
penelitian tentang pentingnya pendidikan wirausaha bagi mahasiswa
telah dilakukan oleh banyak peneliti, antara lain Mardikanto (1999),
Murdani (2003), dan Murtini (2004).
       Sejalan dengan pilihan jenis pekerjaan sebagaimana yang
dikemukakan di atas, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sifat
pekerjaan yang banyak diinginkan oleh mahasiswa adalah pekerjaan jasa
dan sedikit yang tertarik memilih pekerjaan yang bersifat produksi.
Keadaan seperti ini dapat diartikan sebagai gejala yang menunjukkan
masih rendahnya niat dan kesadaran mahasiswa untuk menjadi
sumberdaya yang mandiri untuk mengolah dan memproduksi kekayaan
sumberdaya alam yang ada di Indonesia. Di samping itu dapat juga
diartikan sebagai gejala yang menunjukkan rendahnya kreativitas dan
keterampilan mahasiswa untuk menghasilkan suatu produksi terutama
produksi olahan dari bahan baku yang berasal dari kekayaan alam.
       Dilihat dari cara mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja,
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa hanya mengandalkan
tekun kuliah. Hal ini berarti bahwa mahasiswa mengharapkan banyak hal
dari perkuliahannya. Oleh karena itu, merupakan suatu tantangan dari
perguruan tinggi untuk terus memajukan kurikulum dan sistem
pembelajarannya sehingga sarat dengan pengalaman untuk mencapai
kompetensi secara utuh bagi tuntutan kehidupan setiap mahasiswa di
masa yang akan datang. Hal yang sangat menarik dari temuan ini juga
adalah tidak adanya kecenderungan perbedaan antara mahasiswa laki-
laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar belakang
pendidikan agama dan umum. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
pemilahan antara keduanya mungkin tidak efektif lagi jika dilakukan
sebagai strategi untuk memecahkan masalah yang terkait dengan
penyiapan lapangan kerja bagi mahasiswa.
      Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa
memandang daerah perkotaan merupakan daerah yang masih menjadi
idaman dan sekaligus menjanjikan banyaknya peluang kerja. Gejala
semacam ini dapat dijadikan prediksi bahwa arus urbanisasi akan terus
meningkat di masa yang akan datang. Oleh karena itu, fakta semacam ini
harus menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan sebagai titik tolak
untuk menangkal dan mengantisipasi       kemungkinan terjadinya arus
urbanisasi dengan memecah sentra-sentra kerja ke wilayah pedesaan.
      Dilihat dari sistem penggajian dalam dunia kerja, mahasiswa
memandang bahwa gaji rutin bulanan merupakan idaman oleh sebagian
besar bahasiswa. Gejala semacam ini sangat dimaklumi mengingat
budaya masyarakat Indonesia yang masih banyak menganut adanya
keteraturan, rutinitas, dan pola hidup yang linier. Sementara itu, sistem
gaji dengan cara kontrak, bonus, dan yang lainnya kurang menarik bagi
mahasiswa sebagai hak yang harus diterima bagi seseorang yang bekerja.
Padahal, dalam sistem industrialisasi yang lebih mengedepankan sisi
keuntungan finansial, sistem penggajian kontrak dan bonus merupakan
cara yang diprediksi dapat meningkatkan kinerja seseorang yang bekerja.
      Temuan lain, hasil penelitian ini menunjukan bahwa mahasiswa
menginginkan informasi kerja dari banyak cara yang bervariasi.
Informasi kerja dari media masa elektronik (radio dan televisi) dan tulis
(surat kabar, majalah, dll) banyak diharapkan oleh mahasiswa sebagai
pencari kerja. Pilihan sumber informasi kerja semacam ini tampaknya
cenderung menjadi pilihan mahasiswa laki-laki, sementara mahasiswa
perempuan lebih memilih informasi kerja dari mimbingan karir yang ada
di perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mobilisasi informasi
bagi mahasiswa perempuan cenderung lebih rendah daripada mahasiswa
laki-laki. Oleh karena itu, suatu tantangan bagi perguruan tinggi yang
mahasiswanya banyak didominasi oleh perempuan untuk menyediakan
bimbingan karir dan bursa kerja di kampusnya.
       Dilihat dari waktu kerja yang banyak diingkan oleh mahasiswa
adalah tujuh sampai sembilan jam perhari. Pilihan ini banyak diminati
terutama oleh mahasiswa perempuan, sementara mahasiswa laki-laki
juga banyak memilih antara sepuluh sampai duabelas jam perhari. Hal ini
merupakan gejala yang sangat manusiawi, sebab waktu yang diperlukan
dalam kerja terkait dengan kekuatan dan pertahanan fisik yang berbeda
secara kodrati antara perempuan dan laki-laki.
       Dilihat dari pertimbangan utama dalam memilih suatu pekerjaan,
mahasiswa cenderung atas dasar jenis pekerjaan. Temuan ini
menunjukkan gejala yang sangat kondusif sebagai upaya peningkatan
profesionalisme kerja dalam setiap pekerjaan bagi lulusan sarjana.
Pekerjaan yang dikerjakan atas dasar kompetensi profesional sesuai
dengan latar belakang keahlian dan pendidikannya akan membawa
dampak pada peningkatan produktivitas kerja di kemudian hari bagi
pekerjanya.
       Hasil lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar
mahasiswa merencanakan berumah tangga jika sudah mendapatkan
kerja. Kecenderungan tampak baik pada mahasiswa laki-laki maupun
mahasiswa perempuan, baik yang berlatar belakang pendidikan umum
maupun agama. Hanya saja, pada mahasiswa perempuan yang berlatar
belakang pendidikan agama, keinginan mahasiswa berumah tangga
setelah lulus kuliah relatif agak banyak (34%) dibandingkan dengan
mahasiswa kelompok lain. Namun secara umum, hal ini menunjukkan
kondisi yang sangat menggembirakan karena dapat diartikan kesadaran
mahasiswa akan pentingnya kerja sudah tinggi, sehingga apabila
memasuki dunia rumah tangga sudah tidak menjadi beban dari orang
tuanya. Sebagai konsekuensi dari pilihan mahasiswa yang merencanakan
berumah tangga setelah mendapatkan kerja, maka sebagian besar
mahasiswa mempersiapkan pekerjaan secara mantap sebelum mereka
berumah tangga.
       Temuan lain yang terkait dengan persiapan dalam memasuki
rumah tangga adalah bahwa sebagian besar mahasiswa sepakat pilihan
pasangan dalam rumah tangga ditentukan oleh dirinya sendiri. Hal ini
menunjukkan bahwa budaya yang pada masa dahulu melekat pada diri
remaja dan calon pasangan rumah tangga yang banyak dipengaruhi oleh
keputusan orang tua mulai memudar dan bergeser pada keputusan yang
mandiri. Kondisi semacam ini tampak terutama pada mahasiswa laki-
laki. Sementara, pada mahasiswa perempuan sebagian mereka (25%)
masih memilih keputusan oleh orang tua. Hal ini berarti bahwa
ketergantungan perempuan dalam menentukan pasangan rumah tangga
masih relatif dipengaruhi oleh orang tuanya.
      Hasil lain menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa
menginginkan memiliki anak satu sampai dua orang, dan sebagian lain
mengingkan tiga sampai empat orang anak. Kecenderungn ini tampaknya
hampir merata, baik untuk mahasiswa laki-laki maupun perempuan, dan
baik yang berlatar belakang pendidikan umum maupun pendidikan
agama. Hal ini menunjukkan bahwa program keluarga berencana sudah
berhasil disadari secara mandiri oleh mahasiswa sebagai calon anggota
rumah tangga yang baru.
      Temuan lain menunjukkan bahwa kesamaan peran dan peran yang
fleksibel antara suami dan istri menjadi harapan sebagian besar
mahasiswa yang akan memasuki dunia rumah tangga. Hal ini
menunjukkan bahwa sudah terjadi kesetaraan gender dalam pikiran dan
harapan mahasiswa dalam kehidupan berumah tangga. Kondisi semacam
ini sngat menggembirakan karena dapat diasumsikan bahwa adanya
kesetaraan gender dalam rumah tangga berarti akan menekan angka
perkembangan kekerasan dalam rumah tangga.
      Dilihat dari aspek manajemen rumah tangga terutama manajemen
keuangan, hasil temuan ini menunjukkan bahwa satu manajemen dalam
keuangan rumah tangga menjadi harapan bagi sebagian besar mahasiswa
yang akan memasuki dunia rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa
konsep keharmonisan dalam rumah tangga yang dibangun dalam
kerangka pikir mahasiswa adalah konsep rumah tangga yang
menyatukan dua manusia yang berbeda yaitu suami dan istri. Hal ini
memiliki konsekuensi bahwa modal yang berbeda, baik modal materi,
modal potensi, dan modal latar belakang keluarga sengaja akan dilebur
menjadi satu kepentingan yaitu kepentingan keluarga dalam rumah
tangga.
      Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa orientasi yang
cenderung dipilih oleh mahasiswa antara dunia kerja dan dunia rumah
tangga adalah dua variasi yaitu orientasi rumah tangga dan orientasi
antara keduanya walaupun disadari bahwa pilihan orientasi keduanya
tidak bisa optimal. Sementara itu, yang memilih orientasi pada kerja
hampir tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga merupakan
tujuan utama dalam menjalankan suatu etape kehidupan di masa yang
akan datang. Kondisi semacam ini tampaknya agak berbeda dengan
kondisi di negara-negara yang maju yang masyarakatnya lebih
berorientasi pada dunia kerja dan cenderung mengabaikan orientasi pada
rumah tangga. Namun di lain pihak perlu mendapat perhatian bahwa
pilihan orientasi pada kerja dan rumah tangga bisa menjadi bibit
ketidakoptimalan dalam melakukan segala aktivitas yang terkait dengan
kerja dan rumah tangga. Ketidakoptimalan ini pada gilirannya akan
memicu rendahnya kualitas dan produktivitas baik dalam kerja maupun
dalam kehidupan berumah tangga.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
       Beberapa simpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah:
Pertama, Tidak ada perbedaan kecenderungan antara mahasiswa laki-
laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar belakang
pendidikan umum dan agama dalam kesiapannya terhadap: prioritas
rencana setelah lulus kuliah, jenis dan sifat pekerjaan yang diinginkan,
dan cara mempersiapkan kerja. Prioritas rencana setelah lulus kuliah
adalah bekerja dengan karakteristik jenis pekerjaan profesional yang
bersifat layanan jasa. Persiapan untuk mencapai itu dilakukan dengan
cara tekun kuliah.
       Kedua, tidak ada perbedaan kecenderungan antara mahasiswa laki-
laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar belakang
pendidikan umum dan agama dalam keinginannya terhadapkerja
terutama dalam hal: lokasi kerja, sistem penggajian, informasi pekerjaan,
waktu kerja, dan pertimbangan memilih pekerjaan. Lokasi pekerjaan
yang dipilih adalah daerah perkotaan, sistem penggajian secara rutin
bulanan, informasi pekerjaan dari media massa dan bimbingan karir di
perguruan tinggi, waktu kerja antara tujuh sampai sembilan jam sehari,
dan pertimbangan memilih pekerjaan karena kesesuaian jenis pekerjaan.
        Ketiga, tidak ada perbedaan kecenderungan antara mahasiswa laki-
laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar belakang
pendidikan umum dan agama dalam hal kesiapan memasuki dunia rumah
tangga, terutama dalam hal: waktu berumah tangga, persiapan berumah
tangga, dan penentuan calon pasangan dalam rumah tangga. Waktu
berumah tangga yang dipilih adalah setelah mendapatkan pekerjaan,
persiapan berumah tangga dengan memantapkan pekerjaan, dan
penentuan calon pasangan oleh dirinya sendiri.
        Keempat, tidak ada perbedaan kecenderungan antara mahasiswa
laki-laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar belakang
pendidikan umum dan agama dalam harapannya terhadap kehidupan
rumah tangga, terutama dalam hal: jumlah anak yang diinginkan,
pembagian peran dalam rumah tangga, dan manajemen keuangan dalam
rumah tangga. Jumlah anak yang diinginkan adalah satu sampai dua
orang anak, pembagian peran yang sama dan fleksibel antara suami dan
istri, dan satu manajemen keuangan dalam rumah tangga.
        Kelima, tidak ada perbedaan kecenderungan antara mahasiswa
laki-laki dan perempuan dan antara mahasiswa yang berlatar belakang
pendidikan umum dan agama dalam hal orientasi setelah lulus kuliah.
Oreintasi yang banyak dipilih adalah rumah tangga dan rientasi keduanya
(rumah tangga dan kerja) walaupun telah disadari tidak akan optimal jika
memilih orientasi keduanya.


Saran
       Beberapa saran yang dapat diajukan terkait dengan temuan
penelitian ini adalah: Pertama, kepada perguruan tinggi, disarankan agar
mengembangkan program perkuliahan yang lebih dan langsung
mendekatkan diri kepada dunia kerja. Peningkatan proporsi pengalaman
kerja melalui perkuliahan di perguruan tinggi merupakan langkah
strategis yang hendaknya dipilih oleh perguruan tinggi untuk
mendekatkan mahasiswanya dalam dunia kerja. Kedua, kepada pusat
studi wanita, disarankan agar pengembangan program kajian wanita
lebih diorientasikan pada kemanfaatannya bagi masyarakat yang
berpendidikan rendah (pendidikan di bawah perguruan tinggi—SLA ke
bawah) karena pada masyarakat yang berlatar belakang pendidikan
tinggi pemilahan antara laki-laki dan perempuan sudah bukan merupakan
langkah yang paling strategis untuk untuk memecahkan masalah. Ketiga,
kepada mahasiswa yang akan lulus kuliah di perguruan tinggi disarankan
agar bertindak secara proporsional dalam mempersiapkan dan memasuki
dunia rumah tangga dan dunia kerja. Orientasi antara rumah tangga dan
kerja merupakan suatu idealisme yang seharusnya dituju dan dijadikan
sebagai pengarah setiap langkah mahasiswa.
                        DAFTAR RUJUKAN


Adler, N.J. 1993. An International Perspective on Barriers to the
      Advancement of Women Managers. Applied Psychology: An
      International Review, 42 (4), 289--300.
Anshar, M., Anwar, dan Omsa, S. 2002. Peningkatan Keterampilan dan
      Pengembangan Jiwa Wirausaha Mahasiswa melalui Kegiatan
      Magang. Jurnal Pengembangan dan Penerapan Teknologi.
      Volume 2, Nomor 7, Tahun 2002.
Burke, R.J. dan McKeen, C.A. 1993. Career Priority among Managerial
      and Professional Women. Applied Psychology: An International
      Review, 42 (4) 341--352.
Depdiknas. 2003. Higher Education Long Term Strategy 2003—2010
      untuk Kalangan Perguruan Tinggi. Jakarta: Ditjen Dikti
      Depdiknas.
Depdiknas. 2004. Strategi dan Kebijakan Pengembangan Pendidikan
      Tinggi 2003—2010 Informasi bagi Masyarakat Umum. Jakarta:
      Ditjen Dikti Depdiknas.
Gardiner, O. 1995. Jender dalam Pasar Kerja. Makalah disajikan pada
      Penataran Metodologi Peningkatan Peranan Wanita 25 September
      sd. 1 Oktober di Cisarua Bogor.
Hamalik, O. 1993. Psikologi Manajemen. Bandung: Trigenda Karya.
Gitosudarmo, I. Dan Sudita, Ny. 1997. Perilaku Keorganisasian.
      Yogyakarta: BPFE.
Kartono, K. 1992. Mengenal Gadis Remaja dan Wanita Dewasa.
      Bandung: Mandar Maju.
Koswara, J. 2000. Strategi Penanganan Pendidikan Nasional. Jurnal
      Pengembangan dan Penerapan Teknologi, Volume 2, Nomor 3,
      Tahun 2000.
Mardikanto, T. 1999. Peningkatan Relevansi Pelatihan dengan
      Kesempatan Kerja. Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 2, Nomor 2, Mei
      1999.
Murtini, W. 2004. Pendidikan Kewirausahaa di Perguruan Tinggi.
      Forum Pendidikan, Volume 29, Nomor 2, Agustus 2004.
Murwani, F.D. 2003. Pengaruh Faktor Individu Wirausahawan terhadap
     Profitabilitas Industri Kecil. Forum Penelitian, Tahun 15, Nomor
     1, Juni 2003.
White, D.D. dan Bednar, D.A. 1991. Organizational Behavior:
     Understanding and Managing People at Work. Boston: Allyn and
     Bacon.
  Perspektif Gizi dalam Meningkatkan Angka
    Harapan Hidup Lansia di Kota Malang

                           Rias Gesang Kinanthi
                            Desiana Merawati
                              Mazarina Devi


      Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap, perilaku
      makan para lansia, konsumsi gizi berkaitan kecukupan gizi dan
      menganalisis faktor pencetus perubahan prilaku makan dan
      kecukupan gizi pada lansia. Populasi penelitian adalah lansia
      anggota aktif posyandu lansia yang berumur 60 tahun keatas,
      pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai
      berikut: tidak pikun, tidak mengalami gangguan pendengaran,
      tidak lumpuh dan bersedia diwawancarai. Pengumpulan data
      dilakukan dengan wawancara dan pengisian angket, kemudian
      dilakukan analisis terhadap pertanyaan, dengan menggunakan uji
      statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan
      bahwa prilaku makan, sikap dan pilihan makan dipengaruhi oleh
      pengetahuan gizi. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa
      kebiasaan makan yang tidak dilandasi oleh pengetahuan gizi yang
      memadai dapat menyebabkan peningkatan frevalensi gizi
      masyarakat. Hasil penelitian ini akan memberikan informasi
      Penelitian ini dapat dijadikan dasar informasi bagi berbagai pihak
      baik pihak pemerintah khususnya bagi Departemen kesehatan atau
      yang terkait atau bagi pihak swasta sebagai bahan masukan untuk
      perencanaan dan pengembangan program pelayanan kesehatan
      khusus para lansia, diharapkan menjadi masukkan bagi keluarga
      lansia untuk berperilaku hidup sehat dengan melakukan perbaikan
      perilaku makan dan perawatan bagi lansia.
      Kata-kata kunci: lansia, status gizi, pola makan


Rias Gesang Kinanthi dan Desiana Merawati adalah dosen Jurusan Ilmu Keolahragaan
FIP Universitas Negeri Malang dan Mazarina Devi adalah dosen Jurusan Teknologi
Industri FT Universitas Negeri Malang
       Dua per tiga penyakit pada lansia (lanjut usia) berkaitan dengan
masalah gizi (Husaini 1990), hal tersebut sangat penting untuk
diperhatikan dalam upaya menahan laju penurunan kapasitas fungsional
tubuh dan kesehatan lansia (Geoffrey dan Copeman,1996). Bahkan
menurut Husaini (1990) untuk mencapai hal tersebut 30%-50%
ditentukan karena faktor gizi, sedangkan pada masa lansia sering terjadi
ketidak seimbangan antara konsumsi gizi dan kecukupan gizi yang
disebabkan oleh perilaku gizi salah. Oleh sebab itu masalah gizi khususnya
pada lansia tampaknya sudah mencapai tingkat kerawanan, sebab
berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Heryudarini (1991)
sebagian besar lansia baik di pedesaan maupun di perkotaan berstatus
gizi buruk dengan kategori kurang. Buruknya status gizi tersebut ternyata
tidak hanya disebabkan oleh masalah daya beli masyarakat, tetapi juga
berkaitan dengan perilaku dan pengetahuan gizi mereka. Namun hal
tersebut belum banyak mendapat perhatian yang memadai baik oleh
lansia sendiri maupun oleh masyarakat umum.
       Perilaku gizi salah bagi lansia tidak hanya menimbulkan masalah
bagi lansia sendiri tetapi juga menjadi masalah bagi masyarakat dan
pemerintah. Beban masyarakat akan terasa berat akibat ketergantungan
lansia pada orang lain. Beban pemerintah juga menjadi lebih berat untuk
perawatan, sehingga berdampak terhadap perekonomian.
       Secara fisiologis kondisi fisik lansia yang menurun dan daya tahan
terhadap penyakit juga mengalami penurunan, agar lansia tetap sehat dan
produktif asupan gizi yang memadai, baik dari segi kualitas dan kuantitas
adalah sangat penting. Apabila konsumsi selalu kurang dari kebutuhan
akan kecukupan gizi, seseorang akan menderita gizi kurang dan
sebaliknya jika konsumsi melebihi kebutuhan gizi, maka yang
bersangkutan akan menderita gizi lebih, yang keduanya juga beresiko
terhadap beberapa penyakit degeneratif (Depkes, 1995, Husaini,1989).
       Kecukupan kebutuhan gizi antara lansia dengan usia-usia
sebelumnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan, tetapi dari segi
komposisi dan jumlah zat gizi yang diperlukan pada masing-masing
kelompok tersebut (Astawan dan Wahyuni, 1988). Penurunan kondisi
fisik dan fungsi tubuh akibat penambahan umur tentu memerlukan
perhatian dalam penataan gizi berimbang dan cukup, sebab proses
penurunan fungsi tubuh pada lansia diduga berpengaruh pada perilaku
makan, yang kemudian berdampak terhadap masalah status gizi buruk
dan kesehatan para lansia yang terkait langsung maupun tidak langsung
dengan angka harapan hidup seseorang (Nasoetion dan Briawan, 1993).
Selain tersebut berkurangnya sensitifitas indera penciuman dan perasa juga
diduga menjadi masalah yang berkaitan dengan selera makan lansia
(Wirakusumah, 2000). Konsumsi makanan yang cukup serta dalam
jumlah yang seimbang akan bermanfaat bagi lansia untuk mencegah atau
mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit kekurangan gizi. Jenis
makanan yang beragam dan bergizi seimbang bagi lansia adalah sangat
penting dalam memperbaiki kecukupan dan perlindungan terhadap
serangan berbagai penyakit kronik yang berhubungan dengan proses
penuaan (Horwarth, Blazos, Savige, & Wahlqvist, 1999).
       Berbagai perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada lanjut usia
sangat mempengaruhi kesehatan dan kemampuan metabolisme tubuh,
perubahan tersebut akan semakin nyata pada usia 70-an. Faktor
kesehatan yang berperan dalam perubahan status gizi karena terjadinya
penyakit degeneratif maupun non degeneratif berakibat perubahan pada
asupan makanan (Fatimah, 1999). Berkaitan dengan pentingnya masalah
gizi pada lansia dengan kesehatan dan angka harapan hidup perlu
dicemati lebih dalam, untuk mendorong lansia yang sehat dan mandiri.
Atas dasar tersebut maka dalam penelitian ini ingin mengungkap dan
menganalisis perilaku makan, kecukupan gizi, kesehatan dan faktor-
faktor pencetus yang berpengaruh terhadap perilaku makan para lansia.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memberikan
motivasi para lansia dalam menjalankan sisa hidupnya lebih mandiri dan
sehat, serta dapat digunakan sebagai dasar dalam menetapkan kebijakan
yang dapat mendorong meningkatnya angka harapan hidup lansia.


METODE
      Penelitian ini merupakan penelitian deskriptip analitik, dengan
menggunakan disain, crosssectional dengan menggunakan metode
survei. Subyek dalam penelitian ini adalah lansia yang berusia di atas 60
tahun, aktif sebagai anggota posyandu lansia, sehat, tidak pikun dan
bersedia menjadi sampel. Subyek penelitian diambil secara random pada
pengunjung atau peserta kegiatan posyandu lansia di 5 kecamatan atau
puskesmas di kota Malang., yang diambil secara random.
       Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengisi angket atau
wawancara yang dilakukan oleh peneliti atau pembantu peneliti pada
lansia yang mengikuti kegiatan posyandu lansia. Berdasarkan tujuan
penelitian fokus penggalian data yang akan diungkap adalah berkaitan
dengan perilaku makan, tingkat konsumsi gizi, pengetahuan gizi, status
sosial ekonomi.
       Analisis data dilakukan dengana cara mentabulasi data, kemudian
dianalisis secara deskriptif. Perilaku makan, tingkat konsumsi gizi,
pengetahuan gizi, dan status sosial ekonomi ditentukan berdasarkan
jawaban. Perilaku makan ditentukan berdasarkan hasil jawaban dari
setiap pertanyaan mengenai praktek kebiasaan makan yang dinilai
dengan menggunakan skor yaitu: (1) Skor 3 untuk jawaban praktek yang
paling baik; (2) Skor 2 untuk jawaban praktek yang cukup baik; (3) Skor
1 untuk jawaban praktek yang kurang baik; dan (4) Skor 0 untuk
jawaban lain diluar yang telah ditetapkan/tidak ada jawaban, dimana skor
maksimumnya adalah 30 dan skor minimumnya adalah 0, kemudian
dikategorikan dengan menggunakan cut of point dari skor yang
diperoleh. Kategori untuk tingkat kebiasaan makan dibagi dalam tiga
kelompok (Khomsan, 2000) yaitu: (1) baik (>24); (2) cukup baik (18--
23); dan (3) kurang baik (<17). Tingkat konsumsi ditentukan dengan
membandingkan antara konsumsi zat gizi aktual dengan kecukupan gizi
yang diperlukan. Pengetahuan gizi ditentukan berdasarkan hasil jawaban
dari setiap pertanyaan mengenai pengetahuan gizi dari makanan yang
biasa dimakan oleh sampel, yang dinilai dengan menggunakan skor yaitu
: skor 3 untuk jawaban pengetahuan gizi yang baik; skor 1 untuk
jawaban pengetahuan gizi yang kurang baik, skor maksimumnya adalah
30 dan skor minimumnya adalah 0, kemudian dikategorikan dengan
menggunakan cut of point dari skor yang diperoleh. Kategori untuk
tingkat pengetahuan gizi dibagi dalam tiga kelompok yaitu: (1) baik
(>24); (2) cukup baik (18--23); dan (3) kurang baik (<17) .


HASIL
     Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik
sampel berdasarkan jenis kelamin wanita memiliki populasi yang lebih
banyak sebesar 146 (80%), dibandingkan dengan pria 37 (20%), yang
berusia antara 60-92 tahun., dengan kualitas kesehatan baik untuk
golongan lansia. Bila dilihat berdasarkan status sosial ekonomi berada
pada status sosial ekonomi menengah ke bawah, yang terdiri dari 61%
berstatus sosial ekonomi menengah dan 39% berstatus sosial ekonomi
bawah. Berdasarkan prilaku makan menunjukan Secara umum perilaku
makan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan dalam
memilih, mengkonsumsi serta menggunakan makanan. Perilaku makan
dalam penelitian ini adalah kebiasaan makan sehari-hari berdasarkan
kebutuhan dan kecukupan gizi yang berpengaruh dalam menjaga
kesehatan. Berdasarkan penelitian menunjukan 94 sampel (51.4%)
berperilaku makan baik, 80 orang (43.7%) berperilaku makan cukup dan
hanya 9 orang (4.9%) yang berperilaku makan kurang baik. Indikator
prilaku makan baik tersebut berdasarkan pada frekuensi makan dalam
sehari menunjukan 136 sampel (74.31%) kebiasaan makan 3 kali/hari,
44 sampel (24%) kebiasaan makan 2 kali/hari, hanya 3 sampel (1.6%)
yang kebiasaan makannya 1 kali/hari. Bila diperhatikan dari waktu
makan 168 sampel (91.8%) makan siang, 156 sampel (85.5%) makan
pagi dan 144 sampel (78.7%) makan malam. Prilaku makan sampel
berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayur juga tampak
baik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata sampel yang mengkonsumsi buah
dan sayur adalah sebagai berikut: 73.8% (135 sampel) memiliki
kebiasaan mengkonsumsi sayur setiap harinya (7 kali /minggu). Namun
yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi buah tiap hari hanya 47.5%.
Nilai keragaman dan kecukupan gizi bagi lansia juga dapat dipengaruhi
oleh ketersediaannya vitamin,mineral dan protein. Sumber–sumber gizi
tersebut dapat diberikan dalam bentuk lauk-pauk seperti ikan, telor,
daging dan ayam, yang dikonsumsi setiap harinya (berapa kali dalam
satu minggu). Berdasarkan hasil penelitian konsumsi makan sumber
protein adalah sebagai berikut : Perilaku makan berkaitan dengan
konsumsi makan lauk pauk jenis telur yang melakukan 7 kali dalam
seminggu 16 sampel (8.7%), 3--5 kali dalam seminggu 92 sampel
(50.3%), sedangkan sampel yang mengkonsumsi lauk pauk jenis ayam 7
kali dalam seminggu 4 sampel (4%) dan rata-rata lauk ayam dilakukan 1-
2 kali/minggu oleh 93 sampel (50.1%). Bahkan konsumsi lauk daging
yang melakukan 7 kali dalam seminggu hanya 1 sampel (0.6% ),
selebihnya adalah 3--5 kali/minggu dan yang paling tinggi
mengkonsumsi lauk daging 1-2 kali/minggu sejumlah 92 (50.3%).
Namun perilaku makan sampel dengan mengkonsumsi ikan sebagai lauk
rata-rata dilakukan 3-5 kali/ minggu dilakukan 67 sampel (36.6%), dan
yang mengkonsumsi ikan sebagai lauk tiap hari (7 kali/minggu) 16
sampel (8.7 %) (tabel 4.6), sedangkan perilaku makan dengan konsumsi
lauk yang bersumber nabati seperti tempe dan tahu, sebagian besar
(94%) dilakukan oleh sampel, dengan frekuensi 7 kali/minggu.
       Kondisi fisiologis lansia yang mengalami penurunan, aktivitas
fisik yang menurun menyebabkan menurunnya kebutuhan kalori pada
lansia, sehingga dapat menyebabkan perubahan prilaku makan.
Perubahan perilaku makan bagi lansia selain karena sakit juga
disebabkan oleh upaya untuk menjaga kesehatan . Perubahan konsumsi
makanan seafood, seperti udang dan cumi, serta daging lemak (jeroan)
dilakukan oleh sampel. Berdasarkan hasil penelitian hanya 50 sampel
(27.3%) yang mengkonsumsi seafood, 133 sampel (72.7%) tidak
mengkonsumsi seafood, dan 55 sampel (30.1%) masih mengkonsumsi
jeroan, sedangkan 128 sampel (69.9%) tidak mengkonsumsi jeroan. Salah
satu alasan tidak mengkonsumsi makanan tersebut disebabkan untuk
menjaga kesehatan 39.9%, dan tidak suka (18.6%) dari pada karena
masalah harga. Namun prilaku makan yang baik pada lansia tersbeut
bukan disebab oleh karena faktor pengetahuan tetapi lebih disebabkan
karena kebiasaan yang sudah turun temurun. Berdasarkan hasil penelitian
106 (57.9%) sampel tingkat pengetahuan gizi terhadap perilaku makan
rendah, 54 (29.5%) sampel memikiki pengetahuan gizi cukup, dan hanya
23 (12.6%) sampel yang memiliki tingkat pengetahuan gizi baik.


BAHASAN
      Pengaturan pola makan berdasarkan kecukupan dan keaneka
ragaman unsur gizi yang disesuaikan kebutuhan adalah salah satu faktor
yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Dengan bertambahnya usia
seseorang, kecepatan metabolisme tubuh cenderung turun, oleh karena
itu, kebutuhan gizi bagi para lansia, perlu dipenuhi secara adekuat.
Kebutuhan kalori pada lansia berkurang, hal ini disebabkan karena
berkurangnya kalori dasar dari kegiatan fisik. Berdasarkan hasil
penelitian 51.4% sampel memiliki berperilaku makan baik, hal itu
menunjukan praktek gizi baik yang dimanifestasikan dalam makan sehari-
hari. Walaupun sebenarnya sampel kurang memahami kegunaan atau
manfaat makan tersebut. Berdasarkan perilaku makan yang sudah baik
tersebut kemungkinan lebih disebabkan faktor kebiasaan yang tidak
didukung oleh pengetahuan.
       Perilaku makan yang sudah baik tersebut juga harus didasari oleh
pengetahuan tentang gizi yang baik pula. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya dasar kebiasaan dapat menyebabkan masalah, sebab gizi
bagi lansia tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan tetapi juga harus juga
mengandung unsur gizi yang dibutuhkan lansia, keragaman dan kalori
yang sesuai dengan kondisi lansia. Kebutuhan energi tiap orang berbeda-
beda tergantung ukuran tubuh dan aktivitasnya. Umumnya orang dewasa
membutuhkan sekitar 1000 sampai 2700Kal per-harinya, sedangkan
untuk manula membutuhkan energinya yaitu 1960Kal untuk laki-laki dan
1700Kal untuk wanita. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan,
maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul
kegemukan (obesitas), yang selanjutnya akan mempercepat timbulnya
penyakit degeneratif. Sebaliknya bila terlalu sedikit, maka cadangan
energi pada tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.
Agar hal masalah tersebut tidak terjadi, maka konsumsi makan
berdasarkan kecukupan gizi harus menjadi perhatian bersama. Konsumsi
makan dan kecukupan gizi dalam penelitian ini digambarkan frekuensi
makan dalam sehari, kebiasaan makan sayur, lauk,buah, dan minum.
       Berdasarkan hasil penelitian sampel rata-rata memiliki perilaku
makan 3 kali /sehari, berdasarkan urutan makan makan siang, pagi dan
malam. Perilaku makan ini merupakan kebiasaan yang sangat baik dan
telah menjadi budaya. Namun yang masih perlu mendapat pencermatan
adalah kualitas dan kuantitas makan, sehubungan penurunan kebutuhan
kalori pada lansia. Selain itu masalah yang berkaitan dengan budaya
orang Indonesia pada umumnya bahwa yang dimaksud dengan makan adalah
makan nasi, sedangkan makan roti atau lainnya tidak dianggap makan,
sehingga dimungkinkan masalah gizi buruk berkaitan dengan kelebihan
gizi masih menjadi masalah di masyarakat. Seperti yang telah disinggung
sebelumnya bahwa masa lansia memiliki perbedaan dengan masa
sebelumnya. Secara fisiologis adanya penurunan fungsi dan metabolisme
serta aktivitasnya, sehingga kalori yang dibutuhkan harus disesuaikan
dengan kebutuhan. Secara umum kebutuhan energi dan kalori pada lansia
berkurang seiring dengan berkurangnya aktivitas fisik. Oleh sebab itu
apabila konsumsi makanan tidak dikurangi dikuatirkan akan terjadi
masalah gizi dan berakibat timbulnya masalah penyakit degeratif
(Nurhidajah,2008). Menurut Koswara, (2007) Secara umum komposisi
energi bagi lansia sebaiknya 20–25 persen berasal dari protein, 20 persen
berasal dari lemak dan sisanya dari karbohidrat. Bahkan disarankan
jumlah energi atau kalori yang baik untuk dikonsumsi lansia 50% adalah
hidrat arang yang bersumber dari karbohidrat komplex (sayur–
sayuranan, kacang–kacangan, biji–bijian) (Ismayadi,2004).
       Kebiasaan makan siang lebih banyak pada merupakan hal yang
cukup menarik untuk dicermati, kebiasaan tersebut berkaitan dengan
penggantian sumber energi yang dikeluarkan, sedangkan makan malam
hanya 78% yang masih tetap makan. Sebagai rutinitas dan kebiasaan
adalah sangat baik untuk dilakukan tetapi dari segi pemenuhan kalori
perlu dikurangi porsinya, sebab setelah makan malam tidak ada kegiatan,
sehingga sebagai besar energi disimpan sebagai lemak. Seharusnya
makan pagi yang harus menjadi kebiasaan untuk menggantikan energi
dan menyiapkan energi untuk kegiatan sepanjang hari. Berdasarkan
kebiasaan makan tiga kali dalam sehari memerlukan pemahaman agar
kalori tidak berlebihan. Susunan makanan sehari-hari untuk manula
hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makan, serta
disesuaikan dengan keadaan psikologisnya. Pola makan disesuaikan
dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dan menu makannya dapat
disesuaikan dengan ketersediaan dan kebiasaan makan.
       Pola makan umum tersebut dilakukan oleh sebagian besar lansia,
berdasarkan penelitian lansia memiliki kebiasaan makan sayur dan buah.
Tetapi untuk buah tidak semua lansia mengkonsumsinya setiap hari .
Selain itu kebiasaan sampel dalam mengkonsumsi sumber makanan
penghasil protein, yang berasal dari nabati maupun hewani sudah
dilakukan. Demikian juga dengan makan 4 sehat 5 sempurna, dengan
mengkonsumsi susu. Keanekaragaman bahan makan yang mengandung
unsur protein, mineral, vitamin, lemak dan karbohidrat serta serat
merupakan pola makan yang sangat baik dan sudah menjadi kebiasaan
sampel. Namun yang harus mendapat perhatian adalah masalah
ketercukupannya berdasarkan kebutuhan kalori. Salah satu masalah yang
banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah buang air
besar) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah
terbukti dapat menyembukan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik
bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Hal
ini telah dilakukan oleh sampel, sebab untuk sayur sebagian besar sampel
makan sayur tiap hari, namun buah hanya sedikit yang tiap hari. Hal ini
dapat berakibat kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasan,
asam folat, vitamin C, D dan E. Umumnya kekurangan ini terutama
disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan.
Sedangkan masalah kekurangan mineral yang paling banyak diderita
lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan
tulang dan kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan anemia.
Berdasarkan hasil penelitian sampel yang memiliki kebiasaan
mengkonsumsi buah tiap hari hanya 47%, sehingga ini memiliki
kerawanan gizi berkaitan dengan kecukupan vitamin dan mineral.
Kebutuhan vitamin dan mineral bagi lansia menjadi penting untuk
membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah
hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral
dan serat.
        Berdasarkan hasil penelitian selain sayur dan buah lansia juga
mengkonsumsi lauk-pauk. Lauk tersebut juga sangat diperlukan oleh
lansia dalam memenuhi kebutuhan protein. Kebutuhan protein bagi orang
dewasa rata-rata ditetapkan sebesar 0,8 gram per kg berat badan per hari,
dengan syarat nilai gizi proteinnya setara dengan 1 butir telur. Umumnya
bagi protein yang nilai gizinya lebih rendah dari telur, diperlukan jumlah
yang lebih banyak. Untuk lebih aman, secara umum kebutuhan protein
bagi orang dewasa per hari adalah 1 gram per kg berat badan. Pada orang
yang berusia lanjut, massa ototnya berkurang, sehingga total protein
tubuhnya juga berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan
protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dibanding orang
dewasa. Hal ini disebabkan pada orang tua efisiensi penggunaan
senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan
pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Disamping itu, adanya
stres (tekanan batin), penyakit infeksi, patah tulang dan penyakit lain-lain,
akan meningkatkan kebutuhan protein bagi manula. Beberapa penelitian
merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya
ditingkatkan sebesar 12-14 persen dari porsi untuk orang dewasa.
Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-
kacangan. Maka pada lansia hendaknya ada perubahan prosentasi
konsumsi protein hewani menjadi nabati, dengan perbandingan 3:1
(Nurhidayah, 2008). Dalam hal ini sampel telah melakukan hal tersebut
dengan lauk yang menjadi kesenangan adalah tempe dan tahu.
       Lauk-pauk yang menjadi kesukaan adalah telur, mungkin ini lebih
disebabkan faktor kemudahan dalam mengunyah, akibat masalah gigi.
Pemanfaat telur sebagai lauk bagi lansia juga perlu mendapat perhatian
sebab telur merupakan sumber lemak, yang juga tidak dianjurkan
berlebihan bagi lansia. Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30
persen atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak
total yang terlalu tinggi (lebih dari 40 persen dari konsumsi energi) dapat
menimbulkan penyakit atherosklerosis. Juga, dianjurkan 20 persen dari
konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly
unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak
jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam
lemak jenuh. Menurut Ismayadi (2004) makanan bagi lansia sebaiknya
jumlah lemak dalam makanan dibatasi, terutama lemak hewani.
       Jika proses menua mulai berlangsung, di dalam tubuh juga mulai
terjadi perubahan-perubahan struktural yang merupakan proses
degeneratif. Misalnya sel-sel mengecil atau komposisi sel pembentukan
jaringan ikat baru menggantikan sel-sel yang menghilang dengan akibat
timbulnya kemunduran fungsi organ-organ tubuh (Kartari, 1990). Oleh
karena itu makanan juga harus menjadi perhatian agar lansia tetap sehat.
Makanan yang banyak mengandung lemak harus dihindari, kelebihan
lemak tidak hanya bermasalah terhadap kegemukan yang dapat berakibat
pada jantung, tetapi juga kelebihan lemak dapat menyebabkan penekanan
pada saraf mata, sehingga mempercepat gangguan penglihatan. Sebaiknya
konsumsi lemak dibatasi ¼ dari kebutuhan energi sehari (Nurhidajah, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian tampaknya pada lansia sumber makanan
berlemak yang berasal dari hewani juga masih menjadi konsumsi, seperti
daging, ayam, telur dan ikan , walaupun tidak sesering lauk tempe dan
tahu. Lauk tersebut rata-rata dikonsumsi 1-2 kali/minggu, hal ini
mungkin yang menjadi sebab adalah masalah harga, karena sebagian
besar sampel masih menggemarinya.
       Berdasarkan hasil penelitian kebiasaan oleh lansia yang sangat baik
adalah sebagian besar lansia minum susu. Susu sebagaimana bahan
pangan hewani lainnya yang dikenal kaya dengan kandungan gizi,
tingkat konsumsinya semakin meningkat di seluruh dunia. Selain
mengandung kalsium, susu juga mengandung hampir seluruh dari zat
gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Pada pedoman gizi empat
sehat lima sempurna (4S5S), yang pertama kali dicetuskan oleh ‖Bapak
Gizi Indonesia‖ yaitu Prof. Poerwo Sudarmo pada tahun 1950-an, susu
dikategorikan sebagai bahan pangan yang dapat menyempurnakan (Depkes,
2002). Susu mempunyai peranan penting untuk mencegah osteoporosis.
Susu adalah sumber kalsium dan fosfor yang sangat penting untuk
pembentukan tulang (Khomsan 2004).
      Tingkat pengetahuan gizi lansia yang digunakan sebagai sampel,
dikaitkan dengan perilaku makan rata-rata masih rendah, hanya 12.6%
yang memiliki pengetahuan gizi baik. Pemahaman terhadap kebutuhan
gizi dan keanekaragaman adalah sangat penting dalam membangun
kesehatan seseorang. Dengan pengetahuan gizi yang baik dan perilaku
makan yang baik akan dapat meningkatkan kecukupan gizi dalam
menjaga kesehatan dapat berlangsung berkelanjutan. Tetapi perilaku
makan dan pola makan baik yang tidak didasari oleh pengetahuan yang
baik dapat menjadi masalah kerawanan gizi. Sebab perilaku makan baik
tersebut didasarkan karena ketidak sengajaan, sehingga mudah mendapat
pengaruh, baik dari lingkungan atau oleh ajakan makan dari teman,
sehingga pola makan tersebut menjadi berubah dan tidak terkontrol,
sehingga berdampak terhadap kesehatan. Masalah perilaku makan
khususnya dipengaruhi oleh pengetahuan tentang masalah yang berkaitan
dengan makanan yang diperlukan untuk kesehatan (Soekamto, 1987).
Tingkat pengetahuan merupakan salah satu penyebab terpuruknya
masalah gizi hingga saat ini adalah tingkat pengetahuan yang sangat
rendah terhadap masalah gizi dasar, dan lebih didominasi oleh kebiasaan
dan kepercayaan (tradisi) serta dogma terhadap makanan, cara makan
serta penyajian makanan, menu makanan yang dianggap tabu
(Winarno,1990). Menurut Atmawikarta dalam Kompas (2004) pada kurun
waktu 10 tahun terakhir ini telah terjadi stagnasi masalah gizi yang
diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap masalah
gizi.
       Perilaku makan pada dasarnya juga dipengaruhi arus globalisasi
informasi, pengaruh iklan tentang jenis makan yang demikian gencar
mempengaruhi perilaku makan (Susanto, 1993), demikian juga iklan
tentang makanan yang menawarkan berbagai produk makanan dengan
segala kelebihannya. Iklan yang demikian gencar tentang produk olahan
makanan dapat menarik perhatian lansia dapat mempengaruhi pola
makan dan perilaku makan yang telah menjadi kebiasannya. Menurut
Khomsan, (2003) kehadiran fast food dalam industri makanan dapat
mempengaruhi perilaku makan dan menarik minat, sedangkan makanan
tersebut kurang menguntungkan bagi lansia.
      Pengetahuan gizi dan pola makan yang baik dapat menjadi faktor
penentu dalam menanggulangi kerawanan gizi bagi lansia, yang juga
merupakan faktor penting me-ningkatkan indek pembangunan manusia
(IPM), yang bercirikan peningkatan kesehatan, sehingga dapat
meningkatkan angka harapan hidup secara terus menerus. Sebab peningkatan
angka harapan hidup merupakan salah satu indikator keberhasilan
pembangunan kesehatan. Oleh sebab itu agar angka harapan hidup
masyarakat Indonesia terus meningkat maka masalah kerawanan gizi
harus menjadi perhatian.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
      Berdasarkan hasil penelitian tingkat konsumsi gizi berkaitan
dengan kecukupan gizi yang dibutuhkan dalam mempertahankan
kesehatan lansia menunjukan bahwa Perilaku makan sampel 51.4%
makan baik, 43.7% berperilaku makan cukup dan hanya 4.9% yang
berperilaku makan kurang baik, sedangkan komsumsi makan berkaitan
dengan kecukupan Gizi adalah baik dengan menggunakan indikator
frekuensi makan 3 kali 74.31%, 24% kebiasaan makan 2 kali/hari dan
hanya 1.6% yang kebiasaan makannya 1 kali/hari. Perilaku makan sayur
lebih baik dari pada makan buah, sebab 73.8% sampel tiap hari makan
sayur, sedangkan makan buah yang tiap hari hanya 47.56%. Perilaku
makan dengan lauk dilakukan 3-5 kali/minggu yang berasal dari hewani
adalah relatif sedikit (50%), dibandingkan dengan makanan lauk yang
berasal dari nabati (tahu, tempe) lebih tinggi 94%. Namun prilaku makan
yang baik tersebut tidak didukung oleh pengetahuan gizi yanag baik.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Tingkat pengetahuan
gizi berkaitan dengan perilaku makan pada lansia adalah 57.9%) rendah.
Alasan kesehatan sebagai pencetus perubahan prilaku makan bagi lansia.
Saran
      Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan perlu dilakukan
upaya peningkatkan pengetahuan gizi praktis pada lansia, sehingga pola
makan yang dilakukan tidak hanya berdasarkan kebiasaan, tetapi
berdasarkan pengetahuan gizi yang baik. Selain itu nilai kecukupan gizi
dan keanekaragaman unsur gizi merupakan masalah yang sangat penting
untuk itu pengaturan pola makan pada lansia harus menjadi perhatian,
sehubungan dengan mulai menurunnya kebutuhan kalori dan fisiknya.
Upaya meningkatkan minat lansia untuk bergabung ke posyandu
diperlukan program yang bersifat inovatip dan menarik, sehingga mampu
mendorong pola hidup sehat pada lansia. Mengingat penelitian ini hanya
mengungkap subtansi pola makan, kebiasaan dan kecukupan gizi lansia,
memperlukan penajaman indikator untuk mengungkap perangizi dalam
menjaga kesehatan dari parameter sel dan fungsi fisiologis lansia, yang
dikaitkan dengan aktivitas fisik atau pola aktivitas yang dilakukan lansia.
                          DAFTAR RUJUKAN


Astawan, M. dan M. Wahyuni. 1988. Gizi dan Kesehatan manula.
      Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Depkes. 1998. Kebijakan Program Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia
      Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Direktorat Pembinaan Kesehatan
      Masyarakat. Jakarta.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI, 1991. Petunjuk Menyusun
      Menu bagi Usia Lanjut. Departemen Kesehatan, Jakarta.
Fatimah, 2000. Gizi pada Usia Lanjut. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
      Lanjut). Fakultas Kedokteran UI Jakarta.
Geogfrey P,W. and Copeman J. 1996. The Nutrition of Older Adult.
      Arnold. London.
Hardinsyah, B. Setiawan, & Y. Baliwati. 1987. Pola konsumsi pangan
      pokok penduduk dan desa berdasarkan strata ekonomi di Pulau
      Jawa. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Bogor.
Harper, L.J., B.J. Deaton, & J.A. Driskel, 1986. Pangan, Gizi dan
      Pertanian, (Suhardjo, penerjemah) UI-Press, Jakarta.
Hartono, Andry. 1991. ―Gizi bagi Manula‖, Kompas, 18 Agustus.
Heryudarini, H., A. Irawati, D. Santi, Sihadi & M.A. Husaini. 1991. Profil
      keadaan gizi usila di DKI Jakarta dan Yogyakarta. Penelitian Gizi
      Makanan 14:49-59. Puslitbang Gizi. Departemen Kesehatan R.I.
      Bogor.
Horwarth, C., A.K. Blazos, G.S. Savige, & M.L. Wahlqvist. 1999. Eating
      Your Way to A Successful Old Age, With Special Reference to
      Older Women. Asia Pasific Journal Clinical Nutrition. 8(3): 216--
      225.
Khomsan Ali, 2003. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Raja Grafido
      Persada. Jakarta.
Khumaidi, M. 1989. Gizi Masyarakat. Gizi Masyarakat, Pusat Antar
      Universitas Pangan dan Gizi IPB, Bogor.
Kinsella, K & Tauber, 1993. An Aging World II. Washington DC:
      International Population Report. US, Bureau of The Census.
Kompas, 2004. Angka Gizi Buruk Stagnan Selama 10 Tahun Terakhir.
      Kompas Kamis 5 Februari 2004 hal 1.
Nasoetion, A & D. Briawan. 1993. Makanan bergizi kelompok usia
      lanjut. Laboratorium Gizi Masyarakat, Pusat Antar Universitas
      Pangan dan Gizi, IPB, Bogor.
Oswari, E. 1997. Menyongsong usia lanjut dengan bugar dan bahagia.
      Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Prawitasari, J.E. 1993. Aspek sosio-psikologis usia lanjut di Indonesia.
      Bulletin Penelitian Kesehatan.
Schlenker, E, D. 1996. Nutrition and the Aging Adult. Nutritin
      Throughout the Life Cycle, 3 edition. Mosby Years Book. St
      Louis.
Sediaoetama, A.D. 1991. Ilmu Gizi. Dian Rakyat, Jakarta.
Shintadewi. 1995. Kebiasaan makan, gaya hidup, stres dan keadaan
      kesehatan pria lanjut usia. Skripsi yang tidak dipublikasikan,
      jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas
      Pertanian Bogor, IPB Bogor.
Suhardjo. 1998. Sosio Budaya Gizi. Gizi Masyarakat, Pusat Antar
      Universitas Pangan dan Gizi, IPB Bogor.
Susanto D,1993. Prospek Pengembangan Makanan Tradisional Rayat
      Indonesia. Seminar pangan tradisonal dalam rangka
      penganekaragaman pangan Jakarta.
Winarno FG,1989. Gizi dan Makanan. Bagi bayi dan anak sapihan.
      Pustaka Sinar harapan, Jakarta.
Wirakusumah, E, S. 2000. Tetap Bugar di Usia Lanjut. Trubus
      Agriwidya. Jakarta.
      Karakterisasi Keausan Abrasif Lapisan
         Karburasi Baja Karbon Rendah

                               Heru Suryanto
                                 Wahono


      Abstract: Research objectives are to know the influence of
      composition of carburizing medium of charcoal and barium
      carbonate to hardness and abrasive wear of low carbon steel and
      the influence of variation of carburizing temperature to hardness
      and wear of low carbon steel at various composition mixture of
      both charcoal and barium carbonate. Specimens are low carbon
      steel (C=0,158%) with dimension 18x20x2,3 mm. Independent
      variables are carburizing temperature of 850°C, 900°C and 950°C,
      and the addition of Barium Carbonate (BaCO3) of 0%, 20%, 25%
      and 30% weight. Hardness test use a Vickers method with burden
      of 1 kg, while the abrasives wear test use a abrasives paper of
      silicon carbida no.800 with wear force of 200g. The result of
      hardness test indicate that the addition of barium carbonate equal
      to 20% weight give the highest surface hardness. For carburizing
      temperature of 850°C, 900°C, and 950°C through hardening
      treatment successively give hardness of 593, 867, and 861 kg/mm 2
      and improvement of hardness compared to raw material equal to
      456%, 667%, and 662% respectively. Raising carburizing
      temperature increase effective thickness of carburizing layer of
      250mm, 300mm,dan 65mm by carburizing temperature of 850°C,
      900°C and 950°C respectively. The thickness of carburizing layer
      visible through the microstructure, with colour change gradually
      from dark to light at surface to a certain deepness of metal surface.
      The abrasive wear test result shows that the highest wear resistant
      obtained by addition of barium carbonate equal to 20% weight.
      Key words: carburizing, hardness, abrasive wear, barium
      carbonate addition

Heru Suryanto dan Wahono adalah dosen Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri
Malang
         Pada saat ini besi dan baja merupakan bahan logam yang paling
banyak digunakan sebagai bahan industri. Keunggulan baja terletak pada
sifat-sifatnya seperti kekerasan, keuletan, elastisitas, plastisitas, dan
harganya relatif murah. Dari beberapa sifat fisik diatas, kekerasan
merupakan sifat yang sangat dipertimbangkan dalam perencanaan
konstruksi khususnya yang berhubungan dengan bagian-bagian mesin
yang bergerak dan bergesekan yang akan menimbulkan keausan pada
permukaan logam.
       Stactowiac dan Batchelor (2002) mendefinisikan keausan sebagai
perubahan dimensi secara kumulatif yang tidak diinginkan akibat
pengkikisan secara bertahap dari partikel pada permukaan kontak dalam
gerak meluncur, terutama sebagai hasil dari aksi mekanik. Keausan
merupakan faktor penting dalam kemerosotan fungsi permesinan dengan
komponen-komponen yang bergerak, sering membatasi umur pakai dan
performance berbagai komponen. Perpendekan umur pakai ini
meningkatkan biaya perbaikan dan perawatan. Menurut Rabinowicz
(1995), kegagalan suatu komponen mesin 70% disebabkan oleh
kerusakan pada permukaan logam yang meliputi keausan (55%) dan
korosi (15%) dan mekanisme keausan yang dominan adalah keausan
adesif (25%) dan abrasif (20%), sedangkan sisanya disebabkan oleh
mekanisme keausan yang lain. Mengingat keausan adalah penyebab
dominan kegagalan fungsi mesin maka perlu usaha meningkatkan sifat
ketahanan aus, diantaranya melalui pengerasan permukaan.
       Bataev (1996) mengemukakan bahwa dengan meningkatnya
kekerasan baja yang diperoleh melalui metode perlakuan panas maka
laju keausan akan menurun. Demikan pula Sorokin (1998) menunjukkan
kandungan karbon berpengaruh banyak terhadap ketahanan aus dari baja.
Ini dijelaskan melalui tempering temperatur rendah dari baja dengan
struktur martensit akan meningkatkan ketahanan aus baja dengan
meningkatnya kandungan karbon. Ketahanan aus meningkat dengan
bertambahnya kekuatan logam dan menurun dengan berkurangnya
keliatan logam. Baja yang memiliki kekuatan tarik, titik luluh, atau
kekuatan geser yang sama, memiliki ketahanan aus yang berbeda. Ini
menunjukkan bahwa karakteristik mekanis tunggal tidak dapat dijadikan
kriteria utama dari ketahanan aus material.
       Baja karbon rendah memiliki penggunaan yang luas dalam bidang
konstruksi dan dikelompokkan kedalam baja yang dapat diolah dengan
permesinan (machinery steel). Kelemahan yang menonjol dari bahan ini
adalah nilai kekerasannya yang rendah dan jenis kegagalan yang sering
terjadi pada bahan baja karbon rendah adalah: (1) keausan, (2)
deformasi, (3) rompal, dan (4) pecah. Untuk mengatasi kelemahan ini
maka perlu dilakukan pengerasan permukaan sehingga baja tersebut
memiliki kekerasan dan ketahanan aus yang lebih baik, khususnya untuk
elemen mesin yang saling bergesekan.
       Pengerasan permukaan diantaranya dapat dilakukan dengan
meningkatkan kadar karbon yang dimiliki baja dipermukaannya melalui
proses karburasi. Proses karburasi diperuntukkan pada baja karbon
rendah, akan tetapi proses ini dapat pula diterapkan untuk baja karbon
menengah (Ariobimo, 2001). Proses karburasi dilakukan dengan
memasukkan baja ke dalam kotak tertutup yang diisi dengan bahan
sumber karbon (arang kayu, briket, kokas) dan ditambahkan dengan zat
pengaktif karbon seperti barium karbonat dan natrium karbonat pada
komposisi tertentu kemudian dipanaskan antara temperatur 850-950ºC
(temperatur austenit), ditahan selama waktu tertentu kemudian
didinginkan, dan selanjutnya dilakukan proses pengerasan (hardening).
       Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kekerasan dari baja
karbon rendah antara lain: kandungan karbon/paduan dari substrat, suhu
karburasi, waktu penahanan, bahan sumber karbon, dan penambahan zat
pengaktif karbon. Berkaitan dengan hal tersebut, maka penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu karburasi terhadap
kekerasan dan keausan abrasif baja karbon rendah ST37.


METODE
Spesimen Penelitian
      Bahan penelitian berupa baja karbon rendah jenis ST37 bentuk
strip yang diperoleh dari pasar. Spesimen dibentuk kubus ukuran
23x18x3,2 mm. Sebagai bahan sumber karbon untuk melakukan
karburasi digunakan arang kayu yang ditumbuk sehingga menjadi
butiran-butiran halus dan sebagai bahan pengaktif karbon sebanyak berat
media arang kayu digunakan Barium Karbonat (BaCO3) dengan
spesifikasi penggunaan untuk skala teknis
Rancangan Penelitian
       Rancangan penelitian yang digunakan penelitian eksperimental
laboratorium dengan variabel penelitian antara lain: (1) Variabel terikat:
karakteristik keausan abrasif baja hasil karburasi, yaitu jumlah berat
spesimen yang hilang setelah mengalami pengausan selama kurun waktu
tertentu, (2) Variabel bebas: variasi temperatur karburasi dengan 3
macam variasi, yaitu: 850 C, 900 C dan 950 C, Penambahan Barium
Karbonat sebesar 0%, 20%, 25%, dan 30% berat arang karburasi, (3)
Variabel kontrol: dimensi spesimen, beban gesek, dan putaran roda
penggesek, media pendingin air, dan waktu tahan proses karburasi


Peralatan yang Digunakan
      Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah dapur
karburasi, dengan skala temperatur sampai 1150 C, alat uji kekerasan
mikro metode Vickers dengan skala pembebanan 10g - 1000g, alat uji
keausan abrasif, kertas abrasif silikon karbida no 120 sampai dengan
1200, alat polishing, timbangan digital dengan ketelitian sampai dengan
0,1 mg.


Prosedur Pengambilan Data
      Pengambilan data dilakukan melalui persiapan sampel dengan
membentuk bahan sesuai dengan ukuran yang ditetapkan selanjutnya
permukaannya digosok dengan menggunakan kertas abrasif mulai nomor
120 sampai 1000 mesh, kemudian dipolish dengan autosol sampai
berkilat.
      Setelah bahan disiapkan selanjtnya dilakukan proses karburasi
dengan prosedur: melakukan penimbangan serbuk karbon sebanyak 55
gram kemudian media karburasi serbuk arang kayu ditambahkan dengan
Barium Karbonat sebesar 0%, 20%, 25%, dan 30% dari berat arang kayu
dan tiap kelompok perlakuan ditambahkan Kalsium Karbonat sebesar
3% dari berat arang kayu. Selanjutnya media dicampur dan diaduk-aduk
sehingga pencampurannya menjadi homogen atau merata. Benda uji
dikelompokkan sesuai dengan rancangan percobaan selanjutnya tiap
kelompok benda uji dimasukkan kedalam kotak karburasi dan menyusun
sedemikian rupa dalam kotak plat baja yang berisi campuran media
karburasi, kemudian menutupnya dengan plat baja kemudian pada celah-
celah kotak ditutup dengan tanah liat. Selanjutnya masukkan kotak
spesimen dalam dapur pemanas selanjutnya temperatur dapur dinaikkan
sampai dengan temperatur 200 C kemudian ditahan selama 10 menit
untuk pemanasan dapur, selanjutnya dinaikkan lagi sampai temperatur
700 C dan ditahan selama 5 menit agar temperatur didalam kotak
karburasi merata kemudian temperatur dinaikkan sesuai dengan
temperatur karburasi yang ditentukan dan diholding selama 2 jam.
Setelah waktu holding berakhir, dapur dimatikan dan pendinginan kotak
karburasi dilakukan dalam dapur. Setelah dingin kotak dikeluarkan dari
dapur dan dilakukan pembongkaran spesimen.
       Perlakuan selanjutnya adalah proses pengerasan yang dilakukan
dengan memanaskan kembali spesimen sampai dengan temperatur
860 C, ditahan 20 menit kemudian di quenching dalam media air.
Spesimen yang mengalami karburasi, pengerasan dengan penemperan
dibersihkan sehingga siap untuk diuji.
       Uji kekerasan mikro dilakukan dengan menggunakan skala
Vickers dengan pembebanan 1 kg dan waktu pengujian selama 10 detik.
Spesimen yang telah diresin digosok pada bagian tepinya dengan kertas
abrasif no 120 sampai dengan no 1000 selanjutnya dipolish hingga
berkilat. Pengujian kekerasan dilakukan mulai dari tepi luar dengan jarak
50 m selanjutnya pengujian dilakukan dengan jarak 100 m. Pengujian
kekerasan dilakukan pada spesimen karburasi, spesimen hardening, dan
spesimen hardening dan tempering
       Uji Keausan dilakukan dengan mesin uji aus abrasif dengan kertas
abrasif silikon karbida no. 800, beban pengaus 200 gr, putaran disk 800
rpm, kecepatan geser spesimen 0,14 m/menit dan lama pengujian 30
detik. Tiap permukaan spesimen diuji dengan 2 kali pengulangan.


HASIL
      Metode yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian adalah
metode deskriptif komparatif, yaitu data diolah dalam bentuk table dan
grafik dengan program Microsoft Excel selanjutnya diamati dan
dibandingkan karakteristik kekerasan mikro, ketebalan lapisan dan
keausan. Metode analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk analisa
struktur mikro yang dihasilkan pada setiap proses yang dilakukan.
      Variasi penambahan barium karbonat pada media karburasi
memberikan nilai kekerasan yang berbeda. Pada karburasi suhu 850 C,
900 C, dan 950 C yang dilanjutkan dengan proses pengerasan, untuk
penambahan barium karbonat kedalam media karburasi sebesar 0%
berturut-turut memberikan kekerasan permukaan sebesar 469, 401, 746
kg/mm2 (Gambar 1), penambahan barium karbonat sebesar 20% berturut-
turut memberikan kekerasan permukaan sebesar 593, 867, 858
kg/mm2(Gambar 2), penambahan barium karbonat sebesar 25% berturut-
turut memberikan kekerasan permukaan sebesar 535, 817, 861 kg/mm2
(Gambar 3) dan penambahan barium karbonat sebesar 30% berturut-turut
memberikan kekerasan permukaan sebesar 490, 835, 792 kg/mm2
(Gambar 4).

                      900
                      850
                                                                                           950C
                      800
                      750                                                                  900C
                      700
   Kekerasan (HV 1)




                      650                                                                  850C
                      600
                      550
                      500
                      450
                      400
                      350
                      300
                      250
                      200
                            0   100   200   300   400   500   600   700   800   900   1000 1100 1200
                                              Jarak dari permukaan (mikro meter)




Gambar 1 Kekerasan lapisan karburasi temperatur 850 C, 900 C, dan 950 C pada
         penambahan BaCO3 sebesar 0% melalui proses pengerasan temperatur
         860 C dengan media quenching air
                       900
                       850                                                   950C   900C
                       800
                       750                                                   850C
     Kekerasan (HV1)
                       700
                       650
                       600
                       550
                       500
                       450
                       400
                       350
                       300
                       250
                       200
                             0   100 200 300 400 500 600 700 800 900 100 110 120
                                                                      0   0   0
                                        Jarak dari permukaan (mikro meter)

Gambar 2 Kekerasan lapisan karburasi suhu 850 C, 900 C, dan 950 C pada
         penambahan BaCO3 sebesar 20% melalui proses pengerasan
         temperatur 860 C dengan media quenching air



                       900                                                      950C
                       850
                       800                                                      900C
                       750
     Kekerasan (HV1)




                       700                                                      850C
                       650
                       600
                       550
                       500
                       450
                       400
                       350
                       300
                       250
                       200
                             0   100 200 300 400 500 600 700 800 900 100 110 120
                                                                      0   0   0
                                        Jarak dari permukaan (mikro meter)

Gambar 3 Kekerasan lapisan karburasi suhu 850 C, 900 C, dan 950 C
         pada penambahan BaCO3 sebesar 25% melalui proses
         pengerasan temperatur 860 C dengan media quenching air
                    900
                    850                                                      950C
                    800                                                      900C
                    750
                    700                                                      850C
  Kekerasan (HV1)


                    650
                    600
                    550
                    500
                    450
                    400
                    350
                    300
                    250
                    200
                    150
                    100
                          0   100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200
                                     Jarak dari perm ukaan (m ikro m eter)

Gambar 4 Kekerasan lapisan karburasi suhu 850 C, 900 C, dan 950 C pada
         penambahan BaCO3 sebesar 30% melalui proses pengerasan
         temperatur 860 C dengan media quenching air



      Hasil pengujian keausan dilakukan pada lapisan karburasi yang
telah melalui proses pengerasan ditunjukkan oleh Gambar 5. Pengujian
raw material memberikan laju keausan sebesar 61,2 mg/menit. Uji
keausan terhadap lapisan karburasi suhu 850 C dengan penambahan
barium karbonat sebesar 0%, 20%, 25%, dan 30% berturut-turut
memberikan laju keausan sebesar 35,3 mg/menit, 21,2 mg/menit, 33,5
mg/menit, dan 29,8 mg/menit. Laju keausan terendah diperoleh pada
penambahan barium karbonat pada media karburasi sebesar 20% dengan
laju keausan sebesar 21,2 mg/menit dan peningkatan ketahanan terhadap
keausan sebesar 289%.
      Uji keausan terhadap lapisan karburasi suhu 900 C dengan
penambahan barium karbonat sebesar 0%, 20%, 25%, dan 30% berturut-
turut memberikan laju keausan sebesar 31 mg/menit, 18,3 mg/menit,
19,2 mg/menit, dan 19,8 mg/menit. Laju keausan terendah diperoleh
pada penambahan barium karbonat pada media karburasi sebesar 20%
dengan laju keausan sebesar 18,3 mg/menit dan peningkatan ketahanan
terhadap keausan sebesar 334%.
        Uji keausan terhadap lapisan karburasi suhu 950 C dengan
penambahan barium karbonat sebesar 0%, 20%, 25%, dan 30% berturut-
turut memberikan laju keausan sebesar 21,7 mg/menit, 7,5 mg/menit, 21
mg/menit, dan 21,1 mg/menit. Laju keausan terendah diperoleh pada
penambahan barium karbonat pada media karburasi sebesar 20% dengan
laju keausan sebesar 7,5 mg/menit dengan peningkatan ketahanan
terhadap keausan sebesar 816%.

                            45
                            40
  Laju keausan (mg/menit)




                            35
                            30
                            25
                            20
                                                                                     0% BaCO3
                            15
                                                                                     20% BaCO3
                            10
                                                                                     25% BaCO3
                            5
                                                                                     30% BaCO3
                            0
                             850   860   870   880   890   900   910   920   930   940   950   960
                                                 Temperatur karburasi (C)
Gambar 5 Laju keausan abrasif lapisan karburasi temperature 850, 900, dan 950ºC
         pada penambahan barium karbonat sebesar 0%, 20%, 25%, dan 30%
         dengan variasi suhu karburasi melalui proses pengerasan dan
         tempering selama 1 jam (laju keausan dari raw material adalah 61,2
         mg/menit)


BAHASAN
     Proses karburasi bertujuan untuk meningkatkan kadar karbon pada
permukaan baja. Dengan meningkatnya kandungan karbon dari baja
maka sifat mampu kerasnya menjadi semakin baik dan dengan perlakuan
hardening maka kekerasan dari lapisan hasil karburasi menjadi
meningkat. Peningkatan kadar karbon dalam proses ini berlangsung
dengan cara difusi. Agar proses difusi dapat berlangsung dengan lebih
cepat dan penetrasi atom karbon cukup dalam maka diperlukan
pengayaan atom karbon pada permukaan baja yang dikarburasi dengan
cara mengaktifkan atom karbon dari sumber atom karbon (arang) melalui
penggunaan senyawa kimia karbonat dan peningkatan suhu karburasi.
Pengayaan atom karbon ini akan meningkatkan karbon potensial yang
berpengaruh pada proses difusi.
      Senyawa karbonat seperti kalsium karbonat dan barium karbonat
akan terurai pada temperatur 700 C menghasilkan barium oksida
ataupun kalsium oksida dan menghasilkan gas CO2 yang selanjutnya gas
ini akan bereaksi dengan karbon dari media karburasi untuk
menghasilkan gas CO dan menjadikan atom karbon sebagai spesies aktif
yang akan berdifusi kedalam permukaan baja yang dikarburasi.
      Hasil penelitian memberikan kekerasan quench tertinggi lapisan
karburasi pada penambahan barium karbonat sebesar 20% berat sumber
karbon berturut-turut adalah sebesar 593, 867, dan 858 kg/mm2 untuk
karburasi temperatur 850 C, 900 C dan 950 C. Penambahan barium
karbonat pada media karburasi sebesar 25% dan 30% berat sumber
karbon menunjukkan kecenderungan penurunan kekerasan lapisan
permukaan. Ini menunjukkan kondisi penambahan barium yang lebih
tinggi tersebut tidak menghasilkan difusi atom karbon kedalam logam
dengan lebih baik sehingga kekerasannya menjadi menurun. Hal ini
diduga karena kalsium oksida dan barium karbonat pada suhu tinggi
bereaksi dengan atom karbon dari arang sehingga membentuk karbida,
dengan persamaan reaksi (Keenan, 1989):
       CaO + 3C                       CaC2 + CO
       BaCO3 + 4C                     BaC2 + CO2 + CO
      Jadi dengan reaksi diatas tampak bahwa unsur kalsium dan barium
menyerap atom karbon dari arang sehingga dapat menurunkan jumlah
atom karbon aktif saat proses difusi. Hal ini merupakan kondisi yang
saling bertentangan dengan fungsi karbonat sebagai penyuplai gas CO2
dan pengaktif atom karbon. Akibat penyerapan atom karbon dari arang
ini maka karbon potensial pada permukaan menjadi berkurang sehingga
proses difusi tidak maksimal.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penambahan barium
karbonat dalam media karburasi sebesar 20% berat arang menghasilkan
kekerasan permukaan yang terbaik. Bila dibandingkan dengan penelitian
Syamsuir (2002) yang menunjukkan bahwa penambahan barium
karbonat sebesar 10% pada arang kayu pada suhu 925 C melalui
tempering 200 C selama 1 jam memberikan kekerasan permukaan
sebesar 475 kg/mm2 maka penambahan barium karbonat sebesar 20%
berat pada suhu karburasi 900 C memberikan kekerasan permukaan
yang lebih baik yaitu sebesar 650 kg/mm2. Dengan perbandingan hasil
kekerasan ini dapat diduga bahwa kondisi optimum penambahan barium
karbonat adalah 20% berat sumber karbon.
       Kekerasan quench permukaan luar yang mampu dicapai pada
karburasi temperatur 850 C dan 900 C adalah setara untuk karburasi
dengan penambahan barium karbonat sebesar 0% (Gambar 1) sedangkan
kekerasan quench permukaan hasil karburasi temperatur 900 C
meningkat setara dengan kekerasan quench permukaan hasil karburasi
temperatur 950 C setelah adanya penambahan barium sebesar 20%,
25%, dan 30% (Gambar 2, Gambar 3, dan Gambar 4). Ini memberikan
implikasi bahwa dengan adanya penambahan barium karbonat tersebut
maka proses karburasi dapat dilakukan pada temperatur karburasi yang
lebih rendah.
       Peningkatan kekerasan dari lapisan karburasi terjadi akibat
perubahan struktur menjadi martensit setelah didinginkan cepat dari
temperatur tinggi (temperatur austenit) sampai temperatur kamar.
Martensit merupakan struktur yang sangat keras dimana karbon yang
sebelumnya berada dalam larutan padat dalam austenit tetap dalam
larutan padat dalam phase yang baru, akan tetapi terkadang ada sejumlah
austenit yang tidak bertransformasi membentuk martensit, yang disebut
austenit sisa (retained austenite). Kekerasan martensit berkisar antara
500-1000 kg/mm2 tergantung pada kandungan karbonnya (Haneycombe,
1995). Setelah mengalami penemperan struktur martensit yang kurang
stabil akan berubah menjadi martensit temper yang lebih stabil yang
terdiri dari struktur ferit dan karbida.
       Peningkatan proses masuknya atom tentunya berkaitan dengan
perubahan struktur mikro dari baja pada suhu tinggi. Pada suhu 850 C,
dengan kandungan karbon spesimen sebesar 0,158% maka berdasarkan
diagram keseimbangan besi-karbon maka struktur yang terbentuk adalah
30% ferit dan 70% austenit sehingga atom karbon yang mampu larut
kurang optimal karena terdapat struktur ferit yang memiliki kelarutan
atom karbon yang rendah (0,02% berat pada suhu 723 C). Pada suhu
900 C dan 950 C, fase dari baja adalah sepenuhnya austenit dengan
kelarutan atom karbon yang tinggi (0,8% berat pada suhu 723 C)
sehingga kedalaman masuknya atom karbon menjadi lebih baik.
Berdasarkan kedalaman efektif lapisan karburasi (batas kekerasan 513
kg/mm2) dapat diketahui bahwa kandungan karbon permukaan lapisan
karburasi sudah melebihi 0,53% (Boyer dan Gall, 1985).
       Hasil pengujian keausan menunjukkan bahwa kekerasan lapisan
tertinggi menghasilkan ketahanan aus yang baik. Laju keausan terendah
diperoleh pada penambahan barium karbonat sebesar 20% untuk
karburasi suhu 850 C, 900 C dan 950 C berturut-turut adalah 21,2
mg/menit, 18,3 mg/menit dan 7,5 mg/menit. Bila dikaitkan dengan
kekerasan lapisan karburasi yang dihasilkan pada kondisi yang sama
menunjukkan bahwa peningkatan kekerasan lapisan karburasi akan
menghasilkan ketahanan aus yang lebih baik yang disebabkan oleh
struktur martensit yang keras dan juga akibat adanya retained austenite
pada matriks martensit. Menurut Haneycombe (1995) bahwa pada baja
karbon martensitik, retained austenite bisa mencapai 6% untuk baja
dengan kandungan 0,8% berat atom karbon dan lebih dari 30% untuk
baja dengan kandungan 1,25% berat atom karbon. Dijelaskan oleh Silva
(1998) bahwa spesimen dengan retained austenite sebesar 32% dan 35%
pada lapisan karburasi menunjukkan kekerasan relatif tinggi, performan
keausan yang lebih baik dan umur lelah (fatigue live) yang lebih besar.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa perbaikan performan keausan dikaitkan
oleh efek hardening dari retained austenit dan regangan yang disebabkan
kemampuan dari retained austenite bertransformasi menjadi martensit
selama proses abrasi. Hanya saja, jumlah berlebih retained austenite
pada lapisan karburasi akan menurunkan ketahanan terhadap keausan.
Hasil ini selaras dengan penelitian Bataev (1996) yang menunjukkan
bahwa peningkatan kekerasan bahan akan meningkatkan ketahanan
terhadap keausan.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
      Dari hasil penelitian dapat dibuat kesimpulan bahwa: (1)
penambahan variasi penambahan barium karbonat dalam media
karburasi menghasilkan perbedaan kekerasan dan ketahanan aus dengan
penambahan barium karbonat yang terbaik pada penelitian ini adalah
sebesar 20% dengan peningkatan kekerasan permukaan tertinggi sebesar
667% dan peningkatan ketahanan terhadap keausan mencapai 816%, (2)
Peningkatan temperatur karburasi akan membawa dampak pada
peningkatan kedalaman efektif lapisan karburasi yang maksimum
mencapai 650 m pada temperatur karburasi 950 C dan juga
menghasilkan laju keausan minimum mencapai 7,5 mg/menit pada
temperatur karburasi 950 C.


Saran
      Untuk menyempurnakan penelitian ini maka saran-saran yang
perlu dipertimbangkan antara lain bahwa diperlukan lagi lebih banyak
variasi penambahan barium karbonat untuk menentukan kondisi yang
paling optimal,disamping itu perlu juga dilakukan pengukuran
kandungan karbon pada tiap-tiap kedalaman lapisan karburasi.
                        DAFTAR RUJUKAN


Ariobimo, R.D.S. 2001. Pengaruh Media Sementasi Terhadap
       Peningkatan Kadar Karbon Pada Baja ASSAB760, J. Teknik
       Mesin Usakti, Vol 3 No. 2, 121--128. Jakarta.
Bataev, A.A., dan Tushinskii, L.I. 1996. Effect of the Ferrite-Cementit
       Structure on the Rate of Abrasion Wear in Steel, Metal Science
       and Heat Treatment. 38: (1-2), pp262--264.
Boyer, H.E. and Gall, T.L. 1985. Metal Hand Book, Desk Edition, Ohio:
       ASM
Hasan, M., I. 2006. Rancang Bangun Mesin Uji Aus Abrasif. Skripsi.
       Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Tidak dipublikasikan.
Jisheng, E. 1999. Effect of Thermochemical Treatment on the Sliding
       Wear Mechanism of Steel under Boundary Lubrication. Tribology
       Transaction, Vol 42:3, 626--632.
Keenan, Klenfielter, Word, 1989, Kimia Untuk Universitas Jilid ke-2,
       edisi ke-6, alih bahasa A. Hadyana Pudjaatmaka, Jakarta: Erlangga
Rabinowicz, E.1995. Friction and Wear of Material. Singapore: John
       Willey & Sons, Inc.
Silva, V.F., Canale, L.F., Spinel, D., Filho, W.W.B., Crnkovic, O.R.
       1999. Influence of Retained Austenite on Short Fatigue Crack
       Growth and Wear Resistance of Case Carburized Steel. Journal of
       Materials Engineering and Performace 8:543--548.
Sorokin, G.M., dan Bobrov, S.N. 1998. Fundamental Principles for
       Choosing Steels on the asis of Result of Wear Test. Metal Science
       and Heat Treatment. 40:(1-2), pp76--78.
Stactowiac,G.W dan Batchelor, A.W. 2002. Engineering Tribology.
       London: Butterworth Heinemann
Syamsuir. 2003. Pengaruh Karburasi Terhadap Kekerasan Baja
       DIN15CrNi6 (MS.7210), Thesis, Yogyakarta: UGM,
   Skenario Kebijakan Dampak Liberalisasi
  Perdagangan Terhadap Ketahanan Pangan:
        Studi Pada Komoditas Jagung

                               Edi Darmono
                               Evi Maharani


      Abstract: This research aims to: (a) Construct an econometric
      model of maiz food security in liberalization era; (b) Analyze
      determinant factors affecting efforts to increase food security of
      maize commodity from production side, export, import, price and
      demand; (c) Analyze economic impact of trade liberalization on
      effort to increase food security of maize commodity from
      production side, export, import, price and demand. The data used
      was time series data of 1970 to 2002. Linkage of trade
      liberalization on food security was analyzed used 2SLS
      simultaneous econometric model. The simulation technique was
      used to formulate policy which have positif impact on food security
      includes: Trade liberalization on Indonesia‘s maize commodity;
      increase of 50% of agriculture investation; increase of 50% of
      agriculture credit; increase of 30% of fertilizer subsidy;
      combination of b and d; combination of c and d.
      Key words: Policy scenario, trade liberalizaton, food security


Peran sektor pertanian sebagai penghasil pangan menjadi semakin
krusial karena merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam pemenuhan
aspirasi humanistik sehingga pangan harus tersedia secara memadai, adil
dan merata (Wibowo, 2000). Akhir-akhir ini muncul kerisauan seiring
dengan menurunnya kemampuan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan
pangan terkait dengan pertumbuhan permintaan yang lebih cepat dari
produksi.
Edi Darmono dan Evi Maharani adalah dosen Jurusan Ekonomi Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru
       Pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, daya beli dan
perubahan selera, menjadi daya dorong peningkatan permintaan pangan,
tidak hanya kuantitas tetapi juga kualitas dan keragamannya. Impor
merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan, namun bukan
langkah bijak. disamping terbatasnya devisa, juga karena ketidakstabilan
jumlah dan harga di pasar internasional mengingta pasar pangan dunia
bersifat thin market sehingga impor dikhawatirkan memaksa Indonesia
masuk dalam jerat imported food trap.
       Data statistik dan studi sebelumnya menunjukkan terdapat
permasalahan mendasar yang perlu penanganan serius dalam
pemantapan ketahanan pangan nasional: 1) Penyempitan penguasaan
lahan akibat konversi lahan pertanian pada penggunaan non pertanian
dan fragmentasi lahan; 2) Peningkatan petani gurem dari 9,53 juta pada
tahun 1983 menjadi 10,94 juta pada tahun 1993; 3) Ancaman iklim dan
bencana alam seringkali menjadi kendala serius penyediaan pangan
sehingga harga pangan semakin sulit dijangkau oleh kelompok miskin.
       Persoalan pangan tidak hanya meliputi kebijakan peningkatan
produks, tetapi juga menyangkut aspek konsumsi yang bersifat dinamik
dengan memberi perhatian yang berimbang terhadap diversifikasi
pangan. Apabila situasi internal yang dinamis tersebut tidak diantisipasi
maka keberlangsungan pemenuhan pangan dari produksi domestik sulit
dipertahankan.
       Upaya mempertahankan ketahanan pangan semakin sulit karena
pada masa mendatang dihadapkan pada kondisi ekonomi dunia yang
selalu berubah seiring dengan liberalisasi perdagangan yang
mempengaruhi tatanan ekonomi dunia. Untuk itu diperlukan jalan keluar
dalam mengatasi masalah sehingga penyediaan pangan tidak tergantung
pada impor. Sehubungan itu, maka penelitian bertujuan untuk: (a)
Membangun model ekonometrik ketahanan pangan komoditas jagung
dalam era liberalisasi; (b) Menganalisis determinan penting yang
mempengaruhi upaya peningkatan ketahanan pangan komoditas jagung
dari aspek produksi, ekspor, impor, harga dan permintaan; (c)
Menganalisis dampak ekonomi diberlakukannya liberalisasi perdagangan
terhadap upaya peningkatan ketahanan pangan komoditas jagung ditinjau
dari aspek produksi, ekspor, impor, harga dan permintaan.
KERANGKA KONSEP
      Terdapat paling tidak dua hal penting yang menjadi kunci
ketahanan pangan nasional yaitu ketersediaan (penawaran) dan konsumsi
(permintaan). Penawaran pangan dapat berasal dari produksi domestik
dan impor; sedangkan permintaan merupakan akumulasi permintaan
domestik dan ekspor. Peningkatan ketahanan pangan pada era liberalisasi
sangat ditentukan oleh beberapa determinan penting yang terkait dalam
suatu sistem, diantaranya produksi domestik, impor, ekspor, harga,
konsumsi, dan kebijakan pangan oleh pemerintah maupun negara lain.
Tidak kalah pentingnya liberalisasi perdagangan akan merubah
determinan penting tersebut, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap
sistem ketahanan pangan nasional. Perubahan pada satu komponen akan
merubah komponen lain, terjadi efek balik baik pada periode t maupun
periode t+n.
      Sejalan dengan penurunan produksi dan peningkatan kebutuhan
pangan, pemenuhan kebutuhan impor menjadi hal wajar. Impor, apalagi
untuk komoditas strategis, menjadi sangat riskan, disamping menguras
devisa juga karena pasar dunia sangat tipis, tidak stabil baik jumlah
maupun harganya. Sementara dari sisi produksi, upaya peningkatannya
masih dihadapkan pada berbagai persoalan seperti konversi lahan dan
penurunan kesuburan tanah, sehingga produktivitas menurun. Untuk
mengatasi hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa
kebijakan peningkatan produksi dan kesejahteraan petani seperti
kebijakan dasar, subsidi pupuk, peningkatan intensitas usahatani melalui
penyediaan bantuan kredit, pengembangan teknologi dan penyuluhan
serta pembangunan irigasi. Pada sisi konsumsi, pemerintah berupaya
melindungi konsumen dengan menyediakan pangan murah melalui
intervensi harga dan diversifikasi pangan.
      Harga terbentuk dari keseimbangan penawaran dan permintaan,
sehingga faktor yang mempengaruhi harga dapat didekati dari kedua sisi
tersebut. Era liberalisasi memungkinkan jagung luar negeri bebas keluar
masuk Indonesia sehingga penawaran domestik sangat terpengaruh
karenanya. Sisi lain, pada pasar dunia, Indonesia menghadapi persaingan
ekspor negara lain dimana mereka berupaya             melindungi pasar
domestiknya. Apabila proteksi tersebut dihapus akibat liberalisasi maka
ada dua kemungkinan atas posisi Indonesia di pasar dunia: sebagai net
exportir atau net importir, dimana setiap posisi mempunyai konsekuensi
terhadap upaya peningkatan ketahanan pangan. Perubahan akibat
liberalisasi perdagangan berdampak langsung maupun tidak,saling
mempengaruhi antar variabel dari sisi produksi, impor, ekspor, harga dan
konsumsi.


                                      Masalah INTERNAL


                  Konversi lahan
         Peningkatan jumlah petani gurem                  Pertumbuhan penduduk tinggi
            Kesuburan tanah menurun                            Daya beli meningkat
           Pengurangan subsidi pupuk                   Pangsa pengeluaran pgn meningkat
               Produktivitas rendah                     Diversifikasi pangan belum efektif
          Kebijakan impor pangan murah                      Kebijakan pangan murah
         Keadaan alam/iklim tidak kondusif


                 Produksi jagung                               Permintaan jagung
               cenderung menurun                                meningkat pesat


                                       Defisit pangan:
                                         JAGUNG

                                                                        Devisa langka
       Early warning system              Net impotir                  Thin world market
                                                                       Import food trap

                                       Harga jagung
                                      domestik rendah


                                      Sistem ekonomi
                                     komoditas jagung:
                                      Produksi; Ekspor
                                       Impor; Harga;
                                         Konsumsi




                                     Masalah ke depan:
                                        Liberalisasi
                                       Perdagangan




                                    Ramalan ketahanan
                                     pangan komoditas
                                          jagung
                                                                  Instrumen kebijakan
                                                                       pemerintah
                                          Tujuan:
                                        Peningkatan
                                     ketahanan pangan
                                     komoditas jagung


Gambar 1 Kerangka Pemikiran Keterkaitan Liberalisasi Perdagangan dan Upaya
         Pemantapan Ketahanan Pangan Komoditas Jagung
      Dampak liberalisasi perdagangan bertolak dari perubahan harga
domestik yang menyebabkan berubahnya produksi dan konsumsi
domestik. Untuk negara besar seperti Indonesia, perubahan produksi dan
konsumsi domestik mengakibatkan perubahan penawaran dan
permintaan dunia, interaksi penawaran dan permintaan tersebut merubah
harga dunia. Tahap berikutnya, perubahan harga dunia memberikan
pengaruh terhadap harga domestik dan demikian seterusnya. Beberapa
penjelasan diatas dapat disusun alur pemikiran untuk sampai pada suatu
tujuan peningkatan ketahanan pangan nasional komoditas jagung dalam
diagram kerangka pemikiran (Gambar 1).


METODE
      Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari
berbagai instansi meliputi BPS, Bimas Ketahanan Pangan DEPTAN,
BULOG, FAO, World Bank dan berbagai sumber data di internet. Data
yang digunakan adalah data time series dengan periode tahun 1970-2002.
      Dampak liberalisasi perdagangan terhadap ketahanan pangan
dianalisis dengan membangun model ekonometrika dalam bentuk sistem
persamaan simultan. Perumusan alternatif kebijakan yang memberikan
dampak terhadap ketahanan pangan dilakukan analisis simulasi
kebijakan.
     Teori                              Spesifikasi
  Bukti empiris
    Logika
     Data
                                                              Order
                                        Identifikasi
                                                             condition


                                     Teknik estimasi               2SLS



                                            Estimasi                          Respesifikasi




                                            Evaluasi



                                                        Kriteria
                       Kriteria             Kriteria
                                                        Ekono
                      Ekonomi               Statistik
                                                        metrik




                                                          NO

                                             YES



                                            Validasi

                                                            Aplikasi 1: Perilaku Ekonomi
                                                             Komoditas Jagung dalam
                                                             Sistem Ketahanan Pangan
                                                                      Nasional
                Analisis
            SimulasiKebijakan       Model Ketahanan
                                     Pangan Jagung
                                       Dalam Era
             Variabel Eksogen          Liberalisasi


                                                          Aplikasi 2: Dampak liberalisasi
                                                              perdagangan terhadap
             Analisis Proyeksi
                                                          ketahanan pangan komoditas
                                                                       jagung

                           Hasil Proyeksi




Gambar 2 Bagan Konstruksi Model Liberalisasi Perdagangan Dalam Peningkatan
         Ketahanan Pangan Jagung


1. Kontruksi Model
      Model hipotesis yang dibangun dilakukan analisis dan pengujian
dengan beberapa kriteria teoritis, statistis dan ekonometrik. Jika model
diterima maka dilakukan kalibrasi disesuaikan dengan perubahan dengan
adanya liberalisasi. Untuk mengetahui baik tidaknya daya prediksi model
maka dilakukan validasi dengan beberapa kriteria statistik. Tahapan
konstruksi model disajikan Gambar 2.


2. Spesifikasi Model
     Spesifikasi ekonometrik ketahanan pangan komoditas jagung
Indonesia dibangun dari beberapa persamaan model sebagai berikut:
Luas Areal      : AGUNGt           = a0+a1PGUNGt+a2INVERTt+a3PTDIt+
                                     a4AGUNGLt-1+ei1 ..........................................(1)
Produktivitas   : YGUNGt           = b0+b1KP_IRt+b2PPGUNGt+b3PFAt+
                                     b4YGUNGL + ei2 ...........................................(2)
Produksi        : QGUNGt           = AGUNGt * YGUNGt ....................................(3)
Impor           : MGUNGt           = c0+c1PMGUNGt+c2QGUNGt+c3DGUNGt+
                                     c4MGUNGL+ei3 ............................................................... (4)
Harga Impor     : PMGUNGt          = d0 + d1PWGUNGt + d2RTRIJt + ei4 .............. (5)
                  PMIGUNGt         = PMGUNGt * ERIt/1000 ................................ (6)
Ekspor          : XGUNGt           = e0 + e1PWGUNGt + e2QGUNGt +
                                     e3XGUNGL + ei5 ........................................... (7)
Permintaan      : DGUNGt           = f0 + f1PGUNGt + f2PRASt + f3POPt +
                                     f4GDPRIt + ei6 ............................................... (8)
Harga           : PGUNGt           = g0 + g1PGUNGAt + g2PGUNGAL + ei7 ....... (9)
Harga Petani    : PPGUNGt          = h0 + h1PGUNGt + h2PGUNGL + ei8 .......... (10)
Harga Dunia     : PWGUNGt          = i0 + i1MWGUNGt + i2QWGUNGL + ei9......(11)
Impor Jepang    : MGUNGPANt        = j0 + j1PWGUNGt + j3QGUNGPANt +
                                     j2EFIPANt + ei10 ........................................ (12)
Impor Korea     : MGUNGKORt        = k0 + k1PWGUNGt + k2GDPKORt +
                                     k3POPKORt + k4EFIKORt + e11 .................. (13)
Ekspor Jerman   : XGUNGERt         = l0 + l1PWGUNGt + l2QGUNGERt +
                                     l3EFIGERt + ei2 ............................................ (14)
Ekspor China    : XGUNGCHIt        = m0 + m1PXGUNGCHIt + m2QGUNGCHIt +
                                     m3XGUNGCHL + ei13 ................................ (15)
Ekspor USA      : XGUNGUSAt        = n0 + n1PWGUNGt + n2QGUNGUSAt +
                                     n3POPUSAt + n4XGUNGUSL + ei14 …..….(16)
Ekspor Dunia    : XWGUNGt          =   XGUNGjt …….......................................... (17)
Impor Dunia     : MWGUNGt          =   MGUNGjt.................................................. (18)

dimana:
AGUNGt          =   Luas areal komoditas jagung (ha)
PGUNGt          =   Harga domestik jagung (Rp/Kg)
PPUKt           =   Harga pupuk (Rp/Kg)
KLSt            =   Luas konversi lahan (ha)
Tt               =   Waktu sebagai proksi teknologi
YGUNGt           =   Produktivitas Jagung (ton)
KDITt            =   Kredit pertanian (Rp)
INVt             =   Investasi di bidang pertanian (Rp)
QGUNGt           =   Total produksi jagung (ton)
MGUNGt           =   Impor jagung nasional (ton)
DGUNGt           =   Permintaan domestik jagung (ton)
POPt             =   Jumlah penduduk Indonesia (jiwa)
GDPIt            =   GDP Indonesia (Rp)
ERIt             =   Nilai tukar (Rp/$)
EFIt             =   Nilai tukar mata uang negara eksportir/importir
PWGUNGt          =   Harga dunia jagung ($/kg)
PTGUNGt          =   Harga jagung di tingkat petani (Rp/kg)
NPRGUNGt         =   Nilai restriksi impor jagung (%)
XWGUNGt          =   Total ekspor jagung dunia (kg)
MWGUNGt          =   Total impor jagung dunia (kg)
XGUNGjtt         =   Ekspor jagung oleh negara j (kg)
MGUNGjtt         =   Impor jagung oleh negara j (kg)
MPGUNGt          =   Marjin pemasaran (Rp/kg)
STGUNGt-1        =   Stok jagung tahun lalu (kg)
Koefisien regresi yang diharapkan adalah:
a1, a2, a4 > 0 dan a3 < 0; b1, b2 b4 > 0 dan b3 < 0; c1, c2 < 0 dan c3, c4 > 0; d1, d2 <
0; e1, e2, e3 < 0; f1 < 0 dan f2, f3, f4 > 0; g1, g2 > 0; h1, h2 > 0; i1, i2 < 0; j1 > 0 dan
j2, j3 < 0; k1 < 0 dan k2, k3, k4 > 0; l1, l2, l3 > 0; m1, m2, m3 > 0; n1, n2, n3, n4 > 0.


3. Identifikasi dan Estimasi Model
      Identifikasi dilakukan menggunakan order condition dengan syarat
(Koutsoyianis, 1978). Berdasarkan kriteria order condition dapat dilihat
seluruh persamaan dinyatakan over identified sehingga nilai koefisiennya
dapat diduga dengan baik. Menurut Intriligator (1978) untuk model
simultan yang bersifat over identified estimasi dapat dilakukan dengan
metode 2SLS.


4. Uji Model
      Sebelum model digunakan maka dilakukan uji asumsi klasik,
meliputi uji heteroskedastisitas (menggunakan metode white), uji
multikolinearitas (menggunakan koefisien pearson), uji autokorelasi
(menggunakan statistik DW). Demikian juga dengan uji beberapa
indikator statistik utama dalam pengujian hipotesis seperti uji t, uji F, dan
uji godness of fit (R2) dan uji validitas model (menggunakan indikator
RMSE, Uc, Us, Ur).


5. Skenario Kebijakan
      Simulasi dampak liberalisasi perdagangan terhadap ketahanan
pangan dalam mencari alternatif kebijakan yang memberikan kontribusi
terbaik meliputi beberapa skenario: (a) Liberalisasi perdagangan
komoditas jagung; (b) Peningkatan investasi pertanian 50 persen; (c)
Peningkatan kredit pertanian 50 persen; (d) Subsidi pupuk 30 persen; (e)
Kombinasi peningkatan investasi pertanian 50 persen dan subsidi pupuk
30 persen; (f) Kombinasi peningkatan kredit pertanian 50 persen dan
subsidi pupuk 30 persen.


HASIL
       Berdasar analisis yang dilakukan beberapa kali, diperoleh hasil
akhir yang memenuhi kriteria ekonomi, statistik dan ekonometrik yang
dipersyaratkan. Model ekonometrik ketahanan pangan komoditas jagung
dalam hal ini dibangun dari 18 persamaan, terdiri dari 15 persamaan
model dan 3 persamaan identitas, dengan jumlah variabel sebanyak 44,
terdiri dari 15 variabel endogenus dan selebihnya bersifat eksogenus
Mengenai parameter hasil estimasi untuk setiap model disajikan pada
Tabel 1.
       Nilai F hitung tiap persamaan cukup tinggi dengan nilai terendah
lebih dari 27,362. Demikian juga nilai R2 untuk tiap persamaan sangat
tinggi, berkisar 0.80 sampai 0.90, kecuali persamaan ekspor jagung
Jerman sebesar 0,6161. Nilai t menunjukkan terdapat beberapa variabel
yang secara individual tidak berpengaruh nyata terhadap variabel
endogen pada = 0,05; namun menjadi nyata pada tingkat = 0,20.
Tabel 1 Hasil Analisis Struktural: Areal Tanam Komoditas Jagung
                                                                      Elastisitas
              Variabel                 Parameter      t-hitung
                                                                  Jk. pdk Jk. pjg
 Areal Tanam
 PGUNG (harga jagung)*                         1,305       0,910     0,162     0,966
 INVERT (investasi) ns                         0,006       0,369     0,227     0,134
 PTDI (harga padi) ns                         -0,258      -0,200   -0,295     -0,175
 AGUNGL (areal t-1) ***                        0,831       7,139
 F value = 238,401 (prob>F = 0,0001 ; R-square = 0,9715; DW = 2,859)
 Produktivitas
 KP_IR (Kredit/tingkat bunga) ns               0,000       0,558     0,154     0,125
 PPGUNG (harga jagung petani)***               0,002       1,893     0,294     2,383
 PFA (harga pupuk)***                         -0,001      -1,926   -0,154       -1,252
 YGUNGL (produktifitas t-1)***                 0,876     11,183
 F Value = 191,015 (prob>F = 00001; R-square = 0,9659; DW = 1,436)
 Impor
 PMGUNG (harga impor)ns                       -0,024      -0,658   -0,014     -0,043
 QGUNG (produksi) ns                          -0,017      -0,938   -0,147     -0,443
 DGUNG (permintaan) **                         0,021       1,383     0,214     0,642
 MGUNGL (impor t-1) ***                        0,666       4,433
 F value = 27,362 (prob> F = 1 ; R-square = 0,8021; DW = 2,204)
 Harga Impor
 PWGUNG (harga dunia) ***                      1,653       8,370     0,777
 RTRIJ (restriksi jagung) ***                  0,832     30,957      0,361
 F value = 681,176 (prob>F = 1; R-square = 0,9792; DW= 1,778)
 Ekspor
 PWGUNG(harga dunia) ns                       0,0074       0,305 0,00015     0,00055
 QGUNG (produksi jagung) ns                   0,0009       1,066 0,00058     0,00207
 XGUNGL (ekspor t-1) ***                      0,7206       7,371
 F value = 38,144 (prob> = 00001; R-square= 0,8034; DW = 2,382)
 Permintaan
 PGUNG (harga jagung)**                      -2,3392      -1,591 -0,1317
 PRAS (harga beras)***                        0,9348       2,562   0,1121
 POP (penduduk)***                            0,1076     15,178    2,7019
 GDPRI (pendapatan)***                        0,0016       3,128   0,1476
 F value = 226,344 (prob>F= 0,0001; R-Square = 0,9710; DW = 1,989)
 Harga tingkat Petani
 PGUNG (harga jagung konsumen)ns              0,0186     0,6840    0,0298     0,9298
 PPGUNGL (harga petani t-1)***                0,9679    21,1160
 F value = 2168,132 (prob>F = 0,0001; R-Square = 0,9931; DW = 2,085)
Tabel 1 (Lanjutan)
                                                                     Elastisitas
              Variabel                 Parameter     t-hitung
                                                                 Jk. pdk Jk. pjg
 Harga tingkat Konsumen
 PMGUNG (harga impor)ns                     0,0142       0,5050    0,0148    3,8373
 PGUNGL (harga t-1)***                      0,9961      20,6910
 F value = 292,471 (prob>F= 0,0001; R-Square = 0,9512; DW= 1,930)
 Harga tingkat Dunia
 MWGUNG (impor jagung)ns                    0,0003       0,3200    0,1008
 QWGUNG (produksi dunia)***                -0,0006      -6,1390 -1,63110
 F value = 33,000 prob>F = 0,0001; R-Square = 0,6947; DW = 1,959)
 Impor Jepang
 PWGUNG (harga jagung dunia)***           -16,6448       -9,056 -0,2259
 QGUNGPAN (produksi domestik)***         -338,1040      -12,409 -0,1134
 EFIPAN (nilai tukar Yen/$USA)**           -7,9359       -2,227 -0,1023
 F Value = 395,326 (prob> F = 0,0001; R-Square = 0,9769; DW = 1,971)
 Impor Korea
 PWGUNG (harga jagung dunia)ns            -3,09785       -0,986 -0,1242
 GDPKOR (pendapatan penduduk)***           0,42348        3,789    0,4593
 POPKOR (jumlah penduduk)***               0,68693       11,723    6,1523
 EFIKOR (nilai tukar won/$USA)***         -1,67345       -2,743 -0,3761
 F value = 162,027 (prob>F = 0,0001;R-Square = 0,9600; DW = 1,827)
 Ekspor Jerman
 PWGUNG (harga jagung dunia)***             1,1453        3,307    0,8239
 QGUNGGER (produksi domestik)***           0,14341        5,732    0,9230
 EFIGER (nilai tukar jerman/$USA)**        68,0295        1,901    0,5487
 F value = 14,981 (prob>F = 0,0001; R-Square = 0,6161; DW = 1,406)
 Ekspor Cina
 PXGUNGCHI (harga ekspor China)ns         110,0238        0,893    0,0252    0,0313
 QGUNGCHI (produksi domestic)***            0,0392        3,168    0,7184    0,8903
 XGUNGCHL (ekspor t-1)ns                    0,1930        0,995
 F value = 120,405 (prob>F= 0,0001;R-Square = 0,9257; DW = 2,016)
 Ekspor Amerika
 PWGUNG (harga jagung dunia)ns              0,2310        0,685    0,2752    0,5123
 QGUNGUSA (produksi domestic)ns             0,0001        0,254    0,1409    0,2623
 POPUSA (jumlah penduduk)**                 0,0047        2,276    7,5906   14,1293
 XGUNGUSL (ekspor t-1)**                    0,4627        2,653
 F value = 23,020 (prob>F = 0,0001;R-Square = 0,8157; DW = 1,852)
Keterangan:
***) = signifikan pada 1%;          *) = signifikan pada 10%;
**) = signifikan pada 5%;           ns) = tidak signifikan.
     Model hasil estimasi (Tabel 1) kemudian digunakan untuk
melakukan analisis simulasi dengan terlebih dahulu dilakukan validasi.
Berdasar vaalidasi diketahui: (a) Indikator RMSPE, terdapat 9
endogeneous variabel yang nilainya <25%; (b) Sebagian besar
endogenous variabel memiliki nilai UM mendekati nol (<0.25) sebanyak
12 variabel; (c) Variabel endogen yang memiliki nilai US yang
mendekati nol mencapai 10 variabel; (d) Variabel yang memiliki nilai
UC>0.75 sebanyak 9 persamaan. Dengan demikian maka model dapat
digunakan untuk melakukan analisis dampak liberalisasi perdagangan
dan simulasi kebijakan. Analisis simulasi terutama untuk evaluasi
dampak terhadap ketahanan pangan dari skenario berikut: (a)
Peningkatan ivestasi pertanian 50%; (b) Peningkatan kredit pertanian
50%; (c) Peningkatan subsidi pupuk 30%; (d) Kombinasi (a) dan (c); (e)
Kombinasi (b) dan (c) (lihat Tabel 3).


Tabel 2 Hasil Simulasi Liberalisasi Perdagangan Komoditas Jagung
                                Kondisi dasar       Simulasi liberalisasi
          Variabel
                                   Mean             Mean           Persen
 QGUNG (produksi jagung)                 18961        18877             -0,443
 MGUNG (impor jagung)                   57,030       578,902             1,507
 XGUNG (ekspor jagung)                  97,751        97,619            -0,135
 SGUNG (penawaran jagung)                19766        20137              1,877
 DGUNG (permintaan jagung)               11790        11710             -0,679
 PGUNGA (harga konsumen)              679,575        668,802            -1,585
 PPGUNGA (harga petani)               254,175        253,577            -0,235
 PWGUNGA (harga dunia)                124,634        124,636            -0,002


Tabel 3 Dampak Kebijakan Terhadap Ketahanan Pangan Jagung

                   Aspek Ketahanan Pangan                          Perubahan
 Peningkatan Investasi Pertanian 50%
 Ketersediaan    Perubahan produksi domestic (%)                         8.24
 Aksesibilitas   Perubahan permintaan (%)                               -0.80
                 Penerimaan produsen (M Rp)                            393.04
                 Pengeluaran konsumen (M Rp)                            62.87
                 Net gain                                              455.92
 Kerentanan      Perubahan impor (%)                                    -8.87
Tabel 3 (Lanjutan)

                   Aspek Ketahanan Pangan                        Perubahan
 Peningkatan Kredit Pertanian 50 Persen
 Ketersediaan    Perubahan produksi domestic (%)                       17.03
 Aksesibilitas   Perubahan permintaan (%)                              -0.41
                 Penerimaan produsen (M Rp)                           842.89
                 Pengeluaran konsumen (M Rp)                           32.11
                 Net gain                                             875.01
 Kerentanan      Perubahan impor (%)                                  -18.00
 Subsidi Pupuk 30 Persen
 Ketersediaan    Perubahan produksi domestic (%)                        6.12
 Aksesibilitas   Perubahan permintaan (%)                              -0.75
                 Penerimaan produsen (M Rp)                           291.87
                 Pengeluaran konsumen (M Rp)                           58.86
                 Net gain                                             350.73
 Kerentanan      Perubahan impor (%)                                   -6.73
 Kombinasi Investasi 50 Persen dan Subsidi Pupuk 30 Persen
 Ketersediaan    Perubahan produksi domestic (%)                       15.13
 Aksesibilitas   Perubahan permintaan (%)                              -2.06
                 Penerimaan produsen (M Rp)                           721.68
                 Pengeluaran konsumen (M Rp)                          162.53
                 Net gain                                             884.21
 Kerentanan      Perubahan impor (%)                                  -16.75
 Kom binasi Kredit Pertanian 50 Persen dan Subsidi Pupuk 30 Persen
 Ketersediaan    Perubahan produksi domestic (%)                       23.80
 Aksesibilitas   Perubahan permintaan (%)                              -1.03
                 Penerimaan produsen (M Rp)                          1135.27
                 Pengeluaran konsumen (M Rp)                           81.61
                 Net gain                                            1216.88
 Kerentanan      Perubahan impor (%)                                  -24.62



BAHASAN
Model Ekonometrik Ketahanan Pangan Jagung
1. Luas Areal Tanam
       Variabel harga jagung (PGUNG) secara positif mempengaruhi luas
areal, meskipun inelastis, mencerminkan makin sulitnya menambah areal
tanam hanya dengan instrument kebijakan harga. Investasi pertanian
(INVERT) memiliki koefisien penduga positif, namun tidak signifikan.
Harga padi (PTDI) memberikan pengaruh tidak nyata. Parameter
bedakala areal jagung (AGUNGL) bersifat positif, artinya areal jagung
memerlukan waktu relatif lambat untuk mencapai keseimbangan kembali
setelah perubahan respon variabel penjelas.


2. Produktivitas
        Variabel harga jagung tingkat petani (PGUNG) dan harga pupuk
(PFA) berpengaruh signifikan, masing-masing koefisien positif dan
negatif. Ini menunjukkan kedua variabel tersebut mampu dijadikan
kebijakan yang memberikan insentif kepada petani untuk meningkatkan
produktivitas. Parameter bedakala produktivitas jagung (YGUNGL)
secara statistic nyata; menunjukkan kecenderungan perubahan
produktivitas yang lambat pada proses mencapai kembali keseimbangan
setelah perubahan variabel yang mempengaruhinya. Rasio kredit
terhadap bunga (KP_IR) menunjukkan pengaruh kredit tidak signifikan
disebabkan banyaknya kasus kredit macet tingkat petani.


3. Impor
         Variabel harga impor jagung (PMGUNG) tidak signifikan dan
inelastis. Ini terkait kebijakan stabilisasi harga pangan sehingga jika stok
jagung domestik berkurang, walaupun terjadi kenaikan harga,
pemerintah tetap melakukan impor. Pengaruh produksi domestic
(QGUNG) tidak signifikan, artinya naik turunnya produksi tidak
berdampak terhadap impor karena impor ditentukan permintaan.


4. Harga Impor
        Harga impor jagung (PMGUNG) dipengaruhi oleh perubahan
variabel harga jagung dunia (PWGUNG) dan restriksi perdagangan
(RTRIJ), namun elastisitas bersifat inelastik terutama jangka pendek. Ini
menunjukkan dua variabel tersebut kurang efektif sebagai instrumen
kebijakan stabilisasi harga impor.
5. Ekspor
     Ekspor jagung (XGUNG) tidak dipengaruhi oleh harga dunia
(PWGUNG) dengan respon inelastic. Pengaruh produksi domestic
(QGUNG) tidak nyata dan kurang responsif. Pengaruh ekspor bedakala
tahun sebelumnya (XGUNGL) signifikan dengan koefisien positif
dimana terdapat kesamaan kecenderungan antara ekspor tahun sekarang
dengan ekspor tahun sebelumnya.


6. Permintaan
       Harga jagung (PGUNG) bersifat inelastic terhadap permintaan
jagung, menunjukkan jagung merupakan salah satu komoditas strategis
bagi masyarakat. Pengaruh perubahan jumlah penduduk (POP) nyata dan
sangat elastis terhadap perubahan penduduk. Pendapatan (GDPRI)
signifikan berpengaruh pada tingkat 5%, menjelaskan berlakunya teori
permintaan pada pasar jagung domestic. Parameter regresi harga beras
(PRAS) negatif merupakan indicator beras bersifat substistusi terhadap
jagung.


7. Harga Tingkat Petani
      Harga jagung tingkat petani (PPGUNG) secara tidak nyata
dipengaruhi positif oleh harga tingkat konsumen (PGUNG) sebagai
indikasi pasar domestic jagung antar tingkat pasar tidak terintegrasi.
Pengaruh lag harga petani (PPGUNGL) terhadap harga jagung petani
bersifat nyata, menunjukkan terdapat kecenderungan peningkatan harga
jagung tingkat petani.


8. Harga Tingkat Konsumen
       Harga jagung tingkat konsumen dipengaruhi oleh lag harga jagung.
Berdasarkan nilai parameter menunjukkan harga jagung tingkat
konsumen relative cepat dalam merespon perubahan yang terjadi. Nilai
positif parameter menunjukkan terdapat kecenderungan yang terus
meningkat dari harga jagung tingkat         konsumen selama tahun
pengamatan.


9. Harga Dunia
      Harga jagung dunia (PWGUNG) dipengaruhi secara negatif oleh
perubahan produksi dunia, jika produksi dunia menurun, harga dunia
meningkat demikian pula sebaliknya. Volume impor jagung dunia
(MWGUNG) tidak mempengaruhi harga jagung dunia, menunjukkan
fluktuasi harga hanya mengikuti fluktuasi produksi. Keduanya memiliki
respon elastis, terutama jangka pendek.


10. Impor Jepang
       Impor jagung Jepang (MGUNGPAN) dipengaruhi oleh harga
jagung dunia (PWGUNG), produksi jagung Jepang (QGUNGPAN) dan
nilai tukar yen (EFIPAN). Ketiga variabel tersebut berpengaruh negative
terhadap impor jagung Jepang, menunjukkan kenaikan harga jagung
dunia akan menurunkan impor jagung Jepang. Dari elastisitas, respon
harga jagung dunia, produksi jagung domestic jepang dan nilai tukar yen
bersifat inelastis terhadap impor jepang, terutama jangka pendek.


11. Impor Korea
       Impor jagung Korea (MGUNGKOR) merupakan fungsi dari
pendapatan per kapita (GDPKOR), jumlah penduduk (POPKOR) dan
nilai tukar won (EFIKOR). Pengaruh harga jagung dunia (PWGUNG)
tidak signifikan. Pendapatan per kapita penduduk korea (GDPKOR)
berpengaruh terhadap jumlah impor, mengimplikasikan peningkatan
pendapatan per kapita penduduk mendorong kenaikan impor jagung
Korea. Makin tinggi jumlah penduduk (POPKOR), impor jagung Korea
makin meningkat. Koefisien EFIKOR negatif, menunjukkan depresiasi
won memaksa penurunan impor jagung oleh Korea.


12. Ekspor Jerman
      Ekspor jagung Jerman (XGUNGER) dipengaruhi harga jagung
dunia (PWGUNG), produksi jagung domestic Jerman (QGUNGGER)
dan nilai tukar mata uang Jerman terhadap dollar Amerika (EFIGER).
Kenaikan harga jagung dunia meningkatkan jumlah ekspor Jerman.
Makin tinggi jumlah produksi jagung domestic Jerman, jumlah ekspor
juga makin meningkat. Apresiasi nilai mata uang Jerman terhadap dollar
Amerika mendorong kenaikan ekspor jagung Jerman.


13. Ekspor Cina
       Ekspor jagung Cina (XGUNGCHI) dipengaruhi secara nyata oleh
produksi domestic (QGUNGCHI) dan pengaruh harga ekspor jagung
Cina (PXGUNGCHI) dan jumlah ekspor jagung Cina tahun sebelumnya
(XGUNGCHL) tidak nyata. Pengaruh produksi domestic China
signifikan menunjukkan makin tinggi produksi domestic, jumlah ekspor
juga makin tinggi. Harga ekspor bukan variabel yang dipertimbangkan
dalam ekspor jagung oleh China, demikian juga tidak terdapat
kecenderungan yang patut dipercaya dalam hal ekspor tahun sekarang
dibanding tahun sebelumnya.


14. Ekspor Amerika
      Ekspor jagung Amerika dipengaruhi secara nyata oleh jumlah
penduduk Amerika (POPUSA) dan jumlah ekspor pada tahun
sebelumnya (XGUNGUSL). Harga jagung tingkat dunia (PWGUNG)
dan tingkat produksi domestic Amerika (QGUNGUSA) tidak signifikan
pengaruhnya. Penduduk merupakan faktor penting, kenaikan jumlah
penduduk akan mendorong peningkatan ekspor. Jumlah ekspor tahun
sebelumnya memiliki nilai positif, menunjukkan terdapat trend ekspor
meningkat selama tahun pengamatan.


Dampak Liberalisasi Terhadap Ketahanan Pangan Jagung
      Secara umum liberalisasi perdagangan diperkirakan mengancam
ketahanan pangan jagung Indonesia, dibuktikan adanya dampak negatif
pada kinerja ekonomi jagung melalui penurunan harga dan produksi
domestik, sementara penurunan harga menyebabkan meningkatnya
permintaan. Akibatnya terjadi peningkatan impor, yang akhirnya
menyebabkan naiknya harga dunia.
       Penerapan liberalisasi perdagangan pada komoditas jagung
berdampak pada kinerja ekonomi jagung yang ditunjukkan dengan
meningkatnya jumlah impor. Harga jagung tingkat petani turun sebagai
dampak penurunan harga tingkat konsumen menyebabkan berkurangnya
areal tanam dan produktivitas jagung yang berdampak pada menurunnya
produksi nasional. Turunnya harga jagung            juga menyebabkan
meningkatnya permintaan.Menurunnya produksi dan meningkatnya
permintaan telah mendorong meningkatnya impor sehingga
menyebabkan impor dunia naik. Peningkatan impor Indonesia tidak
memberikan pengaruh kuat bagi peningkatan harga dunia, dibuktikan
dengan peningkatan harga dunia relatif kecil. Meningkatnya harga dunia
tidak memberikan pengaruh berarti bagi pengimpor dan pengekspor
utama, kecuali Cina. Volume ekspor jagung dunia mengalami
peningkatan akibat penerapan liberalisasi perdagangan.


Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Ketahanan Pangan Jagung
1. Peningkatan Investasi Pertanian 50%
       Kebijakan investasi berdampak positif pada aspek ketersediaan
pangan nasional melalui peningkatan produksi dan berdampak pada
penerimaan dan keuntungan petani. Dilihat dari aksebilitas pangan
menunjukkan perubahan makin baik disebabkan peningkatan produksi
domestik berdampak pada penurunan harga tingkat konsumen. Adanya
peningkatan penerimaan produsen akibat peningkatan output terjadi pada
harga yang penurunannya relatif kecil dibanding peningkatan output,
terjadi substitusi impor dengan produk domestik. Kerentantan pangan
menunjukkan kebijakan peningkatan investasi mampu menekan impor
8,87%.


2. Peningkatan Kredit Pertanian 50%
      Peningkatan kredit pertanian 50% menyebabkan peningkatan
ketersediaan jagung dari produksi domestic 17,03%, yang menyebabkan
harga jadi lebih rendah. Penurunan harga tidak meningkatkan
permintaan, justru menurunkan. Kredit tidak merubah pengeluaran
konsumen karena permintaan dan harga tidak berubah. Peningkatan
kredit berdampak pada peningkatan penerimaan produsen karena volume
produksi meningkat. Keuntungan total dampak kredit dirasakan petani
sebesar 0.87 trilyun. Aspek kerentanan menunjukkan penurunan impor
18%, artinya kebijakan kredit banyak mengarah pada ketahanan pangan
yang berorientasi komoditas jagung.


3. Peningkatan Subsidi Pupuk 30%
      Subsidi pupuk menyebabkan peningkatan ketersediaan jagung
melalui peningkatan produksi 6,12%. Aspek aksesbilitas, subsidi pupuk
makin meningkatkan daya jangkau masyarakat terhadap jagung,
dibuktikan    dengan keuntungan total positif. Aspek permintaan,
kebijakan subsidi berdampak pada penurunan permintaan pada jagung
0.75%. Aspek kerentanan, dampak subsidi sangat berarti bagi
peningkatan produksi, pada gilirannya menurunkan impor.


4. Kombinasi Peningkatan Investasi dan Subsidi Pupuk
       Kedua kebijakan mampu meningkatkan produksi jagung secara
drastic, selanjutnya meningkatkan ketersediaan domestik. Aspek
aksesbilitas, kebijakan ini berdampak pada permintaan turun relatif kecil.
Sisi pengeluaran konsumen, berberdampak pada peningkatan 162.53
milyar. Sisi kerentanan, kebijakan tersebut menyebabkan penurunan
impor 16.75%. Artinya dua kebijakan ini sangat sinergis dalam
mendorong produksi karena meningkatkan pendapatan petani dan bahan
pangan lebih terjangkau.


5. Kombinasi Peningkatan Kredit Pertanian dan Subsidi Pupuk
      Kedua kebijakan berdampak pada aksesbilitas pangan cenderung
meningkat. Peningkatan penawaran mendorong harga lebih rendah
sehingga meningkatkan permintaan dan proses substitusi antara jagung
dan komoditas lain, menyebabkan penurunan permintaan jagung 1.03%.
Simulasi menunjukkan peningkatan penerimaan produsen karena volume
produksi meningkat mempengaruhi peningkatan penerimaan lebih besar
dari pengurangan penerimaan karena perubahan harga produsen;
sebaliknya pengeluaran konsumen mengalami penurunan. Aspek
kerentanan pangan menunjukkan perubahan positif dengan adanya
penurunan impor cukup tajam.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Melalui pendekatan ekonometrik telah dihasilkan model ekonomi
   yang baik dan representatif untuk mengevaluasi dampak liberalisasi
   perdagangan dan skenario kebijakan terhadap upaya peningkatan
   ketahanan pangan komoditas jagung di Indonesia, baik ditinjau dari
   indikator koefisien determinasi, uji F, uji t maupun indikator
   validasi.
2. Penerapan liberalisasi perdagangan membawa implikasi negatif pada
   upaya peningkatan ketahanan pangan komoditas jagung. Penurunan
   harga domestik menyebabkan penurunan produksi dan peningkatan
   permintaan, berdampak pada meningkatnya impor. Peningkatan
   impor jagung meningkatkan harga dunia sehingga dikhawatirkan
   selama periode 2005-2010 ketahanan pangan jagung Indonesia
   terancam karena harus membeli dengan harga lebih tinggi.
3. Kebijakan kebijakan investasi, kredit dan subsidi pupuk memberikan
   dampak menguntungkan bagi ketahanan pangan jagung karena
   mampu meningkatkan produksi domestic sehingga ketergantungan
   terhadap impor semakin berkurang serta mampu menyediakan
   pangan dengan harga terjangkau.


Saran
1. Dampak negatif akibat penerapan liberalisasi perdagangan terhadap
   sektor pertanian utamanya komoditas jagung perlu diantisipasi
   dengan keberpihakan dari pemerintah bagi peningkatan usahatani
   dan keuntungan petani.
2. Liberalisasi perdagangan pangan bukan tujuan akhir, sehingga hal
   yang lebih penting adalah bagaimana mengusahakan kebijakan yang
   berorientasi memacu pertumbuhan ekonomi pedesaan untuk
   meningkatkan produksi pangan nasional sekaligus mampu bersaing
   dengan negara eksportir dan importir.
3. Petani kurang merespon kenaikan harga, mengindikasikan petani
   (jagung) masih belum menjadikan usahatani sebagai usaha
   komersial. Oleh karena itu kemudahan dalam produksi didukung
   aspek pemberdayaan berdasarkan potensi yang dimiliki petani sangat
   baik dilakukan pemerintah.
4. Diversifikasi pangan merupakan budaya yang patut diberi perhatian
   dengan tujuan membiasakan konsumsi makanan dari berbagai jenis
   sehingga ketergantungan terhadap salah satu komoditas pangan
   dapat direduksi.
                         DAFTAR RUJUKAN


Amang, B. dan Husein Sawit. 1997. Perdagangan Global dan
       Implikasinya pada Ketahanan Pangan Nasional. Agro Ekonomika.
       No. 2. Tahun XXVII. PERHEPI. Jakarta.
Anderson, K. dan R. Tyers. 1990. How Developing Countries Could
       Gain From Agricultural Trade Liberalization in The Uruguay
       Round. dalarn Goldin, I. dan Knudsen. 1990. Agricultural Trade
       Liberalization: Implications for Developing Countries. OECD.
       World Bank.
Caves,      R.F., J.A. Frankel, and R.W. Jones. 1993. World Trade and
       Payments:: An Introduction. Sixth Edition. Harper Collins
       Publishers.
Chacoliadel, M., 1978. International Trade: Theory and Policy. Mc
       Graw-Hill Book Company.
Feridhasetyawan, T. 1997. Trade Liberalizaton in Asia Pacific: A Global
       CGE Approach. Puslit Studi Jepang UI. Jakarta.
Grennes, T., 1984. International Economics. Prentice-Hall Inc.,
       Englewood Cliffs, New Jersey.
Gudjarati, D., 1995. Basic Econometrics. McGraw-Hill, Singapore.
Intriligator, M.D. 1978, Econometric Model: Techniques and
       Applications. Prentice Hall, New Delhi.
Kindelberger, C. P. dan P.H. Lindert. 1982. Ekonomi Internasional. Alih
       Bahasa Oleh Burhanuddin Abdullah. Erlangga. Jakarta.
Koutsoyiannis, A., 1982, Modern Microeconomics, Second Edition, The
       MacMillan Press.
Pindyck, Robert S., dan D. R. Rubinfeld, 1998, Econometric Model and
       Economic Forecasting, Fourth Edition McGraw-Hill.
Simatupang, P. 1999. Toward Sustainable Food Security: The Need for
       A New Paradigm. International Seminar on Agriculture Sector
       During the Turbulance of Economic Crisis: Lesson and Future
       Directions. PSE Balitbang Deptan. 17-18 February 1999. Bogor.
Timer, C.P. and H. Alderman. 1996. Estimating Consumption Parameter
       for Food Policy Analysis. AJAE. Dec 1979. Pp 982-987.
Tweeten, L., 1992. Agricultural Trade: Principles and Policies.
       Westview Press, Boulder and San Francisco.
Wibowo, R., 2000. Penyediaan Pangan dan Permasalahannya, dalam
       Pertanian dan Pangan: Bunga Rampai Pemikiran Menuju
       Ketahanan Pangan (Ed. Rudi Wibowo), Pustaka Sinar Harapan,
       Jakarta.
Ziets, J dan A. Valdes. 1990. International Interactions in Food and
       Agricultural Policies: Effect of Alternatives Policies. dalam
       Goldin, I. dan Knudsen. 1990. Agricultural Trade Liberalization:
       Implications for Developing Countries. OECD. World Bank.
       Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan
       terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi
        pada Pasien Puskesmas Kecamatan
                  Turen, Malang)

                               Heri Sudarsono


      Abstract: The aims of this research includes: (a) Describe services
      quality of consumers at Puskesmas Turen; (b) Analyze the
      influence of services quality variables, consist of reliability,
      responsiveness, assurance, tangibles and empathy on consumers
      satisfaction. This research use questioner as instrument in data
      collection. The analysis unit include of consumers of Puskesmas
      Turen. The data analyzed using descriptive statistic and regression.
      The analysis result shows: (a) The amount of consumers servicing
      by Puskesmas Turen increased timely with growth rate as
      3,77%/years which the highest rate find at laboratory services unit
      as 32%/ years; (b) The services quality not yet satisfying the
      consumer, showing by the average score of service‘s variable lie
      on ‗baik‘ and ‗ragu-ragu‘ categorical; (c) Variables of reliability,
      responsiveness, assurance, tangibles and empathy have high
      significant influence on consumer satisfactions, improvement of
      the above fourth variables tend to increase consumer‘s satisfaction.
      The empathy variable doest not influence consumer‘s satisfaction
      significantly, improvement of the variables has not influence to the
      consumer satisfaction.
      Key words: consumers satisfaction, reliability, responsiveness,
      assurance, tangibles, empathy

Lembaga Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan
organisasi pemerintah yang bergerak dalam bidang kesehatan yang
tujuan utamanya ditekankan pada upaya memberikan pelayanan (service)
secara maksimal kepada konsumen dalam hal ini pasien.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya
       Dalam konteks pengukuran kualitas pelayanan, Parasuraman,
Zeithaml dan Berry (1988) mengidentifikasikan lima dimensi ukuran
kualitas yaitu reliability (keandalan), reponsiveness (daya tanggap),
assurance (jaminan), tangibles (bukti langsung), dan empathy (empati).
       Kualitas atas suatu pelayanan merupakan bentuk penilaian
konsumen terhadap tingkat layanan yang dipersepsikan (perceived
services) dengan tingkat layanan yang diharapkan (expected services)
(Kotler, 1997). Jika pelayanan yang diterima sesuai dengan pelayanan
yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan
memuaskan. Demikian juga jika kualitas pelayanan yang diterima
melampaui harapan maka kualitas layanan dipersepsikan ideal,
sebaliknya apabila pelayanan yang diterima lebih rendah daripada yang
diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai buruk.
       Untuk memenuhi kepuasan pelanggan terhadap tingkat service
quality, maka kualitas pelayanan menjadi sangat penting untuk dikelola
dengan baik, dan kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kunci
keberhasilan instansi Puskesmas dalam menjalankan tugasnya. Hal ini
disebabkan pasien yang tidak puas terhadap pelayanan yang diberikan
oleh pihak Puskesmas akan memberikan penilaian negatif yang pada
gilirannya akan menurunkan kepercayaan masyarakat sehingga
berdampak terhadap penurunan citra Puskesmas yang bersangkutan. Jika
hal ini terjadi maka akan menjadi kontra produktif ditengah upaya yang
dilakukan Puskesmas untuk menjadi pusat pelayanan kesehatan terbaik
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk:
(a) Menggambarkan perkembangan pelayanan yang diberikan oleh
Puskesmas Turen terhadap para pasien; (b) Menggambarkan kualitas
pelayanan yang dirasakan oleh pasien Puskesmas Turen; (c)
Menggambarkan kualitas pelayanan yang diharapkan oleh para pasien
Puskesmas Turen; (d) Menganalisis pengaruh kualitas layanan oleh
pihak Puskesmas Turen meliputi reliabilitas, responsivenes, assurance,
tangibles dan empathy terhadap tingkat kepuasan pasien.
       Kualitas adalah serangkaian atribut yang melekat pada suatu
pelayanan atau produk yang sesuai dengan harapan konsumen. Bagi
produsen kualitas pelayanan adalah spesifikasi produk atau jasa yang
dirancang sesuai dengan apa yang dipersyaratkan konsumen, sehingga
konsumen akan merasa terpuaskan dengan produk atau jasa tersebut.
Kualitas layanan (service quality) adalah persepsi dari perbandingan
antara harapan dan kinerja aktual layanan yang diterima pelanggan.
Parasuraman, et al (1985) mengemukakan ada dua faktor yang
mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu: expected service dan perceived
service. Apabila jasa yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang
diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika
jasa yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas jasa
dipersepsikan sebagi kualitas yang ideal. Sebaliknya, jika jasa yang
diterima rendah dari yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan
buruk.
      Menurut Kotler, et al (1995) cara utama dalam membedakan
perusahaan jasa adalah memberikan jasa dengan kualitas yang lebih
tinggi dari pesaingnya secara konsisten. Kuncinya adalah memenuhi atau
melebihi ekspektasi kualitas layanan pada pelanggan. Ekspektasi
dibentuk oleh pengalaman masa lalunya, pembicaraan dan promosi yang
dilakukan oleh perusahaan sendiri. Pelanggan memilih penyedia jasa
berdasarkan hal tersebut dan setelah menerima jasa itu mereka
membandingkan jasa yang telah mereka terima dengan jasa yang mereka
harapkan. Jika yang telah mereka terima terletak di bawah jasa yang
diharapkan, maka pelanggan tidak berminat lagi pada penyedia jasa. Jika
jasa yang diterima memenuhi harapan, mereka menggunakan jasa itu
kembali.
      Menurut Pasuraman et al dalam Kotler, et al. (1995) menemukan
ada lima kualitas jasa penilaian menurut pentingnya pelanggan, yaitu: (a)
Keandalan, kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan
dengan tepat dan terpercaya; (b) Responsif, kemauan untuk membantu
pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat; (c) Keyakinan,
pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk
menimbulkan kepercayaan dan keyakinan; (d) Empati, syarat untuk
peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan; dan (e) Berwujud,
penampilan fasilitas fisik, peralatan, personil, dan media komunikasi.
      Tse dan Wilton (1988) menyatkan bahwa kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidakpuasan yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
aktual produk setelah pemakaiannya. Kepuasan pelanggan merupakan
fungsi dari harapan dan kinerja. Engel (1995) mendefenisikan kepuasan
pelanggan sebagai evaluasi purna beli terhadap alternatif yang dipilih
yang memberikan hasil sama atau melampaui harapan pelanggan.
Ketidakpuasan timbul bila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan
pelanggan. Kotler (1997) berpendapat bahwa kepuasan pelanggan
merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja
yang dirasakan dibanding harapannya.
      Penilaian kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan mengambil salah
satu dari tiga bentuk yang berbeda (Engel, et al., 1995) yaitu: (1)
Diskonfirmasi positif, yaitu apabila kinerja lebih baik dari yang
diharapkan; (2) Konfirmasi sederhana apabila kinerja sama dengan yang
diharapkan; dan (3) dikonfirmasi negatif apabila kinerja lebih buruk dari
yang diharapkan. Kualitas layanan memiliki faktor-faktor yang
menentukan keberhasilan suatu lembaga PUSKESMAS. Faktor-faktor
tersebut diantaranya adalah Tangible, Reliability, Responsiveness,
Assuraance, Emphaty. Hasil dari kualitas layanan yang baik berdasarkan
faktor-faktor tersebut akan berpengaruh terhadap kepuasan pasien yang
berobat pada akhirnya apabila pasien merasa puas dengan pelayanan
yang diberikan, maka semakin bertambah kunjungan pasien yang berobat
di lembaga PUSKESMAS. Hubungan antara kualitas pelayanan dan
kepuasan pasien dalam penelitian ini dijelaskan pada Gambar 1.


           Lembaga
         PUSKESMAS



       Customer Focus

                                Dimensi kualitas
                                   layanan
  Membentuk pelayanan                                           Kepuasan
                              X1 Tangible
  prima                                                          Pasien
                              X2 Reliability
                              Feed back
                              X3Responsiveness
                              X4 Assurance
                              X5 Emphaty

Gambar 1 Hubungan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien
METODE
      Penelitian ini merupakan penelitian survai yaitu suatu penelitian
yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan mengandalkan
kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data (Singarimbun, 1995).
Unit analisis dalam penelitian ini adalah pasien yang ada di Puskesmas
Turen.
      Sesuai dengan tujuan penelitian ini variabel yang akan diuji digali
dari konsep tentang berbagai variabel yaitu variabel independen dan
variabel dependen. Variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah
kepuasan pasien berobat dan variabel independen (X) dalam penelitian
ini adalah kualitas pelayanan yang dijabarkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Variabel, Sub Variabel, dan Indikator yang Diamati

  Variabel     Sub Variabel      Indikator
              Bukti fisik        Fasilitas dan prasarana yang tersedia
              (tangible)         Kondisi fasilitas dan prasarana sesuai dengan
              (X1)               prasyarat
              Kehandalan         Kesesuaian aktivitas pelayanan dengan jadwal
 Kualitas     (reliability)      Ketepatan waktu pemberian pelayanan sesuai
 pelayanan    (X2)               ketentuan
                                 Penanganan urusan administrasi secara cermat
              Daya tanggap       Ketanggapan pegawai terhadap keluhan pasien
              (responsibility)   Kesungguhan perhatian terhadap kesulitan pasien
              (X3)               Kejelasan informasi pelayanan yang akan diberikan
              Jaminan            Pengetahuan pegawai mengenai Puskesmas
              (assurance)        Kemampuan komunikasi pegawai dengan pasien
              (X4)                Kemampuan pegawai menangani persoalan
 Kualitas                         Puskesmas
 pelayanan    Empati              Perhatian individu pegawai terhadap semua pasien
              (empathy)           Kemampuan pegawai menumbuhkan rasa aman
              (X5)                Pegawai selalu membantu kesulitan pasien
              Kepuasan            Jasa pengobatan yang memuaskan (pendiagnosaan
 Kepuasan     pelanggan           dan pemberian tindakan medis yang tepat)
 pelanggan    (Y)                Jasa kesehatan yang memuaskan (pelayanan medis
                                 pasca tindakan medis)
                                 Perasaan yang puas terhadap keseluruhan pelayanan
                                 Jumlah keluhan dan saran dari pasien/keluarga
                                 pasien (volume pengaduan)
      Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang ada di
PUSKESMAS Turen, baik yang berobat maupun yang menjalani rawat
inap.
      Kuesioner atau angket merupakan instrumen utama penelitian ini
untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini, penentuan skor untuk
item pernyataan dilakukan dengan menggunakan Skala Likert, sebuah
skala yang memiliki lima alternatif pilihan setiap item yang mempunyai
grade dari positif sampai negatif.
      Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan validitas konstruk dengan teknik korelasi Product Moment
Pearson:
                                   N     xy           x        y
               rxy                            2                        2
                          N     x2        x       N       y2       y

Dimana rxy = koefisien korelasi, N = jumlah responden, x = nilai per
butir, y = total nilai kuesioner masing-masing responden.
       Teknik analisis ini berguna untuk menguraikan gambaran data
lapangan secara deskriptif melalui interpretasi hasil tabulasi silang atas
data nominal empirik dan deskripsi data interval seperti mean, median,
mode, simpangan baku, varian. Hasil analisis deskriptif berguna untuk
mendukung interpretasi terhadap hasil analisis dengan teknik lainnya.
       Variabel bebas atau independen pada penelitian ini adalah
kualitas layanan (X) dan variabel terikat atau dependen pada penelitian
ini adalah kepuasan pasien (Y). Rumus persamaan regresi yang
digunakan adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + b7X7 + є
dimana:
a   = Intersep
bn = Koefisien regresi variabel independen n
Y = Kepuasan pasien
X1 = Tangible
X2 = Reliability
X3 = Responsiveness
X4 = Assurance
X5 = Empathy
HASIL
Perkembangan Pelayanan oleh Puskesmas Turen
       Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, jumlah pasien
yang dilayani oleh Puskesmas Turen dari tahun ke tahun mengalami
perkembangan. Berdasar jenis kelompoknya, pada tahun 2004,
pelayanan penyakit gigi dan mulut cenderung tetap sepanjang tahun.
Pada pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) dan BP mengalami
fluktuasi cukup tinggi.
       Perkembangan pelayanan terhadap pasien oleh Puskesmas Turen
sepanjang tahun 2005 cenderung stangnan kecuali untuk kelompok
pelayanan BP yang mengalami penurunan pada bulan oktober dan
nopember. Berdasar jumlahnya, pelayanan pasien tertinggi adalah dari
kelompok pelayanan BP, diikuti oleh pelayanan KIA, gigi dan pelayanan
laboratorium. Pola fluktuasi jumlah pelayanan pasien pada tahun 2006
juga mengalami stagnasi sepanjang tahun, kecuali untuk kelompok
pelayanan BP yang mengalami penuruna pada bulan nopember dan
pelayanan laboratorium yang meningkat pada bulan maret.
       Berdasar kelompok pelayanannya, tingkat pertumbuhan pelayanan
tertinggi terjadi pada jenis pelayanan laboratorium dengan tingkat
pertumbuhan sebesar 31.97% per tahun pada kurun waktu tahun 2004-
2006. Tingkat pertumbuhan untuk jenis pelayanan BP mencapai 4.82%
pada kurun waktu yang sama. Sedangkan untuk kelompok pelayanan
KIA dan Gigi masing-masing mengalami pertumbuhan jumlah pelayanan
sebesar 0.78% dan 0.06%.

                        6000

                        5000

                        4000
 Jumlah pasien (jiwa)




                        3000

                        2000

                        1000

                           0
                                1     2   3         4   5    6           7        8   9   10   11   12
                               BP             KIA
                               GIGI           LAB           Bulan (1 = Januari)


Gambar 2 Pelayanan di Puskesmas Turen Tahun 2004
                          6000
  Jumlah pasien (jiwa)    5000
                          4000

                          3000
                          2000
                          1000
                            0
                                  1   2     3       4   5    6     7      8   9   10   11   12
                           BP             KIA           Bulan (1 = Januari)
                           GIGI           LAB

Gambar 3 Pelayanan di Puskesmas Turen Tahun 2005


                          6000

                          5000
   Jumlah pasien (jiwa)




                          4000

                          3000

                          2000

                          1000

                             0
                                  1   2         3   4   5     6     7     8   9   10   11   12
                           BP         KIA               Bulan (1 = Januari)
                           GIGI       LAB

Gambar 4 Pelayanan di Puskesmas Turen Tahun 2006


Pelayanan yang Dirasakan Pasien
a. Dimensi Penampilan Fisik
      Dimensi penampilan fisik terdiri dari kebersihan dan kerapian
pakaian, penampilan dan kebersihan lingkungan. Pada item berpakaian
bebas dan rapi, sebagian besar pasien menyatakan baik, sedangkan
lainnya menyatakan ragu serta sisanya sangat kurang. Tanggapan
responden terhadap penampilan dari pegawai dalam memberikan
pelayanan, sebagian besar pasien menyatakan baik, disusul oleh ragu dan
sangat kurang. Penampilan menarik merupakan unsur penunjang dalam
memberikan pelayanan karena dapat menutupi kekurangan penampilan
fisik yang tidak diinginkan oleh pasien. Pada item kebersihan
lingkungan, sebagian besar sampel memberikan respon dengan
menyatakan baik, lainnya menyatakan ketidakpastian dan menyatakan
kurang. Berpakaian bersih dan rapi, penampilan yang menarik dan
kebersihan lingkungan, dapat memperbaiki penampilan fisik sesorang.


b. Dimensi Empati
      Empati menekankan pada perhatian pegawai terhadap para pasien.
Tanggapan pasien terhadap perhatian secara pribadi yang diberikan oleh
pegawai pada variabel empati, sebagian besar menyatakan sangat baik.
Dengan nilai rataan 2.32, artinya empati yang ditunjukan para pegawai
selama ini dirasakan baik. Sebagian besar pasien menyatakan bahwa
pegawai bersungguh-sungguh dan mampu memahami permasalahan
pasien, diikuti oleh pasien yang tidak memberikan jawaban. Mengenai
kemudahan memperoleh informasi dalam pelayanan, sebagian besar
pasien menunjukkan respon baik. Rataan nilai skor 2.43 artinya
informasi yang diperoleh selama ini sudah baik, hanya perlu sedikit
perbaikan agar semua pegawai mendapatkan informasi secara merata.


c. Dimensi Daya Tanggap
      Pada variabel daya tanggap untuk item kesediaan dalam melayani
pasien 78,40 persen pasien menyatakan baik, sisanya ragu dan kurang.
Rata-rata skor menunjukkan bahwa dalam menanggapi masalah pasien
yang dirasakan para pegawai telah menanggapi setiap masalah dengan
baik. Sebagian besar pasien menyatakan pegawai memahami masalah
pasien dengan baik, selebihnya menyatakan ragu-ragu, kurang dan
sangat kurang.     Demikian juga keluhan yang dirasakan pasien
mendapatkan tanggapan baik dan cepat dari para pegawai Puskesmas
Turen. Sebagian besar pegawai bersedia membantu pasien dengan baik
terutama dalam hal penanganan masalah kesehatan yang dialami pasien.
Dilihat dari rata-rata nilai skor yang ada dari variabel daya tanggap dapat
diartikan bahwa kesediaan, kecepatan dan pemahaman pegawai terhadap
masalah yang dirasakan oleh pasien selama ini telah cukup baik.


d. Dimensi Keandalan
      Variabel kehandalan mencakup kecepatan dalam menanganani
pasien, ketepatan dalam pengambilan keputusan dan ketepatan dalam hal
memenuhi janji yang terkait dengan kesehatan pasien. Pada item
kecepatan menangani pasien, sebagian besar pasien menyatakan baik,
dengan nilai rata-rata skor sebesar 2.68, artinya didalam menangani
pasien yang dirasakan pegawai selama ini sudah baik, mereka dengan
cepat merespon keluhan yang disampaikan para pasien. Pada aspek
ketepatan pegawai dalam mengambil keputusan yang dilakukan terhadap
masalah yang dialami pasien, sebagian besar pasien menyatakan baik.
Artinya setelah dianalisis keputusan yang diambil dirasakan telah tepat
sasaran dalam pengertian keputusan oleh pegawai telah sesuai dengan
kebutuhan pasien. Mengenai ketepatan pegawai dalam memenuhi janji
terhadap pasien dirasakan telah dilakukan dengan baik, sedangakan
sisanya menyatakan ragu-ragu dan kurang. Dilihat dari rata-rata nilai
skor variabel keandalan, dengan item kecepatan, ketepatan dan ketepatan
memenuhi janji yang dirasakan oleh pasien maka dapat dikemukakan
bahwa secara menyeluruh sudah baik.


e. Dimensi Jaminan
        Variabel jaminan meliputi kedisiplinan, keramahan dan
kesopanan pegawai serta kejujuran pegawai. Untuk kedisiplinan
pegawai, sebagaian besar responden menyatakan baik. Keramahan dan
kesopanan pegawai ditunjukkan sesuai dengan harapan dimana sebagian
besar responden menyatakan baik, sedangkan sisanya menyatakan ragu-
ragu, kurang dan sangat kurang. Tanggapan pasien terhadap kejujuran
pegawai dalam melakukan tugas, sebagian besar pasien menyatakan
baik, sedangkan sisanya ragu-ragu. Dilihat dari rata-rata nilai skor
variabel jaminan, kedisiplinan, keramahan dan kesopanan serta kejujuran
didalam melaksanakan tugas dirasakan sangat penting karena keadaan
tersebut merupakan jaminan kepercayaan pasien.


Kepuasan Pelayanan yang Dirasakan Pasien
       Variabel kepuasan pasien diekpresikan dalam tiga item pertanyaan
terkait sebagai berikut: a) Pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas
kepada pasien; b) Kinerja Puskesmas yang dirasakan pasien; c) Respon
atas kepuasan pelayanan yang diberikan oleh pihak Puskesmas. Hasil
wawancara, hampir 75 persen dari sampel yang diamati menyatakan
puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas Turen. Pada
item penilaian responden terhadap kinerja Puskesmas Turen, sekitar 65
persen responden menyatakan puas, pasien yang memberikan penilaian
ragu mencapai 22 persen, sekitar 5 persen responden yang menyatakan
tidak puas. Hasil wawancara juga menemukan tidak satupun responden
yang menyatakan sangat puas dengan kinerja Puskesmas. Mengacu pada
dua item sebelumnya, sebagian besar responden memberikan respon
kepuasan terhadap pelayanan yang mereka terima, mencapai proporsi 61
persen.


Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
      Hasil uji validitas yang dilakukan, keseluruhan item variabel
penelitian ini dapat dinyatakan valid. Sesuai dengan pendapat Sugiyono
(1994) bahwa koefisien korelasi sama dengan 0,378 atau lebih (untuk 20
responden), maka butir instrumen penelitian dinyatakan valid. Sementara
menurut Ebel dan Frisbie (1991) bahwa tingkat keajegan instrumen
untuk 20 – 40 item harus berada diatas 0,50 – 0,67. Dalam penelitian ini
digunakan indikator yang dikemukakan oleh Ebel dan Frisbie, yakni
lebih besar dari 0,67 sebagai batas bawah tingkat validitas instrument
penelitian.
      Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas dapat diinterpretasikan
bahwa alat ukur yang digunakan sudah handal, dengan alasan diperoleh
hasil uji reliabilitas parameter alpha cronbach sebesar 0,8694, melebihi
0,50 – 0,67 untuk 20 – 40 butir item. Dengan demikian secara statistik
instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dapat
dinyatakan reliabel, sehingga dapat berlaku untuk penelitian yang sama
di tempat lain.


Tabel 2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

                       Koefisien                                           Koefisien
 No      Variabel                                  Item
                      Reliabilitas                                         Validitas
  1    Penampilan        0,74        Berpakaian bersih dan rapi              0,65
       Fisik                         Berpenampilan menarik                   0,72
                                     Kebersihan lingkungan                   0,60
  2    Empati            0,85        Memberikan      perhatian    secara     0,83
                                     pribadi
                                     Kesungguhan dan kemampuan
                                     pegawai memahami permasalahan           0,92
                                     pasien                                  0,85
                                     Kemudahan memperoleh informasi
  3    Daya              0,83        Kesediaan dalam menagani pasien         0,82
       Tanggap                       Kecepatan memahami keperluan
                                     pasien                                  0,83
                                     Kesediaan membantu pasien               0,81
  4    Keandalan         0,83        Kecepatan menangani pasien              0,81
                                     Ketepatan     dalam     mengambil
                                     keputusan                               0,74
                                     Ketepatan pemenuhan janji               0,87
  5    Jaminan           0,84        Kedisiplinan pegawai                    0,76
                                     Keramahan       dan      kesopanan      0,92
                                     pegawai                                 0,82
                                     Kejujuran pegawai melakukan
                                     tugas
Sumber: Data primer diolah, 2007


Hasil Analisis Pengaruh Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien
      Berdasarkan hasil analisis, tingkat signifikansi F hitung sebesar
99 persen, secara bersama seluruh variabel bebas berpengaruh
secara nyata terhadap kepuasan pasien. Hipotesis pengaruh secara
bersama variabel penampilan fisik, empati, daya tanggap, keandalan dan
jaminan terhadap kepuasan pasien dapat diterima secara statistik.
      Berdasarkan uji parsial, nilai t hitung antar variabel bebas cukup
bervariasi sehingga tingkat signifikansi pengaruh antar variabel bebas
terhadap variabel terikat juga berbeda. Berdasar uji t, terdapat pengaruh
yang sangat signifikan dari variabel penampilan fisik, empati, daya
tanggap, keandalan terhadap tingkat kepuasan pasien. Variabel jaminan
tidak signifikan, karena itu hipotesis variabel empati berpengaruh nyata
terhadap kepuasan tidak dapat diterima koefisien regresi dari variabel ini
tidak dapat diinterpretasikan lebih jauh. Hasil uji regresi parsial maka
variabel yang mempunyai pengaruh paling besar adalah variabel empati,
dapat dilihat dari nilai koefisien regresi sebesar 0.290, lebih besar
dibanding koefisien variabel bebas lainnya.


Tabel 3 Hasil Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan

   Variabel      Koef. Regresi      t hitung       Sign t (p)   Simpulan
   Konstanta         0.614            1.225          0.226           -
      X1             0,250            2.083          0.035      Ha diterima
      X2             0,210            2.100          0.024      Ha diterima
      X3             0,234            1.815          0.075      Ha diterima
      X4             0,290            2.688          0.010      Ha diterima
      X5             0.074            0.578          0.566      Ha ditolak
 R2               = 0,629; Adjusted-R2       = 0.431
 F hitung         = 9,794; Sig. F            = 0,000


BAHASAN
a. Pengaruh Penampilan Fisik terhadap Kepuasan Pasien
      Berdasar koefisien regresi variabel penampilan fisik dapat
dikatakan bahwa setiap peningkatan penampilan fisik pegawai maka
kepuasan pasien juga akan meningkat. Penampilan para pegawai juga
penting menjadi fokus perhatian utama karena secara psikologis, pasien
lebih suka memilih untuk memperoleh pelayanan dari pegawai yang
berpenampilan menarik dan rapi.        Oleh karena itu maka untuk
meningkatkan mutu pelayanan, pegawai harus memulai dari diri sendiri
dengan menjaga kebersihan dan kerapian dalam berpakaian,
berpenampilan menarik serta menjaga kebersihan lingkungan. Dengan
kondisi penampilan yang demikian maka seseorang yang diberikan
pelayanan akan merasa nyaman dan tentunya mereka akan terdorong
untuk mengikuti apa yang mereka lihat dan rasakan.
b. Pengaruh Keandalan terhadap Kepuasan Pasien
      Pada hasil analisis, variabel keandalan berpengaruh secara positif
terhadap kepuasan pasien dengan koefisien regresi sebesar 0.210.
Artinya bahwa semakin handal pelayanan yang diterima pasien maka
kepuasan yang dirasakan pasien juga semakin tinggi. Berdasar hasil
wawancara, tingkat keandalan yang diterima pasien cukup baik dan
sesuai dengan harapan mereka. Kenyataan hasil penelitian ini juga
merupakan tantangan pegawai didalam membantu menyelesaikan dan
memberikan keputusan yang tepat terhadap masalah yang dihadapi
pasien. Disamping itu juga merupakan bentuk panggilan tugas yang
harus dilakukan terutama berkaitan dengan tugas para pegawai
Puskesmas.


c. Pengaruh Daya Tanggap terhadap Kepuasan Pasien
        Berdasar penelitian, pasien memberikan penilaian cukup baik
terhadap aspek daya tanggap, artinya pasien menilai daya tanggap oleh
puskesmas sesuai harapan. Berdasar hasil analisis, daya tanggap
merupakan variabel yang signifikan dalam mempengaruhi kepuasan
pasien, dapat dilihat dari koefisien regresi dari variabel daya tanggap
yang signifikan pada taraf 95 persen. Koefisien regresi daya tanggap
menyatakan peningkatan satu unit satuan daya tanggap akan
meningkatkan kepuasan pasien Puskesmas Turen pada bilangan 0.234
satuan kepuasan. Ini dapat dilakukan dengan memahami berbagai
keluhan yang selama ini terjadi untuk kemudian memberikan solusi yang
memadai sehingga ke depan, para pasien tidak lagi merasa kecewa
sehingga hubungan sebagai pasien dapat tetap dipertahankan. Pada item
kesediaan melayani, kecepatan serta kesediaan membantu diharapakan
dapat memberikan pelayanan secara cepat dan tepat dengan masalah
yang dihadapi pasien. Bagi para pegawai merupakan kewajiban yang
harus dilakukan sebagai bentuk pemanfaatan sumberdaya manusia yang
dimiliki pihak Puskesmas Turen.
d. Pengaruh Jaminan terhadap Kepuasan Pasien
       Berdasar hasil analisis regresi, variabel         jaminan sangat
berpengaruh terhadap kepuasan pasien, dapat dilihat dari nilai t hitung
dan signifikansinya. Dari koefisien regresi, peningkatan kualitas jaminan
per satuan unit analisis akan meningkatkan kepuasan pasien sebesar
0.290 unit satuan kepuasan. Dengan demikian maka                    untuk
meningkatkan kepuasan pasien maka pihak Puskesmas Turen harus
memperhatikan dan meningkatkan kemampuan para pegawainya dalam
memberikan pelayanan terhadap para pasien. Artinya dalam
melaksanakan tugas pegawai dituntut untuk lebih disiplin, ramah dan
sopan serta kejujuran didalam melaksanakan tugas.
       Upaya peningkatan kemampuan para pegawai dapat dilakukan
melalui berbagai langkah, salah satu diantaranya adalah melalui kegiatan
sosialisasi terhadap pegawai, kegiatan pendidikan dan pelatihan yang
memadai sesuai dengan kebutuhan. Penguasaan pengetahuan sekitar
seluk-beluk kesehatan oleh pegawai diperlukan dalam memberikan
penjelasan terhadap pasien atau memberikan solusi atas masalah yang
dihadapi pasien sekitar hubungannya dengan penggunaan jasa
puskesmas. Kemampuan komunikasi sangat diperlukan agar terjalin
komunikasi yang baik antara pegawai dengan para pasien sehingga tidak
terjadi kesalah pahaman, mulai dari proses endaftaran samapai
penanganan kesehatan yang dikeluhkan oleh pasien.


e. Pengaruh Empati terhadap Kepuasan Pasien
      Penilaian pasien terhadap empati para pegawai cukup baik, dilihat
dari distribusi rataan nilai untuk masing-masing item. Kondisi ini
mencerminkan bahwa perhatian, kesungguhan dan kemampuan pegawai
dalam memahami pasien serta kemudahan mendapatkan informasi yang
dirasakan pasien dalam memberikan pelayanan yang diinginkan sudah
maksimal. Artinya bahwa harapan pasien untuk menerima pelayanan
yang memuaskan dapat terpenuhi secara maksimal. Hal ini sudah
semestinya menjadi perhatian bagi pihak manajemen puskesmas untuk
dapat lebih meningkatkan pelayanan pada masa mendatang. Berdasar
hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel empati tidak
berpengaruh secara statistik terhadap kepuasan para pasien Puskesmas
Turen. Artinya meskipun koefisien regresi variabel empati positif,
namun koefisien tersebut tidak memiliki nilai secara statistik sehingga
tidak dapat diinterpretasikan lebih jauh karena tidak memiliki kebenaran
yang dapat dipertanggungjawabkan.


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Perkembangan sumberdaya manusia di Puskesmas Turen cukup
   baik, dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan pegawai mencapai
   sekitar 4 persentahun dalam waktu 2004-2006 dengan pertumbuhan
   terbesar pada kelompok perawat.
2. Prkembangan pelayanan yang diberikan oleh pihak Puskesmas
   Turen terhadap pasien mengalami perkembangan dari waktu ke
   waktu dengan tingkat pertumbuhan mencapai 3,77 persen/tahun
   dengan pertumbuhan tertinggi ditemukan pada jumlah pelayanan
   laboratorium.
3. Secara statistik, variabel penampilan fisik, variabel kehandalan,
   variabel daya tanggap, dan variabel jaminan berpengaruh nyata
   terhadap variabel kepuasan pasien pada tingkat signifikansi yang
   tinggi. Keempat variabel tersebut (bukti penampilan fisik,
   kehandalan, daya tanggap dan jaminan) berpengaruh secara positif
   terhadap kepuasan pasien, sehingga peningkatan kualitas pelayanan
   keempat variabel akan meningkatkan kepuasan pasien lebih tinggi
   lagi.
4. Variabel empati secara statistik tidak memberikan pengaruh yang
   signifikan terhadap tingkat kepuasan pelanggan. Oleh karena itu
   maka peningkatan kualitas pelayanan pada variabel empati tidak
   akan memberikan banyak pengaruh positif terhadap kepuasan
   pasien.


Saran
a. Untuk dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan
   pasien maka secara kuantitas jumlah sumberdaya manusia pegawai
   di Puskesmas Turen haruslah ditingkatkan. Peningkatan diperlukan
   terutama untuk tenaga bidan dan perawat sehingga pelayanan dapat
   lebih optimal.
b. Selain kuantitas sumberdaya manusia, peningkatan sarana dan
   prasarana penunjang serta kapasitas organisasi memerlukan
   perhatian tersendiri agar dapat mengikuti tuntutan perubahan
   penyakit yang berkembang.
c. Peningkatan kualitas pelayanan oleh para pegawai perlu terus
   dilakukan dengan memperhatikan unsur penampilan fisik, daya
   tanggap, empati, kehandalan dan jaminan. Dalam memberikan
   perhatian, kesungguhan memahami masalah pasien serta kemudahan
   memperolah informasi yang diperlukan memberikan manfaat yang
   besar bagi kepuasan pasien. Daya tanggap yang cepat dan tepat
   menjadi harapan pasien yang selama ini diinginkan. Ketepatan dalam
   memberikan keputusan terhadap masalah yang dihadapi pasien serta
   kecepatan dan ketepatan memenuhi janji dalam pelayanan sangat
   diharapkan dari para pegawai agar dapat memberikan kualitas yang
   terbaik. Kedisiplinan, keramahan, sopan dan kejujuran akan
   merupakan jaminan kualitas pelayanan baik.
                         DAFTAR RUJUKAN


Arikunto, Suharsimi. (1993) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
      Praktek, Cetakan Kesembilan, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Berenson L. Mark, Levine M. David, & Golstein, Matthew. (1987)
      Intermediate Statistical Methods and Applications: A Computer
      Package Approach, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New
      Jersey.
Engel , JF. Blackwell, Rogen D. and Paul W. Miniard (1995), Customer
      behavior, Eighth Edition, The Dryden Press, Harcount Brace
      College Publishers.
Kotler, Philip. (1994) Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan,
      Implemen-tasi dan Pengendalian di Indonesia, Jilid I, Alih Bahasa
      oleh Ancella Anitawati Hermawan, SE, MBA, Salemba Empat,
      Jakarta.
Kotler, Philip. & Amstrong, Gery. (1997) Dasar-Dasar Pemasaran, Alih
      Bahasa Alexander Sindoro, Prenhallindo.
Krajjewski and Ritzman. (1996) Operation Management Strategy and
      Analysis. 4th Edition. Addison - Wosley
Nie, Norman H., Hull, Hadlai C. Jenkins, Jean G Steinbrenner, Kain. dan
      Bent, Dale H., (1975) SPSS: Statistical Package for the Social
      Sciences. (2nd ed.). McGraw Hill Book Company, New York.
Norusis J. Marija. (1988) SPSS/PC+V3.0: Base Manual for the IBM
      PC/XT/ AT and PS/2, SPSS, Inc. Chicago, Illinois.
Parasuraman, A, Zeithaml, Valerie A, Berry Leonard L. (1985)
      SERVQUAL: A Conceptual Model of Service Quality and Its
      Implications for Future Reserch, Journal Of Marketing, Volume
      49 (Fall) Hal 41--50.
Sabihaini. (2002) Analisis Konsekuensi Keperilakuan Kualitas Layanan:
      Suatu Penelitian Empiris, Manajemen Usahawan Indonesia. No 02
      th XXXI (Februari 2002):29--37.
Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian.,(1989) Metode Penelitian
      Survey, Cetakan Pertama, LP3ES, Jakarta.
Soetjipto (1990) Service Quality, Alternatif Pendekatan Dan Berbagai
      persoalan Di Indonesia, Manajemen Usahawan Indonesia, Januari,
      1997
Tse, D.K. and P.C. Wilton. (1989) Models of Consumers Satisfactions
      Formation : An Extention, Journal Of Marketing Research, P. 204-
      -212
Sugiyono. (1999) Metode Penelitian Bisnis, Alpabeta, Bandung
Zeithmal, Valarie A, Leonard L. Berry, and A. Parasurraman (1996) The
      Behavioural Consequeness of Service Quality, Journal of
      marketing.60th April, 31--46
   Studi Degradasi Zat Pewarna Metilen Biru
         Menggunakan Ferrat (FeO4)2-

                             Nita Kusumawati


      Abstract: The synthesis of potassium ferrate and it use in
      degradation of non azoic dyes, methylen blue, have been studied.
      The purpose of this research is to study degradation of methylen
      blue using potassium ferrate. This research start by synthesis and
      characterization of potassium ferrate and also it uses as an axidant
      in degradation of methylen blue. Some parameters influencing
      degradation process by ferrate ion, such as pH and molar ratio
      Fe(VI):dye have been studied, and the degradation result was
      quantization by spectrophotometry UV-Vis. This paper describes
      an improved procedure for preparing solid phase potassium ferrate
      of high purity (90%). From XRD spectra, it was found that
      samples of the solid have a tetrahedral structure with a space group
      of D2h(Pnma). The aqueous stability of potassium ferrate at various
      pH values was investigated. It was found that potassium ferrate
      solution had a maximum stability at pH 9-10. The aqueous reaction
      of ferrate with methylen blue, was also investigated with a molar
      ratio of Fe(VI):dye in the range of 1:1 – 5:1. The optimal pH for
      methylen blue was 9,6. At this pH and a Fe(VI):dye molar ratio of
      5:1, approximately 100%of the methylen blue was degraded after
      30 minutes.
      Key words: degradation, oxidation, ferrate, methylene blue


Zat pewarna sintetik dewasa ini penggunaannya di berbagai industri
semakin luas. Pengguna terbesar zat pewarna adalah industri tekstil,
disamping industri kertas dan percetakan, kulit, farmasi, kosmetik, dan
bahkan industri makanan.


Nita Kusumawati adalah Mahasiswa PPS Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
       Ada sekitar 10.000 jenis zat pewarna yang digunakan oleh industri
sampai saat ini, dan lebih dari 700.000 ton zat pewarna sintetik
diproduksi setiap tahun di seluruh dunia (Zollinger, 1987).
       Zat pewarna mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap mamalia
dan organisme air. Dari penelitian Clarke dan Anliker (1984), hanya 2%
dari 300 zat pewarna yang diuji mempunyai LC50 untuk ikan lebih kecil
dari 1 mg/L, sedangkan sekitar 96% zat pewarna mempunyai LC50 lebih
besar dari 10 mg/L.
       Sampai saat ini, metode pengolahan yang efektif dan ekonomis
untuk penanganan zat pewarna, khususnya yang berasal dari industri
tekstil, masih menjadi topik yang menarik untuk diteliti. Beberapa
penelitian yang pernah dilakukan antara lain menggunakan metode
destruksi elektrokimia (Sheng dan Peng, 1994), degradasi fotokatalitik,
adsorpsi (Voudrias dkk, 2002), dan pengolahan secara biologi
menggunakan jenis bakteri tertentu (Chang dkk, 2001). Namun sejauh ini
belum ada sistem pengolahan tunggal yang cukup memadai untuk
mendegradasi zat pewarna.
       Pengolahan limbah secara biologi seringkali kurang efektif, karena
proses degradasi sangat tergantung pada kemampuan hidup konsorsium
bakteri. Kasus yang sering terjadi, kegagalan teknik pengolahan limbah
secara biologi disebabkan karena banyak bakteri yang mati akibat
berbagai senyawa kimia yang ada di limbah. Dalam limbah industri
tekstil, tidak hanya terkandung residu zat pewarna saja, tetapi juga
terdapat surfaktan dan zat aditif lainnya yang dapat menghambat kerja
bakteri, bahkan dapat mematikannya (Biocchi dkk, 2002).
       Pengolahan limbah secara fisik yang pernah dilakukan, antara lain
dengan menggunakan berbagai macam adsorben, salah satunya yang
paling sering digunakan adalah karbon aktif. Karbon aktif mempunyai
kemampuan dan efisiensi adsorpsi yang besar terhadap berbagai jenis
adsorbat yang berlainan. Namun demikian, penggunaan karbon aktif
kurang begitu disukai karena harganya yang mahal (Voudrias dkk,
2002). Sejumlah peneliti berusaha untuk mencari bahan alternatif yang
lebih murah yang dapat digunakan untuk menggantikan karbon aktif.
Beberapa bahan yang diteliti adalah tanah gambut, kulit kayu, khitin, gel
silika, bauksit, lempung bentonit, dan sejumlah adsorben polimer sintetik
(Nassar dan Elgeundi, 1991).
         Maka kemudian dikembangkan metode lain yang lebih efektif
dan efisien, yaitu dengan menggunakan oksidator untuk mengoksidasi
senyawa-senyawa polutan berbahaya ke dalam bentuk yang lebih aman
bagi lingkungan dan konsumsi sehari-hari masyarakat. Banyak oksidator
yang dapat digunakan untuk keperluan tersebut, misalnya KMnO4,
Cr2O72-, H2O2, dan HNO3. Namun oksidator-oksidator ini tidak bersifat
ramah lingkungan (toksik). Oleh karena itu, oksidator yang sebaiknya
digunakan adalah yang bersifat ramah lingkungan, dalam artian tidak
mencemari lingkungan, misalnya kalium ferrat, K2FeO4, (FeO42-dalam
larutan).


METODE
      Pada penelitian ini K2FeO4 disiapkan melalui oksidasi Fe(NO3)3
dengan hipoklorit. Bahan utama yang digunakan adalah besi (III) nitrat
(Fe(NO3)3), kalium hidroksida (KOH), dan metilen biru (C16H18ClN3S).
Bahan-bahan lain yang digunakan adalah : asam klorida (HCl), natrium
hipoklorit (NaClO), besi (III) nitrat (Fe(NO3)3.9H2O), metanol (CH3OH),
dinatrium hidrogen ortofosfat (Na2HPO4), natrium dihidrogen ortofosfat
(NaH2PO4), natrium tetraborat, natrium hidroksida (NaOH), aquades,
dan aquabides.
      Untuk mengendapkan FeO42- dan memberikan suasana basa dalam
reaksi adalah kalium hidroksida (KOH).
      Pada percobaan ini digunakan alat-alat gelas, antara lain gelas
beker, tabung reaksi, erlenmeyer, labu takar, gelas ukur, corong gelas,
spatula dan cawan arloji. Untuk menumbuk halus KOH digunakan
cawan porselin dan penggerus. Pemindahan larutan dilakukan dengan
pipet tetes dan pipet volume. Selain itu, alat-alat yang juga digunakan
adalah stirer, glass wool, dan kertas saring GF/A (Whatman B70 mm).
      Peralatan yang digunakan untuk analisa, meliputi vacuum
desiccator, XRD, dan spektrofotometri UV-Vis.


Sintesis Kalium Ferrat (K2FeO42-)
       Sebanyak 12 gram KOH dimasukkan ke dalam gelas beker yang
berisi 40 ml larutan NaOCl (5,25%). Larutan diaduk hingga semua KOH
terlarut. Selanjutnya ke dalam larutan ditambahkan 1 ml Fe(NO)3.
Larutan kemudian diaduk dan didiamkan hingga terbentuk larutan yang
berwarna ungu. Larutan didiamkan selama ± 1 hari agar ferrat yang
terbentuk menjadi stabil.


Isolasi (Pengendapan) Ferrat dengan KOH
       Larutan ferrat yang telah didiamkan selama ± 1 hari direaksikan
dengan 40 ml KOH 0,30 M. Selanjutnya larutan didiamkan hingga
terbentuk endapan berwarna ungu. Setelah terbentuk endapan, larutan
disentrifugasi pada 2000 rpm selama ± 10 menit. Endapan ungu yang
diperoleh dan menempel di dinding tabung sentrifuge, diambil dengan
menggunakan spatula untuk kemudian dikeringkan. Endapan yang
terbentuk adalah KFeO4. Untuk memastikan bahwa endapan yang
terbentuk adalah KFeO4, dilakukan karakterisasi menggunakan X-ray
diffraction (XRD).


Degradasi Metilen Biru
       Penentuan panjang gelombang maksimum metilen biru. Larutan
pewarna metilen biru diukur absorbansinya dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 500-700 nm.
       Pengaruh pH terhadap degradasi zat pewarna. Larutan metilen biru
disiapkan dengan melarutkan 2 mL larutan induk pewarna metilen biru
dalam 100 ml air suling bebas ion. Larutan kalium ferrat dibuat dengan
menggunakan air suling bebas ion dan larutan buffer pH segera sebelum
dilakukan masing-masing reaksi, untuk meminimalisasi dekomposisi
secara cepat dari ferrat dalam larutan berair. Reaksi oksidasi dilakukan
dengan melakukan pencampuran secara cepat dari dua larutan kimia
(metilen biru dan ferrat) pada rentang pH 9 -10. Pada reaksi oksidasi,
sampel dibaca absorbansinya hingga selama 20 menit. Semua
eksperimen dilakukan pada temperatur ruang (23 ± 2ºC).
       Pengaruh variasi rasio molar terhadap degradasi zat pewarna.
Larutan metilen biru disiapkan dengan melarutkan 2 mL larutan induk
pewarna metilen biru dalam 100 ml air suling bebas ion. Larutan kalium
ferrat dibuat dengan menggunakan air suling bebas ion dan larutan buffer
pH segera sebelum dilakukan masing-masing reaksi, untuk
meminimalisasi dekomposisi secara cepat dari ferrat dalam larutan
berair. Reaksi oksidasi dilakukan dengan melakukan pencampuran
secara cepat dari dua larutan kimia (metilen biru dan ferrat) pada rasio
molar Fe(VI) : metilen biru yang berbeda, yaitu 1:1--5:1. Pada saat
reaksi, sampel dibaca absorbansinya hingga selama 20 menit. Semua
eksperimen dilakukan pada temperatur ruang (23 ± 2ºC).


HASIL
Preparasi Padatan Kalium Ferrat
       Metode preparasi basah untuk sintesis kalium ferrat terbagi
menjadi beberapa langkah. Pertama, pemilihan besi(III) nitrat daripada
senyawa-senyawa garam besi lainnya, telah menunjukkan hasil terbaik.
Kedua, ketika proses preparasi larutan hipoklorit dilakukan, padatan
kalium klorida yang tidak larut dipisahkan melalui proses filtrasi
menggunakan kertas saring GF/C dan tidak dengan menggunakan glass
filter seperti yang digunakan pada metode Delaude dan Lazlo. Ketiga,
setelah KOH ditambahkan ke dalam larutan ferrat untuk mengendapkan
kalium ferrat, larutan didiamkan selama lebih kurang 40 menit untuk
pembentukan kristal kalium ferrat. Keempat, endapan kalium ferrat
ditingkatkan dengan menggunakan dua kali penyaringan tambahan
menggunakan kertas saring GF/A yang memiliki ukuran pori yang lebih
kecil (indeks pori = 1,6 µm) dibandingkan dengan glass filter P-3 (16 µm
≤ indeks pori < 40 µm), sebagai pre-filter. Dan akhirnya, selama proses
pengeringan, digunakan n-heksana, n-pentana, metanol dan dietil eter.


Karakteristik Sampel Kalium Ferrat
      Padatan kalium ferrat yang telah dihasilkan, kemudian
dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Spektra XRD
yang diperoleh tampak pada Gambar 1.
      Dari spektra tersebut di atas, diperoleh tiga puncak utama sebagai
berikut.


Tabel 1 Data XRD FeO42-

 No     Puncak       d (A)    Intensitas

  1        19       28,2451      938
  2        28       40,4321      312
  3        15       25,4543      282


      Konsentrasi kalium ferrat dalam larutan berair ditentukan dengan
spektroskopi UV-Vis dan spektra absorbansi kalium ferrat 0,51 mM
yang diperoleh, ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2 Spektra Absorbsi Kalium Ferrat pada Daerah Visible



        Gambar 2 menunjukkan bahwa larutan kalium ferrat mempunyai
spektrum UV-Vis dengan absorbansi maksimum pada panjang
gelombang 510 nm. Absorbtivitas molar pada 510 nm telah berhasil
ditentukan oleh Bielski dan Thomas (1978) dan besarnya adalah 1150 M-
1
  cm-1.


Degradasi Zat Pewarna dalam Larutan Berair oleh Ferrat
1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Metilen Biru
      Penentuan panjang gelombang maksimum metilen biru dilakukan
dengan cara melakukan analisa terhadap larutan metilen biru 0,25 mM
menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang
500--700 nm.
      Berdasarkan spektra absorpsi di atas, tampak bahwa absorbansi
maksimum metilen biru terletak pada panjang gelombang 663 nm.


2. Pengaruh Variasi pH dan Rasio Molar terhadap Degradasi Zat Pewarna
     Untuk mempelajari reaksi metilen biru pada tingkat dissosiasi
dengan kalium ferrat, dan pengaruh pH, sejumlah tes telah dilakukan
dengan larutan zat pewarna (10-5 M) dan potassium ferrat (5 x 10-5 M)
pada pH yang berbeda mulai 9 hingga 10. Hasil eksperimen disajikan
pada Gambar 3.

                            0.25

                             0.2
               Absorbansi




                            0.15

                             0.1

                            0.05

                              0
                                   9       9.2          9.4          9.6         9.8        10
                                                              pH


Gambar 3 Degradasi Zat Pewarna dengan Variasi pH


     Rangkuman hasil eksperimen dari proses degradasi zat pewarna
pada waktu reaksi yang berbeda dengan sejumlah variasi rasio molar
Fe(VI): MB yang berbeda, ditunjukkan pada Gambar 4.

               0.20
               0.18
               0.16
               0.14
               0.12
        A/Ao




               0.10
               0.08
               0.06
               0.04
               0.02
               0.00
                              3        8          13           18                23         28
                                                         t (menit)
                                            5:1        4:1     3:1         2:1        1:1


Gambar 4 Degradasi Metilen Biru dengan Variasi Rasio Molar pada pH                               9,6
Kinetika Reaksi Degradasi Metilen Biru
      Berdasarkan perhitungan data, diketahui bahwa reaksi degradasi
metilen biru mengikuti order reaksi satu, karena dari ketiga harga R2
untuk order nol, satu dan dua, R2 reaksi order satu yang paling mendekati
1. Dalam penelitian ini, konsentrasi metilen biru yang digunakan
dianggap konstan selama reaksi, sehingga laju reaksi hanya bergantung
pada konsentrasi kalium ferrat. Dengan demikian, reaksi degradasi zat
pewarna dikatakan mengikuti order reaksi satu.


BAHASAN
      Pada proses preparasi padatan kalium ferrat, kertas saring GF/C
digunakan untuk memisahkan padatan kalium klorida yang tidak larut,
karena memiliki ukuran pori yang lebih kecil (indeks pori = 1,2 µm)
dibandingkan dengan glass filter P-0(160 µm ≤ indeks pori < 250 µm)
dan dapat menurunkan ketidakmurnian larutan ferrat.
      Untuk proses pengeringan padatan kalium ferrat, digunakan n-
heksana, n-pentana, metanol dan dietil eter.
      Metanol merupakan pelarut yang lebih baik dibandingkan etanol
dan dapat melarutkan banyak senyawa garam anorganik. Karenanya
metanol digunakan dalam penelitian ini untuk melarutkan pengotor,
seperti hidroksida, klorida, dan nitrat dari endapan yang terbentuk. N-
heksana dan n-pentana menggantikan benzena yang digunakan pada
prosedur awal, untuk alasan keamanan dan kesehatan. N-heksana
ditambahkan pada padatan kalium ferrat kering untuk mencegahnya dari
degradasi sebelum pencucian dengan metanol.
      Untuk mengetahui kemurnian padatan kalium ferrat yang
dihasilkan, spektra XRD hasil penelitian ini kemudian dibandingkan
dengan spektra XRD hasil penelitian Graham dkk. Munculnya puncak
utama pada 28,9º(2θ) dengan intensitas puncak utama pada 900,
menunjukkan spektra ini telah bersesuaian dengan padatan kalium ferrat
yang memiliki tingkat kemurnian 90%.
      Degradasi pewarna ditandai dengan terjadinya dekolorisasi atau
penurunan intensitas warna. Gambar 3, menunjukkan bahwa pada pH 9,6
penurunan intensitas warna metilen biru mencapai 100% setelah
degradasi selama 30 menit. Hanya terjadi sedikit degradasi pada pH di
bawah ataupun di atas ini. Dengan demikian, kestabilan ferrat merupakan
faktor yang menentukan dalam reaksi oksidasi. Alasan yang paling dapat
menjelaskan penurunan degradasi pada pH di bawah dan di atas 9 akan
didiskusikan kemudian.
       Pengaruh rasio molar dari senyawa pereaksi pada degradasi
metilen biru dalam air juga telah diteliti. Serangkaian tes telah dilakukan
pada pH 9,6 dengan menggunakan rasio molar Fe(VI): MB dari 1:1
hingga 5:1.
       Gambar 4, menjelaskan bahwa reaksi antara metilen biru dan ferrat
berlangsung relatif cepat, dengan degradasi zat pewarna mayor (94,9%)
terjadi setelah 5 menit, dan diikuti dengan reaksi lebih lanjut secara
berangsur-angsur pada 25 menit berikutnya. Berdasarkan grafik pada
Gambar 4, terlihat jelas bahwa laju reaksi meningkat tajam terhadap
rasio molar. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa metilen biru telah
tereduksi setelah 20 menit, dengan prosentase hasil degradasi MB
sebesar 94,4%; 96,3%; 98,6%; 99,2% dan 100% untuk masing-masing
rasio molar 1:1; 2:1;3:1;4:1; dan 5:1. Seratus persen degradasi zat
pewarna dengan rasio molar 5:1 terjadi setelah 30 menit. Secara
keseluruhan, hasil ini mengindikasikan bahwa metilen biru dapat
terdegradasi oleh ferrat pada kondisi ini.


SIMPULAN
      Pada penelitian ini, dapat diambil beberapa kesimpulan, diantara-
nya adalah bahwa:
1. Padatan kalium ferat telah berhasil dipreparasi dengan mengim-
    provisasi prosedur preparasi dimana produk memiliki tingkat
    kemurnian mencapai 90 %.
2. Degradasi metilen biru mencapai optimum pada pH 9,6. Setelah
    reaksi selama 30 menit, senyawa metilen biru berhasil terdegradasi
    sebanyak 100%.
3. Reaksi degradasi metilen biru mengikuti reaksi orde satu.
                         DAFTAR RUJUKAN


Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Azas & Struktur Jilid 1, Edisi
      ke-5 (Alih bahasa oleh : Sukmariah Maun, Kamianti Anas, Tilda S.
      Sally), Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.
Brown, D., and P. Laboureur. 1983. The Degradation of Dyestuffs: Part
      I. Primary Biodegradation under Anaerobic Conditions.
      Chemosphere. 12, 1539--1533.
Brown, D., and B. Hamburger. 1987. The Degradation of Dyestuffs: Part
      III. Investigations of their ultimate degradability. Chemosphere.
      16, 397--404.
Carey, J.H. 1992. An Introduction to AOP for Destruction of Organics in
      Wastewater. Water Pollut. Res.J.Can. 27, 1--21.
Cartwright, R.A. 1983. Historitical and Modern Epidemiological Studies
      on Populations Exposed to N-substitued Aryl-Compounds. Envr.
      Health Perspect. 49, 13.
Clarke, E.A., and R. Anliker. 1984. Safety in Use of Organic Colorants:
      Health and Safety Aspect. Rev. Prog. Coloration. 14, 84--90.
Edwards, J.C. 2000. Investigation of Color Removal by Chemical
      Oxidation for Three Reactive Textile Dyes and Spent Textile Dye
      Wastewater. Thesis of Master of Science. Virginia Polytechnic
      Institute and State University, Blacksburg, Virginia.
Nassar, M., and M. Elgeundi. 1991. Comparative Cost of Color Removal
      from Textile Effluents Using Natural Adsorbents. J. Chem. Tech.
      Biotechnol. 50, 257--264.
Oaks, John, and P. Gratton. 1998. Kinetic Investigation of the Oxidation
      of Methyl Orange and Substituted Arylazonaphthol Dyes by
      Peracids in Aqueous Solution. J. Chem. Soc., Perkin Trans. 2, 1-9.
Pagga, U., and D. Brown. 1986. The Degradation of Dyestuffs in Aerobic
      Biodegradation Tests. Chemosphere. 15, 479-91.
Sheng, H., and C.F. Peng. 1994. Treatment of Textile Wastewater by
      Electrochemical Methods. Water Res. 28, 277--282.
Voudrias, E., K. Fytianos, and E. Bozani. 2002. Sorption-Desorption
      Isoterms of Dyes from Aqueous Solutions and Wastewaters with
      Different Sorbent Materials. Global Nest: the int.J. 4, 75--83.
Wallace, T.H. 2001. Biological Treatment of a Synthetic Dye Water and
       an Industrial Textile Wastewater Containing Azo Dye Compounds.
       Thesis of Master of Science. Virginia Polytechnic Institute and
       State University, Blacksburg, Virginia.
Zissi, U., and G. Lyberatos. 1996. Azo-Dye Biodegradation under Anoxic
       Conditions. Wat. Sci. Tech. 34, 495--500.
Zollinger, H. 1987. Colour Chemistry-Synthesis, Properties and
       Application of Organic Dyes and Pigments. VCH Publisher, New
       York, 92--102.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:233
posted:3/13/2011
language:Indonesian
pages:162