Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

ANALISIS PENDAPAT ABU HANIFAH TENTANG DI BOLEHKANNYA TAYAMMUM SEBELUM MASUK WAKTU SHALAT

VIEWS: 1,735 PAGES: 69

									     ANALISIS PENDAPAT ABU HANIFAH
 TENTANG DI BOLEHKANNYA TAYAMMUM
      SEBELUM MASUK WAKTU SHALAT


                         SKRIPSI

              Disusun Untuk Memenuhi Tugas
dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1
                 dalam Ilmu Hukum Islam
                   (Ahwal-al-Syahsiyah )




                      Disusun Oleh :

                        Maria Ulfa
                       2100092 /AS




           FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
              SEMARANG
                  2010
ANALISIS PENDAPAT ABU HANIFAH TENTANG DI BOLEHKANNYA
             TAYAMUM SEBELUM MASUK WAKTU SHALAT


BAB I       : PENDAHULUAN
              A. Latar Belakang Masalah
              B. Permasalahan
              C. Tujuan Penelitian
              D. Telaah Pustaka
              E. Metode Penelitian
              F. Sistematika Penulisan

BAB II      : TINJAUAN UMUM TENTANG TAYAMMUM
              A. Pengertian Tayamum dan Dalil-Dalilnya
              B. Syarat dan rukun Tayammum
              C. Benda-Benda Yang dapat digunakan Untuk Tayammum
              D. Tayamum Sebagai Pengganti Wudhu

BAB III :    PENDAPAT ABU HANIFAH TENTANG DIBOLEHKANNYA
             TAYAMUM SEBELUM MASUK WAKTU SHALAT
             A. Biografi, Perjuangan dan Karya Ilmiah Abu Hanifah
                 1. Biografi
                 2. Perjuangan Abu Hanifah
                 3. Karya Ilmiah Abu Hanifah
             B. Pendapat Abu Hanifah Tentang Dibolehkannya Tayamum
                 Sebelum Masuk waktu shalat
             C. Metode Istimbath Hukum Abu Hanifah Tentang Tayamum
                 Sebelum Masuk Waktu Shalat

BAB IV :      ANALISIS PENDAPAT ABU HANIFAH TENTANG
              DIBOLEHKANNYA          TAYAMUM      SEBELUM MASUK
              WAKTU SHALAT
              A. Analisis Pendapat Abu Hanifah Tentang Dibolehkannya
                 Tayamum Sebelum Masuk Waktu Shalat
              B. Analisis Metode Istimbath Hukum Abu Hanifah Tentang
                 Tayamum Sebelum Masuk Waktu Shalat.
              C. Implikasi Hukum Pendapat Abu Hanifah terhadap Aktualisasi
                 Hukum Islam di Indonesia

BAB V       : PENUTUP
              A. Kesimpulan
              B. Saran-saran
              C. Penutup
                                        BAB I
                                PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang Masalah

            Shalat adalah pekerjaan hamba yang beriman dalam situasi

     menghadapkan wajah dan sukmanya kepada Dzat Yang Maha Suci. Bila

     shalat dilakukan secara tekun dan kontinu, menjadi alat pendidikan rohani

     manusia yang efektif, memperbarui dan memelihara jiwa serta memupuk

     pertumbuhan kesadaran. Makin banyak shalat itu dilakukan dengan kesadaran

     bukan dengan paksaan dan tekanan apapun, berarti sebanyak itu rohani dan

     jasmani dilatih berhadapan dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Efeknya

     membawa kepada kesucian rohani dan jasmani. Seperti kata seorang ahli

     hikmah: "Ceritakanlah kepadaku dengan siapa engkau berhubungan dan

     bergaul, nanti akan kukatakan padamu siapa engkau." Kesucian rohani dan

     jasmani akan memancarkan akhlak yang mulia, sikap hidup yang dinamis

     penuh amal saleh. Sebaliknya akan terhindar dari bebagai perbuatan dosa,

     jahat dan keji1 Allah SWT berfirman:




            Artinya: Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah
                     dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. 2 (QS. Al-
                     Ankabuut: 45)

        1
         Nasruddin Razak, Dienul Islam, Bandung: PT.Al-Ma’arif, 1987, hlm. 232.
        2
         Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Depag, 1978, hlm. 635.

                                            1
                                                                                            2


            Salah satu syarat shalat adalah suci dari hadas besar dan kecil. Apabila

    seseorang junub atau seseorang akan mengerjakan shalat, sementara orang tadi

    tidak mendapatkan air untuk mandi atau untuk wudlu, maka sebagai ganti

    guna menghilangkan hadas besar atau kecil dengan melakukan tayammum.

    Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Zainuddin al-Malibari bahwa tayammum

    bisa dilakukan karena hadas besar atau kecil, bila tidak air atau khawatir

    berbahaya dalam menggunakannya maka dapat memakai debu yang suci

    mensucikan.3

            Tayammum menurut bahasa sama dengan qasad artinya menuju.

    Menurut pengertian istilah, tayammum ialah menuju kepada tanah untuk

    menyapukan dua tangan dan wajah dengan niat agar dapat mengerjakan shalat

    dan yang sepertinya.4 Kata tayammum dalam kamus Idris al-Marbawy

    demikian pula dalam al-Munjid diartikan menyengaja.5 Sedang menurut syara’

    ialah menyengaja tanah untuk penghapus wajah dan kedua tangan dengan

    maksud dapat melakukan shalat dan lain-lain.6

              Menurut Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, tayamum menurut

    bahasa berarti menuju debu. Sedangkan menurut pengertian syari’at adalah

    mengusapkan debu ke wajah dan kedua tangan dengan niat untuk mendirikan

    shalat atau lainnya.7 Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia, tayamum adalah
       3
         Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary, Fath al- Mu’in Bi Sarkh Qurrah al-Uyun,
Semarang: Maktabah wa Matbaah, Karya Toha Putera , tth, hlm.8.
        4
          DEPAG RI, Ilmu Fiqh, Jilid I, Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana
Perguruan Tinggi Agama/ IAIN Jakarta, Cet. 2, 1982, hlm. 71
        5
          Idris al-Marbawy, Kamus Idris al-Marbawy, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, tt, hlm. 121.
Luwice Ma’luf, al-Munjid, Beirut Libanon: al-Ijtimaiyah, tt, hlm. 118.
        6
          Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 1,Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tt, hlm.76.
        7
          Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, Al-Jami Fii Fiqhi An-Nisa, Beirut Libanon: Daar
Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1996, hlm. 10.
                                                                                          3


    menyapu wajah dan kedua tangan hingga dua siku dengan menggunakan tanah

    atau debu yang suci menurut cara tertentu, sebagai pengganti wudlu atau

    mandi bagi orang-orang yang tidak dapat menggunakan air karena halangan-

    halangan tertentu.8

            Adapun dasar disyariatkannya tayammum ialah al-Qur’an dan as-

    Sunnah. Al-Qur’an Surat (al Maidah ayat 6)




            Artinya : …dan jika kamu dalam perjalanan atau kembali dari tempat
                      buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu
                      tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah
                      yang baik (bersih); sapulah wajahmu dan tanganmu dengan
                      tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
                      hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-
                      Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.9 (QS. al-Maidah: 6)

             Dasar as-Sunnah dapat ditemukan dalam sabda Rasulullah SAW yang

    berbunyi:




        8
         Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Anggota
IKAPI, Djambatan, 1992, hlm. 939.
       9
         DEPAG RI, al-Qur'an dan Terjemahnya, Surabaya: Surya Cipta Aksara, 1993, hlm.
158.
                                                                                               4




             10



             Artinya : Dari Jabir bin Abdullah ra katanya sesungguhnya Nabi
                       SAW bersabda: saya telah diberi lima perkara yang belum
                       pernah diberikan kepada seorang pun sebelum saya yaitu:
                       saya ditolong dengan ketakutan musuh sejauh perjalanan
                       sebulan, dijadikan bagi saya bumi sebagai tempat sujud
                       (shalat) dan sebagai alat bersuci, maka siapa yang sudah
                       sampai     padanya    waktu     shalat,   hendaklah   ia
                       bersembahyang.

             Dalam ayat dan hadits di atas ada kata “tayammum”. Perkataan itu

    mengisyaratkan bahwa dalam Islam, manusia diberi keringanan dalam

    merealisasikan atau mengimplementasikan kewajibannya sebagai hamba

    Allah. Keringanan itu tentunya dengan syarat antara lain telah datang waktu

    shalat; tidak mendapatkan air setelah berupaya maksimal mencarinya;

    berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit, apabila menggunakan

    air bertambah parah penyakitnya dan dengan tanah suci dan berdebu.11

             Yang menjadi masalah, apakah sah melakukan tayammum sebelum

    datangnya waktu shalat. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Pendapat

    pertama misalnya Imam Syafi'i mengatakan bahwa melakukan tayammum

    sebelum datang waktu shalat, maka tayammum yang demikian hukumnya




        10
           Al-Hafidz Ibn, Hajar al-Asqalani, Bulug al-Marram Min Adillati al-Ahkam, Libanon:
Daar al-Kutub al-Ijtimaiyah, Bairut, tt, hlm. 25. Lihat Sayid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-
San’ani , Subul al-Salam Sarh Bulugh al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam , Juz 3, Kairo: Dar
Ikhya’ al-Turas al-Islami, 1960 hlm. 93.
        11
          Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 1, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tt, hlm. 77.; Imam
Abi Abdillah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i, al-Umm, Juz 1, Beirut: Daar al-Fikr, tt, hlm. 62-63.;
Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, Juz 1, Semarang: Usaha Keluarga, tt, hlm. 46.
                                                                                           5


    tidak sah.12 Menurut Abu Hanifah dibolehkan tayamum sebelum datang waktu

    shalat.13

             Dari pendapat Abu Hanifah di atas, timbul masalah, apakah yang

    menjadi alasan sehingga ia berpendapat seperti itu? Kemudian apakah yang

    menjadi metode istinbathnya? Bertolak pada paparan sebelumnya, dan seiring

    dengan kemajuan zaman, umat Islam membutuhkan respon fiqih yang praktis

    tetapi tetap bermuara pada tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Dalam hubungan

    ini patut diketengahkan pendapat salah seorang ahli hukum positif di

    Indonesia yaitu Satjipto Rahardjo

        Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh setiap sistem hukum adalah
        bagaimana bisa mempertahankan kelangsungan hidup di tengah-tengah
        tarikan perubahan-perubahan masyarakat. Tantangan ini bisa dijawab
        dengan memberikan jawaban atau mampu beradaptasi terhadap
        perubahan-perubahan      tersebut   sehingga     bisa     mempertahankan
        kelangsungan hidupnya tanpa harus bertentangan dengan sumber hukum
        yang tertinggi.14


             Atas dasar itu menjadi penting masalah ini diteliti guna dicari

    solusinya, mana pendapat yang sesuai dengan perubahan masyarakat. Di

    samping itu masalah tersebut menarik minat peneliti, karena dari

    pengalamannya peneliti mendapat kesan bahwa hal itu sangat menarik.

    Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pendapat Abu Hanifah

    tentang dibolehkannya tayamum sebelum datangnya waktu shalat. Sebagai

    kegunaannya secara teoritis, untuk memperluas dan memperkaya khazanah

        12
             Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i, al-Umm, Juz 1, Bairut: Daar al-
Fikr, tt, hlm. 62.
        13
           Muhammad Amin al-Ma’ruf ibn Abidin, Hasyiyah Rod Al-Muhtar fi Fiqh Mazhab
Madzhab Hanafi an- Nu’man, juz 2, Beirut Libanon: Daar al-Fikr, tth, 229-245.
       14
          Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung: Alumni, 1982, hlm. 201
                                                                                          6


     kepustakaan hukum Islam; secara praktisnya agar masyarakat memperoleh

     jawaban yang obyektif terhadap masalah tersebut. Dalam hubungannya

     dengan judul di atas sebabnya peneliti memilih tokoh Abu Hanifah, karena ia

     adalah seorang ulama besar dan ahli ilmu agama yang tidak ada tara di

     zamannya. Ia juga seorang yang amat berjasa bagi Islam dan umatnya, seorang

     pilihan yang telah lulus dalam menempuh berbagai ujian yang besar. Hal itu

     antara lain dapat dilihat dari karya-karyanya di bidang ilmu pengetahuan

     agama, khususnya fikih. Hasil karya Abu hanifah yang hingga kini masih

     dapat dijumpai antara lain: Al-Mabsut; Al-Jami’us Sagir; al-Jami’ul Kabir.

     Masih banyak kitab yang berisikan buah pikiran Abu Hanifah yang ditulis dan

     diriwayatkan oleh para muridnya.15

               Bertolak dari uraian di atas mendorong peneliti untuk mengangkat

     tema ini dengan judul: Analisis Pendapat Abu Hanifah Tentang di

     Bolehkannya Tayamum Sebelum Masuk Waktu Shalat


B.        Permasalahan

               Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat

     pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya.16 Bertitik

     tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan :

     1.                    Bagaimana pendapat Abu Hanifah tentang dibolehkannya

          tayamum sebelum masuknya waktu shalat?


          15
            Ali Fikri, Kisah-Kisah Para Imam Mazhab, terj. Abd.Aziz MR, Yogyakarta: Mitra
Pustaka, hlm. 3-45. Lihat juga Mahmud Syaltut, Muqaaranatul Mazahib Fil Fiqhi, Cairo Mesir:
Muhammad Ali Shabih Al-Azhar, 1393 H/1973 M, hlm. 13.
         16
            Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1993, hlm. 312.
                                                                                7


     2.                    Apakah yang menjadi metode istinbath hukum Abu

          Hanifah?


C.        Tujuan Penulisan

             Adapun yang menjadi tujuan penulisan skripsi sebagai berikut:

     3.                    Untuk mengetahui pendapat Abu hanifah tentang

          dibolehkannya tayamum sebelum masuknya waktu shalat

     4.                    Untuk mengetahui yang menjadi metode istinbath hukum

          Abu Hanifah


D.        Telaah Pustaka

             Berdasarkan penelitian di fakultas Syari’ah ditemukan adanya skripsi

     yang berhubungan dengan judul penelitian ini yaitu: karya ilmiah yang

     disusun oleh Mukhamad Hasanudin 2198044/AS berjudul: Studi Analisis

     Pendapat Hasbi Ash Shiddieqy Tentang Bolehnya Mengerjakan Dua Shalat

     Fardu Dengan Satu Kali Tayamum. Dalam kesimpulannya diterangkan:

     Menurut TM. Hasbi Ash Shiddieqy satu kali tayammum dapat digunakan

     untuk melakukan lebih dari satu shalat fardu. Dasar hukum dalam masalah ini

     adalah tanah dan air merupakan dua bagian yang tak terpisahkan. Hal ini

     berarti air dan tanah memiliki fungsi yang sama yaitu dapat dijadikan sebagai

     alat bersuci. Apabila seseorang berwudlu, maka boleh shalat seberapa yang

     dikehendakinya. Maka demikian pula dengan tayamum sebelum datangnya

     hadas. Selanjutnya TM. Hasbi Ash Shiddieqy menegaskan, satu kali tayamum

     bisa digunakan untuk dua shalat fardu adalah pendapat yang diamalkan oleh
                                                                                            8


    sebagian ahli-ahli hadits, dan inilah yang lebih kuat. Demikian pula pendapat

    madzhab Abu Hanafiah, al-Laits, dan Daud. Dengan demikian TM. Hasbi Ash

    Shiddieqy, termasuk ulama yang menganggap satu kali tayamum bisa

    digunakan untuk shalat fardu.

             Dari keterangan di atas dapat ditegaskan bahwa penelitian terdahulu

    kajiannya adalah tentang kedudukan tayamum dalam hubungannya dengan

    boleh tidaknya satu kali tayamum digunakan untuk dua shalat fardu.

    Sementara tokoh yang dikaji adalah TM.Hasbi Ash-Shiddieqy. Sedangkan

    penelitian saat ini hendak mengkaji boleh tidaknya mengerjakan tayamum

    sebelum masuknya waktu shalat, dan tokohnya adalah Abu Hanifah. Dengan

    demikian sangat berbeda antara penulisan sebelumnya dengan yang ada

    sekarang. Hal ini mengandung arti jauh dari upaya adanya penjiplakan atau

    pengulangan.

             Dalam hubungannya dengan telaah pustaka, di bawah ini dikemukakan

    berbagai pendapat para ulama secara garis besar yang dikelompokkan menjadi

    dua bagian. Kelompok pertama menyatakan telah datangnya waktu shalat

    sebagai syarat sahnya tayamum dengan berpijak pada Sabda Rasulullah SAW:




             17



        17
          Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi,
Musnad Ahmad, Kairo: Tijariyah Kubra, tt, hlm. 187. Cf. Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz 1, Kairo:
Daar al-Manar, 1367, hlm. 239. al-Imam Ibnu Hazm, al-Muhalla al-Mujalla, Juz 2, Bairut: Daar
                                                                                            9


             Artinya : Amer Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata:
                       “Rasulullah SAW bersabda: Telah dijadikan bumi untukku
                       tempat bersujud dan alat bersuci. Di mana saja aku dapati
                       oleh waktu shalat, aku menyapu dengan bumi
                       (bertayammum) dan lalu aku shalat. (HR Ahmad)


             Sebagian ahli fiqih menurut TM. Hasbi Ash Shiddieqy berpandangan

    bahwa Hadits ini menunjukkan kepada disyaratkannya tayamum sesudah

    datangnya waktu shalat.18             Misalnya Imam Syafi'i dalam kitabnya

    mengatakan: Allah Taala menetapkan waktu-waktu bagi shalat. Maka tidaklah

    bagi seseorang bershalat sebelum waktu-waktu itu. Sesungguhnya kita

    disuruh shalat, apabila telah datang waktunya. Begitu juga disuruh dengan

    tayammum, ketika mau berdiri kepada shalat dan memerlukan kepada air.

    Maka siapa yang bertayammum untuk shalat sebelum datang waktunya dan

    mencari air, niscaya tidak boleh baginya shalat dengan tayammum itu.

    Sesunguhnya boleh mengerjakan shalat apabila telah datang waktu shalat,

    yang apabila dikerjakan shalat itu padanya, niscaya memadailah baginya.

             Pendapat sama dikemukakan Syeikh Abu Syujak yang menerangkan,

    disyariatkan tayammum itu sesudah datang waktu shalat. Namun dalam hal

    ini harus mencari air lebih dahulu dan adanya kesulitan dalam

    penggunaannya. Karenanya jelaslah tayammum bisa dianggap sah jika

    dikerjakan sesudah datang waktu shalat.19 Sementara Muhammad ibn Qasim
al-Fikr, tt, hlm. 133.; Al-Imam Alamah Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad as-Syaukani, Nail
al-autar Min Asrari Muntaqa al-Akhbar, Juz 1, Mustafa al-Babi al-Halabi, tt, hlm. 326-328.; Al
Iman Ibnu Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir, Dar al-Fikr al-Arabi,
1954, hlm. 165. Abdul Ghani al-Maqdisi, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi,
1954, hlm. 114.
          18
             TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadits-hadits Hukum, Jakarta: PT Magenta Bhakti
Guna, Cet 5, 1994, hlm. 320.
          19
             Taqi al-Din abu Bakr Muhammad al-Husaini, Kifayat al-akhyar Fi hall Ghayah al-
khtishar, Semarang: Maktabah Alawiyyah, tt, hlm. 59-60.
                                                                                           10


    menganggap bahwa datangnya waktu shalat merupakan syarat sahnya

    tayammum.20 Demikian pula Abu Ishaq al-Syiroozi dalam bukunya

    mengatakan tidak boleh bertayammum untuk melakukan shalat fardu kecuali

    setelah datang waktu shalat, misalnya karena ketiadaan air atau karena takut

    menggunakannya.21

             Sebuah buku yang diperuntukkan sebagai tingkat dasar yang dikarang

    Sulaiman      Rasjid    dalam     pandangannya        ia   menganggap        tayammum

    disyariatkan untuk orang yang terpaksa. Karena itu sebelum datang waktu

    shalat ia belum terpaksa, sebab shalat belum wajib atasnya ketika itu.22

             Seiring dengan pendapat di atas adalah pendapat Diibul Bigha, bahwa

    syarat tayammum itu yang pertama adalah adanya udzur karena bepergian

    atau sakit; kedua, sudah datang waktu shalat sementara air yang dicari tidak

    didapatkan, ketiga, terhalangnya memakai air dan diperlukannya air tersebut

    (untuk diminum misalnya) sesudah berhasil mencarinya, dan keempat,

    memakai tanah suci yang berdebu.23

             Syekh Muhammad Ibn Qasim menjelaskan syarat-syarat tayammum

    ada lima macam yaitu:

    1) Adanya halangan (udzur) karena bepergian atau sakit.
    2) Masuk shalat. Menurutnya tidak sah tayammum karena untuk shalat
       sebelum masuk waktunya.
    3) Harus mencari air sesudah datang waktu shalat yang dilakukan oleh
       dirinya sendiri atau dengan orang yang telah mendapatkan izin untuk
         20
            Syehk Muhammad ibn Qasyim al-Ghazzi, Fath al-Qarib al-Mujib, Indonesia: Dar al-
Ihya al-Kitab, al-Arabiah, tt, hlm. 9.
         21
            Al-Imam Abu Ishaq al-Syirazi, Kunci Fiqih Syafi’i, terj. Hafid abdullah, Semarang:
CV. Asy Syifa, 1992, hlm. 11.
         22
            H. Sulaman Rasjid, Fiqh Islam, Bandung: CV Sinar Baru, Cet. 22, 1989, hlm. 51.
         23
            Musthafa Diibul Bigha, Ihtisar Hukum-Hukum Islam Praktis, terj. H. Uthman Mahrus
dan Zainus Sholihin, Semarang: CV. asy-Syifa, 1994, hlm. 54-55.
                                                                          11


   mencarikan air. Maka hendaknya mencari air dari upayanya sendiri dan
   dari temanya. Menurutnya jika orang tersebut sendirian, maka hendaknya
   melihat kanan kirinya dari empat arah bila berada di tempat yang buminya
   datar. Sedang jika berada di tempat yang naik turun, maka hendaklah
   memperkirakan berdasarkan penglihatannya.
4) Terhalang memakai air. Seperti takut memakai air yang menyebabkan
   hilangnya nyawa atau hilangnya manfaat anggota. Termasuk juga
   terhalang memakai air yaitu bila ada air didekatnya, ia takut akan dirinya
   jika menuju tempat air itu seperti adanya binatang buas, musuh, takut
   hartanya dicuri orang atau takut kepada orang yang pemarah.
5) Harus dengan debu yang suci yang tidak dibasahi. Perkataan “ath-
   Thahiru” (               ) artinya yang suci itu sejalan dengan pengertian
   debu yang diperoleh dengan ghashab dan debu kuburan yang belum
   digali.24


          Seorang ulama pengarang kitab fiqih empat mazhab yaitu Abd al-

Rahman al-Jaziri mengungkapkan bahwa tayammun sah apabila telah

memenuhi beberapa syarat yaitu:

1) telah masuk waktu shalat. Tidak sah tayammum sebelum masuknya waktu
   shalat. Akan tetapi madzhab Hanafi (al-Hanafiyyah) beranggapan bahwa
   boleh bertayammum sebelum datang waktu.
2) Niat. Dalam kaitannya dengan niat, madzhab Maliki (al-Malikiyyah) dan
   madzhab Syafi’i (asy-Syafi’iyyah) mereka berkata bahwa niat adalah
   rukun, bukan syarat. Sedang madzhab Hanafi dan madzhab Hambali
   beranggapan bahwa niat adalah syarat dalam tayammum dan juga syarat
   dalam wudlu; dan niat ini bukan sebagai rukun.25


          Sedangkan pendapat yang berbeda dengan yang di atas dapat

dikemukakan oleh kelompok kedua yang diwakili antara lain:

          Menurut Ibnu Rusyd, pendapat yang menjadikan masuk waktu shalat

sebagai syarat sahnya tayammum dan menganggap tayammum sebagai ibadah

yang berlaku sementara, itu pendapat yang lemah. Sebab, pengaitan waktu

dalam ibadah tidak dapat diterima kecuali ada dalil sam’i. Selanjutnya Ibnu

   24
        Syekh Muhammad Ibn Qasim al-Ghazzi, loc. cit.
   25
        Abd al-Rahman al-Jaziri, op. cit., hlm. 151.
                                                                                            12


     Rusyd menyatakan masalah penetapan waktu ini bisa diterima jika di

     dasarkan pada kemungkinan ditemukannya air sebelum masuk waktu shalat.

     Dengan demikian, bukan berarti tayammum itu ibadah sementara, tapi harus

     bertitik tolak dari seseorang yang dapat dinyatakan tidak menemukan air

     setelah masuk waktu shalat, sebab selama waktu shalat belum tiba, masih bisa

     dan masih mungkin untuk memperoleh air.26

             Tidak berbeda dengan pendapat di atas adalah pendapat Sayyid Sabiq,

     menurutnya tayammum itu adalah pengganti wudlu dan mandi ketika tidak

     ada air, maka dibolehkan dengan tayammum itu apa yang dibolehkan dengan

     wudlu dan mandi seperti shalat, menyentuh al-Qur’an dan lain-lain. Sedang

     untuk sahnya tidaklah disyaratkan masuknya waktu.27 Demikian pula pendapat

     yang sama dikemukakan oleh Abu Hanifah, menurutnya sah bertayammum

     sebelum datangnya waktu shalat.28 Karena itu TM. Hasbi Ash Shiddieqy

     mengatakan pendapat Abu Hanifahlah sangat tegas dan itulah yang

     dipahamkan dari lahir ayat. Keterangan yang hanya mensahkan tayammum

     sesudah datangnya waktu shalat tidak diperoleh. Tegasnya bertayammum sah

     sesudah datang waktu shalat dan sah juga sebelum datang waktu shalat.29


E.      Metode Penelitian

        26
             Al-Faqih abul Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayat al-
Mujtahid Wa nihayat al-Muqtasid, Beirut: Dar al- Jiil, 1409H/1989M, hlm. 48-49.
          27
             Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 1, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tt, hlm. 78-79.
          28
             Abd al-Rahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala-Madzahib al-Arba’ah, Juz 2, Maktabah
al-Tijariyah, al-Qubra, tt, hlm. 151-152.
          29
             Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz 1, Kairo: Daar al-Manar, 1367, hlm. 240. al-Imam Ibnu
Hazm, al-Muhalla Sarh al-mujalla, Juz 2, Bairut: Daar al-Fikr, tt, hlm. 134.; Al Iman Ibnu
Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1954, hlm.
166.; Abdul Ghani al-Maqdisi, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1954, hlm.
115.
                                                                                              13


              Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan

    data, sedangkan instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam

    mengumpulkan data itu. Maka dalam hal ini peneliti menggunakan metode

    sebagai berikut:

    1.            Sumber data. Sebagai rujukan dalam penelitian ini menggunakan

         beberapa kitab atau buku antara lain: sumber primer: Al-Mabsut; Al-

         Jami’us Sagir; al-Jami’ul Kabir; Hasyiyah Rod Al-Muhtar fi Fiqh

         Mazhab Madzhab Hanafi an-Nu’man, juz 2. Sumber sekunder: Sejarah

         Hukum Dalam Islam; Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab; Riwayat

         Sembilan Imam Fiqih; Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi,

         Maliki, Syafi’iy, Hambaly; Ensiklopedi Hukum Islam, Bulug al-Marram

         Fi Adillati al-Ahkam; Sahih al-BukharI; Fath al-Qarib al-Mujib; Al-

         Muntaqa; Kifayah al-Ahyar Fii hali Ghayat al-Ikhtisart; Fiqhul Mar’ah

         al-Muslimah; Kitab al-Fiqh ‘ala-Madzahib al-Arba’ah; Fath al-Mu’in Bi

         Sarkh Qurrah al-‘Uyun; Subul al-Salam Sarh Bulugh al-Maram Min Jami

         Adillati al-Ahkam, dan kitab lain yang ada relevansinya langsung dengan

         judul di atas. Dengan demikian peneliti menggunakan teknik liberary

         research yaitu suatu riset kepustakaan.30

    2.            Teknik pengumpulan data. Menurut Sumadi Suryabrata, kualitas

         data ditentukan oleh kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. 31

         Berpijak     dari   keterangan      tersebut,    peneliti    menggunakan        teknik
         30
            Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, Cet. 32, Yogyakarta: Andi, 2001, hlm. 9.
Lihat juga. Winarno Surakhmad, Paper, Skripsi, Tesis, Disertasi, Cet. 4, Bandung: Tarsito, 1981,
hlm. 17., Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Sosial, Cet. 5, Bandung: Alumni,
1986, hlm. 28.
         31
             Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Cet. 11, PT. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1998, hlm.84.
                                                                                         14


         pengumpulan data berupa teknik librari research yaitu dengan meneliti

         sejumlah kepustakaan, maka dalam hal ini menggunakan content analysis

         yaitu menganalisis isi buku dengan menggunakan tehnik hermeunetik.

         Secara terminologis hermeneutika diartikan sebagai penafsiran ungkapan-

         ungkapan dan anggapan dari orang lain, khususnya yang berbeda jauh dari

         rentang sejarah. Dewasa ini hermeneutika sering dipersempit menjadi

         penafsiran teks tertulis yang berasal dari lingkungan sosial dan historis

         yang berbeda dari lingkungan dunia pembaca. Dengan demikian

         hermeneutika mengarahkan agar teks yang sedang dipelajari mempunyai

         arti sekarang dan di sini, sehinga teks tersebut mengarah secara terbuka

         menuju yang sekarang dan di sini.32

    3.           Teknik analisis data. Analisis data adalah proses menyusun data

         agar data tersebut dapat ditafsirkan.33 Dalam hal ini peneliti menggunakan

         analisis data kualitatif. Yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai

         dengan angka secara langsung.34 Sebagai pendekatannya, peneliti

         menggunakan metode deskriptif. Penelitian deskriptif tertuju pada

         pemecahan masalah yang dihubungkan dengan apa yang ada pada masa

         sekarang.35




         32
            Musahadi HAM, Evolosi Konsep Sunnah Implikasinya Pada Perkembangan Hukum
Islam, Semarang: Aneka Ilmu, 2000, hlm. 140-141.
         33
            H. Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000,
hlm. 102.
         34
            Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1995, hlm. 134.
         35
            Winarno Surakhmad, Pengantar Penellitian Ilmiah Dasar Metoda Teknik, Bandung:
Tarsito 1989, hlm. 139.
                                                                                   15


F.      Sistematika Penulisan

            Dalam sistematika penulisan ini, agar dapat mengarah pada tujuan

     yang telah ditetapkan, maka skripsi ini disusun sedemikian rupa secara

     sistematis yang terdiri dari lima bab yang masing-masing menampakkan

     karakteristik yang berbeda namun dalam satu kesatuan tak terpisah

     (inhaerent).

            Bab pertama berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara

     ijmali namun holistik dengan memuat: latar belakang masalah, permasalahan,

     tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian, sistematika penulisan

            Bab kedua berisi tinjauan umum tentang tayamum yang meliputi:

     pengertian tayamum dan dalil-dalilnya, syarat dan rukun tayammum, benda-

     benda yang dapat digunakan untuk tayamum, tayamum sebagai pengganti

     wudlu. Bab dua ini berisi introduksi teori guna memperjelas isi bab tiga .

            Bab ketiga berisi meliputi: pendapat Madzhab Hanafi tentang

     dibolehkannya tayamum sebelum masuk waktu shalat yang meliputi Biografi,

     perjuangan dan karya ilmiah Madzhab Hanafi (biografi, perjuangan Madzhab

     Hanafi dan karya ilmiah Madzhab Hanafi), pendapat Madzhab Hanafi tentang

     dibolehkannya tayamum sebelum masuk waktu shalat dan metode istimbath

     hukum Madzhab Hanafi tentang tayamum sebelum masuk waktu shalat.

     Dengan adanya uraian bab tiga diharapkan dapat menjadi landasan untuk

     menganalisis isi bab empat.

            Bab keempat berisi analisis pendapat Madzhab Hanafi tentang

     dibolehkannya tayamum sebelum masuk waktu shalat yang meliputi: analisis
                                                                       16


pendapat Madzhab Hanafi tentang dibolehkannya tayamum sebelum masuk

waktu shalat, analisis metode istimbath hukum Madzhab Hanafi tentang

tayamum sebelum masuk shalat dan implikasi hukum pendapat Madzhab

Hanafi terhadap aktualisasi hukum Islam di Indonesia. Dengan adanya uraian

bab empat diharapkan dapat menjawab apa yang menjadi tujuan dan pokok

masalah penulisan skripsi.

       Bab kelima merupakan penutup meliputi: kesimpulan; saran-saran;

penutup

       .
                                           BAB II
                 TINJAUAN UMUM TENTANG TAYAMMUM



A. Pengertian Tayamum dan Dalil-Dalilnya

            Kata tayammum dalam kamus Idris al-Marbawy demikian pula dalam

    al-Munjid diartikan menyengaja.1 Sedang menurut syara’ ialah menyengaja

    tanah untuk penghapus wajah dan kedua tangan dengan maksud dapat

    melakukan shalat dan lain-lain.2 Sementara Taqi al-Din Abu Bakr Ibn

    Muhammad al-Husaini mengatakan: tayammum menurut istilah syara’

    merupakan istilah untuk menyatakan suatu pekerjaan mendatangkan debu

    pada wajah dan kedua tangan dengan syarat-syarat tertentu. 3 Sedang Syekh

    Muhammad Ibn Qasim al-Ghazzi, merumuskan:




             Artinya: Menurut syara’, tayammum ialah menyampaikan debu yang
                      suci ke wajah dan kedua tangan sebagai gantinya wudlu,
                      mandi atau membasuh anggauta disertai syarat-syarat yang
                      sudah ditentukan.4




         1
           Idris al-Marbawy, Kamus Idris al-Marbawy, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, tt, hlm. 121.
Luwice Ma’luf, al-Munjid, Beirut Libanon: al-Ijtimaiyah, tt, hlm. 118.
         2
           Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 1,Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tt, hlm.76.
         3
           Taqi al-Din Abu Bakr Ibn Muhammad al-Husaini, Kifayat al-Akhyar Fi Hall Ghayat al-
Ihtisar,Semarang:Maktabah Alawiyah, tt, hlm. 51.
         4
           Syekh Muhammad Ibn Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarib al-Mujib, Indonesia: Dar al-
Ihya al-Kitab, al-Arabiyah, tt, hlm. 8.

                                              17
                                                                                            18


            Di samping rumusan di atas masih ada rumusan lain misalnya dari

    Sayyid al-Imam Muhammad Ibn Ismail Assanany bahwa tayammum adalah

    sengaja memakai tanah debu untuk menyapu wajah dan kedua tangan dengan

    niat pembolehan shalat dan semacamnya.5 Rumusan lain dikemukkan oleh

    Abd al-Rahman al-Jaziri bahwa tayammum adalah menyapu wajah dan kedua

    tangan dengan debu yang suci sesuai aturan tertentu.6

            Madzhab       Maliki     (al-Malikiyyah)       dan    madzhab      Syafi’i    (al-

    Syafi’iyyah),      dalam      memberikan        pengertian      tayammum,         mereka

    menambahkan kata “dengan niat”, karena menurut mereka niat itu termasuk

    rukun tayammum.7

              Sebagai landasan hukum tayammum ialah al-Qur’an dan as-Sunnah.

    Al-Qur’an surat 5 (al-Maidah) ayat 6 berbunyi:




                 Artinya : … dan jika kamu dalam perjalanan atau kembali dari
                           tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan,
                           lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah
                           dengan tanah yang baik (bersih), sapulah wajahmu dan
                           tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak

        5
            Sayyid al-Imam Muhammad Ibn Ismail Assanany, Subul al-Salam, Sarah Bulugh al
Maram, Min Jami’i Adillaty al-Ahkam, Juz 1,Semarang: Maktabah Wa Matbaah Toha Putra, tt,
hlm. 93.
          6
            Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Juz 1, Semarang:
Maktabah wa Matbaah, Toha Putera, tt, hlm.148.
          7
            Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Asy-Syafi’i, al-Umm, juz 1,Kairo: Dar al-
Turas, tt, hlm. 63. Cf. Abd al-Rahman al-Jaziri, loc. cit.
                                                                                         19


                            menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan
                            kamu dan menyempunakan nikmat-Nya bagimu, supaya
                            kamu bersyukur.8

                Dasar as-Sunnah dapat dijumpai dalam beberapa hadits di bawah

    ini:

                Sabda Rasulullah SAW:




           9



               Artinya: Dari Imran bin Hushain ia berkata: pernah kami bersama
                        Rasulullah SAW dalam satu bepergian, lalu ia sembahyang
                        bersama orang banyak, tiba-tiba ada seorang laki-laki
                        menyendiri, lalu ia bertanya: “Apa yang menghalangi
                        engkau sehingga engkau tidak sembahyang?” Ia menjawab:
                        Saya sedang junub, padahal tidak ada air. (kemudian) Nabi
                        Muhammad SAW bersabda: “Gunakanlah debu, karena
                        sesungguhnya ia cukup bagimu.” (H.R.Ahmad, Bukhari,
                        dan Muslim)


               Sabda Rasulullah SAW:




           8
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an , al-Qur'an dan Terjemahnya,
Departemen Agama, 1986, hlm. 158.
        9
          Al-Imam Abu Abdilah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal asy-Syaibani al-Mawarzi,
Musnad Ahmad, Jilid I, Tijariyyah Kubra, tt, hlm. 20. Vide, Al-Imam al-Alammah Muhmmad ibn
Ali ibn Muhammad asy-Syaukani, Nail al-Autar min Asrari Muntaqa al-Akhbar Juz I,Beirut
Libanon: Dar al-Kitab, al-Arabi, tt, hlm. 380.
                                                                                            20


        10



               Artinya: Dari Jabir bin Abdullah, sesungguhnya Nabi SAW
                        bersabda:”Saya telah diberi lima perkara yang tidak
                        diberikan kepada seorang pun sebelumku; Aku ditolong
                        dengan ketakutan musuh sejauh perjalanan sebulan, bumi
                        dijadikan untukku sebagai tempat sujud (shalat) dan
                        sebagai alat bersuci, maka barang siapa yang sudah sampai
                        padanya waktu shalat, hendaklah ia shalat, dan Jabir
                        menuturkan kelanjutan hadits,H.R.Muttafaq alaih.

               Sabda Rasulullah SAW:




                 11



                 Artinya: Dari Ammar ibn Yasir ra., ia berkata: “Nabi SAW telah
                          mengutus aku dalam suatu hajat, padahal aku junub dan
                          tidak mendapatkan air, maka aku bergulingan dalam
                          tanah sebagaimana binatang berguling, kemudian aku
                          menghadap kepada Nabi SAW, aku ceritakan hal itu
                          kepadanya”. Nabi bersabda: “sesungguhnya cukup
                          bagimu bertindak demikian dengan kedua tanganmu”.
                          Lalu Nabi SAW menepukkan kedua tangannya ke tanah
        10
              Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi,Sahih Muslim,
Jilid I, Tijariah Kubra, tt, hlm. 80. Vide, al-Hafiz ibn Hajar al-Asqalaniy, Bulug al-Maram min
Adillat al-Ahkam, Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tt, hlm. 25.
           11
              al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah al-
Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz I, Tijariyah Kubra, tt, hlm. 90. Vide, al-Hafiz ibn Hajar al-
Asqalaniy, hlm. 26. Sayyid al-Imam Muhammad Ibn Ismail Assanany, Subul al-Salam, Sarah
Bulugh al Maram, Min Jami’i Adillaty al-Ahkam, Juz 1, Semarang: Maktabah Wa Matbaah Toha
Putra, tt, hlm. 95.
                                                                                   21


                          sekali dan menyapukan tangan kiri ke atas tangan kanan,
                          bagian belakang kedua telapak tangan dan wajahnya.
                          Hadits muttafaq alaih dan lafaz hadits bagi Imam Muslim.
                          Dalam      riwayat     lain    bagi     Imam     Bukhari
                          disebutkan:”Rasulullah menepukan kedua telapak
                          tangannya ke bumi/tanah , kemudian ditiupnya dan
                          diusapkannya ke wajah dan kedua telapak tangannya.

          Hadits ini menerangkan cara bertayammum sebagai gantinya mandi

jinabat yaitu tidak harus meratai debu tanah ke seluruh tubuh dengan

bergulingan sebagaimana yang dilakukan oleh Amr Bin Yassir, akan tetapi

cukup menepukkan kedua telapak tangan ke tanah (debu), lalu ditiup dan

diusapkan telapak tangan yang satu ke atas telapak tangan yang lain hingga ke

siku dan menyapu wajah. Pada lahirnya, hadits ini menerangkan bahwa

tayammum cukup satu kali pukulan/tepukan untuk menyapu                   kedua tangan

dan wajah, menyapu tangan cukup sampai batas telapak tangan dan tidak

mengharuskan tertib.

          Sedangkan yang menjadi sebab diperbolehkannya tayamum dapat

dijelaskan sebagai berikut:

          Pertama karena tidak ada air, yaitu apabila seseorang sama sekali tidak

mendapatkan air atau mendapatkan air akan tetapi tidak cukup untuk bersuci.

Dalam hubungan ini Madzhab Syafi’i                   berkata : Apabila seseorang tidak

mendapatkan air yang cukup untuk bersuci, maka ia wajib menggunakan air

tersebut pada anggauta yang terjangkau oleh air itu. Kemudian ia

bertayammum sebagai pengganti dari anggauta yang tidak terjangkau oleh air

tersebut.12 Kedua, tidak mampu menggunakan air atau membutuhkan air

artinya bahwa seseorang dapat menemukan air yang cukup untuk bersuci,
   12
        Abd al-Rahman al-Jaziri, op. cit, hlm. 153
                                                                           22


akan tetapi ia tidak mampu menggunakannya (misalnya karena sakit), atau

mampu menggunakannya akan tetapi ia sendiri membutuhkan air tersebut

untuk minum atau sebagainya. Adapun orang yang tidak mendapatkan air,

maka ia tayammum untuk tiap-tiap perbuatan yang mewajibkannya bersuci,

seperti shalat lima yang limawaktu, shalat janazah, shalat ied, shalat jum’ah,

thawaf, shalat nafilah dan lain sebagainya.13

          Tidak ada perbedaan pada orang yang tidak mendapatkan air ini, baik

orang itu sehat atau sakit, baik dalam bepergian yang boleh qoshor atau tidak,

baik bepergian itu sebagai perbuatan maksiat atau melakukan maksiat dalam

bepergian tersebut. Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa orang yang

melakukan maksiat dengan bepergiannya itu, apabila ia tidak mendapatkan air

sama sekali, maka ia bertayammum dan mengerjakan shalat. Akan tetapi ia

harus mengulangi shalatnya.Apabila ia tidak mampu menggunakan air karena

sakit atau lain sebagainya, maka tidak sah tayammumnya, kecuali apabila ia

telah bertaubat dari maksiatnya. Apabila ia bertayammum setelah bertaubat

dan mengerjakan shalat, maka ia tidak harus mengulangi shalatnya.

          Adapun orang yang mendapatkan air akan tetapi tidak mampu

menggunakannya karena satu dari beberapa sebab syar’iy, maka orang

tersebut sama dengan orang yang tidak mendapatkan air. Ia bertayammum

untuk tiap-tiap amal perbuatan yang disertai bersuci. Termasuk sebab-sebab

ketidakmampuan adalah adanya dugaan bahwa apabila ia menggunakan air

maka akan tertimpa sakit atau bertambah sakit atau semakin lambat untuk


   13
        Ibid, hlm. 153.
                                                                              23


sembuh. Semua ini apabila berdasarkan pada percobaan atau petunjuk dokter

ahli yang muslim.14

          Juga termasuk ketidak mampuan adalah adanya kekhawatiran terhadap

musuh yang menghalangi antara seseorang dengan air. Kekhawatiran ini bisa

terjadi atas dirinya sendiri, hartanya atau harga dirinya. Musuh tersebut dapat

berupa manusia atau binatang buas. Juga termasuk sebab-sebab ketidak

mampuan adalah adanya kebutuhan terhadap air baik seketika atau untuk

waktu yang akan datang. Apabila seseorang takut atas dirinya untuk

menggunakan air “menurut dugaannya dan bukan karena ragu-ragu” terhadap

rasa dahaga yang dideritanya sendiri atau diderita orang lain, atau diderita oleh

binatang yang tidak halal dibunuh walaupun berupa anjing yang tidak buas,

dan rasa dahaga itu dapat berakibat kerusakan atau sakit yang sangat, maka

orang tersebut boleh melakukan tayammum dan tetap memelihara air yang ada

padanya.

          Demikian pula halnya kebutuhan air untuk meremas-remas tepung dan

untuk memasak. Atau kebutuhan terhadap air untuk menghilangkan najis yang

tidak diampuni. Temasuk sebab-sebab ketidak mampuan adalah tidak adanya

alat yang digunakan untuk mendapatkan air seperti tali atau timba. Sebab

dengan       tidak adanya alat tersebut menjadikan air yang ada di dalam sumur

bagaikan tidak ada. Sebab-sebab lain adalah kekhawatiran terhadap sangat

dinginnyaair sehingga ia menduga akan terjadi bahaya apabila menggunakan




   14
        Ibid, hlm. 154.
                                                                                            24


    air tersebut. Yang demikian ini adalah apabila ia tidak mampu memanaskan

    atau menghangatkan air itu. Dalam keadaan seperti ini boleh bertayammum.15


A. Syarat dan rukun Tayammum

              Menurut Musthafa Diibul Bigha, bahwa syarat tayammum itu yang

    pertama adalah adanya udzur karena bepergian atau sakit; kedua, sudah masuk

    waktu shalat sementara air yang yang dicari tidak didapatkan, ketiga,

    terhalangnya memakai air dan diperlukannya air tersebut (untuk diminum

    misalnya) sesudah berhasil mencarinya, dan keempat, memakai tanah suci

    yang berdebu. Jika debu tersebut bercampur kapur, tepung dan sesamanya

    atau pasir, tidaklah cukup dipakai tayammum.16

              Syekh Muhammad Ibn Qasim dengan ringkas mengemukakan syarat-

    syarat tayammum ada lima macam yaitu:

    1) Adanya halangan (udzur) karena bepergian atau sakit.

    2) Masuk waktunya shalat. Menurutnya tidak sah tayammum karena untuk

         shalat sebelum masuk waktunya.

    3)    Harus mencari air sesudah masuk shalat yang dilakukan oleh dirinya

         sendiri atau dengan orang lain untuk mencarikan air. Maka hendaknya

         mencari air dari upayanya sendiri dan dari temanya. Menurutnya jika

         orang tersebut sendirian, maka hendaknya melihat kanan kirinya dari

         empat arah bila berada di tempat yang buminya datar. Sedang jika berada


         15
             Ibid, hlm. 153-156. Vide, Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 1, Kairo: Maktabah Dar
al-Turas, tt, hlm. 77-78.
         16
            Musthafa Diibul Bigha, Ihtisar Hukum-Hukum Islam Praktis, terj. H. Uthman Mahrus
dan Zainus Sholihin, Semarang: CV. asy-Syifa, 1994, hlm. 54-55.
                                                                                 25


   di tempat yang naik turun, maka hendaklah memperkirakan berdasarkan

   penglihatannya.

4) Terhalang memakai air. Seperti takut memakai air yang menyebabkan

   hilangnya nyawa atau hilangnya manfaat anggota. Termasuk juga

   terhalang memakai air yaitu bila ada air didekatnya, ia takut akan dirinya

   jika menuju tempat air itu seperti adanya binatang buas, musuh, takut

   hartanya dicuri orang atau takut kepada orang yang pemarah.

5) Harus dengan debu yang suci yang                 tidak dibasahi. Perkataan “ath-

   Thahiru” (                   ) artinya yang suci itu sejalan dengan pengertian

   debu yang diperoleh dengan ghashab dan debu kuburan yang belum

   digali.17

          Seiring    dengan    pendapat     di   atas,   Abd   al-Rahman   al-Jaziri

mengungkapkan bahwa tayammun sah apabila telah memenuhi beberapa

syarat yaitu:

1) Telah masuk waktu shalat. Tidak sah tayammum sebelum masuknya

    waktu shalat. Akan tetapi madzhab Hanafi (al-Hanafiyyah) beranggapan

    bahwa boleh bertayammum sebelum datang waktu.

2) Niat. Dalam kaitannya dengan niat, madzhab Maliki (al-Malikiyyah) dan

    madzhab Syafi’i (asy-Syafi’iyyah) mereka berkata bahwa niat adalah

    rukun, bukan syarat. Sedang madzhab Hanafi dan madzhab Hambali

    beranggapan bahwa niat adalah syarat dalam tayammum dan juga syarat

    dalam wudlu; dan niat ini bukan sebagai rukun.18

   17
        Syekh Muhammad Ibn Qasim al-Ghazzi, loc. cit.
   18
        Abd al-Rahman al-Jaziri, op. cit., hlm. 151.
                                                                                           26


             Dari uraian di atas dapat dijelaskan mengenai “masuknya waktu

    shalat” sebagai syarat sahnya tayammum. Sabda Rasulullah SAW:




             19



             Artinya : Amer Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata:
                       “Rasulullah SAW bersabda: Telah dijadikan bumi untukku
                       tempat bersujud dan alat bersuci. Di mana saja aku didapati
                       oleh waktu shalat, aku menyapu dengan bumi
                       (bertayammum) dan lalu aku shalat. (HR Ahmad)


             Hadits di atas mengatakan bahwa bertayammum boleh dengan

    sembarang tanah, tidak harus dengan yang berdebu saja. Dan bertayammum

    dilakukan di waktu telah masuk waktu shalat.

             Sebagian ahli fiqih menurut TM. Hasbi Ash Shiddieqy berpandangan

    bahwa hadits ini menunjukkan kepada disyaratkannya masuk waktu untuk

    bertayammum.20 Misalnya dalam kitab al-Umm, al-Syafi’i mengetengahkan

    pendapatnya tentang masuknya waktu shalat sebagai syarat sahnya

    tayammum:




        19
             Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi,
Musnad Ahmad, Kairo: Tijariyah Kubra, tt, hlm. 187. Cf. Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz 1, Kairo:
Daar al-Manar, 1367, hlm. 239. al-Imam Ibnu Hazm, al-Muhalla al-Mujalla, Juz 2, Bairut: Daar
al-Fikr, tt, hlm. 133.; Al-Imam Alamah Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad as-Syaukani, Nail
al-autar Min Asrari Muntaqa al-Akhbar, Juz 1, Mustafa al-Babi al-Halabi, tt, hlm. 326-328.; Al
Iman Ibnu Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir, Dar al-Fikr al-Arabi,
1954, hlm. 165. Abdul Ghani al-Maqdisi, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi,
1954, hlm. 114.
          20
             TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadits-hadits Hukum, Jakarta: PT Magenta Bhakti
Guna, Cet 5, 1994, hlm. 320.
                                                                                            27




                 21



             Artinya: Berkata Imam Syafi’i, dengan rahmat Allah Taala, Allah
                      Taala telah menetapkan waktu-waktu untuk melakukan
                      shalat, maka tidaklah dapat dikatakan bahwa seseorang
                      berada dalam shalat sebelum waktu-waktu itu, dan
                      sesungguhnya kita disuruh dengan mendirikan shalat apabila
                      telah masuk waktunya. Demikian pula diperintahkan dengan
                      tayammum ketika hendak mendirikan shalat dan memerlukan
                      kepada air. Maka barang siapa bertayammum untuk shalat
                      sebelum masuk waktunya dan mencari air, maka tidak boleh
                      baginya melakukan shalat dengan tayammum itu. Dan
                      sesungguhnya boleh mengerjakan shalat apabila telah masuk
                      waktunya, yang apabila dikerjakan shalat itu maka memadai
                      untuknya.


             Dari keterangan Imam Syafi’i yang dicuplik dari kitabnya itu

    mengisyaratkan bahwa orang yang bertayammum untuk mengerjakan shalat,

    sementara waktu shalat yang mau dikerjakan itu belum masuk waktunya ,

    maka tayammum yang demikian dianggap tidak sah, yang pada gilirannya

    shalatnya pun tidak sah. Di sini jelas Imam Syafi’i sangat menitik beratkan

    faktor masuknya waktu shalat. Hal ini tidak berati bahwa ia meniadakan syarat

    lainnya dari tayammum.22


        21
            Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris asy-Syafi'i, al-Umm. Juz 1, Libanon: Dar
al-Kutub, Ijtimaiyah, Beirut, tt, hlm. 110.
         22
               Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa tayammum sah apabila telah
memenuhi beberapa syarat yaitu telah masuknya waktu shalat; niat; islam; sudah diusahakan
mencari air tetapi tidak didapatkan, sedang waktu shalat sudah masuk; tidak ada penghalang pada
bagian anggota tayammum; tidak dalam keadaan haid atau nifas; kesulitan menggunakan air
karena adanya satu dari beberapa sebab. Vide, Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-
Mazahib al-Arba’ah, Juz 1, Semarang: Maktabah wa Matbaah, Toha Putera, tt, hlm. 151.,
Bandingkan dengan Sayyid Abi Bakr al-Mashuri bi Sayyidi al-Bakri ibn Sayyidi Muhammad
Syata ad-Dimyati, I’anat at- Talibin, Juz I, Semarang: Maktabah Alawiyah, tt, hlm. 56-58.
                                                                                             28


             Pendapat Imam Syafi’i di atas berdasarkan pada al-Qur'an dan as-

    Sunnah yaitu Surat al-Maidah ayat 6 yang berbunyi :




    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
             shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,
             dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua
             mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit
             atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus)
             atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
             bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu
             dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
             kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
             ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.(Q.S 5:6)23

             Sedangkan dasar as-Sunnahnya yaitu :

             Sabda Rasulullah SAW:




             24


        23
               Yayasan Penyelenggara dan Peterjemah/Pentafsir al-Qur'an, al-Qur'an dan
Terjemahnya, Departemen Agama, 1986, hlm. 158-159.
          24
             Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi,
Musnad Ahmad, Kairo: Tijariyah Kubra, tt, hlm. 187. Cf. Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz 1, Kairo:
Daar al-Manar, 1367, hlm. 239. al-Imam Ibnu Hazm, al-Muhalla al-Mujalla, Juz 2, Bairut: Daar
al-Fikr, tt, hlm. 133.; Al-Imam alamah Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad as-Syaukani, Nail al-
autar Min Asrari Muntaqa al-Akhbar, Juz 1, Mustafa al-Babi al-Halabi, tt, hlm. 326-328.; Al Iman
                                                                                        29


             Artinya : Amer Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata:
                       “Rasulullah SAW bersabda: Telah dijadikan bumi untukku
                       tempat bersujud dan alat bersuci. Di mana saja aku didapati
                       oleh waktu shalat, aku menyapu dengan bumi
                       (bertayammum) dan lalu aku shalat. (HR Ahmad)


             Al-Qur'an dan Hadits di atas adalah sebagai dalil disyariatkan

    tayammum harus masuk waktu, karena diikatnya perintah tayammum itu

    dengan menjumpainya sembahyang. Sedang dijumpainya sembahyang itu

    otomatis harus sudah masuk waktu shalat.25

             Sejalan dengan pendapat al-Syafi'i adalah pendapat Syeikh Abu

    Syujak ia berkata, disyariatkan tayammum itu sesudah masuk waktu shalat.

    Namun dalam hal ini harus mencari air lebih dahulu dan adanya kesulitan

    dalam penggunaannya. Karenanya jelaslah tayammum bisa dianggap sah jika

    dikerjakan sesudah masuk waktu shalat.26 Seiring dengan pendapat tersebut,

    syeikh Muhammad ibn Qasim menganggap bahwa masuknya waktu shalat

    merupakan syarat sahnya tayammum.27 Demikian pula Hafidz Abdullah

    dalam bukunya mengatakan tidak boleh bertayammum untuk melakukan

    shalat fardu kecuali setelah masuk waktu shalat, misalnya karena ketiadaan air

    atau karena takut menggunakannya.28



Ibnu Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1954,
hlm. 165. Abdul Ghani al-Maqdisi, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1954,
hlm. 114.
        25
            Faisal Ibn Abdul Aziz al-Mubarok Bustanul al-Ahbar Mukhtashar, Nail al-Authar,
Kairo: Maktabah as-Syalafiyah, 1374, hlm. 234.
         26
            Taqi al-Din abu Bakr Muhammad al-Husaini, Kifayat al-akhyar Fi hall Ghayah al-
khtishar, Semarang: Maktabah Alawiyyah, tt, hlm. 59-60.
         27
            Syekh Muhammad ibn Qasyim al-Ghazzi, Fath al-Qarib al-Mujib, Indonesia: Dar al-
Ihya al-Kitab, al-Arabiah, tt, hlm. 9.
         28
            Hafidz Abdullah, Kunci Fiqih Syafi’i, Semarang: CV. Asy Syifa, 1992, hlm. 11.
                                                                                     30


             Pendapat-pendapat di atas menunjukkan bahwa mereka termasuk

    kelompok yang menganggap telah masuknya waktu shalat sebagai syarat

    tayammum. Salah seorang ulama di Indonesia yaitu H. Sulaiman Rasjid dalam

    pandangannya ia menganggap tayammum disyariatkan untuk orang yang

    terpaksa. Karena itu sebelum masuk waktu shalat ia belum terpaksa, sebab

    shalat belum wajib atasnya ketika itu.29 Sedangkan pendapat yang berbeda

    dengan yang di atas dapat dikemukakan di bawah ini:

             Menurut Ibnu Rusyd, pendapat yang menjadikan masuk shalat sebagai

    syarat sahnya tayammum dan menganggap tayammum sebagai ibadah yang

    berlaku sementara, itu pendapat yang lemah. Sebab, pengaitan waktu dalam

    ibadah tidak dapat diterima kecuali ada dalil sam’i. Selanjutnya Ibnu Rusyd

    menyatakan masalah penetapan waktu ini bisa diterima jika di dasarkan pada

    kemungkinan ditemukannya air sebelum masuk waktu shalat. Dengan

    demikian, bukan berarti tayammum itu ibadah sementara, tapi harus bertitik

    tolak dari seseorang yang dapat dinyatakan tidak menemukan air setelah

    masuk waktu shalat, sebab selama waktu shalat belum tiba, masih bisa dan

    masih mungkin untuk memperoleh air.30

             Tidak berbeda dengan pendapat di atas adalah pendapat Sayyid Sabiq,

    menurutnya tayammum itu adalah pengganti wudlu dan mandi ketika tidak

    ada air, maka dibolehkan dengan tayammum itu apa yang dibolehkan dengan

    wudlu dan mandi seperti shalat, menyentuh al-Qur’an dan lain-lain. Sedang



        29
          H. Sulaman Rasjid, Fiqh Islam, Bandung: CV Sinar Baru, Cet. 22, 1989, hlm. 51.
        30
          Al-Faqih abul Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayat al-
Mujtahid Wa nihayat al-Muqtasid, Beirut: Dar al- Jiil, 1409H/1989M, hlm. 48-49.
                                                                                             31


    untuk sahnya tidaklah disyaratkan masuknya waktu.31 Demikian pula

    pendapat yang sama dikemukakan oleh madzhab Hanafi menurutnya, sah

    bertayammum sebelum masuk waktu shalat.32 Karena itu TM. Hasbi Ash

    Shiddieqy mengatakan pendapat Abu Hanifah lah yang tegas dan itulah yang

    dipahamkan dari lahir ayat. Keterangan yang hanya mensahkan tayammum

    sesudah masuk waktu shalat tidak diperoleh. Tegasnya bertayammum sah

    sesudah masuk waktu shalat dan sah juga sebelum masuk waktu.33

             Setelah    mengutarakan       syarat    tayamum,       maka     sebagai     rukun

    tayammum dapat dikemukan pendapat para fuqaha di antaranya: Syekh

    Muhammad Ibn Qasim, menggunakan istilah “rukun tayammum” dengan

    istilah “fardunya tayammum” ada empat macam, yaitu: pertama, niat; kedua,

    menyapu wajah, dan ketiga, menyapu kedua tangan sampai dengan kedua

    siku-siku dan menyapu keduanya itu dengan dua pukulan. Keempat, tertib,

    yaitu mendahulukan menyapu bagian muka dan kedua tangan, baik

    tayammum itu karena hadas kecil atau besar. Jika meninggalkan                          tata

    tertibnya, maka tidak sah tayammumnya.34



        31
             Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 1, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tt, hlm. 78-79.
        32
             Abd al-Rahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala-Madzahib al-Arba’ah, Juz 2, Maktabah
al-Tijariyah, al-Qubra, tt, hlm. 151-152. Cf. Muhammad Jawad Mughniyah, al-Fiqh ‘Ala al-
Madzahib al-Khamsah, terj. Masykur, Afif Muhammad, Idrus al-Kaff, Fiqih Lima Madzhab,
Jakarta: Lentera, Cet.7, 2001, hlm. 64.
          33
             TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadits-Hadits Hukum, Jilid I, Jakarta: PT Magenta
Bhakti Guna, Cet. 5, 1994, hlm. 320. lihat juga Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz 1, Kairo: Daar al-
Manar, 1367, hlm. 240. al-Imam Ibnu Hazm, al-Muhalla Sarh al-mujalla, Juz 2, Bairut: Daar al-
Fikr, tt, hlm. 134.; Al-Imam alamah Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad as-Syaukani, Nail al-
autar Min Asrari Muntaqa al-Akhbar, Juz 1, Mustafa al-Babi al-Halabi, tt, hlm. 327-329.; Al Iman
Ibnu Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1954,
hlm. 166.; Abdul Ghani al-Maqdisi, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1954,
hlm. 115.
          34
             Syekh Muhammad Ibn Qasim al-Ghazzi, op cit, hlm. 9.
                                                                                           32


               Dengan mengetengahkan pendapat empat mazhab, Abd al-Rahman al-

    Jaziri mengklasifikasikan rukun tayammum yaitu: pertama, niat; kedua,

    adanya debu yang suci; ketiga, menyapu seluruh wajah walaupun dengan satu

    tangan atau satu jari; dan keempat, menyapu dua tangan beserta dua siku.35


B. Benda-Benda Yang dapat digunakan Untuk Tayammum

               Para Fuqaha’ sepakat bahwa tayammum boleh dilaksanakan dengan

    menggunakan debu bersih pepohonan. Tetapi mereka berbeda pendapat jika

    pelaksanaan tayammum dengan menggunakan selain debu tapi menggunakan

    benda yang muncul dari tanah, misalnya batu. Dalam hubungan ini, menurut

    Imam Syafi’i tayammum tidak boleh dilakukan jika menggunakan debu

    murni. Sedang menurut pendapat Malik, tayammum boleh saja dilakukan

    dengan menggunakan segala sesuatu yang halus yang masih masuk bagian

    dari tanah misalnya kerikil pasir dan debu, bahkan Abu Hanifah

    menambahkan, boleh saja menggunakan segala sesuatu yang masih keluar

    dari tanah, seperti batu, kapur, tanah liat, bata, dan marmer 36. Ada juga fuqaha

    yang mensyaratkan harus debu yang ada di permukaan bumi; inilah pendapat

    Jumhur. Ahmad Ibn Hambal berpendapat bahwa tayammum boleh dilakukan

    dengan menggunakan debu yang ada di kain dan debu rambut. 37

               Sebab perbedaan pendapat tersebut berkisar pada dua masalah:

    pertama, dalam bahasa Arab kata al-Sha’id (                         ) mengandung arti

        35
           Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Juz I, Semarang:
Maktabah wa Matbaah, Toha Putera, tt, hlm. 157-162.
        36
           Al-Faqih Abul Walid Muhammad Ibn ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd, Bidayat al-
Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Juz I, Dar al-Jiil, Baerut, 1409 H/ 1989 M, hlm. 51.
        37
             Ibid.
                                                                         33


ganda atau banyak (musytarak) itu bisa berarti debu murni dan bisa juga

berarti semua benda yang tampak di permukaan. Bahkan Malik dan para

muridnya berani mengartikan dengan benda-benda yang justru jauh dari debu.

Jadi, al-Sha’id menurutnya dalam salah satu riwayat berarti rumput dan salju

atau embun yang boleh digunakan untuk tayammum. Menurut mereka nama

al-Sha’id itu asalnya adalah semua benda yang      ada di atas permukaan.

pendapat ini menurut Ibnu Rusyd lemah. Kedua, sebagian riwayat hadits

masyhur disebutkan bahwa tayammum boleh menggunakan tanah secara

mutlak, dan dalam riwayat lain menyebutkan terbatas pada debu.

        Para ulama ushul fiqh berbeda pendapat, apakah yang terbatas itu

berarti mutlak atau sebaliknya? Tetapi menurut pendapat yang masyhur, yang

muqayyat harus ke yang mutlaq. Menurut pendapat Abu Muhammad Ibn

Hazm, yang mutlaq harus kearti yang muqayyat karena yang mutlaq ada

tambahan arti.

        Ulama yang berpendirian bahwa yang diberlakukan yang muqayyat

dengan mengartikan tanah yang baik sebagai debu akan berpendapat bahwa

tayammum tidak dilaksanakan kecuali menggunakan debu. Sedang yang

berpendapat sebaliknya, dengan mengartikan tanah yang baik sebagai semua

benda yang ada di permukaan bumi memperbolehkan tayammum dengan

pasir dan kerikil.

        Sedang yang berpendapat yang mengatakan boleh bertayammum

dengan benda-benda yang berasal dan terproses dari tanah, itu sangat lemah.

Sebab, istilah al-Sha’id tidak mencakup benda-benda tersebut. Maksud al-
                                                                                       34


Sha’id tidak mencakup benda-benda tersebut. Maksud al-Sha’id yang paling

umum sekalipun, adalah hanya terdapat pada benda-benda yang                      masuk

kategori tanah. Dengan demikian, bukan kapur, es, atau rumput. Allahlah yang

bisa mencocokkan “kebenaran” itu. Banyaknya arti makna istilah al-Sha’id

merupakan salah satu sebab timbulnya perbedaan pendapat. 38

          Berbeda dengan pendapat di atas, adalah pendapat Imam Syafi’i dalam

kitabnya menguraikan tiada memadai pada tayammum, selain bahwa

mendatangkan debu tanah, menurut yang didatangkan air pada wudlu, dari

wajah dan dua tangannya, sampai kepada dua siku. Allah berfirman:




          Artinya: Maka carilah tanah yang baik (bersih). (Q.S. 5 : 6)39
          Setiap yang bernama tanah, yang tidak bercampur dengan najis, maka

adalah tanah yang baik, dan boleh tayammum dengan tanah itu. sedangkan

setiap yang        benda yang bukan tanah, tiada boleh dijadikan alat untuk

tayammum. Dengan kata lain kalau tidak bernama tanah tanah, maka tidak

bisa dijadikan benda untuk bertayammum. Dengan demikian tidaklah bernama

tanah, kecuali tanah yang berdebu.

          Adapun batu-batu kecil yang kasar dan yang halus dan yang tebal

kasar, maka tidaklah bernama: tanah. Dan kalau bercampur dengan tanah debu

atau lumpur kering yang berdebu, niscaya adalah yang bercampur itu tanah.

Apabila orang yang          bertayammum itu menepuk ke atasnya dengan dua

tangannya, lalu melekatlah debu pada dua tangannya, niscaya memadailah
   38
        Ibid, hlm. 51-52.
   39
        DEPAG RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Surya Cipta Aksara, Surabaya, hlm. 168.
                                                                                    35


bertayammum dengan debu tersebut. Apabila ia menepuk dengan dua

tangannya ke atasnya atau ke atas yang                lain, lalu tidak melekat debu,

kemudian ia menyapu padanya, niscaya tiada memadai.

          Begitu juga, tiap bumi, tanahnya yang tiada baik, lumpurnya yang

kering, batu-batu yang kecil dan yang lain-lain, maka apa yang melekat dari

padanya dari debu, apabila ditepuk dengan tangan, lalu bertayammum dengan

dia, niscaya memadailah. Dan yang tidak melekat debu padanya, lalu ia

bertayammum, niscaya tiada memadai.

          Begitu juga, kalau orang yang hendak bertayammum itu menggoyang-

goyangkan kainnya atau sebagian perkakasnya, lalu keluarlah debu tanah, lalu

ia bertayammum dengan debu itu, niscaya memadai. Apabila tanah itu tanah

kering, lalu orang yang           akan bertayammum itu, menepuk dengan dua

tangannya pada tanah itu, lalu melekat dari padanya banyak benda, maka tiada

mengapa ia goyang-goyangkan benda itu, apabila masih ada debu pada dua

tangannya, yang menyentuhkan seluruh muka. Dan padaku lebih sunnat kalau

ia mulai, lalu meletakkan kedua tangannya atas tanah, dengan letakan yang

pelan-pelan. Kemudian, ia bertayammum dengan debu tanah itu.40

          Penganut madzhab Syafi’i yaitu Imam Taqi al-Din memaparkan, tidak

sah tayammum seseorang kecuali dengan menggunakan debu (tanah) yang

suci, murni dan belum pernah digunakan. Jadi keharusan adanya tanah itu

sudah pasti baik tanah merah, tanah hitam atau tanah kuning. Tidak sah

bertayammum dengan kapur (yang dibuat untuk mengkapur rumah) atau

dengan tanah kapur dan semua barang-barang tambang (barang galian seperti
   40
        Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Asy-Syafi’i, Op.Cit., hlm. 65-66.
                                                                       36


besi, emas dan sebagainya). Dan juga tidak sah pula bertayammum dengan

batu yang sudah dihancurkan atau dengan kaca beling (pecahan kaca) yang

sedah digerus (gosok/tumbuk) dan lain sebagainya. Dalam satu wajah, semua

barang-barang tersebut di atas itu boleh dibuat tayammum. Namun hukum

yang      demikian itu adalah salah. Mereka menjadikan hujah firman Allah

SWT:




          Artinya : maka bertayammum dengan debu yang baik (bersih) (Q.S.
                    5:6)41
          Kata-kata Sha’id merangkumi tanah dan semua yang ada di dalam

tanah. Wajah tersebut dinisbatkan kepada Imam Malik dan Imam Abu

Hanifah. Kedua Imam ini berkata: tayammum boleh menggunakan segala

macam jenis tanah, bahkan dengan batu yang dibersihkan sekalipun. Imam

Rafi’i menukil dari Imam Malik bahwa beliu mengesahkan tayammum

dengan menggunakan segala sesuatu yang          terdapat di tanah, seperti

pepohonan dan tumbuhan sawah. Imam Nawawi menukil dari al-Auza’i dan

Sufyan ats-Tsauri di dalam syarah Muslim bahwa al-Auza’i dan Sufyan juga

mengesahkan tayammum dengan menggunakan segala sesuatu yang ada di

bumi, bahkan dengan es sekalipun. Menurut madzhab Imam Syafi’i serta

kebanyakan para ulama, dan juga menjadi perkataan imam Ahmad bin

Hambal, Ibnu Mundzir dan Daud tayammum tidak sah jika tidak

menggunakan tanah yang suci dan berdebu, yang boleh menempel pada kulit


   41
        DEPAG RI, Loc. Cit.
                                                                                     37


   wajah dan kedua tangan. Sebab perkataan Sha’id itu boleh mengenai tanah

   dan semua yang ada pada permukaan tanah dan jalan-jalan.42


C. Tayamum Sebagai pengganti Wudlu

              Menurut Sayyid Sabiq bagi orang yang                    telah bertayammum
   dibolehkan dengan satu kali tayammum itu melakukan shalat, baik yang
   fardlu maupun yang             sunnat sebanyak yang        dikehendakinya. Pendeknya
   hukum tayammum itu sama dengan wudlu, tak ada bedanya sama sekali. 43
   Dari Abu Dzar r.a:44




              Artinya : Dari Abu Dzar ia brkata: aku tidak betah tinggal di Madinah,
                         lalu Rasulullah SAW menyuruh mengambil seekor unta
                         untukku, sedang aku di atas unta. Kemudian aku datang
                         kepada Nabi SAW, lalu aku berkata : celakalah Abu Dzar!
                         Nabi bertanya: mengapa? Ia menjawab: aku berjunub,
                         padahal didekatku tidak ada air. Lalu Nabi bersabda:
                         sesungguhnya debu itu suci bagi orang yang tidak
                         mendapati air selama sepuluh tahun. (HR. Ahmad, Abu
                         Daud, dan al-Atsram. Dan ini adalah lafadh al-Atsram)
       42
            Taqi al-Din Abu Bakr Ibn Muhammad al-Husaini, Op. Cit., hlm. 55.
       43
            Sayyid Sabiq, Op. Cit., hlm. 78.
         44
            Al-Imam Abu Abdilah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal asy-Syaibani al-Mawarzi,
Musnad Ahmad, Jilid I, Tijariyyah Kubra, tt, hlm. 84. Cf. Al-Imam al-Alammah Muhmmad ibn
Ali ibn Muhammad asy-Syaukani, Nail al-Autar min Asrari Muhtaqa al-Akhbar Juz I, Dar al-
Kitab, al-Arabi, Baerut, Libanon, tt, hlm. 382.
                                                                                        38




               Berbeda dengan pandangan di atas adalah apa yang dikemukakan

    Syeikh Muhammad Ibn Qasim yang menegaskan: tayammumlah untuk tiap-

    tiap satu fardlu dan satu nadzar. Maka tidak boleh mengumpulkan antara dua

    shalat fardlu itu dengan satu tayammum dan tidak boleh mengumpulkan antar

    dua thawaf dan antara dua shalat thawaf dan antara shalat Jum’at dan dua

    khotbah.45 Pendapat yang sama dikemukakan oleh Syeikh Zainuddin Ibn Abd

    Aziz al-Malibary bahwa satu kali tayammum itu hanya bisa digunakan untuk

    satu shalat fardlu dan shalat nadzar dan sah melakukan satu shalat fardlu

    bersama shalat jenazah. Demikian pula pendapat Imam Abu Ishaq al-Syirazi

    bahwa tidak boleh melaksanakan shalat dengan tayammum lebih dari satu

    shalat fardlu, tapi boleh untuk beberapa shalat sunnat. Barang siapa

    bertayammum untuk shalat fardlu ia boleh menggunakannya untuk shalat

    sunnat, tatapi barang siapa bertayammum untuk shalat sunnat ia tidak boleh

    menggunakannya untuk shalat fardlu. 46

               Seorang ulama dari Aceh yaitu TM. Hasbi Ash Shiddiqie dalam

    mengungkapkan tentang hukum satu tayammum untuk lebih dari satu shalat

    dapat dikaji dalam bukunya Koleksi Hadits-Hadits Hukum. Dalam buku

    tersebut ia memulai uraiannya dengan mencantumkan sebuah hadits yang

    diriwayatkan oleh Imam Daruqutni yang bunyinya sebagai berikut:




        45
             Syeikh Muhammad Ibn Qasim al-Ghazi, Op. Cit., hlm. 9.
        46
          Al-Tambih fi Fighi asy-Syaf’i, Terj. Hafidz Abdullah, Kunci Fiqih Syafi’i, CV. As
Syifa’ Semarang, 1990, hlm. 12-13.
                                                                                           39




              47



              Artinya : Ibnu Abbas r.a berkata: menurut sunnah, tidak boleh
                        seseorang shalat dengan satu tayammum, selain dari satu
                        shalat saja. Kemudian ia bertayammum lagi untuk shalat
                        lain (HR. ad-Daruqutni)


              Dalam perspektif TM.Hasbi Ash Shiddiqie, hadits di atas sanadnya48

     sangat lemah karena di dalamnya ada seorang perawi, Hasan ibnu Umrah.

     Selanjutnya dalam buku tersebut TM.Hasbi Ash Shiddiqie mengungkapkan

     pendapatnya dengan membentangkan lebih dahulu opini Imam Malik dan

     Imam Syafi’i.

               Imam Syafi’i termasuk ulama yang tidak memperkenankan satu kali

     tayamum digunakan untuk lebih dari satu shalat fardlu. Dalam kitabnya ia

     menegaskan:

              Kalau bermaksud mengumpulkan antara dua shalat, maka ia
              mengerjakan shalat yang pertama dari keduanya dan mencari air.
              Kalau tidak diperolehnya air itu, niscaya ia mengulangi tayamum
              bagi setiap shalat daripadanya, sebagaimana telah saya terangkan.
              Tidak memadai yang lain dari yang demikian. Kalau ia mengerjakan
              dua shalat fardlu dengan satu tayamum, niscaya ia ulangi shalat
              yang penghabisan dari keduanya. Karena tayamum itu memadai
              bagi shalat pertama dan tidak memadai bagi shalat yang
              penghabisan.49

        47
           Sayid al-Imam Muhammad ibn Ismail Asan’ani, Subbul assalam sarh bulug al-
Marram min jami’i adilati al-Ahkam, Juz I, Maktabah wa Matba’ah, Toha Putera Semarang, hlm.
100. Vide al-Hafid ibn Hajar al-Asqalni, Bulug al-Marram, al-Alawiyah, semarang, tt, hlm. 148.
        48
            TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadit-Hadits Hukum, jilid I, al-Ma’arif, Bandung,
1970, hlm. 328-329. sanad menurut bahasa sandaran, yang kita bersandar padanya. Maka surat
hutang juga dinamai sanad yang berarti yang dapat dipegangi, dipercayai…menurut istilah ahli
hadits yaitu jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadits. Vide TM. Hasbi Ash Shiddieqy,
Sejarah dan Pengatar Ilmu Hadits, Cet. 6, Bulan bintang, Jakarta, 1980, hlm. 192. Cf Fatchur
Rahman, Ihktisar Mushthalahul Hadits, Cet. 4 PT al-Ma’arif Bandung, hlm. 24.
                                                                                               40


                 Pendapat Imam Syafii tidak berbeda dengan pendapat Imam Malik,

     di mana menurutnya tidak boleh shalat dua fardu dengan satu tayamum.

     Demikian pula kata Ibnu Qudamah : menurut madzab Ahmad, satu tayamum

     itu tidak boleh dipergunakan untuk dua shalat di dua waktu. Satu tayamum,

     untuk satu Fardu, shalat yang diqada dan shalat sunah hingga masuk waktu

     shalat yang lain. Dan boleh juga untuk menjamakkan dua shalat dalam satu

     waktu. Kata al-Mawardi : tidak boleh mengumpulkan dua shalat dengan satu

     tayamum.

               Menurut Hafid Abdullah: tidak boleh melaksanakan shalat dengan

    tayamum lebih dari satu shalat fardlu tapi boleh untuk beberapa shalat sunah.

    Barang siapa bertayamum untuk shalat fardlu, ia boleh menggunakannya

    untuk shalat sunah, tetapi barang siapa bertayamum untuk shalat sunah, ia

    tidak boleh menggunakannya untuk shalat fardlu.50

               Pendapat yang sama dikemukakan oleh Syekh Muhammad bin Qasim,

    menurutnya dengan satu kali tayamum, hanya diperbolehkan melakukan satu

    kali shalat fardlu, sekalipun fardlu shalat nadzar. Namun sah untuk melakukan

    satu shalat fardlu berserta shalat jenazah.51 Demikian pula pendapat Syekh

    Zainuddin bin Abd al-Aziz al-Malibari, ia mengatakan bagi orang yang

    bertayamum, maka bertayamumlah untuk tiap-tiap fardlu satu dan nadzar satu,

    maka tidak sah mengumpulkan dua shalat fardlu dengan satu tayamum.52

        49
             Al-Syafii, Op. Cit, hlm. 63.
        50
             Hafid Abdullah, Kunci Fiqih Syafi’i, CV Asy Syifa’, Semarang, 1990, hlm. 12-13.
        51
           Muhammad bin Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarib, Maktabah al-Ihya al-Kutub al-
Arabiah, Indonesia, tt, hlm. 9.
        52
         Syekh Zainuddin bin Abd al-Aziz al-Malibari, Fath al-Muin, Bi Sarah Qurata al-Uyun,
Karya Toha Putra, Semarang, tt, hlm. 8-9.
                                                                      41


      Berbeda dengan pendapat tersebut adalah pendapat Ibnu Qayyim al-

Jauziyah, menurutnya tidak ada keterangan dari Nabi saw yang menyatakan

bahwa beliau itu bertayamum untuk tiap-tiap shalat, dan tidak pula beliau

menyuruh yang demikian. Nabi SAW hanya menyuruh bertayamum dan

menyamakan hukumnya dengan wudlu.
                                  BAB III
PENDAPAT ABU HANIFAH TENTANG DIBOLEHKANNYA TAYAMUM
                  SEBELUM MASUK WAKTU SHALAT


A. Biografi, Perjuangan dan Karya Ilmiah Abu Hanifah

   1. Biografi

          Abu Hanifah adalah sebutan dari Nu'man bin Sabit bin Zuta, dilahirkan

   pada 699 (80 H) di Kufah, dari seorang keturunan Parsi bernama Sabit; wafat

   pada 767 (150H).

          Sejak   kanak-kanak    Abu    Hanifah   gemar    mempelajari    ilmu

   pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum agama Islam.

   Kegemarannya ini ditopang oleh keadaan ekonomi keluarganya yang cukup

   baik, karena ia seorang putra saudagar besar di kota Kufah. Selama ia

   menempuh pendidikan tidak banyak mengalami kesulitan, baik dari segi

   ekonomi maupun kecerdasan dan lain sebagainya. Pada masa mudanya, masih

   ada di antara sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup seperti Anas bin

   Malik, Abdullah bin Haris, Abdullah bin Abi Auf dan lain-lain. Para ulama

   terkenal yang menjadi guru Abu Hanifah banyak sekali. Bila didengarnya ada

   ulama besar dan terkenal, di suatu tempat, maka dengan segera ia

   mendatanginya untuk berguru, sekalipun hanya untuk beberapa waktu saja.

          Di antara ulama yang pernah menjadi gurunya itu, ialah Imam

   Muhammad al-Baqir, Imam Ady bin Sabit. Imam Abdur Rahman bin Harmaz,

   Imam Amr bin Dinar, dan Imam Mansur bin Mu'tasim. Selain gemar

   menuntut ilmu, Abu Hanifah juga seorang yang gemar berniaga atau ahli di

                                       42
                                                                        43


bidang perdagangan, dan tercatat sebagai pedagang yang berhasil. Menurut

suatu riwayat ialah orang yang pertama kali memiliki pengetahuan tentang

cara membuat batu ubin. Benteng-benteng di kota Bagdad pada masa

pemerintahan al-Mansur, seluruh dindingnya terbuat dari batu ubin yang

dibuat oleh Abu Hanifah.

       Namun hasil niaganya itu lebih banyak dipergunakan untuk

pengembangan ilmu pengetahuannya, membantu kehidupan para gurunya,

fakir miskin dan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Seorang

muridnya, Imam Abu Yusuf pernah berkata, "Abu Hanifah adalah seorang

dermawan, dan tidak ada padanya sifat serakah, menimbun kekayaan atau

mementingkan diri sendiri." Selain ahli di bidang ilmu hukum (fikih), Abu

Hanifah juga ahli di bidang ilmu kalam serta mempunyai kepandaian tentang

ilmu kesusastraan Arab, dan lain-lain. Pembesar dan Kepala Jawatan Kota

Kufah dan sekitarnya serta masyarakat di daerah-daerah senantiasa

berdatangan untuk meminta fatwa.

       Setiap keputusan yang diambilnya selalu didasarkan kepada al-Quran,

Sunnah Rasulullah SAW yang sahih dan masyhur, fatwa-fatwa dari para

sahabat, kias, istihsan dan adat yang telah berlaku di dalam masyarakat. la

dikenal banyak memakai pendapat (ra'yu) dalam fatwanya. Dengan kata lain

Abu Hanifah adalah seorang ulama besar dan ahli ilmu agama yang tidak ada

tara di zamannya. la juga seorang yang amat berjasa bagi Islam dan umatnya,

seorang pilihan yang telah lulus dalam menempuh berbagai ujian yang besar.
                                                                                   44


Hal itu antara lain dapat dilihat dari karya-karyanya di bidang ilmu

pengetahuan agama, khususnya fikih. 1


2. Perjuangan Abu Hanifah

        Pada awalnya, Abu Hanifah adalah seorang pedagang. Atas anjuran al-

Sya'bi, ia kemudian beralih menjadi pengembang ilmu.2

        Beliau termasuk generasi Islam ketiga setelah Nabi Muhammad SAW

(atba' al-tabi'in). Pada zamannya, terdapat empat ulama yang tergolong

sahabat yang masih hidup, yaitu (1) Anas ibn Malik di Bashrah; (2) 'Abd

Allah ibn Ubai di Kufah; (3) Sahl ibn Sa'd al-Sa'idi di Madinah; dan (4) Abu

al-Thufail 'Amir ibn Wa'ilah. (Sya'ban Muhammad Isma'il, 1985: 312)

        Abu Hanifah belajar fikih kepada ulama aliran Irak (ra'yu). la dianggap

representatif untuk mewakili pemikiran aliran ra'yu. Oleh karena itu, kita

perlu mengetahui guru-guru dan murid-muridnya sehingga dari segi hubungan

guru-murid kita dapat menyaksikan bahwa dia termasuk salah seorang

generasi pengembang aliran ra'yu

        Aliran Irak, Kufah, atau mazhab ra'y pada generasi sahabat dipelopori

oleh 'Ali ibn Abi Thalib dan 'Abd Allah ibn Mas'ud. Di antara murid kedua

sahabat Nabi SAW itu ialah Syuraih ibn al-Harits, 'Al-Qamah ibn Qais al-

Nakha'i, Masyruq ibn al-Ajda' al-Hamdani, dan al-Aswad ibn Yazid al-

Nakha'i.3

        1
           Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:
Anggota IKAPI, Djambatan, 1992, hlm. 38-39
        2
          Jaih Mubarak, Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: Rosdakarya,
2000, hlm. 74.
        3
          Ali Fikri, Kisah-Kisah Para Imam Madzhab, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000,
hlm. 9.
                                                                                45


          Di antara murid Syuraih ibn al-Harits, 'Al-Qamah ibn Qais al- Nakha'i,

Masyruq ibn al-Ajda' al-Hamdani, dan al-Aswad ibn Yazid al-Nakha'i adalah

Ibrahim al-Nakha'i dan 'Amir ibn Syarahil al- Sya'bi. Di antara murid Ibrahim

al-Nakha'i dan 'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi adalah Hamad ibn Sulaiman. Di

antara murid Hamad ibn Sulaiman adalah Abu Hanifah. Selain dari Hamad ibn

Sulaiman, Abu Hanifah belajar fikih kepada 'Atha ibn Abi Ribah, Hisyam ibn

'Urwah, dan Nafi' Maula ibn 'Umar (Ahmad Amin, II, t.th: 182). Di antara

murid dan sahabat Abu Hanifah adalah Abu Yusuf (112-166 H.), Muhammad

ibn al-Hasan al-Syaibani. (122-198 H.), dan Zufar.4

          Beliau seorang yang memiliki wajah tampan, jenggot tertata rapi,

tingkah dan pakaiannya bagus, menghormati forum, sikapnya bagus,

berwibawa, pemurah, banyak memberi bantuan pada temannya dan senang

wangi-wangian. Oleh karena beliau sangat senang wangi- wangian,

masyarakat sekitarnya mengetahui kalau beliau keluar rumah dari wangi-

wangian yang digunakannya, sekalipun tanpa harus melihat beliau secara

fisik.5

          Beliau lahir dan dibesarkan di Arab, sedangkan nenek moyang beliau

berasal dari Paris. Hal itu tidak masalah bagi Imam Abu Hanifah. Beliau tidak

membeda-bedakan antara imam Paris dan Arab. Karena taqwa adalah paling

tingginya nasab dan kuatnya hitungan. Sikap tersebut didasarkan pada firman

Allah SWT: " Sesungguhnya paling mulia kamu di sisi Tuhan adalah orang

yang paling takwa kepadaNya." Dan Nabi SAW pernah bersabda di saat haji
          4
           T.M. Hasbi ash-Shiddieqi, Pokok-pokok Pegangan Imam Mazhab, Semarang: PT
Pustaka Rizki Putera, 1997, hlm. 142
        5
          Ali Fikri, Op. Cit, hlm. 4.
                                                                           46


wada': "Wahai manusia, Tuhanmu satu. Tidak ada prioritas bagi Arab atas

luar Arab (ajami), atau luar Arab atas Arab. Tidak ada prioritas bagi hitam

atas merah, atau merah atas hitarn, kecuali taqwa."

        Imam Suyuti pernah bercerita: Ada ulama yang mengatakan bahwa

Nabi Muhammad SAW pernah memberikan kabar gembira pada Imam Abu

Hanifah melalui hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Beliau

bersabda:

        "Seandainya ilmu digantung pada bintang surya, niscaya salah satu

pemuda dari Bani Faris akan mendapatkan ilmu tersebut."

        Hadits mulia ini menjadi pegangan yang benar tentang berita gembira

dan keutamaan Abu Hanifah. Hal ini juga diperkuat dengan tidak adanya

orang maupun sahabat beliau yang melebihi kepandaian Abu Hanifah pada

saat itu.6

3. Karya Ilmiah Abu Hanifah

        Hasil karya Abu Hanifah yang hingga kini masih dapat dijumpai antara

lain:

1. Al-Mabsut. Kitab ini adalah kitab yang disusun oleh Imam Muhammad

    bin Hasan dan berisi banyak masalah keagamaan yang dipegang atau

    ditetapkan oleh Abu Hanifah; dan berisi pula beberapa masalah

    keagamaan yang menyalahi ketetapannya seperti yang dikemukakan

    muridnya Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Kitab itu

    berisi pula perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dengan Imam Ibnu

        6
        Ibid, hlm. 5. Bandingkan TM.Hasbi Ash Shiddiqi, Pengantar Hukum Islam,
Semarang: Pustaka Rizlki Putra, 2001, hlm. 85.
                                                                           47


     Abi Laila. Kitab ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hafs al-Kabir,

     seorang ulama besar murid Muhammad bin Hasan.

  2. Al-Jami'us-Sagir. Kitab ini berisi beberapa masalah yang diriwayatkan

     dari Imam Isa bin Abbas dan Imam Muhammad bin Hasan. Di dalamnya

     terdapat pula empat puluh fasal tentang ilmu fikih.

  3. Al-Jami'ul Kabir. Isi kitab ini sama dengan isi kitab yang kedua di atas,

     hanya sifat uraian dan keterangannya lebih panjang. Masih banyak kitab

     yang berisikan buah pikiran Abu Hanifah yang ditulis dan diriwayatkan

     oleh para muridnya.

         Dalam bidang ilmu, ia sangat menentang sikap taklid. Hal ini dapat

  dilihat dari beberapa ucapannya, seperti: "Tidak halal bagi seseorang yang

  akan memberi fatwa dengan perkataanku, selama ia belum mengerti dari mana

  perkataanku itu datang." "Tinggalkanlah pendapatku jika bertentangan dengan

  al-Quran, Sunnah Rasulullah (Hadits), atau perkataan para sahabat Nabi

  SAW." 7



B. Pendapat Abu Hanifah Tentang Dibolehkannya Tayamum Sebelum
  Masuk waktu shalat
         Menurut Abu Hanifah, boleh bertayamum sebelum masuk waktu

  shalat. Namun demikian, tayamum menjadi wajib bila waktu shalat sudah tiba,

  dan tayamum yang dilakukan sebelum masuk waktu tidak mengurangi sahnya




         7
             Ibid.
                                                                               48


tayamum itu sendiri.8 Sejalan dengan pendapat tersebut, Menurut Abu Hanifah

sebagaimana dikutif Al-Jaziri mengatakan:



        9

        Artinya: Berkata Abu Hanifah, boleh bertayamum sebelum masuk
                 waktu shalat


       Menurut Abu Hanifah, seseorang yang hendak mengerjakan shalat

boleh tayammum bila ada uzur yang dibenarkan syara, misalnya sakit yang

menurut perkiraan obyektif bisa mengakibatkan bertambah parah penyakitnya

kalau menggunakan air. Atau tidak ada air yang bisa dipakai wudlu. Bila

mengalami keadaan seperti ini, maka orang boleh tayamum tanpa harus

menunggu waktu shalat sudah tiba. Karena kedudukan tayammum pada

dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan wudlu. Keduanya sebagai sarana

untuk untuk menghilangkan hadas. Sedangkan perbedaannya hanya terletak

pada alasan yang menjadi sebab dibolehkannya menggunakan sarana tersebut.

       Selanjutnya Abu Hanifah berpendapat, ulama yang mensyaratkan

sahnya tayamum sesudah waktu shalat tiba terlalu memberatkan dan sulit

dipahami. Karena bagaimana bila seumpama orang tayamum karena sulit

mencari air dan hanya ada dalam jarak yang cukup jauh, sementara waktu

shalat harus sudah tiba dahulu. Maka bisa sering terjadi orang shalat waktunya

sudah habis. Apakah hal ini bisa diterima sebagai bentuk keringanan. Karena

itu lebih tepat jika tayamum diletakkan dalam fungsi yang sama denga wudlu.

       8
         Muhammad Amin al-Ma’ruf ibn Abidin, Hasyiyah Rod Al-Muhtar fi Fiqh Mazhab
Abu Hanifah an- Nu’man, juz 2, Beirut Libanon: Daar al-Fikr, tth, 229-245.
       9
        Ibid
                                                                            49


C. Metode Istinbath Hukum Abu Hanifah Tentang Tayamum Sebelum

  Masuk Waktu Shalat

         Thaha Jabir Fayadi al-'Ulwani sebagaimana dikutif Jaih Mubarok

  membagi cara ijtihad Abu Hanifah menjadi dua: cara ijtihad yang pokok dan

  cara ijtihad yang merupakan tambahan. Cara ijtihadnya yang pokok dapat

  diringkas sebagai berikut.




         10

         Artinya: "Aku (Abu Hanifah) merujuk kepada Al-Qur'an apabila aku
                   mendapatkannya; apabila tidak ada dalam AJ-Qur'an, aku
                   merujuk kepada Sunnah Rasulullah Saw dan atsar yang
                   shahih yang diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah. Apabila
                   tidak mendapatkan dalam Al-Qur'an dan Sunnali Rasul, aku
                   merujuk kepada qaul sahabat, (apabila sahabat ikhtilaf), aku
                   mengambil pendapat sahabat yang mana saja yang
                   kukehendaki, aku tidak akan pindah dari pendapat yang satu
                   ke pendapat sahabat yang lain. Apabila didapatkan pendapat
                   Ibrahim, al-Sya'bi, dan ibn al-Musayyab, serta yang lainnya,
                   aku berijtihad sebagaimana mereka berijtihad."


         Sedangkan cara ijtihad Abu Hanifah yang bersifat tambahan adalah (a)

  bahwa dilalah lafad umum ('am) adalah qath'i, seperti lafad khash; (b) bahwa

  pendapat sahabat yang "tidak sejalan" dengan pendapat umum adalah bersifat


         10
              Jaih Mubarak, Op. Cit, hlm. 74
                                                                                  50


khusus; (c) bahwa banyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat

(rajih); (d) adanya penolakan terhadap mafhum (makna tersirat) syarat dan

shifat; (e) bahwa apabila perbuatan rawi menyalahi riwayatnya, yang

dijadikan dalil adalah perbuatannya, bukan riwayatnya; (f) mendahulukan

qiyas jali atas khabar ahad yang dipertentangkan; (g) menggunakan istihsan

dan meninggalkan qiyas apabila diperlukan.11




        11
          Sobhi Mahmassasani, Filsafat Hukum Dalam Islam, alih bahasa: Ahmad Sudjono,
Bandung: PT.Al-Ma’arif, 1976, hlm. 55.
                                          BAB IV
ANALISIS PENDAPAT ABU HANIFAH TENTANG DIBOLEHKANNYA
                 TAYAMUM SEBELUM MASUK WAKTU SHALAT


A. Analisis Pendapat Abu Hanifah Tentang Dibolehkannya Tayamum
    Sebelum Masuk Waktu Shalat
            Berbicara masalah tayamum dalam konteksnya dengan datangnya

    waktu shalat ada dua prndapat. Kelompok pertama menyatakan telah

    datangnya waktu shalat sebagai syarat sahnya tayamum dengan berpijak pada

    Sabda Rasulullah SAW:




             1



             Artinya : Amer Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata:
                       “Rasulullah SAW bersabda: Telah dijadikan bumi untukku
                       tempat bersujud dan alat bersuci. Di mana saja aku didapati
                       oleh waktu shalat, aku menyapu dengan bumi
                       (bertayammum) dan lalu aku shalat. (HR Ahmad)


            Sebagian ahli fiqih menurut TM. Hasbi Ash Shiddieqy berpandangan

    bahwa Hadits ini menunjukkan kepada disyaratkannya tayamum sesudah

        1
            Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi,
Musnad Ahmad, Kairo: Tijariyah Kubra, tt, hlm. 187. Cf. Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz 1, Kairo:
Daar al-Manar, 1367, hlm. 239. al-Imam Ibnu Hazm, al-Muhalla al-Mujalla, Juz 2, Bairut: Daar
al-Fikr, tt, hlm. 133.; Al-Imam Alamah Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad as-Syaukani, Nail
al-autar Min Asrari Muntaqa al-Akhbar, Juz 1, Mustafa al-Babi al-Halabi, tt, hlm. 326-328.; Al
Iman Ibnu Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir, Dar al-Fikr al-Arabi,
1954, hlm. 165. Abdul Ghani al-Maqdisi, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi,
1954, hlm. 114.

                                             51
                                                                                        52


    Masuk waktu shalat.2 Misalnya Imam Syafi'i dalam kitabnya mengatakan:

    Allah Taala menetapkan waktu-waktu bagi shalat. Maka tidaklah bagi

    seseorang bershalat sebelum waktu-waktu itu. Sesungguhnya kita disuruh

    berdiri kepada shalat, apabila telah masuk waktunya. Begitu juga disuruh

    dengan tayammum, ketika mau berdiri kepada shalat dan memerlukan kepada

    air. Maka siapa yang bertayammum untuk shalat sebelum masuk waktunya

    dan mencari air, niscaya tidak boleh baginya bershalat dengan tayammum itu.

    Sesunguhnya boleh mengerjakan shalat apabila telah masuk waktunya, yang

    apabila dikerjakan shalat itu padanya, niscaya memadailah baginya.

    1)

             Sedangkan pendapat yang berbeda dengan yang di atas di

    dikemukakan oleh Abu hanifah sebagaimana dikutif Al-Jaziri mengatakan:



             3

             Artinya: Berkata Abu Hanifah, boleh bertayammum sebelum masuk
                      waktu shalat


             Penulis setuju dengan pendapat Abu Hanifah, karena pertama,

    pendapatnya tidak memberatkan; kedua, orang bisa terhindar dari ketinggalan

    shalat sebab tidak perlu menunggu masuk waktu shalat. Sedangkan jika

    tayammum harus sudah masuk waktu shalat sementara mencari air cukup jauh

    maka sangat mungkin waktu shalat yang akan dikerjakan habis sehingga sia-

    sialah tayammumnya.

         2
           TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadits-hadits Hukum, Jakarta: PT Magenta Bhakti
Guna, Cet 5, 1994, hlm. 320.
        3
          Ibid
                                                                                          53


                 Namun demikian, Abu Hanifah adalah seorang ulama yang sering

    disalah pahami, kadangkala dipuja secara berlebihan tetapi juga sering dihina

    melampaui batas. Orang-orang yang fanatik terhadap mazhab Hanafi

    mengklaim Abu Hanifah punya kedudukan yang hampir sama dengan derajat

    para Nabi dan Rasul. Mereka mengklaim bahwa kitab Taurat juga menyebut-

    nyebut nama Abu Hanifah dan bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri

    menyebutkan namanya dan menganggapnya sebagai "lampu ummat Mu-

    hammad" kelak.

                 Di lain pihak, orang-orang yang belum memahami.jalan pikirannya

    menganggap Abu Hanifah sebagai perusak agama, berfatwa tanpa dalil,

    zindiq, dan tidak jarang divonis sebagai orang kafir. Mengapa semua itu dapat

    terjadi? Abu Hanifah adalah seorang Imam yang luar biasa. la mempunyai

    kecerdasan intelektual yang tinggi, pemahaman yang dalam, wara' dan takwa.

                 Pemikiran-pemikiran fiqih-nya menembus pemahaman ulama pada

    zamannya bahkan ruang yang melingkupinya. Abu Hanifah mendapat predikat

    al-lmam al-A'dham, karena keluasan ilmunya. Pemikiran-pemikirannya

    merambah ke mana-mana, dikaji orang-orang yang menolaknya dan

    menerimanya. Hampir di seluruh negeri Islam pemikiran Abu Hanifah

    menjadi buah bibir sehingga jurang yang memisahkan antara orang-orang

    yang membela dan menolaknya semakin lebar.4

                 Pemikiran di luar forum itu terus berkembang dan ironisnya lagi

    mereka banyak yang memvonis tanpa mengetahui landasan dan pijakan Abu

           4
               Jaih Mubarok, Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: Rosdakarya, 2000,
hlm. 72.
                                                                                        54


    Hanifah. Suatu kisah yang barangkali dapat memberikan gambaran cukup

    jelas tentang masalah ini diriwayatkan oleh Imam Auza'ie. Seperti kita ketahui

    bahwa Imam Auza'ie adalah juga imam mazhab pada zamannya dan hidup di

    zaman Abu Hanifah. "Apakah anda tahu seorang yang menyebarkan bid'ah di

    Kufah dan mendapat julukan Abu Hanifah?" tanya Imam Auza'ie kepada

    temannya, Abdullah bin Mubarak. Ibnu Mubarak yang nota benenya memang

    kurang setuju dengan pendapat-pendapat Abu Hanifah menganggapnya telah

    "menyeleweng" dari ajaran Islam.5

            Suatu ketika Abu Hanifah datang ke Mekkah dan bertemu dengan

    Imam Auza'ie. Di situ terjadi dialog dan diskusi cukup menarik antara Auza'ie

    dan Abu Hanifah. Auza'ie memperoleh penjelasan dan argumentasi secara

    mendetail dari Abu Hanifah, kemudian berkata kepada Ibnu Mubarak, "Saya

    telah merendahkan orang yang banyak ilmunya dan cerdas otaknya. Kini saya

    tahu bahwa apa yang saya dengan sama sekali tidak benar. Abu Hanifah

    adalah seorang ulama besar.6

            Penulis sangat mendukung pendapat Abu Hanifah, apalagi ulama

    lainnya pun banyak yang sependapat dengan Abu Hanifah. Misalnya

    pengarang Bidayatul Mujtahid Wan Nihayat Al Muqtasid yaitu Ibnu Rusyd

    berpihak pada pendapat mazhab Hanafi. Keterangannya sebagai berikut:




        5
         Sobhi Mahmassasani, Filsafat Hukum Dalam Islam, alih bahasa: Ahmad Sudjono,
Bandung: PT.Al-Ma’arif, 1976, hlm. 55.
       6
         Ali Fikri, Kisah-Kisah Para Imam Madzhab, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000, hlm. 9.
                                                                             55


B. Analisis Metode Istinbath Hukum Abu Hanifah Tentang Tayamum

  Sebelum Masuk Waktu Shalat.

         Perbedaan Abu Hanifah dengan imam lainnya bahwa Abu Hanifah

  sangat ketat dalam penerimaan hadits Ahad. Tidak seperti para imam yang

  lain, Abu Hanifah sering menafsirkan suatu nash dan membatasi konteks

  aplikasinya dalam kerangka 'illat, hikmah, tujuan-tujuan moral dan bentuk

  kemaslahatan yang dipahaminya. Perlu segera ditambahkan di sini, betapapun

  Abu Hanifah terkenal dengan mazhab rasionalis yang acapkali menyelami di

  balik arti dan 'illat suatu hukum serta sering mempergunakan qiyas, tetapi itu

  tidak berarti ia telah mengabaikan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah atau

  meninggalkan ketentuan hadis dan atsar.

         Tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan bahwa Abu Hanifah

  mendahulukan rasio daripada Sunnah atau Atsar . Bahkan jika ia menemukan

  pendapat atau qaul (pernyataan) sahabat yang benar, ia menolak untuk

  melakukan ijtihad. Dengan kata lain, pemikiran fiqih Abu Hanifah tidak

  berdiri sendiri, tetapi malah berakar kuat pada pendahulu-pendahulunya di

  Irak dan juga ahli hadits di Hijaz. Muhammad bin Hasan, seperti dikutip Abu

  Zahrah, membenarkan bahwa dalam masalah hukum seseorang yang

  melakukan hubungan dengan isterinya sebelum thowaf ziarah, Abu Hanifah

  mengambil pendapat Ibnu Abbas, seorang ulama ahli hadits Mekkah, dan

  menolak pendapat Ibrahim yang dikenal banyak mewariskan pemikiran fiqih

  rasional kepadanya.
                                                                             56


       Dalam mazhab Abu Hanifah, jima’ (hubungan suami-isteri) sebelum

wuquf di Arafah membatalkan haji sedangkan sesudah wuquf tidak

membatalkan sebagaimana pendapat Ibnu Abbas. Satu bukti bahwa Abu

Hanifah tidak mendahulukan pemikiran rasional di atas qaul sahabat yang

dianggapnya benar. Abu Hanifah sendiri pernah mengatakan, "Tidak ada

pemikiran yang benar tanpa riwayat dan tidak ada riwayat tanpa pemikiran."

       Secara faktual, pemikiran fiqih Abu Hanifah memang sangat

mendalam dan rasional. la memberi syarat yang cukup ketat dan selektif

dalam penerimaan hadits Ahad. Sikapnya ini sebenarnya dimaksudkan untuk

mengukuhkan kebenaran periwayatan hadits. Apabila ternyata tidak

memenuhi syarat, hadits itu tidak dapat dijadikan dalil dari suatu hukum. Hal

itu tidak dapat dikatakan bahwa Abu Hanifah meninggalkan Sunnah kecuali

apabila secara jelas-jelas ia menolak Sunnah yang benar dari Nabi SAW dan

mendahulukan qiyas atau istihsan. Bagi Abu Hanifah, ada tiga syarat yang

harus dipenuhi dalam penerimaan hadits Ahad.

       Pertama, orang yang meriwayatkan tidak boleh berbuat atau berfatwa

yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan. Kedua, hadits ahad tidak

boleh menyangkut persoalan umum dan sering terjadi. Sebab kalau

menyangkut persoalan umum dan sering terjadi, mestinya hadis itu

diriwayatkan oleh banyak Rowi, tidak seorang saja. Ketiga, hadits Ahad tidak

boleh bertentangan dengan kaidah-kaidah umum atau dasar-dasar kulliyah

(mabadik kulliyah'               ).
                                                                          57


              Selain persyaratan di atas, dalam banyak hal, Abu Hanifah lebih

mengutamakan hadits yang diriwayatkan oleh fuqaha daripada seorang ahli

hadits. Kesalehan dan kejujuran saja belum cukup untuk dapat mengetahui

seluk-beluk hadits, apalagi yang menyangkut hukum. Karenanya, Abu

Hanifah lebih memprioritaskan hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang

yang mengerti masalah-masalah fiqhiyah. Kondisi sosiologis di mana Abu

Hanifah dibesarkan tentu mempengaruhi pula tata-cara berpikir Abu Hanifah.

Irak adalah pusat kegiatan, kebudayaan dan peradaban yang banyak

mengetengah-kan masalah-masalah baru yang belum ada sebelumnya.

              Dengan sikap selektif dalam penerimaan hadits Ahad, Abu Hanifah

dapat lebih leluasa melakukan penafsiran terhadap hadits-hadits Shahih,

menyelami tujuan-tujuan moral dan banyak mempergunakan rasio sehingga

mampu memberi jawaban terhadap berbagai perkembangan yang muncul saat

itu.

              Husain Hamid Hasan (murid Abu Hanifah) berulang kali menegaskan

bahwa qiyas dan istihsan Abu Hanifah tidak bertentangan dengan ketentuan

nash-nash Al-Qur'an. Kalaupun Imam Syafi'i pernah mengatakan bahwa

barang siapa yang melakukan istihsan berarti mengada-adakan hukum, tetapi

itu dimungkinkan karena Imam Syafi'i belum mempelajari secara mendalam

teori istihsan yang dimaksudkan Abu Hanifah. Sebab ternyata Imam Syafi’i

sendiri dalam persoalan tertentu mempergunakan teori ini. Bahkan disebutkan

dalam bukunya, Al-Umm, ia memberi hukum dengan cara istihsan.7


       7
           Ibid
                                                                                             58


          Contoh penggunaan teori istihsan seperti disabdakan oleh Nabi saw:

"Tidaklah seorang hakim mengadili (suatu perkara) dalam keadaan marah."

Nash ini secara literal melarang pelaksanaan pengadilan dalam keadaan

marah, tetapi sebenarnya mengandung hal-hal yang lebih jauh. Misalnya, tidak

boleh melakukan pengadilan ketika dalam keadaan takut, lapar atau karena

pikiran tidak tenang. Sebab yang dapat dipahami dari nash tadi bukan

"marahnya" tetapi "ketidaktenangan" pikiran sehingga seorang hakim tidak

dapat menegakkan keadilan dari pengadilan tadi.8

          Dalam konteks ini, istihsan Abu Hanifah memang bukan sesuatu di

luar ketentuan nash. Mengapa Abu Hanifah banyak melakukan ijtihad dan

menggunakan rasio dalam menghadapi masalah-masalah fiqih? Sebagaimana

telah dikemukakan di muka, Abu Hanifah bukan keturunan Arab. la keturunan

Persia yang lahir di Kufah, Irak. la lahir dan dibesarkan di tempat yang jauh

dari Hijaz, tempat wahyu turun, tempat tumbuhnya hadits dan tempat tinggal

para sahabat Nabi. Para ahli fiqih di wilayah ini lebih banyak mengenal dan

mengerti hadits dari fuqaha, bukan muhadditsin.

          Sudah barang tentu Abu Hanifah dituntut untuk menyeleksi hadits

yang sampai ke Kufah, atau minimal menyangsikan keshahihan hadits atau

perawinya yang tidak memenuhi persyaratan. Dari situ ia cenderung memakai

rasio dan ijtihad.

          Farouq      Abu      Zaid     menyebut       beberapa      faktor    lain    yang

melatarbelakangi kecenderungan dan metode rasional Abu Hanifah. Penduduk

Kufah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan merupakan masyarakat yang sudah
    8
        Husain Hamid Hasan, Al-Madhkal Lidirasat al-Fiqh al-lslami, Mesir; Kairo, hlm. 95.
                                                                                              59


    banyak mengenal kebudayaan dan peradaban. Fuqaha daerah ini sering

    dihadapkan pada berbagai persoalan hidup berikut problematikanya yang

    beraneka ragam. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut mereka

    terpaksa memakai ijtihad dan akal. Keadaan ini berbeda dengan Hijaz.

    Masyarakat          daerah     ini    masih     diliputi    oleh    suasana      kehidupan

    sederhana, seperti keadaan pada masa Nabi SAW. Para fukoha untuk

    mengatasi berbagai masalah dalam kondisi seperti ini merasa cukup dengan

    hanya mengandalkan Al-Qur'an, Sunnah dan ijma’ para sahabat. Karena itulah

    mereka tidak merasa perlu berijtihad seperti fuqaha Irak.9

               Faktor lain yang menyebabkan Abu Hanifah menjadi seorang

    rasionalis ialah bahwa ia tidak hanya menggumuli ilmu-ilmu syari’at. Pada

    awal kehidupan ilmiahnya ia mempelajari ilmu kalam (teologi). kemudian

    belajar fiqih di madrasah Kufah kepada Syeikh Hammad bin Sulaiman. la juga

    seorang pedagang kain yang menyebabkan ia mempunyai pengalaman yang

    luas dalam bidang perdagangan.

               Studinya dalam ilmu kalam membuatnya trampil dalam menggunakan

    logika untuk mengatasi berbagai persoalan fiqih. la pun piawai dalam

    mempraktekkan hukum-hukum Islam terutama dalam bidang perniagaan,

    melalui pendekatan qiyas dan istihsannya.10 Dari faktor-faktor di atas dapat

    pula dipahami mengapa Abu Hanifah sering melakukan kajian-kajian prediktif

    dalam masalah-masalah fiqih, menjaring kekuatan hukum secara sangat



        9
             Farouq Abu Zaid, Hukum Islam, antara Tradisionalis dan Modernis, Jakarta , P3M, tth,
hlm. 10-2,
        10
             Ibid.
                                                                            60


  responsif dengan formula, teori dan karakteristik yang global sehingga

  memberi ruang gerak dinamis dalam madzhabnya.

         Hal itu memang terlihat dalam madzhab Hanafi. Perbedaan pendapat

  dapat kita jumpai dalam hampir semua persoalan antara Abu Hanifah, Abu

  Yusuf, Muhammad bin Hasan dan Zufar.


C. Implikasi Hukum Pendapat Abu Hanifah terhadap Aktualisasi Hukum

   Islam di Indonesia

         Sebagian orang terutama kelompok orientalis yang kurang suka

  dengan Islam menganggap Islam sebagai sistem ajaran kuno, kaku dan tidak

  mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Anggapan itu bisa

  dipahami karena mereka membenci hukum Islam. Islam dalam tujuan mereka

  tidak boleh berkembang. Islam hanya boleh sebatas tumbuh tapi tidak boleh

  bersemi. Mereka menanggapi Islam sebagai ajaran yang terlalu memberatkan.

         Berdasar keterangan di atas, rasanya pas bila pendapat Abu Hanifah

  kita dukung. Penulis sependapat dengan pemikiran Abu Hanifah yang

  membolehkan tayammum sebelum datangnya waktu shalat. Keringanan

  seperti ini dapat menghapus anggapan buruk terhadap Islam.

         Dengan demikian bila pendapat Abu Hanifah yang dikembangkan

  maka hukum Islam tampak bisa menyesuaikan dengan keinginan zaman yang

  selalu menuntut praktis dan tidak berbelit-belit. Namun dukungan ini tentunya

  dalam hal perkara tayammum dengan masuknya waktu shalat. Untuk masalah

  lainnya perlu kajian lebih lanjut. Sebaliknya jika kita bersikap kaku hanya
                                                                                    61


   menggunakan pendapat yang sifatnya memberatkan maka implikasinya, Islam

   akan ditanggapi sebagai penghalang dan batu sandungan.

            Sehubungan dengan itu penulis sependapat dengan pernyataan

   Bustanul Arifin dalam kata prolog buku A.Qodry Azizy sebagai berikut:

            Telah banyak pemikiran tentang bagaimana melaksanakan hukum

   Islam (Syari’ah) dalam konteks perubahan sosial yang selalu terjadi dalam

   satu masyarakat. Bahkan perubahan-perubahan masyarkat itu semakin hari

   semakin cepat terjadi. Ilmu dan teknologi telah menjadikan dunia kita semakin

   menciut dalam berbagai bidang pengatuh mempengaruhi. Riak dan gejolak

   perubahan kecil dan besar di suatu sudut dunia akan terasa di manapun di

   bagian lain dari dunia itu. Semua perubahan itu harus diantisipasi oleh hukum

   Islam, ilmu hukum Islam tidak dapat berdiam diri kalau hukum Islam

   menghendaki berlaku di masyarakat. Hukum diam akan menjadi fosil-fosil

   sejarah yang layak untuk ditempatkan di museum saja, untuk dinyanikan dan

   didendangkan. Padahal hukum syari’ah menurut keimaman kita adalah buat

   segala zaman dan segala tempat (li Kulli zaman wa makan).11




       11
           A.Qodri Azizy, Eklektisisme Hukum Nasioal, Cet ke-2, Yogyakarta: Gama Media,
2004, hlm. v.
                                     BAB V
                                   PENUTUP

A. Kesimpulan
           Setelah menguraikan dari bab dua, tiga, sampai bab empat sampai pada

  kesimpulan sebagai berikut:

   1.                             Dalam pandangan Abu Hanifah orang boleh

        melakukan tayamum sebelum datangnya waktu shalat. Menurutnya,

        fungsi tayammum tidak berbeda dengan wudlu. Tayammum dan wudlu

        dapat berfungsi sebagai sarana bersuci. Perbedaannya hanya di seputar

        sebabnya saja. Wudlu dalam kondisi normal, sementara tayamum dalam

        keadaan darurat. Sulit dimengerti oleh akal jika orang mensyaratkan

        tayamum setelah datangnya waktu shalat. Masalahnya bagaimana bila

        motif tayamum karena ketiadaan air. Kalaupun ada jaraknya cukup jauh,

        sedangkan waktu shalat harus sudah masuk. Ini bisa mengakibatkan orang

        kehabisan waktu shalat.

   2.                             Adapun    metode   istinbath   hukumnya,   Abu

        Hanifah menggunakan: Al-Qur’an; As-Sunnah; Al-Ijma; Al-Qiyas; dan

        Al-Istihsan. Abu Hanifah adalah seorang ulama yang sering disalah

        pahami, kadangkala dipuja secara berlebihan tetapi juga sering dihina

        melampaui batas. Orang-orang yang fanatik terhadap mazhab Hanafi

        mengklaim Abu Hanifah punya kedudukan yang hampir sama dengan

        derajat para Nabi dan Rasul. Mereka mengklaim bahwa kitab Taurat juga

        menyebut-nyebut nama Abu Hanifah dan bahkan Nabi Muhammad SAW.


                                       62
                                                                              63


        sendiri menyebutkan namanya dan menganggapnya sebagai "lampu

        ummat Muhammad" kelak.

   3.                           Menurut Ibnu Rusyd, pendapat yang menjadikan

        masuk waktu shalat sebagai syarat sahnya tayammum dan menganggap

        tayammum sebagai ibadah yang berlaku sementara, itu pendapat yang

        lemah. Sebab, pengaitan waktu dalam ibadah tidak dapat diterima kecuali

        ada dalil. Selanjutnya Ibnu Rusyd menyatakan masalah penetapan waktu

        ini bisa diterima jika di dasarkan pada kemungkinan ditemukannya air

        sebelum masuk waktu shalat. Dengan demikian, bukan berarti tayammum

        itu ibadah sementara, tapi harus bertitik tolak dari seseorang yang dapat

        dinyatakan tidak menemukan air setelah masuk waktu shalat, sebab

        selama waktu shalat belum tiba, masih bisa dan masih mungkin untuk

        memperoleh air. Tidak berbeda dengan pendapat di atas adalah pendapat

        Sayyid Sabiq, menurutnya tayammum itu adalah pengganti wudlu dan

        mandi ketika tidak ada air, maka dibolehkan dengan tayammum itu apa

        yang dibolehkan dengan wudlu dan mandi seperti shalat, menyentuh al-

        Qur’an dan lain-lain. Sedang untuk sahnya tidaklah disyaratkan masuknya

        waktu. Demikian pula pendapat yang sama dikemukakan oleh madzhab

        Hanafi menurutnya, sah bertayammum sebelum masuk waktu shalat.


A. Saran-saran

           kewajiban para ulama untuk terus mengkaji pendapat berbagai

   madzhab dengan melihat roda perkembangan zaman yang senantiasa berubah

   dari waktu kewaktu. Karena itu kajian terhadap Abu Hanifah dan Madzhabnya
                                                                           64


  mrrupakan suatu kebutuhan guna mencari, mana pendapat ulama atau imam

  yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini.


B. Penutup

         Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah, dengan rahmat dan

  ridlonya pula tulisan ini dapat diangkat dalam bentuk skripsi. Penulis

  menyadari terdapatnya kekeliruan yang taidak sengaja dan kekurangan baik

  dalam teori maupun analisisnya. dengan sangat menyadari kekurangan

  tersebut, maka kritik dan saran menjadi harapan penulis. Sebagai puncak dari

  penutup ini tiada kata indah yang dapat penulis rangkai melainkan hanya satu

  kalimat yaitu kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan manusia hanya

  mungkin bisa menghampiri. Semoga Allah SWT meridhainya.
                             DAFTAR PUSTAKA


A. Sirry, Mun’im, Sejarah Fiqh Islam Sebuah Pengantar, Surabaya: Risalah
         Gusti, 1996
Abd al-Rahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala-Madzahib al-Arba’ah, Juz 2,
         Maktabah al-Tijariyah, al-Qubra, tt
Abdul Ghani al-Maqdisi, Umatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi,
         1954
Al Iman Ibnu Taimiyah al-Harrani, Al-Muntaqa al-akhbar, Juz 1, Mesir, Dar
         al-Fikr al-Arabi, 1954
Al-Faqih abul Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibnu Rusyd,
         Bidayat al-Mujtahid Wa       nihayat al-Muqtasid, Beirut: Dar al- Jiil,
         1409H/1989M
Al-Hafidz Ibn, Hajar al-Asqalani, Bulug al-Marram Min Adillati al-Ahkam,
         Libanon: Daar al-Kutub al-Ijtimaiyah, Bairut, tt
Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-
         Marwazi, Musnad Ahmad, Kairo: Tijariyah Kubra, tt
Al-Imam Abu Ishaq al-Syirazi, Kunci Fiqih Syafi’i, terj. Hafid abdullah,
         Semarang: CV. Asy Syifa, 1992
Al-Imam Alamah Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad as-Syaukani, Nail al-
         autar Min Asrari Muntaqa al-Akhbar, Juz 1, Mustafa al-Babi al-Halabi,
         tt
Al-Imam Ibnu Hazm, al-Muhalla Sarh al-mujalla, Juz 2, Bairut: Daar al-Fikr, tt
Al-Maqdisi, Abdul Ghani, Umdatul Ahkam, Juz 1, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi,
         1954
Al-Marbawy, Idris Kamus Idris al-Marbawy, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, tt, hlm.
         121. Luwice Ma’luf, al-Munjid, Beirut Libanon: al-Ijtimaiyah, tt
Ash Shiddieqy, TM. Hasbi, Koleksi Hadits-hadits Hukum, Jakarta: PT Magenta
         Bhakti Guna, Cet 5, 1994
-------------------,, Pengantar Ilmu Fiqh, Semarang: PT Pustaka Rizki Putera, 1999
-------------------, Pokok-pokok Pegangan Imam Mazhab, Semarang: PT Pustaka
         Rizki Putera, 1997
DEPAG RI, al-Qur'an dan Terjemahnya, Surabaya: Surya Cipta Aksara, 1993
-------------, Ilmu Fiqh, Jilid I, Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana
         Perguruan Tinggi Agama/ IAIN Jakarta, Cet. 2, 1982
Diibul Bigha, Musthafa, Ihtisar Hukum-Hukum Islam Praktis, terj. H. Uthman
         Mahrus dan Zainus Sholihin, Semarang: CV. asy-Syifa, 1994
Fikri, Ali, Kisah-Kisah Para Imam Mazhab, terj. Abd.Aziz MR, Yogyakarta:
         Mitra Pustaka
Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i, al-Umm, Juz 1, Beirut: Daar
         al-Fikr, tt
Muhammad Amin al-Ma’ruf ibn Abidin, Hasyiyah Rod Al-Muhtar fi Fiqh
         Mazhab Abu Hanifah an- Nu’man, juz 2, Beirut Libanon: Daar al-Fikr,
         tth
Mahmasasani, Shobi, Filsafat Hukum Dalam Islam, alih bahasa: Ahmad Sudjono,
         Bandung: PT.Al-Ma’arif, 1976
Mubarok, Jaih, Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: Rosdakarya,
         2000
Qudamah, Ibnu, al-Mughny, Juz 1, Kairo: Daar al-Manar, 1367
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Bandung: Alumni, 1982
Rasjid, H. Sulaman, Fiqh Islam, Bandung: CV Sinar Baru, Cet. 22, 1989
Razak, Nasruddin, Dienul Islam, Bandung: PT.Al-Ma’arif, 1987
Rusyd, Ibn, Bidayah al-Mujtahid, Juz 1, Semarang: Usaha Keluarga, tt
Sabiq, Sayid, Fiqh al-Sunnah, Juz 1, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tt
Sayid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-San’ani , Subul al-Salam Sarh Bulugh
         al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam , Juz 3, Kairo: Dar Ikhya’ al-
         Turas al-Islami, 1960
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta:
         Pustaka Sinar Harapan, 1993
Syaltut, Mahmud, Muqaaranatul Mazahib Fil Fiqhi, Cairo Mesir: Muhammad Ali
         Shabih Al-Azhar, 1393 H/1973 M
Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary, Fath al- Mu’in Bi Sarkh Qurrah
        al-‘uyun, Semarang: Maktabah wa Matbaah, Karya Toha Putera , tth
Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, Al-Jami Fii Fiqhi An-Nisa, Beirut Libanon:
        Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1996
Syekh Muhammad ibn Qasyim al-Ghazzi, Fath al-Qarib al-Mujib, Indonesia: Dar
        al-Ihya al-Kitab, al-Arabiah, tt
Taqi al-Din abu Bakr Muhammad al-Husaini, Kifayat al-akhyar Fi hall Ghayah
        al-khtishar, Semarang: Maktabah Alawiyyah, tt
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:
        Anggota IKAPI, Djambatan, 1992
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan
        Terjemahnya, Depag, 1978

								
To top