Docstoc

ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI TENTANG KONSEP PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER

Document Sample
ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI TENTANG KONSEP PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER Powered By Docstoc
					                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




  ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN MAULANA
MUHAMMAD ALI TENTANG KONSEP PERNIKAHAN
  DALAM PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER




                        SKRIPSI
    Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat
           Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata I
                    Dalam Ilmu Syari’ah




                          Oleh:
                    HIKMATUL ULYA
                      NIM: 2104115




          JURUSAN AHWAL SYAHSIYAH
               FAKULTAS SYARI’AH
          IAIN WALISONGO SEMARANG
                          2010
                                     Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                     http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




PERSETUJUAN PEMBIMBING

Lamp : 5 (lima) eksemplar                            Kepada Yth
Hal  : Naskah Skripsi                                Dekan Fakultas Syari'ah
       a.n. Sdr. Hikmatul Ulya                       IAIN Walisongo
                                                     Di Semarang



      Assalamua’alaikum Wr.Wb.
      Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini

      saya kirimkan naskah skripsi saudari:

      Nama                   :   Hikmatul Ulya
      Nomor Induk            :   2104115
      Jurusan                : AS
      Judul Skripsi          : ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN
                                 MAULANA MUHAMMAD ALI TENTANG
                                 KONSEP PERNIKAHAN DALAM
                                 PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER
      Selanjutnya saya mohon agar skripsi saudara tersebut dapat segera
      dimunaqasyahkan
      Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
 Wassalamu’alaikum Wr.Wb.



                                              Semarang,   Mei 2010
      Pembimbing I,                           Pembimbing II,



      Dra. Hj. Siti Mujibatun, M.Ag           Anthin Lathifah, M.Ag
      NIP. 19590413 198703 2001               NIP. 19751107 200112 2 002
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                   MOTTO




    Artinya: Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian
             mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka
             menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dan yang munkar,
             mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah
             dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah,
             sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS. At
                          
             Taubah: 71).




      
       Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Surabaya: Depag RI, 1986, hlm. 291.
                                   Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                   http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                             PERSEMBAHAN


      Kupersembahkan karya ini untuk:

o Orang tuaku tercinta dan Mertuaku tercinta yang selalu memberi semangat,
   membimbing dan mengarahkan hidupku, yang memberi tahu arti hidup ini.

o Suamiku terkasih (Rochmad Rully Rudini), yang selalu tak henti-hentinya
   memberi semangat dan motivasi dalam hidup ini terutama dalam
   menyelesaikan studi dan khususnya skripsi ini serta mendampingiku dalam
   suka dan duka.

o Kakak dan adikku (Mbak Isih Siti Fatimah S.Pdi, Mas adib Ghozali SHi, Adik
   Rosita Noor Farida Amd., Dik H. Fachrul Arif, Dik Muh Ulin Nuha, dan
   Keponakanku Ziyada Mauhiba, Faras Naura Khasanah). Semoga selalu dalam
   lindungan Allah SWT. Amin.

o Teman-Temanku yang tak dapat kusebutkan satu persatu yang selalu bersama-
   sama dalam meraih cita-cita




                                                 Penulis
                Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                    DEKLARASI


     Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab,
     penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak
     berisi materi yang telah pernah ditulis oleh
     orang lain atau diterbitkan. Demikian juga
     skripsi ini tidak berisi satupun pemikiran-
     pemikiran orang lain, kecuali informasi yang
     terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan
     rujukan.




                      Semarang, 27 April 2010




                       HIKMATUL ULYA
                       NIM: 2104115


A.
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                              ABSTRAK


        Ajaran Islam telah mengajarkan persamaan derajat antara laki-laki dan
perempuan. Yang membedakan mulia dan tidaknya seseorang adalah tingkat
ketakwaannya kepada Allah. Seorang perempuan yang memiliki kepatuhan
untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya,
memiliki derajat yang lebih tinggi dari laki-laki yang suka melanggar larangan
Allah, demikian sebaliknya. Fakta sejarah menjelaskan bahwa perempuan
adalah kelompok yang sangat diuntungkan oleh kehadiran Muhammad
Rasulullah SAW. Sebagai perumusan masalah yaitu bagaimana pemikiran
Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan? Bagaimana pemikiran
Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan dalam perspektif
kesetaraan gender?
        Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library
research). Sumber data primernya yaitu karya Maulana Muhammad Ali yang
berjudul: The Religion of Islam sedangkan sumber data sekundernya yaitu
literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas. Dalam pengumpulan data
ini penulis menggunakan teknik dokumentasi atau studi dokumenter dan
dianalisis dengan analisis data kualitatif.
        Hasil penulisan menunjukkan bahwa pemikiran Maulana Muhammad
Ali terhadap konsep pernikahan yaitu konsepnya tampak mengandung
semangat kesetaraan gender. Pemikiran Maulana Muhammad Ali yang
menempatkan suami istri dalam kesetaraan adalah sesuai dengan konsep
perkawinan dalam al-Qur'an dan hadits. Menurut Maulana Muhammad Ali,
baik segi jasmani maupun ruhani, bahwa kedudukan wanita adalah sama
seperti pria. Semua perbuatan baik pasti akan diganjar, baik dilakukan oleh
pria maupun oleh wanita. Dari segi jasmani, kedudukan kaum wanita adalah
setarap dengan kedudukan kaum pria. Wanita boleh mencari uang dan boleh
pula memiliki kekayaan seperti kaum pria, dan di mana perlu, wanita oleh
bekerja apa saja yang ia sukai. Menurut Maulana Muhammad Ali, apabila
seorang wanita memasuki masa perkawinan, ia tak kehilangan haknya yang
telah ia miliki sebagai anggota masyarakat. la tetap bebas melakukan
pekerjaan apa saja, bebas membuat perjanjian, bebas membelanjakan harta
miliknya sesukanya; dan ia tak sekali-kali meleburkan diri dalam suami.
Pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan dalam
perspektif kesetaraan gender terdapat pada masalah konsep: 1) kedudukan
wanita sebagai isteri; 2) hubungan timbal balik antara suami isteri; 3) hak
suami isteri. Ketiga hal ini cenderung memang sesuai dengan syari'at Islam.
Berbeda dengan masalah nikah mut'ah dan nikah syighar. Meskipun demikian,
nikah mut'ah masih ada pro kontra ulama yang tidak membolehkan nikah
mut'ah, misalnya jumhur ulama tidak membolehkan nikah mut'ah, sedangkan
syi'ah membolehkan nikah mut'ah. Maulana Muhammad Ali tidak
membolehkan pernikahan di bawah umur karena tidak ada satu hadis pun yang
menerangkan bolehnya pernikahan di bawah umur yaitu umur sepuluh tahun.
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                KATA PENGANTAR

          Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, bahwa atas
taufiq dan hidayah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
ini.     Skripsi   yang    berjudul:   “ANALISIS        PEMIKIRAN         MAULANA
MUHAMMAD             ALI    TENTANG        KONSEP        PERNIKAHAN           DALAM
PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER” ini disusun untuk memenuhi salah
satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Fakultas Syari’ah
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang.
          Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan
saran-saran dari berbagai pihak sehingga penyusunan skripsi ini dapat
terselesaikan. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :
       1. Bapak Drs. H. Muhyiddin, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN
          Walisongo Semarang.
       2. Ibu Dra. Hj. Siti Mujibatun, M.Ag selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu
          Anthin Lathifah, M.Ag selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia
          meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan
          pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
       3. Bapak Pimpinan Perpustakaan Institut yang telah memberikan izin dan
          layanan kepustakaan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.
       4. Para Dosen Pengajar di lingkungan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo,
          beserta staf yang telah membekali berbagai pengetahuan
       5. Orang tuaku yang senantiasa berdoa serta memberikan restunya, sehingga
          penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
          Akhirnya hanya kepada Allah penulis berserah diri, dan semoga apa yang
tertulis dalam skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan para
pembaca pada umumnya. Amin.




                                                       Penulis
                                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                             DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iii
HALAMAN MOTTO ................................................................................ iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................ v
HALAMAN DEKLARASI ........................................................................ vi
ABSTRAK ............................................................................................... vii
KATA PENGANTAR................................................................................ viii
DAFTAR ISI ............................................................................................. ix

BAB I :         PENDAHULUAN
                A. Latar Belakang Masalah                  .................................................. 1
                B. Perumusan Masalah                       .................................................. 5
                C. Tujuan Penelitian                       .................................................. 6
                D. Telaah Pustaka                          .................................................. 6
                E. Metode Penelitian                       .................................................. 10
                F. Sistematika Penulisan                   .................................................. 12

BAB II :        PERNIKAHAN DAN KESETARAAN GENDER

                A. Pernikahan                              .................................................. 14
                    1. Pengertian Nikah                    .................................................. 14
                    2. Landasan Hukum Nikah .................................................. 17
                    3. Syarat dan Rukun Nikah .................................................. 22
                B. Kesetaraan Gender                       .................................................. 28
                     1. Pengertian Kesetaraan Gender.......................................... 28
                     2. Konsep Gender dalam Islam ............................................ 29
                     3. Wacana Hukum Islam dalam Perspektif Gender............... 39
                                       Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                       http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




BAB III : PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI TERHADAP
          KONSEP PERNIKAHAN

          A. Biografi Maulana Muhammad Ali                ................................... 47
             1. Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan ...................... 47
             2. Karya-karyanya                            ................................... 48
          B. Pendapat Maulana Muhammad Ali terhadap
             Konsep Pernikahan                            ................................... 51
             1. Kedudukan Wanita sebagai Isteri ................................... 51
             2. Hubungan Timbal-Balik antara Suami dan Isteri ............... 53
             3. Hak Suami dan Isteri                      ................................... 58
             4. Kawin Mut'ah dan Syighar                  ................................... 65

BAB IV : ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN MAULANA
          MUHAMMAD ALI TENTANG KONSEP PERNIKAHAN
          DALAM PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER

          A. Analisis terhadap Pemikiran Maulana Muhammad
             Ali tentang Konsep Pernikahan                ................................... 73
          B. Analisis terhadap Pemikiran Maulana Muhammad
            Ali tentang Konsep Pernikahan dalam Perspektif
            Kesetaraan Gender                             ................................... 77
BAB V :   PENUTUP

          A. Kesimpulan                     .................................................. 95
          B. Saran-saran                    .................................................. 96
          C. Penutup                        .................................................. 96


DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                       BAB I
                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

           Ajaran Islam telah mengajarkan persamaan derajat antara laki-laki dan

   perempuan. Yang membedakan mulia dan tidaknya seseorang adalah tingkat

   ketakwaannya kepada Allah. Seorang perempuan yang memiliki kepatuhan

   untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya,

   memiliki derajat yang lebih tinggi dari laki-laki yang suka melanggar larangan

   Allah, demikian sebaliknya. 1

           Fakta sejarah menjelaskan bahwa perempuan adalah kelompok yang

   sangat diuntungkan oleh kehadiran Muhammad Rasulullah SAW. Nabi

   mengajarkan keharusan merayakan kelahiran bayi perempuan di tengah tradisi

   Arab yang memandang aib kelahiran bayi perempuan. Nabi memperkenalkan

   hak waris bagi perempuan di saat perempuan diperlakukan hanya sebagai

   obyek atau bagian dari komoditas yang diwariskan. Nabi menetapkan mahar

   sebagai hak penuh kaum perempuan dalam perkawinan ketika masyarakat

   memandang mahar itu sebagai hak para wali. Nabi melakukan koreksi total

   terhadap praktek poligami yang sudah mentradisi dengan mencontohkan

   perkawinan monogami selama 28 tahun. Bahkan, sebagai ayah, Nabi melarang

   anak perempuannya Fatimah dipoligami. Nabi memberi kesempatan kepada


      1
      Sri Suhandjati Sukri, Perempuan Menggugat: Kasus Al-Qur’an dan Realitas Masa Kini,
Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2005, hlm. 35
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




perempuan menjadi imam shalat dikala masyarakat hanya memposisikan laki-

laki sebagai pemuka agama. Nabi mempromosikan posisi ibu yang sangat

tinggi, bahkan derajatnya lebih tinggi tiga kali dari ayah di tengah masyarakat

yang memandang ibu hanyalah mesin produksi. Nabi menempatkan istri

sebagai mitra sejajar suami di saat masyarakat hanya memandangnya sebagai

obyek seksual belaka.2

           Fakta historis tersebut melukiskan secara terang-benderang bahwa

Nabi melakukan perubahan yang sangat radikal dalam kehidupan masyarakat,

khususnya kaum perempuan. Dari posisi perempuan sebagai obyek yang

dihinakan dan dilecehkan menjadi subyek yang dihormati dan diindahkan.

Nabi memproklamirkan keutuhan kemanusiaan perempuan setara dengan

saudara mereka yang laki-laki. Keduanya sama-sama manusia, sama-sama

berpotensi menjadi khalifah fi al-ardh (pengelola kehidupan di bumi). Tidak

ada yang membedakan di antara manusia kecuali prestasi takwanya, dan soal

takwa hanya Allah semata yang berhak menilai. Tugas manusia hanyalah

berlomba-lomba berbuat baik.3

           Sehubungan dengan itu, di Indonesia misalnya pada dekade terakhir ini

terlihat gejala yang menunjukkan adanya "trend kebangunan" kaum wanita

yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk penyamaan hak, kewajiban, dan

peranan dengan kaum pria dalam berbagai segi kehidupan. Karena itulah

munculnya terminologi wanita karier, wanita profesi, wanita pekerja, bahkan




  2
      Siti Musdah Mulia, Islam dan Kesetaraan Gender, Yogyakarta: Kibar Press, 2006, hlm. v.
  3
      Ibid., hlm. v – vi.
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




   berbagai kajian mengenai gender, sebagai bagian dari fenomena kebangkitan

   wanita dunia, dan lain sebagainya.4

            Gender adalah perbedaan sosial antara laki-laki dan perempuan yang

   dititik beratkan pada perilaku, fungsi dan peranan masing-masing yang

   ditentukan oleh kebiasaan masyarakat di mana ia berada atau konsep yang

   digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat

   dari segi sosial budaya. Pengertian ini memberi petunjuk bahwa hal yang

   terkait dengan gender adalah sebuah kontruksi sosial (social construction).

   Singkat kata, gender adalah interprestasi budaya terhadap perbedaan jenis

   kelamin. Sedangkan kodrat adalah segala sesuatu yang ada pada laki-laki dan

   perempuan yang sudah ditetapkan oleh Allah, dan manusia tidak dapat

   mengubah dan menolaknya. 5

            Dari pengertian itu tampak perbedaan antara keduanya, yakni gender

   ditentukan oleh masyarakat, berubah dari waktu ke waktu sesuai

   perkembangan yang mempengaruhi nilai dan norma-norma masyarakat serta

   memiliki perbedaan-perbedaan bentuk antara satu masyarakat dengan

   masyarakat lain. Karena itu, kategori gender bisa di pertukarkan satu sama

   lainnya, antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan kodrat ditetapkan oleh

   Allah dan bersifat tetap universal (tidak berubah karena waktu dan tempat).

            Menurut Musdah Mulia yang mengutip Women's Studies Encyclopedia

   dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang dipakai untuk


      4
        Syahrin Harahap, Islam Dinamis Menegakkan Nilai-Nilai Ajaran al-Qur'an dalam
Kehidupan Modern di Indonesia, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1997, hlm. 143.
      5
        Waryono Abdul Ghafur, Tafsir Sosial Mendialogkan Teks Dengan Konteks, Yogyakarta:
elSAQ Press, 2005, hlm. 102-103.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




    membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara

    laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Berbeda dengan

    seks (jenis kelamin) yang membedakan laki-laki dan perempuan dari segi

    biologis, gender membedakan laki-laki dan perempuan dari segi non-biologis,

    yaitu dari segi peran-peran sosial yang dimainkan oleh keduanya. Yang

    pertama bersifat kodrati dalam diri manusia, sedang yang kedua merupakan

    konstruksi sosial. Dengan ungkapan lain, gender adalah harapan-harapan

    budaya terhadap laki-laki dan perempuan.6

            Munculnya diskursus masalah gender disebabkan berbagai faktor di

    antaranya karena wanita kurang mendapat perlakuan yang adil, wanita selalu

    dipersalahkan dan dipojokan sebagaimana diungkapkan Fatima Mernissi:

            Dalam hubungan seksual yang pasti melibatkan pria seperti deflorasi,
            kehamilan di luar nikah, dan pelacuran, hanya wanita yang dinyatakan
            "bersalah". Selama kaum pria tetap melihat hubungan seksual seperti
            itu, maka hubungan antara pria dan wanita akan tetap didasarkan pada
            kebohongan-kebohongan dan tipuan. Keperawanan palsu, yang tidak
            dapat dikatakan sebagai fenomena yang kurang penting, merupakan
            perlambang dari malaise lama yang selama berabad-abad telah
            menghancurkan hasrat pria dan wanita untuk saling mencintai dan
            menghormati. Itu adalah malaise yang timbul karena ketidakadilan
            seksual, yang secara teoretis tidak alamiah, dan dalam prakteknya
            antisosial. 7


            Senada dengan itu Dale F. Eickelman dan James Piscatori menegaskan

    perempuan menjadi demikian sentral bagi imajinasi politik dan moral yang

    lebih besar, dan esensial bagi penegakan tatanan sipil dan kebajikan, tetapi

    bersamaan dengan itu masih saja adanya klaim pria bahwa wanita tidak boleh

      6
         Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2004, hlm. 1.
       7
         Fatima Mernissi, Peran Intelektual Kaum Wanita dalam Sejarah Muslim: Pemberontakan
Wanita, Bandung: Anggota IKAPI, 1999, hlm. 96.
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




   mempunyai hak memilih dan dipilih misalnya dalam keanggotaan di

   parlemen.8

           Pendapat di atas mengisyaratkan masih adanya kaum pria yang belum

   rela memberi keadilan pada kaum hawa. Padahal keadilan itu tidak melihat

   pada segi jenis kelamin apakah pria atau wanita. Keadilan selalu mengacu

   pada kebenaran yang proporsional. Keadilan tidak melihat pada aspek gender,

   namun selalu melihat pada aspek persamaan/sederajat/ kesetaraan.

           Berkaitan dengan permasalahan di atas, Maulana Muhammad Ali

   seorang mantan presiden gerakan Ahmadiyah Lahore yang lahir pada 1876 di

   Murar, suatu kampung di kawasan Kapurthala, India menggulirkan konsep

   pernikahan dalam bukunya yang berjudul: The Religion of Islam. Buku ini

   telah diterjemahkan oleh R. Kaelan dan HM Bachrum dengan judul:

   Islamologi (Dinul Islam). Dalam konsep pernikahan, pemikiran atau

   pendapatnya cenderung mengandung aspek kesetaraan gender. Hal itu

   dibuktikan ketika mengupas persoalan nikah mut'ah, kepemimpinan wanita

   dalam rumah tangga, nikah muhallil, syigar, mahar dan poligami. Di sinilah

   terletak, antara lain urgennya mengkaji pendapat Maulana Muhammad Ali

   terhadap konsep pernikahan dalam perspektif kesetaraan gender.


B. Perumusan Masalah

           Berdasarkan latar belakang sebelumnya, maka yang menjadi fokus

   penelitian adalah:


      8
      Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Ekspresi Politik Muslim, Terj. Rofik Suhud,
Bandung: Mizan Anggota IKAPI, 1998, hlm. 109
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




   1. Bagaimana pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

      pernikahan?

   2. Bagaimana pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

      pernikahan dalam perspektif kesetaraan gender?


C. Tujuan Penelitian

          Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut:

   1. Untuk mengetahui pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

      pernikahan

   2. Untuk mengetahui pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

      pernikahan dalam perspektif kesetaraan gender


D. Telaah Pustaka

          Berdasarkan penelitian di perpustakaan Fakultas Syari’ah ditemukan

   kajian khusus berupa skripsi yang judulnya ada hubungan dengan penelitian

   ini. Meskipun demikian secara khusus belum membahas konsep Maulana

   Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan dalam perspektif kesetaraan

   gender. Skripsi yang dimaksud di antaranya:

   1. Skripsi yang disusun oleh Nurhuda (NIM 2103095. IAIN Walisongo

      Semarang) dengan judul: " Analisis Pendapat Maulana Muhammad Ali

      Tentang Pria Muslim Boleh Menikah dengan Wanita Agama Apa Saja

      Selain Musyrik Bangsa Arab". Menurut penyusun skripsi ini bahwa

      Menurut Maulana Muhammad Ali bahwa perkawinan laki-laki muslim

      dengan wanita musyrik adalah haram. Demikian pula diharamkan wanita
                                 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                 http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




   muslimah    menikah    dengan    laki-laki   non   muslim.    Akan    tetapi

   diperbolehkan pria muslim menikah dengan wanita agama apa saja, selain

   musyrik bangsa Arab, karena semua agama adalah termasuk ahlul kitab.

   Jadi agama apa pun tidak masalah karena menurut pendapatnya, wanita

   beragama apa saja termasuk kategori ahlul kitab. Jadi ahlul kitab itu bukan

   hanya orang beragama Kristen atau Hindu. Selanjutnya dalam perspektif

   Maulana Muhammad Ali bahwa yang tidak boleh itu adalah pria muslim

   menikah dengan wanita musyrik bangsa Arab, sedangkan pernikahan

   dengan wanita agama apa saja diperbolehkan.

          Dalam kaitannya dengan perkawinan beda agama, khususnya

   mengenai makna ahlul kitab dalam pandangan Maulana Muhammad Ali,

   ia menggunakan dasar hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5.

   Orang Islam hanya dilarang nikah dengan kaum musrik bangsa Arab;

   sedang perkawinan dengan wanita yang menganut agama lain di dunia,

   diperbolehkan. Kaum Kristen, kaum Yahudi, kaum Majusi, kaum Buddis,

   dan kaum Hindu, semuanya tergolong kaum Ahli Kitab. Walaupun

   menurut ajaran Kristen, Yesus Kristus itu disebut Allah atau Anak Allah,

   sehingga ini, terang-terangan dapat disebut syirk, namun kaum Kristen

   diperlakukan sebagai kaum Ahli Kitab, bukan sebagai kaum musrik

   (musyrikin); maka dari itu, hubungan perkawinan dengan pihak mereka

   diperbolehkan.

2. Skripsi yang disusun oleh Edi Nuraini (NIM 2103143. IAIN Walisongo

   Semarang) berjudul: Persepsi Maulana Muhammad Ali tentang Hukuman
                                Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




   Mati Bagi Pelaku Riddah. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa masalah

   riddah merupakan tema yang menarik karena di satu segi para ulama

   berpendapat bahwa pelaku riddah harus dihukum mati. Sedangkan di segi

   lain, seorang mantan presiden gerakan Ahmadiyah Lahore yaitu Maulana

   Muhammad Ali tidak tidak setuju jika pelaku riddah diancam dengan

   hukuman mati. Pendapat Maulana Muhammad Ali diketengahkan dalam

   bukunya yang berjudul The Religion of Islam. dalam kata pengantar

   bukunya ini, Maulana Muhammad Ali menyatakan bahwa tujuannya

   mengarang buku tersebut adalah untuk memberi gambaran yang benar

   tentang Islam. Hampir merupakan konsensus di antara para ahli hukum

   Islam bahwa tindak pidana ini diancam dengan hukuman mati.

         Menurut penulis istinbat hukum yang digunakan Maulana

  Muhammad Ali sudah benar, namun sangat disayangkan Maulana

  Muhammad Ali tidak memberikan gagasan tentang upaya untuk mencegah

  keinginan orang menjadi murtad, juga tidak memberi gagasan tentang

  upaya tindakan yang efektif sesudah orang itu murtad.

3. Skripsi yang disusun oleh Zaenal Mutakin (NIM 2103134 IAIN

   Walisongo Semarang) dengan judul: Analisis Pendapat Maulana

   Muhammad Ali tentang Usia Kawin. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa

   menurut Maulana Muhammad Ali, tidak diperbolehkan pernikahan anak

   di bawah umur meskipun ada izin dari wali. Menurutnya, oleh karena

   kitab Fiqih mengikuti undang-undang umum tentang perjanjian, maka

   dalam hal undang-undang perkawinan pun kitab fiqih mengakui sahnya
                              Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                              http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




perkawinan jika mendapat izin seorang wali yang bertindak atas nama

anak tanggungannya; tetapi tak ada satu hadis pun yang menerangkan,

bahwa perkawinan anak di bawah umur yang dilakukan dengan

perantaraan wali itu diperbolehkan oleh Nabi, setelah wahyu yang

terperinci tentang undang-undang perkawinan diturunkan kepada beliau di

Madinah.

       Dalil hukum yang digunakan Maulana Muhammad Ali adalah al-

Qur'an surat an-Nisa ayat 6. Terhadap ayat ini, penyusun skripsi tersebut

dengan mengutip sumber sekunder yaitu Ibnu Kasir dalam tafsirnya

menjelaskan bahwa Allah SWT melarang memperkenankan kepada orang-

orang yang belum sempurna akalnya melakukan tasaruf penggunaan)

harta benda yang dijadikan oleh Allah untuk dikuasakan kepada para wali

mereka. Yakni para wali merekalah yang menjamin kehidupan mereka

dari hasil pengelolaan hartanya, baik melalui dagang ataupun cara lainnya.

Berangkat dari pengertian ini, Ibnu Kasir menyimpulkan, orang-orang

yang kurang sempurna akalnya dikenakan hijr (larangan) yaitu tidak boleh

men-tasaruf-kan hartanya). Mereka yang di hijr ini ada beberapa macam;

adakalanya karena usia orang yang bersangkutan masih sangat muda,

sebab perkataan seorang anak kecil tidak dianggap (dalam mu'amalah).

       Dari beberapa penelitian yang telah disebutkan dapat diketahui

bahwa penelitian terdahulu berbeda dengan apa yang akan peneliti

lakukan, karena penelitian terdahulu belum mengungkapkan corak

pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




          Sedangkan spesifikasi skripsi ini hendak mengungkapkan corak pemikiran

          Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan dalam perspektif

          kesetaraan gender .


E. Metode Penelitian

             Metodologi penelitan bermakna seperangkat pengetahuan tentang

    langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan

    dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan

    selanjutnya dicarikan cara pemecahannya. Dalam versi lain dirumuskan,

    metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data,

    sedangkan instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan

    data itu,9 maka metode penelitian skripsi ini dapat dijelaskan sebagai

    berikut:10

    1. Jenis Penelitian

                 Dalam menyusun skripsi ini menggunakan jenis penelitian

          kepustakaan (library research) yang dalam hal ini tidak menggunakan

          perhitungan angka-angka statistik, sedangkan pendekatannya adalah

          hermeneutika yaitu dalam hal ini bagaimana menjelaskan isi sebuah teks

          keagamaan kepada masyarakat yang hidup dalam tempat dan kurun waktu

          yang jauh berbeda dari si empunya.11 Dalam konteks ini, analisis sedapat

      9
        Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2002, hlm. 194.
       10
          Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 1991, hlm. 24.
       11
          Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta:
Paramida, 1996, hlm. 14. Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunnah (Implikasinya pada
Perkembangan Hukum Islam), Semarang: Aneka Ilmu, 2000, hlm. 140 – 141
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           mungkin dengan melihat latar belakang sosial budaya, konteks pembaca

           dan teks buku The Religion of Islam dalam rentang waktu yang jauh

           dengan konteks masa kini. Sehingga isi pesan menjadi jelas dan relevan

           dengan kurun waktu pembaca saat ini.

    2. Sumber Data

           a. Data Primer, yaitu karya Maulana Muhammad Ali yang berjudul: (1)

               The Religion of Islam; (2) The Holy of Qur'an; (3) A. Manual of

               Hadis

           b. Data Sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di

               atas.

    3. Teknik Pengumpulan Data

                  Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi atau studi

           dokumenter12 yaitu dengan menggunakan data primer yaitu buku karya

           Maulana Muhammad Ali yang berjudul: The Religion of Islam. Untuk itu

           digunakan deskriptif analisis yakni menggambarkan dan menganalisis

           corak pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan

           dalam perspektif kesetaraan gender

    4. Teknik Analisis Data

                  Dalam penelitian ini data dianalisis secara induktif berdasarkan

           data langsung dari subyek penelitian. Oleh karena itu pengumpulan dan


      12
        Menurut Suharsimi Arikunto, metode dokumentasi. yaitu mencari data mengenai hal-hal
atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
lengger, agenda, dan sebagainya. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek, Cet. 12, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hlm. 206.
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




          analisis data dilakukan secara bersamaan, bukan terpisah sebagaimana

          penelitian kuantitatif di mana data dikumpulkan terlebih dahulu, baru

          kemudian dianalisis. Analisis data kualitatif dalam penyusunan skripsi ini

          dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: menemukan pola atau

          tema tertentu. Artinya peneliti berusaha menangkap karakteristik

          pemikiran Maulana Muhammad Ali dengan cara menata dan melihatnya

          berdasarkan dimensi suatu bidang keilmuan sehingga dapat ditemukan

          pola atau tema tertentu. Mencari hubungan logis antar pemikiran Maulana

          Muhammad Ali dalam berbagai bidang, sehingga dapat ditemukan alasan

          mengenai pemikiran tersebut. Di samping itu, peneliti juga berupaya untuk

          menentukan arti di balik pemikiran tersebut berdasarkan kondisi sosial,

          ekonomi, dan politik yang mengitarinya. Mengklasifikasikan dalam arti

          membuat pengelompokan pemikiran Maulana Muhammad Ali sehingga

          dapat dikelompokkan ke dalam berbagai aspek.13. Dalam hal ini hendak

          diuraikan corak pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

          pernikahan dalam perspektif kesetaraan gender.


F. Sistematika Penulisan

             Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-

   masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan

   yang saling mendukung dan melengkapi.




     13
       Arief Fuchan, Agus Maimun, Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 59 – 64
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




       Bab pertama berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara

global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah,

perumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan

sistematika Penulisan. Dalam bab pertama ini diketengahkan keseluruhan isi

skripsi secara global namun dalam satu kesatuan yang utuh dan jelas.

       Bab kedua berisi pernikahan dan kesetaraan gender yang meliputi

pernikahan (pengertian nikah, landasan hukum nikah, syarat dan rukun nikah),

kesetaraan gender (pengertian kesetaraan gender, konsep gender, wacana

hukum Islam dalam perspektif gender)

       Bab ketiga berisi corak pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap

konsep pernikahan yang meliputi biografi Maulana Muhammad Ali (latar

belakang kehidupan dan pendidikan, karya-karyanya, pemikiran Maulana

Muhammad Ali), pendapat Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

pernikahan (kedudukan wanita sebagai isteri, hubungan timbal-balik antara

suami dan isteri, hak suami dan isteri, kawin mut'ah dan syighar).

       Bab keempat berisi analisis corak pemikiran Maulana Muhammad Ali

terhadap konsep pernikahan dalam perspektif kesetaraan gender yang meliputi

analisis terhadap corak pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep

pernikahan, analisis terhadap corak pemikiran Maulana Muhammad Ali

terhadap konsep pernikahan dalam perspektif kesetaraan gender.

       Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan, saran dan

penutup.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                         BAB II


                PERNIKAHAN DAN KESETARAAN GENDER


A. Pernikahan

    1. Pengertian Nikah

                  Hukum pernikahan mempunyai kedudukan amat penting dalam

           Islam sebab hukum pernikahan mengatur tata-cara kehidupan keluarga

           yang merupakan inti kehidupan masyarakat sejalan dengan kedudukan

           manusia sebagai makhluk yang berkehormatan melebihi makhluk-

           makhluk lainnya. Hukum pernikahan merupakan bagian dari ajaran agama

           Islam yang wajib ditaati dan dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan

           yang terdapat dalam Al-qur’an dan Sunnah Rasul. 14

                  Kata nikah menurut bahasa sama dengan kata, zawaj. Dalam

           Kamus al-Munawwir, kata nikah disebut dengan an-nikâh ( ‫ ) اﻟﻨﻜﺎح‬dan az-

           ziwâj/az-zawj atau az-zîjah ( ‫ .) اﻟﺰواج- اﻟﺰواج- اﻟﺰﯾﺠﮫ‬Secara harfiah, an-

           nikh berarti al- wath'u (‫ ,) اﻟﻮطء‬adh-dhammu ( ‫ ) اﻟﻀﻢ‬dan al-jam'u ( ‫اﻟﺠﻤﻊ‬

           ). Al-wath'u berasal dari kata wathi'a - yatha'u - wath'an ( ‫,) وﻃﺄ- ﯾﻄﺄ- وﻃﺄ‬

           artinya berjalan di atas, melalui, memijak, menginjak, memasuki, menaiki,

           menggauli dan bersetubuh atau bersenggama.15

                  Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary dalam kitabnya

           mengupas tentang pernikahan dan tentang wali. Pengarang kitab tersebut

      14
       Ahmad Azhar Basyir, Hukum Pernikahan Islam, Yogyakarta: UII Press, 2004, hlm. 1-2.
      15
       Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hlm. 1461.
                                              Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                              http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           menyatakan nikah adalah suatu akad yang berisi pembolehan melakukan

           persetubuhan dengan menggunakan lafadz menikahkan. Kata nikah itu

           sendiri secara hakiki bermakna persetubuhan. 16

                    Kitab Fath al-Qarib yang disusun oleh Syekh Muhammad bin

           Qasim al-Ghazzi menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum

           pernikahan di antaranya dijelaskan kata nikah diucapkan menurut makna

           bahasanya yaitu kumpul, wattî, jimak dan akad. Adapun diucapkan

           menurut pengertian syara’ yaitu suatu akad yang mengandung beberapa

           rukun dan syarat.17

                    Dalam pasal 1 Bab I Undang-undang No. : 1 tahun 1974 tanggal 2

           Januari 1974 dinyatakan; "Pernikahan ialah ikatan lahir batin antara

           seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan

           membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan

           Ketuhanan Yang Maha Esa".18

                    Di    antara    pengertian-pengertian        tersebut    tidak    terdapat

           pertentangan satu sama lain, bahkan jiwanya adalah sama dan seirama,

           karena pada hakikatnya syari'at Islam itu bersumber kepada Allah Tuhan

           Yang Maha Esa. Hukum pernikahan merupakan bahagian dari hukum

           Islam yang, memuat ketentuan-ketentuan tentang hal ihwal pernikahan,

      16
           Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary, Fath al- Mu’in, Beirut: Dar al-Fikr, t.th,
hlm. 72.
      17
          Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-lhya at-
Kutub al-Arabiyah, tth, hlm. 48.
       18
          Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: PT.Raja
Grafindo Persada, 2004, hlm. 203. Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (INPRES No 1 Tahun
1991), pernikahan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang
sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan
ibadah. Lihat Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di
Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977, hlm. 76.
                              Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                              http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




yakni bagaimana proses dan prosedur menuju terbentuknya ikatan

pernikahan, bagaimana cara menyelenggarakan akad pernikahan menurut

hukum, bagaimana cara memelihara ikatan lahir batin yang telah

diikrarkan dalam akad pernikahan sebagai akibat yuridis dari adanya akad

itu, bagaimana cara mengatasi krisis rumah tangga yang mengancam

ikatan lahir batin antara suami isteri, bagaimana proses dan prosedur

berakhirnya ikatan pernikahan, serta akibat yuridis dari berakhirnya

pernikahan, baik yang menyangkut hubungan hukum antara bekas suami

dan isteri, anak-anak mereka dan harta mereka. Istilah yang lazim dikenal

di kalangan para ahli hukum Islam atau Fuqaha ialah Fiqih Munakahat

atau Hukum Pernikahan Islam.

       Masing-masing orang yang akan melaksanakan pernikahan,

hendaklah memperhatikan inti sari dari sabda Rasulullah SAW. yang

menggariskan, bahwa semua amal perbuatan itu disandarkan atas niat dari

yang beramal itu, dan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil dari apa

yang diniatkannya.

       Oleh karenanya maka orang yang akan melangsungkan akad

pernikahan hendaklah mengetahui benar-benar maksud dan tujuan

pernikahan. Maksud dan tujuan itu adalah sebagai berikut:

a. Mentaati perintah Allah SWT. dan mengikuti jejak para Nabi dan

   Rasul, terutama meneladani Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.,

   karena hidup beristri, berumah tangga dan berkeluarga adalah

   termasuk 'Sunnah beliau.
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




          b. Memelihara pandangan mata, menenteramkan jiwa, memelihara nafsu

             seksualita, menenangkan fikiran, membina kasih sayang serta menjaga

             kehormatan dan memelihara kepribadian.

          c. Melaksanakan pembangunan materiil dan spirituil dalam kehidupan

             keluarga dan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga

             sejahtera dalam rangka pembangunan masyarakat dan bangsa.

          d. Memelihara dan membina kualitas dan kuantitas keturunan untuk

             mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga di sepanjang masa dalam

             rangka pembinaan mental spirituil dan fisik materiil yang diridlai

             Allah Tuhan Yang Maha Esa.

          e. Mempererat dan memperkokoh tali kekeluargaan antara keluarga

             suami dan keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan

             masyarakat yang aman dan sejahtera lahir batin di bawah naungan

             Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.19

   2. Landasan Hukum Nikah

                 Landasan hukum melaksanakan akad pernikahan sebagai berikut:

                 Pada dasarnya pernikahan merupakan suatu hal yang diperintahkan

          dan dianjurkan oleh Syara'. Beberapa firman Allah yang bertalian dengan

          disyari'atkannya pernikahan ialah:

          1) Firman Allah ayat 3 Surah 4 (An-Nisa'):




     19
        Zahry Hamid, Pokok-Pokok Hukum Pernikahan Islam dan Undang-Undang Pernikahan
di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 2.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              Artinya:Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
                     (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu
                     menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu
                     senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak
                     akan berlaku adil, maka (nikahlah) seorang saja (Q.S.An-
                     Nisa': 3). 20


           2) Firman Allah ayat 32 Surah 24 (An-Nur):




             Artinya: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu,
                      dan orang-orang yang layak (bernikah) dari hamba-hamba
                      sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan
                      memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha
                      luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (Q.S.An-Nuur':
                      32). 21

           .
            3) Firman Allah ayat 21 Surah 30 (Ar-Rum):




             Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
                      menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya
                      kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dari
                      dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya

      20
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Jakarta: Depag RI, 1986, hlm. 115.
       21
          Ibid, hlm. 549.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                  pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
                  kaum yang berfikir (Q.S.Ar-Rum: 21). 22

              Beberapa hadits yang bertalian dengan disyari'atkannya pernikahan

     ialah:




                                                       23


        Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda:
                 "Wahai golongan kaum muda, barangsiapa diantara kamu
                 telah mampu akan beban nikah, maka hendaklah dia
                 menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat
                 memejamkan pandangan mata dan lebih dapat menjaga
                 kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah),
                 maka hendaklah dia (rajin) berpuasa, karena sesungguhnya
                 puasa itu menjadi penahan nafsu baginya". (HR. Al-
                 Jama'ah).




                                                                           24


        Artinya: Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, dia berkata: “Rasulullah saw.
                 pernah melarang Utsman bin mazh'un membujang. Dan
                 kalau sekiranya Rasulullah saw. mengizinkan, niscaya kami
                 akan mengebiri". (HR. Al Bukhari dan Muslim).




22
   Ibid, hlm. 644.
23
   Imam Syaukani, Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 4, 1973, hlm. 171.
24
   Ibid, hlm. 171
                                     Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                     http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                       25


         Artinya: Dari Anas: "Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi
                  saw. sebagian dari mereka ada yang mengatakan: "Aku tidak
                  akan menikah". Sebagian dari mereka lagi mengatakan:
                  "Aku akan selalu bersembahyang dan tidak tidur". Dan
                  sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: "Aku akan
                  selalu berpuasa dan tidak akan berbuka". Ketika hal itu
                  didengar oleh Nabi saw. beliau bersabda: "Apa maunya
                  orang-orang itu, mereka bilang begini dan begitu?. Padahal
                  disamping berpuasa aku juga berbuka. Disamping
                  sembahyang aku juga tidur. Dan aku juga menikah dengan
                  wanita. Barangsiapa yang tidak suka akan sunnahku, maka
                  dia bukan termasuk dari (golongan) ku".(HR. Al Bukhari
                  dan Muslim).




                                                                    26


         Artinya:      Dari Sa'id bin Jubair, dia berkata: "Ibnu Abbas pernah
                      bertanya kepadaku: "Apakah kamu telah menikah?". Aku
                      menjawab: "Belum". Ibnu Abbas berkata: "Menikahlah,
                      karena sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini adalah yang
                      paling banyak kaum wanitanya". (HR. Ahmad dan Al-
                      Bukhari).




25
     Ibid, hlm. 171
26
     Ibid
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                                                  27




              Artinya: dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah: "Sesungguhnya
                        Nabi saw. melarang membujang. Selanjutnya Qatadah
                        membaca (ayat): "Dan sesungguhnya kami telah mengutus
                        beberapa orang Rasul sebelum kamu dan kami berikan
                        kepada mereka beberapa istri dan anak cucu". (HR. Tirmidzi
                        dan Ibnu Majah).

                  Menurut At Tirmidzi, hadits Samurah tersebut adalah hadits Hasan

           yang gharib (aneh). Al Asy'ats bin Abdul Mulk meriwayatkan hadits ini

           dari Hasan dari Sa'ad bin Hisyam dari Aisyah dan ia dari Nabi saw.

           Dikatakan bahwa kedua hadits tersebut adalah shahih. 28

                  Hadits senada diketengahkan oleh Ad Darimi dalam Musnad Al

           Firdaus dari Ibnu Umar, dia mengatakan: "Rasulullah saw. bersabda:

           "Berhajilah nanti kamu akan kaya. Bepergianlah nanti kamu akan sehat.

           Dan menikahlah nanti kamu akan banyak. Sesungguhnya aku akan dapat

           membanggakan kamu dihadapan umat-umat lain". Dalam isnad hadits

           tersebut terdapat nama Muhammad bin Al Harits dari Muhammad bin

           Abdurrahman Al Bailamni, keduanya adalah perawi yang sama-sama

           lemah.29

                  Hadits senada juga diketengahkan oleh Al Baihaqi dari Abu

           Umamah dengan redaksi: "Menikahlah kamu, karena sesungguhnya aku

           akan membanggakan kalian di hadapan ummat-ummat lain. Dan
      27
         Ibid. Lihat juga TM.Hasbi ash Shiddieqy, Koleksi Hadits-Hadits Hukum, Semarang:
PT.Pustaka Rizki Putra, jilid 8, 2001, hlm. 3-8. TM.Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits, jilid 5,
Semarang; PT.Pustaka Rizki Putra, 2003, hlm. 3-8
      28
         Imam Syaukani, op.cit., hlm. 171.
      29
         Ibid., hlm. 171.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           janganlah kalian seperti para pendeta kaum Nasrani". Namun dalam

           sanadnya terdapat nama-nama Muhammad bin Tsabit, seorang perawi

           yang lemah.

                  Hadits senada lagi diriwayatkan oleh Daraquthni dalam Al

           Mu'talaf dari Harmalah bin Nu'man dengan redaksi: "Wanita yang

           produktif anak itu lebih disukai oleh Allah ketimbang wanita cantik

           namun tidak beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kalian di

           hadapan ummat-ummat lain pada hari kiamat kelak". Namun menurut Al

           Hafizh Ibnu Hajar, sanad hadits ini lemah. 30

                   Para Fukaha berbeda pendapat tentang status hukum asal dari

           pernikahan. Menurut pendapat yang terbanyak dari fuqaha madzhab

           Syafi'i, hukum nikah adalah mubah (boleh), menurut madzhab Hanafi,

           Maliki, dan Hambali hukum nikah adalah sunnat, sedangkan menurut

           madzhab Dhahiry dan Ibn. Hazm hukum nikah adalah wajib dilakukan

           sekali seumur hidup.31

    3. Syarat dan Rukun Nikah

                  Untuk memperjelas syarat dan rukun nikah maka lebih dahulu

           dikemukakan pengertian syarat dan rukun baik dari segi etimologi

           maupun terminologi. Secara etimologi, dalam Kamus Besar Bahasa

           Indonesia, rukun adalah "yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu

           pekerjaan,"32 sedangkan syarat adalah "ketentuan (peraturan, petunjuk)


      30
         Ibid., hlm. 171
      31
         Zahry Hamid, op, cit., hlm. 3-4.
      32
         Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 2004, hlm. 966.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           yang harus diindahkan dan dilakukan."33 Menurut Satria Effendi M. Zein,

           bahwa menurut bahasa, syarat adalah sesuatu yang menghendaki adanya

           sesuatu yang lain atau sebagai tanda,34 melazimkan sesuatu.35

                  Secara terminologi, yang dimaksud dengan syarat adalah segala

           sesuatu yang tergantung adanya hukum dengan adanya sesuatu tersebut,

           dan tidak adanya sesuatu itu mengakibatkan tidak ada pula hukum, namun

           dengan adanya sesuatu itu tidak mesti pula adanya hukum.36 Hal ini

           sebagaimana dikemukakan Abd al-Wahhab Khalaf,37 bahwa syarat adalah

           sesuatu yang keberadaan suatu hukum tergantung pada keberadaan

           sesuatu itu, dan dari ketiadaan sesuatu itu diperoleh ketetapan ketiadaan

           hukum tersebut. Yang dimaksudkan adalah keberadaan secara syara’,

           yang menimbulkan efeknya. Hal senada dikemukakan Muhammad Abu

           Zahrah, asy-syarth (syarat) adalah sesuatu yang menjadi tempat

           bergantung wujudnya hukum. Tidak adanya syarat berarti pasti tidak

           adanya hukum, tetapi wujudnya syarath tidak pasti wujudnya hukum. 38

           Sedangkan rukun, dalam terminologi fikih, adalah sesuatu yang dianggap

           menentukan suatu disiplin tertentu, di mana ia merupakan bagian integral

           dari disiplin itu sendiri. Atau dengan kata lain rukun adalah penyempurna

           sesuatu, di mana ia merupakan bagian dari sesuatu itu.39


      33
         Ibid., hlm. 1114.
      34
         Satria Effendi M. Zein, Ushul Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 64
      35
         Kamal Muchtar, Ushul Fiqh, Jilid 1, Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1995, hlm. 34
      36
         Alaiddin Koto, Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, hlm.
50
      37
         Abd al-Wahhab Khalaf, ‘Ilm Usul al-Fiqh, Kuwait: Dar al-Qalam, 1978, hlm. 118.
      38
         Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Cairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1958, hlm. 59.
      39
         Abdul Ghofur Anshori, Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia, Yogyakarta: Pilar
Media, 2006, hlm. 25.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                    Adapun syarat dan rukun nikah sebagai berikut: sebagaimana

           diketahui bahwa menurut UU No 1/1974 Tentang Pernikahan Bab: 1 pasal

           2 ayat 1 dinyatakan, bahwa pernikahan adalah sah apabila dilakukan

           menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.40

                    Bagi ummat Islam, pernikahan itu sah apabila dilakukan menurut

           Hukum Pernikahan Islam, Suatu Akad Pernikahan dipandang sah apabila

           telah memenuhi segala rukun dan syaratnya sehingga keadaan akad itu

           diakui oleh Hukum Syara'.

                Rukun akad pernikahan ada lima, yaitu:

      1.Calon suami, syarat-syaratnya:

           a. Beragama Islam.
           b. Jelas ia laki-laki.
           c. Tertentu orangnya.
           d. Tidak sedang berihram haji/umrah.
           e. Tidak mempunyai isteri empat, termasuk isteri yang masih dalam
              menjalani iddah thalak raj'iy.
           f. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai
              perempuan, termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak
              raj'iy.
           g. Tidak dipaksa.
           h. Bukan mahram calon isteri.

      2. Calon Isteri, syarat-syaratnya:

           a.   Beragama Islam, atau Ahli Kitab.
           b.   Jelas ia perempuan.
           c.   Tertentu orangnya.
           d.   Tidak sedang berihram haji/umrah.
           e.   Belum pernah disumpah li'an oleh calon suami.
           f.   Tidak bersuami, atau tidak sedang menjalani iddah .dari lelaki lain.
           g.   Telah memberi idzin atau menunjukkan kerelaan kepada wali untuk
                menikahkannya.



      40
        Arso Sosroatmodjo dan A.Wasit Aulawi, Hukum Pernikahan di Indonesia, Jakarta; Bulan
Bintang, 1975, hlm. 80
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           h. Bukan mahram calon suami.41

      3. Wali. Syarat-syaratnya:

           a.   Beragama Islam jika calon isteri beragama Islam.
           b.   Jelas ia laki-laki.
           c.   Sudah baligh (telah dewasa).
           d.   Berakal (tidak gila).
           e.   Tidak sedang berihram haji/umrah.
           f.   Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya).
           g.   Tidak dipaksa.
           h.   Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya.
           i.   Tidak fasiq.

      4. Dua orang saksi laki-laki. Syarat-syaratnya:

           a.   Beragama Islam.
           b.   Jelas ia laki-laki.
           c.   Sudah baligh (telah dewasa).
           d.   Berakal (tidak gila),:
           e.   Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah)
           f.    Tidak fasiq.
           g.   Tidak pelupa.
           h.   Melihat (tidak buta atau tuna netra).
           i.   Mendengar (tidak tuli atau tuna rungu).
           j.   Dapat berbicara (tidak bisu atau tuna wicara).
           k.   Tidak ditentukan menjadi wali nikah.
           l.   Memahami arti kalimat dalam ijab qabul. 42

      5.Ijab dan Qabul.

                    Ijab akad pernikahan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh

           wali nikah atau wakilnya dalam akad nikah, untuk menerimakan nikah

           calon suami atau wakilnya".

                    Syarat-syarat ijab akad nikah ialah:




      41
          Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, Jilid I, Bandung: CV Pustaka Setia,
1999, hlm. 64.
       42
          Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-28. Tentang syarat dan rukun pernikahan dapat dilihat juga
dalam Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1977, hlm.
71.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari "nikah" atau
              "tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya nikahkan Fulanah, atau
              saya nikahkan Fulanah, atau saya perjodohkan - Fulanah"
           b. Diucapkan oleh wali atau wakilnya.
           c. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, misalnya satu bulan, satu tahun
              dan sebagainya.
           d.Tidak dengan kata-kata sindiran, termasuk sindiran ialah tulisan yang
              tidak diucapkan.
           e. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal, misalnya: "Kalau anakku.
              Fatimah telah lulus sarjana muda maka saya menikahkan Fatimah
              dengan engkau Ali dengan masnikah seribu rupiah".
           f. Ijab harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik yang
              berakad maupun saksi-saksinya. Ijab tidak boleh dengan bisik-bisik
              sehingga tidak terdengar oleh orang lain. Qabul akad pernikahan ialah:
              "Serangkaian kata yang diucapkan oleh calon suami atau wakilnya
              dalam akad nikah, untuk menerima nikah yang disampaikan oleh wali
              nikah atau wakilnya.43


                  Syarat-syarat Qabul akad nikah ialah:

           a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari kata "nikah" atau
              "tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya terima nikahnya Fulanah".
           b. Diucapkan oleh calon suami atau wakilnya.
           c. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, misalnya "Saya terima nikah si
              Fulanah untuk masa satu bulan" dan sebagainya.
           d.Tidak dengan kata-kata sindiran, termasuk sindiran ialah tulisan yang
              tidak diucapkan. 44
           e. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal, misalnya "Kalau saya telah
              diangkat menjadi pegawai negeri maka saya terima nikahnya si
              Fulanah".
           f. Beruntun dengan ijab, artinya Qabul diucapkan segera setelah ijab
              diucapkan, tidak boleh mendahuluinya, atau berjarak waktu, atau
              diselingi perbuatan lain sehingga dipandang terpisah dari ijab.
           g.Diucapkan dalam satu majelis dengan ijab.45
           h. Sesuai dengan ijab, artinya tidak bertentangan dengan ijab.
           i. Qabul harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik yang
              berakad maupun saksi-saksinya. Qabul tidak boleh dengan bisik-bisik
              sehingga tidak didengar oleh orang lain.

                  Contoh ijab qabul akad pernikahan


      43
          Slamet Abidin dan Aminuddin, op.cit., hlm. 65.
      44
          Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-25. lihat pula Achmad Kuzari, Nikah Sebagai Perikatan,
Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1995, hlm.34-40.
       45
          Zahri Hamid, op. cit, hlm. 25.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




1). Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki meng-qabulkan.

   a. Ijab: “Ya Ali, ankahtuka Fatimata binti bimahri alfi rubiyatin halan".
      Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali, aku nikahkan (nikahkan) Fatimah
      anak perempuanku dengan engkau dengan masnikah seribu rupiah
      secara tunai".
   b. Qabul: "Qabiltu nikahaha bil mahril madzkurihalan". Dalam bahasa
      Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan saudara
      dengan saya dengan masnikah tersebut secara tunai".46

2). Wali mewakilkan ijabnya dan mempelai laki-laki meng-qabulkan.

       a. Ijab: "Ya Ali, ankahtuka Fathimata binta Muhammadin muwakili
          bimahri alfi rubiyatinhalan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali, aku
          nikahkan (nikahkan) Fatimah anak perempuan Muhammad yang telah
          mewakilkan kepada saya dengan engkau dengan masnikah seribu
          rupiah secara tunai".47
       b. Qabul: "Qabiltu nikahaha bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam
          bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan
          Muhammad dengan saya dengan masnikah seribu rupiah secara tunai".

3). Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki mewakilkan kabulnya.

       a. Ijab: "Ya Umar, Ankahtu Fathimata binti Aliyyin muwakkilaka
          bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar,
          Aku nikahkan (nikahkan) Fathimah anak perempuan saya dengan Ali
          yang telah mewakilkan kepadamu dengan masnikah seribu rupiah
          secara tunai".
       b. Qabul: "Qabiltu nikahaha li Aliyyin muwakkili bimahri alfi rubiyatin
          halan", Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah
          dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan masnikah
          seribu rupiah secara tunai"48

4). Wali mewakilkan Ijabnya dan mempelai laki-laki mewakilkan Qabulnya.

       a. Ijab: "Ya Umar, Ankahtu Fathimata binta Muhammadin muwakkilii,
           Aliyyan muwakkilaka bimahri alfi Rubiyyatin halan". Dalam bahasa
           Indonesia: "Hai Umar, Aku nikahkan (nikahkan) Fathimah anak
           perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya, dengan
           Ali yang telah mewakilkan kepada engkau dengan masnikah seribu
           rupiah secara tunai".
       b. Qabul: "Qabiltu Nikahaha lahu bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam
           bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya (Fathimah anak perempuan
  46
     Rahmat Hakim, Hukum Pernikahan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2000, hlm. 59.
  47
     Zahri Hamid, op. cit, hlm. 26.
  48
     Slamet Abidin dan Aminuddin, op.cit., hlm. 66.
                                               Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                               http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                 Muhammad) dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan
                 masnikah seribu rupiah secara tunai".49


B. Kesetaraan Gender

      1. Pengertian Kesetaraan Gender

                     Gender yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki

            maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.50

            Pengertian lain menganggap gender adalah suatu konsep kultural yang

            dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik

            emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam

            masyarakat.51 Gender adalah usaha sebagai perbedaan yang tampak

            (kelihatan) antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan

            tingkah laku. Tetapi oleh beberapa ahli gender keterangan itu mesti

            ditambah dan disempurnakan. Wilson yang dikutip Yudhie R.Haryono

            menulis; gender adalah sumbangan laki-laki dan perempuan pada

            kebudayaan kolektif (masyarakat), yang sebagai akibatnya mereka

            menjadi laki-laki dan perempuan.              Jadi ada      aspek     fungsi yang

            membedakan antar keduanya, yaitu antara laki-laki dan perempuan.52



       49
            Achmad Kuzari, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1995, hlm.
40.
       50
          Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
2005, hlm. 8. Kata “kultural” berarti kebudayaan, dan kata kebudayaan menurut E.B. Tylor yang
dikutip Soerjono Soekanto yaitu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, kemampuan-kemampuan serta kebiasaan yang didapat oleh manusia
sebagai anggota masyarakat. Definisi yang singkat yaitu semua hasil karya, rasa dan cipta
masyarakat. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: CV. Rajawali, 1984,
hlm. 167.
       51
          Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2004, hlm. 4.
       52
          Yudhie R.Haryono, Bahasa Politik Al-Qur'an, Jakarta: Gugus Press, 2002, hlm. 251.
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                  Gender adalah perbedaan sosial antara kaki-laki dan perempuan

           yang dititikberatkan pada prilaku, fungsi dan peranan masing-masing yang

           ditentukan oleh kebiasaan masyarakat dimana ia berada atau konsep yang

           digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan

           dilihat dari segi sosial budaya. Pengertian ini memberi petunjuk bahwa hal

           yang terkait dengan gender adalah sebuah kontruksi sosial (social

           contruction). Singkat kata, gender adalah interprestasi budaya terhadap

           perbedaan jenis kelamin.53

                  Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gender

           adalah usaha mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan

           dari segi-segi sosial budaya, psikologis bahkan moral etika dan seni. Inti

           dari wacana gender itu sendiri adalah persamaan hak. Dari pengertian itu

           maka keadilan gender itu sebenarnya sudah ada, tapi hakikat keadilan

           gender yang memperkuat persamaan hak antara laki-laki dan perempuan

           itu dalam pelaksanaannya seringkali mengalami distorsi.

    2. Konsep Gender dalam Islam

                  Berbicara tentang konsep gender dalam Islam ditemukan sejumlah

           ayat dalam Al-Qur'an, antara lain QS Al-Hujurat, [49]:13, Al-Nisa', [4]:1,

           Al-A'raf, [7]:189, Al-Zumar, [39]:6, Fatir, [35]:11, dan Al-Mu'min, [40]:

           67.

                  Di antaranya dalam al-Qur'an surat al-Hujurat (QS, 49: 13)




      53
       Waryono Abdul Ghafur, Tafsir Sosial Mendialogkan Teks Dengan Konteks, Yogyakarta:
elSAQ Press, 2005, hlm. 103
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
              seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
              berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
              mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
              kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
              Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.54


              Ayat di atas memberi petunjuk bahwa dari segi hakikat penciptaan,

     antara manusia yang satu dan manusia lainnya tidak ada perbedaan,

     termasuk di dalamnya antara perempuan dan laki-laki. Karena itu, tidak

     perlu ada semacam superioritas suatu golongan, suku, bangsa, ras, atau

     suatu entitas gender terhadap lainnya. Kesamaan asal mula biologis ini

     mengindikasikan adanya persamaan antara sesama manusia, termasuk

     persamaan       antara    perempuan       dan    laki-laki.   Penjelasan     di   atas

     menyimpulkan bahwa Al-Qur'an menegaskan equalitas perempuan dan

     laki-laki. Senada dengan Al-Qur'an, sejumlah hadis Nabi pun menyatakan

     bahwa sesungguhnya perempuan itu mitra sejajar laki-laki.

              Meskipun secara biologis keduanya: laki-laki dan perempuan

     berbeda sebagaimana dinyatakan juga dalam Al-Qur'an, namun perbedaan

     jasmaniah      itu   tidak    sepatutnya     dijadikan     alasan    untuk    berlaku

     diskriminatif terhadap perempuan. Perbedaan jenis kelamin bukan alasan

     untuk mendiskreditkan perempuan dan mengistimewakan laki-laki.


54
     Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, op.cit., hlm. 847.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     Perbedaan      biologis     jangan     menjadi    pijakan     untuk    menempatkan

     perempuan pada posisi subordinat dan laki-laki pada posisi superordinat.

     Perbedaan kodrati antara laki-laki dan perempuan seharusnya menuntun

     manusia kepada kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan memiliki

     perbedaan dan dengan bekal perbedaan itu keduanya diharapkan dapat

     saling membantu, saling mengasihi dan saling melengkapi satu sama lain.

     Karena itu, keduanya harus bekerja sama, sehingga terwujud masyarakat

     yang damai menuju kepada kehidupan abadi di akhirat nanti.55

              Islam secara tegas menempatkan perempuan setara dengan laki-

     laki, yakni dalam posisi sebagai manusia, ciptaan sekaligus hamba Allah

     SWT. Dari perspektif penciptaan, Islam mengajarkan bahwa asal

     penciptaan laki-laki dan perempuan adalah sama, yakni sama-sama dari

     tanah (saripati tanah), sehingga sangat tidak beralasan memandang

     perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Pernyataan ini misalnya

     terdapat dalam QS. Al-Mukminun, [23]:12-16; Al-Hajj, [22]:5; dan Shad,

     [38] 71. Sebagaimana al-Qur'an surat Shad (QS, 38: 71):




     Artinya: Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya
              Aku akan menciptakan manusia dari tanah (Shad, [38] 71).56

              Dari perspektif amal perbuatan, keduanya dijanjikan akan

     mendapat pahala apabila mengerjakan perbuatan yang makruf dan



55
     Siti Musdah Mulia, op. cit, hlm. 6
56
     Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, op.cit., hlm. 741.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     diancam dengan siksaan jika berbuat yang mungkar (Al-Nisa', [4]:24; Al-

     Nahl, [16]:97; Al-Maidah, [5]:38; Al-Nur, 2; Al-Ahzab,[33]:35-36; Al-

     An'am, [6]: 94; Al-Jatsiyah, [45]:21-22; Yunus, [10]:44; Al-Baqarah,

     [2]:48; dan Ali Imran, [3]:195).




     Artinya: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya:
              "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang
              yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan,
              sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka
              orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung
              halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan
              yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan
              mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang
              mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi
              Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (QS. Ali
              Imran, [3]:195).57

              Sebagai manusia, perempuan memiliki hak dan kewajiban untuk

     melakukan ibadah sama dengan laki-laki. Perempuan juga diakui memiliki

     hak dan kewajiban untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui

     peningkatan ilmu dan takwa, serta kewajiban untuk melakukan tugas-

     tugas kemanusiaan yang dalam Islam disebut amar ma'ruf nahi munkar

     menuju terciptanya masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera (baldatun

     thayyibah wa rabun ghafur).

57
     Ibid., hlm. 110.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              Akan tetapi, dalam realitas sosiologis di masyarakat, perempuan

     seringkali diperlakukan tidak setara dengan laki-laki. Kondisi yang

     timpang ini muncul karena masyarakat sudah terlalu lama terkungkung

     oleh nilai-nilai patriarkhi dan nilai-nilai bias gender dalam melihat relasi

     kuasa antara laki-laki dan perempuan. Nilai-nilai patriarki selalu menuntut

     pengakuan masyarakat atas kekuasaan laki-laki dan segala sesuatu yang

     berciri laki-laki. Dalam pandangan patriarki, laki-laki dan perempuan

     adalah dua jenis makhluk yang berbeda sehingga keduanya perlu

     dibuatkan segregasi ruang yang ketat; laki-laki menempati ruang publik,

     sedangkan perempuan cukup di ruang domestik. Posisi perempuan

     hanyalah merupakan subordinate dari laki-laki.58

              Karena itu, perlu sekali memberikan wawasan baru yang lebih

     humanis dan lebih sensitif gender kepada para pemuka agama, laki-laki

     dan perempuan, sehingga pada gilirannya nanti terbangun kesadaran di

     kalangan mereka akan perlunya reinterprestasi ajaran agama, khususnya

     ajaran yang berbicara tentang relasi gender. Tidak ada jalan lain untuk

     keluar     dari   kondisi   demikian   selain   melakukan     pembongkaran

     (dekonstruksi) atas seluruh penafsiran agama yang memposisikan

     perempuan sebagai objek. Selanjutnya, akan terbangun penafsiran yang

     menempatkan perempuan sebagai manusia yang utuh, sebagai subjek yang

     otonom yang memiliki kebebasan memilih (freedom of choice) atas dasar




58
     Ibid, hlm. 8
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     hak-haknya yang sama dengan laki-laki. Bukankah Al-Qur'an sudah

     menegaskan:




     Artinya: "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
              perempuan, dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan
              berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami juga akan
              memberikan balasan berupa pahala yang lebih baik daripada
              yang telah mereka kerjakan" (QS Al-Nahl, [16]:97).59

               Islam diturunkan sebagai pembawa rahmat keseluruh alam,

     termasuk      kepada     kaum perempuan.          Nilai-nilai fundamental yang

     mendasari      ajaran     Islam     seperti    perdamaian,      pembebasan,    dan

     egalitarianisme termasuk persamaan derajat antara lelaki dan perempuan

     banyak tecermin dalam ayat-ayat Al-Quran. Kisah-kisah tentang peran

     penting kaum perempuan di zaman Nabi Muhammad Saw., seperti Siti

     Khadijah, Siti Aisyah, dan lain-lain, telah banyak ditulis. Begitu pula

     tentang     sikap    beliau    yang    menghormati       kaum      perempuan   dan

     memperlakukannya sebagai mitra dalam perjuangan.

               Namun dalam kenyataan dewasa ini dijumpai kesenjangan antara

     ajaran Islam yang mulia tersebut dengan kenyataannya dalam kehidupan

     sehari-hari. Khusus tentang kesederajatan antara lelaki dan perempuan,

     masih banyak tantangan dijumpai dalam merealisasikan ajaran ini, bahkan

     di tengah masyarakat Islam sekalipun. Kaum perempuan masih tertinggal

     dalam banyak hal dari mitra lelaki mereka. Dengan mengkaji data dan

59
     Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, op.cit., hlm. 417
                                Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




mencermati fakta yang menyangkut kaum perempuan seperti tingkat

pendidikan   mereka,      derajat     kesehatan,     partisipasi   mereka   dalam

pengambilan keputusan, tindak kekerasan terhadap perempuan, pelecehan

seksual dan perkosaan, eksploitasi terhadap tenaga kerja perempuan, dan

sebagainya, kita dapat menyimpulkan betapa masih memprihatinkannya

status kaum perempuan.

       Perjuangan untuk mencapai kesederajatan dengan kaum lelaki

sebagaimana diajarkan Al-Qur'an masih panjang dan memerlukan

dukungan dari semua pihak termasuk kaum lelaki. Bagaimanapun juga,

masalah perempuan adalah masalah kemanusiaan, termasuk di dalamnya

kaum lelaki. Sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an, lelaki dan perempuan

itu saling menolong, saling memuliakan, dan saling melengkapi.

       Al-Qur'an tidak mengajarkan diskriminasi antara lelaki dan

perempuan sebagai manusia. Di hadapan Tuhan, lelaki dan perempuan

mempunyai derajat yang sama. Namun masalahnya terletak pada

implementasi atau operasionalisasi ajaran tersebut. Banyak faktor seperti

lingkungan budaya dan tradisi yang patriarkat, sistem (termasuk sistem

ekonomi dan politik), serta sikap dan perilaku individual yang

menentukan status kaum perempuan dan ketimpangan gender tersebut.

       Dalam    kondisi     seperti     ini   yang     perlu   dilakukan    adalah

pemberdayaan terhadap kaum perempuan serta penyadaran akan hak dan

status mereka yang Islami. Penyadaran juga perlu dilakukan terhadap

kaum lelaki sehingga pengistimewaan telah berabad-abad mereka nikmati
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           karena kultur yang patriarkat dapat dikurangi. Kesejajaran akan tercapai

           jika perempuan di satu sisi meningkatkan kemampuannya dan lelaki di sisi

           lain mengurangi tuntutan akan pengistimewaan tersebut.60

                  Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas
                  masalah kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks
                  (jenis kelamin) dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan
                  terhadap kedua konsep tersebut sangat diperlukan karena alasan
                  sebagai berikut. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks
                  dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk
                  memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang
                  menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan
                  yang erat antara perbedaan gender (gender differences) dan
                  ketidakadilan gender (gender inequalities) dengan struktur
                  ketidakadilan masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian
                  pemahaman dan pembedaan yang jelas antara konsep seks dan
                  gender sangat diperlukan dalam membahas masalah ketidakadilan
                  sosial. Maka sesungguhnya terjadi keterkaitan antara persoalan
                  gender dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya. Pemahaman
                  atas konsep gender sangat diperlukan mengingat dari konsep ini
                  telah lahir suatu analisis gender.61
                  Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah
                  sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender
                  inequalities). Namun, yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan
                  gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum
                  laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan
                  gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki
                  dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Untuk
                  memahami        bagaimana      perbedaan  gender     menyebabkan
                  ketidakadilan gender, dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi
                  ketidakadilan yang ada. Ketidakadilan gender termanifestasikan
                  dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yakni: Marginalisasi atau
                  proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak
                  penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau
                  melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih
                  panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai
                  peran gender. Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-
                  pisahkan, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling
                  mempengaruhi secara dialektis. Tidak ada satu pun manifestasi
                  ketidakadilan gender yang lebih penting, lebih esensial, dari yang
                  lain. Misalnya, marginalisasi ekonomi kaum perempuan justru
      60
         Lili Zakiyah Munir et. all, (Editor), Memposisikan Kodrat Perempuan dan Perubahan
dalam Perspektif Islam, Bandung: Mizan, 1999, hlm. 11-12
      61
         Mansour Fakih, op. cit, hlm. 3 - 4
                                       Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                       http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




               terjadi karena stereotipe tertentu atas kaum perempuan dan itu
               menyumbang kepada subordinasi, kekerasan kepada kaum
               perempuan, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan,
               ideologi dan visi kaum perempuan sendiri. Dengan demikian, kita
               tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi kaum perempuan
               adalah menentukan dan terpenting dari yang lain dan oleh karena
               itu perlu mendapat perhatian lebih. Atau sebaliknya, bahwa
               kekerasan fisik (violence) adalah masalah paling mendasar yang
               harus dipecahkan terlebih dahulu.62


              Proses      marginalisasi,    yang     mengakibatkan       kemiskinan/

     sesungguhnya banyak sekali terjadi dalam masyarakat dan negara yang

     menimpa kaum laki-laki dan perempuan, yang disebabkan oleh berbagai

     kejadian, misalnya penggusuran, bencana alam atau proses eksploitasi.

     Namun ada salah satu bentuk pemiskinan atas satu jenis kelamin tertentu,

     dalam hal ini perempuan, disebabkan oleh gender. Ada beberapa

     perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta mekanisme proses

     marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender tersebut. Dari

     segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan,

     tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu

     pengetahuan.

              Banyak studi telah dilakukan dalam rangka membahas program

     pembangunan pemerintah yang menjadi penyebab kemiskinan kaum

     perempuan. Misalnya, program swasembada pangan atau revolusi hijau

     (green revolution) secara ekonomis telah menyingkirkan kaum perempuan

     dari pekerjaannya sehingga memiskinkan mereka. Di Jawa misalnya,

     program revolusi hijau dengan memperkenalkan jenis padi unggul yang

62
     Ibid, hm. 12 – 13.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




      tumbuh lebih rendah, dan pendekatan panen dengan sistem tebang

      menggunakan sabit, tidak memungkinkan lagi panenan dengan ani-ani,

      padahal alat tersebut melekat dan digunakan oleh kaum perempuan.

      Akibatnya banyak kaum perempuan miskin di desa termarginalisasi, yakni

      semakin miskin dan tersingkir karena tidak mendapatkan pekerjaan di

      sawah pada musim panen. Berarti program revolusi hijau dirancang tanpa

      mempertimbangkan aspek gender.

               Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat

      pekerjaan, juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan

      bahkan negara. Marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi sejak di

      rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-

      laki dan perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat

      maupun tafsir keagamaan. Misalnya banyak di antara suku-suku di

      Indonesia yang tidak memberi hak kepada kaum perempuan untuk

      mendapatkan waris sama sekali. Sebagian tafsir keagamaan memberi hak

      waris setengah dari hak waris laki-laki terhadap kaum perempuan.63

3. Wacana Hukum Islam dalam Perspektif Gender

               Islam banyak sekali memberikan hak-hak kepada kaum perempuan

      di mana hak tersebut tidak pernah diperoleh sebelum Islam. Sebagai

      contoh antara lain dapat dikemukakan:

      a. Kedudukan Kaum Wanita (Mahar). Pada masa jahiliah kedudukan

           kaum wanita sangat rendah, misalnya dalam soal mahar. Mahar


 63
      Ibid, hlm. 13 – 15.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              (maskawin) adalah sudah dikenal pada masa jahiliah, jauh sebelum

              Islam datang. Akan tetapi mahar sebelum datangnya Islam tidak

              diperuntukkan kepada calon istri, melainkan kepada ayah atau kerabat

              dekat laki-laki dari pihak istri. Karena konsep perkawinan menurut

              berbagai bentuk hukum adat ketika itu sama dengan transaksi jual beli.

              Yakni jual beli antara calon suami dengan ayah si perempuan selaku

              pemilik barang. Ketika Al-Quran datang, pranata mahar tetap

              dilanjutkan, hanya saja konsepnya yang mengalami perubahan. Kalau

              dahulu mahar dibayarkan ke pihak orang tua (ayah) calon istri, maka

              sekarang mahar tersebut diperuntukan kepada calon istri. Dengan

              demikian, Al-Quran mengubah status perempuan sebagai "komoditi"

              barang dagangan menjadi subjek yang ikut terlihat dalam suatu

              kontrak.64

           b. Hak Suami Istri (Talak). Pada masa jahiliah seorang suami dapat

              dengan bebas menjatuhkan talak tanpa batas. Institusi talak dikenal

              pada masa jahiliah, akan tetapi talak ketika itu merupakan hak otonom

              kaum laki-laki. Kapan dan di mana saja ia mau menalak istrinya. Al-

              Qur'an tetap mengakui institusi talak ini, tetapi dengan pembatasan-

              pembatasan. Salah satu pembatasan tersebut ialah pemberlakuan masa

              iddah yang terutama bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada

              suami untuk rujuk kepada istrinya. Lagi pula selama dalam masa

              iddah, istri berhak mendapatkan nafkah dari suaminya. Pembatasan
      64
        http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=2331_0_1_0_C, diakses pada tanggal 22
April 2010
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              talak serta beban dan konsekuensi talak tidak umum dikenal sebelum

              Islam. 65

           c. Poligami. Poligami (ta'addud al-zaujat) dalam masyarakat adalah

              salah satu bagian dari budaya masyarakat pra-Islam. Seorang laki-laki

              dapat mengawini perempuan dalam jumlah yang tidak terbatas.

              Bahkan banyaknya istri menjadi simbol kehebatan seorang laki-laki.

                      Al-Quran dan hadis membatasi kebiasaan berpoligami dengan

              memberikan isyarat dan syarat yang tidak ringan. Lagi pula dibatasi

              tidak boleh lebih dari empat orang. Dari satu segi Al-Quran

              memberikan syarat kebolehan melakukan poligami bagi orang yang

              dapat memenuhi persyaratannya. Akan tetapi pada ayat lain

              memustahilkan persyaratan itu dapat dicapai.66

           d. Pria dan Wanita Sama-Sama Mempunyai Hak (Kewarisan). Konsep

              kewarisan pra-Islam berkaitan langsung dengan konsep kepemilikan

              dan struktur masyarakat ketika itu. Seperti diketahui bahwa

              masyarakat Arab ketika itu berstruktur masyarakat kabilah yang

              dipadu dengan sistem kekerabatan patrilineal. Yang hanya mengikuti

              garis keturunan laki-laki. Masyarakat kabilah yang selalu dibayangi

              perang antarkabilah menetapkan bahwa yang bisa mewarisi keluarga

              hanyalah keluarga laki-laki yang terdekat dari si mayat. Urutannya

              ialah anak (laki-laki), bapak, saudara laki-laki dan anak laki-lakinya,

      65
          http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=2331_0_1_0_C, diakses pada tanggal 22
April 2010
       66
          http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=2331_0_1_0_C, diakses pada tanggal 22
April 2010
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              nenek dari ayah, dan terakhir paman serta keturunannya. Meskipun

              anak laki-laki, tetapi kalau masih kecil dan belum bisa ikut berperang

              mempertahankan kabilahnya, maka anak tersebut dihukumkan sama

              dengan perempuan. Islam datang dengan memperkenalkan konsep

              warisannya, yaitu kaum perempuan tetap mendapatkan warisan

              meskipun porsinya belum seperti yang diterima kaum laki-laki.

              Perubahan hukum dalam masyarakat, dari tidak mendapat menjadi

              dapat warisan tidak lepas dari konteks historis masyarakat Arab ketika

              itu sudah berlangsung bergeser dari masyarakat yang bertumpu pada

              kabilah ke masyarakat yang bertumpu kepada keluarga sebagaimana

              yang diperkenalkan dalam Islam. Logikanya, porsi dua banding satu

              QS Al-Nisa' [4]: 11) dalam hukum kewarisan Islam bukanlah bentuk

              final dari hukum tersebut. Ide pokok dari hukum kewarisan Islam,

              sebagaimana juga hukum-hukum lainnya, adalah mewujudkan rasa

              keadilan (al-'adl) dan menegakkan amanah dalam masyarakat (tuadd

              al-amanah).67

                  Dengan kata lain, Islam berangsur-angsur mengubah konsep

           ekonomi kabilah ke konsep ekonomi keluarga. Dalam Islam, kaum

           perempuan selalu berada pada posisi yang selalu diuntungkan secara fisik-

           material. Misalnya, jika ia sebagai istri dipertanggungjawabkan oleh

           suaminya, sebagai anak ia diurus oleh ayahnya, sebagai saudara ia di



      67
        http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=2331_0_1_0_C, diakses pada tanggal 22
April 2010
                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




bawah perwalian saudara laki-lakinya. Jadi pandangan stereotip terhadap

perempuan yang dikaitkan dengan porsi pembagian warisan satu

berbanding dua mestinya tidak menimbulkan problem jika seandainya

masyarakat konsisten dengan pranata dan tatanan sosial dalam Islam.

       Dalam Islam, kaum perempuan memperoleh berbagai hak

sebagaimana halnya kaum laki-laki. Sebagai contoh dapat dilihat pada

beberapa hal.

       Tidak ditemukan ayat atau hadis yang melarang kaum perempuan

untuk aktif dalam dunia politik. Sebaliknya Al-Quran dan hadis banyak

mengisyaratkan tentang kebolehan perempuan aktif menekuni dunia

tersebut.

       Seperti halnya dalam bidang politik, memilih pekerjaan bagi

perempuan juga tidak ada larangan, baik pekerjaan itu di dalam atau di

luar rumah, mandiri maupun kolektif, di lembaga pemerintahan ataupun di

lembaga swasta. Selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam suasana

terhormat, sopan dan tetap memelihara agamanya, serta tetap menghindari

dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.

       Dalam Islam, kaum perempuan mendapatkan kebebasan bekerja

selama mereka memenuhi syarat dan mempunyai hak untuk bekerja dalam

bidang apa saja yang dihalalkan dalam Islam. Terbukti di masa Nabi,

kaum perempuan banyak terjun dalam berbagai bidang usaha, seperti

Khadijah bind Khuwailid (istri Nabi) yang dikenal sebagai komisaris

perusahaan, Zainab binti Jahsy, yang berprofesi sebagai penyamak kulit
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           binatang, Ummu Salim binti Malham yang berprofesi sebagai tukang rias

           pengantin, istri Abdullah bin Mas'ud dan Ailat Ummi Bani Ammar yang

           dikenal sebagai wiraswastawan yang sukses, Al-Syifa' yang berprofesi

           sebagai sekretaris dan pernah ditugasi oleh Khalifah Umar sebagai

           petugas yang menangani pasar kota Madinah.68

                  Begitu aktifnya kaum perempuan pada masa Nabi, Aisyah pernah

           mengatakan, "Alat pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada

           tombak di tangan kaum laki-laki." Dalam suatu riwayat lain Nabi pernah

           mengatakan, "Sebaik-baiknya permainan seorang perempuan Muslimah di

           dalam rumah adalah memintal/menenun."

                  Jabatan kontroversi bagi kaum perempuan adalah menjadi kepala

           negara. Sebagian ulama masih menganggap jabatan ini tidak layak bagi

           seorang perempuan. Namun, akibat perkembangan masyarakat dari zaman

           ke zaman jumlah pendukung pendapat ini mulai berkurang. Bahkan Al-

           Maududi, yang dikenal sebagai ulama yang secara lebih tekstual

           mempertahankan ajaran Islam, sudah memberikan dukungan kepada

           perempuan untuk menduduki jabatan perdana menteri di Pakistan.

                  Aktivitas manusia di masa Nabi tercermin di dalam buku-buku

           hadis (Kitab Al-Sittah), banyak memasukkan bab-bab khusus tentang

           perempuan. Misalnya, dalam kitab Shahih Al-Bukhari terdapat beberapa

           bab pembahasan tentang perempuan.



      68
        http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=2331_0_1_0_C, diakses pada tanggal 22
April 2010
                                 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                 http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




         Kalimat pertama diturunkan dalam Al-Quran adalah kalimat

perintah dan kalimat perintah tersebut adalah perintah untuk membaca

(iqra'), lalu disusul dengan sumpah pertama Tuhan dalam Al-Quran yaitu

Nun wa al-qalami wa ma yasthurun (Demi kalam dan apa yang

dituliskannya). Hal ini menegaskan betapa pentingnya ilmu pengetahuan

dalam Islam. Perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan tidak hanya

kepada laki-laki, tetapi juga kepada kaum perempuan, seperti ditegaskan

dalam hadis yang populer di dalam masyarakat, "Menuntut ilmu

pengetahuan adalah difardukan kepada kaum Muslim laki-laki dan

perempuan." Al-Quran dan hadis banyak memberikan pujian kepada laki-

laki dan perempuan yang mempunyai prestasi dalam ilmu pengetahuan.

         Perbedaan    gender    sesungguhnya       tidaklah    menjadi masalah

sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities).

Namun, yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah

melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama

terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan

struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari

sistem    tersebut.   Untuk     memahami     bagaimana        perbedaan   gender

menyebabkan ketidakadilan gender, dapat dilihat melalui pelbagai

manifestasi     ketidakadilan      yang     ada.      Ketidakadilan       gender

termanifestasikan     dalam     pelbagai    bentuk      ketidakadilan,    yakni:

Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan

tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau
                              Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                              http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang

dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender.

Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-pisahkan, karena

saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.

Tidak ada satu pun manifestasi ketidakadilan gender yang lebih penting,

lebih esensial, dari yang lain. Misalnya, marginalisasi ekonomi kaum

perempuan justru terjadi karena stereotipe tertentu atas kaum perempuan

dan itu menyumbang kepada subordinasi, kekerasan kepada kaum

perempuan, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologi

dan visi kaum perempuan sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa

menyatakan bahwa marginalisasi kaum perempuan adalah menentukan

dan terpenting dari yang lain dan oleh karena itu perlu mendapat perhatian

lebih. Atau sebaliknya, bahwa kekerasan fisik (violence) adalah masalah

paling mendasar yang harus dipecahkan terlebih dahulu.

       Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah didatangi

kelompok kaum perempuan yang memohon kesediaannya untuk

menyisihkan waktunya guna mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam

sejarah Islam klasik ditemukan beberapa nama perempuan yang

menguasai ilmu pengetahuan penting seperti Aisyah istri Nabi, Sayyidah

Sakinah, putri Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Syaikhah Syuhrah yang

digelari dengan "Fakhr Al-Nisa'" (Kebanggaan Kaum Perempuan), adalah

salah seorang guru Imam Syafi'i, Mu'nisat Al-Ayyubi (saudara Salahuddin
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           Al-Ayyubi), Syamiyat Al-Taimiyah, Zainab, putri sejarahwan Al-

           Bagdady, Rabi'ah Al-Adawiyah, dan lain sebagainya. 69

                     Kemerdekaan perempuan dalam menuntut ilmu pengetahuan

           banyak dijelaskan dalam beberapa hadis, seperti hadis yang diriwayatkan

           oleh Ahmad bahwa       Rasulullah melaknat perempuan yang membuat

           keserupaan diri dengan kaum laki-laki, demikian pula sebaliknya, tetapi

           tidak dilarang mengadakan perserupaan dalam hal kecerdasan dan amar

           ma'ruf.




      69
        http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=2331_0_1_0_C, diakses pada tanggal 22
April 2010
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                         BAB III


  PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI TENTANG KONSEP

                                    PERNIKAHAN



A. Biografi Maulana Muhammad Ali

    a. Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan

                  Maulana Muhammad Ali adalah nama seorang mantan presiden

           gerakan Ahmadiyah Lahore. la lahir pada 1876 di Murar, suatu kampung

           di kawasan Kapurthala, India. Ayahnya bernama Hafiz Fath Din, kepala

           kampung tersebut. Menurut S. Muhammad Tufail, penerjemah The

           Ahmadiyyah Movement, Maulana Muhammad Ali adalah seorang brilliant

           yang memiliki otidak cemerlang. Sebelum genap berusia lima tahun, la

           sudah masuk sekolah dasar di kampungnya. Setelah menamatkan

           pendidikan menengahnya, pada 1890, ia masuk Government College

           Lahore, dan ditempuhnya selama lima tahun. Lulus Fakultas Sastra

           (Faculty of Arts) pada 1892, Bachelor of Arts (B.A.) pada 1894, dan

           Master of Arts (M.A.) pada 1895.70

                  Di samping itu, ia juga belajar di Universitas Punjab mengambil

           jurusan Matematika dan Hukum. Sejak 1894, dalam usia relatif muda (19

           tahun), sambil menyelesaikan program M.A. di Government College,

           Maulana Muhammad Ali menjadi dosen dalam bidang Matematika di


      70
       Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan,
Anggota IKAPI, 1992, hlm. 633.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




      Islamia College Lahore. Dari 1897 sampai 1900, ia diangkat menjadi

      Profesor (Guru Besar) di Oriental College Lahore. Kemudian ia

      menerjunkan diri dalam bidang Hukum di Gurdarpur. Terakhir, atas

      anjuran Mirza Gulam Ahmad, pendiri gerakan Ahmadiyah Qadiani, ia

      menjadi editor Review of Religions.71

                Maulana Muhammad Ali sudah mengenal dan aktif menjadi

      pengikut gerakan Ahmadiyah sejak 1892, ketika ia menjadi mahasiswa

      Government College. Ketika Mirza Gulam Ahmad meninggal dunia pada

      1 Desember 1905, Ia berusaha meneruskan dan mengembangkan gerakan

      Ahmadiyah di Lahore, dengan beberapa penyempurnaan dan koreksi

      seperlunya. Kemudian ia pun menjadi presiden gerakan Ahmadiyah

      Lahore.72

b. Karya-karyanya

                Maulana Muhammad Ali termasuk seorang penulis yang produktif,

      dan telah berhasil melahirkan beberapa buah karya yang sangat penting

      bagi perkembangan Islam umumnya dan gerakan Ahmadiyah khususnya.

      Di antara buah karyanya yang terpenting adalah: An English Translation

      of the Holy Qur'an with Commentary Tahun 1972, The Religion of Islam

      (Islamologi) Tahun 1977, Muhammad the Prophet Tahun 1971, Early

      Caliphate Tahun 1969, Living Thought of the Prophet Muhammad, The

      Babi Movement, A Manual of Hadith, Bay an al-Qur'an, Fadbl al-Bari




 71
       Ibid.,
 72
      Ibid., hlm. 634.
                              Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                              http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




(Translation and Commentary of Sahih al-Bukhari), The Ahmadiyyah

Movement, dan lain-lain.

       Gagasan-gagasan penting yang dikemukakan Maulana Muhammad

Ali sebenarnya banyak, namun di antara pokok-pokok pikirannya yang

paling dasar adalah tentang ketuhanan, wahyu dan kenabian, qada kadar,

dan kehidupan akhirat.

       Allah, menurut Maulana Muhammad Ali, adalah Zat Yang Maha

Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Ada-Nya sebenarnya sudah

menjadi kebenaran aksioma. Meskipun demikian al-Qur'an masih tetap

memberikan beberapa bukti keberadaan-Nya. Pertama, bukti yang diambil

dari kejadian alam atau pengalaman jasmani manusia, yakni adanya

hukum evolusi alam. Kedua, bukti yang didasarkan atas pengalaman batin

manusia atau kodrat manusia, yakni di setiap jiwa manusia terdapat

kesadaran adanya Tuhan. Ketiga, bukti yang didasarkan atas wahyu Tuhan

kepada manusia atau pengalaman rohani manusia. Wahyu Ilahi bukan saja

membenarkan adanya Allah melainkan pula menjelaskan sifat-sifatnya.

Tanpa wahyu Ilahi, adanya Tuhan hanya sebagai dogma semata-mata.

Dijelaskan selanjutnya Allah itu Esa Zat-Nya, tidak ada Tuhan lebih dari

satu dan tidak ada sekutu bagi-Nya; Esa Sifat-Nya, tidak ada zat lain yang

memiliki satu atau lebih sifat-sifat ketuhanan yang sempurna; Esa Af'al-
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           Nya, yakni tidak seorang pun dapat melakukan pekerjaan yang telah

           dikerjakan atau mungkin dilakukan oleh Allah.73

                  Adapun wahyu yang makna aslinya adalah isyarat yang cepat, kata

           Maulana Muhammad Ali dalam bentuknya yang tinggi berarti firman

           Allah yang disampaikan kepada anbiya' (para nabi) dan auliya (para wali,

           yaitu hamba Allah yang tulus yang tidak diangkat sebagai nabi). Turunnya

           wahyu terjadi melalui tiga cara: mengilhamkan suatu pengertian dalam

           hati; dari belakang tirai (min wara' hijab), mencakup ru'yat (mimpi),

           kasyaf (vision) dan ilham; dan disampaikan oleh Malaikat Jibril dalam

           bentuk kata-kata. Wahyu jenis pertama dan kedua bisa dialami

           (diperuntukkan) para nabi dan bukan nabi, sedangkan untuk jenis yang

           terakhir hanya diterima oleh para nabi. Dengan diutusnya Muhammad

           sebagai nabi terakhir (khatam an-nabiyyin) jenis wahyu yang terakhir

           (melalui Malaikat Jibril) telah mencapai puncaknya dalam al-Qur'an, dan

           dengan demikian jenis wahyu yang tertinggi ini telah ditutup; akan tetapi

           dua jenis wahyu yang lainnya masih tetap berlangsung sampai

           berakhirnya kehidupan manusia.

                  Dalam menjelaskan qada qadar, Maulana Muhammad Ali

           mengutip pendapat Imam Raghib. Kadar atau tidakdir yang artinya

           ukuran, adalah undang-undang atau ukuran yang diberlakukan (bekerja)

           pada sekalian makhluk Tuhan. Tidakdir itu bukan berarti penentuan nasib

           baik dan buruk oleh Allah yang dikenakan pada manusia. Yang benar

      73
         Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, Terj. Tim Penerjemah Pustidaka Firdaus,
Jakarta: Pustidaka Firdaus, 2003, hlm. 337
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




         adalah manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan dan memilih

         berbagai alternatif untuk melaksanakan kehendaknya, akan tetapi ia tidak

         dapat melewati batas-batas dan hukum-hukum tertentu yang sudah

         ditetapkan. Manusia itu bebas dan merdeka untuk memilih dan

         menentukan berbagai alternatif dari hukum-hukum tertentu (sunnatullah)

         yang telah ditetapkan Tuhan untuk seluruh makhluk-Nya.74


B. Pendapat Maulana Muhammad Ali terntang Konsep Pernikahan

   1. Kedudukan Wanita sebagai Isteri

                  Menurut Maulana Muhammad Ali, baik segi jasmani maupun

         ruhani, Islam mengakui, bahwa kedudukan wanita adalah sama seperti

         pria. Semua perbuatan baik pasti akan diganjar, baik dilakukan oleh pria

         maupun oleh wanita. Dalam al-Qur'an ditegaskan: "Aku tidak akan

         menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal diantara kamu, baik pria

         maupun wanita, sebagian kamu dari sebagian yang lain". Surga dan segala

         kenikmatannya diperuntukkan bagi pria dan wanita. Qur'an berfirman

         sebagai berikut:

                  "Dan barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita, sedang
                  ia itu mukmin, akan masuk sorga". Pria dan wanita, sama-sama
                  akan menikmati hidup yang mulia. Qur'an berfirman sebagai
                  berikut: "Barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita,
                  sedang ia mukmin, Kami akan menghidupi dia dengan hidup yang
                  baik" (QS. 16:97).


                  Wahyu, sebagai karunia Tuhan yang paling besar di dunia,

         dianugerahkan sama-sama kepada pria dan wanita. Qur'an berfirman

    74
         Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, op.cit., hlm. 634.
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           sebagai berikut: "Dan tatkala malaikat berkata: ?,.,Wahai Maryam! Allah

           telah memilih engkau dan menyucikan engkau" (QS. 3:41). "Dan Kami

           wahyukan kepada ibu Musa, firmannnya: Susuilah dia! Lalu jika engkau

           merasa kuatir akan dia, lemparlah dia di sungai, dan janganlah engkau

           merasa tidakut dan jangan pula engkau merasa susah" (28:7).75

                  Dari segi jasmani, kedudukan kaum wanita menurut Islam adalah

           setarap dengan kedudukan kaum pria. Wanita boleh mencari uang dan

           boleh pula memiliki kekayaan seperti kaum pria, dan di mana perlu,

           wanita oleh bekerja apa saja yang ia sukai. Qur'an berfirman sebagai

           berikut: "Kaum pria mempunyai keuntungan dari apa yang mereka

           usahakan. Dan kaum wanita mempunyai keuntungan dari apa yang

           mereka usahakan" (QS. 4:32). Wanita mempunyai kekuasaan penuh atas

           harta miliknya dan bebas membelanjakan itu sesukanya. Qur'an berfirman

           sebagai berikut: "Tetapi jika mereka (wanita) berkenan untuk memberikan

           sebagian hartanya kepada kamu, maka makanlah itu dengan lahap"

           (QS.4:4). Wanita dapat pula mewaris harta peninggalan seperti pria.

           Qur'an berfirman sebagai berikut: "Pria memperoleh bagian dari apa yang

           ditinggalkan oleh ayah-ibu dan kerabat; dan wanita juga memperoleh

           bagian dari apa yang ditinggalkan oleh ayah-ibu dan kerabat" (QS. 4:7).76

                  Menurut Maulana Muhammad Ali,

           Apabila seorang wanita memasuki masa perkawinan, ia tidak kehilangan
           haknya yang telah ia miliki sebagai anggota masyarakat. la tetap bebas
           melakukan pekerjaan apa saja, bebas membuat perjanjian, bebas
      75
          Maulana Muhammad Ali, The Religion of Islam, Terj. R. Kaelan dan H.M. Bachrun,
"Islamologi (Dinul Islam) ", Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1977, hlm. 431.
      76
         Ibid.,
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




      membelanjakan harta miliknya sesukanya; dan ia tidak sekali-kali
      meleburkan diri dalam suami. Tetapi memang benar, bahwa wanita yang
      memasuki masa perkawinan, ia harus memikul tanggung-jawab kehidupan
      yang baru, yang mendatangkan hak dan kewajiban yang baru pula. Qur'an
      menggariskan suatu prinsip sebagai berikut: "Dan isteri mempunyai hak
      yang sama seperti kewajiban yang dipikulkan kepadanya dengan cara
      yang baik" (QS. 2:228). Inilah hak dan kewajiban dalam rumah-tangga.
      Hadits menggambarkan kedudukan wanita dalam rumah-tangga sebagai
      ra'iyah atau pemimpin. "Setiap orang di antara kamu adalah pemimpin,
      dan setiap orang diantara kamu akan diminta pertanggung-jawabannya
      mengenai rakyat yang dipimpinnya; Raja adalah pemimpin; suami adalah
      pemimpin yang memimpin seluruh keluarga; isteri adalah pemimpin
      rumah-tangga, dan setiap orang di antara kamu adalah pemimpin, dan
      akan dimintai pertanggung-jawabannya mengenai rakyat yang
      dipimpinnya". 77


               Jadi mengenai rumah tangga, isteri mempunyai kedudukan sebagai

      pemimpin, dan rumah tangga adalah daerah kekuasaannya. Menurut

      Maulana Muhammad Ali, begitu seorang wanita kawin, ia menduduki

      kedudukan yang tinggi dan memperoleh hak istimewa, tetapi disamping

      itu, ia dibebani tanggung jawab baru. Adapun hak yang diberikan kepada

      isteri oleh suami, itu dikuatkan oleh Hadits yang menerangkan sabda Nabi

      Suci kepada Abdullah bin 'Umar sebagai berikut: "Tubuhmu mempunyai

      hak atas engkau, dan jiwamu mempunyai hak atas engkau, dan isterimu

      mempunyai hak atas engkau". Ini berarti hubungan timbal balik antara

      suami dan isteri.

2. Hubungan Timbal-Balik antara Suami dan Isteri

               Menurut Maulana Muhammad Ali, hubungan timbal-balik antara

      suami dan isteri itu digambarkan oleh Qur'an Suci sebagai jiwa satu dalam

      dua tubuh. Qur'an berfirman sebagai berikut: "Dan diantara tanda-tanda-

 77
      Ibid., hlm. 432.
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     Nya ialah bahwa la menciptidakan jodoh bagi kamu dari jenis kamu

     sendiri agar jiwa kamu menemukan ketenteraman pada mereka, dan

     bahwa la mendatangkan cinta dan kasih diantara kamu" (QS. 30:21). "Dia

     adalah Yang menciptidakan kamu dari jiwa satu, dan menciptidakan

     jodohnya dari jenis yang sama, agar ia menemukan ketenteraman pada

     dia" (QS. 7:189).78

              Pengertian serupa itu digambarkan di tempat lain dalam Qur'an

     Suci dengan kata-kata yang indah sebagai berikut: "Mereka adalah

     pakaian bagi kamu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka (isteri)" seperti

     dalam firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah 187:




     Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur
              dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan
              kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
              bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu
              Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka
              sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah
              ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang
              bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian
              sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu
              campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah

78
     Ibid.,
                                              Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                              http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                      larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.
                      Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada
                      manusia, supaya mereka bertidakwa (QS. Al-Baqarah: 187).79

                    Tidak ada gambaran yang lebih tepat lagi untuk menggambarkan

           eratnya hubungan antara suami dan isteri; namun sekalipun demikian,

           Islam adalah agama yang praktis, yang tidak menutup mata terhadap

           kenyataan hidup yang penuh kesukaran. Islam menggambarkan keluarga

           sebagai suatu unit kecil, dalam unit nasional yang besar. Sebagaimana

           dalam organisasi nasional yang besar ada sebagian orang yang

           mengemudikan pemerintahan, demikian pula dalam organisasi rumah-

           tangga yang kecil, tidak mungkin terpelihara dengan baik tanpa adanya

           peraturan semacam itu. Oleh sebab itu, suami dikatidakan lebih dahulu

           sebagai "pemimpin keluarga", kemudian isteri dikatidakan sebagai

           "pemimpin rumah-tangga". Jadi, keluarga dan rumah-tangga adalah

           kerajaan kecil yang diperintah oleh suami dan isteri. Tetapi untuk

           menghindari agar tidak terjadi kekacauan dalam memerintah, perlu salah

           seorang diberi kekuasaan tertinggi.80

                    Dalam Qur'an diuraikan pemberian kekuasaan tertinggi kepada

           pihak suami dan diberikan pula alasannya, Qur'an berfirman sebagai

           berikut: "Pria adalah yang menanggung pemeliharaan atas wanita, karena

           Allah telah membuat sebagian mereka melebihi sebagian yang lain, dan

           karena mereka membelanjakan sebagian harta kekayaan mereka" (QS.


      79
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Jakarta: Departemen Agama, 1986, hlm. 98.

      80
           Maulana Muhammad Ali , Islamologi, op.cit., hlm. 433.
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           4:34). Kata menanggung pemeliharaan itu bahasa Arabnya qawwamuna,

           jamaknya kata qawwam, berasal dari kata qama, artinya berdiri; tetapi

           apabila kata qama diikuti dengan bi atau 'ala, artinya menjadi memelihara

           atau mengurus. Jadi kata qama bil-yatum artinya memelihara anak yatim,

           dan kata qama 'alaiha artinya memelihara wanita dan mengurus

           perkaranya. Kata qawwamuna mengandung arti ganda. Pertama, berarti

           suami menanggung pemeliharaan isteri, dan kedua, berarti suami memi

           punyai tugas mengurus keluarga; jadi bilamana perlu, suami boleh

           menjalankan kekuasaan atas isteri.81

                  Adapun alasannya mengapa suami diberi kekuasaan yang lebih

           tinggi, ini tersimpul dalam kata qawwamuna itu sendiri, yaitu, bahwa

           suami itulah yang diserahi tugas pemeliharaan keluarga, dengan demikian,

           ia harus memegang kekuasaan lebih tinggi.

                  Menurut Maulana Muhammad Ali, tugas suami dan isteri amatlah

           berlainan, dan masing-masing diserahi tugas yang cocok dengan

           kodratnya. Menurut al-Qur'an bahwa Allah membuat pria dan wanita

           mempunyai kelebihan satu sama lain dalam suatu perkara. Kaum pria

           melebihi kaum wanita dalam hal kekuatan fisik dan resam tubuh, yang

           sanggup memikul pekerjaan yang sukar-sukar, dan menghadapi mara

           bahaya' yang besar. Sebaliknya, kaum wanita melebihi kaum pria dalam

           sifat kasih sayang. Untuk membantu pertumbuhan makhluk, alam telah

           menganugerahkan kepada kaum Hawa atau makhluk betina, tabi'at cinta

      81
        Maulana Muhammad Ali, Qur'an Suci Terjemah dan Tafsir, Jakarta: Darul Kutubil
Islamiyah, hlm. 255.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     yang lebih besar daripada yang diberikan kepada kaum Adam atau

     makhluk jantan. Oleh sebab itu, secara alamiyah telah tercipta pembagian

     kerja antara kaum pria dan kaum wanita, yang masing-masing harus

     melaksanakan tugas pokok guna kemajuan ummat manusia secara

     keseluruhan. Karena kaum pria dianugerahi fisik yang kuat, maka tepat

     sekali jika mereka memikul tugas perjuangan hidup yang penuh

     kesukaran, sedang kaum wanita yang dianugerahi tabi'at kasih sayang

     yang berlebihan-lebihan, tepat sekali diserahi tugas mengasuh anak-anak.

     Maka dari itu, tugas kaum pria ialah menanggung pemeliharaan keluarga,

     sedang tugas kaum wanita ialah mengasuh anak-anak; dan masing-masing

     diberi .kekuasaan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada

     mereka.82

             Peradaban modern akhirnya berpendapat, bahwa kemajuan ummat

     manusia menuntut adanya pembagian kerja, dan bahwa pada umumnya,

     tugas mencari nafkah adalah tugas kaum pria, sedang tugas mengurus

     rumah-tangga dan mengasuh anak-anak adalah tugas kaum wanita. Itulah

     sebabnya mengapa kaum pria disebut qawwamuna'alan-nisa'i atau yang

     menanggung pemeliharaan atas wanita, sedangkan kaum wanita disebut

     pemimpin rumah-tangga".

             Pembagian kerja tersebut di atas hanyalah suatu kelaziman; dan itu

     tidak sekali-kali berarti bahwa kaum wanita dikecualikan dari lain-lain

     kegiatan. Menurut Maulana Muhammad Ali, menilik bunyinya Hadits,


82
     Maulana Muhammad Ali, Islamologi, op.cit, hlm. 433.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




      terang sekali bahwa sekalipun tugas utamanya ialah mengurus rumah-

      tangga, seperti misalnya mengasuh anak-anak dan pekerjaan rumah tangga

      lainnya, namun wanita harus ikut serta dalam segala kegiatan nasional. 83

               Janganlah   sekali-sekali   pekerjaan     mengasuh      anak-anak

      menghalang-halanginya untuk ikut menjalankan salat jama'ah di Masjid,

      dan jangan pula pekerjaan mengasuh anak-anak dijadikan rintangan untuk

      membantu pasukan di garis depan, misalnya mengangkut bahan makanan

      menyingkirkan dari medan pertempuran prajurit yang luka dan gugur atau

      di mana perlu, ikut bertempur sungguh-sungguh. Salah satu isteri Nabi

      suci, Zainab, menyamak kulit binatang, dan hasilnya dijual, guna-

      keperluan sedekah. Wanita juga membantu suami di ladang, melayani

      tamu pria pada waktu mengadakan pesta dan berniaga; mereka dapat

      mengadakan jual beli dengan kaum pria. Seorang wanita ditunjuk oleh

      Khalifah Umar sebagai pengawas pasar Madinah. Tetapi semua itu adalah

      keadaan luar biasa. Adapun lingkungan pekerjaan wanita yang sebenarnya

      ialah mengurus rumah dan mengasuh anak

3. Hak Suami dan Isteri

               Menurut Maulana Muhammad Ali, urusan keluarga harus

      ditangani oleh suami dan isteri secara gotong-royong. Tugas pokok suami

      ialah mencari nafkah guna memelihara keluarga, sedang tugas pokok isteri

      ialah mengurus rumah tangga dan mengasuh anak. Oleh karena itu hak

      masing-masing pihak berkisar di sekitar dua tugas pokok itu. Suami wajib


 83
      Ibid.,
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     mencukupi kebutuhan isteri sesuai kemampuannya, sebagaimana firman

     Tuhan berikut ini: "Hendaklah orang yang kecukupan membelanjakan

     sebagian kekayaannya; dan barangsiapa rezekinya sempit, hendaklah ia

     membelanjakan sebagian dari apa yang diberikan oleh Allah. Allah tidak

     memaksakan suatu jiwa di luar apa yang la berikan kepadanya" (QS. 65:

     7). Suami harus pula memberikan perumahan kepada isteri.84

              Menurut Qur'an "Berilah mereka perumahan di mana kamu tinggal

     sesuai kemampuan kamu" (QS. 65: 6). Isteri wajib menemani suami, dan

     wajib menjaga harta kekayaan suami agar jangan sampai hilang atau

     rusak, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat

     mengganggu ketenteraman keluarga. Isteri jangan menerima tamu siapa

     saja yang sekiranya tidak disukai oleh suami, dan jangan mengeluarkan

     biaya yang sekiranya tidak disetujui oleh suami. Isteri tidak harus

     menangani sendiri pekerjaan-pekerjaan seperti menanak nasi, melainkan

     masing-masing pekerjaan harus dipikul secara gotong-royong oleh suami

     dan isteri. Isteri harus membantu pekerjaan suami, walaupun pekerjaan itu

     berupa pekerjaan kasar di ladang, apabila isteri mampu mengerjakan itu;

     sebaliknya         suami   harus   membantu     pekerjaan    isteri   di   rumah.

     Diriwayatkan bahwa Nabi Suci biasa membantu isteri beliau mengerjakan

     pekerjaan rumah yang kecil-kecil, seperti misalnya memerah susu,




84
     Ibid., hlm. 435.
                                   Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                   http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     menambal      pakaian,   memperbaiki    sepatu,   mencuci     piring,   dan

     sebagainya.85

              Qur'an amat menekankan perlakuan manis dan baik terhadap isteri.

     Kata-kata "pergaulilah mereka dengan baik" dan "perlakukanlah mereka

     dengan baik" adalah amanat yang berulang-ulang dicantumkan dalam

     Qur'an Suci (QS. 2:229, 231; 4:19, dan sebagainya.). Sampai-sampai

     perlakuan baik itu tetap harus dijalankan pada waktu suami tidak

     menyukai isterinya. Qur'an: berfirman sebagai berikut: "Boleh jadi kamu

     membenci sesuatu, sedang Allah! di dalam itu membuat kebaikan yang

     melimpah" (QS. 4:19). Nabi Suci amat menekankan pula perlakuan baik

     terhadap isteri. Nabi Suci bersabda sebagai berikut: "Yang terbaik diantara

     kamu ialah orang yang paling baik perlakuannya terhadap isteri". Hadits

     yang lain berbunyi sebagai berikut: "Terimalah amanatku mengenai

     perlakuan baik terhadap isteri". Dalam khutbah beliau yang termashur,

     pada waktu Hajji Wada beliau menekankan sekali lagi perlakuan baik

     terhadap isteri: "Wahai kaumku! Kamu mempunyai hak atas isteri kamu;

     demikian pula isteri kamu juga mempunyai hak atas kamu ........ Mereka

     adalah amanat Allah yang/dipercayakan kepada kamu. Maka dari itu kamu

     harus memperlakukan mereka dengan baik". Dalam sebuah Hadits yang

     menyuruh berlaku manis terhadap isteri, isteri dimisalkan sebuah tulang

     rusuk: "'Isteri adalah ibarat tulang rusuk; apabila kamu mencoba

     meluruskan itu, maka patahlah itu". Bentuk tulang rusuk itu melengkung,


85
     Ibid.,
                                       Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                       http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     tidak lurus, dan memang itu sudah selaras dengan tujuan terciptanya

     tulang rusuk itu; demikian pula terciptanya kaum wanita yang dikatidakan

     seperti tulang rusuk, inipun sudah selaras dengan tujuan terciptanya kaum

     wanita. Untuk meluruskan kaum wanita, artinya, untuk membuat kaum

     wanita seperti laki-laki, atau membuat mereka mempunyai sifat laki-laki

     yang keras, adalah sama dengan mematahkan dia. Tabi'at kaum pria itu

     dalam hal-hal tertentu berlainan sekali dengan tabi'at kaum wanita. Laki-

     laki adalah keras dan kasar, oleh karena itu, kebanyakan kaum pria adalah

     keras kepala; memang perlu sekali kaum pria mempunyai tabi'at demikian,

     agar ia sanggup menghadapi perjuangan hidup yang sukar. Tetapi kaum

     wanita yang tujuannya untuk mengasuh anak, diciptidakan begitu rupa

     hingga kasih-sayangnya paling menonjol; kaum wanita tidak memiliki

     kekerasan kaum pria; maka dari itu kaum wanita mudah lebih condong ke

     sebelah daripada kaum pria. Oleh sebab itu, kaum wanita diibaratkan

     tulang rusuk. Tabi'at kaum wanita yang melengkung bagaikan tulang

     rusuk itulah yang dijadikan alasan untuk memperlakukan mereka dengan

     manis, dan membiarkan mereka dalam keadaan itu.86

             Menurut Maulana Muhammad Ali, memang benar, bahwa Qur'an

     amat menekankan perlakuan yang manis terhadap isteri, bahkan Qur'an

     mengizinkan kaum wanita berbuat sesukanya, tetapi Qur'an mengizinkan

     kepada suami untuk mengambil tindakan keras manakala isteri melanggar

     susila. Islam amat menjunjung tinggi kesucian wanita; oleh sebab itu


86
     Maulana Muhammad Ali, Qur'an Suci, op.cit., hlm. 256.
                               Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                               http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




manakala terjadi pelanggaran terhadap norma susila yang tinggi, wanita

tidak layak mendapat penghargaan dan perlakuan yang manis, yang

seharusnya diberikan kepadanya.

       Adapun pelanggaran susila yang menurut Qur'an harus diambil

tindakan keras ialah, nusyuz, artinya, pendurhakaan atau pemberontidakan

terhadap suami, yang ini mencakup pula perbuatan menentang suami.

Terang sekali bahwa kata nusyuz mempunyai arti yang luas; oleh karena

itu, Qur'an Suci memberikan tiga macam obat untuk menyembuhkan

perbuatan nusyuz. Qur'an berfirman sebagai berikut: "Adapun wanita yang

kamu khawatirkan lari (nusyuz), berilah mereka nasihat, dan tinggalkanlah

mereka sendirian di tempat tidur, dan hukumlah mereka" (QS. 4:34).

Bilamana nusyuz itu bersifat biasa dan tidak ada sesuatu yang serius,

misalnya seorang isteri menentang kekuasaan suami, maka cukuplah

diobati dengan nasehat. Tetapi jika tentangan terhadap kekuasaan suami

itu dibarengi dengan sikap membenci, maka obatnya agak lebih keras lagi,

yakni, suami diizinkan memperlihatkan kejengkelannya atas kelakuan

isterinya, dengan jalan membiarkan isteri tidur sendirian. Tetapi jika isteri

bertindak melebihi batas lagi, dan melarikan diri dari suami, dan tingkah-

lakunya amat mencurigakan, maka sebagai tindakan terakhir, suami

diizinkan memberi hukuman badan yang ringan, sekedar untuk

memulihkan kesadarannya dan mau pulang ke rumah. Memang banyak

kejadian yang amat memerlukan tindakan keras semacam itu, tetapi semua

itu adalah hal yang luar biasa, yang pada umumnya hanya terbatas pada
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     lapisan masyarakat yang kasar dan rendah, yang hukuman badan yang

     ringan bukan lagi perbuatan tercela, melainkan suatu keharusan.

             Ada sebuah Hadits yang menerangkan bahwa pemberian hukuman

     badan yang ringan diizinkan, manakala tingkah-laku seorang isteri amat

     mencurigakan, seakan-akan isteri itu terang-terangan memberontidak

     terhadap suami. Menurut Maulana Muhammad Ali, dalam kitab Muslim

     terdapat sebuah Hadits yang berbunyi sebagai berikut: "Dan bertaqwalah

     kepada Allah dalam perkara isteri, karena kamu mengambil mereka

     sebagai amanat Allah .......... dan mereka berjanji kepadamu bahwa

     mereka tidak akan mengizinkan masuk di rumahmu siapa saja yang tidak

     kamu sukai. Jika mereka melanggar itu, berilah mereka hukuman badan

     yang ringan yang sekiranya tidak meninggalkan bekas pada tubuh

     mereka"87

             Petunjuk ini diberikan dalam khutbah Hajji Wada', dan ini

     menunjukkan bahwa pemberian hukuman badan yang ringan itu terbatas

     dalam perkara yang luar biasa, di mana tingkah laku isteri amat

     mencurigakan. Hadits yang lain menerangkan, bahwa tingkah laku isteri

     semacam itu, atau pemberian hukuman semacam itu, tidak mungkin

     terjadi di kalangan keluarga yang baik. Pada waktu beberapa orang isteri

     menghadap Nabi Suci dan mengadu tentang perlakuan buruk suami

     mereka, beliau memberi nasehat kepada suami mereka dengan sabdanya

     sebagai berikut : "Banyak isteri yang datang di rumah Muhammad dan


87
     Maulana Muhammad Ali, Islamologi, op.cit, hlm 436.
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     mengadu tentang perlakuan suami mereka; suami yang demikian,

     bukanlah orang yang baik diantara kamu". Kitab Bukhari juga

     menyebutkan sebuah Hadits seperti yang disebutkan dalam kitab Muslim

     tersebut; dibawah bab yang berjudul "Apa yang dibenci dalam

     memberikan hukuman badan kepada isteri", Imam Bukhari meriwayatkan

     sebuah Hadits Nabi' yang berbunyi sebagai berikut: "Janganlah salah

     seorang diantara kamu memberi hukuman badan kepada isteri seperti ia

     memberi hukuman kepada budaknya, karena setelah itu, ia pasti akan

     melakukan hubungan mesra dengan dia".88

              Menurut Maulana Muhammad Ali, di tempat lain, Qur'an

     mengizinkan suami menjalankan kekuasaannya terhadap isteri; namun

     izin itu baru diberikan apabila tingkah-laku isteri terang-terangan

     melanggar susila. Qur'an berfirman sebagai berikut: "Adapun kaum wanita

     diantara kamu    yang   menjalankan perbuatan mesum (fakhisyah),

     panggillah kesaksian terhadap mereka empat orang saksi diantara kamu;

     maka jika mereka memberi kesaksian, kurunglah mereka dalam rumah,

     sampai mereka ditimpa kematian, atau Allah membuka jalan bagi mereka"

     (QS. 4:15). Yang dimaksud "Allah memberi jalan kepada mereka" ialah,

     bahwa mereka secara jujur menyatidakan penyesalan mereka. Adapun

     yang disebut fakhisyah di sini ialah perbuatan melanggar susila, sedang

     hukumannya ialah, mengurung isteri hingga ia kehilangan kebebasan

     untuk bergerak dengan leluasa dalam masyarakat. Jika ayat itu dibaca


88
     Ibid.,
                                   Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                   http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




      bersama dengan ayat 4:34 yang menerangkan pemberian hukuman badan

      kepada isteri, terang sekali bahwa mengurung isteri di rumah adalah

      langkah permulaan; dan apabila isteri mengulangi perbuatan buruknya di

      rumah, atau tidak patuh kepada kekuasaan suami, dan ia lari dari suami,

      maka sebagai tindakan terakhir suami diizinkan memberi hukuman badan.

      Dan apabila langkah itu tidak dapat memperbaiki kelakuannya, maka

      perkawinan dapat diputuskan.89

4. Kawin Mut'ah dan Syighar

      a. Mut'ah

               Menurut Maulana Muhammad Ali, sebelum datang agama Islam,

      di tanah Arab lazim dilakukan perkawinan sementara waktu. Perkawinan

      semacam itu disebut mut'ah, artinya, menikmati sesuatu. Selain kawin

      sementara, ada pula empat macam ikatan yang dilakukan oleh bangsa

      Arab, sebelum Islam.90

               Pertama, ialah ikatan perkawinan yang bukan sementara, yang

      setelah diadakan perbaikan, diambil sebagai peraturan agama Islam.

      Kedua ialah yang disebut istibdla' (berasal dari kata bid'un, artinya

      sebagian atau sebagian besar harta yang cukup untuk melakukan

      perdagangan (R). Berikut ini adalah penjelasan tentang istibdla' yang

      diuraikan dalam kitab Bukhari dan sumber-sumber lain : "Seorang suami

      berkata kepada isterinya. Carilah seorang pria dan tidurlah seranjang

      dengan dia; suami itu memisahkan diri dari isterinya dan tetap tidak mau

 89
      Ibid., hlm. 437.
 90
      Ibid., hlm. 406.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     menjamahnya sampai nampak dengan jelas bahwa ia mengandung".

     Sebenarnya ini adalah suatu cara yang lazim disebut niyoga di kalangan

     sekte agama Hindu, Arya Samaj.

              Cara yang nomor tiga adalah sebagai berikut: sejumlah kaum pria,

     biasanya kurang dari sepuluh, sama-sama meniduri seorang wanita; dan

     setelah wanita itu hamil, dan melahirkan seorang bayi, wanita itu

     memanggil semua pria yang menidurinya, dan mengatidakan kepada

     mereka bahwa bayi itu adalah anaknya si fulan, salah seorang di antara

     mereka; dengan ucapan wanita itu, seorang pria yang ditunjuk, harus

     menerima pertanggungjawaban itu.

              Cara yang nomor empat adalah sebagai berikut : beberapa wanita

     tuna susila ditiduri oleh seorang pria; dan jika salah seorang wanita susila

     itu melahirkan seorang bayi, maka dipanggillah seorang pengenal yang

     disebut qa'if (makna aslinya, orang yang mengenal); dan keputusan qa'if

     yang didasarkan atas persamaan raut mukanya adalah mengikat dan

     menentukan siapakah ayah bayi itu.

              Cara nomor dua sampai nomor empat hanya untuk melegalkan

     perbuatan zina, dan agama Islam tidak dapat mengesahkan itu, dan

     perbuatan semacam itu tidak boleh dilakukan oleh orang Islam, di mana

     saja dan kapan saja.91

              Menurut Maulana Muhammad Ali, mut'ah atau perkawinan

     sementara berpijak di atas macam-macam landasan, dan dalam hal ini


91
     Ibid., hlm. 407.
                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




diadakan perbaikan tahap demi tahap. Baru-baru ini paham mut'ah

menarik perhatian dunia Barat yang sedang mencari pengalaman tentang

perkawinan sementara, untuk mencari jalan keluar bagi undang-undang

Kristen tentang perkawinan yang amat kaku. Akan tetapi Islam menolak

paham mut'ah dalam perkawinan, karena mut'ah membuka jalan untuk

mengadakan hubungan seks secara berandalan, dan berakibat tidak adanya

rasa tanggungjawab bagi sang ayah terhadap perawatan dan pemeliharaan

anak-anak yang dilahirkan, yang jika anak itu tinggal bersama-sama

ibunya, akan terlantar sama sekali. Boleh jadi timbul perpecahan dalam

perkawinan yang bukan sementara, dan peristiwa semacam itu akan tetap

ada selama tabi'at manusia tetap seperti itu, tetapi obatnya bukanlah

mut'ah atau perkawinan sementara, melainkan talaq atau perceraian.

       Jika paham mut'ah dimasukkan dalam undang-undang perkawinan,

perkawinan    akan   kehilangan   kesuciannya,     dan    segala     macam

tanggungjawab yang timbul karena perkawinan, akan dilempar begitu

saja. Menurut Qur'an, bercampurnya dua jenis kelamin baru dianggap sah

apabila mereka mau menerima pertanggungjawaban yang diakibatkan

oleh percampuran itu; sedangkan mut'ah tidak bersesuaian dengan itu.

Bercampurnya      dua    jenis    kelamin     yang       mau       menerima

pertanggungjawaban yang diakibatkan oleh percampuran itu             disebut

ihson (perkawinan), sedang bercampurnya dua jenis kelamin yang tidak
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           mau menerima tanggungjawab disebut safah (pelacuran). Qur'an Suci

           menghalalkan yang pertama, dan mengharamkan yang kedua. 92

                  Menurut Maulana Muhammad Ali, mengenai hal mut'ah, banyak

           terjadi kesimpang-siuran dalam hadits, sebagai berikut:


                                                                                            "




                                                                   93


           Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Salamah bin Sabib dari al-
                   Hasan bin A'yan dari Ma'qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin
                   Abdul Aziz dicerititakan oleh Rabi' bin Sabrah Al-Juhaniy dari
                   ayahnya; sesungguhnya Rasulallah s.a.w. melarang dari nikah
                   mut'ah. Beliau bersabda: "Ketahuilah, bahwa sejak hari ini nikah
                   mut'ah itu hukumnya haram sampai kiamat nanti. Jadi barangsiapa
                   yang pernah memberikan sesuatu, maka janganlah dia ambil
                   kembali. (HR. Muslim).


                  Mula-mula dalam bab itu Imam Bukhari menguraikan sebuah

           Hadits yang menerangkan bahwa sayyidina Ali berkata kepada Ibnu

           'Abbas sebagai berikut: 'Sesungguhnya Nabi Suci melarang mut'ah dan

           makan daging himar piaraan pada waktu perang Khaibar". Selanjutnya

           diriwayatkan, bahwa tatkala Ibnu 'Abbas ditanya, apakah izin menjalankan

           mut'ah itu diberikan sehubungan dengan keadaan sukar dan jumlah wanita

           yang sedikit, ini dijawab oleh Ibnu 'Abbas: Ya". Hadits ketiga


      92
         Ibid.,
      93
         Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahîh Muslim, Juz.
2, Mesir: Tijariah Kubra, tth., hlm. 134.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     menerangkan, bahwa Salmah bin Akwa' berkata sebagai berikut: ' Kami

     berada dalam pasukan tatkala Nabi Suci datang kepada kami dan

     bersabda: Kamu diizinkan menjalankan mut'ah, maka jalankanlah itu".94

     Lalu pada penutup Hadits itu, Imam Bukhari menambahkan kalimat

     sebagai berikut: "Sayyidina Ali menjelaskan, yang penjelasan itu berasal

     dari Nabi Suci, bahwa izin itu dihapus". Imam Abu Dawud meriwayatkan

     dua buah Hadits dari Sabrah. Hadits pertama menerangkan, bahwa Nabi

     Suci melarang mut'ah pada zaman Haji Wada\ tahun 10 Hijriyah. Hadits

     kedua hanya menerangkan tentang dilarangnya mut'ah. Dalam Hadits

     tersebut tidak diuraikan sama sekali tentang diizinkannya mut'ah. Imam

     Muslim meriwayatkan beberapa Hadits yang bertentangan satu sama lain.

     Walaupun pada suatu peristiwa, mut'ah diizinkan, namun akhirnya, mut'ah

     itu dilarang. 95

             Menurut Maulana Muhammad Ali, ditinjau dari uraian berbagai

     Hadits, terang sekali bahwa larangan menjalankan mut'ah dikeluarkan

     dalam berbagai peristiwa. Pertama, pada waktu perang Khaibar,

     berdasarkan riwayat sayyidina Ali. Kedua, pada waktu ibadah Umrah

     yang terkenal dengan Umrah al-Qadla. Ketiga, pada waktu tidakluknya

     kota Makkah. Keempat, pada waktu perang Authas. Kelima, pada waktu

     ekspedisi Tabuk. Keenam, pada waktu Haji Wada\ Peristiwa yang paling

     awal ialah pada waktu perang Khaibar, yang terjadi pada permulaan tahun

     ketujuh Hijriyah. Umrah al-Qadla' juga terjadi sekitar tahun ketujuh

94
     Maulana Muhammad Ali, Islamologi, op.cit, hlm. 416.
95
     Ibid., hlm. 408.
                                   Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                   http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     Hijriyah. Adapun peristiwa yang lain berkisar antara tahun kedelapan,

     kesembilan, dan kesepuluh Hijriyah. Jika mut'ah itu sudah dilarang pada

     waktu perang Khaibar, sebagaimana diuraikan oleh Imam Bukhari atas

     dasar riwayat sayyidina Ali, dan Hadits ini diulang sampai empat kali, dan

     Hadits ini diambil pula oleh Imam Muslim dan lain-lainnya, maka setelah

     peristiwa itu Nabi Suci tidak mungkin mengizinkan mut'ah. Tetapi oleh

     karena ada sebuah Hadits yang menerangkan bahwa mut'ah diizinkan di

     sekitar tahun delapan Hijriyah, maka kemungkinan sekali terjadi kesalah-

     pahaman dalam meriwayatkan Hadits. 96

              Penjelasan sebagian ulama bahwa dilarangnya mut'ah pada zaman

     permulaan hanyalah sekedar keadaan darurat, dan bahwa larangan yang

     sebenarnya dan bersifat menentukan baru diundangkan belakangan, ini

     bukan saja bertentangan dengan akal yang sehat, melainkan bertentangan

     pula dengan jalannya sejarah tentang perbaikan ummat, sebagaimana

     dilaksanakan oleh Islam. Kejahatan yang merajalela di seluruh tanah Arab

     tetap tidak diberantas, sampai Nabi Suci menerima wahyu Ilahi; tetapi

     setelah diadakan perbaikan dan pembangunan dengan wahyu Ilahi, maka

     tidak mungkin Nabi Suci mengizinkan para pengikut beliau menjalankan

     kejahatan lagi. Jadi kemungkinan besar, bahwa Hadits yang menerangkan

     diperbolehkannya mut'ah pada tahun ke delapan Hijriyah itu disebabkan

     karena kekeliruan rawi pertama dan rawi terakhir; atau, apabila Hadits itu

     dianggap sahih, maka Hadits itu harus ditafsirkan bahwa mut'ah adalah


96
     Ibid., hlm. 417.
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     perbuatan yang sudah berurat dan berakar, sehingga Nabi Suci harus

     selalu mengulangi perintahnya, atau bahwa para pengikut beliau tidak

     seketika itu mengundangkan larangan mut'ah itu.97

              Menurut Maulana Muhammad Ali, pendeknya, Hadits yang

     menerangkan bahwa Nabi Suci menyuruh seorang Sahabat untuk

     memberitahukan kepada orang-orang bahwa mut'ah diperbolehkan di

     sekitar tahun delapan Hijriyah pada waktu perang Authas, ini terjadi

     karena kesalahpahaman. Boleh jadi sebagian Sahabat yang hingga saat itu

     belum diberitahu bahwa mut'ah itu dilarang, mereka menerangkan kepada

     kawan-kawan mereka bahwa mut'ah diperbolehkan; tetapi Nabi Suci

     sendiri tidak mungkin berkata demikian setelah beliau melarang itu pada

     waktu perang Khaibar. Walaupun sudah terang bahwa mut'ah itu dilarang

     sejak zaman Nabi Suci, namun ada beberapa orang yang tetap

     menjalankan mut'ah pada zaman Khalifah Umar, sehingga beliau sekali

     lagi mengumumkan bahwa dalam Islam, mut'ah itu dilarang. Dapat

     kiranya ditambahkan di sini, bahwa orang-orang yang menghalalkan

     mut'ah, mereka menganggap bahwa kehalalan itu disebabkan karena

     idthirar (artinya, keadaan terpaksa atau keadaan darurat), sama seperti

     diperbolehkannya makan makanan yang diharamkan pada waktu dalam

     keadaan darurat. Namun sekalipun demikian, mut'ah tetap dilarang, karena

     ini bertentangan dengan Qur'an dan Hadits yang terang benderang. Semua

     mazhab -juga sepakat bahwa mut'ah itu dilarang, terkecuali kaum Syi'ah


97
     Ibid.,
                                   Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                   http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




     Akhbari; namun sekalipun demikian, mereka berpendapat bahwa

     perbuatan itu bukanlah perbuatan yang terpuji.98

     b. Kawin Syighar

              Menurut Maulana Muhammad Ali, pada zaman sebelum Islam,

     bangsa Arab mengenal bentuk perkawinan yang disebut syighar atau

     kawin tukar, yaitu, dua orang besan, yang saling tukar menukar

     mengawinkan anak perempuannya, adik perempuannya, atau anak

     asuhannya, tanpa membayar maskawin berupa apapun. Perkawinan

     semacam itu dilarang oleh Nabi Suci, karena perkawinan semacam itu

     merampas hak kaum wanita untuk menerima maskawin. Ini menunjukkan,

     bahwa maskawin adalah hak mutlak kaum wanita yang tidak boleh

     diganggu gugat oleh apapun; dan maskawin adalah harta milik mempelai

     wanita, bukan hak milik pihak wali. 99




98
     Ibid.,
99
     Ibid., 419.
                                        Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                        http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                       BAB IV


ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI

     TENTANG KONSEP PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF

                           KESETARAAN GENDER



A. Analisis terhadap Pemikiran Maulana Muhammad Ali tentang Konsep

    Pernikahan

            Sebagaimana telah diketengahkan dalam bab tiga skripsi ini tentang

    pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan, maka dalam

    bab empat ini corak pemikirannya hendak di analisis. Untuk itu dalam bab ini

    dicantumkan inti pemikirannya yaitu bahwa menurut Maulana Muhammad

    Ali, baik segi jasmani maupun ruhani, bahwa kedudukan wanita adalah sama

    seperti pria. Semua perbuatan baik pasti akan diganjar, baik dilakukan oleh

    pria maupun oleh wanita.100 Dari segi jasmani, kedudukan kaum wanita

    adalah setarap dengan kedudukan kaum pria. Wanita boleh mencari uang dan

    boleh pula memiliki kekayaan seperti kaum pria, dan di mana perlu, wanita

    oleh bekerja apa saja yang ia sukai. 101

            Menurut Maulana Muhammad Ali, apabila seorang wanita memasuki

    masa perkawinan, ia tak kehilangan haknya yang telah ia miliki sebagai

    anggota masyarakat. la tetap bebas melakukan pekerjaan apa saja, bebas



      100
          Maulana Muhammad Ali, The Religion of Islam, Terj. R. Kaelan dan H.M. Bachrun,
"Islamologi (Dinul Islam) ", Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1977, hlm. 431.
      101
          Ibid.,
                                     Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                     http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




membuat perjanjian, bebas membelanjakan harta miliknya sesukanya; dan ia

tak sekali-kali meleburkan diri dalam suami. 102

           Buku karya Maulana Muhammad Ali yang berjudul The Religion of

Islam ini merupakan salah satu bentuk tanggapan seorang ulama terhadap

beragam perkembangan sosial. Selama ini Maulana Muhammad Ali lebih

dikenal sebagai mantan presiden gerakan Ahmadiyah Lahore. Maulana

Muhammad Ali termasuk seorang penulis yang produktif, dan telah berhasil

melahirkan beberapa buah karya yang sangat penting bagi perkembangan

Islam umumnya dan gerakan Ahmadiyah khususnya. Di antara buah karyanya

yang terpenting adalah 1) The Religion of Islam; 2) A Manual of Hadith.

           Buku Islamologi mengupas berbagai persoalan kehidupan agama

mulai dari masalah akidah/keimanan, syari'ah, usul fiqh yang dikemas dalam

corak ke Islaman. Luasnya paparan dalam buku ini sekaligus membuktikan

banyaknya persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Namun seluas apapun

persoalan itu, agama seperti diuraikan dalam buku tersebut tetap dua unsur

pokok, yaitu akidah, dan syari'ah.

           Adapun yang menarik pada diri Maulana Muhammad Ali, antara lain:

           Pertama, Maulana Muhammad Ali termasuk seorang penulis yang

produktif, dan telah berhasil melahirkan beberapa buah karya yang sangat

penting bagi perkembangan Islam umumnya dan gerakan Ahmadiyah

khususnya. Sehingga beliau menjadi salah seorang tokoh Ahmadiyah. Kedua,

ketika Mirza Gulam Ahmad meninggal dunia pada 1 Desember 1905, ia


 102
       Ibid., hlm. 432.
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




berusaha meneruskan dan mengembangkan gerakan Ahmadiyah di Lahore,

dengan beberapa penyempurnaan dan koreksi seperlunya.

        Hal lain yang menarik dari corak pemikiran Maulana Muhammad Ali

yaitu   konsepnya tentang      pernikahan tampak      mengandung      semangat

kesetaraan gender.

        Menurut pendapat penulis bahwa pemikiran Maulana Muhammad Ali

yang menempatkan suami istri dalam kesetaraan adalah sesuai dengan konsep

perkawinan dalam al-Qur'an dan hadits. Karena perkawinan merupakan fitrah

manusia, dan awal perjanjian antara seorang laki-laki dan perempuan untuk

bersama sama menempuh kehidupan, dengan mendapat pengesahan dari

agama. Maka sesungguhnya perjanjian itu, bukan hanya antar individu yang

terikat dalam tali perkawinan, tetapi juga dengan Allah, yang telah

menurunkan aturan (syariat). Karena dalam akad (perjanjian) pernikahan itu,

dilandasi dengan kesaksian dan pengakuan pada Allah dan Rasul-Nya,

termasuk di dalamnya pengakuan terhadap aturan aturan yang harus

dipatuhinya dalam membangun keluarga.

        Allah mengemukakan tujuan pernikahan itu antara lain agar dapat

hidup tenteram, penuh dengan kasih sayang antara suami istri sebagaimana

tersebut dalam surat Ar Rum:

‫ﯾ ِﮫ ﺧَﻖ ﻜ ﻣ أ ُ ُ و ﺎ ﱢ َ ُﻨ َِ ﮭ وﺟﻌﻞ‬
َ َ َ َ ‫وَﻣِﻦْ آ َﺎﺗ ِ أَنْ َﻠ َ ﻟَ ُﻢ ﱢﻦْ َﻧﻔﺴِﻜﻢْ أَزْ َاﺟً ﻟﺘﺴْﻜ ُﻮا إﻟﯿْ َﺎ‬
          ‫َ ﻚ ﻟ ﯾ ت ﻟ ْم َ ﻜﺮ ن‬                  ‫َ ْ ﻜ ﻣﻮ ﱠة ر َﺔ ن‬
:‫ﺑﯿﻨَ ُﻢ ﱠ َد ً وَ َﺣْﻤ ً إِ ﱠ ﻓِﻲ ذﻟِ َ َﺂ َﺎ ٍ ﱢﻘَﻮ ٍ ﯾﺘَﻔَ ﱠ ُو َ )اﻟﺮوم‬
                                                                         (٢١
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




    Artinya; Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya itu adalah Dia telah

               menciptakan bagi kalian istri-istri dan jenis kalian sendiri, supaya

               kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-

               Nya di antara kalian rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang

               demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang

               yang mengetahui" (QS. Ar-Rum: 21).103



            Terciptanya kasih sayang antara suami istri itu, merupakan bukti

    kebesaran Allah dan manusia diperintahkan untuk merawat dan memelihara

    kasih sayang yang telah diberikan kepadanya, melalui berbagai cara,

    diantaranya: saling membantu dan tolong menolong dalam berbuat kebaikan,

    dan saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat atau

    mungkar. Secara umum Allah memerintahkan sikap saling tolong menolong

    antara laki-laki dan perempuan itu melalui firman-Nya:

         ‫ﺑ ْﺾ َ ﻣﺮ‬              ‫ِﯿ‬        ُ ‫و ﻤ ِﻨ ن و ﻤ ِﻨ ت ْﻀ‬
    َ‫َاﻟْ ُﺆْﻣ ُﻮ َ َاﻟْ ُﺆْﻣ َﺎ ُ ﺑَﻌ ُﮭﻢْ أَوْﻟ َﺎء َﻌ ٍ ﯾﺄْ ُ ُون‬
         ‫ﺑ ﺮ ف َ َ ن ﻦ ﻤ ﻜﺮ َﯾﻘ ﻤ ن ﺼ َة َﯾ ْﺗ‬
    َ‫ِﺎﻟْﻤَﻌْ ُو ِ وﯾﻨْﮭَﻮْ َ ﻋَ ِ اﻟْ ُﻨ َ ِ و ُ ِﯿ ُﻮ َ اﻟ ﱠﻼ َ و ُﺆ ُﻮن‬
      ‫ﺰﻛ ة َﯾﻄ ﻌ ن ّﮫ َﺳ َﮫ أ ﻟ ﻚ َ ﻤ ُﻢ ّﮫ ن ﻠ‬
    َ‫اﻟ ﱠ َﺎ َ و ُ ِﯿ ُﻮ َ اﻟﻠ َ وَر ُﻮﻟ ُ ُوَْـﺌِ َ ﺳﯿَﺮْﺣَ ُﮭ ُ اﻟﻠ ُ إِ ﱠ اﻟّﮫ‬
                                                                  ‫ﺰ ﻜﻢ‬
                                                  (٧١ :‫ﻋَﺰِﯾ ٌ ﺣَ ِﯿ ٌ )اﻟﺘﻮﺑﺔ‬
    Artinya: Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian

               mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka

               menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dan yang munkar,

               mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah

               dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah,

      103
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Jakarta: Departemen Agama 198, hlm. 644.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                  sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS. At

                  Taubah: 71).104

               Agar sikap saling tolong menolong itu terlaksana, maka suami istri

   harus melihat pasangannya sebagai patner yang memiliki harkat dan martabat

   yang sama. Bukan sebagai bawahan dan atasan, yang diperintah dan

   memerintah. Sesungguhnya Allah telah menegaskan tentang kesetaraan umat

   manusia itu dalam surat Al Hujurat:

   ً ‫َﺎ أ ﱡ َﺎ اﻟ ﱠﺎ ُ إﱠﺎ ﺧﻠَﻘﻨَﺎ ُﻢ ﱢﻦ ذَﻛَ ٍ َُﻧﺜَﻰ َﺟَﻌﻠﻨَﺎﻛﻢْ ُ ُﻮﺑ‬
   ‫و َ ْ ُ ﺷﻌ ﺎ‬               ‫ﺮ وأ‬             ‫ﯾ َﯾﮭ ﻨ س ِﻧ َ ْ ﻛ ﻣ‬
   ‫ُ ﻋ ﺪ ﱠﮫ َ ُ ن ﱠﮫ َﻠ ﻢ َﺒ ﺮ‬                              ‫َ َﺒ ﺋﻞ ِ َﻓ ن‬
   ٌ ‫وﻗ َﺎ ِ َ ﻟﺘَﻌَﺎر ُﻮا إِ ﱠ أَﻛْﺮَﻣَﻜﻢْ ِﻨ َ اﻟﻠ ِ أﺗْﻘَﺎﻛﻢْ إِ ﱠ اﻟﻠ َ ﻋِﯿ ٌ ﺧ ِﯿ‬
                                                                (١٣ :‫)اﻟﺤﺠﺮات‬
   Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang

                  laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-

                  bangsa      dan   bersuku-suku   supaya   kamu     saling   mengenal.

                  Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah,

                  ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya

                  Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al Hujurat:

                  13).105



B. Analisis terhadap Pemikiran Maulana Muhammad Ali tentang Konsep

   Pernikahan dalam Perspektif Kesetaraan Gender

   1. Kedudukan Wanita sebagai Isteri

       Menurut Maulana Muhammad Ali,



     104
           Ibid., hlm. 291.
     105
           Ibid., hlm. 847.
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                From a material as well as a spiritual point of view, Islam recognizes

                the position of woman to be the same as that of man. Good works
                bring the same reward, whether to a male or a female: "I will not suffer
                the work of a worker among you to be lost, whether male or female,
                the one of you being from the other" (3 : 194). Paradise and its
                blessings are equally for both: "And whoever does good whether male
                or female, and he (or she) is a believer — these shall enter the Garden''
                (40 : 40; 4:24). Both shall enjoy the higher life: "Whoever does good,
                whether male or female, and is a believar, We shall certainly make him
                (or her)live a good life" (16 : 97).106


                Baik segi jasmani maupun ruhani, Islam mengakui, bahwa kedudukan
                wanita adalah sama seperti pria. Semua perbuatan baik pasti akan
                diganjar, baik dilakukan oleh pria maupun oleh wanita. Dalam al-
                Qur'an ditegaskan: "Aku tidak akan menyia-nyiakan perbuatan orang
                yang beramal diantara kamu, baik pria maupun wanita, sebagian kamu
                dari sebagian yang lain". Surga dan segala kenikmatannya
                diperuntukkan bagi pria dan wanita. Qur'an berfirman sebagai berikut:
                "Dan barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita, sedang ia itu
                mukmin, akan masuk surga". Pria dan wanita, sama-sama akan
                menikmati hidup yang mulia. Qur'an berfirman sebagai berikut:
                "Barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita, sedang ia
                mukmin, Kami akan menghidupi dia dengan hidup yang baik" (QS.
                16:97).

                    Pernyataan Maulana Muhammad Ali menunjukkan bahwa

         kedudukan wanita setara dengan pria. Karena itu Allah SWT akan

         membalas perbuatan yang dilakukan oleh pria maupun wanita. Pendapat

         Maulana Muhammad Ali ini sesuai al-Qur'an surat al-Nahl (QS.16: 97).

         ‫َھﻮ ﻣ ﻦ ََﻨ ْ ِ َ ﱠﮫ َﯿ ة‬           ‫ﻤﻞ ﺻ ﻟ ﺎ ﻣ ﻛﺮ أ‬
         ً ‫ﻣَﻦْ ﻋَ ِ َ َﺎِﺤً ﱢﻦ ذَ َ ٍ أَوْ ُﻧﺜَﻰ و ُ َ ُﺆْﻣِ ٌ ﻓﻠ ُﺤﯿﯿﻨ ُ ﺣ َﺎ‬
                     ‫َﻠ ن‬         ‫َﱢﺒﺔ ََﻨ ﺰ َﻨ ُ أ ﺮھ ِﺄ ْ ﻦ ﻣ ﻛ ﻧ‬
         :‫ﻃﯿ َ ً وﻟ َﺠْ ِﯾﱠﮭﻢْ َﺟْ َ ُﻢ ﺑَﺣﺴَ ِ َﺎ َﺎ ُﻮاْ ﯾَﻌْﻤُﻮ َ )اﻟﻨﺤﻞ‬
                                                                          (٩٧
         Artinya: "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
                  perempuan, dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan
                  berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami juga akan

       106
             Maulana Muhammad Ali, The Religion of Islam, New York: National Publication, hlm.
476.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                   memberikan balasan berupa pahala yang lebih baik daripada
                   yang telah mereka kerjakan".107


                Islam tidak membedakan eksistensi antara laki-laki dan perempuan

        dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, khalifah, dan perjanjian

        primordial dengan Allah. Di samping itu, Islam juga tidak membedakan

        antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan kerja dan

        meraih prestasi yang setinggi-tingginya pada bidang-bidang yang

        dibenarkan Islam, melainkan semua manusia diberikan kesempatan dan

        hak yang sama sehingga antara laki-laki dan perempuan berkompetisi

        secara sehat, tanpa mengabaikan kodrat mereka masing-masing.108

                Pendapat Maulana Muhammad Ali mengisyaratkan bahwa sebagai

        manusia, perempuan memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan

        ibadah sama dengan laki-laki. Perempuan juga diakui memiliki hak dan

        kewajiban untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui peningkatan ilmu

        dan takwa, serta kewajiban untuk melakukan tugas-tugas kemanusiaan

        yang dalam Islam disebut amar ma'ruf nahi munkar menuju terciptanya

        masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera.

                Meskipun secara biologis keduanya: laki-laki dan perempuan

        berbeda sebagaimana dinyatakan juga dalam Al-Qur'an, namun perbedaan

        jasmaniah     itu   tidak   sepatutnya     dijadikan    alasan    untuk    berlaku

        diskriminatif terhadap perempuan. Perbedaan jenis kelamin bukan alasan


      107
           Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Jakarta: Depag RI, 1986, hlm 417
       108
           Hamid Laonso dan Muhammad Jamil, Hukum Islam Alternatif Solusi terhadap Masalah
Fiqh Kontemporer, Jakarta: Restu Ilahi, 2005, hlm.77.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




        untuk mendiskreditkan perempuan dan mengistimewakan laki-laki.

        Perbedaan biologis jangan menjadi pijakan untuk menempatkan

        perempuan pada posisi subordinat dan laki-laki pada posisi superordinat.

        Perbedaan kodrati antara laki-laki dan perempuan seharusnya menuntun

        manusia kepada kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan memiliki

        perbedaan dan dengan bekal perbedaan itu keduanya diharapkan dapat

        saling membantu, saling mengasihi dan saling melengkapi satu sama lain.

        Karena itu, keduanya harus bekerja sama, sehingga terwujud masyarakat

        yang damai menuju kepada kehidupan abadi di akhirat nanti.109

    2. Hubungan Timbal-Balik antara Suami dan Isteri

                Menurut Maulana Muhammad Ali,

            As already stated the mutual relation of husband and wife is described
            in the Qur'an as one of a single soul in two bodies: "And of His signs
            is this, that He created mates for you from yourselves that you might
            find quiet of mind in them, and He put between you love and
            compassion"(30;21); "He it is Who created you from a single soul, and
            of the same did He make his mate, that he might find comfort in her"
            (7 : 189).110

            Hubungan timbal-balik antara suami dan isteri itu digambarkan oleh
            Qur'an Suci sebagai jiwa satu dalam dua tubuh. Qur'an berfirman
            sebagai berikut: "Dan diantara tanda-tanda-Nya ialah bahwa la
            menciptakan jodoh bagi kamu dari jenis kamu sendiri agar jiwa kamu
            menemukan ketenteraman pada mereka, dan bahwa la mendatangkan
            cinta dan kasih diantara kamu" (QS. 30:21). "Dia adalah Yang
            menciptakan kamu dari jiwa satu, dan menciptakan jodohnya dari jenis
            yang sama, agar ia menemukan ketenteraman pada dia" (QS. 7:189).

                Pendapat Maulana Muhammad Ali mengisyaratkan bahwa dalam

        melaksanakan kehidupan di dunia ini, wanita dan pria saling

      109
           Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2004, hlm 6
       110
           Maulana Muhammad Ali, op.cit., hlm. 477.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




        membutuhkan. Tidak akan sempurna hidup wanita tanpa pria, dan tidak

        pula akan sempurna hidup pria tanpa wanita. Tidak akan tenang dan

        bahagia hidup wanita tanpa pria, dan tidak akan tenang dan bahagia hidup

        pria tanpa wanita, itulah sebabnya ada yang dinamakan pernikahan.111

                 Pokok masalah setelah terjadinya suatu perkawinan adalah

        hubungan antara suami dengan istri, terutama yang menyangkut soal hak

        dan kewajiban. Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974

        mengatur hal tersebut dengan merumuskan hubungan tersebut dalam pasal

        30 sampai dengan Pasal 34.112

                 Antara suami istri diberikan hak dan kedudukan yang seimbang

        baik dalam kehidupan rumah tangga maupun pergaulan hidup bersama

        dalam masyarakat. Adanya hak dan kedudukan yang seimbang ini

        dibarengi dengan suatu kewajiban yang sama pula untuk membina dan

        menegakkan rumah tangga yang diharapkan akan menjadi dasar dari

        susunan masyarakat. Dalam pembinaan rumah tangga itu, diperlukan

        saling mencinta, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir

        batin.113

    3. Hak Suami dan Isteri

                 Menurut Maulana Muhammad Ali,

            The family concern must be kept going by husband and wife in mutual
            co-operation. The husband is mainly required to earn for the
            maintenance of the family, and the wife is responsible for the

      111
           A.Mudjab Mahalli, Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya, Yogyakarta: Mitra Pustaka,
2001, hlm. 159.
       112
           Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Bumi aksara, 2002, hlm. 88.
       113
           K.Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982, hlm.
33.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




         management of the household and the bringing up of the children. The
         rights of each against the other are therefore centred in these two
         points. The husband is bound to maintain the wife according to his
         means, as the Qur'an says: "Let him who has abundance spend out of
         his abundance, and whoever has his means of subsistence straitened to
         him, let him spend out of that which Allah has given him. Allah lays
         not on any soul a burden beyond that which He has given it." (65 :
         7).114

         Urusan keluarga harus ditangani oleh suami dan isteri secara gotong-
         royong. Tugas pokok suami ialah mencari nafkah guna memelihara
         keluarga, sedang tugas pokok isteri ialah mengurus rumah tangga dan
         mengasuh anak. Oleh karena itu hak masing-masing pihak berkisar di
         sekitar dua tugas pokok itu. Suami wajib mencukupi kebutuhan isteri
         sesuai kemampuannya, sebagaimana firman Tuhan berikut ini:
         "Hendaklah orang yang kecukupan membelanjakan sebagian
         kekayaannya; dan barangsiapa rezekinya sempit, hendaklah ia
         membelanjakan sebagian dari apa yang diberikan oleh Allah. Allah
         tidak memaksakan suatu jiwa di luar apa yang la berikan kepadanya"
         (QS. 65: 7). Suami harus pula memberikan perumahan kepada isteri.


             Pendapat Maulana Muhammad Ali sesuai dengan Kompilasi

  Hukum Islam. Dalam pasal 77 Kompilasi Hukum Islam (Inpres Nomor 1

  tahun 1991) ditegaskan tentang hak dan kewajiban suami istri:

  (1) Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah
      tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar
      dari susunan masyarakat.
  (2) Suami istri wajib saling mencintai, hormat menghormati, setia dan
      memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.
  (3) Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara
      anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani
      maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya.
  (4) Suami istri wajib memelihara kehormatannya.
  (5) Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat
      mengajukan gugatan kepada Pengadilan agama.

             Pasal 79 Kompilasi hukum Islam menyebutkan kedudukan suami

  istri sebagai berikut:

114
      Maulana Muhammad Ali, op.cit., hlm. 480.
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




        1. Suami adalah kepala keluarga, dan istri ibu rumah tangga.
        2. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan
           suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama
           dalam masyarakat.
        3. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

                 Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

         ‫ﱢﺴ ﻤ َﻀﻞ ّﮫ ْ ُ ﻋﻠ‬                          َ ‫ِﺟ ل ﻮ ﻣ ن‬
        ‫اﻟ ّ َﺎ ُ ﻗَ ﱠا ُﻮ َ ﻋﻠَﻰ اﻟﻨ َﺎء ﺑِ َﺎ ﻓ ﱠ َ اﻟﻠ ُ ﺑَﻌﻀَﮭﻢْ ََﻰ‬  ‫ﺮ‬
                                        ِ ‫ﻮ‬               ‫َﻤ أ ﻘ‬           ْ
                        (٣٤ :‫ﺑَﻌﺾٍ وﺑِ َﺎ َﻧﻔَ ُﻮاْ ﻣِﻦْ أَﻣْ َاﻟِﮭﻢْ )اﻟﻨﺴﺎء‬
        Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
                 karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas
                 sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki)
                 telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka”. (Q.S. an-
                 Nisa/4: 34).115

                 Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa secara fitrah,

        fisiologis dan psikologis, maka prialah yang mempunyai tugas untuk

        memimpin, membela dan melindungi istrinya, karena Allah telah

        membentuk pria itu dengan tubuh yang kuat, otot-otot yang kuat yang

        dapat dipakai untuk berkelahi melindungi keluarganya. Tubuh pria itu

        menggambarkan kekuatan dengan jiwa yang rasionil jauh dari emosionil

        yang didorongkan oleh perasaan yang mudah tersinggung, sebagai yang

        terdapat pada kaum wanita.116

                 Berbicara tentang kedudukan dan peran suami dalam keluarga ini

        mengisyaratkan adanya keterkaitan soal pergaulan keluarga. Pembahasan

        yang berhubungan dengan pergaulan keluarga meliputi sikap, tindakan,

        tingkah laku, sopan santun yang harus dilakukan oleh pihak anggota

        keluarga yang satu terhadap anggota keluarga yang lain dan sebaliknya.

      115
           Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemahnya,
Jakarta: DEPAG RI, 1979, hlm. 123
       116
           Ali Akbar, Merawat Cinta Kasih, Jakarta: Pustaka Antara, 1978, hlm. 34
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




         Semuanya itu merupakan keharusan yang harus dilakukan sesuai dengan

         yang disyari’atkan, seperti kewajiban suami terhadap istri, istri terhadap

         suami, anak terhadap orang tua serta terhadap anggota keluarga yang lain.

                 Dalam Islam kewajiban suami kepada istri di antaranya:

                 Pertama, menggauli istri dengan sopan. 117

            ‫َھ‬             َ ‫ِ ْﺘﻤ ھﻦ‬           َ ‫ﻋ ﺮ ھﻦ ﺑ ﺮ ف‬
         ْ‫وَ َﺎﺷِ ُو ُ ﱠ ِﺎﻟْﻤَﻌْ ُو ِ ﻓﺈِن ﻛَﺮھ ُ ُﻮ ُ ﱠ ﻓَﻌﺴَﻰ أَن ﺗَﻜْﺮ ُﻮا‬
                                             ‫َ َﯾ ﻌﻞ ّﮫ ﻓ َ ا ﻛﺜ‬
                        (١٩ :‫ﺷﯿْﺌﺎً و َﺠْ َ َ اﻟﻠ ُ ِﯿﮫِ ﺧﯿْﺮً َ ِﯿﺮاً )اﻟﻨﺴﺎء‬
         Artinya: “Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila
                  kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena
                  mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah
                  menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (Q.S. an-Nisa/4:
                  19).118

                 Menggauli istri dengan penuh kebaikan dan kesopanan merupakan

         prinsip akhlak dan kewajiban moral yang ditegaskan oleh Rasulullah

         SAW.

                 Kedua, suami wajib menjaga, membina dan mengusahakan

         bertambahnya iman istrinya.119

                 Firman Allah Swt.

         ‫ا َﻗ ُھ ﻨ س‬              ُ ‫ﯾ َﯾﮭ ﻟ ﻦ َﻨ ﻗ أ ُ ُ ََ ﻠ‬
         ُ ‫َﺎ أ ﱡ َﺎ اﱠﺬِﯾ َ آﻣ ُﻮا ُﻮا َﻧﻔﺴَﻜﻢْ وأھِْﯿﻜﻢْ ﻧَﺎرً و ُﻮد َﺎ اﻟ ﱠﺎ‬
           ‫و ﺤ َة ﻋَ ﮭ َﻠ ﺋ َﺔ ِﻠ ظ ﺷﺪ د ﻟ ﯾ ْﺼ َ ﱠﮫ ﻣ ﺮھ‬
         ْ‫َاﻟْ ِﺠَﺎر ُ َﻠﯿْ َﺎ ﻣَﺎ ِﻜ ٌ ﻏَﺎ ٌ ِ َا ٌ َﺎ َﻌ ُﻮن اﻟﻠ َ َﺎ أَﻣَ َ ُﻢ‬
                                                            ‫َ َﻠ ن ﻣ ﯾ ﺮ‬
                                       (٦ :‫وﯾَﻔْﻌُﻮ َ َﺎ ُﺆْﻣَ ُونَ )اﻟﺘﺤﺮﯾﻢ‬
         Artinya: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan
                  keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
                  manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
                  yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang



      117
          Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Ahlaqulkarimah (Suatu Pengantar), Bandung:
CV. Diponegoro, 1996, hlm. 146
      118
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsir Al-Qur’an. op.cit. hlm. 119
      119
          Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqih, jilid II, Yogyakarta: PT.Dana Bhakti Waqaf, 1995, hlm. 123
                                          Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                          http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                   diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
                   yang diperintahkan.” (Q.S. at-Tahrim/66: 6).120

                 Yang diperintah memelihara diri dan keluarganya dalam ayat ini,

        ialah orang tua, terutama suami atau bapak. Memelihara dari api neraka

        ialah mengusahakan agar diri dan keluarga melaksanakan seluruh

        perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-laranganNya terutama

        mempertebal iman di dada dan melaksanakan semua rukun Islam, berbudi

        pekerti atau berakhlak sesuai dengan akhlak yang diajarkan al-Qur’an.121

                 Ketiga, memberi nafkah istri berupa nafkah lahir seperti makan,

        minum, pakaian, perumahan, keperluan-keperluan lainnya dan nafkah

        batin seperti menggaulinya dengan baik, menentramkan jiwanya menurut

        kemampuan suami serta melindungi istri dari segala kesukaran. 122

                 Perkawinan sebagai perbuatan hukum antara suami dan istri,

        bukan saja bermakna untuk merealisasikan ibadah kepadaNya, tetapi

        sekaligus menimbulkan akibat hukum keperdataan di antara keduannya.

        Namun demikian karena tujuan perkawinan yang begitu mulia, yaitu

        membina keluarga bahagia, kekal, abadi berdasarkan ketuhanan Yang

        Maha Esa maka perlu diatur hak dan kewajiban suami dan istri masing-

        masing. Apabila hak dan kewajiban masing-masing suami dan istri




      120
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsir al-Qur’an. op.cit. hlm. 951
      121
          Zakiah Daradjat, op.cit. hlm. 123
      122
          Ramayulis, et al, Pendidikan Islam Dalam Rumah Tangga, Jakarta: Kalam Mulia, 2001,
hlm. 58
                                            Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                            http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           terpenuhi, maka dambaan suami istri dalam bahtera rumah tangganya akan

           dapat terwujud, didasari rasa cinta dan kasih sayang.123

                   Dalam Kompilasi Hukum Islam dikemukakan tentang kewajiban

           seorang istri:

           (1) Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir dan batin
               kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum
               Islam.
           (2) Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-
               hari dengan sebaik-baiknya.


    4. Kawin Mut'ah dan Syighar

           a. Mut'ah

                Menurut Maulana Muhammad Ali,

                A marriage for a fixed period was recognized before Islam. It went
                Under the name of mut'ah, meaning profiting by or enjoying a thing.
                Besides The temporary marriage, four kinds of union of man and
                woman were recognized by the pre-Islamic Arabs (Bu. 67 : 37). . The
                moment the idea of temporariness is introduced into marriage, it loses
                its whole sanctity, and all responsibilities which are consequent on it
                are thrown off.124

                Sebelum datang agama Islam, di tanah Arab lazim dilakukan
                perkawinan sementara waktu. Perkawinan semacam itu disebut
                mut'ah, artinya, menikmati sesuatu. Selain kawin sementara, ada pula
                empat macam ikatan yang dilakukan oleh bangsa Arab, sebelum
                Islam. Jika kawin mut'ah dibolehkan dan dimasukkan dalam undang-
                undang perkawinan, perkawinan akan kehilangan kesuciannya




      123
            Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000,
hlm. 181
      124
            Maulana Muhammad Ali, op.cit., hlm. 449.
                                   Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                   http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              Nikah mut'ah disebut juga dengan nikah sementara atau nikah

      terputus oleh karena laki-laki yang menikahi wanita itu untuk sehari

      atau seminggu atau sebulan saja.125

              Nikah mut'ah atau nikah mu'waqqat atau nikah munqathi

      adalah nikah untuk jangka waktu tertentu. Lamanya bergantung pada

      pemufakatan antara laki-laki dan wanita yang akan melaksanakannya,

      bisa sehari, seminggu, sebulan, dan seterusnya. Para ulama

      menyepakati keharaman nikah mi pada masa sekarang.

              Adapun dalil mereka (ahli sunnah wal jamaah) mengharamkan

      nikah mut'ah itu ialah Hadits Ahad juga yakni:

         ‫ّ ﺪ‬         ْ           ‫ﺪ‬
      ‫ﺣ ّﺛﻨﺎ أﺑﻮ ﺑﻜْﺮ ﺑْﻦ أﺑﻲ ﺷﯿْﺒﺔ ﺣ ّﺛﻨﺎ ﯾﻮﻧﺲ ﺑ ﻦ ﻣﺤﻤ ﺪ ﺣ ّﺛﻨﺎ‬‫ﺪ‬
         ْ                             ‫ﺪ‬            ْ
      ‫ﻋﺒ ﺪ اﻟْﻮاﺣ ﺪ ﺑ ﻦ زﯾ ﺎد ﺣ ّﺛﻨﺎ أﺑ ﻮ ﻋﻤ ﯿْﺲ ﻋ ﻦْ إﯾ ﺎس اﺑ ﻦ‬ْ
        ْ         ‫ﻠ‬                       ّ
      ‫ﺳ ﻠﻤﺔ ﻋ ﻦ أﺑﯿ ﮫ ﻗ ﺎل رﺧ ﺺ رﺳ ﻮل اﷲ ﺻ ّﻰ اﷲ ﻋﻠﯿ ﮫ‬ ْ
                        ّ                                     ‫ﻠ‬
      ‫وﺳّﻢ ﻋ ﺎم أوْﻃ ﺎس ﻓ ﻲ اﻟْﻤﺘْﻌ ﺔ ﺛﻼﺛ ﺎ ﺛ ﻢ ﻧﮭ ﻰ ﻋﻨْﮭ ﺎ )رواه‬
                                                            (‫ﻣﺴﻠﻢ‬       126

      Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Abu Bakr bin Abi
               Syaibah dari Yunus bin Muhamamad dari Abdul Wahid bin
               Ziyad dari Abu Umais dari lyas bin Salamah, dari ayahnya.
               dia berkata: Pada tahun Authas atau tahun peristiwa
               penaklukan kota Makkah, Rasulallah s.a.w. memberikan
               kemurahan melakukan nikah mut'ah selama tiga hari.
               Kemudian beliau melarangnya. (HR. Muslim).

              Kata mut'ah berasal dari kata mata'a yang berarti bersenang-

      senang. Perbedaannya dengan pernikahan biasa, selain adanya

      pembatasan waktu adalah:


125
   Djamaan Nur, Fiqih Munakahat, Semarang: Dina Utama, 1993, hlm. 40.
126
   Imam Muslim, Sahîh Muslim, Tijariah Kubra, Mesir, tth. 223.
Ibid., hlm. 131.
                                       Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                       http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




          a. Tidak saling mewarisi, kecuali kalau disyaratkan

          b. Lafaz ijab yang berbeda.

          c. Tidak ada talak, sebab sehabis kontrak, pernikahan itu putus

          d. Tidak ada nafkah 'iddah. 127

                  Ide tentang mut'ah ini kemungkinan besar ditimbulkan oleh

          hal-hal yang insidentil, yang terjadi pada suatu ketika saja, seperti

          perjalanan jauh. Di wilayah Arab, jarak antara satu dan lain tempat

          berjauhan, terhalang sahara yang panas dan gersang, dan bila

          ditempuh melalui perjalanan darat dengan berjalan kaki atau naik unta,

          membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan,

          belum lagi kalau terjadi halangan.

                  Berdasarkan pertimbangan keadaan, pada awalnya Rasulullah

          SAW. memberikan kelonggaran dengan memberikan dispensasi

          melakukan mut'ah kepada pemuda Islam yang pergi ke medan perang

          untuk membela agama. Di tempat itu mereka jauh dari istrinya.

          Jauhnya jarak dan sulitnya medan dan kendala transportasi

          menyebabkan perjalanan memakan waktu lama. Oleh karena itu,

          mereka diberi dispensasi untuk melakukan nikah sesaat. Setelah

          selesai tugas negara, mereka tidak lagi diperbolehkan melakukan hal

          tersebut.128

  b. Kawin Syighar

          Menurut Maulana Muhammad Ali,

127
      Rahmat Hakim, Hukum Nikah Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2000, hlm. 31
128
      Ibid., hlm. 32.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              Among the pre-Islamic Arabs, shighar was a recognized form of
              marriage, a marriage by exchange, in which one man would give his
              daughter or sister or other ward in exchange for taking in marriage the
              other man's daughter or sister or ward, neither paying the dowry. Such
              a marriage was expressly forbidden by the Prophet because it deprived
              the wom another right of dowry (Bu. 67 : 29); which shows that the
              woman's right of dowry is a right of which the wife cannot be
              deprived under any circumstances, and that it is her property and not
              the property of her guardians.129

              Pada zaman sebelum Islam, bangsa Arab mengenal bentuk perkawinan
              yang disebut syighar atau kawin tukar, yaitu, dua orang besan, yang
              saling tukar menukar mengawinkan anak perempuannya, adik
              perempuannya, atau anak asuhannya, tanpa membayar maskawin
              berupa apapun. Perkawinan semacam itu dilarang oleh Nabi Suci,
              karena perkawinan semacam itu merampas hak kaum wanita untuk
              menerima maskawin. Ini menunjukkan, bahwa maskawin adalah hak
              mutlak kaum wanita yang tidak boleh diganggu gugat oleh apapun;
              dan maskawin adalah harta milik mempelai wanita, bukan hak milik
              pihak wali.


                  Secara etimologi, dalam Kamus al-Munawwir, syigar adalah nikah

       tukar menukar anak perempuan tanpa mahar (ُ ‫ 031.) اﻟ ّ َﺎ‬Sedangkan
                                                 ‫ِﻐ ر‬ ‫ﺸ‬

                                           ‫ِﻐ ر‬ ‫ﺸ‬
       dalam Kamus Arab Indonesia, syigar (ُ ‫اﻟ ّ َﺎ‬                 ) berarti kawin-

       mengawinkan kepada perempuan tanpa mas kawin.131 Menurut Ahmad

       asy-Syarbashi, asal kata syighar di dalam bahasa Arab berarti "anjing

       mengangkat sebelah kakinya untuk kencing". Kata ini juga berarti

       "kosong dan tidak berpenghuni". Sebagai contoh, kata-kata baladun

       syaghirun, yang berarti negeri yang jauh dan tidak berpenghuni. Islam

       menyebut kata di atas (syighar) untuk menunjukkan satu bentuk nikah

     129
           Maulana Muhammad Ali, op.cit., hlm. 463.
     130
           Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hlm. 727.
       131
           Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta: Yayasan Penyelenggara
Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1973, hlm. 199.
                                             Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                             http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




         yang diharamkan dan tidak layak untuk dilakukan.132 Ada riwayat yang

         sahih bahwa Rasulullah saw melarang nikah syigar, artinya pernikahan

         model Jahiliyah. Sebagai contoh seorang laki-laki berkata kepada lelaki

         lain, nikahkan aku dengan putrimu atau siapapun wanita yang ada dalam

         perwalianmu, dan aku akan menikahkan kamu dengan putriku atau

         siapapun wanita yang ada dalam perwalianku, tanpa ada mas kawannya.133

                 Secara terminologi, dalam kitab sahih Bukhari dijumpai rumusan

         kata syigar sebagai berikut:

                 Sabda Rasulullah saw.:

                                                        ‫ﷲ‬        ‫ﺪ‬
         ‫ﺣ ّﺛﻨﺎ ﻋﺒْﺪا ِ ﺑْﻦ ﯾﻮﺳﻒ أﺧْﺒﺮﻧﺎ ﻣﺎﻟﻚ ﻋﻦْ ﻧﺎﻓﻊ ﻋﻦ اﺑْﻦ ﻋﻤ ﺮ‬
                    ‫ﻠ‬        ‫ﻠ ﷲ‬                   ‫ن‬       ‫ﷲ‬
         ‫رﺿﻲ ا ُ ﻋﻨْﮫ أ ّ رﺳﻮل اﷲ ﺻّﻰ ا ُ ﻋﻠﯿْﮫ وﺳّﻢ ﻧﮭ ﻰ ﻋ ﻦ‬
            ‫ْ و‬                     ‫و ﺮ‬                ‫ﺸ‬        ‫ﺸ‬
         ‫اﻟ ّﻐﺎر واﻟ ّﻐﺎر أنْ ﯾ ﺰ ّج اﻟ ّﺟ ﻞ اﺑْﻨﺘ ﮫ ﻋﻠ ﻰ أن ﯾﺰ ّﺟ ﮫ‬
                      (‫اﻟْﺂﺧﺮ اﺑْﻨﺘﮫ ﻟﯿْﺲ ﺑﯿْﻨﮭﻤﺎ ﺻﺪاق )رواه اﻟﺒﺨﺎرى‬
                        134

         Artinya: Telah mengabarkan kepada Kami dari Abdullah bin Yusuf dari
                  Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah
                  saw. melarang nikah syigar. Nikah syigar itu ialah seseorang
                  mengawinkan anak perempuannya dengan syarat orang lain
                  (yang mengawini anaknya tadi) juga mengawinkan anak
                  perempuannya dengannya, di mana antara keduanya tidak
                  terdapat maskawin (mahar) (HR. al-Bukhari).

                 Pengertian nikah syigar dalam hadis di atas tidak jauh berbeda

         dengan rumusan Ibnu Rusyd yang menyatakan bahwa nikah syigar ialah

         apabila seorang lelaki mengawinkan orang perempuan yang di bawah

         kekuasaannya dengan orang lelaki lain bersyaratkan bahwa lelaki lain ini


      132
          Ahmad asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap Tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera Basritama, 1997, hlm.
248
      133
          Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zaadul Ma'ad, Jakarta: Pustaka Azzam, 2004, hlm. 387.
      134
          Imam Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz. III, Beirut: Dar al-Fikr, 1410 H/1990 M, hlm. 260.
                                           Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                           http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




        juga mengawinkan orang perempuan yang di bawah kekuasaannya dengan

        lelaki pertama tanpa ada maskawin pada kedua nikah tersebut.

        Maskawinnya hanya alat vital perempuan tersebut menjadi imbalan bagi

        alat kelamin perempuan lainnya.135 Definisi ini sama juga dengan Sayyid

        Sabiq bahwa yang dimaksud nikah syigar adalah seorang wali

        menikahkan puterinya dengan seorang laki-laki dengan syarat agar laki-

        laki tadi menikahkan puterinya dengan tanpa bayar mahar.136

                 Islam hanya menggunakan istilah nikah syigar untuk bentuk

        pernikahan yang tercela ini. Pernikahan ini disebut nikah syigar karena

        tidak disertai mahar. Dengan begitu, pernikahan ini serupa dengan sebuah

        negeri yang kosong dari penguasa dan bangunan-bangunan. Ada yang

        mengatakan bahwa Islam menamakan pernikahan itu sebagai pernikahan

        syighar karena buruknya, dan serupa dengan buruknya anjing ketika

        mengangkat sebelah kakinya untuk kencing. Pernikahan jenis ini banyak

        dikenal pada masa jahiliyyah sebelum datangnya agama Islam. Ketika

        Islam datang, Rasulullah saw mengharamkan pernikahan jenis ini.

                 Seandainya ada seorang laki-laki yang mengatakan kepada laki-

        laki lainnya, "Nikahkanlah aku dengan anak perempuanmu atau dengan

        saudara perempuanmu, maka sebagai gantinya engkau akan aku nikahkan

        dengan anak perempuanku atau dengan saudara perempuanku," dan

        pernikahan itu dilangsungkan tanpa mahar yang diberikan kepada masing-

        masing perempuan tersebut, maka pernikahan tersebut batal. Dalam
      135
          Ibnu Rusyd, Bidayah al Mujtahid Wa Nihayah al Muqtasid, Juz II, Beirut: Dar Al-Jiil,
1409 H/1989, hlm. 43.
      136
          Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, juz 2, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, tth, hlm. 141.
                                         Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                         http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




  pandangan mayoritas fukaha, akad pernikahan itu sama sekali tidak

  terlaksana. Di dalam pernikahan syigar, wanita tersebut tidak harus anak

  perempuan atau saudara perempuan saja. Imam Nawawi sebagaimana

  dikutip Ahmad asy-Syarbashi mengatakan bahwa para fukaha telah

  sepakat bahwa selain anak perempuan sendiri, maka anak perempuan dari

  saudara laki-laki atau anak perempuan dari saudara perempuan atau

  wanita-wanita yang lain, juga mempunyai hukum yang sama dengan anak

  perempuan atau saudara perempuan sendiri, pada pengharaman nikah

  syigar.137

              Apabila memperhatikan uraian di atas, maka jelaslah bahwa

  pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan dalam

  perspektif kesetaraan gender tidak sama, atau masih dalam tahap

  pembahasan yang mempunyai semangat untuk memposisikan laki-laki

  dan perempuan dalam konsep keadilan gender. Hal ini bisa dilihat dari

  pendapatnya yang berkaitan dengan: 1) kedudukan wanita sebagai isteri;

  2) hubungan timbal balik antara suami isteri; 3) hak suami isteri. Ketiga

  hal ini cenderung memang sesuai dengan syari'at Islam. Berbeda dengan

  masalah nikah mut'ah dan nikah syighar. Meskipun demikian nikah

  mut'ah masih ada pro kontra ulama yang tidak membolehkan nikah

  mut'ah, misalnya jumhur ulama tidak membolehkan nikah mut'ah.

  Sedangkan syi'ah membolehkan nikah mut'ah.




137
      Ahmad asy-Syarbashi, op. cit, hlm. 248.
                                       Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                       http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




              Dalam hubungannya dengan pernikahan perempuan di bawah

  umur Maulana Muhammad Ali menyatakan sebagai berikut:

         It is true that Jurisprudence, following the general law of contracts,
         recognizes, in the case of a marriage contract, the legality of the
         consent of a guardian on behalf of his ward, but there is no case on
         record showing that the marriage of a minor through his or her
         guardian was allowed by the Prophet after details of the law were
         revealed to him at Madinah.138

         Memang benar bahwa oleh karena kitab Fiqih mengikuti undang-
         undang umum tentang perjanjian, maka dalam hal undang-undang
         perkawinan pun kitab fiqih mengakui sahnya perkawinan jika
         mendapat izin seorang wali yang bertindak atas nama anak
         tanggungannya; tetapi tak ada satu hadis pun yang menerangkan,
         bahwa perkawinan anak di bawah umur yang dilakukan dengan
         perantaraan wali itu diperbolehkan oleh Nabi Suci, setelah wahyu
         yang terperinci tentang undang-undang perkawinan diturunkan kepada
         beliau di Madinah.

              Pernyataan Maulana Muhammad Ali menunjukkan bahwa dalam

  pandangannya, tidak diperbolehkan pernikahan anak di bawah umur

  meskipun ada izin dari wali.

              Pasal 7 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 ayat (1) menyatakan

  bahwa "perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur

  19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16

  (enam belas) tahun". Ketentuan batas umur ini, seperti disebutkan dalam

  Kompilasi Hukum Islam pasal 15 ayat (1) didasarkan kepada

  pertimbangan kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan. Ini

  sejalan dengan prinsip yang diletakkan UU Perkawinan, bahwa calon

  suami isteri harus telah masak jiwa raganya, agar dapat mewujudkan

  tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan

138
      Maulana Muhammad Ali, op.cit, hlm. 614 – 615.
                                                 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                                 http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




           mendapat keturunan yang baik dan sehat. Untuk itu harus dicegah adanya

           perkawinan antara calon suami isteri yang masih di bawah umur.139

                       Di samping itu perkawinan mempunyai hubungan dengan masalah

           kependudukan. Ternyata bahwa batas umur yang rendah bagi seorang

           wanita untuk kawin, mengakibatkan laju kelahiran lebih tinggi.

           Berhubung dengan itu, maka undang-undang ini menentukan batas umur

           untuk kawin baik bagi pria maupun wanita (Penjelasan umum UU

           Perkawinan, nomor 4 huruf d).140 Oleh karenya mempelai lelaki dan

           mempelai perempuan, keduanya tidak diperkenankan melakukan akad

           nikahnya manakala umur mereka belum mencapai angka tersebut karena

           dipandang belum dewasa dan tidak cakap bertindak (ghaira ahliyatil

           ada).141

                       Apabila diteliti secara seksama, ajaran Islam tidak pernah

           memberikan batasan yang definitif pada usia berapa seseorang dianggap

           dewasa. Berdasarkan ilmu pengetahuan, memang setiap daerah dan zaman

           memiliki kelainan dengan daerah dan zaman yang lain, yang sangat

           berpengaruh terhadap cepat atau lambatnya usia kedewasaan seseorang.

           Di sisi lain, masalah pernikahan merupakan urusan hubungan antar

           manusia (mu'amalah) yang oleh agama hanya diatur dalam bentuk

           prinsip-prinsip umum. Tidak adanya ketentuan agama tentang batas usia

           minimal dan maksimal untuk menikah dapat dianggap sebagai suatu

         139
               Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997, hlm.
76-77.
      140Ibid
      141
          Achmad Kuzari, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada , 1995,
hlm. 35.
                                       Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                       http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




        rahmat. Maka, kedewasaan untuk menikah termasuk masalah ijtihadiah,

        dalam arti kata diberi kesempatan untuk berijtihad pada usia berapa

        seseorang pantas menikah.142 Hal ini sebagaimana diungkapkan Ahmad

        Rofiq bahwa masalah penentuan umur dalam undang-undang perkawinan

        maupun dalam kompilasi, memang bersifat ijtihadiyah, sebagai usaha

        pembaharuan pemikiran fiqh yang lalu. Namun demikian, apabila dilacak

        referensi syar'inya mempunyai landasan kuat.143




      142
         Helmi Karim dalam Huzaimah T Yanggo dan Hafiz Anshari H.Z. (ed), Problematika
Hukum Islam Kontemporer, Buku Kedua, Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 1996, hlm. 80.
     143
         Ahmad Rofiq, op.cit., hlm. 77.
                                     Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                     http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                                    BAB V

                                PENUTUP



A. Kesimpulan

         Berdasarkan   keterangan      dan   pembahasan      sebagaimana      telah

  dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, kesimpulan yang dapat ditegaskan

  sebagai berikut:

   1. Pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan pada

      prinsipnya sesuai dengan al-Qur'an dan hadis, karena menempatkan laki-

      laki dan wanita dalam kesetaraan. Menurut Maulana Muhammad Ali, baik

      segi jasmani maupun ruhani, bahwa kedudukan wanita adalah sama

      seperti pria. Semua perbuatan baik pasti akan diganjar, baik dilakukan

      oleh pria maupun oleh wanita. Dari segi jasmani, kedudukan kaum wanita

      adalah setaraf dengan kedudukan kaum pria. Wanita boleh mencari uang

      dan boleh pula memiliki kekayaan seperti kaum pria, dan di mana perlu,

      wanita oleh bekerja apa saja yang ia sukai. Menurut Maulana Muhammad

      Ali, apabila seorang wanita memasuki masa perkawinan, ia tak kehilangan

      haknya yang telah ia miliki sebagai anggota masyarakat. la tetap bebas

      melakukan pekerjaan apa saja, bebas membuat perjanjian, bebas

      membelanjakan harta miliknya sesukanya; dan ia tak sekali-kali

      meleburkan diri dalam suami.

   2. Pemikiran Maulana Muhammad Ali terhadap konsep pernikahan dalam

      perspektif kesetaraan jender terdapat pada masalah konsep: 1) kedudukan
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




      wanita sebagai isteri; 2) hubungan timbal balik antara suami isteri; 3) hak

      suami isteri. Ketiga hal ini cenderung memang sesuai dengan syari'at

      Islam. Berbeda dengan masalah nikah mut'ah dan nikah syighar.

      Meskipun demikian, nikah mut'ah masih ada pro kontra ulama yang tidak

      membolehkan nikah mut'ah, misalnya jumhur ulama tidak membolehkan

      nikah mut'ah, sedangkan syi'ah membolehkan nikah mut'ah. Maulana

      Muhammad Ali tidak membolehkan pernikahan di bawah umur karena

      tidak ada satu hadis pun yang menerangkan bolehnya pernikahan di bawah

      umur.



B. Saran-Saran

          Pria dan wanita hendaknya dipandang dalam kesetaraan karena pria

   dan wanita mempunyai hak dan kewajiban yang berimbang. Keduanya

   hendaknya dijadikan sebagai patner mitra dalam semua aktivitas kehidupan.



C. Penutup

          Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, shalawat dan

  salamnya semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad

  SAW. Dengan karunia Allah, penulis telah dapat menyelesaikan tulisan ini,

  dengan diiringi kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa meskipun usaha

  maksimal telah ditempuh, namun antara harapan dengan kenyataan kadang

  tidak bertemu. Kritik dan saran yang bersifat membangun menjadi harapan

  penulis. Alhamdulillah.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                            DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Slamet dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, Jilid I, Bandung: CV Pustaka
       Setia, 1999.

Ahmad, Jamil, Seratus Muslim Terkemuka, Terj. Tim Penerjemah Pustaka
      Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003.

Ali, Maulana Muhammad, The Religion of Islam, Terj. R. Kaelan dan H.M.
      Bachrun, "Islamologi (Dinul Islam) ", Jakarta: PT Ichtiar Baru Van
      Hoeve, 1977.

--------, Qur'an Suci Terjemah dan Tafsir, Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah,

Anshori, Abdul Ghofur, Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia,
       Yogyakarta: Pilar Media, 2006.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT
       Rineka Cipta, 2002.

Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Pernikahan Islam, Yogyakarta: UII Press, 2004.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
       Pustaka, 2004.

Eickelman, Dale F. dan James Piscatori, Ekspresi Politik Muslim, Terj. Rofik
       Suhud, Bandung: Mizan Anggota IKAPI, 1998.

Fakih, Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka
       Pelajar, 2005.

Fuchan, Arief, Agus Maimun, Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh,
       Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Ghafur, Waryono Abdul, Tafsir Sosial Mendialogkan Teks Dengan Konteks,
       Yogyakarta: elSAQ Press, 2005.

Ghazzi, Syekh Muhammad bin Qasim, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-
       lhya at-Kutub al-Arabiah, tth.

Hakim, Rahmat, Hukum Pernikahan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2000.

HAM, Musahadi, Evolusi Konsep Sunnah (Implikasinya pada Perkembangan
     Hukum Islam), Semarang: Aneka Ilmu, 2000.
                                     Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                     http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




Hamid, Zahry, Pokok-Pokok Hukum Pernikahan Islam dan Undang-Undang
       Pernikahan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978.

Haryono, Yudhie R., Bahasa Politik Al-Qur'an, Jakarta: Gugus Press, 2002.

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutik,
       Jakarta: Paramida, 1996.

-------, Kata Pengantar pada buku Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian, LKiS,
         2006.

Khalaf,Abd al-Wahhab, ‘Ilm Usul al-Fiqh, Kuwait: Dar al-Qalam, 1978.

Koto, Alaiddin, Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
       2004.

Kuzari, Achmad, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
        1995.

Laporan Majalah Panji Masyarakat, No. 20, th. IV, 6 September 2000

M. Zein, Satria Effendi, Ushul Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005.

Malibary, Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz, Fath al- Mu’in, Beirut: Dar al-Fikr,
       t.th.

Mernissi, Fatima, Peran Intelektual Kaum Wanita dalam Sejarah Muslim:
       Pemberontakan Wanita, Bandung: Anggota IKAPI, 1999.

Muchtar, Kamal, Ushul Fiqh, Jilid 1, Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1995.

Mughniyah, Muhammad Jawad, al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
      Masykur, Afif Muhammad, Idrus al-Kaff, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta:
      Lentera, 2001.

Mulia, Siti Musdah, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: PT Gramedia Pustaka
       Utama, 2004.

Munawar, Agil Husin, Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Perempuan (Suatu Upaya
     Penafsiran Ulang), Makalah Seminar Overview, LKAJ, Litbang Depag,
     21 Agustus, 2000.

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
     Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997.

Munir, Lili Zakiyah et. all, (Editor), Memposisikan Kodrat Perempuan dan
       Perubahan dalam Perspektif Islam, Bandung: Mizan, 1999.
                                      Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                      http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




Naisaburi, Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi, Sahîh Muslim,
       Juz. 2, Mesir: Tijariah Kubra, tth.

Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada
     University Press, 1991.

Rahman, Fazlur, Tema Pokok Al-Qur'an, (terj). Anas Mahyuddin, Bandung:
      Pustaka, 1983.

Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
       1977.

Rusyd, Ibnu, Bidayat al Mujtahid Wa Nihayat al Muqtasid, juz 2, Beirut: Dar Al-
       Jiil, 1409 H/1989.

Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di
       Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977.

Shiddieqy, TM.Hasbi ash, Koleksi Hadits-Hadits Hukum, Semarang: PT.Pustaka
       Rizki Putra, jilid 8, 2001.

--------, Mutiara Hadits, jilid 5, Semarang: PT.Pustaka Rizki Putra, 2003.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: CV. Rajawali, 1984.

Sosroatmodjo, Arso dan A.Wasit Aulawi, Hukum Pernikahan di Indonesia,
       Jakarta; Bulan Bintang, 1975.

Sukri, Sri Suhandjati, Perempuan Menggugat: Kasus Al-Qur’an dan Realitas
       Masa Kini, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2005.

Suma, Muhammad Amin, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta:
      PT.Raja Grafindo Persada, 2004.

Syaukani, Imam, Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 4, 1973.

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:
      Djambatan, Anggota IKAPI, 1992.

Ulumul Al-Qur'an, No. 5-6, Vol. V, 1994.

Umar, Nasaruddin, Argumen Kesetaraan Gender, Perspektif Al-Qur'an, Jakarta:
      Paramadina, 1999

--------, Perempuan dalam Teks Al-Qur'an, Makalah pada Lokakarya Overview,
         LKAJ, Litbang Depag, 21 Agustus, 2000.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




Usman, Hasan, Metode Penelitian Sejarah, terj. Mu’in Umar, et al, Jakarta:
      Depaq, 1986.

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan
      Terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1986.

Zahrah, Muhammad Abu, Usul al-Fiqh, Cairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1958.
                                    Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                    http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                       DAFTAR RIWAYAT HIDUP


       Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                      : Hikmatul Ulya

Tempat/Tanggal Lahir      : Kudus, 23 Januari 1986

Alamat Asal               : Bukit Beringin Selatan 5/F.88 Semarang

Pendidikan                : - TK Pertiwi Krandon Kudus lulus th 1992

                           - MI Banat Kudus lulus th 1998

                            - MTs Banat Kudus lulus th 2001

                            - MA Banat Kudus lulus th 2004

                            - Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang

                             Angkatan 2004

       Demikianlah daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenarnya untuk

dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.




                                                  Hikmatul Ulya
                                  Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
                                  http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.




                 BIODATA DIRI DAN ORANG TUA


Nama               : Hikmatul Ulya

NIM                : 2104115
Alamat             : Bukit Beringin Selatan 5/F.88 Semarang.

Nama orang tua     : Bapak H. M. Djama'ah dan Ibu Hj. Tri Handayani

Alamat             : Lemah Gunung No. 11 Rt 03 RW II Krandon Kudus

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:2894
posted:3/13/2011
language:Malay
pages:113
Description: http://siji.phpnet.us/index.php/Table/Skripsi/