Docstoc

makalah gizi

Document Sample
makalah gizi Powered By Docstoc
					MAKALAH DIET IBU HAMIL NORMAL, PRE EKLAMSIA,
     HIPEREMESIS GRAVIDARUM, dan ANEMIA




                 DISUSUN OLEH :
                 Linata Wahyuni
                   ( 09100038 )




        PRODI DIII KEPERAWATAN
  STIKES SATRIA BHAKTI NGANJUK
                     2011
                                KATA PENGANTAR



       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Diet Ibu Hamil
pada Hiperemesis, Pre eklamsia dan Eklamsia serta Konstipasi” dengan lancar.

       Maksud dan tujuan kami menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Gizi serta menambah pengetahuan tentang macam–macam diet ibu hamil khususnya
pada ibu hamil dengan hiperemesis, pre eklamsia, anemia, dan normal kepada pembaca. Hal
ini karena banyak yang tidak mengetahui bagaimana cara penanganannya pada ibu hamil
sehingga dapat membahayakan jiwa ibu hamil maupun janin yang di kandungnya. .

       Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kekurangan karena
kurangnya pengetahuan dan terbatasnya referensi yang kami dapatkan, sehingga kami
memerlukan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

       Kami mengharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat pengetahuan bagi
pembaca tentang penyakit menular seksual pada manusia.




                                                                  Nganjuk, Pebruari 2011




                                                                          Penulis

                                            i
                                                             DAFTAR ISI


Kata Pengantar .......................................................................................................................i
Daftar Isi ................................................................................................................................ii
Bab 1. Pendahuluan
Latar Belakang .......................................................................................................................1
Rumusan Masalah ..................................................................................................................2
Tujuan ....................................................................................................................................2
Bab 2. Pembahasan
       2.1 Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Normal ......................................................................3
       2.2 Diet Ibu Hamil dengan Pre Eklamsia .......................................................................11
       2.3 Diet Ibu Hamil dengan Hiperemesis Gravidarum ....................................................15
       2.4 Diet Ibu Hamil dengan Anemia................................................................................19
Bab 3. Penutup
       3.1 Kesimpulan ...............................................................................................................25
       3.2 Saran .........................................................................................................................25
Daftar Pustaka ........................................................................................................................26




                                                                       ii
                                           BAB I

                                     PENDADULUAN

1.1 Latar Belakang
       Kekurangan gizi hingga kini masih menjadi masalah besar bagi dunia ketiga,
   termasuk Indonesia. Masalah gizi menjadi serius sebab akan berdampak pada
   melemahnya daya saing bangsa akibat tingginya angka kesakitan dan kematian, serta
   timbulnya gangguan kecerdasan dan kognitif anak. Golongan yang paling rentan terhadap
   kekurangan gizi adalah ibu hamil, bayi, dan balita. Kecenderungan semakin tingginya
   angka Kekurangan Energi Protein (KEP) pada ibu hamil akan meningkatkan risiko
   kesakitan dan kematian ibu serta ibu yang melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
   Bayi yang lahir dengan berat di bawah normal (2.500 gram) rentan terhadap gangguan
   pertumbuhan dan kecerdasan. Anak yang kekurangan gizi saat lahir atau semasa bayi
   berisiko tinggi terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah, serta diabetes melitus pada
   masa dewasa.
       Risiko kematian akibat kekurangan gizi juga lebih besar, justru dalam usia produktif.
   Pada kehamilan, selain terjadi perubahan fisiologis juga disertai perubahan psikologis.
   Psikologis memegang peranan yang penting dalam timbulnya hiperemesis seperti
   Beberapa dampak lain dari terjadinya kondisi hiperemesis gravidarum pada wanita hamil
   yaitu dapat terjadi perdarahan berupa bercak pada otak, perdarahan sub endokardial pada
   jantung, pucat-degenerasi pada tubuli kontorti ginjal dan kemungkinan adanya hepar pada
   tingkat ringan. Penanganan yang dapat dilakukan pada kondisi tersebut salah satunya
   dengan cara memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu-ibu dan
   pengaturan makanan (diet) yang tepat dengan maksud menghilangkan rasa takut dan
   menghilangkan faktor psikis.
       Selain perdarahan dan infeksi dan kondisi-kondisi non fisiologis, pre-eklampsia dan
   eklampsia juga merupakan penyebab kematian ibu dan perinatal yang tinggi terutama di
   negara berkembang. Kematian karena eklampsia meningkat dengan tajam dibandingkan
   pada tingkat pre-eklampsia berat. Oleh karena itu, menegakkan diagnosis dini pre-
   eklampsia dan mencegah agar jangan berlanjut menjadi eklampsia merupakan tujuan
   pengobatan. Diperkirakan pre-eklampsia terjadi 5% kehamilan, lebih sering ditemukan
   pada kehamilan pertama.


                                                 1
       Juga pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan darah tinggi atau menderita
   penyakit pembuluh darah. Karena itu kejadian kejang ini harus dihindarkan. Maka apabila
   pre eklampsia tidak diobat secara tepat bisa berakibat fatal
1.2 Rumusan Masalah
   Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1 Apakah saja kebutuhan nutrisi ibu hamil normal?
1.2.2 Apakah yang dimaksud dengan pre eklamsia?
1.2.3 Apakah tujuan diet bagi ibu hamil dengan pre eklamsia?
1.2.4 Apakah syarat diet bagi ibu hamil dengan pre eklamsia?
1.2.5 Apakah yang dimaksud dengan hiperemesis gravidarum?
1.2.6 Apakah definisi anemia?


1.3 Rumusan Tujuan
   Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari makalah ini adalah sebagai
   berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi ibu hamil normal
1.3.2 Untuk mengetahui pengertian pre ekkamsia
1.3.3 Untuk mengetahui tujuan diet bagi ibu hamil dengan pre eklamsia
1.3.4 Untuk mengetahui syarat diet bagi ibu hamil dengan pre eklamsia
1.3.5 Untuk mengetahui pengertian hiperemesis gravidarum
1.3.6 Untuk mengetahui pengertian anemia




                                                2
                                            BAB II

                                       PEMBAHASAN

2.1 Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Normal

       Nutrisi dan gizi yang baik sangat dibutuhkan bagi seorang ibu hamil. Karena makanan
yang dikonsumsi ibu bukanlah untuk ibu sendiri tetapi di asup pula oleh sang jabang bayi.
Sehingga seorang ibu hamil wajib memperhatikan kebutuhan gizinya. Berikut adalah
informasi kebutuhan gizi penting selama masa hamil, serta cara memenuhinya.

2.1.1 Menu Yang Dibutuhkan Ibu Hamil

         Ibu hamil perlu makan yang bermutu, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ibu
yang sedang hamil jangan hanya mengikuti selera makan sendiri saja. Mengapa ? Karena,
selera makan ibu belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuh ibu dan anak ibu. Dengan
demikian ibu hamil membutuhkan menu yang seimbang. Menu seimbang adalah menu yang
pas takaran semua zat gizinya yang dibutuhkan tubuh setiap hari. Dalam menu seimbang,
perbandingan antara karbohidrat, protein dan lemak dalam menu harian harus senantiasa
sesuai dengan kebutuhan tubuh.

2.1.2 Makanan Yang Harus Dihindari Ibu Hamil

         Makanan orang modern tidak semuanya aman untuk tubuh. Justru semakin banyak
bahan tambahan makanan yang berbahaya seperti zat warna, pengawet, dan penyedap
makanan, tidak semuanya aman bagi kesehatan dan tidak semua yang aman bagi tubuh aman
juga bagi ibu hamil. Bagi ibu hamil berpengaruh buruk bagi anak yang dikandungnya. Bahan
kimiawi dalam obat pun tidak seluruhnya aman bagi ibu hamil. Sekarang sering menjadi
kabur mana yang sering menjadi kelompok obat dan mana yang termasuk kelompok
makanan. Kita mengenal health food. Jenis makanan ini sering digolongkan sebagai obat juga
: ginseng, masakan "ayam arak" untuk penguat kehamilan, royal jelly, dan sejenisnya banyak
di konsumsi, namun saat ini belum jelas efek buruknya bagi ibu hamil. Diantara bahan
berbahaya, ada juga yang dapat menimbulkan kecacatan anak dalam kandungan. Ibu hamil
yang banyak minum alkohol dapat melahirkan anak yang cacat kepalanya, kecil, mata, wajah,
dan tulang belulangnya tidak normal.

                                                  3
2.1.3 Zat-zat Makanan yang Dibutuhkan Ibu Hamil

 1. Energi
       Berat badan ibu hamil akan bertambah sampai 12,5 kg, tergantung

    berat badan sebelum hamil. Untuk tambahan berat sebanyak itu dibutuhkan sekitar
    80.000 kalori. Dari jumlah tersebut, 36.000 kalori untuk pembakaran tubuh, 44.000
    kalori sisanya untuk pembuatan jaringan baru. Jika rata-rata, ibu hamil membutuhkan
    tambahan 300 kalori / hari atau sekitar 15% lebih dari normal maka tersebut
    membutuhkan 2.800 - 3.000 kalori makanan sehari.

         Setiap gram zat pati atau protein menghasilkan 4 kalori. Sedang dalam setiap
    gram zat lemak memberikan 9 kalori. Namun, untuk memperoleh tambahan 300 kalori,
    tidak boleh diambil dari 75 g nasi yang memang setara 300 kalori. Dalam tambahan
    3000 kalori itu harus ada juga protein, lemak dan zat patinya.

 2. Protein
              Ibu hamil membutuhkan protein lebih banyak dari biasanya, paling sedikit 60
    g/hari. Protein penting untuk pertumbuhan anak. Hampir 70% protein dipakai untuk
    kebutuhan anak yang dikandungnya. Kebutuhan protein hewani lebih besar daripada
    protein nabati. Ikan, daging, susu dan telur perlu lebih banyak dikonsumsi dibanding
    tahu, tempe, dan kacang. Protein bagi ibu hamil digunakan untuk pertumbuhan anak
    yang sangat laju. Protein dipakai untuk membangun badan anak, dimulai dari sebesar
    sel sampai menjadi tubuh seberat 3,5 kg. Bayangkan betapa banyak protein yang
    dipakai dan itu diperoleh dari makanan ibu. Protein juga digunakan untuk membuat ari-
    ari. Jika protein tidak mencukupi, pembentukan ari-ari menjadi tidak lengkap. Padahal
    ari-ari berfungsi untuk menunjang, memelihara, dan menyalurkan makanan bagi anak.
              Bagi ibu hamil protein berguna untuk menambah jaringan tubuh ibu, seperti
    jaringan dalam payudara dan rahim. Diperkirakan, sebanyak 300-500 ml darah akan
    hilang sewaktu melahirka sehingga cadangan darah diperlukan sehabis melahirkan.
    Darah dibuat dari protein juga. Cairan darah ibu bertambah sampai 50% selama
    kehamilan sehingga dibutuhkan protein juga untuk menambah unsur-unsur dalam cairan
    darah, terutama haemoglobin dan plasma darah. Kedua unsur ini penting untuk
    menunjang kehamilan, karena kebutuhan zat asam selama hamil bertambah.
                                                    4
         Kedua unsur darah membantu dalam mengangkut zat asam lebih banyak dan
  meningkatkan aliran darah. Protein digunakan juga untuk pembuatan cairan ketuban.
  Cairan ini merupakan tempat anak berlindung. Cairan ketuban banyak mengandung
  protein.

         Ibu hamil membutuhkan cadangan makanan juga. Untuk itu, dibutuhkan
  tambahan protein. Cadangan itu dipakai untuk persiapan persalinan, masa sehabis
  melahirkan, dan masa menyusui. Protein bagi ibu hamil diperoleh antara lain dari susu,
  telur dan keju sebagai sumber protein terlengkap. Dalam makanan inipun terkandung
  banyak zat kapur, zat besi dan vitamin B. Tambahan protein juga diperoleh dari
  gandum, kacang-kacangan, dan sumber protein nabati lainnya. Memang tubuh kita
  membutuhkan protein hewani lebih banyak daripada protein nabati.

3. Vitamin

        Ada beberapa vitamin yang penting untuk ibu hamil. Asam folat dibutuhkan lebih
  banyak untuk pembuatan sel darah dan ari-ari. Kebutuhannya mencapai dua kali lipat
  dari biasanya. Jika ibu hamil sampai kekurangan vitamin, pembentukan sel-sel tubuh
  anak akan kurang. Anak bisa kurang darah, cacat bawaan, kelainan bentuk, bahkan ibu
  bisa keguguran.

a. Vitamin B6
             Vitamin B6 penting untuk pembuatan asam amino, yaitu bahan protein di
    dalam tubuh. Jika kekurangan vitamin ini, nilai rapor anak yang dilahirkan akan
    rendah (baca : nilai apgar). Anak yang lahir dengan nilai apgar rendah akan buruk
    pula pertumbuhannya. Mungkin otaknya kurang berkembang. Vitamin B juga
    diberikan kepada ibu hamil untuk mengurangi keluhan mual-mual. Beberapa jenis
    obat antimual pada ibu hamil dicampur dengan vitamin ini.
b. Vitamin C
             Vitamin C lebih penting lagi. Jika sampai kekurangan dapat saja timbul
    keracunan kehamilan. Ibu hamil yang kurang vitamin C cenderung mengalami
    ketuban pecah dini. Keadaan ini membahayakan anak, karena bisa terjadi infeksi
    dalam kandungan. Setelah ketuban pecah dapat masuk ke dalam kandungan sehingga
    terjadi infeksi di dalam kandungan dan anak dapat meninggal.
                                               5
c. Vitamin A
             Vitamin A dibutuhkan semua ibu hamil, namun tidak boleh berlebihan. Bila
    berlebihan dapat menimbulkan cacat bawaan. Ibu hamil yang berobat jerawat dengan
    vitamin A asam, cenderung kelebihan vitamin ini. Akibatnya akan terbentuk cacat
    pada tulang muka dan kepala, otak, jantung, serta kelenjar leher. Jadi, ibu hamil
    jangan sampai kelebihan vitamin A. kuning telur, hati dan mentega tergolong
    makanan yang banyak mengandung vitamin A. selain itu, sayur mayur berwarna hijau
    dan buah-buahan berwarna kuning, terutama wortel, cabai hijau, tomat dan nangka
    juga banyak mengandung vitamin ini.
d. Vitamin D
             Berkaitan dengan zat kapur. Vitamin ini dapat menembus ari-ari sehingga
    dapat memasuki tubuh bayi. Jika ibu hami kekurangan vitamin d, anak akan
    kekurangan zat kapur. Pembentukan gigi-geliginya tidak normal. Lapisan luar gigi
    anak
e. Vitamin E
             Kebutuhan vitamin E, cukup dipenuhi dari makanan sehari-hari. Jarang
    sampai terjadi kekurangan vitamin ini. Binatang percobaan yang kekurangan vitamin
    ini mengalami keguguran.
f. Vitamin K
             Vitamin K juga cukup diperoleh dari menuh harian normal. Jarang terjadi
    kekurangan. Jika kekurangan, dapat terjadi gangguan perdarahan pada anak.


4. Mineral
    Mineral terdiri dari:
a. Zat Kapur
             Zat kapur sangat penting karena sangat dibutuhkan anak. Dari 30g zat kapur,
    25 g untuk pembentukan tulang anak, dan 2 g untukmasa menyusui. Setiap hari
    dibutuhkan tambahan 400 mg zat kapur. Ibu yang sudah sering hamil, cenderung
    kekurangan zat kapur. Akibatnya, anak yang dikandung menderita kelainan tulang
    dan gigi-geligi. Sumber zat kapur yang tinggi diperoleh dari semua makanan yang
    berasal dari susu, seperti keju, es krim, dan kue. Zat kapur juga banyak terdapat dalam
    kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau dan makanan laut. Metabolisme zat kapur
    memerlukan vitamin D yang cukup.
                                                   6
              Oleh karena itu, selain kecukupan zat kapur, ibu hamil juga butuh vitamin
    yang memadai.
b. Fosfor
              Mineral ini cukup diperoleh dari makanan sehari-hari. Fosfor
    berhubungan erat dengan zat kapur. Jika jumlahnya tidak seimbang
    di dalam tubuh, timbul gangguan. Paling sering terjadi kram pada tungkai.
c. Zat besi
              Sel darah merah ibu hamil bertambah sampai 30%. Berarti tubuhnya
    memerlukan tambahan zat besi. Setiap hari, ibu hamil membutuhkan 700-800 mg zat
    besi. Jika kekurangan, buruk akibatnya, bisa terjadi perdarahan sehabis melahirkan.
    Mungkin juga terjadi infeksi. Bila kurang darah berarti daya angkut zat asam
    menurun. Sumber makanan berzat besi tinggi diperoleh dari hati. Itu sebabnya, ibu
    hamil perlu banyak makan hati. Pilihan lain diperoleh dari daging, telur, kacang-
    kacangan. Kebutuhan zat besi ibu hamil lebih meningkat pad akehamilan trimester II
    dan III. Pada masa tersebut kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari menu
    harian saja. Walaupun menu hariannya cukup mengandung zat besi, ibu hamil tetap
    perlu tambahan tablet besi atau vitamin yang banyak mengandung zat besi.
              Zat besi bukan saja penting untuk memelihara kehamilan, ibu hamil yang
    kekurangan zat besi dapat terganggu proses persalinannya. Mungkin terjadi
    perdarahan sehabis persalinan. Zat besi juga penting saat menyusui. Zat besi pada
    masa ini banyak dikeluarkan melalui keringat, air seni, dan kulit, selain lewat air susu.
f. Seng
              Mineral ini dibutuhkan dalam jumah yang sangat kecil. Biasanya cukup dari
    makanan sehari-hari. Namun, jika sampai kekuranganpada binatang tikus dapat
    menimbulkan cacat bawaan pada anak yang dikandungnya. Pada manusia hal ini
    belum jelas. Yang jelas seng berkaitan dengan pembentukan tulang-belulang dan
    selubung saraf tulang belakang.
g. Fluor
              Mineral fluor juga tak perlu banyak. Dalam air minum normal cukup
    mengandung fluor. Fluor penting untuk pembentukan gigi- geligi. Jika kekurangan
    gigi tidak terbentuk sempurna. Jika berlebihan, gigi juga tidak normal. Warna dan
    bangunan gigi menjadi abnormal.


                                                    7
   h. Iodium
               Iodium cukup diperoleh dari air minum dan sumber bahan makanan laut. Ibu
       hamil yang kekurangan iodium akan melahirkan anak yang cebol. Jika kekurangannya
       baru terjadi kemudian, pertumbuhan anak akan terhambat. Kekurangan iodium di
       masyarakat ditanggulangi dengan pemberian garam beriodium. Negara akan rugi jika
       anak-anak rakyatnya kekurangan iodium, anak menjadi kurang cerdas. Anak yang
       terlanjur kurang cerdas begini tidak mungkin diperbaiki dengan cara apa pun. Itu
       sebabnya, pencegahan lebih penting artinya. Pemberian garam beriodium pada ibu
       hamil dan bayi di wilayah yang tanahnya kurang unsur iodiumnya. Bayi yang
       kekurangan iodium dapat dideteksi dengan tes khusus untuk mengetahui apakah bayi
       kekurangan hormon gondok.
2.1.4 Menu Seimbang untuk Ibu Hamil
       Sebagai orang normal, ibu hamil juga perlu menu seimbang, yaitu menu yang lengkap
dan sesuai kebutuhan tubuh. Tidak sekedar cukup kalori dan protein. Ibu tak cukup hanya
makan nasi saja. Kebutuhan proteinnya yang 60g/hari itupun tidak hanya dari 60 g tempe
atau tahu. Mengapa? Karena ibu hamil juga butuh protein hewani. Protein hewani diperoleh
dari ikan, daging, dan susu. Sumber kalori tidak hanya dari nasi jagung, sagu, ubi atau roti
saja. Tubuh ibu hamil juga butuh lemak sebagai kalori.

       Jadi, menu seimbang itu terdiri dari 5 bagian zat pati, 3 bagian zat lemak dan 2 bagian
protein. Jika tidak sesuai takarannya maka menu dikatakan tidak seimbang. Orang yang
hanya makan nasi dengan sambal, tidak memenuhi menu seimbang, meskipun makan nasinya
banyak. Dalam hal ini yang terpenuhi hanya kebutuhan kalori ibu, sedangkan kebutuhan
protein dan lemaknya tidak terpenuhi. Ibu hamil membutuhkan sekitar 2.550 kalori setiap
hari. Kalori sebesar itu harus dipenuhi dari menu hariannya. Bukan saja agar tercukupi
kebutuhan kalorinya, tetapi sesuai pula takarannya. Untuk itu mari kita menghitung.

         Ibu hamil paling sedikit membutuhkan 60 g protein. Jumlah kalori 60g protein sama
dengan 60 x 4 kalori, atau 240 kalori. Sedangkan kebutuhan lemak umumnya 20% dari
seluruh kalori (2.550 kalori) atau 510 kalori. Jika 510 kalori ditukar dengan lemak, porsi
lemak, porsi lemak yang perlu ibu hamil makan seharinya kurang lebih sebanyak :

         510 kalori : 9 kaori = 57 g lemak (1 g lemak = 9 kalori),

                                                   8
       Jadi porsi nasi atau karbohidrat makanan pokok lainnya yang perlu ibu hamil makan
menjadi:
2.550 kalori – 240 kalori (protein) – 510 kalori = 1.750 kalori karbohidrat
Atau jika diterjemahkan ke dalam takaran rumah tangga sama dengan
1.750 : 4 kalori = 437,5 g nasi/ubi/kentang/jagung/sagu

           Sekarang tinggal menukar porsi kebutuhan zat gizi tersebut ke dalam takaran
rumahl. Berapa banyak 437,5 g nasi, 60 g protein, dan 57 g lemak itu. Dan, apabila menu ibu
hamil sesuai dengan takaran masing-masing kelompok zat gizi tersebut, berarti menunya
sehat dan seimbang.

2.1.5 Nutrisi Terbaik Bagi Ibu Hamil
       Bagi ibu hamil dalam mengkonsumsi makanan yang harus diperhatikan adalah
vitamin dan mineral karena penting bagi kesehatan dirinya dan janin. Nutrisi yang
dibutuhkan selama kehamilan antara lain :
   1. Protein, sangat besar peranannya dalam memproduksi sel-sel darah
   2. Karbohidrat, dibutuhkan untuk energi tubuh sehari-hari
   3. Kalsium, dimasa kehamilan, kalsium penting untuk membantu
       pertumbuhan si jabang bayi
   4. Asam folik, berdasar beberapa temuan para pakar kesehatan, wanita hamil yang
       kekurangan asam folik besar resikonya mengalami keguguran ataupun kerusakan
       pada janin
   5. Lemak, bagi wanita hamil, lemak besar sekali manfaatnya untuk
       cadangan energi tubuh, agar sebentar-sebentar tubuh tidak terasa lelah


2.1.6 Trend dan Isu

       Pada ibu hamil sangat dibutuhkan tubuh yang sehat dan bugar, diupayakan dengan
makan teratur, cukup istirahat dan olah tubuh sesuai takaran. Dengan tubuh bugar dan sehat,
ibu hamil tetap dapat menjalankan tugas rutin sehari-hari, menurunkan stres akibat rasa
cemas yang dihadapi menjelang persalinan. Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu
hamil adalah senam hamil, disesuaikan dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ
genital, perut kian membesar dan lain-lain.

                                                  9
       Dengan mengikuti senam hamil secara teratur dn intensif, ibu hamil dapat menjaga
kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal.

       Senam hamil adalah adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil,
secara fisik atau mental, pada persalinan cepat, aman dan spontan. Sebelum memulai senam
hamil, lakukan dulu gerakan pemanasan sehingga peredaran darah dalam tubuh akan
meningkat dan oksigen yang diangkut ke otot-otot dan jaringan tubuh bertambah banyak,
serta dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kejang/luka karena telah disiapkan
sebelumnya untuk melakukan gerakan yang lebih aktif. Kapan dianjurkan mengikuti senam
hamil? Jika kandungan mencapai 6 bulan ke atas, lakukan senam hamil, kecuali ada kelainan
tertentu pada kehamilan. Sebelum memutuskan mengikuti senam hamil, diskusikan kondisi
kehamilan dengan dokter atau bidan.

Perempuan mengandung yang mengikuti senam hamil diharapkan dapat menjalani persalinan
dengan lancar, dapat memanfaatkan tenaga dan kemampuan sebaik-baiknya sehingga proses
persalinan normal berlangsung relatif cepat. Bagaimana gerakan
dasar senam hamil? Berikut langkah-langkah yang dapat Anda ikuti
di rumah:

   1. Duduk bersila dan tegak, kedua lengan mengarah ke depan
       dan santai. Lakukan sebanyak mungkin dalam posisi sehari-
       hari
   2. Sikap merangkak, jarak antara kedua tangan sama dengan
       jarak antara kedua bahu. Keempat anggota tubuh tegak lurus
       pada lantai dengan badan sejajar lantai.
       Lakukan gerakan ini: Tundukkan kepala, lihat perut bagian
       bawah dan pinggang diangkat sambil mengempiskan perut
       dan mengerutkan lubang anus. Selanjutnya turunkan
       pinggang dengan mengangkat kepala sambil melemaskan
       otot-otot dinding perut dan otot dasar panggul. Lakukan
       gerakan ini sebanyak 8 kali
   3. Lakukan sikap merangkak dengan meletakkan kepala di antara kedua tangan lalu
       menoleh ke samping kanan/kiri,

                                                  10
       selanjutnya turunkan badan hingga dada menyentuh kasur dengan menggeser siku
       sejauh mungkin ke samping. Bertahanlah pada posisi tersebut selama 1 menit,
       kemudian tingkatkan menjadi 5-10 menit atau sesuai kekuatan ibu hamil

    4. Berbaring miring ke kiri (lebih baik ke arah punggung bayi), lutu kanan diletakkan di
       depan lutut kiri (ganjal dengan bantal). Lengan kanan ditekuk di depan dan lengan kiri
       letakkkan di belakang
    5. Bernaring miring, kedua lutut dan kedua lengan ditekuk, bawah kepala diberi bantal,
       demikian juga bawah perut agar perut tidak menggantung. Tutup mata, tenang, atur
       nafas dengan berirama.
    6. Berbaring telentang, pegang kedua lutut dengan kedua tangan dan rileks. Lakukan
       kegiatan berikut: Buka mulut secukupnya, tarik nafas dalam semaksimal mungkin,
       ketupkan. Mengejanlah seperti buang air besar, gerakan badan ke bawah dan ke
       depan. Setelah tak dapat menahan lelah, kembali ke posisi awal. Ulangi gerakan ini 3-
       4 kali dengan interval 2 menit.

2.2 Diet Ibu Hamil dengan Pre Eklamsia

                Pre eklampsi (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai
       dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang
       terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
       (Manuaba, 1998). Penyebab eklampsi dan pre eklampsi sampai sekarang belum
       diketahui. Tetapi ada teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab eklampsi dan
       pre eklampsi yaitu :

     Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion,
       dan mola hidatidosa.
     Sebab bertambahnya frekuensi yang makin tuanya kehamilan
     Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam
       uterus
     Sebab jarangnya terjadi eklampsi pada kehamilan – kehamilan berikutnya
     Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang
2.2.1 Klasifikasi Pre eklampsia
       Pre eklampsia digolongkan ke dalam Pre eklampsia ringan dan Pre eklampsia berat
                                                11
      dengan gejala dan tanda sebagai berikut:
    a. Pre eklampsia Ringan
       Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6
       jam.
       Tekanan darah diastolic 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6
       jam.
       Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu. Edema umum, kaki, jari
       tangan dan muka.
       Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1 sampai 2 pada urin kateter
       atau urin aliran pertengahan.
    b. Pre eklampsia Berat
          Diagnosa PEB ditegakkan apabila pada kehamilan >20 minggu didapatkan
      satu/lebih gejala/tanda di bawah ini:
      1) Tekanan darah 160/110 mmHg
      2) Protein dalam air kemih dikumpulkan selama 24 jam 5 gr/l atau lebih; atau pada
          pemeriksaan kualitatif protein air kemih menunjukkan hasil positif 3 atau 4
      3) Air kencing sedikit, yaitu kurang dari 400 ml dalam 24 jam
      4) Addanya keluhan sakit kepala, gangguan pengelihatan,serta nyeri ulu hati
      5) Penimbunan cairan di paru – paru yang ditandai dengan sesak nafas

2.2.2 Tujuan Diet

    1) Mencapai dan mempertahankan status gizi normal

    2) Mencapai dan mempertahankan tekanan darah normal

    3) Mencegah atau mengurangi tekanan darah normal

    4) Mencapai keseimbangan nitrogen

    5) Menjaga agar penambahan berat badan tidak melebihi normal

    6) Mengurangi atau mencegah timbulnya faktor risiko lain atau penyulit

2.2.3 Syarat Diet

    Syarat-syarat diet preeklampsia adalah:

                                                 12
a. Energi dan semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat, makanan diberikan secara
    berangsur-angsur, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan
    energi tidak lebih dari 300 kkal dari makanan atau diet sebelum hamil.

b. Garam diberikan rendah sesuai dengan berat-ringannya retensi garam atau air.
    Penambahan berat badan diusahakan di bawah 3 kg/bulan atau di bawah 1 kg/minggu.

c. Protein tinggi (1 ½ g/kg berat badan)

d. Lemak sedang, sebagian lemak berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh
    ganda

e. Vitamin cukup; vitamin C dan B6 diberikan sedikit lebih tinggi

f. Mineral cukup terutama kalsium dan kalium

g. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien

h. Cairan diberikan 2500 ml sehari. Pada keadaan oliguria, cairan dibatasi dan disesuaikan
    dengan cara yang keluar melalui urin, muntah, keringat, dan pernafasan.

2.2.4 Macam diet dan indikasi pemberian

   1). Diet preeklampsia I

            Diet preeclampsia I diberikan pada pasien preeclampsia berat. Diet preeklampsia
      I diberikan sebagai makanan perpindahan dari preeklampsia I atau kepada pasien
      preeklampsia yang penyakitnya tidak begitu berat. Makanan berbentuk saring atau
      lunak dan diberikan sebagai diet rendah garam I. makanan ini cukup energi dan zat
      gizi lainnya.

   2). Diet preeklampsia II

            Diet preeklampsia II diberikan sebagai makanan perpindahan dari preeklampsia
      I atau kepada pasien preeklampsia yang penyakitnya tidak begitu berat. Makanan
      berbentuk saring atau lunak dan diberikan sebagai diet rendah garam I. Makanan ini
      cukup energi dan zat gizi lainnya.

                                                   13
  3). Diet preeklampsia III

           Diet preeklampsia III diberikan sebagai makanan perpindahan dari preeklampsia
     II atau kepada pasien preeklampsia ringan. Makanan ini mengandung protein tinggi
     dan garam rendah, diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini cukup
     semua zat gizi. Jumlah energi harus disesuaikan dengan kenaikan berat badan yang
     boleh lebih dari 1 kg tiap bulan.

2.2.5 Trend dan Isue

        Kurang Tidur, Ibu Hamil Berisiko Pre-eklampsia. Meskipun insomnia pada ibu
    hamil tergolong normal, tetapi sebaiknya tidak dibiarkan menjadi kebiasaan. Pasalnya,
    ibu hamil yang kurang tidur berisiko mengalami pre-eklampsia atau komplikasi dari
    penyakit darah tinggi. Ibu hamil yang tidur kurang dari enam jam pada malam hari pada
    trisemester pertama kehamilan memiliki tekanan darah sistolik 4 mm/Hg lebih tinggi
    ketimbang wanita yang tidur lebih dari 7 jam. Kurangnya waktu tidur juga akan
    menyebabkan risiko terkena pre-eklampsia sembilan kali lebih tinggi.

       "Secara umum, ibu hamil membutuhkan tidur 7-9 jam setiap hari. Kurang dari
    waktu tersebut bisa berdampak pada kesehatannya," kata Michelle Williams, peneliti
    dari Center for Perinatal Studies di Swedish Medical Center, Seattle, Amerika
    Serikat.Penelitian yang dilakukan Williams dan timnya ini melibatkan 1.272 perempuan
    hamil dalam penelitian antara tahun 2003-2006. Semua responden melaporkan gaya
    hidup mereka, termasuk pola tidur.

       Dari hasil penelitian diketahui, durasi tidur tidak banyak berpengaruh pada kondisi
    kehamilan di saat trisemester pertama dan kedua kehamilan. Namun, di trisemester
    terakhir terjadi peningkatan tekanan darah tinggi sekitar 3,72 mm/Hg lebih tinggi pada
    ibu hamil yang tidur kurang dari 6 jam setiap malam. Tekanan darah tinggi pada ibu
    hamil harus diwaspadai karena merupakan gejala pre-eklampsia. Selain hipertensi,
    gejala khas pre-eklampsia adalah pembengkakan anggota tubuh dan adanya protein
    dalam air seni ibu. Pre-eklampsia tidak bisa dianggap ringan karena merupakan
    penyebab kematian kedua terbesar pada kehamilan.

                                                14
2.3 Diet Ibu Hamil dengan Hiperemesis Gravidarum

      Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah pada ibu hamil yang hebat sehingga
menggangu pekerjaan sehari-hari, dan keadaan umum menjadi buruk (Prawirohardjo, 1996).
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor
prodisposisi yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

 a. Faktor adaptasi dan hormonal

        Pada waktu hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi Hiperemesis
   Gravidarum dapat dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil
   dengan anemia, wanita primigravida overdistensi rahim, ganda dan hamil molahidatidosa.
   Sebagian kecil primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan
   koreonik gonadotropin, sedangkan pada hamil ganda dan molahidatidosa jumlah hormon
   yang dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum

 b. Faktor Psikologis

        Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas,
   jelas besar kemungkinan bahwa wanita yang mendadak kehamilan, takut kehilangan
   pekerjaan, keretakan hubungan dengan suami, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu
   dan sebagainya, diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum. Dengan
   perubahan suasana dan masuk rumah sakit penderitanya dapat berkurang sampai
   menghilang.

 c. Faktor Alergi

        Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili karralis yang masuk
   kedalam peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan terjadinya
   hiperemesis gravidarum.

2.3.1 Tingkatan Hiperemesis Gravidarum

     Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut Hiperemesis gravidarum tidak ada
kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah.

                                               15
     Akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai Hiperemesis
gravidarum. Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :

a. Tingkat I

      Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, nafsu makan
  tidak ada, berat badan menurun dengan merasa nyeri pada epigastrium, nadi meningkat
  sekitar 100/menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah kering
  dan mata cekung.

b. Tingkat II

       Penderita tampak lemah dan apatis, turgor kulit mengurang, bibir mengering dan
  tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterik,
  berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan
  konstipasi, aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan karena memounyai aroma yang
  khas dan dapat pula ditemukan di urine.

c. Tingkat III

       Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari samnolen
  sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tekanan darah menurun,
  komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensepalopatiwernikle,
  dengan gejala nestagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat
  sangat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks timbulnya ikterus
  menunjukkan payah hati.

2.3.2 Tujuan Diet

     Tujuan diet hiperemesis adalah untuk:

        1). Mengganti persedian glikogen tubuh untuk mengontrol asidosis.

        2). Secara berangsur memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.

                                             16
2.3.3 Syarat diet

     Syarat-syarat diet hiperemesis adalah:

        1). Karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total.

        2). Lemak rendah

        3). Protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.

        4). Makanan diberikan dalam bentuk kering; pemberian cairan disesuaikan dengan
           keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari.

        5). Makanan mudah cerna, tidak merangsang saluran cerna, dan diberikan sering
           dalam porsi kecil.

        6). Bila makan pagi dan siang sulit diterima, dioptimalkan makan malam dan
           selingan malam.

        7). Makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan
           keadaan dan kebutuhan gizi pasien.

2.3.4 Macam diet dan indikasi pemberian

       Ada tiga macam diet hiperemesis, yaitu diet hiperemesis I, II, dan III

       1). Diet hiperemesis I

                Diet hiperemesis I diberikan kepada pasien dengan heperemesis berat,
           makanan hanya terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau
           rebus, dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan, tetapi 1-2 jam
           sesudahnya semua zat gizi pda makanan ini kurang kecuali vitamin C, sehingga
           hanya diberikan selama beberapa hari.




                                                  17
       2). Diet hiperemesis II

                Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang.

                Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi.
           Minuman tidak diberikan bersama makanan. Pemilihan bahan makanan yang
           tepat pada tahap ini dapat memenuhi kebutuhan gizi, kecuali kebutuhan energi.

       3). Diet hiperemesis III

                Diet hiperemesis III diberikan pada pasien dengan hiperemesis ringan.
           Sesuai dengan kesanggupan pasien, minuman boleh diberikan bersama makanan,
           makanan ini cukup energi dan semua zat gizi.

2.3.5 Trend dan Isue

          Mual muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada
     kehamilan muda, terutama ditemukan pada pada primigravida, kehamilan ganda, dan
     mola hidatidosa. Hiperemesis berarti suatu keadaan dimana pasien hamil muda
     mengalami mual-muntah yang berlebihan sehingga mengganggu pekerjaan si ibu
     sehari-hari.

          Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasi dengan populasi ibu
     post partum di Rumah Sakit Bersalin Fauziah Tulungagung yang mempunyai bayi
     dengan berat badan lahir rendah dan mempunyai riwayat hiperemesis gravidarum.
     Sedangkan metode analisa data menggunakan metode data kualitatif.
     Dari hasil analisa data dan interpretasi data yang dilakukan pada variabel tingkat
     hiperemesis gravidarum ibu post partum di Rumah Sakit Bersalin Fauziah Tulungagung
     terhadap berat badan bayi lahir rendah didapatkan rata-rata prosentase 50% yang masuk
     dalam kategori hiperemesis dan 50% mempunyai bayi dengan berat badan lahir
     rendah.Prosentase yang didapat banyak dipengaruhi oleh faktor hiperemesis
     gravidarum.




                                                   18
           Diharapkan dari hasil penelitian ini masyarakat terutama ibu post partum
     mengetahui masalah-masalah yang ditimbulkan atau dampak dari BBLR dan hendaknya
     dapat mengetahui masalah-masalah mereka serta memeriksakan diri sedini mungkin
     bila terjadi masalah atau rutin control atau periksa kehamilan, sehingga masalah segera
     dapat diatasi.

2.4 Diet Ibu Hamil dengan Anemia

   Anemia pada wanita tidak hamil didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin yang
kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau masa nifas. Konsentrasi
hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan, pada awal kehamilan dan kembali
menjelang aterm, kadar hemoglobin pada sebagian besar wanita sehat yang memiliki
cadangan besi adalah 11g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers for disease control
(1990) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester
pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Suheimi, 2007).

2.4.1 Definisi Anemia

         Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi
   dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang
   ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum
   (Serum Iron = SI) dan jenuh transferin menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron
   Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta
   ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali.

         Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara
   lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi
   diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti
   pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit.

Pembagian anemia dalam kehamilan
1. Anemia defisiensi besi




                                                  19
          Terjadi sekitar 62,3 % pada kehamilan. Merupakan anemia yang paling sering
 dijumpaipada kehamilan. Hal ini disebabkan oleh kurang masuknya unsure besi dan
 makanan, karena gangguan resorpsi, ganguan penggunaan atau karena terlampaui
 banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. Keperluan besi bertambah
 dalam kehamilan terutama pada trimester terakhir. Keperluan zat besi untuk wanita tidak
 hamil 12 mg, wanita hamil 17 mg dan wanita menyusui 17 mg.

Tanda dan gejala:
       Memiliki rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis,rata, dan
        mudah patah
       Lidah tampak pucat, licin dan mengkilat, berwarna merah daging,
        stomatitis angularis, pecah-pecah disertai kemerahan dan nyeri sudut mulut
Ciri-ciri anemia defisiensi besi
         mikrositosis
         hipokromasia
         anemia ringan tidak selalu menimbulkan ciri khas bahkan banyak yang
         bersifat normositer dan normokrom
         kadar besi serum rendah
         daya ikat besi serum meningkat
         protoporfirin meningkat
         tidak dtemukan hemosiderin dalam sumsum tulang.
2. Anemia megaloblastik
          Terjadi pada sekitar 29 % pada kehamilan. disebabkan oleh defisiensi asam folat,
    jarang sekali karena defisensi vitamin B12. Hal itu erat hubungannya dengan defisensi
    makanan.
    Gejala-gejalanya:
         Malnutrisi
         Glositis berat(Lidah meradang, nyeri)
         Diare
         Kehilangan nafsu makan
    Ciri-ciri anemia megaloblastik
         megaloblast
                                                   20
       promegaloblast dalam darah atau sumsum tulang
       anemia makrositer dan hipokrom dijumpai bila anemianya sudah berat. Hal itu
        disebabkan oleh defisiensi asam folat sering berdampingan ndenagn defisiensi besi
        dalam kehamilan
3. Anemia hipoplasti

            Terjadi pada sekitar 8 % kehamilan. Disebabkan oleh sumsum tulang kurang mampu
   membuat sel-sel darah baru. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan belum
   diketahui dengan pasti. Biasanya anemia hipoplstik karena kehamilan, apabila wanita tsb
   telah selesai masa nifas akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan berikutnya
   biasanya wanita mengalami anemia hipoplastik lagi.

Ciri-ciri
       pada darah tepi terdapat gambaran normositer dan normokrom, tidak
        ditemukan ciri-ciri defisiensi besi, asam folat atau vitamin B12.
       Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia eritropoesis yang
        nyata
4. Anemia hemolitik

            Terjadi pada sekitar 0,7 % kehamilan. Disebabkan oleh pengancuran sel darah merah
   berlangsung lebih cepat daripada pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar
   menjadi hamil, apabila hamil maka biasanya anemia menjadi berat. Sebaliknya mungkin
   pula kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnay tidak
   menderita anemia. Anemia hemolitk dibagi menjadi 2 golongan besar:

    1. disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler seperti thalassaemia, anemia sel sabit,
        sferositosis, eliptositosis, dll.
    2. disebabkan olehfaktor ekstrakorpuskuler seperti defisiensi G-6 Fosfat
        dehidrogenase, leukemia, limfosarkoma, penyakit hati dll.
Gejala proses hemolitik
       anemia
       hemoglobinemia
       hemoglobinuria


                                                   21
      hiperbilirubinuria
      hiperurobilirubinuria
      kadar sterkobilin dalam feses tinggi, dll

Klasifikasi anemia yang lain adalah :
a. Hb 11 gr% : Tidak anemia
b. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
c. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang
d. Hb < 7 gr% : Anemia berat

2.4.2 Tips Pencegahan dan Perawatan Ibu Hamil dengan Anemia

    Kondisi anemia adalah suatu kondisi yang mudah dikendalikan dan diperbaiki bila
penyebabnya adalah kekurangan nutrisi atau bahan baku pembentukan hemoglobin. Bila
kondisi anemia yang terjadi pada ibu adalah akibat perdarahan, penyakit darah atau kelainan
tubuh lainnya, maka kondisi anemia membutuhkan perhatian lebih lanjut dan advis dokter.
Berikut ini ada beberapa tips hal yang dapat ibu lakukan untuk menghindari, mengurangi dan
menghadapi kondisi anemia.

1. Tentukan Apakah ibu mengalami Kondisi Anemia atau tidak

   a. Ibu dapat mengetahuinya dengan cara memperhatikan petunjuk penting dalam
       dirinya. Bila ibu merasa lebih cepat lelah, letih, lesu, tidak bergairah dan mudah
       pusing atau pingsan, maka hal ini dapat menjadi tanda kondisi anemia. Untuk
       memastikannya ibu dapat melakukan pemeriksaan sederhana berikut ini.
   b. Berdirilah di depan cermin dan tarik kelopak mata bagian bawah. Perhatikan tingkat
       warna kemerahan kelopak mata tersebut. Bila pucat atau merah muda maka
       kemungkinan anda mengalami anemia.
   c. Bandingkan telapak tangan ibu dengan telapak tangan suami atau orang lain yang
       dianggap normal. Bila telapak tangan tampak lebih putih atau lebih pucat maka
       mungkin anda sedang dalam kondisi anemia.
   d. Julurkan dan perhatikan warna lidah anda. Bila tepi lidah anda menjadi lebih pucat
       dari warna permukaan dalam pipi maka kondisi anemia mungkin telah terjadi.


                                                   22
   e. Untuk memastikan kondisi anemia ini, ibu dapat memeriksakan darah untuk kadar
       hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah. Bila hemoglobin kurang dari
       10gr% maka sebaiknya ibu segera pergi ke dokter untuk memeriksakan diri.
2. Perbaikan diet/pola makan
        Penyebab anemia terbanyak pada ibu hamil adalah diet yang buruk. Perbaikan pola
   makan dan kebiasaan makan yang sehat dan baik selama kehamilan akan membantu ibu
   untuk mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sehingga dapat mencegah dan mengurani
   kondisi anemia.
3. Konsumsilah bahan kaya protein, zat besi dan Asam folat
       Bahan kaya protein dapat diperoleh dari hewan maupun tanaman. Daging, hati, dan
   telur adalah sumber protein yang baik bagi tubuh. Hati juga banyak mengandung zat besi,
   vitamin A dan berbagai mineral lainnya. Kacang-kacangan, gandum/beras yang masih
   ada kulit arinya, beras merah, dan sereal merupakan bahan tanaman yang kaya protein
   nabati dan kandungan asam folat atau vitamin B lainnya. Sayuran hijau, bayam,
   kangkung, jeruk dan berbagai buah-buahan kaya akan mineral baik zat besi maupun zat
   lain yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah dan hemoglobin.
4. Batasi penggunaan antasida
      Antasida atau obat maag yang berfungsi menetralkan asam lambung ini umumnya
   mengandung mineral, atau logam lain yang dapat menganggu penyerapan zat besi dalam
   tubuh. Oleh karena itu batasi penggunaannya dan gunakan sesuai aturan pemakaian.
5. Ikuti saran dokter
       Beberapa penyebab kondisi anemia adalah penyakit serius tertentu. Oleh karena itu
   jangan meremehkan kondisi anemia yang anda hadapi. Konsultasikan lebih lanjut kondisi
   yang anda hadapi dan ikutilah nasehat dokter anda.


2.4.3 Macam – macam Diet

   1. Makan bahan makanan sumber FE : hati, daging, kuning telur, udang, serealia,
       kacang-kacangan & sayuran hijau.
   2. Bila sumber FE dari tumbuhan, diiringi dengan mengkonsumsi vitamin C
       Penggunaan tablet besi sesuai dengan anjuran dokter atau bidan




                                               23
   3. FE diinum kurang lebih 2 jam sebelum atau sesudah makan dengan cukup cairan atau
       jus jeruk
   4. Hindari minum FE dengan susu atau teh

2.4.4 Trend dan Isu

     Anemia Penyebab Angka Kematian Ibu Masih Tinggi. Deputi Menko Kesra Bidang
Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak, Maswita Djaja, menilai,
tingginya angka penyakit anemia pada perempuan sebagai penyebab besarnya Angka
Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. "Angka kematian ibu di Indonesia mencapai 307 per 100
ribu kelahiran hidup dan merupakan tertinggi di Asia Tenggara. Salah satu penyebab AKI
yang dominan adalah anemia," katanya, di Palangkaraya belum lama ini. Maswita menilai,
banyaknya kasus anemia membuat kondisi kesehatan perempuan Indonesia masih sangat
rendah, selain banyak pula perempuan yang menderita kekurangan energi kronis (KEK).
"Semua itu berpengaruh terhadap angka kematian ibu karena hamil dan melahirkan," ucap
mantan Kepala BKKBN Kota Depok, Jawa Barat ini.
     Menurut dia, tingginya AKI bukan hanya masalah medis dan kesehatan tetapi sangat
kental dengan masalah ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonimian perempuan serta
rendahnya perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan. "Oleh karena itu,
pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu dirubah secara sosio
kultural, yaitu agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat," tegasnya.Ia juga
menekankan, perlunya upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh pemerintah,
swasta, maupun masyarakat terutama suami. Kendati status perempuan sangat mulia dan tak
tergantikan, katanya, namun kesejahteraan perempuan sampai saat ini belum seperti yang
diharapkan bersama.




                                             24
                                         BAB III

                                       PENUTUP

3.1 Kesimpulan

   1. Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh ibu. Perubahan-perubahan itu
      untuk menyesuaikan tubuh ibu pada keadaan kehamilannya.
   2. Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah pada ibu hamil yang hebat sehingga
      menggangu pekerjaan sehari-hari, dan keadaan umum menjadi buruk.
   3. Tujuan diet hiperemesis gravidarum adalah mengganti persedian glikogen tubuh
      untuk mengontrol asidosis dan memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang
      cukup.

   4. Pre eklampsi (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan
      proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi
      pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.

   5. Tujuan diet preeklampsia adalah mencapai dan mempertahankan status gizi normal,
      mencapai dan mempertahankan tekanan darah normal, mencegah atau mengurangi
      tekanan darah normal, mencapai keseimbangan nitrogen, menjaga agar penambahan
      berat badan tidak melebihi normal, mengurangi atau mencegah timbulnya faktor
      risiko lain atau penyulit baru pada saat kehamilan atau setelah melahirkan.

3.2 Saran

   1. Diharapkan bagi petugas kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan berupa
      penyuluhan bagi ibu hamil mengenai dampak yang dapat terjadi dari komplikasi pada
      masa kehamilan.

   2. Bagi ibu hamil agar rajin dan memeriksakan kehamilannya secara rutin (setidaknya 1
      kali setiap bulannya) dengan harapan dapat mengurangi risiko komplikasi pada
      kehamilan

   3. Ibu hamil sebaiknya selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi selama kehamilanya
      agar terhindar dari bahaya komplikasi kehamilan.

   4. Sebaiknya ibu hamil segera menghubungi tenaga kesehatan terdekat jika terjadi tanda-
      tanda komplikasi kehamilan agar dapat segera memperoleh penanganan.

                                                25
                                      DAFTAR PUSTAKA



Mansjoer, A, dkk, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jakarta : Penerbit Media
Aesculapius FKUI.
http://sely-biru.blogspot.com/2010/08/laporan-pendahuluan-askep-hiperemesis.html, diakses
tanggal 16 Pebruari 2011


Taber, B, (1994), Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, cetakan 1 Jakarta :
EGC.


Bobak, Irene, M, (1995), Perawatan Maternitas dan Ginekologi, cetakan 2, IAPKP,
Bandung.


Hamilton, P, M, (1995), Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, cetakan 1, Jakarta :
EGC.




                                             26

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: linata
Stats:
views:10191
posted:3/13/2011
language:Indonesian
pages:29