hukum bersunat

Document Sample
hukum bersunat Powered By Docstoc
					18. Apa hukumnya bersunat ?
a. Sunat itu wajib (Kejadian 17:10-14, 17:14, Kejadian 21:4). Yesus tidak membatalkan sunat,
(Matius 5: 17-20, Lirkas 2:21). Yesus juga disunat (lukas 2: 21). Dan orang yang tidak disunat,
tidak dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul IS: 1-2).
b. Kata Paulus, sunat tidak wajib, tidak berguna dan tidak penting (Galatia 5:6, I Korintus 7:18-
19).


JAWAB 1:


Yesus memang disunat karena Dia dalah bangsa Yahudi secara daging, sedangkan Kisah Para
Rasul 15:1-2 bukanlah ajaran para rasul melainkan hasutan sebagian kalangan Yahudi agar orang
Kristen non-Yahudi juga harus disunat.

Praktek sunat yang sudah lebih dahulu terdapat di antara bangsa-bangsa lain, dipakai untuk
menandakan orang dimasukkan ke dalam perjanjian Abraham. Artinya yang berlangsung telah
diketahui dari fungsinya pada waktu ditetapkan. Perjanjian-perjanjian itu diteguhkan dengan
sumpah; kutuk sumpah itu ditunjukkan di dalam upacara-upacara simbolis. Suatu kutuk yang
lazim ialah pemotongan (penyerahan) orang yang ditaklukkan untuk dibinasakan dan
peniadaan nama dari benihnya. Yang menyertai tindakan ini adalah suatu upacara dengan pisau
yang melambangkan orang yang tidak memenuhi perjanjian akan dipotong-potong. Demikianlah
sunat adalah suatu upacara pisau yang dengannya perjanjian Abraham dipotong.

Upacara itu melambangkan kutuk pemotongan atau pemisahan dari persekutuan perjanjian.
Lebih tepat lagi, pemotongan kulup kelamin lelaki melambangkan pemotongan para keturunan.
Pada pihak lain, sebagai tanda sumpah mengakui ketuhanan Allah, maka sunat juga menandai
pengudusan. Perjanjian dengan orang taklukan pada zaman purba meliputi; kecuali raja yang
ditaklukkan itu, juga kerajaannya dan keturunannya. Demikian juga Tuhan memberikan
perjanjian-Nya kepada Abraham, bukan hanya sebagai seorang pengku iman secara perorangan,
melainkan sebagai kepala suatu masyarakat, dalam hal ini, suatu rumah tangga keluarganya,
termasuk anak-anak dan hamba-hamba, dan hal itu diteruskan hingga keturunan-keturunannya.

Sunat dihisabkan ke dalam ajaran Musa terkait dengan Paskah, dan agaknya diteruskan
sepanjang zaman Perjanjian Lama. Sunat menjadi ciri asasi Yudaisme dalam Perjanjian Baru dan
menimbulkan pertentangan pada zaman para rasul. Masyarakat Yahudi pada zaman Perjanjian
Baru mengaitkan sunat dengan Musa begitu rupa, sehingga mereka melupakan kaitannya yang
lebih asasi dengan Abraham.


* Kisah Para Rasul 15:1
"Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di
situ: 'Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak
dapat diselamatkan.'"
* Kisah Para Rasul 15:5
"Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata:
'Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.'"


Yesus telah mengingatkan mereka bahwa sunat adalah lebih dahulu dari Musa. Paulus
menekankan bahwa yang tak dapat diterima Kristen ialah pandangan umum yang
menghubungkan sunat dengan Musa, dan senantiasa mengarahkan pembacanya kembali kepada
Abraham.

Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama mewujudkan tanda rohani; kedua,
mempunyai arti kebangsaan. Bahwa sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan
bangsa Israel, tidak dapat disangkal. Hal ini memang sama jelasnya dalam Kejadian 34 seperti
juga setelah Musa. Tapi sifat kebangsaan itu sebenarnya hanyalah dampak sampingan, karena
umat Israel pemilik sunat itu disamakan dengan bangsa Israel Perjanjian Lama. Dalam Kejadian
17:10-14 sunat disamakan dengan perjanjian yang dibuat oleh Abraham. Artinya, sunat
menandai gerakan yang penuh kasih karunia dari Allah menuju manusia, dan hanya secara
sekunder saja dapat dikatakan menandai penyerahan manusia kepada Allah. Ketika bangsa itu
mengembara di padang gurun karena tidak diperkenankan Allah, perjanjian itu seolah-olah
ditunda dan sunat tidak diberlakukan. Lagi, ketika Musa berbicara tentang seorang yang tidak
petah lidaknya (harfiah tak bersunat), hanya karunia firman Allah yang dapat
menyembuhkannya. Selanjutnya, Perjanjian Lama berbicara tentang sunat sebagai meterai atau
pemberian kebenaran dari Allah. Karena itu sunat menjadi tanda dari kasih karunia dimana Allah
memilih dan menandai orang-orang milik-Nya.

Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar anggota rumah tangga dan kepalanya.
Perjanjian itu diadakan "antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun". Kejadian 17
ayat 26 dan 27 khususnya mengungkapkan kebenaran yang sama: "Abraham... Ismael... dan
semua orang dari isi rumah Abraham... disunat bersama-sama dengan dia." Demikianlah asal
mula dan caranya sunat menjadi adat Israel, bukan diterima dan berasal dari Mesir atau negeri-
negeri lain. Sunat Israel tegas berbeda dari sunat pada bangsa-bangsa lain yang terkait dengan
berjenjang dewasa, dan melulu bersifat sosial. Sunat Israel adalah pertanda kedudukan di hadirat
Allah, dan bahwa kasih karunia ilahi mendahului perbuatan manusia.

Mereka yang dengan cara demikian menjadi anggota perjanjian diwajibkan menyatakannya
secara lahiriah dengan menaati hukum Allah, seperti dengan tegas ditunjut kepada Abraham,
"Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela". Hubungan antara sunat dan ketaatan ditekankan
sepanjang Alkitab. Dalam hal ini sunat mengandung gagasan penyerahan diri kepada Allah, tapi
bukan inilah intinya. Sunat menjelmakan, menerapkan janji, dan menghimbau orang untuk hidup
dalam ketaatan sesuai perjanjian. Darah yang tumpah dalam sunat tidak menyatakan batas
penyerahan diri itu, tapi mengungkapkan tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi mereka
yang dipanggil-Nya, dan dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya.

Tanggapan taat ini tidak senantiasa muncul. Dan sekalipun tanda dan caranya disamakan dalam
Kejadian 17:10-14, namun Alkitab terus terang mengakui, bahwa bisa saja orang memiliki tanda
sunat, tapi tidak lebih dari itu. Jika demikian, tanda itu tak berarti secara rohani, melainkan
menjadi tanda hukuman. Perjanjian Lama jelas mengajarkan hal itu, justru menuntut realitas
penerapannya sesuai tanda itu, dan mengingatkan bahwa tanpa kenyataan itu maka tanda sunat
sepi arti, dan menubuatkan sunat hati oleh Allah.

Perjanjian Baru tegas dan pasti: bahwa tanpa ketaatan, sunat adalah melulu omong kosong.
Tanda lahiriah pudar tanpa arti jika dibandingkan dengan menaati perintah-perintah, iman
bekerja oleh kasih, dan suatu ciptaan baru. Namun orang Kristen tidak bebas memandang rendah
tanda itu. Walaupun sejauh tanda itu mengungkapkan keselamatan karena perbuatan-perbuatan
hukum, orang Kristen harus menghindarinya, namun dalam arti batiniah orang Kristen
memerlukannya. Justru ada sunat Kristus, berupa "penanggalan akan tubuh (dan bukan hanya
sebagian) yang berdosa", suatu perbuatan rohani, yang tidak dilakukan oleh tangan manusia,
suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dimeteraikan oleh
peraturan penerimaan atas perjanjian baru. Sebagai akibatnya, orang Kristen ialah orang
bersunat.


* Filipi 3:3
"karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam
Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah."


---------------------


JAWAB 2 :

Silakan baca selengkapnya Galatia 5:1-12. Pokok persoalan adalah sunat.
Sebagai tanda dari Yahudi ortodoks, sunat dipandang mutlak hakiki untuk kesetiaan kepada
syariat Taurat dan keselamatan. Sekalipun demikian, sunat adalah tindakan manusia untuk
kebenaran. Karena itu, siapa Kristus dan apa yang dilakukan-Nya sedikit sekali artinya bagi
orang yang hanya mementingkan pemenuhan dirinya akan syariat Taurat.

Keselamatan tidaklah datang oleh Kristus plus syariat Taurat, melainkan oleh Kristus
saja.

seseorang tidak mungkin mampu sempurna melaksanakan syariat Taurat karena Syariat Taurat
menuntut kesetiaan yang sempurna, padahal hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Dengan penyerahan demikian, dan keinginan untuk dibenarkan karena amal perbuatan
sedemikian rupa, seorang pada prinsipnya dan dalam kenyataannya memisahkan dirinya dari
lingkungan "kasih karunia" dan dari kesetiaan iman dalam Yesus Kristus. Dengan demikian
seseorang membuat anugerah itu tidak berhasil.

"Hidup di luar kasih karunia", 'tês kharitos exepesate', harfiah "jatuh, hilang, karam, dari kasih
karunia, tidak berarti jatuh ke luar keselamatan, melainkan mereka telah jatuh terpisah dari suatu
hidup yang berpautan dengan anugerah kepada suatu hidup yang terkungkung dalam legalisme.
Kedua jalan tersebut saling berlawanan. Untuk menerima legalisme, berarti menolak Kristus.
Seorang tidak dapat mencoba-coba menyelamatkan dirinya sendiri, dan pada saat yang sama
menaruh seluruh kepercayaan kepada Kristus untuk keselamatan.


--------------------------------


SUNAT :


Musa hidup kira-kira 4000tahun Sebelum Masehi, sedangkan Islam berkembang sekitar 700
masehi. maka bisa dipastikan bahwa Keharusan sunat terhadap anak laki-laki dan larangan
makan babi adalah warisan dari Hukum Taurat. dan sampai sekarangpun orang2 Yahudi disunat
dan tidak makan babi, karena masih mengikuti hukum Taurat ini.

Bagaimana Musa bisa mengetahui hal ini ribuan tahun sebelumnya, bahwa nyawa makhluk ada
di dalam darahnya. Bahkan nabi Musa telah memberikan keterangan yang lebih rinci lagi
mengenai darah kita yang tercantum di dalam perintah Tuhan mengenai sunat.


* Kejadian 17:12
Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-
temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing,
tetapi tidak termasuk keturunanmu.


Kenapa Tuhan memerintahkan untuk menyunat anak-anak pada usia "delapan hari" bukannya
pada usia sebelum/sekitar 13 tahun seperti yang dilakukan oleh penganut agama Islam?

Para ilmuwan dibidang kesehatan, telah membuktikan bahwa luka yang terbuka, akan lebih cepat
sembuhnya apabila darah berhenti tidak mengalir keluar lagi. Apabila darah mengalir terus dan
lukanya tidak menjadi kering, ini bisa mengakibatkan infeksi. Dua faktor yang berbeda bisa
menutup dan memberhentikan darah mengalir keluar ialah Vitamin K dan Prothrombin.

Telah terbuktikan bahwa kedua faktor ini mencapai puncaknya yang tertinggi di dalam diri tubuh
manusia ialah pada saat usianya "delapan hari" (110% dari normal). Dan telah terbuktikan
bahwa Vitamin K di proses di dalam darah manusia pada saat bayi itu berusia antara lima
s/d tujuh hari. Maka dari itu penyunatan pada saat bayi itu berusia "delapan hari" adalah
aktu yang paling optimal di dalam kehidupan manusia sebab pada saat tersebut Vitamin K
dan Prothrombin mencapai puncaknya di dalam tubuh manusia.

Bagaimana Musa bisa mengetahui ini semuanya kalau ia tidak mendapatkan "inspirasi" dari
Allah!

Pada hari ke 8 itu faktor sebelas terbentuk/ faktor pembeku darah/ trombosit keluar. Jadi akan
aman bagi bayi jika kulit kathan-nya disayat dan menimbulkan luka, bayi tersebut tidak
mengalami pendarahan karena sudah mempunyai zat pembeku darah.

Kenapa sunat diperintahkan? karena iklim di Israel/ tanah Kanaan/ di padang gurun "penuh
debu", jarang ada air, mereka tidak mungkin untuk untuk selalu mencuci agar "kemaluannya"
bersih.

Dalam masa itu beda dengan orang-orang di daerah dingin "eropa" misalnya, lelaki tidak
"bersunat" no problem, karena iklim-nya beda. Walaupun sekarang banyak kita jumpai orang
yang bukan Islam/ Yahudi banyak yang bersunat karna alasan kesehatan.

Apa yang tertulis dalam "HUKUM TAURAT" sebagian bersifat lahiriah. Hukum ini menjadi
"faktor pendisiplinan" bagi umat Pilihan Tuhan (bani Israel), menjadi suatu TANDA bagi orang
percaya Tuhan. Mengapa orang yang tidak bersunat disebut "Kafir" saat itu?
Karena Umat Tuhan/ Umat pilihan Tuhan saat itu ditandai dengan tanda2 fisik dan cara hidup/
adat istiadat Yahudi yang tercermin dalam HUKUM TAURAT.


Artikel terkait :
- MENJAMU TUDUHAN DAN SALAH PAHAM : MENGAPA UMAT KRISTIANI
TIDAK DIWAJIBKAN BERKHITAN / SUNAT?, di mengapa-umat-kristiani-tidak-
diwajibkan-berkhitan-sunat-vt2211.html#p11903

- Tuduhan Kontradiksi PL-PB No. 1. Apa hukumnya bersunat ? di kontradiksi-perjanjian-
lama-perjanjian-baru-vt542.html#p997