Docstoc

bahan uas filsafat

Document Sample
bahan uas filsafat Powered By Docstoc
					                     PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM*
                                   Oleh: Eko Marhaendy


A. Pendahuluan
       Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan ―setiap manusia dari kodratnya
ingin tahu‖.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang
menganggap ―ia tahu bahwa ia tidak tahu‖, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada
manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: ―tidak ada manusia yang
mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai
pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu‖.[2]
       Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang
menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan
merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi
pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan
yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu
bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat
diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai
bagian penting yang pasti ada pada diri manusia.
       Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan.
Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan
sebagai ―sui genis‖, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan
paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu
pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada
pertanyaan mengenai ―pengetahuan‖.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian
yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap
diberikan batasan.
       Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang dibicarakan
dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang
menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi
penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara
umum     akan   menggambarkan     pengetahuan       dalam   pendekatan   filsafat   pengetahuan
(epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu.
        Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan
binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang
membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga
dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia
tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar
daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh
subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang
selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang).
        Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf
perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun
S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: ―sekiranya
binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan
dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…‖. Jujun selanjutnya menegaskan
bahwa    kemampuan     menalar    yang   dimiliki   manusia    menyebabkan      manusia   dapat
mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang
memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
        Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir
dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan
yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang
benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan
biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan
dalam kajian filsafat memiliki keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah,
melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan
dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari
pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem
tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai
sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini.
B. Cara Memperoleh Pengetahuan
       C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan,
bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam
pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca
indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani
mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera
digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan
pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati.
Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya
berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8]
       Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan
ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah,
pengetahuan manusia telah mengalami perkembangan-perkembangan tertentu yang dianggap
sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan
pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan
sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi
berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut;
memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak
pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat
pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9]
       Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di
dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh
berdasarkan proses ‗pencernaan‘ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek
tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun
yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut
mengalami perkembangan ketika         manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula
mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di
ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang
dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-
pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab
pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai
persoalan hidup manusia.
         Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh
melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan
yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera
khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari
penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang
pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam.
Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan
makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa
cinta.
         Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha
manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan
pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari
mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan
tumbuhnya pengetahuan yang disebut ―seni terapan‖ (applied arts) yang memiliki kegunaan
langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12]
Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting
dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13]
         Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk
memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common
sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk berpijak. Sebagaimana
dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal
sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja,
bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi
sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang
kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena
kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal
sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji.
         Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan
tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat
mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau
dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan
sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang
menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15]
        Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode
eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang
hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode
eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya
dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon
(1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha
Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma
(metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang
sangat cepat.[16]
        Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan,
yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam;
kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar
pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan cara-cara tertentu; ketiga, pengetahuan
filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam
dan hakiki menembus batas pengalaman biasa; dan keempat, pengetahuan agama sebagai
pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya, biasanya
bersifat mutlak dan wajib diikuti.[17]
        Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh
pengetahuan antara lain: pengalaman; akal sehat (common sense); trial and eror (metode
mencoba-coba); dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah, maka berdasarkan
pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh
pengetahuan, yaitu: filsafat dan agama. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang
saling bertentangan satu sama lain. Filsafat misalnya, menjadi metode pencarian kebenaran yang
masih    dipersoalkan     oleh    kelompok   agamais    dengan     pertanyaan:   mungkinkah
kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. Sebagaimana disinggung Nur
Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum, filsafat tidak menawarkan
jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman, justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari
yang sama sekali tidak dipersoalkan.[18] Sebaliknya, agama kerap dipersepsi sebagai rumusan
yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.
       Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan,
beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan ―intuisi‖ sebagai salah satu cara untuk memperoleh
pengetahuan. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses
penalaran tertentu. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran
yang tertinggi, tetapi bersifat personal.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur
Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan.
Bahkan, intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi.[20]
       Dari sejumlah penjelasan di atas, dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh
serta mengembangkan pengetahuan. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman, common sense (akal
sehat), trial and eror (metode mencoba-coba), metode eksperimen yang kemudian melahirkan
apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah, filsafat, agama, dan intuisi. Perkembangan
pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan
sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat, yaitu: pertama, tidak dari
permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya; kedua,
lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang
memuaskan, dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar; ketiga, sasaran
atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu
merangsang keingintahuan manusia; dan keempat, hasil dari gejala mengetahui adalah manusia
secara sadar tahu bahwa ia tahu.[21]


C. Pengetahuan, Ilmu (Sains), dan Filsafat
       Istilah pengetahuan, ilmu (sains), dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak
disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. Namun demikian,
meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-
perbedaan mendasar, baik dari segi pengertian, fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya.
Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh, sangat penting terlebih dahulu
dipaparkan pengertian dari ketiganya.
       Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. DEA,
pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus
benar, sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan
kekeliruan atau kontradiksi.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap
pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?.
       Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia, baik
pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan
kesimpulan yang salah (keliru). Pada bagian terdahulu misalnya, telah dipaparkan perkembangan
pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan
pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung
kelangsungan hidup umat manusia. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah, akan tetapi
pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar.
       Dalam kajian filsafat, umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan
pengetahuan, yaitu: pertama, manusia tahu bahwa ia tahu; kedua, manusia tahu bahwa ia tidak
tahu; ketiga, manusia tidak tahu bahwa ia tahu; dan keempat, manusia tidak tahu bahwa ia tidak
tahu.[23] Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh manusia benar-benar ada ketika ia
mengetahui objek yang ingin diketahui.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan
hal ini, apakah manusia tahu bahwa ia tahu, atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu.
       Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan
ilmiah (ilmu/sains). Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran
ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan, metode dan sistem tertentu.[25]
Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak
mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut, ilmu – dengan cara khusus dan sistematis –
dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan
mendalam. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri,
melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat
diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk
kehidupan manusia. Oleh karenanya, perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat
dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:
                                               Tesis
                                              Antitesis
                                            Pengetahuan
                                               (Tesis)
                                              Antitesis
                                            Pengetahuan
                                               (Tesis)




       Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar
di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi
Pemikiran Islam, Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Ilmu pengetahuan pada prinsipnya
merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang
baru (sintesis). Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru
pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan
yang baru (sintesis).[26] Demikian seterusnya, ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara
dinamis bagaikan ―anak tangga‖ mengikuti pola 1, 2, 3,…dst.
       Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas,
filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan, sebab
filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. Filsafat memiliki pengertian yang cukup
beragam, antara lain:
   1. All learning exclusive of technical precepts and practical arts;
   2. a discipline comprising as it core logic, aesthetic, ethics, metaphysic, and epistemology;
   3. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather
       than observational means;
   4. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs;
   5. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought;
   6. the most general beliefs, concepts and attitudes of and individual or group;
    7. calmness of temper and judgment.[27]
           Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan
ciri utama yang harus ada dalam filsafat, yaitu: universal, radikal dan sistematis. Selain itu, Nur
Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis, antara
lain: deskriptif, kritis, analisis, evaluatif dan spekulatif.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan
dinamis mengikuti pola 1, 2, 3,…dst, maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana
ditunjukkan pada gambar berikut ini:
                                                    1
                                                    2
                                                    3




           Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan,
ilmu (sains), dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. Berdasarkan gambaran
tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan, sains, dan
filsafat). Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi
tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut
(pengetahuan, sains, dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut:



Jenis Pengetahuan                       Fungsi                   Cara Memperolehnya
                        Untuk memenuhi kebutuhan hidup
                        sehari-hari tanpa mempersoalkan    Melalui pencernaan indra dan
Pengetahuan Biasa
                        seluk beluk pengetahuan secara     pengalaman secara umum
                        mendalam
                        Untuk menguji kebenaran dari
                        pengetahuan manusia secara umum    Melalui penalaran dengan metode
Ilmu (Sains)            yang berkisar pada pengalaman      dan cara-cara tertentu secara
                        sehari-hari guna memenuhi          objektif dan sistematis
                        kebutuhan hidup manusia
                        Untuk mencari jawaban dari         Melalui penalaran yang luas dan
Filsafat                pertanyaan-pertanyaan akhir guna   mendasar dengan pola berpikir
                        menemukan kebenaran yang hakiki    sistematis

            Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh
pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. Meskipun pengetahuan secara
umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain
merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-
persoalan hidup, fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa
perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. Perbedaan yang lain, khususnya yang
dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat, adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari
segala sesuatu, bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja, sementara ilmu
pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang
kajiannya.[29]


D. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah
       Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai
metode ilmiah. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu, kelahiran
metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk
menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. Dengan demikan, sangat tepat apa yang
pernah diungkapkan Jujun, bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh
sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon, meskipun secara
jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya.[30]
       Jujun S. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang
menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan
hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif, yang menuntun cara berpikir
untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui
penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. Kerangka
berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetiko-verivikatif, dijelaskan Jujun pada bukunya
Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, sebagai berikut:[32]
   1) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas
       batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya;
   2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, merupakan argumentasi yang
       menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling
       mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara
       rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan
       memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan;
   3) Perumusan hipotesis, merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan
       yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang
       dikembangkan;
   4) Pengajuan hipotesis, merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan
       hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang
       mendukung hipotesis tersebut atau tidak;
   5) Penarikan kesimpulan, sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu
       ditolak atau diterima.
       Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar
berikut:[33]
                                            MASALAH
                                    Khazanah Pengetahuan Ilmiah
                                    Penyusunan Kerangka Berpikir
                                        Perumusan Hipotesis
                                        Pengajuan Hipotesis
                                             DITOLAK
                                            DITERIMA
                                                Induksi
                                             Korespondensi
                                                Deduksi
                                               Koherensi
                                             Praghmatisme




       Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana
pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan
penuh kedisiplinan. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini
menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara
formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru, yang tentunya akan memperkaya
khazanah keilmuan yang telah ada.
       Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan
berbagai gejala alam, meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. Dengan
demikian, ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan, meramalkan,
dan mengontrol.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki
sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan
mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Karena memang pada dasarnya
tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat
utuh dan konsisten.[36]
       Jujun lebih jauh menyebutkan, sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk
menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Hukum
yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi
sebagai akibat dari sebuah sebab.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum
yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari
disiplin ilmu ekonomi. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan
ilmiah yang memberikan penjelasan tentang ―mengapa‖ suatu gejala terjadi, dan hukum akan
memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang ―apa‖ yang mungkin terjadi.
       Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati
serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan
seperangkat hukum-hukum di dalamnya, tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun
secara rapih, sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. inilah yang selanjutnya dapat disebut
sebagai struktur pengetahuan ilmiah, mengingat pengertian ―struktur‖ membicarakan bagaimana
sesuatu disusun dengan baik.[38]


E. Trend Penelitian Ilmiah
       Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan
manusia yang begitu pesat. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam
kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki, saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk
menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru.
Tidak hanya sampai pada batas itu, kesimpulan yang semula dianggap benar, kembali diuji untuk
dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan
kesimpulan yang baru pula. Demikian seterusnya, manusia mampu melahirkan sejumlah
pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing.
       Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini
Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip
U. Maman, dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: pertama,
keteraturan logosentrime sangat menonjol di kalangan umat Islam; kedua, faktor pertama ini
kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang
tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam; ketiga, intrepretasi yang tertutup dan terbatas
sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan; keempat, anggapan teks-teks klasik
mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri; kelima, sikap apologetis
terhadap aliran lain; dan keenam, sikap tradisional.[39]
       Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidang-bidang yang
disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. Secara umum,
pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan, antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan,
pendekatan interdisiplin ilmu, pendekatan multi-disiplin keilmuan, dan pendekatan studi
kawasan.
       Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil
konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. Seperti: Ulumul Qur‘an, Ulumul Hadits, Dakwah, dan
lain sebagainya. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam, Harun Nasution melakukan klasifikasi
ilmu-ilmu Islam, sebagai berikut:[40]
   1) Kelompok dasar, yang terdiri dari tafsir, hadis, akidah/ilmu kalam (teologi), filsafat Islam,
       tasawuf, tarekat, perbandingan agama, serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu
       tafsir, hadis, ilmu kalam, dan filsafat.
   2) Kelompok cabang, teridiri dari:
       -    Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih, fikih muamalah, fikih ibadah,
           peradilan dan perkembangan modern;
       -    Peradaban Islam: sejarah Islam, sejarah pemikiran Islam, sains Islam, buday Islam,
           dan studi kewilayahan Islam;
   3) Bahasa dan sastra Islam
   4) Pelajaran Islam kepada anak didik, mencakup: ilmu pendidiikan Islam, falsafah
       pendidikan Islam, sejarah pendidikan Islam, lembaga pendidikan Islam, dan
       perkembangan modern dalam pendidikan Islam.
   5) Penyiaran Islam, mencakup: sejarah dakwah, metode dakwah, dan sebagainya.
       Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-
cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan
penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan keilmuan. Cik Hasan Bisri
menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu.
Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan
sebagai variabel penelitiann.[41]
       Sementara itu, studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan
dalam cabang sejarah. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra
dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad
XVII dan XVIII. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi
Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam
pengembangan khazanah intelektual Islam.[42]




F.
   Penutup
       Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan
manusia sebagai sebuah gambaran umum, sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang
paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam
waktu yang cukup panjang. Berdasarkan pemaparan-pemaparan tersebut dapat dilihat bahwa
manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan
berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap
pengetahuan-pengetahuan yang telah ada.
       Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan
merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. Namun demikian,
pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti
pola perkembangan pengetahuan tersebut. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi
sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan
umum, melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia
modern.
                                     DAFTAR BACAAN

A. E. Affifi. 1995. Filsafat Mistis Ibn Arabi. (Cetakan II). Jakarta: Gaya Media Pratama

Abuddin Nata. 2001. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Press

Cik Hasan Bisiri. 1998. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan
          Multidisiplin", dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Tradisi Baru Penelitian Agama
          Islam, Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa

C.A. Van Peursen. 1983. Orientasi di Alam Filsafat. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan
         ketiga. Jakarta: Gramedia

Irwandar. 2003. Dekonstruksi Pemikiran Islam, Idealitas Nilai dan Realitas Empiris.
          Yogyakarta: Ar-Ruz Media

Harun Nasution. 1998. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif, dalam:
         Mastuhu dan Deden Ridwan. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Tinjauan Antar
         Disiplin Ilmu. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa

Jujun S. Suryasumantri.1985. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (cetakan ke 2). Jakarta:
           Sinar Harapan.

Mulyadhi Kartanegara. 2005. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Jakarta: Arasy
         Mizan

Nur Ahmad Fadhil Lubis. 2001. Pengantar Filsafat Umum. Medan: IAIN Press

P. Hardono Hadi. 1994. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kansius

Philips Babcock Gove, et.al. (editor). 1966. Webster Third New International Dictionary.
          Massachussets, USA: G & C Merriam Company Publisher

Poerwadarminta. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka

Selamet Ibrahim. S. DEA. 2008. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. fa.itb.ac.id/
           incl/libfile.filsafat_ilmu_pengetahuan.pdf.

Sidi Gazalba. 1981. Sistematika Filsafat. (catakan ke 3). Jakarta: Bulan Bintang

Soetriono dan SRDm Hanafie. 2007. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat.
          Yogyakarta: Penerbit Andi

U. Maman, Kh, et.al (editor). 2006. Metodologi Penelitian Agama, Teori dan Praktik. Jakarta:
         Rajawali Press
Mengapa Manusia Perlu
Pengetahuan?
Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si
Sunday, 11 April 2010 03:37
Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa
manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Bagi manusia,
kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya
sebagai manusia. Istilahnya dalam filsafat ilmu ―knowing is a mode of being‖. Secara kodrati
manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Ada yang hasratnya besar, sehingga upaya pencarian
pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau
biasa-biasa saja, sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Tetapi dapat dikatakan bahwa
semua manusia punya keinginan untuk tahu.

Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. Memang ada
yang berpendapat berdasarkan instingnya, binatang memiliki ‗pengetahuan‘. Misalnya, setiap
binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya, atau ada makanan yang bisa disantap.
Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Seekor tikus juga
tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya, sehingga berdasarkan
instingnya dia segera mencari tempat yang aman.

Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja, walau kadang-kadang juga ada manusia
yang memiliki insting yang kuat. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting
sangat terbatas. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang
diberi akal (kata ―aql‖ tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur‘an),
maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Hebatnya lagi, manusia tidak saja
mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya, tetapi juga
mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan.

Berkat pengetahuannya, manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya
isi dunia untuk kehidupannya. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan
habitatnya, maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam
lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Berkat pengetahuannya, manusia
bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural
environment). Misalnya, manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi
kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumah-rumah mewah. Barang-barang
bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi.

Demikian pula, karena pengetahuannya, manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi
kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada.
Karena itu, ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih
bernilai, maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. ―Human
beings are humanizing themselves‖.

Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan
pengetahuan, Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur‘an dengan menyebut kata ―al-
aqlu‖ tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Dalam studi Content Analysis,
penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa.
Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. Semakin sering diulang, maka
semakin penting maknanya. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-
hal tertentu yang dianggap penting. Memang pendekatan Content Analysis belakangan
memperoleh tandingan, yakni Discourse Analysis. Berbeda dengan Content Analysis yang
menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang, maka Discourse
Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan
penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. .

Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat
Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga
puluh kali. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur
atas nikmat dan karunia Allah. Karena itu, malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala
kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Tengara Allah itu kini terbukti. Walau punya
akal, tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau
bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. Mulai bangun tidur sampai
tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Bahkan tidur itu
sendiri merupakan nikmat Allah. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya
hidup ini. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan)
salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Karena itu,
mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja, manusia tidak mau bersyukur.

Menutup tulisan ini, marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan
Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. Salah satu nikmat itu ialah akal, dan
lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Dan, karena berpengetahuan itu, kita
menjadi makhluk yang manusiawi. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia.
Karena itu, agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita, maka jangan pernah berhenti
mencari pengetahuan kapan pun, di mana pun, dan dari siapa pun.




Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya
Pada Pembelajaran Matematika
20 03 2010

                                            BAB I
                                      PENDAHULUAN

Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi
ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia
berfikir, seperti dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesan yang masuk melalui
penginderaan, menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian, serta menggali
dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan
hidup sehari-hari.

Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan
terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah, yang memiliki hubungan erat dengan
psikologi belajar, psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Pengetahuan dan pemahaman
tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar,
tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali
terjadi kesalahan selama periode belajar, untuk mengoreksinya.

Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif, efektif, konatif sampai pada taraf
psikomotis, baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Gejala-gejala
mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-
sendiri, tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Oleh
karena itu, psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif,
tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain, seperti apa penafsiran dan
pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). Siswa
disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar, dapat
diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian
dalam berperasaan dan berkehendak. Namun, dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis
tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam
belajar disekolah.

Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif, maka berkembang pula cara-cara
mengevaluasi pencapaian hasil belajar, terutama untuk domain kognitif. Salah satu
perkembangan yang menarik ádalah revisi ―Taksonomi Bloom― tentang dimensi kognitif.
Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif
menjadi dua dimensi, yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi pengetahuan berisi empat
kategori, yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif, Dimensi proses kognitif
terdiri dari Mengingat, Pemahaman, Penerapan, Analisis, Evaluasi dan Membuat.
Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas
dalam kognitif, yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat, penerapan
dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman, dan seterusnya.

Pengetahuan (Knowledge) / C1

Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan
kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah
mereka peroleh sebelumnya. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan
simbol-simbol matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-
prinsip.

Pemahaman (Comprehension)/C2

Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan
dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini, siswa diharapakn
mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang
relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ide-ide lain degan gejala implikasinya.

Penerapan (Aplication)/C3

Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu
mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui
pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut,
seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat
sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya.

Analisis (Analysis)/C4

Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-
komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut
menjadi tampak dan jelas. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis, yaitu: (i) analisis
elemen/bagian; (ii) analisis hubungan; dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Bila
pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika,
sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-
informasi yang sesuai, berkaitan dan bermamfaat. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan
materi ke dalam bagian-bagian, menemukan hubungan antarbagian, fan mengamati
pengorganisasian bagian-bagian.

Sistesis (Syntesis)/C5

Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk
sebuah struktur yang unik atau sistem. Dalam matematika, sistesis melibatkan pengkombinasian
dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya
menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Salah satu contohnya
adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur
matematika.

Evaluasi( Evaluation)/C6

Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah
ide, kreasi, cara atau metode. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranah-ranah kognitif
yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya, mulai dari pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis hingga sintesis. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat
pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru, dan cara baru yang unik dalam
analisis atau sintesis, misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i)
penilaian pada bukti atau struktur internal, seperti akurasi, logika dan konsistensi, dan (ii)
Penilaian pada bukti atau struktur eksternal, seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya.

Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga
proses yang berlangsung secara serampak, yaitu (1) proses perolehan informasi baru, (2) proses
transformasi pengetahuan, dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan
tersebut. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam
kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang.

Dalam transformasi pengetahuan, orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan
masalah yang dihadapi. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar
jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi
tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke
dalam bentuk lain       (Hadis, 2006).

Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang
memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Perkembangan itu ke dalam sistem
penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan.

Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat
mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor
kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu
dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar
peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat
berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.

Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan
potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap
peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka
peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di
sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.

Oleh karena itu, peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor
utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang
dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai
pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan
belajar secara kelompok.

Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru
dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan
tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta
didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang
dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik.

                                             BAB II
                                      PEMBAHASAN

Objek-objek Pembelajaran Matematika

Menurut Gagne, secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika,
yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).

Objek-objek langsung

a       Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk
memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika, seperti lambang-lambang. Di dalam
matematika, fakta merupakan sesuatu yang harus diterima, tanpa pembuktian karena merupakan
kesepakatan. Sebagai contoh Simbol bilangan ―3‖ sudah dipahami sebagai bilangan ―tiga‖. Jika
disajikan angka ―3‖ orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu ―tiga‖.
Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata ―tiga‖ dengan sendirinya dapat disimbolkan
dengan ―3‖.

b       Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau
mengklasifikasikan sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau
bukan. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika.
―segitiga‖ adalah nama suatu konsep abstrak. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat
digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Konsep berhubungan erat dengan definisi.
Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Dengan adanya definisi ini orang dapat
membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sehingga menjadi
semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Konsep trapesium misalnya bila
dikemukakan dalam definisi ―trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar‖
 akan menjadi jelas maksudnya. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain,
misalnya ―segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar
salah satu sisinya adalah trapesium. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata
yang berbeda, tetapi mempunyai jangkauan yang sama.

c      Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam
matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Sebagai contoh
misalnya ―penjumlahan‖, ―perkalian‖, ―gabungan‖, ―irisan dan sebagainya.

d     Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Prinsip adalah suatu pernyataan
bernilai benar, yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-
konsep tersebut. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya
jika p=0 dan q=0. ( p.q = 0 Û p = 0 atau q = 0).

Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis,
kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berfikir analitis, sikap positif terhadap
matematika, ketelitian, ketekunan, kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan
dipelajari jika siswa mempelajari matematika.

Pengetahuan dalam kajian filsafat
Menurut Burhanuddin Salam (Amsal, 2007), mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki
manusia ada empat, yaitu:

   1. Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common
      sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu di
      mana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena
      memang itu merah, benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya.
      Dengan common sense, semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang
      sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya.
   2. Pengetahuan ilmu, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang
      sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya
      kuantitatif dan obyektif. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk
      mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense, atau suatu pengetahuan yang
      berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan
      dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
      Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking),
      tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual.
      Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya melalui observasi, eksprimen,
      klasifikasi. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi, pemikiran
      logika diutamakan, netral, dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian
      (subyektif), karena dimulai dari fakta. Ilmu merupakan milik manusia secara
      komprehensif. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten
      mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan
      dapat diamati panca indera manusia.
   3. Pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat
      kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas
      dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan
      yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat
      biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya
      kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali.
   4. Pengetahuan Agama, yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para
      utusan-Nya. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk
      Agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara
      berhubungan dengan Tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara
      berhubungan dengan sesama manusia, yang sering juga disebut dengan hubungan
      horizontal. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan,
      juga informasi tentang Hari Akhir. Iman pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok
      Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa
      depannya.

Dimensi Pengetahuan

Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif, kognitif dan konstruktif yang
tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu
yang aktif dalam setiap Pembelajarannya; mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh
pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Siswa bukan penerima yang
pasif, merekam informasi yang didapat dari orang tuanya, guru, buku teks ataupun media saja.
Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif
konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana
mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan
pembelajaran yang berarti.

Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan, khususnya dalam pengembangan psikologi
kognitif, maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum,
yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif.

Pengetahuan Faktual

Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam
mengkomunikasikan disiplin akademik, pemahaman, dan penyusunan dimensi pengetahuan
secara sistematis. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada
disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus
mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-
simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‗rangkaian simbol‘ yang
membawa informasi penting. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-
aspek

Pengetahuan Istilah

Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non
verbal (contohnya kata-kata, bilangan-bilangan, tanda-tanda, gambar-gambar). Setiap materi
berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi
khusus.

Contohnya :

      Pengetahuan tentang alfabet.
      Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan.
      Pengetahuan tentang kosakata melukis.
      Pengetahuan tentang akunting.
      Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan.
      Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan
       kata-kata yang tepat.

Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya

Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa,
lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan sebagainya. Pengetahuan khusus ini juga meliputi
informasi yang spesifik dan tepat, contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau
fenomena dan perkiraan informasi, seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang
terjadi.

Contohnya:

      Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial.
      Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan, kewarganegaraan,
       kebutuhan manusia dan ketertarikannya.
      Pengetahuan nama-nama penting, tempat, dan peristiwa dalam berita.
      Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah
       pemerintah.

Pengetahuan Konseptual

Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya
dengan dan diantara mereke-lebih rumit, dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Seperti,
skema, model mental, atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang
berbeda. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi
khusus di susun dan distrukturisasikan, bagaimana bagian-bagian yang berbeda atau informasi
yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik, dan bagaimana bagian-
bagian ini saling berfungsi. Contohnya, rotasi bumi, matahari, rotasi bumi mengelilingi matahari.

Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori

Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori, divisi-divisi dan penyusunan
yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan
bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka, dimana pengetahuan khusus
menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting
dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik.

Contohnya :

      Pengetahuan macam-macam tipe literatur.
      Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha.
      Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda, kata kerja, kata sifat)
      Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda.
      Pengetahuan periode waktu yang berbeda.

Pengetahuan Dasar dan Umum

Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian.
Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan, memprediksikan,
menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus
diambil.

Contohnya :
      Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus.
      Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar.
      Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan.
      Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran.

Pengetahuan Teori, Model dan Struktur

Pengetahuan teori, model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan
hubungan timbal balik yang jelas, pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang
rumit, masalah, atau materi. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak.

Contohnya:

      Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia.
      Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi, fungsi)
      Pengetahuan evolusi.
      Pengetahuan teori tektonik.
      Pengetahuan model genetika (DNA).

Pengetahuan Prosedural

Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Seperti
pengetahuan keterampilan, algoritma, teknik-teknik, dan metoda-metoda yang secara
keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-
langkah.

Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma

Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Prosedur perkalian dalam
aritmetika, ketika diterapkan, hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan
dalam penghitungan. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural, hasil dari
pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual.

Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2
dan 2 adalah pengetahuan prosedural, jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Sekali lagi,
penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan
menyelesaikannya sendiri. Contohnya :

      Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air.
      Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada
       analisa struktur
      Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan
       kuadrat

Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus
Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil
konsensus, persetujuan, atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung
lebih menjadi sebuah hasil observasi, eksperimen, atau penemuan.

Contohnya :

      Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial.
      Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian
       masalah.
      Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan.
      Pengetahuan macam-macam metoda literatur.

Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat

      Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori,
       persuasif).
      Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan
       persamaan aljabar.
      Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang
       terkumpul dalam eksperimen.
      Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat
       pengaruh dalam melukis menggunakan cat air.

Pengetahuan Metakognitif

Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Strategi
Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan
pembelajaran yang berlaku. Apabila kesedaran ini wujud, seseorang dapat mengawal fikirannya
dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Jadi Pengetahuan metakognitif
adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu
pengertian itu sendiri

Pengetahuan Strategi

Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari, memikirkan dan
menyelesaikan masalah. Contohnya:

      Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.
      Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan
       kesimpulan.
      Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan.

Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif, termasuk Pengetahuan Kontekstual dan
Kondisional
Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat
kesulitannya sedikit ataupun banyak, bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif.

Contohnya :

      Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh, jawaban singkat) yang dibuat
       secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan
       tugas-tugas (contoh, pilihan berganda).
      Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa
       atau buku teks umum.
      Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh, mengingat nomor telepon).

Pengetahuan Itu Sendiri

Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan
pembelajaran. Contohnya, siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan
berganda dibandingkan dengan bentuk essey, karena memiliki pengetahuan sendiri dalam
memilih keterampilan penilaian.

Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran
Matematika

Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai ―suatu usaha yang dilakukan oleh
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya
dengan lingkungan‖ (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa
belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan
perubahan tingkah laku. Kedua,

perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Dengan demikian, seseorang dikatakan
belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah
terjadi suatu perubahan. Misalnya, ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah,
keterampilannya meningkat, sikapnya semakin positif, dan sebagainya. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar.

Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan?
Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit
untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. Namun demikian, kita dapat
mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. Sehubungan dengan hal ini,
para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu
model yang menjadi prinsip-prinsip belajar.

Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik

Thorndike, salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton, 1991:39; Resnick,
1981:12), menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus
tersebut. Selanjutnya, Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan
respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila
asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat.
Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk
akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan), maka asosiasi
tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang
terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin
meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap
suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi
akan diperkuat.

Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner, berpendapat hampir senada dengan
hukum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah
penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan
stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini
menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sebagai stimulus,
apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan
terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang
dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell, 1981:151).

Menurut Gagne (dalam Hudojo, 1990:32), bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam
empat tahap secara berurutan. Tahap pertama pemahaman, setelah seseorang yang belajar diberi
stimulus, maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode
(secara mental). Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu
pada tahap kedua (tahap penguasaan). Pengetahuan yang diperoleh dari tahap dua selanjutnya
disimpan atau diingat, yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Terakhir adalah tahap
keempat, yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga.

Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan
respon.

Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik

Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar, diakui oleh para ahli psikologi gestalt
sebagai sesuatu yang penting. Menurut Kohler (dalam Orton, 1991:89) berpikir bukan hanya
proses pengkaitan antara stimulus dan respon, tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan
sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Katona,
seorang ahli psikologi gestalt yang lain, juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan
stimulus dan respon. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan
hanya mengingat sekumpulan prosedur, melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga
membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford, 1981:143-144).

Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk
menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang
terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-
pisah (Orton, 1990:89). Jadi, menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa
seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya
secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana
sehingga lebih mudah dipahami.

Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik

Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak)
yang sering disebut dengan struktur kognitif. Dengan menggunakan skemata itu seseorang
mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu
melalui proses asimilasi dan akomodasi. Selanjutnya, Piaget (dalam Bell, 1981: Stiff dkk., 1993)
berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang
disebut pengetahuan. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang
mengintegrasikan informasi (persepsi, konsep, dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur
kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Akomodasi adalah proses restrukturisasi
skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat
secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut.

Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. Meskipun Bruner mengklaim
bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap
perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Salah satu teori belajar Bruner yang
mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Teori ini menyatakan bahwa cara
terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam matematika adalah
dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Hal ini perlu dibiasakan
sejak anak-anak masih kecil (Bell, 1981:143).

Implementasi Pandangan         Gestaltik    terhadap    Pemerolehan     Pengetahuan      dalam
Pembelajaran Matematika

Menurut pandangan penganut psikologi gestalt, persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan
stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Pikiran manusia menginterpretasikan
semua sensasi/informasi. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu
dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Artinya, pengenalan terhadap
suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan, tetapi terlebih dahulu
menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. Pemahaman terhadap struktur
sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke
dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan.
Kemudian, akan terbentuk suatu pengetahuan baru.

Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam
Pendekatan Matematika

Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk,
belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif
yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Artinya,
melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses
asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah
dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. Dengan demikian, hakikat dari
pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika.

Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika
merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun
konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses
internalisasi (Nickson dalam Grows, 1992:106). Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri
pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut.

(1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki
siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.

(2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang
sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.

(3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan
pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan
kehidupan sehari-hari.

(4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu
terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya,
misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.

(5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran
menjadi lebih efektif.

(6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan
siswa mau belajar.

                                    DAFTAR PUSTAKA

Anderson dkk, 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing. A Revision of Bloom’s
Taxonomy of Educational Objectives. Longman.

Bakhtiar, Amsal, 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta, Raja Grafindo Persada

Hadis Abdul, 2006. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Afabeta

Muhkal, Mappaita, 2006. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Universitas Negeri Makassar.

Suherman dkk, 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan
Indonesia Bandung, JICA.

Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Grasindo.
Wowo SK, Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Diakses pada hari Rabu, tanggal 8 oktober
2008 pukul 14.15 Wita.

***

(Source : Fitriani Nur, Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika, 2008)



Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif
dan dapat diverifikasi secara empiris.

Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran, atau secara empiris dapat
dibuktikan kebenarannya. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah
seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid.

Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu.

Contohnya, fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan
berjalan ke arah timur atau ke arah barat, pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Fakta ini
bukan berdasarkan sudut pandang pribadi, atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Karena
riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% (diverifikasi) bahwa bumi ini bulat.
Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan.




pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat
<
DI SUSUN OLEH :

AGUNG SANTOSO

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata
yang berangkai, dan memiliki makna ilmu, yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara
bersistem, menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu
pengetahuan bersangkutan . Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu
yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. Pemahaman sebagai dua kata
yang tidak terpisahkan , Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai
pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem, dengan mempertimbangkan sebab
akibatnya, pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah, istilah ini untuk
menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang
harus diikuti, yakni logis, bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat, dengan suatu metode
yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk
mengetahui keadaanya dan lingkungannnya, atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya
dalam rangka strategi hidupnya.
Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun, kemudian diteruskan
dengan eksperimen dan logika . ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan
ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman.
Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah,
termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Berbeda dengan cara – cara lain, misanya cara
mitologis, tradisional, folk science, supra natural, mistik ataupun cara – cara alogis yang lain,
ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban,
maju selangkah demi selangkah. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis, kebenaran
ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . memang dengan teori
pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan, karena
kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas, sehingga dunia obyektif yang diamati tidak
pernah lengkap , model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan.
Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu :
1. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah .
2. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah
3. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah
B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah.
2. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah.
3. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH
Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji, dites, dan diverifikasikan. Kata
science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. Sejak awal
dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi
kehidupan manusia . Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi, dan mungkin
mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi, sehingga perkembangan
ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia, planet dan bahkan alam semesta.
Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif, lebih jauh hanya sekedar
melalui keyakinan seseorang. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu ,
yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. Beberapa
kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . akan tetapi
terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. Tapi kapan ilmu itu tumbuh
apakah sudah lama atau baru , tetap ia melalui pendekatan suatu system , yang kini dikenal
sebagai metode keilmuan. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah
etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. Sebab seringkali ilmu yang diteliti , diamati
bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam , bahkan
mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. Perhatikan dalam
bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang, sejarah, ilmu fisika, kedokteran, keperawatan,
matematika, tehnologi dan sebagainya. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap
penemuan yang dianggap baru, akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada masa
sebelumnya, atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. banyak para ahli
melakukan hal ini. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan
seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu, akan tetapi dalam
perkembangan tersebut mengalami perubahan, sebab ditemukan fenomena lain yang dapat
merubah teori sebelumnya. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak, ia diakui pada
masanya, akan tetapi dengan cara , teknik – teknik baru ditemukan data baru, akan tetapi ilmu
terdahulu tidak pernah, atau jarang disingkirkan begitu saja , sebab diantara yang berubah masih
terdapat hal – hal yang dipertahankan , tetap diakui kebesaranya , dan tetap diakui sebagai
pandangan pengetahuan yang besar.
Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya, seperti hanya tehnologi, filsafat,
peradaban, kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus, ia merupakan time
– line yang selalu dapat diketahui awalnya, akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir.
Keruntuhan suatu periode pemerintahan, Negara , tidak pernah menguburnya bersama bangsa
dan peradaban yang pernah ada. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan
keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Sejarah telah membuktikanya , peradaban mesir tetap
merupakan suatu contoh kehandalan , kemegahan sejarah peradaban, yang sampai kini masih
diteliti untuk melengkapinya, sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa
besar , dengan segala atribut modernisasinya.
PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH
Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana
pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya .
Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan
jurnal ), surat kabar, brosur dan sebagainya, misal
1. Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising)
.
2. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan ; pernyataan ditulis
berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing)
3. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik, ataupun satir (slanted criticism)
4. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap, fakta yang ada dan
persuatif (informative advertising)
Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk :
1. Nontechnical concrete explanation.
2. Semitechnical generalized explanation.
3. Generalized technical writing.
4. Generalized abstract explanation.
PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH
Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu
dari sebuah disiplin keilmuan. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan
sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.
Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum, teori adalah pengetahuan ilmiah yang
memberikan penjelasan tentang ― mengapa‖ suatu gejala – gejala terjadi, sedangkan hukum
memberikan kepada kita untuk meramalkan ―apa‖ yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah
dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan ―alat‖ yang dapat kita pergunakan untuk
mengontrol gejala alam.
Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang
tinggi, atau secara idealnya harus bersifat universal. Dalam usaha mengembangkan tingkat
keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai
contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan
dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut.
Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang ―jatuh bebas‖ yang di
demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa
. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda
yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Galileo dengan demonstrasinya yang
bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. Benda – benda
tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama.
Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar
mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Teori ini merupakan
perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria
yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang
berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Teori kopernikus ini
kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang
dikumpulkan . Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam
mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus
maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips.
Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang
merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo, Copernicus dan Kapler. Teori Newton
menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi, tunduk kepada
hokum – hokum yang sama. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum –
hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Bahwa Newton berhasil menemukan
teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral.
Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari
pohonnya, banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh, banyak juga yang memberikan
penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh, namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah
teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja
berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang
ada dilangit.
Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang
bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Ilmu teoritis
terdiri dari sebuah system penyataan , system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar
terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep
yang mempersatukan tersebut disebut teori.
Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut, pengertian
teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud , artinya
makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan
dengan gejala fisik yang tampak nyata. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya , maka makin
tinggi pohon tersebut , maka makin dalam pula kita hurus menjangkau akarnya. Konsep teori
seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai
gejala fisik secara universal.
Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung
kelihatan kegunaan praktisnya. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti, sebab
makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan
gejala fisik yang nyata. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan
gejala yang bersifat konkret tersebut. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru
dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada
masalah - masalah yang bersifat praktis. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar
dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan.
Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan , terutama dalam institusi akademik
melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya, dan kepuasan
pengetahuan. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para
ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk
menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Keduanya
mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Keduanya sangat
mempengaruhi etika keilmuan, yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri ,
tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi , dan bahkan tidak jarang menemukan suatu
pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Psikologi sangat mempengaruhi
ilmu pendidikan dan ilmu mengajar , ilmu perilaku, Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu
hokum, ilmu politik, ilmu ekonomi, Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika,
penelitian, fisika, komunikasi dan transpormasi. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya,
peradaban, antropologi , selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu –
ilmu yang ada tumbuh dan berkembang.

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif, sistimatis,
mempunyai metodologi kerja yang khas, logis, dan terbuka dari kritik.
2. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif, bersumber dari keyakinan, diperoleh
secara turun – temurun, kontradiktif dan sifatnya tertutup.
3. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor
tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum.
4. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat
keuniversalan atau keumuman yang tinggi .
5. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut.
6. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan          sesuatu
yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas , memecahkan persoalan kehidupan manusia.

B. SARAN
1. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau
mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal .
2. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab
permasalahan kehidupan manusia.
3. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya
sesuai dengan value, etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia.

KEPUSTAKAAN

Hartono Kasmadi, Prof. (     ), Pandangan tentang Ilmu pengetahuan , Filsafat ilmu dari awal
sampai dengan ibnu khaldun, Materi kuliah, tidak diterbitkan.

Hartono Kasmadi, Prof. ( ), Wawasan Keilmuan, Etika ilmu, Materi matrikulasi program
magister ilmu hukum UNTAG, tidak diterbitkan.

Jujun S, Suria Sumantri, ( 2000 ), Filsafat ilmu, sebuah pengantar popular, Pustaka sinar harapan
, Jakarta.

Matematika Sebagai Bahasa Universal [2]
Sains & Pengetahuan Umum

Sebagai bahasa, matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita
sampaikan. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika, misalnya letak bilangan 1?
Banyak para pakar matematika, misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi
di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara
universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia.

Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk
mengkomunikasikannya. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan
mengatakan ―Telu‖, sedangkan dalam bahasa Indonesia, bilangan tersebut disimbolkan melalui
ucapan ―Tiga‖. Inilah sebabnya, banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok
bahasa, atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi, bukan sains. Karena sifat-
sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal.
Dalam pandangan formalis, matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan
secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; ada pula
pandangan lain, misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika.

Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan
alam, dan sangat umum di fisika, tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki
struktur internal dalam matematika itu sendiri, misalnya, untuk menggeneralisasikan teori bagi
beberapa sub-bidang, atau alat membantu untuk perhitungan biasa. Akhirnya, banyak
matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja, melihat ilmu
pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai ilmu praktis atau terapan.

Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg
kompleks, khususnya berbagai fenomena alam yang teramati, agar pola struktur, perubahan,
ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg
sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi, simbol dan notasi. Hasil perumusan yang
menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika
dari fenomena.

Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang
menggunakan pola penalaran deduktif. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita,
merupakan bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti
mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Pertama,
sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan
kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui bahwa
salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif
dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam
mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah
mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode
ilmiah.

Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan
penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk
mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah
sehari-hari. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang
pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Atau
sederhananya, sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan
fungsinya secara baik. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang
tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab
fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu
tersendiri.

Referensi

Anonim, Matematika (http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika)
Sruiasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta:
2001.

Turchin, Valentin F,. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution.
Columbia University Press. USA: 1997.

makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu)
BAB I
PENDAHULUAN
Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu, apapun disiplinnya. Tanpa mempertimbangkan
tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan lingkungan hidup baik hayati
maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Etika merupakan salah satu
bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Aksiologi itu sendiri ialah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan
kefilsafatan. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan
masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi, estetika, etika, filsafat agama dan
epistimologi.
   Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian
pemboman di berbagai tempat di Indonesia. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan
suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-
permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama
lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Contoh diatas
merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Dalam makalah ini saya akan sedikit
menjelaskan tentang
Ø Apakah problem etika dalam ilmu?
Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai?
BAB II
PEMBAHASAN

1. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu
Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi.
Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral, prinsip-prinsip moral
dasar, apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Etika adalah pembahasan
mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar (right), dan salah (wrong).
Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation).
Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral. Etika merupakan
tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak
dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Oleh karena
itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang
pelaksanaanya tidak ditunjuk.
Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadang-kadang
mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. Tanggung jawab etis, merupakan hal
yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Dalam hal ini berarti ilmuwan
dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, manjaga
keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, dan generasi yang akan
datang, serta bersifat universal, karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan
memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam
kehidupan manusia. Akan tetapi, menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak
dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia, baik dalam hubungannya
sebagai pribadi, dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab
terhadap khaliknya.
Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguh-sungguh
mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan
diri manusia, tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri.
Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang
memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu
tidak bebas nilai. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut.
2. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai
a. Bebas Nilai
Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan
aksiologi. Dalam hal ini, fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah
kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini
ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Menurut aliran
ilmu bebas nilai atau value free pembatasan-pembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi
pengembangan ilmu. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya
tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu
sendiri. Menurutnya ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai, yaitu
sebagai berikut:
Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian, yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor
politis, idiologis, agama, budaya, dan unsure kemasyarakatan lainnya
Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Kebebasan itu
menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri
Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat
kemajuan ilmu, karean nilai etis itu sendiri bersifat universal
Dalam pandangan ilmu bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk
kepentingan ilmu itu sendiri, seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan
pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni.
b. Tidak Bebas Nilai
Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu
selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai.
Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, kepentingan-kepentingan,
baik politis, ekonomis, sosial, religious, dsb.
Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas
nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Dia membedakan
tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing
Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis, ilmu ini menyelidiki gejala-gejala
alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-
kepentingan manusia.
Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu
dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya,
memperlancar hubungan sosial.
Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi
dirinya sendiri.
Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-
kepentingan tertentu, yakni nilai relasional antara manusia denagn alam, manusia denagn
manusia, dan nilai penghormatan terhadap manusia.
Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara
ilmu dan etika. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan
ilmu dan etika.
Pendapat pertama, mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan
dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat
ditentukan. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah, logis, dan berbicara tentang
fakta semata.
Pendapat kedua, menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan, seperti
pada bidang penyelidikan, putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil
dan petunjuk mengenai penerapan ilmu, tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri.
Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan, namun dalam struktur logis
ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan.
Pendapat ketiga, menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari
aspek-aspek kemanusiaan, sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia.
Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran, bukan nilai.
Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Namuan demikian dalam
aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi, etika
memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya
tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia.
Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu.
Apabila diperhatikan dengan seksama. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti
menghambat laju pengembangan ilmu. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih
bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi
manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga
akan terganggu.
3. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan

   Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di
luar ilmu pengetahuan , dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu
pengetahuan itu seharusnya bebas . Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang
dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Patutlah kita
menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini.
   Bila kata ―kebebasan‖ dipakai, yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk
memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Supaya terdapat
kebebasan, harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar.
Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak
dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan.
   Tanggungjawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu
pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia,
martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggungjawab pada kepentingan
umum, kepentingan pada generasi mendatang, dan bersifat universal . Karena pada dasarnya
ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan
untuk menghancurkan eksistensi manusia.
   Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan ―menghancurkan‖
otonomi ilmu pengetahuan, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri, yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.
   Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya,
karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik, lebih nyaman, lebih lama dalam menikmati
hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-
tekhnik yang semakin kompleks. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada
masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia, tetapi sudah sampai ketaraf
memenuhi keinginan manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai
manusia bukan sebaliknya




    BAB III
  PENUTUP

Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila, mempelajari kaidah-
kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Penilaian moral diukur
dari sikap manusia sebagai pelakuknya, timbul pula perbedaan penafsiran. Dari makalah yang
telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi
pengembangan ilmu.
Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia, ketika pengembangan ilmu tidak
dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas
yang berbahaya, yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang
dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Etika merupakan cabang filsafat yang
membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk.
Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang
baik menurut suatu teori-teori tertentu, dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika.


DAFTAR PUSTAKA

Ø Surajiyo.2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
Ø Bahri Ghazali, Usman, dan Alim. 2005. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN
SUKA
Ø
Ø Muntasyir, Rizal, dan Misnal Munir. 2000.Filsafat Ilmu. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


                                                                     Jul 10, '08 8:43 PM
           Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan
                                                                     for everyone
Category: Other
Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan
filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk
menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Akan tetapi, sebelum
sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan, seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu
ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat
menghasilkan pengetahuan pada manusia. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi
kedalam dua bagian. Pertama, konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua,
pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Artinya, proses
berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu; pengetahuan
yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan
seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari pengetahuan
sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan, pengetahuan sederhana itu diberi
pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Selanjutnya, untuk memahami
pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan
uraian psikologi, yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang
dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif, dari hal itu diharapkan dapat
berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada
pembenaran pengetahuan .
Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu
pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses
sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Landasan dan proses
pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan
pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga
diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang
mengandung makna universalitas. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu
pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi, epistemologi dan
aksiologi . Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar
pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran
secara umum. Sampai sejauh ini, didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan
dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Oleh karena itu, proses berpikir di dunia ilmiah
mempunyai cara-cara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang
ada diluar dunia ilmiah. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus
mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi, sementara dalam epistemologi dasar yang
menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu.

Teori Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena
pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia (
atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya
kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena
pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.
Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ?
Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia
ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini
sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika
masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi.
Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari
sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah
itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan
diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia
(world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari
kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.
Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu
membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas
otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi
objek. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau
nadzariyyah al ma'rifah).
Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang
lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah
ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku
tentang epistemologi secara khusus seperti, Mutahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad
Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan
Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang
epistemologi di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat
menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka
hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal
yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma
intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan
Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi
gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang
memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka
mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu,
bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif.
Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran
rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul
Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte
dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan
Sensualismenya.
Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama
dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi
antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama
yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak
sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan,
al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam
Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.
Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos"
dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata
"philoshop" adalah Socrates. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-
hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut
dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.
Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang
yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar
adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak
ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala
sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung
orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan
kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia
berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin
dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok
pandai. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh
Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal
dengan logika (mantiq) Aristotelian.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka
membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis
mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan
astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika.
Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan
politik.

Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar,
melakukan sesuatu tehadap objek, didasarkan pada suatu sistem, prosesnya menggunakan cara
yang lazim, mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian
diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Dengan
demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga
memerlukan prosedur, harus memenuhi aspek metodologi, bersifat teknis dan normatif
akademik. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu,
perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh karena itu
filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini
yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Filsafat ilmu dalam perkembangannya
dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan, tokoh pemikir
dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes
(aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas
dan empirisme pada proses berpikir.
Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga
terselenggara proses ―create‖ ilmu pengetahuan. Akumulasi penelaahan empiris dengan
menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan
memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. Akan tetapi, salah satu kelemahan
dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai
cara berpikir rasional, sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran
membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Oleh sebab itu, hakikat
berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan
berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya
secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Kalau
sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional, maka dengan meningkatnya
intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan
berpikir secara empiris. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir
empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi
dari metode ilmiah.
Berdasarkan terminologi, empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian
atau eksperimen, bukan teori , atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang
diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan) . Dengan demikian
sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat
dibuktikan), hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah
fakta yang sudah sempurna telah diamati, melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan.
Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak
sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang
mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang
berdasarkan taakulan, menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar, waras atau sesuatu yang
dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat, cocok dengan
akal, menurut rasio, menurut nisbah (patut). Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber
pengetahuan, yaitu; pertama, penginderaan (sensasi) dan kedua, sifat alami (fitrah) . Implikasi
dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai
pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses
penginderaan saja, karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal.
Sementara, pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-
pengertian dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja.
Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir
empiris yang didasarkan pada fakta (objektif), karena kematangan itu mempunyai dampak pada
kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme,
empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah.
Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional, empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan
dipandang menjamin kebenarannya, dengan demikian rasionalisme, empirisme dan objektivitas
merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan.
Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat
diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima
sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan. Paradigma ialah
lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman,
pengetahuan, kemahiran, dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan, kerangka
berpikir . Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna,
karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. Dogma primer ialah
prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi,
karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. Akibatnya dari kebutuhan terhadap
adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada
kebutuhan adanya rasionalisme, empirisme dan objektivitas. Artinya, apabila pengetahuan yang
dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional, empirikal dan objektif maka
kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Oleh
karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada
paradigma yang membentuknya.
Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu
pengetahuan seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan
dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. Oleh karena itu kita
tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri, jika kita
memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang
ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. Hal ini perlu dipahami
secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang
kritis, yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual, moral dan spiritual) yang
berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian jika kita mempertanyakan
penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas),
maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang
cukup serius.

Tingkatan Aksiologi Pengetahuan

Dalam filsafat ilmu, menurut Bertrand Russel, tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Dalam
tahap ini, ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan
pemahaman (ontologi dan epistemologi), melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang
terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi.
Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa
teknologi, misalnya.
Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan
persoalan-persoalan praktis, dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya, justru menimbulkan
masalah lain. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi, degradasi eksistensi
kemanusiaan, dan pengrusakan lingkungan hidup. Sejarah kehidupan manusia memang telah
mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi.
Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam, sementara pada sisi
lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan
dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk
mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sering melupakan faktor-faktor manusia. Misalnya, manusia mesti menyesuaikan diri terhadap
teknologi-teknologi baru. Akhirnya, eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science
and technology) antara kerusakan ekologi. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran
ekologi: kontaminasi air, udara, tanah, dampak rumah kaca, kepunahan spesies tumbuhan dan
hewan, pengrusakan hutan, akumulasi limba-limba toksik, penipisan laporan ozon pada atmosfir
bumi, kerusakan ekosistem lingkungan hidup, dan lain-lain. Lebih-lebih lagi, musuh
kemanusiaan, yaitu perang. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah
kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Berapa korban manusia
berguguran akibat bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang. Atau kawasan
Asia Tengah, yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang
buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia).
Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala
nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh
mengingkari suatu nilai, seperti nilai moral, religius, dan ideologi. Ilmu pengetahuan sudah
sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri, sementara teknologi atau ilmu
pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal
ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Kecemasan tertinggi di tengah
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan
proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut ―bayi tabung‖.
Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada ―bayi tabung‖ itu, yakni
suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Yang terakhir ini mengubah
hakikat manusia secara dramatis; ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu
menciptakan manusia juga. Bahkan, ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan
memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya, justru berkembang dimana ilmu
pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri.

Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis

Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. Antara lain
pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu
harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan
tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Penelaahan tujuan ilmu
pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan, untuk tulisan ini, cukup penting. Karena ide
dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan
penghidupan manusia. Seperti disebutkan sebelumnya, ekspektasi besar manusia pada ilmu
pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan
hidupnya. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan
justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah
disebutkan pada pragraf sebelumnya).
Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup
sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu
(bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi, bila ruang
gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari, berarti kita telah melangkah mundur
hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Konsekuensinya, kemandirian ilmu pengetahuan
untuk berkembang terkebiri, sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber
pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu.
Untuk sementara, dasar ontologis, epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu
diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian
ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dasar-dasar ini, suatu pengetahuan merupakan hasil
kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan manusia sebagai suatu obyek empiris
(tahap ontologis). Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti
(diketahui), maka itulah tahap epistemologis. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai
etika, moral, dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan
dalam proses itu. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan
manusia, berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Dalam tahap
ini, persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan
alamiahnya, tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Dalam artian
bahwa, kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu.
Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang
kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan
manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk
kepentingannya. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada
manusia itu sendiri. Jadi, fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada
manusia. Oleh karena itu, maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami
dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi
diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Sekaligus pula diperperterang kembali
bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada
tingkatan aksiologis itu. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo, di mana ilmuan
bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran
ontologis. Oleh karena itu, tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan
teknologi ini mendapat permakluman secara luas.

Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan

Kembali, kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil
manfaat dari ilmu pengetahuan. Dalam psikologi, dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal
dengan nama ―id‖, ―ego‖ dan ―super-ego‖. ―Id‖ adalah bagian kepribadian yang menyimpan
dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua
instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). ―Ego‖ adalah penyelaras antara
―id‖ dan realitas dunia luar. ―Super-ego‖ adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati
nurani. Dalam agama, ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu).
Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka dapat saja hanya
memfungsikan ―id‖-nya, sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin
diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego, dimana
ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal, maka tentu—atau juga nafsu angkara
murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu
pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia, atau malah mungkin kehancuran.
Kisah dua kali perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalah pilihan ―id‖
dari kepribadian manusia yang mengalahkan ―ego‖ maupun ―super-ego‖-nya.
Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak.
Nilai ini menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena
dalam penerapannya, ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif, maka diperlukan
patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi ―id‖ (libido) dan nafsu angkara murka
manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Di sinilah etika menjadi
ketentuan mutlak, yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.
Hakikat moral, tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya.
Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar
(right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang
kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral
. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau
sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh
karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan
(good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang
subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi
ini.
Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul
Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan
dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi, masalah moral berkaitan dengan
metafisik keilmuan, sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara
penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada
kenyataan, maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan.
Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi, ada dua
kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Kelompok pertama, memandang
bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini,
fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk
mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi
kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Kelompok kedua, berpendapat bahwa
kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam
penggunaannya, bahkan pemilihan obyek penelitian, kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-
asas moral. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam
penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita .
Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi, kelompok yang
mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi, di mana martabat
manusia menjadi lebih rendah, manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Hal
ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini, yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan
secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. (2) Ilmu telah
berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja)
sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi
penyalahgunaan. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan
bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada
revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.
Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan
dilema nurani mana yang baik, benar, yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya.
Disinilah, etika memainkan peranannya, etika berkaitan dengan ―apa yang seharusnya‖ atau
terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang
benar. Menurut J.Osdar, oleh filsuf Yunani kuno, Aristoteles, kata etika dipakai untuk
menunjukkan filsafat moral. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Kata moral
berasal dari bahasa Latin, yakni mos (jamaknya mores). Artinya kebiasaan, adat. Di sini kata
moral dan etika punya arti sama.
Dari pemahaman tersebut, maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi
pengembangannya. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang
bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan
moral. Teori–teori etika tersebut adalah :
1. Konsekuensialisme. Teori ini menjawab ―apa yang harus kita lakukan‖, dengan memandang
konsekuensi dari bebagai jawaban. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah
konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan, melebihi segala hal
merugikan, atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Manfaat
paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah
keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Kelemahan dari teori ini
bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya.
2. Deontologi, berasal dari kata Yunani deon yang berarti ―kewajiban‖. Teori ini menganut
bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak, dijawab dengan
kewajiban-kewajiban moral. Suatu perbuatan bersifat etis, bila memenuhi kewajiban atau
berpegang pada tanggungjawab, Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau
aturan-aturan, karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan
menyalahkan moral. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah
kejelasan dan kepastian. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap
konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Dengan hanya berfokus pada kewajiban, barangkali orang
tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem.
3. Etika Hak. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada
didalamnya, selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Yang penting dalam
hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Teori
hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan
tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman
konflik hak antar individu. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang
menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul.
4. Intuisionisme, teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi,
yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu
baik atau buruk. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang
buruk berdasarkan perasaan moralnya, bukan berdasarkan situasi, kewajiban atau hak. Dengan
intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat
mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses
pengambilan keputusan.
Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia.
Sebagaimana dikemukakan, fisuf Jerman, Imanuel Kant, penghormatan kepada martabat
manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan
tujuan pada dirinya, tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain.

Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan

Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di
luar ilmu pengetahuan , dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu
pengetahuan itu seharusnya bebas . Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang
dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Patutlah kita
menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini.
Bila kata ―kebebasan‖ dipakai, yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih
dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Supaya terdapat
kebebasan, harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar.
Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak
dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Tanggungjawab etis,
merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan
hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga
keseimbangan ekosistem, bertanggungjawab pada kepentingan umum, kepentingan pada
generasi mendatang, dan bersifat universal . Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah
untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan
eksistensi manusia.
Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan ―menghancurkan‖
otonomi ilmu pengetahuan, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri, yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.
Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya,
karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik, lebih nyaman, lebih lama dalam menikmati
hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-
tekhnik yang semakin kompleks. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada
masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia, tetapi sudah sampai ketaraf
memenuhi keinginan manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai
manusia bukan sebaliknya.
Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan
praksisnya sukar sekali dipisahkan. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia
yang bersifat nyata, dan bukan sekedar perbincangan teoritik ―awang-awang‖ harus dikendalikan
secara moral. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi –
apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia
akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan,
pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi
budak teknologi, kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial
seperti meningkatnya tingkat kriminalitas, penggunaan obat bius yang tak terkendali, pelacuran
dan sebagainya. Terjadi pula fenomena depersonalisasi, dehumanisasi, karena manusia
kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Bahkan dapat memicu konflik-
konflik sosial- politik, karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat
posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu
dan tekhnologi. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar
ilmu pengetahuan dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, antara industriawan
selaku produsen dengan konsumen. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu
pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan
konflik internal maupun politik.
Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan
dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu, sekarang, maupun apa akibatnya bagi masa
depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan-penemuan
baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam
maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa
yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik, yang
seharusnya ; baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi
perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam
ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara
realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.
Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah
hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya, kedua mengingatkan bahwa kita masih
bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Ilmu pengetahuan tidak mengenal
batas, asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Ilmu pengetahuan tidak dapat
menyelesaikan masalah manusia secara mutlak, namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi
manusia.
Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor
secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya, sebab ilmu pengetahuan saja tidak
cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Keterbatasan ilmu
pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu
sebagai pegangan.
Kemajuan ilmu pengetahuan, dengan demikian, memerlukan visi moral yang tepat. Manusia
dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya, namun
pertimbangan tidak hanya sampai pada ―apa yang dapat diperbuat‖ olehnya tetapi perlu
pertimbangan ―apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat‖ dalam
rangka kedewasaan manusia yang utuh. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika
dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah
konkret, bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan.
Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan
kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Realitas
permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai ―kekuasaan‖ untuk
memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya
sehingga menjadi konsep normatif, secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya.
Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan, ilmu dan etika saling bertautan. Tidak ada pengetahuan
yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan, ―apakah sesuatu itu baik atau jahat‖. ―Apa‖ yang
dikejar oleh pengetahuan, menjelma menjadi ―Bagaimana‖ dari etika. Etika dalam hal ini dapat
diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang
mengelola kelakuan manusia. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas
daripada sejumlah kaidah dari perorangan, mengenai yang halal dan yang haram. Tetapi
berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian
rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang
dibangkitkannya sendiri.
Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas, maka etika hanya menyebut peraturan-
peraturan yang tidak pernah berubah, melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan, bagaimana
manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. Etika
semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia
konkret. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum, melainkan langsung
melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia, sehingga terjadi hubungan timbale
balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Etika seperti itu berdasarkan ―interaksi‖ antara
keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-―bumi‖.

Penutup

Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila, mempelajari kaidah-
kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Penilaian moral diukur
dari sikap manusia sebagai pelakuknya, timbul pula perbedaan penafsiran. Timbulnya dilema-
dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral,
kemudian muncul teori etika, tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk
mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Meski demikan, teori etika memberikan
kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap
martabat kemanusiaan
Selain itu, pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya
berdasarkan situasi, kewajiban dan hak. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi
tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu
manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Apa yang baik
dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang
mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Sebagaimana namanya, ―intiusionisme‖
memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan, karena berpijak pada intuisi. Ini
dapat dimaknai, ilmuwan secara pribadi, menjadi penentu pertimbangan moral dari
pengembangan ilmu tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Charis Zubeir, Ahmad. 2002. Kajian Filsafat Ilmu; Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan
Manusia. Lembaga Studi Filsafat Islam; Yogyakarta
Van Melsen, A. G. M.1992. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Dr. K. Bertens, PT
Gramedia Pustaka Utama; Jakarta
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1995. Ed. ke 2. Jakarta: Balai Pustaka
As-Shadr, Muhammad Baqir.1995. Falsafatuna. Terj. M. Nur Mufid bin Ali. Bandung: Penerbit
Mizan.
Kamus Dewan. 1994. Ed. ke 3. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa.
Rosenthal, Franz. 1997. Keagungan Ilmu Terj. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Jujun S, Suriasumantri.,2003, ―Filsasfat Ilmu‖, sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar
Harapan: Jakarta
Soewardi, Herman, 1999, ―Roda Berputar Dunia Bergulir‖ Kognisi Baru Tentang Timbul-
Tenggelamnya Sivilisasi, Bakti Mandiri, Bandung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:778
posted:3/11/2011
language:Indonesian
pages:56