KEPERAWATAN JIWA.pptx TUA ATIK

					   Tahapan stress

Gangguan stress biasanya timbul secara lamban, tidak jelas kapan
    mulainya dan seringkali kita tidak menyadari. Namun meskipun
    demikian dari pengalaman peraktik psikiatri,para ahli mencoba
    membagi stress tersebut dalam enam tahapan setiap tahap
    memoerlihatkan sejumlah gejala-gejala yang dirasakan oleh yang
    bersangkutan, hal mana berguna bagi seorang dalam rangka
    mengenali gejala stess sebelumnya memeriksakannya ke dokter.
    Petunjuk tahapan stress teresebut di kemukakan oleh ROBERT J.
    Van amberg psikiater sebagai berikut:
1. Stress tingkat I
Tahapan ini meruupakan tikat stress yang paling ringan, dan biasanya di
    sertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
   Semangat besar
   Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya
   Energy dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan
    lebih dari biasanya.
Tahapan ini biasanya menyenangkan dan orang lalu bertambah semangat
    tapi tampa di sadari bahwa sebenarnya cadangan energy
    sedangmenipis.
2. Stress tingkat II
Dalam tahapan ini tampak stress yang menyenangkan mulai menghilang
    dan timbul keluhan –keluhan dikarenakan cadangan energy tidak lagi
    cukup sepanjang hari. Keluhan –keluhan yang sering di kekemukakan
    sebagai berikut:
 Merasa letih sewaktu bangun pagi
 Merasa lelah sesudah makan siang
 Merasa lelah ketika menjelang sore hari
 Terkadang gangguan dalam system pencernaan( gangguan usus,peru
    kembung), kadanag- kadang pula jantung berdebar-debar.
 Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk ( belakang
    leher )
 Perasaan tidak bisa santai
3. Stress tingkat III

Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin tampak di sertai dengan
   gejala-gejala:
 Gangguan usus lebih terasa ( sakit perut, mulas, sering ingin
   kebelakang ).
 Otot-otot terasa tegang
 Perasaan tegang yag semakin meningkat
 Gangguan tidur( sukar tidur, sering terbangun malam dan sukar tidur
   kembali, atau bangun terlalu pagi)
 Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pingsan ( tidak sampai jatuh
   pingsan )
Pada tahap ini penderita sudah harus berkonsultasi paa dokter, kecuali
   kalau beban stress atau tuntutan –tuntutan dikurangi, dan tubuh
   mendapakan kesempatan untuk beristirahat atau relaksasi , guna
   memulihkan suplai energi.
4. Stress tikat IV
Tahapa ini sudah menujukkan keadaan yang lebioh buruk yang di tandai
   dengan ciri- ciri sebagai berikut:
 Untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit
 Kegiatan –kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit
 Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan sosial,
   dan kgiatan- kegiatan rutin lainya terasa berat.
 Tidur semakin sukar,mimpim-mimpi menegangangkan , dan
   seringkali terbangun dini hari
 Perasaan negavistik
 Kemampuan berkonsentarsi meurun tajam
 Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti mengapa?
5. Stress tingkat V
Tahapan ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahapan IV
    diatas , yaitu:
   Keletihan mendalam(physical and physicological exhaustion)
   Untuk pekerjan-pekerjaan yang sederhana saja terasa kurang mampu
   Gangguan system pencernaan ( sakit maag, dan usus) lebih sering,
    sukar buang air besar, atau sebaliknya fases cair dna erring
    kebelakan.
   Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panik
6. Stress tingkat VI
Tahapan ini merupakan tahapan puncak ya g merupakan keadaan gawat
   darurat.Tidak jarang penderita dalam tahapan ini dibawa ke ICCU.
   Gejala- gejala pada tahapan ini cukup mengerikan.
   Debar jantung terasa amat keras, ahal ini disebabkan zat adrenalin
    yang dikeluarkan ,karena stress tersebut cukup tinggi dalam
    peredaran darah.
   Nafas sesak, megap- megap
   Bdan gemetar, tubuh dingin,keringan bercucuran
   Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalipuntidak kuasa lagi, pingsan
    atau collaps.
   Aspek Etik & Legal Dalam Keperawatan Jiwa.
 Prinsip etika adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang di yakini oleh
  profesi keperawatan dan melaksanakan tugasnya yang berhubungan
  dengan pasien, masyarakat, teman sejawat organisasi profesi serta
  pengatuaran pratik itu sendiri ( berger & wiilliams, 1999)
 Stuart&sunden dalam principles and prachel of psychiatric nursing
  care membuat model critical ethical analysis( pengambilan keputusan
  sesuai etik) :
 Meliputi pengumpulan informasi untuk klarifikasi belakang issue
  tersebut.
 Mengindetifikasi komponen etik faktor kebebaan atau ancaman (
  dilihat dari sudut hak untuk dapat menolak pelayanan)
 Mengklarifikasi hak & tanggung jawab semua pihak-pihak yang
  terlibat ( perawat, klien, keluarga, dokter)
 Eksplorasi masalah( alternative,tujuan,konsekuensi)
 Aplikasi prinsip( teori etik ilmiah yang relevan filsofi keperawatan)
 Revolusi dalam tindakan(
Prinsip Legal : aspek hukum yang mendasari pengarahan praktik asuhan
   keperawatan dan penanggung klien penyakit jiwa.

Beberapa hal yang terkait dengan aspek legal problem jiwa.
1. Komitment rumah sakit : tipe pasien
a. Masuk rumah sakit
 Secara volunteer(sukarela)
 Darurat
 Observial
 Tidak di tentukan
 Rawat jalan
b. Pemulangan
 Bersyarat: tidak memerlukan keputusan hukum
 Mutlak
 Keputusan pengadilan : memiliki izin secara tertulis untuk pulang
    walaupun belum boleh pulang oleh dokter.


2. Hak-hak klien
 Persetujuan tindakan medic( informant concent)
 Kerahasian ( confidentiality)
 Pengungkapan legal
 Hak mendapatkan terapi
 Hak menolak terapi
 Hak alternative pembayaran yang meminimalkan pemberian terapi
    tetap menjaga kebebasan klien.
HAK-HAK ASASI KESEHATAN JIWA
Rangkuman UU system kesehatan jiwa tahun 1980
 Mendapatkan terapi dengan situasi pembatasan yang minimal
 Mendapat rencana terapi yang akurat bersifat individual termaksud
   pada saat klien pulang
 Berpartisipasi dalam penyusunan & perbaikan rencana terapi
 Mendapat informasi mengenai strategi perawatan alternative dan
   efek samping dari hasil terapi tersebut
 Menolak , kecuali dalam situasi darurat yang diatur oleh hukum
   Negara
 Bebas dari pengasingan kecuali dengan situasi darurat
 Di tempatkan pada tempat perawatan yang manusia
 Kerahasian hukum medis
 Menerima kunjungan
1.   Kesehatan jiwa di mulai pada saat konsepsi

 Marc Lehrer, seorang ahli California dari 3000 bayi yang di teliti di
  berikan stimulasi dini berupa suara, music,cahaya,getaran,dan
  sentuhan. Setelah dewasa memiliki perkembangan fisik, mental , dan
  emosi lebih baik.
 Marion cleves, penelitian pada tikus hamil stimulasi dengan listrik ,
  cahaya , dengan suara meningkat kecerdasan dengan prenatal care
  yang baik stimulasi sejak di dalam kandungan mampu berbicara,
  berkomunikasi ,menirukan suara, tersenyum dan meningkatkan
  kemampuan adaptasi.
 Mednick, teori perkembangan neurokognitif berkurangnya perhatian
  pada penderita skizofrenia
2.Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa

   Rumah sakit sardjitoYogyakarta tahun 2003 klien jiwa rawat inap 371
    pasien , tahun 2004 meningkat menjadi 433 pasien.
   Rumah sakit jiwa Sum-Sel tahun 2003: 4101 pasien jiwa, tahun 2004
    meningkat 4384 pasien jiwa. Meningkat ( 10-15 %) .
   RS Tkt II pelamonia:tahun 2007 pasien jiwa sebanyak 261 orang,
    tahun 2008 pasien jiwa 268 orang, tahun 2009 pasien jiwa 240 orang.
   WHO : 450 juta orang di dunia mengalami gangguan jiwa.
   SKRT tahun 1995: ada 264 / 1000 anggota RT menderita gangguan
    jiwa.
   Secara global kurang/lebih 450 juta orang mengalami gangguan
    mental dan 1 juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya
Aris sudiyanto( guru besar Ilmu kedokteran jiwa,UNS, Solo),
   mengatakan ada 3 golongan penyebab gangguan jiwa:

1. Pertama: gangguan fisik, biologis(organic) penyebab antara lain :
    keturunan, kelainan pada otak , penyakit infeksi ( hepatitis/malaria),
    kecenderungan obat atau alcohol.
2. Kedua: gangguan mental, emosional ( kejiwaan ), penyebab: adalah
    salah dlam pola pengasuhan hubungan patologis di antara anggota
    keluarga , frustasi , konflik, dan tekanan krisis.
3. Ketiga: gangguan sosial( lingkungan) , penyebab: berupa stressor
    psikososial( perkawinan,problem orang tua, hubungan interpersonal,
    pekerjaan, sekolah, masalah keuangan, hukum, perkembangan diri,
    faktor keluarga , penyakit fisik dan lain-lain.
Kecenderungan Penyakit/ gangguan mental/jiwa
  ( Antai otong 1994)

Perubahan sosial ekonomi yang amat cepat dan situasi
  sosial politik yang tidak menentu menyebabkan
  semakin tingginya angka pengangguran, kemiskinan
  dan kejahatan, situasi ini dapat meningkatkan angka
  kejadian krisis dan gangguan jiwa.
Beberapa Faktor kecendrungan meningkatnya gangguan jiwa yosep ( 2009 )
1. Meningkatnya Post Traumatic Syndrome Disorder yaitu kecemasan
    patologis yang terjadi setelah seseorang mengalami / menyaksikkan
    trauma berat yang mengganggu secara fisik dan jiwa orang tersebut.
    Stress yang disebabkan pengalaman traumatic dapat berupa korban
    kriminalitas, kekerasan fisik, peperangan, bencana alam.
2. Meningkatnya masalah Psikososial
      Masalah perkembangan manusia yang terkait dengan makna dan
    nilai-nilai kehidupan manusia ( Lifecycle manusia )
      Masalah psikososial yaitu psikis yang timbul sebagai akibat terjadinya
    perubahan sosial misalnya masalah anak jalanan, remaja tawuran,
    penyalahgunaan narkotika ( psikotropika ) penyimpangan seksual,
    tindak kekerasan, kemiskinan, stress pasca trauma, usila yang terisolasi.
3.Trend perilaku bunuh diri pada anak dan remaja
4. Masalah napsa, HIV/ AIDS
5. Pola asuh dalam keluarga
   Kehangatan, komunikasi, control/ pengamatan, pemberian
    kemandirian dalam menyelasaikan masalah.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:533
posted:3/9/2011
language:Indonesian
pages:18