Organisasi Food and Beverage Manager Chart by fcz38469

VIEWS: 0 PAGES: 36

Organisasi Food and Beverage Manager Chart document sample

More Info
									BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
   REPUBLIK INDONESIA




 HASIL PEMERIKSAAN

         ATAS

PERUSAHAAN DAERAH (PD)
 HOTEL SWARNA DWIPA
  TAHUN 2004 DAN 2005


           DI
      PALEMBANG




        Nomor   :   258 F /S/XIV.2/11/2005
        Tanggal :   16 Nopember 2005
                                                       i


                                             DAFTAR ISI


                                                                                                             Halaman

A. Gambaran Umum ..............................................................................................      1
        1.     Tujuan Pemeriksaan ...............................................................................    1
        2.     Sasaran Pemeriksaan …………………………………………………...                                                            1
        3.     Metode Pemeriksaan ................................................................................   1
        4.     Jangka Waktu Pemeriksaan .....................................................................        2
        5.     Uraian Singkat mengenai entitas yang diperiksa ……………………….                                             2
               a. Landasan dan tujuan pendirian serta bidang usaha …………………..                                         2
                b.Perkembangan Perusahaan …………………………………………...                                                        2
                  1) Perkembangan Neraca Perusahaan ………………………………                                                     2
                  2) Perkembangan Laba-Rugi Perusahaan …………………………...                                                 4
         6.    Kewajiban kepada Negara dan Daerah ………………………………...                                                    5
        7.     Kegiatan Pengawasan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
               (APIP) …………………………………………………………………..                                                                    5
        8.     Cakupan Pemeriksaan ………..………………..……………………….                                                           6
B. Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern …………………………….                                                         6
        1.     Organisasi …………...……………………………………………….....                                                             6
               a. Badan Pengawas ……………………………… …………………….                                                              6
                b.Direksi …… .………………………………………….……………...                                                              6
               c.Struktur Organisasi …………………………………………………...                                                          7
        2.     Kebijaksanaan …………………………………………………………..                                                                7
        3.     Prosedur Kerja ………………………………………………………….                                                                7
        4.     Personalia ………………………………………………………………                                                                   8
        5.     Perencanaan …………………………………………………………….                                                                  8
        6.     Pencatatan ………………………………………………………………                                                                   8
        7.     Pelaporan ……………………………………………………………….                                                                   8
        8.     Pengawasan Intern ……………………………………………………..                                                              8
                                               ii


C. Temuan Pemeriksaan …………………………………………………………                                                                  9
   1.   Pajak Hotel dan Restoran Kurang Disetor Sebesar Rp60.828.551,00 ….                                    9
   2.   Penetapan dan Penggunaan Laba Tidak Sesuai Dengan                                   Ketentuan
        Sebesar Rp248.153.766,63 ......................................................................      12
   3.   Kebijakan atas Piutang Usaha Tidak                           Efektif Minimal Sebesar
        Rp55.093.050,00 ...................................................................................... 14
   4.   Realisasi Beberapa Penambahan Asset Tahun 2004 Dan 2005 Di Luar
        Yang Ditetapkan Dalam Rencana Anggaran Dan Tanpa Surat
        Perjanjian Kerja Sebesar Rp316.323.352,00 …………………………                                                 18
   5.   Aktiva Tetap Perusahaan Lebih Tinggi Dari Yang Seharusnya Sebesar
        Rp55.910.200,00 ……………………………………………………….. 22
   6.   Dana Sosial, Pendidikan dan Dana Pensiun Tidak Dicadangkan
        Sebesar Rp169.429.346,05 ……………………………………………..                                                         25
   7.   Sistem       Akuntansi         Tidak        Efektif     untuk      Menciptakan           Siklus
        Berkelanjutan Sebesar Minimal Rp3.427.128.152,00 …………………                                             27
   8.   Perkiraan-perkiraan pada Chart Of Account Tidak Informatif Minimal
        Sebesar Rp1.001.332.879,95 …………………………………………...                                                       31
   9.   Penerimaan Dari Pengoperasian Cafe Dan Karaoke Kurang Diterima
        Sebesar Rp45.000.000,00 ........................................................................     35
                       BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
                          REPUBLIK INDONESIA

                             HASIL PEMERIKSAAN



A. Gambaran Umum
  1. Tujuan Pemeriksaan
    Untuk menguji dan menilai apakah pelaksanaan kegiatan Perusahaan Daerah (PD)
    Hotel Swarna Dwipa telah dilaksanakan dengan memperhatikan segi ketertiban dan
    ketaatan pada Peraturan Perundang-undangan, kehematan (ekonomis), etisien dan
    etektif sesuai rencana yang telah ditetapkan.

  2. Sasaran Pemeriksaan
    a. Pendapatan;
    b. Biaya;
    c. Investasi;
    d. Hutang dan Piutang;
    e. Pelaksanaan kegiatan usaha (operasional) dan non operasional;
    f. Kerja sama dengan pihak ketiga;
    g. Kewajiban kepada Daerah dan Negara.

  3. Metode Pemeriksaan
    Pemeriksaan dilakukan secara uji petik atas dokumen pertanggungjawaban
    keuangan dan kegiatan operasional perusahaan..




                                          1
4. Pemeriksaan dilakukan pada tanggal       12   September 2005 sampai dengan 15
  Oktober 2005.

5. Uraian Singkat mengenai entitas yang diperiksa
  a. Landasan dan tujuan pendirian serta bidang usaha
     PD. Hotel Swarna Dwipa didirikan dengan Peraturan Daerah (Perda) Sumatera
     Selatan Nomor 8 Tahun 1990 tanggal 10 Februari 1990.
     Tujuan pendirian perusahaan PD Hotel Swarna Dwipa adalah sebagai salah satu
     sumber pendapatan asli daerah melalui usaha-usaha perhotelan dan sebagai
     sarana pengembangan perekonomian dalam rangka pembangunan daerah.
     Unit-unit usaha yang dimiliki oleh PD. Hotel Swarna Dwipa adalah ;
     1) Penjualan kamar hotel
     2) Penjualan Makanan dan Minuman
     3) Penjualan Operasional lainnya

   b. Perkembangan Perusahaan
     Perkembangan PD. Hotel Swarna Dwipa dalam dua tahun yaitu Tahun 2004 dan
     Tahun 2005 (s.d. bulan September) dapat diketahui berdasarkan Laporan
     Keuangan berupa Neraca dan Laba/Rugi sebagai berikut :

     1) Perkembangan Neraca Perusahaan
                     URAIAN                                        TAHUN
                                                        2004                 2005
                                                                           (s/d Juli)
     AKTIVA
     Aktiva Lancar

     Kas dan Bank                                 181,285,993.00       318,653,071.00

     Piutang Usaha                                693,791,315.00       527,710,967.00

     Piutang Lain lain                            5,000,000.00         (103,854,906.00)

     Persediaan                                   67,138,850.00        59,142,743.00

     Pajak Dibayar Dimuka                                          -   736,873,370.00

     Biaya Dibayar Dimuka                         48,256,578.00        195,588,655.00

                                        2
Aktiva Lancar Lainnya                   30,767,759.00       416,408,427.00

Aktiva Tetap

Nilai Buku                              9,132,412,497.24    10,957,667,351.00

Aktiva Lain Lain

Aktiva Tetap yang Tidak Produktif       33,872,206.00       33,872,206.00


JUMLAH AKTIVA                           10,192,525,198.24   13,142,061,884.00

KEWAJIBAN
Kewajiban Lancar

Hutang Usaha                            147,459,523.00      118,350,244.00

Biaya YMH Dibayar                       332,836,529.00      50,368,122.00

Hutang Pajak                            93,143,560.00       164,937,923.00

Hutang Jaminan dan Lain Lain            141,788,452.00      118,762,474.00

Pendapatan Diterima Dimuka              103,531,850.00                         -

Jumlah Kewajiban Lancar                 818,759,914.00      452,418,763.00

Kewajiban Jangka Panjang

Hutang Kepada Bank Sumsel               1,896,307,908.00    1,384,231,925.00

Hutang Kepada BTN                       11,073,724.00       10,649,706.00

Hutang Pembelian Kendaraan              83,310,657.00       116,129,033.00

Hutang Bank Sumsel                      217,741,936.00      65,739,301.00

Jumlah Kewajiban Jangka Panjang         2,208,434,225.00    1,576,749,965.00

Modal Sendiri

Modal Sendiri                           4,727,308,396.00    5,450,223,023.00

                                    3
Laba Yang Ditahan                      2,438,022,663.24       4,610,778,773.00

Laba Tahun Berjalan                                       -   1,051,891,360.00

Jumlah Modal Sendiri                   7,165,331,059.24       11,112,893,156.00
JUMLAH KEWAJIBAN DAN
MODAL                                  10,192,525,198.24      13,142,061,884.00


2) Perkembangan Rugi/Laba Perusahaan

               URAIAN                                TAHUN
                                             2004                   2005
                                                                  (s/d Juli)
PENDAPATAN HOTEL

Kamar                                   3,371,045,888.00       1,838,839,049.00

Makanan dan Minuman                     1,179,344,798.00       2,237,502,300.00

Departemen Operasional Lainnya          4,820,251,369.00         801,026,574.00

Jumlah Pendapatan Hotel                 9,370,642,055.00       4,877,367,923.00
Beban Departemen

Harga Pokok Penjualan                   1,610,266,233.00         927,746,967.00

Gaji dan Tunjangan Lainnya                930,940,145.00         533,244,820.00

Beban Departemen Lainnya                  811,411,684.00         631,851,370.00

Jumlah Beban Lainnya                    3,352,618,062.00       2,092,843,157.00

Laba Departemen                         6,018,023,993.00       2,784,524,766.00

Beban Non Departemen                    5,048,521,362.95       1,970,008,985.00

Laba Usaha                                969,502,630.05         814,515,781.00

Pendapatan Lain lain                      451,483,282.00         237,375,579.00

Laba Sebelum PPh                        1,420,985,912.05       1,051,891,360.00



                                 4
6. Kewajiban kepada Negara dan Daerah

  a. Kewajiban Negara
     PD. Hotel Swarna Dwipa untuk Tahun 2004 dan Tahun 2005 (s.d. bulan Juli)
     telah menyetorkan kewajiban kepada Negara berupa PPh Pasal 21 masing-
     masing sebesar Rp257.549.982,00 dan Rp164.937.923,00

  b. Kewajiban kepada Daerah
     1) Kontribusi untuk Pendapatan Daerah
        Untuk Tahun 2004 PD Hotel Swarna Dwipa telah menyetorkan kontribusi
        laba kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan masing-masing sebesar
        Rp300.000.000,00.
     2) Pajak Hotel dan Restoran
        Dalam Tahun 2004 dan Tahun 2005 (s.d. bulan Juli), PD. Hotel Swarna
        Dwipa telah membayar dan menyetorkan Pajak Hotel dan Restoran masing-
        masing sebesar Rp253.448.004,00 dan Rp156.120.667,00

7. Kegiatan Pengawasan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)
  Telah dilakukan pemeriksaan reguler oleh Badan Pengawas Daerah Propinsi
  Sumatera Selatan untuk tahun buku 2004 sebagaimana yang termuat dalam LHP.
  Temuan-temuan yang dikemukakan adalah sebagai berikut :
  a. Realisasi Pendapatan selama tahun 2004 masih berada di bawah target yaitu
     sebesar   Rp9.979.309.879,00    dari    jumlah   yang   ditargetkan   sebesar
     Rp10.270.622.000,00
  b. Terdapat piutang yang belum diselesaikan sampai dengan 31 Desember 2004
     sebesar Rp590.259.465,00
  c. Terdapat satu orang karyawan yang tidak didukung surat keputusan
     pengangkatan yang jelas
  d. Pengadaan Televisi Toshiba 20 inci sebanyak 21 unit belum didaftarkan dalam
     Buku Induk Inventaris sebagai aset perusahaan.




                                       5
  8. Cakupan Pemeriksaan
     Berdasarkan penilaian tim atas sistem pengendalian intern dan jangka waktu
     pemeriksaan,     ditetapkan   cakupan      pemeriksaan      Tahun   2004   sebesar
     Rp18.223.264.761,95 yang terdiri dari Pendapatan sebesar Rp9.822.125.337,00
     dan Biaya sebesar Rp8.401.139.424,95 atau sebesar 100% dari total realisasi
     anggaran perusahaan sedangkan Tahun 2005 (s.d. bulan Juli) sebesar
     Rp9.177.595.644,00 yang terdiri dari Pendapatan sebesar Rp5.114.743.502,00 dan
     Biaya sebesar Rp4.062.852.142,00 atau sebesar 100% dari total realisasi anggaran
     perusahaan.


B. Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern
  Sistem pengendalian intern yang diterapkan dalam pelaksanaan pengelolaan
  Perusahaan Daerah (PD) Hotel Swarna Dwipa adalah sebagai berikut :
  1. Organisasi
     a. Badan Pengawas
       Badan Pengawas PD. Hotel Swarna Dwipa telah terbentuk sesuai dengan Surat
       Keputusan Gubernur Nomor 193/SK/IV/2001 tanggal 23 Mei 2001 dengan
       susunan sebagai berikut :
          NO             JABATAN                              INSTANSI
         1)       Ketua merangkap anggota       Wakil Gubernur
         2)       Sekretaris                    Sekretaris Daerah
         3)       Anggota                       Kepala Biro Perekonomian
         4)       Anggota                       Kepala Biro Hukum
         5)       Anggota                       Kepala Sub Bagian Bidang Perekonomian


     b. Direksi
       Pengangkatan dan pemberhentian Direksi PD. Hotel Swarna Dwipa termuat
       dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 052/KPTS/IV/2003 tanggal 14
       Februari 2003 yaitu mengangkat Ir. H. M. Idris Musa sebagai Direktur Utama
       PD Hotel Swarna Dwipa.


                                            6
  c. Struktur Organisasi dan Tata Kerja
     Stuktur Organisasi dan uraian tugas oganisasi PD. Hotel Swarna Dwipa yakni
     Direksi, General Manager, Assistant General Manager, Chief Accountant,
     Assistant Chief Accountant, Sales Manager, Front Office Manager, Executive
     House Keeping, Food and Beverage Manager, Chief Engineering, Personil
     Manager dan Chief Security yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan
     Direktur Utama PD. Hotel Swarna Dwipa Nomor 895/DU/HSD-08/2004
     tanggal 16 Agustus 2004.


2. Kebijaksanaan
  Terdapat tiga kebijaksanaan oleh PD Hotel Swarna Dwipa yang tidak sesuai
  dengan ketentuan. Masing masing kebijakan tersebut adalah :
  a. Pengadaan pakaian seragam yang seharusnya dianggap persediaan (barang habis
     pakai) digolongkan sebagai belanja aktiva tetap sebesar Rp Rp55.910.200,00.
  b. Pembagian dan pengelolaan Laba Bersih perusahaan tidak sesuai dengan Perda
     Nomor                 2/1998           sebesar          Rp           417.583.112,68
     (Rp248.153.766,63+Rp169.429.346,05).
  c. Penambahan asset Tahun 2004 dan 2005 di luar yang telah ditetapkan dalam
     Rencana Anggaran dan tanpa menggunakan Surat Perjanjian Kerja (SPK)
     sebesar Rp371.998.552,00.


3. Prosedur Kerja
  Secara umum unit kerja yang ada di PD Hotel Swarna Dwipa dibagi atas unit kerja
  Departemen yaitu yang berhubungan dengan kegiatan operasional hotel dan Non
  Departemen       yaitu    unit    unit   penunjang   seperti   Accounting,   Marketing,
  Management, dan lain lain.. Unit kerja Departemen bertugas secara bergiliran dan
  diatur berdasarkan 3 shift yaitu Pagi (6.00 sd 14.00), Siang (14.00 sd 22.00) dan
  Malam (22.00 sd 06.00). Unit kerja Non Departemen bertugas dari pukul 07.30 sd
  16.00 setiap Senin sampai Jumat dan dari pukul 7.30 sd 14.00 setiap sabtu.




                                             7
4. Personalia
  Jumlah dan status pegawai PD. Hotel Swarna Dwipa Tahun 2005 (s.d bulan
  Oktober) sebanyak 157 orang terdiri dari :
  a. Pegawai Tetap sebanyak 149 orang
  b. Pegawai Honorer sebanyak 8 orang


5. Perencanaan
  PD. Hotel Swarna Dwipa telah membuat Rencana Anggaran Perusahaan (RAP)
  setiap tahun yang disahkan oleh Gubernur Sumatera Selatan. RAP ini merupakan
  acuan dalam melaksanakan kegiatan perusahaan. Hal ini dapat dilihat dalam
  Laporan Bulanan yang telah mencantumkan jumlah target dan realisasi yang telah
  dicapai


6. Pencatatan
  Setiap kejadian (transaksi) keuangan yang terjadi telah didokumentasikan dalam
  sistem akuntansi, meskipun belum dapat diandalkan sebagai salah satu alat untuk
  pengambilan keputusan dan penetapan strategi perusahaan. Demikian pula dengan
  sistem pendokumentasian kegiatan operasional perhotelan lainnya, umumnya telah
  dilakukan meskipun belum lengkap.


7. Pelaporan
  Masing-masing unit kerja telah menyampaikan secara periodik sebagai bahan
  Laporan Bulanan PD. Hotel Swarna Dwipa. Meskipun demikian masih perlu
  diadakan penyempurnaan baik dari format maupun isi laporan karena sebagian
  besar masih belum mencerminkan kejadian yang senyatanya pada PD.Hotel
  Swarna Dwipa.


8. Pengawasan Intern
  Belum terbentuk Sistem Pengawasan Intern Perusahaan




                                       8
C. Temuan Pemeriksaan

  1. Pajak Hotel dan Restoran Kurang Disetor Sebesar Rp60.828.551,00

            Perusahaan Daerah (PD) Hotel Swarna Dwipa merupakan salah satu Badan
     Usaha Milik Daerah Provinsi Sumatera Selatan yang diharapkan mampu memberikan
     kontribusi kepada daerah dan merupakan sumber Pendapatan Daerah yang dapat
     menunjang pembangunan daerah.
            PD. Hotel Swarna Dwipa melakukan kegiatan penjualan atas kamar, makanan
     dan minuman dan beberapa fasilitas pelayanan lainnya secara tunai maupun kredit.
     Penjualan makanan terbagi menjadi penjualan di Restoran Hotel dan Restoran
     Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Pemeriksaan atas bukti setor Pajak
     Hotel dan Restoran (PHR) tahun 2004 dan 2005 diketahui terdapat kekurangan
     penyetoran PHR tahun 2004 dan 2005 (sampai dengan bulan Juli) atas penjualan
     kamar, makanan dan minuman sebesar Rp60.828.551,00 yaitu :
        Tahun 2004
        Room Sales                             3.667.194.858,00
        Food Sales                             1.069.799.334,00
        Beverage Sales                            30.336.917,00
                                               4.767.331.109,00
        Discount Allowance                       527.432.434,00
        Omzet                                  4.239.898.675,00
        Net 110%                               3.854.453.340,91   (100/110*4.239.898.675,00)
        PBN 10%                                  385.445.334,09
        Dikurangi Piutang yg belum di-
        bayar Thn 2004
        10% x Rp693.791.315,00                   69.379.131,50
        Pajak Hotel yg hrs dibayar              316.066.202,59
        Yang dibayar                            266.154.253,00
        Selisih Kurang Bayar                     49.911.949,59

        Tahun 2005
        Room Sales                             1.575.938.018,00
        Food Sales                               443.457.267,00
        Beverage Sales                            15.695.128,00
                                               2.035.090.413,00
        Discount Allowance                       225.213.461,00
        Omzet                                  1.809.876.952,00
        Net 110%                               1.645.342.683,64
        PBN 10%                                  164.534.268,36
        Yang dibayar                             153.620.667,00
        Selisih Kurang Bayar                      10.913.601,36




                                           9
Dengan demikian Pajak Hotel dan restoran yang harus disetor seluruhnya sebesar
Rp60.828.551,00 (Rp49.911.950,00 + Rp10.913.601,00).


       Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 24
Tahun 2002 tentang Pajak Hotel Bab IV Pasal 7 :
a. Ayat (1) yang menyatakan bahwa besarnya tarif pajak hotel ditetapkan 10%.
b. Ayat (2) yang menyatakan bahwa dasar pengenaan pajak adalah jumlah
  pembayaran yang dilakukan kepada hotel.


       Keadaan tersebut mengakibatkan Pajak Hotel dan Restoran kurang dan belum
disetor sebesar Rp60.828.551,00.


       Hal tersebut diatas terjadi karena :
a. Chief Accountant PD. Swarna Dwipa lalai dalam menyetorkan kewajiban Pajak
  Hotel dan Restoran kepada Pemerintah Kota Palembang.
b. Kurangnya pengawasan dan pengendalian dari General Manager PD. Swarna
  Dwipa.


       Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa mengakui bahwa memang benar
telah terjadi kekurangan setor atas Pajak Hotel dan Restoran sebesar Rp60.828.551,00
yang disebabkan PD Hotel Swarna Dwipa memiliki kebijakan untuk membayar
Pajak Hotel dan Restoran secara taksasi setiap bulan dalam jumlah yang relatif sama.
Untuk selanjutnya pajak tersebut akan dibayarkan ke Kas Daerah Pemerintah Kota
Palembang secara berangsur.


       BPK RI menyarankan kepada Badan Pengawas PD Hotel Swarna Dwipa
untuk memberikan teguran secara tertulis kepada pihak manajemen PD Hotel Swarna
Dwipa dan segera menyesuaikan jumlah taksasi pembayaran pajak dengan yang




                                         10
senyatanya dan menginstruksikan agar tunggakan pajak sebesar Rp60.828.551,00
segera disetor ke Kas Daerah.




                                   11
2. Penetapan dan Penggunaan Laba Tidak Sesuai Dengan Ketentuan Sebesar
  Rp248.153.766,63
           PD Hotel Swarna Dwipa di dalam melakukan kegiatannya juga ditujukan
  untuk memperoleh keuntungan atau laba. Laba yang diperoleh setelah dikurangi
  akumulasi penyusutan, cadangan tujuan dan pajak dibagi berdasarkan prosentase
  yang besarannya telah ditentukan berdasarkan Perda Nomor 2 Tahun 1998 antara
  lain kepada pemerintah daerah, cadangan umum, jasa produksi, dana sosial,
  pendidikan, sumbangan dana pensiun pegawai dan sokongan.
           Berdasarkan pemeriksaan     diketahui pembagian laba PD Hotel Swarna
  Dwipa tahun 2004 adalah sebagai berikut :
                 Uraian               Seharusnya        Dibayarkan       Kurang/Lebih
   Laba Bersih Setelah Pajak 2004     996.643.212,05   996.643.212,05         -

   Prosentase Pembagian
   55% Dana Pembangunan untuk
   Pemda Provinsi Sumsel              548.153.766,63   300.000.000,00     248.153.766,63
   45% Dana untuk HSD                 448.489.445,42   696.643.212,05   (248.153.766,63)


           Dari jumlah yang seharusnya sebesar Rp548.153.766,63, Pemerintah
  Daerah Propinsi Sumsel telah menerima pembayaran atas pembagian Dana
  Pembangunan tersebut sebanyak Rp300.000.000,00 dengan tiga kali pembayaran
  sebesar masing masing Rp100.000.000,00.


           Berdasarkan rincian pembagian laba diatas, maka terdapat kekurangan
  pembayaran ke Pemda Provinsi Sumatera Selatan sebesar Rp248.153.766,63
  (Rp548.153.766.63 - Rp300.000.000).


           Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera
  Selatan Nomor 2 Tahun 1998 tentang PD. Perhotelan Swarna Dwipa Bab XI Pasal
  25 yang menyatakan bahwa Laba bersih yang telah disahkan menurut ketentuan
  pasal 23 Perda ini setelah terlebih dahulu dikurangi penyusutan, cadangan tujuan dan




                                        12
pajak ditetapkan sebagai berikut antara lain untuk Dana Pembangunan Daerah
sebesar 30% dan untuk Anggaran Belanja Daerah 25%.


        Keadaan tersebut mengakibatkan Pemda Provinsi Sumatera Selatan kurang
menerima bagian laba dari PD. Hotel Swarna Dwipa sebesar Rp248.153.766,63.


        Hal tersebut diatas terjadi karena pihak manajemen PD Hotel Swarna
Dwipa kurang melaksanakan ketentuan yang berlaku dan menginformasikannya
kepada pemegang saham (Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan) .


        Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa mengakui memang benar telah
terjadi kekurangan pembayaran terhadap pihak Pemerintah Daerah Sumatera Selatan
untuk Laba Tahun 2004 sebesar Rp248.153.766.63. Hal tersebut disebabkan karena
secara riel pendapatan tersebut masih berupa piutang pihak ketiga pada PD Hotel
Swarna Dwipa. Oleh karena itu pembayaran kepada Pemda belum dapat dilakukan.
Di masa mendatang sisa pembayaran tersebut akan dilakukan.


        BPK RI menyarankan kepada Badan Pengawas untuk memberikan teguran
tertulis kepada pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa , dan menginstruksikan
agar sisa pembayaran Dana Pembangunan Tahun 2004 sebesar Rp248.153.766,63
kepada Pemda Sumsel segera dilakukan.




                                    13
3. Kebijakan atas Piutang Usaha Tidak Efektif Minimal Sebesar Rp55.093.050,00


            Dalam menjalankan kegiatan usahanya, PD Swarna Dwipa memiliki
  kebijakan akuntansi untuk memperbolehkan pembayaran secara kredit oleh
  pelanggan. Kewajiban pembayaran tersebut akan dibukukan sebagai piutang usaha
  dalam laporan keuangan PD Swarna Dwipa setiap bulannya. Sampai dengan Juli
  2005, jumlah piutang usaha yang dimiliki oleh PD Swarna Dwipa adalah sebesar
  Rp527.710.967,00      dari Rp693.791.315,00 yang merupakan piutang usaha tahun
  2004.
            Piutang Usaha dicatat oleh Account Receivable Section, salah satu bagian
  dari Accounting Department. Setiap hari piutang yang terjadi di update ke dalam
  buku bantu piutang yang kemudian menjadi dasar pencatatan ke Journal Voucher.
  Selanjutnya, oleh Assistant Chief Accountant, piutang akan dibukukan ke Trial
  Balance, hingga akhirnya ke Laporan Keuangan (Neraca). Piutang akan ditagih oleh
  collector (salah satu bagian dari Account Receivable Section).
            Hampir tidak ada kebijakan pemberian piutang secara tertulis, sebagai
  kontrol atas pemberian piutang kepada para pelanggan, baik yang menyangkut
  tentang kredibilitas pelanggan, review saldo tertinggi piutang dan review atas tingkat
  ketertagihan piutang. Manual Dasar- Dasar Accounting Hotel hanya memberikan
  kebijakan tentang penyisihan piutang, yang juga tidak pernah dilaksanakan. Praktek
  tersebut membuka peluang diberikannya piutang kepada pihak-pihak yang beresiko
  tinggi untuk tidak membayar piutang.
            Dalam buku manual Dasar – Dasar Accounting Hotel (Accounting
  Uniform System) telah disebutkan bahwa penyisihan atas piutang ragu ragu perlu
  dilakukan pada setiap akhir bulan sebesar 0.2% dari total sales setiap bulannya.
  Kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi nilai piutang yang senyatanya dapat
  dianggap sebagai aset perusahaan, disamping sebagai kontrol agar setiap pemberian
  piutang dilakukan dengan mempertimbangkan resiko piutang tersebut untuk tidak




                                          14
  dapat tertagih kembali (uncollectable receivables). Karena pencadangan biaya
  tersebut tidak dilakukan, piutang yang tercatat adalah jumlah piutang secara
  keseluruhan, termasuk yang kecil kemungkinan untuk dapat ditagih kembali.
             Pemeriksaan lebih lanjut atas piutang usaha dan hasil audit dari Kantor
  Akuntan Publik menyatakan bahwa dari jumlah piutang yang dimiliki PD Hotel
  Swarna Dwipa sebesar Rp693.791.315,00 tahun 2004 dan tidak dicadangkannya
  Cadangan Piutang Ragu - Ragu , maka sejumlah Rp55.093.050,00 merupakan
  piutang yang kemungkinannya sangat kecil untuk tertagih.
             Jika dilakukan pencadangan atas Piutang Ragu-Ragu, maka jumlah piutang
  usaha dan Laba Ditahan pada Neraca akan berkurang minimal sebesar
  Rp55.093.050,00      sebagaimana Laba Tahun Berjalan dengan jumlah yang sama.
  Penghitungan atas jumlah yang dicadangkan tersebut adalah sebagai berikut :


                                Cadangan Piutang Ragu-Ragu
                                  Untuk Tahun 2004 & 2005

                                     2004          Jan s/d Juli 2005   Jumlah s.d Juli 2005
            Uraian                    (Rp)               (Rp)                  (Rp)
Kamar                           3,371,045,888.00   1,838,839,049.00     5,209,884,937.00
F&B                             1,179,344,798.00   2,237,502,300.00     3,416,847,098.00
Dept Opr.                       4,820,251,369.00     801,026,574.00     5,621,277,943.00
                                9,370,642,055.00   4,877,367,923.00    14,248,009,978.00

Penyisihan 0.2%                    18.741.284,11                              28,496,019.96
Perkiraan Piutang Tak
Tertagih Piutang yang
seharusnya dihapuskan              55.093.050,00                              55,093,050.00
Minimal yang harus disisihkan                                                 55,093,050.00

               Atas tidak tertagihnya piutang tersebut, pihak manajemen telah gagal
melindungi asetnya senilai Rp55,093,050.00


             Hal ini tidak sesuai dengan :



                                             15
a. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.9 tentang Penyajian Aktiva
  Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek bagian e, yang menyatakan bahwa piutang
  dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang
  tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan pada neraca diikuti
  dengan penyisihan untuk piutang yang diragukan atau taksiran jumlah yang tidak
  dapat ditagih.
b. Dasar – Dasar Accounting Hotel (Accounting Uniform System) yang dipakai
  sebagai manual pembukuan akuntansi PD Hotel Swarna Dwipa bagian III tentang
  Masalah masalah Tekhnis Pembukuan dan Ketentuan – Ketentuan Administrasi
  poin 3.2.2. Account Receivable sebagai berikut :
  ‘ Setiap akhir bulan harus dilakukan saldo reserves untuk Doubtful account
  (piutang ragu-ragu) disesuaikan dengan besarnya dilliquent account (semua
  piutang yang telah mencapai/melampaui jangka waktu 10 bulan’
  ‘ Reserves Doubtful Account ini dibentuk berdasarkan 0,2% dari total sales pada
  setiap bulannya yang tujuannya untuk mencadangkan atau bila terjadi adanya
  piutang yang tak tertagih /piutang ragu-ragu.’


       Hal tersebut mengakibatkan tambahan beban penghapusan Piutang Usaha
minimal sebesar Rp55,093,050.00


       Kondisi tersebut terjadi karena kebijakan atas piutang usaha tidak efektif
untuk tujuan melindungi dan mengendalikan nilai piutang yang senyatanya layak
dianggap sebagai aset perusahaan. Di samping itu juga karena pihak manajemen
memiliki keinginan untuk mencatat Laba lebih besar agar kinerja perusahaan terlihat
lebih baik.


       Pihak Manajemen PD Hotel Swarna Dwipa menyatakan bahwa jumlah
piutang usaha yang diusulkan Kantor Akuntan Publik untuk dihapuskan tersebut telah
diajukan ke Badan Pengawas untuk dilaksanakan.




                                       16
      BPK RI menyarankan kepada Badan Pengawas untuk :
a. Memberikan teguran secara tertulis kepada pihak manajemen PD Hotel Swarna
   Dwipa agar lebih selektif memberikan piutang .
b. Segera menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif atas piutang usaha.




                                     17
4. Realisasi Beberapa Penambahan Asset Tahun 2004 Dan 2005 Di Luar Yang
  Ditetapkan Dalam Rencana Anggaran Dan Tanpa Surat Perjanjian Kerja
  Sebesar Rp316.323.352,00
            Untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen, setiap tahun di dalam
  Rencana Anggaran, PD Perhotelan Swarna Dwipa menganggarkan penambahan
  asset yang terdiri dari Land and Building, Inventaris (fixed Asset), Operating Asset,
  Uniform Dalam Tahun 2004 telah dianggarkan sebesar Rp545.500.000,00 dengan
  realisasi berdasarkan Laporan Keuangan Bulan Desember sebesar Rp398.688.727,00
  dan dalam Tahun 2005 dianggarkan sebesar Rp385.873.000,00 dengan realisasi
  Laporan Keuangan Bulan Juli sebesar Rp86.033.480,00.
            Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas laporan bulanan dan
  dokumen-dokumen pendukung penambahan asset Tahun 2004 dan 2005 diketahui
  terdapat pelaksanaan penambahan asset yang dilaksanakan di luar yang telah
  ditetapkan dalam Rencana Anggaran dan tanpa menggunakan Surat Perjanjian Kerja
  (SPK) sebesar Rp371.998.552,00 dengan rincian sebagai berikut :
  a. Penambahan Asset di luar Rencana Anggaran sebesar Rp51.828.052,00
                                                           Nilai
      No                    Assets
                                                           (Rp)
       1                       2                             3
             TAHUN 2004
      1.     2 Unit Komputer Billing System            13.190.000,00
      2.     5 Set Pesawat Telephone                      765.000,00
      3.     1 Set Radio Tape Compo                       225.000,00
      4.     1 Set Fan-Maspion                            195.000,00
      5.     1 Set Stiger Photo                           200.000,00
      6.     24 Buah Kursi Plastik                        960.000,00
      7.     5 Buah Ember Sampah Besar                    725.000,00
      8.     5 Buah Thermos Nasi                          450.000,00
      9.     4 Buah Calculator                            347.500,00
      10.    1Set Speaker Fitness Centre                  400.000,00
      11.    12 Set Emergency Lamp                      1.250.000,00
      12.    22 Set Lampu Gantung Kamar                 6.415.200,00
       1                        2                           3
      13.    1 Unit TV Monitor Samsung                    775.000,00
      14.    12 Buah Baskom + 8 Buah Loyang               459.152,00



                                         18
   15.   12 Buah Container                         900.000,00
   16.   1 Set Vertical Blind 340 x 360 cm       1.024.200,00
   17.   2 Unit AC Splite Uchida 2 PK            8.252.000,00
   18.   1 Unit Sound System – Fitness          10.500.000,00
         Sub Total                              47.033.052,00
         TAHUN 2005
    1.   1 Buah Monitor Komputer Merk             765.000,00
         Samsung
    2.   24 Buah Kursi Teras                     1.080.000,00
    3.   3 Buah Lampu Emergency                    300.000,00
    4.   5 Buah Pohon Beringin Plastik           1.900.000,00
    5.   2 Buah Container Stenlist                 750.000,00
         Sub Total                               4.795.000,00
                       Total                    51.828.052,00
b. Penambahan Asset tanpa menggunakan SPK sebesar Rp264.495.300,00
                                                   Nilai
   No                   Assets
                                                   (Rp)
        TAHUN 2004
   1.   1 Unit Ruangan VIP Ball Room            98.096.500,00
   2.   2 Set pintu ukir Palembang              10.000.000,00
   3.   2 unit komputer Billing System          13.190.000,00
   4.   1 unit Billing System                   35.000.000,00
   5.   50 set lampu bed kamar (25 kamar)        7.655.000,00
   6.   22 set lampu gantung kamar               6.415.200,00
   7.   2 unit AC Splite Uchida 2 PK             8.252.000,00
   8.   1 unit sound system – Fitness           10.500.000,00
   9.   300 lembar Bath Towel                   10.560.000,00
   10. 29 kamar Gordyn                          13.206.600,00
   11. Pembuatan seragam karyawan               55.675.200,00
        Sub Total                              212.875.300,00
        TAHUN 2005
   1.   Pembelian 1 Unit Mesin F.Copy Merk      26.180.000,00
        Xerox Type WE 420 CP
   2.   Pembelian 300 pcs Bath Towel            10.890.000,00
   3.   Pembuatan 30 potong sarung kursi dan    14.550.000,00
        60 potong taplak meja
        Sub Total                               51.620.000,00
                          Total                264.495.300,00
       Hal tersebut tidak sesuai dengan :




                                     19
a. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
   Barang/Jasa Pemerintah Pasal 31 Ayat (4) yang menyatakan bahwa untuk
   pengadaan dengan nilai di atas Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) sampai dengan
   Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), bentuk kontrak berupa Surat Perintah
   Kerja (SPK) tanpa jaminan pelaksanaan.
b. Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Selatan Nomor 2 Tahun 1988 tentang
   Perusahaan Daerah Perhotelan Swarna Dwipa Pasal 24 Ayat (1) yang
   menyatakan bahwa Pengadaan untuk kepentingan penyelenggaraan Perusahaan
   Daerah harus dilakukan sesuai dengan Anggaran Perusahaan Daerah yang telah
   disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah dan pengadaan tersebut harus dilaporkan
   kepada Gubernur Kepala Daerah.


        Hal tersebut di atas mengakibatkan pelaksanaan penambahan asset Tahun
   2004 dan 2005 melanggar disiplin anggaran.


        Hal ini disebabkan karena :
a. Adanya kebijakan dari Direksi kepada Panitia Pengadaan Barang untuk
   melakukan     penambahan asset yang tidak dianggarkan dalam Anggaran
   Perusahaan Daerah yang disahkan Gubernur.
b. Panitia Pengadaan barang / penambahan asset dalam melaksanakan pekerjaanya
   tidak mempedomani ketentuan yang berlaku.


          Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa mengakui memang benar
   bahwa sepanjang tahun 2004 dan 2005 terdapat penambahan aset yang tidak
   sesuai dengan rencana anggaran sebesar Rp51.828.052,00 dan tidak dilengkapi
   dengan Surat Perjanjian Kerja sebesar Rp264.495.300,00. Hal tersebut karena
   kebutuhan operasional yang mendesak dan tidak terduga sebelumnya.




                                      20
       BPK RI menyarankan Badan Pengawas agar memberikan teguran secara
tertulis pada pihak direksi PD Hotel Swarna Dwipa untuk di masa mendatang
merencanakan anggaran secara lebih baik dan membuat Surat Perjanjian Kerja.




                                 21
5. Aktiva Tetap Perusahaan Lebih Tinggi Dari Yang Seharusnya Sebesar
  Rp55.910.200,00


           Dalam setiap tahun, PD Perhotelan Swarna Dwipa melakukan penambahan
  Aktiva Tetap yang terdiri dari Fixed Asset dan Operating Asset. Fixed Asset antara
  lain terdiri dari bangunan, taman, instalasi, inventaris dan kendaraan, sedangkan
  Operating Asset antara lain terdiri dari Linen Room, China Glass Room, China Ware
  Room, Linen Food and Beverage, China Ware Food and Beverage dan seragam.
           Nilai Fixed Asset setiap tahun dalam laporan keuangan perusahaan dibuat
  penyusutan    berdasarkan umur atau masa assets sedangkan Operating Asset
  berdasarkan ketentuan yang berlaku (percentage) dari penjualan di luar dari
  seragam. Pengakuan sebagai aktiva didasarkan pada pertimbangan bahwa aktiva
  merupakan pengeluaran atas barang yang bertujuan untuk menghasilkan (men
  generate) laba.
           Pemeriksaan atas dokumen dan bukti-bukti penambahan aktiva tetap
  diketahui bahwa dalam Rencana Anggaran Perusahaan Tahun 2004, PD. Perhotelan
  Swarna Dwipa menganggarkan pengadaan pakaian seragam karyawan sebesar
  Rp27.500.000,00 dengan realisasi sebesar Rp55.675.200,00 dan dalam Tahun 2005
  dianggarkan sebesar Rp15.750.000,00 dengan realisasi sampai dengan bulan Juli
  2005 sebesar Rp235.000,00.     Pelaksanaan pengadaan dilakukan tanpa membuat
  Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) dengan pihak kedua tetapi dilakukan dengan cara
  pembayaran langsung kepada pihak penjahit setelah ada bukti atau nota yang
  diterima dari karyawan.
  Pengadaan seragam sebesar Rp55.910.200,00 terdiri dari:
  a. Tahun 2004 sebesar Rp55.675.200,00
     1) 1(satu) stell jas dirut sebesar Rp450.000,00;
     2) 20 (dua puluh) stell rompi waiters sebesar Rp1.600.000,00;
     3) Seragam karyawan sebesar Rp47.895.200,00;




                                         22
   4) 20 (dua puluh) lembar kemeja + jas + celana dinas harian sebesar
       Rp5.730.000,00; dan
b) 1 (satu) unit pakaian security lengkap sebesar Rp235.000,00 pada Tahun 2005.
         Hasil konfirmasi dengan chief accountant, diketahui bahwa pengadaan
seragam dilaksanakan dua tahun sekali untuk seluruh karyawan dan seragam tersebut
tidak ada yang dikembalikan ke perusahaan sebagai asset tetapi diambil alih oleh
karyawan pemilik seragam masing-masing. Keberadaan seragam tersebut juga tidak
memiliki kaitan langsung dengan pertambahan laba, sebagaimana operating asset
lainnya (Linen Room, China Glass Room, China Ware Room, Linen Food and
Beverage, China Ware Food and Beverage).
         Dengan demikian, sesuai dengan tujuannya, pengadaan seragam karyawan
tersebut tidak dapat dicatat sebagai aktiva tetap, tetapi harus dikelompokkan sebagai
biaya perusahaan pada tahun bersangkutan.


         Hal tersebut tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Nomor 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva lain-lain bagian 05 yang menyatakan
bahwa aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai
atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak
dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.


         Hal tersebut di atas mengakibatkan pengakuan atas laba perusahaan lebih
tinggi sebesar Rp55.910.200,00 yakni Tahun 2004 sebesar Rp55.675.200,00 dan
Tahun 2005 sebesar Rp235.000,00.


         Hal ini disebabkan karena :
a. Department Accounting kurang memahami ketentuan-ketentuan yang berlaku
   tentang syarat-syarat pencantuman aktiva tetap dalam laporan keuangan.




                                       23
b. Kurangnya pengawasan dan pengendalian dari Assistant General Manager dan
   Chief Accountant dalam penyusunan laporan keuangan PD. Perhotelan Swarna
   Dwipa.
         Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa menyatakan bahwa hal tersebut
disebabkan karena kebiasaan yang selama ini dilakukan, untuk pengadaan seragam
kerja dianggap sebagai aset perusahaan.


         BPK RI menyarankan Badan Pengawas agar memberikan teguran tertulis
kepada pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa untuk tidak lagi memasukkan
pembelian seragam sebagai aktiva tetap perusahaan, melainkan sebagai biaya.




                                      24
6. Dana Sosial, Pendidikan dan Dana Pensiun Tidak Dicadangkan              Sebesar
  Rp169.429.346,05


           Berdasarkan Perda Nomor 2 Tahun 1998 PD Hotel Swarna Dwipa memiliki
  kewajiban untuk mendistribusikan keuntungan bersih (setelah pajak dan penyusutan)
  kepada Pemerintah Daerah (Dana Pembangunan), Management dan Karyawan PD
  Hotel Swarna Dwipa (Jasa Produksi dan Dana Pensiun), serta pihak luar (Dana
  Sosial, Pendidikan, dll).
           Pemeriksaan atas pembagian laba PD Swarna Dwipa Tahun 2004 diketahui
  bahwa terdapat dana-dana yang tidak dicadangkan yaitu :
  a. Dana Sosial, Pendidikan, dll            tidak dianggarkan.. Namun berdasarkan
     pemeriksaan secara uji petik diketahui bahwa meskipun tidak dianggarkan
     sebagai Dana Sosial, Pendidikan, dll , sepanjang Tahun 2005 PD Hotel Swarna
     Dwipa telah memberikan bantuan sosial, pendidikan,dll,       ke berbagai pihak
     sebesar Rp73.402.500,00. Seharusnya Dana Sosial, Pendidikan, dll maksimum
     sebesar Rp69.765.024,84 (Rp996.643.212.10 X 7%)
     Dengan demikian terjadi kelebihan alokasi Dana Sosial, Pendidikan, dll sampai
     dengan Juli 2005 sebesar Rp3.637.475,16 (Rp73.402.500,00 - Rp69.765.024,84);
  b. Dana Pensiun       sebesar Rp99.664.321,21 (Rp996.643.212.10 X 10%) tidak
     dianggarkan dan tidak direalisasikan.


         Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan
  Nomor 2 Tahun 1998 tentang PD. Perhotelan Swarna Dwipa Bab XI Pasal 25 yang
  menyatakan bahwa Laba bersih yang telah disahkan menurut ketentuan pasal 23
  Perda ini setelah terlebih dahulu dikurangi penyusutan, cadangan tujuan dan pajak
  ditetapkan pembagian laba antara lain untuk dana sosial sebesar 7% dan dana
  Pensiun Pegawai sebesar 10%.




                                        25
        Keadaan tersebut mengakibatkan :
a. PD Hotel Swarna Dwipa kurang efisien dalam melakukan pengendalian biaya
   untuk sosial, pendidikan dll minimal sebesar Rp3.637.475,16;
b. Hak karyawan untuk memperoleh dana pensiun tidak terpenuhi.


        Hal tersebut diatas terjadi karena pihak manajemen PD Hotel Swarna
Dwipa kurang melaksanakan ketentuan yang berlaku.


        Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa mengakui bahwa memang
pencadangan tersebut tidak dilakukan mengingat keterbatasan dana yang secara
nyata memang diterima perusahaan tidak sebesar laba yang diperhitungkan.


        BPK RI menyarankan Badan Pengawas agar memberikan teguran tertulis
kepada pihak manajemen untuk melakukan pencadangan dana tersebut di masa –
masa mendatang sesuai ketentuan.




                                     26
7. Sistem Akuntansi Tidak Efektif untuk Memciptakan Siklus Berkelanjutan
  Sebesar Minimal Rp3.427.128.152,00
             PD Hotel Swarna Dwipa mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT
  GHC membangun software/program komputer           yang digunakan dalam kegiatan
  akuntansi perusahaan. Sampai dengan tahun 1985, PD Hotel Swarna Dwipa telah
  menggunakan General Ledger sebagai software akuntansi        oleh PT GHC untuk
  membukukan transaksi keuangan hingga menghasilkan Laporan Keuangan sebagai
  produk akhir software tersebut. Tahun 1985 kerjasama tersebut dihentikan, karena
  program General Ledger tersebut mengalami kerusakan sistem dan sejak itu seluruh
  transaksi keuangan PD Hotel Swarna Dwipa dibukukan secara manual.


             Meskipun pembukuan telah dilakukan secara manual, secara umum PD
  Hotel Swarna Dwipa masih tetap mempergunakan sistem akuntansi yang pernah
  dibuat oleh PT GHC. Bagan Akun (Chart of Account), alur dokumen, struktur
  organisasi di Accounting Department, dan Format Laporan, merupakan bagian dari
  sistem akuntansi Computerized yang kemudian dilanjutkan secara manual sampai
  dengan sekarang. Setiap transaksi keuangan berturut-turut akan dibukukan ke Buku
  Pembantu, Journal Voucher, Trial Balance (yang sebenarnya adalah Buku Besar),
  hingga akhirnya ke Neraca atau Laporan Laba Rugi. Sistem akuntansi tersebut akan
  berulang setiap bulannya.
              Sebuah sistem akuntansi adalah suatu mekanisme pencatatan yang
  berkelanjutan, tidak terputus –baik dari segi angka maupun keterjadian- dengan
  tujuan untuk membentuk satu siklus yang berlanjut sebagai media pendokumentasi
  setiap transaksi keuangan. Setiap akhir tahun sistem akuntansi akan tersimpul dalam
  perolehan Laba perusahaan. Tahun berikutnya sistem yang sama berulang, dengan
  menambahkan laba yang diperoleh setiap tahun dalam perkiraan Laba Ditahan
  (Retained Earnings) dalam neraca.




                                        27
                 Hasil     penelusuran    balik     (trace   back)    atas    Laporan      Keuangan
 menunjukkan, tidak seluruh transaksi/peristiwa akuntansi terdokumentasi secara
 lengkap dalam Laporan Keuangan, baik Neraca maupun Laporan Laba Rugi.
 Terdapat akun dalam T/B (Buku Besar) yang tidak sesuai dengan pos yang sama pada
 Laporan Keuangan (Neraca). Akun tersebut adalah Surplus, dengan kode rekening
 290-000 sebesar Rp2.235.541.981,00.                    Sesuai dengan Chart of Account yang
 dipedomani PD Hotel Swarna Dwipa , jumlah tersebut merupakan gabungan dari sub
 akun-sub akun sebagai berikut :


 No.                             Nama Perkiraan                                     Jumlah
291      Retained Earnings (Laba Ditahan)                                           1.090.222.097,00
291-3    Prior Year Adjustment (Penyesuaian Thn Sblmnya)                            1.091.996.138,00
292      Current Year Profit or Loss (Laba/Rugi Thn Berjln)                           53.323.746,00
Total Surplus                                                                       2.235.541.981,00


                 Pembandingan antara Pos Laba Ditahan dan Lab/Rugi Tahun Berjalan
 dalam Laporan Bulanan Juli 2005 dengan yang dimuat dalam T/B menunjukkan
 selisih:
                                                           Jumlah
 No.            Nama Perkiraan                                                            Selisih
                                                  T/B                Neraca
          Retained Earnings (Laba
291                                       1,090,222,097.00      4.610.778.773,00        3.520.556.676
                  Ditahan)
           Prior Year Adjustment                                                -
291-3                                     1,091,996,138.00                            1.091.996.138,00
        (Penyesuaian Thn Sblmnya)
            Current Year Profit or Loss
292                                         53,323,746.00       1.051.891.360,00      (998.567.614,00)
             (Laba/Rugi Thn Berjln)
        Total Selisih Surplus             2,235,541,981.00      5.662.670.133,00        3.427.128.152


                 Dengan demikian, terdapat ketidaksesuaian antara Trial Balance dan
 Laporan Bulanan minimal sebesar Rp 3.427.128.152,00.




                                                  28
            Hal ini tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No.9 tentang Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Sub Bahasan Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan –Penyajian Yang Jujur–
yang menyebutkan bahwa ‘Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan
dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang
secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Jadi misalnya, neraca harus
menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya dalam bentuk aktiva,
kewajiban, dan Ekuitas perusahaan pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria
pelaporan.’


           Hal tersebut mengakibatkan :
1.     Pos Laba Ditahan dan Laba Tahun Berjalan yang disajikan dalam laporan
       keuangan    belum     dapat   diyakini   kebenarannya   minimal    sebesar
       Rp 3.427.128.152,00
2.     Sistem akuntansi yang diterapkan di PD Hotel Swarna Dwipa tidak efektif
       untuk tujuan menciptakan siklus akuntansi yang berkelanjutan sebagai upaya
       dokumentasi atas transaksi keuangan di perusahaan, minimal         sebesar
       Rp 3.427.128.152,00


           Kondisi tersebut terjadi karena :
1. Kelalaian Chief Accounting untuk melakukan verifikasi yang memadai atas
     kebenaran penyajian data akuntansi yang dibuat oleh bawahan, sebelum
     mempublikasinya dalam Laporan Bulanan.
2. Keengganan Chief Accounting untuk melakukan tindakan antisipasi atas salah saji
     pada laporan keuangan yang disebabkan oleh gagalnya sistem akuntansi, baik
     secara manual maupun computerized.


              Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa menyatakan bahwa hal
     tersebut disebabkan karena kegagalan sistem General Ledger terdahulu yang




                                          29
terbawa sampai dengan sekarang sejak tahun 1985. Selanjutnya telah
direncanakan penyesuaian atas sistem akuntansi yang dipergunakan.


        BPK RI menyarankan agar Badan Pengawas memberikan teguran tertulis
kepada Chief Accountant untuk segera melakukan koreksi atas Laba Ditahan yang
sebenarnya pada setiap tahapan dalam siklus akuntansi dan melakukan perbaikan
atas sistem akuntansi.




                                  30
8. Penerimaan Dari Pengoperasian Cafe Dan Karaoke Kurang Diterima Sebesar
   Rp45.000.000,00


           Dalam Rencana Anggaran PD Perhotelan Swarna Dwipa Tahun 2004,
  dianggarkan penerimaan lain-lain sebesar Rp1.704.499.000,00 dengan realisasi
  sebesar Rp6.672.611.622,00 dan Tahun 2005 sebesar Rp1.440.814.000,00 dengan
  realisasi sampai dengan bulan Juli sebesar Rp3.351.480.878,00 .
           Berdasarkan pemeriksaan atas buku penerimaan Tahun 2004 dan 2005
  diketahui bahwa terdapat penerimaan dari tempat Hiburan yang terdiri dari Musim
  Cafe dan Siguntang Karaoke sebesar Rp255.000.000,00 yakni Tahun 2004 sebesar
  Rp180.000.000,00 dan Tahun 2005 sebesar Rp90.000.000,00. Penerimaan tersebut
  berasal dari pembayaran pengoperasian Cafe dan Karaoke di Hotel Swarna Dwipa
  yang dibayar PT. Tambora Mandiri selaku pemilik Musim Cafe dan Siguntang
  Karaoke kepada PD. Hotel Swarna Dwipa.
           Hasil pemeriksaan atas PT Tambora Mandiri, diketahui bahwa sepanjang
  tahun 2004 dan 2005, Gross Sales bulanan PT Tambora Mandiri tidak ada yang
  melebihi Rp100.000.000,00. Konfirmasi dengan pihak manajemen PT Tambora
  Mandiri menyatakan bahwa hal tersebut disebabkan bermunculannya tempat
  hiburan, pusat karaoke dan cafe baru sejak tahun 2004. Hasil pengamatan selama
  bulan September / Oktober 2005 menunjukkan bahwa Musim Café dan Siguntang
  Karaoke tergolong sepi pengunjung.
           Pemeriksaan    lebih   lanjut    diketahui   bahwa   perjanjian   kerjasama
  pengoperasian cafe dan karaoke Hotel Swarna Dwipa dalam Surat Perjanjian Kerja
  Sama antara PD. Hotel Swarna Dwipa dan PT. Tambora Mandiri dengan ketentuan
  bahwa PT. Tambora Mandiri berkewajiban menyetorkan ke PD. Hotel Swarna
  Dwipa sebesar Rp15.000.000,00 (15% x Rp100.000.000,00) setiap bulannya,




                                           31
sehingga sampai dengan bulan Oktober 2005 (waktu pemeriksaan tim), penerimaan
yang seharusnya sudah diterima oleh PD. Hotel Swarna Dwipa adalah sebesar
Rp135.000.000,00 (Rp15.000.000,00 x 9 bulan).
         Dengan demikian masih terdapat        tunggakan penerimaan lain-lain PD.
Hotel Swarna Dwipa dari PT Tambora Mandiri untuk TA 2005 s.d bulan September
2005 sebesar Rp45.000.000,00 (Rp135.000.000,00-Rp90.000.000,00).


         Hal tersebut diatas tidak sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama antara
PD. Hotel Swarna Dwipa dengan PT. Tambora Mandiri tentang Pengoperasian Cafe
dan Karaoke Hotel Swarna Dwipa tanggal 1-12-2001 :
a. Pasal 5 Ayat (1) Besarnya tarif ruangan Café dan Karaoke adalah 15 % per bulan
   dari Gross Sales yang diterima setelah pembayaran pajak dan service sebelum
   BEP dan 20 % per bulan dari Gross Sales yang diterima setelah pembayaran
   pajak dan service setelah BEP
b. Kedua belah pihak sepakat menentukan Bruto Omzet usaha Café dan Karaoke
   sesudah dikurangi pajak-pajak yang ditentukan oleh Pemerintah Kota Palembang
   minimum sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per bulan.


         Keadaan tersebut mengakibatkan penerimaan PD. Hotel Swarna Dwipa
dalam Tahun 2005 kurang diterima sebesar Rp45.000.000,00


         Hal ini disebabkan PT. Tambora Mandiri selaku pihak kedua tidak
memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan dalam Surat Perjanjian Kerjasama.


           Pihak manajemen PD Hotel Swarna Dwipa mengakui bahwa memang
benar PD Hotel Swarna Dwipa belum menerima setoran atas tagihan Musim Café
sejunlah tersebut dan untuk selanjutnya akan segera ditagih.




                                       32
         BPK RI menyarankan PD Hotel Swarna Dwipa untuk segera melakukan
penagihan kepada Musim Café.




                                 33

								
To top