Docstoc

NA RUU KEHATI DKN OKT 2010

Document Sample
NA RUU KEHATI DKN OKT 2010 Powered By Docstoc
					            NASKAH AKADEMIS

           RUU TENTANG
KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
     (PENYEMPURNAAN UU NO 5 TAHUN 1990 TENTANG
KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA)




                     DISUSUN OLEH
       TIM KAJIAN KEBIJAKAN KONSERVASI TAHAP II
         KERJASAMA KEMENTERIAN KEHUTANAN
         DENGAN DEWAN KEHUTANAN NASIONAL




               JAKARTA, OKTOBER 2010
                                                                                   i


                                 PENGANTAR
                                           
                                           
       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga Naskah Akademis RUU tentang Konservasi Keanekaragaman
Hayati (Penyempurnaan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
hayati dan Ekosistemnya) dapat diselesaikan pada waktunya.
       Derasnya perubahan lingkungan strategis yang terjadi dalam 20 tahun terakhir
telah menyebabkan penyelenggaraan konservasi sumber daya hayati dan
ekosistemnya (KSDAHE) di Indonesia yang diselenggarakan berdasarkan UU No. 5
Tahun 1990 berjalan kurang efektif, oleh karena itu perlu segera dilakukan
penyempurnaan.      Memperhatikan kondisi di atas, Kementerian Kehutanan dan
Dewan Kehutanan Nasional (DKN) telah bersepakat untuk melakukan kajian
perubahan UU No. 5 Tahun 1990, dengan terlebih dahulu menyusun naskah akademis
(NA).
       Guna memudahkan pelaksanaan kajian dimaksud, DKN membentuk Tim Ad-
hoc Kajian Kebijakan Konservasi Tahap II, beranggotakan perwakilan kamar yang ada
di DKN. Mereka adalah para praktisi dan penggiat kegiatan konservasi SDA&E, serta
para penyusun kebijakan perundangan di Kementerian Kehutanan.
       Tim ad-hoc telah bekerja efektif sejak Januari 2010. Kajian dilakukan melalui
pertemuan focus group discussion (FGD), studi pustaka, kunjungan lapangan, maupun
konsultasi publik dengan para pihak. NA perubahan UU No. 5 Tahun 1990 diharapkan
mampu mendorong segera direalisasikannya naskah UU konservasi yang baru, yang
mampu menjawab tantangan terkini serta tantangan 20 tahun ke depan di bidang
konservasi.
       Akhirnya kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada
Direktorat Jendral PHKA dan Biro Hukum SetJen Kementerian Kehutanan, WWF
Indonesia dan Orangutan Conservation Service Program (OCSP) yang telah
memberikan dukungan dalam proses pelaksanaan kegiatan. Demikian pula ucapan
terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak lain yang telah berperan serta dalam
mensukseskan penyusunan NA perubahan UU No. 5 Tahun 1990. Semoga Tuhan
memberkati.


Jakarta, 11 Oktober 2010
a/n Dewan Kehutanan Nasional




I Made Subadia Gelgel
Ketua Tim Ad-hoc
Kajian Kebijakan Konservasi Tahap II
                                                                             ii

         Daftar Nama Anggota Tim Kajian Kebijakan Konservasi Tahap II
 
     
    No. Nama                            Asal Instansi

    1.     Tim Pengarah (SC)
           Hariadi Kartodihardjo        DKN/IPB
           Hadi S Pasaribu              Staf Ahli Menteri Kehutanan
           Darori                       Dirjen PHKA Kementerian Kehutanan
           Wahyudi Wardoyo              TNC
           Andi Novianto                Kemenko Perekonomian
           Nana Suparna                 Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia
           Dian Achmad Kosasih          WWF Indonesia
           Jamartin Sihite              OCSP
           Bambang Suharsono            DKN

    2.     Tim Ad-hoc
           I. Made Subadia Gelgel       Kementerian Kehutanan
           Wiratno                      Kementerian Kehutanan
           Bambang Eko Prayitno         Kementerian Kehutanan
           Eppy Agusfin                 Kementerian Kehutanan
           Samedi                       KEHATI
           Fathi Hanif                  WWF Indonesia
           Arbi Valentinus              OCSP
           Andiko                       HUMA
           Hedar Laudjeng               DKN
           Harry Alexander              WCS
           Harri Purnomo                DKN
                                                                                                                                           iii


                                                        DAFTAR ISI

                                                                                                                        Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
   A.     Latar Belakang ........................................................................................... 1
   B.     Tujuan ..................................................................................................................... 2

BAB II. LANDASAN UMUM ................................................................................ 3
   A.     Landasan Filosofis ................................................................................................ 3
   B.     Landasan Yuridis .................................................................................................. 3
   C.     Landasan Sosial .................................................................................................15

BAB III. PERUBAHAN PARADIGMA ............................................................... 16
   A.     Kondisi Lingkungan Strategis ...........................................................................16
   B.     Masalah Konservasi ...........................................................................................17

BAB IV. MATERI MUATAN .............................................................................. 29
   I      Ketentuan Umum ................................................................................................29
   II     Perlindungan Keanekaragaman Hayati ..........................................................31
   III    Pengawetan Keanekaragaman Hayati ............................................................39
   IV     Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati ..........................................................41
   V      Pemulihan Ekosistem dan Populasi Spesies .................................................43
   VI     Kelembagaan ......................................................................................................44
   VII    Partisipasi Pengelolaan Kehati .........................................................................47
   VIII   Pengamanan dan Penyidikan ...........................................................................50
   IX     Larangan dan Sanksi .........................................................................................51

BAB V. KESIMPULAN .................................................................................................54
                                                                                    1

                                       BAB I
                                PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang
      Bangsa Indonesia dianugerahi kekayaan sumberdaya alam hayati (SDAH) yang
berlimpah, baik di darat, maupun di perairan. SDAH ini merupakan sumberdaya
strategis, dikuasai negara untuk dikelola secara optimal dan berkelanjutan bagi
terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia.
      Berdasarkan hasil penelitian, Indonesia memiliki kekayaan alam hayati yang
tinggi, dicerminkan oleh keanekaragaman jenis satwa dan flora Indonesia. Dalam
tataran global, walau luas daratan Indonesia hanya 1% dari luas daratan dunia,
keanekaragaman hayati Indonesia menduduki posisi tiga besar bersama dengan Brazil
dan Zaire (Republik Demokrat Kongo). Indonesia tercatat memiliki 515 jenis mamalia
(12% dari total jumlah mamalia dunia), 511 reptilia (7,3% dari seluruh reptil dunia),
1.531 jenis burung (17% dari jumlah burung dunia) dan terdapat sekitar 38.000 jenis
tumbuhan berbunga.
     Sumberdaya alam tersebut jumlahnya tidak tak terbatas, dan walaupun
mempunyai sifat yang dapat memperbaharui diri atau dapat diperbaharui (renewable),
SDAH mempunyai sifat yang tidak dapat kembali seperti asalnya (irreversible) apabila
dimanfaatkan secara berlebihan. Pemanfaatan secara berlebihan akan mengancam
keberadaan sumberdaya alam itu sendiri, dan sampai pada tahap tertentu akan dapat
memusnahkan keberadaannya.
      Guna menjamin terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia secara
berkelanjutan, perlu diatur bahwa sebagian dari SDAH tersebut harus dilindungi secara
ketat, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan secara proporsional dan
berkelanjutan. Konservasi SDAH merupakan keseimbangan antara perlindungan ketat
dan pemanfaatan yang berkelanjutan tersebut sehingga keberadaannya tetap bisa
dipertahankan dan dapat dimanfaatkan secara lestari bagi kemakmuran masyarakat
baik generasi saat ini maupun generasi yang akan datang.
    Pengaturan konservasi SDAH melalui peraturan perundangan diharapkan akan
mampu menjamin adanya kepastian hukum hubungan antara masyarakat dengan
SDAnya, terjaminnya pemenuhan hak hak dasar masyarakat dalam kaitannya dengan
SDA, serta terjaminnya distribusi manfaat SDAH secara adil dan berkelanjutan.
       Dewasa ini telah ada UU yang mengatur tentang konservasi yaitu UU No. 5
Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang-
undang ini telah berumur hampir 20 tahun, dan selama masa tersebut telah terjadi
banyak sekali perubahan lingkungan strategis nasional seperti berubahnya sistem
politik dan pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi dan demokratisasi, maupun
perubahan pada tataran global berupa bergesernya beberapa kebijakan internasional
dalam kegiatan konservasi, sebagaimana tertuang dalam hasil-hasil konvensi yang
terkait dengan keanekaragaman hayati, atau hasil-hasil kesepakatan baik bilateral,
regional maupun multilateral.
                                                                                   2

      Belakangan ini telah terjadi kecendrungan semakin meningkatnya kerusakan
lingkungan, dimana sebagian besar sumberdaya alam kita mengalami degradasi,
termasuk di dalamnya kawasan hutan konservasi yang telah ditetapkan oleh negera
sebagai wilayah konservasi ekosistem, maupun konservasi jenis dan genetik.
Meningkatnya laju degradasi kawasan konservasi serta degradasi populasi jenis
tumbuhan dan satwa liar yang terancam punah dan endemik, erat kaitannya dengan
kurang efektifnya kebijakan/perundangan di bidang konservasi dan pelaksanaannya.
     Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, tentang konservasi belum mampu menjamin
terwujudnya kelestarian ekosistem (kawasan), jenis dan genetik; terbukti dengan terus
meningkatnya laju degradasi, serta belum mampu menjamin meningkatnya
kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar
wilayah konservasi.
      Pada saat ini diperkirakan terdapat sekitar 48 juta masyarakat yang hidup di
dalam/di sekitar hutan, dan sebagian dari mereka hidup dalam keadaan miskin dan
tidak berdaya (CIFOR 2006). Dalam banyak kasus, masyarakat lokal merasa tidak
dilibatkan dan tidak menerima manfaat dari pengelolaan kawasan konservasi,
sehingga tidak berminat untuk ikut berpartisipasi, atau cenderung menolak kehadiran
kawasan konservasi.
      Kondisi di atas, serta memperhatikan tantangan ke depan seperti menguatnya
tekanan masyarakat terhadap kawasan konservasi, meningkatnya jumlah penduduk -
yang memerlukan percepatan pembangunan di segala sektor- memerlukan legislasi
nasional mengenai konservasi yang mampu melindungi keanekaragaman hayati
secara efektif serta menjamin kemanfaatan bagi masyarakat; sehingga dipandang
perlu untuk melakukan perubahan UU 5 Tahun 1990 tentang konservasi.

B.   Tujuan
     Kajian perubahan UU No. 5 Tahun 1990 diharapkan akan menghasilkan sebuah
UU konservasi yang mampu menjamin konservasi pada tingkat genetik, tingkat jenis,
dan tingkat ekosistem dapat dilaksanakan secara terintegrasi, komprehensif,
transparan, partisipatif dan akuntabel, sehingga tujuan konservasi dapat diwujudkan
dengan lebih efektif.
                                                                                 3

                                      BAB II
                             LANDASAN UMUM


A.   Landasan Filosofis
1.   Bahwa sumberdaya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai
     kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang
     Maha Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari,
     selaras, serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada
     khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa
     depan.
2.   Bahwa sumberdaya alam hayati merupakan sumberdaya alam strategis yang
     dikuasai oleh negara serta merupakan sumberdaya alam yang menguasai hajat
     hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian
     nasional sehingga pengelolaannya harus dapat secara maksimal terwujudnya
     kelestarian sumberdaya alam hayati dan kesejahteraan rakyat.
3.   Bahwa pembangunan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya pada
     hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang
     berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila.
4.   Bahwa unsur-unsur sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya
     saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi
     sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat
     terganggunya ekosistem.
5.   Bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumberdaya alam hayati dapat
     berlangsung dengan secara sebaik-baiknya, maka diperlukan langkah-langkah
     konservasi sehingga sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya selalu
     terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan
     pembangunan itu sendiri.
6.   Bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum
     menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi
     sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, sesuai dengan perkembangan
     sosial, politik, ekonomi dan budaya nasional, serta kerjasama atau hubungan
     internasional.

B.   Landasan Yuridis
     Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya serta UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan merupakan
sebagian dari undang–undang di sektor kehutanan yang mempunyai materi muatan
pengurusan konservasi di Indonesia. Disamping itu tercatat ada beberapa
perundangan sektor lain maupun UU ratifikasi konvensi internasional, yang mempunyai
materi yang berhubungan dengan pengurusan konservasi. Undang–undang tersebut
adalah:
                                                                                      4

1.   Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33 ayat (3) dan (4)

     Sumberdaya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara
     untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian pengurusan
     sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya menjadi tugas dan kewajiban
     pemerintah.

2.   Undang-Undang No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan “United Nations
     Convention the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang
     Hukum Laut)”

     Bagi Bangsa Indonesia, konvensi ini mempunyai arti yang penting karena untuk
     pertama kalinya asas Negara Kepulauan (archipelagic state) yang selama dua
     puluh lima tahun secara terus menerus diperjuangkan oleh Indonesia, berhasil
     memperoleh pengakuan resmi masyarakat internasional.
     Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hukum laut antara lain memuat
     ketentuan tentang:
        a. Kebebasan-kebebasan di Laut Lepas dan hak lintas damai di Laut
            Teritorial.
        b. Ketentuan mengenai lebar Laut Teritorial menjadi maksimum 12 mil laut
            dan kriteria Landas Kontinen. Menurut Konvensi Jenewa 1958 tentang
            Hukum Laut, kriteria bagi penentuan lebar landas kontinen adalah
            kedalaman air dua ratus meter atau kriteria kemampuan eksploitasi. Kini
            dasarnya adalah kriteria kelanjutan alamiah wilayah daratan sesuatu
            negara hingga pinggiran luar tepian kontinennya (Natural prolongation of
            its land teritory to the outer edge of the continental margin) atau kriteria
            jarak 200 mil laut, dihitung dari garis dasar untuk mengukur lebar Laut
            Teritorial jika pinggiran luar tepian kontinen tidak mencapai jarak 200 mil
            laut tersebut.
        c. Sebagian melahirkan rezim-rezim hukum baru, seperti asas Negara
            Kepulauan, Zona Ekonomi Eksklusif dan penambangan di Dasar Laut
            Internasional.

     Dalam penjelasan undang-undang ini juga menyebutkan bahwa konvensi
     Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut ini juga mengatur mengenai
     konservasi kekayaan alam hayati yang terdapat dalam Laut Teritorial, Zona
     Tambahan dan Zona Ekonomi Eksklusif, mengatur masalah konservasi dan
     pengelolaan sumber kekayaan hayati di Laut Lepas yang dahulu diatur dalam
     Konvensi Jenewa 1958 tentang perikanan dan konservasi sumber kekayaan
     hayati di Laut Lepas.
     Dalam undang-undang ini juga menyebutkan konvensi ini menganjurkan antara
     lain agar negara-negara yang berbatasan dengan laut tertutup/setengah tertutup
     mengadakan kerjasama mengenai pengelolaan, konservasi sumber kekayaan
     alam hayati dan perlindungan serta pelestarian lingkungan laut tersebut, dan juga
     mengatur mengenai konservasi dan pengelolaan sumber-sumber kekayaan laut
     dalam rangka pengembangan dan alih teknologi.
                                                                                  5

3.   Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi PBB
     mengenai Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention on Biological
     Diversity)

     Undang-undang ini terdiri dari 2 pasal mengenai Konvensi Keanekaragaman
     Hayati. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara, kepala
     pemerintahan atau wakil negara di Rio de Janeiro, Brazil.
     Dalam penjelasan undang-undang ini menyebutkan mengenai tindakan umum
     bagi konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan yang terdapat dalam
     batang tubuh naskah konvensi dan manfaat yang diperoleh oleh Indonesia
     dengan diratifikasinya konvensi ini yaitu pengembangan kerja sama internasional
     untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan
     keanekaragaman hayati.
     Pasal 8 mengenai konservasi in-situ dalam huruf j dikatakan bahwa:
     ”menghormati, melindungi dan mempertahankan pengetahuan, inovasi-inovasi
     dan praktik-praktik masyarakat asli dan lokal yang mencerminkan gaya hidup
     berciri tradisional, sesuai dengan konservasi dan pemanfaatan secara
     berkelanjutan keanekaragaman hayati dan memajukan penerapannya secara
     lebih luas dengan persetujuan dan keterlibatan pemilik pengetahuan. Inovasi-
     inovasi dan praktik tersebut semacam itu dan mendorong pembagian yang adil
     keuntungan yang dihasilkan dari pendayagunan pengetahuan, inovasi-inovasi
     dan praktik-praktik semacam itu”. Pasal 15 butir 4 dikatakan: akses atas sumber
     daya hayati bila diberikan, harus atas dasar persetujuan bersama (terutama
     pemilik atas sumberdaya).
     Meratifikasi konvensi ini, tidak berarti negera kehilangan kedaulatan atas
     sumberdaya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena konvensi ini
     tetap mengakui bahwa negara-negara, sesuai dengan Piagam Perserikatan
     Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum internasional, mempunyai hak berdaulat
     untuk memanfaatkan sumberdaya alam keanekaragaman hayati secara
     berkelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan
     pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak
     lingkungan.

4.   Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran
     Negara Tahun 1996 No. 73)

     Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 terdiri dari 7 bab dengan 27 pasal antara lain
     wilayah perairan Indonesia, hak lintas kapal-kapal asing (hal lintas damai, hak
     lintas alur kepulauan, hak lintas transit dan hak akses dan komunikasi),
     pemanfaatan pengelolaan perlindungan dan pelestarian lingkungan perairan,
     penegakan kedaulatan dan hukum di perairan Indonesia,
     Bab IV Pasal 23 Ayat (1) menyebutkan bahwa pemanfaatan, pengelolaan,
     perlindungan dan pelestarian lingkungan perairan Indonesia dilakukan
     berdasarkan peraturan perundang-undangan nasional yang berlaku dan hukum
     internasional
                                                                                 6

5.   Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
     Negara Tahun 2003)

     Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 terdiri dari 11 bab dan 39 pasal. Undang-
     undang ini mengatur mengenai kekuasan negara terhadap pengelolaan
     keuangan negara yang meliputi pengertian dan ruang lingkup keuangan negara,
     asas-asas umum pengelolaan keuangan negara, hak dan kewajiban negara,
     penerimaan dan pengeluaran negara dan juga daerah, ketentuan mengenai
     penyusunan dan penetapan APBN dan APBD, pengaturan hubungan keuangan
     antara pemerintah pusat dan bank sentral, pemerintah daerah dan
     pemerintah/lembaga asing, pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah
     dengan perusahaan negara, perusahaan daerah dan perusahaan swasta, dan
     badan pengelola dana masyarakat, serta penetapan bentuk dan batas waktu
     penyampaian laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dan APBD.
     Pasal 9 antara lain menetapkan: menteri/pimpinan lembaga mempunyai tugas
     melaksanakan pemungutan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan
     menyetorkannya ke kas negara.

6.   Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian,
     Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 2006 No. 92)

     Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 terdiri dari 13 bab dan 41 pasal. Undang-
     undang ini mengatur tentang upaya revitalisasi pertanian, perikanan dan
     kehutanan. Revitalisasi akan berhasil jika didukung antara lain oleh adanya
     sistem dan lembaga penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan. Sistem
     penyuluhan selama ini belum didukung oleh peraturan perundang-undangan
     yang kuat dan lengkap sehingga kurang memberikan jaminan kepastian hukum
     serta keadilan bagi pelaku utama, pelaku usaha, dan penyuluh.
     Undang-undang ini memerintahkan dibentuknya lembaga penyuluhan di tingkat
     pusat, propinsi maupun daerah, dengan demikian upaya pemberdayaan
     masyarakat di bidang konservasi dapat diharapkan akan semakin efektif
     pelaksanaannya, karena dilaksanakan oleh satu kesatuan lembaga yang
     didukung oleh sistem penyuluhan yang memadai.

7.   Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
     Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Tahun 2007 No. 84)

     Undang-undang ini terdiri dari 19 bab dan 80 pasal, antara lain berisi: proses
     pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, perencanaan, pemanfaatan,
     pengawasan dan pengendalian, penelitian dan pengembangan, pendidikan
     pelatihan dan penyuluhan, kewenangan, mitigasi bencana, hak kewajiban dan
     peran serta masyarakat, pemberdayaan masyarakat, penyelesaian sengketa,
     gugatan perwakilan, penyidikan, sanksi administratif, ketentuan pidana.
     Undang-undang ini diberlakukan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
     meliputi daerah pertemuan antara pengaruh perairan dan daratan, ke arah
     daratan mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah perairan laut
                                                                                 7

sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau
ke arah perairan kepulauan.
Dalam ketentuan umum undang-undang ini yang dimaksud dengan kawasan
adalah bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang memiliki fungsi
tertentu yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik, biologi, sosial,
dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya dan kawasan pemanfaatan
umum adalah bagian dari Wilayah Pesisir yang ditetapkan peruntukkannya bagi
berbagai sektor kegiatan. Selain itu dalam juga disebutkan mengenai rencana
zonasi yaitu rencana yang menentukan arah penggunaan sumberdaya tiap-tiap
satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada
kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak
boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh
izin.
Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya perlindungan,
pelestarian, dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta
ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan
sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Kawasan konservasi di
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau
kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan.
Pasal 7 Ayat (5) menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
menyusun Rencana Zonasi rinci di setiap zona Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil tertentu dalam wilayahnya. Pasal 10 butir a menyebutkan bahwa Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi terdiri atas pengalokasian
ruang dalam Kawasan Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi, Kawasan
Strategis Nasional Tertentu, dan alur laut. Pasal 22 menyebutkan bahwa hak
pengusahaan Perairan Pesisir tidak dapat diberikan pada Kawasan Konservasi,
suaka perikanan, alur pelayaran, kawasan pelabuhan, dan pantai umum. Pasal
23 ayat (2) mengenai pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya
diprioritaskan untuk salah satu atau lebih kepentingan berikut:
    a. Konservasi;
    b. Pendidikan dan pelatihan;
    c. Penelitian dan pengembangan;
    d. Budidaya laut;
    e. Pariwisata;
    f. Usaha perikanan dan kelautan dan industri perikanan lestari;
    g. Pertanian organik; dan/atau Peternakan.

Kecuali untuk tujuan konservasi, pendidikan dan pelatihan, serta penelitian dan
pengembangan, pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya wajib
(Pasal 23 Ayat 3):
   a. Memenuhi persyaratan pengelolaan lingkungan;
   b. Memperhatikan kemampuan sistem tata air setempat; serta
   c. Menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.
                                                                                 8

     Perencanaan dilakukan melalui pendekatan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
     Pulau-Pulau Kecil terpadu (Integrated Coastal Management) yang
     mengintegrasikan berbagai perencanaan yang disusun oleh sektor dan daerah
     sehingga terjadi keharmonisan dan saling penguatan pemanfaatannya.
     Perencanaan terpadu itu merupakan suatu upaya bertahap dan terprogram untuk
     memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara optimal agar
     dapat menghasilkan keuntungan ekonomi secara berkelanjutan untuk
     kemakmuran masyarakat.
     Rencana bertahap tersebut disertai dengan upaya pengendalian dampak
     pembangunan sektoral yang mungkin timbul dan mempertahankan kelestarian
     sumberdayanya. Perencanaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dibagi ke
     dalam empat tahapan: (i) rencana strategis; (ii) rencana zonasi; (iii) rencana
     pengelolaan; dan (iv) rencana aksi.
     Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mencakup tahapan kebijakan
     pengaturan yang terdiri dari:
       a. Pemanfaatan dan pengusahaan perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
           dilaksanakan melalui pemberian izin pemanfaatan dan Hak Pengusahaan
           Perairan Pesisir (HP-3).
       b. Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) diberikan di kawasan perairan
           budidaya atau zona perairan pemanfaatan umum kecuali yang telah diatur
           secara tersendiri.
       c. Pengaturan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
       d. Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil dilakukan dalam satu gugus pulau atau
           kluster dengan memperhatikan keterkaitan ekologi, keterkaitan ekonomi,
           dan keterkaitan sosial budaya dalam satu bioekoregion dengan pulau
           induk atau pulau lain sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

8.   Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
     Negara Tahun 2007 No. 68).

     Undang-undang ini terdiri dari 13 bab dan 80 pasal. Dalam Pasal 2 disebutkan
     bahwa dalam rangka kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, penataan
     ruang diselenggarakan berdasarkan asas keterpaduan, keserasian, keselarasan,
     dan keseimbangan, keberlanjutan, keberdayagunaan dan keberhasilgunaan,
     keterbukaan, kebersamaan dan kemitraan, perlindungan kepentingan umum,
     kepastian hukum dan keadilan, dan akuntabilitas.
     Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
     pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Perencanaan tata
     ruang menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan
     penetapan rencana tata ruang sedangkan pemanfaatannya berupaya untuk
     mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang
     melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya sehingga
     menciptakan pengendalian pemanfaatan ruang yang tertib tata ruang.
     Penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan,
     wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan. Penataan
                                                                                  9

     ruang wilayah nasional meliputi ruang wilayah yurisdiksi dan wilayah kedaulatan
     nasional yang mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk
     ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan.
     Dalam penataan ruang, setiap orang berhak: mengetahui rencana tata ruang;
     menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang; memperoleh
     penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan
     pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang; mengajukan keberatan
     kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan
     rencana tata ruang di wilayahnya; mengajukan tuntutan pembatalan izin dan
     penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada
     pejabat berwenang; dan mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah
     dan/atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai
     dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian.
     Setiap orang wajib: menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
     memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
     berwenang; mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin
     pemanfaatan ruang; dan memberikan akses terhadap kawasan yang oleh
     ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum.
     Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan
     peran masyarakat.
     Undang–undang juga mengatur bahwa ruang dapat dibedakan menjadi fungsi
     lindung dan fungsi budidaya. Fungsi lindung meliputi hutan lindung, kawasan
     suaka alam (KSA), serta kawasan pelestarian alam (KPA). Rencana Tata Ruang
     Wilayah Nasional ditinjau kembali setiap lima tahun sekali, dengan demikian
     klasifikasi wilayah konservasi masih harus mengacu kepada kriteria KPA dan
     KSA.

9.   Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara
     Tahun 2009 No. 11)

     UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan disahkan pada tanggal 16
     Januari 2009 terdiri dari 17 bab dan 70 pasal. Kepariwisataan adalah
     keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi
     serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan
     negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama
     wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha. Usaha Pariwisata
     adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan
     kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. Kawasan Strategis
     Pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki
     potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting
     dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, social dan budaya,
     pemberdayaan SDA, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan
     keamanan.
     UU ini memiliki 11 asas, seperti salah satunya partisipatif dan kemandirian
     dengan berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual
     setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan
                                                                                 10

pendapatan negara untuk kesejahteraan masyarakat. Melestarikan alam,
lingkungan dan sumber daya merupakan salah satu dari 10 tujuan yang terlampir
dalam UU ini.
Pembangunan kepariwisataan meliputi: a. industri pariwisata; b. destinasi
pariwisata; c. pemasaran, dan; d. kelembagaan kepariwisataan. Pembangunan
kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan
kepariwisataan nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pembangunan
kepariwisataan merupakan bagian integral dari rencana pembangunan jangka
panjang nasional. Pemerintah dan Pemda mendorong penanaman modal dalam
negeri maupun asing di bidang kepariwisataan sesuai dengan rencana induk
kepariwisataan tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota.
Penetapan kawasan strategis pariwisata dilakukan dengan memperhatikan
beberapa aspek, termasuk (i) sumber daya pariwisata alam dan budaya yang
potensial menjadi daya tarik aspek, (ii) potensi pasar, (iii) lokasi strategis dalam
menjaga persatuan dan kesatuan, (iv) perlindungan terhadap lokasi tertentu yang
mempunyai peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup, (v) lokasi strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset
budaya, (vi) kesiapan dan dukungan masyarakat, dan (vii) kekhususan wilayah.
Usaha Pariwisata terdiri dari daya tarik wisata, kawasan pariwisata, jasa
transportasi wisata, penyelenggaran kegiatan hiburan dan rekreasi, wisata tirta
dan spa yang merupakan bagian dari usaha pariwisata. Pemerintah dan Pemda
wajib mengembangkan dan melindungi usaha mikro, kecil, menengah dan
koperasi dalam bidang pariwisata dengan cara membuat kebijakan pencadangan
usaha pariwisata dan memfasilitasi kemitraan dengan usaha skala besar.
Terkait kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, Pemerintah
diantaranya memiliki kewenangan untuk (i) menyusun dan menetapkan rencana
induk pembangunan kepariwisataan nasional, (ii) mengkoordinasikan
pembangunan kepariwisataan lintas sektor dan lintas provinsi, (iii)
menyelenggaraan kerjasama internasional di bidang kepariwisataan, (iv)
menetapkan daya tarik wisata nasional, dan (v) menetapkan destinasi pariwisata
nasional. Sementara itu, kewenangan Pemerintah Provinsi meliputi beberapa
hal, diantaranya mengkoordinasikan pembangunan kepariwisataan lintas sektor
dan kabupaten/kota, menetapkan destinasi pariwisata provinsi dan daya tarik
wisata provinsi, melakukan dan memfasilitasi promosi wisata provinsi serta
memelihara aset wisata tingkat provinsi.           Kewenangan Pemerintah
Kabupaten/Kota meliputi beberapa hal, termasuk menyusun dan menetapkan
rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota, melakukan
pendaftaran, pencatatan dan pendataan pendaftaran usaha pariwisata, mengatur
penyelenggaraan dan pengelolaan kepariwisataan di wilayahnya dan
menyelenggarakan bimbingan masyarakat sadar wisata. Setiap perseorangan
/lembaga pemerintah/organisasi pariwisata serta badan usaha yang berprestasi
luar biasa dalam partisipasi pembangunan kepariwisataan yang dibuktikan
dengan fakta nyata maka diberikan penghargaan dalam bentuk pemberian
piagam, uang atau bentuk lainnya yang bermanfaat.
                                                                                    11

      Pendanaan pariwisata menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah,
      Pemerintah Daerah, pengusaha dan masyarakat dengan prinsip keadilan,
      efisiensi, transparansi dan akuntabilitas publik. Pemda mengalokasikan sebagian
      pendapatan pariwisata untuk kegiatan pelesatarian alam dan budaya.

10.   Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
      Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 2009 No. 140)

      Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 terdiri dari 17 bab dan 127 pasal. Undang-
      undang ini mengatur mengenai pentingnya lingkungan hidup dimana lingkungan
      hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola dengan baik berdasarkan asas
      tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas keadilan. Pengelolaan
      lingkungan hidup harus dapat memberikan kemanfaatan ekonomi, sosial, dan
      budaya yang dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan,
      desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan lokal dan
      kearifan lingkungan. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menuntut
      dikembangkannya suatu sistem yang terpadu berupa suatu kebijakan nasional
      perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara
      taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah.
      Undang-undang ini juga menyebutkan bahwa penggunaan sumber daya alam
      harus serasi, selaras, seimbang dengan fungsi lingkungan hidup, dan upaya
      preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup perlu
      dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan
      dan perizinan.
      Dalam undang-undang ini mengatur mengenai bahwa proses dan kegiatan yang
      hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam
      dan/atau perlindungan cagar budaya terdapat pada pasal 23. Pasal 43 Ayat (2)
      undang undang ini juga mengatur mengenai instrumen pendanaan lingkungan
      hidup dimana terdapat dana amanah/bantuan untuk konservasi. Pemeliharaan
      lingkungan hidup yang terkait dengan konservasi terdapat pada Pasal 57 Ayat
      (1), (2), dan (5) yang menyebutkan bahwa pemeliharaan lingkungan hidup
      dilakukan melalui upaya konservasi sumber daya alam, pencadangan sumber
      daya alam dan/atau pelestarian fungsi atmosfer dimana konservasi sumber daya
      alam yang dimaksud meliputi kegiatan perlindungan sumber daya alam,
      pengawetan sumber daya alam dan pemanfaatan sumber daya alam.
      Selain itu, undang-undang ini juga mengatur:
        a. Keutuhan unsur-unsur pengelolaan lingkungan hidup.
        b. Kejelasan kewenangan antara pusat dan daerah.
        c. Penguatan pada upaya pengendalian lingkungan hidup.
        d. Penguatan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan
             lingkungan hidup, yang meliputi instrumen kajian lingkungan hidup
             strategis, tata ruang, baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan
             lingkungan hidup, amdal, upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya
             pemantauan lingkungan hidup, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan
             hidup.
                                                                                     12

        e.   Perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis
             lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan hidup, dan instrumen lain yang
             sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
        f.   Pendayagunaan perizinan sebagai instrumen pengendalian.
        g.   Pendayagunaan pendekatan ekosistem.
        h.   Kepastian dalam merespon dan mengantisipasi perkembangan lingkungan
             global.
        i.   Penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi, akses
             partisipasi, dan akses keadilan serta penguatan hak-hak masyarakat
             dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
        j.   Penegakan hukum perdata, administrasi, dan pidana secara lebih jelas.
        k.   Penguatan kelembagaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
             yang lebih efektif dan responsif.
        l.   Penguatan kewenangan pejabat pengawas lingkungan hidup dan penyidik
             pegawai negeri sipil lingkungan hidup.


11.   Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

      UU No. 32 tahun 2004 terdiri dari 16 bab dan 240 pasal. Pemerintahan daerah
      dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan otonomi
      daerah, perlu memperhatikan hubungan antar susunan pemerintahan dan antar
      pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah. Aspek hubungan
      wewenang memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah dalam sistem
      Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aspek hubungan keuangan, pelayanan
      umum, pemanfaatan sumberdaya alam dan sumber daya lainnya dilaksanakan
      secara adil dan selaras. Disamping itu, perlu diperhatikan pula peluang dan
      tantangan dalam persaingan global dengan memanfaatkan perkembangan ilmu
      pengetahuan dan teknologi. Agar mampu menjalankan perannya tersebut,
      daerah diberikan kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian
      hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem
      penyelenggaraan pemerintahan negara.
      Penjelasan UU ini, antara lain menyatakan bahwa: penyelenggaraan
      desentralisasi mensyaratkan pembagian urusan pemerintah antara Pemerintah
      dengan Pemerintah Daerah. Pembagian tersebut meliputi: urusan yang
      sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah, yaitu urusan yang menyangkut
      terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan, serta
      urusan pemerintah yang bersifat concurrent, yaitu urusan yang dilaksanakan
      bersama antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah atas dasar kriteria
      externalitas, akuntabilitas dan efesiensi dengan mempertimbangkan keserasian
      hubungan pengelolaan urusan pemerintah.
      Selain itu penjelasan undang-undang ini juga menyatakan antara lain bahwa:
      “Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus di daerah otonom untuk
      menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus dan
      untuk kepentingan nasional misalnya: kawasan cagar budaya, taman nasional,
      pengembangan industri strategis dan seterusnya”.
                                                                                 13

      Lebih lanjut dalam Penjelasan Umum dinyatakan bahwa: "Desa berdasarkan
      undang-undang ini adalah desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya
      disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
      wilayah yurisdiksi, berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
      masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang
      diakui dan/atau dibentuk dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di
      kabupaten/kota, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
      Republik Indonesia Tahun 1945".
      Memperhatikan hal di atas, yang kemudian telah ditetapkan pula dalam
      Peraturan Pemerintah No. 38, konservasi adalah urusan yang bersifat khusus
      sehingga pembentukan dan pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah, serta
      penyelenggaran urusannya dilakukan secara bersama antara Pemerintah dan
      Pemerintah Daerah.

12.   Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

      UU No. 7 Tahun 2004 memberikan pengertian, bahwa air adalah semua air yang
      terdapat pada, di atas ataupun di bawah permukaan tanah termasuk dalam
      pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut. UU ini juga
      mengatur pengelolaan sumber daya air, rencana pengelolaan, hak guna usaha
      air, serta konservasi sumber daya air. Dengan demikian UU konservasi yang
      akan dibentuk harus sinkron dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam UU
      No. 7 tersebut.

13.   Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tetang Hukum Acara Pidana atau yang sering
      disebut dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, disingkat dengan
      KUHAP

      Penyelidikan dan penyidikan dalam KUHAP termuat dalam Bab IV Bagian Kesatu
      dan Ketiga, sedang tata cara implementasi dari kewenangan, termuat dalam Bab
      V sampai dengan Bab VII, Bab XIV dan Bab XV, mengatur bahwa:
          (1) Penyelidik adalah pejabat kepolisian negara Republik Indonesia yang
              diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan.
          (2) Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan
              menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
              menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan.
          (3) Penyidik, adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pegawai
              negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang
              untuk melakukan penyidikan.
          (4) Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut
              cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta
              mengumpulkan barang bukti yang terjadi dan guna menemukan
              tersangkanya.
                                                                            14

Berdasarkan pengertian penyelidik dan penyelidikan tersebut di atas, berarti
bahwa penyelidik merupakan bagian dari upaya para penegak hukum untuk
membuat pelaku tindak pidana mempertanggungjawabkan perilakunya menurut
hukum yang berlaku di depan hakim.
Agar penyelidik dapat melaksanakan tugas-tugas penyelidikan seperti yang
dikehendaki oleh pembuat undang-undang, maka penyelidik harus benar-benar
memahami tentang dasar pemikiran pembentuk undang-undang mengenai
pembentukan KUHAP dan undang-undang yang melarang suatu perbuatan.
Larangan perbuatan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, tidak tercantum
dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), demikian juga ancaman
hukumannya. Misal, tindak pidana pencurian (Pasal 362-367 KUHP), dalam
undang-undang konservasi pencurian dibatasi hanya untuk jenis tumbuhan atau
satwa dan wilayah tertentu yang dilakukan upaya konservasi ekosistem.

Pasal 6 KUHAP menetapkan Penyidik adalah:
    a. Pejabat polisi negara Republik Indonesia
    b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh
        undang-undang.

Selanjutnya Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 (Pasal 2) tentang
Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, menetapkan:
   (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) huruf b diangkat oleh
       Menteri atas usul dari departemen yang membawahkan pegawai tersebuit.
       Menteri sebelum melaksanakan pengangkatan terlebih dahulu mendengar
       pertimbangan Jaksa Agung dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Pasal 7 Ayat (2) KUHAP menetapkan bahwa:
   (2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Ayat (1) huruf b
       mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi
       dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada
       dibawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut Pasal 6 Ayat (1)
       huruf a.

Koordinasi dan pengawasan sebagaiana dalam penjelasan Peraturan
Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan Pasal 39 (3)
mengamanatkan bahwa:
   (3) Penyidik POLRI dalam melaksanakan koordinasi dengan dan
       pengawasan terhadap PPNS, tidak membawahi PPNS, akan tetapi
       bersifat pembinaan. Penyidik POLRI baik diminta atau tidak diminta wajib
       memberikan pembinaan kepada PPNS.

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan:
   a. Mengingat konservasi adalah ilmu pengetahuan yang terus berkembang,
       maka dituntut tersedianya PPNS yang mampu meningkatkan/
       mengembangkan pengetahuan, dan pemahanannya di bidang konservasi
       sesuai dengan kondisi terkini.
                                                                                 15

         b. Posisi PPNS di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik, bukan berarti
            PPNS adalah bawahan penyidik POLRI, dengan demikian            sudah
            seharusnya dalam perubahan UU mendatang PPNS Kehutanan harus
            diberi fleksibilitas dalam pelaksanaan tugasnya, tidak harus melapor
            sebagai bawahan kepada penyidik POLRI tetapi cukup berkoordinasi
            dalam arti cukup menyampaikan pemberitahuan setiap proses
            pelaksanaan tugas yang bersangkutan.


C.    Landasan Sosial
     UUD 1945, Pasal 27 sampai Pasal 34 menjamin bahwa setiap warga negara RI
mempunyai hak dan kewajiban yang sama, termasuk dalam hal ini hak untuk
memanfaatkan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta kewajiban untuk
menjaga, melindungi dan melestarikannya. Hak dan kewajiban ini dilaksanakan secara
seimbang bagi kelestarian dan kesejahteraan bangsa.
      Tujuan pembangunan adalah mewujudkan suatu masyarakat adil, makmur yang
merata materiil spirituil berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam wadah NKRI.
Pasal 33 UUD 1945 menetapkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai negera dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran
rakyat.

Memperhatikan hal di atas, landasan sosial konservasi SDAH, ke depan adalah:
1.   Penguasaan sumberdaya alam hayati oleh negara diselenggarakan oleh
     Pemerintah untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat di masa sekarang
     maupun masa yang akan datang.
2.   Penyelenggaraan konservasi SDAH dilaksanakan dengan tetap menjamin
     sepenuhnya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya sehingga menunjang upaya-
     upaya perwujudan kehidupan masyarakat yang sejahtera secara materil dan
     spiritual, dengan menghormati keberadaan wilayah desa-desa setempat berikut
     hak asal usul yang dimilikinya.
3.   Pemanfaatan sumberdaya alam hayati dengan tetap menjaga daya dukung
     lingkungan serta penetapan wilayah keterwakilan ekosistem di Indonesia, baik di
     wilayah pegunungan, maupun di wilayah dataran rendah; serta penetapan
     perlindungan/pengawetan serta pengendalian pemanfaatan terhadap satwa/
     tumbuhan liar yang menjadi kekayaan Indonesia.
4.   Perkembangan pembangunan wilayah yang menimbulkan wilayah administrasi
     baru (pemekaran) di kawasan konservasi dan munculnya/meningkatnya berbagai
     kepentingan non konservasi di kawasan konservasi.
                                                                                 16

                                      BAB III
                         PERUBAHAN PARADIGMA


A.   Kondisi Lingkungan Strategis
      Dewasa ini dunia sedang mengalami perubahan yang mendasar, dimana
kepedulian masyarakat akan pentingnya melestarikan sumberdaya alam semakin
menguat sejalan meningkatkan upaya untuk mencapai sasaran pembangunan
berkelanjutan (sustainable development), tujuan pembangunan milenium (MDGs),
serta menguatnya pengaruh isu pemanasan global, perdagangan bebas (free trade),
monopoli sumberdaya alam yang tidak terbarukan oleh negara-negara maju,
perubahan politik di tingkat nasional (desentralisasi, demokratisasi, isu HAM,
pemekaran wilayah dan pemerintahan daerah, isu tata kepemerintahan yang baik dan
reformasi birokrasi), konflik antar sektor terkait dalam pengelolaan sumberdaya alam
dan lahan, seperti pengembangan tanaman kelapa sawit, pertambangan dan Hutan
Tanaman Industri.
      Pembangunan berkelanjutan dengan tiga pilarnya yaitu keberlanjutan ekonomi,
sosial dan lingkungan telah mendorong negara-negara di dunia ini untuk
mengharmoniskan ketiga pilar tersebut dalam setiap pembangunan, termasuk di dalam
pembangunan sumberdaya alam yang berpegang pada prinsip bahwa pembangunan
ekonomi tidak berdampak pada rusaknya tatanan sosial serta memburuknya
lingkungan, atau sebaliknya.
     Kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya kesehatan anak/ibu serta
perbaikan kondisi lingkungan, adalah beberapa target perbaikan yang harus dibangun
oleh setiap negara berkembang, karena kondisi tersebut apabila dibiarkan akan dapat
mengancam keberlangsungan kehidupan seluruh umat manusia. Tujuan
Pembangunan Milenium (MDGs) sangat relevan dengan upaya konservasi
sumberdaya alam karena masalah konservasi sering berhimpitan dengan masalah
kemiskinan, kependudukan dan lingkungan.
      Isu pemanasan global juga telah mendorong negara-negara di dunia untuk
segera menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), meningkatkan rosot karbon
(carbon stock), dengan berbagai langkah seperti menanam kembali hutan yang gundul,
mengurangi laju deforestasi dan degradasi hutan, disamping mengurangi penggunaan
energi berbahan dasar hidrokarbon dan menggantinya dengan energi yang ramah
lingkungan.
      Pada tingkat internasional, melalui konvensi mengenai keanekaragaman hayati,
konservasi keanekaragaman hayati pada saat ini telah menjadi salah satu dari 3 pilar
pengelolaan keanekaragaman hayati, yaitu: (1) Konservasi, (2) pemanfaatan lestari
(berkelanjutan), dan (3) pembagian yang adil dari pemanfaatan genetik dan unsur
keanekaragaman hayati lainnya. Hal ini telah membuat fokus baru yang lebih terarah
dibanding dengan Strategi Konservasi Dunia yang digalang oleh IUCN pada tahun
1982 yang diadopsi oleh UU No. 5 Tahun 1990, yang mendasarkan konservasi pada
3P (Perlindungan sistem penyangga kehidupan, Pengawetan plasma nutfah, dan
Pemanfaatan berkelanjutan). Di tingkat internasional, 3P tersebut telah dijabarkan
lebih lanjut menjadi: (1) Pengelolaan keanekaragaman hayati (yang diatur melalui
                                                                                17

Konvensi Keanekaragaman Hayati/CBD), (2) Pencegahan penggurunan dan degradasi
lahan (yang diatur melalui Konvensi Pencegahan Pengurunan/UNCCD), serta (3)
Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim (yang diatur melalui UNFCCC).
     Berubahnya lingkungan strategis internasional di atas telah mendorong
dibangunnya upaya bersama untuk melaksanakan pembangunan dengan prinsip
pertumbuhan hijau (green growth) atau dikenal juga dengan green economy yaitu
pembangunan ekonomi yang sesuai dengan daya dukung lingkungan, serta
terbangunnya program ramah lingkungan, seperti pengurangan penggunaan
/konservasi lahan gambut dan hutan alam, perluasan penanaman, restorasi kawasan,
konservasi jenis/genetik, dll.
      Secara nasional, perubahan lingkungan strategis yang paling menonjol adalah
berubahnya sistem pemerintahan RI dari sentralisasi ke desentralisasi. Dengan
perubahan ini sebagain besar penyelenggaraan pembangunan termasuk
pembangunan yang berkaitan dengan sumberdaya alam telah ditetapkan menjadi
kewenangan Pemerintah Daerah. Dalam penyelenggaraan pembangunan telah
ditetapkan prinsip concurency dengan memperhatikan externalitas, dampak serta
efisiensinya. Pengelolaan kawasan hutan konservasi seperti taman nasional secara
tegas memang masih menjadi kewenangan Pemerintah (pusat); sedang kegiatan
lainnya termasuk konservasi diluar kawasan hutan negara seharusnya menjadi
kewenangan daerah. Pada tingkat Pemerintah (pusat), pembagian kewenangan antar
sektor juga menjadi isu yang strategis, terutama dengan diberlakukannya beberapa
undang-undang sektoral baru yang nampaknya justru melemahkan upaya konservasi.
Namun demikian pembagian kewenangan dalam urusan konservasi tidak disertai
dengan meningkatnya keberlanjutan sumberdaya alam itu sendiri, sehingga perlu
pengaturan yang lebih tegas di tingkat undang-undang.
      Disamping berubahnya sistem pemerintahan, perubahan yang juga menonjol di
tingkat nasional adalah reformasi yang berkaitan dengan perbaikan pelayanan publik,
pesatnya pertumbuhan teknologi informasi, serta menguatnya kelembagaan
masyarakat adat, menguatnya peran DPR/DPRD dan DPD serta peran NGO dalam
mendorong arah pembangunan ke depan.
     Perubahan strategis ini mendorong perlunya peningkatan peran para pihak, dan
masyarakat serta keberpihakan kepada kesejahteraan masyarakat dalam pengurusan
konservasi di Indonesia tanpa mengorbankan konservasi sumberdaya alam itu sendiri.

B.   Masalah Konservasi
     Selama ini akibat berbagai kondisi dan pelaksanaan upaya konservasi di
lapangan, telah menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa peraturan perundangan
konservasi yang berlaku saat ini belum mampu mendorong terwujudnya kesejahteraan
masyarakat. Konservasi masih dipandang sebagai pelarangan dan pembatasan hak
masyarakat. Kondisi ini menyebabkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas
konservasi lemah. Kondisi ini menjadi penyebab memburuknya kondisi kawasan
konservasi, demikian pula tingkat kelangkaan tumbuhan dan satwa liar semakin
meningkat.
                                                                                  18

Negatifnya persepsi masyarakat dipengaruhi oleh banyak sebab, diantaranya adalah
lemahnya kebijakan bidang konservasi serta implementasinya. Beberapa kelemahan
peraturan-perundangan yang telah ada, diantaranya meliputi:
1.   Kurangnya keberpihakan kebijakan terhadap hak-hak masyarakat, baik itu hak
     sosial ekonomi masyarakat sekitar, maupun hak masyarakat adat.
     a.   Hak sosial ekonomi
          Perundang-undangan bidang konservasi yang saat ini ada sangat membatasi
          hak sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan konservasi; hampir tidak
          ada ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari sebuah
          kawasan konservasi. Situasi ini kurang sejalan dengan Konvensi HAM yang
          telah diratifikasi Pemerintah Indonesia, Kovenan Hak Ekososbud (ICESCR/
          International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights) dengan
          Undang-Undang No. 11 Tahun 2005.
          Hak atas perlindungan bagi keluarga (Pasal 10), hak atas standar hidup yang
          layak, termasuk hak atas pangan, pakaian dan tempat tinggal (Pasal 11),
          Konvensi mengatur bahwa, negara tidak boleh melakukan hal-hal yang
          mengakibatkan tercegahnya akses hak bersangkutan/mencegah melakukan
          sesuatu yang dapat menghambat warga memanfaatkan sumber-sumber
          daya alam materil yang tersedia, serta mengharuskan negara untuk
          melakukan tindak proaktif yang bertujuan memperkuat akses masyarakat
          atas sumber-sumber daya. Kewajiban ini merupakan kewajiban yang
          menuntut intervensi negara (positive measures) sehingga terjamin hak setiap
          orang atas kesempatan memperoleh haknya yang tidak dapat dipenuhi
          melalui usaha sendiri. Disamping kewajiban dasar negara di atas, negara
          diatur untuk menahan diri (negative rights) dan intervensi agar pemenuhan
          hak tercapai (positive rights). Oleh karena itu, pelanggaran hak ekososbud
          dapat berupa pelanggaran by ommission (melalui tindakan pembiaran)
          maupun by commission (dengan sengaja melakukan tindakan itu sendiri).
          Maastrich Guideline memberi sejumlah tindakan yang dapat dikategorikan
          sebagai pelanggaran by commission, beberapa di antaranya meniadakan
          aturan yang sangat penting bagi pemenuhan hak ekososbud, adanya
          perlakuan-perlakuan diskriminatif.
          Memperhatikan konvensi di atas, wajib hukumnya bagi negara untuk
          membangun perundangan bidang konservasi yang menjamin terpenuhinya
          hak ekonomi dan sosial budaya masyarakat, tidak diskriminatif;
          perundangan yang mengatur secara jelas keberpihakannya kepada
          masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
     b.   Hak masyarakat hukum adat
          Di Indonesia, paradigma pengakuan terhadap hak masyarakat adat ini
          sejatinya sudah lama ada. Namun demikian dalam perkembangan
          pembentukan hukum sektoral, maupun UU konservasi ini, esensi pengakuan
          hak masyarakat adat ini hampir hilang.
          Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
          Hayati dan Ekosistemnya meletakkan pentingnya konservasi dengan alasan
                                                                       19

diantaranya: (1) unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling
mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan
berakibat terganggunya ekosistem, dan (2) untuk menjaga agar pemanfaatan
sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya,
maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan
keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri.
Undang-undang ini mengatur tentang konservasi sumberdaya alam hayati
dan ekosistemnya (KSDAHE) yang diartikan sebagai pengelolaan sumber
daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk
menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Titik tekan undang-undang ini adalah kegiatan teknis (KSDAHE) yang
bertumpu pada tiga kegiatan utama yaitu:
     (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan;
     (2) Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
         ekosistemnya;
     (3) Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alami hayati dan
         ekosistemnya.

Dalam kegiatan-kegiatan konservasi, karena UU hanya mengatur teknis
KSDAHE, keberadaan masyarakat-masyarakat atau pemukiman-pemukiman
yang ada dalam kawasan konservasi tidak diatur secara baik. Di lapangan
ditemui banyak perkampungan-perkampungan, desa-desa yang ditinggali
oleh masyarakat berpuluh-puluh tahun, bahkan sebelum kawasan tersebut
ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Paling tidak ada tiga pasal yang
menyentuh posisi masyarakat dalam kawasan maupun kegiatan konservasi
ini, pasal tersebut adalah Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 37.
Pasal 3 menyebutkan: “Konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber
daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih
mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu
kehidupan manusia.”; dan Pasal 4 menyebutkan: “Konservasi sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban
Pemerintah serta masyarakat.”

Pada Bab IX mengatur khusus tentang peran serta rakyat dalam kegiatan
konservasi. Pasal 37 menyebutkan:
   (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumberdaya alam hayati dan
       ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui
       berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna.
   (2) Dalam mengembangkan peranserta rakyat sebagaimana dimaksud
       dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar
                                                                         20

      konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan
      rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.
   (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
       (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pada tahun 2009, Kementrian Kehutanan melakukan sebuah penelitian
mengenai desa-desa yang ada dalam kawasan hutan, termasuk di dalam
kawasan konservasi. Penelitian ini menghasilkan laporan resmi, terdapat
kurang lebih 1631 desa dalam kawasan konservasi di 17 provinsi yang diteliti
(Identifikasi Desa dalam Kawasan Hutan Tahun 2008, Departemen
Kehutanan).
Sejumlah masyarakat yang hidup di kawasan konservasi di atas, tunduk
kepada ketentuan Bab IX yang mengatur khusus tentang peran serta rakyat
dalam kegiatan konservasi, khususnya diatur dalam kegiatan-kegiatan yang
dicantumkan pada Pasal 37. Namun sayang, pengaturan ini dalam
implementasinya, tidak cukup memberikan perlindungan kepada hak-hak
masyarakat yang hidup dalam kawasan konservasi tersebut, apalagi
peraturan pemerintah sebagai turunan pasal ini tidak pernah dibuat sampai
hari ini.
Pada dasarnya, masyarakat tidaklah anti terhadap kegiatan konservasi. Di
tingkat mereka, terutama masyarakat adat, memiliki pengaturan-pengaturan
ruang kehidupan yang diantaranya juga diatur mengenai kawasan-kawasan
yang berfungsi konservasi yang dijaga secara adat. Model ini terutama hidup
dan berkembang pada masyarakat-masyarakat adat. Bahkan lebih jauh,
akibat penetapan-penetapan fungsi hutan, seringkali kawasan yang berfungsi
konservasi ini, berada pada kawasan produksi, bahkan kawasan produksi
konversi. Akibatnya mereka tidak dapat mempertahankan kawasan tersebut
dari konversi-konversi untuk kepentingan non konservasi.
Dalam konteks masyarakat yang hidup dalam kawasan konservasi, UU ini
tidak memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk meng-
implementasikan model konservasi yang sudah lama mereka kenal. Model
konservasi yang sah adalah semata model yang ditentukan oleh UU ini.
Dalam konteks wilayah konservasi masyarakat yang berada di luar kawasan
konservasi yang ditetapkan oleh pemerintah, UU ini tidak memberikan
proteksi yang cukup agar kawasan tersebut dapat dijaga fungsi dan
kelestariannya.
Masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat dalam konteks konservasi,
selama ini didekati dengan pendekatan formal UU No. 41 Tahun 1999 (UU
tentang Kehutanan); karena UU No. 5 Tahun 1990 tidak mengatur masalah
ini dengan jelas. Untuk memberikan landasan berpikir kepada pembentukan
UU konservasi baru yang lebih akomodatif terhadap masyarakat, khususnya
masyarakat adat.
Penjelasan mengenai istilah ‘masyarakat hukum adat’ pun tidak cukup
memadai. Dalam bagian Penjelasan Pasal 67 UU No. 41 dikatakan bahwa
                                                                           21

masyarakat hukum adat diakui keberadaannya, jika menurut kenyataannya
memenuhi unsur antara lain:
   (1) Masyarakatnya masih dalam bentuk paguyuban (rechtsgemeen-
       schap).
   (2) Ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya.
   (3) Ada wilayah hukum adat yang jelas.
   (4) Ada pranata dan perangkat hukum, khususnya peradilan adat, yang
       masih ditaati.
   (5) Masih mengadakan pemungutan hasil hutan di wilayah hutan
       sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Ada beberapa persoalan timbul ketika mencermati kelima kriteria tersebut.
Pertama, mengenai bentuk paguyuban (rechtsgemeenschap). Dalam
konteks ini yang menjadi penting untuk diperiksa adalah kriteria-kriteria yang
digunakan oleh masyarakat tersebut untuk mendefinisikan diri dan sejauh
mana syarat-syarat tersebut masih dipenuhi. Sementara di sisi lain perlu juga
memeriksa syarat-syarat pengakuan yang hendak didorong oleh Negara.
Hal ini penting bahkan sangat penting karena dari perspektif historis,
terminologi ‘masyarakat hukum adat’ adalah sebuah istilah yang diciptakan
oleh para ahli hukum kolonial untuk memberi identitas sekaligus ruang politik
bagi kelompok-kelompok masyarakat pribumi yang memiliki sistem sosial
politik dan tradisi hukum yang berbeda sekaligus untuk membedakannya
dengan kelompok yang menggunakan sistem dan tradisi hukum Eropa dan
Timur lainnya (Rikardo Simarmata dalam makalah berjudul “Menyongsong
Berakhirnya Abad Masyarakat Adat: Resistensi Pengakuan Bersyarat”).
Pemeriksaan kriteria-kriteria yang digunakan oleh masyarakat maupun syarat
pengakuan yang didorong oleh Negara menjadi penting karena dua alasan.
Pertama, situasi sosial politik sekarang sudah berubah dengan masa
kolonial, dan kedua masyarakat berkembang menurut dinamika tantangan
internal dan eksternal yang dihadapinya. Dengan dua alasan ini dapat
dibayangkan bahwa sistem sosial politik dan tradisi hukum dalam sebuah
masyarakat juga mengalami perkembangan. Hal itu akan tercermin dalam
bagaimana mereka mengidentifikasi diri dan menempatkan diri dalam
perhadapan dengan Negara.

Kedua, syarat adanya hukum adat, peradilan adat yang masih ditaati dan
kelembagaan adat yang berkaitan dengan itu. Logika yang digunakan dalam
Pasal 67 UU No. 41 Tahun 1999 adalah masyarakat tidak pernah diberi
otonomi untuk mengurus dirinya sendiri, dan sementara itu masyarakat
diminta untuk membuktikan keberadaan dirinya dengan menunjukkan bahwa
mereka otonomi, baik dalam sistem hukum, pengurusan, kelembagaan, dan
sistem sosial budayanya. Tidak diakuinya otonomi komunitas masyarakat
hukum adat juga dapat dilihat dari kenyataan bahwa UU No. 41 Tahun 1999
tidak memberi ruang bagi prinsip yang disebut dengan self-identification.
Pengakuan yang diberikan oleh Negara atas keberadaan sebuah komuntias
masyarakat hukum adat ditentukan oleh prosedur dan substansi yang diatur
oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah-lah yang mempunyai otoritas
                                                                          22

membentuk tim identifikasi dan memberikan pengukuhan. Sekali lagi hal ini
membuktikan tidak konsistennya penyelenggaraan sistem hukum di
Indonesia.

Ketiga, meskipun UU No. 41 Tahun 1999 tidak secara eksplisit menyebutkan
kelima kriteria tersebut kumulatif atau tidak, namun berdasarkan interpretasi
atas penggunaan kata ‘dan’ maka disimpulkan bahwa kelima kriteria tersebut
bersifat kumulatif. Artinya dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan
sehingga jika salah satu saja tidak terpenuhi, maka tidak akan mendapatkan
pengakuan. Dengan demikian, pertanyaan utama untuk kriteria keberadaan
masyarakat adat adalah apakah cukup kriteria tersebut ada secara
konseptual ataukah ia juga harus sudah efektif dalam pelaksanaannya.
Kelemahan kriteria dalam penjelasan tentang masyarakat hukum adat
adalah: kesimpulan tentang ada atau tidaknya masyarakat (hukum) adat
dikonsepsikan untuk ditarik dari sejumlah kesimpulan (yaitu kriteria-kriteria
dalam Penjelasan Pasal 67) yang belum dibuktikan kebenarannya.
Pengaturan mengenai hak pengelolaan atau izin pemanfaatan hutan oleh
masyarakat adat dalam UU No. 41 Tahun 1999 dilatari oleh pernyataan
bahwa pelaksanaan hak menguasai negara (HMN) tidak akan meniadakan
hak-hak masyarakat adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada.
Karena itu penitikberatan dilakukan dengan urut-urutan sebagai berikut: [1]
pengaturan mengenai syarat dan prosedur pengukuhan keberadaan
masyarakat hukum adat; [2] hak-hak yang dimiliki oleh masyarakat yang
telah ditetapkan sebagai masyarakat hukum adat. Dengan hanya mencakup
kedua hal di atas, UU No. 41 Tahun 1999 memilih untuk melupakan cakupan
atau materi lain yang terbilang amat penting. Materi yang dilupakan tersebut
adalah syarat dan prosedur pemberian hak atau izin kepada masyarakat
hukum adat. Apakah masyarakat hukum adat harus memenuhi syarat dan
mengikuti prosedur yang sama dengan subyek hukum yang lain dalam
mendapatkan hak atau izin. Pada tingkatan empirik, ketentuan yang
mengharuskan masyarakat setempat untuk terlebih dahulu mendapatkan izin
pemanfaatan hutan dari pejabat apabila hendak melakukan kegiatan
pemanfaatan hutan, telah mendatangkan hambatan.

Perhatian terhadap peran masyarakat seharusnya semakin meningkat
terutama setelah Kongres Konservasi Dunia pada sidangnya yang ke-4 di
Barcelona, Spanyol, 5-14 Oktober 2008. Kongres telah menghimbau anggota
IUCN (Indonesia), agar:
  (1) Mengakui sepenuhnya wilayah konservasi masyarakat adat berupa
      lanskap/lanskap laut dan tempat-tempat suci, yang pengelolaannya
      diatur dan dikelola oleh masyarakat adat.
  (2) Mereformasi perundang-undangan nasional, kebijakan dan praktek
      sehingga relevan dengan: Durban Accord, CBD Program Kerja pada
      kawasan lindung, serta Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat
      Adat.
                                                                                    23

            (3) Memastikan bahwa kawasan lindung yang mempengaruhi atau dapat
                mempengaruhi tanah masyarakat adat, wilayah, sumber daya alam dan
                budaya, tidak diubah secara bebas, tanpa persetujuan masyarakat adat
                sebelumnya. Masyarakat berhak mendapatkan informasi untuk
                memastikan pengakuan terhadap hak-haknya, dalam hal ini termasuk
                hak-hak kepemilikan sumber daya akses.
            (4) Mendorong instansi pemerintah terkait, pelaku swasta, bisnis dan aktor-
                aktor masyarakat sipil untuk memantau dampak kegiatan konservasi
                terhadap hak asasi manusia sebagai bagian dari pendekatan berbasis
                hak;
            (5) Mendorong dan membentuk mekanisme untuk memastikan bahwa
                sektor swasta sepenuhnya menghormati semua hak asasi manusia,
                termasuk hak-hak masyarakat adat, dan mengambil tanggung jawab
                karena untuk kerusakan lingkungan dan sosial yang mereka
                menimbulkan dalam kegiatan mereka, dan
            (6) Meningkatkan pemahaman tentang tanggung jawab dan sinergi antara
                hak asasi manusia dan konservasi;

          Memperhatikan hal di atas ada indikasi keberpihakan kepada masyarakat
          lokal maupun masyarakat adat dalam memenuhi kesejahteraannya masih
          sangat terbatas, hal ini apabila tidak dilakukan perubahan dikhawatirkan
          konflik pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat adat/lokal akan terus
          terjadi sehingga kegiatan konservasi tidak dapat mencapai tujuan seperti
          yang diharapkan.
          Pengelolaan KSDAHE ke depan harus mampu melindungi dan mengakui
          hak-hak masyarakat adat/lokal yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan
          konservasi, mampu menumbuh kembangkan partisipasi dalam pengelolaan
          konservasi, serta menjamin distribusi manfaat secara adil.


2.   Lemahnya pengaturan mengenai penegakan hukum

     Lemahnya penegakan hukum ada kaitannya dengan lemahnya penyidikan dan
     penyelidikan, hal ini berkaitan dengan kewenangan PPNS serta wilayah kerjanya
     serta lemahnya pengaturan tentang sanksi.

     a.   Penyelidikan dan penyidikan
          Penyelidikan dan penyidikan adalah tugas dan kewenangan pejabat tertentu
          di bidang kehutanan, hal ini sejalan dengan:
           (1)   Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara R.I,
                 mengatur bahwa pengemban fungsi kepolisian adalah Kepolisian
                 Negara R.I yang dibantu oleh: kepolisian khusus (yang dimaksud
                 dengan ”kepolisian khusus” ialah instansi atau badan pemerintah yang
                 oleh kuasa undang-undang/peraturan perundang-udangan diberi
                 wewenang untuk melaksanakan fungsi kepolisian di bidang teknisnya
                                                                        24

      masing-masing) serta penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) dan/atau
      serta bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.
      Pengemban fungsi kepolisian sebagaimana dimaksud di atas dapat
      dipahami sebagai melaksanakan fungsi kepolisian sesuai dengan
      peraturan perundang-undangan yang mejadi dasar hukumnya masing-
      masing, untuk melakukan penyelidikan secara langsung maupun
      tidak langsung terhadap ancaman:         kehidupan masyarakat/
      keselamatan umum, kelangkaan jenis manfaat jenis bagi kehidupan
      manusia, kerentanan terhadap perubahan ekosistem dan sebab-
      sebab lain yang dapat mengancam kelestarian sumberdaya alam
      hayati dan ekosistemnya. Dengan pemahaman di atas, jelas UU No.
      2 Tahun 2002 memungkinkan adanya aparatur yang diberi wewenang
      untuk melaksanakan fungsi kepolisian di bidang konservasi, yaitu
      wewenang penyelidikan kepada Polisi Khusus Kehutanan.

(2)   Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, Pasal 6 (1) b.,
      mengatur pegawai negeri sipil tertentu dapat diberi wewenang khusus
      oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.
      Dalam prakteknya pelaksanaan tugas penyelidikan dan penyidikan
      terhadap tindak pidana kehutanan, termasuk keanekaragaman hayati
      (kehati), tidak berjalan seperti yang diharapkan, karena adanya
      perintah UU yakni penjelasan UU No. 41 Tahun 1999 tentang
      Kehutanan yang mensyaratkan berkoordinasi dengan penyidik POLRI.
      Hal ini juga sejalan dengan Keputusan Menteri Kehakiman R.I No.
      M.01.PW.07.03 Tahun 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan KUHAP,
      BAB I. Huruf A. Angka 4.d. POLRI sebagai penyidik utama wajib
      mengkoordinasikan penyidik pegawai negeri sipil dengan memberikan
      pengawasan, petunjuk dan bantuan. Koordinasi di sini dalam praktek
      lapangan dipahami sebagai bentuk hubungan atasan-bawahan,
      dimana PPNS/Polhut harus melaporkan setiap kasus yang akan
      ditangani kepada penyidik utama (POLRI).
      Karena sifatnya yang spesifik, sering kali koordinasi dalam rangka
      mambangun kesepahaman antara PPNS dan POLRI memakan waktu
      yang cukup lama. PPNS harus menjelaskan hal-hal yang bersifat
      teknis di bidang konservasi jenis dan ekosistem dengan aparatur
      kepolisian dan kejaksaan. Di sisi lain barang bukti peristiwa pidana
      biasanya mudah rusak/mati, dan memerlukan biaya perawatan yang
      cukup besar apabila tidak segera dikembalikan ke alam atau dititipkan
      di lembaga konservasi. Disamping itu tindak pidana konservasi
      merupakan kejahatan yang bersifat transnasinal, maka dimungkinkan
      wilayah hukum penyelidik dan penyidik tindak pidana konservasi tidak
      terbatas hanya dalam satu wilayah propinsi. Situasi ini menyebabkan
      proses penegakan hukum belum berjalan sebagaimana diharapkan.
                                                                               25

              Kondisi di atas lebih diperburuk lagi oleh adanya kenyataan UU No. 5
              Tahun 1990 tidak mengatur secara kongkrit mengenai peran/tupoksi
              polisi khusus/PPNS dalam penegakan hukum kehati; hal ini sering
              menimbulkan kendala kewenangan di lapangan.

b.   Sanksi
     Sanksi pidana bagi setiap tindakan melawan hukum, sesuai dengan Buku
     Kesatu KUHP, Pasal 10, ada 7 (tujuh) jenis hukuman/sanksi; 4(empat) jenis
     hukuman utama dan 3 (tiga) jenis hukuman tambahan, yakni: hukuman mati;
     hukuman penjara; hukuman kurungan; hukuman denda; pencabutan hak
     tertentu; serta perampasan barang yang tertentu. Dengan demikian agar
     diperoleh efek jera disamping sanksi hukuman harus mempertimbangkan
     dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana tersebut. Terhadap kejahatan
     konservasi dikenakan juga pidana denda, sebagai bagian dari tanggung
     jawab terhadap lingkungan (konservasi jenis dan kawasan), serta sanksi
     pembiaran (guilt of omission).
     Sanksi bagi tindak pidana konservasi seyogyanya minimal lima tahun, karena
     tindak pidana tersebut dapat membahayakan keamanan umum. Kondisi ini
     sejalan dengan UU PPLH yang telah mengatur adanya ancaman pidana
     minimum, serta Buku Kedua KUHP, Pasal 187-208, menyatakan antara lain,
     bahwa: “Barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan
     atau banjir, yang menimbulkan bahaya umum bagi barang atau nyawa orang
     lain, ancaman hukuman paling rendah 5 (lima) tahun atau seumur hidup”.
     Tindak pidana konservasi biasanya sangat kompleks karena disamping
     dampaknya luas, juga karena konservasi pada kenyataannya meliputi pula
     kegiatan pemanfaatan lestari yang dilakukan oleh pihak ketiga; oleh karena
     itu perlu ada pemisahan saksi secara jelas yaitu kelompok tindak pidana
     pelanggaran dan tindak pidana kejahatan. Disamping itu perlu juga diatur
     pengenaan sanksi administrasi. Sanksi administrasi dimaksudkan untuk
     menegakan hak dan kewajiban bagi para pihak yang diberi izin oleh
     pemerintah untuk terlibat dalam pelaksanaan perizinan di bidang konservasi.
     Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), menggolongkan tindak pidana
     ada dua, yaitu tindak pidana yang masuk dalam golongan kejahatan atau
     “misdrijven” (Buku II) serta tindak pidana yang masuk dalam golongan
     pelanggaran atau “overtredingen” (buku III). Wirjino Projodikoro (19…),
     dalam Azas-azas Hukum Pidana Indonesia (halaman 35), menyatakan
     bahwa sesuai dengan kenyataan bahwa terdapat beberapa perbedaan
     prinsip yang termuat dalam KUHP yang hanya berlaku bagi pelanggaran atau
     berlaku secara berlainan, misal: (1) Perbuatan percobaan (poging) dan
     pembantuan (medelplictheid) untuk pelanggaran pada umumnya tidak
     merupakan tindak pidana; (2) Tenggang waktu daluwarsa untuk kejahatan
     lebih panjang dari pada pelanggaran; (3) Kemungkinan keharusan adanya
     pengaduan untuk penuntutan dimuka hakim, hanya ada pada kejahatan,
     sedang terhadap pelanggaran tidak ada.
                                                                                     26

          Sistem perundang-undangan yang akan dibangun seharusnya akan
          memperkuat penyidikan dan penyelidikan, dengan meningkatkan
          kewenangan PPNS termasuk wilayah kerjanya serta lebih merinci norma
          larangan dan mengefektifkan ancaman sanksi pidana.

     c.   Pengaturan tentang penanganan barang bukti hasil sitaan dan rampasan
          Barang bukti dalam tindak kejahatan ini biasanya terdiri dari benda mati/tidak
          bergerak dan benda hidup. Selama ini khususnya dalam hal barang bukti
          spesies satwa yang masih hidup, aparat penegak hukum kesulitan
          penanganan karena keterbatasan tempat. Hal ini mengakibatkan seringkali
          satwa sakit atau bahkan mati sebelum kasusnya selesai diputus lembaga
          peradilan. Barang bukti hasil rampasan/sitaan sering menjadi sumber
          perdagangan ilegal. Pengaturan tentang barang bukti hasil rampasan, sitaan
          dan temuan masih bersifat umum dan tidak spesifik sesuai dengan tahapan-
          tahapan yang berbeda. Pemusnahan barang bukti yang membahayakan
          kesehatan masyarakat, tumbuhan dan satwa belum dilakukan pengaturan.

3.   Kelemahan dalam penetapan kawasan konservasi.
     IUCN mendefinisikan kawasan konservasi sebagai: “Suatu ruang yang dibatasi
     secara geografis dengan jelas, diakui, diabdikan dan dikelola, menurut aspek
     hukum maupun aspek lain yang efektif, untuk mencapai tujuan pelestarian alam
     jangka panjang, lengkap dengan fungsi-fungsi ekosistem dan nilai-nilai budaya
     yang terkait.”

     IUCN membedakan aneka macam kawasan konservasi ke dalam enam kategori,
     yakni:
     •    Kategori Ia - Strict Nature Reserve
          Yakni suatu wilayah daratan atau lautan yang dilindungi karena memiliki
          keistimewaan atau merupakan perwakilan ekosistem, kondisi geologis atau
          fisiologis, dan/atau spesies tertentu, yang penting bagi ilmu pengetahuan
          atau pemantauan lingkungan.
     •    Kategori Ib - Wilderness Area
          Wilayah daratan atau lautan yang masih liar atau hanya sedikit diubah, yang
          masih memiliki atau mempertahankan karakter dan pengaruh alaminya,
          tanpa adanya hunian yang permanen atau signifikan dilindungi dan dikelola
          untuk mempertahankan kondisi alaminya.
     •    Kategori II - National Park
          Wilayah daratan dan lautan yang masih alami, yang ditunjuk untuk (i)
          melindungi integritas ekologis dari satu atau beberapa ekosistem di
          dalamnya, untuk kepentingan sekarang dan generasi mendatang; (ii)
          menghindarkan/mengeluarkan kegiatan-kegiatan eksploitasi atau okupasi
          yang bertentangan dengan tujuan-tujuan pelestarian kawasan; (iii)
          menyediakan landasan bagi kepentingan-kepentingan spiritual, ilmiah,
          pendidikan, wisata dan lain-lain, yang semuanya harus selaras secara
          lingkungan dan budaya.
                                                                               27

•   Kategori III - Natural Monument
    Wilayah yang memiliki satu atau lebih, kekhasan atau keistimewaan alam
    atau budaya yang merupakan nilai yang unik atau luar biasa yang
    disebabkan oleh sifat kelangkaan, keperwakilan, atau kualitas estetika atau
    nilai penting budaya yang dipunyainya.
•   Kategori IV - Habitat/Species Management Area
    Wilayah daratan atau lautan yang diintervensi atau dikelola secara aktif untuk
    memelihara fungsi-fungsi habitat atau untuk memenuhi kebutuhan spesies
    tertentu.
•   Kategori V - Protected Landscape/Seascape
    Wilayah daratan atau lautan, dengan kawasan pesisir di dalamnya, di mana
    interaksi masyarakat dengan lingkungan alaminya selama bertahun-tahun
    telah membentuk wilayah dengan karakter yang khas, yang memiliki nilai-
    nilai estetika, ekologis, atau budaya yang signifikan, kerap dengan
    keanekaragaman hayati yang tinggi. Menjaga integritas hubungan timbal-
    balik yang tradisional ini bersifat vital bagi perlindungan, pemeliharaan, dan
    evolusi wilayah termaksud.
•   Kategori VI - Protected area with sustainable use of natural resources
    Kategori VI melestarikan kawasan lindung ekosistem dan habitat, bersama
    dengan nilai-nilai budaya terkait dan sistem pengelolaan sumberdaya alam
    tradisional. Kawasan ini umumnya besar, dengan sebagian besar daerah
    tersebut dalam kondisi alami, di mana proporsi yang berada di bawah
    pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan industri yang rendah
    dalam menggunakan sumberdaya alam, kegiatan produksi yang sejalan
    dengan konservasi alam dipandang sebagai salah satu tujuan utama dari
    kawasan ini.

Kategori pengelolaan kawasan konservasi ke depan selain disesuaikan dengan
kategorisasi oleh IUCN (6 kategori) di atas, sebaiknya juga mengakomodir
kategori berdasar tipe pengelolaan kawasan berdasarkan tata kelola yang
disepakati dalam pertemuan IUCN (WCC 2008) di Barcelona yaitu:
    a. Governance by government (kawasan konservasi sepenuhnya dikelola
       oleh pemerintah).
    b. Shared governance (kawasan konservasi yang dikelola secara bersama-
       sama oleh pemerintah dan kelompok non pemerintah).
    c. Private governance (kawasan konservasi yang dikelola individu,
       perusahaan, organisasi non pemerintah/lsm).
    d. Governance by indigenous peoples and local communities (pengelolaan
       oleh masyarakat lokal/masyarakat asli setempat), termasuk dalam
       kelompok ini adalah Community Conserved Areas (CCAs)

Penyesuaian Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dengan kategorisasi dan tata
kelola di atas diharapkan mampu menghilangkan kelemahan perundangan di
bidang konservasi yang berkaitan dengan: (a) Kategorisasi kawasan konservasi,
(b) Kriteria dan mekanisme penetapan kawasan konservasi, (c) Pengaturan
ekosistem esensial termasuk lahan basah, HCVF di luar hutan konservasi, (d)
                                                                                  28

     Kerja sama internasional dalam konservasi, dan (e) Efektivitas pengelolaan
     kawasan dan pengelolaan kolaboratif.
     Pengelolaan kawasan konservasi tidak dapat dipisahkan dengan kawasan
     penyangga yang berada diluarnya. Kawasan penyangga dapat berupa kawasan
     hutan maupun kawasan non hutan. Kawasan penyangga selama ini tidak
     mendaptatkan pengaturan secara komprehensif, dari sisi hak dan kewajiban
     penanggung jawab kawasan dan system pengelolaan terintegrasi dengan
     pengelolaan kawasan konservasi.

4.   Kelemahan pengaturan lainnya
     Selain ketiga hal yang sudah disampaikan di atas, isu penting lain yang juga
     merupakan kelemahan dalam pelaksanaan konservasi selama ini yang perlu
     mendapatkan perhatian dalam penyusunan undang-undang KSDAHE ke depan,
     meliputi:
        a. Pengaturan spesies migrasi yang belum dilindungi.
        b. Spesimen dilindungi yang pada saat didapatkan/dimiliki belum dilindungi.
        c. Pemanfaatan spesimen jenis seperti pertukaran, peragaan, perdagangan.
        d. Pengaturan medis konservasi.
        e. Pengaturan tentang konservasi sumberdaya genetik (termasuk akses dan
           pembagian keuntungan yang adil).
        f.   Pengaturan pendanaan konservasi/pendapatan negara.
        g. Pengaturan dan pembagian peran Pemerintah serta Pemerintah Daerah.
        h. Kerjasama pengelolaan serta penggunaan kawasan konservasi untuk
           pembangunan sarana strategis.
        i.   Pengelolaan kawasan konservasi oleh pihak ketiga.
        j.   Pengaturan pemulihan dan perubahan fungsi kawasan.
                                                                               29

                                     BAB IV
                              MATERI MUATAN


I.   KETENTUAN UMUM

     A. Ruang Lingkup

        Ruang lingkup perubahan undang-undang ini meliputi:
         1.    Konservasi keanekaragaman hayati, dalam hal sumberdaya alam
               genetik, jenis dan ekosistem termasuk jasa ekosistem.
         2.    Ruang lingkup konservasi yang dikecualikan dari ruang lingkup butir
               satu di atas adalah:
                a. Konservasi energi
                b. Konservasi sumberdaya alam non hayati
                c. Konservasi tanah dan air
                d. Konservasi cagar budaya(situs-situs purbakala)

         3.    Konservasi keanekaragaman hayati mencakup yurisdiksi NKRI baik
               berupa daratan dan perairan, termasuk di dalamnya ZEE dan Landas
               Kontinental.
         4.    Perlindungan terhadap spesies dan genetik yang diatur oleh konvensi
               internasional, berasal dari luar negeri dan berada di dalam wilayah
               yurisdiksi NKRI.

     B. Asas

        Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan
        kelestarian, keseimbangan, keserasian, kemanfaatan yang berkelanjutan,
        keterpaduan, tranparansi dan akuntabilitas.
         1.    Asas lestari merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam
               pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya sehingga
               pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara terus menerus pada
               masa mendatang.
         2.    Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan adalah bahwa
               setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
               mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara
               kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan
               negara.
         3.    Asas      manfaat   berkelanjutan    adalah   dimaksudkan   agar
               penyelenggaraan konservasi sumberdaya alam hayati dapat
               memberikan manfaat bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan
               rakyat, dan pengembangan peri kehidupan yang berkesinambungan
               bagi warga negara, secara merata dan adil serta peningkatan
               kelestarian sumberdaya alam hayati. Pemanfaatan sumber daya tidak
                                                                           30

         melebihi kemampuan regenerasi sumberdaya hayati atau laju inovasi
         substitusi sumberdaya nonhayati.
    4.   Asas keterpaduan adalah mengintegrasikan kebijakan dengan
         perencanaan berbagai sektor pemerintahan secara horizontal dan
         secara vertikal antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan
         mengintegrasikan ekosistem darat dengan ekosistem laut berdasarkan
         masukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
         membantu proses pengambilan putusan dalam konservasi sumberdaya
         alam hayati.
    5.   Asas keterbukaan dimaksudkan adanya keterbukaan bagi masyarakat
         untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif
         tentang konservasi sumberdaya alam hayati, dari tahap perencanaan,
         pemanfaatan, pengendalian, sampai tahap pengawasan dengan tetap
         memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan
         rahasia negara. Dengan demikian masyarakat di sekitar dan di dalam
         kawasan hutan mempunyai kesempatan untuk berperan serta, baik
         dalam perencanaan, pelaksanaan,       maupun pengawasan dan
         penegakan hukum.
    6.   Asas akuntabilitas dimaksudkan bahwa pengelolaan kawasan
         konservasi sumberdaya alam hayati dilakukan secara terbuka dan
         dapat dipertanggungjawabkan.
    7.   Asas kebangsaan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan
         perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa
         Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip
         Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memperhatikan keragaman
         penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, dan
         budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam
         kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
    8.   Asas keadilan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan
         perundang- undangan harus mencerminkan keadilan secara
         proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali.

C. Prinsip

   Konservasi keanekaragaman hayati diselenggarakan dengan prinsip:
    1.   Keterpaduan, sesuai dengan kemampuan dan fungsinya dengan tujuan
         terjaminnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan
         ekosistemnya untuk sebesar besarnya kesejahteraan masyarakat.
    2.   Penguatan fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi, yang diwujudkan
         dan diselenggarakan oleh pemerintah sesuai dengan daya dukungnya.
    3.   Memperhatikan serta mengakui hak masyarakat hukum adat, hak
         masyarakat lokal atas sumberdaya alam yang ada dan diatur sampai
         batas tidak membahayakan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri
         sejalan dengan prinsip free and prior informed consent (FPIC).
                                                                                        31

             4.    Pelaksanaannya      oleh    pemerintah   bersama   masyarakat,   melalui
                   kegiatan:
                     a. Perlindungan kehati, meliputi usaha-usaha perlindungan terhadap
                        genetik, spesies dan ekosistem melalui penetapan status
                        perlindungan.
                     b. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
                        ekosistemnya. Pengawetan merupakan usaha dan tindakan
                        konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi
                        penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan
                        agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar
                        senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi
                        kesejahteraan manusia.
                     c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan
                        ekosistemnya. Kegiatan ini pada hakikatnya merupakan usaha
                        pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumberdaya alam
                        hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat
                        dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.


II.   PERLINDUNGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

      Perlindungan keanekaragaman hayati dilaksanakan oleh pemerintah, dan/atau
      masyarakat; dilaksanakan melalui penetapan kawasan konservasi, penetapan
      status perlindungan spesis dan genetik.

      Perlindungan keanekaragaman hayati meliputi:
       1.    Perlindungan genetik.
       2.    Perlindungan spesies.
       3.    Perlindungan ekosistem.

      A. Perlindungan Genetik
            Penetapan jenis target bagi perlindungan genetik ditetapkan oleh pemerintah
            cq menteri teknis dengan memperhatikan rekomendasi dari lembaga “otoritas
            keilmuan”. Ruang lingkup perlindungan sumberdaya genetik: Sumberdaya
            genetik hutan dan yang beasal dari spesies-spesies liar, termasuk jasad renik
            (micro organism).

            a.    Kategorisasi jenis target:
                   (1) Jenis yang terancam punah sehingga unsur-unsur genetiknya perlu
                       dilindungi untuk kepentingan pemulihan populasi spesies itu sendiri
                       maupun untuk kepentingan lainnya, seperti budidaya;
                   (2) Jenis yang secara langsung mempunyai nilai komersial sehingga
                       keragaman genetiknya perlu dijaga agar tidak mengalami
                       penurunan karena masalah-masalah seperti kepunahan lokal;
                                                                         32

      (3) Jenis untuk mendukung budidaya pertanian (peternakan, tanaman
          pangan dan hortikultura) harus dilakukan perlindungan genetik
          untuk menjaga keanekaragamannya sehingga peluang-peluang
          untuk menciptakan varitas unggul tetap tinggi.

b.   Kriteria jenis target:
      (1) Terancam punah
          a. Jenis yang populasi di alamnya telah terancam punah dan
              dilindungi mutlak (KATEGORI I).
          b. Jenis-jenis yang endemik.
      (2) Mempunyai nilai komersial
          a. Jenis yang secara langsung dieksploitasi dan/atau jenis yang
             unsur-unsur genetiknya dimanfaatkan secara tradisional
             (asosiated traditional knowledge).
          b. Jenis yang unsur-unsur genetiknya merupakan public domain
             (publicly accessible).
      (3) Mendukung budidaya
          a. Jenis yang saat ini diketahui digunakan untuk meningkatkan
             keunggulan mutu genetik tanaman pertanian pangan dan
             hortikultura atau hewan domestik dan budidaya
          b. Memiliki nilai strategis bagi kelangsungan hidup manusia,
             termasuk untuk pengembangan obat-obatan dan mendukung
             ketahanan pangan (virus flu burung, human patogen, genetik
             yang penting dibawah konvensi internasional)

c.   Tata cara penetapan: diatur lebih lanjut dalam PP.

d.   Norma dan larangan:
      (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan
          kerusakan dan/atau hilangnya sumber daya genetik. Setiap orang
          dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan kemerosotan,
          kerusakan dan/atau hilangnya genetik yang hampir punah dan
          endemik.
      (2) Setiap orang dilarang mengambil sumberdaya genetik tanpa ijin,
          dan melakukan akses terhadap sumberdaya genetik dengan tidak
          memenuhi syarat-syarat PIC (prior informed consent) dan MAT
          (mutual agreed terms).
      (3) Setiap orang dilarang membawa sumberdaya genetik keluar negeri
          tanpa adanya MTA (material transfer agreement).
      (4) Setiap orang dilarang melepaskan varitas hasil rekayasa genetik ke
          habitat alam.
      (5) Setiap orang dilarang mengawin-silangkan satwa KATEGORI I
          yang berlainan jenis (spesies) tanpa ijin Menteri.
                                                                               33

B. Perlindungan Spesies
   Penetapan kategori perlindungan spesies dilakukan oleh pemerintah cq
   menteri teknis dengan memperhatikan rekomendasi dari lembaga “otoritas
   keilmuan”.
   a.   Kategori perlindungan spesies:
         (1) Kategori I yaitu spesies yang harus dilindungi mutlak.
         (2) Kategori II meliputi spsesies yang dikontrol pemanfaatannya.
         (3) Kategori III yang merupakan spesies yang pemanfaatannya wajib
             dipantau.

   b.   Kriteria penetapan kategorisasi spesies:
         (1) Dilindungi mutlak (CITES Appendix I, dan IUCN Endangered dan
             Critically Endangered):
             a. Spesies yang punah dialam liar (masih ada di lingkungan ex
                  situ).
             b. Spesies yang terancam punah di wilayah RI.
             c. Spesies yang endemik.
         (2) Dikontrol (CITES Appendix II, III, IUCN Vulnerable atau IUCN
             Endangered):
             a. Spesies rentan (yang dimanfaatkan melalui perdagangan atau
                 dimanfaatkan secara tradisional, atau akibat bencana alam).
             b. Spesies yang saat ini belum terancam punah di wilayah RI
                 tetapi akan dapat menjadi terancam punah bila tidak dilakukan
                 kontrol pemanfaatan atau perdagangannya.
             c. Spesies kategori I hasil perkembangbiakan satwa atau hasil
                 perbanyakan buatan tumbuhan untuk tujuan komersial.
             d. Spesies yang di negara lain dilindungi (e.g. CITES Appendix
                 III).
         (3) Wajib dipantau
             Spesies yang populasinya masih melimpah tetapi merupakan
             public domain (publicly accesible) dan dimanfaatkan atau
             diperdagangkan.

   c.   Tata cara penetapan: diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

   d.   Norma dan larangan:
         (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan
             kemerosotan, kerusakan dan/atau hilangnya sumberdaya spesies.
         (2) Terhadap tumbuhan yang dilindungi mutlak (KATEGORI I:
             spesimen hidup maupun mati, bagian-bagiannya atau turunannya),
             setiap orang dilarang untuk:
              a. Mengambil, menebang, memindahkan, merusak, atau
                  memusnahkan tumbuhan yang berasal dari tanah negara.
              b. Mengangkut atau membawa.
              c. Menjual, membeli, atau memperdagangkan.
                                                                   34

    d. Menghadiahkan atau menerima hadiah, menukar atau
       menerima tukaran, atau menerima titipan.
    e. Mengeluarkan spesimen tumbuhan ke luar negeri (ekspor)
       dan/atau memasukkan spesimen tumbuhan dari luar negeri
       (impor) ke wilayah Republik Indonesia.
(3) Terhadap satwa yang dilindungi mutlak (KATEGORI I: spesimen
    hidup maupun mati, bagian-bagiannya atau turunannya), setiap
    orang dilarang untuk:
     a. Mengambil, menangkap, melukai, membunuh, memiliki,
        menguasai, memelihara, memasang jerat, memburu, atau
        memusnahkan satwa.
     b. Mengangkut, membawa, atau memindahkan.
     c. Menjual, membeli, atau memperdagangkan.
     d. Menghadiahkan atau menerima hadiah, menukar atau
        menerima tukaran, atau menerima titipan.
     e. Mengeluarkan spesimen satwa ke luar negeri (ekspor)
        dan/atau memasukkan spesimen satwa dari luar negeri (impor)
        ke wilayah Republik Indonesia.
     f. Melakukan tindakan yang dapat merusak sebagian atau
        seluruh habitat termasuk mengganggu pola makan, pola
        berkembang biak, serta pola jelajah.

(4) Terhadap tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi terbatas
    (KATEGORI II) yang pemanfaatannya dikendalikan secara ketat
    setiap orang dilarang melakukan aktivitas sebagaimana butir (2)
    tanpa izin terhadap tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi
    terbatas (KATEGORI II) yang pemanfaatannya dikendalikan secara
    ketat. Setiap orang tanpa izin dilarang untuk:
     a. Mengambil, menebang, memiliki, menguasai, menerima titipan,
         memusnahkan, memelihara, mengangkut, menjual atau
         membeli, memperdagangkan, menghadiahkan atau menerima
         hadiah, dan/atau menukar atau menerima tukaran spesimen
         hidup tumbuhan.
     b. Menangkap, mengambil, melukai, membunuh, memiliki,
         menguasai, memelihara, mengangkut, menjual, membeli,
         memperdagangkan, menghadiahkan, menerima hadiah,
         dan/atau menukar atau menerima tukaran spesimen hidup
         satwa liar.
     c. Mengeluarkan dari wilayah Indonesia ke luar negeri (ekspor)
         atau memasukkan dari luar negeri ke wilayah Indonesia (impor)
         spesimen tumbuhan dan/atau satwa liar.
     d. Menyimpan, memiliki, menguasai, mengangkut, menjual,
         membeli, memperdagangkan, menghadiahkan, menerima
         hadiah, dan/atau menukar atau menerima tukaran spesimen
         mati tumbuhan dan/atau satwa liar.
                                                                         35

       (5) Terhadap tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi terbatas yang
           pemanfaatannya dipantau (KATEGORI III), setiap orang tanpa izin
           dilarang untuk memperdagangkan atau mengeluarkan spesimen
           tumbuhan dan/atau satwa liar ke luar negeri (ekspor) dan
           memasukkan ke dalam wilayah Indonesia (impor).
       (6) Terhadap spesimen tumbuhan dan satwa liar yang telah dan
           sedang dimanfaatkan sebelum ditetapkannya spesies itu didalam
           status perlindungan perlu diatur mekanismenya dalam aturan
           peralihan (spesimen pra perlindungan).

      Pengecualian dari larangan KATEGORI I tersebut di atas hanya dapat
      dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, penyelamatan
      jenis populasi atau individu suatu jenis tumbuhan dan satwa liar,
      peminjaman dalam rangka penyelamatan atau pemulihan populasi satwa
      liar di dalam atau ke luar negeri, pemusnahan untuk menghindari bahaya
      yang lebih besar terhadap lingkungan maupun manusia, dan/atau
      pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri yang aslinya
      berasal dari Indonesia untuk kepentingan reintroduksi.
      Pengecualian dari larangan menangkap, melukai dan membunuh satwa
      liar KATEGORI I dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu
      sebab satwa liar KATEGORI I tersebut membahayakan kehidupan
      manusia dan kehidupan populasi satwa liar, atau bagi satwa liar yang
      dikelola sebagai satwa buru untuk kepentingan olahraga berburu.
      Pengecualian dari larangan spesies KATEGORI I di atas dapat dilakukan
      bagi    spesimen     yang    telah   dibuktikan   merupakan      hasil
      pengembangbiakan satwa liar dan/atau spesimen hasil perbanyakan
      tumbuhan di dalam kondisi atau lingkungan yang terkontrol, yang dalam
      hal ini secara otomatis masuk ke dalam spesimen dari spesies
      KATEGORI II.
      Kekecualian sebagaimana dimaksud di atas tidak berlaku bagi beberapa
      jenis yang prestisius untuk dikomersialkan keluar negeri kecuali hanya
      dengan peminjaman atau dengan izin presiden.
      Pengecualian dari larangan memiliki, memelihara dan menguasai dapat
      dilakukan bagi spesimen yang dapat dibuktikan diperoleh secara sah
      sebelum jenis bersangkutan dinyatakan sebagai jenis KATEGORI I (yang
      dilindungi mutlak).

C. Perlindungan Ekosistem
   Perlindungan ekosistem dilakukan melalui penetapan keterwakilan-
   keterwakilan ekosistem di dalam jaringan kawasan konservasi yang
   ditetapkan oleh Pemerintah cq. Menteri teknis dengan memperhatikan
   rekomendasi dari Pemerintah Daerah dan usulan masyarakat atau lembaga
   ilmiah, termasuk perguruan tinggi melalui proses konsultasi publik.
   Masyarakat dapat mengusulkan suatu wilayah tertentu untuk ditetapkan
   sebagai ekosistem yang dilindungi.
                                                                         36

Pemerintah atau Pemerintah Daerah memberikan pengakuan terhadap
sistem perlindungan ekosistem yang dilakukan oleh masyarakat adat.
a.   Kategori kawasan perlindungan ekosistem:
      (1) Kawasan konservasi meliputi kawasan konservasi yang dilindungi
          secara maksimal. Kawasan ini meliputi dan sesuai dengan kriteria
          penetapan KPA dan KSA yang saat ini ada, yaitu kawasan
          konservasi dengan kategori I, II, III dan IV IUCN.
      (2) Kawasan ekosistem esensial. Kawasan ini meliputi ekosistem-
          ekosistem yang mempunyai nilai konservasi tinggi, namun masih
          belum “clear and clean” sehingga belum dapat ditetapkan menjadi
          kawasan konservasi. Kawasan ini diantaranya adalah: koridor
          satwa, buffer zones, Kawasan dengan nilai konservasi tinggi
          (HCVA), ekosistem gambut, sebagian lahan basah, karst, dll.
      (3) Kawasan yang dilindungi secara nasional/ daerah. Kawasan ini
          meliputi hutan lindung, hutan produksi yang dikelola untuk
          kepentingan konservasi (e.g. restorasi ekosistem hutan produksi),
          sempadan sungai/laut, mata air, danau, dll.
      (4) Kawasan perlindungan ekosistem oleh masyarakat (community
          conserved areas/ CCA).
b.   Kategorisasi kawasan konservasi dan kriterianya:
      (1) Kawasan konservasi dengan kategori I (Suaka Alam), kategori II
          (Taman Nasional), kategori III (Suaka Margasatwa dan Taman
          Buru), kategori IV (Taman Wisata Alam/bentang alam yang
          dilindungi); sesuai kriteria I-IV IUCN.
      (2) Kawasan ekosistem esensial yaitu kawasan-kawasan dengan nilai
          konservasi keanekaragaman hayati yang tinggi namun masih ada
          kegiatan produksi secara terbatas, terutama oleh masyarakat lokal;
          kawasan konservasi dengan kategori V dan VI IUCN.
      (3) Kawasan yang dilindungi secara nasional/daerah (sesuai kriteria
          penetapan hutan lindung, hutan produksi yang berfungsi juga untuk
          konservasi seperti restorasi hutan produksi dan kawasan lindung
          lainnya).
      (4) Kawasan perlindungan oleh masyarakat (wilayah kelola konservasi
          masyarakat adat/lokal).

c.   Tata cara penetapan:
      Kategorisasi kawasan konservasi dan perlindungan ekosistem
      dilakukan sesuai dengan tujuan pengelolaannya. Perubahan dari satu
      kategori ke kategori lainnya dapat dilakukan apabila kriteria tujuan
      pengelolaannya sudah tidak dapat dipenuhi (downgraded) atau apabila
      persyaratannya dipenuhi (upgraded).            Tata cara penetapan
      perlindungan ekosistem diatur lebih lanjut dalam PP.
                                                                        37

d.   Norma dan larangan:
      (1) Di dalam Kawasan Konservasi KATEGORI I (Cagar Alam) dan
          KATEGORI III (Suaka Margasatwa dan Taman Buru), setiap orang
          dilarang:
           a. Mengambil atau memindahkan benda apapun baik hidup
               maupun mati yang secara alami berada di dalam kawasan.
           b. Menangkap, membunuh, melukai, mencederai, menganggu
               satwa liar dengan cara dan alat apapun, dan/atau merusak
               sarang-sarang satwa liar, dengan atau tidak membawanya ke
               luar kawasan.
           c. Menebang pohon atau tumbuhan, dengan atau tidak
               membawanya ke luar kawasan.
           d. Memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan/atau satwa liar yang
               bukan merupakan jenis yang secara alami hidup atau pernah
               hidup di dalam kawasan.
           e. Mengubah bentang alam, bentuk lahan atau kontur lahan yang
               dapat berakibat kerusakan dan/atau hilangnya fungsi
               ekosistem.
           f. Melakukan kegiatan baik di luar maupun di dalam kawasan
               yang menimbulkan pencemaran di dalam kawasan.
           g. Melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan atau
               perubahan pada unsur-unsur non-hayati.
           h. Menduduki, mengerjakan, menguasai, menjual, atau membeli
               lahan kawasan.
           i. Memindahkan, merusak, atau menghilangkan tanda batas
               kawasan.
      (2) Di dalam Kawasan Konservasi KATEGORI I dan KATEGORI III,
          setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat dianggap
          dan/atau patut diduga sebagai tindakan permulaan melakukan
          kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 di atas, diantaranya:
           a. Memasuki kawasan tanpa izin yang sah.
           b. Membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil,
               menangkap, berburu, menebang, merusak, memusnahkan
               atau mengangkut tumbuhan, satwa liar dan/atau benda-benda
               lainnya dari dan/atau ke dalam kawasan.
      (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 tidak
          termasuk:
           a. Kegiatan pembinaan habitat, pembinaan populasi, dan
              penyelamatan populasi satwa liar di dalam suaka margasatwa.
           b. Pengambilan spesimen untuk kepentingan penelitian dan
              pengembangan budidaya.
           c. Kegiatan dalam rangka penyediaan sarana pengelolaan
              kawasan.
                                                               38

(4) Kekecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1
    dan 2 dapat dilakukan bagi masyarakat hukum adat, masyarakat
    lokal yang secara nyata kehidupannya bergantung hanya pada
    sumberdaya alam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengambilan spesimen
    sebagaimana dimaksud dalam butir 3 huruf b diatur dengan
    Peraturan Pemerintah.
(6) Di dalam Kawasan Konservasi KATEGORI II (Taman Nasional) dan
    Kategori IV (Taman Wisata Alam), setiap orang dilarang:
    a. Mengambil dan/atau memindahkan benda apapun baik hidup
        maupun mati yang secara alami berada di dalam kawasan.
    b. Menangkap, membunuh, melukai, mencederai, menganggu
        satwa liar dengan cara apapun, dan/atau merusak sarang-
        sarang satwa liar, dengan atau tidak membawanya ke luar
        kawasan.
    c. Menebang pohon atau tumbuhan, dengan atau tidak
        membawanya ke luar kawasan.
    d. Memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan/atau satwa liar yang
        bukan asli.
    e. Mengubah kontur, bentang atau bentuk lahan.
    f. Melakukan kegiatan baik di luar maupun di dalam kawasan
        yang menimbulkan pencemaran di dalam kawasan.
    g. Melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan atau
        perubahan pada unsur-unsur non-hayati.
    h. Menduduki, menguasai, atau merambah lahan kawasan.
    i. Memotong, memindahkan, merusak, atau menghilangkan
        tanda batas kawasan.
(7) Di dalam Kawasan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam,
    setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat dianggap
    dan/atau patut diduga sebagai tindakan permulaan melakukan
    kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir 6, diantaranya:
     a. Memasuki kawasan tanpa izin yang sah.
     b. Membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil,
         menangkap, berburu, menebang, merusak, memusnahkan,
         dan/atau mengangkut tumbuhan, satwa liar, dan/atau benda-
         benda lainnya dari dan/atau ke dalam kawasan.
(8) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir 6 dan 7 tidak
    termasuk:
     a. Kegiatan pembinaan habitat, pembinaan populasi, dan
        penyelamatan populasi di zona-zona selain zona inti Taman
        Nasional.
     b. Pengambilan spesimen untuk kepentingan penelitian dan
        pengembangan budidaya.
                                                                                        39

                    c. Kegiatan dalam rangka penyediaan sarana pengelolaan
                       kawasan.
               (9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengambilan spesimen
                   sebagaimana dimaksud dalam butir 7 huruf b diatur dengan
                   Peraturan Pemerintah.


III.   PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

       Pengawetan keanekaragaman hayati dilaksanakan melalui pengelolaan genetik,
       jenis dan ekosistem sesuai dengan kategorisasi perlindungannya.

       A. Pengawetan Genetik
          Ruang lingkup pengawetan genetik adalah bagi jenis-jenis liar dengan
          kategorisasi sesuai dengan jenis target. Pengawetan genetik dilaksanakan
          melalui pengelolaan genetik bagi spesies-spesies target yaitu spesies
          terancam punah, spesies yang bernilai komersial, dan spesies untuk
          mendukung budidaya, sebagai berikut:
            1. Bagi spesies-spesies target wajib          dilakukan    inventarisasi   dan
               pengembangan basis data genetiknya.
            2. Pengelolaan genetik bagi spesies terancam punah dilaksanakan secara
               insitu dan eksitu untuk tujuan mengembalikan keanekaragaman genetik
               di tingkat spesies untuk kepentingan pemulihan populasi maupun untuk
               pemanfaatan.
            3. Pengelolaan genetik bagi spesies yang bernilai komersial dilakukan
               secara insitu maupun eksitu untuk tujuan menjaga keanekaragaman dan
               kemurnian genetik bagi spesies-spesies yang diperdagangkan.
            4. Pengelolaan genetik bagi spesies untuk mendukung budidaya dilakukan
               secara insitu maupun eksitu dengan tujuan untuk meningkatkan mutu
               genetik spesies-spesies budidaya dan menciptakan varitas atau baru
               yang unggul dari segi budidaya.
            5. Pengaturan dan kontrol bagi spesies-spesies yang mengalami perlakuan
               rekayasa genetik atau pemuliaan agar tidak dikembalikan ke habitat
               alam.
            6. Pengaturan dibedakan antara pengembangbiakan atau perbanyakan
               buatan dengan tetap mempertahankan kemurnian genetik spesies liar
               dengan kegiatan budidaya yang di dalamnya ada rekayasa genetik
               karena untuk menciptakan varitas atau kultivar baru sehingga kemurnian
               genetik bukan menjadi tujuan.

       B. Pengawetan Spesies
          Pengawetan spesies dilakukan melalui kegiatan pengelolaan sesuai dengan
          kategorisasi perlindungan spesies yaitu kategori I, kategori II dan kategori III.
                                                                            40

   Pengawetan spesies kategori I:
    1. Spesies kategori I dilarang untuk ditangkap, diburu, dipelihara,
       diperdagangkan. Kekecualian hanya dari hasil pengembangbiakan
       dan/atau perbanyakan tumbuhan buatan.
    2. Spesies kategori I dikelola secara insitu maupun eksitu. Pengelolaan
       insitu ditujukan untuk memulihkan populasi spesies di habitat alamnya.
       Pengelolaan eksitu ditujukan untuk mendukung pemulihan populasi insitu
       di habitat alamnya.
    3. Pelanggaran dan kejahatan terhadap ketentuan ini dihukum penjara dan
       didenda.

   Pengawetan spesies kategori II:
    1. Spesies kategori II dikelola untuk mendukung pemanfaatan yang
       berkelanjutan sehingga pemanfaatan spesies kategori II diatur melalui
       pembatasan-pembatasan baik insitu maupun eksitu.
    2. Pelanggaran dan kejahatan terhadap pengaturan pembatasan-
       pembatasan tersebut dihukum penjara dan didenda.
    3. Pengelolaan spesies kategori II dilakukan untuk menetapkan tingkat
       pemanfaatan yang tidak merusak populasi di alam.
    4. Pengelolaan spesies kategori II dilakukan secara insitu untuk
       meningkatkan populasi dan mengendalikan pemanfaatan langsung dari
       habitat alam.
    5. Pengelolaan spesies kategori II eksitu dilakukan untuk menurunkan
       tekanan bagi populasi di alam akibat pemanfaatan.
    6. Pelanggaran terhadap ketentuan spesies kategori II dihukum pidana dan
       denda.

   Pengawetan spesies kategori III:
    1. Spesies kategori III dikelola dengan pemantauan populasi di habitat alam
       dan pemantauan serta pengaturan terhadap pemanfaatannya.
    2. Pelanggaran terhadap pengaturan pemanfaatan spesies kategori III
       dihukum denda.

C. Pengawetan Ekosistem
   1.   Pengawetan ekosistem bertujuan untuk melindungi dan mengelola
        keterwakilan ekosistem baik di darat maupun di perairan di dalam
        jaringan kawasan-kawasan konservasi;
   2.   Pengawetan ekosistem dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan
        setiap kategori kawasan konservasi secara efektif;
   3.   Keefektifan pengelolaan kawasan konservasi diukur melalui perubahan-
        perubahan 6 unsur pengelolaan kawasan konservasi secara efektif
        (pedoman IUCN), yaitu: Konteks (kondisi keanekaragaman hayati,
        tekanan dan ancaman, sistem legislasi); Perencanaan (kondisi yang
        diinginkan); Input (sumberdaya yang dialokasikan untuk mencapai tujuan
        di dalam perencanaan); Proses (pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
                                                                                   41

               rencana dan input yang ada); Output (hal-hal yang dicapai dalam
               pelaksanaan); dan Outcome (dampak yang terjadi).
          4.   Pelanggaran dan kejahatan terhadap aturan-aturan yang ada (dalam
               sistem legislasi) dihukum penjara dan didenda.


IV.   PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

      Pemanfaatan keanekaragaman hayati tidak melebihi daya dukungnya.
      Pemanfaatan dilakukan melalui perijinan dan pengembangan sistem kontrol
      pemanfaatan kecuali untuk spesies yang masuk kategori dipantau. Ijin diterbitkan
      oleh menteri teknis dan/atau pejabat kepala daerah; khusus untuk pemanfaatan
      genetik dan spesies serta bagian-bagiannya diberikan dengan memperhatikan
      rekomendasi “otoritas keilmuan”.
      A. Pemanfaatan Genetik
          Pemanfaatan sumberdaya genetik dilakukan dengan memperhatikan hak
          kepemilikan atas sumberdaya genetik, akses terhadap sumberdaya genetik,
          hak kepemilikan intelektual atas hasil rekayasa genetik, keamanan hayati
          atas hasil rekayasa genetik, kaidah-kaidah etika dan agama dalam rekayasa
          genetik.
          Pemanfaatan sumberdaya genetik digunakan untuk tujuan penelitian dan
          pengembangan, mendukung budidaya, koleksi tukar menukar, bioprospeksi,
          pelestarian dan tujuan lain (pertanian, farmasi/obat-obatan).
          Pemanfaatan sumberdaya genetik harus memperhatikan ijin akses dan
          pembagian keuntungan yang adil (access to genetic resources and equitable
          benefit sharing).
          Pemanfaatan sumberdaya genetik sebagaimana yang dimaksud di atas
          harus didahului dengan FPIC/PADIATAPA (free and prior informed
          consent/persetujuan yang harus diinformasikan di awal) dan MAT (Mutual
          Agreed Terms).
          Pemanfaatan sumberdaya genetik yang menghasilkan produk yang
          dipatenkan: penemuan-penemuan berbasis sumberdaya genetik dapat
          diajukan untuk mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual.
          Pengajuan paten harus mengajukan asal usul sumberdaya genetik.
          Tata cara permohonan ijin pemanfaatan sumberdaya genetik diatur lebih
          lanjut dalam peraturan perundangan-undangan.

      B. Pemanfaatan Spesies
          Pemanfaatan sumberdaya spesies digunakan untuk tujuan pengkajian,
          penelitian dan pengembangan, perdagangan, perburuan terkendali,
          peragaan (lembaga konservasi), tukar-menukar, pemeliharaan untuk
          kesenangan, budidaya dan keperluan tradisional.
          Pemanfaatan spesimen untuk sumberdaya spesies kategori I ditujukan untuk
          penelitian, peragaan, mendukung budidaya dan sumber benih serta untuk
                                                                           42

   kepentingan religi. Pemanfaatan dapat bersumber dari populasi yang berada
   di habitat alam maupun dari hasil pengelolaan eksitu, seperti
   pengembangbiakan (captive breeding) dan artificial propagation (tumbuhan).
   Pemanfaatan spesimen untuk sumberdaya spesies kategori II dan kategori III
   ditujukan untuk penelitian, pengembangan, pengkajian, peragaan,
   mendukung budidaya, perburuan, tukar menukar, kesenangan, keperluan
   tradisional.
   Pemanfaatan untuk sumberdaya spesies kategori II dapat bersumber dari
   pengelolaan eksitu, termasuk pembesaran, pengelolaan populasi di habitat
   alam.
   Pemanfaatan spesimen dari spesies kategori III dapat bersumber dari alam
   liar.
   Pemanfaatan spesimen dari spesies kategori I dilaksanakan melalui perijinan
   oleh menteri teknis atas rekomendasi “otoritas keilmuan”.
   Pemanfaatan spesimen dari spesies kategori II dan III dilaksanakan melalui
   perijinan oleh menteri teknis.
   Pemanfaatan atas sumberdaya alam hayati dikenakan iuran dan pungutan.
   Selain iuran dan pungutan, pemanfaatan atas sumberdaya alam hayati
   tertentu dikenakan pungutan dari breeding loan (terutama untuk spesies
   kategori I) dan dana konservasi.
   Tata cara pengenaan pungutan dari breeding loan dan dana konservasi serta
   tata cara permohonan ijin pemanfaatan sumberdaya spesies diatur lebih
   lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

C. Pemanfaatan Ekosistem
   Pemanfaatan ekosistem digunakan untuk tujuan pengkajian, penelitian dan
   pengembangan, perburuan terkendali, pemanfaatan jasa wisata alam, air,
   karbon, geothermal dan jasa lingkungan lainnya, penunjang budidaya,
   budidaya tradisional, perlindungan terhadap hak-hak masyarakat hukum
   adat.
   Penggunaan kawasan konservasi untuk kepentingan yang tidak sesuai
   dengan tujuan pengelolaan kawasan konservasi seperti sarana
   telekomunikasi komersial, jalur listrik tegangan tinggi, dll hanya dapat
   dilakukan secara terbatas melalui keputusan menteri, setelah mendapatkan
   rekomendasi dari otoritas ilmiah.
   Tata cara permohonan ijin pemanfaatan ekosistem diatur lebih lanjut dalam
   Peraturan Pemerintah.
                                                                                 43

V.   PEMULIHAN EKOSISTEM DAN POPULASI SPESIES

     Terhadap ekosistem yang mengalami degradasi maupun spesies yang terancam
     bahaya kepunahan, maka perlu dilakukan pemulihan. Pemulihan dilakukan baik
     melalui rehabilitasi maupun restorasi.

     A.   Rehabilitasi

     B.   Restorasi

          1.   Restorasi Spesies
               Restorasi spesies ditujukan untuk memulihkan populasi (recovery)
               spesies-spesies terancam punah agar kembali pada tingkat populasi
               yang lestari dalam jangka panjang (viable), aman dari bahaya
               kepunahan.

               Restorasi spesies dilakukan melalui usaha-usaha seperti:
                 a. Reintroduksi spesimen dari spesies-spesies terancam punah baik
                    yang bersumber dari spesimen hasil tangkapan di alam (wild
                    caught) dan telah dipelihara manusia setelah melalui upaya
                    rehabilitasi, maupun dari hasil pengembangbiakan yang
                    dikembalikan ke habitat alam.
                 b. Penyelamatan populasi atau individu melalui relokasi individu
                    maupun populasi yang tidak viable, terisolasi untuk digabungkan
                    dengan populasi lain di habitat yang aman sehingga populasinya
                    dapat berkembang secara alami
                 c. Restorasi habitat dengan perbaikan sumber pakan dan tempat-
                    tempat kritis bagi perkembangbiakan, seperti: daerah sarang,
                    daerah perlindungan, daerah breeding dan daerah feeding.
               Restorasi spesies dilaksanakan dengan:
                 a. Restorasi spesies dilaksanakan oleh Pemerintah dan dapat
                    bekerja sama dengan masyarakat.
                 b. Restorasi spesies dilaksanakan di habitat alaminya baik di dalam
                    kawasan konservasi maupun di luar kawasan konservasi.
                 c. Restorasi spesies wajib dilaksanakan dengan berpedoman pada
                    kaidah-kaidah ilmiah dan kesehatan hewan untuk menghindari
                    penurunan mutu dan keanekaragaman genetik serta penularan
                    penyakit dari hewan yang dikembalikan ke alam kepada hewan
                    penghuni.
                 d. Pemerintah menetapkan peraturan perundangan tentang tata cara
                    pelaksanaan restorasi spesies.

          2.   Restorasi Ekosistem
               Restorasi ekosistem dilakukan guna memperbaiki kawasan
               perlindungan ekosistem yang mengalami degradasi atau rusak untuk
               dikembalikan seperti aslinya sehingga dapat dimanfaatkan kembali
               sesuai dengan fungsi kawasan dan daya dukungnya.
                                                                                   44

               Restorasi ekosistem dilakukan melalui:
                 a. Menjaga, memelihara, mengembangbiakan, pengkayaan spesies
                    yang secara alami telah atau pernah ada, baik tumbuhan maupun
                    hewan (termasuk hewan pakan bagi satwa predator), yang
                    bersumber dari alam maupun hasil pengembangbiakan eksitu.
                 b. Memanfaatkan secara lestari jasa ekosistem dan hasil lainnya
                    sesuai dengan fungsi kawasan dan daya dukungnya.
                 c. Kawasan Cagar Alam (kawasan perlindungan ekosistem
                    KATEGORI I) yang mengalami degradasi luar biasa sehingga
                    tidak memenuhi syarat ditetapkan sebagai Cagar Alam tidak
                    dapat dilakukan kegiatan restorasi, tetapi dievaluasi dan
                    ditetapkan menjadi kawasan dengan kategori di luar kategori 1
                    sesuai dengan hasil penelitian oleh tim terpadu.
                 d. Pemerintah    menetapkan       pedoman      restorasi   ekosistem
                    berdasarkan kajian ilmiah, termasuk kriteria status degradasi luar
                    biasa pada kawasan perlindungan ekosistem KATEGORI I.


VI.   KELEMBAGAAN

      Konservasi keanekaragaman hayati menjadi tanggung jawab seluruh Warga
      Negara Indonesia, dan diselenggarakan oleh Pemerintah dan Pemerintah
      Daerah.

      A. Penyelenggaraan Urusan Konservasi
          1.   Penyelenggaraan konservasi kehati di kawasan hutan negara, baik
               terestrial maupun perairan, dilaksanakan oleh Pemerintah.
          2.   Konservasi spesies dan genetik di luar kawasan hutan negara
               diselenggarakan oleh Pemerintah bersama Pemerintah Daerah sesuai
               dengan prinsip konkurensi.
          3.   Pemerintah atau Pemerintah Daerah, bersama para pihak dan
               masyarakat setempat menetapkan zonasi, koridor spesies, dalam
               penyelenggaraan konservasi ekosistem dan penyelenggaraan
               pembinaan habitat/perlindungan spesies di luar kawasan konservasi.
          4.   Penyelenggaraan konservasi ekosistem di luar hutan negara, baik
               terestrial maupun perairan, termasuk daerah penyangga kawasan
               konservasi dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah propinsi dan/atau
               kabupaten/kota.
          5.   Pemerintah atau Pemerintah Daerah dapat membentuk lembaga
               khusus yang menyelenggarakan urusan konservasi kehati.
          6.   Konservasi kehati dalam wilayah hak milik dilakukan oleh pemegang
               hak, dalam hal ini Pemerintah/Pemerintah Daerah dapat memberikan
               fasilitasi.
                                                                           45

    7.   Pemerintah dapat melimpahkan penyelenggaraan konservasi kehati
         kepada pemerintah propinsi, atau kepada pemerintah kabupaten/kota
         atau pemerintah desa.
    8.   Pemerintah propinsi dapat melimpahkan penyelenggaraan konservasi
         ekosistem di luar hutan negara kepada pemerintah kabupaten/kota atau
         pemerintah desa.
    9.   Pemerintah kabupaten/kota dapat melimpahkan penyelenggaraan
         konservasi ekosistem di luar hutan negara kepada pemerintah desa.
    10. Pemerintah atau Pemerintah Daerah mengakui keberadaan lembaga
        yang menyelenggarakan pengelolaan kawasan konservasi masyarakat
        (Community Conserved Areas/CCA)
    11. Pemerintah mengatur tata        cara   pelimpahan    dan   pengakuan
        penyelenggaraan konservasi.

B. Kerjasama Pengelolaan Konservasi.
    1.   Pemerintah melaksanakan kerjasama internasional sesuai dengan
         prinsip politik bebas aktif dengan negara, orang/kelompok, organisasi
         internasional, lembaga/organisasi non-pemerintah asing, perusahaan
         asing, dalam rangka penyelenggaraan konservasi kehati.
    2.   Kerjasama internasional meliputi kerjasama teknik, maupun kerjasama
         pengelolaan.
    3.   Pemerintah membentuk lembaga multipihak dalam rangka kerjasama
         internasional.
    4.   Pemerintah/Pemerintah Daerah sebagai pengelola kawasan sesuai
         dengan tujuan pengelolaan kawasani, dapat melakukan kerjasama
         pengelolaan dengan:
          a. Organisasi non pemerintah (internasional, lokal)
          b. Masyarakat
          c. Sektor swasta (BUMS, BUMN, BUMD)
          d. Perorangan
    5.   Kerjasama pengelolaan dapat meliputi kerjasama pengelolaan seluruh
         wilayah atau sebagian wilayah kawasan konservasi.
    6.   Kerjasama pengelolaan dilaksanakan dengan prinsip pembagian
         kewenangan, peran, tanggung jawab dan manfaat/keuntungan.
    7.   Kerjasama pengelolaan dilaksanakan dengan tujuan peningkatan
         kapasitas masyarakat dan/atau efektifitas pengelolaan kawasan.

C. Pemulihan Ekosistem
    1.   Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah melakukan rehabilitasi
         kawasan konservasi yang mengalami degradasi.
    2.   Pemerintah, Pemerintah Daerah serta BUMS/BUMN/BUMD melakukan
         kegiatan restorasi ekosistem dan/atau spesies di dalam kawasan
         konservasi maupun kawasan hutan.
                                                                              46

    3.   Restorasi oleh pihak selain Pemerintah atau Pemerintah Daerah
         dilakukan melalui pemberian ijin.
    4.   Restorasi ekosistem wajib dilaksanakan berpedoman pada kaidah-
         kaidah ilmiah guna menghindari penurunan mutu dan keanekaragaman
         ekosistem.
    5.   Pemerintah dapat memberikan hak pengelolaan pada sebagian atau
         satu kesatuan unit kawasan konservasi yang terdegradasi dan/atau
         daerah terpencil/aksesibilitas rendah dimana kapasitas pemerintah
         belum mampu menjangkaunya.
    6.   Pemerintah menetapkan peraturan perundangan tentang tata cara
         pelaksanaan restorasi ekosistem.

D. Penegakan Hukum
    1.   Untuk melaksanakan/ keberhasilan penegakan hukum wilayah Negara
         RI dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan
         tugas dan wewenangnya, dengan mempehatikan luas wilayah, jumlah
         penduduk, potensi sumber daya alam hayati, dan kemampuan Polisi
         Khusus/PPNS.
    2.   Organisasi Polisi Kehutanan (POLHUT) disusun berjenjang dan
         komando, hal ini untuk menghindarkan intervensi kepentingan dalam
         rangka pengamanan kekayaan negara.
    3.   Wilayah hukum penyelidik dan penyidik, ditentukan secara fleksibel,
         karena kejahatan kehutanan sangat dinamis dan terkadang melibatkan
         jaringan internasional.
    4.   Wilayah hukum penyelidik dan penyidik konservasi adalah seluruh
         wilayah Negara Republik Indonesia.
    5.   Mengingat sifatnya yang spesifik dan tindak pidana merupakan
         kejahatan yang transnasional, maka dimungkinkan wilayah hukum
         penyelidik dan penyidik tindak pidana konservasi meliputi wilayah
         kepabeanan.
    6.   Guna menyelesaikan konflik akibat “keterlanjuran pemanfaatan ruang
         untuk kepentingan non konservasi” dimana pemanfaatan tersebut telah
         ada sebelum kawasan konservasi ditetapkan, maka pemerintah
         membentuk lembaga khusus penanganan konflik.            Lembaga adhoc
         khusus dapat terdiri dari unsur-unsur lintas sektor dan dibentuk melalui
         Keputusan Presiden.
         Yang termasuk kepentingan non-konservasi adalah:
           a. Kepentingan komersial: semua yang menghasilkan keuntungan
              ekonomi (BTS, sutet, pipa gas/minyak, geotermal, tambang
              mineral)
           b. Kepentingan non komersial: sarana ibadah, jalan.
         Penyelesaian keterlanjuran dapat berupa:
           a. Mengembalikan status dan fungsi kawasan konservasi; Kegiatan
              non-konservasi dikeluarkan.
                                                                                47

                b.   Melepas kawasan.
                c.   Menetapkan sebagai zona “khusus”.
                d.   Restorasi fungsi.
                e.   Penetapan wilayah khusus transmigrasi lokal.
    E. Penyelesaian Sengketa
         1.   Penyelesaian sengketa di bidang konservasi kehati didorong untuk
              diselesaikan melalui musyawarah.
         2.   Para pihak yang bersengketa dapat melakukan upaya-upaya pilihan
              penyelesaian sengketa di luar pengadilan.
         3.   Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dapat berupa negosiasi,
              mediasi dan rekonsiliasi.
         4.   Para pihak yang bersengketa dapat melakukan gugatan ke pengadilan
              dengan mekanisme gugatan biasa, gugatan perwakilan (class action),
              gugatan organisasi (legal standing), hak gugat warga negara (citizen
              sue).


VII. PARTISIPASI PENGELOLAAN KEHATI

    Dewasa ini, sejalan dengan rumusan pertemuan IUCN (WCC 2008) di Barcelona,
    dikenal beberapa tipe pengelolaan kawasan berdasarkan tata kelola, hal ini
    mendorong adanya perubahan paradigma penyelenggaraan konservasi ke
    depan, yaitu konservasi tidak hanya diselenggarakan oleh pemerintah tetapi juga
    dapat dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah dengan
    masyarakat, serta pemerintah dengan swasta.
    Memperhatikan perubahan paradigma di atas, ke depan pengaturan mengenai
    partisipasi masyarakat serta kerjasama pengelolaan konservasi harus diatur
    secara lebih tegas, dalam berbagai bentuk partisipasi masyarakat, yaitu:
      1. Partisipasi pasif dalam pengelolaan konservasi yang tanggung jawab utama
          berada di tangan pemerintah ( konservasi berbasiskan pemerintah).
      2. Partisipasi aktif dimana penyelenggaraan konservasi dilakukan secara
          bersama antara pemerintah dan masyarakat (konservasi berbasiskan
          masyarakat, swasta).

    1.   Partisipasi pada konservasi berbasiskan pemerintah
         Konservasi berbasiskan pemerintah yang dimaksudkan pada bagian ini
         adalah konservasi yang tanggung jawab pengelolaannya sepenuhnya
         berada di tangan pemerintah. Konservasi jenis ini adalah satu-satunya
         konservasi yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990. Dalam perjalanannya,
         hubungan pemerintah sebagai penyelenggara konservasi ini dengan
         masyarakat seringkali mengalami ketegangan-ketegangan. Karena itu ke
         depan, diperlukan perubahan pengaturan hubungan pemerintah dengan
         masyarakat, terutama masyarakat adat yang hidup di kawasan konservasi
         tersebut.   Hal-hal yang berkenaan dengan peran pemerintah dalam
                                                                     48

meningkatkan kapasitas masyarakat, serta pengakuan desa            atau
masyarakat dalam kawasan konservasi perlu diatur secara jelas.
Dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasiskan pemerintah,
pemerintah memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat, antara
lain meliputi:
  • Pengakuan
  • Fasilitasi
  • Insentif
  • Kompensasi
  • Rehabilitasi
Pengakuan terhadap hak-hak masyarakat hukum adat diberikan oleh
Pemerintah/Pemerintah Daerah sepanjang kenyataannya masih ada.
Keberadaan masyarakat hukum adat ditentukan melalui wilayah hukum.
Pengakuan terhadap kegiatan dan wilayah konservasi yang dilakukan oleh
masyarakat adat diberikan oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah.
Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat, Pemerintah/
Pemerintah Daerah wajib melakukan fasilitasi pengembangan kegiatan
masyarakat hukum adat serta kegiatan konservasi oleh masyarakat lokal.
Pemerintah wajib memberikan insentif kepada masyarakat yang telah
melaksanakan      konservasi    keanekaragaman    hayati,   memberikan
kompensasi kepada masyarakat yang dirugikan/terkena dampak penetapan
kawasan konservasi ekosistem dan konservasi spesies, melakukan
rehabilitasi terhadap hak-hak masyarakat hukum adat tertentu yang
terlanggar dan/atau tercabut oleh penetapan kawasan konservasi dilakukan
oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah.
Undang-undang konservasi kehati ke depan perlu dilakukan pelimpahan
kewenangan dalam pengaturan konservasi dan pengakuan masyarakat
lokal/adat.
Partisipasi masyarakat dalam membangun konservasi pada kondisi ini
antara lain dapat berupa :
 • Pemberian saran dan mengusulkan perlindungan jenis/genetik
   /ekosistem, kepada Pemerintah melalui Pemerintah Daerah setempat.
 • Berkolaborasi dalam pengelolaan ekosistem/jenis. Kolaborasi meliputi
   pembagian peran, kewenangan tertentu, tanggung jawab serta
   pembagian keuntungan dan manfaat (benefit).
 • Melaksanakan perlindungan dan pengawetan kehati dan melaporkan
   kejadian yang berhubungan dengan kehati (melaporkan kejadian,
   menjaga kelestarian jenis dan genetik, ikut dalam unit pengamanan
   seperti wildlife crime unit/WCU, RPU, dst).
 • Gugatan perwakilan (class action). Masyarakat berhak melakukan
   gugatan perdata melalui gugatan perwakilan.
 • Hak gugat LSM (legal standing). Organisasi non pemerintah/LSM
   dapat melakukan gugatan perdata mewakili kepentingan ekosistem
   /spesies/genetik
                                                                                49


      • Hak gugat warga negara (citizen sue). Warga negara Indonesia dapat
        melakukan gugatan perdata mewakili kepentingan ekosistem/spesies
        /genetik.

2.   Partisipasi aktif konservasi berbasiskan masyarakat
     Konservasi berbasiskan masyarakat dalam konteks pembahasan UU
     konservasi ke depan adalah menyangkut kawasan-kawasan yang secara
     adat ataupun pengelolaan sehari-hari telah dilakukan oleh masyarakat,
     difungsikan sebagai kawasan-kawasan yang dijaga (termasuk Community
     Conserved Areas).
     Berdasarkan kriteria IUCN, setidaknya ada 3 (tiga) indikator yang dapat
     digunakan untuk mengidentifikasi kawasan-kawasan ini yaitu :
      •   Komunitas erat hubungannya dengan ekosistem (atau untuk suatu
          spesies dan habitatnya), budaya dan/atau karena ketergantungan
          untuk kelangsungan hidup dan mata pencaharian;
      •   Keputusan-keputusan manajemen masyarakat dan upayanya
          terhadap ekosistem tersebut mengarah pada konservasi habitat
          ekosistem itu, spesies, ekologis dan terkait erat dengan nilai-nilai adat
          dan budaya mereka.
      •   Masyarakat adalah pemain utama dalam pengambilan keputusan
          (governance) dan implementasi tentang manajemen situs,
          menyiratkan     bahwa     lembaga-lembaga       masyarakat      memiliki
          kemampuan untuk menegakkan peraturan. Dalam banyak situasi
          mungkin ada pemangku kepentingan lain dalam kerjasama atau
          kemitraan, tapi dasar pembuatan keputusan terletak pada masyarakat
          yang peduli terhadap konservasi tersebut.

     Kawasan ini seringkali tidak berada pada kawasan yang ditetapkan
     pemerintah sebagai kawasan konservasi sehingga terancam karena
     kegiatan-kegiatan konversi kehutanan maupun non kehutanan, dan
     kawasan semacam ini banyak ditemui di Indonesia.
     Dalam konteks ini, UU konservasi ke depan mesti mengatur hak-hak
     masyarakat untuk memiliki, mengatur dan mengelola kawasan-kawasan
     konservasi mereka sendiri. Sehingga dalam konteks ini pemerintah harus
     memberikan:
      •   Pengakuan dan perlindungan hukum.
      •   Pemberian    fasilitas   pembiayaan   dan    peningkatan    sumberdaya
          manusia.
      •   Memfasilitasi untuk berkerjasama dengan pihak ketiga.
                                                                            50

VIII. PENGAMANAN DAN PENYIDIKAN

   Pengamanan konservasi keanekaragaman hayati dilaksanakan melalui berbagai
   upaya, meliputi: pencegahan, penindakan (termasuk penyelidikan, penyuluhan),
   serta penyidikan.
   Pengamanan dilakukan untuk menjaga terjaminnya kelestarian sumberdaya alam
   hayati serta keseimbangan ekosistemnya, dan hak-hak negara, masyarakat dan
   perorangan terhadap sumberdaya alam dan dalam upaya-upaya konservasi
   sumberdaya alam hayati dan ekosistemmnya. Petugas yang bertindak sebagai
   ujung tombak pengamanan maka terhadap pejabat tertentu diberi wewenang
   kepolisian khusus (policing) atau khusus sebagai penyidik.

   Polisi Khusus
   Tugas kepolisian khusus yang diemban oleh pejabat pemerintah, antara lain
   pencegahan dan penyelidikan.
   Pencegahan yaitu upaya untuk merintangi/mengikhtiarkan agar seseorang tidak
   melakukan atau melakukan perbuatan yang dilarang ditetapkan oleh undang-
   undang, antara lain meliputi:
     1. Penyuluhan dan sosialisasi peraturan perundang-undangan di bidang
        konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
     2. Melakukan monitoring, patroli/perondaan di dalam areal yang ditetapkan
        sebagai kawasan konservasi atau wilayah hukumnya.
     3. Melakukan pengawasan terhadap kegiatan konservasi dan lain-lain.

   Kewenangan melakukan tindakan penyelidikan yaitu kewenangan untuk
   mencegah tindak pidana atau mencari dan menemukan suatu peristiwa yang
   diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat tidaknya dilakukan
   penyidikan.

   Penyelidikan sebagai suatu keseluruhan upaya untuk membuat terang apakah
   suatu perbuatan merupakan perbuatan pidana sehingga pelaku tindak pidana
   harus mempertanggungjawabkan perbuatannya menurut hukum atau bukan,
   antara lain :
     1. Memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan
        tumbuhan atau satwa wilayah hukumnya.
     2. Menerima, membuat dan menandatangani laporan tentang telah terjadinya
        tindak pidana yang menyangkut konservasi SDAH.
     3. Mencari keterangan dan barang bukti terjadinya tindak pidana yang
        menyangkut konservasi SDAH.
     4. Dalam hal tertangkap tangan, wajib menangkap tersangka untuk diserahkan
        kepada yang berwenang.
     5. Membuat laporan dan menandatangani laporan tentang terjadinya tindak
        pidana yang menyangkut konservasi SDAH.
     6. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian.
     7. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
                                                                                51

       8. Melakukan pengamatan secara tertutup terhadap dugaan adanya tindak
          pidana KSDAH.
       9. Atas perintah PPNS Kehutanan dapat melakukan tindakan berupa:
           a. penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan
              penahanan.
           b. pemeriksaan dan penyitaan surat.
           c. membawa dan menghadapkan seseorang kepada PPNS.
           d. memberi tanda pengamanan dan mengamankan barang bukti.

           e. melakukan pengamatan secara tertutup terhadap dugaan adanya
              tindak pidana kehutanan.
      Kewenangan melakukan tindakan penyelidikan yaitu kewenangan untuk
      mencegah tindak pidana atau mencari dan menemukan suatu peristiwa yang
      diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat tidaknya dilakukan
      penyidikan menurut cara yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara
      Pidana
      Organisasi merupakan alat untuk mencapai tujuan, yang dalam hal ini adalah
      penangaman di bidang konservasi, dimana organisasi pengamanan meliputi
      struktur dan wilayah kerja. Organisasi Polisi Kehutanan (POLHUT) disusun
      berjenjang dan komando, hal ini untuk menghindarkan intervensi kepentingan
      dalam rangka pengamanan kekayaan negara.
      Untuk melaksanakan peran dan fungsinya secara efektif dan efisien, wilayah
      Negara Republik Indonesia dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan
      pelaksanaan tugas dan wewenagnya dengan memperhatikan luas wilayah,
      jumlah penduduk, potensi sumber daya alam hayati, dan kemampuan Polisi
      Khusus.

      Penyidik
      Wilayah hukum Penyelidik dan Penyidik, perlu diperjelas dan diperluas karena
      bentuk kejahatan yg dinamis dan terkadang melibatkan jaringan internasional.
      Wilayah hukum penyelidik dan penyidik konservasi adalah seluruh wilayah
      Negara Republik Indonesia. Mengingat sifatnya yang spesifik dan tindak pidana
      merupakan kejahatan yang transnasional, maka dimungkinkan wilayah hukum
      penyelidik dan penyidik tindak pidana konservasi meliputi wilayah kepabeanan.
      Perlu adanya peluang yang memungkinkan PPNS melakukan gelar perkara di
      hadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU), dengan tembusan kepada Penyidik
      POLRI, dalam rangka koordinasi pengawasan.


IX.   LARANGAN DAN SANKSI

      Tindakan yang secara sah melanggar ketentuan hukum sebagaimana diatur
      dalam Bab III diancam dengan sanksi pidana dan sanksi administrasi.
                                                                           52

Sanksi Pidana
Sanksi pidana berupa hukuman penjara, hukuman denda, pencabutan hak
perdata tertentu dan perampasan barang.
Besarnya sanksi pidana ditetapkan berupa sanksi minimal dan sanksi maksimal
untuk setiap tindak pelanggaran dengan mempertimbangkan :
 a. Kategori jenis/ekosistem, semakin tinggi kategorinya maka ancaman sanksi
     semakin berat, dan/atau;
 b. Dampak yang ditimbulkan terhadap manusia dan kelestarian jenis/spesies.
Ancaman pidana terhadap pelaku tindak pidana dapat diperberat dalam hal:
 1.   Pengurus, direksi, anggota atau pegawai suatu badan hukum yang
      memperoleh ijin yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati.
 2.   Penyelenggara negara, pegawai negeri, yang diberi kewenangan untuk
      melakukan pengamanan.
 3.   Anggota, pengurus organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang
      konservasi keanekaragaman hayati.
 4.   Seseorang yang melakukan tindak pidana dengan menyalahgunakan
      keahliannya.

Ketentuan pidana ini juga menerapkan pertanggungjawaban pidana korporasi
(coorporate liability).

Besarnya sanksi pidana penjara dengan sanksi minimal 6 (enam) bulan sampai
dengan maksimal seumur hidup/hukuman mati.

Sanksi denda diberikan kepada terpidana yang mengakumulasikan terhadap
hukuman penjara. Banyaknya denda paling sedikit Rp. 500.000,00 (lima ratus
juta rupiah) dan paling banyak 50 milyar rupiah.

Sanksi pencabutan hak perdata adalah satu larangan yang diberikan lembaga
peradilan kepada terpidana dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan
konservasi dan kehutanan. Beberapa bentuk pencabutan hak perdata antara
lain:
   a. Larangan kepada perorangan untuk menjabat dalam badan usaha yang
      berhubungan dengan kehutanan.
   b. Larangan kepada badan usaha untuk melakukan aktivitas pada periode
      tertentu (“bank beku operasi”).

Sanksi perampasan barang dikenakan berupa penyitaan barang bukti yang
dipakai dan/atau dihasilkan dalam suatu tindak pidana, baik berupa spesies dan
spesimennya, alat yang dipergunakan maupun barang yang dihasilkan [termasuk
uang/rekening].
Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas
untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-
lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa, kecuali
apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga
dinilai lebih baik dimusnahkan.
                                                                           53

Sanksi Administrasi
Sanksi administrasi dikenakan terhadap pelanggaran yang dilakukan pemegang
ijin terhadap kewajiban administrasi. Pengaturan mengenai sanksi administrasi
diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan.

Pengecualian
Sanksi pidana dan sanksi administrasi tidak berlaku atau dikecualikan terhadap
perbuatan:
 a. Untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan/atau penyelamatan jenis
     tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. Termasuk kegiatan penyelamatan
     spesies dapat berupa pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa
     kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah.
 b. Perbuatan guna melindungi kehidupan manusia yang terancam nyawanya
     oleh satwa yang dilindungi.

Ketentuan tata cara, persyaratan dan lain-lain mengenai pengecualian diatur
dengan Peraturan Perundangan.
                                                                               54

                                     BAB V
                                KESIMPULAN


      Memperhatikan pesatnya perubahan lingkungan strategis, Undang-Undang No.
5 Tahun 1990 sudah tidak mampu menjawab tantangan dan masalah konservasi
terkini, maka dari itu perlu dilakukan percepatan perubahan dengan memperhatikan
perubahan paradigma yang terjadi masa kini dan yang akan datang.
     Beberapa pengaturan harus dibuat baru atau diperkuat, seperti ruang lingkup
konservasi ke depan yang meliputi perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan
secara lestari keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, termasuk dalam hal ini
pengaturan konservasi genetik.
      Mengingat sistim penyangga kehidupan mempunyai materi yang luas dan
menyangkut oleh berbagai sektor serta telah tercantum dalam undang-undang sektor
tersebut, antara lain sektor kehutanan, pertanian, kelautan, perkebunan, kesehatan
dan lingkungan hidup serta perkembangan paradigma konservasi terkini yang fokus
pada konservasi keanekaragaman hayati, maka perlindungan sistem penyangga
kehidupan tidak menjadi bagian dari pengaturan RUU Konservasi Keanekaragaman
Hayati ke depan.
     Tujuan konservasi harus sejalan dengan pembangunan bagi kesejahteraan
masyarakat saat ini maupun masa akan datang. Guna mewujudkan tujuan
penyelenggaraan konservasi tersebut perlu diatur secara tegas pengaturan mengenai:
kelembagaan, partisipasi masyarakat, kerjasama pengelolaan kawasan oleh
masyarakat, kerjasama internasional, serta penguatan bidang penegakan hukum.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:296
posted:3/7/2011
language:Indonesian
pages:58
 teguh99ers teguh99ers
About