Sungai Batanghari by zaidibnu

VIEWS: 7,815 PAGES: 9

More Info
									1
Sungai Batanghari

1 1. Geografis
Secara gografis, Daerah Aliran Sungai Batanghari terletak antara 00 43' sampai 30 46' LS dan 1000 45' sampai 1040 25' BT dengan luas total sekitar 4,9 juta ha. Sekitar 80% dari luasan DAS tersebut termasuk dalam wilayah Provinsi Jambi, sedangkan sisanya sekitar 20% terletak pada wilayah Sumatera Barat. DAS Batanghari khususnya daerah hulu didominasi daerah berbahan induk kuarter vulkanik dan tersier dengan bentang lahan berupa pegunungan dan vulkan, sedangkan daerah tengah dan hilir didominasi oleh bahan induk tersier dan kuarter, berupa daerah dataran yang sudah tertoreh dan daerah aluvial.

Gambar 1.1 Peta Jaringan Sungai Batanghari (Sumber : Kementrian Lingkungan Hidup 2006)

DAS Batanghari yang termasuk dalam wilayah provinsi Jambi terdiri atas 6 sub-DAS yaitu Batanghari Hilir (746.236 ha), Batang Sangir (380.605 ha), Batang Tebo (473.231 ha), Batang Tabir (303.821 ha), Batang Merangin Tembesi (1.335.734 ha), dan Batanghari Hulu (289.776 ha). Dari luasan DAS Batanghari yang terletak di Propinsi Jambi, seluas 343.978,088 ha terletak di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), meliputi wilayah Sub-DAS Batang Merangin, Batang Tebo, dan Batang Tabir.

2
Sebagian besar topografi wilayah DAS Batanghari bervariasi mulai dari topografi datar hingga bergunung. Bentuk datar pada umumnya dijumpai pada wilayah Sub-DAS Batanghari Hilir, sedangkan bentuk berombak dan berbukit umumnya terdapat pada bagian tengah, terutama di wilayah Sub-DAS Batang Sumai dan Sub-DAS Batang Tabir, serta di bagian hilir Sub-DAS Batang Tebo dan bagian hilir Sub-DAS Batanghari Hulu. Daerah hulu DAS umumnya adalah daerah pegunungan, dan vulkan, sedangkan bagian hilirnya merupakan daerah dataran dan rawa. Daerah pegunungan mempunyai kawasan yang lebih luas dalam daerah aliran sungai ini. Tipe tanah yang dijumpai di DAS ini adalah Entisols, Inceptisols, Ultisols, Andosols, dan Histosols yang menyebar di wilayah DAS Batanghari. Andosols umumnya menyebar di wilayah sekitar TNKS, memanjang mengikuti alur Bukit Barisan sampai ke wilayah Sumatera Barat. Ultisols (dahulu lebih dikenal sebagai tanah Podsolik), umumnya menyebar di bagian tengah DAS, meliputi sub-DAS Batang Tabir, Batang Sumai, sebagian kecil wilayah sub-DAS Batang Merangin Tembesi dan Batang Tebo. Penyebaran ordo Entisols hanya terbatas di sepanjang kiri kanan sungai Batanghari. Tanah ini cukup subur karena berasal dari endapan sedimen. Inceptisols tergolong tanah dengan sifat fisik yang cukup baik, tersebar terutama pada Sub-DAS Batanghari Hulu, Merangin Tembesi, dan dalam jumlah sedikit ditemui pada Sub-DAS Batang Tebo. Histosols (lebih dikenal sebagai tanah gambut) dijumpai pada wilayah Sub-DAS Batanghari Hilir, yaitu bentang lahan yang didominasi oleh bentuk wilayah datar. Kedalaman gambut yang dijumpai di daerah ini sangat bervariasi, dari dangkal sampai dalam.

2. Tataguna lahan
Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat TM7, tahun 2005 (Tabel 1.1), tutupan hutan masih menempati areal yang cukup luas (30% dari luas DAS), sedangkan kebun campuran menempati 11%, sawit 9%, serta pemukiman 9% dari luas DAS. Penutupan lahan hutan dibagian hulu sangat berfungsi untuk menjaga kualitas debit air sungai, apabila terjadi kerusakan hutan dalam kondisi yang sangat kritis maka akan mempengaruhi fluktuasi debit yang memicu terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Secara ringkas, tutupan lahan di DAS Batanghari yang dijabarkan dalam 20 kelas tutupan dapat dilihat pada Tabel 1.1 pada halaman berikut.

3
Tabel 1.1 Tutupan Lahan di DAS Batanghari Tahun 2006

(Sumber : Intepretasi Citra Landsat ETM tahun 2006)

3. Klimatologi
Secara umum, curah hujan yang terdapat di DAS Batanghari yang terletak di wilayah Propinsi Jambi bervariasi antara 2.000 mm di daerah hilir dan hulu, dan diatas 3.000 mm di bagian tengah DAS. Variasi musim cukup nyata dengan bulan basah (rata-rata curah hujan bulanan lebih dari 200 mm) berlangsung antara bulan Agustus/September sampai April/Mei, dengan jumlah bulan basah antara 6 sampai 10 bulan. Bulan kering (rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 100 mm) terjadi selama 2 sampai 3 bulan saja, yaitu pada bulan Mei dan Agustus. Suhu udara relatif stabil dengan rata-rata bulanan suhu maksimum 0 0 0 0 antara 28,1 sampai 34,8 C dan rata-rata bulanan suhu minimum antara 23,8 sampai 26,0 C.

4. Hidrologi
Pola drainase DAS Batanghari secara umum dapat dibagi 2 kelompok yaitu pola drainase dendritik yang terletak di bagian hulu (barat) dan drainase meander yang terletak di daerah hilir. Pola drainase dendritik menempati daerah yang lebih luas dibandingkan dengan daerah

4
berpola drainase meander. Dari sisi panjang wilayah, daerah berpola meander lebih panjang dibandingkan daerah berpola drainase dendritik. Aliran sungai di daerah pola drainase dendritik umumnya cepat, sedangkan pada daerah meander umumnya lambat. Secara umum perbedaan debit sungai pada musim hujan dan kemarau relatif besar.

5. Kualitas Air
Secara umum kualitas air Sungai Batanghari dari hulu hingga hilir mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah sumber pencemar ke arah hilir, terutama pencemaran limbah domestik dan industri. Penurunan kualitas air Sungai Batanghari saat ini mengakibatkan air Sungai Batanghari tidak bisa digunakan sebagai sumber bahan air minum oleh warga setempat. Kondisi kualitas air sungai pada segmen hulu, tengah dan hilir ditunjukkan pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Kualitas Air Sungai Batanghari
No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Parameter
DHL Suhu air pH TDS TSS DO BOD COD NO2 NO3 NH3 PO4 Fenol M&L MBAS Fecal coli Total coli Chlorida Chlorin Sulfat H2S Fe Mn Zn Hg Pb Cd Cu Cr As CN Se B F

Satuan
Umhos/cm C mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt

Hulu
17 – 82 27 – 29 6.2 – 6.9 30 – 66 72 – 378 3.4 – 6.1 1–4 3–9 0.01 – 0.023 0.02 – 0.90 0.008 – 0.149 0.03 – 0.61 1 – 83 400 – 13600 15 – 270 0.46 – 3.69 2.4 – 8.3 0.77 – 3.58 0.04 – 0.26 <0.001 <0.01 – 0.031 0.16 – 0.78

Tengah
33 – 69 26 - 31 6 – 7.3 35 – 88 24 – 198 3.1 – 6.2 2–5 3 – 17 0.005 – 0.032 0.2 – 0.750 0.005 – 0.153 0.03 – 0.191 2 – 118 400 – 12000 <10 - 244 0.46 – 5.69 2.5 – 7.3 0.34 – 2.45 <0.02 – 0.26 <0.001 0.1 – 0.76

Hilir
41 – 86 29 – 31 6.9 – 7 42 – 84 22 60 4.9 – 6.1 2–6 6 – 21 0.031 – 0.045 0.18 – 0.230 0.006 – 0.147 0.04 – 0.236 7 – 120 4800 – 11600 <10 – 185 0.46 – 16.6 4.44 – 8.9 0.54 – 2.21 <0.02 – 0.151 <0.001 0.09 – 0.76

(Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup 2006)

5 6. Permasalahan
A. Kerusakan kawasan hutan dan lahan kritis Kerusakan hutan akan menimbulkan lahan kritis yang untuk merehabilitasinya dibutuhkan biaya yang besar dalam jangka waktu yang lama. Tabel 1.3 menyajikan luas lahan kritis yang terdapat di Propinsi Jambi untuk dalam kawasan hutan dan luar kawasan hutan. Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa sekitar 60,80% dari luas lahan kritis di Propinsi Jambi terletak dalam kawasan DAS Batanghari. Berkurangnya kawasan hutan yang menjadi penyangga keseimbangan ekosistem pada wilayah DAS dapat disebabkan oleh berbagai sebab, antara lain konversi hutan menjadi lahan perkebunan, misalnya untuk perkebunan kelapa sawit, pemberian konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH), atau pembukaan lahan untuk areal transmigrasi. Luas areal perkebunan kelapa sawit pada tahun 1999 sekitar 300.000 ha dan pertumbuhan luas perkebunan ini hingga tahun 1999 di DAS Batanghari mencapai angka 34% pertahun. Jumlah perkebunan kelapa sawit sampai tahun 2002 tercatat 13 buah dengan kapasitas 3,5 juta ton TBS setiap tahun (Mahendra Taher, 2003). Di samping memiliki efek menguntungkan ditinjau dari pergerakan ekonomi rakyat, pembukaan kebun kelapa sawit ini juga mengancam masalah lingkungan DAS. Pada Sub-DAS Batanghari Hulu yang termasuk wilayah propinsi Sumatera Barat, luas perkebunan kelapa sawit tercatat 119.217 ha. Tabel 1.3 Sebaran Luas Lahan Kritis di DAS Batanghari Tahun 2006
Kabupaten Luas (Ha) 498.300 614.700 634.000 716.000 638.000 782.000 487.000 533.000 420.000 53.435.00 0 Dalam kawasan (ha) Sangat Kritis kritis 2.040 642 10.775 4.219 9.002 10.077 18.985 5.222 23.130 7.391 26.766 27.551 90.698 118.249 Luar kawasan (ha) Sangat Kritis kritis 7.513 6.832 3.592 21.295 56.642 43.032 42.456 89.322 27.833 113.661 5.653 16.657 2.514 26.288 33.037 330.253 463.290

Batanghari Muaro Jambi Tebo Bungo Merangin Sarolangun Tanjab Barat Tanjab Timur Kerinci Jumlah Total

(Sumber: BP DAS Batanghari, Jambi, 2002.)

6
Tidak ada data yang pasti mengenai luas kawasan hutan yang terdapat dalam Kawasan DAS Batanghari akibat adanya aktifitas penebangan hutan liar, konversi hutan produksi sepanjang tahun, maupun adanya aktifitas perladangan berpindah yang mengurangi jumlah tegakan hutan. Di daerah Sub-DAS Batanghari Hulu yang termasuk dalam wilayah Propinsi Sumatera Barat, hasil interpretasi citra satelit tahun 2001 menunjukkan bahwa luas hutan lebat adalah 354.595,10 ha, sedangkan hutan jarang berjumlah 126.730,84 (Nasaruddin, 2003). Proporsi kawasan hutan dibandingkan luas wilayah propinsi Jambi adalah sekitar 42,73%. Dari proporsi tersebut, 60,07% diperuntukan untuk hutan produksi dan sisanya berupa hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, dan hutan lindung. B. Erosi dan Sedimentasi Wilayah DAS Batanghari di daerah hulu pada umumnya bertopografi berat, mempunyai curah hujan yang tinggi, serta bentukan tanah yang berasal dari bahan induk vulkanis. Tiga faktor ini merupakan unsur yang sangat berperanan terhadap erosi. Jika tutupan lahan terbuka, misalnya akibat proses deforestasi, maka dapat diperkirakan bahwa laju erosi yang terjadi akan besar. Kerusakan pada Sub-DAS Batanghari Hulu dengan jenis tanah ordo Andisols , terutama dari Kabupaten Solok sudah berjalan sangat intensif. Tingginya curah hujan mengakibatkan tingginya erosi dan sedimentasi yang masuk perairan sungai Batanghari. Sedimen yang terangkut dari kawasan ini akan bergabung dengan aliran Batang Tebo, Batang Pelepat, dan Batang Tabir. Hasil perhitungan erosi oleh BPDAS Agam-Kuantan pada Sub Sub-DAS Gumanti yang terletak di wilayah hulu Sub-DAS Batanghari Hulu dalam data RTL-RLKT memberikan nilai erosi sebesar 54,91 ton/ha/tahun. Keruhnya air sungai diduga karena seringnya terjadi longsor pada hulu dan sisi sungai, terjadinya pembukaan lahan baru tanpa perlakuan konservasi tanah, semakin kritisnya lahan pada hulu sungai, dan banyaknya penebangan liar. C. Sosial Ekonomi dan Budaya
Rusaknya ekosistem DAS tidak semata-mata akibat rusaknya kondisi biofisik suatu

wilayah, tetapi pada dasarnya sangat berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang bermukim dalam DAS tersebut. Sungguhpun demikian tidak mudah mengukur permasalahan sosial dan budaya secara kuantitatif. Sebagian besar

7
masyarakat yang berada pada DAS Batanghari hidup bertani dan mengambil hasil hutan dengan kondisi yang belum memenuhi persyaratan kelayakan terutama dari segi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat membawa implikasi kepada lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, adanya perambahan hutan, perladangan berpindah, ataupun penebangan liar tidak terlepas dari permasalahan di atas. Rendahnya tingkat pendidikan juga menyebabkan ketidakpedulian / ketidaktahuan masyarakat tentang bahaya kerusakan hutan dan ekosistem DAS akibat aktifitas yang telah mereka lakukan selama ini. Itulah sebabnya sebagian besar masyarakat bersedia melakukan illegal logging atas perintah “cukong” dengan menerima bayaran sekedarnya. Rusaknya lingkungan DAS juga antara lain disebabkan teknik pertanian yang diterapkan oleh petani tidak mengikuti kaedah konservasi tanah yang konon telah dilakukan sejak turun temurun. Penanaman memotong kontur untuk tanaman kentang atau tanaman sayuran lainnya pada lahan dengan tingkat kemiringan lereng curam dengan alasan drainaseyang terjadi justru pada wilayah DAS bagian hulu berpotensi menimbulkan erosi dan sedimentasi. E. Pencemaran Aktifitas industri dan masyarakat yang memanfaatkan Sungai Batanghari memberikan dampak masukan beban pencemaran yang terus meningkat. Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah limbah domestik dari penduduk yang tinggal di bantaran sungai dan pencemaran yang bersumber dari kegiatan tambang emas ilegal yang dilakukan oleh kelompok masyarakat setempat dan didalangi oleh para pengusaha penambangan emas, permasalahan tersebut semakin rumit karena terkait dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Dari hasil pemantauan di lapangan di daerah hulu ditemukan adanya pencemaran dari limbah industri yang masuk melalui anak-anak Sungai Batanghari.

7. Pemanfaatan
Sungai Batanghari dibagian tengah hingga hilirnya selain dimanfaatkan oleh penduduk yang bermukim di sepanjang sungai untuk keperluan transportasi, dan airnya digunakan

8
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan rumah tangga. Adanya kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan DAS dan sungai membuat pemanfaatan Sungai Batanghari terganggu. Pada musim kemarau pada daerah tertentu kapal besar tidak mampu lagi berlayar. Sungai Batanghari dimanfaatkan petani di Jambi dan Sumatera Barat untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian mereka. Untuk irigasi teknis, Sungai Batangharai mengairi lahan sawah seluas sekitar 10.388 hektar, irigasi semi teknis seluas 12.800 hektare, irigasi sederhana 11.758 hektar, serta irigasi swadaya seluas 26.108 hektar. Budidaya ikan keramba banyak ditemukan di Provinsi Jambi, dan merupakan salah satu pendapatan potensial bagi masyarakat yang memanfaatkan Sungai Batanghari. (***)


								
To top