Proposal Ekonomi Kesehatan by kevinkevan

VIEWS: 1,240 PAGES: 38

More Info
									                                    BAB I

                              PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

           Perkembangan pembangunan kesehatan diarahkan guna tercapainya

   kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk

   Indonesia pada umumnya agar terwujud derajat kesehatan yang baik Langkah

   kebijaksanaan untuk mencapai tujuan pembangunan di bidang kesehatan

   tersebut adalah melalui upaya peningkatan jumlah pelayanan pusat-pusat

   palayanan kesehatan masyarakat seperti rumah sakit, puskesmas dan balai

   pengobatan serta penunjang lainnya.

           Kebijakan pembangunan rumah sakit bukan saja terfokus pada

   pembangunan fisik bangunan rumah sakit, akan tetapi juga menyangkut

   efektivitas dan produktivitas para medis yang menjalankan tugas dan tanggung

   jawab    untuk     memberikan   pelayanan   kesehatan   kepada   masyarakat.

   Sehubungan dengan hal tersebut, manajemen rumah sakit menjadi salah satu

   fokus perhatian yang berperan dalam mewujudkan kualitas pelayanan

   kesehatan.

           Dewasa ini manajemen rumah sakit telah dikembangkan dengan sistem

   informasi manajemen yang dapat menunjang proses pelayanan kesehatan.

   Pengelolaan sistem informasi tersebut berkaitan dengan strategi manajemen

   rumah sakit untuk lebih transparansi dan loyal dalam memberikan pelayanan

   kepada pasien dan keluarga pasien. Sistem informasi manajemen menunjang
                                                                             2

aktivitas para medis dalam melaksanakan tugas medis dan penataan ruang serta

pengelolaan data pasien secara obyektif. Hal ini ditujukan untuk lebih spesifik

dalam memberikan pelayanan sehingga pasien dan keluarga pesien

memperoleh kepuasan.

        Rumah sakit memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberikan

pelayanan kesehatan baik kepada pasien yang melakukan rawat jalan maupun

rawat inap. Perlakuan pelayanan kepada pasien di rumah sakit pada umumnya

adalah sama, namun yang membedakan adalah proses perawatan, olehnya

manajemen rumah sakit selalu melakukan pengembangan pelayanan kesehatan,

termasuk pengembangan sistem manajemen dengan menggunakan sistem

informasi manajemen yang sesuai dengan kondisi rumah sakit.

        Sistem informasi manajemen keuangan merupakan salah satu bentuk

sistem yang digunakan untuk memberikan informasi tentang pengelolaan

keuangan. Pada rumah sakit, sistem informasi manajemen keuangan ditata

untuk memberikan informasi tentang keuangan rumah sakit seperti tarif kamar

untuk berbagai klasifikasi (kelas dan vip), harga obat dan biaya operasi serta

biaya lainnya. Dengan adanya informasi yang disajikan kepada pasien, akan

memberikan kemudahan kepada pasien untuk dapat menggunakan jasa rumah

sakit tersebut.

        Pelayanan rumah sakit dengan menggunakan sistem informasi

manajemen keuangan tidak lepas dari penempatan para medis rumah sakit yang

dapat melaksanakan tugas/pekerjaan dengan baik. Hal ini tentunya berkaitan

dengan proses pengolahan data dan informasi yang pada gilirannya akan
                                                                          3

memberikan keterangan atau informasi tentang keuangan rumah sakti untuk

dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dan kepentingan pihak luar.

Kebijakan pelayanan dengan menggunakan sistem informasi manajemen

keuangan merupakan salah satu strategi untuk membangun kualitas rumah sakit

pada masa mendatang.

       Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka merupakan salah satu

rumah sakit yang telah menggunakan sistem informasi manajemen keuangan.

Penerapan hal tersebut dikendalikan oleh manajemen rumah sakit untuk

menetapkan tarif kamar, biaya perawatan, biaya obat dan biaya lainnya. Namun

pengelolaan sistem informasi manajemen keuangan belum dapat teraplikasikan

dengan baik oleh karena fasilitas dan kualitas medis yang terbatas dalam

pengelolaan manajemen rumah sakit.

       Disisi lain pelayanan rawat inap dihadapkan dengan pemilihan kamar

dan administrasi yang tidak efektif, pasien harus menunggu untuk mendapatkan

informasi kamar yang akan ditempat guna memperoleh perawatan. Selain itu

informasi keuangan hanya dipegang oleh staf rumah sakit dan tidak

dipublikasikan terutama tentang tarif kamar dan tarif pengobatan. Keluarga

pasien sering merasa tidak puas karena mereka tidak pernah tahu berapa tarif

yang ditetapkan atau berapa biaya yang harus dibayarkan pada saat setelah

menggunakan jasa rumah sakit.

       Sistem informasi manajemen keuangan pada Rumah Sakit Umum

Daerah Kabupaten Kolaka disajikan dalam bentuk jasa sarana dan jasa

pelayanan. Untuk jasa sarana, manajemen rumah sakit membentuk kelompok
                                                                                   4

      tarif untuk pelayanan rawat inap kelas VIP, kelas I, kelas II, kelas III ICU

      Sentral, dan Isolasi dengan jasa pelayanan dari dokter umum, dokter spesialis

      dan pelayanan gizi/makanan serta pelayanan keperawatan. Untuk masing-

      masing jasa tersebut telah ditetapkan standar tarif seperti yang disajikan pada

      tabel berikut :

      Tabel 1.1 Tarif Rawat Inap Pada RSUD Kabupaten Kolaka

 No.             Jenis Tarif        Satuan    Jasa Sarana    Jasa Pelayanan       Jumlah
 1.      Tarif Kamar
         a. Kelas Utama VIP         Perhari      100.000                      -     100.000
         b. Kelas I                 Perhari       50.000                      -      50.000
         c. Kelas II                Perhari       35.000                      -      35.000
         d. Kelas III               Perhari       25.000                      -      25.000
         e. ICU Sentral             Perhari      100.000                      -     100.000
         f. Isolasi                 Perhari       50.000                      -      50.000
 2.      Kunjungan Dokter
         a. Kelas Utama VIP         Perhari             -             15.000            15.000
         b. Kelas I                 Perhari             -             12.500            12.500
         c. Kelas II                Perhari             -             10.000            10.000
         d. Kelas III               Perhari             -              7.500             7.500
         e. ICU Sentral             Perhari             -             15.000            15.000
 3.      Dokter Spesialis
         a. Kelas Utama VIP         Perhari             -             30.000            30.000
         b. Kelas I                 Perhari             -             25.000            25.000
         c. Kelas II                Perhari             -             20.000            20.000
         d. Kelas III               Perhari             -             15.000            15.000
         e. ICU Sentral             Perhari             -             30.000            30.000
 4.      Pelayanan Gizi/Makanan
         a. Kelas Utama VIP         Perhari        36.000             24.000            60.000
         b. Kelas I                 Perhari        30.000             20.000            50.000
         c. Kelas II                Perhari        24.000             16.000            40.000
         d. Kelas III               Perhari        18.000             12.000            30.000
         e. ICU Sentral             Perhari        30.000             20.000            50.000
 5.      Pelayanan Keperawatan
         a. Kelas Utama VIP         Perhari             -             30.000            30.000
         b. Kelas I                 Perhari             -             10.000            10.000
         c. Kelas II                Perhari             -              7.000             7.000
         d. Kelas III               Perhari             -              5.000             5.000
         e. ICU Sentral             Perhari             -             30.000            30.000
Sumber : RSUD Kab. Kolaka, 2010
                                                                          5

         Data pada tabel 1.1. menunjukkan tarif rawat inap yang diberlakukan

   oleh manajemen RSUD Kabupaten Kolaka, namun dalam penerapannya,

   terkadang pasien dibebankan pada biaya-biaya yang muncul sebagai akibat

   adanya pelayanan tambahan yang diberlakukan untuk upaya perawatan dan

   pemeliharaan kesehatan. Hal ini sering menjadi perbedaan pendapat dan

   mengarah pada konflik tarif yang membutuhkan adanya pemahaman dan

   perbaikan sistem informasi manajemen keuangan untuk tidak menimbulkan

   kerugian baik kepada pihak rumah sakit maupun kepada pasien pada masa

   mendatang.

         Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis

   tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan mengangkat judul

   skripsi “Analisis Sistem Informasi Manajemen Keuangan Terhadap Pelayanan

   Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka”.


1.2. Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka

   permalasahan yang dikemukakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai

   berikut : “Apakah sistem    informasi manajemen keuangan berpengaruh

   terhadap terhadap pelayanan rawat inap pada Rumah Sakit Umum Daerah

   Kabupaten Kolaka”.
                                                                             6

1.3. Tujuan Penelitian

          Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis

     sistem informasi manajemen keuangan terhadap terhadap pelayanan rawat

     inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka.


1.4. Manfaat Penelitian

    Penelitian ini bermanfaat antara lain :

   a. Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit dalam upaya perbaikan sistem

       informasi manajemen keuangan guna pengambilan keputusan dimasa yang

       akan datang.

   b. Sebagai bahan reverensi bagi peneliti selanjutnya yang relevan dengan

       penelitian ini.


1.5. Ruang Lingkup

           Ruang lingkup penelitian ini meliputi kajian tentang analisis sistem

    informasi manajemen keuangan terhadap terhadap pelayanan rawat inap pada

    Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka.
                                                                                   7

                                       BAB II

                               TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Penelitian Terdahulu

            Analisis tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan di RSUD Propinsi

    Sulawesi Tenggara yang diteliti oleh Rismahwati, (2002) menyimpulkan bahwa

    tingkat kepuasan pasien melalui indeks kepuasan untuk pelayanan pada rumah

    sakit   umum    Provinsi    Sulawesi   Tenggara   dari     seluruh   aspek   yang

    mempengaruhi tingkat kepuasan pasien diperoleh bahwa tingkat kepuasan

    konsumen secara umum berada pada posisi kurang puas.

            Namun dari seluruh aspek yang diteliti dan dinilai serta diperoleh hasil

    bahwa secara umum tingkat kepuasan pasien berdasarkan pengujian dan

    perhitungan indeks kepuasan dari masing-masing aspek yang diteliti ternyata

    tidak seluruhnya dalam yang tidak memuaskan, terdapat aspek yang berada

    dalam posisi rangking yang disusun mulai dari rangkin pertama hingga yang

    terakhir.

            Pelayanan   dirumah    sakit   umum     Provinsi    Sulawesi    Tenggara

    berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut menunjukkan kinerja

    yang dapat ditingkatkan pada masa yang akan datang dengan mengutamakan

    pelayanan pasien dari paramedis.

            Penelitian yang dilakukan oleh Mulyadi (2004) tentang analisis sistem

    informasi manajemen keuangan terhadap pelayanan pelanggan pada PT. PLN

    (Persero) Cabang Magetan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
                                                                                 8

   analisis deskriptif untuk menjelaskan sistem informasi keuangan yang dikelola

   pada perusahaan tersebut. Hasil penelitian diperoleh bahwa pelanggan

   memperoleh informasi tarif listrik berdasarkan autometrik yang dipasangkan

   secara online pada setiap meteran listrik dan diukur secara otomatis serta dapat

   diperoleh besarnya beban biaya listrik oleh masing-masing pelanggan guna

   memudahkan pembayaran tagihan rekening listrik.


2.2. Konsep Sistem

       Sistem adalah sekumpulan elemen-elemen dimana adanya hubungan

   diantara elemen-elemen mana ditujukan kearah pencapaian saran-saran yang

   umum tertentu. Menurut Ludwig Von Bartalanfy (1998:5) Sistem merupakan

   seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-

   unsur tersebut dengan lingkungan. Selain itu Anatol Raporot (1987:16)

   menyatakan bahwa Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat

   hubungan satu sama lain. Sedangkan menurut L. Ackof (1992) Sistem adalah

   setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian

   dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.

       Sistem adalah kumpulan dari unsur-unsur yang saling berinteraksi dan

   bekerja sama secara dinamik untuk menghasilkan keluaran atau output.

   Keluaran tersebut dihasilkan dengan cara mengolah sumber-sumber yang

   berasal darilingkungan dengan proses tertentu (Mulyadi, 1997:118).

       Sistem memegang suatu peranan yang sangat penting dalam melaksanakan

   aktivitas usaha suatu perusahaan. Semakin berkembangnya perusahaan tentu
                                                                           9

kegiatannya juga semakin banyak sehingga perlu dilakukan pendelegasian

tugas kepada masing-masing organisasi yang berbeda dalam perusahaan. Suatu

perusahaan sangat membutuhkan sistem yang baik dan inilah yang

menyebabkan kegiatan perusahaan berjalan dengan lancar serta tujuan

perusahaan akan tercapai (Rakhmat,2001:9)

    Mc Leod dan Schell (2004:9) mendefinisikan: “Sistem adalah sekelompok

elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai

suatu tujuan”. Bodnar dan Hopwood (2001:1) mendefinisikan: “Sistem adalah

kumpulan sumber daya yang berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu.

Informasi adalah data yang berguna yang diolah sehingga dapat dijadikan dasar

untuk mengambil keputusan yang tepat”.

       Turban, Efraim dan Jage Aronson. (1998:15) mengemukakan bahwa

suatu sistem dapat dijelaskan dengan sederhana sebagai seperangkat elemen

yang digabungkan satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan bersama. Sistem

ini berkaitan erat dengan prosedur sehingga melibatkan beberapa orang dalam

suatu organisasi ataupun departemen yang dibuat untuk menjamin penerangan

secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi secara berulang-ulang. Modul

sistem digambarkan di bawah ini sebagai berikut:
                                                                           10

       Secara garis besar, sistem dapat dibagi 2 :

a. Sistem Fisik ( Physical System ):

           Kumpulan elemen-elemen/ unsur-unsur yang saling berinteraksi satu

   sama lain secara fisik serta dapat diidentifikasikan secara nyata tujuan-

   tujuannya. Contohnya adalah sistem transportasi, elemen petugas, mesin,

   organisasi yang menjalankan transportasi sistem komputer, elemen :

   peralatan yang berfungsi bersama-sama untuk menjalankan        pengolahan

   data.

b. Sistem Abstrak ( Abstract System):

       Sistem yang dibentuk akibat terselenggaranya ketergantungan ide, dan

   tidak dapat diidentifikasikan secara nyata, tetapi dapat diuraikan elemen-

   elemennya. Contohnya adalah Sistem Teologi, hubungan antara manusia

   dengan Tuhan.

    Terdapat dua kelompok pendekatan didalam mendefinisikan sistem, yaitu

yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen

atau elemennya. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur

mendefinisikan sistem sebagai berikut ini :

Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling
berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau
untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.

   Jerry Fitzgerald, Ardra F. Fitzgerald dan Warren D. Stallings, Jr (1997:65)

mendefinisikan prosedur sebagai berikut :

Suatu prosedur adalah urut-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi
yang menerangkan Apa (What) yang harus dikerjakan, Siapa (Who) yang
                                                                                 11

    mengerjakannya,       Kapan   (When)    dikerjakan   dan    Bagaimana    (How)
    mengerjakannya

        Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponennya

    mendefiniskan sistem sebagai kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi

    untuk mencapai suatu tujuan tertentu

        Kedua kelompok definisi tersebut adalah benar dan tidak bertentangan, yang

    berbeda adalah cara pendekatannya. Pendekatan sistem yang merupakan

    kumpulan elemen-elemen atau komponen-komponen atau subsistem-subsistem

    merupakan definisi yang lebih luas. Definisi ini lebih banyak diterima, karena

    kenyataannya suatu sistem dapat terdiri dari beberapa subsistem atau sistem

    bagian. Sebagai misal,sistem akuntansi dapat terdiri dari beberapa subsistem-

    subsistem,    yaitu   subsistem   akuntansi   penjualan,   subsistem   akuntansi

    pembelian, subsistem akuntansi penggajian, subsistem akuntansi biaya dan lain

    sebagainya.

2.3. Klasifikasi Sistem

    Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya sebagai

berikut ini :

1. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem fisik

    (physical system) Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-

    ide yang tidak tampak secara fisik. Misalnya sistem teologia, yaitu sistem yang

    berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sistem

    fisik merupakan sistem yang ada secara fisik. Misalnya sistem komputer, sistem

    akuntansi, sistem produksi dan lain sebagainya.
                                                                                 12

2. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dan sistem

   buatan manusia (human made system) Sistem alamiah adalah sistem yang

   terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia. Misalnya sistem perputaran

   bumi. Sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang oleh manusia.

   Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin

   disebut dengan human-machine system atau ada yang menyebut dengan man-

   machine system. Sistem informasi merupakan contoh man-machine system,

   karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.

3. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan

    sistem tak tentu (probabilistic system). Sistem tertentu beroperasi dengan

    tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagian-bagiannya

    dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan.

    Sistem komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat

    dipastikan berdasarkan programprogram yang dijalankan. Sistem tak tentu

    adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena

    mengandung unsur probabilitas.

4. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup (closed system) dan sistem

    terbuka (open system). Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak

    berhubungan dan tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini

    bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak diluarnya.

    Secara teoritis sistem tertutup ini ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem

    yang benar-benar tertutup, yang ada hanyalah relatively closed system (secara

    relatif tertutup, tidak benar-benar tertutup). Sistem terbuka adalah sistem yang
                                                                             13

berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima

masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem

yang lainnya. Karena sistem sifatnya terbuka dan terpengaruh oleh lingkungan

luarnya, maka suatu sistem harus mempunyai suatu sistem pengendalian yang

baik. Sistem yang baik harus dirancang sedemikian rupa, sehingga secara

relatif tertutup karena sistem tertutup akan bekerja secara otomatis dan terbuka

hanya untuk pengaruh yang baik saja.




Gambar 2.2. Sistem Terbuka dan Tertutup

   Suatu sistem yang dihubungkan dengan lingkungannya melalui arus sumber

daya disebut sistem terbuka. Sebuah sistem pemanas atau pendingin ruangan,

contohnya, mendapatkan input-nya dari perusahaan listrik, dan menyediakan

panas/dinginnya bagi ruangan yang ditempatinya. Dengan menggunakan logika

yang sama, suatu sistem yang tidak dihubungkan dengan lingkungannya adalah
                                                                               14

   sistem tertutup. Sebagai contohnya, sistem tertutup hanya terdapat pada situasi

   laboratorium yang dikontrol ketat.


2.4. Konsep Sistem Informasi

        Istilah sistem informasi menyiratkan suatu pengumpulan data yang

   terorganisasi beserta tatacara penggunaannya yang mencakup lebih jauh

   daripada sekadar penyajian. Istilah tersebut menyiratkan suatu maksud yang

   ingin dicapai dengan halan memilih dan mengatur dana serta menyusun

   tatacara penggunaannya. Keberhasilan suatu sistem informasi yang diukur

   berdasarkan maksud pembuatannya tentu bergantung pada tiga faktor utama,

   yaitu 1) keserasian dan muru data, 2) pengorganisasi data dan 3) tatacata

   penggunaannya (Cook, 1997:84)

        Setiap sistem informasi tiga gatra pokok : 1) pengumpulan dan pemasukan

   data, 2) penyimpanan dan pengambilan kembali (retrievak) data dan 3)

   penerapan data, yang dalam hal sistem informasi terkomputer termasuk

   penayangan (display). Suatu sistem informasu terkomputer pada dasarnya

   terdiri   dari   lima   komponen     yang   menjadi   sub-sistemnya   (Lynchm

   1997:34).yaitu (1) pelambangan (encoding) data dan pemrosesn masukan, 2)

   pengolahan data, 3) pengambilan kembali data, 4) pengolahan dan analisis data

   dan 5) penayangan data.

        Suatu sistem informasi dibuat untuk suatu keperluan tertentu atau untuk

   memenuhi pemintaan penggunaan tertentu, maka struktur dan cara kerja sistem

   informasi berbeda-beda tergantung pada macam keperluan atau permintaan
                                                                           15

yang harus dipenuhi. Oleha karena kepentingan yang harus dilayanai sangat

beraneka ragam, maka sistem informasipun berbeda-beda.

    Sistem informasi dalam suatu pemahaman yang sederhana dapat

didefinisikan sebagai satu sistem berbasis komputer yang menyediakan

informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para pemakai

biasanya tergabung dalam suatu entitas organisasi formal, seperti Departemen

atau Lembaga suatu Instansi Pemerintahan yang dapat dijabarkan menjadi

Direktorat, Bidang, Bagian sampai pada unit terkecil dibawahnya. Informasi

menjelaskan mengenai organisasi atau salah satu sistem utamanya mengenai

apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa

yang mungkin akan terjadi dimasa yang akan datang tentang organisasi

tersebut.

    Sistem informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang,

tempat, dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar

organisasi. Informasi sendiri mengandung suatu arti yaitu data yang telah

diolah ke dalam suatu bentuk yang lebih memiliki arti dan dapat digunakan

untuk pengambilan keputusan. Data sendiri merupakan fakta-fakta yang

mewakili suatu keadaan, kondisi, atau peristiwa yang terjadi atau ada di dalam

atau di lingkungan fisik organisasi. Data tidak dapat langsung digunakan untuk

pengambilan keputusan, melainkan harus diolah lebih dahulu agar dapat

dipahami, lalu dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan.

    Informasi harus dikelola dengan baik dan memadai agar memberikan

manfaat yang maksimal. Penerapan sistem informasi di dalam suatu organisasi
                                                                          16

dimaksudkan untuk memberikan dukungan informasi yang dibutuhkan,

khususnya oleh para pengguna informasi dari berbagai tingkatan manajemen.

Sistem informasi yang digunakan oleh para pengguna dari berbagai tingkatan

manajemen ini biasa disebut sebagai Sistem Informasi Manajemen.

    Sistem informasi mengandung tiga aktivitas dasar di dalamnya, yaitu :

aktivitas masukan (input), pemrosesan (processing), dan keluaran (output).

Tiga aktivitas dasar ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan organisasi

untuk pengambilan keputusan, pengendalian operasi, analisis permasalahan,

dan menciptakan produk atau jasa baru. Masukan berperan di dalam

pengumpulan bahan mentah (raw data), baik yang diperoleh dari dalam

maupun dari lingkungan sekitar organisasi. Pemrosesan berperan untuk

mengkonversi bahan mentah menjadi bentuk yang lebih memiliki arti.

Sedangkan, keluaran dimaksudkan untuk mentransfer informasi yang diproses

kepada pihak-pihak atau aktivitas-aktivitas yang akan menggunakan. Sistem

informasi juga membutuhkan umpan balik (feedback), yaitu untuk dasar

evaluasi dan perbaikan di tahap input berikutnya. (C. Laudon, P. Jane Laudon,

Kenneth. 2006:31)

    Dewasa ini, sistem informasi yang digunakan lebih berfokus pada sistem

informasi berbasis komputer (computer-based information system). Harapan

yang ingin diperoleh di sini adalah bahwa dengan penggunaan teknologi

informasi atau sistem informasi berbasis komputer, informasi yang dihasilkan

dapat lebih akurat, berkualitas, dan tepat waktu, sehingga pengambilan
                                                                            17

keputusan dapat lebih efektif dan efisien. (C. Laudon, P. Jane Laudon,

Kenneth. 2006:32)

    Burch (1992:6) mengemukakan bahwa seskipun sistem informasi berbasis

komputer menggunakan teknologi komputer untuk memproses data menjadi

informasi yang memiliki arti, ada perbedaan yang cukup tajam antara komputer

dan program komputer di satu sisi dengan sistem informasi di sisi lainnya.

Komputer dan perangkat lunak komputer yang tersedia merupakan fondasi

teknis, alat, dan material dari sistem informasi modern. Komputer dapat dipakai

sebagai alat untuk menyimpan dan memproses informasi. Program komputer

atau perangkat lunak komputer merupakan seperangkat instruksi operasi yang

mengarahkan dan mengendalikan pemrosesan informasi.

    Sistem Informasi Managemen (SIM) merupakan sebuah bidang yang mulai

berkembang semenjak tahun 1960-an.Walau tidak terdapat konsensus tunggal,

secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi

yang digunakan untuk mendukung operasi, managemen, serta pengambilan

keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya

seperti: “Sistem Informasi”, “Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem

Informasi dan Pengambil Keputusan (Ulrich Gelinas Jr dan Allan F. Oram,

2004:145).

    Jogiyanto (2003:8) mengemukakan bahwa sistem informasi manajemen

merupakan bidang terapan yang mendapatkan perhatian para pelaku bisnis

sejak Teknologi Informasi dimanfaatkan pada tahun 1950-an. Pada awalnya,

titik fokus utama ialah efisiensi, mengingat harga perangkat keras yang sangat
                                                                              18

   mahal (jutaan dollar). Secara perlahan komponen biaya perangkat keras

   menyusut. Namun secara keseluruhan, anggaran TI sebuah organisasi

   meningkat secara perlahan. Timbul kesadaran bahwa masalah yang dihadapi

   bukan sekedar ilmu Komputer, Elektro-Teknik, dan Matematika. Diperlukan

   sebuah metoda yang secara sistematis dan efektif dapat dengan cepat

   menanggulangi permasalahan yang timbul dari waktu ke waktu. Ini berbeda

   dengan tradisi ''dunia akademis'' yang banyak menawarkan ''solusi teoritis''

   yang telah dikaji secara ilmiah untuk permasalahan yang belum tentu ada.


2.5. Konsep Pelayanan

        Suatu pelayanan akan terbentuk karena adanya proses pemberian layanan

   tertentu dari pihak penyedia layanan kepada pihak yang dilayani.(Barata,

   2006:9) Pelayanan dapat terjadi antara :

   a) Seorang dengan seorang

   b) Seorang dengan kelompok

   c) Kelompok dengan seorang atau orang-orang dalam organisasi

          Pelayanan ini terjadi baik yang dilakukan atas dasar kesukarelaan

   masing-masing pihak (non-komersial) tujuan komersial antar personal, ataupun

   karena orang-orang mempunyai keterikatan kerja dalam organisasi yang

   bertujuan komersial maupun non komersial.

          Barata (2006:11) mengemukakan bahwa dalam proses pelayanan

   terdapat unsur-unsur penting yang perlu diperhatikan yaitu :

   a) Penyedia layanan
                                                                            19

   Penyedia layanan adalah pihak yang dapat memberikan suatu layanan

   tertentu kepada konsumen, baik berupa layanan dalam bentuk penyediaan

   dan penyerahan barang atau jasa-jasa.

b) Penerima layanan

   Peneriman layanan adalah mereka yang disebut sebagai konsumen

   (pengguna layanan).

c) Jenis layanan

   Jenis layanan yang dapat diberikan oleh penyedia layanan kepada penerima

   layanan terdiri dari jenis layanan yang berkaitan dengan :

   1. Pemberian jasa-jasa saja

   2. Layanan yang berkaitan dengan penyediaan dan distribusi barang saja

   3. Layanan ganda yang berkaitan dengan kedua-duanya.

d) Kepuasan pelanggan

   Dalam penyelenggaraan pelayanan, pihak penyedia dan pemberi layanan

   harus selalu berupaya untuk mengacu kepada tujuan utama pelayanan yaitu

   kepuasan konsumen atau kepuasan pelanggan.

       Kegiatan untuk memberikan arahan dan petunjuk kepada orang lain

sehingga orang tersebut memahami tentang sesuatu produk atau jasa yang akan

digunakan olehnya (Soedarsono, 2002 : 133).

       Definisi dari pelayanan diartikan oleh para ahli sangat berbeda-beda,

namun definisi tersebut mempunyai tujuan yang sama. Pelayanan juga

merupakan tindakan yang dilakukan untuk memberikan arahan dan petunjuk

kepada konsumen dalam menggunakan suatu produk tertentu.
                                                                          20

       Nopirin (2005 : 42) mengemukakan bahwa pelayanan merupakan

kinerja usaha untuk memberikan informasi kepada konsumen guna memperoleh

kemudahan dalam mengkonsumsikan barang atau jasa sehingga konsumen

konsumen memperoleh kepuasan atas barang atau jasa tersebut.

       Keberhasilan suatu usaha sangat ditentukan oleh baik tidaknya

pelayanan yang diberikan dalam memasarkan suatu produk. Pelayanan yang

diberikan    dalam     memasarkan         suatu   produk,   pelayanan   dalam

pembelian/penjualan produk, pelayanan sewaktu penyerahan produk yang dijual

yang mencakup pelayanan dalam pengangkutan yang ditanggung oleh penjual,

pemasangan instalasi produk itu dan asuransi atau jaminan risiko rusaknya

barang dalam perjalanan atau pengangkutan dan pelayanan setelah penjualan

yang mencakup jaminan atas kerusakan produk dalam jangka waktu tertentu.

(Halim, 2001 :194)

       Pelayanan merupakan suatu tindakan yang diberikan berupa arahan dan

petunjuk untuk mempermudah konsumen dalam menggunakan barang dan jasa

yang dijual oleh suatu perusahaan. Pelayanan tersebut biasanya dilakukan

secara lisan dan disertai dengan tindakan atau praktek cara penggunaan barang

atau jasa tersebut. (Halim, 2001 : 196)

      Dalam perkembangan usaha jasa, pelayanan yang prima merupakan

kunci dari kesuksesan, oleh karena itu perusahaan-perusahaan jasa lebih

mengutamakan pelayanan kepada konsumen. (Batara, 2006 : 16). Kualitas

pelayanan dibutuhkan untuk meningkatan kegiatan pemasaran perusahaan

terutama dalam memasarkan produk-produk              yang menjadi kebutuhan
                                                                               21

   konsumen. Produk tersebut terdiri dari berbagai ragam sehingga memerlukan

   tindakan pelayanan guna memberikan arahan dan petunjuk dalam penggunaan

   barang tersebut. (Halim, 2001 : 116).

2.6. Konsep Kesehatan

           Undang     Undang    Nomor      23   tahun   1992   tentang   Kesehatan

   menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama untuk

   memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Pada dasarnya sehat merupakan

   hak asasi manusia. Setiap penduduk berhak untuk mendapatkan pelayanan

   kesehatan. Salah satu kewajiban pemerintah adalah menyediakan fasilitas dan

   pelayanan kesehatan yang bermutu serta terjangkau.

        Pada hakekatnya derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor penting

   yaitu (Wijosastro, 1993 : 67)

   a. Faktor bawaan

   b. Pelayanan kesehatan,

   c. Perilaku

   d. Lingkungan

          Dijelaskan lebih lanjut bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah

   meingkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

   orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui 6 asas

   yang menjadi landasan dalam menyelenggarakan program kesehatan yang

   meliputi :

    a. Perikemanusiaan

    b. Manfaat bagi warga negara
                                                                           22

c. Usaha bersama dan kekeluargaan

d. Adil dan merata

e. Perikehidupan dalam keseimbangan antara kepentingan individu dan

   masyarakat, fisik dan mental, material dan spiritual.

f. Kepercayaan kekuatan dan kemampuan sendiri.

       Di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia, usaha kesehatan

masyarakat merupakan usaha utama. Slamet (1996 : 4) mengemukakan bahwa

kesehatan masyarakat merupakan ilmu dan kiat untuk mencegah penyakit,

memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kesehatan dan efisiensi

masyarakat melalui masyarakat yang terorganisir untuk sanitasi lingkungan,

pengendalian    penyakit    menular,     pendidikan    higiene   pereorangan,

mengorganisir pelayanan medis dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis

dini dan pengobatan pencegahan, serta membangunan mekanisme sosial,

sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik

untuk dapat memelihara kesehatan.

       Menurut Nasrul Efendi (1995 : 26) tujuan kesehatan masyarakat adalah

kondisi yang dialami masyarakat, baik dalam bidang promotif, prefentif,

kuratif, rehabilitatif dan agar setiap warga masyarakat dapat mencapai derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental, sosial serta

diharapkan berumur panjang.

       Lebih dilanjutkan dikatakan bahwa usaha kesehatan masyarakat lebih

mengutamakan usaha promotif dan peventif daripada kuratif. Dalam

melaksanakan usaha promotif dan preventif selalu mempergunakan biaya yang
                                                                           23

 serendah-rendahnya dengan mengharapkan hasil yang sebaik-baiknya. Usaha

 kesehatan masyarakat berlandaskan kepada kegiatan masyarakat sebagai

 pelaku (subyek) maupun sasaran (obyek) dengan kata lain usaha kesehatan

 masyarkat dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat. Dalam usaha

 kesehatan masyarakat selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku melalu

 kegiatan masyarakat secara terorganisasi. Usaha-usaha kesehatan masyarakat

 yang selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku melalui kegiatan

 masyarakat secara teroganisasi. Usaha-usaha kesehatan masyarakat yang

 dijalankan harus diangkat dari masalah-masalah kesehatan yang ada di

 masyarakat, sehingga jika masalah tersebut tidak berhasil ditanggulangi maka

 akan dapat mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat itu sendiri.

 (Nasrul Efendi, 1995 :64-66).

       Beberapa    konsep    sehat menurut para ahli dari institusi kesehatan,

antara lain : (Slamet, 1996 : 18-19)

1. Sehat Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan

   fungsi tubuh dan berbagai fantor yang berusaha yang mempengaruhinya.

2. Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak

   hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.

3. Sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak

   mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan

   kelainan.

4. Sehat adalah sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan

   setiap orang hidup produktif secara sosial.
                                                                           24

       Untuk lebih spesifik Linda (1994 : 8) mengklasifikasikan kesehatan

sebagai berikut :

1. Kesehatan jasmani, adalah dimensi sehat yang paling nyata dan mempunyai

   perhatian pada fungsi mekanistik tubuh manusia.

2. Kesehatan mental adalah kemampuan berfikir dengan jernih dan koheren.

3. Kesehatan emosional adalah kemampuan untuk mengenal emosi seperti

   takut, kenikmatan, kedudukan dan kemarahan dan untuk mengekspresikan

   emosi-emosi secara tepat.

4. Kesehatan sosial adalah kemampuan untuk membuat dan mempertahankan

   hubungan dengan orang lain.

       Gde Maninjaya (2004 : 45) mengemukakan bahwa sehat adalah suatu

keadaan yang optimal, baik fisik,mental, maupun social, dan tidak hanya

terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja. Tujuan sehat

yang ingin dicapai oleh sistem kesehatan adalah peningkatan derajat kesehatan

masyarakat yang setinggi-tingginya.

       Pendapat Winslow yang disadur oleh Gde Maninjaya (2004:8)

mengemukakan bahwa       batasan ilmu kesehatan masyarakat (public health)

adalah ilmu atau seni yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang

umur dan meningkatkan efisiensi hidup masyarakat melalui upaya kelompok-

kelompok masyarakat yang terkoordinasi, perbaikan kesehatan lingkungan,

mencegah dan memberantas penyakit menular dan melakukan pendidikan

kesehatan untuk masyarakat/perorangan. Upaya ini dilaksanakan dengan

mengkoordinasikan tenaga kesehatan dalam satu wadah pelayanan kesehatan
                                                                              25

masyarakat yang ditujukan untuk menumbuhkan swadaya masyarakat dan

meningkatkan derajat kesehatan secara optimal.

       Gde Maninjaya (2004 : 9) mengemukakan bahwa ada tiga tingkatan

pencegahan di bidang pelayanan kedokteran (medical service) sesuai dengan

tingkat perkembangan patologi penyakit yaitu :

a) Pencegahan primer (primer prevention)

   Pencegahan yang dilakukan melalui pendekatan masyarakat dengan

   melakukan program penyuluhan kesehatan masyarakat.

b) Pencegahan sekunder (secondary prevention)

   Pencegahan sekunder dilakukan dari fase mulai penyebab penyakit masuk

   ke tubuh, sampai dengan timbulnya gejala penyakit atau gangguan

   kesehatan.

c) Pendekatan Tertier (tertiary prevention).

   Pendekatan      Tertier   dilakukan   melalui   program   rehabilitasi   untuk

   mengurangi ketidakmampuan seorang penderita dan meningkatkan efisiensi

   hidupnya. Untuk tindakan lanjutan dilakukan dengan perawatan kesehatan

   masyarakat.

       Kesehatan     masyarakat    meliputi    pembangunan     kesehatan    yang

merupakan proses perubahan tingkat kesehatan masyarakat dari tingkat yang

kurang menjadi lebih baik sesuai dengan standar kesehatan. Pembangunan

kesehatan pada umumnya diikuti dengan terjadinya perubahan pola pelayanan

kesehatan yang berinteraksi dengan kesehatan penduduk. Perubahan tersebut

mencakup :
                                                                          26

1. Pergeseran keseimbangan pendapatan masyarakat.

2. Keterbatasan kebutuhan ekonomi

       Menurut Prawiro, (2000 : 254)       kesehatan masyarakat merupakan

tingkatan derajat hidup sehat masyarakat yang dipenuhi dengan gizi dan

kebersihan lingkungan. Gizi masyarakat yang rendah akan mengakibatkan

timbulnya berbagai jenis penyakit yang disertai dengan kondisi lingkungan

tempat tinggal yang tidak terpelihara dengan baik. Oleh karena itu dikatakan

bahwa kesehatan masyarakat adalah kesehatan keluarga yang mencakup aspek

pribadi dan lingkungan tempat tinggal dari setiap individu serta pemenuhan

pelayanan kesehatan yang terpadu.

       Bagi setiap orang, kesehatan merupakan kekayaan yang tiada ternilai

harganya. Dengan kesehatan yang baik manusia akan mampu bekerja dan

berprestasi. Dengan demikian kesehatan harus dimiliki setiap orang. Bagi

tenaga kerja, kesehatan merupakan modal utama untuk dapat bekerja dengan

baik atau secara produktif. Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia memiliki

peranan yang sangat besar dalam pembangunan nasional. Tenaga kerja

merupakan pelaksana pembangunan untuk mencapai kesejahteraan umum dan

kualitas kehidupan yang semakin meningkat. Menurut. Sarwanto (2000 : 42),

upaya perlindungan terhadap bahaya-bahaya yang dapat timbul, pencapaian

ketentraman dan ketenangan kerja serta cara-cara kerja yang aman merupakan

kebutuhan yang amat mendasar. Salah satu upaya ke arah itu adalah

memberikan perlindungan terhadap kesehatan tenaga kerja.
                                                                             27

       Ilmu mengenai bagaimana individu atau masyarakat dengan atau tanpa

uang menggunakan sumberdaya yang terbatas, dengan berbagai pilihan

penggunaannya     untuk     menghasilkan    berbagai    macam     barang    dan

mendistribusikannya untuk keperluan konsumsi saat ini atau masa yang akan

datang, bagi individu atau kelompok masyarakat. Ilmu ini juga mengkaji semua

biaya dan manfaat dari perbaikan pola alokasi sumberdaya yang ada (Anne

Mills dan Lucy Gilson, 1990 : 1)

       Anne Mills dan Lucy Gilson (1990 : 2) mengemukakan bahwa

kesehatan masyarakat      merupakan penerapan teori, konsep dan teknik pada

sektor kesehatan yang erat hubungannya dengan alokasi sumberdaya.

Selanjutnya dikatakan bahwa pembangunan kesehatan merupakan istilah yang

sering digunakan untuk menunjukkan proses perubahan tingkat kesehatan

masyarakat dari tingkat yang kurang menjadi lebih baik sesuai dengan standar

kesehatan.

       Konsep kesehatan masyarakat merupakan kerangka konseptual yang

menerangkan tentang kondisi kesehatan masyarakat, namun sebelumnya perlu

dikemukakan beberapa konsep kesehatan. Kesehatan adalah suatu kondisi yang

kompleks yang merupakan resultante dari perubahan lingkungan, baik yang

alamiah maupun yang buatan manusia, sosial budaya, perilaku, penduduk,

genetika, dan sebagainya. Sampai akhir abad ini, teori tentang derajat kesehatan

masyarakat yang disebut sebagai psychosociosomatic health well being.

(Hendrik L.Blum, 1997: 171).
                                                                                28

         Menurut Hendrik L.Blum (1997: 173), derajat kesehatan masyarakat

   merupakan resultante dari 4 faktor, yaitu lingkungan; perilaku dihubungkan

   dengan ecological balance; keturunan yang dipengaruhi oleh populasi,

   distribusi penduduk, dan sebagainya; serta health care service yang berupa

   program kesehatan yang bersifat preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dari

   keempat faktor tersebut, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling

   besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan

   masyarakat.


2.7. Pelayanan Kesehatan

          Pelayanan kesehatan merupakan bagian dari tindakan sosial, ekonomi

   dan politik serta merupakan hak asazi manusia yang paling penting.

   Kesenjangan, kemiskinan, eksploitasi, kekerasan dan ketidakadilan merupakan

   sumber penyakit dan kematian di antara orang-orang yang miskin dan

   termarginalisasi. Bila kita ingin mengusahakan kesehatan bagi semua orang

   (health for all), kepentingan-kepentingan orang-orang yang berkuasa harus

   dikaji ulang, globalisasi harus dilawan, dan prioritas politik dan ekonomi harus

   diubah secara besar-besaran (Wijaya, 1996 : 17).

          Selanjutnya dikatakan oleh Sarwanto (2000 : 36) pelayanan kesehatan

   merupakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan dan

   pemeliharaan kesehatan di dalam masyarakat melalui pemberian makanan dan

   obat-obatan kesehatan.
                                                                          29

       Budiono, (1998 : 16) mengemukakan bahwa kesempatan untuk

mencapai taraf kesehatan dan kesejahteraan yang setinggi-tingginya merupakan

hak asazi manusia yang mendasar, tanpa membeda-bedakan menurut ras, latar

belakang etnis, agama, jenis kelamin, usia, kemampuan, orientasi seksual

maupun golongan. Prinsip pelayanan kesehatan primer yang terpadu dan

berkesinambungan, menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang

berkaitan dengan kesehatan.

       Kebutuhan akan pendekatan yang menyetarakan, partisipatif, dan lintas

sektoral terhadap masalah kesehatan akan semakin meningkat dan menjadi

tanggung jawab pemerintah dalam memastikan bahwa pelayanan kesehatan

dapat terjangkau oleh semua orang dan sesuai dengan kebutuhan bukan

berdasarkan kemampuan mereka untuk membayar. Partisipasi rakyat dan

organisasi kemasyarakatan sangat penting dalam penyusunan, penerapan dan

pengkajian ulang semua kebijakan dan program kesehatan dan sosial.

       Kesehatan terutama ditentukan oleh lingkungan sosial, ekonomi dan

politik,   dan   seharusnya,   bersama-sama   dengan    pembangunan     yang

berkesinambungan dan merata, menjadi prioritas utama dalam pengambilan

kebijakan daerah, negara, maupun internasional.      Untuk mengatasi krisis

kesehatan dunia, kita perlu mengambil langkah-langkah pada setiap tingkatan –

perorangan, wilayah, nasional, regional dan global – dan di setiap sektor.

Tuntutan di bawah ini menjadi dasar untuk mengambil tindakan (Firda,

2003:24)
                                                                           30

      Pelayanan kesehatan pada dasarnya merupakan program Departemen

Kesehatan, yang memberi kontribusi besar terhadap derajat kesehatan

meskipun masih di bawah faktor perilaku dan lingkungan. Program-program

tersebut harus lebih ditajamkan. Faktor perilaku yang memberikan kontribusi

besar dalam meningkatkan derajat kesehatan justru belum diupayakan secara

intensif. Perilaku yang bertentangan dengan norma kesehatan lebih diakibatkan

oleh budaya masyarakat yang telah berakar selama berabad-abad. Pendidikan

formal tidak banyak bermanfaat untuk mengubah perilaku masyarakat.

Demikian juga program kesehatan yang bersifat sentralisasi. Masyarakat hanya

akan berperan aktif jika penyebab perilaku digali secara mendalam melalui

penelitian antropologi kesehatan atau etnografi. Perilaku sering dianggap

sebagai masalah nonkesehatan meskipun terbukti kontribusinya terhadap

kesehatan sangat besar. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat, diperlukan upaya-upaya untuk mengubah perilaku masyarakat

yang tidak mendukung derajat kesehatan.(Depker RI.,2007)

      Keberhasilan    pembangunan      kesehatan    di   era   desentralisasi,

penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan harus berangkat dari masalah dan

potensi spesifik masing-masing daerah dan berlangsung secara profesional,

meliputi a) Konsolidasi manajemen sumber daya manusia, b) Penguatan aspek-

aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, semangat pengabdian, dan kode etik

profesi, c) Penguatan konsep profesionalisme kesehatan, dan d) Aliansi

strategis antara profesi kesehatan dengan profesi-profesi lain terkait. Untuk

menilai keberhasilan tersebut ditetapkan standar pelayanan minimal (SPM)
                                                                             31

   bidang kesehatan di kabupaten/kota. Dengan SPM ini diharapkan pelayanan

   kesehatan yang paling mendasar dan esensial dapat dipenuhi pada tingkat yang

   paling minimal secara nasional.(Depkes RI. 2007)

2.8. Pengertian Rumah Sakit

          Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga media

   profesional yang terorganisasi serta sarana kedokteran yang permanen

   menyelenggarakan     pelayanan    kedokteran,     asuhan   keperawatan   yang

   berkesinambungan, diagnosa serta pengobatan penyakit yang diderita oleh

   pasien (Sujudi dan Sumartini, 1996 : 12)

          Soejadi (1996 : 254) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan

   rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan

   yang bersifat dasar, spesialistik, dan sub spesialistik dimana pelayanan

   kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitian diselenggarakan.

          Silalahi, (1997 : 14) mengemukakan bahwa rumah sakit adalah sebagai

   satu badan usaha yang tentunya mempunyai misi sama seperti badan usaha

   lainnya.. Yang menjadi produk utama rumah sakit adalah pelayanan medis,

   pembedahan dan pelayanan perawatan orang sakit. Sedangkan sasaran

   utamanya adalah perawatan        dan pengobatan nyawa dan kesehatan para

   penderita. Dan fungsi rumah sakit kini telah berkembang ke arah kesatuan

   pelayanan yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif,

   pendidikan dan penelitian yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dan

   profesional.Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, rumah sakit di

   Indonesia dibedakan atas 2 (dua) macam, yaitu :
                                                                             32

1. Rumah sakit pemerintah (Pusat dan daerah)

2. Rumah sakit swasta

Dan jika ditinjau dari kemampuan dimiliki, dibedakan atas 5 (lima) macam,

yakni

1. Kelas A :     Yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan

                 subspesialis luas dan ditetapkan sebagai tempat pelayanan

                 rujukan tertinggi atau disebut sebagai rumah sakit pusat.

2. Kelas B :     Yang mampu memberikan pelayanan spesialis dan subspesialis

                 terbatas, dan penampung pelayanan rujukan dari rumah sakit

                 Kabupaten.

3. Kelas C :     Yang mampu memberikan pelayanan spesialis terbatas yakni

                 penyakit dalam, pelayanan bedah, pelayanan kesehatan anak

                 serta pelayanan kebidanan dan kandungan

4. Kelas D :     Merupakan rumah sakit yang bersifat transisi karena pada

                 suatu saat akan ditingkatkan menjadi kelas C, rumah sakit

                 kelas D ini menampung pelayanan rujukan yang berasal dari

                 puskesmas.

5. Kelas E :     Yakni rumah sakit khusus yang menyelenggarakan hanya satu

                 macam pelayanan kedokteran hanya satu macam pelayanan

                 kedokteran saja.

        James R Marzof (2002 : 28) mengemukakan bahwa penyedia pelayanan

kesehatan, termasuk rumah sakit, tidak diijinkan        untuk mempromosikan

pelayanan kesehatan yang ditawarkan secara langsung. Rujukan dari klinik
                                                                                  33

  swasta atau fasilitas pemerintah adalah sumber pasien yang utama. Tidak jarang

  spesialis yang bekerja di fasilitas pemerintah dan swasta merujuk pasien yang

  mampu membayar ke fasilitas swasta, di mana mereka mungkin akan dilayani

  oleh dokter yang sama. Biaya     “kunjungan” spesialis ini biasanya ditentukan

  oleh spesialis itu sendiri dengan sedikit masukan dari manajemen rumah sakit.


2.9 Kerangka Pikir

          Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka merupakan salah satu

   sarana kesehatan milik pemerintah yang menjalankan aktivitasnya untuk

   melayani kesehatan masyarakat. Para medis merupakan tenaga penggerak yang

   digunakan oleh setiap rumah sakit untuk melaksanaan pekerjaan medis guna

   melayani masyarakat yang berobat penyakitnya atau masyarakat yang

   menginap akibat menderita penyakit yang serius serta masyarakat lainnya yang

   menggunakan jasa medis para Rumah Sakit Daerah Kabupaten Kolaka untuk

   memenuhi kebutuhannya.

          Pelayanan rawat inap pada rumah sakit tersebut menjadi salah satu

   bentuk pelayanan rumah sakit guna melayani pasien. Selain itu sistem

   manajemen yang digunakan dalam pelayanan tersebut termasuk, sehingga

   untuk menganalisis penelitian ini digunakan analisis skala likert untuk

   mengukur tanggapan        responden terhadap sistem informasi manajemen

   keuangan dalam memberikan pelayanan pasien rawat inap pada Rumah Sakit

   Umum Daerah Kabupaten Kolaka.
                                                                             34

              Sistem tersebu diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada pasien

      dan keluarga pasien dalam melakukan pembayaran terhadap biaya perawatan

      selama berada di rumah sakit. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan

      analisis deskriptif untuk menjelaskan sistem informasi manajemen keuangan

      terhadap pelayanan pasien rawat inap pada Rumah Sakit Umum Daerah

      Kabupaten Kolaka. Dengan demikian diperoleh kesimpulan dan rekomendasi

      tentang sistem informasi manajemen keuangan rumah sakit umum daerah

      Kabupaten Kolaka.

                                    Skema 1
                                  Kerangka Pikir

                            Rumah Sakit Umum Daerah
                               Kabupaten Kolaka


                               PELAYANAN PASIEN



Pelayanan Rawat Inap                                          Manajemen
1. Tarif Kamar                     Sistem Informasi
2. Lama Perawatan                     Manajemen               Rumah Sakit
3. Jasa Medis                          Keuangan




                                  ALAT ANALISIS
                                  Analisis Deskriptif




                           Kesimpulan dan Rekomendasi
                                                                                35

                                    BAB III

                            METODE PENELITIAN


3.1. Obyek Penelitian

            Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten

    Kolaka dengan obyek penelitian pada penggunaan sistem informasi manajemen

    keuangan dalam pelayanan kesehatan.

3.2. Jenis Data dan Sumber Data

3.2.1. Jenis Data

            Data berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi data kualitatif dan

    kuantitatif (Sugiyono, 2006).

    1.   Data kualitatif dalam penelitian ini adalah data berupa keterangan,

         informasi, penjelasan sehubungan dengan tujuan penelitian.

    2.   Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data berupa angka seperti

         jumlah pasien, tarif dan jumlah tenaga medis dalam pelayanan kesehatan

         pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka.

3.2.2. Sumber Data

            Data menurut sumber dibedakan atas data primer dan data sekunder

    (Sugiyono, 2006)

    1. Data primer adalah data yang bersumber langsung dari obyek penelitian

         yang mencakup pelayanan kesehatan, pelayanan pasien dan data lainnya

    2. Data sekunder adalah data yang bersumber dari laporan, literatur dan

         dokumentasi dan data lainnya yang berhubungan dengan lainnya.
                                                                          36

3.3. Populasi dan Sampel

              Populasi   dalam penelitian ini adalah keseluruhan pasien yang

   menggunakan jasa Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka. Penentuan

   sampel penelitian dengan menggunakan teknik accidental yaitu pengumpulan

   data secara kebetulan terhadap 50 orang pasien dan keluarga yang

   menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka

   Dalam 5 Bulan Teraakhir.


3.4. Metode Pengumpulan Data

          Metode yang digunakan untuk pengumpulan data-data yang dibutuhkan

   adalah :

   1. Kuisioner yaitu mengadakan pengumpulan data dengan menggunakan

      angket pertanyaan yang disajikan kepada masing-masing responden.

   2. Interview yaitu mengadakan wawancara langsung dengan pimpinan dan

      karyawan serta pasien pada setiap bagian yang ada pada Rumah Sakit

      Umum Daerah Kabupaten Kolaka.

   3. Dokumentasi yaitu menganalisa data-data yang ada relevansi dengan

      penelitian ini yang telah didokumentasikan pada Rumah Sakit Umum

      Daerah Kabupaten Kolaka.


3.5. Metode Pengolahan Data

              Setelah data dikumpulkan, maka data dapat diperoleh di lapangan

   sebagai berikut :
                                                                                37

   a. Tabulasi data adalah melaksanakan pengelompokkan data berdasarkan

       variabel yang diteliti sehingga dapat berhubungan fungsional data dengan

       interprestasi data yang dilakukan.

   b. Seleksi data adalah melakukan identifikasi dan selektifitas semua data yang

       telah terkumpul dari hasil penelitian untuk dimasukkan ke dalam tabulasi

       data, sehingga mempunyai hubungan antara data dengan obyek penelitian

       data.

   c. Analisis data adalah melaksanakan analisa sebuah obyek penelitian biak

       yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif berdasarkan alat ukur penelitian

       yang telah ditetapkan atau yang terjadi pemunculan alat analisis berdasarkan

       perkembangan data.

   d. Interprestasi adalah membuat argumen atau redaksional data berdasarkan

       hasil analisa data yang telah dilaksanakan, sehingga menghasilkan suatu

       definisi ilmiah.


3.6. Peralatan Analisis

        Untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini,

    maka       digunakan analisis deskriptif untuk menjelaskan sistem informasi

    manajemen keuangan yang digunakan dalam pelayanan pasien rawat inap pada

    Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kolaka.


3.7. Definisi Operasional Variabel

           Adapun definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian

    ini adalah sebagai berikut :
                                                                               38

a.   Rumah sakit adalah tempat pelayanan medis, pembedahan, dan pelayanan

     perawatan orang sakit yang sasaran utamanya adalah pengobatan dan

     perawatan kesehatan para pasien.

b. Pasien adalah orang sakit, dimana orang tersebut membutuhkan perawatan

     orang lain

     Pasien terdiri dari :

     1. Pasien rawat inap, yaitu pasien yang berdasarkan indikasi medik

         fisiologinya membutuhkan fasilitas perawatan secara intensif di rumah

         sakit dalam waktu lebih 24 jam.

     2. Pasien rawat jalan yaitu pasien yang berdasarkan indikasi medik tidak

         membutuhkan fasilitas perawatan secara intensif di rumah sakit lebih

         dari 24 jam.

c. Manajemen rumah sakit adalah pengelolaan kegiatan rumah sakit termasuk

     dalam pengelolaan keuangan rumah sakit

d. Pelayanan pasien adalah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan

     perawatan dan pengobatan kepada pasien yang dilakukan pada rumah sakit

     umum daerah Kabupaten Kolaka.

e. Fasilitas pelayanan merupakan sarana/prasarana yang berkaitan langsung

     dengan kebutuhan pasien baik dari segi kualitasnya maupun kuantitasnya.

								
To top