Docstoc

interelasi budaya jawa dan islam dalam bidang politik

Document Sample
interelasi budaya jawa dan islam dalam bidang politik Powered By Docstoc
					INTERELASI BUDAYA JAWA DAN ISLAM DALAM
                 BIDANG POLITIK


                      Makalah
            Disusun Guna Melengkapi Tugas
       Mata Kuliah : Islam dan Kebudayaan Jawa
        Dosen Pengampu : Drs. Anashom, M.Hum




                    Disusun Oleh :
NAMA        :      ABDULLAH KHUSAIRI
NIM         :      083811001




                FAKULTAS TARBIYAH
 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
                    SEMARANG
                        2010



                          1
                     INTERELASI BUDAYA JAWA DAN ISLAM DALAM
                                           BIDANG POLITIK
I.         PENDAHULUAN
                    Masuk dan berkembangnya islam di Indonesia memiliki mata rantai yang
           sangat panjang dan berliku begitu pula yang terjadi di jawa. Orang jawa adalah
           orang yang religius, sejarah membuktikan bahwa sejak sebelum islam dating
           kejawa mereka sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap agama. Hamper
           setiap kerajaan meninggalkan tempat-tempat pemujaan, misalnya candi-candi bagi
           umat hindu dan masjid-masjid bagi umat islam Masyarakat jawa juga mengalami
           perubahan struktur yang mana perubahan itu dibagi menjadi empat tingkatan yaitu
           para raja, bupati, kepala desa dan rakyat jelata.1
                    Raja mempunyai kedudukan yang tertinggi,raja berkuasa karena ia
           dianugerahi wahyu kedaton (wahyu khusus bagi calon raja) oleh Tuhan yang
           dinyatakan dalam bentuk cahaya. Hal inilah yang kemudian menyebabkan orang
           jawa memilih pemimpin bukan atas dasar pilihan rasional tetapi emosional. Oleh
           karena itu charisma lebih penting dari pada kemampuan dalam memimpin. Wajar
           jika pemimpin kharismatik lebih disukai dari pada pemimpin yang rasional. 2


II.        RUMUSAN MASALAH
       A. Bagaimana Proses Kedatangan Islam Dan Pengaruhnya Terhadap Politik ?
       B. Bagaimana Budaya Politik Jawa ?
       C. Bagaimana Interelasi Politik Jawa Dengan Islam ?


III.       PEMABAHASAN
           A.    Proses Kedatangan Islam Dan Pengarunya Terhadap Politik
                        Sebagaimana yang ditulis oleh Frans Magnis Suseno menulis bahwa
                 waktu marcopolo dengan ayah serta pamannya tinggal bebrapa bulan


1
    HM Darori Amin, Islam Dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000 hlm 214

2
 DH Burger, Perubahan-Perubahan Struktur Dalam Masyarakat Jawa , Bhatara Karya Aksara, Jakarta,
1983 hlm 11



                                                       2
                disumateera utara utusan kubali khan pada tahun 1292, ia mencatat bahwa
                sebuah kota pesisir yang bernama Perlak baru saja memeluk agama Islam.
                Pada tahun 1414 kerajaan Malaka yang didirikan dipantai barat Malaya pada
                abad XIV masuk agama Islam. Kesultanan Malaka menjadi pusat penyebaran
                agama Islam sampai direbut oleh kaum portugis pada tahun 1551. peddagang-
                pedagang dari Arab dan Gujarat juga orang jawa yang berkedudukan di
                Malaka , membawa agama Islam kekota-kota pelabuhan pantai utara pulau
                jawa. Makam muslim pertama dijawa berasal dari tahun 1419. pada saat yang
                sama kekuasaan majapahit semakin merosot. Penguasa-penguasaa kota pesisir
                utara seperti Cirebon, Tuban, Jepara, Gresik dan kemudian Madiun di
                pedalaman Memeluk Agama Islam. 3
                      Agama Islam tanpa kegoncangan-kegoncangan besar dapat diterima dan
                diintegrasikan kedalam pola budaya, sosial, dan politik yang sudah ada.
                Kepercayaan baru mendapat pewaris-pewaris penting dalam diri kyai-kyai
                dari kaum Ulama. Mereka mempertahankan sebagian besar kebudayaan hindu
                jawa (dalam tradisi jawa pewarta-pewarta agama islam, para wali, bahkan
                sebagian dianggap sebagai penemu wayang dan gamelan) dan ciri agama
                islam mencocokkannya tanpa kesulitan kedalam pandangan dunia jawa
                tradisional. Dari proses integrasi itu lahirlah kebudayaan santri jawa,
                kebudayaan itu semula terbatas pada kota-kota utara jawa,tetapi lama
                kelamaan melalui pedagang-pedagang juga mulai berakar dalam kota-kota
                lain dan akhirnya juga dibeberapa daerah pedalaman jawa.
                      Pada akhir abad XVIII hampir seluruh pulau jawa secara resmi
                beragama islam, tetapi dengan intensitas yang berbeda. Pusat ialam yang
                paling besar adalah kota-kota pesisir utara, disitulah titik berat kebudayaan
                santri.juga dalam semua kota dipedalaman jawa terdapat kampung-kampung
                santri . kebudayaan santri tersebut berhadapan dengan kebudayaan keraton
                dan pedalaman jawa. Walaupun keraton secara resmi memeluk agama islam,
                tetapi dalam gaya kehidupan pengaruh tradisi hindu-jawa lebih menonjol.

3
  Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijakan Hidup Jawa, Gramedia Pustaka Utama
,Jakarta, 1993 hlm 31-37




                                                       3
                  Kerato-keraton itu menjadi pusat kebudayaan jawa klasik dengan tari-tarian
                  dan pertunjukkan wayang dengan gamelan dan dengan ritual keagamaan yang
                  memang diadakan pada hari-hari raya islam besar. Tetapi yang isinya berasal
                  dari zaman hindu-jawa. Agama islam dianggap sebagai salah satu persiapan
                  untuk memperoleh kesatuan yang ilahi dan apabila kesatuan itu telah tercapai,
                  bentuk persiapan itu dianggap tidak begitu penting lagi. Di keraton-keraton
                  khususnya di surakarta berkembanglah kesusastraan mistik yang sangat
                  dipengaruhi oleh mistik Islam4
           B.     Budaya Politik Jawa
                         Yahya muhaimin dalam tulisannya “persoalan budaya politik Indonesia”
                  mengutarakan     tentang   sikap-sikap   masyarakat    jawa    terkait   dengan
                  pelaksanaan politik di Indonesia. Adapun sikap-sikap itu antara lain :
                    1. Konsep Halus
                    masyarakat jawa cenderung untuk menghindarkan diri atau untuk tidak
                    berada pada situasi konflik dengan pihak lain dan bersamaan dengan itu
                    mereka juga cenderung selalu mudah tersinggung. Konsep ini telah
                    ditanamkan secara intensif dalam masyarakat jawa sejak masa kanak-kanak.
                    Hal tersebut bertujuan membentuk pola “tindak-tanduk yang wajar” yang
                    perwujudannya berupa pengekangan emosi dan pembatasan antusiasme
                    serta ambisi. Menyakiti dan menyinggung orang lain dipandang sebagai
                    tindakan kasar. Orang jawa mempunyai kesulitan untuk berlaku terus terang.
                    Ini terjadi karena ia ingin selalu menyeimbangkan penampilan lahiriyah
                    dengan suasana batiniyah sedemikian rupa sehingga dianggap tidak kasar
                    dan tidak mengganggu pihak lain.
                    2. Menjunjung Tinggi Ketenangan Sikap
                    pola ini merupakan pencerminan kehalusan jiwa yang diwujudkan dengan
                    pengendalian dan pengekangan diri. Pribadi yang berwibawa adalah pribadi
                    yang tenang, tidak banyak tingkah dank arena tidak akan selalu mulai
                    melakukan manufer. Tindakan dan tingkah laku akan mengakibatkan resiko

4
    Darori Amin, Op cit hlm 209




                                                   4
                    tertentu yang tidak baik bila tindakan tersebut tidak didasarkan pada
                    pemikiran jiwa, ketidaktulusan, dan penuh emosi.
                    Pola ini mengindikasikan bahwa masyarakat jawa menganggap orang yang
                    berwibawa adalah orang yang memiliki status tertentu sehingga orang yang
                    memiliki status tertentu merupakan obyek loyalitas dan kepatuhan pada
                    orang jawa agar kelihatan lebih penting menghargai symbol daripada
                    substansi dan menghargai status daripada fungsi seseorang.
                    3. Konsep Kebersamaan
                    Dalam kebudayaan jawa, kebersamaan ini secara operasional tidak sekedar
                    diaktualisasikan dalam aspek yang materialistis, tapi juga dalam aspek yang
                    non-materialistis atau yang menyangkut dimensi moral. 5
           C.       Interelasi Politik Jawa Dengan Islam
                        Simbol sinkretisme politik jawa islam tampak mencolok pada gelar-
                  gelar raja di jawa islam seperti gelar Sultan, Kalifatullah Sayyidin
                  Panatagama, Tetunggul Khalifatul Mu’minin, Susuhunan dan sebagainya.
                  Gelar ratu tetunggul Khalifatullah dipakai oleh sunan Giri ketika menjadi raja
                  padda masa transisi antara dari kerajaan Majapahit ke kerajaan islam demak.
                  Sunan Giri berkuasa dalam keadaan vakum. Pada masa ini tidak ada pimpinan
                  yang berdaulat , baik dari raja hindu maupun islam . kerajaan Majapahit yang
                  hindu telah runtuh sedangakan kerajaan islam yang nantinya kerajaan Islam
                  Demak belum berdiri. Sunan Giri hanya berkuasa dalam waktu empat puluh
                  hari pasca keruntuhan Majapahit tahun 1478 M oleh serangan seorang raja
                  Grinderawardhana dan Keling Kediri. Setelah masa peralihan (40) hari ini,
                  Sunan Giri menyerahkan kedaulatan kepadda raja islam yang permanent yaitu
                  Raden Fatah. Dialah raja kerajaan Islam Demak6
                        Ketika Sunan Giri hanya mengantarkan keadaan transisi menuju
                  berdirinya kerajaan Islam Demak. Buktinya dia hanya berkuasa 40 hari,


5
  http://grelovejogja.wordpress.com/2007/07/24/dominasi-kebudayaan-jawa-dalam -penerapan-politik-
indonesia/

6
    Darori Amin, Op cit hlm 209




                                                   5
                  setelah keadaan mapan kekuasaan diberikan kepada Raden Fatah yang masih
                  keturunan raja Brawijaya Kertabumi. Jadi jika kemudian para wali yang suci
                  tampil sebagai penguasa Negara atau pemimpin politik itu hanya bermotifkan
                  Yekti Mung Amrih Ayu bukan tujuan dan tugas pokok mereka. Sebagai mana
                  nabi Muhammad menjadi kepala Negara disamping menjadi Rasul.tugas
                  wajib beliau adalah menyampaikan risalah bukan pemimpin politik adapun
                  kalau kemudian beliau diangkat sebagai pemimpin Negara adalah karena
                  kemampuan beliau dalam memimpin diakui oleh umat, baik muslim maupun
                  non muslim ketika itu
                         Simbol sinkrtitisme politik islam jawa juga terdapat pada raja-raja jawa
                  yang dipegang Sri Sultan Hamengkubuwono, istilah sultan dari bahasa arab
                  Sulthan yang berarti raja atau penguasa menjadi istilah dalam kerajaan-
                  kerajaan islam diarab padda masa lalu. Sri Sultan Hamengkubuwono selain
                  sebagai raja ( kekuasaan politik ) juga sebagai Sayyidin Panatagama
                  (pemimpin agama). Dengan demikian raja yogya juga Islam karena tidak
                  mungkin non islam menjadi Sayyidin Panatagama, sebab yang dimaksud
                  dengan Sayyidin Panatagama disini adalah panatagama untuk islam . inilah
                  strategi pollitik jitu dari para pendahulu kita. Suatu proses islamisasi dengan
                  cara yang amat arif, cultural, walaupun sinkretis7


IV.        PENUTUP
                    Demikian makalah ini kami buat. Kami yakin bahwa makalah ini masih jauh
           dari kesempurnaan. Untuk itu kami mohon saran dan kritik yang membangun demi
           kesempurnaan makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
           semua. Amien.




7
    Darori Amin,, HM, Op.Cit, hlm 216-219




                                                   6
                             DAFTAR PUSTAKA


 Amin, Darori, HM., Islam Dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000
 Burger, DH , Perubahan-Perubahan Struktur Dalam Masyarakat Jawa , Bhatara
   Karya Aksara, Jakarta, 1983
 Magnis Suseno, Franz , Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijakan
   Hidup Jawa, Gramedia Pustaka Utama ,Jakarta, 1993
 http://grelovejogja.wordpress.com/2007/07/24/dominasi-kebudayaan-jawa-dalam -
   penerapan-politik-indonesia/




                                     7

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:935
posted:3/6/2011
language:Indonesian
pages:7