Docstoc

Permainan anak-anak Aceh

Document Sample
Permainan anak-anak Aceh Powered By Docstoc
					c

1115

           PERMAINAN ANAK-ANAK
           D A E R A H ISTIMEWA A C E H




       DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN K E B U D A Y A A N
                                                 Milik Depdikbud
                                               Tidak diperdagangkan




PERMAINAN ANAK-ANAK
D A E R A H ISTIMEWA A C E H




  DEPARTEMEN PENDIDIKAN D A N K E B U D A Y A A N
   P R O Y E K INVENTARISASI D A N D O K U M E N T A S I
                 KEBUDAYAAN DAERAH
                    J A K A R T A 1985
                       PENGANTAR

    Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah,
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Ke-
budayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah meng-
hasilkan beberapa macam naskah kebudayaan daerah diantaranya
ialah naskah Permainan anak-anak Daerah Istimewa Aceh Tahun
 1981/1982.
    Kami menyadari bahwa naskah ini belumlah merupakan suatu
hasil peneütian yang mendalam, tetapi baru pada tahap pencatatan,
yang diharapkan dapat disempurnakan pada waktu-waktu selanjut-
nya.
    Berhasilnya usaha ini berkat kerjasama yang baik antara Di-
rektorat Sejarah dan Nilai Tradisional dengan Pimpinan dan Staf
Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pemerin-
tah Daerah, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudaya-
an, Perguruan Tinggi, Leknas/LIPI dan tenaga akhli perorangan di
daerah.

   Oleh karena itu dengan selesainya naskah ini, maka kepada se-
mua pihak yang tersebut diatas kami menyampaikan penghargaan
dan terima kasih.
    Demikian pula kepada tim penulis naskah ini di daerah yang ter-
diri dari Drs. Zainudin.Drs. Zakaria A , M . Saüm Wahab, Drs. Nasru-
din Sulaiman, Drs. T. Alamsyah, Drs. Rusdi Sufi dan tim penyem-
purna naskah di pusat yang terdiri dari Dr. S.Budisantoso,Drs. H.Ah-
mad Yunus, Dra. Tatiek Kartikasari.

    Harapan kami, terbitan ini ada manfaatnya.


                                       Jakarta, Pebruari 1985
                                         Pemimpin Proyek,




                                       Drs. H . Ahmad Yunus
                                         NIP.130146112


                                                                    iii
      SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN
       DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

    Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Ke-
budayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam tahun
tahun anggaran ,1981/1982 telah berhasil menyusun naskah Per-
mainan Anak-anak Daerah Istimewa Aceh.
    Selesainya naskah ini disebabkan adanya kerjasama yang baik
dari semua pihak di pusat maupun di daerah, terutama dari pihak
Perguruan Tinggi, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Pemerintah Daerah serta Lembaga Pemerintah/Swasta
yang ada hubungannya.
    Naskah ini adalah suatu usaha permulaan dan masih merupakan
tahap pencatatan, yang dapat disempurnakan pada waktu yang
akan datang.
   Usaha menggali, menyelamatkan, memelihara serta mengembang-
kan warisan budaya bangsa seperti yang disusun dalam naskah ini
masih dirasakan sangat kurang, terutama dalam penerbitan.
    Oleh karena itu saya mengharapkan bahwa dengan terbitan
naskah ini akan merupakan sarana penelitian dan kepustakaan yang
tidak sedikit artinya bagi kepentingan pembangunan bangsa dan
negara khususnya pembangunan kebudayaan.
   Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu suksesnya proyek pembangunan ini.

                                     Jakarta, Pebruari 1985.
                                 Direktur Jenderal Kebudayaan,




                                    Prof. Dr. Haryati Soebadio
                                        NIP. 130 1 19 123.




                                                                   v
                          DAFTAR ISI


                                       Halaman
Kata Pengantar                              iii
Sambutan                                     v
Daftar Isi                                  vü
Pendahuluan                                  1
 1. Kapai-Kapai Inggreh                       8
 2. Makah-makah                             13
 3. P e p i l o                             17
 4. Kekuriken                               21
 5. Asak-asakan                             25
 6. Kis-kisen                               31
 7. Jangut Ngkurik                          35
 8. Meu Geunteut-Geunteut                   39
 9. Ghieng-Ghieng Asee                      43
10. Meu Een Aceue                           47
11. Meu Creek                               52
12. Meu Som-som Aneuk                       59
13. PehKayee                                66
14. Meu Som-som Talo                        75
15. Meuen Geuti                             80
16. Mesen-mesen                             88
17. Meupet-pet Nyet                         93
18. Meuen K o m                             98
19. Meu Een Kandang                        105




                                              vii
                        PEN D A H U L U AN

     Tujuan Penelitian. Seperti telah diutarakan pada b u k u Permainan
Rakyat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1980/1981
bahwa permainan rakyat yang merupakan salah satu unsur kebudaya-
an telah turut memberikan peranan dalam pembinaan hidup sesuatu
bangsa. Dalam sejarah umat manusia tertulis bahwa setiap bangsa
mempunyai corak kebudayaan yang khas. Demikian pula halnya de-
ngn kehidupan kebudayaan bangsa Indonesia yang beraneka ragam
karena kebudayaan nasional Indonesia berasal dari kebudayaan dae-
rah. Dari sekian banyak kebudayaan yang bersifat khas daerah, ter-
dapatlah kebudayaan yang berasal dari Propinsi Daerah Istimewa
Aceh.
     Propinsi Daerah Istimewa A c e h m e m p u n y a i unsur-unsur kebuda-
yaan yang khas, d i antaranya permainan anak-anak. Permainan yang
terdapat d i daerah i n i merupakan khasanah budaya yang telah mere-
ka terima dari generasi sebelumnya. H a l i n i merupakan salah satu sa-
rana sosialisasi dari anggota masyarakat yang menjadi pendukungnya.
Karena itu, permainan anak-anak mempunyai arti dan kebudayaan
tersendiri di dalam masyarakat.
     Bertitik tolak dari konsepsi yang telah disebutkan i t u , maka in-
ventarisasi permainan anak-anak mempunyai tujuan yang bersifat
umum dan khusus. Tujuan u m u m dapat dikatakan sebagai langkah
permulaan untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi yang
berhubungan dengan permainan anak-anak d i daerah A c e h . Informasi
ini akan memberikan bahan bagi pihak-pihak yang membutuhkan da-
lam penyusunan baik instansi pemerintah maupun lembaga kemasya-
rakatan lain yang memerlukannya. Tujuan khusus akan berguna se-
bagai bahan dokumentasi dalam rangka kegiatan penelitian kebuda-
yaan d i daerah i n i sécara menyeluruh. Dalam menyusun laporan in-
ventarisasi dan pencatatan permainan i n i , data yang disajikan tentu
saja belum sempurna. Karena i t u , hasil d.ari inventarisasi dan penca-
tatan i n i diharapkan akan menjadi bahan rangsangan bagi obyek pe-
 nelitian selanjutnya.
     Seperti telah dibicarakan d i atas bahwa permainan anak-anak dae-
rah yang terdapat d i Daerah Istimewa A c e h adalah sebagai salah satu
unsur kebudayaan nasional yang dapat memberikan andil dalam me-
m u p u k kebudayaan nasional d i kalangan generasi penerus. Dari tin-
jauan i n i pula inventarisasi dan pencatatan i n i mutlak diperlukan.

                                                                          1
Kalau tidak dilaksanakan atau ditunda pelaksanaannya, tentu genera-
si muda Indonesia pada u m u m n y a dan A c e h pada khususnya tidak
dapat mengetahui nilai yang terkandung d i dalamnya. Dikhawatirkan
permainan anak-anak yang bersifat khas daerah dan tradisional,
oleh desakan, akan punah. D i sinilah letak urgensinya inventarisasi
dan pencatatan i n i . Dengan pencatatan i n i , diharapkan generasi muda
yang akan datang dapat mengetahui bagaimana generasi yang lalu
mengembangkan permainan yang khas. Melalui permainan i n i dapat
dikembangkan dan dibina nilai-nilai luhur yang terkandung d i dalam-
nya sebagai unsur budaya mereka.


     Masalah. Permainan anak-anak sebagai salah satu unsur kebudaya-
an akan tetap ada d i dalam masyarakat. Dalam perkembangannya
sering terjadi perubahan, adakalanya akan lebih berkembang atau j u -
ga mengalami merosotan bahkan sampai kepada kepunahan. N a m u n ,
akan tetap menjadi unsur budaya yang dihayati dari masa ke masa,
terutama nilai-nilai luhur yang terkandung d i dalamnya. Melalui ni-
lai-nilai luhur yang terdapat d i dalamnya, dapat diarahkan menuju
kesatuan bangsa yang lebih utuh.
      Dalam usaha memupuk serta memperdalam persatuan dan kesa-
tuan bangsa, peranan budaya masyarakat di daerah memegang pe-
ranan penting. Penelitian yang mendalam tentang hal-hal yang me-
nyangkut dengan Permainan Anak-anak Propinsi Daerah Istimewa
A c e h mutlak diperlukan. Hal i n i sangat berguna sebagai bahan per-
bandingan yang lebih luas dengan jenis-jenis permainan yang terda-
pat di daerah lain dalam Wilayah Indonesia.

    Melalui masyarakat A c e h melalui kebudayaan termasuk permain-
an anak-anak d i dalamnya, akan tampak adanya perbedaan-perbeda-
an dari masing-masing lingkungan yang m e m p u n y a i adat istiadat dan
kebiasaan hidup yang berbeda.

     Wilayah Propinsi Daerah Istimewa A c e h mempunyai tujuh daerah
adat, yaitu adat istiadat A c e h , adat istiadat A n e u k Jamee d i Kabupa-
ten A c e h Selatan, adat istiadat Tamiang d i Kabupaten A c e h T i m u r ,
adat istiadat G a y o di Kabupaten A c e h Tengah dan Tenggara, adat
istiadat Simeulu d i Kabupaten A c e h Barat, dan adat istiadat K l u e t d i
Kabupaten A c e h Selatan. Masing-masing wilayah adat i n i terdapat
pelbagai jenis permainan yang berbeda, d i samping permainan yang
universal berlaku d i seluruh Daerah A c e h .


2
     Inventarisasi dan pencatatan ini telah dipilih permainan anak-
 anak yang dapat mewakili masing-masing daerah adat.
     Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa permainan
anak-anak yang terdapat di Daerah Aceh, lebih banyak merupakan
atau bersifat rekreatif, juga berfungsi memberikan hiburan segar ke-
pada masyarakat pada waktu tertentu. Selain itu, masih dijumpai
pula jenis-jenis permainan yang bersifat kompetatif, termasuk jenis
permainan kecerdasan (Games of Strategy), walaupun jumlahnya le-
bih kecil dibandingkan jenis pertama.
     Mengingat perkembangannya dewasa ini bahwa di antara bebe-
rapa jenis permainan di daerah ini telah agak merosot bahkan hampir
punah. Hal ini karena tidak digemari lagi oleh para pemiliknya,
bahkan ada yang tidak merasa lagi bahwa permainan ini adalah milik
mereka, atau karena desakan jenis-jenis permainan yang diperkenal-
kan kemudian. Tidak dapat disangkal lagi, apabila tidak dilakukan
usaha-usaha untuk penyelamatannya, dalam waktu yang tidak lama
di antara jenis-jenis permainan akan sirna dari peredarannya.
    Berdasarkan pokok-pokok masalahyang telah dikemukakan di
atas, maka perlu adanya inventarisasi dan pencatatan permainan
anak-anak daerah di Daerah Istimewa Aceh secara lebih luas. Dengan
demikian diharapkan adanya pengertian yang lebih luas tentang per-
mainan rakyat di daerah ini, baik yang berfungsi sebagai hiburan di
waktu senggang maupun sebagai sarana sosialisasi bagi generasi muda
dan tua.

    Ruang Lingkup. Permainan anak-anak daerah yang menjadi
obyek inventarisasi dan pencatatan serta penulisan ini adalah per-
mainan rakyat yang terdapat di dalam wilayah administratif yang se-
karang disebut Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Permainan yang di-
ambil adalah permainan tradisional asli. Permainan yang berasal dari
daerah lain tidak dimasukkan.
    Propinsi Daerah Istimewa Aceh secara struktur pemerintahan
terbagi atas dua Kotamadya dan delapan Kabupaten, yaitu Kota-
madya Banda Aceh, Kotamadya Sabang yang terletak di pulau Weh,
Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Te-
ngah, Aceh Tenggara, Aceh Barat, dan Aceh Selatan. Dari kesepuluh
daerah yang berstatus tingkat II ini, jika dilihat secara daerah adat
akan terdapat tujuh daerah adat seperti telah disebutkan terdahulu.
Ketujuh daerah adat ini masing-masing mempunyai bahasa dan dialek
tersendiri yang dipergunakan sebagai alat komunikasi warga masya-

                                                                   3
rakatnya. Namun, harus diingat bahwa antara daerah-daerah adat ini
saling mempengaruhi, kadang-kadang banyak terdapat persamaan di
antaranya seperti adat istiadat Gayo dengan Alas. Terjadinya perbe-
daan di antara adat istiadat ini disebabkan oleh faktor kondisi dan
latar belakang sejarahnya.
     Dari kesepuluh daerah tingkat II dan atau ketujuh daerah adat
seperti yang telah disebutkan telah diusahakan untuk mengambil per-
mainan anak-anak yang dapat mewakili masing-masing daerah.
    Selanjutnya dalam inventarisasi dan pencatatan ini telah meneliti
semua jenis permainan anak-anak yang terdapat di daerah ini. Dari
hasil inventarisasi menunjukkan terdapatnya jenis-jenis permainan
anak-anak yang berfungsi sebagai hiburan pada waktu senggang
atau sebagai sarana sosialisasi.
    Melihat dari jenis dan bentuk permainan yang terdapat di Daerah
Istimewa Aceh, terdapat pelbagai jenis latar belakang sosial yang
menjadi pendukungnya. Hal ini erat hubungannya antara lingkungan
sosial masyarakat dengan permainan itu karena ada jenis permainan
yang hanya didukung oleh satu lapisan masyarakat, dan sebaliknya
ada permainan yang didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sesuai dengan perkembangan sejarahnya, masyarakat Aceh sejak
dahulu sampai sekarang yang bermata-pencahariannya bertani, de-
ngan sendirinya permainan-permainan yang terdapat selalu didukung
oleh lapisan sosial ini.
    Dalam inventarisasi ini selain jenis-jenis permainan anak-anak
daerah, juga keharusan adanya pendiskripsian guna memberikan
suatu gambaran secara keseluruhan. Deskripsi tiap jenis permainan
yang diambil meliputi :

a.   Nama Permainan
b.   Waktu Pelaksanaan
c.   Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan
d.   Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan
e.   Pemain/Pelaku
f.   Iringan Permainan
g.   Jalan Permainan
h.   Peranan Masa Kini
i.   Tanggapan Masyarakat.

    Urutan ini dipergunakan sebagai sistimatik penyusunan setiap
naskah permainan.

4
     Pertanggungjawaban Ilmiah Prosedur Inventarisasi. Inventarisasi
 dan pencatatan permainan rakyat Daerah Istimewa dilakukan oleh
 tim peneliti yang bertanggung jawab kepada Pimpinan Proyek In-
ventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Propinsi Daerah
 Istimewa Aceh.
     Dalam melakukan inventarisasi ini tim terdiri atas para petugas
 Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi
 Daerah Istimewa Aceh dan Unsyiah Darusalam Banda Aceh. Mereka
 berasal dari pelbagai latar belakang disiplin ilmu seperti olahraga,
 sejarah, dan antropologi. Sebelum mengadakan penelitian, anggota
 tim mendiskusikan materi-materi yang menjadi obyek penelitian.
Atas hasil diskusi ini barulah ditetapkan langkah-langkah penelitian
 sampai penyusunan laporan.
     Dalam melakukan penelitian ini digunakan beberapa metode
 untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan. Salah satu
metode adalah metode kepustakaan sebelum para peneliti terjun
ke lapangan. Pengumpulan bahan melalui kepustakaan sangat ber-
guna bagi peneliti untuk menghindari terjadinya duplikasi dalam
penulisan. Di samping itu, berguna untuk memahami wilayah pene-
litian secara menyeluruh, baik meliputi lingkungan masyarakat ter-
masuk adat istiadat, bahasa yang digunakan, geografis maupun se-
jarah.

     Dalam rangka studi lapangan tim peneliti telah menjelajahi
daerah guna memperoleh informasi yang diperlukan. Untuk ini
telah digunakan teknik pengumpulan data melalui observasi dan
waancara, serta telah melakukan pendokumentasian melalui foto-
foto yang berkenaan dengan jalannya permainan dan alat-alat per-
mainan yang dipakai. Wawancara semata-mata dilakukan dengan
informan-informan yang dianggap lebih mengetahui dan mendalami
atau setidak-tidaknya pernah menjadi pelaku dari permainan terse-
but pada masa mudanya.
     Setelah tahap pertama selesai (studi kepustakaan dan studi la-
pangan) baru mulai dengan tahap kedua. Pada tahap ini para pene-
liti mendiskusikan data-data yang diperoleh di lapangan sebelum
penulisan draft pertama. Melalui diskusi ini diharapkan para peneliti
yang akan menulis naskah permainan akan memperoleh data tam-
bahan untuk kelengkapan tuüsan.
     Tahap ketiga yang dikerjakan anggota tim adalah menulis draft
pertama. Pada langkah ini tiap anggota tim berpedoman pada Pola

                                                                    5
Penelitian, Kerangka Laporan, dan Petunjuk Pelaksanaan yang di-
keluarkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan
Daerah. Di samping itu, anggota tim dalam menulis draft pertama
memperhatikan pula saran-saran yang diketengahkan melalui diskusi
hasil penelitian lapangan. Pekerjaan yang juga dilakukan dalam tahap
ketiga ini, menilai kembali hasil tulisan draft pertama melalui diskusi
pula. Pada diskusi ini lebih diarahkan untuk memperbaiki tulisan-,
tulisan yang dihasilkan oleh anggota tim atau sebagai langkah
rechecking terhadap data-data yang mungkin terlupakan.
    Dalam mendiskripsikan setiap permainan sebagai bentuk naskah
laporan terakhir, telah disesuaikan dengan apa yang terdapat pada
Pola Penelitian, Kerangka Laporan, dan Pedoman Pelaksanaan yang
telah dikeluarkan oleh Proyek Inventarisasi Sejarah dan Budaya, De-
partemen Pendidikan dan Kebudayaan 1980/1981. Bentuk laporan
terakhir adalah sebagai berikut :
    Nama Permainan. Berdasarkan pada penyebutan            masyarakat
setempat.

    Waktu Pelaksanaan. Menjelaskan bila permainan itu dilaksana-
kan serta menjelaskan hubungan setiap permainan dengan peristiwa-
peristiwa tertentu lainnya.

    Latar Belakang Sosial Budaya Permainan. Menjelaskan latar bela-
kang sosial masyarakat yang menjadi pendukung inti setiap permain-
an.

     Latar Belakang Sejarah Perkembangan. Menguraikan tentang
sejarah lahir dan perkembangan setiap permainan berdasarkan infor-
masi yang dikumpulkan.

    Pemain/Pelaku. Diskripsi pemain meliputi jumlah pemain, usia,
latar belakang sosial serta jenis kelaminnya.

   Peralatan/Perlengkapan. Penjelasan tentang alat-alat yang diper-
gunakan sebagai pealatan atau perlengkapan permainan, sehimjga
permainan itu dapat terselenggara.
    Iringan Permainan. Menjelaskan apakah setiap permainan diiringi
oleh alat-alat musik atau tidak.

    Jalannya Permainan. Bagian ini menguraikan jalannya permainan
sejak persiapan, aturan permainan, sampai permainan itu berakhir.

6
   Peranannya Masa Kini. Menjelaskan bagaimana kedudukan suatu
permainan dalam kondisi sekarang.

   Tanggapan Masyarakat. Sebagai penutup dari deskripsi setiap
permainan diutarakan tanggapan masyrakat pada masa lampau dan
masa kini.

    Tim peneliti sekaligus sebagai penulis telah berusaha semaksimal
mungkin agar naskah ini dapat disusun sesempurna mungkin. Namun
harus diakui, tidak semua jenis permainan yang disajikan dapat mem-
berikan kepuasan, mungkin saja ada hal-hal yang belum dapat terung-
kap atau masih ada data yang belum tergarap secara keseluruhan.




                                                                  7
                   1. KAP Al—KAP AI INGGREH
    Nama Permainan. Permainan ini dapat dijumpai di Daerah Isti-
mewa Aceh, terutama pada kelompok etnis Aceh dan kelompok etnis
Aneuk Jame yang berlokasi di bagian Kabupaten Aceh Selatan. Jadi,
lokasi/tempat permainan ini dijumpai selain di bagian pesisir Aceh
(pesisir Utara dan pesisir Timur) juga di pesisir bagian Barat (terma-
suk Kabupaten Aceh Selatan sekarang), yang masing-masing didiami
se bagian kelompok etnis Aceh dan kelompok etnis Aneuk Jame.
    Dilihat dari segi nama, permainan ini menunjukkan keanehan-
nya. Kapai-kapai Inggreh dalam bahasa Indonesia artinya Kapal-
kapal Inggris. Mengapa bernama demikian tim peneliti belum mem-
peroleh suatu data yang kongkrit. Namun, dari suatu adegan yang
terdapat dan merupakan adegan pokok yang harus ada dalam per-
mainan ini untuk sementara dapat dianggap bahwa nama ini berasal
dari nama yang diucapkan dalam adegan pokok tersebut. Adegan
yang dimaksud adalah seperangkat tanya jawab antara para pemain.
Adapun pertanyaan dan jawaban yang harus dilontarkan dalam per-
mainan tersebut adalah sebagai berikut :
        Tanya : Peu kapai nyo?
        Jawab : Kapai Inggreh.
        Tanya : Pei ji peuding?
        Jawab : Ate tapeh.
Pertanyaan dan jawaban tersebut di atas jika diartikan dalam bahasa
Indonesia kira-kira sebagai berikut:
        Tanya : Kapai apa ini?
        Jawab : Kapai Inggris.
        Tanya : Apa muatannya?
        Jawab : Hati sabut kelapa.
Jawaban yang diberikan pada pertanyaan pertama tersebut kata-
kata kapai Inggreh (kapai Inggris). Jadi, mungkin dari nama inilah
yang menjadi dasar nama permainan ini, yaitu Kapai-kapai Inggreh
(Kapal-kapal Inggris).
    Waktu Pelaksanaan. Umumnya permainan ini dilakukan pada
malam hari pada saat bulan purnama, antara pukul 9 sampai pukul
10 malam, bahkan pada saat-saat tertentu atau pada malam-malam
libur (malam Minggu atau malam hari besar lainnya) dilakukan hing-
ga pukul 11 malam. Bila bulan puasa (Ramadhan) dilakukan tidak
hanya pada saat bulan purnama, tetapi setiap malam antara pukul 9
sampai pukul 11 malam.

8
    Biasanya jika bulan pumama serta cuaca tidak mendung, para
orang tua si anak khususnya orang tua perempuan (Ibu) ke luar ru-
mah untuk menumbuk padi, dilakukan baik di bawah rumah mau-
pun di tempat-tempat lain yang khusus untuk itu di dekat rumah,
bersama-sama para tetangga yang juga melakukan pekerjaan serupa.
Pada saat inilah anak-anak (setelah mereka pada malam yang sama
selesai mengaji di Meunasah atau di rumah-rumah Teungku tempat
pengajian) gunakan untuk melakukan permainan ini, yaitu bermain
Kapai-kapai Inggreh.

    Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Sebagaimana
halnya dengan permainan Meusom-som Talo, para pelaku permainan
Kapai-kapai Inggreh umumnya anak para petani. Permainan ini untuk
melatih pendengaran para pemainnya. Mereka harus dapat membeda-
kan dan menentukan pelbagai suara termasuk suara orang. Karena
itu, permainan ini selain bersifat rekreatif juga bersifat edukatif,
yaitu melatih pendengaran.
    Seperti telah disebutkan bahwa permainan ini dilakukan pada
malam hari, pada saat orang tua mereka (Ibu) melakukan pekerjaan
menumbuk padi. Hal ini banyak membawa pengaruh bagi anak-anak
yang melakukan permainan tersebut, yaitu mereka mengerti akan
pekerjaan Ibu-ibu mereka.

    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Seperti telah
disebutkan di atas, bahwa asal nama permainan ini tim peneliti belum
menemukan data-data yang kongkrit, begitu pula dengan sejarah per-
kembangan permainan ini dari masa ke masa belum dapat dipastikan.
Namun, menurut tradisi lisan, permainan ini sudah cukup lama di-
kenal dan cukup popuier dalam masyarakat Aceh, sehingga para
orang tua di kampung-kampung umumnya masih dapat mengucap-
kan kata-kata tanya jawab dalam adegan permainan tersebut. Karena
disebut-sebut nama Inggris, permainan ini dikenal di Aceh sejak rak-
yat Aceh berkenalan dengan bangsa Inggris. Kontak pertama antara
Inggris dengan Aceh terjadi pada permulaan abad XVII dengan da-
tangnya dua buah kapai Inggris ke Kerajaan Aceh pada tahun 1602.

    Pemain/Pelaku. Jumlah pemain untuk permainan ini berkisar
antara 5 sampai 6 orang, dan umumnya berumur antara 8 sampai 12
tahun. Permainan dapat dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun
anak wanita, tetapi jarang terjadi percampuran antara anak-anak

                                                                  9
  laki dengan wanita. Seperti telah disebutkan di atas, u m u m n y a
  para pemain ini terdiri atas anak-anak petani, tetapi pada bulan
 puasa (Ramadan) anak-anak dari k e l o m p o k sosial lainnya, misal-
 riya kelompok pedagang, pegawai, dan sebagainya ikut berrriain
 juga. Jadi, dilihat dari segi pelapisan sosial permainan ini tidak hanya
 dilakukan oleh anak-anak kelompok rakyat biasa saja, tetapi juga
 dilakukan oleh anak-anak bangsawan, terutama pada bulan puasa
 (Ramadan).

    Peralatan/Perlengkapan Permainan.         Satu-satunya alat yang d i -
gunakan untuk permainan ini adalah kain sarung atau sejenisnya,
yang besamya dapat menutupi tubuh salah seorang pemain bila ber-
jongkok. Kain ini tidak tipis, tetapi tebal yang tidak tembus bila
digunakan untuk melihat. Selain kain, tidak ada alat lainnya yang
digunakan dalam permainan i n i . N a m u n , untuk tempat berlangsung-
nya permainan, masih diperlukan suatu tempat yang agak luas,
biasanya berlangsung di depan-depan Meunasah atau di halaman-
halaman rumah.

    Iringan Permainan.    Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa-
pun.

     Jalannya Permainan.   Seperti telah disebutkan di atas, permain-
an terdiri atas 5 atau 6 orang. Setelah j u m l a h peserta (5 atau 6
orang), maka dicari suatu tempat atau tanah yang agak lapang atau
berumput (yang sedikit bersih). Setelah semuanya berkumpul dan
kain untuk dipakai sebagai penutup telah tersedia (biasanya kain
dari salah seorang pemain yang dianggap memenuhi syarat), maka
dilakukanlah pemilihan seorang juri d i antara mereka untuk menjadi
wasit/juri atau sebagai pengamat/pengawas permainan. Selanjutnya
melalui suatu undian yang disaksikan oleh juri (undian dengan tangan
atau yang dikenal dengan nama ngasut), maka ditetapkan salah se-
orang di antara pemain untuk menebak siapa orang yang pertama
ditutup dengan kain oleh wasit/juri.
    Si penebak pertama ini menyingkir dulu, kemudian setelah j u r i
selesai menutup orang yang akan ditebak dengan kain, baru si pene-
bak dipanggil. Orang yang ditebak (yang ditutup dengan kain) sikap-
nya setengah berjongkok. Si penebak yang ditebak tidak boleh meng-
ajukan pertanyaan dan jawaban yang menyimpang dari yang telah
ditetapkan. Pertanyaan tersebut adalah seperti yang telah dikemuka-
kan di atas, yaitu menanyakan kepada orang yang jongkok: peu


10
kapai nyo? Jawab: kapai Inggreh, kemudian dilanjutkan bertanya
peu j i peuding? Jawabnya ate tapeh. Adapun jawaban yang diberikan
dengan suara yang kecil saja, sehingga susah ditebak siapa yang ber-
ada di bawah kain itu. Jika belum dapat ditebak atau belum jelas
siapa orang itu dapat dilanjutkan dengan satu pertanyaan lagi, yaitu
dengan menyuruh yang ditebak itu bersuara seperti suara ayam.
Kata-kata untuk ini, yaitu cuba kuuk sigo? Artinya coba berkokok
sekali? Kemudian yang ditebak bersuara seperti yjsuara ayam kekuru-
yuk. Dan jika belum juga dapat ditebak, makai jolen juri diizinkan me-
megang tempat-tempat tertentu, yaitu kuping, kepala, dan hidung.
Setelah selesai, juri menanyakan siapa orang yang ditutup itu. Jika
masih juga tidak diketahui, maka si penebak dianggap kalah. Dan
permainan ini dilanjutkan dengan mengulangi undian seperti semu-
la. Akan tetapi, jika tebakannya tepat, yang menebak keluar sebagai
pemenang, dan yang kalah mendapat giliran untuk menebak.

    Peranan Masa Kini. Sebenarnya bagi anak-anak petani permainan
ini sangat berguna, karena dengan permainan ini mereka mencoba
melatih pendengaran mereka yang sangat diperlukan jika mereka ber-
ada di kebun-kebun atau ladang-ladang mereka, lebih-lebih untuk
membedakan pelbagai jenis suara binatang yang ada dalam hutan-
hutan. Namun, akhir-akhir ini nampaknya permainan ini sudah jarang
dilakukan, lebih-lebih dengan semakin banyaknya pesawat televisi
masuk ke desa-desa. Anak-anak sekarang lebih senang menonton
televisi daripada bermain di luar rumah seperti tersebut di atas, dan
jika mereka tidak memiliki televisi sendiri mereka pergi ke rumah te-
tangga yang sudah memilikinya.


    Tanggapan Masyarakat. Masyarakat pun tampaknya menganggap
permainan tersebut sekarang sudah tidak bermanfaat, lebih-lebih
masyarakat yang dekat dengan daerah perkotaan.
    Dari wawancara dengan beberapa pemuka masyarakat pada bebe-
rapat desa di Aceh sehubungan dengan permainan ini, dapat diketa-
hui bahwapermainan ini memang sudah dianggap tidak berguna lagi
bagi anak-anak. Menurut mereka waktu yang digunakan untuk per-
mainan itu akan lebih baik bila dipergunakan untuk belajar bagi
anak-anak.




                                                                    11
12
                       2.   MAKAH—MAKAH

     Nama Permainan. Seperti kita ketahui, Mekah adalah sebuah
 kota mei bagi umat Islam. Setiap umat Islam yang sanggup atau
 mampu, wajib untuk menunaikan rukun Islam ke-5, yakni pergi
 ke Mekah, yang dikenal dengan nama Naik Haji. Karena itu, pergi
 ke Mekah sangat didambakan oleh setiap umat Islam di dunia.
     Sekarang kita hubungkan mengapa nama permainan ini disebut
Makah-makah. Kalau dilihat dari segi nama, permainan ini jelas ber-
asal dari nama Mekah (umumnya orang Aceh menyebutnya dengan
nama Makah). Permainan ini dilakukan secara beregu. Permainan ini
 bersifat kompetitif karena masing-masing regu betul-betul berusaha
untuk dapat keluar sebagai pemenang. Bagi regu yang paling cepat
atau terlebih dahulu dapat mencapai tujuan disebut Makah, maka
regu itulah yang keluar sebagai pemenang. Nama ini digunakan se-
olah-olah sasaran yang dicapai itu betul-betul penting atau sangat di-
dambakan seperti keinginan umat Islam untuk dapat dengan cepat
menunaikan ibadah Haji (menunaikan rukun Islam ke-5 ke Mekah).
Permainan Makah-makah ini dapat dijumpai di seluruh kelompok
etnis yang ada di Daerah Istimewa Aceh (kelompok etnis Aceh, ke-
lompok etnis Gayo, kelompok etnis Alas, kelompok etnis Aneuk
Jame, kelompok etnis Kluet, dan kelompok etnis Tamiyang).

    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini dilakukan pada siang hari
pada waktu senggang saat anak-anak telah pulang dari sekolah dan
menunggu waktu makan siang, atau pada hari-hari libur. Permainan
ini juga dilakukan di tanah-tanah lapang atau di halaman-halaman
rumah karena permainan ini dilakukan secara beregu.

     Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Seperti telah
dijelaskan di atas bahwa permainan ini sangat bersifat kompetitif.
Dalam permainan ini hendak digambarkan oleh "si pencipta per-
mainan" bahwa betapa pentingnya orang untuk dapat mencapai
cita-citanya. Karena itu, orang harus berusaha, baik secara perse-
orangan maupun secara bersama-sama agar apa yang diinginkannya
dapat tercapai. Di sini juga hendak digambarkan bagaimana penting-
nya pergi ke Mekah bagi umat Islam.
     Permainan ini dimainkan oleh anak-anak dari segala lapisan ma-
syarakat, baik anak-anak rakyat biasa maupun anak-anak bangsa-
wan.


                                                                   13
    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Bagaimana se-
jarah perkembangan permainan ini, tim peneliti belum memperoleh
data-data yang kongkrit.

     Pemain/Pelaku. Jumlah pemain untuk permainan ini 6 atau 8
orang. Jika 6 peserta setiap regu adalah 3 orang dan jika 8 peserta
setiap regu 3 atau 4 orang. Pemain ini adalah anak-anak yang ber-
umur antara 9 - 1 3 tahun, dan dilakukan baik oleh anak laki-laki
maupun anak perempuan.
     Seperti telah disebutkan di atas, permainan ini dilakukan oleh
anak-anak dari segala golongan dan lapisan masyarakat.

    Peralatan/Perlengkapan Permainan. Permainan ini tidak memer-
lukan peralatan yang berarti, yang diperlukan hanya sebiji batu atau
benda lainnya yang kecil untuk mudah disembunyikan dalam geng-
gaman tangan yang diletakkan di bagian belakang punggung.
    Tempat yang diperlukan adalah tanah lapang sekitar 5 meter
persegi.


     Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi oleh apapun.

     Jalannya Permainan. Untuk permainan ini masing-masing regu
3 atau 4 orang dan seorang bertindak sebagai pimpinan regu. Kedua
regu berdiri pada suatu garis secara berurut yang jaraknya antara regu
yang satu dengan yang lainnya sekitar 2 meter. Semua regu mengha-
dap ke titik sasaran yang dinamakan dengan sebutan Makah. Jadi,
masing-masing regu berlomba untuk dapat terlebih dahulu sampai
ke titik sasaran (Makah).
    Tugas kepala regu adalah mengawasi atau menempatkan batu
pada salah seorang anggota regunya. Untuk ini ia membuat seolah-
olah semua anggota diberi batu untuk disembunyikan dalam kedua
tangan yang ditempatkan di belakang. Sebenarnya yang diberikan
batu adalah salah seorang di antara anggotanya. Selanjutnya setelah
batu disembunyikan, maka tugas dari regu lain, dalam hal ini melalui
kepala regu untuk menebak berada pada siapa batu disembunyikan.
Kalau regu lawan tidak dapat menerka, maka peserta, tempat batu
disembunyikan, maju selangkah ke depan. Demikian seterusnya
permainan berlangsung, sehingga salah satu regu di antaranya dapat
mencapai titik sasaran (Makah). Bagi regu yang terlebih dahulu sam-
pai, keluar sebagai pemenang.

14
    Peranan Masa Kini. Sampai kini permainan ini masih dilakukan,
baik oleh anak-anak yang tinggal di desa-desa maupun di kota-kota.
Di kota nama permainan ini berbeda, tetapi sistem permainan sama.
    Permainan ini, selain bersifat kompetitif juga bersifat rekrèatif
bagi anak-anak.

    Tanggapan Masyarakat. Oleh karena permainan ini sangat bersi-
fat kompetitif, yaitu saling berlomba untuk menang, juga mengan-
dung unsur kelihaian menerka. Karena itu, sampai sekarang permain-
an ini mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.




                                                                  15
16
                           3.   PEPILO

    Nama Permainan. Pepilo adalah bahasa daerah Gayo yang berar-
ti baling-baling dalam bahasa Indonesia. Baling-baling dibuat dari
batang kayu dadap yang sudah kering atau dari bambu kering, atau
dapat juga kulit buah dadap yang sudah kering. Yang dibuat dari
batang dadap untuk anak-anak yang sudah besar, yang dari bambu
untuk anak sedang, dan yang dari kulit buah dadap untuk anak kecil.
Pepilo model pertama, panjang baling-balingnya kira-kira sedepa,
lebarnya 5 jari; model kedua sedikit lebih pendek dari yang pertama,
dan yang ketiga sepanjang buah itu sendiri (kira-kira sejengkal). Pem-
buatan pepilo dari kayu dadap harus orang yang benar-benar ahli,
tidak seperti yang dibuat dari bambu; sedangkan yang dari kulit
buah tidak begitu sukar.
    Bila angin kencang, beberapa anak kita lihat memegang pepilo
masing-masing, serta berlarian ke arah datangnya angin. Arena tem-
pat diadakannya permainan ini riuh rendah dengan sorakan anak-
anak karena pepilonya berpusing dengan kuat.

    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini dilaksanakan bila lues blang
artinya waktu bersawah telah usai (selesai pahën) dan anak-anak
tidak mempunyai kegiatan/pekerjaan apa-apa, juga bila pohon dadap
sedang berbuah. Dadap berbuah biasanya pada waktu selesai panen.
Bila buah dadap sudah tua dengan sendirinya terjatuh dan kulitnya
terbuka. Biasanya buah tadi diterbangkan angin agak jauh dari
pohonnya. Kulit inilah yang dijadikan sebagai pepilo. Bila anak-anak
telah mulai dengan pepilo dari kulit buah dadap, maka biasanya per-
mainan ini bermunculan terus, serta anak-anak yang lebih besar de-
ngan serta merta membuat pepilonya dari model pertama dan kedua
seperti tersebut di atas karena mereka tidak puas hanya dengan
kulit buah dadap saja.


    Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Permainan. Permainan ini
dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dunia anak-anak.
Keterlibatan mereka dalam permainan ini tidak ditentukan oleh ke-
dudukan orang tua mereka di dalam masyarakat, tetapi berdasar-
kan partisipasi untuk memeriahkan «permainan. Asal ada kemauan
dan tersedia alat bermain, sudah dianggap memenuhi persyaratan
bermain.

                                                                   17
     Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Menurut pe-
nuturan orang-orang tua, permainan i n i asli berasal dari daerah A c e h .
Diciptakan oleh nenek moyang mereka mengingat keadaan yang me-
mungkinkan, yaitu ada alat untuk dijadikan permainan, waktu,
kreasi, dan inspirasi untuk membuatnya. Sejak mereka masih kecil
permainan i n i telah ada, dan orang tua merekalah yang mengajar-
kan permainan i n i kepada mereka. Perlu kita ketahui bahwa menu-
rut orang-orang tua, alat-alat, aturan permainan, serta sistem bermain
anak-anak sekarang sama saja dengan mereka dahulu, dengan kata
lain, hampir tidak berkembang sama sekali, sungguhpun digemari
anak-anak.

    Pemain/Pelaku. Jumlah peserta tidak tentu dan tidak terbatas,
dan anak-anak yang menggemari permainan ini berumur sekitar 5
tahun sampai 15 tahun. Hal ini memungkinkan karena aturan per-
mainan tidak begitu ketat. Asal tidak mengenai anak-anak lain dan
atau pepilo lain, sudah dianggap baik. Tentang pakaian dan atribut
lainnya juga tidak mengikat.

     Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi apapun.

     Jalan Permainan. Terlebih dahulu anak-anak menentukan garis
start dan finish sebelum memulai permainan. Anak-anak yang sebaya
berdiri pada garis start dengan pepilonya masing-masing. Setelah
mendengar aba-aba lari, maka peserta berlari seluruhnya ke garis
finish sambil mengangkat pepilonya setinggi bahu. Peserta yang per-
tama sampai ke garif finish dinyatakan sebagai pemenang. Pemenang
ini tidak dicatat karena setelah seluruh peserta sampai ke garis finish,
mereka kembali lagi ke garis start untuk bermain lagi. Walaupun da-
lam permainan ini ada peserta yang menang, namun kemenangan
tersebut tidak menjadi tujuan permainan selain dari kegembiraan
belaka.
     Selain kecepatan mencapai finish, faktor kerasnya suara pepilo
sangat diperhatikan. Pepilo yang suaranya besar dan keras, sangat di-
gemari anak-anak dan penonton. Dengan kata lain, dalam permainan
ini yang dipentingkan lari peserta harus cepat dan suara pepilo harus
nyaring, berdengung bagus.
     K e m u n g k i n a n dalam satu lapangan ada beberapa regu yang ber-
main, tetapi setiap regu haru* berusia sebaya. Masing-masing regu
m e m p u n y a i garis start dan finish tersendiri, dan antara setiap regu
juga dijaga agar tidak terlalu dekat.


18
     Démikianlah pada setiap sore saat angin sedang bertiup kencang,
anak-anak penuh di lapangan permainan dengan pepilo masing-ma-
sing. Masing-masing anak berusaha mengatasi lawan bermainnya.
     Anak-anak kecil bermain sesama mereka, demikian juga yang
besar. Jarang sekali antara anak kecil bercampur baur dengan anak
yang lebih besar dari dirinya atau sebaliknya. Permainan akan ber-
henti bila waktu telah hampir magrib. Permainan berhenti begitu
saja tanpa menghitung kemenangan seseorang.

    Peranan Masa Kini. Permainan ini masih digemari anak-anak sam-
pai masa kini, mengingat mudahnya memperoleh bahan dan tidak
ada kegiatan lain yang berarti setelah musim panen, serta tidak ber-
bahaya sama sekali lebih-lebih untuk anak kecil. Namun, di luar wak-
tu tadi permainan ini hampir tidak pernah dilaksanakan. Sungguh-
pun permainan model baru telah melanda desa-desa, tetapi permain-
an ini tetap masih terdapat di daerah ini.

     Tanggapan Masyarakat. Permainan ini banyak manfaatnya, an-
tara lain sebagai olah raga dan ateltik dalam cabang lari sekuat tena-
ga, yang lama kelamaan dapat dianggap sebagai latihan lari. Pemain
juga banyak keluar keringat dan malam harinya pada umumnya anak-
anak tidur pulas. Karena itu, masyarakat merasa perlu anak mereka
mengikuti permainan ini, paling tidak untuk kesehatan si anak sen-
diri.




                                                                   19
20
                       4.   KEKURIKEN

     Nama Permainan. Kekuriken adalah bahasaf daerah Gayo yang
asal katanya kurik, artinya ayam. Kekuriken berarti beradu seperti
ayam. Permainan ini mempergunakan bola yang terbuat dari tanah
liat. Bola tadi dinamai "kurik" karena akan diadu dengan kurik lain-
nya di arena peraduan yang dibuat sedemikian rupa sehingga bole
digulirkan maka dengan sendirinya akan bertemu dengan bola lain-
nya, sehingga berbenturan keras. Bola yang pecah atau kurik yang
kalah harus menanggung resiko, yaitu si pemiliknya harus menjalan-
kan sanksinya yang telah disepakati bersama sebelumnya.

    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini hanya dilaksanakan pada mu-
sim turun ke sawah (mencangkul). Musim turun ke sawah ini tidak
dapat ditentukan waktunya dengan pasti, tetapi biasanya bila musim
penghujan tiba. Pada waktu awal turun ke sawat pekerjaan yang dila-
kukan petani adalah mencangkul atau merecah. Anak laki-laki yang
ikut serta membantu orang tua masing-masing, biasanya setelah isti-
rahat mandi-mandi di pemandian di tepi sungai yang besar sambil
membuat bola dari tanah liat yang merupakan tanah persawahan di
sana. Bola inilah yang kemudian diadu dalam permainan ini. Di luar
waktu yang kita sebutkan di atas, artinya setelah sawah ditanami,
permainan ini hilang dengan sendirinya.
    Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Permainan. Permainan ini
dilaksanakan dan didukung oleh seluruh anak laki-laki dari petani
yang bersawah. Jarang sekali ada anak laki-laki yang tidak mau ber-
main karena takut dikucilkan kawan-kawan, dan bermain jauh lebih
gembira daripada menonton saja. Keikutsertaan mereka dalam per-
mainan ini bukan berdasarkan tingkat kehidupan si anak melainkan
berdasarkan kemauan dan kemampuan mereka saja.

     Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Menurut
orang-orang tua, permainan ini asli berasal dari daerah ini karena me-
nurut mereka ketika masih kanak-kanak mereka mlaksanakan per-
mainan ini diajarkan orang-orang yang lebih tua, juga keadaan tanah
persawahan di daerah ini memungkinkan melaksanakan permainan
tersebut. Tanah persawahan yang sempit yang dikerjakan secara terus
menerus menyebabkan tanah tersebut tandus dan akhirnya menjadi
tanah liat. Bola dari tanah liat ini agak kuat sehingga mengasyikkan
bila diadu.

                                                                   21
    Perkembangan permainan ini dapat dikatakan tidak ada, bahkan
kini terlihat gejala-gejala akan punah karena terdesak oleh jenis per-
mainan lainnya yang lebih praktis.
    Pelaku Permainan. Pemain adalah anak-anak yang berumur an-
tara 8 - 1 2 tahun dan terdiri dari laki-laki. Permainan boleh dilaksa-
nakan secara perseorangan atau dapat juga beregu. Setiap regu ber-
anggotakan 3 - 7 orang atau lebih, bergantung pada banyaknya anak
yang berkumpul di arena permainan; di satu arena mungkin bermain
beberapa regu yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan apa-
apa. Tentang persyaratan lainnya tidak ada, misalnya soal pakaian
karena anak-anak yang bermain umumnya telanjang bulat.
     Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi oleh apapun.
    Jalan Permainan. Peraturan permainan hampir tidak ada, kecuali
ke dalam bola tidak boleh dimasukkan batu, dan bola yang pecah di-
anggap kalah.
     Permainan Perseorangan. Dua orang anak duduk di ujung pang-
kal sebuah tempat bermain yang telah dibuat bersama, dengan meme-
gang kurik masing-masing. Secara serentak — dengan aba-aba - kedua
anak tersebut menyentakkan kuriknya dengan maksud agar bergulir
cepat ke arah kurik lawan. Di tengah arena, kurik beradu dengan
benturan yang kuat. Untuk pertama atau kedua, mungkin belum ada
kurik yang pecah, namun setelah beberapa kali tentu salah satu kurik
tersebut ada yang pecah. Pemilik kurik yang pecah dinyatakan kalah.
Pemilik ini harus menerima hukuman yang telah disepakati sebelum-
nya, misalnya menggendong pemenang dari suatu tempat ke tempat
lain, memandikan si pemenang, dan sebagainya asal jangan terlalu
berat. Misalkan yang bermain A dan B, yang menang adalah A , maka
B harus menggendong A dari garis a ke garis b sejauh 25 meter, dan
atau menggosok badan si A selama yang bersangkutan mandi.
    Permainan Beregu. Jumlah peserta setiap regu harus ganjil 3, 5,
7, dan seterusnya, maksudnya agar mudah menentukan pemenang.
Kita misalkan jumlah peserta setiap regu 5 orang anak, sebagai
berikut :
         Regu A    1                        Regu B 6
                   2                          ^     7
                   3                                8
                   4                                9
                   5                               10

22
    Peserta nomor 1 mengadu kuriknya dengan peserta nomor 6,
mereka berdua duduk berhadapan di tempat pengaduan pertama,
peserta nomor 2 dengan nomor 7 duduk berhadapan di tempat ke-
dua, dan seterusnya. Setelah beberapa lama, ternyata kurik pemain
nomor 6, 2, 8, 4, dan 10 pecah (kalah). Pemain nomor 2 dan 4 ada-
lah dari regu A , sedangkan pemain nomor 6, 8, dan 10 adalah dari
regu B. Setelah dihitung maka regu A menang 3 orang (1, 3, dan 5)
dan regu B menang 2 orang (7 dan 9). Dengan kata lain, regu A
mengalahkan regu B dengan angka 3 - 2 . Jadi, seluruh anggota
regu B menjalani hukuman yang telah disepakati sebelumnya, misal-
nya menggendong sejauh 25 meter atau menggosok badan lawannya
yang sedang mandi. Setelah selesai menjalankan hukuman, permain-
an diulangi lagi sampai akhirnya berhenti untuk hari tersebut.

    Peranan Masa Kini. Permainan ini tidak begitu digemari oleh
anak-anak. Hal ini karena jenis permainan baru sudah banyak yang
masuk kampung-kampung karena anak-anak sudah asyik dengan
tugasnya yang semakin lama semakin banyak serta terbatasnya ruang
lingkup tempat bermain, dan kurangnya sungai yang besar tempat
pemandian sebagai tempat bermain yang ideal.

    Tanggapan Masyarakat.      Seperti diketahui bahwa permainan
ini sudah hampir punah dari daerah ini. Orang-orang tua tidak begitu
senang kepada permainan ini karena anak berlama-lama duduk tanpa
alas di tanah yang becek, kotor, dan kemungkinan banyak bibit pe-
nyakit terdapat di sana. Juga anak-anak sudah hampir seluruhnya
bersekolah, tempat mereka mendapat pelajaran kesehatan dari pak
guru. Walaupun demikian bukan berarti bahwa permainan ini telah
lenyap dan tidak dimainkan lagi oleh anak-anak, namun tidak seme-
riah di zaman orang-orang tua dahulu.




                                                                 23
24
                      5.   AS A K - A S AKAN

    Nama Permainan. Asak-asakan adalah bahasa daerah Gayo yang
berasal dari kata asak. Asak artinya memasukkan sesuatu benda
keras ke dalam suatu lobang dengan paksa secara berulang-ulang.
    Ada seruas bambu kecil dengan 0 ± 5 mm, panjang ± 25 sampai
dengan 40 cm. Ke dalam ruas bambu ini dimasukkan biji/buah ge-
lundi yang cocok betul ukuran besarnya dengan lobang tersebut.
Cara memasukkannya adalah dengan menolak buah tadi dengan
sepotong benda keras secara spontan, sehingga mengeluarkan bu-
nyi dan buah gelundi tersebut melayang sejauh ± 5 sampai 10 m,
dan bila mengenai anggota tubuh terasa nyeri juga.
    Beberapa anak membentuk dua buah regu, masing-masing ber-
anggotakan 5 sampai 10 orang. Setiap regu berusaha mengalahkan
regu lainnya dengan menembak mati setiap anggota regu lawannya.
Permainan ini hampir sama dengan perang-perangan.

    Waktu Pelaksanaan.     Permainan ini dilaksanakan bila pohon
gelundi sedang berbuah. Bila buah gelundi banyak, maka anak-anak
merasa rugi bila tidak memanfaatkannya dengan bör'main asak-asak-
an. F.ntah secara kebetulan atau tidak, tidak diketahui mengapa ke-
tika padi sedang menguning maka pohon gelundi pun berbuah lebat.
Pada saat ini pekerjaan anak-anak tidak begitu banyak, kecuali men-
jaga agar padi jangan diganggu atau dimakan burung pemakan padi.
Pada saat itulah permainan ini dilakukan.

    Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Pendukung per-
mainan ini adalah anak-anak petani. Anak-anak tersebut diberi tugas
mengusir burung pipit dan sebangsanya yang memakan padi. Burung
ini biasanya bergerombol mendatangi sawah petani, sehingga dengan
mudah dapat dilihat dan diusir oleh anak-anak. Pekerjaan mengusir
burung-burung bukanlah pekerjaan yang berat dan tidak banyak me-
nyita waktu. Waktu terluang inilah yang dipergunakan anak petani
untuk bermain.
    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Permainan ini
sudah ada sejak dahulu kala, mengingat daerah ini ditumbuhi pohon
gelundi dan bambu dengan subur. Dengan data tersebut di atas, orang
tidak pernah tahu sejak kapan permainan ini dimulai, dan menurut
mereka permainan ini asli dari daerah itu sendiri. Menurut orang-
orang tua, permainan sudah ada sejak mereka masih kanak-kanak

                                                                25
 yang diajarkan oleh orang tua mereka sendiri. Namun, menurut me-
 reka alat-alat yang dipergunakan serta cara berperang anak-anak se-
 karang tidak jauh berbeda dengan dahulu.

      Pemain/Pelaku. Para pemain adalah anak laki-laki berumur kira-
 kira 8 sampai 12 tahun. Jumlah mereka tidak tetap, tetapi berkisar
antara 5 sampai 10 orang per regu. Pembatasan umur minimal ini
sangat penting karena pelor yang mengenai anggota tubuh cukup sa-
kit. Diperkirakan anak-anak yang berumur 8 tahun sudah pantas
untuk hal tersebut, sedangkan anak-anak di atas 12 tahun sudah
dianggap terlalu besar untuk bermain. Persyaratan lainnya tidak di-
perlukan sama sekali, misalnya pakaian seragam dan sebagainya,
hanya para pemain dianjurkan berpakaian untuk menghindarkan
rasa sakit.
     Atribut yang dipakai dalam permainan ini adalah sebagai ber-
ikut:
1. uïuh ialah seruas bambu kecil kira-kira bergaris tengah 5 mm,
     yang sudah tua, dan panjangnya kira-kira 25 sampai 40 cm.
2. penjolok ialah sepotong besi yang bertangkai sebagai pegangan
     dan lebih kecil dari ukuran lobang bambu serta lebih pendek 1
     cm dari ukuran uluh.
3. anakni asak-asakan ialah buah gelundi yang sudah tua, dipakai
     sebagai pelor.

   Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa-
pun.

    Jalan Permainan. Sebelum permainan dimulai, terlebih dahulu
dibentuk dua buah regu. Dua orang anak yang agak besar dan dise-
gani anak yang lain masing-masing memilih anggota regunya. Setelah
dua regu ini terbentuk, maka diundilah regu penyerang dengan sut,
untuk memilih regu penyerang; Regu penyerang menjauh dari tempat
regu bertahan untuk selanjutnya permainan dimulai.
    Aturan permainan adalah sebagai berikut:
a. Kepala tidak boleh ditembak dan bila kena tidak sah.
b. Bila saling menembak, pelor yang pertama mengenai sasaran di-
    anggap menang.
c. Yang menang adalah regu yang masih memiliki anggota yang ma-
    sih hidup pada akhir pertandingan.
d. Anggota harus aktif menyerang.

26
     Agar lebih jelas perhatikan uraian berikut ini. Misalkan A berang-
gotakan pemain nomor i , 2, 3, 4, dan 5, Regu B beranggotakan pe-
main nomor 6, 7, 8, 9, dan 10. Setelah diundidengan sut yang diwa-
kili oleh ketua regu atau anak yang tertua di antara mereka, maka
ternyata regu A yang menang. Regu A disebut regu penyerang, se-
dangkan regu B disebut regu bertahan.
     Pada awal permainan regu A meninggalkan pangkalan/tempat
berkumpul semula. Kira-kira beberapa saat setelah regu B merasa
regu A sudah jauh, maka salah seorang anggota regu B berteriak apa-
kah regu A sudah bersiap untuk memulai peperangan. Bila regu A
tidak memberi jawaban, berarti pertempuran sudah dimulai. Kedua
regu berusaha sekuat mungkin agar anggotanya tidak dapatjdibunuh
anggota regu lawannya.
     Tidak berapa lama kemudian terdengarlah letusan diiringi de-
                                                            ;J


ngan teriakan bahwa nomor sekian telah mati. Yang mati boleh ber-
jalan ke pangkalan untuk beristirahat menunggu ronde berikutnya.
Si penembak tadi adalah anggota regu B, yaitu pemain nomor 6,
sedangkan yang ditembak adalali pemain nomor 3 dari regu A .
Untuk sementara pemain nomor 3 harus kembali ke pangkalan, un-
 tuk mengnindarkan kekeliruan yang mungkin terjadi, misalnya pe-
main yang sudah mati menembak pemain lainnya, suatu hal yang
dilarang karena anggota yang sudah mati tidak boleh membunuh
lagj.
      Keadaan permainan sekarang adalah sebagai berikut:

    Pemain nomor:                         Membunuh pemain nomor:
          1                                             7
          4                                             9
         10                                             5
          8                                             2
          4                                             8
          6                                             4
          1                                            10
          1                                             6

    Terlinat bahwa pemain yang sudah mati sebagai berikut:
3, 7, 9, 2, 8, 4, 10, dan 6 atau 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10. Nomor
yang tidak terdapat di dalam deretan yang mati adalah nomor 1 dari
regu A . Karena itu, regu A dinyatakan sebagai pemenang. Ronde I
dimenangkan oleh regu A

                                                                     27
     Permainan selanjutnya, regu B sebagai regu penyerang dan regu
 A sebagai regu bertahan. Semua anggota regu berlarian ke tempat
 yang agak jauh dari pangkalan regu bertahan, dan bersembunyi di
 tempat yang agak terlindung menunggu kesempatan untuk menem-
 bak. Demikian pula regu yang bertahan, mereka berhati-hati mengen-
 dap-endap ke arah lawan untuk menembaknya.
     Keadaan akhir ronde kedua ini kita misalkan sebagai berikut:

 Regu B      Regu A            Keterangan:   Yang masih hidup anggota
                                                      regu:
      6        1            6           1        A            B
      7        2            7           2                     6
      8        3            3           8                     7
      9        4            4           9       3
     10        5           10           5       4
                                                             10


 kemudian:     6           3
               4          10
               7           4

 Total sebagai berikut:  Anggota regu yang mati:
                         A                B
                         1,2,3,4,5      8,9,10.
yang masih hidup adalah nomor 6 dan 7 anggota regu B. Jadi, yang
menang adalah regu B.
   Setelan puas bermain, mereka akhirnya berhenti dan masing-
masing regu menjumlahkan angka mereka. Keadaan akhir untuk regu
A dan B adalah sebagai berikut:

                                REGU
Ronde                      A           B         Stand      Pemenang
I                          1           -         3:2           A
II                         _           1
III                        1
IV                         _           1
V                          1
          Jumlah:          3           2

28
     Peranan Masa Kini. Permainan ini masih digemari oleh masyara-
kat luas, terutama anak laki-laki. Mereka belajar taktik dan teknik
berperang, terutama pemuda-pemuda dan kadang-kadang orang-
orang tua, menyaksikan kelincahan si anak mengatur siasat, menye-
rang lawan, dan memimpin anak buahnya. Hal ini dapat pula kita me-
lihat watak si anak. Sejak kecil si anak diatur dengan disiplin yang
baik karena hal ini sering terbawa bila mereka kelak dewasa. Dengan
adanya permainan ini, mereka tidak akan bosan menjaga padi dari
gangguan burung; sambil menyelam minum air.

    Tanggapan Masyarakat. Atas permainan tersebut, umumnya
orang-orang tua merasa beruntung karena anak mereka tidak perlu
diawasi atau disuruh untuk menjaga sawah dan tugas mereka yang
utama tidak pula terbengkalai serta permainan tersebut tidak akan
mem bahayakan jiwa si anak.




                                                                 29
3Q
                           6. K I S - K I S E N

     Nama Permainan. Permainan ini disebut kis-kisen, dalam bahasa
Aceh Tenggara yang berarti adu menyelam di dalam air. Kis artinya
tanan lama di dalam air/tidak bernafas, dan kisen artinya diadu un-
tuk tidak bernafas selama mungkin di dalam air. Peserta permainan
menyelam di dalam air dengan disaksikan oleh para penonton. Salah
seorang dari penonton menghitung berapa saat yang dapat diperoleh
setiap peserta. Peserta yang terlama di dalam air dinyatakan meme-
nangkan permainan ini.

    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini dilaksanakan Kotika pendu-
 duk suatu kampung mengadakan pembersihan tali air berhubung
mereka akan melakukan turun ke sawah secara serentak. Semua tali
air yang selama ini telah semak dibersihkan agar air persawahan tidak
lagj dipikirkan pembagiannya. Pembersihan tali air ini diikuti oleh
orang-orang tua dan anak-anak laki yang dipimpin olen penghulu.
Pekerjaan biasanya sehari penuh dan istirahat kira-kira dekat sem-
bahyang Ashar. Pada saat itulah mereka pergi mandi-mandi di peman-
dian di sungai yang besar. Orang tua biasanya mandi dalam waktu
yang relatif singkat dibandingkan dengan anak-anak. Pada kesempat-
an tersebut anak-anak melaksanakan permainan kis-kisen dengan
bimbingan orang-orang tua. Di luar waktu yang disebutkan di atas
permainan ini jarang sekali dilaksanakan.

    Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Permainan. Peserta ada-
lah anak petani yang bekerja gotong royong membersihkan tali air.
Selain dari itu tidak pernah melaksanakan permainan ini karena
orang kampung di daerah ini seluruhnya petani. Keikutsertaan mere-
ka sebagai peserta di dalam permainan ini berdasarkan kesanggupan
mereka bermain saja dan sanggup tahan lama di dalam air.


     Latar Belakang Sejaran Perkembangan Permainan. Permainan
ini sudan agak jarang dilaksanakan anak-anak. Permainan ini terdapat
di kampung-kampung di luar kota bahkan jauh dari keramaian kota.
     Permainan ini pada mulanya hanya sebagai bunga dalam perman-
dian, tetapi lama kelamaan dipertandingkan karena ada manfaatnya
setelali anak itu besar.
     Karena Aceh Tenggara adalan daerah aliran sungai Simpang Kiri,
salah satu sungai yang terbesar di Aceh, dan hasil ikannya cukup ba-

                                                                  31
 nyak. Untuk menangkap ikan kadang-kadang harus menyelam, misal-
 nya bila jalanya tersangkut. Karena itu, diperlukan latihan menyelam
 sejak umur masih muda. Sayang sekali permainan ini tidak ada per-
 kern bangannya sama sekali. Namun demikian, ada juga kebanggaan
 di hati masyarakat di sini, yaitu bahwa permainan ini dipertanding-
 kan adalah hasil inspirasi orang tua mereka dahulu kala.

    Pemain/Pelaku. Pemain hanyalah anak laki-laki berumur kira-
kira 10-15 tahun dan jumlah peserta tidak tetap, namun yang di-
utamakan adalah mereka yang telah punya nama. Persyaratan pakai-
an, alat, dan sebagainya dalam permainan ini tidak ada.

    Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi apa pun, namun
peserta biasanya membaca doa sebelum terjun agar tahan lama di da-
lam air. Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:
    Bismillah, hai raje jin.
    Kutoh asal usulmu,
    Nabi Khaidir pongjerohku,
    Pongjegis kite kherine.
Artinya:
    Bismillah, hai raja jin,
    Aku tahu asal usulmu,
    Nabi Khaidir ka wan akrabku,
    Marilah kita berkawan, dan jangan ganggu aku.


     Jalan Permainan. Terlebih dahulu orang tua atau pemuda yang
 disegani menunjuk beberapa anak untuk ikuLbermain. Kemudian
 setelah terpilih, kepada mereka diingatkan syarat-syarat permainan,
 seperti jangan curang, jangan mencaci maki raja jin, jangan meme-
gang lawan di dalam air, dan yang penting jangan buang air. di sana.
     Misalkan ada lima anak laki-laki yang terpilih.„Kelima anak ter-
sebut berdiri berjejer di tepi sungai untuk memulai permainan,
menunggu aba-aba dari orang tua yang bertindak sebagai juri. Bila
aba-aba telah diberikan, secara serentak mereka terjun ke dalam air,
dan sang juri dengan disaksikan orang lain menghitung mulai dari
satu, dua, tiga, dan seterusnya. Hitungan ini sebagai ganti saat yang
tepat lamanya seseorang bertahan di dalam air.
     Bila permainan nomor 1, misalnya muncul ke permukaan air
tepat pada nitungan ke-20, maka dia dinyatakan sebagai penyelam
dengan kis 20. Peserta nomor 2 dengan kis 30, nomor 4 dengan kis

32
 37, dan nomor 4 dengan kis 50. Büa semua peserta telah muncul di
 permukaan air, maka peserta kembali berjejer.lagi di tempat semula
 untuk ronde kedua. Setelah permainan berakhir, maka pemain yang
 terbesar kisnya dianggap sebagai juara. Contohnya:



  Nomor          Ronde/Jumlah Kis           Kis           Juara ke
  Pemain                                 Tertinggi

              I  II III     IV    V
     1        20 30 35       19   25        35               III
     2        30 20 30      21    30        30              IV
     3        33 35 35      30    25        35              III
     4        37 40 41      37    31        41               II
     5        50 35 49      41    40        50                I


    Peserta    nomor 5 adalah juara I karena kisnya yang tertinggi,
yaitu 50.     Bila keadaan ini berlanjuti terus. maka lama kelamaan
peserta ini   bisa memperoleh julukan pawang kis, artinya orang yang
lama tahan    menyelam di dalam air.

     Peranan Masa Kini. Sekarang permainan ini tidak begitu po-
 puier lagi, mengingat turun ke sawah tidak düakukan lagi dengan
 gotong royong membersihkan tali air karena persawahan, sehabis/
selesai panen telah dipelihara ikan di dalamnya. Jadi, tali air tidak
pernah bersemak lagi. Dengan jarangnya gotong royong ini, maka
jarang pulalah permainan ini dilaksanakan.

     Tanggapan Masyarakat. Berhubung permainan ini sudah jarang
dilaksanakan, maka generasi muda hampir tidak pernah melihatnya
lagi sungguhpun orang-orang tua masih mengingat betapa meriahnya
arena permainan ketika diadakan permainan ini. Mereka hanya meng-
harap agar permainan ini dapat dilestarikan untuk generasi yang akan
da tang.




                                                                   33
34
                       7. J A N G U T NGKUR1K

    Nama Permainan. Jangut ngkurik adalah bahasa daerah Gayo
yang terdiri atas 3 kata, yaitu jangut berarti bulu, ng berarti nya, dan
kurik berarti ayam. Jadi, jangut ngkruik berarti bulunya ayam atau
tepatnya bulu ayam. Permainan ini dinamakan demikian karena ba-
han baku utamanya adalah bulu ayam. Bulu-bulu ayam dimasukkan
ke dalam bambu kecil, sehingga bila bambu tersebut dipukul pada
bukunya, jangut ngkurik yang ada di dalamnya melayang ke udara.
    Para pemain berdiri melingkar pada suatu lapangan, dan di te-
ngah-tengah berdiri seorang sebagai pembagi bola jangut ngkurik
yang di dalam bahasa daerah ini disingkat dengan bal. Pembagi terse-
but tugasnya membagj bal kepada setiap pemain. Pemain yang gagal
mengembalikan balnya kepada pembagi harus menerima hukuman
dan bertindak sebagai pembagi bal yang berdiri di tengah lingkaran.
     Waktu Pelaksanaan. Permainan ini dilakukan bila akan meraya-
 kan Maulid Nabi Muhammad saw saja. Di daerah ini diadakan di mer-
sah (menasah = langgar = surau) yang dihadiri seluruh penduduk
 kampung dan undangan dari kampung lainnya. Dua atau tiga hari se-
 belum perayaan diadakan, penduduk yang akan mengadakan peraya-
an secara serentak membawa seekor ayam ke mersah untuk disem-
belih oleh tengku. Pada hari-hari tersebut dapat disaksikan berpuluh-
puluh ayam bergelimpangan di mersah. Anak-anak tidak menyia-
nyiakan kesempatan ini. Mereka mengumpulkan bulu-bulu tersebut
untuk dibuat mainan. Mainan tersebut bermacam-macam, antara lain
jangut ngkurik. Pada saat inilah permainan tersebut berlangsung
dan dapat dikatakan umur permainan ini hanya seminggu saja. Se-
telah perayaan selesai, selesai pulalah permainan ini.

    Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Permainan. Pemain adalah
anak-anak, baik lelaki maupun wanita berumur 5 sampai 12 tahun.
Dalam permainan ini tidak ada persyaratan yang berarti. Siapa pun
dapat ikut bermain. Permainan dapaLsecara per seorangan dan dapat
beregu. Secara per seorangan biasa dilakukan oleh anak-anak kecil
atau sebaliknya.
    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Permainan
ini dari dahulu sampai sekarang keadaannya tidak berubah, baik
mengenai aturan maupun penyempurnaan bal. Kedudukannya su-
dah terdesak permainan bulu tangkis, sungguhpun yang terakhir ini

                                                                    35
 adalah permainan mahal. Dalam melaksanakan permainan ini, ke-
 gembiraan dan kepuasan pemain tampak dengan jelas. Menurut
 orang-orang tua, permainan ini asli dari daerah ini.
      Pemain/Pelaku. Peserta adalah anak lelaki dan wanita, tetapi
 tidak dibenarkan permainan campuran. Umur peserta kira-kira 5 - 1 2
 tahun. Pakaian dapat seadanya dan tidak mengikat, sedangkan
 atribut yang dipakai selain bal tidak ada.
      Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi apa pun.

      Jalan Permainan. Aturan permainan adalah sebagai berikut:
 a.   memukul bola harus dari bawah ke atas,
 b.   tidak boleh memukul lebih dari sekali, dan
 c.   bila gagal memukul harus menjadi pembagi (untuk permainan
      beregu).

    Untuk per Seorangan. Dua orang anak berdiri berhadapan de-
ngan anak jarak kira-kira 5 - 10 langkah. Seorang memukul bal yang
ditujukan ke arah lawannya, dan lawannya merigembalikan kepada-
nya. Setelah bal mati, diangkat lagi dan permainan dimulai lagi. Per-
mainan model ini tidak ada hitungan, tidak ada pemenang, dan bila
sudah lelah berhenti bermain.

     Permainan Beregu. Regu yang sudah bermufakat untuk bermain,
membuat sebuah lingkaran menurut banyaknya peserta. Di tengah-
tengah berdiri seorang anak yang kalah undian (pertama kali) sebagai
pembagi bola. Masing-masing peserta memegang sebuah penggues
 (raket).
     Misalkan ada 9 orang peserta, masing-masing nomor 1,2,3,
9. Pembagi bal adalah nomor 1. Pemain lainnya berdiri pada lingkar-
an dengan menghadap ke tengah. Mula-mula pembagi membuang bal
ke arah peserta nomor 2. Pemain nomor.2 ini mengembalikannya ke-
pada pembagi. Kemudian pembagi membuangnya ke arah pemain
nomor 3, dan seterusnya. Bila misalnya pemain nomor 8 gagal me-
ngembalikan bal kepada pembagi, maka pemain nomor 8 tersebut
menjadi pembagi, dan nomor 1 mengambil alih tempat nomor 8.
Begitulah seterusnya. Permainan ini juga tidak pernah mencari peme-
nang karena tidak pernah dihitung. Bila permainan sedang berlang-
sung kemudian ada seorang anak yang ingin masuk/ikut serta^maka
dia diharuskan untuk mengadakan sut dengan pembagi tadi. Yang
kalah menjadi pembagi, sebaliknya bila ada pemain yang berhenti,

36
maka pembagi tetap yang tadi juga. Jadi, yang dicari dalam permain-
an ini hanya kegembiraan dan kepuasan saja tanpa menentukan pe-
menang.

    Peranan Masa Kini. Permainan ini sudah agak jarang dilakukan,
pertama karena sudah ada permainan yang baru yang lebih praktis
sungguhpun mahal, yaitu bulu tagkis, dan kedua cara merayakan
perayaan Maulid sekarang jauh lebih praktis dari yang dulu. Dahulu,
bila merayakan Maulid harus menyembelih ayam dan sebagainya,
tetapi sekarang cukup membuat kue ala kadarnya. Dahulu meraya-
kan maulid dengan berjanji, sekarang dengan pidato saja yang mema-
kan waktu kira-kira 2 jam, sedangkan dahulu sampai 10 jam lamanya.

    Tanggapan Masyarakat. Permainan ini sebenarnya bagus dilihat
dari segi kesehatan, dan biayanya pun ringan. Tetapi karena hal-hal
yang kita sebutkan di atas, maka disangsikan permainan ini akan
lenyap dari daerah ini.




                                                                 37
38
                 8. M E U G E U N T E U T - G E U N T E U T

     Nama Permainan. Meu geunteut-geunteut adalah suatu permain-
an yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara. Geunteut-geunteut ter-
diri atas dua kata, yaitu geunteut dan geunteut yang disatukan men-
jadi satu perkataan. Kata geunteut apabila disebut hanya satu kali
mempunyai arti yang berbeda dengan geunteut yang diulang atau
geunteut-geunteut.
    Geunteut berarti suatu imajinasi masyarakat terhadap suatu
makhluk halus atau jin yang datangnya dari atas, sedangkan geun-
teut-geunteut adalah suatu permainan yang dilakukan anak-anak, ka-
dang-kadang juga pemuda, dengan menggunakan alat yang terbuat
dari ujung bambu dan mempunyai tempat berdiri yang dalam bahasa
Aceh disebut tungkeh. Permainan ini dapat dilakukan di lapangan
dan juga di jalan-jalan raya yang sepi, asal saja tanahnya rata.

    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini sama dengan jenis-jenis per-
mainan anak-anak yang lain pelaksanaannya, yaitu pada waktu seng-
gang atau pada waktu sedang mengerjakan pekerjaan lain, seperti
menggembala.
    Bagi masyarakat desa yang mata pencahariannya bertani, tentu
saja waktu senggang adalah sehabis panen. Pada waktu padi sedang
menguning di sawah, anak-anak sibuk dengan pekerjaan menggemba-
la sapi atau kerbau, sejalan dengan ini mereka sering menggunakan
untuk bermain geunteut-geunteut.
    Apabila mereka melakukannya secara sambilan sifatnya rekreatif
dan latihan belaka, sedangkan kompetisi biasanya dilakukan pada
waktu setelah panen. Pada masa ini merupakan waktu yang terbaik
untuk melakukan kegiatan olah raga termasuk geunteut-geunteut
karena pada masa ini cuaca cukup baik.

    Latar Belakang Sosial Budaya. Melihat latar belakang sosial bu-
daya dari permainan ini, tidak jauh berbeda dengan permainan lain-
nya yang terdapat di dalam masyarakat Aceh pada umumnya. Ber-
bicara tentang latar belakang sosial budaya dari permainan geunteut-
geunteut sama dengan permainan lainnya terutama yang bersifat olah
raga, yaitu didukung oleh segenap lapisan masyarakat.
    Syarat yang diperlukan untuk dapat ikut serta dalam permainan
ini adalah keahlian, umur yang tidak jauh berbeda antara yang satu
dengan yang lain, serta besar badan pun ikut diperhitungkan. Dasar

                                                                 39
persyaratan yang tersebut di atas terlihat jelas lebih umum, dan
semua perbedaan peserta tidak berdasarkan kepada asal-usul ketu-
runan, status ekonomi si peserta, tetapi bedasarkan pertimbangan
yang logis dan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan.

     Latar Belakang Sejarah Perkembangannya. Permainan geunteut-
 geunteut ini dilakukan anak-anak karena banyak waktu senggang dan
 adanya alat permainan yang mudah didapat. Anak-anak berusaha
 mengisi waktu senggang dengan bermain yang menggembirakan.
 Deskripsi.
     Jumlah Peserta/Pemain         :    2 sampai 6 orang
     Usia                          :    8 sampai 14 tahun,
                                       14 sampai 20 tahun
    Jenis kelamin                 :     laki-laki
     Bentuk permainan             :     per seorangan
    Waktu/lamanya permainan             tidak terbatas.
    Permainan ini tidak begitu diketahui asal usulnya dan kapan
mulai digemari masyarakat. Menurut orang yang diwawancarai, per-
mainan ini untuk mengimajinasi geunteut atau jin yang panjang da-
lam kehidupan sehari-hari.
    Permainan ini juga berkembang di Aceh Timur, khususnya di
Peureulak. Hal ini apakah karena Pasai dan Peureulak pada waktu itu
mempunyai hubungan yang baik, tidak diketahui dengan pasti. Hal
ini memerlukan penelitian yang serius.
     Peserta/Pelaku dan Peralatannya. Permainan geunteut-geunteut
 dapat digolongkan ke dalam salah satu cabang olah raga yang sifat-
nya rekreatif dan kompetitif. Seperti telah diuraikan di atas, per-
mainan ini dimainkan anak-anak usia SD atau lebih. Adapun peralat-
annya terdiri atas 2 (dua) ujung bambu yang besarnya memadai dan
panjangnya 2 - 3 m atau lebih menurut kebutuhan si pemakai. Pada
kedua ujung bambu ini disediakan dua atau lebih tungkeh tempat
menginjak waktu berjalan, sedangkan bagian lainnya dibersihkan se-
hingga enak dipandang dan mudah dipakai. Pada tungkeh tempat in-
jakan waktu berjalan biasanya diberikan alat menurut selera si pema-
kai. Biasanya menggunakan sabut atau batok/tempurung yang diraut
sedemikian rupa sehingga tidak menyakitkan kaki waktu berjalan.
Hal ini mempunyai kaitan untuk memperoleh kejuaraan.

   Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa
pun.

40
     Jalannya Permainan. Awal dari perlombaan permainan ini tidak
dilakukan undian karena yang menentukan adalah kecepatan menca-
pai finish. Hanya ditetapkan jarak antara start dan finish. Kadang-
kadang start dan finish berjarak antara 30 sampai 40 meter pulang
pergi dan bergantung kepada konsensus sebelum perlombaan. Biasa-
nya perlombaan ini dilakukan di tanah lapang, sawah, atau di jalan-
jalan raya yang sepi serta arenanya rata. Apabila perlombaan ini di-
mulai, peserta 2 sampai 5 orang sekaligus diberangkatkan, jika peser-
tanya lebih dari lima orang, maka akan diberangkatkan pada giliran
berikutnya. Pemenang dari perlombaan atau permainan ini adalah
yang paling cepat mencapai finish. Yang jatuh dalam perjalanan dan
 terlambat mencapai finish tidak diperhitungkan. Bila terdiri atas be-
berapa kelompok atau beberapa kali pemberangkatan, maka setiap
pemenang dari tiap kelompok akan diadu kembali untuk mencari
juara di antara pemenang-pemenang yang ada.

   Peranan Masa Kini dan Tanggapan Masyarakat. Permainan ini
pada masa sekarang sudah jarang dilakukan anak-anak. Dengan pel-
bagai kesibukan orang-orang tua tidak dapat menggalakkan permain-
an tersebut kepada anak-anaknya. Dikhawatirkan pada suatu saat
permainan ini akan punah.




                                                                    41
42
                    9. GHIENG-GHIENG A S E E

    Nama Permainan. Asal nama permainan ini informan tidak dapat
menjelaskan secara konkrit karena permainan ini memang sudah
berkembang sejak lama dan generasi sebelum mereka tak pernah
menceritakan tentang asal nama permainan tersebut.
    Ghieng-ghieng asee demikian nama permainan ini, merupakan
permainan anak-anak yang tidak menggunakan alat-alat musik dan
bersifat per seorangan.
    Ghieng-ghieng asee berkembang di seluruh Daerah Istimewa
Aceh, walaupun dengan nama yang berbeda, secara jelas akan diurai-
kan pada bagian lain dalam penulisan ini. Permainan ini dapat digo-
longkan ke dalam salah satu cabang olah raga.
    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini tidak ditetapkan apakah pagi,
tengah hari, atau sore hari dimainkannya. Hal ini ditentukan oleh
kapan anak-anak dapat berkumpul. Kadang-kadang juga dimainkan
pada waktu bulan terang. Permainan ini tidak juga ditetapkan harus
dimainkan pada waktu turun ke sawah atau hanya pada waktu Luang
Blang, atau sehabis panen. Jadi, dapat saja dimainkan sepanjang ta-
hun kapan saja dan di mana saja bergantung pada selera pemain itu
sendiri. Apabila hari hujan mereka dapat menggunakan kolong Meu-
nasah. di Daerah Istimewa Aceh, Meunasah tinggi-tinggi seperti
rumoh adat (Rumah Adat) Aceh. Meunasah merupakan lembaga pen-
didikan informal, tempat anak-anak berkumpul untuk mengaji, baik
pada siang hari maupun pada malam hari. Bila pengajian selesai ber-
macam-macam olah raga dapat dimainkan, di antaranya ghieng-
ghieng asee,
    Lamanya permainan ini tidak dapat ditentukan secara konkrit,
bergantung kepada kepuasan para pemain. Perlu juga disinggung bah-
wa permainan ini tidak memakai kostum tertentu, artinya pakaian
biasa saja atau pakaian sehari-hari, dapat juga dibenarkan apabila
tidak memakai baju.

    Latar Belakang Sosial Budaya/Pelaku Permainan. Berbicara ten-
tang latar belakang sosial budaya permainan ini tidak berbeda dengan
permainan lainnya yang ada di Daerah Istimewa Aceh. Permainan ini
merupakan permainan yang sangat sederhana, mudah dilaksanakan
dan dapat dilakukan siapa saja. Karena itu, pendukung permainan ini
tidak dibedakan atas status sosial yang ada seperti ekonomi, keturun-
an santri atau abangan. Berdasarkan struktur permainan, maka dapat

                                                                  43
dilakukan setiap waktu dan di mana saja. Permainan ini tidak memer-
lukan lapangan yang khusus.

    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Dari hasil wa-
wancara, permainan ini sudah lama sekali berkembang di dalam ma-
syarakat. Sejak kapan permainan ini mulai berkembang dan dari ma-
na asalnya tidak diketahui. Yang jelas permainan ini telah diwariskan
dari generasi ke generasi sampai sekarang.

    Pemain/Pelaku. Pendukung permainan ini adalah anak-anak,
rata-rata usia sekolah dasar.
    Sesuai dengan sifat permainan yang lebih menyerupai olah raga
dan ketangkasan yang lebih menonjol, maka anak-anak wanita jarang
diikutsertakan. Hal ini didukung oleh anggapan masyarakat bahwa
anak-anak wanita dianggap kurang sopan bila mereka bergerak de-
ngan leluasa di tempat-tempat terbuka atau di depan umum.
    Permainan Ghieng-ghieng asee tidak memerlukan perlengkapan
seperti permainan lainnya. Permainan ini dapat terselenggara apabila
sudah ada berkumpul empat orang anak. Kurang dari jumlah ini tidak
dapat terselenggara. Apabila lebih dari empat orang harus mencapai
delapan orang, sehingga terdapat dua kelompok.


     Jalan Permainan. Permainan ghieng-ghieng asee seperti telah di-
 uraikan di atas bahwa yang menjadi pemain adalah anak lelaki. Per-
 mainan ini tidak dilakukan secara beregu, tetapi per seorangan.
 Ketangkasan pribadi sangat ditonjolkan dalam permainan ini.
     Setelah empat orang anak berkumpul, mereka sudah dapat me-
mulai permainan atau pertandingan. Keempat anak tersebut masing-
masing sebelah kakinya dibengkokkan hingga lutut, diselang-seling
dengan cara berdiri persegi empat, sehingga antara yang satu dengan
lain saling berkait. Ketika keempat kaki berkait, tentunya masing-
masing berdiri dengan sebelah kaki, mulailah mereka loncat di tem-
pat. Pada waktu mereka loncat di tempat, mereka tidak dibenarkan
untuk saling berpegangan. Seni dan variasi daripada permainan ini
bergantung pada si pelaku itu sendiri, sehingga mereka saling bergu-
guran. Bila satu orang yang gugur atau jatuh, kaitan kaki mereka ter-
lepas, maka kepada yang jatuh dikenakan hukuman dengan cara
menggendong ketiga kawannya. Jarak gendongan bergantung kepada
persetujuan mereka sebelum bermain, apakah 5 (lima) meter, lebih,
atau kurang. Kadang-kadang dua orang sekaligus yang gugur, maka

44
kedua orang yang gugur tadi menggendong kedua kawannya. Ber-
dasarkan pengalaman yang ada, tidak pernah tiga orang sekaligus ja-
tuh karena dua orang saja jatuh sudah pasti kaki mereka terlepas,
sehingga tidak mungkin kedua lainnya jatuh sebab mereka sudah da-
pat berdiri dengan mantap.
     Lamanya permainan tidak dapat ditetapkan dengan pasti, bergan-
tung kepuasan meTeka sendiri. Permainan ini tidak bersifat kompeta-
tif, tetapi bersifat rekreatif.

    Peranan Masa Kini dan Tanggapan Masyarakat. Menyangkut ma-
salah peranannya, permainan ini dapat dikatakan tidak lagi menonjol
di tengah-tengah masyarakat sekarang. Hal ini sangat erat kaitannya
dengan kemajuan-kemajuan di bidang olah raga secara umum.
    Perkembangan teknologi seperti televisi juga mempengaruhi ani-
mo anak-anak untuk melakukan permainan ini. Dapatlah diperkira-
kan secara evolusi, permainan ini dalam waktu relatif singkat akan
hilang. Namun, masyarakat atau para orang tua tidak pernah mela-
rang anak-anak mereka untuk melakukan permainan ini.




                                                                45
46
                       10. M E U E E N A C E U E

    Nama Permainan. Meu Een Aceue, nama suatu permainan yang
terdapat di Daerah Istimewa Aceh atau khususnya di Kabupaten
Aceh Utara. Meu een Aceue terdiri atas dua per ka taan, yaitu meu een
berarti bermain (permainan) dan aceue adalah nama yang diberikan
untuk permainan tersebut. Meu een aceue sering juga disebut meu
een kiroee karena pada umumnya alat-alat permainan banyak meng-
gunakan aneuek kiroee yang berarti buah kemiri. D i samping buah
kemiri yang dipakai juga pineueng rueuek, yaitu pinang yang telah
cukup tua. Permainan ini biasanya dimainkan anak-anak pada bulan
puasa.

    Waktu Pelaksanaan.       Permainan ini dilaksanakan pada bulan
puasa dan cuaca baik, tetapi tidak pada musim turun ke sawah.
Yang dimaksud dengan cuaca baik adalah tidak musim hujan atau
hari hujan. Pada bulan puasa biasanya tidak turun ke sawah. Dahulu
di Daerah Istimewa Aceh turun ke sawah setahun sekali karena se-
lalu diatur di luar bulan puasa. Bulan puasa bagi orang Aceh adalah
bulan ibadat artinya memperbanyak amal. Ada suatu mitos dalam
masyarakat " S i thon mita si buleuen pajoh" artinya setahun mencari
nafkah dan menyimpan untuk biaya satu bulan puasa. Karena itu,
bulan puasa tidak bekerja, tetapi istirahat untuk memelihara puasa.
Pusat kegiatan masyarakat di Daerah Istimewa Aceh adalah Meuna-
sah, lebih-lebih pada bulan puasa berkumpullah orang tua, pemuda,
dan juga anak-anak. Mereka masing-masing menghabiskan waktu
dengan caranya sendiri-sendiri, seperti bercerita (haba jameuen),
meu een cabang (main halma), dan juga meu een aceue. Jadi, per-
mainan ini di samping dimainkan pada waktu bulan puasa juga tem-
patnya di Meunasah.
    Waktu permainan dapat saja pada pagi hari, tengah hari, dan juga
sore hari, bergantung bila mereka dapat berkumpul. Lamanya per-
mainan tidak dapat ditentukan, bergantung kepada si pemain serta
perlengkapan yang tersedia, yang pasti pada waktu shalat permainan
dihentikan. Perlu juga dijelaskan bahwa permainan ini tidak memakai
kostum tertentu, mereka hanya memakai pakaian biasa saja.
    Latar Belakang Sosial Budaya/Pelaku Permainan. Meu een aceue
banyak penggemarnya, baik anak-anak, pemuda, maupun orang-
orng tua, dengan kata lain seluruh lapisan masyarakat menggemari-

                                                                 47
nya. Menurut orang yang diwawancarai, sering terlihat sejak pagi
sampai sore permainan berlangsung dan penonton pun tetap banyak.
 Seperti telah diuraikan di atas bahwa pada bulan puasa masyarakat
tidak ada pekerjaan karena turun ke sawah telah selesai dan rnereka
berkumpul di surau (meunasah) dari pagi sampai sore.
    Peserta permainan ini tidak dibedakan asal keturunan, status
ekonomi, status sosial, dan sebagainya. Yang membedakan mereka
adalah kelompok umur, keadaan fisik, dan kepandaian bermain. Yang
dimaksud dengan kelompok umur adalah taksiran umur rata-rata,
dan yang dimaksud dengan keadaan fisik adalah pertumbuhan peser-
ta itu sendiri, artinya anak-anak yang besar bermain sesama besar
dan anak-anak yang kecil dengan yang kecil; sedangkan yang dimak-
sud dengan kepandaian bermain tentunya anak pandai bermain se-
sama pandai demikian sebaliknya.
    Permainan ini telah berkembang dari generasi ke generasi dan sa-
ngat disukai khalayak. Sekarang permainan ini sudah jarang dimain-
kan, hal ini mungkin karena kesibukan-kesibukan tertentu dan sukar-
nya alat-alat permainan itu sendiri.

    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Dari mana
asal permainan ini sukar untuk diketahui, tetapi menurut informan
permainan ini dari Aceh asli. Perlu juga dicatat bahwa hampir di selu-
ruh Daerah Istimewa Aceh permainan ini berkembang walaupun ter-
dapat perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil.
     Pemain/Pelaku. Pada uraian terdahulu telah diberikan gambaran
kepada kita bahwa permainan ini merupakan permainan anak-anak
 berusia sekolah dasar. Namun, kadang-kadang juga dimainkan pemu-
da dan orang tua. Permainan ini khusus untuk anak lelaki, tidak per-
nah terjadi percampuran antara lelaki dan wanita.
     Peralatan dan perlengkapan permainan ini sangat sederhana. yaitu
aneuk kiraeoe atau kemiri dan pineueng rueuek atau pinang yang su-
dah cukup tua, tetapi pineung rueuek jarang dipakai dalam permain-
an ini. Anak kemiri dan pineueng rueuek mudah diperoleh di mana-
mana. Di antaranya dipilih yang bagus untuk eumpien. Setelah dipi-
lih, dibentuk atau diasah sehingga enak dipegang dan berbeda dengan
anak kemiri lainnya.
     Perlengkapan yang lain adalah lapangan yang bersih dan rata serta
dalam panas terik matahari. Pada tanah yang bersih dan rata tadi di-
tariklah satu garis lurus tempat tumpukan kemiri diletakkan. Sejajar

48
dengan garis lurus tersebut, terdapat garis lurus yang lain yang jarak-
nya diperkirakan tujuh meter sebagai start pelempar eumpien atau
teaek bhak.

   Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringj oleh iringan apa
pun.
     Jalan Permainan. Meu een aceue merupakan suatu permainan
yang dilakukan secara per seorangan. Jarang sekali dimainkan secara
beregu. Pesertanya hanya laki-laki, sedangkan anak perempuan ber-
kumpul di suatu tempat pada siang hari. Kesempatan berkumpul ha-
nya pada malam hari di rumah-rumah pengajian, sedangkan meu een
aceue tidak dapat dimainkan pada malam hari. Jadi, praktis anak
perempuan tidak ikut serta dalam permainan ini. Seperti halnya per-
mainan lain, permainan meu een aceue juga mempunyai peraturan
tersendiri, yaitu sebagai berikut:
- Jumlah peserta bergantung konsensus, dapat beranggotakan dua,
      tiga, empat, dan seterusnya.
-     Lama permainan tidak dapat ditentukan, bergantung pada kondi-
      si dan situasi peserta dan perlengkapan yang ada.
- Tumpukan aneuk kiroe atau tumpukan anak kemiri berada pada
      garis lurus. Untuk mencari siapa yang terdahulu memukul, de-
      ngan cara melempar eumpien artinya satu kemiri yang ditempa
      khusus alat pemukul ke arah garis lurus tersebut tempat tumpuk-
      an kemiri tersebut.
 - Eumpien yang terjatuh dari garis lurus dan tumpukan kemiri itu-
       lah yang pertama memukul.
 - Waktu memukul harus dengan berjongkok.
 - Pergantian giliran terjadi bila tumpukan kena dan berserakan;
       pukulan dianggap sah apabila tumpukan berserakan.
       Tieak bhak artinya lempar eumpien ke arah garis lurus tempat
 tumpkan kemiri disusun. Eumpien yang terjauh dari tumpukan ke-
 miri dan garis tersebut merupakan yang pertama memukul. Kita
 misalkan ada empat orang yang bermain tentunya ada empat tum-
 pukan pada garis lurus. Tumpukan tersebut dapat berjumlah lima,
  delapan, sepuluh, dan sebagainya menurut perjanjian. Kita anggap
  tumpukan itu bernomor satu, dua, tiga, dan empat. Si pemukul mu-
  lai memukul nomor satu atau nomor empat karena harus selalu dipi-
  lih tumpukan ujung. Katakanlah pukulan pertama sah, seluruh ang-
  gota tumpukan itu menjadi milik si pemukul. Lalu si pemukul me-

                                                                      49
 neruskan pukulan berikutnya, juga harus dipilih tumpukan ujung se-
 cara berturut-turut pukulannya semua berhasil, maka seluruh tum-
 pukan tadi menjadi milik daripada si pemukul tadi. Permainan di-
ulang mulai dari tieak bhak kembali.
    Dapat juga dianggap, pemain bernomor seperti nomor tumpukan
kemiri, yaitu nomor satu, dua, tiga, dan empat. Misalkan nomor satu
telah melakukan tugasnya, apabila pukulan pertama gagal atau pukul-
an kedua gagal, atau pukulan ketiga gagal, maka terjadi pergantian
pemukul (dari nomor satu ke nomor dua dan seterusnya). Pukulan
yang sukses menjadi milik si pemukul. Agar tidak keliru kiranya jum-
lah tumpukan atau anggota tumpukan tersebut bergantung kepada
perjanjian, adakala empat-empat, delapan, duabelas, dan seterusnya.
    Andaikata dalam permainan ini bersisa satu tumpukan, artinya
nomor satu hanya berhasil satu tumpukan, demikian bagi nomor dua
dan nomor tiga, sedangkan nomor empat gagal pukulannya, maka
permainan diulang dari tiaek bhak kembali.

    Peranan Masa Kini. Meu een aceue merupakan permainan anak-
anak yang dimainkan secara musiman, khususnya pada waktu bulan
puasa. Permainan ini telah cukup lama berkembang dan masih di-
mainkan oleh anak-anak khususnya di Kabupaten Aceh Utara, walau-
pun dalam kondisi yang relatif berkurang. Berkembangnya teknologi
pertanian dan kesibukan lain serta pengaruh industri seperti L N G ,
pupuk Asean, pupuk Iskandar muda dan tak lama lagi juga Petro
Kiinia, merupakan salah satu faktor kurangnya peminat untuk me-
mainkan permainan ini.
    Tanggapan Masyarakat. Pada hakekatnya para orang tua masih
berkeinginan supaya permainan ini tetap dikembangkan.




50
51
                          11. M E U C R E E K

    Nama Permainan. Meu creek adalah suatu permainan yang sering
dimainkan anak-anak, terutama anak perempuan. Perkataan meu
creek terdiri atas dua kata, yaitu meu dan creek. Meu singkatan
dari kata meuen yang berarti permainan, sedangkan creek berasal dari
bunyi yang ditimbulkan pada waktu memainkan permainan ini.
Meu creek berarti permainan yang pada saat melakukan permainan
ini menimbulkan b u n y i creek-creek sewaktu lidi-lidi yang diperguna-
kan dilambung ke atas.
    Permainan meu creek ialah sejenis permainan yang memperguna-
kan lidi-lidi dari daun kelapa atau lidi-lidi yang dibuat khusus dari
kulit bambu yang diraut kecil-kecil. Mereka yang sering melakukan
permainan i n i pada dasarnya telah menyediakan lidi yang tahan lama.
yaitu yang dibuat dari bambu, sedangkan mereka yang melakukan
permainan ini'sebentar saja, mereka akan mempergunakan lidi yang
mudah diperoleh yaitu dari lidi daun kelapa. Dari b u n y i yang ditim-
bulkan oleh lidi-lidi inilah dasarnya dari pemberian nama untuk per-
mainan i n i .

     Waktu Pelaksanaan. Sebagaimana halnya dengan jenis permainan
lain, permainan i n i tidak mempergunakan waktu yang khusus, tetapi
tidak berarti musiman atau mempunyai waktu tertentu atau dengan
kata lain tidak berhubungan dengan sesuatu upacara tertentu. Waktu
tersebut sangat bergantung kepada waktu berkumpulnya anak-anak.
Biasanya waktu yang banyak dipergunakan untuk melakukan per-
mainan i n i adalah pada waktu senggang. Bagi anak-anak yang belum
bersekolah, bermain pada pagi hari dan sore hari. Bila pada masa
yang lalu mereka belajar agama secara bersama-sama di rumah tempat
pengajian, mereka sebelum mengaji atau sesudahnya, melakukan
permainan i n i . Jadi, tegasnya waktu yang dipergunakan tidak ada
suatu keharusan atau tidak terikat dengan upacara-upacara tertentu,
demikian pula dengan musim-musim tertentu. Dengan demikian per-
mainan i n i dapat dilakukan kapan dan di mana saja.


    Latar Belakang Sosial Budaya. Menjelaskan latar belakang sosial
budaya dari pendukung-pendukung jenis permainan i n i , erat kaitan-
nya dengan perkembangan sosial budaya di dalam masyarakat Aceh
itu sendiri. Permainan i n i merupakan permainan rakyat pada umum-
nya atau permainan anak-anak pada khususnya, tidak terlepas dari

52
perjalanan waktu. Yang kita maksudkan dengan perjalanan waktu di
sini adalah pada mulanya permainan ini berkembang di dalam ma-
syarakat yang kecil, selanjutnya berkembang atau meluas menjadi
permainan rakyat atau permainan yang digemari rakyat.
     Menurut hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap be-
berapa informan yang dijadikan sumber dalam meneliti permainan
ini, diperoleh beberapa data seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.
     Pada waktu masyarakat Aceh masih sangat terikat dengan lapisan
sosial di dalam masyarakat di mana terdapat golongan bangsawan
sebagai pengussa dan golongan rakyat yang dipimpinnya, permainan
ini hanya dimainkan oleh lapisan rakyat, sedangkan kalangan anak-
anak golongan bangsawan tidak terlibat di dalamnya. Hal ini bisa
dimengerti bahwa untuk kalangan anak bangsawan terdapat permain-
an yang tidak dimainkan oleh rakyat banyak. Bagi anak-anak rakyat
melakukan permainan ini tidak membutuhkan perlengkapan yang
harus dibeli, tetapi dapat diperoleh dengan mudah sesuai dengan
kondisi masyarakat itu sendiri.
     Dalam kurun waktu berikutnya, yaitu pada saat-saat struktur
lapisan sosial sudah mulai menipis, serta hubungan yang salama ini
terdapat jurang pemisah sudah mulai mendangkal, permainan ini ber-
kembang menjadi lebih luas. Pada masa sesudah Indonesia mereka,
permainan ini telah dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa
membedakan lagi dari lapisan mana mereka berasal. Pada masa ini,
jenis permainan ini sebagaimana permainan yang lain sudah merupa-
kan sarana bagi anak-anak untuk saling bertemu. Melalui permainan
ini mereka telah dapat bergaul secara bebas serta menghapuskan ju-
rang pemisah yang telah terjadi pada masa-masa yang lalu.

    Latar Belakang Sejarah Perkembangan. Lahirnya permainan ini
merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat pedesaan teruta-
ma di dalam mengisi waktu yang terluang bagi anak-anak mereka.
Masyarakat terutama para pemikir yang terdapat di dalam setiap ke-
lompok masyarakat selalu kreatif dalam menciptakan pelbagai kebu-
tuhan masyarakat termasuk di dalamnya aspek seni sebagai salah
satu dari kebutuhan warga masyarakat. Demikian pula halnya dengan
pencintaan bermacam-macam jenis permainan dari tingkat anak-anak
sampai kepada permainan orang dewasa yang sekarang telah menjadi
milik bersama dan merupakan karya yang anonim. Jelasnya permain-
an-permainan itu telah diciptakan dan telah uiterima menjadi miük
masyarakat.

                                                                   53
      Dari berbagai jenis permainan yang diciptakan itu, terdapat pel-
 bagai bentuk atau pelbagai sifat, ada yang bersifat sarana sosialisasi,
 games of strategi, rekreatif (unsur hiburan), dan lain-lain. Untuk jenis
 permainan ini dapat digolongkan ke dalam jenis permainan yang ber-
 sifat memberikan hiburan kepada anak-anak atau para pemain itu
 sendiri. Di samping itu, permainan meu creek ini terdapat unsur latih-
 an kecerdasan yang mewajibkan mereka untuk menghitung lidi-lidi
 yang dipergunakan sebagai alat dalam permainan.
      Seperti telah dijelaskan di dalam latar belakang sosial budaya
para pemainnya bahwa perkembangan permainan ini mengikuti per-
 kembangan sejarah masyarakat pendukungnya. Pada awal dari ter-
 ciptanya permainan ini masih berkembang pada lingkungan masya-
rakat yang sangat terbatas, dan taraf selanjutnya semakin meluas se-
suai dengan perkembangan sosial politik masyarakat itu sendiri.
Dalam perkembangan terakhir, permainan ini telah berkembang
menjadi permainan rakyat secara keseluruhan dan telah menjadi mi-
lik semua lapisan masyarakat. Demikianlah secara singkat dalam hu-
bungan dengan latar belakang sejarah dari perkembangan permainan
ini yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan masyarakat pendu-
kungnya.

     Peserta/Pelaku. Berbicara masalah peserta atau pelaku dari per-
 mainan ini seperti telah diutarakan di atas, dimainkan oleh anak-anak
 terutama anak perempuan. Sesuai dengan sifat permainan ini yang
 lebih mengarah kepada unsur rekreatif daripada unsur kecerdasan,
 tentu saja banyak digemari anak-anak. Walaupun telah dikatakan
 permainan dimainkan anak-anak perempuan tidak berarti bahwa per-
 mainan ini tertutup bagi anak laki-laki. Anak laki-laki dapat pula
 diikutsertakan dalam permainan ini, tetapi sesuai dengan kodratnya
mereka jarang yang mau memainkan permainan meu creek.
     Permainan meu creek biasanya dimainkan anak-anak yang ber-
usia kira-kira 6-13 tahun. Pengelompokan usia ini tetap ada apabila
para pemain yang telah berkumpul agak banyak. Hal ini mengikuti
pengelompokan usia, misalnya 6 - 1 0 dan 10-13 tahun, masing-
masing membentuk kelompok tersendiri. Seandainya pemain hanya
beberapa orang, pengelompokan tidak dilaksanakan. Pengelompokan
ini dilakukan semata-mata untuk mencari kawan bermain yang seim-
bang agar permainan dapat berlangsung dengan baik. Jika di dalam
permainan terdapat anak laki-laki, pada umumnya anak laki-laki ter-
sebut yang terlibat di dalamnya berkisar pada usia di bawah 10 tahun

54
karena anak pada usia tersebut masih bergaul bersama-sama dengan
anak-anak perempuan.
     Peralatan/Perlengkapan Permainan. Peralatan atau perlengkapan
permainan meu creek sangat sederhana, yaitu lidi. Lidi-lidi ini dapat
diperoleh dari daun kelapa yang telah kering atau dapat pula dibuat
dari bambu yang diraut sampai kecil. Lidi-lidi ini mempunyai ukuran
panjang antara 10—15 cm, ukuran yang mudah digenggam oleh anak-
anak. Lidi-lidi ini harus dicari sendiri oleh setiap pemain yang jumlah-
nya tidak tentu. Ada yang menyediakan 10, 15 dan 20 bergantung
kepada perjanjian dalam bermain. D i samping itu, diperlukan batu-
batu kecil yang mudah disembunyikan di dalam telapak tangan, jum-
lahnya pun tidak tentu. Hal ini sangat bergantung pada perjanjian
yang dibuat sebelum melakukan permainan. Batu-batu kecil ini dipa-
kai oleh pemenang dan harus diterka oleh pemain yang kalah berapa
biji yang disembunyikan di dalam telapak tangan. Hal ini akan dije-
laskan dalam jalannyapermainan. Peralatan lainnya tidak ada; sedang-
kan lapangan tempat bermain tidak diperlukan karena permainan ini
dapat dilakukan di bawah kolong rumah, di bawah pohon kayu yang
rindang yang terlindungi sinar matahari di waktu siang dengan kata
lain dapat dimainkan di mana saja.
       Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa
pun.
     Jalannya Permainan. Pada bagian ini kita ingin mencoba menje-
laskan tentang cara-cara melakukan permainan ini, agar semua orang
yang berminat dapat melakukannya. Apabila peralatan yang diperlu-
kan telah tersedia, permainan dapat dimainkan di mana saja. Adapun
peralatan yang diperlukan untuk permainan ini, seperti yang telah di-
jelaskan di atas, yaitu lidi-lidi yang dibuat dari lidi daun kelapa dari
kulit bambu, dan dapat pula dari kulit pelepah rumbia. Biasanya para
pemain yang gemar melakukan permainan ini telah menyediakan per-
lengkapan ini sebelumnya dan perlengkapan yang dapat diperguna-
kan untuk beberapa kali.
     Setelah pemain berkumpul, sedikitnya dua orang anak, barulah
permainan dimulai. Mula-mula diadakan perjanjian tentang berpa
skor atau nilai (poin) yang akan dimainkan untuk sekali permainan
(satu set). Hal ini perlu dimufakati terlebih dahulu karena tidak ada
suatu ketentuan yang khusus. Dalam permainan ini hanya ditentukan
cara-cara bermain, sedangkan yang lain dapat dimusyawarahkan se-
belum bermain.

                                                                     55
     Cara melakukan permainan adalah sebagai berikut: setelah
 menentukan urutan para pemain melalui cara yang lazim diperguna-
 kan melalui sut dan syarat-syarat lain telah disepakati, yang mula-
 mula melakukan permainan adalah pemain yang mendapat giliran
 pertama. Dia mengambil lidi sejumlah yang dimufakati (10, 15,
 atau 20), lalu menaruh di atas telapak tangan. Setelah lidi tersebut
 diletakkan di atas telapak tangan kemudian dilambungkan ke atas
 dan dengan segera pula pemain tersebut membalikkan telapak ta-
 ngannya untuk menahan lidi tersebut melalui tangan. Setiap pemain
 yang telah melambungkan lidi tersebut harus berusaha agar dapat
 menyangkut di punggung tangan sebanyak-banyaknya. Bila lidi dapat
 menyangkut di punggung tangan sebanyak dua atau tiga, berarti dia
memperoleh nilai dua atau tiga. Artinya nilai yang diperoleh adalah
sebanyak lidi yang dapat menyangkut di punggung tangan. Pada se-
tiap kali naik apabila tidak berhasil satu lidi pun menyangkut di atas
punggung tangan berarti pemain tersebut telah mati. Selanjutnya
akan naik pemain berikutnya. Demikianlah permainan ini dilakukan
 berulang-ulang sampai game set. Pemenang yang keluar dalam setiap
permainan adalah yang berhasil mencapai nilai yang telah dimufakati.
     Untuk menentukan pemenang seperti telah disebutkan adalah
yang lebih dahulu mencapai nilai yang telah ditentukan, ini berlaku
bagi pemain yang hanya dua orang. Dalam hal permainan dilakukan
oleh lebih dari dua orang, yang keluar sebagai pemenang adalah yang
dapat mencapai nilai tersebut dengan sistem siapa yang telah game
dia tidak lagi ikut bermain dan dilanjutkan oleh mereka yang belum
game yang pada akhirnya tinggal dua orang yang akan bermain.
Yang tidak dapat menyelesaikan permainan, dinyatakan pemain
yang kalah sehingga mendapat hukuman dari pemain-pemain yang
menang. Hukuman itu biasanya dengan mengetuk lutut atau perge-
langan tangan yang dilakukan oleh pemenang masing-masing seba-
nyak yang telah dimufakati sebelumnya. Demikianlah permainan ini
dilakukan beberapa kali dengan cara-cara yang telah disebutkan di
atas, sampai mereka menghentikan permainan atau di antaranya ada
yang menyatakan tidak bersedia lagi bermain.

    Peranan Masa Kini. Menyinggung tentang peranannya masa kini
sama halnya dengan jenis permainan rakyat tradisional lainnya, yaitu
mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang
tidak berdiri sendiri, baik faktor dari dalam maupun dari luar. Yang
dimaksud faktor dari dalam adalah kurangnya menaruh minat untuk

56
 melakukan permainan ini walaupun generasi sebelumnya telah men-
 coba mentransfer permainan melalui ceritera-ceritera. Hal ini tentu
 saja sangat dipengaruhi oleh faktor dari luar, yaitu banyaknya jenis-
jenis permainan yang modern. Permainan modern ini dimainkan ter-
utama di sekolah-sekolah dan di dalam permainan terdapat unsur
rangsangan yang lebih besar karena umumnya permainan modern
dapat dipertandingkan, dan pertandingan ini memberikan keuntung-
an kepada mereka jika memperoleh kemenangan, sedangkan per-
mainan meu creek tidak pernah dipertandingkan dan lebih merupa-
kan permainan yang tidak bersifat kompetitif. Mereka bermain sema-
ta-mata untuk mengisi waktu dan mencari kesenangan.

    Tanggapan Masyarakat. Permainan ini sekarang sedang menga-
lami pasang surut seperti yang dijelaskan di atas, dan tidak memain-
 kan perananya lagi dalam kehidupan anak-anak. Masyarakat tidak
menaruh minat untuk mengembangkan permainan ini seperti yang
telah dijelaskan di atas, terutama anak-anak itu sendiri selaku pemain
telah berkurang perhatiannya. Hal ini karena perkembangan masya-
rakat yang semakin meningkat dari zaman ke zaman, banyak di anta-
ranya yang tidak mempunyai waktu lagi untuk memikirkan hal-hal
yang menyangkut dengan perkembangan dan penerusan bentuk-ben-
tuk permainan tradisional.

     Masyarakat dewasa ini merasa acuh tak acuh terhadap bentuk
permainan tradisional dan mereka lebih menggemari jenis-jenis per-
mainan yang baru. Banyak di antara anggota keluarga masyarakat
yang dengan mudah membeli alat-alat permainan yang terdapat di
pasar-pasar dengan harga yang mampu dijangkau. Hal-hal yang demi-
kian turut mempercepat proses terdesaknya jenis-jenis permainan tra-
disional yang telah menjadi permainan rakyat termasuk di dalamnya
permainan meu creek ini.




                                                                   57
58
                    12. M E U SOM-SOM A N E U K

     Nama Permainan. Meuen som-som aneuk di dalam bahasa Indo-
 nesianya adalah permainan sembunyi-sembunyian anak. Meu berasal
 dari kata meuen artinya bermain, som-som berarti sembunyi-sembu-
 nyian, dan aneuk berarti anak. Diberi nama demikian karena di da-
 lam permainan ini ada sebuah benda yang disebut anak, biasanya ada-
 lah batu kecil yang selalu disembunyikan untuk dicari oleh teman-
 teman bermain lainnya.
     Nama lain yang diberikan untuk permainan ini adalah meu som-
som mie atau som-som mie. Yang dimaksud dengan mie yaitu aneuk
atau anak yang harus dicari, som-som mie disebabkan pada waktu
hendak menyembunyikan anak tersebut diucapkan dengan perkataan
kusom mie, yang maksudnya aku sembunyikan anak. Hal ini akan di-
jelaskan dalam jalannya permainan. Baik yang menyebut permainan
dengan som-som aneuk maupun som-som mie, cara melakukannya
atau aturan-aturannya adalah sama.
     Permainan ini sering dimainkan anak-anak terutama di pedesaan
pada zaman lampau pada masyarakat Aceh.

    Waktu Pelaksanaan. Permainan ini sama halnya dengan jenis per-
mainan anak-anak lainnya tidak terikat dengan waktu, dapat dilaku-
kan pada waktu pagi, siang, atau malam hari, bergantung pada hadir-
nya para pemain.
    Waktu untuk melakukan permainan ini, bila anak-anak berkum-
pul atau bila ada upacara-upacara seperti perkawinan, keagamaan,
dan lain-lain, atau pada malam hari pada waktu bulan purnama sete-
lah mereka belajar. Dengan demikian unsur waktu di dalam permain-
an ini tidak mutlak harus diperhitungkan atau dengan kata lain wak-
tu yang diperlukan untuk melakukan permainan ini tidak terikat dan
dimainkan bila ada waktu senggang.

     Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Meuen som-
som mie adalah sejenis permainan rakyat yang didukung oleh seluruh
lapisan rakyat dengan tidak memperhatikan latar belakang sosial pe-
main. Dengan kata lain jurang pemisah.dari berbagai kelompok di da-
lam masyarakat dapat dipertemukan melalui jenis permainan ini kare-
na anak-anak saling bertemu dan saling bermain dengan tidak mem-
persoalkan status sosial masing-masing. Demikian pula halnya dengan
sikap orang tua tidak mempersoalkan latar belakang tersebut di atas.

                                                                 59
    Meu som-som aneuk termasuk jenis permainan hiburan karena
tidak untuk mencari yangkalah atau yang menang. Karena permainan
ini penuh kegembiraan dan bersifat kekeluargaan, tentu saja dise-
nangi setiap lapisan anak-anak. Jika ada di antara mereka saling ber-
musuhan, dengan ikut bermain, lama-lama atau setidak-tidaknya pa-
da akhir permainan telah bersahabat kembali.

     Latar Belakang Sejarah Perkembangan. Beberapa informan me-
nyebutkan sejarah lahirnya permainan ini merupakan suatu ciptaan
agar anak-anak tidak membuat keributan pada setiap perayaan/kera-
maian, misalnya pada perkawinan, kenduri, dan lain-lain.
     Setelah bermain tentu saja keributan dapat diatasi, dan mereka
berkumpul di suatu tempat yang agak jauh dari keramaian. Mereka
bermain sampai tiba waktu makan dan setelah makanan tersaji. Se-
lesai makan biasanya mereka akan melanjutkan permainannya lagi.
Kapan permainan i n i ada, tidak ada informan yang mengetahui dan
menurut mereka permainan i n i sudah dikenal sejak lama.
    Perkembangan permainan i n i m e m p u n y a i masa pasang dan surut.
Pada waktu yang lampau sebelum banyak diperkenalkan permainan
modern, permainan ini sangat digemari anak-anak. Pada masa itu
sampai dengan tahun 50-an, meuen som-som aneuk masih terdapat
di setiap kampung. Bila bulan purnama, di tempat-tempat pengajian
anak-anak akan memanfaatkan waktu yang baik. Setelah tahun 50-an
permainan i n i mengalami masa surut, dan akhir-akhir i n i sudah agak
dilupakan.

     Pemain/Pelaku. Peserta meuen som-som mie tidak dibatasi, se-
makin banyak semakin baik karena suasana akan lebih meriah. Sesuai
dengan sifat permainan, tentu saja para pemain berusaha untuk me-
narik anggotanya sebanyak mungkin.
     Permainan i n i dapat dilakukan oleh anak laki-laki dan atau anak
perempuan, yang berusia antara 6 sampai 1 5 tahun. Usia di bawah 6
tahun dianggap masih kanak-kanak sekali oleh teman-temannya, dan
yang telah melewati d i atas 1 5 tahun tidak dilarang untuk bermain.
tetapi pada dasarnya mereka sendiri telah malu. N a m u n , tidak dapat
disangkal kadang-kadang anak-anak yang telah lewat dari usia itu ma-
sih juga turut bermain.
    Permainan i n i baru dapat dilakukan sekurang-kurangnya empat
orang pemain. Misalnya pemain hanya terdiri dari tiga orang, yaitu
A , B , dan C. S i A bertindak sebagai p e n y e m b u n y i dan B serta C se-


60
bagai pencari anak yang disembunyikan. Tentu saja kalau disembunyi-
kan pada C dan yang ditanya pada siapa anak itu disembunyikan pa-
da B tentu saja jawabnya pada C. Bila dalam melakukan permainan
terdapat banyak peserta dan di samping itu terdapat variasi usia yang
berbeda, dengan sendirinya akan dibagi menjadi dua kelompok.
Mereka yang di bawah 10 tahun akan mengelompokkan sendiri, de-
mikian pula yang telah 10 tahun akan membuat kelompok tersendiri
pula. Harus diingat bahwa permainan ini bukan permainan yang da-
pat dipertandingkan antar kelompok. Jadi, masing-masing kelompok
bermain sendiri.

    Peralatan/Perlengkapan Permainan. Seperti telah dijelaskan di
atas, permainan lebih dititikberatkan pada unsur kegembiraan, se-
dangkan peralatan yang dipergunakan boleh dikatakan tidak ada.
Satu-satunya yang diperlukan adalah yang disebut anak, baik berupa
batu kecil maupun kayu, atau dapat juga semua benda untuk anak
dengan syarat dapat digenggam di dalam tangan dengan tidak nam-
pak. Anak (aneuk) atau apa yang disebut mie memegang peranan
dalam permainan. Lapangan untuk bermain tidak diperlukan, mereka
dapat bermain di mana saja, di bawah rumah, di bawah pohon kayu
asal dapat menampung mereka yang turut bermain untuk memben-
tuk sebuah lingkaran.

    Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa
pun.

     Jalannya Permainan. Setelah beberapa orang anak berkumpul pa-
da suatu tempat dan mereka sepakat untuk melakukan permainan
barulah permainan dapat dimulai. Seperti yang telah dijelaskan di
atas bahwa permainan ini baru dapat dilakukan apabila pemain yang
telah berkumpul lebih dari tiga orang atau dengan kata lain minimal
ada empat orang. Misalkan pemain yang telah berkumpul lima orang,
yaitu si A, B, C, D, dan E. Sebelum melakukan permainan mereka se-
cara bersama-sama menetapkan benda yang akan dijadikan anak un-
tuk disembunyikan. Hal ini perlu untuk menjaga jangan terjadi keke-
liruan, misalnya ditukar oleh seorang teman atau ditambah dengan
anak yang lain. Setelah mereka bersepakat menentukan benda yang
dijadikan anak, batu dan identitas dari batu itu telah dikenal bersama
oleh para pemain dan tidak mungkin lagi terjadi kekeliruan, barulah
permainan dimulai.

                                                                   61
     Dalam melakukan permainan som-som aneuk ini, seorang di an-
 tara pemain bertindak sebagai penyembunyi dan yang lainnya sebagai
 orang/pemain yang mencari tempat persembunyian anak tersebut.
 Untuk memulai permainan dan untuk menentukan orang pertama
 menjadi penyembunyi dilakukan undian sesama mereka. Cara mela-
 kukan undian melalui sut. Misalkan yang keluar sebagai pemenang
 adalah si B, berarti dialah yang bertindak sebagai penyembunyi
 aneuk.
     Setelah ada pemain yang bertindak sebagai penyembunyi, yaitu
 pemenang dari hasil undian seperti yang telah dijelaskan di atas, lang-
 kah kedua yang diambil adalah membentuk lingkaran untuk memulai
'permainan. Kalau tidak dalam bentuk lingkaran, para pemain dapat
 pula berbaris pada suatu garis. Kegunaan lingkaran atau garis ini un-
 tuk memudahkan penyembunyi menyembunyikan aneuk di antara
 sesama teman yang kalah dalam undian. Setelah si A, C, D, dan E
 membentuk lingkaran dengan menghadap keluar, selanjutnya mereka
 membungkuk dengan tangan-tangan mereka menelentang di atas
 tulang belakang (punggung). Demikian pula apabila si A , C, D, dan E
 tadi berbaris, mereka juga harus membungkuk dengan tangan mene-
 lentang di atas tulang belakang (punggung).
    Langkah selanjutnya yang dilakukan sekarang, si B sebagai pe-
nyembunyi aneuk atau mie, mengambil aneuk/mie untuk disembu-
nyikan di antara si A, C, D, atau E. Aneuk dipegang oleh si B, sedang-
kan si A, C, D, dan E membungkuk dengan tangan menelentang di
atas tulang belakang untuk memudahkan menyembunyikan aneuk
oleh B. Kemudian B dengan menyanyikan jel-jel sambil berputar di
luar lingkaran atau sambil berjalan di depan barisan dengan batu di
tangan dan meletakkan tangannya yang berisi batu satu per satu di
atas tangan A, C, D, dan E. Untuk menetapkan pada siapa batu ter-
sebut disimpan di antara A , C, D, atau E bergantung pada B. Selan-
jutnya yang harus mencari tempat aneuk tersebut disembunyikan
adalah pemain yang kejatuhan tangan B, setelah jel-jel berakhir di-
ucapkan. Setelah B menanyakan misalnya pada A, di mana aneuk di-
sembunyikan tentu saja A harus menerka pada siapa aneuk itu berada
di antara C, D, dan E. Misalkan aneuk berada di tangan C, lalu A me-
nyebut pada D atau E, dengan demikian B masih memimpin per-
mainan kembali. Perlu diingat setelah jel-jel berakhir diucapkan oleh
B, kemudian A, C, D, dan E berdiri tegak dengan tangan digenggam,
kecuali A karena ia pemain yang harus mencari aneuk. Bila A berhasil


62
menebak tempat atau pemain yang menggenggam aneuk dengan be-
nar, maka yang memimpin permainan selanjutnya adalah A karena
ia telah berhasil sedangkan B sekarang menjadi orang/pemain yang
harus masuk ke dalam barisan atau lingkaran.
    Jel-jel yang diucapkan oleh penyembunyi, kadang-kadang diikuti
diikuti oleh seluruh pemain yang berbunyi: "Crok-crok encing, ku
peucrok ku peu ranteng, jinoe ku som mie saboh, ka beudoh bak
soo meun". Sambil mengucapkan jel-jel ini si penyembunyi aneuk
dengan aneuk di dalam tangan terus memegang tangan pemain lain-
nya yang terlentang di atas tulang belakang satu per satu. Apabila
aneuk/mie telah diletakkan pada salah seorang, tangannya harus terus
menggenggam agar aneuk tersebut tidak jatuh dan tidak pula diketa-
hui oleh teman di sampingnya. Orang yang harus mencari aneuk ada-
lah orang yang kena pegang tangannya pada saat ucapan "bak soo
meuh" berakhir. Demikianlah permainan ini dilakukan secara terus
menerus, bila yang menerka menang, dia yang kemudian menjadi pe-
nyembunyi dan jika kalah permainan masih tetap dipimpin oleh pe-
nyembunyi terdahulu.


     Adapun arti dari jel tersebut: crok-crok encing tidak mempunyai
arti, kata ini merupakan sampiran bila dalam sebuah pantun. Ku
peucrok ku peu ranteeng artinya aku mengejar dengan ranting, jino
kusom mie saboh berarti sekarang aku menyembunyikan anak, ka
beudoh bak soo meuh artinya sekarang kalian bangun pada siapa
anak itu.


     Peranan Masa Kini. Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu
 bahwa permainan ini merupakan suatu permainan yang sudah langka
diketemukan di dalam masyarakat. Permainan ini tidak begitu disu-
kai lagi oleh anak-anak, hai ini disebabkan telah banyak jenis per-
mainan yang modern yang telah mereka pelajari di sekolah yang ke-
mudian mereka terapkan di kampung. Banyak di antara anak-anak
yang tidak tahu sama sekali tentang permainan ini, demikian pula
halnya dengan orang-orang tua yang tidak meneruskan permainan
ini kepada generasi sekarang. Mereka menganggap permainan ini ti-
dak begitu bermanfaat, baik ditinjau dari segi keolahragaan maupun
segi kecerdasan, sedangkan dari segi hiburan telah terdapat berbagai
jenis kegembiraan dalam bentuk yang lain.


                                                                 63
     Tanggapan Masyarakat. Tanggapan yang diberikan masyarakat
 yang dulunya adalah merupakan pendukung permainan ini, sekarang
 enggan untuk meneruskan atau mengajarkan kepada anak-anaknya.
 Kendati pun demikian bukanlah berarti bahwa permainan ini dilarang
 sama sekali oleh masyarakat. Menurut pengamatan penulis dalam
 waktu yang tidak lama lagi, permainan ini akan hilang.




64
65
                          13. PEH KAYEE

     Nama Permainan. Salah satu permainan yang berkembang di
dalam masyarakat Aceh dan digemari anak-anak pada masa dahulu
di dalam masyarakat Aceh adalah peh kayee. Nama permainan ini
menurut hasil wawancara dengan masyarakat penggemarnya adalah
berdasarkan kepada caranya melakukan permainan dan alat yang di-
pergunakan di dalam permainan tersebut. Meuen peh kayee terdiri
atas tiga kata, yaitu meuen, peh, dan kayee. Meuen berarti bermain
atau permainan, peh dapat berarti dengan memukul, dan kayee
berarti kayu. Jadi, meuen peh kayee secara keseluruhannya berarti
sejenis permainan yang mempergunakan kayu sebagai peralatan per-
mainan dengan cara memukul kayu tersebut.
    Walaupun permainan ini disebut meuen peh kayee, tidak berarti
 mutlak harus mempergunakan kayu sebagai alatnya, kadang-kadang
juga mempergunakan kayu sebagai alatnya, kadang-kadang juga mem-
pergunakan rotan, pelepah rumbia, atau aur yang telah kering. Cara
dan fungsinya akan dijelaskan di dalam jalannya permainan. Per-
mainan ini selain disebut meuen peh kayee, ada pula yang menyebut-
nya meuen gök, dan ada pula yang menyebutnya dengan meuen
sungkeet. Pemberian nama berdasarkan cara melakukan permainan
seperti yang telah disebutkan di atas. Meuen sungkeet adalah per-
mainan yang dilakukan dengan cara menyungkit kayu yang akan di-
pukul, sedangkan pemberian nama meun gok, yang diwawancarai
tidak dapat memberikan arti yang sesungguhnya dan mereka menye-
butkan memang telah diberikan sejak dulu.
    Waktu Pelaksanaan. Meuen peh kayee atau disebut juga meuen
gok, atau meuen sungkeet, waktu pelaksanaannya permainan ini ti-
dak terikat sama sekali, artinya tidak bergantung pada waktu terten-
tu hanya bergantung pada siapa yang akan bermain. Jika para pe-
mainnya telah ada minimal dua orang, permainan dapat dilangsung-
kan.
    Hal ini bergantung pula pada tersedianya lapangan permainan
yang cukup. Karena pada umumnya lapangan permainan ini telah
tersedia di beberapa tempat yang mudah dijangkau oleh anak-anak
atau dengan kata lain lapangan yang telah disediakan adalah di tem-
pat yang strategis, biasanya di tengah-tengah perkampungan. Apabila
anak-anak yang akan bermain telah hadir dan sepakat untuk bermain,
maka permainan dapat dilangsungkan. Permainan ini tidak pernah

66
dimainkan pada malam hari dan bergantung pada keadaan alam.
Waktu yang sering digunakan anak-anak pada umumnya sehabis ma-
kan atau pada waktu istirahat setelah melakukan sesuatu pekerjaan
atau pada waktu mereka telah sampai di tempat-tempat pengajian
sebelum melakukan pengajian.
     Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Latar belakang
sosial budaya para pemain atau yang menjadi pendukung permainan
ini sama halnya dengan jenis permainan lainnya yang terdapat di Dae-
rah Istimewa Aceh, khususnya yang mempergunakan kebudayaan
Aceh. Permainan ini bersifat permainan yang ringan dan mudah dila-
kukan oleh anak-anak. Permainan ini tidak membedakan asal ketu-
runan atau status sosial dengan kata lain didukung oleh seluruh lapis-
an masyarakat.

    Permainan ini merupakan sarana yang ampuh bagi anak-anak un-
tuk dapat bergaul. Para orang tua yang anak-anaknya bermain per-
mainan ini tidak pernah mempersoalkan dengan siapa mereka mela-
kukan permainan dan selalu mengawasi agar mereka tidak berbuat ja-
hat. Karena itu permainan ini dapat dianggap sebagai suatu usaha un-
tuk menghindarkan anak-anak dari pekerjaan yang mengarah kepada
kejahatan. Dengan permainan ini anak-anak telah mengisi waktu
senggang.
    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Dalam mene-
lusuri sejarah lahirnya serta perkembangan permainan ini agak sukar
karena tidak diperoleh data-data yang diperlukan untuk dianalisa.
Hal ini disebabkan permainan ini telah terdapat di dalam masyarakat
Aceh dalam kurun waktu yang cukup lama. Para informan yang dulu
pernah melakukan permainan ini, memberikan jawaban yang menye-
butkan bahwa mereka hanya meneruskan permainan yang telah lama
dikenal sejak dahulu atau generasi sebelumnya.
    Di samping tidak berhasil mengungkapkan sejarah lahirnya atau
asal usul dari permainan ini, juga sejarah perkembangannya, berdasar-
kan data-data yang dapat dikumpulkan permainan ini dalam perkem-
bangannya telah mendapat tempat yang baik di dalam masyarakat.
Hal ini disebabkan bahwa di dalam permainan ini terkandung unsur-
unsur pendidikan dan olah raga. Unsur pendidikan yang terkandung
di dalamnya adalah kejujuran dan hitungan karena mempergunakan
angka bilangan sampai seribu atau lebih (sesuai dengan perjanjian)
untuk mengakhiri permainan. Angka-angka ini harus diperoleh oleh

                                                                   67
satu group atau seorang pemain dan mereka menghitungkan masing-
masing, tidak boleh melakukan penipuan; sedangkan olah raga terle-
tak pada gerakan permainan yang melakukannya.
     Pemain/Pelaku. Para pemain yang bermain permainan ini adalah
yang telah dapat menghitung atau mereka yang telah belajar meng-
hitung karena permainan ini menggunakan hitungan dalam meng-
akhiri setiap permainan. Para pemain dapat terdiri atas anak-anak
laki saja dapat pula anak-anak perempuan saja, atau dapat pula
laki-laki dan perempuan. Dalam permainan yang bersifat campur-
an, yang harus diperhatikan adalah faktor keseimbangan kelompok
seperti yang telah dijelaskan di atas, sehingga permainan dapat ber-
langsung dalam waktu yang lama dan seimbang.

    Peralatan/Perlengkapan Permainan. Perlengkapan yang diperlu-
kan hanyalah sebuah gagang sepanjang kurang lebih 60 cm yang di-
pergunakan sebagai alat pemukul dan sebuah anak kayee sepanjang
lebih kurang 10—15 cm untuk dipukul pemain. Selain itu diperlukan
pula sebuah lapangan untuk bermain yang mempunyai panjang an-
tara 10-20 meter.

    Adapun alat yang dipergunakan untuk gagang ataupun anak da-
pat dipakai kayu yang telah kering atau dapat pula bahan-bahan lain
seperti rotan, pelepah rumbia, atau aur. Jika yang dipergunakan un-
tuk gagang adalah kayu, maka untuk anaknya harus dipergunakan
kayu pula, demikian pula seterusnya. Hal ini adalah untuk menjaga
keseimbangan antara gagang dan anaknya, sehingga tidak ada yang
lebih berat, misalnya lebih berat gagang yang terbuat dari kayu se-
dangkan anak dari pelepah rumbia lebih ringan dan ini tidak dibenar-
kan dalam permainan ini.

     Iringan Permainan. Permainan ini tidak diiringi iringan apa pun.
    Jalan Permainan. Permainan baik dalam bentuk perseorangan
maupun dalam bentuk beregu, cara dan aturan permainan adalah
sama. Dalam permainan kelompok sebelum memulai permainan ter-
lebih dahulu mereka membagi kelompok atas dua bagian yang sama
kuat untuk menjaga keseimbangan permainan. Sebelum kita jelaskan
jalannya permainan baiklah diperkenalkan lebih dahulu beberapa isti-
lah yang dipergunakan di dalam permainan, yaitu boh sungkeet, boh
pet, dan boh jeungki. Yang dimaksud boh sungkeet adalah bola per-
tama dalam memulai permainan dengan menyungkit anak yang telah


68
diletakkan di atas lobang yang telah disediakan dengan gagangnya se-
kuat mungkin ke arah lawan. Boh peh adalah bola kedua di mana
anak diumpamakan sebagai bola sesudah dilambung ke atas kemu-
dian dipukul sekuat mungkin ke arah lawan, sedangkan boh jengki
adalah bola ketiga, di mana anak diletakkan di atas lobang secara
membujur yang sebagian berada di dalam lobang dan sebagian berada
di atas, kemudian dipukul bagian atas sampai naik, setelah anak ini
naik dari atas lobang diusahakan untuk dipukul secara lemah bebera-
pa kali dan seandainya tidak dapat dipukul secara lemah barulah di-
pukul yang kuat ke arah lawan.

    Setelah pembagian pemain menjadi dua regu dan untuk masing-
masing regu memilih pimpinan regu untuk mengatur jalannya per-
mainan regunya masing-masing. Kedua pimpinan regu melakukan sut,
demikian pula dalam permainan per seorangan, untuk menentukan
pemenang yang akan memulai permainan dan yang kalah menjadi
penjaga. Tugas pimpinan regu yang lain juga menentukan siapa yang
naik pertama, kedua, dan seterusnya; tidak pula dilupakan untuk
menghitung. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa permainan ini ada-
lah permainan anak-anak yang telah pandai berhitung. Anak-anak
yang selalu melakukan permainan ini adalah anak-anak yang telah
berumur sekitar 8-16 tahun. Apabila dibandingkan dengan keadaan
sekarang, para pemain yang dapat melakukan permainan adalah me-
reka yang telah duduk di kelas dua serendah-rendahnya sampai ke-
pada mereka yang telah belajar di SMP.

    Mengenai jumlah pemain dapat dijelaskan bahwa permainan ini
dapat dimainkan oleh per seorangan atau beregu. Bila permainan
dilakukan secara per seorangan dapat dilakukan oleh dua atau tiga
orang yang masing-masing akan menghadapi lawan bermainnya se-
cara sendiri-sendiri. Selain dapat dilakukan permainan secara per se-
orangan dapat pula dilakukan dengan berkelompok yang pada dasar-
nya terdiri atas dua kelompok. Masing-masing kelompok tidak ada
pembatasan bergantung pada jumlah pemain yang hadir. Untuk mem-
bagi kelompok, yang harus diperhatikan adalah faktor keseimbangan
baik dari segi umur maupun dari segi kecakapan pemain. Hal ini da-
pat diterangkan misalnya ada 6 orang pemain, masing-masing regu 3
orang. Kriteria pertama dipakai umur dan yang kedua kecakapan ber-
main, jangan sampai untuk satu regu ketiga pemain pandai-pandai
dan yang satu lagi semuanya pemain yang belum pandai.


                                                                  69
    Menylnggung latar belakang para pemain dan jenis kelaminnya ti-
dak terdapat perbedaan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa
permainan ini tidak membedakan tentang latar belakang sosial para
pemain, mereka dapat bermain secara bersama-sama. Demikian pula
mengenai jenis kelaminnya, mereka dapat melakukan permainan
secara bersama-sama. Kemudian secara bersama-sama menentukan
besar point yang harus dicapai untuk mengakhiri setiap kali permain-
an, biasanya antara 1.000—10.000 point. Apabila sudah disepakati
bersama barulah permainan dimulai.

    Setelah selesai pembagian regu dan tugas setiap regu, regu peme-
nang menempati bagian yang dipakai untuk melakukan pemukulan
dan yang kalah menempati lapangan untuk menjaga bola. Setiap pe-
main memulai dengan bola pertama, yaitu boh sungkeet. Ia mele-
takkan anak di atas lobang yang telah digali berukuran lebih kurang
dalamnya 5 cm, panjang 10 cm, dan luas 5 cm. Cara meletakkan anak
adalah melintang lobang, yang kemudian ia menyungkit anak itu de-
ngan gagang yang telah tersedia ke arah lawan sejauh mungkin.

    Dalam melakukan penyungkitan ia harus menghindari agar anak
itu tidak dapat disambut oleh lawannya karena kalau berhasil disam-
but berarti yang sedang naik ini dinyatakan mati dan kelompok la-
wan mendapat 10 point. Bila setelah ia melakukan penyungkitan
anak tersebut tanpa berhasil disambut oleh lawannya, sekarang ia ha-
rus letakkan gagang pemukul tadi di atas lobang dengan melintang.
Kelompok penjaga mengambil bola di tempatnya jatuh, di tempat
itu ia berdiri lalu melempar ke arah gagang tersebut. Bila lemparan-
nya mengena berarti pemain pertama telah mati atau sebaliknya,
jika pada waktu melemparkan gagang tidak kena dan kalau jauh dari
lobang yang sedang naik dapat diukur dengan gagang berapa gagang
anak itu jauh dari lobang, jika misalnya 5 (lima) berarti yang sedang
naik telah mendapat 5 (lima) point.

    Setelah ia melakukan penyungkitan anak (bola) pertama dan ter-
nyata tidak mati, ia melanjutkan kepada bola kedua (boh peh). Ia
tetap berdiri di tempat pemukulan, yaitu di pinggir lobang dengan
memegang gagang di tangan kanan dan anak di tangan kiri atau se-
baliknya menurut kemampuannya. Lalu bola (anak) dilambung ke
atas dengan tidak seberapa tinggi, kemudian dipukul. Jika di pihak
lawan berhasil menyambut bola (anak) tersebut mereka telah men-
dapat 20 angka (point) dan pihak yang naik telah mati. Kalau tidak

70
dapat disambut, untuk selanjutnya anak akan dikembalikan ke lo-
 bang tempat pemukul yang berusaha memukul kembali anak yang te-
lah dikembalikan tersebut agar tidak masuk ke lobang. Bila anak ter-
sebut masuk lobang berarti yang sedang naik mati, tetapi bila berhasil
jauh dipukul, dia akan mendapat point (angka). Cara menghitung
angka dari boh peh adalah seberapa jauh ia dapat memukul anak
yang dikembalikan oleh lawannya ke lobang dan dihitung dari tem-
pat jatuh anak sampai ke tepi lobang dengan jalan mengukurnya
dengan anak itu sendiri. Misalkan anak yang berhasil dipukul dari
pengembalian lawan sejauh 30 kali ukuran anak itu sendiri, berarti
mereka telah memperoleh 30 point.
   Demikian pula halnya bila dalam pengembalian anak itu tidak
dapat dipukul dan anak itu masuk ke dalam lobang yang sedang naik
mati.
    Pada pemukulan boh jeungki, cara pemukulannya telah disebut-
kan di atas, yaitu dengan cara meletakkan anak secara membujur
di dalam lobang dengan seperdua atau lebih berada di atas lobang
yang kemudian dipukul bagian yang berada di atas lobang, sehingga
terangkat ke atas. Setelah itu ia berusaha untuk memukul pelan-pelan
dan terakhir bila pemukulan ini tidak berhasil lagi barulah dilakukan
pemukulan yang keras. Dalam melakukan pemukulan pertama terse-
but si pemukul mendapat point, setiap kali berhasil dipukul dihitung
10 point. Jadi, bila ia berhasil melakukan pemukulan pelan ini seba-
nyak 10 kali berarti ia telah memperoleh 100 point. Dalam ia mela-
kukan pemukulan yang terakhir bila dapat disambut oleh pihak la-
wan berarti yang sedang naik dinyatakan mati, sedangkan yang dapat
menyambut mendapat 50 point. Pada pemukulan boh jeungki ada
suatu hal istimewa, yaitu pemukul walaupun ia telah melakukan pe-
mukulan terakhir dapat disambut dan dinyatakan mati, tetapi point-
nya dihitung berapa kali ia berhasil memukul anak itu secara pelan-
pelan seperti yang telah disebutkan di atas. Setelah ia melakukan pe-
mukulan terakhir dan tidak berhasil disambut pihak lawan, perhi-
tungan point menjadi bertambah. Perhitungannya dilakukan dengan
cara jumlah pemukulan kecil ditmbah dengan jauhnya jatuh anak
dari tepi lobang yang diukur dengan anak itu sendiri dan setiap satu
anak mendapat 10 point. Sebagai contoh dapat disebutkan sebagai
berikut: Si A yang melakukan pemukulan boh jeungki berhasil me-
mukul secara pelan-pelan 5 kali berarti 50 point karena setiap kali
berhasil dipukul mendapat 10 point. Selanjutnya ia berhasil pula me-


                                                                   71
mukul anak itu untuk terakhir kali tanpa dapat disambut lawan se-
jauh 10 kali ukuran anak dari tepi lobang. Ia mendapat 100 point
karena setiap satu kali ukuran anak mendapat point 10. Dengan sen-
dirinya pada pemukulan boh jeungki yang dilakukan si A tersebut te-
lah memperoleh 1 50 point.
     Demikianlah cara melakukan permainan dan cara menghitung ni-
lai atau point yang didapat oleh seseorang pemain di dalam permain-
an ini. Apabila ia telah berhasil memukul sejak dari bola pertama
(boh sungkeet) sampai ke bola ketiga (boh jeungki), barulah ia men-
jumlahkan nilainya dan kemudian ia melanjutkan permainan yang di-
mulai lagi dari boh sungkeet. Selanjutnya cara menentukan peme-
nang adalah kelompok yang terlebih dahulu memperoleh nilai seba-
nyak yang telah dimufakati bersama yang batasnya antara 1000-
 10.000. Inilah cara-cara yang dilakukan di dalam permainan yang me-
merlukan ketangkasan pemain, baik per orangan maupun beregu, dan
dari segi lain melatih mereka agar dengan cepat dapat menghitung un-
tuk menjumlah angka yang diperoleh dari boh sungkeet ditambah
boh peh, dan ditambah lagi boh jeungki yang merupakan point se-
tiap pemain atau beregu.
    Peranannya Masa Kini. Meuen peh kayee yang merupakan per-
mainan tradisional yang telah berkembang cukup lama di dalam ma-
syarakat Aceh, mendapat tempat yang baik di tengah-tengah masya-
rakat. Dewasa ini begitu banyak berkembang permainan-permainan
yang baru yang telah dikenal anak-anak sampai ke pelosok-pelosok
desa, menyebabkan beberapa jenis permainan tradisional menjadi ter-
desak. Anak-anak lebih banyak melakukan jenis-jenis permainan yang
diajarkan di sekolah-sekolah jika dibandingkan dengan permainan
yang terdapat di dalam masyarakat atau permainan tradisional. Ken-
datipun demikian menurut pengamatan yang dilakukan di desa yang
menjadi obyek penelitian bahwa suatu hal yang menggembirakan
bahwa permainan ini masih tetap dilakukan anak-anak. Selain itu,
anak-anak masih tetap belajar cara-cara melakukan permainan ini
dari generasi sebelumnya atau sebaliknya mereka tetap meneruskan
cara-cara melakukan permainan kepada anak-anak yang ingin melaku-
kan permainan. Dengan demikian jika dibandingkan dengan jenis-
jenis permainan rakyat lainnya dapatlah dikatakan bahwa meuen peh
kayee masih tetap bertahan walaupun penggemarnya tidak seramai
tempo dulu, sedangkan permainan rakyat yang lainnya ada yang te-
lah musnah ditelan jenis permainan modern.


72
    Tanggapan Masyarakat. Setiap orang tua atau pemuda yang me-
ngerti cara melakukan permainan ini, tetap me wariskan cara-caraper-
mainan ini kepada generasi selanjutnya. Tanggapan yang diberikan
masyarakat masih bersifat positif, artinya mereka masih tetap meme-
lihara kelestarian permainan ini dari persaingan dengan permainan
modern seperti yang telah dijelaskan di atas dengan cara mengajar
atau membimbing anak-anak untuk permainan ini. Mereka melihat
bahwa dengan melakukan permainan ini terdapat dua unsur yang
penting seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu unsur olah raga
dan pendidikan. Dengan demikian masyarakat beranggapan permain-
an ini milik mereka yang perlu dipelihara untuk diteruskan. Masalah
lain yang timbul kini adalah bagaimana memasyarakatkan kembali
permainan peh kayee ini, sehingga betul-betul menjadi permainan
yang ramai dimainkan anak-anak di setiap kampung atau desa.




                                                                 73
74
                      14. MEUSOM-SOM T A L O

    Nama Permainan. Meusom-som talo adalah sejenis permainan
yang dilakukan anak-anak hampir di seluruh wilayah Daerah Istime-
wa Aceh. Nama permainan ini berdasarkan jenis alat yang dipakai
untuk sasaran permainan, yaitu seutas tali yang dalam bahasa Aceh
disebut talo. Tali yang dipakai untuk mainan ini dapat dibuat atau
terdiri dari apa saja jenisnya, yang penting dapat dijadikan sebagai
suatu gulungan kecil dengan diikat kedua ujungnya, sehingga bersam-
bung menjadi suatu gulungan. Bulatan/gulungan tali kecil ini disem-
bunyikan dalam tanah berpasir yang lokasinya sudah ditentukan un-
tuk bermain, yaitu dengan memberi suatu tanda berupa goresan yang
berbentuk lingkaran di atas tanah tempat permainan berlangsung.
    Setelah tali disembunyikan oleh salah seorang pemain dalam ling-
karan tanah tersebut, kemudian dicari oleh para pemain lainnya de-
ngan mempergunakan sekerat lidi atau sejenis kayu seperti lidi. Ka-
rena yang menjadi sasaran pencarian adalah tali yang disembunyikan,
maka permainan ini diberi nama Meen Meusom-som talo, artinya da-
lam bahasa Indonesia permainan sembunyi-sembunyian tali.
     Waktu Pelaksanaan. Permainan ini dilakukan pada siang hari dan
biasanya berlangsung pada waktu senggang, artinya tidak pada wak-
tu/jam sekolah atau waktu ada kegiatan kampung seperti kenduri,
kematian, dan sebagainya. Umumnya dilakukan pada waktu menje-
lang tengah hari (antara jam 11 sampai 12), sambil menunggu orang
tuanya pulang dari bekerja, atau pada waktu sore (antara jam 3-4),
sementara orang tua mereka beristirahat. Permainan dilakukan di
tempat-tempat yang rindang seperti di bawah pohon-pohon besar
yang tidak membahayakan sekitar rumah. Atau ada juga yang ber-
main di bawah rumah (hal ini memungkinkan karena rumah orang
Aceh pada umumnya bertiang dan bentuknya tinggi serta berpang-
gung, sehingga di bawahnya dapat dijadikan untuk tempat beristira-
hat atau bermain bagi anak-anak). Lokasi atau tempat permainan ini
dilangsungkan berada tidak jauh dari rumah. Hal ini mempunyai
maksud atau terkandung suatu unsur keamanan bagi anak-anak, agar
mereka bermain tidak begitu jauh dari rumah mereka, sementara
orang tua mereka sedang bekeja atau beristirahat.
     Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. D i atas telah di-
jelaskan bahwa permainan ini mengandung suatu unsur bagi anak-
anak, yaitu agar mereka bermain tidak jauh dari rumah mereka. Se-

                                                                   75
bagaimana diketahui, pada umumnya masyarakat Aceh adalah ma-
syarakat petani, sebagai penggarap tanah, baik di sawah maupun di
kebun yang jaraknya beberapa kilometer dari rumah-rumah mereka.
Lazimnya anak-anak yang bersekolah, pulang dari sekolah dan tiba
di rumah sekitar jam 11 siang saat orang-orang tua mereka masih be-
kerja di sawah-sawah atau kebun-kebun. Sementara menunggu
orang tua pulang, anak-anak memanfaatkan kesempatan ini untuk
bermain-main, di antaranya bermain meusom-som talo (antara jam
 11-12). Bila orang tua mereka sudah pulang dari bekerja kemudian
melakukan shalat dhuhur (waktu beribadah siang hari) yang dilan-
jutkan dengan makan bersama anak-anaknya serta sesudah sebagian
orang tua ini ada yang bekerja kembali di tempat semula dan seba-
gjannya ada yang beristirahat. Pada saat ini juga dimanfaatkan anak-
anak untuk bermain permainan ini (antara jam 2 sampai jam 4 sore).

     Di sini anak-anak melakukan permainan ini tidak jauh dari ling-
kungan rumah mereka, dan mereka memanfaatkan waktu tersebut
dengan sebaik-baiknya. Hal ini mungkin dimaksudkan oleh "si pen-
cipta" permainan ini, agar anak-anak bila pada saat tersebut tidak
bermain jauh dari lingkungan rumah mereka karena orang tua mereka
pada saat itu berada di tempat yang jauh dan mereka (para orang tua)
pada saat itu tidak dapat mengawasi secara langsung anak-anak mere-
ka bermain, mengingat kemungkinan adanya bahaya yang mungkin
dapat menimpa/terjadi atas anak-anak (seperti binatang-binatang
buas dan bahaya lainnya). Bila si anak bermain di dekat rumah,
para orang tua akan merasa lebih aman bagi keselamatan anak-anak-
nya.
     Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Permainan ini
selain mengandung unsur keamanan bagi anak-anak yang jauh dari
pengawasan orang tuanya juga mengandung unsur siasat, yaitu keli-
haian si-anak dalam menerka lokasi atau tempat tali disembunyikan.
Jadi, bagi si anak mengandung pula unsur latihan mencerdaskan da-
lam menebak sesuatu benda yang disembunyikan di tempat-tempat
tertentu. Sejak kapan permainan ini terdapat di Daerah Istimewa
Aceh, belum mendapatkan data-data yang konkrit.
    Pemain/Pelaku. Permainan ini khusus untuk anak-anak dan
umumnya anak laki-laki. Namun, kadang-kadang terdapat pula peser-
ta anak-anak putri. Jumlah pemain permainan ini sekitar 4 atau 7
orang anak, dan umurnya sekitar 10 sampai 12 tahun. Seperti telah

76
dijelaskan di atas, pemain sebagian besar anak-anak petani dalam arti
yang sesungguhnya.
    Peralatan/Perlengkapan Permainan. Seperti telah disebutkan di
atas, alat utama yang dipakai dalam permainan ini, yaitu seutas tali
yang panjangnya tidak lebih sehasta. Tali ini disambung kedua ujung-
nya, sehingga menjadi sebuah gulungan kecil. Tali ini dapat dibuat
dari jenis apa saja, yang penting kuat (tidak mudah putus) dan dapat
disambung/dibuat menjadi suatu gulungan. Selain tali alat lain yang
diperlukan, yaitu lidi atau sejenisnya yang ukuran panjangnya kira-
kira satu jengkal. Setiap pemain harus memiliki 10 lidi dalam ukuran
sama. Selanjutnya peralatan lain yang diperlukan ialah tempat/tanah
untuk menyembunyikan tali. Ini biasanya dipakai tanah yang berpa-
sir dan kering untuk memudahkan masuknya tali ke dalamnya.
Tanah yang digunakan untuk permainan ini beradius sekitar satu
meter dan di atasnya dibuat sebuah lingkaran. Dalam lingkaran ini-
lah tali tersebut disembunyikan. Jadi, jika dilihat dari segi peralatan
atau perlengkapan permainan yang dipakai sangat sederhana.
       Iringan Permainan.   Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa
pun.
     Jalannya Permainan. Setelah anak-anak pulang dari sekolah dan
tiba di rumah masing-masing, biasanya setelah meletakkan alat-alat
sekolah (batu tulis, grip, dan sebagainya), mereka berkumpul kem-
bali. Juga setelah selesai makan siang bersama orang tuanya, biasa-
nya berkumpul kembali. Pada saat berkumpul inilah mereka bermain
pelbagai permainan yang mereka senangi sesuai dengan tingkat per-
mainan mereka, salah satu di antaranya ialah permainan Meusom-som
talo. Untuk permainan ini mereka mudah mendapatkan/memper-
siapkan alat-alatnya (seperti yang telah disebutkan di atas). Setelah
tempat main ditentukan (di bawah pohon yang rindang atau di ba-
wah rumah), kemudian dibuat suatu lingkaran pada tanah (beradius
1 meter). Jika setiap peserta telah siap dengan lidi-lidinya dan tali un-
tuk disembunyikan juga telah ada, maka dimulailah permainan ini.
     Melalui suatu undian yang dilakukan dengan tangan atau sut,
ditentukan siapa yang pertama menyembunyikan tali ke dalam ta-
nah. Dan salah seorang di antara pemain keluar sebagai pemenang
undian, berhak untuk menyembunyikan tali, sementara pemain lain-
nya menghadap ke tempat lain dengan menutup mata untuk mem-
beri kesempatan kepada si pemenang menyembunyikan tali pertama
kali ke dalam tanah. Dalam menyembunyikan tali, untuk mengelabui

                                                                      77
para pemain lain ia membuat onggokan-onggokan tanah atau meng-
gali beberapa tempat seolah-olah di situlah tali disembunyikan. Se-
lanjutnya setelah selesai tali disembunyikan, secara bergiliran para
pemain ini mencari tali tersebut kecuali si penyembunyi. Pencarian
ini dilakukan dengan lidi, dan setiap pemain dapat memiliki lidi se-
puluh biji. Lidi ini ditancapkan secara bergiliran di tempat-tempat
dalam lingkaran yang diperkirakan di situlah tali disembunyikan.
Tancapan lidi ini harus tepat berada di tengah-tengah (dalam gulung-
an) tali. Lidi yang ditancapkan ini kemudian ditarik (tidak dicabut)
keluar lingkaran tersebut. Jika üdi tersebut tertancap tepat dalam
gulungan tali, dengan sendirinya tali akan ikut tertarik ke luar ling-
karan. Dan siapa yang berhasil demikian, maka ia keluar sebagai pe-
menang. Selanjutnya giliran si pemenang ini yang menyembunyikan
tali.
    Pada tingkat awal, setiap pemain mencapkan 1 (satu) üdi, kemu-
dian jika tidak ada yang berhasil menemukannya diulangi lagi sampai
ke-10 lidi habis. Jika tidak ada yang menemukannya, si penyembunyi
keluar sebagai pemenang, dan dia dapat mengulangi menyembunyi-
kan lagi sampai para pemain lainnya dapat menemukannya.
    Peranan Masa Kini. Di daerah-daerah yang letaknya dekat kota
(ibukota Propinsi -dan ibukota Kabupaten), permainan ini pada masa
sekarang sudah jarang dilakukan karena di daerah-daerah tersebut
situasinya sudah mulai dipengaruhi situasi kota-kota tersebut, sehing-
ga banyak jenis permainan anak-anak yang modern (seperti per-
mainan kasti, keneker, dan sebagainya) telah melanda atau mempe-
ngaruhi anak-anak daerah-daerah tersebut. Namun, di daerah-daerah
pedesaan yang letaknya agak jauh dari kota-kota tersebut, meusom-
som talo masih dapat dijumpai.
    Tanggapan Masyarakat. Pada masyarakat petani pedesaan per-
mainan ini masih mereka anggap positip, dilihat dari segi keamanan
seperti telah disebutkan di atas, tetapi kurang memperhatikan segi
kesehatan bagi anak-anak.




78
79
                        15. MEUEN GEUTI

      Nama Permainan. Suatu permainan lain yang juga terdapat di
 Daerah Istimewa Aceh, khususnya yang terdapat di kawasan Aceh
 Besar adalah permainan meuen geuti atau meu geuti. Seperti telah
 dijelaskan dalam permainan-permainan terdahulu bahwa pemberian
 nama berdasarkan cara melakukan permainan ini. Meuen artinya
 bermain dangeuti artinya tengki. Jadi, secara lengkap berarti per-
 mainan yang dilakukan anak-anak dengan cara menengki biji-bijian,
 seperti biji asam jawa, biji meninjau, buah kemiri, atau batu-batu
 kecil.
    Nama lain untuk permainan ini adalah meu teh, tetapi ada juga
yang menyebutkan dengan meu keh. Baik meu teh maupun meu keh
mempunyai arti yang sama dengan meu geuti. Penyebutan meu teh
atau meu keh terdapat di beberapa daerah, dengan berdasarkan pada
bunyi yang ditimbulkan biji-bijian atau batu-batu kecil yang mengena
antara satu dengan yang lainnya pada saat biji itu ditengki. Demikian-
lah pemberian nama untuk permainan ini, baik meuen geuti maupun
meu teh atau meu keh, yang semata-mata berdasarkan pada cara me-
lakukan atau bunyi yang ditimbulkan oleh permainan.
    Waktu Permainan. Pada umumnya permainan ini dimainkan
anak-anak pada waktu senggang dan pada saat mereka sedang ber-
kumpul di suatu tempat yang memungkinkan berlangsungnya per-
mainan tersebut. Untuk menentukan waktu senggang bagi anak-anak
petani sebenarnya agak sulit. Hal ini disebabkan mereka pada waktu
turun ke sawah tidak pernah mengenai waktu senggang. Mereka
membantu orang tua di sawah atau yang laki-laki turut mencari ma-
kanan ternak dalam rangka meringankan beban orang tua. Bagi anak-
anak wanita pada waktu orang tuanya turun ke sawah, mereka mem-
punyai tugas yang berat, yaitu menjaga adik-adik yang ditinggalkan
oleh orang tua mereka yang sedang ke sawah. Jadi, waktu senggang
mereka agak jarang kendati pun demikian mereka bermain permain-
an ini di sela-sela kesibukan.
    Waktu senggang yang panjang bagi anak-anak adalah pada saat
pekerjaan di sawah selesai. Pada masa ini orang tua tidak menyita
waktu anak-anak, selain mereka hanya pergi ke sekolah atau belajar
mengaji. Waktu yang demikian mereka pergunakan sebanyak mung-
kin untuk melakukan permainan termasuk permainan geuti. Bagi
anak perempuan, mereka bermain di tempat-tempat mereka berkum-

80
 pul di perkampungan, sedangkan anak laki-laki mereka juga bermain
 di tempat-tempat berkumpul yang pada umumnya di meunasah atau
 di mesjid. Tempat-tempat ini sering dipakai sebagai arena bermain
 geuti.
      Latar Belakang Sosial Budaya. Membahas latar belakang sosial
  budaya pendukung permainan ini adalah sama halnya dengan per-
 mainan lain yang terdapat di Aceh seperti yang telah dijelaskan di
 atas. Permainan ini bersifat permainan ringan dan dapat dilakukan di
 sembarang tempat. Karena itu, permainan geuti didukung oleh setiap
 lapisan masyarakat. Dalam permainan ini tidak dibedakan asal-usul
 keturunan mereka. Jadi, permainan ini tidak mempersoalkan latar
 belakang sosial walaupun lapisan sosial di dalam masyarakat masih
 berlaku.
     Permainan ini lebih banyak didukung anak petani karena meru-
 pakan lapisan sosial yang terbesar di dalam masyarakat, anak pengua-
 sa (hulubalang), dan anak-anak yang berasal dari lapisan sosial lain
yang merupakan unsur terkecil di dalam masyarakat.
     Oleh karena sifat permainan ini ringan dan mudah dilakukan
serta didukung oleh setiap lapisan masyarakat, maka permainan ini
digemari setiap anak. Mereka sering melakukan permainan ini pada
saat sedang berkumpul. Selain itu, permainan ini digemari anak-anak
karena terdapat unsur pertaruhan yang membawa keuntungan bagi
yang menang. Kendatipun kemenangan ini hanya merupakan salah
satu unsur yang ingin dicapai dalam permainan dan hasilnya akan di-
nikmati bersama. bagi yang menang akan memperoleh biji meninjau,
biji asam jawa, yang kemudian digoreng yang merupakan makanan
yang digemari anak-anak, tentu saja akan dibagi-bagikan juga kepada
mereka yang menderita kekalahan.
     Latar Belakang Sejarah Perkembangan. Memperoleh sejarah la-
hirnya serta perkembangan permainan ini agak sukar, tetapi yang pas-
ti permainan ini telah terdapat di dalam masyarakat Aceh dalam wak-
tu yang telah cukup lama dan mendapat dukungan dari setiap anggo-
ta warga masyarakat.
     Beberapa informan yang telah diwawancarai tidak dapat menje-
laskan asal-usul permainan ini, mereka menjelaskan bahwa permainan
ini telah terdapat di dalam masyarakat Aceh sejak dahulu dan mereka
hanya meneruskan. Dalam perkembangan selanjutnya telah menda-
pat tempat yang baik di dalam masyarakat sejak zaman dahulu sam-
pai dewasa ini. Sesuai denga perkembangan zamannya, permainan ini


                                                                 XI
 sekarang, walaupun tidak dapat dikatakan berkembang dengan pesat,
 namun masih tetap dimainkan anak-anak terutama di pedesaan. Ber-
 beda dengan jenis permainan tradisional lainnya kadang-kadang sama
 sekali tidak mendapat dukungan lagi.
        Peserta/Pelaku. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, permainan
  i n i digemari anak-anak baik anak perempuan maupun anak laki-laki.
  Tidaklah berlebihan bila dikatakan permainan i n i sama digemarinya
  dengan permainan modern yang berkembang sekarang. Dalam per-
 mainan i n i kendatipun bukan unsur k o m p e t i t i f yang dipentingkan,
 tetapi d i dalam memainkan permainannya diperlukan ketekunan dan
 keterampilan yang tinggi. Permainan i n i dapat dimainkan antar i n d i -
 vidu (perseorangan) dan dapat pula dimainkan antar kelompok. Pada
 permainan individu biasanya para pemain yang telah berkumpul anta-
 ra satu sampai dua orang, apabila telah lebih dari tiga orang, misalnya
 4, 6, dan seterusnya, permainan dapat dimainkan secara beregu/ke-
 lompok.

    Dalam permainan yang bersifat individu masing-masing pemain
berusaha untuk dapat mengalahkan lawannya secara sendiri-sendiri,
dan bila permainan dimainkan secara k e l o m p o k tentu saja k e l o m p o k
itu akan diusahakan adanya keseimbangan. Mengenai k e l o m p o k
umur yang turut mendukung permainan i n i adalah berkisar antara
6 sampai 15 tahun. Pembatasan umur sesungguhnya tidaklah suatu
keharusan atau tidak ada suatu patokan yang tegas karena di dalam
kenyataan kadang-kadang para pemuda yang telah berumur sampai
18 tahun sekali-sekali masih melakukan permainan i n i .

     Peralatan/Perlengkapan Permainan. Dalam memainkan meu geuti
 tidak diperlukan perlengkapan yang banyak sesuai dengan sifat per-
mainan yang sederhana dan mudah dilakukan, demikian pula halnya
 dengan perlengkapan sangat sederhana. Seperti telah dikatakan di
atas bahwa perlengkapan yang diperlukan hanya biji-bijian seperti
biji meninjau, biji asam atau biji kemiri. D i samping i t u , kadang-
kadang dipergunakan pula batu-batu kecil. Dalam hal penggunaan
batu kecil i n i dipakai pada saat-saat biji meninjau, biji asam, atau biji
kemiri sukar diperoleh, misalnya pada saat bukan musim biji-bijian
tersebut. Selain itu yang telah disebutkan perlengkapan yang lain ti-
dak diperlukan.

    Iringan Permainan. Permainan i n i tidak diiringi oleh iringan apa
pun.


82
     Jalan Permainan. Seperti telah diutarakan di atas bahwa per-
mainan ini dapat dimainkan dengan mudah oleh anak-anak karena
tidak terikat waktu dan tempat. Bila anak-anak berkumpul sekurang-
kurangnya dua orang, permainan ini dapat dilaksanakan. Dalam hal
yang dua orang tentu saja permainan dalam bentuk per orangan dan
bila telah lebih dari tiga orang baru dapat dimainkan secara beregu
kendatipun demikian sebelum melakukan permainan terlebih dahulu
mereka akan melakukan beberapa persiapan yang berhubungan de-
ngan permainan, yaitu alat permainan seperti yang telah dijelaskan di
atas. Bila semua telah diperolehnya barulah mereka dapat bermain.
     Mula-mula sebelum permainan dimulai terlebih dahulu diadakan
perjanjian yang berhubungan dengan permainan, seperti menentukan
jumlah point yang akan dimainkan, berapa besar taruhan untuk se-
kali game, bagaimana cara untuk menentukan urutan pemain, dan
sebagainya yang berhubungan dengan permainan. Setelah terdapat
kesamaan pendapat tentang hal-hal yang berhubungan dengan kelan-
 caran permainan, barulah permainan dimulai. Pada dasarnya yang di-
 mufakatkan ini adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan aturan
permainan yang lazim dipergunakan.
      Selanjutnya untuk menentukan siapa yang akan memainkan per-
 mainan terlebih dahulu, sebagaimana lazimnya dipakai di dalam se-
 tiap permainan melalui jalan sut. Siapa yang menang, dia yang lebih
 dulu atau yang pertama melakukan permainan, pemenang kedua,
 ketiga, dan seterusnya merupakan pemain kedua, ketiga, dan seterus-
 nya secara berurutan melakukan permainan. Untuk menentukan
 skor nilai yang akan dicapai untuk setiap kali game berkisar antara
 500-2500 point yang harus dicapai, hal ini erat hubungannya de-
 ngan umur pemain. Seterusnya mengenai besarnya taruhan untuk
 setiap game bergantung pada perjanjian dan ada kalanya tidak ada
 taruhan melainkan dengan menotok lutut pemain yang kalah. Ba-
 nyaknya anak yang akan dimainkan berkisar antara 10-15 pasang.
 Hal ini berarti setiap pemain yang berhasil memainkan permainan
 tanpa mati sekali naik mencapai 10-25 nilai karena setiap pasang
 anak tersebut dihitung satu nilai.
      Setelah ditentukan siapa yang berhak memainkan permainan
 terlebih dahulu, barulah permainan dimulai. Misalnya pemain terdi-
 ri atas A dan B (regu A dan B), nilai/skor yang akan dimainkan se-
 besar 1000, untuk sekali main terdapat 25 pasang anak dan besar
 taruhan 25 biji. A akan melakukan terlebih dahulu permainan,
 dan baru kemduian disusul oleh B. Cara melakukan permainan ada-

                                                                  83
lah sebagai berikut:
     Mula-mula A mengambil anak tersebut seluruhnya sebanyak 25
pasang atau 50 biji (bisa biji meninjau, biji asam jawa, kemiri, atau
batu), kemudian dimasukkan ke dalam genggaman yang selanjutnya
disebarkan secara sekaligus di atas lapangan permainan. U n t u k la-
pangan permainan i n i harus dicari yang datar (tidak boleh berlekuk-
lekuk), untuk itu biasanya dipergunakan papan yang lebar, lantai
semen, atau tanah yang telah diratakan terlebih dahulu. Bila lapangan
berlekuk-lekuk akan sangat mengganggu jalannya permainan karena
pada waktu akan di geuti (tengki) tidak akan mencapai pada sasaran-
nya.
     Setelah selesai anak tersebut ditaburkan di lapangan permainan,
 tentu saja berserakan secara tidak beraturan, ada yang terlampau jauh
 letaknya antara satu biji dengan yang lain dan ada pula yang berdem-
petan. Setelah anak tersebut disebarkan, setiap pemain dituntut kete-
kunan dan keterampilan, agar setiap pasang dapat digeuti (tengki)
dengan tidak melakukan kesalahan. Pemain yang telah berpengala-
man akan pandai dalam menyebarkan anak tersebut, sehingga letak-
nya benar-benar seperti diatur saja layaknya, antara yang satu dengan
yang lain tidak terlampau berjauhan dan tidak pula terdapat anak
yang berdempetan. H a l i n i sangat berbeda dengan pemain amatir
yang banyak melakukan kecerobohan d i dalam permainan, yang
mengakibatkan kerugian bagi pemainnya sendiri.
     Pada waktu anak tersebut ditebarkan, setiap pemain harus meng-
atur strategi agar ia dapat memperoleh point sebanyak-banyaknya,
dan jika dapat setiap kali naik tidak mati. Dalam melakukan tengki
antara satu dengan yang lain mempunyai syarat tertentu pula. Setiap
pasang yang ditengki baru dianggap sah apabila: pertama anak terse-
but kena pada sasaran (mengena) untuk satu pasang; kedua tidak me-
nyentuh anak ketiga; ketiga tidak menggoyangkan anak yang lain
seandainya anak tersebut letaknya berdempetan; dan keempat mem-
punyai jarak (setiap anak yang ingin dijadikan pasangan untuk d i -
tengki) sekurang-kurangnya bebas dimasuki jari kelingking pemain
dan tidak tersentuh. Bila keempat hal yang disebutkan tersebut dapat
dicapai dengan tidak melakukan satu kesalahan pun, maka setiap kali
ia menengki memperoleh satu point. Jika dalam satu kali naik dapat
menghabiskan seluruhnya, tentu saja telah memperoleh 25 point.
Apabila melakukan kesalahan salah satu syarat dari yang telah dise-
butkan ia dinyatakan mati dan permainan diganti pemain berikutnya.
Demikianlah permainan i n i dilakukan secara terus menerus sampai


84
permainan mencapai game set untuk setiap kali bermain. Mengenai
hal yang menyangkut dengan pemenang adalah pemain yang lebih
dahulu mencapai nilai yang telah disepakati dan yang terakhir sekali
memperoleh nilai maksimal dinyatakan sebagai pemain yang kalah.
Dalam hal yang menyangkut permainan secara berkelompok sistem
permainan dan syarat-syaratnya adalah sama, tetapi dalam penentuan
urutan pemain yang ada ketentuan lain, yaitu bilakelompok A terda-
pat dua pemain (demikian pula B) j u m l a h point dihitung dari kedua
mereka artinya point itu d i k u m p u l k a n . Kalau pemain pertama telah
mati baru dilanjutkan oleh pemain kedua dan setelah pemain kedua
mati baru berpindah ke k e l o m p o k yang kedua.
     Pemain yang keluar sebagai pemenang, ia berhak memperoleh ha-
diah taruhan yang telah disepakati terlebih dahulu. U n t u k permainan
berikutnya (set kedua, ketiga, dan seterusnya) dilanjutkan kembali
apabila mereka masih ingin melanjutkan dengan persyaratan yang te-
lah dimufakati atau dapat pula diperbaharui perjanjiannya, baik skor
nilai, nilai taruhan, ataupun yang lainnya. Dalam permainan yang ti-
dak mempergunakan nilai taruhan, maka setiap akhir p è r m a i n a n (se-
telah game set) diadakan acara ketuk lutut bagi yang kalah. U n t u k
dapat melakukan ketuk lutut i n i mempunyai cara tersendiri.
       Cara yang lazim dipergunakan melalui penyembunyian anak yang
 dipakai pada waktu permainan tadi. Apabila anak yang dipergunakan
 sebanyak 10 pasang berarti ada 20 biji, anak i n i secara keseluruhan
 diambil pemenang. Setelah anak i n i diambil, mereka duduk berha-
 dapan dan dilakukanlali sejenis permainan yang bersifat sembunyi-
sembunyian. A n a k tadi melalui belakang pemain yang menang diam-
 bil dan dimasukkan ke dalam genggaman tangan pemenang. Setelah
 dimasukkan kemudian ditanyakan kepada pemain yang kalah berapa
 biji yang terdapat di dalam genggaman, kalau ternyata benar terkaan-
 nya anak tersebut dikembalikan kepada yang kalah. Jika terkaannya
 salah. pemenang berhak mengetok lutut yang kalah sebanyak yang
 disebutkannya tadi. Misalkan anak yang disembunyikan lima biji,
sedangkan pemain yang kalah menyebut enam, maka ia akan meneri-
 ma ketukan lutut enam kali. Sebaliknya bila ia menyebut benar anak
 tersebut akan dikembalikan kepadanya. U n t u k menjaga sportivitas
 di dalam permainan sembunyi-sembunyian i n i setelah disebutkan
j u m l a i i n y a yang m e n y e m b u n y i k a n m e m b u k a tangannya untuk disak-
sikan sendiri oleli yang menerka (menyebutnya) sendiri. JJtemikianlah
permainan ini dilakukan secara terus menerus sampai anak tersebut
 dapat diperoleh seluruhnya dari pemain yang menang melalui tebak-


                                                                                      85
an yang disembunyikan. Bila hal ini telah berakhir barulah permainan
set berikutnya dimulai kembali.
     Peranan Masa Kini. 'Permainan ini pada masa kini agak berbeda
peranannya dengan jenis permainan tradisional lainnya. Permainan
ini masih tetap dimainkan anak-anak pada masa kini, terutama di
daerah pedesaan. Masih banyak anak-anak, baik laki-laki maupun pe-
rempuan gemar bermain permainan ini. Pada waktu senggang seperti
yang telah dijelaskan di atas, banyak yang bermain permainan ini.
Hal ini tentu saja dimainkan di samping permainan-permainan lain-
nya. Jika dibandingkan dengan jenis permainan tradisional yang lain
meuen geuti masih mempunyai tempat di dalam masyarakat pendu-
kungnya. Permainan ini masih dimainkan dan dapat diteruskan untuk
masa-masa selanjutnya walaupun tidak semaju pada masa lampau.
     Tanggapan Masyarakat. Permainan ini masih mempunyai pe-
ranan di tengah-tengah dunia kehidupan anak-anak, maka tanggapan
masyarakat masih positip, mereka masih mengharapkan agar per-
mainan ini dapat dipertahankan dari desakan permainan modern.
Bagi para pemuda masih ada kecenderungan untuk melestarikan jenis
permainan ini. Hal ini dapat terlihat mereka masih memainkan dan
sekaligus menguasai semua persyaratan serta masih mau membimbing
setiap anak yang meLakukan permainan ini.




86
X7
                        16. MESEN—MESEN

     Nama Permainan. Jenis permainan ini dapat dijumpai hampir di
 seluruh wilayah Daerah Istimewa Aceh. Namün, nama yang diberikan
 atau sebutannya berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang dimiliki
 oleh masing-masing kelompok etnis yang terdapat di Daerah Istime-
 wa Aceh sekarang. Nama mesen-mesen khusus digunakan oleh kelom-
 pok etnis Aneuk Jame yang umumnya mendiami pesisir pantai Barat
 Aceh, terutama bagian pesisir Kabupaten Aceh Selatan sekarang.
 Tentang dari mana asal nama dan bagaimana mula timbulnya per-
 mainan ini di daerah tersebut, belum dapat dipastikan.
     Vvaktu Pelaksanaan. Permainan ini umumnya dimainkan pada
 malam hari pada saat bulan purnama. Pada malam hari, bila anak-
 anak telah selesai mengikuti pendidikan agama seperti mengaji, bela-
jar doa sembahyang, membaca kitab-kitab agama, dan sebagainya,
 yang berlangsung di meunasah-meunasah atau rumah-rumah yang
 khusus untuk tempt kegiatan itu. Mereka biasanya sebelum pulang
 ke rumah masing-masing, melakukan permainan yang disebut mesen-
mesen. Permainan ini dimainkan bila cuaca dalam keadaan baik,
 tidak hujan dan pada saat bulan purnama menerangi bumi. Waktunya
 antara jam 8 ningga jam 9.30 malam. Jika pada bulan puasa atau Ra-
madhan, sementara para orang tua mereka bertarawih (ibadah malam
hari pada bulan Puasa/Ramadhan), mereka kadang-kadang melaku-
 kan permainan ini, di samping jenis permainan anak-anak lainnya.
 Kadang-kadang permainan ini juga dimainkan pada siang hari, teruta-
ma pada hari libur, dan biasanya berlangsung antara jam 9 sampai
jam 11 pagi hari.
     Permainan ini dapat dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun
oleh anak wanita. Anak-anak laki lazimnya memainkan di depan
atau halaman meunasah, sedangkan anak-anak wanita memainkan-
nya di halaman rumah, biasanya di halaman rumah dari salah seorang
peserta yang ikut bermain.

     Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Umumnya
yang melakukan permainan mesen-mesen ini adalah anak para peta-
ni. Seperti diketahui bahwa pada setiap desa atau yang di dalam ba-
hasa Aceh disebut Gampong (kampung) dan pada kelompok etnis
Aneuk Jame disebut Kampung, terdapat sebuah meunasah yang fung-
sinya selain sebagai tempat beribadah/pendidikan agama, juga seba-
gai tempat berkumpul orang laki-laki untuk bermusyawarah, berceng-

88
 krama, dan sebagainya. Biasanya sehabis makan malam, para orang
 tua laki-laki dan anak-anaknya yang laki-laki keluar rumah pergi ke
 meunasah. Si anak ini mengikuti pelajaran agama yang diasuh oleh
 seseorang yang disebut Tengku Meunasah yang ditunjuk atau dipilih
 bersama oleh penduduk desa tersebut untuk menjadi pendidik anak-
 anak mereka dan melaksanakan atau mengurusi hal-hal yang berhu-
 bungan dengan kerohanian di desa tersebut. Setelah selesai meng-
ikuti pendidikan, biasanya sambil menunggu orang tuanya berceng-
 krama atau mengikuti suatu musyawarah di meunasah, sejumlah
anak tadi melakukan permainan yang disebut mesen-mesen di hala-
man meunasah. Permainan ini sangat digemari anak-anak, terutama
 büa sedang bulan purnama. Sementara itu, anak-anak wanita setelah
selesai belajar ilmu agama di rumah seorang Teugnku wanita (biasa-
nya istri dari Teungku Meunasah), bila bulan purnama juga memain-
kan permainan ini di halaman-halaman rumah. Pada kesempatan ini,
orng tua mereka yang wanita (para ibu) juga keluar rumah untuk me-
numbuk padi, yang umumnya dilakukan di bawah rumah-rumah me-
reka (hal ini dimungkinkan karena rumah Aceh berbentuk panggung
yang di bawahnya dapat dibangun sebuah alat yang disebut Jengki,
yang gunanya untuk menumbuk padi).
     Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Seperti telah
 disebutkan bahwa dari mana asal nama dan bagaimana mula adanya
permainan ini di daerah Aceh, belum dapat diungkapkan. Menurut
tradisi lisan, permainan ini sudah cukup lama terdapat di dalam ma-
syarakat Aceh. Oleh karena permainan ini hampir menyerupai per-
mainan Galah atau yang pada kelompok etnis Aceh disebut juga per-
mainan Tak Tham (sejenis permainan yang juga terdapat di Daerah
Aceh dan telah pernah dikemukakan dalam buku Permainan Rakyat
Daerah Istimewa Aceh, yang diusahakan oleh Departemen Pendidik-
an dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah Budaya Proyek Inven-
tarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1979/1980), maka
dapat dipastikan bahwa permainan ini (mesen-mesen) mempunyai
asal dan perkembangan yang sama dengan permainan Galah.
    Permainan ini, selain terkandung unsur strategi/siasat serta mela-
tih kecepatan mata dalam memperhatikan gerak gerik lawan, juga
mengandung unsur-unsur olah raga, terutama dalam gerakan-ge'rakan
yang dilakukan secara cepat untuk dapat meraih atau mengenai la-
wan.
    Pemain/Pelaku. Pemain atau pelaku permainan ini adalah anak-
anak yang berusia sekitar 8 sampai 13 tahun, dan dapat dimainkan

                                                                   89
baik oleh anak laki maupun anak wanita. Namun, dalam permainan
ini tidak terjadi percampuran antara kedua jenis ini. Jika anak wanita
yang memainkannya, maka para pemain semua terdiri atas anak wa-
nita, begitu pula sebaliknya jika anak laki yang memainkannya, maka
semua pemain terdiri atas anak laki. Seperti telah disebutkan bahwa
pada umumnya para pendukung permainan ini terdiri atas anak-anak
petani.
    Peralatan/Perlengkapan Permainan. Permainan ini tidak memer-
lukan peralatan/perlengkapan yang sulit diperoleh. Di antara perleng-
kapan dan alat yang diperlukan, yaitu sepetak tanah yanglapang (ini
dapat dengan mudah ditemukan di halaman-halaman rumah atau di
depan meunasah), sedikit kapur atau sejenis gamping untuk memberi
tanda garis agar jelas pada lapangan yang akan dijadikan tempat per-
mainan berlangsung. Adapun tanah atau lapangan yang diperlukan
berukuran sekitar 8 x 6 meter (panjang 8 meter dan lebar 6 meter).
     Iringan Pennainan. Permainan ini tidak diiringi oleh iringan apa
pun.
     Jalan Permainan. Setelah anak-anak selesai mengaji atau belajar
ilmu agama pada malam hari, mereka tidak langsung pulang, tetapi
bermain suatu permainan yang disebut mesen-mesen. Hal ini dilaku-
kan jika cuaca dalam keadaan baik atau pada saat bulan purnama se-
dang bersinar. karena permainan ini adalah dilakukan berkelompok,
maka terlebih dahulu anak-anak membentuk 2 kelompok yang ma-
sing-masing kelompok terdiri atas 3 atau 4 orang. Selanjutnya sete-
lah terbentuk kelompok, para pemain dari masing-masing kelompok
membuat suatu lapangan dengan ukuran sekitar 8 x 6 meter. Kemu-
dian di atas lapangan itu diberi tanda berupa garis dengan kapur atau
sejenisnya sebanyak tiga atau empat garis (banyaknya garis tergan-
tung dari jumlah peserta permainan). Panjangnya garis sekitar 4 me-
ter dan jarak antara garis pertama dengan garis.kedua atau berikutnya
sekitar 3 meter.
     Selanjutnya melalui undian (dengan sut) ditentukan kelompok
mana yang pertama menjadi penjaga garis. Setelafi terpilih, kelompok
yang menjadi penjaga pertama (kelompok I) berdiri di atas garis-garis
tersebut. masing-masing satu orang untuk setiap garis. Kemudian ke-
lompok II akan menerobos setiap garis penjagaan baik melalui sisi
kiri maupun sisi kanan dari si penjaga garis. Penerobosan ini dilakukan
secara per seorangan, tetapi untuk lebih mudan diterobos dapat dila-
kukan secara serentak (oleh para.anggota kelompok II). Jika berhasil

90
 melewati garis pertahanan yang pertama, selanjutnya garis pertahan-
 an kedua dan seterusnya sampai setiap garis berhasil semua dilewati
  oleh setiap pemain dari kelompok II, maka kelompok ini keluar se-
 bagai pemenang. Seterusnya kelompok ini akan mengulangi lagi pene-
 robosan pada garis-garis pertahanan itu seperti semula; demikian se-
 lanjutnya, tetapi bila salah seorang pemain dari kelompok II kena di-
 jamah atau dikenai tangan salah seorang kelompok I (yang sedang
 menjaga garis pertahanan), maka permainan akan berganti penjaga
 (penjaga garis), yaitu kelompok II yang menjadi penjaga.
      Peranan Masa Kini. Permainan ini meskipun sudah jarang dilaku-
 kan, tetapi masih dapat dijumpai hingga masa sekarang, terutama di
 desa-desa (Gampong-gampong) yang letaknya agak jauh dengan kota-
 kota besar (ibukota Kabupaten dan ibukota Propinsi). Di daerah-
 daerah yang letaknya de kat dengan kota-kota tersebut, permainan ini
sudah jarang dijumpai. Mengingat anak-anak di daerah pedesaan, ter-
utama anak-anak petani yang kurang akan hiburan, maka permainan
ini hingga saat sekarang masih memegang peranan sebagai salah satu
permainan yang kreatif bagi mereka.
     Tanggapan Masyarakat. Karena permainan mengandung unsur-
unsur rekreatif, kompetiti, dan olah raga serta memerlukan suatu ke-
cepatan gerak dalam usaha untuk dapat mengenai lawan, maka ma-
syarakat pedesaan khususnya masyarakat petani, masih menganggap
permainan ini positif bagi anak-anak. Lebih-lebih bila dikaitkan an-
tara permainan ini yang sedikit mendekati (terutama dalam gerak
cepat) dengan suatu olah raga bela diri (pencak silat) yang sekarang
sedang digalakkan oleh masyarakat pedesaan khususnya dan sudah
dipertandingkan dalam Pekan Olah Raga Nasional.




                                                                  91
92
                    17. MEUPET-PET NYET

     Nama Permainan. Meupet-pet nyet adalah suatu permainan yang
dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah Daerah Istimewa Aceh se-
karang, tetapi mengingat di daerah tersebut sekarang terdapat kurang
lebih 7 kelompok etnis suku bangsa yang mempunyai latar belakang
budaya yang berbeda, maka nama yang diberikan untuk permainan
ini juga berbeda-beda; demikian pula pola permainannya sedikit ba-
nyak menunjukkan perbedaan, meskipun tidak secara prinsipil.
Dapat disebutkan misalnya pada kelompok etnis Aneuk Jame, per-
mainan ini disebut dengan nama Benteng-benteng, pada kelompok
etnis Alas hampir menyerupai suatu permainan yang disebut Cebunin
dan pada kelompok etnis Aceh seperti tersebut^di atas, yaitu Meupet-
pet nyet.
     Meupet-pet nyet artinya bersembunyi-sembunyian, dengan sasar-
an akhir dapat kembali ke suatu tempat yang telah ditentukan, dalam
bahasa Aceh disebut wo bu (kembali ke kubu/benteng). Nama ini
sedikit banyak persamaan dengan nama Benteng-benteng seperti na-
ma.yang diberikan untuk permainan ini pada kelompok etnis Aneuk
 Jame (yang mendiami Pesisir Kabupaten Aceh Selatan sekarang).
Benteng-benteng artinya sama dengan kubu-kubu; dalam permainan
ini sasaran yang akan dicapai para pemain sama dengan permainan
meupet-pet nyet, yaitu yang disebut wo bu (benteng/kubu).
     Jika dilihat dari segi nama, permainan ini berkaitan erat dengan
 pengertian siasat atau strategi dalam peperangan. Artinya para pe-
 main terlebih dahulu bersembunyi dan kemudian secara diam-diam
 tanpa diketahui si penjaga kembali ke benteng/kubu yang telah diten-
 tukan. Sebaliknya bagi si penjaga benteng/kubu juga berusaha agar
 dapat mengetahui tempat persembunyian dari menebak/menangkap
 mereka yang bersembunyi itu, maksudnya untuk kembali atau
 "merebut" benteng/kubu yang dijaganya. Namun dari mana asal dan
 nama permainan ini belum dapat dipastikan secara kongkrit.
     Waktu Pelaksanaan. Permainan ini dapat dimainkan pada siang
 hari atau pada malam hari. Jika pada siang hari, terutama dimainkan
 pada hari-hari libur, yaitu antara pukul 09.00 sampai pukul 11.00
 siang; sedangkan jika malam hari dimainkan sesudah anak-anak meng-
 ikuti pendidikan agama (mengaji, belajar doa shalat, dan ilmu agama
 lainnya), berkisar antara pukul 20 (jam 8) hingga pukul 22 (jarn 10);
 tenitama dimainkan pada malam saat bulan purnama sedang terang
 benderang. Bila pada bulan puasa/Ramadhan, kadang-kadang berlang-

                                                                  93
sung sejak jam 20 (8) hingga jam 23 (11) malam. Namun pada siang
hari pada bulan puasa/Ramadhan permainan ini tidak dimainkan.
      Latar Belakang Sosial Budaya Pelaku Permainan. Para pemain
 pada umumnya terdiri atas anak-anak petani. Namun di antaranya
 terdapat pula anak-anak dari kalangan pedagang, pegawai, dan seba-
 gainya.
      Bulan Puasa/Ramadhan dianggap sebagai bulan yang suci bagi
 umat Islam khususnya di wilayah Daerah Istimewa Aceh sekarang.
 Bulan ini sangat diharapkan dan sangat dinantikan datangnya oleh
 umat Islam terutama di daerah Aceh karena pada bulan ini, mereka
 (terutama para petani) dapat dikatakan beristirahat secara total.
 Mereka jarang ke sawah, ke ladang, atau ke tempat pekerjaan lain-
nya. Jika mereka pergi pun ke tempat-tempat tersebut hanya dalam
waktu singkat saja. Mereka betul-betul memanfaatkan bulan Puasa/
 Ramadhan ini untuk beristirahat sambil beribadat, sehingga di dalam
masyarakat Aceh timbul suatu ungkapan sebagai berikut: si thon ta
mita iintok ta peu abeh lam si buluen, artinya: selama satu tahun
mereka mencari rezeki untuk dihabiskan dalam satu bulan (maksud-
nya dalam bulan Puasa/Ramadhan). Jadi, dapat dikatakan selama
bulan Puasa/Ramadhan mereka sama sekali tidak bekerja. Bulan ini
mereka memanfaatkan betul-betul sebagai bulan untuk beribadat.
     Demikian juga anak-anak mereka, pada bulan Puasa/Ramadhan
adalah bulan libur panjang bagi mereka, berlaku baik bagi mereka
yang bersekolah di sekolah-sekolah umum maupun bagi mereka yang
 bersekolah di sekolah-sekolah agama juga bagi mereka yang belajar
ilmu agama (mengaji dan sebagainya) pada malam hari..Karena itu,
anak-anak sangat gembira bila bulan Puasa/Ramadhan tiba.
     Umumnya anak-anak laki bila sudah berbuka puasa (bagi yang
puasa dan yang belum puasa) seperti juga orang tua (Bapak/Ayah)
pergi ke meunasah. Tujuan orang tuanya untuk beribadat, tetapi
anak-anak memanfaatkannya untuk melakukan berbagai permainan
sambil menunggu orang tua mereka selesai beribadat. Salah satu per-
mainan yang sangat mereka gemari adalah meupet-pet nyet atau yang
pada kelompok etnis Aneuk Jame disebut Benteng-benteng.
    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Permainan ini
mempunyai hubungan dengan cara pengaturan siasat atau strategi se-
perti dalam suatu peperangan. Karena i t u , bukan tidak mungkin per-
mainan ini diilhami dari suatu peperangan yang pernah dialami rak-
yat di Daerah Istimewa Aceh. Seperti kita ketahui bahwa di daerah

94
 yang sekarang disebut Daerah Istimewa Aceh, baik secara berkelom-
 pok maupun secara per seorangan pernah terlibat dalam suatu pepe-
 rangan dengan pihak Belanda dalam suatu kurun waktu yang dapat
 dikatakan cukup lama, yaitu sejak tahun 1873 sampai tahun 1942.
 Karena itu, bukan tidak mungkin pula permainan meupet-pet nyet
atau yang disebut pada kelompok etnis Aneuk Jame di Kabupaten
Aceh Selatan sekarang, permainan Benteng-benteng diilhami dari pe-
perangan dengan pihak Belanda tersebut.
     Pemain/Pelaku. Meupet-pet nyet dimainkan anak-anak dengan
jumlah pemain sekitar 10 orang, khusus anak-anak laki yang berumur
sekitar 8-13 tahun. Seperti telah disebutkan bahwa pada umumnya
para pendukung permainan ini terdiri atas anak-anak petani, _peda-
gang, dan pegawai.
    Peralatan/Perlengkapan Permainan. Satu-satunya alat yang di-
pakai untuk permainan ini adalah suatu benda besar (dapat berupa
peti atau batang kayu yang besar yang sudah dipotong dan sebagai-
nya) untuk dapat dijadikan sebagai benteng atau kubu.
    Iringan Permainan. Permainan i n i tidak diiringi oleh iringan apa
pun.
     Jalannya Permainan. Setelah anak-anak berkumpuLsekitar 10
 orang, mereka bersepakat untuk melakukan suatu permainan yang
 disebut meupet-pet nyet. Sebelum bermain, mereka menentukan
 suatu benda (berupa peti yang besar atau pokok kayu besar yang su-
 dah ditebang, dan sebagainya) untuk dijadikan sebagai benteng/kubu,
 yang nantinya akan dijaga oleh salah seorang yang terpilih - melalui
 suatu undian - untuk menjaga. Setelah terpilih seorang penjaga ben-
 teng/kubu, selain menjaga benteng/kubu agar.tidak berhasil dijamah
 atau dipegang oleh para pemain lainnya, juga untuk dapat menerka
nama para pemain lainnya secara tepat yang bersembunyi; para pe-
main lain lari menyebar menjauhi benteng/kubu dan kemudian ber-
sembunyi dalam semak-semak atau parit-parit atau di belakang sesua-
tu benda yang dianggap dapat menyembunyikannya.
     Selanjutnya si penjaga setelah ada tanda dengan suara yang dike-
luarkan oleh salah seorang pemain yang sedang bersembunyi, ia mu-
lai bergerak mencari mereka yang sedang bersembunyi dengan hati-
hati menjauhi benteng/kubu yang sedang dijaganya; sedangkan me-
reka yang sedang bersembunyi, secara diam-diam harus dapat mere-
but benteng/kubu dengan cara memegangnya sebelum si penjaga me-
nyebut namanya atau menjamahnya. Bagi yang berhasil sampai ke
benteng/kubu dengan selamat, meneriaklah kata-kata wo bu (kembali

                                                                  95
ke benteng). Kemudian para pemain yang lain setelah mendengar ka-
 ta-kata tersebut ke luar dari tempat persembunyiannya dan semua-
nya kembali ke benteng/kubu. Sesudah itu permainan dilanjutkan
lagi seperti semula dengan si penjaga pertama dianggap kalah. Dan
untuk ini ia masih harus bertugas sebagai penjaga benteng/kubu. Se-
lanjutnya bila si penjaga benteng/kubu dapaLmenerka salah seorang
pemain yang sedang bersembunyi dengan menyebut namanya atau
memegangnya, maka ia, yang diterka itu akan menjadi atau meng-
ganti sebagai penerka dalam lanjutan permainan, tetapi bila salah
seorang pemain yang sedang bersembunyi berhasil merebut benteng/
kubu (memegangnya), maka si penerka atau si penjaga akan tetap
atau tidak diganti.
     Peranan Masa Kini. Permainan ini pada masa kini sudah jarang
dilakukan, lebih-lebih di desa yang letaknya dekat^dengan kota-kota
besar (ibukota Kabupaten atau ibukota Propinsi). Seperti telah dise-
butkan bahwa permainan ini paling gemar dimainkan anak-anak le-
bih-lebih pada bulan Puasa/Ramadhan karena mereka dalam suasana
libur. Namun, sejak beberapa tahun terakhir ini sekolah-sekolah
(khususnya sekolah-sekolah umum) tidak seluruhnya diliburkan da-
lam bulan Puasa/Ramadhan, maka banyak anak-anak pada malam
hari tidak sempat lagi bermain-main hingga larut malam lebih-lebih
karena keesokan harinya mereka harus bersekolah.
     Tanggapan Masyarakat. Meskipun permainan ini mengandung
unsur-unsur strategi dan rekreatif, tetapi banyak orang tua mengang-
gap bahwa permainan ini merupakan suatu permainan yang kurang
bermanfaat atau sia-sia. Lebih-lebih bila diingat bahaya yang mung-
kin dapat menimpa anak-anak yang sedang bermain permainan ini.
Tatkala mereka bersembunyi dalam semak-semak atau parit-parit dan
sebagainya, digigit oleh binatang berbisa atau yang lainnya.




96
97
                         18. M E U E N K O M

    Nama Permainan. Jenis permainan hampir terdapat di seluruh
 Daerah Istimewa Aceh, terutama di daerah-daerah tepi pantai. Per-
mainan ini bersifat hiburan bagi anak-anak karena mudah dimainkan
di sembarang tempat tanpa memerlukan peralatan yang banyak.
Pemberian nama untuk permainan ini berdasarkan sebutan cara me-
lakukan permainan atau semata-mata berdasarkan pada sebutan per-
mainan itu sendiri karena setiap bermain akan ditentukan berapa
kom atau berapa kaü games. Ha ini akan dibicarakan secara lebih luas
di dalam membahas jalannya permainan. Hasil wawancara yang dila-
kukan dengan para informan untuk meneliti lebih mendalam menge-
nai pengertian nama permainan ini tidak banyak diperoleh keterang-
an. Mereka menjelaskan bahwa nama itu diberikan karena permainan
ini setiap kaü game disebut dengan istilah kom. Arti lain dari per-
mainan ini tidak dapat dijelaskan lebih jauh.
     Waktu Pelaksanaan. Waktu pelaksanaan permainan ini, sama hal-
nya dengan jenis-jenis permainan lain yang telah banyak dijelaskan
terdahulu bahwa tidak mempergunakan waktu yang khusus. Per-
mainan ini dapat dimainkan setiap saat, namun sering dimainkan
anak-anak pada siang hari. Pada waktu siang mereka dapat melaku-
kan permainan ini dengan bebas, sedangkan pada malam hari biasa-
nya anak-anak mendapat pekerjaan lain yang umumnya mengaji.
Di tempat pengajian permainan ini jarang dimainkan, hal ini tidak ber-
arti bahwa di tempat pengajian dilarang bermain permainan ini, teta-
pi tidak bermain karena mengganggu jalannya pengajian. Waktu yang
selalu dipakai adalah waktu senggang, yaitu pada saat mereka tidak
melakukan tugas yang lain.
     Latar Belakang Sosial Budaya. Latar^belakang sosial budaya pen-
dukung atau para pemain permainan ini sama halnya dengan per-
mainan lain, yaitu tidak membedakan latar belakang sosial budaya-
nya. Dalam permainan ini mereka dapat dengan bebas bergaul dan
bermain dengan tidak menyinggung.,perasaan sama sekali, dari mana
mereka berasal. Yang paling diutamakan adalah mereka yang ingin
bermain secara bersama-sama untuk mengisi waktu atau untuk men-
cari hiburan yang ringan. Dengan demikian permainan ini dapat men-
dekatkan mereka dari semua lapisan sosial,.dan merupakan sarana
untuk dapat mempertemukannya. Orang tua mereka tidak memper-
tanyakan dengan siapa mereka bermain. Permainan ini pada umum-

98
nya dimainkan anak-anak perempuan dan jarang dimainkan anak
laki-laki.

     Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Untuk mene-
liti latar belakang lahirnya permainan ini agak sukar.diperoleh data-
nya karena orang-orang tua yang dijadikan informan mengatakan,
permainan ini memang sudah cukup lama berkembang di dalam ma-
syarakat. Mereka hanya meneruskan permainan ini dan mereka me-
nerima dari generasi sebelumnya, yaitu pada waktu mereka masih
anak-anak. Dalam perkembangannya, permainan ini telah mengalami
masa-masa jaya, yaitu pada zaman yang lampau sampai zaman pra
kemerdekaan Indonesia. Permainan ini mulai merosot setelah Indo-
nesia merdeka bahkan sekarang sudah jarang dimainkan anak-anak
terutama di pedesaan.
     Pada masa lampau, yaitu sebelum masyarakat Aceh mengenai
bola sejenis bola tenis atau kasti, mereka mempergunakan karet men-
tah yang baru dideres dari batangnya yang kemudian dibulatkan
menjadi bola. Bola inilah yang dipakai sebagai perlengkapannya kare-
na mudah diperoleh dan di setiap daerah dijumpai pohon karet. Da-
lam perkembangan selanjutnya, setelah mereka mengenai karet yang
telah dimasak yaitu jenis karet yang.dipergunakan sebagai pengikat,
karet ini dipergunakan oleh anak-anak untuk dijalin menjadi bola
terutama di daerah pedesaan yang taraf ekonominya sangat rendah.
Di desa-desa atau gampong-gampong penggunaan bola dari karet
mentah dan karet yang telah dimasak sama banyaknya, hal ini erat
sekali dengan sumber daya alam dan tingkat^perkembangan ekonomi
warga masyarakat yang tidak memungkinkan untuk membeli bola
kasti. Penggunaan bola kasti merupakan pengganti jenis-jenis bola
yang telah disebutkan, terutama penggunaannya di kalangan tertentu
sehingga tidak merata di seluruh daerah. Sungguhpun bola kasti telah
dikenal masyarakat, namun penggunaan bola dari getah alam dan ka-
ret yang telah dimasak tetap masih dipergunakan.
     Peserta/Pelaku. Seperti telah diuraikan di atas, pemain permain-
an ini pada umumnya anak perempuan. Sesuai dengan sifat permain-
an ini yang semata-mata untuk mengisi waktu dan mencari hiburan,
tentu saja dapat dimainkan oleh semua. tingkat anak-anak. Dalam
permainan ini sasaran yang utama bukanlah mencari kemenangan,
tetapi lebih banyak bersifat hiburan. Sehubungan dengan itu, pemba-
tasan umur tidak dilakukan dan dalam kenyataannya anak-anak sejak
usia 5-13 tahun banyak melakukan permainan ini. Mengenai jumlah

                                                                  99
  pemain dapat dilakukan sekurang-kurangnya dua sampai empat
  orang. Sungguhpun demikian tidaklah berarti mereka yang telah
  menjadi pemuda tidak dibenarkan lagi untuk memainkan permainan
  ini, tetapi sebaliknya yang„terjadi dan tepat apabila dikatakan bahwa
  permainan ini merupakan permainan anak-anak dan remaja karena
  permainan ini sering dimainkan anak-anak dan remaja, tentu saja
  tidak berarti permainan dimainkan secara bersama. Pengelompokan
  umur tetap ada dalam permainan, tujuannya agar permainan dapat
  berlangsung dengan baik.
       Peralatan/Perlengkapan Permainan. Sebagaimana yang telah di-
 jelaskan di atas bahwa peralatan yang diperlukan untuk permainan
 ini sangat sederhana, yaitu sebuah bola dan beberapa biji keong.
 Jumlah keong yang diperlukan sangat bergantung kepada tingkatan
 umur para pemain, 8-20 biji.
       Kegunaan bola seperti yang disebutkan di atas, untuk dibanting
 dan selama bola tersebut belum sempat jatuh ke tanah seorang pe-
 main harus dapat mengerjakan pekerjaan yang lain, yaitu mengambil
 keong yang telah disebarkan. Demikian pula kegunaan keong adalah
 untuk disebar dan kemudian dikumpulkan kembali serta dibuka atau
 ditutup sesuai dengan aturan permainan yang berlaku. Untuk mem-
 bahas fungsi dan cara mempergunakan kedua alat tersebut akan dibi-
 carakan lebih luas di dalam membahas jalannya permainan.
      Selain dari kedua alat tersebut untuk permainan ini tidak ada
lagi. Adapun hal yang menyangkut lapangan permainan seperti hal-
nya permainan lain, tidak memerlukan lapangan yang cukup luas,
biasanya berukuran 50 x 50 cm yang dipakai untuk menyebarkan
keong-keong. Sebagai lapangan (tempat bermain dapat dipakai papan
yang tebal) adalah lantai yang bersemen atau langsung di atas tanah
yang rata. Jadi, dapat dikatakan untuk memainkan permainan ini ti-
dak mempunyai problema dengan masalah lapangan tempat bermain.
      Iringan Permainan. Dalam memainkan permainan ini tidak diper-
gunakan iringan permainan apa pun.
      Jalan Permainan. Bila pemain telah berkumpul untuk melaku-
kan permainan ini terlebih dahulu mereka menentukan beberapa per-
syaratan yang disepakati bersama untuk menjaga kelancaran permain-
an. Adapun hal-hal yang harus disepakati adalah hal yang menyang-
kut berapa kom (jumlah point) yang harus dicapai untuk menentu-
kan kalah atau menang seorang pemain, berapa pasang keong yang
dipakai, dan penentuan urutan pemain. Setelah hal ini disepakati ba-
rulah permainan dimulai. Seperti biasa bahwa dalam penentuan urut-

100
an pemain adalah dengan menggunakan sistem undian melalui sut,
siapa yang menang dia menjadi pemain pertama dan siapa pemenang
sut kedua dia menjadi pemain kedua, dan seterusnya.
      Mula-mula seorang pemain mengambil sebuah bola dan sejumlah
keong yang telah disepakati, barulah ia memulai permainan. Bola
dibanting di atas lapangan permainan dengan tidak terlalu kuat agar
bola tersebut dapat melambung ke udara (atas). Pada saat bola di
udara, pemain tersebut harus mengambil semua keong yang telah di-
letakkan yang tidak berapa jauh dari tempat duduknya atau tidak
 berapa jauh dari tempat bola tersebut dibanting dengan tidak satu
 pun yang tertinggal. Sebelum bola itu jatuh ke tanah dia harus sudah
 selesai menabur (menyebar) keong tersebut dan selanjutnya ia me-
 nyambut bola agar jangan jatuh ke tanah. Apabila ia tidak berhasil
 mengambil semua keong dan menyebarkannya, sedangkan bola telah
 menyentuh tanah dia dinyatakan mati. Demikian pula sebaliknya bila
 keong belum berhasil ditaburkan walaupun dia dapat menyambut
 bola, hal yang demikian juga dinyatakan mati. Untuk menyambut
 bola harus mempergunakan sebelah tangan.
      Selanjutnya setelah ia menyambut bola kemudian membanting
 kembali dan sebelum bola dibanting terlebih dahulu harus diperhati-
  kan letak anak (keong) yang telah tersebar tadi Pada langkah ini seti-
  ap pemain diminta untuk mengumpulkan kembali anak keong satu-
  satu sambil membanting bola dan harus diusahakan agar bola tidak
  menyentuh lapangan. Untuk langkah ini pemain dapat mengambil
  satu harus diambil satu demi satu. Bila sempat jatuh mengenai lapang-
  an harus diambil satu demi satu. Bila sempat jatuh mengenai lapang-
  an atau terambil lebih dari satu, pemain dinyatakan mati. Setelah se-
  lesai langkah dengan tidak mati, berarti ia dibenarkan melakukan
  langkah selanjutnya.
       Langkah kedua setelah berhasil mengumpulkan anak (keong),
  dia kembali membanting bola sambil menabur anak seperti yang di-
  lakukan pada permulaan. Setelah keong tersebar, ia membanting lagi
   bola dan pada saat ini harus mengambil anak dua-dua (satu-satu pa-
  sang) sekali ambil. Sekali membanting bola dapat diambil satu pasang
   atau lebih, bergantung pada kecepatan bermain pemain. Jika pada
   langkah kedua telah berhasil mengumpul seluruh anak dengan tidak
   mati, barulan pemain tersebut melanjutkan langkah selnjutnya (keti-

   'l_angkah ketiga, yaitu setelah berhasil memainkan permainan
 ga)



 langkah kedua tanpa mengenai kematian. Pada langkah ketiga ini cara

                                                                    101
memainkannya juga seperti pertama dengan membanting bola me-
nyebarkan keong. Sesudah itu pemain menutup semua keong yang
terbuka sambil membanting bola. Syarat-syaratnya sama seperti se-
mula, yaitu bola tidak boleh mengenai lantai/tanah. Sekali memban-
ting bola menutup satu keong atau lebih. Setelah berhasil menutup
keong seluruhnya, kemudian kembali mengumpulkan keong dengan
cara membanting bola, dan baru dilanjutkan dengan langkah selan-
jutnya (keempat).
     Langkah keempat adalah kebalikan dari cara bermain langkah
 ketiga. Pada langkah ini pemain dituntut untuk membuka semua
keong yang tertutup. Mengenai cara dan syarat-syaratnya sama de-
ngan langkah-langkah sebelumnya.
     Permainan kemudian dilanjutkan dengan langkah kelima yaitu
sesudah keong ditaburkan sambil membanting bola, pemain diharus-
kan membuka dan menutup keong. Sambil membanting bola seorang
pemain diharuskan membuka dan menutup kembali keong yang ter-
tutup atau menutup dan membuka kembali keong yang terbuka dan
harus dilakukan sekaligus. Maksudnya keong yang tertutup harus di-
buka dan langsung ditutup kembali pada saat bola dibanting sebelum
jatuh ke tanah, demikian pula sebaliknya bila keong terbuka. Setelah
melakukan itu dilanjutkan dengan mengumpulkan kembali keong-
keong tersebut sambil membanting bola.
     Apabila seorang pemain dapat memainkan permainan ini dari
langkah pertama sampai langkah kelima tidak mati, dia telah menda-
pat satu point atau disebut kom dalam istilah permainan. Pada akhir
permainan siapa yang lebih dahulu mencapai point (kom) yang telah
disepakati, dia dinyatakan sebagai pemenang. Bagi seorang pemenang
mempunyai hak menyembunyikan anak keong tersebut dan harus di-
terka oleh yang kalah. Bila dalam penerkaan tersebut tidak tepat, dia
mendapat hukuman diketok di lutut. Cara melakukan penyembunyi-
an dan penerkaan ini sama halnya dengan cara pada permainan
"meuen geuti" atau "meuen crek" yang telah dijelaskan terdahulu.

     Peranan Masa Kini. Menyinggung tentang peranannya, permain-
afi ini sekarang sama halnya dengan jenis permainan rakyat tradisio-
nal lainnya, yaitu mengalami masa pasang surut. Di atas telah diurai-
kan bahwa permainan ini sekarang langka dimainkan anak-anak, se-
olah-olah permainan ini tidak mendapat tempat lagi di tengah-tengah
keliidupan mereka. Menyangkut dengan hal tentang kemerosotan
permainan ini tidak banyak yang terungkapkan. Ada di antara infor-

102
man vang menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan kemero-
sotan didesak oleh jenis-jenis permainan yang modern. Ada pula yang
menyebutkan sukarnya diperoleh peralatan permainan, terutama
keng bagi mereka yang tinggal di gampong-gampong yang jauh dari
pantai, walaupun faktor ini kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, apa pun faktornya yang jelas permainan ini sekarang menuju
ke taraf kemerosotan dan bahkan hampir dapat dikatakan sedang me-
nuju ke taraf kepunahan.
     Tanggapan Masyarakat. Meuen kom sebagaimana telah diuraikan
 di atas bahwa pada masa lampau merupakan jenis permainan yang di-
 gemari anak-anak. Sesuai dengan perkembangan zaman yang meng-
alami kemajuan, demikian pula halnya dengan permainan ini semakin
hari semakin terdesak oleh bentuk-bentuk permainan modern. Jika
kita ingin melihat tanggapan masyarakat terhadap permainan ini,
kita harus mengikuti jalannya perkembangan masyarakat itu sendiri!
Dari hasü wawancara yang dilakukan dengan tokoh-tokoh masyara-
kat yang dijadikan sumber informasi menyebutkan bahwa permainan
ini sebenarnya masih dapat dikembangkan. Hal ini erat hubungannya
dengan pengembangan jenis permainan yang harus seimbang dengan
pemainan modern. Pandangan yang demikian berdasarkan pertim-
bangan bahwa permainan ini dapat memberikan sejenis kesegaran
kepada anak-anak karena permainan ini mengandung unsur keteram-
pilan dan hiburan yang segar.




                                                             103
            19. MEU EEN KANDANG (KANDHNANG)

     Nama Permainan. Suatu permainan yang menarik bagi anak-anak
 di Daerah Istimewa Aceh ialah meu een kandhnang. Meu een kan-
dhnang terdiri atas dua kata, yaitu meu een berarti bermain dan
kandhnang adalah nama permainan itu sendiri, tak dapat diartikan
 dalam bahasa Indonesia secara kongkrit.
     Meu een kandhnang biasanya dimainkan di tanah lapang yang
 bersih, luas, dan rata. Di sana berkumpullah anak-anak laki dengan
atribut yang telah disediakan. Tidak semua anak menyediakan
kandhnang karena untuk satu regu bermain cukup satu kandhnang.
Kandhnang terbuat dari kayu, kadang-kadang kayu itu keras dan se-
ring juga dibuat dari kayu yang empuk. Bagi anak-anak kecil terbuat
dari pelepah rumbia karena pelepah rumbia ringan, mudah didapat,
 dan dimainkan anak-anak.
     Waktu Pelaksanaan. Di kabupaten Aceh Utara meu een kan-
dhnang dimainkan pada waktu musim turun ke sawah. Pada waktu
itu binatang ternak harus diikat/dijaga supaya tidak merusak padi di
sawah. Sewaktu masyarakat sibuk mengerjakan sawahnya, anak-anak
diserahi tugas untuk mengembalakan ternak yang ada. Sejalan dengan
itu, mereka mempergunakan waktunya untuk meu een kandhnang.
Seperti diketahui pada pagi hari anak-anak di Daerah Istimewa Aceh
khususnya di kabupaten Aceh Utara mereka pergi ke sekolah dan pa-
da sore hari melaksanakan tugasnya seperti disebutkan di atas. JCare-
na itu, meu een kandhnang sering dimainkan pada sore hari. Tidak
jarang, permainan ini dimainkan setelah panen selesai. Lazimnya ma-
syarakat setelah panen mempunyai waktu istirahat yang panjang
sebelum datangnya masa mengerjakan sawah yang akan datang. Si-
tuasi ini berlangsung lebih meriah karena banyak penonton dan
orang-orang tua turut mendorong anak-anak waktu bermain/bertan-
ding.
     Dikatakan meriah karena setiap unsur dalam masyarakat turut
meramaikan permainan ini.
     Latar Belakang Sosial Budaya dan Sejarah Perkembangannya.
Meu een kandhnang adalah suatu permainan anak-anak yang banyak
penggemarnya. Dapat dikatakan seluruh lapisan masyarakat mengge-
marinya atau paling tidak menjadi penonton yang baik. Sering terli-
hat setiap sore permainan ini terus berlangsung dan penonton pun
tetap tidak berkurang. Sulit diketahui, faktor apa yang menyebabkan
permainan ini disukai segenap lapisan masyarakat, hal ini perlu pene-

                                                                105
litian yang mendalam karena selain mengasyikkan juga banyak tek-
nik-teknik, seperti teknik memukul, melempar yang penuh perhi-
tungan, dan menambah persahabatan anak-anak antar kampung.
     Menurut orang yang diwawancarai, tentang dari mana permainan
ini sangat sulit ditentukan karena sejak mereka kecil permainan ini
telah dimainkan oleh generasi sebelumnya.

     Jalannya Permainan. Meu een kandhnang dapat dimainkan seca-
ra per seorangan dan dapat juga secara beregu. Cara beregu tentunya
harus dibatasi jumlah pesertanya karena jika tidak pergantian terlalu
lama. Adapun aturan permainan tidak begitu sulit, tetapi cukup se-
derhana seperti di bawah ini:
    Misalkan ada dua regu yang bertanding, masing-masing beranggo-
ta empat orang.
Regu A anggotanya: 1 , 2 , 3 , 4
Regu B anggotanya: 1 , 2 , 3 , 4 .
    Pra permainan sering dilakukan pembagian teman menurut kon-
disi fisik. Bila pembagian ini telah disepakti, maka dilanjutkan de-
ngan undian untuk menentukan regu mana yang menjadi penjaga.
Katakanlah regu A yang menjadi penjaga dan regu B yang memukul
atau memulai permainan.
     Regu B, nomor 1 memulai memukul dengan sebutah bohsa
(buah satu) tempat anak kandhnang diletakkan pada gagangnya.
Setelah memukul dengan pukulan bagus, si pemukul berjaga-jaga lem-
paran anak kandhnang si penjaga. Bila anak kandhnang waktu dilem-
par si penjaga kena gagang dan melenceng ke belakang, si pemukul
tersebut dianggap mati. Pada tempat si pemukul berdiri, ada satu lo-
bang dan dianggap ada suatu garis lurus sebagai benteng pertahanan
bagi yang memukul. Apabila anak kandhnang itu jatuh pada atau de-
kat lobang dan bila diukur jarak anak kandhnang dengan lobang lebih
panjang gagang kandhnang, hal yang demikian pun si pemukul diang-
gap mati. Di samping itu, jika si pemukul sewaktu memukul tidak
mengenai anak kandhnang yang dipukulnya, juga dianggap mati.
    Terjadinya hal-hal seperti di atas mengakibatkan pergantian si
pemukul. Misalnya dari nomor 1 ke nomor 2, dan seterusnya. Seba-
liknya jika pukulannya bagus dan ketika dilempar si penjaga dapat
dipukul lagj oleh si pemukul, point akan terjadi pada si pemukul.
Keadaan ini diukur berdasarkan panjangnya gagang kandhnang tadi;
1 —10 dianggap satu kandhnang, dan 10 (sepuluh) kandhnang disebut

106
satu rukon. Lamanya permainan bergantung pada jumlah rukon yang
sepakati pada waktu pra permainan. Biasanya dilaksanakan lima ru-
kon.
    Peranan Masa Kini. Permainan ini masih dimainkan anak-anak di
daerah Aceh bagian utara dan sangat disenangi oleh mereka baik
yang ikut bermain maupun yang menonton.
    Tanggapan Masyarakat. Permainan ini merupakan suatu kebang-
gaan masyarakat di mana anak-anak dilatih untuk keterampilan yang
kelak berguna bagi mereka.




                                                              107
108
Tidak diperdagangkan untuk umum

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1171
posted:2/28/2011
language:Indonesian
pages:122