Docstoc

Jenis-Jenis Tanaman Umbi

Document Sample
Jenis-Jenis Tanaman Umbi Powered By Docstoc
					                 Tugas
            Pangan dan Gizi

  JENIS-JENIS TANAMAN
               UMBI




            Disusun Oleh :
    Galih Prasetyo       H1106003




    FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
           SURAKARTA
                 2010
        Selama ini, sebagian besar masyarakat kita hanya mengenal beras sebagai
sumber makanan pokok. Biasalah orang Indonesia selalu bilang kalau belum
makan nasi ya namanya belum makan. Padahal sumber karbohidrat kan bukan
hanya dari beras, dan sebenarnya Indonesia kaya sekali dengan beragam jenis
umbi-umbian. Namun sayangnya baru dikenal dan dimanfaatkan oleh sebagian
kecil masyarakat terutama di pedesaan saja. Keterbatasan informasi mengenai
jenis dan kegunaannya bisa jadi merupakan salah satu penyebab minimnya
pemanfaatan umbi-umbian terutama dari jenis minor selain kentang, singkong,
talas dan ubi jalar.
Macam-macam Tanaman Umbi
        1.   Ubi jalar (Ipomoea batatas L.)
                Dari berbagai jenis umbi-umbian yang ditemukan dalam perjalanan
        ini tampaknya ubi jalar merupakan jenis yang paling umum dibudidayakan
        dan diolah menjadi berbagai macam produk olahan. Beberapa daerah
        pembudidayaan dan pengolahan yang cukup besar, antara lain di
        Kabupaten Malang. Salah satu kultivar ubi jalar yang mengandung
        antosianin yang tinggi yaitu ubi jalar ungu diolah menjadi es krim,
        campuran selai buah, berbagai macam kue kering, kripik, tepung, kubus
        instan untuk bahan kolak dan sawut ubi jalar.
        2.   Singkong (Manihot esculenta Crantz)
                Di Indonesia singkong, atau ubi kayu, bodin, sampeu mempunyai
        arti ekonomi penting dibandingkan dengan umbi-umbi lainnya. Jenis ini
        kaya akan karbohidrat dan merupakan makanan pokok di daerah tandus di
        Indonesia. Selain umbinya, daunnya mengandung banyak protein yang
        dipergunakan berbagai macam sayur, dan daun yang telah dikayukan
        digunakan sebagai pakan ternak. Batangnya digunakan sebagai kayu bakar
        dan seringkali dijadikan pagar hidup. Produk olahan dari bahan singkong
        dapat ditemukan di beberapa tempat berikut ini : Malang, Kebumen, DI
        Yogyakarta, Kebumen, Temanggung. Berbagai macam produknya antara
        lain: mie, krupuk, tiwul instan, kue lapis, bidaran, stick, pluntiran, tiwul,
        gatot, tepung tapioka dan lain-lain.
3.   Suweg (Amorphophallus paeoniifolius (Dennstedt) Nicolson)
         Suweg merupakan salah satu jenis Araceae yang berbatang semu,
memiliki satu daun tunggal yang terpecah-pecah. Jenis ini jarang
dibudidayakan, umumnya tumbuh di hutan-hutan jati atau kebun yang
tidak dipelihara. Seperti halnya talas, suweg juga mengandung kristal
kalsium oksalat yang membuat rasa gatal. Senyawa ini dapat dihilangkan
dengan cara perlakuan dan perebusan. Umbinya dapat dipanen 8 – 10
bulan. Beberapa daerah pengamatan dan cara pengolahannya yang
dikunjungi antara lain Wonosaridan Malang.
4.   Garut (Maranta arundinacea L.)
         Tanaman garut menyukai tumbuh pada tanah yang lembab dan di
bawah naungan. Di Jawa Barat, garut dikenal dengan sebutan sagu atau
irut. Umbinya banyak mengandung tepung pati yang sangat halus yang
mudah dicerna. Beberapa daerah penanaman dan produksi tepung garut
yang dikunjungi antara lain di Malang, Yogyakarta dan Garut. Umbi
tanaman ini dapat diolah menjadi tepung garut, kue semprit dan emping
garut.
5.   Ganyong (Canna indica L.)
         Seperti halnya dengan tanaman garut, ganyong umumnya tumbuh
berumpun di bawah naungan antara lain: jati, bambu, pisang, biasanya
ditanam secara tumpang sari namun belum secara intesif. Umumnya,
hasilnya untuk konsumsi keluarga saja. Dikenal 2 macam ganyong yaitu
ganyong berdaun merah dan berdaun putih, meskipun umbinya berwarna
putih dan mempunyai rasa yang sama. Di Jawa Barat ganyong dikenal
dengan nama ganyol
6. Gadung (Dioscorea hispida Dennst.)
         Jenis ini dicirikan dari daunnya yang terdiri dari 3 helai daun dan
batangnya yang berbulu dan berduri tersebar sepanjang batang dan tangkai
daun. Umbinya berwarna coklat muda, diliputi rambut-rambut akar yang
besar dan kaku. Umbi gadung tidak dapat dikonsumi secara langsung
       karena beracun sehingga harus diberi perlakuan tertentu sebelum diolah.
       Produk hasil olahan biasanya berupa kripik gadung. Dari pengamatan di
       pasar tradisional di beberapa daerah diketahui produk kripik gadung baik
       mentah maupun matang telah jarang dijumpai, tampaknya telah
       didominasi oleh kripik kentang.
       7. Uwi (Dioscorea spp.)
              Ada beberapa varietas dari uwi dan penamaannya di tiap daerah
       juga berbeda-beda. Di daerah Wonosari (Yogyakarta) dan desa
       Poncokusumo (Malang-Jawa Timur), terdapat varietas uwi putih dan uwi
       ungu (“gadung” dalam bahasa JawaTimur). Di Kutowinangun (Jawa
       Tengah), dikenal yang namanya uwi bangkulit (kulit luarnya berwarna
       merah “abang” dalam bahasa Jawa Tengah), sedangkan di daerah Garut
       dikenal varietas huwi manis/kalapa (karena rasanya manis seperti kelapa)
       dan huwi hideung (karena warna hitam. “”hideung” hitam dalama bahasa
       Sunda). Umbi uwi ini biasanya dipanen sekitar umur 6-8 bulan.
       Pemanfaatan uwi sebagai sumber bahan pangan biasanya hanya sebatas
       dikonsumsi sebagai pengganti nasi dengan cara dikukus, atau           di
       kecamatan Leles, Kabupaten Garut, uwi biasanya digunakan untuk acara
       sawaka (7 bulanan masa kehamilan).
       8. Gembili (Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill)
              Jenis ini merupakan salah satu yang dibudidayakan dan jarang
       ditemukan tumbuh liar. Umumnya ditanam secara terbatas di pekarangan
       rumah. Umbinya berwarna putih sampai putih kekuningan dan
       pemanfaataannya sebatas dikonsumsi dengan cara dikukus sebagai
       pengganti makanan pokok. Umbi gembili banyak dijual di pasar-pasar
       tradisional di Jawa Tengah (a.l. Kebumen, Kutowinangun, Wonosari) dan
       Jawa Timur (Malang).
       9. Kentang hitam (Coleus tuberosum Benth. Atau Plectranthus
rotundifolius (Poiret) Sprengel)
              Kentang hitam/ireng seringkali disebut juga sebagai kentang kleci
       (karena bentuk umbinya kecil, bulat seperti bentuk kleci atau kelereng).
Disebut sebagai kentang ireng karena kulit luarnya berwarna hitam
(“ireng” dalam bahasa Jawa). Biasanya dipanen pada musim panas. Hasil
informasi diketahui bahwa tanaman ini terdapat di daerah Jawa Tengah
(seperti Kebumen, Kutowinangun, Temanggung) dan Jawa Barat (daerah
Sumedang); tampaknya populasinya sudah agak jarang. Umbi kentang
ireng biasanya dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat dengan cara
dikukus, atau untuk campuran sayur dan sambal goreng.
10. Talas (Colocasia sp.)
       Salah satu jenis umbi-umbian yang cukup banyak digemari orang
adalah talas. Talas sembir atau semir banyak dijumpai dan dibudidayakan
di desa Sembir, Kabupaten Sumedang. Batang dan daunnya dapat disayur.
Selain talas sembir, penduduk setempat membudidayakan pula talas
gadong dengan ciri-ciri berbatang ungu dan mempunyai anakan banyak,
namun batangnya tidak bisa disayur. Menurut masyarakat setempat, rasa
talas semir lebih enak dan daging umbinya lebih pulen dari talas bogor
(Colocasia esculenta (L.) Schotz).
11. Mbote (Xanthosoma sp.)
       Di beberapa daerah di Jawa Timur, talas kadangkala disebut mbote.
Seperti halnya kimpul, mbote yang diambil anakan umbinya. Kulit luar
umbi mbote berambut dan umbinya beruas-ruas. Di pasar tradisional
Malang juga banyak dijual umbi mbote, biasanya dikonsumsi dengan cara
dikukus. Di Kecamataan Turen, Malang, mbote ini sudah diolah menjadi
kripik mbote dengan berbagai macam rasa, renyah dan enaknya tidak
kalah dengan talas, bahkan ada rasa khas mbote.
12. Kimpul (Xanthosoma nigrum (Vell.) Mansfeld)
       Kimpul seringkali dicampuradukkan dengan talas. Jika talas yang
diambil umbi induknya, maka kimpul yang diambil umbi anakannya. Kulit
luar umbi kimpul halus dan tidak beruas-ruas. Pemanfaatan kimpul ini
sebagai sumber bahan pangan dengan cara dikukus. Banyak dijumpai di
pasar-pasar tradisional di daerah Malang dan Temanggung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:14360
posted:2/23/2011
language:Indonesian
pages:5