Informasi Jumlah, Pertumbuhan, Dan Kepadatan Penduduk, Serta Pola Migrasi - PDF by uia20000

VIEWS: 4,909 PAGES: 69

Informasi Jumlah, Pertumbuhan, Dan Kepadatan Penduduk, Serta Pola Migrasi document sample

More Info
									                                            BAB I

                                      PENDAHULUAN


1.1.    Latar Belakang

                Kesehatan       merupakan    salah   komponen   utama   dalam   Index
        Pembangunan Manusia (IPM) yang dapat mendukung terciptanya SDM yang
        sehat, cerdas, terampil dan ahli menuju keberhasilan Pembangunan
        Kesehatan. Pembangunan kesehatan merupakan salah satu hak dasar
        masyarakat yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dapat
        dipenuhi. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan telah
        dilakukan perubahan cara pandang (mindset) dari paradigma sakit menuju
        paradigma sehat sejalan dengan Visi Indonesia Sehat 2010.
                Seiring dengan visi tersebut, maka Visi Pembangunan Kesehatan di
        Kota Semarang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah adalah
        Terwujudnya Masyarakat Kota Pantai Metropolitan yang Sehat Didukung
        dengan Profesionalisme dan Kinerja yang Tinggi.
                Dalam rangka memberikan gambaran situasi kesehatan di Kota
        Semarang Tahun 2009 perlu diterbitkan Buku Profil Kesehatan Kota
        Semarang Tahun 2009. Media Profil Kesehatan Kota Semarang merupakan
        salah satu sarana untuk menilai pencapaian kinerja pembangunan kesehatan
        dalam rangka mewujudkan Kota Semarang Sehat 2010.
                Profil Kesehatan menyajikan berbagai data dan informasi diantaranya
        meliputi data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian program –
        program kesehatan, masalah kesehatan dan lain -lain. Tersusunnya Buku
        Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009 didukung oleh pengelola data
        dan informasi Dinas Kesehatan Kota Semarang, Puskesmas, Instalasi
        Perbekalan Farmasi, juga lintas sektor terkait (Badan Pusat Statistik, ASKES,
        JAMSOSTEK, BKKBN, POLWILTABES Kota Semarang).


1.2.    Tujuan
1.2.1. U mum
                Tujuan disusunnya Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009
        adalah tersedianya data / informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan
        sesuai kebutuhan dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen


Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           2
        kesehatan secara berhasilguna dan berdayaguna sebagai upaya menuju
        Kota Semarang yang Sehat.


1.2.2. Khusus
        Secara khusus tujuan penyusunan Profil Kesehatan adalah :
1.2.2.1. Diperolehnya Data / informasi umum dan lingkungan yang meliputi
         lingkungan fisik dan biologi, perilaku masyarakat yang berkaitan dengan
         kesehatan masyarakat, data kependudukan dan sosial ekonomi;
1.2.2.2. Diperolehnya Data / informasi tentang status kesehatan masyarakat yang
         meliputi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat;
1.2.2.3. Diperolehnya Data / informasi tentang upaya kesehatan, yang meliputi
         cakupan kegiatan dan sumber daya kesehatan.
1.2.2.4. Diperolehnya Data / informasi untuk bahan penyusunan perencanaan
         kegiatan program kesehatan;
1.2.2.5. Tersedianya alat untuk pemantauan dan evaluasi tahunan program –
         program kesehatan;
1.2.2.6. Tersedianya wadah integrasi berbagai data yang telah dikumpulkan oleh
         berbagai sistem pencatatan dan pelaporan yang ada di Puskesmas, Rumah
         Sakit maupun Unit-Unit Kesehatan lainnya;
1.2.2.7. Tersedianya alat untuk memacu penyempurnaan sistem pencatatan dan
         pelaporan kesehatan.


1.3.    Sistematika Penulisan
                Untuk lebih menggambarkan situasi derajat kesehatan, peningkatan
        upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan di Kota Semarang pada Tahun
        2009, maka diterbitkanlah Buku Profil Kesehatan Kota Semarang yang
        disusun dengan sistematika sebagai berikut :
        BAB     I        PENDAHULUAN
        BAB      II      GAMBARAN UMUM KOTA SEMARANG
        BAB     III      PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH
        BAB     IV       PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN
        BAB     V        KESIMPULAN DAN SARAN
        LAMPIRAN




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       3
                                              BAB II

                       GAMBARAN UMUM DAN LINGKUNGAN
                  YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT


2.1.    Keadaan Geografis
2.1.1. Letak
                Kota Semarang terletak antara garis 6º50’ - 7º10’ Lintang Selatan dan
        garis 109º35’ - 110º50’ Bujur Timur. Dibatasi sebelah Barat dengan
        Kabupaten Kendal, sebelah Timur dengan Kabupaten Demak, sebelah
        Selatan dengan Kabupaten Semarang, dan sebelah Utara dibatasi oleh Laut
        Jawa dengan panjang garis pantai meliputi 13,6 Km. Ketinggian Kota
        Semarang terletak antara 0,75 sampai dengan 348,00 di atas garis pantai.

2.1.2. Luas Wilayah Kota Semarang
                                                       Dengan luas wilayah sebesar 373,70
                                                2
                                              km , Kota Semarang terbagi dalam 16
                                              kecamatan dan 177 kelurahan. Dari 16
                                              kecamatan yang ada, kecamatan           Mijen
                                              (57,55 km2) dan Kecamatan Gunungpati
                                              (54,11 km2), dimana sebagian            besar
        wilayahnya berupa persawahan dan perkebunan. Sedangkan kecamatan
        dengan luas terkecil adalah Semarang Selatan (5,93 km2) dan kecamatan
        Semarang Tengah (6,14 km2), sebagian besar wilayahnya berupa pusat
        perekonomian dan bisnis Kota Semarang, seperti bangunan toko/mall,
        pasar, perkantoran dan sebagainya.



2.2     Kependudukan
2.2.1. Pertumbuhan         Penduduk,        Persebaran      dan   Kepadatan      Penduduk,
        Komposisi Penduduk, Kelahiran, Kematian dan Perpindahan
2.2.1.1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk
                Jumlah penduduk Kota Semarang menurut registrasi sampai dengan
          akhir Desember tahun 2009 sebesar : 1.506.924. jiwa, terdiri dari 748.515
          jiwa penduduk laki-laki dan 758.409 jiwa penduduk perempuan. Dengan
          jumlah     sebesar     itu   Kota     Semarang      termasuk   dalam    5   besar



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                4
          Kabupaten/Kota yang mempunyai jumlah penduduk terbesar di Jawa
          Tengah.
            Tabel 1 : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Tahun 2004 - 2009
             Tahun             Jumlah Penduduk                Tingkat pertumbuhan
                                                                 Setahun ( % )
           2004           1.399.133                                  1,52
           2005           1.419.478                                  1,45
           2006           1.434.132                                  1,02
           2007           1.454.594                                  1,43
           2008           1.481.640                                  1,86
           2009           1.506.924
           Sumber data : Kantor BPS Kota Semarang


                 Perkembangan dan pertumbuhan penduduk selama 6 tahun terakhir
        menunjukkan hasil yang bervariasi.


2.2.1.2. Persebaran dan Kepadatan Penduduk
                 Penyebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian
        karena berkaitan dengan daya dukung lingkungan yang tidak seimbang.
        Secara     geografis    wilayah     Kota   Semarang    terbagi menjadi dua yaitu
        daerah     dataran     rendah ( Kota Bawah ) dan daerah perbukitan (Kota
        Atas). Kota Bawah merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan
        dan industri, sedangkan Kota Atas lebih banyak dimanfaatkan untuk
        perkebunan, persawahan, dan hutan.
                 Sedangkan ciri masyarakat Kota Semarang terbagi dua yaitu
        masyarakat dengan karakteristik perkotaan dan masyarakat dengan
        karakteristik pedesaan.
                 Sebagai salah satu kota metropolitan, Semarang boleh dikatakan
        belum terlalu padat. Pada tahun 2009 kepadatan penduduknya sebesar
        3.965 jiwa per km 2. Bila dilihat menurut Kecamatan yang mempunyai
        kepadatan penduduk paling kecil adalah Kecamatan Tugu sebesar 849 jiwa
        per km2, diikuti dengan Kecamatan Mijen 850 jiwa per km2 dan Kecamatan
        Gunungpati 1.210 jiwa per km2. Ketiga Kecamatan tersebut merupakan
        daerah pertanian dan perkebunan, sehingga sebagian wilayahnya masih
        banyak terdapat areal persawahan dan perkebunan,.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                             5
                Namun sebaliknya untuk Kecamatan -Kecamatan yang terletak di
        pusat kota, dimana luas wilayahnya tidak terlalu besar tetapi jumlah
        penduduknya       sangat     banyak,   kepadatan   penduduknya    sangat tinggi.
        Yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Semarang
        Selatan 14.458 jiwa/km2, kemudian Kecamatan Semarang Tengah 12.089
        jiwa/km2 , Kecamatan Candisari 11.917              jiwa/km 2, diteruskan dengan
        Semarang Utara 11.556           jiwa/km2   dan Kecamatan Gayamsari 11. 453
                 2
        jiwa/km .
              Bila dikaitkan dengan banyaknya keluarga atau rumah tangga, maka
        dapat dilihat bahwa rata-rata setiap keluarga di Kota Semarang memiliki 4,0
        atau 4 (empat) anggota keluarga, dan kondisi ini terjadi pada hampir seluruh
        Kecamatan yang ada .


2.2.1.3. Komposisi Penduduk
               Untuk dapat menggambarkan tentang keadaan penduduk secara
        khusus dapat dilihat dari komposisinya, salah satunya adalah penduduk
        menurut jenis kelamin. Dari 1.506.924 penduduk Kota Semarang pada tahun
        2009 terdiri dari 748.515 jiwa penduduk laki-laki dan 758.409 jiwa penduduk
        perempuan . Indikator dari variabel jenis kelamin adalah rasio jenis kelamin
        yang merupakan angka perbandingan antara penduduk laki-laki dan
        perempuan.


2.2.1.4. Kelahiran, Kematian dan Perpindahan
                Potensi permasalahan jumlah penduduk yang besar dipengaruhi oleh
        tingkat pertumbuhan penduduk yang dimiliki. Bila jumlah penduduk yang
        besar sedangkan tingkat pertumbuhannya tinggi, maka beban untuk
        mencukupi kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan
        dan sebagainya menjadi sangat berat.
                Tingkat pertumbuhan penduduk dibedakan atas tingkat pertumbuhan
        alamiah dan tingkat pertumbuhan karena migrasi. Tingkat pertumbuhan
        alamiah secara sederhana dihitung dengan membandingkan jumlah
        penduduk yang lahir dan mati. Pada periode waktu tertentu digambarkan
        dengan Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Rate ( CBR ) dan Angka
        Kematian Kasar atau Crude Death Rate ( CDR ) yang meru pakan



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                             6
        perbandingan antara jumlah kelahiran dan kematian selama 1 tahun dengan
        jumlah penduduk pertengahan tahun.
                Selama periode 5 tahun terakhir perkembangan kelahiran dan
        kematian penduduk di Kota Semarang terlihat cukup berfluktuasi. Hal ini
        dilihat bahwa untuk CBR periode 2003 – 2009. pada tahun 2008 CBR
        sebesar      16,60/1.000 penduduk, hal ini berarti setiap 1.000 oenduduk
        terdapat kelahiran 17 orang. Sedangkan CDR juga mempunyai pola yang
                                                                        a
        sama berfluktuasi selama periode 2003 – 2009. CDR tahun 2008 adal h
        6,79/1.000 penduduk, artinya setiap 1.000 penduduk selama setahun jumlah
        penduduknya berkurang karena meninggal 7 orang. Data selengkapnya pada
        tabel berikut :
                   Tabel 2: Perkembangan Kelahiran dan Kematian Penduduk
                               Kota Semarang Periode 2003 – 2009
                 Tahun          Jml Penduduk                  CBR                  CDR
                                                          (/1000 pddk)         (/1000 pddk)
                 2003       1.378.193                    12,56                5,09
                 2004       1.399.133                    12,64                5,27
                 2005       1.419.478                    15,23                6,41
                 2006       1.434.132                    15,46                7,56
                 2007       1.454.594                    16,06                7,04
                 2008       1.481.640                    16,60                6,79
                 2009       1.506.924


              Catatan: Sampai dengan bulan Agustus 2010, data BPS belum kami dapatkan secara lengkap.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                               7
2.3 .   PENDIDIKAN
                Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan
        masyarakat yang berperan meningkatkan kualitas hidup. Semakin tinggi
        pendidikan suatu masyarakat, semakin baik kualitas sumber dayanya.
                Sebagai gambaran tingkat pendidikan penduduk Kota Semarang pada
        tahun 2008 adalah sebagai berikut :
                 Tabel 3 : Prosentase Tingkat Pendidikan di Kota Semarang
                                           Tahun 2008

                No      Tingkat Pendidikan              Laki-laki dan Perempuan
                                                     Jumlah                     %
                1.    Tdk / blm pernah               93.487                    6,54
                      sekolah
                2.    Tidak & belum tamat           291.363                   20,38
                      SD
                3.    S D/MI                         326.847                   22,86
                4.    S L T P/MTs                    289.915                   20,28
                5.    S L T A/MA                     301.658                   21,10
                6.    Akademi                        62.136                    4,35
                7.    Universitas                    64.484                    4,51
                      Jumlah:                       1.429.890                 100,00
                Sumber data : BPS Kota Semarang
                Catatan: Sampai dengan bulan Agustus 2010, data BPS belum kami dapatkan secara
                lengkap



2.4.    SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
              Tabel 4 : Prosentase Sarana dan Prasarana di Kota Semarang
                                             Tahun 2008 - 2009
         A.     SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN                            2008         2009
                1.      Rumah Sakit Umum :
                        a. Rumah Sakit Swasta                             9            10
                        b. Rumah Sakit Umum Daerah                        2            2
                        c. Rumah Sakit Umum Pusat                         1            1
                        d. Rumah Sakit TNI / POLRI                        3            3
                        e. Rumah Sakit Khusus, terdiri dari :             9            9
                            -   RS Jiwa                                   1            1
                            -   RS Bedah Plastik                          1            1
                            -   Rumah Sakit Ibu dan Anak ( RSIA )         4            3
                            -   Rumah Sakit Bersalin ( RSB )              3            3
                2.      Rumah Bersalin ( RB ) / BKIA                      6            6

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                     8
               3.       Puskesmas , terdiri dari :           37      37
                            a. Puskesmas Perawatan           11      11
                            b. Puskesmas Non Perawatan       26      26
               4.       Puskesmas Pembantu                   33      33
               5.       Puskesmas Keliling                   37      37
               6.       Posyandu yang ada                    1.476   1.496
               7.       Posyandu Aktif                       1.476   1.496
               8.       Apotik                               174     360
               9.       Laboratorium Kesehatan Swasta        40      32
               10.      Klinik Spesialis                     12      14
               11.      Optik                                71      90
               12.      Klinik 24 Jam                        22      24
               13.      Toko Obat                            74      65
               14.      BP Umum                              176     2079
               15.      BP Gigi                              40      45
               16.      PBDS                                 7       7
               17.      Dokter Umum Praktek Swasta           1836    2079
               18.      Dokter Spesialis swasta              923     649
               19.      Dokter gigi swasta                   527     550
               20.      Bidan praktek swasta                 569     650




        Sumber data : Sie Promkes & InfoKes Dinas Kesehatan Kota Semarang




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                    9
                                            BAB III
                         PEMBANGUNAN KESEHATAN KOTA


3.1     DASAR
        Dasar pembangunan kesehatan adalah nilai kebenaran dan aturan pokok
yang menjadi landasan untuk berfikir dan bertindak dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan. Dasar-dasar berikut ini merupakan landasan dalam
penyusunan visi, misi dan strategi serta sebagai petunjuk pokok pelaksanaan
pembangunan kesehatan:


3.1.1   Perikemanusiaan
        Setiap     kegiatan     proyek,     program   kesehatan   harus   berlandaskan
perikemanusiaan yang dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


3.1.2   Pemberdayaan dan Kemandirian
        Individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya bukan saja sebagai
obyek namun sekaligus pula subyek kegiatan, proyek, program kesehatan. Segenap
komponen bangsa bertangggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya. Setiap kegiatan,
proyek, program kesehatan haru s mampu membangkitkan peran serta individu,
keluarga dan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap individu, keluarga dan
masyarakat dapat menolong dirinya sendiri.
        Dengan dasar ini, setiap individu, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan,
proyek, program kesehatan difasilitasi agar mampu mengambil keputusan yang tepat
ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. Warga masyarakat harus mau bahu
membahu menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan agar dapat
menjangkau fasilitas kesehatan yang sesuai kebutuhan dalam waktu yang sesingkat
mungkin. Di lain pihak, fasilitas pelayanan kesehatan yang ada perlu terus
diberdayakan agar mampu memberikan pertolongan kesehatan yang berkualitas,
terjangkau, sesuai dengan norma sosial budaya setempat serta tepat waktu.


3.1.3   Adil dan Merata
        Setiap individu, keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang
sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          10
mencapai         derajat   kesehatan    yang   setinggi-tingginya.   Kesempatan   untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan tepat waktu,
tidak boleh memandang perbedaan ras, golongan, agama, dan status sosial individu,
keluarga dan masyarakat.
          Pembangunan kesehatan yang cenderung urban-based                 harus terus
diimbangi dengan upaya-upaya kesehatan yang bersifat rujukan, bersifat luar
gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan. Dengan demikian pembangunan
kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk beresiko tinggi yang
merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian. Kelompok-kelompok
penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan karena selain
lebih rentan terhadap penyakit, kemampuan membayar mereka jauh lebih sedikit.


3.1.4     Pengutamaan dan Manfaat
          Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kedokteran dan atau
kesehatan dalam kegiatan, proyek, program kesehatan harus mengutamakan
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Kegiatan, proyek dan program
kesehatan diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
peningkatan deajat kesehatan masyarakat. Kegiatan, proyek dan program kesehatan
diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan standar profesi dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan dengan
sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah.


3.2       VISI DAN MISI
3.2.1     VISI
          Dalam mewujudkan gambaran masyarakat Kota Semarang di masa depan
maka Dinas Kesehatan Kota memiliki Visi “Terwujudnya masyarakat kota
metropolitan yang sehat didukung dengan profesionalisme dan kinerja yang
tinggi”
          Visi tersebut mengandung dua filosofi pokok yang akan dilaksanakan
perwujudannya, yaitu masyarakat kota metropolitan yang sehat dan upaya
pelayanan kesehatan dilakukan secara profesional dan didukung oleh tenaga yang
memiliki kinerja yang tinggi.
          Masyarakat kota metropolitan yang se hat adalah masyarakat yang ditandai
oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat,



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           11
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara
adil dan merata serta memiliki derajad kesehatan yang setinggi-tingginya.
        Upaya pelayanan kesehatan secara profesional adalah tatanan dari stake
holder kesehatan di kota Semarang yang memiliki kemampuan cipta, rasa, karsa dan
karya yang tinggi dengan karakteristik mandiri, kreatif, berbudaya, partisipatif dan
menguasi ilmu pengetahuan teknologi sehingga mampu memberikan upaya
pelayanan kesehatan masyarakat maupun perorangan yang prima.


3.2.2   MISI
Misi mencerminkan peran, fungsi dan kewenangan seluruh jajaran organisasi
kesehatan di seluruh wilayah Kota Semarang, yang bertanggung jawab secara
teknisterhadap pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan Kota
Semarang. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi yang diemban oleh
seluruh jajaran petugas kesehatan di masing-masing jenjang administarsi
pemerintahan, yaitu :
1. Memberi perlindungan kesehatan ,
2. Memberi pelayanan kesehatan paripurna yang terbaik kepada seluruh lapisan
masyarakat agar tercapai derajat kesehatan yang optimal
3. Melibatkan peran serta masyarakat melalui upaya di bidang kesehatan dengan
cara efektif dan efisien


3.2.3 TUJUAN
    1. Meningkatkan mutu upaya pelayanan kesehatan yang berhasil guna, berdaya
        guna dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (Misi 1)
    2. Menyediakan pelayanan kefarmasian yang memenuhi persyaratan mutu,
        keamanan dan kemanfaatan. (Misi 1)
    3. Meningkatkan kualitas manajemen upaya pelayanan kesehatan dalam
        mendukung pencapaian derajad kesehatan masyarakat yang optimal. (Misi 1)
    4. Memberdayakan individu, kelompok masyarakat di bidang kesehatan untuk
        memelihara,        meningkatkan,    melindungi   kesehatannya   sendiri   dan
        lingkungannya menuju masyarakat yang sehat, mandiri, produktif. (Misi 2)




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          12
 3.2.4. SASARAN

        1. Menurunnya angka kesakitan, kematian akibat penyakit menular dan tidak
            menular serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sehingga
            dapat mencegah pen yebaran penyakit.
        2. Tersedianya pelayanan kesehatan dasar & rujukan baik pemerintah dan
            swasta yang bermutu menuju peningkatan derajad kesehatan masyarakat
            yang optimal.
        3. Meningkatnya derajad kesehatan ibu, ibu maternal, bayi, balita, anak
            prasekolah,     remaja,     usia   lanjut   serta   meningkatnya   status   gizi
            masyarakat.
        4. Meningkatnya kualitas air, lingkungan pemukiman, tempat umum, tempat
            pengelolaan makanan yang lebih sehat sehingga dapat melindungi
            masyarakat dari penyakit yang ditularkan melalui lingkungan.
        5. Tersed ianya kebutuhan obat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu,
            aman dan efektif sesuai kebutuhan                    medis masyarakat serta
            meningkatnya keamanan, khasiat obat yang beredar termasuk obat
            tardisional dan kosmetika.
        6. Meningkatnya fungsi perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan
            yang didukung tersedianya sistem informasi yang handal serta kapasitas
            sumber daya manusia kesehatan yang memadai.
        7. Tersedianya sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar pemerintah
            yang memadai untuk pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan
            masyarakat
        8. Meningkatnya perilaku hidup bersih sehat dan peran aktif masyarakat
            dalam memelihara, meningkatkan, melindungi kesehatan diri dan
            lingkungannya.



3.2.5 STRATEGI KEBIJAKAN

        Program yang telah disusun dan ditetapkan sebagai strategi kebijakan Dinas
Kesehatan Kota Semarang terdiri dari 8 (delapan) program, antara lain
          1. Pelayanan Kesehatan
          2. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
          3. Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat
          4. Lingkungan Sehat
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                13
           5. Pemberdayaan Masyarakat
           6. Manajemen Kesehatan dan Perijinan
           7. Obat dan Perbekalan Kesehatan
           8. Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan
3.3 SASARAN          PROGRAM PEMBANGUNAN DINAS KESEHATAN KOTA
      SEMARANG TAHUN 2009
      Kinerja dinas yang ingin diwujudkan/ dicapai dalam tahun 2009 (target)
      tercermin dalam sasaran -sasaran beserta indikatornya sebagai berikut :
      I.   Menurunnya angka kesakitan, kematian akibat penyakit menular dan tidak
           menular serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sehingga
           dapat mencegah penyebaran penyakit.
           1. Kasus demam berdarah yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 48
              jam : 60%
           2. Kasus demam berdarah yang difogging sesuai standar < 2 minggu :
              70%
           3. Penderita demam berdarah yang ditangani : 100%
           4. Incident rate demam berdarah : 19,5/10.000 penduduk
           5. Case fatality rate demam berdarah : 2 %
           6. Kesembuhan penderita TB BTA + (cure rate) : > 85%
           7. Penemuan kasus TB BTA + (case detection rate) : 60%
           8. Angka kesakitan diare : 25/1000 penduduk
           9. Balita dengan diare yang ditangani : 100%
           10. Angka kematian diare : < 1/10.000 penduduk
           11. Cakupan penemuan pnemoni balita : 30%
           12. Cakupan balita dengan pnemoni yang ditangani : 100%
           13. Angka kesakitan pnemoni balita : 350/10.000 penduduk
           14. Klien yang mendapat penanganan HIV-AIDS : 85%
           15. Kasus infeksi menular seksual yang diobati : 100%
           16. Prevalensi HIV -AIDS : < 1/10.000 penduduk
           17. Darah donor diskrining HIV -AIDS : 100%
           18. Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) : > 90%
           19. Kelurahan mengalami KLB PD3I & keracunan makanan yang ditangani
              < 24 jam : 90%
           20. Kelurahan mengalami KLB penyakit bersumber binatang yang ditangani
              < 24 jam : 50%

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       14
          21. Acute flacid paralysis rate < 15 tahun : 2/100.000 penduduk
          22. Jejaring deteksi surveilens PTM di RS & puskesmas yang mantap :
              85%
          23. Puskesmas yang melakukan deteksi dini PTM tertentu : 85%
          24. Ketepatan laporan surveilens penyakit menular : 85%
          25. Kelengkapan laporan surveilens penya kit menular : 95%
          26. Ketepatan laporan penyakit tidak menular : 75%
          27. Kelengkapan laporan penyakit tidak menular : 90%
          28. Kelurahan mencapai Universal Child Imunization (UCI) : 95%
          29. Cakupan BIAS : 95%
          30. Imunisasi TT ibu hamil : 80%
          31. Imunisasi calon jemaah haji : 100%
          32. Pelacakan K3JH : 90%


    II.   Tersedianya pelayanan kesehatan dasar & rujukan baik pemerintah dan
          swasta yang bermutu menuju peningkatan derajad kesehatan masyarakat
          yang optimal
          1. Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan dasar (puskesmas) : 70%
          2. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan dasar (puskesmas) : 0,3%
          3. Pelayanan kesehatan kepada korban bencana 100%
          4. Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan rujukan : 15%
          5. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan rujukan : 1,5%
          6. Pemenuhan darah di Rumah Sakit : 85%
          7. Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat
              diakses masyarakat : 35%
          8. Pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum : 0,6%
          9. Pembinaan di laboratorium kesehatan swasta : 65 %
          10. Pembinaan di laboratorium puskesmas :      70 %
          11. Pembinaan di laboratorium rumah sakit :    80 %
          12. Pembinaan di optik : 50 %
          13. Perijinan sarana kesehatan yang selesai diproses :
              - Balai pengobatan : 20 buah
              - Balai pengobatan gigi : 3 buah
              - klinik 24 jam : 4 buah
              - laboratorium klinik swasta : 9 buah
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                      15
              - optic : 1 buah
              - praktek bersama dokter spesialis : 1 buah
              - klinik spesialis : 4 buah
              - rumah bersalin : 5 buah
              - toko obat : 12 buah
              - toko obat tradisional : 1 buah
              - rumah sakit : 6 buah




    III.   Meningkatnya derajad kesehatan ibu, ibu hamil, bayi, balita, anak
           prasekolah, remaja, usia lanjut.
           1. Kunjungan ibu hamil K1 : 98%
           2. Kunjungan ibu hamil K4 : 93%
           3. Pertolongan      persalinan   oleh   tenaga   kesehatan    yang   memiliki
              kompetensi kebidanan : 89%
           4. Deteksi risiko tinggi oleh tenaga kesehatan : 20%
           5. Deteksi risiko tinggi oleh masyarakat : 10%
           6. Jumlah pemeriksaan papsmear : 425 orang ibu
           7. Ibu hamil dengan risiko tinggi yang dirujuk : 80%
           8. Ibu hamil dengan risiko tinggi yang ditangani : 100%
           9. Ibu hamil komplikasi yang ditangani : 90%
           10. Neonatal risiko tinggi /komplikasi yang ditangani : 80%
           11. Cakupan kunjungan neonatus : 89%
           12. Cakupan kunjungan bayi : 89%
           13. Cakupan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) : 0,6%
           14. Cakupan BBLR yang ditangani : 100%
           15. Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang balita & anak prasekolah :
              86%
           16. Cakupan peserta KB aktif : 79%
           17. Cakupan pelayanan kesehatan usila : 65%
           18. Kelompok usila aktif : 80%
           19. Jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin & masyarakat rentan:




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                            16
    V.    Meningkatnya status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi dan
          balita.
          1. Balita yang datang dan ditimbang (D/S) : 78%
          2. Balita yang naik berat badannya (N/D) : 78%
          3. Balita bawah garis merah (BGM) : 1,6%
          4. Prevalensi gizi kurang balita : 16,4%
          5. Prevalensi gizi buruk balita : 1,65%
          6. Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe : 88%
          7. Bayi yang mendapat kapsul vit A 1 kali/th : 94%
          8. Balita yang mendapat kapsul vit A 2 kali/th : 94%
          9. Ibu nifas yang mendapat kapsul vit A: 88%
          10. Anemi gizi besi ibu hamil : 25%
          11. Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi BGM dari gakin :
              100%
          12. Ibu hamil KEK : 6%
          13. Balita gizi buruk mendapat perawatan : 100%
          14. Bayi mendapat ASI eksklusif : 40%
          15. Keluarga sadar gizi : 68%
          16. Kelurahan dengan garam ber iodiom baik : 82%
          20. Kecamatan bebas rawan gizi : 70%


    V.    Meningkatnya kualitas air, lingkungan pemukiman, tempat umum, tempat
          pengelolaan makanan yang lebih sehat sehingga dapat melindungi
          masyarakat dari penyakit yang ditularkan melalui lingkungan.
          1. Cakupan air bersih : 94,2%
          2. Kualitas air minum yang memenuhi syarat kesehatan : 83,6%
          3. Kualitas air bersih yang memenuhi syarat kesehatan : 68%
          4. Rumah sehat : 83,48%
          5. Penduduk yang memanfaatkan jamban : 87,98%
          6. Rumah yang mempunyai SPAL : 77,38%
          7. TPA-TPS yang memenuhi syarat kesehatan : 85%
          8. Institusi yang dibina : 79%
          9. Tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan : 74%
          10. Tempat pengelolaan pestisida sehat : 95%



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                    17
           11. Industri rumah tangga makanan minuman yang memenuhi syara t
                kesehatan : 74,25%
           12. Tempat pengelolaan makanan sehat : 73,25%


    VI.    Tersedianya kebutuhan obat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu,
           aman dan efektif sesuai kebutuhan medis masyarakat serta meningkatnya
           keamanan, khasiat obat yang beredar termasuk obat tr adisional dan
           kosmetika.
           a. Ketersediaan obat sesuai kebutuhan : 90%
           b. Pengadaan obat esensial : 100%
           c. Pengadaan obat generik : 95%
           d. Ketersediaan narkotika, psikotropika sesuai kebutuhan pelayanan
                kesehatan : 100%
           e. Pengelolaan & peredaran obat di sarana distribusi obat :
                –   Puskesmas : 100%
                –   Apotek : 60%
                –   Toko obat : 90%
                –   BP/RB : 90%
                –   Industri Kecil Obat Tradisional : 15%
                –   Toko kosmetik : 40%
           f.   Penerapan pengobatan rasional di puskesmas : 80%
           g. Pelanggaran distribusi obat di sarana distribusi obat swasta (apotek,
                toko obat, B P/RB, toko kosmetik) : 2%
           h. Penulisan resep obat generik : 90%
           i.   Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) yang menerapkan Cara
                Pembuatan Obat Tradisional Benar : 100%
           j.   Upaya penyuluhan pencegahan penanggulangan penyalahgunaan
                NAPZA oleh petugas kesehatan : 20%


    VII.   Tersedianya sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar pemerintah
           yang memadai untuk pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat
           1. Tersedianya prasarana/bangunan fisik pelayanan kesehatan dasar
                pemerintah yang memenuhi syarat :
           2. Tersedianya alat kesehatan medis yang memadai yang sesuai dengan
                kebutuhan pelayanan kesehatan :

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       18
    VIII. Meningkatnya perilaku hidup bersih sehat dan peran serta aktif masyarakat
          dalam memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatan diri dan
          lingkungannya.
          1. Rumah tangga sehat (sehat utama & paripurna) : 60%
          2. Posyandu purnama : 38%
          3. Posyandu mandiri : > 2%
          4. Sekolah sehat : 82%
          5. Cakupan penduduk yang menjadi peserta jaminan pemeliharaan
              kesehatan pra bayar : 17%
          6. Kelompok upaya kesehatan kerja : 24 buah
          7. Rumah bebas jentik nyamuk aedes (ABJ) : 88%
          8. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD & setingkat (kelas 1) oleh
              tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS, dokter kecil) : 100%
          9. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK oleh tenaga kesehatan :
              50% dari sasaran
          10. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SLTP oleh tenaga kesehatan
              atau tenaga terlatih (guru UKS) : 31%
          11. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SLTA oleh tenaga kesehatan
              atau tenaga terlatih (guru UKS) : 32%




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                         19
                                             BAB IV
                     PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN


        Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang dapat mendukung
meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan
kesehatan, diantaranya adalah :
        (1) indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator
            mortalitas, morbiditas dan status gizi;
        (2) indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator keadaan lingkungan,
            perilaku hidup masyarakat, akses mutu pelayanan kesehatan;
        (3) indikator proses dan masukan yang terdiri atas indikator pelayanan
            kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan dan
            kontribusi sektor terkait.


IV. 1 Situasi Derajat Kesehatan
IV.1.1. Kematian
                Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat
        menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi/ tingkat
        permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak
        langsung. Selain itu dapat pula digunakan sebagai indikator dalam penilaian
        keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan :


IV.1.1.1 Kematian Bayi dan Balita
                Untuk tahun 2009, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Daerah
        (SURKESDA) jumlah kematian bayi yang terjadi di Kota Semarang sebanyak
        479 dari 25.937 kelahiran hidup (laporan Puskesmas), sehingga didapatkan
        Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 18,6 per 1.000 KH. Berdasarkan
        pencapaian tersebut maka terdapat             kenaikan dari tahun sebelumnya.
        Sedangkan untuk kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2009 sebanyak
        126 anak dari 114.930 balita (laporan Puskesmas), sehingga diperoleh Angka
        Kematian Balita (AKABA) Kota Semarang sebesar 4,9 per 1.000 KH.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                            20
IV.1.1.2 Kematian Ibu Maternal (AKI)
                Berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal di
        Kota Semarang pada tahun 2009 sebanyak 22 kasus dari 25.739 jumlah
        kelahiran hidup atau sekitar 85,47%

                               Grafik 2. Waktu Kejadian Kematian Ibu Maternal

                                                                  18%




                                                                                 18%
          64%
                                                                               IBU HAMIL
                                                                               IBU BERSALIN
                                                                               IBU NIFAS



                Sebanyak 14 kasus merupakan kematian ibu maternal pada masa
        nifas, kemudian pada waktu persalinan sebanyak 4 kasus dan masa
        kehamilan 4 kasus. Sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu
        (AKI), telah dilaksanakan berbagai pelatihan peningkatan kualitas pelayanan
        kesehatan ibu dan anak diantaranya Pelatihan Asuhan Persalihan Normal
        (APN) yang merupakan standar pertolongan persalinan dan pendampingan
        persalinan dukun bayi oleh tenaga kesehatan, Pelayanan Obstetri dan
        Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri dan Neonatal
        Emergensi Komprehensif (PONEK) serta yang lainnya.
             Grafik 3. Perkembangan Jumlah Kematian Ibu Maternal
                        Kota Semarang Tahun 2005 - 2009

                               30                            27
                               25                                         22
                                                     20
                               20
                      Jumlah




                                              15
                               15
                                      11
                               10

                                5

                                0
                                    2005    2006   2007    2008         2009
                                                   Tahun


Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                  21
IV.1.2. Penyakit Menular
IV.1.2.1. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
        a. Angka Kesakitan
                    Kasus DBD Kota Semarang pada Tahun 2009 sebanyak 3.883
        kasus. Jumlah tersebut mengalami pe nurunan yang cukup signifikan dari
        Tahun 2008 yang mencapai 5.249 kasus atau turun 26%..
                    Berdasarkan data pada tabel 10, angka kesakitan DBD pada tahun
        2009 mencapai 26,69 per 10.000 penduduk, menurun dari tahun 2008 (36,09
        per 10.000 penduduk), Kasus bulanan DBD tertinggi 5 tahun terakhir adalah
        Januari, Februari, April, Mei, Oktober dan Nopember 2008, Juni, Juli dan
        Agustus Tahun 2009, Februari 2004 dan Desember 2009 . Sedangkan
        gambaran penderita DBD per bulan dari tahun 2004 s.d 2009 adalah sebagai
        berikut.
                    Grafik 4. Gambaran Penderita DBD Kota Semarang per bulan
                                            Tahun 2004 s.d 2009


                         Penderita DBD Th. 2004 s.d. Th. 2009

     1.000
       900
       800
       700
       600
       500
       400
       300
       200
       100
         -
                    1     2     3     4      5     6     7     8     9    10    11    12
           2004    113   255   928   75      54   41    12    14    18    11    19    83
           2005    57    182   167   128    124   114   89    129   224   230   263   590
           2006    364   231   315   180    187   101   58    112   50    93    60    94
           2007    498   551   467   256    233   109   118   176   97    105   183   131
           2008    904   913   737   490    618   315   248   66    184   255   322   197
           2009    608   498   384   311    224   371   390   258   231   117   178   313




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                   22
                                  Grafik 5. IR dan CFR Penderita DBD Kota Semarang
                                                        Tahun 1999 s.d 2009

                                                                 PERKEMBANGAN KASUS DBD TH. 1996 S.D. 2009


              6.000




              5.000




              4.000




              3.000




              2.000




              1.000




                  -
                          1996         1997   1998    1999        2000        2001    2002   2003        2004        2005    2006    2007        2008      2009
         Kasus            2.369         964   2.294   1.400       1.428         986   607    1.128       1.621       2.297   1.845   2.924       5.249    3.883
         IR               16,5          19     7,7     7,4        11,01        7,05   4,56   3,59        11,8         16,3   12,99   20,59       36,08    26,21
         Meninggal         21           2      12      3            8           10     3      10           7           38     42      32          18           43
         CFR              0,9%         0,2%   0,5%    0,2%        0,6%        1,0%    0,5%   0,9%        0,4%        1,7%    2,3%    1,1%        0,3%      1,1%




                                              GRAFIK MINIMAL MAKSIMAL DBD TH. 2004 S.D. 2009


               1.000

                  900

                  800

                  700

                  600

                  500

                  400

                  300

                  200

                  100

                      -
                                   1           2             3            4            5            6            7            8              9           10         11         12
               maximum            904         913          928            490         618          315           248         176           224           255        322        590
               minimum            57          182          167            75          54            41           12           14           18            11         19         83
               median             364         255          467            180         187          109           89          112           97            105        183        131
               2009               608         498          384            311         224          371           390         258           231           117        178        313




                                  Dilihat dari data-data tersebut di atas Kota Semarang mengalami
        kejadian KLB pada bulan Januari 2009 (kenaikan 2 kali atau lebih dari bulan
        Desember 2008), Juni, Juli, Agustus dan September (lihat grafik min-max
        kasus pada bulan tersebut di atas nilai max) dan Desember 2009 karena

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                                 23
        terjadi kenaikan 2 kali lipat atau lebih dari bulan yang sama tahun
        sebelumnya. Sampai dengan berakhirnya Tahun 2009 masih terjadi KLB di
        50 kelurahan, 14 Puskesmas dan 7 Kecamatan di Kota Semarang. Selama
        Tahun 2009 terjadi 165 Kali KLB di tingkat Kelurahan, 35 Kali KLB di tingkat
        Puskesmas dan 15 kali KLB di tingkat kecamatan.




                   Dari peta di atas terlihat hampir seluruh IR DBD kelurahan di Kota
        Semarang di atas target nasional (< 2/10.000 penduduk) dan separuhnya di
        atas target Kota Semarang (< 20/10.000 penduduk). Ada 7 kelurahan tanpa
        penderita DBD yaitu kelurahan wonolopo, Purwosari (Mijen), Jatibarang,
        Bubakan, Cepoko, Pesantren, dan Terboyo Kulon. Kelurahan tanpa penderita
        DBD didominasi oleh kelurahan di wilayah Gunungpati dan Mijen yang
        berada di daerah perbukitan . Hanya satu kelurahan di wilayah Semarang
        Bawah yaitu Terboyo Kulon yang terbebas dari DBD .




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                         24
                                      Incidence Rate Indonesia, Jawa Tengah dan Kota Semarang




    b. Angka Kematian
                                  Pada tahun 2009, jumlah kematian akibat DBD mengalami kenaikan
             menjadi 43 dari 18 orang pada tahun 2008, dengan CFR sebesar 1,1% dari
             0,3% pada tahun 2008, dimana angka tersebut masih dibawah target Kota
             Semarang dan SPM yaitu < 2%.
                                  Angka CFR tertinggi pada Puskesmas Bugangan (5,88%) terendah
             Puskesmas Kedungmundu dan Kedungmundu ( 0,25%). Terdapat 18
             Puskesmas tanpa kasus kematian DBD tahun 2009.
                                                    CFR DBD PUSKESMAS KOTA SEMARANG TH. 2009

   7,0%
          0,06




   6,0%
                 0,05




   5,0%
                        0,03

                               0,03




   4,0%
                                      0,03

                                             0,03

                                                      0,02




   3,0%
                                                             0,02

                                                                    0,02

                                                                           0,02

                                                                                  0,02




                                                                                                0,02
                                                                                         0,02




                                                                                                       0,01

                                                                                                              0,01

                                                                                                                     0,01




   2,0%
                                                                                                                            0,01

                                                                                                                                   0,01

                                                                                                                                          0,01

                                                                                                                                                 0,00




   1,0%

   0,0%




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                               25
IV.1.2.2. Pemberantasan Penyakit Malaria
        a. Keadaan kasus
                   Berdasarkan laporan Puskesmas, jumlah kasus malaria pada tahun
        2009 ditemukan 8 orang (API = 0.005 pddk) menurun dari tahun sebelumnya
        yaitu 16 orang (API = 0.01 pddk). Semuanya merupakan kasus import karena
        berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan diketahui bahwa
        sebelumnya penderita pernah mengunjungi daerah endemis malaria.


                   Peta Distribusi Penderita Malaria Kota Semarang Tahun 2009
                                                                                    Ter boyo Kulon
                                                                                               Trimulyo
                    Mangkang Kulon                                           Tanjungmas
                          Mangunharjo     Kar anganyar
                                                              Tawangsari              Kemijen              Banjar dow o           N
                                   Randugarut           Tambakhar jo        Kuningan       Kaligawe Genuksari        Kudu
                                                Tugurejo         Tawangmas Purwosar i Muktiharjo Kidul Kar angroto
                                                     Jer akah      Kr obokan                             Sembungharjo
                               Wonosari                                                  Sambirejo
                                                       Kr apyak Cabean Sekayu                 Tlogosar i Kulon
                            G ondor iyo Tambak Aji Kembangar um              Mugasar i
                                                  Purw oyoso                                    Kalicari Tlogomulyo
                     Podorejo         Beringin                Manyaran         Tegalsari           Palebon
                                W ates       Ngaliyan Kalipancur                    Candi            Gemah
                                                 Bamban Ker ep       Gajahmungkur
                                                                          Kar angrejo       Tandang
                                         Kedungpane                                       Jangli        Plamongansar i
                                                                Sukor ejo
                   Wonoplumbon Pesantren               Sadeng
                                                                      Tinjomoyo
                          Ngadir go                                              Ngesrep           Sendangmulyo
                                                  Kandri         Sekaran               Tembalang
                        W onolopo
                                       Jatibar ang Pongangan           Sr ondol Kulon          Bulusan
                                            Jatirejo                                                Meteseh
                                   Mijen                            Patemon Pedalangan
                          Jatisari                                                         Kr amas
                                                Cepoko         Ngijo
                                    Purwosari Mjn                        Banyumanik                      Rowosari
                                                           Mangunsar i                   Jabungan
                           Cangkiran Polaman           Plalangan Pakintelan Gedawang
                                                                                                                           :
                                                                                                                     Keterangan
                                Bubakan Gunungpati                     Pudak Payung
                                                            Sumurrejo
                                                                                                                     Tdk ada kasus
                                                                                                                     Ada Kasus




          Peta Distribusi malaria menurut wilayah administrasi diKota Semarang
        tahun 2009 terdapat dibeberapa wilayah, antara lain di Kelurahan Gondoriyo,
        Kel. Kembangarum, Kel. Mugas Sari, Kel. Bandarharjo, Kel. Kramas, Kel.
        Barusari.


        b. Pelayanan terhadap Penderita
                Bentuk pelayanan yang diberikan terhadap penderita malaria adalah
        pemeriksaan darah dan pengobatan. Pemeriksaan darah dilakukan terhadap
        penderita klinis sedangkan pengobatan dilakukan terhadap baik penderita
        klinis maupun yang positif malaria. Dari semua penderita malaria yang
        ditemukan di Kota Semarang diberikan pengobatan (100%)




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                             26
IV.1.2.3. Pemberantasan Penyakit TB Paru
          a. Penemuan Penderita Baru (CDR)
              Penemuan suspek tahun 2009 sebanyak 8.003 orang mengalami
        penurunan bila dibanding tahun 2008. Penemuan penderita TB Paru BTA +
        sebanyak 793 orang, mengalami peningkatan 43 kasus bila dibandingkan
        tahun 2008. Penemuan penderita TB BTA - mengalami penurunan dibanding
        tahun 2008, Penemuan kasus TB anak sejumlah 872, fluktuasi hasil kegiatan
        mungkin disebabkan karena deteksi kasus TB, Skoring pada TB anak dan
        sistim pencatatan serta pelaporan sudah lebih baik .
                            PENEMUAN SUSPEK TB PUSKESMAS
                             SE KOTA SEMARANG TAHUN 2009

                         Ma ngk an g                                                                      Band ar ha rjo                          Ge nu k
                                                                                     Kro bo kan                     Kar an gd or o
                                                                                              Bulu L or
                                                                      Le bd osa ri
                                                Kar an gan ya r                                                     Bug an ga n
                                                                                                           o
                                                                                                          P nc ol           Ga ya ms ar i
                                                                                                                                                           Ba nge ta yu
                                 Tamb aka ji                                          Ka ra nga yu         Miro to Ha lma he ra
                                                                                                                                     Tlo gos ar i Kul on
                                                                      Ma nyar an              Pa nda na ra n
                                                                                Nge mpla k Simg
                                                                                                                     Lampe r Teng ah
                                        Nga liyan                  Pu rwo yos o           Pe gan da n                                              Tlo gos ar i W eta n
                                                                                                             Ka go k

                                                                                                               Can di L ama
                                                                                                                           Ke du ng mu nd u
                                                                                                                                                                                    N
                                                                                                         Nge sr ep

                                                                                  Se kar an

                              Mijen

                                                           Gu nu ng Pat i                                   Pada ng sa ri
                                                                                                       S on d ol
                                                                                                        r                                     Ro wosa ri



                                       Kar an gmala ng
                                                                                                                                                                            Suspek TB
                                                                                                     Pu dak Pay un g                                                            0 - 36
                                                                                                                                                                                37 - 70
                                                                                                                                                                                71 - 109

          Angka penemuan penderita baru tahun 2009 sebesar 50% mengalami
          peningkatan sebesar 2% bila dibandingkan tahun 2008. Hal ini
          menunjukkan adanya peningkatan kinerja petugas dan sistem pencatatan
          pelaporan

                        GRAFIK HASIL KEGIATAN PROGRAM TB
                         KOTA SEMARANG TAHUN 2001 - 2009

                                 20000
                                 18000
                                 16000
                                 14000
                                 12000
                                 10000
                                       8000
                                       6000
                                       4000
                                       2000
                                                0
                                                         2001           2002              2003              2004               2005               2006              2007   2008   2009

                       Target Suspek 17205 17320 16256 15798 14700 15169 15575 15854 15567
                       Suspek                            1240               888           2220              3548               7449 10.01                           8437   8511   8003
                       Tar BTA +                         1702           1732              1626              1579               1470               1517              1557   1585   1557
                       BTA +                              189               165             254              558                  812               901              747   750    793
                       BTA -                               54               90              174              621               1242               1058              1592   1080   892
                       TB EP                                                                                                                                                       67
                       TB ANAK                                                                                                                                                    771




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                                                  27
                                       GRAFIK ANGKA PENEMUAN PENDERITA TB
                                                 TAHUN 2001-2009
                                         70
                                         60
                                         50
                 PERSEN                  40
                                         30
                                         20
                                         10
                                             0
                                                       2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
                          REALISASI                    11,1           9,5            14,6 35,56 55,24                                        59     49    48      50
                          TARGET                         30           35                35                 35                50              55     55    50      50




              PENEMUAN KASUS BTA POSITIF PUSKESMAS
                  SE KOTA SEMARANG TAHUN 2009

                           Mangkang                                                           Bandarharjo                      Genuk
                                                                           K robokan                   K arangdoro
                                                                                      u
                                                                                   B ul Lor
                                               K aranganyar     Lebdosari
                                                                                                       B ugangan
                                                                                              Poncol         Gayam sari
                                                                            Karangayu                                                  Banget ayu
                                  Tambakaji                                                    Miroto Halmahera
                                                                                                                     Tlogosari Kulon
                                                                Manyaran              Pandanaran
                                                                          Ngem plak Sim g                                                                 N
                                                                                                       Lam per Tengah
                                        Ngal iyan             Purwoyoso                                                        Tlogosari W et an
                                                                                Pegandan        K agok

                                                                                                  Candi Lama
                                                                                                            K edungmundu

                                                                                           Ngesrep

                                                                          Sekaran

                                 e
                              Mi j n

                                                       Gunung Pat i                          Padangsari
                                                                                         Srondol                            Rowosari


                                                                                                                                                         BTA P os
                                       Karangm alang
                                                                                                                                                              0 - 30
                                                                                        Pudak P ayung
                                                                                                                                                              31 - 60
                                                                                                                                                              61 - 90




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                               28
                            b. Angka kesembuhan (Cure Rate)
                                        Angka kesembuhan tahun 2008 sebesar 63 % mengalami
                            penurunan dibandingkan tahun 2007 namun belum mencapai target
                            nasional, hal ini disebabkan masih ada follow up akhir pengobatan yang

                            tidak diperiksa.


                                 ANGKA KESEMBUHAN PUSKESMAS
                                  SE KOTA SEMARANG TAHUN 2008

                                         Mangkang                                                             Ba nda rharjo                      Genu k
                                                                                           Kro bokan                   Karangdoro
                                                                                                   Bulu Lor
                                                             Karanganyar       Lebdosari
                                                                                                                       Bugangan
                                                                                                              Poncol            Gayamsari
                                                                                                                                                           Ba ng etayu
                                               Tamb akaji                                   Karan ga yu         Mi roto Ha lmahera
                                                                                                                                     Tlog osa ri Kulo n
                                                                               Manyar an               Pa nd anaran
                                                                                        Ng empl ak Si mg
                                                                                                                        Lamper Teng ah
                                                     Ng aliyan              Purwoyoso                                                             Tlo gos ari W etan
                                                                                                Pegan dan
                                                                                                                 Kagok

                                                                                                                   Candi Lama
                                                                                                                                                                                 N
                                                                                                                                  Ke dun gmu ndu


                                                                                                             Ngesre p

                                                                                        Se karan

                                            Mijen

                                                                     G unung Pati                                Padan gsa ri
                                                                                                            Srondol                           Rowo sa ri
                                                                                                                                                                         cure rate TB
                                                    Karangmalang
                                                                                                                                                                               kurang
                                                                                                          Pudak Pa yu ng
                                                                                                                                                                               sedang
                                                                                                                                                                               baik



                                                                      GRAFIK EVALUASI HASIL PENGOBATAN
                                                                 PENDERITA TB PARU BTA POSITIF TAHUN 2001 - 2008
                           80
                           70
                           60
PERSEN ( % )




                           50
                           40
                           30
                           20
                           10
                            0    2001                2002                  2003                     2004                         2005                        2006         2007       2008

                  Sembuh        36.14                41.21                 67.45                    76.88                          70                          67          75         63

                  Lengkap       54.95                44.24                 17.65                     8.78                          19                          14          14         24

                  Meninggal      1.48                2.42                   1.96                     1.08                          1                            4          4          4

                  Gagal          2.47                3.42                   0.39                     0.13                          4                           2.4         3          3

                  DO             6.44                6.07                   6.27                     4.3                           1                           0.1         2          2

                  Pindah         0.5                 2.42                   6.27                     4.12                          5                           1.6         4          4




               Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                             29
IV.1.2.4. Pemberantasan Penyakit Diare
          a. Angka Kesakitan
                Penderita diare di Kota Semarang yang berobat jalan ke Puskesmas
          pada tahun 2009 sebanyak 30.443 penderita dengan angka kesakitan
          sebesar 20,44 per 1.000 penduduk, dimana terdapat penurunan dari tahun
          sebelumnya, hal ini mungkin disebabkan karena kesadaran masyarakat
          untuk berperilaku hidup bersih dan sehat sudah meningkat




              IR DIARE KOTA SEMARAN G TAHUN 2009


                         g
                     Ma n kan g                                                                Band arh arjo                    Ge nuk
                                                                          Krob oka n                     Ka ra ngd oro
                                                                                   Bulu L or
                                            Kara nga nyar      Leb dosa ri
                                                                                                             a
                                                                                                         Bu g ng an
                                                                                               Ponco l          G ayams ari
                             Ta mb aka ji                                    Kara nga yu                                                  Bang etayu
                                                                                             Mi roto Halma he ra
                                                                                                                Tl og osari Ku lo n
                                                               Ma nya ran              Pand ana ran
                                                                         Nge mpla k Si mg
                                                                                                         Lam per T eng ah
                                   Nga li yan                Purw oyoso                                                         T lo gosa ri W etan
                                                                                Pe gand an        Ka gok

                                                                                                   Can di La ma
                                                                                                                                                               N
                                                                                                                   Kedun gmun du

                                                                                             Ngesr ep

                                                                          Sekara n

                         Mi jen

                                                     Gu nu ng Pati                              Pada ngsa ri
                                                                                           Sro ndol                           Row osari
                                                                                                                                                       IR Diare
                                  Kara ngm alan g
                                                                                                                                                            0 - 20
                                                                                       Pu dak Payu ng
                                                                                                                                                            21 - 40
                                                                                                                                                            41 - 57




                Untuk Case Fatality rate (CFR) dihitung berdasarkan jumlah penderita
          yang meninggal akibat penyakit Diare yang berobat di Puskesmas dan
          berdasarkan data 5 tahun terakhir tidak ada laporan mengenai penderita
          yang meninggal (CFR = 0)
                Namun demikian cakupan pelayanan penderita diare menurun
          dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini mungkin karena petugas kurang
          aktif menemukan pasien diare di masyarakat dan pengetahuan penduduk
          tentang diare meningkat sehingga kesadaran penduduk untuk mengobati
          dirinya sendiri sudah cukup tinggi, demikian juga dengan cakupan air
          bersih, perilaku hidup bersih dan sehat dan kualitas tenaga Puskesmas
          yang menangani penyakit diare sudah meningkat


Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                 30
IV.1.2.5. Pemberantasan Penyakit Pneumonia
                Kasus pneumonia di Kota Semarang pada tahun 2009 mencapai
           4.766 kasus, meningkat dari tahun 2008 yang hanya mencapai 3.824
           kasus, sedangkan IR pneumonia dan pneumonia berat untuk tahun 2009
           sebesar 403,5 per 10.000 balita. Peningkatan IR pneumonia berarti jumlah
           penderita pneumonia dan pneumonia berat semakin meningkat, hal ini
           dipengaruhi oleh peran serta aktif masyarakat untuk mau membawa
           balitanya berobat ke Puskesmas dan juga peran serta aktif petugas
           Puskesmas serta kader kesehatan di masyarakat dalam rangka
           menemukan penderita pneumonia balita di masyarakat.

                 IR PNEMONI KOTA SEMARANG TAHUN 2009


                      Mangk ang                                                            Bandarharjo                       Genuk
                                                                        Krobok an                    Karangdoro
                                                                                Bulu Lor
                                          Karangany ar       Lebdosari
                                                                                                     Bugangan
                                                                                           Ponc ol        Gayams ari
                             Tambak aji                                  Karangayu                                                     Banget ayu
                                                                                            Mi roto Halmahera
                                                                                                                  Tlogos ari Kulon
                                                             Manyaran                Pandanaran
                                                                       Ngempl ak S img                                                                        N
                                                                                                     Lamper Tengah
                                   Ngaliy an              Purwoyos o                                                         Tlogos ari W et an
                                                                             Pegandan         Kagok

                                                                                                Candi Lama
                                                                                                             K edungmundu


                                                                                        Nges rep


                                                                       Sek aran

                          Mijen

                                                   Gunung Pat i                             Padangs ari
                                                                                       S rondol                           Row os ari
                                                                                                                                                    IR Pn emo ni
                                                                                                                                                          0 - 750
                                  Karangm alang
                                                                                                                                                          751 - 1500
                                                                                     Pudak P ay ung
                                                                                                                                                          1501 - 2097




                Dari peta diatas dapat kita ketahui bahwa sebagian besar Puskesmas
           IR pneumonianya < 750 per 10.000 balita yaitu ada 30 Puskesmas yaitu
           Puskesmas Bandarharjo, Bulu Lor, Bugangan, Karangdoro, Pandanaran,
           Lamper Tengah, Karangayu, Lebdosari, Manyaran, Krobokan, Ngemplak
           Simongan, Gayamsari, Kagok, Pegandan, Genuk, Bangetayu, Tlogosari
           Wetan, Tlogosari Kulon, Rowosari, Ngesrep, Srondol, Pudak Payung,
           Gunungpati, Mijen, Karangmalang, Tambakaji, Purwoyoso, Ngaliyan,
           Mangkag dan Sekaran. Puskesmas dengan IR pneumonia antara 751
           sampai 1500 per 10.000 balita ada 4 Puskesmas yaitu Puskesmas
           Halmahera, Kedungmundu, Padangsari dan Karanganyar. Sedangkan
           sisanya yaitu 4 Puskesmas IR pnuemonianya antara 1501 - 2097 yaitu
           Puskesmas Poncol, Miroto dan Candilama. Semakin rendah IR

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                               31
           pneumonianya berarti semakin sedikit jumlah penderita pneumonia balita
           yang ditemukan.
                Adanya peningkatan kasus pneumonia dapat disebabkan oleh
           semakin meningkatnya tingkat pencemaran di wilayah Kota Semarang dan
           status gizi balita yang kurang baik, dikarenakan makanan yang dikonsumsi
           balita tidak mengandung cukup gizi yang diperlukan oleh balita serta daya
           tahan tubuh Balita yang menurun akibat status gizi kurang ataupun buruk.
                Namun demikian kasus pneumonia maupun pneumonia berat yang
           ditemukan tidak sampai menyebabkan terjadinya kematian ( CFR = 0 )


IV.1.2.6. Pemberantasan Penyakit Kusta
                  Penemuan dan pengobatan penderita kusta baru tahun 2009
           sebanyak 27 orang dengan tipe PB 3 dan tipe MB 24 meningkat
           dibandingkan dengan tahun 2008.

                           CDR KUSTA SE KOTA SEMARANG
                                   TAHUN 2009

                            Mangkang                                                            B andarharj o                    Genuk
                                                                            K robokan                    Karangdoro
                                                                                    B ulu Lor
                                                 Karanganyar       Lebdosari
                                                                                                         B ugangan
                                                                                                Poncol          Gayamsari
                                                                               Karangayu                                                  Bangetayu
                                   Tambakaji                                                     M irot o Halm ahera
                                                                                                                       Tlogosari Kulon
                                                                  M anyar an              P andanaran
                                                                            Ngem plak Si mg
                                                                                                         Lamper T engah
                                         Ngal iyan               Purwoyoso                                                        Tlogosari Wetan
                                                                                  Pegandan         Kagok

                                                                                                    Candi Lam a
                                                                                                                  K edungmundu
                                                                                                                                                              N
                                                                                              Ngesrep

                                                                             Sekaran

                               M ijen

                                                         Gunung Pat i                             Padangsari
                                                                                             Srondol                           Rowosari



                                        K arangmalang                                                                                                 cdr kusta
                                                                                           P udak P ayung                                                  cdr 0- 0,9
                                                                                                                                                           cdr 1- 6
                                                                                                                                                           cdr 7- 10




                  Prevalensi kusta tahun 2009 sebesar 0,2 per 10.000 penduduk,
           mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 0,1 per
           10.000 penduduk.


IV.1.2.7. Pemberantasan Penyakit Infeksi Menular Se ksual
        a. Infeksi Menular Seksual (IMS)


Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                         32
                                            Prosentase Kasus IMS Di Kota Semarang Tahun 2009
                 1400
                 1200
                 1000
                   800
                   600
                   400
                   200
                     0
                                                                                          Septemb         Novemb Desembe
                          Januari Februari Maret   April   Mei   Juni    Juli   Agustus           Oktober                Total
                                                                                             er             er       r
              Lebdosari    15      15       30      53     36    16      57       52        0       26     30      23     353
              Mangkang      4       3       12      14     12    11      11       16        15      22     24      24     168
              Griya ASA    42      45       38      36     34    34      37       46        42      39     27      21     441
              Jumlah WPS 900       896     844     715     746   879    575      373       241    1182     758    809



           Jumlah kasus Infekasi Menular Seksual (IMS) di Kota Semarang pada
           tahun 2009 berdasarkan laporan tercatat mencapai 2.471 kasus.




           Hasil kegiatan di Klinik IMS tahun 2009, ada beberapa IMS yang
           mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2008, diantaranya bacteri
           vaginalis dari 151 menjadi 0, candidiasis dari 443 menjadi 308; condyloma
           dari 95 menjadi 68, gonorhoe dari 120 menjadi 71, syphilis dari 6 menjadi
           2. Bahkan untuk servisitis, bacteri vaginalis, buboinguinal, penyakit radang
           panggul, clamidia dan cancroid                         pada tahun 2009 tidak ada kasus.
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                   33
           Sedangkan yang meningkat adalah herpes simplex virus dari 140 menjadi
           149, trichomonas vaginalis dari 6 menjadi 9 dan ngu dari 22 menjadi 25;.
           Meski begitu belum semua Rumah Sakit yang ada di Kota Semarang
           melaporkan data IMS ke Dinas Kesehatan Kota Semarang..


        b. HIV/AIDS
                         Kasus HIV setiap tahun mengalami kenaikan, yaitu Tahun
            2005 sebanyak 50 orang, Tahun 2006 sebanyak 179 orang, Tahun 2007
            sebanyak 195 orang dan Tahun 2008 sebanyak 199 orang dan Tahun

            2009 sebanyak 323 orang .




            Faktor resiko kasus HIV selama 3 tahun berturut-turut terbanyak
            pada pelanggan WPS, yaitu Tahun 2007 sebanyak 110 orang,
            Tahun 2008 sebanyak 55 orang dan Tahun 2009 sebanyak 159
            orang.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                        34
            Dari hasil kegiatan VCT tahun 2009 sebagian besar penderita HIV adalah
            wanita. Hal ini kemungkinan disebabkan karena jumlah pengunjung ke
            Klinik VCT sudah banyak yang dari masyarakat umum.




                Pada Tahun 2009 penderita AIDS yang meninggal sebanyak 2 orang
            dan yang hidup sebanyak 17 orang. Jumlah penderita AIDS tahun 2009
            sebagian besar berusia produktif, yaitu kelompok umur 31 – 40 tahun
            sebanyak 9 orang , meningkat                55.5 % dibandingkan tahun 2008 .
            Penderita AIDS tahun 2009 sebagian besar dari kelompok heteroseksual,
            meningkat 4 kasus dibandingkan tahun 2008. Hal ini kemungkinan
            disebabkan oleh karena Jaringan Penasun dan kelompok lainnya masih
            tertutup


                                 Kasus AIDS di Kota Semarang
                                  TH 1998 s/d Desember 2009

                   120

                   100

                     80

                     60

                     40

                     20

                       0
                         1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008s/d DesTotal
                                                                                 09
               Kasus AIDS 1    0     1    1   1    1     7   11   25   33 15     19 115
               Kumulatif  1    1     2    3   4    5    12 23     48   81 96 115
               Kematian    0    0     0     0   0   1     1   3    9    5    4     2   25




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                     35
                   JUMLAH KASUS AIDS KOTA SEMARANG
                             TAHUN 2009


                                 Tugu                                      A
                                                             SE MA RA NG UT RA
                                                                                                     GENUK


                                                                              ay
                                                         SE MA RA NG TENGA H G ams ari
                                          SEMA RA NG B ARAT          SEMA RA NG TI MUR



                             Ngal iyan                           S EMA RA NG SE LATA N
                                                                                               Pedurungan
                                                         A
                                                        G J AH M UNGKUR

                                                                          CA NDI SA RI




                                                                                         Tembalang                         N
                         Mijen           Gunung Pat i              B any um ani k




                                                                                                             Kasus AIDS 2009
                                                                                                                 Tdk.ada kasus
                                                                                                                 Ada kasus




          Kasus AIDS di Kota Semarang ada di 2 Keca matan yaitu Kecamatan
          Semarang Tengah dan Kecamatan Candisari


                Berikut ini data 10 besar penyakit yang ada di Kota Semarang pada
            tahun 2009 berdasarkan laporan dari Puskesmas dan Rumah Sakit:


        Tabel 6 : Data 10 Besar Penyakit di RS dan Puskesmas Tahun 2009
 No         Panyakit Rumah Sakit                              Jumlah                      Penyakit Puskesmas                       Jumlah
                (Rawat Inap)
 1.    Perawatan & pemeriksaan pasca                        8.412                        Infeksi akut lain pada                144.327
       persalinan (Z39)                                                                  saluran nafas (J06)
 2.    Demam tifoid & paratifoid (A91)                      7.965                        Hipertensi Essensial (I10))           33.065
 3.    Diare & gastroenteritis (A09)                        7.508                        Faringitis (J02)                      30.240
 4.    Demam berdarah dengue (A91)                          6.832                        Gastritis (K29)                       22.785
 5.    Penyulit yg berhubungan dg masa                      5.664                        Influenza (J10)                       19.728
       nifas (O85 – O99)
 6.    Orang yg mengunjungi pelay.kes utk                   4.834                        Peny.    Gusi     &        Jar.       18.448
       tindakan perawatan khusus lain (Z40-                                              Periodontal (K04)
       Z41, 41.3-45)
 7.    Gejala tanda & penemuan klinik &                     3.726                        Diare (A09)                           17.791
       laboratorium tdk normal (R02 – R09)
 8.    Penyulit kehamilan & persalinan                      3.376                        Nyeri Kepala (G44)                    17.504
       lainnya (I11 – I13)
 9.    Skizofrenia, gangguan skizotipal                     3.078                        Dermatitis kontak alergi              13.752
       (F20, F21, F23)                                                                   (L23)
 10.   Senilitas (R54)                                      3.048                        Non Insulin DM (E11)                  13.495

        Sumber data : Laporan SP2RS dan SP3




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                36
IV.1.2.8. Surveilans Acute Flaccid Paralysis (SAFP)
                    Surveilans     AFP    pada   hakekatnya     adalah   pengamatan   dan
       penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya
       flaccid (layuh), seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. Prosedur
       pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai
       berikut :
       1.    Melakukan pelacakan terhadap anak usia sama atau kurang dari 15
             tahun yang mengalami kelumpuhan layuh mendadak (<14 hari) dan
             menentukan diagnosa awal
       2.    Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak
             kelumpuhan, sebanyak 2 kali selang waktu pengambilan I dan II > 24
             jam
       3.    Mengirim kedua specimen tinja ke laboratorium Bio Farma Bandung
             dengan pengemasan khusus/baku
       4.    Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologis adanya
             virus polio liar di dalamnya
       5.    Diagnosa akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. Pemeriksaan
             klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk
             menentukan adanya kelumpuhan atau tidak
               Kasus AFP yang ditemukan di Kota Semarang tahun 2009 sebanyak 9
       kasus, menurun dari tahun sebelumnya sebanyak 14 kasus, terbanyak pada
       golongan umur 5 -15 thn sebanyak 6 kasus, 1-4 thn sebanyak 3 kasus
       sehingga untuk tahun 2009 diperoleh AFP rate sebesar 3 per 100.000 ( target
       = 2/100.000 penduduk ).

                            GRAFIK JUMLAH KASUS AFP MENURUT KELOMPOK UMUR
                                                            2006 - 2009
                                    DI KOTA SEMARANG TAHUN 2002-2009


                   10
                        8

                        6
               Jumlah




                        4
                        2
                        0
                                 < 1 th              1 - 4 th             5 - 14 th
               2009                0                    3                    6
               2008                0                    6                    8
               2007                0                    5                    6
               2006                0                    2                    6


Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                              37
                          PETA KASUS AFP PER PUSKESMAS
                           SE KOTA SEMARANG TAHUN 2009


                         Mangkang                   Bandarharjo     Genuk
                                         Lebdosari      Karangdoro                       N
                                Karanganyar  Krobokan
                                                 Bulu Lor Gayamsari
                            Tambakaji                 Miroto           Bangetayu
                                                             Tlogosari Kulon
                                         Manyaran
                              Ngaliyan         Pegandan        Tlogosari Wetan

                                                             Kedungmundu
                                                        Ngesrep
                                              Sekaran
                            Mijen
                                    Gunung Pati      Srondol      Rowosari

                            Karangmalang
                                                                                   Puskesmas.shp
                                                   Pudak Payung                        0
                                                                                       1
                                                                                       2
                                                                                       3- 5




IV.1.3. PENYAKIT TIDAK MENULAR
                Saat ini di negara berkembang telah terjadi pergeseran penyebab
        kematian utama yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.
        Kecenderungan transisi ini dipengaruhi oleh adanya berubahnya gaya hidup,
        urbanisasi dan globalisasi. Penyakit yang tergolong dalam penyakit tidak
        menular (degeneratif) yaitu : Neoplasma (Kanker), Diabetes Mellitus,
        Gangguan mental, Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, dan lain-lain.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                          38
                Berdasarkan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) penyakit jantung
        dan pembuluh darah sebagaimana - Infark miokard akut, stroke (hemoragik
        & non hemoragik), hipertensi (essensial & lainnya), angina pektoris,
        dekompensasio kordis - menduduki peringkat pertama selama tahun 2009,
        hal ini kemungkinan disebabkan oleh tekanan ekonomi, pola makan yang
        salah, kurang olah raga dan kurang rekreasi. Urutan kedua adalah penyakit
        Diabetes Mellitus (tergantung Insulin dan non Insulin) hal ini kemungkinan
        disebabkan oleh fa ktor genetik dan pola makan yang salah. Urutan ketiga
        adalah PPOM & asma hal ini kemungkinan disebakan lingkungan yang tidak
        sehat, kurang gizi , ekonomi yang rendah dan genetik. Urutan keempat
        adalah psikosis hal ini kemungkinan disebakan oleh tekanan ekonomi dan
        sulitnya mencari perkerjaan dengan gaji yang memadai disisi lain promosi
        barang – barang mewah sangat gencar dilakukan oleh media elektronik.
        Urutan kelima kecelakaan lalu lintas,      hal ini kemungkinan disebabkan
        banyaknya mayasrakat yang tidak memtaati peraturan lalulintas. dan urutan
        keenam adalah kanker (hati & saluran empedu, bronkus & paru, payudara,
        serviks) hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya penggunaan bahan
        makanan tambahan ( pewarna, pengawet, perasa dll ) dimasyarakat


       Neoplasma (Kanker),          kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan
       pertumbuhan abnormal sel-sel tubuh. Pada tahun 2009 di Kota Semarang
       berdasarkan laporan program yang berasal dari Rumah Sakit dan Puskesmas,
       kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 11.862, terdiri dari Kanker
       Payudara 5.393 kasus, Kanker Serviks 6.003 kasus, Kanker Hati dan Empedu
       304 kasus, Kanker Bronkus dan Paru 278 kasus.


                Diabetes Mellitus (Kencing Manis), Kencing manis adalah suatu
       keadaan dimana terjadi kelebihan kadar gula darah (glukosa) dalam darah.
       Kencing manis dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kegemukan,
       makan makanan yang berlebihan, penyakit infeksi atau juga dapat disebabkan
       oleh faktor keturunan yang mengganggu hormon insulin. Data laporan
       program tahun 2009 untuk kasus Diabetes Mellitus adalah sebanyak 63.867
       kasus, terdiri atas 25.191 Diabetes tergantung insulin dan 38.676 kasus
       Diabetes non insulin.



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       39
                Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, merupakan penyakit yang
       mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung
       dan urat-urat darah, misalnya : Angina Pektoris, Acute Myocard Infark (AMI),
       Hipertensi dan Stroke. Pada tahun 2009 di Kota Semarang kasus Penyakit
       Jantung dan Pembuluh Darah terdiri dari Angina Pektoris 5.788 kasus, AMI
       2.313 kasus, Hipertensi Esensial 101.078 kasus dan Stroke Hemoragik 3.304
       kasus. Kasus-kasus penyakit jantung dan pembuluh darah banyak yang
       menyebabkan terjadinya kematian.




                Selama lima tahun berturut-turut (tahun 2005 s/d 2009) kematian
        karena PTM utamanya disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh
        darah, kanker, diabetes, kecelakaan lalu lintas dan PPOM & asma.


IV.1.4. Kejadian Luar Biasa
                Pada tahun 2009 dilaporkan di Kota Semarang terjadi Kejadian Luar
        Biasa (KLB) sebanyak 4 kejadian dengan jumlah penderita 107 orang. Kasus
        yang terbanyak adalah difteri dengan 10 kejadian dengan jumlah penderita
        29 orang. Sedangkan kasus dengan jumlah penderita terbanyak adalah

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       40
        keracunan makanan dengan jumlah penderita 74 orang. Data secara lengkap
        dapat dilihat pada tabel 31.
                Dari 177 kelurahan yang ada di Kota Semarang terdapat 33 kelurahan
        yang terkena kejadian luar biasa (KLB). Dari jumlah tersebut seluruhnya
        (100%) telah dilakukan kegiatan penanganan/penanggulangan dengan cepat
        dalam waktu kurang dari 24 jam (data selengkapnya pada tabel 30).


IV.1.5. Keadaan Gizi
IV.1.5.1 Status Gizi Bayi dan Balita
                Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil
          pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang
          tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di
          posyandu. Menurut laporan puskesmas pada tahun 2009 di Kota Semarang
          menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 25.739 bayi dan jumlah
          Balita yang ada (S) sebesar 114.930 anak. Untuk kasus bayi dengan Berat
          Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2009 yaitu sebanyak 90 bayi
          (0,35%), menurun dari tahun sebelumnya yaitu 135 bayi (0,54%).
          Sedangkan jumlah Balita yang datang dan ditimbang (D) di posyandu dari
          seluruh balita yang ada yaitu sejumlah 87.870 anak (76,46%) dengan
          rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak 67.021 anak
          (76,27%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 780 anak (0,89%).
                Permasalahan gizi yang masih tetap ada dan jumlah cenderung
          bertambah adalah masalah gizi kurang dan gizi buruk. Kurang gizi sangat
          dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat yang kurang, keadaan sosial
          ekonomi dan kejadian penyakit. Sedangkan untuk kasus gizi buruk
          ditemukan sebanyak 39 kasus (0,04%). Dari seluruh kasus gizi buruk
          tersebut juga telah dilakukan intervensi khususnya upaya perbaikan gizi
          masyarakat dalam bentuk kegiatan pemberian PMT pemulihan selama 180
          hari, perawatan serta pengobatan baik di puskesmas maupun di Rumah
          Sakit dengan bantuan dana program Asuransi Kesehatan Masyarakat
          Miskin (Askeskin)/JAMKESMAS dan APBD II.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                      41
IV.1.5.2. ASI Ekslusif
                ASI (Air Susu Ibu) merupakan salah satu makanan yang sempurna
        dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan
        oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai
        pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Oleh sebab itu ,
        pemberian ASI perlu diberikan secara ekslusif sampai umur 6 (enam) bulan
        dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun. Walaupun
        demikian masih terdapat kendala dalam pemantauan pemberian ASI Ekslusif
        karena belum ada sistem yang dapat diandalkan. Selama ini pemantauan
        tingkat pencapaian ASI Ekslusif dilakukan melalui laporan puskesmas yang
        diperoleh dari hasil wawancara pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas.
                Berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2009, pemberian ASI
        Ekslusif sebesar 3.138 (24,63%) dari 12.740 bayi usia 0 – 6 bulan yang ada.
        Terdapat beberapa hal yang menghambat pemberian ASI Ekslusif
        diantaranya adalah : rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya
        mengenai manfaat dan cara menyusu i yang benar, kurangnya pelayanan
        konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan, faktor sosial budaya,
        kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja dan gencarnya
        pemasaran susu formula. Untuk itu tingkat pencapaian dalam program ASI
        Ekslu sif ini harus mendapatkan perhatian khusus dan memerlukan pemikiran
        dalam mencari upaya -upaya terobosan serta tindakan nyata yang harus
        dilakukan oleh provider di bidang kesehatan dan semua komponen
        masyarakat dalam rangka penyampaian informasi maupun sosialisasi guna
        meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.


IV.2.   PERILAKU MASYARAKAT
IV.2.1. Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
                Menurut teori HL Blum salah satu faktor yang mempengaruhi derajat
        kesehatan masyarakat adalah faktor perilaku. Dengan mewujudkan perilaku
        yang sehat diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan suatu penyakit
        dan angka kematian ibu dan anak akibat terlambatnya/kurangnya kesadaran
        dalam mengunjungi sarana pelayanan kesehatan.
                Dalam rangka merubah perilaku masyarakat kepada perilaku yang
        sehat, maka telah dilaksanakan kegiatan pembinaan Perilaku Hidup Bersih
        dan Sehat. Dalam kegiatan PHBS terdiri dari beberapa sasaran kegiatan

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                        42
        yaitu PHBS tatanan institusi, tempat-tempat umum dan rumah tangga,
        dimana tatanan rumah tangga dianggap merupakan tatanan yang
        mempunyai daya ungkit paling besar terhadap perubahan perilaku
        masyarakat secara umum. Pada tahun 2009 di Kota Semarang dari sampling
        59.910 rumah tangga yang dipantau diperoleh hasil yaitu Rumah Tangga
        yang berperilaku hidup bersih dan sehat terdiri dari strata utama 45.941 RT
        (76,68%) strata paripurna 8.223 RT (13,73%).


IV.2.2. Posyandu Purnama dan Mandiri
                Salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang turut
        mendukung pelaksanaan program kesehatan di masyarakat adalah pos
        pelayanan terpadu (Posyandu) yang dilaksanakan oleh para kader yang
        berasal dari masyarakat dengan pembinaan dari tenaga kesehatan di
        puskesmas.       Dalam     perkembangannya         ternyata     posyandu         mendapat
        tanggapan positif dari masyarakat. Namun demikian tanggapan positif dari
        masyarakat belum dibarengi dengan meningkatnya mutu pelayanan karena
        masih banyak faktor yang menyebabkan mutu pelayanan posyandu masih
        rendah antara lain : Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki masih sangat
        rendah, banyak kader posyandu yang droup out, sarana dan prasarana yang
        belum memadai.
                Saat ini Posyandu yang ada di Kota Semarang berjumlah 1.479 buah,
        terdiri dari 682 posyandu purnama (46,11%) dan 350 Posyandu mandiri
        (23,66%) sehingga jumlah total posyandu yang tergolong purnama dan
        mandiri adalah 1032 posyandu (69,77%).


IV.2.3 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
                Salah satu kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat
        dalam pelayanan kesehatan adalah melalui pelaksanaan program Ja minan
        Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). JPKM merupakan upaya
        pemeliharaan      kesehatan         secara   paripurna,    terstruktur    yang     dijamin
        kesinambungan dan mutunya, dimana pembiayaannya dilaksanakan secara
        pra -upaya. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada JPKM bertujuan
        untuk    memelihara      kesehatan       para   peserta,    bukan        hanya    sekedar
        menyembuhkan penyakit tetapi dituntut untuk aktif berusaha meningkatkan
        derajat kesehatan dan mencegah peserta agar tidak jatuh sakit.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                      43
                Berdasarkan laporan puskesmas yang terdata, jumlah penduduk yang
        tercakup dalam dalam berbagai JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan)
        sebesar 199.656 jiwa (47,26 %) dari total jumlah penduduk, dengan
        perincian:
        Peserta ASKES                       : 94.906 jiwa
        Peserta BAPEL                       : -     jiwa
        Peserta JAMSOSTEK                   : -     jiwa
        Peserta Dana Sehat                  : 47.939 jiwa


        IV.2.4. Pelayanan Kesehatan pada Keluarga Miskin
                         Salah satu faktor yang menentukan bagi keberhasilan
                pelaksanaan pembangunan kesehatan adalah kemudahan di dalam
                akses terhadap pelayanan kesehatan yang ada. Kemampuan setiap
                penduduk dalam hal ini berbeda-beda dimana dalam kondisi krisis
                moneter seperti saat ini, terdapat sebagian besar penduduk yang
                tidak mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang ada.
                Untuk itu pemerintah memberikan bantuan/subsidi untuk pelayanan
                kesehatan bagi keluarga miskin atau Maskin.
                         Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan Keluarga Miskin
                dan Masyarakat Rentan terlindungi           oleh JPK (subsidi Pemerintah
                Pusat dan Pemerintah Daerah) di satu wilayah tertentu. Masyarakat
                miskin yang terlindungi oleh JPK adalah masyarakat miskin yang telah
                mempunyai kartu sehat /ASKESKIAN atau sekarang dikenal sebagai
                program Jaminan Kesehatan Keluarga Miskin (Jamkesmas). Di Kota
                Semarang sampai dengan tahun 2009 terdapat masyarakat miskin
                dan yang memiliki kartu ASKESKIN baru mencapai 190.668 jiwa
                (75,49%) dari 252.579 masyarakat miskin yang ada.
                         Berdasarkan data yang dilaporkan, pemanfaatan Asuransi
                Kesehatan Masyarakat Miskin (ASKESKIN) oleh masyarakat miskin
                dalam pelayanan kesehatan pada tahun 2009 berupa kunjungan
                rawat jalan yankes dasar sebanyak 202.409 orang (80,14%) dan
                rawat inap yankes dasar sebanyak            4.353 orang (1,72%). Yankes
                rujukan.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                            44
IV.3.   PENYEHATAN LINGKUNGAN
                Upaya penyehatan lingkungan dilaksanakan dengan lebih diarahkan
        pada peningkatan kualitas lingkungan yaitu melalui kegiatan bersifat promotif,
        preventif dan protektif. Adapun pelaksanaannya bersama -sama dengan
        masyarakat, diharapkan secara epidemiologi akan mampu memberikan
        kontribusi yang bermakna terhadap derajat kesehatan masyarakat.
                Namun demikian pada umumnya yang menjadikan permasalahan
        utama adalah masih rendahnya jangkauan program. Hal ini lebih banyak
        diakibatkan oleh keterbatasan sumber daya kesehatan. Sedangkan
        permasalahan       utama     yang   dihadapi   masyarakat   adalah   partisipasi
        masyarakat terhadap upaya penyehatan lingkungan yang masih sangat
        rendah.


IV.3.1 Rumah Sehat
                Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang
        berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan
                                  uslah sehat dan nyaman agar penghuninya
        keluarga sehingga rumah har
        dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas hidup.
                Kota Semarang pada tahun 2009, jumlah rumah yang ada sebanyak
        327.959 unit, sedangkan kategori rumah yang memenuhi syarat kesehatan
        sebanyak 206.060 rumah (84,50%) dari 243.851 rumah yang dilakukan
        pemeriksaan .
                Salah satu indikator rumah dikatakan sehat apabila memenuhi
        beberapa kriteria, diantaranya adalah bebas dari jentik nyamuk. Arti bebas
        disini terutama pada bebas jentik nyamuk Aedes aegypti yang merupakan
        vektor dari penyakit demam berdarah dengue (DBD). Nyamuk Aedes aegypti
        ini hidup dan berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air bersih
        yang tidak langsung behubungan dengan tanah seperti bak mandi/wc, air
        tandon, gentong, kaleng, ban bekas, dan lain-lain.
                Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di
        wilayah kota Semarang, untuk itu diperlukan upaya pencegahan dan
        pemberantasan penyakit menular untuk menurunkan resiko penularan dan
        kejadian sakit.
                Tahun 2009 di Kota Semarang terdapat rumah/gedung. Berdasarkan
        laporan puskesmas dari jumlah tersebut yang dilakukan pemeriksaan

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                            45
        mengenai bebas jentik nyamuk Aedes masih sejumlah 243.851 buah
        (74,05%). Hal ini disebabkan karena keterbatasan alokasi dana, waktu, dan
        tenaga guna menjangkau seluruh bangunan yang ada. Namun demikian hasil
        yang sebanyak 206.528 buah rumah/bangunan dinyatakan bebas jentik
        nyamuk Aedes atau sejumlah 84,69% dari rumah/bangunan yang dilakukan
        pemeriksaan.


IV.3.2 Tempat – Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan ( TTU dan
        TUPM)
                Tempat-tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang
        disediakan oleh badan – badan pemerintah, swasta atau perorangan yang
        langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan
        tetap, memiliki fasilitas sanitasi (jamban, tempat pembuangan sampah dan
        limbah) untuk kebersihan dan kesehatan di lingkungan. Tempat-tempat
        umum yang sehat berpengaruh cukup besar di masyarakat karena
        masyarakat      menggunakan         fasilitas   umum   tersebut   untuk   berbagai
        kepentingan.
                Pengawasan sanitasi te mpat umum bertujuan untuk mewujudkan
        kondisi tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat
        pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta
        tidak menjadi sarang vektor penyakit yang dapat menimbulkan menyebabkan
        gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya. Pengawasan
        sanitasi tempat umum meliputi sarana wisata, sarana ibadah, sarana
        transportasi, sarana ekonomi dan sosial. Jumlah TTU dan TPM di Kota
        Semarang tahun 2009 sejumlah 1.922 pengelolaan makanan (TUPM) di Kota
        Semarang meliputi hotel, restoran/rumah makan dan pasar.
        -   Jumlah hotel : 82 buah, jumlah diperiksa 62 buah, jumlah sehat 62 buah
            (100%)
        -   Jumlah pasar : 49 buah, jumlah diperiksa 42 buah, jumlah sehat 31 buah
            (73,81%)
        -   Jumlah restoran/rumah makan: 534 buah, jumlah diperiksa 270 buah,
            jumlah sehat 273 buah (87,78%)
        -   Jumlah TUPM lainnya : 1.045 buah, jumlah diperiksa 930 buah, jumlah
            sehat 878 buah (94,41%)



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                              46
IV.3.3. Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
IV.3.3.1 Persediaan Air Bersih
                  Air bersih memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia karena
          diperlukan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan hidup manusia.
          Oleh karena itu air bersih harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup
          dan memenuhi syarat kesehatan (syarat fisik, kimiawi, dan bakteriologi).
          Pada tahun 2009 jumlah KK yang memiliki persediaan air bersih sebanyak
          221.630 KK (92,21%) dari 240.345 dari KK yang diperiksa. Sedangkan dari
          KK yang diperiksa, yang layak sehat 208.716 KK.
                  Upaya peningkatan kualitas air bersih akan meningkat apabila diikuti
          upaya perbaikan sanitasi (sarana pembuangan kotoran manusia, sampah,
          air limbah ). Selain itu adanya peran serta dan kesadaran sektor swasta
          penyedia air bersih yang meningkat berkenaan dengan kualitas air bersih.


IV.3.3.2 Jamban
                  Keberadaan jamban keluarga sangat penting dalam sebuah keluarga.
          Pengelolaan sebuah jamban yang memenuhi syarat kesehatan diperlukan
          sebagai     upaya      untuk      mencegah      terjadinya   penularan   penyakit.
          Berdasarkan laporan puskesmas, pada tahun 2009 diketahui bahwa
          199.814 KK telah memanfaatkan jamban keluarga dan 187.608 KK telah
          memenuhi syarat jamban yang sehat (93,89%) dari 240.345 KK yang
          dilakukan pemeriksaan. Apabila dibandingkan dengan target Rencana
          Strategik tahun 2009 yaitu 87,98%, maka cakupan keluarga yang telah
          memiliki jamban keluarga sudah memenuhi target tersebut. Faktor yang
          turut    mendukung       pencapaian    target     tersebut   yaitu   meningkatnya
          pembangunan dan pengembangan perumahan yang memenuhi syarat
          kesehatan.


IV.3.3.3 Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga
                  Dalam upaya mendukung terwujudnya kualitas lingkungan yang sehat
          diperlukan pengelolaan air limbah yang sesuai standar dan memenuhi
          syarat kesehatan. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah suatu
                                                             amar mandi,
          bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan k
          tempat cuci, dapur dan lain -lain bukan dari jamban atau peturasan. SPAL
          yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                47
          •   Tidak mencemari sumber air bersih (jarak dengan sumber air bersih
              minimal 10 meter
          •   Tidak menimbulkan genangan air yang dapat dipergunakan         untuk
              sarang nyamuk (diberi tutup yang cukup rapat)
          •   Tidak menimbulkan bau (diberi tutup yang cukup rapat)
          •   Tidak menimbulkan becek atau pandangan yang tidak menyenangkan
              (tidak bocor sampai meluap)
                   Pengelolaan limbah di rumah tangga yang diperiksa pada tahun
          2009 sebanyak 240.345 KK dan yang memiliki sejumlah 199.810
          sedangkan yang memenuhi syarat kesehatan dari jumlah yang memiliki
          sebanyak 187.453 KK (93,82%).


IV.3.3.4 Pembinaan Kesehatan Lingkungan pada Institusi
                  Lingkungan merupakan salah faktor yang dapat berperan dalam
          peningkatan derajat kesehatan. Oleh karena itu upaya pembinaan
          kesehatan lingkungan selain dilakukan pada rumah tangga dan tempat-
          tempat umum, juga dilaksanakan pada beberapa institusi/sarana seperti:
          -   sarana kesehatan sejumlah 644 tempat, dan yang telah dilakukan
              pembinaan sebanyak 539 tempat atau 83,7%.
          -   sarana pendidikan sejumlah 1.329 tempat, dan yang telah dilakukan
              pembinaan sebanyak 1.261 tempat atau 94,8%.
          -   sarana ibadah sejumlah 1.337 tempat, dan yang telah dilakukan
              pembinaan sebanyak 1.079 tempat atau 80,77%.
          -   perkantoran sejumlah 355 tempat, dan yang telah dilakukan pembinaan
              sebanyak 213 tempat atau 60%.
          -   Dan sarana lain sejumlah 275 tempat, dan yang telah dibina sebanyak
              209 tempat atau 76%.


IV.4.   AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN
IV.4.1. Cakupan Kunjungan Pelayanan Kesehatan
                Cakupan kunjungan pelayanan kesehatan oleh penduduk dapat
        diperoleh dari data kunjungan rawat jalan dan rawat inap Puskesmas maupun
        Rumah Sakit. Pada tahun 2009 di Kota Semarang total kunjungan pelayanan
        kesehatan rawat jalan di Puskesmas sebanyak 1.481.627, sedangkan untuk
        kunjungan rawat inap Puskesmas yaitu sebesar 3.110 kunjungan pasien.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          48
        Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit
        yaitu sebanya k 1.800.885 kunjungan dan rawat inap sebesar 158.972
        kunjungan.
                Untuk cakupan rawat jalan di Kota Semarang pada tahun 2009 yaitu
        sebesar 120%. Sedangkan untuk cakupan rawat inap (kunjungan pasien
        baru) di sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2009 yaitu sebesar 11%.
                Sedangkan untuk data pemanfaatan Rumah Sakit di Kota Semarang
        dapat dilihat dari beberapa indikator kinerja Rumah Sakit yang meliputi :
        a. Bed Occupation Rate (BOR), standar yang ideal untuk suatu Rumah
            Sakit adalah antara 70% s.d 80%. Manfaat Angka Penggunaan Tempat
            Tidur (BOR ) adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur
            Rumah Sakit. Prosentase BOR yang digunakan pada penderita Rawat
            Inap di Rumah Sakit se- Kota Semarang pada tahun 2009 mencapai
            60,7% dengan jumlah tempat tidur sebanyak sebesar sebanyak 3.943
            buah. Capaian angka ini belum sudah dapat mencapai standar yang
            ideal untuk Rumah Sakit. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan
            tempat tidur pada Rumah Sakit di Kota Semarang kurang dimanfaatkan
            secara optimal.


        b. Length Of Stay ( LOS) adalah rata -rata dalam 1 (satu) tempat tidur
            dihuni oleh 1 (satu) penderita rawat inap yang dihitung dalam hari dengan
            standar ideal antara 6 – 9 hari. Manfaat LOS adalah untuk mengukur
            efisiensi pelayanan Rumah Sakit, dan untuk mengukur mutu pelayanan
            Rumah Sakit. Pencapaian LOS RS tahun 2009 mencapai 5,3 . Cakupan
            pencapaian tersebut dapat diartikan bahwa penggunaan tempat tidur di
            RS di Kota Semarang belum memenuhi standar ideal.

        c. Turn of Interval (TOI) adalah rata -rata tempat tidur tidak ditempati
            dengan standar ideal antara 1 – 3 hari. TOI untuk Kota Semarang pada
            tahun 2009 sebesar 3,4 lebih kecil dari tahun 2008 yaitu 4,6. Hal ini dapat
            diartikan bahwa pemakaian tempat tidur di Rumah Sakit sudah optimal.


        d. Gross Death Rate (GDR), adalah angka ke matian untuk tiap -tiap 1000
            penderita keluar maksimum adalah 45. Manfaat GDR (Gross Death Rate)
            untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit. Angka ini
            bisa untuk menilai mutu pelayanan jika angka kematian kurang dari 48
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           49
            jam rendah. GDR Kota Semarang pada tahun 2009 sebesar 3,2 lebih
            tinggi dari tahun 2008 yang mencapai 3,0


        e. Net Death Rate (NDR), manfaat NDR adalah untuk mengetahui mutu
            pelayanan / perawatan Rumah Sakit. Semakin rendah NDR suatu Rumah
            Sakit, berarti bahwa mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit makin
            baik. NDR yang masih dapat ditolerir adalah kurang dari 25 per 1000
            penderita keluar. Pencapaian NDR di Kota Semarang pada tahun 2009
            sebesar 1,9, berarti naik dari tahun 2008 yaitu 1,6. Dengan demikian
            secara keseluruhan pelayanan rumah sakit di Kota Semarang masih
            tergolong baik.


IV.4.2. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
IV.4.2.1. Pelayanan Kesehatan Antenatal
                    Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan
          kunjungan baru ibu hamil K1 untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan
          ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi
          sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan kedua dan dua kali pada
          triwulan ketiga.
                Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil
          yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan atau antenatal care
          (ANC) meliputi penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilannya,
          pemberian tablet besi, pemberian imunisasi TT dan konsultasi.
                Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2009
          adalah     26.332 bumil (94%). Faktor pendukung dalam hal ini dapat
          disebabkan oleh meningkatnya kesadaran ibu hamil dalam memeriksakan
          kehamilannya ke sarana pelayanan kesehatan yang ada dan adanya
          dukungan peningkatan kualitas pelayanan ANC oleh petugas puskesmas.
          Cakup an K4 Puskesmas dari rentang antara yang terendah Puskesmas
          karanganyar (53,01%) dengan yang tertinggi Puskesmas Kedungmundu
          (106,61%).
                Pada tahun 2009 cakupan pemberian tablet (Fe)1 sebanyak 30.992
          bumil (110,63%) dan cakupan untuk tablet (Fe)3 sebanyak 27.672 bumil
          (98,78%). Hal ini menunjukkan bahwa penjaringan pertama pada ibu hamil
          sudah dapat dilaksanakan sesuai target namun untuk penjaringan

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                        50
          selanjutnya (Fe)3 90 tablet tidak dapat mencakup jumlah tersebut. Secara
          keseluruhan angka tersebut telah memenuhi target yang telah ditentukan,
          88%. Keberhasilan pencapaian target tersebut dapat disebabkan oleh
          adanya persediaan tablet Fe yang mencukupi kebutuhan dan juga
          pelaksanaan kegiatan melalui koordinasi dan kerjasama dengan lintas
          program dan sektor terkait.


IV.4.2.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
                   Upaya untuk menurunkan Angka Kematian Bayi dan Ibu Maternal,
          salah satunya melalui persalinan yang sehat dan aman, yaitu persalinan
          yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter spesialis kebidanan, dokter
          umum, bidan, pembantu bidan, dan perawat bidan) maupun dengan dukun
          terlatih yang didampingi oleh tenaga kesehatan. Jumlah persalinan dengan
          pertolongan tenaga kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2009 sebesar
          25.839 (96,65%) dari jumlah perkiraan persalinan sebesar 26.734 kelahiran.
          Pencapaian ini didukung dengan tersedianya Bidan di seluruh Puskesmas
          dengan perbandingan Puskesmas dan Bidan yaitu 1 : 4. Disamping itu
          jumlah Rumah Sakit dan Rumah Bersalin di Kota Semarang yang telah
          mencukupi.


IV.4.2.3 Ibu Hamil Resiko Tinggi dan Komplikasi
                Yang dimaksud dengan risiko tinggi pada ibu hamil adalah keadaan
          ibu hamil yang mengancam kehidupannya maupun janinnya, misalnya
          umur, paritas, interval dan tinggi badan. Prosentase sasaran ibu hamil risiko
          tinggi adalah 20% dari ibu hamil yang ada di masyarakat. Pada tahun 2009
          ibu hamil risiko tinggi/ komplikasi yang ditemukan di Kota Semarang
          sebesar 5.603 orang dan bumil risti/ komplikasi yang dirujuk            yaitu
          sebanyak 5.603 orang (100%). Berdasarkan data yang ada, ibu hamil risiko
          tinggi yang dirujuk seluruhnya (100%) telah mendapatkan penanganan.


IV.4.2.4. Pemberian Vitamin A
                Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di
          seluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada
          semua umur terutama pada masa pertumbuhan. Salah satu dampak
          kekurangan Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadai

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           51
          pada anak usia        6 bulan – 59 bulan yang menjadi penyebab utama
          kebutaan di negara berkembang.
                Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan
          adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali per tahun
          pada Balita dan Ibu Nifas (Bufas)untuk mempertahankan bebas buta
          karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia
          dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan, buta senja, dan
          bahkan kebutaan sampai kematian). Disamping itu pemantapan program
          distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh
          kembang anak serta meningkatkan daya tahan anakterhadap penyakit
          infeksi, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada
          bayi dan anak.
                Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A
          adalah bayi berumur 6 – 11 bulan dan anak umur 12 – 59 bulan yang
          mendapat kapsul Vitamin A dosis tinggi. Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri
          dari kapsul Vitamin A biru dengan dosis 100.000 SI yang diberikan pada
          bayi berumur 6 – 11 bulan dan kapsul Vitamin A berwarna merah diberikan
          pada anak umur 12 – 59 bulan dan diberikan pada bulan Februari dan
          Agustus setiap tahunnya.
                Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas, diketahui bahwa
          cakupan pemberian suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi
          sebanyak 31.307 bayi (102%), Balita sebanyak 91.466 anak (98.85%) serta
          ibu nifas 27.316 orang (102,17%).


IV.4.2.5. Pelayanan Kesehatan Neonatal, Bayi dan Balita
          a.    Kunjungan Neonatus (0 – 28 hari)
                Cakupan kunjungan neonatus tingkat Kota Semarang tahun 2009
          sebesar 25.510 (99,1%), dimana jumlah ini meningkat apabila dibandingkan
          dengan tahun 2008 sebanyak 24.655 anak. Peningkatan ini disebabkan :
          meningkatnya       kesadaran      masyarakat   akan   kesehatan    neonatus,
          peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan anak (neonatus,
          bayi, balita) di Puskesmas, dan adanya pemeriksaan kunjungan ke rumah
          oleh tenaga kesehatan bagi neonatus yang tidak dapat berkunjung ke
          puskesmas serta sistem pencatatan dan pelaporan (PWS KIA) yang sudah
          berjalan dengan baik.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           52
          b.      Kunjungan Bayi (1 - 12 bulan)
                  Kunjungan bayi adalah kunjungan bayi (1 – 12 bulan) yang
          memperole h pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga
          kesehatan, paling sedikit 4 kali. Hasil cakupan kunjungan bayi di Kota
          Semarang pada tahun 2009 sebesar 26.914 (104,07%) dimana jumlah ini
          mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun 2008 yaitu 26.890
          bayi.


          c.      Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Pra Sekolah
                  Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah
          adalah anak umur 1 – 6 tahun yang dideteksi dini tumbuh kembang sesuai
          dengan standar oleh tenaga kesehatan, paling se dikit 2 kali. Pelayanan
          DDTK anak balita dan prasekolah meliputi kegiatan deteksi dini masalah
          kesehatan anak menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS),
          monitoring pertumbuhan menggunakan Buku KIA/KMS dan pemantauan
          perkembangan (motorik kasar, mo torik halus, bahasa dan sosialisasi dan
          kemandirian), penanganan penyakit sesuai MTBS, penanganan masalah
          pertumbuhan, stimulasi perkembangan anak balita dan prasekolah,
          pelayanan rujukan ke tingkat yang lebih mampu.
                  Hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak balita dan
          pra sekolah di tingkat Kota Semarang pada tahun 2009 yaitu 118.950
          (77,60%) dari 153.295 anak balita. Data secara terperinci dapat dilihat pada
          tabel 18.


IV.4.3.   Pelayanan Imunisasi
                  Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi
          serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk penyakit-
          penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti penyakit
          TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio dan campak. Idealnya
          bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG 1 ka li, DPT 3
          kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan campak 1 kali.
                  Untuk menilai kelengkapan imunisasi dasar bagi bayi, biasanya dilihat
          dari cakupan imunisasi DPT3 + HB, Polio 4 dan Campak ≥ 80%. Cakupan
          bayi yang diimunisasi DPT3 + HB pada tahun 2009 sebesar 26.332 anak

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           53
          (103,42%), Polio 4 sebanyak 26.183 anak (102,84%) dan bayi yang telah
          memperoleh imunisasi campak sebesar 26.914 (105,71%) dari sasaran
          sejumlah 25.451 bayi. Dari data tersebut maka cakupan imunisasi di Kota
          Semarang pada bayi telah dilaksanakan secara lengkap dan memenuhi
          target yang ada.
                Program imunisasi dapat berjalan secara efektif dan memberikan
          dampak penurunan kejadian penyakit apabila kelengkapan imunisasi telah
          terlaksana dan mutu pelayanan imunisasi diterapkan sesuai standar,
          terutama dalam penangan col chain. Strategi operasional pencapaian
          cakupan tinggi dan merata dapat dilihat dari pencapaian Universal Child
          Immunization (UCI) desa/kelurahan. Tahun 2009 jumlah desa/kelurahan
          yang sudah mencapai UCI dengan kriteria cakupan DPT 3, polio 4 dan
          Campak ≥ 80% sebanyak 175 kelurahan (98,87%) dari 177 kelurahan yang
          ada, jumlah ini meningkat dari Tahun 2008 yaitu 161 kelurahan.
                Untuk     mengukur          manajemen     program         /     efisiensi   program
          menggunakan angka drop out dengan menghitung selisih cakupan
          imunisasi DPT1 dengan cakupan imunisasi Campak. Angka Drop Out
          (DO) imunisasi dasar lengkap di Kota Semarang Tahun 2009 sebesar 0,74,
          menurun dari Tahun 2008 yang mencapai 4,21%, dan angka ini masih
          belum melampaui batas maksimal DO yaitu 10%.



                      Grafik Cakupan Imunisasi DPT1 dan Campak Tahun
                                         2005-2009
                                200

                                100
                         Cakupan
                                    0
                                        2005    2006     2007    2008         2009
                            DPT1        93.98   112.84   99.26   114.48       106.5
                            CAMPAK      91.19   103.1    91.59   109.66   105.71

                                                   Imunisasi

IV.4.4    Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut (Usila) dan Usia Lanjut
                 Pelayanan kesehatan pra usila dan usila yang dimaksudkan adalah
          penduduk usia 45 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan
          sesuai standar oleh tenaga kesehatan baik di puskesmas maupun di

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                       54
          Posyandu Kelompok Usia Lanjut. Hasil kegiatan pelayanan kesehatan Pra
          Usila dan Usila di Kota Semarang pada tahun 2009 sebesar 90.842
          (54,93%) dari 165.375 jumlah yang ada. Dari jumlah tersebut terdiri atas pra
                                                              ≥
          usila (45 – 59 thn) sebanyak 48.055 orang dan Usila ( 60 thn) sebanyak
          42.787 orang, jumlah ini sedikit menurun dari tahun 2008. Namun demikian
          keaktifan petugas puskesmas dalam melakukan pembinaan dan pelayanan
          di dalam dan luar gedung terhadap kelompok usia lanjut sangat mend ukung
          pencapaian indikator tersebut.


IV.4.5    Keluarga Berencana
                  Salah satu program pemerintah dalam upaya mengendalikan jumlah
          kelahiran dan mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan sejahtera yaitu
          melalui konsep pengaturan jarak kelahiran dengan program Keluarga
          Berencana (KB).
          1.      Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS)
                  Pada tahun 2009, jumlah PUS yang ada sebanyak 250.891. Yang
          menjadi peserta KB baru sebanyak 35.897 orang. Sedang jumlah peserta
          KB aktif yang telah dibina sebesar 198.086 orang


          2.      Peserta KB Baru
                  Dari 35.967 peserta KB Baru, secara rinci mix kontrasepsi yang
          digunakan adalah sebagai berikut :
                                                             Grafik 7. Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta
                                                                          KB Baru di Kota Semarang
          - Suntik               : 62,4%                                          Tahun 2009

          - Pil                  : 18,54%
          - Kondom               : 8,17%
                                                                             4.52
          - IUD                  : 7,34%                                                                 Suntik
                                                               7.34                                      Pil
          - Implant              : 4,52%                                                     5.42
                                                                                                         Kondom,
                                                      8.17
                                                                                                         IUD
          - MOP/MOW              : 5,42%                                                                 Implant
                                                                                                         MOP/MOW



          3.      Peserta KB Aktif                  18.54


                  Hasil pembinaan peserta KB Aktif selama tahun 2009 sebesar
          198.086 (78,95%) dengan mix kontrasepsi sebagai berikut :




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                           55
          - Suntik                  : 43,83%                                                                                    Grafik 8.Persentase Pemakaian Kontrasepsi
                                                                                                                                    Peserta KB Aktif di Kota Semarang
          - Pil                     : 11,77%                                                                                                    Tahun 2009
                                                                                                                                                         4.69
          - IUD                     : 6,19%                                                                                                                                               6.85                                 Suntik
                                                                                                            5.35                                                                                                               Pil
          - Implant                 : 5,35%                                                                                                                                                                                    Kondom,
                                                                                                                                                                                                                               IUD
          - Kondom                  : 4,69%                                                                                                                                                                                    Implant

                                                                                                                                                                                                                               MOP/MOW
          - MOP/MOW                 : 6,85%                                                                    6.19                                                                                                    43.83
                                                                                                                                            11.77




          Dari keseluruhan peserta KB baru selama tahun 2009, pemakaian
          kontrasepsi suntik merupakan yang tertinggi karena sifatnya yang praktis
          dan juga cepat dalam mendapatkan pelayanannya. Apabila dibandingkan
          dengan data tahun 2008, kontrasepsi suntik masih menduduki peringkat
          teratas, sedangkan kontrasepsi pria merupakan yang paling sedikit
          digunakan yaitu kondom dan MOP. Hal ini disebabkan banyak suami masih
          menganggap bahwa istri saja yang mempunyai kewajiban untuk
          menggunakan kontrasepsi sebagai upaya pengaturan kelahiran.


                                           Grafik 9. Jumlah PUS dan Peserta KB Aktif
                                                   Kota Semarang Tahun 2008




                               30,000
                               25,000
                               20,000
                     Cakupan




                                                                                                                                                                                                            Jumlah PUS
                               15,000
                                                                                                                                                                                                            KB aktif
                               10,000
                                5,000
                                   0
                                                                                    Gayamsari




                                                                                                                                             Tembalang
                                                                                                            Gajahmung
                                                                                                Candisari




                                                                                                                                                         Banyumani


                                                                                                                                                                                  Mijen
                                                                                                                                                                                           Ngalian
                                        Semarang
                                                   Semarang
                                                              Semarang
                                                              Semarang
                                                                         Semarang




                                                                                                                        Genuk
                                                                                                                                Pedurunga



                                                                                                                                                                     Gunungpati



                                                                                                                                                                                                     Tugu




                                                                                                   Kecamatan




IV.4.6 Kesehatan Kerja dan Kesehatan Institusi
        a. Pelayanan Kesehatan Pekerja
                  Pelayanan kesehatan pada pekerja merupakan upaya untuk
        pemeliharaan kesehatan yang dapat mendukung peningkatan produktivitas

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                                                                                                                                                              56
         pekerja, dimana biasanya pelayanan kesehatan dilaksanakan secara
         bertahap yaitu berupa pemeriksaan awal bagi calon pekerja, pemeriksaan
         berkala dan pemeriksaan pada akhir masa kerja. Hal ini dimaksudkan agar
         kesehatan pekerja senantiasa terpelihara mulai awal bekerja hingga nanti
         pada akhir masa kerjanya sehingga dapat terhindar dari resiko penyakit
         akibat kerja (PAK). Umumnya pembinaan dan pelayanan kesehatan pada
         pekerja khususnya pekerja formal dilaksanakan oleh klinik perusahaan atau
                                                              da
         bekerja sama dengan sarana pelayanan kesehatan yang a (Puskesmas,
         Rumah Sakit). Sedangkan untuk pekerja sektor informal masih belum banyak
         mendapatkan perhatian terutama dalam hal pelayanan kesehatan karena
         umumnya mereka bekerja secara mandiri diluar tanggung jawab suatu
         perusahaan/instansi. Apabila dibandingkan prosentase jumlah pekerja, maka
         sektor informal merupakan bagian terbesar dari angkatan kerja. Selama ini
         mereka hanya memperoleh pelayanan kesehatan secara umum, namun
         belum dikaitkan dengan pekerjaannya.
                Dari laporan Puskesmas yang terdata Cakupan pelayanan kesehatan
         pekerja pada industri formal di Kota Semarang pada tahun 2009 sebanyak
         46.746 orang (78,62% dari 59.459 pekerja formal yang ada). Jumlah ini
         diperoleh dari pekerja sektor formal yang datang untuk mendapatkan
         pelayanan kesehatan di puskesmas dengan fasilitas asuransi berupa ASKES
         maupun Jamsostek.
                Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada pekerja sektor informal
         dari 196.719 pekerja yang terdata, yang mendapatkan pelayanan kesehatan
         sebanyak 281.681 pekerja (143,19%). Walaupun pekerja informal tidak
         berada dalam tanggung jawab suatu badan/instansi seperti pada pekerja
         formal, tetapi mereka tetap mendapatkan pelayanan kesehatan dengan cara
         membayar sendiri ataupun melalui kartu sehat maupun asuransi kesehatan
         keluarga miskin (Askeskin).


IV.4.7    Upaya Kesehatan Khusus
IV.4.7.1 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat
                Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat
           diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2009 sebanyak 60
           sarana kesehatan (60%) yaitu 16 Ru mah Sakit Umum (100%), 1 RS Jiwa
           (100%), 7 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (35,14%). Data

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       57
           selengkapnya dapat dilihat pada tabel 29. Apabila dibandingkan dengan
           target SPM 2008 (40%), maka jumlah ini sudah mencapai target tersebut.


IV.4.7.2    Pelayanan Ke sehatan Jiwa
                Selain menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara umum,
           sarana kesehatan yang ada juga memberikan pelayanan terhadap
           kesehatan jiwa. Berdasarkan data yang berhasil didapat, pelayanan
           kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Semarang
           pada tahun 2009 menunjukkan pencapaian sebesar 2%. Angka ini
           termasuk pelayanan kesehatan jiwa bagi warga di luar Kota Semarang.


IV.4.7.3    Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
                Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di
            puskesmas pada tahun 2009 yaitu tumpatan gigi tetap sebanyak 4.301
            kasus. Tindakan dan pencabutan gigi tetap sebanyak 9.016 kasus,
            dengan rasio untuk tambal dibandingkan pencabutan gigi sebesar 0,48.
            Di dalam pelayanan UKGS di sekolah dasar, dilaksanakan pemeriksaan
            kesehatan gigi pada 41.169 siswa (29,14%), terdapat 6.384 siswa perlu
            perawatan dan yang telah mendapatkan perawatan sebanyak 3.876
            siswa (60,71%).
                Berdasarkan data yang ada kesehatan gigi dan mulut masih belum
            menjadi alasan penting masyarakat untuk me ndapatkan pelayanan
            kesehatan. Selain itu pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan gigi
            dan mulut masih belum terlaksana dengan baik sehingga sering terjadi
            keterlambatan dalam pelaporannya. Untuk itu perlu adanya peningkatan
            pelayanan kesehatan gigi mulut khususnya pada upaya kesehatan secara
            promotif dan preventif, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan serta
            peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan yang ada.


IV.5.   OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN LAINNYA
IV.5.1. Ketersediaan dan Kebutuhan Obat Esensial dan Obat Generik
                Berdasarkan data ketersediaan obat pada tahun 2009 yang berasal
        dari laporan Instalasi Perbekalan Farmasi Kota Semarang bersumber dari
        laporan 37 Puskesmas se-Kota Semarang, jumlah jenis obat yang dibutuhkan
        oleh Puskesmas rata-rata 130 item, sedangkan jenis obat yang tersedia di

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                        58
        Puskesmas rata-rata 140 item. Jika dibandingkan antara kebutuhan obat
        dengan     persediaan      yang     ada   diperoleh   ketersediaan   obat   secara
        keseluruhan sebesar 107,13%. Berarti secara umum kebutuhan obat di Kota
        Semarang telah terpenuhi (tersedia).
                Khusus untuk obat generik, kebutuhan total jenis obat generik seluruh
        Puskesmas Tahun 2009 adalah rata -rata 142 item. Sedangkan jumlah total
        jenis obat generik yang tersedia sebanyak 153 item. Jika dibandingkan
        dengan keb utuhan obat generik maka pemenuhannya sebesar 107,7%.
        Artinya secara umum kebutuhan obat generik di Puskesmas seluruhnya
        dapat dipenuhi (tersedia).


IV.5.2. Penulisan Resep Obat Generik
                Berdasarkan laporan dari Rumah Sakit milik Pemerintah, diketahui
        bahwa jumlah penulisan resep obat generik di fasilitas sarana kesehatan
        tersebut sebesar 587.685 resep. Data yang ada adalah hanya berasal dari
        Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Semarang, RS Dr. Kariadi, dan RS
                                                      ah
        Jiwa Amino Gondohutomo sedangkan data dari Rum Sakit Pemerintah
        lainnya belum tercakup dalam pelaporan yang ada.


IV.5.3. Ketersediaan Obat Narkotika dan Psikotropika
                Data yang dilaporkan untuk ketersediaan obat narkotika dan
        psikotropika berasal dari 37 puskesmas. Jumlah seluruh kebutuhan obat
        narkotika dan psikotropika di Kota Semarang tahun 2009 yaitu rata-rata 5,89
        item per Puskesmas sedangkan untuk ketersediaan obat narkotika dan
        psikotropika yaitu sebesar 6,38 item. Apabila dibandingkan antara kebutuhan
        dan ketersediaan obat narkotika dan psikotropika maka diperoleh capaian
        rata-rata sebesar 108,37%. Hal ini berarti untuk obat golongan narkotika dan
        psikotropika di Puskesmas dapat terpenuhi sesuai kebutuhan.


IV.6. SUMBER DAYA KESEHATAN
IV.6.1. Tenaga Kesehatan
                Penyelenggaraan upaya ke sehatan tidak akan berjalan dengan baik
        jika tidak didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas.
        Oleh    karena itu diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya
        manusia (SDM) dibidang kesehatan, yang diharapkan mampu bekerja secara

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                              59
             profesional dan selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuannya
             dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal pada
             masyarakat.
                     Informasi tenaga kesehatan diperlukan bagi perencanaan dan
             pengadaan tenaga serta pengelolaan kepegawa ian. Kesulitan memperoleh
             data ketenagaan yang mutakhir disebabkan antara lain karena sifat data
             ketenagaan yang selalu berubah terus-menerus sehingga sistem pencatatan
             dan pelaporan belum dapat ditampilkan secara lengkap, akurat dan
             sistematis. Sebagai gambaran hasil pendataan tenaga kesehatan melalui
             Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009 yang berada di Puskesmas,
             Rumah Sakit, dan Dinas Kesehatan Kota Semarang sebagai berikut:


      Tabel m : Data Tenaga Kesehatan di Kota Semarang Tahun 2009
        Jenis Tenaga                                 Unit Kerja
No
         Kesehatan                                    RSU/RS
                                                                  Institusi    Sarana   Jumlah
                                                    RSB Khusus
                               DKK      Puskesmas                 Diknakes      Kesh
                                                      Lainnya
                                                                   /Diktat      Lain
 1   Dokter Spesialis           0             2         950
 2   Dokter Umum                5            89         262
 3   Dokter Gigi                3            38          74
 4   Perawat                    4           119        2.582
     Sarjana
 5   Keperawatan                0            7           147
 6   Bidan                      3           135          273
 7   Tenaga Farmasi         3          25             285
     Sarjana Farmasi &
 8   Apoteker               3          12              42
 9   Tenaga Sanitarian      8          16              19
10   Kesehatan Masy.       28          26              60
11   Tenaga Gizi            4          34              84
12   Tenaga Terapi Fisik    0           0              74
     Tenaga Keteknisian
13   Medik                  0          36             294
     Sumber : Sub Bag Kepegawaian dan Seksi Informasi Kesehatan


             Rasio tenaga kesehatan Kota Semarang (puskesmas, Rumah Sakit dan
             Dinas Kesehatan Kota Semarang) dibandingkan dengan jumlah penduduk
             kota Semarang tahun 2009 dapat dipero leh data sebagai berikut:
             a. jumlah Dokter Umum sebesar 23,62 per 100.000 penduduk
                 (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk)
             b. jumlah Dokter Spesialis sebesar 63,18 per 100.000 penduduk
                 (target IS 2010 : 6/100.000 penduduk)
     Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          60
         c. jumlah Dokter Gigi sebesar 27,79 per 100.000 penduduk
               (target IS 2010 : 11/100.000 penduduk)
         d. jumlah Perawat sebesar 189,19 per 100.000 penduduk
               (target IS 2010 : 117,5/100.000 penduduk)
         e. jumlah Bidan sebesar 27,41 per 100.000 penduduk
               (target IS 2010 : 100/100.000 penduduk)
         f.    jumlah Tenaga Farmasi sebesar 28,6 per 100.000 penduduk
               (target IS 2010 : 10/100.000 penduduk)
         g. jumlah Tenaga Gizi sebesar 8,1 per 100.000 penduduk
               (target IS 2010 : 22/100.000 penduduk)
         h. jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar 7,5 per 100.000
               penduduk
               (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk)
         i.    jumlah Tenaga Sanitasi sebesar 2,85 per 100.000 penduduk
               (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk)
         j.    jumlah tenaga teknisi medis sebesar 27,61 per 100.000 penduduk


         Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 54 s.d tabel 59.


IV.6.2    Sarana Kesehatan
                   Untuk   mewujudkan       pelayanan   kesehatan   yang   optimal   bagi
              masyarakat perlu didukung oleh adanya sarana kesehatan yang memadai
              dan memiliki kualitas pelayanan yang baik. Sarana kesehatan dasar yang
              ada di Kota Semarang pada tahun 2009 terd iri dari : 15 Rumah Sakit
              Umum, 1 Rumah Sakit Jiwa, 4 Rumah Sakit Bersalin, 4 Rumah Sakit Ibu
              dan Anak, 37 Puskesmas (11 Puskesmas Perawatan dan 26 Puskesmas
              Non Perawatan), 33 Puskesmas Pembantu, 37 Puskesmas Keliling, 29
              Rumah Bersalin, 159 Balai Pengobatan/Klinik 24 Jam, 360 Apotek, 2079
              praktek dokter swasta perorangan. Data secara lengkapnya dapat dilihat
              pada tabel 61.
                   Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Laboratorium Kesehatan
              dan 4 spesialis dasar, dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan
              kesehatan kepada masyarakat, telah terdapat beberapa sarana pelayanan
              kesehatan yang telah dilengkapi oleh fasilitas laboratorium kesehatan dan 4
              (empat) spesialis dasar. Kondisi yang ada di Kota Semarang pada tahun

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                             61
          2009, diketahui bahwa sarana kesehatan yang memiliki laboratorium
          kesehatan sebanyak 61 buah (100%) dan yang memberikan pelayanan 4
          spesialis dasar sebesar 15        buah (24,19%). Sarana kesehatan tersebut
          terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum dengan fasilitas laboratorium kesehatan
          dan 4 spesialis dasar; Rumah Sakit Khusus 7 buah yang memiliki
          laboratorium kesehatan, 1 Rumah Sakit Jiwa, serta 37 puskesmas se -Kota
          Semarang telah seluruhnya dilengkapi oleh fasilitas laboratorium kesehatan
          sederhana
                Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat
          diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2009 sebanyak 61
          sarana kesehatan (58,06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%), 1 RS
          Jiwa (100%), 7 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29,73%). Data
          selengkapnya dapat dilihat pada tabel 29. Apabila dibandingkan dengan
          target SPM 2008 (40%), maka jumlah ini sudah mencapai target tersebut.
                Desa Siaga, merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan
          sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan
          mengatasi masalah -masalah kesehatan secara mandiri. Sebuah desa
          dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki
          sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Jumlah
          desa/kelurahan siaga yang ada di Kota Semarang Tahun 2009 sebanyak
          177 Kelurahan. Artinya semua kelurahan di Kota Semarang telah menjadi
          kelurahan siaga


IV.6.3.   Anggaran Kesehatan
          Alokasi anggaran kesehatan untuk Kota Semarang pada tahun 2009
          sebesar Rp. 193.676.453.160 mengalami kenaikan dari tahun 2008 yaitu
          sebesar Rp. 97.652.503.235,-. Alokasi dana ini terbagi atas: sumber APBD
          Kota Semarang sebesar Rp. 88.957.087.660,- (45,93%); sumber APBD
          Propinsi Rp. 780.090.000,- (0,4%); sumber APBN (DAK) sebesar Rp.
          7.016.659.000,- (3,62%). APBN (JAMKESMAS/ASKEKIN) sebesar Rp.
          94.795.019.000,-         (48,95%),   dana   dekonsentralisasi   sebesar   Rp.
          666.357.500 (0,34%)
          Total APBD Dinas Kesehatan dari total APBD Kota Semarang sebesar Rp.
          1.501.549.313.179,- yaitu 5,92%. Data secara lengkap dapat dilihat pada
          tabel 60.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                           62
                                          BAB V
                                       KESIMPULAN

                Berbagai upaya yang telah dilaksanakan dalam pembangunan
      kesehatan, antara lain upaya peningkatan dan perbaikan terhadap derajat
      kesehatan masyarakat, upaya pelayanan kesehatan, sarana kesehatan dan
      sumber daya kesehatan. Hasil-hasil kegiatan pembangunan kesehatan di 16
      kecamatan di Kota Semarang selama periode 1 (satu) tahun tergambar dalam
      Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2009.
                Secara      umum       upaya -upaya   yang   telah   dilakukan   dalam
      pembangunan kesehatan telah menunjukkan hasil yang cukup baik, namun
      masih ada beberapa program kesehatan yang belum mencapai hasil yang
      optimal. Keberhasilan maupun kekurangan dalam pencapaian upaya-upaya
      pembangunan kesehatan di Kota Semarang selama tahun 2009 adalah
      sebagai berikut :
      a. Berdasarkan hasil laporan Puskesmas jumlah kematian bayi yang terjadi di
          Kota Semarang Tahun 2009 sebanyak 479 dari 25.937 kelahiran
          hidup,sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 18,6 per
          1.000 KH. Sedangkan untuk kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2009
          sebanyak 126 anak sehingga Angka Kematian Balita (AKABA) Kota
          Semarang dip eroleh sebesar 4,9 per 1.000 KH.
      b. Berdasarkan laporan Puskesmas dan Rumah Sakit jumlah kematian ibu
          maternal di Kota Semarang pada tahun 2009 sebanyak 22 orang (85,47%)
          dari jumlah kelahiran hidup sebanyak 25.739 orang.
      c. Penyakit DBD di Kota Semarang pada ta hun 2009 mengalami penurunan
          dari tahun sebelumnya yaitu dari 3.883 kasus menjadi 5.249 kasus
          sehingga diperoleh angka kesakitan DBD sebesar 26,69 per 10.000
          penduduk.
      d. Berdasarkan laporan Puskesmas, jumlah kasus malaria pada tahun 2009
          ditemukan 8 orang (API = 0,005 pddk) menurun dari tahun sebelumnya
          yaitu 16 orang (API = 0,01 pddk).
      e. Berdasarkan data laporan triwulan (Puskesmas, BP4 dan Rumah Sakit)
          penemuan penderita TB Paru BTA positif pada tahun 2009 sebanyak 793
          orang mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2008 yaitu 750
          orang penderita


Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          63
      f.   Penderita diare di Kota Semarang yang berobat jalan ke Puskesmas pada
           tahun 2009 sebanyak 30.443 penderita dengan angka kesakitan sebesar
           20,44 per 1.000 penduduk, dimana terdapat penurunan dari tahun
           sebelumnya.
      g. Kasus pneumonia di Kota Semarang pada tahun 2009 mencapai 4.766
           penderita, meningkat dari tahun 2008 yang hanya mencapai 3.824
           penderita, sehingga diperoleh IR untuk tahun 2009 sebesar 403,5 per
           10.000 balita
      h. Pada tahun 2009, penderita kusta di Kota Semarang yang dilaporkan dari
           16 kecamatan sebanyak 27 orang dengan tipe PB 3 dan tipe MB 24
           meningkat dibandingkan dengan tahun 2008, dengan angka prevalensi 0,2
           / 10.000 penduduk.
      i.   Jumlah kasus Infekasi Menular Seksual (IMS) di Kota Semarang pada
           tahun 2009 berdasarkan laporan mencapai 2.471 kasus. Jumlah kasus HIV
           (+) yang ditemukan tahun 2009 sebanyak 323 meningkat dari tahun 2008
           yaitu 199 orang Sedangkan untuk kasus AIDS ditemukan sebanyak 19
           kasus dengan kematian 2 orang.
      j.   Kasus AFP yang ditemukan di Kota Semarang tahun 2009 sebanyak 9
           kasus, menurun dari tahun sebelumnya yaitu sejumlah 14 kasus, terbanyak
           pada golongan umur 5 -15 thn sebanyak 6 kasus, 1-4 thn sebanyak 3 kasus
           sehingga untuk tahun 2009 diperoleh AFP rate sebesar 3 per 100.000 (
           target = 2/100.000 penduduk )
      k. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi
           tertinggi yaitu Campak 305 kasus, dan Difteri 21 kasus, sedangkan untuk
           penyakit   lainnya    seperti    Hepatitis   B,   Pertusis,   Tetanus,   Tetanus
           Neonatorum dan Polio di Kota Semarang Tahun 2009 tidak ditemukan
           adanya kasus.
      l.   Data kasus penyakit tidak menular tahun 2009 di Kota Semarang : Kasus
           penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 11.862, terdiri dari Kanker
           Payudara 5.393 kasus, Kanker Serviks 6.003 kasus, Kanker Hati dan
           Empedu 304 kasus, Kanker Bronkus dan Paru 278 kasus. ; Diabetes
           Mellitus sebanyak 63.867 kasus ; kasus Penyakit Jantung dan Pembuluh
           Darah ( Angina Pektoris 5.788 kasus, AMI 2.313 kasus, Hipertensi 101.078
           kasus dan Stroke 3.304 kasus )



Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                               64
      m. Dilaporkan pada tahun 2009 di Kota Semarang terjadi Kejadian Luar Biasa
           (KLB) sebanyak 4 kejadian dengan jumlah penderita 107 orang.
      n. Pada tahun 2009 di Kota Semarang menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup
           sebanyak 25.739 bayi dan jumlah Balita yang ada (S) sebesar 114.930
           anak. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada
           tahun 2009 yaitu sebanyak 90 bayi (0,54). Sedangkan jumlah Balita yang
           datang dan ditimbang (D) di posyandu dari seluruh balita yang ada yaitu
           87.870 anak dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya
           sebanyak 67.021 anak (76,27%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak
           780 anak (0,89%)
      o. Berdasarkan hasil         laporan      puskesmas tahun   2009, pemberian ASI
           Ekslusif sebesar 3.138 bayi dari 12.740 bayi usia 0 – 6 bulan.
      p. Pada tahun 2009 di Kota Semara ng dari sampling 44.253 rumah tangga
           yang dipantau diperoleh hasil yaitu Rumah Tangga yang berperilaku hidup
           bersih dan sehat terdiri dari strata utama 34.490 RT (77,94%) strata
           paripurna 4.292 RT (9,70%).
      q. Posyandu yang ada di Kota Semarang berjumlah 1.479 buah, terdiri dari
           682 posyandu purnama (46,11%) dan 350 Posyandu mandiri (23,66%)
           sehingga jumlah total posyandu yang tergolong purnama dan mandiri
           adalah 1.032 posyandu (69,77%)
      r.   Berdasarkan laporan puskesmas, jumlah penduduk yang tercakup dalam
           dalam berbagai JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) sebesar 199.656
           jiwa (47,26%) dari total jumlah penduduk , dengan perincian :
           • Peserta ASKES                  : 94.906 jiwa
           • Peserta BAPEL                  :   -    jiwa
           • Peserta JAMSOSTEK              :   -    jiwa
           • Peserta Dana Sehat             : 4 7.939 jiwa
      s. Di Kota Semarang sampai dengan tahun 2009 terdapat masyarakat miskin
           dan yang memiliki kartu ASKESKIN baru mencapai 190.668 jiwa (75,49%)
           dari 252.579 masyarakat miskin yang ada
      t.   Pada tahun 2009 Kota Semarang jumlah rumah yang ada sebanyak
           327 .959 buah, sedangkan kategori rumah yang memenuhi syarat
           kesehatan sebanyak 206.060 rumah (84,50%) dari 243.851 rumah yang
           dilakukan pemeriksaan

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                         65
      u. Jumlah tempat - tempat umum dan tempat pengelolaan makanan di Kota
          Semarang Tahun 2009 sebanyak 1.922 buah, jumlah diperiksa 1.538 buah
          dan jumlah yang sehat 1.235 buah atau 92,65%.
      v. Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar yaitu : persediaan air
          bersih sebanyak 221.630 KK (92,21 %) dari 240.345 KK yang ada; 46.936
          KK telah memanfaatkan jamban keluarga dan 187.608 KK telah memenuhi
          syarat jamban yang sehat (93,89%) dari 199.814 KK yang dilakukan
          pemeriksaan; Pengelolaan limbah di rumah tangga yang diperiksa
          sebanyak 199.810 KK dan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak
          187.453 KK (93,82%);
      w. Pada tahun 2009 di Kota Semarang jumlah kunjungan penduduk yang
          memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas sebanyak
          1.481.627, sedangkan untuk kunjungan rawat inap Puskesmas yaitu
          sebesar 3.110 kunjungan. Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan
          rawat jalan di Rumah Sakit yaitu sebanyak 1.800.855 kunjungan dan rawat
          inap sebesar 158.972 kunjungan. Untuk cakupan rawat jalan di Kota
          Semarang pada tahun 2009 yaitu sebesar 120%.              Sedangkan untuk
          cakupan rawat inap (kunjungan pasien baru) di sarana pelayanan
          kesehatan pada tahun 2009 yaitu sebesar 11%.
      x. Pencapaian hasil kinerja Rumah Sakit di Kota Semarang meliputi : BOR
          (60,7%) ; LOS (5,3) ;TOI (4,6) ; GDR (3,2) ; NDR (1,6).
      y. Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak :
              •    Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2009
                   adalah 26.332 bumil (94%)
              •    Cakupan pemberian tablet (Fe)1 sebanyak 30.992 bumil (101,63%)
                   dan cakupan untuk tablet (Fe)3 sebanyak 27.672 bumil (98,78%)
              •    Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di Kota
                   Semarang pada tahun 2009 sebesar 25.839 (99,65%) dari jumlah
                   perkiraan persalinan sebesar 26.734 kelahiran.
              •    Pada tahun 2009 ibu hamil risiko tinggi/ komplikasi yang ditemukan
                   di Kota Semarang sebesar 5.603 orang dan bumil risti/ komplikasi
                   yang dirujuk yaitu sebanyak 5.603 orang (100%)
              •    Cakupan pemberian suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi
                   pada bayi sebanyak 31.307 bayi (102%), Balita sebanyak 91.466
                   anak (100%) serta ibu nifas 27.316 orang (102,17%).

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          66
              •    Cakupan kunjungan neonatus tingkat Kota Semarang tahun 2009
                   sebesar 25.510 (99,1%)
              •    Hasil cakupan kunjungan bayi di Kota Semarang pada tahun 2009
                   sebesar 26.890 (104,07%)
              •    Hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak balita dan
                   pra sekolah di tingkat Kota Semarang pada tahun 2009 yaitu
                   118.950 (77,60%) anak balita dari 153.2 95 anak alita
      z. Cakupan bayi yang diimunisasi DPT3 pada tahun 2009 sebesar 26.332
          anak (103,42%), Polio 4 sebanyak 26.183 anak (102,84%) dan bayi yang
          telah memperoleh imunisasi campak sebesar 26.814 (105,71%) dari
          sasaran sejumlah 25.451 bayi.
          Hasil kegiata n pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila di Kota Semarang
          pada tahun 2009 sebesar 90.842 (54,93%) terdiri atas pra usila (45 – 59
          thn) sebanyak 48.055 dan Usila (≥ 60 thn) sebanyak 42.787.
      å. Pada tahun 2009, jumlah PUS yang ada sebanyak 250.891. Yang menjad i
          peserta KB baru sebanyak 35.897. Sedang jumlah peserta KB aktif yang
          telah dibina sebesar 198.086 orang.
      ä. Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses
          oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2009 sebanyak 60 sarana
          kesehatan (60%) yaitu 16 Rumah Sakit Umum (100%), 1 RS Jiwa (100%),
          7 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (35,14%)
      ö. Pelayanan kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota
          Semarang pada tahun 2009 menunjukkan pencapaian sebesar 2%.
      aa. Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di
          puskesmas pada tahun 2009 yaitu tumpatan gigi tetap sebanyak 4.301
          Tindakan dan pencabutan gigi tetap sebanyak 9.016 kasus, dengan rasio
          untuk tambal dibandingkan pencabutan gigi sebesar 0,48
      bb. Data ketersediaan obat pada tahun 2009 bersumber dari laporan 37
          Puskesmas se-Kota Semarang, jumlah jenis obat yang dibutuhkan oleh
          Puskesmas rata-rata 130 item, sedangkan jenis obat yang tersedia di
          Puskesmas rata -rata 140 item sehingga diperoleh ketersediaan obat secara
          keseluruhan sebesar 107,13%. Untuk obat generik, kebutuhan total jenis
          obat generik seluruh Puskesmas Tahun 2009 adalah rata -rata 142 item.
          Sedangkan jumlah total jenis obat generik yang tersedia sebanyak 153
          item, sehingga diperoleh pemenuhan sebesar 107,7%.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                       67
      cc. Jumlah penulisan resep obat generik di fasilitas sarana kesehatan tersebut
          sebesar 587.685 resep.
      dd. Jumlah seluruh kebutuhan obat narkotika dan psikotropika di Kota
          Semarang tahun 2009 yaitu rata -rata 5,89 item per Puskesmas sedangkan
          untuk ketersediaan obat narkotika dan psikotropika yaitu sebesar 6,38 item
      ee. Rasio tenaga kesehatan Kota Semarang (puskesmas, Rumah Sakit dan
          Dinas Kesehatan Kota Semarang) dibandingkan dengan jumlah penduduk
          kota Semarang tahun 2009 dapat diperoleh data sebagai berikut:
                - jumlah Dokter Umum sebesar 23,62 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk)
                - jumlah Dokter Spesialis sebesar 63,18 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 6/100.000 penduduk)
                - jumlah Dokter Gigi sebesar 27,79 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 11/100.000 penduduk)
                - jumlah Perawat sebesar 189,19 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 117,5/100.000 penduduk)
                - jumlah Bidan sebesar 27,41 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 100/100.000 penduduk)
                - jumlah Tenaga Farmasi sebesar 28,6 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 10/100.000 penduduk)
                - jumlah Tenaga Gizi sebesar 8,1 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 22/100.000 penduduk)
                - jumlah Tenaga Kesh Masy sebesar 7,5 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 40 /100.000 penduduk)
                - jumlah Tenaga Sanitasi sebesar 2,85 per 100.000 penduduk
                  (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk)
                - jumlah tenaga teknisi medis sebesar 27,61 per 100.000 penduduk
      ff. Sarana kesehatan dasar yang ada di Kota Semarang pada tahun 2009
          terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum, 1 Rumah Sakit Jiwa, 4 Rumah Sakit
          Bersalin, 4 Rumah Sakit Ibu dan Anak, 37 Puskesmas (11 Puskesmas
          Perawatan dan 26 Puskesmas Non Perawatan), 33 Puskesmas Pembantu,
                                                                am, 360 Apotek,
          37 Puskesmas Keliling, 159 Balai Pengobatan/Klinik 24 J
          2079 praktek dokter swasta perorangan.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                          68
      gg. Alokasi anggaran kesehatan untuk Kota Semarang pada tahun 2009
          sebesar Rp. 193.676.453.160,- mengalami kenaikan dari tahun 2008 yaitu
          sebesar Rp. 97.652.503.235,-.




Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2009                                    69

								
To top