Docstoc

KTSP mabin

Document Sample
KTSP mabin Powered By Docstoc
					DEPARTEMEN AGAMA RI
MADRASAH ALIYAH NEGERI BINONG
Jalan Babakan Resik No. 3 Cicadas Binong Kabupaten Subang Telp. (0260) 453306 Kode Pos 41253

LEMBAR PENGESAHAN

Setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Madrasah, maka dengan ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Madrasah Aliyah Negeri Binong disyahkan untuk diberlakukan mulai Tahun Pembelajaran 2006 / 2007.

Disyahkan di Tanggal

: Binong :

Ketua Komite Madrasah

Kepala MAN Binong

Drs. Dede Abdul Bar NIP.

Mengetahui:

Kepala Bidang Mapenda Kanwil Prop. Jawa Barat

Drs. H. Dedy Rokhaedie Ariep, M.Si. NIP. 150 170 635

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah, penyusunan Kurikulum Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Binong Kabupaten Subang dapat terselesaikan. Tim Penyusun KTSP ini terdiri atas guru, konselor, Wakil Kepala Madrasah dan kepala MAN Binong yang bertindak sebagai

ketua merangkap anggota. Di dalam kegiatan penyusunan KTSP ini kami melibatkan Komite Madrasah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait. Penyusunan dokumen KTSP ini dilakukan dengan merujuk pada Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Permendiknas nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Panduan Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dikeluarkan oleh BSNP tahun 2006, serta Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Nomor: DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006 Tentang Pelaksanaan Standar Isi. Penyusunan kurikulum ini merupakan hal pertama kali yang dilakukan sepenuhnya oleh pihak madrasah bersama komite madrasah, nara sumber, para guru dan pihak-pihak lain yang terkait dalam mengembangkan kurikulum operasional yang disesuaikan dengan kondisi daerah dan madrasah serta aktualisasi kemampuan profesional guru dalam pengembangan kurukulum. Untuk itu kurikulum ini perlu selalu disempurnakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Besar harapan kami kurikulum ini dapat digunakan oleh guru-guru MAN Binong dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan digunakan oleh stakeholder lainnya dalam

pembinaan penyelenggaraan pendidikan.

Binong, 16 Juli 2007 Tim Penyusun

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang mengacu pada standar nasional pendidikan dimaksudkan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas: standar isi, standar proses, standar

kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Untuk memenuhi amanat Undang-undang tersebut di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan nasional pada umumnya, serta tujuan pendidikan sekolah pada khususnya, MAN Binong sebagai lembaga pendidikan tingkat menengah memandang perlu untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Melalui KTSP ini sekolah dapat melaksanakan program pendidikannya sesuai dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik. Untuk itu, dalam

pengembangannya melibatkan seluruh warga sekolah dengan berkoordinasi kepada pemangku kepentingan di lingkungan sekitar sekolah.

Dalam dokumen ini dipaparkan tentang Kurikulum MAN Binong, yang secara keseluruhan mencakup: 1. Struktur dan muatan kurikulum;

2. beban belajar peserta didik; 3. kalender pendidikan; 4. silabus, dan 5. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

B.

LANDASAN Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ini dilaksanakan dengan landasan yuridis sebagai berikut :

1.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 ayat 2 “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite madrasah/sekolah di bawah koordinasi dan supervise dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah”. Pasal 51 ayat 1 “Pengelolan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”.

2.

Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17 ayat 2 “Sekolah dan komite sekolah atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervise dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintah di bidang Agama untuk MI, MTs, MA dan MAK”. Pasal 49 Ayat 1 “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas”

3. 4.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan

5.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 dan 23 tahun 2006

C.

Tujuan Pendidikan Madrasah

Secara umum tujuan pendidikan sekolah sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut

Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 307 tentang Madrasah Aliyah , dijelaskan dalam BAB II pasal 2 bahwa :

Tahun 1993

1. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi ; 2. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk mengembankan diri sejalan dengan perkembangkan Ilmu Pengetahuan , Teknologi dan Kesenian yang dijiwai ajaran Agama Islam ; 3. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial , budaya dan alam sekitarnya yang dijiwai ajaran Agama Islam . Sedangkan bentuk satuan dan lama pendidikan Madrasah Aliyah, dapat dijelaskan dalam Bab III Pasal 3 yang menyatakan : 1. Madrasah Aliyah ( MA ) adalah satuan pendidikan dalam jenjang pendidikan menengah dalam bentuk sekolah menengah umum yang berciri khas Agama Islam: 2. Lama pendidikan di Madrasah Aliyah 3 (tiga) tahun setelah Madrasah Tsanawiah atau setelah sekolah lanjutan tingkat pertama , atau satuan pendidikan yang setara.

D.

Visi dan Misi MAN Binong Kurikulum tingkat satuan pendidikan Madrasah Aliyah Negeri Binong Kabupaten Subang disusun dalam kerangka manifestasi visi dan misi yang menjadi cita-cita agung institusi. Adapun visi dan misi lembaga dirumuskan sebagai berikut : Visi : Terdidik dalam nuansa Islami, unggul dalam prestasi dan berakhlakul karimah

Misi : 1. Pemantapan sikap dan kepribadian yang agamis dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan pengamalan keagamaan 2. Melaksanakan pembelajaran yang berbasis kemampuan sehingga siswa berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. 3. Membantu setiap siswa memahami tentang kemampuan dan potensi diri serta pengembangannya secara optimal. 4. Menumbuhkembangkan semangat kompetitif yang sehat dalam meraih keunggulan prestasi pada semua warga madrasah. 5. Mengoptimalkan pemanfaatan lahan/tanah dan pengadaan fasilitas pendukung pembelajaran. 6. Pemahaman tentang pemanfaatan hasil teknologi (komputer, internet) bagi pengembangan ilmu pengetahuan. 7. Menerapkan manajemen berbasis madrasah yang melibatkan semua stakeholder.

E.

Tujuan Madrasah Berdasarkan visi dan misi madrasah, tujuan yang hendak dicapai adalah: 1. Terwujudnya perilaku siswa berakhlaqul karimah yang tercermin pada pola ucap dalam kehidupan sehari-hari 2. Peningkatan kualitas pembelajaran yang mengacu pada CTL (Contectual Teaching and Learning) 3. Peningkatan proporsi lulusan yang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi (negeri maupun swasta) 4. Terciptanya iklim kompetitif yang kondusif dalam meraih prestasi 5. Mengupayakan adanya fasilitas penunjang pembelajaran (masjid, laboratorium dan lapangan olah raga) 6. Mengembangkan kemitraan yang sinergis dengan stakeholder (majlis

madrasah/komite, orang tua siswa dan istansi)

:

BAB II Struktur Kurikulum dan Beban Belajar

A. Sejarah Singkat MAN Binong MAN Binong dalam prosesnya merupakan pe-negeri-an dari MAS Darul Ma’arif Pamanukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. 515A Tanggal 25 November 1995 dengan nama MAN Pamanukan dengan lokasi di lingkungan Yayasan Darul Ma’arif Pamanukan. Namun dalam perjalanannya, staf guru Yayasan Pendidikan Islam Darul Ma’arif Pamanukan menolak keberadaan MAN Pamanukan, sehingga sedikit atau banyaknya mengakibatkan proses KBM terganggu. Oleh karena itu Drs. Icang Sudaryat (Kepala MAN pada waktu itu) berusaha mencari tempat lain sampai akhirnya bertemu dengan Bpk. Abdurrahman (Humas MTs Darul Hikam Binong). Dari Bpk. Abdurrahman inilah diperoleh petunjuk bahwa ada salah seorang yang hendak mewakafkan tanahnya untuk dijadikan lokasi pendidikan. Hamba Allah yang baik dan hendak mewakafkan tanahnya tersebut tersebut bernama H. Sonjaya. Tanah wakaf tersebut seluas 10.000 M2 (sepuluh ribu meter persegi). Sesuai akta ikrar wakaf tertanggal 28 November 1995 No. W2/07/157/1995 yang dibuat dihadapan M.I. Haris (Kepala KUA Kec. Binong) dan surat pengesahan Nadzir maka tanah tersebut digunakana untuk keperluan pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pamanukan. Sebelum MAN Pamanukan didirikan diatas tanah wakaf tersebut, maka proses KBM sempat berpindah-berpindah tempat di KUA Kec. Binong, MTs Darul Hikam dan MTs Darul Fikri Ulum.. Pada Tahun 1998 dibangunlah gedung sekolah yang cukup representatif di tanah wakaf tersebut sebanyak 6 ruang belajar yang berlokasi di Desa Cicadas Kecamatan Binong Kabupaten Subang dengan tetap memakai nama MAN Pamanukan. Mengingat nama MAN Pamanukan dirasa janggal, karena lokasi MAN Pamanukan berada di wilayah Binong maka dikeluarkanlah Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 4 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas lampiran Keputusan Menteri Agama No. 515A Tahun 1995 Tentang Pembukaan dan Penegerian Beberapa Madrasah yang mengubah nama MAN Pamanukan menjadi MAN Binong. Sesuai dinamika waktu yang telah mencapai selama 13 tahun, MAN Binong mengalami perkembangan baik secara fisik dan non fisik dan berusaha untuk berbenah sesuai dengan tutntutan dinamika pendidikan yang senantiasa berubah. Menyadari akan hal tersebut, maka

MAN Binong berusaha untuk melakukan inovasi sesuai dengan perubahan zaman guna mempersiapkan lulusannya untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan sekaligus membekali untuk hidup bermasyarakat.

B. Gambaran MAN Binong

Keadaan

MAN Binong terletak di Kabupaten Subang, tepatnya di Cicadas kecamatan Binong. Kabupaten Subang sebagai salah satu kabupaten di kawasan utara Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah seluas 205.176,95 ha atau 6,34 % dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini terletak di antara 107º 31' sampai dengan 107º 54' Bujur Timur dan 6º 11' sampai dengan 6º 49' Lintang Selatan. Secara administratif, Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang

tergabung dalam 22 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah kecamatan bertambah menjadi 30 kecamatan. Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Subang adalah di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, di sebelah barat dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang, di sebelah timur dengan Kabupaten Sumedang dan Indramayu dan Laut Jawa yang menjadi batas di sebelah utara.

Berdasarkan topografinya, Binong adalah daerah dataran rendah dengan ketinggian 10 – 25 dpl yang meliputi, yaitu Mulyasari, Binong, Kediri, Karangwangi, Citrajaya, Cicadas, Kihiyang, Karangsari dan Nanggerang.

.Adapun dilihat dari komposisi kelompok umur, penduduk kecamatan Binong terdiri dari 24,52 % usia anak-anak (0-14 tahun), 7,58 % usia remaja (15-19 tahun), 29,31 % usia muda (20-39 tahun) dan 38,59 % usia tua dan lansia.

Dalam bidang pendidikan kecamatan Binong terbilang cukup maju. Untuk tingkat SLTA saja, disamping MAN Binong terdapat SMA Asthahanas (SMA Unggulan), SMK Negeri dan Swasta dan MA Al-Ma’arif. Namun dilihat dari mutu pendidikan umumnya masih rendah. Rendahnya ini berkaitan erat dengan mata pencaharian penduduk yang sebagian besar adalah petani. Sedangkan mengenai gambaran tentang MAN Binong adalah: 1. Keadaan Madrasah a. Sarana dan Prasarana Tanah dan Halaman Status tanah madrasah sudah sertifikat hak milik yang diperoleh dari wakaf H Sonjaya (Alm) seluas 10.000 m2, pada tahun 2006 mendapat belanja modal seluas 743 M2, luas lahan seluruhnya 10.743 m2. Tanah tersebut baru digunakan untuk pra sarana pendidikan seluas 1.019 m2, sisanya masih berupa tanah sawah.

-

Gedung Madrasah Bangunan madrasah pada umumnya dalam kondisi baik dan jumlah ruang kelas memadai untuk kegiatan belajar mengajar dengan luas bangunan seluruhnya 1.019 m2 Keadaan gedung madrasah MAN Binong : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Ruang Kepala Madrasah Ruang TU Ruang Guru Ruang Kelas Ruang Lab. IPA Ruang Lab. Bahasa Ruang Perpustakaan Ruang Lab. Komputer Ruang OSIS Ruang PMR dan Pramuka Koperasi Siswa Musholla Jumlah 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 Kondisi baik baik baik baik baik baik baik baik baik baik baik baik

13 14 15

Aula Lapangan upacara Area Parkir

1 1 2

baik baik baik

-

b. Anggaran Madrasah Anggaran madrasah berasal dari dana pemerintah dan dana yang dihimpun dari orang tua peserta didik. Setiap peserta didik dikenai biaya Rp. 45.000,- /bln. Alokasi dana disamping untuk memenuhi kelengkapan sarana belajar peserta didik, terutama diperuntukkan untuk menunjang kegiatan intrakurikuler dan

ekstrakurikuler.

Sumber Dana Pendidikan MAN Binong Tahun Pelajaran 2008/2009 Pemerintah / DIPA (Rp.) 1.314.557.000 Komite Madrasah (Rp.) 138.480.000 Jumlah 1.453.037.000

2. Personil Madrasah MAN Binong didirikan pada tahun 1996 yang merupakan penegerian MAS Darul Ma’arif Pamanukan. Pimpinan madrasah yang pernah bertugas di MAN Binong sejak awal berdirinya (1996) adalah: No 1 2 3 4 5 Nama Drs. Icang Sudaryat Drs. Sofandi Drs. Yusup Supratman Drs. H. Hasan Maulany, M.M.Pd. Drs. Dede Abdulbar Periode Tugas 1996 - 2001 2001 - 2003 2003 (PLT) 2003 - 2009 April 2009 s.d. sekarang

Adapun jumlah seluruh personil madrasah ada sebanyak 34 orang, terdiri dari guru 23 orang, staf TU 9 orang dan pembantu umum 2 orang. No 1 2 3 Nama Drs. Dede Abdulbar Drs. H. Asep Gunawan, M.M.Pd. Jalaludin el-Kholifah, S.Ag. Jabatan Kepala Madrasah PKM/Guru Fiqh PKM/Guru Ekonomi Status PNS PNS PNS

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Datim Sudyarmadi, S.Pd. Drs. H. Yusup Supratman Dra. Nafilah Suratmi Drs. Denda Hidayat Drs. Sobur Sahmudin Ecih Yunengsih, S.Pd. Dra. Lilis Suryani Daud Sutedi, S.Pd. Yeti Sustilawati, S.Ag. Hidayatullah, S.Ag Kasman, S.Ag., M.Pd.I Ike Dewi Rostiawati, S.Pd. Komariah, S.Pd. E. Kosasih, S.Ag. Drs. Oom Rukman S. Hidayat, S.Ag. Dian Ekawati, S.Pd. Udeh Yuliawati, ST Hasan Ma’mun, S.Ag. Popon Dauni, ST Drs. H. Haposan Lubis Tarsep Jono, SE Ahmaludin Ma’mun Djazuli Suparman Nunung Herawati Rukmana Memet al-Harun Adang Mashuri Mukhdor

PKM/Guru B. Indonesia Guru Qur’an Hadits Guru Geografi Guru Sosiologi Guru Matematika Guru Matematika Guru Seni Budaya Guru Fisika Guru Aqidah Akhlak & PKn Guru Penjaskes Guru Qur’an Hadits & BTQ Guru Bahasa Indonesia Guru Bahasa Inggris Guru Bahasa Arab Guru SKI dan BTQ Guru Sejarah Guru Biologi Guru Kimia Guru Komputer Guru Komputer Kaur TU Bendahara Staf TU Staf TU Staf TU Staf TU Staf TU Staf TU Staf TU Pembantu Umum Pembantu Umum

PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS Honorer Honorer Honorer Honorer PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS Honorer Honorer

3. Keadaan Peserta Didik

a. Jumlah Peserta Didik Jumlah peserta didik pada tahun pelajaran 2008/2009 seluruhnya berjumlah 272 siswa. Persebaran jumlah peserta didik antar kelas merata. Peserta didik di kelas X ada sebanyak 2 rombongan belajar. Peserta didik di kelas XI dan XII program IPA masing-masing sebanyak 2 rombongan belajars. Sedangkan pada program IPS di Kelas XI dan Kelas XII masing-masing ada satu rombongan belajar.

Jumlah Peserta Didik Pada Tahun 2009

Kelas X XI IPA XI IPS XII IPA XII IPS Jumlah

Jumlah Rombel 2 2 1 2 1 8 Laki-laki 25 34 17 30 19 125 Perempuan 35 36 22 31 23 147

Jumlah 60 70 39 61 42 272

Sebagian besar peserta didik dari Kecamatan Binong (55%),dari Kecamatan Pagaden (25%), dari Kecamatan Tambak Dahan (15%) dan sisanya (5%) dari daerah kecamatan lainnya.

b. Keadaan Tidak Naik Kelas dan Putus Sekolah/Drop out Peserta didik yang tidak naik kelas dan putus sekolah setiap tahunnya bersifat fluktuatif. Tahun Pelajaran Kelas X 2007/2008 XI XII X 2008/2009 XI XII Jumlah 125 115 76 60 109 103 Tidak Naik/Lulus Putus Sekolah 7 5 1 -

Kondisi putus

sekolah

peserta

didik

terutama disebabkan karena masih peserta didik tentang arti pentingnya

kurangnya kesadaran

orang tua dan

pendidikan, selain juga karena faktor kesulitan ekonomi.

Untuk mengatasi kendala ekonomi, sekolah telah mengupayakan berbagai bantuan keringanan biaya berupa infaq guru dan staf TU.

c. Input dan Output NEM Pencapaian nilai rata-rata NEM peserta dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Namun demikian, peserta didik yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, khususnya PMDK atau UMPTN ternyata kurang memuaskan.

Input dan Output NEM / Mata Pelajaran Peserta Didik Input Tahun 2006/2007 2007/2008 2008/2009 Rata-Rata NEM 6,22 6,27 6,35 Output Tahun 2006/2007 2007/2008 2008/2009 Rata-Rata NEM 7,40 7,77 PT 6 8 -

Faktor ekonomi keluarga dan kurangnya kesadaran terhadap pendidikan diduga menjadi menjadi penyebab minimnya lulusan MAN Binong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (PT).

4. Orang Tua Peserta Didik Disamping kondisi sosial ekonomi masyarakat Subang yang heterogen, juga secara umum wilayah Kabupaten Subang beriklim tropis, curah hujan rata-rata pertahun 2.352 mm dengan jumlah hari hujan 100 hari. Dengan iklim yang demikian, serta ditunjang oleh adanya lahan yang subur dan banyaknya aliran sungai, menjadikan sebagian besar luas tanah Kabupaten Subang digunakan untuk pertanian. Oleh karenanya sudah barang tentu akan mempengaruhi pola kehidupan masayarakat sekitar pada umumnya, termasuk kecamatan Binong. Hal ini dibuktikan dengan keadaan orang tua peserta didik di MAN Binong yang didasarkan pada latar belakang pekerjaan bersifat variatif, namun demikian yang berprofesi sebagai petani lebih dominan. Data ini diperoleh dari formulir yang diberikan kepada siswa yang dikembalikan pada saat mendaftar ulang menjadi siswa baru.

Keadaan Orang Tua Peserta Didik Pada Tahun 2008/2009

No 1 2 3 4 Petani TNI/Polri PNS Pedagang

Pekerjaan

Jumlah 163 14 27 50

Prosentase 59,9% 5,2% 9,9% 18,4%

5 6

Wirausaha Pensiunan

15 3

5,5% 1,1%

5. Kerjasama Madrasah Kerjasama MAN Binong antara lain dilakukan dengan: a. Orang Tua Kerjasama dengan orang tua siswa dilaksanakan melalui Komite Madrasah. Hal ini mengingat urgens-nya peran orang tua dalam pengembangan pendidikan, yaitu : 1. donatur dalam menunjang kegiatan dan sarana sekolah, namun belum berjalan optimal mengingat kondisi ekonominya; 2. mitra sekolah dalam pembinaan pendidikan; 3. mitra dalam membimbing kegiatan peserta didik; 4. mitra dialog dalam peningkatan kualitas pendidikan; dan 5. sumber belajar

b. Alumni Kerjasama dengan alumni dilakukan antara lain dalam kegiatan ekstrakurikuler sebagai instruktur, informasi dunia kerja dan perguruan tinggi serta promosi dalam kegiatan penerimaan siswa baru.

c. Instansi Lain MAN Binong juga menjalin kerjasama dengan Puskesmas Binong, dimana Fihak Puskesmas memberikan materi tentang Kesehatan Remaja yang diberikan pada siswa kelas XII selama semester ganjil.

6. Prestasi yang pernah diraih a. Bidang Akademis b. Bidang Non Akademis Juara 3 Lomba Siswa Teladan Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 1999 Juara 2 Lomba K-3 Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 1998 Juara Harapan II SKJ Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 1998 Juara 2 Volley Ball Putra Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2003 Juara 2 Tenis Meja Putra Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2003 Juara 3 Volley Ball Putra Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2004 Juara 1 Sepak Bola Tk. SLTA Se-Kecamatan Binong Tahun 2004 Juara 1 Cerdas Cermat Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2002 Juara 3 Cerdas Cermat Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2003 Juara 3 Karaoke Putri Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2004

-

Juara 1 Tenis Meja Ganda Putra Tk. SLTA Se-Kabupaten Subang Tahun 2007

C. Struktur dan Muatan Kurikulum 2. Kelompok Mata Pelajaran Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 6 Ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejujuran, dan khusus pada pendidikan dasar dan menengah terdiri atas 1. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; 2. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; 3. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; 4. kelompok mata pelajaran estetika; 5. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan. Cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan pada tabel berikut ini. Cakupan Kelompok Mata Pelajaran No Kelompok Mata Pelajaran 1. Agama dan Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. 2. Kewarganegaraan Kepribadian Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan dimaksudkan untuk peningkatan Cakupan

Akhlak Mulia

dan kepribadian

kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti

No

Kelompok Mata Pelajaran

Cakupan

korupsi, kolusi, dan nepotisme.

3.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu

pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri. 4. Estetika Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan

mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu

menciptakan kebersamaan yang harmonis. 5. Jasmani, Olahraga Kesehatan Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat. Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah,

No

Kelompok Mata Pelajaran

Cakupan

muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

3. Struktur Kurikulum Struktur kurikulum MAN meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Pengorganisasian kelas-kelas pada MAN Binong dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik, serta kelas XI dan XII merupakan program penjurusan. MAN Binong membuka dua program/penjurusan, yaitu: a. Program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan b. Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

.

4. Muatan Kurikulum Muatan kurikulum MAN Binong meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang

ditetapkan oleh BSNP, dan muatan lokal yang dikembangkan oleh madrasah serta pengembangan diri.

a. Mata Pelajaran Mata pelajaran terdiri dari mata pelajaran wajib yaitu Bahasa Arab, Aqidah Akhlak, Qurdis, Fiqih, SKI, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi Kimia, Fisika, Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Penjaskes, Seni dan budaya dan Teknologi Informasi Komunikasi.

b. Muatan Lokal Program Muatan Lokal disusun berdasarkan kebutuhan siswa untuk bersosialisasi dengan lingkungan disekitarnya dan kebutuhannya kelak setelah lulus dari madrasah yang mengacu pada ciri khas keagamaan madrasah dan budaya daerah setempat. Program Muatan Lokal Baca Tulis dan Keterampilan Qiro’at al-Quran

Kelas X Semester I STANDAR KOMPETENSI 1. Memahami kaidah-kaidah ilmu tajwid dan penerapannya dalam pembacaan dan penulisan al Quran KOMPETENSI DASAR 1. Menjelaskan kaidah Huruf Hijaiyyah 2. Menjelaskan kaidah-kaidah ahkamul mad wal qasher 3. Menjelaskan bacaan isti’adzah dan basmallah

Kelas X Semester II

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar 1. Menjelaskan hukum nun bersukun dan

2. Memahami kaidah-kaidah ilmu tajwid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

tanwin 2. Menjelaskan hukum mim dan nun bertasyid 3. Menjelaskan hukum lam ta’rif dan lam bersukun pada fi’il

c. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri diarahkan untuk pengembangan karakter peserta didik yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dirinya, persoalan masyarakat di lingkungan sekitarnya, dan persoalan kebangsaan. Kegiatan pengembangan diri di MAN Binong meliputi: a. Kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di dalam kelas

(intrakurikuler) dengan alokasi waktu 1 jam tatap muka, yaitu Bimbingan konseling, mencakup hal-hal yang berkenaan dengan pribadi, kemasyarakatan, belajar, dan karier peserta didik. Bimbingan konseling diasuh oleh guru yang ditugaskan. b. Kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di luar kelas (ekstrakurikuler), diasuh oleh guru pembina. Pelaksanaannya secara reguler setiap hari Sabtu, yaitu         OSIS Olahraga voli dan Sepakbola Pramuka; Palang Merah Remaja (PMR); Koperasi Siswa Remaja Islam Musholla Ibnu Khaldun (Nama musholla di MAN Binong) Paskibra Pengajian Kitab Kuning di Musholla Ibnu Kholdun

c. Program pembiasan mencakup kegiatan yang bersifat pembinaan karakter peserta didik yang dilakukan secara rutin, spontan, dan keteladanan Program Pembiasaan Rutin Upacara Senam Membaca Spontan Membiasakan antri Memberi salam Al Mencium Keteladanan Berpakaian rapi Memberikan pujian

tangan Dilarang merokok atau

Qur’an 10’ sebelum ketika belajar Shalat berjamaah

berpapasan makan sambil berjalan.

dengan guru Membuang sampah Tepat waktu pada tempatnya

Kunjungan pustaka

Musyawarah

Hidup sederhana

Pembiasaan ini dilaksanakan sepanjang waktu belajar di sekolah. Seluruh guru ditugaskan untuk membina program pembiasaan yang telah ditetapkan oleh sekolah. Adapun penilaian kegiatan pengembangan diri bersifat kualitatif. Potensi, ekspresi, perilaku, dan kondisi psikologi peserta didik merupakan portofolio yang digunakan untuk penilaian.

d. Pendidikan Kecakapan Hidup Pendidikan kecakapan hidup diperoleh melalui:



Pendidikan kecakapan hidup yang diterapkan oleh sekolah merupakan bagian integral dari pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Dengan demikian, materi kecakapan hidup akan diperoleh peserta didik melalui kegiatan pembelajaran sehari- hari yang emban oleh mata pelajaran yang bersangkutan.



Kecakapan yang diperoleh melaui diklat pada kegiatan ekstrakurikuler

e. Beban Belajar Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. MA menambah empat jam pelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Selain itu, penambahan jam tersebut dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dantidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket sebesar 30% s.d. 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Penugasan struktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan struktur ditentukan oleh pendidik. Adapun kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik. Pemanfaatan alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Adapun alokasi waktu untuk praktik, yaitu dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada MAN Binong ditetapkan berlangsung selama 45 menit. Kegiatan belajar kegiatan tatap muka per minggu pada setiap satuan pendidikan adalah sebagai berikut. Satuan jam pembelaj aran Tatap Muka Jumlah Jam Pelajaran per Minggu Waktu Pembelaj aran per Tahun

Kelas

Minggu efektif per Tahun

Jumlah jam pe Tahun (menit)

(menit)
X – XII 45 38-39 34 – 38 1.292–1.482 jam pembelajaran (58.140– 66690 menit 969–1.111,5

f. Alokasi Waktu Tugas-Tugas 1. Tugas terstruktur Tugas terstruktur berupa laporan hasil pengerjaan tugas yang diminta pendidik kepada peserta didik dan secara spesifik persoalannya dibuatkan oleh pendidik adapun waktunya diluar jam pelajaran/ tatap muka.

2. Tugas mandiri Tugas mandiri berupa laporan hasil pengerjaan tugas yang diminta pendidik kepada peserta didik dan lebih dominan melibatkan peserta didik untuk mencari persoalan sekaligus jawabannya yang masih berkenaan dengan materi pelajaran. Adapun waktunyan diluar jam pelajaran.

3. Tugas praktek Tugas praktek berupa laporan hasil pengerjaan tugas yang diminta pendidik kepada peserta didik dan merupakan proses aplikasi dan pengembanan potensi psikomotorik dari siswa, sehingga suatu konsep dapat dipahami secara aplikatif. Adapun waktunya didalam dan diluar jam pelajaran.

g. Pelaksanaan Pembelajaran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pelaksanaan pembelajaran dipersiapkan melalui (RPP) yang memuat pokok bahasa dan jam pertemuan pada masing-masing mata pelajaran. RPP

merupakan penjabaran dari rancangan program yang telah ditetapkan dalam silabus, sehingga RPP dibuat dan dikembangkan oleh setiap guru MAN Binong secara bertahap setiap awal tahun pelajaran untuk dua semester.

2. Waktu Pelaksanaan pembelajaran dilaksanaan selama 45 menit setiap jam tatap muka/ pelajaran pada setiap hari mulai pukul 07.00 s.d. 13.30 WIB, sehingga terdiri dari 8 jam pelajaran kecuali hari jum’at 6 jam pelajaran .

3. Tempat Pelaksanaan pembelajaran sebagian besar berlangsung didalam kelas dan selebihnya di aula, laboratorium, lapangan Olah Raga, perpustakaan, ruang multi media, ruang kesenian, dan taman-taman madrasah sebagai proses pembelajaran out door.

h. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0–100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. MAN Binong berusaha meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus-menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Ketuntasan belajar tiap mata pelajaran ditentukan berdasarkan Imtak siswa, kompleksitas, dan daya dukung. Berdasarkan hal tersebut, maka MAN Binong menetapkan ketuntasan belajar pada masing-masing mata pelajaran sebagai berikut:

Target Ketuntasan Belajar Peserta Didik
Mata Pelajaran a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q. r. s. t. Aqidah Akhlak Fiqih Quran Hadist SKI Pendidikan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bahasa Arab Matematika Fisika Biologi Kimia Sejarah Geografi Ekonomi Sosiologi Seni Budaya Penjaskes Teknologi Informasi dan Teknologi BTQ Target Ketuntasan 2007/2008 2008/2009

MAN Binong menargetkan agar angka ketuntasan belajar tersebut semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, setiap warga sekolah diharapkan untuk lebih bekerja keras lagi agar mutu pendidikan sekolah dapat meningkat dari tahun ke tahun.

i. Kegiatan Remidial 1. Remedial Teaching Merupakan pengulangan proses pembelajaran di dalam kelas untuk setiap mata pelajaran yang belum tuntas dipahami oleh peserta didik. Maksud dari

belum tuntas adalah nilai dari peserta didik belum mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang telah ditentukan.

2. Waktu Kegiatan Remedial teaching dilaksanakan diluar proses pembelajaran terjadwal, sehingga bisa ditentukan sesuai kesepakatan pendidik dan peserta didik yang belum mencapai SKBM

3. Evaluasi Remedial teaching harus dilengkapi dengan evaluasi hasil kegiatan yang dilaksanakan langsung di akhir kegiatan atau pada saat lain sesuai kesepakatan pendidik dan peserta didik. Evaluasi terhadap soal yang diberikan dilakukan dengan mengadakan uji Tingkat Kesukaran dan Daya pembeda Soal. Untuk soal yang memiliki daya pembeda kurang baik, maka pada saat evaluasi remedial teaching soal harus diperbaiki.

d. Hasil Penilaian Nilai hasil evaluasi kegiatan remedial teaching diperoleh melalui 2 metode: a. Penggabungan dengan hasil evaluasi pembelajaran terjadwal b. Murni diperoleh dari hasil evaluasi remedial teaching

j. Penjurusan Sesuai kesepakatan Madrasah dengan Komite Madrasah serta dengan memperhatikan keadaan sarana dan prasarana yang tersedia di madrasah, maka madrasah menetapkan ada 2 (dua) program studi/jurusan yang diprogramkan, yaitu jurusan Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Waktu Penjurusan 1) Penentuan penjurusan program studi Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Sosial, dan Bahasa dilakukan pada akhir semester 2 kelas X. 2) Pelaksanaan penjurusan pada semester 1 kelas XI.

Kriteria penjurusan : 1) Peserta didik yang bersangkutan naik ke kelas XI 2) Peserta didik dinyatakan masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, apabila yang bersangkutan berminat matapelajaran ke jurusan Ilmu Alam dan nilai

yang menjadi ciri khas jurusan ilmu alam ( matematika,

fisika, kimia dan biologi) mencapai kategori tuntas. 3) Peserta didik dinyatakan masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, apabila yang bersangkutan berminat ke jurusan Ilmu Sosial dan nilai mata pelajaran

yang menjadi ciri khas jurusan Ilmu Sosial ( ekonomi, geografi, sejarah dan sosiologi) mencapai kategori tuntas.

k. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dan lulusan diatur oleh madrasah mengacu kepada ketentuanketentuan yang ditetapkan oleh Diknas dan Depag. a. Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun pelajaran atau pada akhir semester 2. b. Ketentuan kenaikan kelas didasarkan pada hasil penilaian yang dilakukan pada semester 2. c. Peserta didik dinyatakan Naik ke kelas XI, apabila yang bersangkutan memiliki: 1) Mata pelajaran yang tidak mencapai ketuntasan batas minimal (SKBM) maksimum 3 (tiga) mata pelajaran 2) Kehadiran minimal 90% d. Peserta didik dinyatakan Naik ke kelas XII, apabila yang bersangkutan memiliki: 1) Mata pelajaran yang tidak mencapai ketuntasan batas minimal (SKBM) maksimum 4 (empat) mata pelajaran 2) Untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, semua mata pelajaran yang menjadi ciri khas Ilmu Pengetahuan Alam (Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi) mencapai ketuntasan belajar minimal (SKBM). 3) Untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, semua mata pelajaran yang menjadi ciri khas Ilmu Pengetahuan Sosial (Ekonomi, Geografi, Sejarah dan Sosiologi) mencapai ketuntasan belajar minimal (SKBM). 4) Untuk semua jurusan, semua mata pelajaran yang menjadi ciri khas jurusan Agama (Qurdis, Fiqih Aqidah Akhlak) mencapai ketuntasan belajar minimal (SKBM). 5) Kehadirannya minimal 90%.

6) Peserta didik dinyatakan Lulus dari MAN Binong apabila memenuhi kriteria kelulusan, sebagaimana tercantum dalam kriteria kelulusan Ujian Nasional dan Madrasah Kriteria Kelulusan Ujian Nasional 1) Memiliki nilai rata-rata minimal 5.25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah 4.25; atau 2) memiliki nilai minimal 4.00 pada salah satu mata pelajaran, dengan nilai pada 2 (dua) mata pelajaran lainnya masing-masing minimal 6,00 3) Satuan pendidikan dapat menetapkan batas kelulusan di atas nilai sebagaimana disebutkan pada poin (1) dan (2) dengan syarat

mendapat persetujuan dari Komite Madrasah dan dilaporkan pada Kanwil di Kandepag. Kriteria Kelulusan Ujian Madrasah 1) 2) 3) 4) 5) Memiliki nilai rata-rata minimum 6.00 Lulus ujian praktek untuk semua mata ujian praktek. Kepribadian sekurang-kurangnya mendapat nilai baik bebas dari Narkoba Memiliki nilai minimum setiap mata pelajaran Ujian Madrasah, berdasarkan kriteria ketuntasan minimal

BAB III KALENDER PENDIDIKAN

Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.

A. Alokasi Waktu Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran. Sekolah/madrasah dapat mengalokasikan lamanya minggu efektif belajar sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri Permulaan tahu pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.

Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal. Hari libur sekolah/madrasah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, kepala daerah tingkat kabupaten/kota, dan atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menempatkan hari libur khusus.

Sekolah/madrasah pada daerah tertentu yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengatur hari libur keagamaan sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif. Bagi sekolah/madrasah yang memerlukan kegiatan khusus dapat mengalokasikan waktu secara khusus tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif.

Hari libur umum/nasional atau penetapan hari serentak untuk setiap jenjang dan jenis pendidikan disesuaikan denga peraturan pemerintah pusat/provinsi/Kabupaten.

Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan

No 1.

Kegiatan Minggu efektif belajar

Alokasi Waktu Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu

Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan

2.

Jeda tengah semester

Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu

Satu minggu setiap semester

3.

Jeda antarsemester

Antara semester I dan II

4.

Libur akhir tahun pelajaran

Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu

Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran

5.

Hari libur keagamaan

Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

6.

Hari libur umum/nasional

Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu

Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masingmasing

7.

Hari libur khusus

8.

Kegiatan khusus sekolah/madrasah

Maksimum 3 minggu

Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

B. Penetapan Kalender Pendidikan 1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. 2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, kepala daerah tingkat kabupaten/kota 3. Pemerintah pusat/provinsi/kabupaten/kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. 4. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen standar isi ini dengan memerhatikan ketentuan dari pemerintah/ pemerintah daerah. 5. Hari belajar efektif adalah hari belajar yang betul-betul digunakan untuk kegiatan pembelajaran, sesuai dengan tuntutan kurikulum. 6. Jumlah hari belajar efektif dalam 1 tahun pelajaran 228 hari belajar yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, sesuai dengan kurikulum yang berlaku. 7. Jam belajar efektif adalah jam belajar yang betul-betul digunakan untuk proses pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum. Jumlah jam belajar efektif setiap minggu untuk kelas X, XI, dan XII masing-masing 42 jam pelajaran, dengan alokasi waktu 45 menit per jam pelajaran. Jumlah jam belajar efektif selama satu tahun untuk kelas X, XI, dan XII masing-masing 1.596 jam pelajaran. Sesuai acuan penetapan kalender pendidikan, MAN Binong berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Departemen Agama Provinsi Jawa Barat Nomor

Kw.10.1.1/I/PP.01.1/2412/2008

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka kalender pendidikan MAN Binong diatur sebagai berikut. Perhitungan Hari Belajar Sekolah Efektif, Penyerahan Buku Laporan Penilaian perkembangan/Buku Laporan Penilaian Hasil Belajar (Rapor), Hari Libur Sekolah, Hari Libur Bulan Ramadhan/Hari Raya Idulfitri, Peringatan Hari Besar Nasional, dan Perkiraan Hari Libur Umum, Tahun Pelajaran 2008/2009
Hari Sekolah Penyerahan Rapor Smt/mid Minggu Hari Libur Umum Ramadhan/Hari raya

Semester

Bulan/Tahun

14 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 1 Oktober 2008 November 2008 Desember 2008 11 Januari 2009

15 25 18 17 25 22

1 1 9

2 5 4 4 5 4 2

1 1 2 2 3 -

6 8 -

Jumlah

122

1

10

26

9

14

12 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 II April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Jumlah Jumlah dalam 1 Tahun Pelajaran 2008/2009

17 24 24 25 24 24 138 250

1 1 2

2 10 12 22

2 4 5 4 5 4 2 26 52

1 2 1 2 6 15 14

Hari Pertama Masuk Sekolah, Kegiatan Tengah Semester, Ulangan Umum, Ujian AkhirSekolah/Nasional, Penyerahan Rapor, Upacara Hari Nasional, Libur Sekolah, Libur Umum, Libur Bulan Ramadan, Idulfitri No Waktu Kegiatan 1

BAB V PENUTUP

Dengan telah selesainya penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) MAN Binong pada awal tahun pelajaran 2007/2008 maka salah satu pedoman dan acuan dalam kegiatan belajar mengajar telah dimiliki oleh SMA/MA Dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006 maka MAN Binong yang sebelumnya telah menggunakan Kurikulum Berbasis

Kompetensi (KBK) yang dikenal Kurikulum 2004 pada semua tingkatan kelas langsung melaksanakan Kurikulum 2006 serempak pada semua tingkatan kelas pada tahun pelajaran 2007/2008. MAN Binong ini memenuhi syarat sehingga rencana kami mengembangkan MAN Binong dapat berhasil dengan baik. Kami juga sangat mengharap dukungan dari semua pihak, khususnya guru, karyawan, maupun para siswa serta masyarakat yang sebagian besar terwakili oleh orang tua siswa. Banyak bantuan yang sudah diberikan kepada kami dari berbagai pihak, kami mengucapkan banyak terima kasih. Kepada pemerintah yang memberi kesempatan kepada kami untuk menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), semoga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) MAN Binong ini mampu menjadi sarana bagi madrasah untuk ikut mencerdaskan generasi muda harapan bangsa. Amin

TIM PENYUSUN

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Madrasah Aliyah Negeri Binong

DEPARTEMEN AGAMA RI
MADRASAH ALIYAH NEGERI BINONG
Jalan Babakan Resik No. 3 Cicadas Binong Kabupaten Subang Telp. (0260) 453306 Kode Pos 41252


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:4047
posted:6/13/2009
language:Indonesian
pages:31
Description: ktsp madrasah aliyah binong