makalah PROFESIONALISME

Document Sample
makalah PROFESIONALISME Powered By Docstoc
					                                         BAB I
                                    PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
       Apabila kita berbicara masalah pendidikan tidak terlepas dari peran seorang
guru, karena guru adalah pendidik dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan. Pada tanggal 25 November kita telah memperingati Hari Guru Nasional,
pada tanggal tersebut para ”Oemar Bakrie” mendapatkan sorotan, kritikan dan
komentar-komentar di media massa. Ada banyak hal yang menjadi sorotan pada
HGN misalnya kesejahteraan guru, pengangkatan PNS dan yang menjadi topik
pembicaraan yang paling panas masalah sertifikasi guru, profesionalisme setelah
kepemilikan sertifikat, masalah logika keliru tentang sertifikasi, penilaian sertifikasi
dan masalah kejujuran dalam usaha mendapatkan portofolio.

       Peringatan HGN tersebut,hendaknya menjadi momentum oleh kita semua,
terutama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan bukan hanya tugas pendidik
saja yang mengurusi pendidikan dan persoalan guru, agar lebih arif dan bijaksana
melihat persoalan-persoalan tersebut hari ini dan ke depan. Pada saat Sekarang ini
profesi guru sedang banyak diminati oleh para sarjana baik lulusan kependidikan
atau non kependidikan bahkan karyawan. Apalagi sekarang Pemerintah mulai benar
benar memperhatikan kesejahteraan guru ini dengan adanya sertifikasi guru sebagai
bukti Profesionalnya seorang guru

       Dengan adanya undang-undang guru dan dosen (UUGD) no 14 tahun 2005
pasal 1 ayat 1 yang menyebutkan menyebutkan bahwa Guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dari pasal tersebut,
jelas guru di jadikan sebagai profesi. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen merupakan sebuah perjuangan sekaligus komitmen untuk
meningakatkan     kualitas   guru    yaitu   kualifikasi   akademik   dan   kompetensi
profesionalisme seorang pendidik sebagai agen pembelajaran.
       Upaya pemerintah sangat baik dalam memperhatikan profesi guru dan dosen
sebagai profesi pendidik. Sedangkan kompetensi profesi pendidik meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan
kompetensi sosial. Dengan sertifikat profesi, yang diperoleh setelah melalui uji
sertifikasi lewat penilaian portofolio (rekaman kinerja) guru, maka seorang guru
berhak mendapat tunjangan profesi sebesar 1 bulan gaji pokok. Intinya, Undang-
Undang Guru dan Dosen adalah upaya meningkatkan kualitas kompetensi guru
seiring dengan peningkatan kesejahteraan mereka.

       Sekarang menjadi guru profesional, adalah tuntutan mutlak yang harus dicapai
seorang guru sekarang. Apalagi amanah yang diberikan pemerintah kepada guru
sangat besar sekali. Baik buruknya generasi muda yang akan datang sangat
dipengaruhi kualitas pendidiknya, termasuk di dalamnya guru. Artinya, hitam
putihnya mutu pendidikan nasional sangat ditentukan oleh guru.



B. Rumusan Masalah
       Rumusan masalah dari makalah ini antara lain :

   1. Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap profesi guru dan dosen sekarang ini
   2. Bagaimana menjadi guru yang professional
   3. Apakah bisa dikatakan guru itu professional setelah mendapatkan sertifikat
       profesi guru




C. Tujuan

       Tujuan dari pembuatan makalah :

   1. Memberi pengetahuan tentang apa itu profesi guru professional
   2. Memberi wawasan tentang sertifikasi profesi guru
   3. Agar tidak salah persepsi tentang profesionalisme guru terhadap sertifikasi
   4. Menjadikan diskusi terhadap masalah makalah ini
                                       BAB II
                              TINJAUAN PUSTAKA




         Menjadi guru profesional adalah dambaan setiap guru. Namun bagaimana
agar menjadi guru profesional tersebut terwujud ? menurut Zainal Aqib, (2002).
setidaknya beberapa hal di bawah ini menjadi pedoman bagi guru.

1.     Filsafat Pendidikan
       Filsafat pendidikan merupakan ilmu yang memberi jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan dalam lapangan pendidikan. Menurut
para ahli filsafat Amerika, John S. Brubacher dan Theodore Brameld, ada empat
aliran filsafat pendidikan, yaitu : Perenialisme, Esensialisme, Progresivisme, dan
Rekonstruksionisme. Progresivisme merupakan aliran yang dapat dijadikan pedoman
bagi guru, karena menghendaki pendidikan yang fleksibel dan senantiasa disesuaikan
dengan situasi dan kondisi.

2.     Teori Pendidikan
Teori-teori yang menjadi landasan filsafat pendidikan yang telah berkembang sejak
abad ke-17 adalah teori Empirisme, teori Nativisme, dan teori Konvergensi. Teori
Empirisme berpendapat bahwa perkembangan manusia sangat ditentukan oleh faktor
lingkungan, terutama pendidikan. Teori ini dipelopori ahli filsafat dan pendidikan
John Locke dengan teorinya Tabularaba. Teori Nativisme berpendapat bahwa
perkembangan pribadi sangat ditentang oleh faktor hereditas yang potensial berasal
dari dalam diri anak. Teori ini dipelopori Arthur Schopenlaver. Sedangkan Teori
Konvergensi menyatakan bahwa perkembangan pribadi manusia merupakan hasil dari
proses kerjasama antara hereditas (pembawaan) dan environment (lingkungan). Teori
ini dipelopori oleh William Stern.

3.     Tujuan Pendidikan
       Dalam sistem pendidikan di Indonesia, urutan tujuan pendidikan adalah tujuan
pendidikan national, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
Tujuan-tuJuan tersebut dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan.
       Benyamin S. Bloom dengan “the taxonomy of education objective”
(taksonomi tujuan Pemerintah) berpendapat bahwa tujuan pendidikan dapat
diklasifikasikan kedalam tiga domein, yaitu domein kognitif (berpikir), domein afektif
(sikap), dan domein Psikomotor (skill).

4.     Belajar dan Pembelajaran
       Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan
sejumlah pengetahuan. Sedangkan ahli pendidikan modern berpendapat bahwa
belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau berubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dalam bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan, misalnya
dari tidak tahu menjadi tahu.

       Belajar menurut teori ilmu jiwa daya adalah usaha melatih daya-daya
(berfikir, mengenal, mengingat, mengamati dan lain-lain) agar berkembang, sehingga
dapat berfikir, mengingat, dan sebagainya. Belajar menurut teori ilmu jiwa asosiasi
berarti membentuk hubungan-hubungan stimulus-response dan melatih hubungan itu
agar bertalian erat. Sedangkan belajar menurut teori ilmu jiwa gestalt berarti
mengalami, bereaksi, berbuat, dan berfikir secara kritis.

       Robert M.Gagne mencoba melihat berbagai macam teori belajar dalam satu
kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne, belajar
mempunyai delapan tipe. Kedelapan tipe adalah: belajar isyarat, belajar stimulus-
respons, belajar rangkaian, asosiasi verbal, belajar diskriminasi, belajar konsep,
belajar aturan, dan belajar pemecahan masalah.

5.     Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran
       Seorang guru professional akan terlihat bagaimana kinerjanya di sekolah.
Guru profesional mesti memahami Kode etik guru, Ikrar guru, dan terampil dalam
mengajar. Ketrampilan atau kemampuan dasar profesional guru meliputi :
Penguasaan bahan, mengelola program pengajaran dengan baik, mengelola kelas,
mengunakan media sumber, menguasai landasan kependidikan, mengelola interaksi
pembelajaran, menilai prestasi siswa, mengenal fungsi dan program layanan
bimbingan dan konseling, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan
memahami dan melaksanakan penelitian tindakan kelas.
         Untuk menunjang profesionalisme guru dalam pembelajaran, guru perlu juga
memahami teknologi pembelajaran, teori belavioristik dan teori konstruktivistik,
Quantum learning dan quantum teaching, MBS dan manajemen sekolah.

         Menurut Afrianto Daud (2006), Masalah profesionalisme guru adalah isu
yang paling serius diantara permasalahan lain yang dihadapi guru kita. Pembicaraan
mengenai problematika guru sering sampai pada kesimpulan bahwa sampai hari ini
sepertinya guru "belum percaya diri" menyebut profesi mereka sebagai sebuah profesi
yang sejajar dengan profesi lainnya, seperti dokter, pengacara, hakim, atau psikolog.
Dengan kata lain, guru seperti "tak bisa" menyebut diri mereka sebagai seorang
profesional yang sejajar dengan para profesional di bidang yang lain.

         Hal ini disebabkan karena mereka sadar bahwa suatu jenis pekerjaan yang
disebut profesi idelnya memiliki kedudukan lebih dibanding dengan pekerjaan lain
yang tidak dianggap sebagai profesi. Kedudukan lebih itu bisa berupa materiil
maupun sprirituil. Disamping itu, untuk menjadi profesional harus memenuhi kriteria
dan     persyaratan   tertentu.   Seorang   profesional   menunjukkan   pengetahuan,
keterampilan, dan sikap lebih dibanding pekerja lainnya. Maka untuk menjadi
profesional, seseorang harus memenuhi kualifikasi minimun, sertifikasi, serta
memiliki etika profesi (Nurkholis, 2004).

         Menurut Muhammad Nurdin (2008), Suatu pekerjaan dapat             dikatakan
professional apabila memenuhi kriteria atau syarat berikut :

1.    Memiliki spesialisasi ilmu dengan latar belakang yang baku
2.    Memiliki kode etik dalam menjalankan profesi
3.    Memiliki organisasi profesi
4.    Diakui oleh masyarakat
5.    Sebagai panggilan hidup
6.    Harus dilengkapi kecakapan diagnostik
7.    Mempunyai klien yang jelas


       Menurut Zainurie (2007), ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang
guru untuk mendapat pengakuan sebagai guru yang baik dan professional yaitu :
1. Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran
     yang akan diberikan kepada siswa.
2. Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa siswa yang kita ajar, memiliki tingkat
     kepandaian yang berbeda-beda.
3. Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan
  yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu
  kita mulai dan sedang mengajar.
4. Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung
  karena perilaku siswa.
5. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa. Jangan memarahi
  siswa yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan
  yang diajukan siswa dengan baik.
6. Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya.
7. Tidak    sombong.Tidak    menyombongkan       diri   di   hadapan   murid/jangan
  membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di
  lingkungan lain.
8. Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi guru yang baik, maka seorang
  guru harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu
  untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat
  perbuatan salah yang kita lakukan.
9. Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada siswa.
  Jangan membeda-bedakan siswa yang pandai/mampu dan siswa yang kurang
  pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang
  pandai di hadapan siswa yang kurang pandai.

          Menurut Arifanto Daud (2006), sekalipun masih ada perdebatan tentang
siapa yang paling berhak menyelenggarakan program sertifikasi dan yang melakukan
uji komptensi guru, namun terlepas dari siapa yang meyelenggarakan, program
sertifikasi dan uji kompetensi jelas akan berdampak positif bagi proses terbentuknya
guru yang profesional di masa datang. Selain karena dengan program sertifikasi dan
uji kompetensi akan ada proses terukur bagi seseorang layak disebut sebagai guru,
juga karena program ini bisa menjawab permasalahan klasik guru menyangkut
kesejahteraan karena pasal 16 ayat (1) dan (2) UU 14/2005 menyebutkan bahwa guru
yang memiliki sertifikat pendidik akan memperoleh tunjangan profesi sebesar satu
kali gaji pokok dan diberikan oleh pemerintah kepada guru sekolah negeri maupun
swasta.
       Rustantiningsih(2007), pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk
meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya,
bahkan melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat
yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan
banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang
yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi. Untuk
mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus
memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang
Dosen dan Guru, yakni:

   1. kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta
       didik,
   2. kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap,
       berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,
   3. kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas
       mendalam,
   4. kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan
       berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru,
       orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
                                       BAB III
                                    PEMBAHASAN

A. Profesi Guru Dimata Masyarakat

      Sekarang profesi guru sedang banyak diminati oleh para sarjana baik lulusan
kependidikan atau non kependidikan bahkan karyawan. Apalagi sekarang Pemerintah
mulai benar benar memperhatikan kesejahteraan guru ini dengan adanya sertifikasi
guru sebagai bukti Profesionalnya seorang guru. Menjadi guru memang tidak
gampang seperti yang dibayangkan orang dan katanya kurang gaul dibandiing profesi
lainnya. Sejatinya menjadi guru kalau hanya sekedar untuk meraih sebuah tunjangan
hari tua seperti adanya tunjangan Profesi jika lulus sertifikasi sangatlah basi. Profesi
pendidik adalah Profesi yang mulia jadi jangan hanya menjadi tujuan untuk mencari
kekayaan lalu menjadi guru , jangan menjadi alternatif mencari nafkah tetapi jadikan
guru sebuah pengabdian.

      Menurut Zainurie (2008), tugas guru di sekolah sebenarnya memiliki tugas
ganda yaitu, sebagai pengajar dan juga sebagai pendidik. Sebagai pengajar guru
berperan dalam transfer of knowledge, yaitu menuangkan sejumlah bahan pelajaran
ke dalam otak anak didik. Sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing
anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, mandiri, dan
memiliki kredibilitas moralitas dan integritas.

          Seperti telah tertuang di pendahuluan, bahwa saat ini sosok guru mendapat
sorotan     dimata masyarakat. Melalui media massa, kita sering mendengar kasus
seorang guru menganiaya muridnya, mencabuli muridnya & menghukum muridnya
sampai diluar batas yang membuat wibawah guru mulai pudar dimata masyarakat.
Disinilah terlihat peran guru sesungguhnya, menjadi pengajar sekaligus pendidik atau
hanya mengajar saja. Bisa dikatakan oknum guru yang telah menghilangkan pamor
guru di masyarakat tersebut disebut guru yang tidak professional, dan tidak layak
mendapat sertifikat profesi guru.

          Menurut Sugeng Hariyadi,S.Pd selaku Ketua program studi Biologi. Sekarang
ini guru bukan merupakan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, melainkan “Guru adalah
Pahlawan Pendidikan”. Itu sangat jelas sekarang ini predikat     guru tanpa tanda jasa
ibarat air yang berada di daun talas, air tersebut tidak ada bekas nya, bukan berarti
guru harus di hargai tetapi selayaknya ditempatkan pada tempatnya dan guru
merupakan pilar pendidikan. Sekarang ini pemerintah sudah melakukannya dengan
cara menempatkan pekerjaan guru sebagai profesi yang di atur dalam UUGD.

       Beliau menambahkan.”Sekarang ini masyarakat mulai sedikit sadar akan arti
sebuah pendidikan, itu dapat dilihat masyarakat sekarang ini telah menyekolahkan
anak-anaknya sampai level tertinggi”. Menurut Sawali (2007), pergeseran nilai yang
melanda masyarakat modern, agaknya juga membawa dampak terjadinya pergeseran
penilaian masyarakat terhadap dunia pendidikan. Urusan pendidikan anak-anak hanya
dibebankan kepada lembaga pendidikan (sekolah), sehingga kalau ada pelajar yang
terlibat dalam perilaku amoral, misalnya, masyarakat dengan enteng menuding guru
sebagai biangnya, lantaran dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai
pendidik.

       Sawali Menambahkan. Tidak kalah pentingnya ialah apresiasi masyarakat
yang cukup manusiawi tentang profesi guru. Guru bukanlah “dewa” atau “nabi” yang
luput dari cacat dan cela. Kalau ada guru yang terlibat dalam kasus amoral, misalnya,
hal itu memang kurang bisa ditolerir. Namun, juga terlalu naif jika buru-buru
menghujatnya tanpa menyikapinya secara arif.

       Berbicara soal profesi guru nerupakan pekerjaan yang mulia, karena
berhubungan dengan pengabdian. Pemerintah sudah menjadikan guru sebagai profesi
yang diatur dalam UU, selayaknya sekarang ini guru meningkatkan keprofesionalan
seorang guru dalam sikap dan       kinerjanya serta mengikuti prosedur yang telah
ditentukan Undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2005 tentang Standar
Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.


B. Menjadi Guru Profesional

        Istilah professional berasal dari profession, yang mengandung arti sama
dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui
pendidikan atau latihan khusus. Ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan
professionalisme yaitu sebagai suatu proses perubahan secara individual maupun
kelompok atau kombinasinya menuju kemampuan profesional tertentu.. Maka guru
professional adalah para ahli di dalam bidangnya yang telah memperoleh pendidikan
atau pelatihan yang khusus untuk pekerjaan iguru yang memiliki kompetensi tertentu
sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh profesi keguruan. (Sudarwan
Danim,2003)
         Bagi guru yang profesioanl, dia harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang
positif. Gilbert H. Hunt menyatakan bahwa guru yang baik itu harus memenuhi tujuh
kriteria: sifat positif dalam membimbing siswa, pengetahuan yang mamadai dalam
mata pelajaran yang dibina,mampu menyampaikan materi pelajaran secara lengkap,
mampu menguasai metodologi pembelajaran, mampu memberikan harapan riil
terhadap siswa, mampu merekasi kebutuhan siswa, mampu menguasi manajemen
kelas.
         Menurut Sugeng Hariyadi,S.Pd. Seorang guru professional harus memiliki
dan menguasai unsur-unsur yang masuk dalam kriteria penilaian dalam pendidikan.
kriteria guru dikatakan professional ada 3 yaitu profesional dalam menjalankan
tugasnya, professional dalam mengevaluasi kerjanya, dan professional menghadapi
kemungkinan adanya masalah-masalah yang timbul dari masyarakat terhadap
kinerjanya. Beliau menambahkan, yang dikatakan professional dalam kinerja nya
yaitu indikatornya kemampuan kompetensi guru tersebut.
         Menurut Dede Mohamad Riva, S.Pd. Profesi guru dan dosen merupakan
bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional. Mereka harus
(1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme,(2) memiliki kualifikasi
pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya, (3)
memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.Di samping itu,
mereka juga harus (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban
dalam melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai
dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya
secara berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum
(sumber UU tentang Guru dan Dosen).

         Bila kita mencermati prinsip-prinsip profesional di atas, kondisi kerja pada
dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki titik lemah pada hal-hal berikut. (1)
Kualifikasi dan latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan bidang tugas. Di
lapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan
kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.(2) Tidak
memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas. Guru profesional
seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif,
personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, seorang guru selain terampil mengajar, juga
memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. (3)
Penghasilan tidak ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.Sementara ini guru yang
berprestasi dan yang tidak berprestasi mendapatkan penghasilan yang sama. Memang
benar sekarang terdapat program sertifikasi. Namun, program tersebut tidak
memberikan peluang kepada seluruh guru. Sertifikasi hanya dapat diikuti oleh guru-
guru yang ditunjuk kepala sekolah yang notabene akan berpotensi subjektif.(4)
Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan profesi secara berkelanjutan. Banyak
guru yang terjebak pada rutinitas. Pihak berwenang pun tidak mendorong guru ke
arah pengembangan kompetensi diri ataupun karier. Hal itu terindikasi dengan
minimnya kesempatan beasiswa yang diberikan kepada guru dan tidak adanya
program pencerdasan guru, misalnya dengan adanya tunjangan buku referensi,
pelatihan berkala, dsb.

C. Profesionalisme Guru = Sertifikat Guru
       Profesionalisme guru kini menjadi sesuatu yang sering kita dengar di
masyarakat seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia. Seperti yang telah tertulis sebelumnya, Profesi menunjuk pada suatu
pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan
terhadap pekerjaan itu. Sedangkan profesional menunjuk dua hal, yakni orangnya dan
penampilan atau kinerja orang itu dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya.
Sementara profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat penampilan
seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu .
(Suparlan, 2006).

       Sekarang ini upaya pemerintah menjadikan guru sebagai profesi terlihat
dengan diterbitkan UUDG No 14 tahun 2005. Sebagai tenaga profesional, maka guru
memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (accupation)
yang memerlukan bidang keahlian khusus, seperti dokter, insinyur, tentara, wartawan,
dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik.
Untuk menjadi guru sebagai profesi ditandai adanya standar kompetensi tertentu,
setelah lulus mendapatkan sertifikat.

       Sebelumnya pengertian sertifikasi yaitu proses pemberian sertifikat pendidik
untuk guru sebagai profesi. Seorang guru yang telah memiliki sertifikat, maka secara
langsung orang akan menyimpulkan bahwa ia adalah seorang guru yang profesional.
Indikasinya, karena ia telah lulus penilaian portofolio. Namun, apakah ada jaminan
jika seorang guru yang telah memiliki sertifikat maka ia secara otomatis sebagai guru
profesional?
          Menurut Sugeng Hariyadi,S.Pd. “Guru yang telah menerima sertifikat profesi
guru belum bisa dikatakan guru itu professional, karena seorang professional harus di
latar belakangi bagaimana kemampuan seseorang menjalankan tugas atau faktor
kognitif. Dilihat faktor luar dari tujuannya memang bagus, tetapi apabila dilihat dari
unsur penilaian sertifikasi ada indikasi dipaksa harus memenuhi unsur-unsur itu, jadi
belum dari dalam diri individu guru tersebut. Untuk menjadi guru yang professional
membutuhkan waktu kurang lebih 10 sampai 20 tahun dan memerlukan biaya yang
mahal.

          Sekarang ini belum jelas indikator konkritnya yang dikatakan guru
professional, apakah nilai-nilai yang didapat oleh siswa atau output apabila siswa
tersebut sudah terjun di masyarakat,ataupun kompetensi yang dia raih. Jadi indicator
yang sebenarnya sekarang yang dimau yaitu memenuhi unsure-unsur portofolio.”

          Menurut Drs.H. Zainal Aqib,M.Pd. “Guru di katakan professional apabila dia
mengikuti sertifikasi dan dinyatakan lulus, Karena yang namanya profesionalisme itu
adalah sebuah istilah yang diperoleh setelah melalui sebuah proses tahapan tertentu”.
Karena ia telah melewati tahapan tertentu itulah, maka itu ia disebut profesional.
“Apabila guru yang sudah professional tidak mengikuti sertifikasi ya selamanya guru
tersebut tidak mendapatkan sertifikat,dan belum professional”.Tambahnya.

          Pendapat dua nara sumber memang ada benarnya, seperti yang dikatakan oleh
Sugeng Hariyadi bahwa seorang guru professional indikatornya apa! Apabila
dianalisis dari jawaban narasumber bahwa guru yang telah mendapat sertifikat apakah
bisa di katakan guru yang professional, jadi bisa ditarik suatu jawaban guruyang telah
lulus sertifikasi bisa dikatakan guru yang professional secara legalitas dan
kontekstual. Tetapi apabila dilihat dari individu guru tersebut harus beberapa aspek
atau pertimbangan-pertimbangan yang perlu di kaji lagi. Menurut Syaharuddin,
Dengan adanya sertifikasi guru dan dosen, maka bukan hanya berarti kesejahteraan
meningkat, akan tetapi, lebih jauh dari itu adalah dapat memaknai sebagai suatu
tuntutan moral yakni dapat menjadi guru yang lebih profesional lagi, hari ini dan akan
datang.
                                      BAB IV
                                     PENUTUP

Kesimpulan
          Pemerintah mulai benar benar memperhatikan kesejahteraan guru ini dengan
adanya sertifikasi guru sebagai bukti Profesionalnya seorang guru yang telah diatur
dalam UUGD. Istilah professional berasal dari profession, yang mengandung arti
sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh
melalui pendidikan atau latihan khusus. Bagi guru yang profesioanl, dia harus
memiliki kriteria-kriteria tertentu yang positif. Gilbert H. Hunt menyatakan bahwa
guru yang baik itu harus memenuhi tujuh kriteria: sifat positif dalam membimbing
siswa, pengetahuan yang mamadai dalam mata pelajaran yang dibina,mampu
menyampaikan materi pelajaran secara lengkap, mampu menguasai metodologi
pembelajaran, mampu memberikan harapan riil terhadap siswa, mampu merekasi
kebutuhan siswa, mampu menguasi manajemen kelas. Selain itu guru professional
harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi social. bahwa guru yang telah
mendapat sertifikat apakah bisa di katakan guru yang professional, jadi bisa ditarik
suatu jawaban guruyang telah lulus sertifikasi bisa dikatakan guru yang professional
secara legalitas dan kontekstual. Tetapi apabila dilihat dari individu guru tersebut
harus beberapa aspek atau pertimbangan-pertimbangan yang perlu di kaji lagi.
Dengan adanya sertifikasi guru dan dosen, maka bukan hanya berarti kesejahteraan
meningkat, akan tetapi, lebih jauh dari itu adalah dapat memaknai sebagai suatu
tuntutan moral yakni dapat menjadi guru yang lebih profesional lagi, hari ini dan akan
datang.
                                  DAFTAR PUSTAKA

AqibZainal.2002.ProfesionalismeGuruDalamPembelajaran.Surabaya;InsanCendekia

DaudAfrianto.2006.     Menjadi   Guru      Profesional,    Mungkinkah?            .
    mailto:anto_pasisia@yahoo.com. Diakses Oktober 27, 2008, 10:03:15 AM.

Gilbert H. Hunt, Et Al. efectie Teaching, Preparation And Implementation, Illnois:
     Charless C. Thomas Publiesher, 1999), P. 15-16

Internet.2007. Profesionalisme Guru http://www.infoskripsi.com/Article/. Oktober
      27, 2008, 10:35:42 AM.

Nugroho Hery.2008. Menjadi Guru Profesional, Mungkinkah?
     http://herynugroho.blog2.plasa.com/2008/08/06/profesionalisme-guru-
     mungkinkah/. Oktober 27, 2008, 10:27:22 AM.

Nurdin Muhammad.2008.Kiat Menjadi Guru Profesional. Jogjakarta; Ar-Ruzz Media.

Riva Dede Muhammad.2007. Upaya Meningkatkan profesionalan Guru.
     http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=9232. Diakses
     Oktober 27, 2008, 10:22:11 AM.

Rustantiningsih.2007. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional. mailto:tantie-
     rose@plasa.com. Diakses Oktober 27, 2008, 10:43:41 AM.

Sumber Pustaka ada yang berupa rekaman wawancara dengan Sugeng Hariyadi,S.Pd
    & Zainal Aqib,M.Pd, file dapat dipertanggung jawabkan.

Sudarwan Danim,Agenda Pemabruan Sistem Pendidikan,(Yogyakarta: Pustaka
     Pelajar, 2003), H. 191-192

Suyatno. 2008. Panduan Sertifikasi Guru. Jakarta; Indeks.


Syaharuddin.2008. Sertifikasi Guru: Menuju Guru Yang Profesional.
http://wordpress.com/tag/artikel/. Diakses Oktober 27, 2008, 10:47:21 AM.

Syifahumaira.2008.     file:///journal/item/2/Menjadi_Guru_Profesional_.    Diakses
      October 27, 2008, 10:45:52 AM.

T.Sawali.2007.http://menulisbuku.wordpress.com/2007/09/13/mempertanyakan-
     apresiasi-masyarakat-terhadap-profesi-guru/. Diakses October 27, 2008,
     10:49:56 AM.

Zainurie.2007.Bagaimana Menjadi Guru yang Baik (Profesional).
     http://zainurie.wordpress.com/2007/05/02/bagaimana-menjadi-guru-yang-
     baik-profesional/. Diakses Oktober 25, 2008, 11:10:27 PM.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5759
posted:2/20/2011
language:Indonesian
pages:14