skripsi PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) by fauzanaziz

VIEWS: 6,974 PAGES: 20

									                                         BAB II
                                     LANDASAN TEORI


A. Interaksi Belajar Mengajar

    1. Pengertian Interaksi Belajar Mengajar

                Menurut Sardiman AM, menjelaskan bahwa : ”Interaksi edukatif adalah

          interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan

          pengajaran ”.1

                Sedangkan menurut Suryosubroto mengartikan bahwa :

                ”Interaksi Edukatif adalah hubungan timbal balik antara guru (pendidik

          dan peserta didik (murid), dalam suatu sistem pengajaran. Interaksi edukatif

          merupakan faktor penting dalam usaha mencapai terwujudnya situasi belajar

          dan mengajar yang baik dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran”. 2

                Sebagaimana dijelaskan oleh Syaiful Bahri Djamara bahwa : ”Interaksi

          edukatif adalah hubungan dua arah antar guru dan anak didik dengan sejumlah

          norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan”. 3

                Menurut beberapa pendapat di atas jelaslah bahwa inetraksi edukatif

          adalah suatu ikatan atau hubungan timbal balik antara guru dan murid dalam

          suatu sistem pengajaran yang mempunyai norma-norma untuk mencapai

          tujuan pendidikan dan pengajaran.

      1
         Sardiman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Raja Grafindo Persada,
2007, Hal 1
       2
         Suryosubroto., Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta, Rineka Cipta, 2002, Hal 156
       3
         Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta, Rineka
Cipta, 2000, Hal 11
                                                                              21

           Syaiful Bahri Djamarah mengemukakan tentang belajar mengajar :

          ”Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilainomatif. Belajar
    mengajar adalah suatu proses yang dilakaukan dengan sadar dan bertujuan.
    Tujuan adalah sebagai pedoman ke arah mana akan dibawa proses belajar
    mengajar. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu
    membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan
    sikap-sikap dalam diri anak didik”.4

             Menurut Sardiman A.M mengemukakan bahwa :

             ”Interaksi belajar mengajar mengandung arti adanya kegiatan

    interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di satu

    pihak, dengan warga belajar (siswa, anak didik/subjek belajar) yang sedang

    melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain”. 5

             Dari pengertian-pengertian di atas, maka penulis menyimpulkan

    bahwa Interaksi belajar mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan yang

    dilaksanakan secara aktif, dimana guru dengan siswa saling berinteraksi untuk

    melakukan pembahasan dan pengkajian suatu materi tertentu sehingga siswa

    berperan aktif dalam belajar dan guru berperan aktif dalam mengajar

             Keaktifan guru dengan siswa dalam proses pembelajaran atau

    interaksi belajar mengajar sangat dibutuhkan agar dapat keinginan yang

    dinamis untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan sesuai dengan tujuan

    interaksi belajar mengajar itu sendiri.




4
    Ibid, Hal 12
5
    Sardiman, A.M., Op.Cit, Hal 1
                                                                                22

2. Fungsi Interaksi Belajar Mengajar

        Dalam bekerja guru cenderung mengelompokan siswa dalam interaksi

   yang    berbeda,   mereka     mengelompokan      sebagai       "golongan   siswa

   berkemampuan tinggi" yang mereka anggap sebagai siwa yang cerdas, patuh,

   tertib, rajin, rapi dan sebagainya. Interaksi kedua adalah "golongan siswa

   berkempuan rendah", mereka adalah yang termasuk siswa yang mempunyai

   nilai rendah, bandel, pemberontak, malas, dan sebagainya.

        Adapun fungsi ineraksi belajar adalah sebagai berikut :

   a.   Untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Subyek dominan,

        guru menyampaikan kepada siswa. Dengan perencanaan dan persiapan

        yang matang, subyek – materi ajar - telah tersusun rapi. Guru tinggal

        menyampaikan, menjelaskan, atau sedikit membantu siswa untuk

        memahaminya. Keunggulan model ini adalah kurikulum tersusun rapi,

        beban guru ringan, mudah menetapkan standar, dan terkendali.

               Melatih insan pendidikan untuk mempersiapkan perencanaan

        pendidikan dengan rapi. Jika ini berhasil, ini merupakan kemajuan besar

        dalam pendidikan. jadi lebih mudah untuk memanage pendidikan. Tentu

        saja, juga menjadi lebih mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

               Tetapi beberapa kesulitan juga tidak mudah diselesaikan. Sudah

        siapkah insan pendidikan menyusun rencana yang matang? Rintangan

        yang lebih serius adalah bagaimana pelaku pendidikan dalam hal ini guru
                                                                                 23

      dapat menumbuhkan kreativitas siswa-siswi bila semuanya telah

      ditetapkan dengan pasti?

b.    Guru dominan, memilihkan subyek untuk siswa. Dalam model ini guru

      memiliki keleluasaan untuk menyelenggarakan pembelajaran. Model ini

      memacu guru untuk terus belajar, menemukan inovasi-inovasi, dan

      bertanggung jawab terhadap hasil lulusan

               Bila mencermati kondisi pendidikan Indonesia secara umum,

      banyak ditemukan variasi yang sangat beragam. Ada sekolah yang guru-

      gurunya lulusan dari universitas-universitas besar dunia. Namun ada juga

      sekolah yang guru-gurunya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi.

      Jadi,    tampaknya       akan   banyak     kesulitan   di     lapangan    bila

      mengimplementasikannnya.

c. Interaksi siswa dan subyek adalah utama, guru memfasilitasi. Dalam

     model ini kualitas interaksi siswa dengan subyek menjadi paling penting.

     Sebenarnya kualitas interaksi guru dan siswa juga penting. Yang jelas,

     model ini sangat memperhatikan kualitas dari interaksi itu sendiri.

              Dalam Interaksi siswa dan subyek ini perlu persiapan yang matang

     dan rapi mengenai subyek yang akan diajarkan. Sekolah juga telah

     mengondisikan      agar    siswa-siswanya    mau    berperan     aktif    dalam

     pembelajaran. Guru berperan ”sekedar” sebagai fasilitator. Siswa dengan

     antusias akan mendalami pembelajaran secara mandiri dengan sedikit

     bantuan guru.
                                                                        24

         Ada banyak keunggulan penerapan Interaksi siswa dan subyek ini

yaitu kualitas interaksi antara siswa, subyek, dan guru. Jadi, perencanaan

berperan untuk memicu terjadinya interaksi berkualitas. Interaksi

berkualitas inilah yang mengarah ke ko-kreasi. Kreasi bersama guru dan

siswa.

         Dalam interaksi ini berpeluang muncul inovasi-inovasi baru baik

dari siswa mau pun dari guru. Mungkin juga terjadi masalah-masalah baru

karena interaksi ini. Hal ini dapat mengantarkan pada kondisi kritis.

         Dari ketiga hal tersebut di atas, yang paling berpeluang untuk

mengantarkan peningkatan kualitas pendidikan adalah Interaksi siswa dan

subyek. Bahkan Interaksi siswa dan subyek dapat mengundang terjadinya

kegagalan.

         CBSA memang mengarah ke Interaksi siswa dan subyek. Tetapi

kenyataan di lapangan CBSA sangat berbeda dengan model Interaksi siswa

dan subyek. Perbedaan utamanya adalah Interaksi siswa dan subyek

menuntut persiapan yang matang dari guru dan lembaga pendidikan

sehingga terpicu interaksi yang berkualitas berupa ko-kreasi. Siswa dan

guru bersama-sama aktif. Meskipun peran aktif guru terutama sebagai

fasilitator. Sedangkan CBSA, kenyataan di lapangan, mengarah pada

memindahkan tanggung jawab pembelajaran kepada siswa. Peran guru dan

lembaga pendidikan tampak masih kurang untuk menciptakan lingkungan

yang memicu ko-kreasi.
                                                                                25

                 Belajar dari pengalaman dan teori yang terus berkembang, dapat

         meningkatkan kualitas pendidikan terus bertambah unggul. Interaksi siswa

         dan subyek juga menjanjikan dapat melahirkan inovasi-inovasi baru dalam

         pendidikan.

                 Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi

         interaksi belajar menagajar ada tiga hal yaitu : subyek dominan, guru

         menyampaikan kepada siswa, guru dominan, memilihkan subyek untuk

         siswa, dan Interaksi siswa dan subyek.


3. Komponen Pendukung Interaksi Belajar Mengajar

              Dalam proses belajar mengajar dan belajar di sekolah sebagai suatu

     sistem interaksi, maka kita akan dihadapkan kepada sejumlah komponen-

     komponen        yang mau tidak mau harus ada. Tanpa adanya komponen-

     komponen tersebut sebenarnya tidak akan terjadi proses interaksi edukatif

     antara guru dengan peserta didik (murid).

              Menurut Suryosubroto ada 5 komponen-komponen pendukung

     Interaksi belajar mengajar yaitu :

         a.   “Tujuan Instruksional
         b.   Bahan Pelajaran (Materi)
         c.   Metode dan alat dalam interaksi
         d.   Sarana, dan
         e.   Evaluasi”. 6




 6
     Suryosubroto., Op.Cit, Hal 157
                                                                               26

             Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah ada 7 komponen-

    komponen Interaksi belajar mengajar yaitu :

        a.   ”Tujuan
        b.   Bahan Pelajaran
        c.   Kegiatan Belajar Mengajar
        d.   Metode
        e.   Alat
        f.   Sumber Pelajaran
        g.   Evaluasi”. 7

    a. Tujuan

             Kegiatan interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang secara

        sadar dilakukan oleh guru. Atas dasar kesadaran itulah guru melakukan

        kegiatan pembuatan program pengajaran, dengan prosedur dan langkah-

        langkah yang sistemati..

             Program yang tidak pernah absen dari agenda kegiatan guru adalah

        pembuatan tujuan pembelajaran, tujuan mempunya arti penting dalam

        kegiatan interaksi belajar mengajar. Tujuan dapat memberikan arah yang

        jelas dan pasti kemana kegiatan pembelajaran akan dibawa oleh guru,

        dengan berpedoman pada tujuan guru dapat menyeleksi tindakan mana

        yang harus dilakukan dan tindakan mana yang harus ditinggalkan.

             Dengan demikian tujuan merupakan salah satu faktor pendukung

        dalam interaksi belajar mengajar karena interaksi belajar mengajar akan

        mempunyai acuan atau arah yang jelas dalam proses belajar mengajar.



7
    Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit, Hal 11
                                                                          27

b. Bahan Pelajaran

      Bahan adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi

   belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran, proses interaksi belajar mengajar

   tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti

   mempelajari dan mempersiapkan bahan pelajaran yang akan disampaikan

   kepada anak didik.

      Guru harus menguasai bahan pelajaran dengan baik, ada dua

   permasalahan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan

   bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran

   pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut mata pelajaran dalam hal

   ini adalah mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), sedangkan

   bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang

   dapat membuka wawasan guru agar dalam mengajar dapat menunjang

   penyampaian bahan pelajaran pokok.

      Jadi bahan pelajaran adalah unsure inti dalam kegiatan interaksi

   belajar mengajar. Karenanya harus diupayakan untuk dikuasai oleh anak

   didik.

c. Kegiatan Belajar Mengajar

      Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan.

   Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam

   kegiatan belajar mengajar. Semua komponen pengajaran akan berproses di

   dalamnya. Komponen inti yakni manusiawi, guru dan anak didik
                                                                        28

   melakukan kegiatan dengan tugas dan tanggungjawab dalam kebersamaan

   berlandaskan interaksi normative untuk bersama-sama mencapai tujuan

   pembelajaran.

      Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar apa pun bentuknya

   sangat ditentukan dari baik tidaknya program pengajaran yang telah

   direncanakan dan akan mempengaruhi tujuan pembelajaran yang akan

   dicapai.

d. Metode

      Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan

   yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode

   diperlukan oleh guru guna kepentingan pembelajaran. Karakteristik

   metode yang memiliki kelebihan dan kelemahan menuntut guru untuk

   menggunakan metode yang bervariasi

      Faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan metode pengajaran

   yaitu tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan

   berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai keadaannya,

   fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya, serta pribadi guru

   dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

e. Alat

      Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka

   mencapai tujuan pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi

   juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan. Dalam
                                                                            29

   kegiatan interaksi edukatif biasanya dipergunakan alat nonmaterial dan

   alat material. Alat nonmaterial berupa suruhan, perintah, larangan, nasihat,

   dan sebagainya. Sedangkan alat material atau alat Bantu pengajaran

   berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide,

   video, dan sebagainya.

      Oleh karenanya, ada kecendrungan dari pihak guru untuk memberikan

   bahan pelajaran sebanyak mungkin dengan memberikan penjelasan yang

   mendekati realitas kehidupan dan pengalaman anak didik.

f. Sumber Pelajaran

      Interaksi belajar mengajar tidaklah berproses dalam kehampaan, tetapi

   ia berproses dalam kemaknaan. Di dalamnya ada sejumlah nilai yang

   disampaikan kepada anak didik. Nilai-nilai itu tidak dating dengan

   sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam

   interaksi belajar mengajar.

      Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali, ada di mana-mana,

   disekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya.

   Pemanfaat sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas

   guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya. Segala sesuatu

   dapat dipergunakan sebagai sumber belajar sesuai kepentingan guna

   mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
                                                                                          30

      g. Evaluasi

                 Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan

             data tentangf sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan

             keberhasilan guru dalam mengajar. Pelaksanaaan evaluasi dilakukan oleh

             guru dengan memakai seperangkat instrument penggali data seperti tes

             perbuatan, tes tertulis, dan tes lisan.

                 Evaluasi ini adalah salah satu faktor pendukung interaksi belajar

             mengajar yaitu untuk mengetahui sebab akibat dari suatu aktivitas

             pengajaran dan hasil belajar anak didik yang mendorong serta

             mengembangkan kemampuan belajar.

                 Dari    konsep     tersebut,   maka     tujuan    evaluasi    adalah   untuk

             mengumpulakn data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik

             dalam mencapai tujuan yang diharapkan, dan menilai metode mengajar

             yang dipergunakan.


B. Prestasi Belajar

   1. Pengertian prestasi Belajar

                 Banyak para ahli telah mengemukakan pendapat mengenai belajar.

      Menurut Oemar Hamalik, ”Belajar adalah modifikasi atau memperteguh

      kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or

      strengthening of behavior through experiencing).8


       8
           Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara, 2007 Hal 27
                                                                                               31

                   Selanjutnya menurut Suparta dan Herry Noer Aly bahwa “belajar

         mengandung arti bahwa belajar adalah perubahan dalam diri seseorang yang

         telah melakukan perbuatan belajar. Perubahan itu bersifat intensional, positif-

         aktif, dan efektif fungsional.”. 9


                   Sardiman menyebutkan bahwa

                ”Belajar dilihat dalam arti luas, belajar dapat               diartikan sebagai
         kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi                   yang seutuhnya,
         kemudian dalam arti sempit belajar dapat diartikan sebagai           usaha penguasaan
         materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian                      kegiatan menuju
         terbentuknya kepribadian seutuhnya”..10

                   Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat diambil

         kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu usaha seseorang untuk

         memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan meliputi perubahan

         aspek kognitif, afektif dan psikomotor, dan perubahan itu diperoleh dari

         latihan atau pengalaman dari lingkungan.

                   Sedangkan pengertian dari Prestasi belajar itu sendiri menurut Suparta

         dan Herry Noer Aly bahwa :

                   ”Prestasi belajar siswa yang dicapai para pelajar menggambarkan hasil

         usaha yang dilakukan oleh guru dalam memfasilitasi dan menciptakan kondisi




         9
             Suparta dan Herry Noer Aly, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Amissco, 2002
Hal 27
         10
              Sardiman AM, Op.Cit, Hal 20
                                                                              32

 kegiatan belajar. Dengan kata lain, tujuan usaha guru itu diukur dengan hasil

 belajar mereka”.11

         Prestasi belajar      siswa    menunjukkan   suatu tingkat keberhasilan

 seseorang dalam menguasai bahan pelajaran setelah diadakan proses belajar

 mengajar prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai pada saat

 dilakukan evaluasi. Menurut Jahja Qohar Al Haj dalam Syaiful Bahri

 Djamarah menyebutkan bahwa

         ”Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga
 nilai berdasarkan kriteria tertentu, untuk mendapatkan evaluasi yang
 meyakinkan dan objektif dimulai dari informasi-informasi kuantitatif dan
 kualitatif. Instrumennya (alatnya) harus cukup sahih, kukuh, praktis, dan jujur.
 Data yang dikumpulkan dari pengadministrasian instrumen itu hendaklah
 diolah dengan tepat dan digambarkan pemakaiannya.”12

         Menurut Oemar Hamalik, fungsi utama evaluasi adalah untuk

 menentukan hasil-hasil urutan pengajaran yang bertalian langsung dengan

 penguasaan tujuan-tujuan yang menjadi target pengajaran.13

         Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan

 bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah pencapaian hasil belajar

 siswa yang berupa penghargaan atau nilai yang diperoleh setelah mengikuti

 kegiatan belajar mengajar yang diberikan oleh guru.




11
   Suparta dan Herry Noer Aly, Op.Cit, 2002 Hal 52
12
    Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit, Hal 207
13
   Oemar Hamalik, Op.Cit, Hal 145
                                                                             33

2. Kreteria Prestasi Belajar

         Kriteria yang dapat digunakan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana

   prestasi belajar siswa menurut Munzier Suparta dan Herry Noer Aly : ”Ada

   tiga yaitu segi kognitif, segi afektif dan segi psikomotorik” 14

         Segi kognitif diukur dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa

   terhadap bahan pelajaran, segi afektif diukur dari sikap dan tindakan siswa

   yang dilakukannya dalam lingkungan kehidupannya sehari-hari melalui

   pengamatan oleh guru tersebut, sedangkan dari segi psikomotorik diukur

   melalui keterampilannya dalam mempraktekkan proses tertentu secara

   prosedural atau aturan tertentu.

         Dan secara kualitas pengukuran prestasi belajar tersebut adalah :

   a.    ”10         : Istimewa
   b.    9           : Lebih Baik
   c.    8           : Baik
   d.    7           : Lebih dari cukup
   e.    6           : Cukup
   f.    5           : Kurang
   g.    4           : Kurang sekali
   h.    3           : Buruk
   i.    2           : Buruk sekali”15

               Berdasarkan Dengan kriteria di atas diharapkan kepada agar siswa

   dapat mencapai prestasi belajar yang baik karena dengan demikian maka

   menunjukkan pula tingkat penguasaannya terhadap materi pelajaran dapat

   berjalan secara maksimal.


  14
       Suparta dan Herry Noer Aly, Op.Cit, Hal 52
  15
       Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Raport,
                                                                              34

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar.

          Para ahli telah mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi

   prestasi belajar seseorang. Faktor-faktor yang mereka kemukakan cukup

   beragam, tapi pada dasarnya dapat dikategorikan ke dalam dua faktor, yaitu :

   a. Faktor yang datang dari dalam diri pelajar

            Faktor yang datang dari dalam diri pelajar terutama kemampuan

      yang dimilikinya. Faktor kemampuan pelajar besar sekali pengaruhnya

      terhadap prestasi belajar yang dicapai.

            Disamping kemampuan, faktor lain yang juga mempunyai kontribusi

      terhadap prestasi belajar seseorang ialah motivasi belajar, minat dan

      perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor

      psikis, adanya pengaruh dari dalam diri pelajar merupakan hal yang logis

      jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku

      individu yang disadarinya.

            Jadi sejauh mana usaha pelajar untuk mengkondisikan dirinya bagi

      perbuatan belajar, sejauh itu pula prestasi belajar akan dicapai.

   b. Faktor yang datang dari luar diri pelajar

            Faktor yang datang dari luar diri pelajar adalah lingkungan. Salah

      satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi prestasi

      belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran yang dikelola oleh guru.

      Prestasi belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. Oleh
                                                                                35

       sebab itu, prestasi blejar di sekolah dipengaruhi oleh kapasitas pelajar dan

       kuantitas pengajaran.

                  Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor-

       faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar pada siswa terdiri dari

       karakterisitik siswa, faktor pengajar, bahan dan materi yang dipelajari,

       media pengajaran, karakteristik fisik sekolah, dan faktor lingkungan dan

       situasi.

                  Munzier Suparta dan Herry Noer Aly pada dasarnya faktor yang

       mempengaruhi hasil belajar seseorang dapat dikatagorikan kedalam dua

       faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar dan faktor yang

       datang dari luar diri pelajar atau lingkungan, faktor yang datang dari diri

       pelajar terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor lain yang

       mempengaruhi kontribusi terhadap hasil belajar seseorang ialah motivasi

       belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,

       faktor fisik dan faktor psikis. Meskipun demikian hasil belajar yang

       dicapai pelajar masih dipengaruhi oleh faktor yang datang dari luar dirinya

       yang disebut lingkungan salah satunya ialah kualitas pengajaran yang

       dikelola oleh guru, kapasitas pelajar dan kualitas pengajaran16

           Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa siswa yang sedang

       mengalami proses belajar, supaya dapat berhasil sesuai dengan tujuan

       yang akan dicapai, perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat
16
     Suparta dan Herry Noer Aly, Op.Cit, Hal 59
                                                                                           36

            mempengaruhi prestasi belajar tersebut. Menjauhkan dari faktor-faktor

            yang menghambat dan senantiasa mengusahakan adanya faktor yang

            menunjang belajar.


C. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

   1. Pengertian Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

             Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah salah satu bagian
      mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan
      peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan
      Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life)
      melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan
      pembiasaan..17

                 Wilayah keilmuan dan kajian Sejarah Kebudayaan Islam dalam

      kedudukannya sebagai ilmu-ilmu sosial keislaman, tampak akan selalu

      bersentuhan dan bahkan tumpang tindih dengan bidang yang lain. Akan tetapi

      bila dikembalikan kepada akar disiplinnya, “ Sejarah Kebudayaan Islam” itu

      sendiri adalah disiplin yang mengarah kepada “ Sejarah Kebudayaan Islam” di

      satu segi, yang berarti keilmuannya menekankan kepada aspek-aspek Islam

      sepanjang       sejarah;   sedangkan      pada    segi    lain   menekankan       kepada

      “Kebudayaan Islam”, yang keilmuannya berupa aspek-aspek kebudayaan yang

      bersifat sinkronik di dalam kehidupan umat Islam, Dengan pengertian lain

      penekanan ilmu yang kedua ini tidak memperdalam segi kesejarahannya. Jadi

      dalam hal ini antara keduanya dapat dibedakan pula dari segi pendekatan:


     17
          Departemen Agama RI, Kurikulum Standar Kompetensi , Jakarta, , 2005, Hal 68
                                                                             37

  yang pertama menekankan pada “Pendekatan Sejarah” dan yang lain lebih

  mengutamakan        “Pendekatan   Antropologi”.   Untuk   inilah   selanjutnya

  pengembangan ilmu “Sejarah dan Kebudayaan Islam” dapat diarahkan

  menjadi dua konsentrasi penelitian, yaitu konsentrasi Sejarah Kebudayaan

  Islam dan konsentrasi kebudayaan Islam.

2. Dasar dan Tujuan Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam

             Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah

  satu mata pelajaran PAI yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan,

  peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam

  sejarah Islam pada masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-

  Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai

  dengan masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial, mata pelajaran Sejarah

  Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada

  peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan

  Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk

  melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik.

      Adapun yang menjadi tujuan mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam

  adalah :

  a. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari

      landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun

      oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan

      peradaban Islam.
                                                                          38

   b. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat

      yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa

      depan

   c. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara

      benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

   d. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap

      peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa

      lampau.

   e. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari

      peristiwa-peristiwa    bersejarah   (Islam),   meneladani   tokoh-tokoh

      berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik,

      ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan

      dan peradaban Islam.

3. Fungsi Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

        Sejarah sebagai pengetahuan yang merupakan capaian ranah kognitif

   dianggap sebagai capaian paling luar dari proses pembelajaran sejarah

   yang hakiki. Hal yang lebih mendasar adalah terletak pada kemampuan

   menggali nilai, makna, aksioma, ibrah/hikmah, dalil dan teori dari fakta

   sejarah yang ada. Oleh karena itu dalam tema-tema tertentu indikator

   keberhasilan belajar akan sampai pada capaian ranah afektif psikomotorik.

   Jadi SKI tidak saja merupakan transfer knowledge tetapi juga merupakan

   pendidikan nilai (value education)
                                                                                       39

     Setidaknya ada tiga fungsi dasar pembelajaran SKI
1) “Fungsi Edukatif
   Sejarah menegaskan kepada siswa tentang keharusan menegakkan nilai,
   prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam menjalankan
   kehidupan sehari-hari.
2) Fungsi Keilmuan
   Melalui sejarah siswa memperoleh pengetahuan yang memadahi
   tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
3) Fungsi transformasi
   Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam
   merancang transformasi masyarakat.”18


           Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan fungsi mempelajari

Sejarah Kebudayaan Islam antara lain Fungsi edukatif menanamkan prinsip

kepada siswa tentang sikap hidup yang luhur dan islami, fungsi keilmuan agar

siswa memperoleh pengetahuan tentang sejara Islam dan kebudayaannya, dan

fungsi transformasi yang merupakan sumber transformasi masyarakat.




18
     Departemen Agama RI, Makalah Sosialisasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,Jakarta, 2003

								
To top