Demam Tifoid (Arief Darmawan)

Document Sample
Demam Tifoid (Arief Darmawan) Powered By Docstoc
					                SUSPEK DEMAM TIFOID
              PADA PASEIN HIPERGLIKEMIA
                       Oleh: Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com

   I.   IDENTITAS
        Nama           : Tn. Rohadi
        Umur           : 52 tahun
        Alamat         : Kepanjen No.321, Banguntapan, Bantul. Yogyakarta
        Pekerjaan      : PNS, Guru SMK Pertanian/Pengusaha Peternakan Sapi
        Agama          : Islam
        Masuk          : Rabu, 17 November 2010 di UGD
        Bangsal        : Dahlia
        Kelas          : II
        No. RM         : 530198
        Sumber Biaya   : Askes Sosial
        Berat badan    : 62 Kg
        Tinggi badan   : 172 cm


   II. PROBLEM
         No          Problem Aktif            Waktu            Problem Pasif          Waktu
         1.   Demam                         Sejak 9     Tidak nyaman bekerja di     Sejak + 1
         2.   Mual                          hari yang   kantor; SMK Pertanian dan   tahun
         3.   Nyeri kepala                  lalu        malah lebih banyak          yang lalu
         4.   Nyeri otot                                menghabiskan waktu di
         5.   Nyeri perut                               peternakan sapi
         6.   Nafsu makan menurun
         7.   Batuk
         8.   Uji Widal positif             17-11-‘10
         9.   Leukositosis
         10. Gangguan fungsi hati
         11. Gangguan fungsi ginjal
         12. Hiperglikemi
         13. Glukosuria                     18-11-‘10
         14   Ketonuria




Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
   I.   IDENTITAS
        Nama                   : Tn. Rohadi
        Umur                   : 52 tahun
        Alamat                 : Kepanjen No.321, Banguntapan, Bantul. Yogyakarta
        Pekerjaan              : PNS, Guru SMK Pertanian/Pengusaha Peternakan Sapi
        Agama                  : Islam
        Masuk                  : Rabu, 17 November 2010 di UGD
        Bangsal/No. RM         : Dahlia kelas II/530198
        Sumber Biaya           : Askes Sosial
        Berat badan            : 62 Kg
        Tinggi badan           : 172 cm

   II. SUBJEKTIF (Anamnesis  Kamis, 18 November 2010)
       A. Keluhan Utama: Demam
       B. Riwayat Penyakit Sekarang
          Pasien datang dengan keluhan demam sejak 10 hari yang lalu. Demam terjadi remiten
          dan terjadi terutama malam hari (+), menggigil (-), mual (+), muntah (-), nyeri kepala (+),
          nyeri perut (+), nyeri otot (+), penurunan nafsu makan (+). Buang air besar dan buang air
          kecil dalam batas normal. Batuk (+), pilek (-). Dalam perjalanan penyakitnya, pasien
          menyangkal pernah mengalami penurunan kesadaran seperti ngantukan/samnolen.

           Riwayat penyakit gula darah tinggi (-), riwayat penyakit jantung dan hipertensi disangkal,
           riwayat penyakit kuning (-). Sebelumnya merasa poliuri/polidipsi/polifagi (-).

           Anamnesis Sistem
           Sistem SSP                : demam (+), penurunan kesadaran (-), nyeri kepala (+), kejang
                                       (-)
           Sistem kardiovaskuler     : pucat (-), kebiruan (-), mimisan (-), gusi berdarah (-)
           Sistem respirasi          : sesak nafas (-), batuk (+), pilek (-),
           Sistem gastrointestinal   : diare (-), mual (+), muntah (-), nyeri perut (+), melena (-),
                                       BAB dempul (-)
           Sistem urogenital         : anyang-anyangan (-), disuria (-), warna seperti teh (-)
           Sistem integumentum       : ikterik (-), pucat (-), kebiruan (-), bengkak (-)
           Sistem muskuloskletal     : gerakan bebas (+), nyeri sendi (-)

        C. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat menderita gula darah tinggi disangkal pasien.

        D. Riwayat Penyakit Keluarga: Pasien mengaku tidak mengetahui dengan pasti tentang
           riwayat penyakit keluarganya.

        E. Riwayat Sosial, Ekonomi dan Gizi
           Hubungan dengan keluarga harmonis, hubungan dengan tetangga baik, pasien seorang
           PNS, guru SMK Pertanian dan berwirausaha sebagai pengusaha peternakan sapi dengan
           status gizi normal (IMT=20,9).

        F. Riwayat Alergi: Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi




Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
   III. OBJEKTIF (Kamis, 18 November 2010)
        A. Keadaan Umum: Pasien kompos mentis, keadaan sakit baik, keadaan gizi baik dengan
           GCS E4V5M6.
        B. Vital Sign
           Tekanan darah          : 120/80 mmHg             Respirasi        : 18 kali/menit
           Nadi                   : 72 kali/menit           Suhu             : 36,2oC
        C. Pemeriksaan Fisik
           1. Kepala:
               a. Mata: CA -/-, SI -/-,
               b. Hidung: Dischard, mimisan (-), sumbatan (-), polip (-),
               c. Sinus: peradangan (-)
               d. Mulut: Mukosa bucal dan bibir lembab (+), stomatitis (-), gigi tidak lengkap (+),
                   lidah typhoid (-); kotor ditengah tepi dan ujung merah serta tremor, Tonsil dan
                   faring d.b.n, suara serak (+), disfagi (-)
               e. Telinga: peradangan (-), dischard (-)
           2. Leher: pembesaran kelenjar gondok (-), limfonodi (-), massa (-), JVP meningkat (-),
               kaku kuduk (-).
           3. Thorak
               a. Inspeksi: Bentuk dada normal (+), retraksi dada (-), pola nafas teratur (+), iktus
                   kordis tampak di SIC 5 linea mid clavikularis, tanda peradangan (-), perbesaran
                   massa (-)
               b. Palpasi: Fremitus suara kanan kiri d.b.n, pergerakan dada simetris (+), ictus kordis
                   teraba di SIC 5 linea mid clavikularis, emfisema subkutis (-)
               c. Perkusi: sonor +/+, batas pengembangan paru kanan 2 SIC, batas pengembangan
                   paru kiri 2 SIC. Batas paru hepar SIC 6 lines mid clavicularis dan SIC 6 lines axilaris
                   anterior.
               d. Auskultasi: Suara paru: vesikuler +/+, Suara jantung: S1-S2 reguler, bising jantung
                   (-).
           4. Abdomen
               a. Inspeksi: permukaan abdomen flat (+), roseolae (-), tanda peradangan dan
                   perbesaran massa (-), darm kontour dan darm steifung (-).
               b. Auskultasi: peristaltik usus 18 kali permenit (+)
               c. Perkusi: timpani (+)
               d. Palpasi: supel (+), nyeri tekan ulu hati (+), nyeri alih (-), perbesaran organ
                   (hepatosplenomegali negatif) dan massa (-)
           5. Ekstremitas: akral hangat (+), nadi kuat (+), kapilar refil <2 detik (+), sensibilitas baik,
               hemiplegi (-), hemiparese (-), kaku kuduk (-), parestesia (-), nyeri pergerakan (-),
               edema (-), peradangan sendi (-). Kuku: clubing/sianosis (-)

       D. Pemeriksaan Penunjang
          1. EKG:
             Tanggal 17 November 2010  Sinut Takikardi 113 bpm
          2. Darah Rutin dan Kimia Darah
             Patohematologis Tanggal 17 November 2010 Pukul 07.35 WIB
              PARAMETER            HASIL            NILAI NORMAL              UNIT
              HEMATOLOGY AUTOMATIC
              Leukosit      10.8 (naik)          4.6-10.6             10e3/ul
              Eritrosit     5.83 (naik)          4.2-5.4              10e3/ul
              Hemoglobin 16.0                    12.0-18.0            gr/dl


Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
              Hematokrit      43.2                     37-47                      %
              MCV             80.3                     81-99                      Fl
              MCH             29.7                     27-31                      Pg
              MCHC            37.0                     33-37                      Gr/dl
              Trombosit       185                      150-450                    10e3/ul
              ESR                                      5.0-15.0                   Mm/Hr
              Differential Telling Mikroskopis
              Basophil        0                        0                          %
              Eosinophil      0                        0-5                        %
              Netrofil Stab 0                          0-3                        %
              Netrofil        84 (naik)                40-74                      %
              Segmen
              Limphosit       16                       18-48                      %
              Monosit         0                        0-8                        %
              Penunjang
              Golongan                                 Slide Aglutinasi
              darah
              Waktu                                    <6                         Menit
              Pendarahan
              Waktu                                    <12                        Menit
              Penjendalan
             Hasil pemeriksaan Patoimunologis, 17 November 2010 pukul 07.40
                      PARAMETER                  HASIL           NILAI NORMAL               METODE
              Salmonella Typhi – O          Positif 1/80       Negatif                 Slide Aglutinasi
              (tubuh)
              Salmonella Typhi – H          Positif 1/640      Negatif
              (flagela)
             Hasil pemeriksaan patobiokimiawi, 17 November 2010 pukul 12.45 WIB
              PARAMETER               HASIL                NILAI NORMAL                     UNIT
              Glukosa         298 (naik)               70-140                     Mg/dl
              Sewaktu
              Ureum           50                       10.0-50.0                  Mg/dl
              Kreatinin       1.3                      L:<1.1; P: <0.9            Mg/dl
              SGOT            38                       L: <37 ; P: <31            U/I
              SGPT            50                       L:<42; P: <32              U/I
             Hasil pemeriksaan patobiokimiawi, 18 November 2010 pukul 11.00 WIB
                   PARAMETER               HASIL               NILAI NORMAL                   UNIT
              Glukosa puasa              407 (naik)                 70-116                    mg/dl
              Glukosa 2 jam PP           458 (naik)                 85-140                    mg/dl
              Kholesterol Total             151                      <200                     mg/dl
              Trigliserida                  110                      <150                     mg/dl
              Kholesterol HDL                24                       >45                     mg/dl
              Kholesterol LDL               105                      <150                     mg/dl
              Asam Urat                     6.4              L:3.4-7.0 ; P:2.4-5.7            mg/dl
          3. Rontgen Thorak (PA)
             Tanggal 17 November 2010  Pulmo dan besar COR normal
          4. Hasil Pemeriksaan Urinalisis, 18 November 2010
                  PARAMETER                HASIL              NILAI NORMAL                 METODE
              Warna                 Kuning                 Kuning                    BIOKIMIAWI
              Kekeruhan             Jernih                 Jernih

Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
               PH                  5.0                   5.0-6.0
               Berat Jenis         1.025                 1.005-1.030
               Protein             Negatif               Negatif
               Glukose             Positif (++)          Negatif
               Bilirubin           Negatif               Negatif
               Urobilinogen        Positif (+)           Positif (+)
               Darah               Negatif               Negatif
               Nitrit              Negatif               Negatif
               Keton               Positif (+)           Negatif
               SEDIMENTASI
               Leukosit            Positif (0-2)/LP      Positif (0-2)/LP      MIKROSKOPIS
               Eritrosit           Negatif               Negatif (0)/LP
               Epitel              Positif (2-3)/LP      Positif (0-2)/LP
               Silinder Leukosit   Negatif               Negatif
               Silinder Granular   Negatif               Negatif
               Silinder Hyalin     Negatif               Negatif
               Kristal Oksalat     Negatif               Negatif
               Kristal Asam Urat   Negatif               Negatif
               Kristal Amorf       Negatif               Negatif
               Trichomonas         Negatif               Negatif
               Jamur               Negatif               Negatif
               Bakteri             Negatif               Negatif
               Kristal Tripel      Negatif               Negatif



   IV. ASSESMENT
       A. Problem Sementara
          1. Demam
          2. Mual
          3. Nyeri kepala
          4. Nyeri otot
          5. Nyeri perut
          6. Nafsu makan menurun                      Tifoid
          7. Batuk
          8. Uji Widal positif
          9. Leukositosis
          10. Gangguan fungsi hati
          11. Gangguan fungsi ginjal (DM)
          12. Bekerja di peternakan sapi              Resiko Tifoid
          13. Hiperglikemi
          14. Glukosuria                              Diabetes Mellitus Tipe II Non-Obesitas
          15. Ketonuria


      B. Problem Permanen
         1. Suspek Demam Tifoid
         2. Diabetes Mellitus Tipe II Non-Obesitas




Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
   V. PLANING
      1. Suspek Demam Tifoid
         a. IP Diagnosis
              Biakan atau isolasi kuman
                 Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi
                 dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau
                 dari rose spots. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi
                 hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada
                 beberapa faktor. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif 40-80% atau
                 70-90% dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada akhir
                 minggu ketiga. Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita yang telah
                 mendapatkan antibiotika dan meningkat sesuai dengan volume darah dan rasio
                 darah dengan media kultur yang dipakai.
                 Walaupun spesifisitasnya tinggi, pemeriksaan kultur mempunyai sensitivitas
                 yang rendah dan adanya kendala berupa lamanya waktu yang dibutuhkan (5-7
                 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak
                 praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode diagnosis baku dalam
                 pelayanan penderita.
              Tes Tubex
                 Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang
                 sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang
                 berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan
                 menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan
                 pada Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut
                 karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi
                 IgG dalam waktu beberapa menit.
                 Walaupun belum banyak penelitian yang menggunakan tes TUBEX® ini,
                 beberapa penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa tes ini mempunyai
                 sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal. Penelitian oleh
                 Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%.
                 Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar
                 89%. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal, dapat digunakan untuk
                 pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di
                 negara berkembang.
              Penegakkan Diagnosis
                 - Riwayat dan gejala klinik sesuai untuk typhus (5 gejala kardinal dianggap
                    sebagai positif, 3 gejala kardinal curiga).
                     5 cardinal sign (Manson-Bahr, 1985)
                         1. Demam
                         2. Ratio frekuensi nadi = suhu yang rendah (bradikardi relatif), terapi
                             simtomatik dapat mengaburkan cardinal sign ini.
                         3. Toxemia yang karakteristik.
                         4. Splenomegali
                         5. Rose spot
                     Sign lainnya :
                         1. Distensi abdomen.
                         2. Pea soup stool.
                         3. Perdarahan intestinal
                 - Tes widal meningkat atau peninggian ≥ 4x pada 2 kali pemeriksaan.
                 - Gall kultur+, Media SS agar.

Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
         a.   IP Terapi
                  Antibiotik
                   - Drug of Choice adalah Chloramfenicol dengan dosis 4 x 500 mg/hari selama 7
                      hari afebris atau sampai 1 minggu bebas demam.
                      Kontra indikasi :
                       Tidak boleh diberikan pada wanita hamil trisemester 3.
                          Grey baby syndrome.
                          Partus premature.
                          Kematian intrauterine (IUFD).
                       Jangan berikan pada pasien yang leukositnya kurang dari 2000.
                       Pengobatan dianggap gagal (chloramfenicol resisten) bila dalam 10 hari
                         pemberian pasien tetap demam, gunakan antibiotik yang lain.
                       Obat ini dapat menurunkan demam rata-rata 7,2 hari.
                   - Cotrimoxazole (trimetroprim dan sulfametoksazol), dengan dosis 400 mg 2 x
                      2 tablet/hari sampai 7 hari afebris. RSHS 2 x 3 tablet.
                       Waktu yang diperlukan untuk penurunan suhu sama dengan
                         chloramfenicol.
                       Tidak terjadi krisis toksik.
                       Gejala lebih cepat hilang.
                       Dapat digunakan untuk pasien yang toksik dan delirium.
                       Lebih unggul dalam mencegah relaps.
                       Efek samping yang perlu diperhatikan adalah trombositopenia, untuk
                         menghindarkannya kita berikan asam folic.
                   - Amphicillin, dosis 3 - 4 x (0.5 - 1 gram)/hari selama 15 hari (RSHS): Digunakan
                      untuk tifoid abdominalis ringan dan untuk karier. Amoxicilin, dosis 4 x 1
                      gr(untuk ukuran kecil) - 6 gr (untuk ukuran besar)/hari; Untuk kasus karier 6
                      gr/hari selama 6 minggu. Amphicillin dan amoxicilin memiliki kemampuan
                      menurunkan demam lebih rendah dari chloramfenicol.
                   - Golongan Quinolon.
                       Ciprofloksasin, dosis 2 x 750 mg sampai 4 minggu, untuk menanggulangi
                         karier, karena pasien dapat menularkan secara fecal - oral (typhoid mary).
                       Tidak boleh diberikan pada pasien dengan usia kurang dari 15 tahun,
                         karena bisa menyebabkan penutupan epifise tulang lebih cepat.
                       Keuntungan dari Quinolon:
                          Waktu yang diperlukan untuk terapi lebih pendek.
                          Bersifat bakterisida.
                   - Sefalosporin generasi ketiga (Sefuroksin, Moksalaktan, Sefotaksim, dan
                      Seftizoksim) yang hingga saat ini masih terbukti efektif untuk demam tifoid
                      adalah seftriakson. Dosis yang dianjurkan adalah antara 3-4 gram dalam
                      dekstrosa 100 cc diberikan selama 1/2 jam perinfus sekali sehari, diberikan
                      selama 3 hingga 5 hari. Kontraindikasi untuk anak usia pertumbuhan.
                      Mampu menurunkan demam lebih cepat dari chloramfenicol.
                   - Hati-hati akan terjadi reaksi “harxheimer reaction” yang merupakan reaksi
                      yang hebat dari pemberian awal dari antibiotic pada perderita typhoid, oleh
                      karena dilepaskannya secara mendadak dalam jumlah besar, antigen dari
                      kuman typhoid (reaksi seperti anafilaktik syok, dimana pasien dapat jatuh
                      kedalam keadaan komatous).

                 Simptomatik:


Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
                  -   Analgetik antipiretik (DOC : parasetamol)  Jika demam
                       Jangan pada penderita hepatitis.
                       Dapat merangsang mukosa usus.
                       Efek anti piretik dapat berlebihan.
                       Menghambat efek dari chloramfenicol.
                  -   Laxantia dan enema, untuk memudahkan buang air besar: Hati-hati
                      perdarahan dan perforasi  Jika Konstipasi
                  -   Muntah-muntah  Jika mual dan muntah
                       Prochlorperazine (Stemetil) dengan dosis 3 x 5mg atau 3 x 10 mg.
                       Prometazine (Phenergan) dengan dosis 3 x 25 mg.
                  -   Diare: Diphenoxylate hydrochloride (Lomotil, Reasec) 4 x 2 tab  Jika diare

                 Supportif
                  - Kortikosteroid
                      Hanya dianjurkan untuk penderita dengan toksemia berat dan
                        hiperpireksi berat.
                      Tidak boleh dipergunakan secara rutin.
                      Harus dihindarkan dalam minggu ke III karena bila ada perdarahan kita
                        tidak tahu dari penyakit atau dari kortikosteroid.
                      Memperpendek deman dan gejala cepat hilang.
                      Menghambat pembentukkan immunitas sehingga mudah untuk relaps.
                      Dosis :
                         Hari ke I : Hidrokortison 200 mg im
                                       Prednison 3 x 15 mg
                         Hari ke II : Prednison 3 x 10 mg
                         Hari ke III : Prednison 3 x 5 mg
                         Hari ke IV : Prednison 3 x 5 mg
                         Hari ke V : Prednison 1 x 5 mg.
                  - Vitamin dan imunomodulator
                      Vitamin B dan vitamin C
                      Imunos 1x1
                      Curcuma 3x1
                 Diet
                  Diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya rendah
                  selulosa (rendah serat) untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk
                  penderita demam tifoid, biasanya diklasifikasikan atas diet cair, bubur lunak,
                  tim, dan nasi biasa.

         a.   IP Edukasi: Minta pasien untuk menjaga hygien. Apalagi pasien memiliki resiko
              dengan bekerja di peternakan sapi.

      2. Diabetes Mellitus Tipe II Non-Obesitas
         a. IP Terapi
              Terapi non-farmakologi (wajib dilakukan)
                -   Edukasi: tujuannya adalah promosi hidup sehat, informasi tentang penyakit
                    DM, pengetahuan tentang kemungkinan komplikasi yang didapat,
                    pemeliharaan luka, mengenal tanda penyulit akut seperti ketoasidosis
                    diabetik, HONK dan hipoglikemia.
                -   Terapi gizi medis: ditekankan keteraturan dan perencanaan makan dalam hal
                    jadwal makan, jenis dan jumlah makanan. Diet diberikan sesuai dengan
                    kebutuhan kalori. Minimal kalori basal 25-30 kalori/kg BB ideal ditambah


Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
                   atau dikurangi beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktifitas, berat
                   badan, dll. Makanan sejumlah kalori tersebut dibagi dalam 3 porsi besar
                   untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan
                   ringan (10-15%). Pola makanan disesuaikan pula dengan komplikasi penyakit
                   penyerta. Konsulkan pada ahli gizi.
               -   Latihan jasmani: tetap lakukan olah raga teratur 3-4 kali seminggu selama
                   kurang lebih 30 menit. Dianjurkan olah raga yang bersifat aerobik seperti
                   jogging, sepeda santai dan berenang. Sesuaikan olah raga dengan umur dan
                   status kebugaran jasmani pasien. Olah raga yang teratur dan sesuai, dapat
                   memperbaiki sensitifitas insulin.
              Terapi farmakologis (disesuaikan dengan kondisi klinis pasien)
               -   Obat Hipoglikemik Oral
                    Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) – Sulfonilurea:
                       Klorpropamid, gibenklamid, glipijid, glikazid, glikuidon, glimepirid. –
                       Glinid: repaglinid, nateglinid.
                    Penambah sensitifitas terhadap insulin (insulin sensitizing) – Biguanid:
                       metformin. – Tiazolidindion: rosligitazon, pioglitazon.
                    Penghambat absorpsi glukosa (penghambat alfa glukosidase – Acarbose:
                       Glucobay.

                                                      Masukan makanan

                                        Malam hari                            Diet, alfa glukosidase
                                                                                     inhibitor

                          Produksi                   Pool glukosa ekstrasel
                        glukosa hati
                                                                    Def.              sulfonilurea
                                                                   insulin                 a

                                                                                          insulin
                                                       Transpor glukosa

                                                                   Resist.            Metformin
                                                                   insulin
                                                                                     Tiazolindion

                                                    Pemakaian glukosa sel




                     Obat hipoglikemis oral
                           Jenis           Effek          Mg Dosis Frek/ Waktu             Penuru
                                         samping            /  haria hari                  nan A1C
                                                          Tab    n
                        Gibenklamid     BB naik,          2,5- 2,5-  1-2  Sebelu            1,5-2%
                                        hipoglikemia      5    15         m
                                                                          makan
                        Metformin       Diare,            500 500- 2-3    Bersa             1,5-2%
                                        dispepsi,              3000       ma,
                                        asidosis                          sesuda


Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
                                        laktat                               h
                                                                             makan
                         Acarbose       Flatulens,      50-   100-   3       Bersa     0,5-1%
                                        tinja lembek    100   300            ma
                                                                             suapa
                                                                             n
                                                                             perta
                                                                             ma
                -    Insulin
                      Prinsip: terapi insulin diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin yang
                        fisiologis (basal dan prandial). Insulin kerja cepat atau pendek untuk
                        koreksi defisiensi insulin prandial. Insulin kerja menengah atau panjang
                        untuk koreksi insulin basal.
                      Indikasi: penurunan berat badan yang cepat, hiperglikemia berat yang
                        disertai ketosis, ketosis diabetik, HONK, gagal dengan OHO dosis
                        maksimal, stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke), DM
                        gestasional yang tidak terkendali, gangguan fungsi ginjal/hati berat,
                        kontraindikasi OHO.
                      Kontraindikasi: hipoglikemia
                      Dosis pemberian insulin, penyesuaian dosis insulin dapat dilakukan
                        dengan menambah 2-4 unit tiap 3-4 hari. Mulai dari dosis kecil.
                        - Gula darah < 60 mg % = 0 unit
                        - Gula darah < 200 mg % = 5 – 8 unit
                        - Gula darah 200 – 250 mg% = 10 – 12 unit
                        - Gula darah 250 - 300 mg% = 15 – 16 unit
                        - Gula darah 300 – 350 mg% = 20 unit
                        - Gula darah > 350 mg% = 20 – 24 unit
                      Lokasi injeksi: Umumnya subcutan, diatas muskulus deltoideus, rectus
                        abdominis, vastus.
                      DPP-4 (Dipeptidyl peptidase–4)
                        Vidagliptin (50mg/hari) adalah inhibitor DPP-4 yang manjur dan selektif
                        yang dapat memperbaiki control glikemik pada pasien dengan diabetes
                        tipe 2 dengan meningkatkan kepekaan sel alfa dan sel beta pada glukosa.
                      Jenis insulin
                                     Insulin              Awal kerja       Puncak    Lama kerja
                                                                            kerja       (jam)

                          Kerja pendek (Actrapid)      30-60menit 30-90menit            3-5
                          Kerja cepat (Novorapid)       5-15 menit 30-90menit           3-5
                          Kerja menengah (insulatard)     2-4 jam      4-10jam         10-16
                          Kerja panjang (Levemir)         2-4 jam     No. peak           -
         b.   IP Komplikasi dan evaluasi
               Untuk mendiagnosis makroangiopati
                  - Kelainan pembuluh darah tepi (angiografi/USG pembuluh darah)
                  - Akut koroner (EKG, foto thorak)
               Untuk mendiagnosis mikroangiopati
                  - Kardiomiopati ( echokardiogram)
                  - Mata (funduskopi, oftalmoskopi)
                  - Ginjal (ureum, kreatinin, mikroalbuminuria)
               Untuk mendiagnosis faktor risiko penyakit kardiovaskuler



Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com
                   (ureum, kreatinin, asam urat, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida, ketonuria,
                   albuminuria)

         c.   IP Edukasi
              Penjelasan tentang penyakit secara umum dan kemungkinan komplikasi yang terjadi.
              Selalu hidup sehat dengan diit makan diabetes dan aktivitas fisik yang baik. Kontrol:
              GDP (80-109)/GD 2jam PP (80-144), A1C (<6,5), Kolesterol total (<200), LDL (<100),
              HDL (>45), TG (<150), IMT (18,5-22,9), tekanan darah (<130/80).


     KESIMPULAN TERAPI FARMAKOLOGI
     -   Infus RL lini 16-20 tpm
     -   Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam, atau /8jam (selama 3-5hari)
     -   Inj. S.C Actrapid 3x10 unit
     -   Metformin 3x500mg
     -   Curcuma 3x1
     -   Imunos 1x1




                                                                Yogyakarta, 19 November 2010




                                                                   dr. Mulyo Hartana., Sp.PD




Arief Darmawan – dokter.one@gmail.com

				
DOCUMENT INFO
Description: Arief Darmawan