Docstoc

Kebersihan Makanan

Document Sample
Kebersihan Makanan Powered By Docstoc
					                                                                             1




                                   BAB 1
                             PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
    Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia karena di dalamnya
    mengandung nutrisi yang diperlukan antara lain untuk pertumbuhan badan
    memelihara jaringan tubuh yang rusak diperlukan untuk berkembang biak
    dan untuk proses yang terjadi di dalam tubuh, dan menghasilkan energi untuk
    dapat melakukan aktivitas (Zaenab, 2008).


    Makanan yang sudah tercemar biasanya secara visual tidak terlihat atau
    tampak tidak membahayakan, misalnya dari segi warna, rasa dan
    penampakannya normal dan tidak ada tanda-tanda kerusakan, sehingga sering
    mengecoh konsumen yang mengkonsumsi makanan tersebut. Kejadian
    sakitnya bisa mengenai individu, beberapa anggota keluarga atau sekelompok
    orang yang memakan makanan yang sama, dan gejala keracunannya bisa
    ringan dan bisa berat. Keracunan yang bersifat akut (mendadak) akibatnya
    ada yang fatal (mematikan) (Zaenab, 2008).

    Pengertian kebersihan atau hygiene menurut Depkes adalah upaya
    kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu
    subyeknya. Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan
    tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang
    bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara
    keseluruhan (Depkes, 2005).

    Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik
    beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan
    dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau memasak
    kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses
    pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana
    makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat
                                                                         2




atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan untuk menjamin keamanan
dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah
penjualan makanan yang akan merugikan pembeli dan mengurangi kerusakan
atau pemborosan makanan (Depkes, 2005).

Dari kajian statistik WHO mengikut negara, Indonesia menduduki tempat
keempat selepas China, India dan USA. Di Indonesia, menurut data pada
bulan Mei 2009, dari 238.452.952 penduduk, 66.626.562 orang telah
mengalami keracunan makanan (Cure Research, 2004). Dengan banyaknya
kasus keracunan makanan, kesehatan makanan (food hygiene) perlu
ditingkatkan secara terus menerus, sehingga kejadian keracunan makanan
dapat ditekan seminimal mungkin (Zaenab, 2008).


Banyaknya warung tepi jalan yang menyajikan makanan tanpa kebersihan
dan sanitasi yang baik dapat menyebabkan tingginya angka penyakit infeksi
saluran cerna. Warung tepi jalan merupakan warung yang terdapat di tepi
jalan atau tepi kedai yang tidak menggunakan papan tanda nama. Pengusaha
warung tepi jalan tidak membayar pajak perusahaan,dan oleh karena itu
mereka tidak berdaftar dan tidak mempunyai papan tanda nama. Mereka
tidak mempunyai sumber listrik dan air yang mencukupi. Untuk keperluan
listrik, mereka akan menggunakan sumber dari generator set dan untuk
air,mereka menggunakan air dari hasil takungan air pipa. Biasanya warung-
warung ini terletak di tepi jalan-jalan utama di mana terdapatnya kesesakan
lalu lintas dan penuh dengan debu. Jadi,ini boleh menyebabkan komplikasi
yang tidak baik kepada kesihatan kita.


Berdasarkan hal ini saya sebagai penulis sangat berharap untuk mengetahui
corak persepsi mahasiswa terhadap kebersihan makanan dan minuman di
warung tepi jalan yang menjadi tempat makanan sehari hari.
                                                                             3




1.2. Perumusan Masalah
    Bagaimanakah persepsi mahasiswa/i tentang kebersihan makanan yang
    diamalkan dan diaplikasi di warung tepi jalan di sekitar lingkungan
    Universitas Sumatera Utara (USU), Medan ?


1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
      Untuk mengetahui persepsi mahasiswa/i tentang kebersihan makanan di
      warung tepi jalan di sekitar lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU),
      Medan.


1.3.2. Tujuan khusus
      Untuk mengetahui tahap kebersihan yang diaplikasi pada warung,
      khususnya lingkungan sekitar warung, peralatan makan dan masak,
      kelengkapan jurumasak serta pekerja dan makanan dan minuman yang
      disajikan.


1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Untuk mahasiswa/i
      Dapat dipakai sebagai informasi dalam meningkatkan kesadaran mereka
      tentang resiko makan di warung tepi jalan.


1.4.2. Untuk Peneliti Lain
      Dapat dipakai sebagai sumber informasi untuk melakukan penelitian
      selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan
      penulis.
                                                                              4




                                     BAB 2
                            TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kebersihan makanan
2.1.1. Makanan
     Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan
     memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh.
     Menurut WHO (2007), yang dimaksud makanan adalah “Food include all
     substances, whether in a natural state or in a manufactured or prepared
     form, which are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak
     termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk
     tujuan pengobatan.

     Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan
     tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit,
     diantaranya:
     a) Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki
     b) Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan
         selanjutnya.
     c) Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai
         akibat dari pengaruh enzim, aktifitas mikroba, hewan pengerat,
         serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan
         dan pengeringan.
     d) Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit
         yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness) (Depkes, 2005).

2.1.2. Food Hygiene dan Sanitasi Makanan
     Pengertian hygiene menurut Depkes (2005) adalah upaya kesehatan
     dengan      cara   memelihara   dan     melindungi   kebersihan   individu
     subyeknya. Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan
     tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang
                                                                               5




     bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan
     secara keseluruhan.


     Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik
     beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan
     dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau memasak
     kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam
     proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat
     dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada
     masyarakat atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan untuk
     menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari
     penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli.
     mengurangi kerusakan atau pemborosan makanan (World Health
     Organization, 2007).


2.1.3. Cara Penyimpanan Bahan Makanan
     Di Indonesia, pada umumnya setiap makanan dapat dengan leluasa beredar
     dan dijual tanpa harus terlebih dahulu melalui kontrol kualitas, dan kontrol
     keselamatan sehingga masih lebih 70 % makanan yang dijual dihasilkan
     oleh produsen yang masih tradisional yang dalam proses produksinya
     kebanyakan masih jauh dari persyaratan kesehatan dan keselamatan,
     sehingga kasus keracunan makanan meningkat (Zaenab, 2008).


     Bahan makanan yang dimaksud disini adalah bahan makanan yang mentah
     (segar) yaitu bahan makanan yang perlu pengolahan sebelum dihidangkan,
     contohnya daging, beras, sayuran, singkong dan kentang. Makanan yang
     terolah (pabrik) yaitu makanan yang sudah dapat langsung dimakan tetapi
     digunakan untuk proses lebih lanjut. Contohnya tahu, tempe, kecap, ikan
     kaleng, kornet dan lain-lain. Makanan yang siap santap, yaitu nasi remes,
     soto mie, bakso, goreng ayam dan lain-lain (Zaenab, 2008).
                                                                           6




     Penyimpanan bahan makanan sebelum diolah perlu perhatian khusus mulai
     dari wadah tempat penyimpanan sampai dengan cara penyimpanannya
     perlu diperhatikan dengan maksud untuk menghindari terjadinya keracunan
     karena kesalahan penyimpanan. Contoh bahan makanan seperti bumbu
     dapur yang digunakan untuk proses pengolahan makanan hendaknya ditata
     dengan baik dalam wadah yang berbeda, sehingga apabila akan
     menggunakannya     dengan    mudah     dapat   mengambilnya,     hindari
     penyimpanan bahan beracun dengan tempat penyimpanan bumbu dapur.
     Selain itu penyimpanan bahan makanan yang mudah rusak seperti ikan,
     sayur- sayuran, tomat, lombok yang belum digunakan sebaiknya disimpan
     dalam lemari es sesuai dengan suhu penyimpannya, sedangkan yang tidak
     mudah rusak disimpan digudang atau pada lemari bahan makanan (Zaenab,
     2008).


2.1.4. Pengolahan Bahan Makanan
     Pengolahan makanan menjadi makanan siap santap merupakan salah satu
     titik rawan terjadinya keracunan, banyak keracunan terjadi akibat tenaga
     pengolahnya yang tidak memperhatikan aspek sanitasi. Pengolahan
     makanan yang baik adalah yang mengikuti kaidah dan prinsip-prinsip
     hygiene dan sanitasi, yang dikenal dengan istilah Good Manufactering
     Practice (GMP) atau cara produksi makanan yang baik. Terjadinya kasus
     keracunan makanan disebabkan karena tempat pengolahan makanan dan
     peralatan masak di mana peralatan masak juga dapat menyebabkan
     keracunan pada makanan. Kita ketahui bahwa logam dan senyawa kimia
     dapat terlarut dalam alat masak atau kontainer yang digunakan untuk
     mengolah dan menyimpan makanan, dapat menyebabkan keracunan .
     Logam dan senyawa kimia dapat terlaut, umumnya disebabkan karena
     makanan yang bersifat asam (Zaenab, 2008).


     Seorang tenaga pengolah makanan, atau penjamah makanan baik dalam
     mempersiapkan, mengolah, menyimpan, mengangkut, maupun menyajikan
                                                                             7




     dan memperhatikan hygiene perorangannya. Salah satu contoh adalah
     kebersihan tangan. Biasakan mencuci tangan sebelum makan atau
     mengolah makanan (Zaenab, 2008).


     Seorang penjamah makanan yang tidak sehat dapat menjadi sumber
     penyakit dan dapat menyebar kesuatu masyarakat konsumen, peranannya
     dalam suatu penyebaran penyakit dengan cara kontak antara penjamah
     makanan yang menderita penyakit menular dengan konsumen yang sehat ,
     kontaminasi terhadap makanan oleh penjamah makanan yang sakit,
     misalnya batuk atau luka ditangan , dan pengolah atau penanganan
     makanan oleh penjamah makanan yang sakit atau pembawa kuman
     (Zaenab, 2008).


     Makanan masak merupakan campuran bahan yang lunak dan sangat disukai
     bakteri. Bakteri akan tumbuh dan berkembang dalam makanan yang berada
     dalam suasana yang cocok untuk hidupnya sehingga jumlahnya menjadi
     banyak. Di antara bakteri terdapat beberapa bakteri yang menghasilkan
     racun (toksin), ada racun yang dikeluarkan oleh tubuhnya (eksotoksin), dan
     ada yang disimpan dalam tubuhnya (endotoksin/ enterotoksin). Sementara
     di dalam makanan juga terdapat enzim. Enzim terutama terdapat pada
     sayuran dan buah-buahan yang akan menjadikan buah matang dan kalau
     berlangsung terus buah akan menjadi busuk (Zaenab, 2008).


2.1.5. Penyajian Bahan Makanan
     Penyajian makanan juga salah satu faktor yang dapat menyebabkan
     keracunan pada makanan. Penyajian oleh jasa boga berbeda dengan rumah
     makan. Di rumah makan tempat penyajian relatif berdekatan dengan dapur
     pengolahan, sehingga untuk terjadinya kontaminasi dengan lingkungan luar
     sangat sedikit, sedangkan pada jasa boga tempat penyajian bisa berkilo-
     kilometer dari tempat pengolahan, oleh karena itu maka faktor
     pengangkutan makanan menjadi penting karena akan mempengaruhi
                                                                              8




     kondisi penyajian. Keterlambatan penyajian dapat terjadi akibat adanya
     hambatan diluar dugaan, misalnya kemacetan lalu lintas/ gangguan lain
     dalam perjalanan. Tempat penyajian seperti di kantin melalui jasa boganya
     sebab kasus keracunan makanan pada umumnya terjadi di kantin-kantin
     dan lain-lain (Zaenab, 2008).


2.1.6. Penyakit-Penyakit Yang Dapat Ditimbulkan
     Gejala biasanya dimulai secara tiba-tiba dengan mual yang hebat dan
     muntah-muntah, sekitar 2-8 jam setelah makan makanan yang tercemar.
     Gejala lainnya berupa kram perut, diare dan kadang-kadang sakit kepala
     dan demam. Kehilangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan
     kelemahan dan tekanan darah yang rendah (syok). Gejala biasanya
     berlangsung selama kurang dari 12 jam dan penyembuhannya sempurna.
     Kadang-kadang keracunan makanan dapat berakibat fatal, terutama bila
     terjadi pada anak-anak, orang tua dan orang dengan kondisi lemah karena
     sakit menahun (Camilleri,M., Murray,J.A., 2008)

     Diare adalah peningkatan frekuensi buang air besar dimana kotoran yang
     dikeluarkan lebih cair dari biasanya. Diare karena infeksi dapat disebabkan
     oleh berbagai macam kuman baik virus, bakteri, atau parasit lainnya. Hal
     ini berarti seorang yang mengalami diare dapat menunjukkan gejala-gejala
     yang berbeda-beda tergantung dari penyebab diarenya itu. Gejala diare
     umumnya diawali dengan nyeri perut atau mulas (Kris, 2009).

     Diare yang terjadi selama lebih dari 2 minggu disebut sebagai diare
     kronik. Diare tanpa adanya darah biasanya disebabkan oleh virus, parasit
     atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri. Infeksi saluran pencernaan yang
     disebabkan suatu virus yang disebut rotavirus akan menyebabkan diare
     yang encer. Sebagian besar kuman yang menyebabkan diare juga dapat
     menyebabkan gejala-gejala lain seperti demam, hilangnya nafsu makan,
     nyeri perut, kram perut, mual, muntah, hilangnya berat badan, dan terutama
     dehidrasi. Kuman penyebab diare dapat pula masuk dan menyebar ke aliran
                                                                                9




     darah dan mengakibatkan infeksi di organ tubuh lain yang jauh dari
     pencernaan seperti otak (Kris, 2009).

2.1.7. Pengobatan
     Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat makanan
     tanpa melihat penyebab spesifik, pada prinsipnya adalah sama yaitu
     dengan    menghindari      mengkonsumsi       makanan      yang    tercemar,
     memusnahkan atau melakukan denaturasi terhadap bahan pencemar,
     mencegah penyebaran lebih luas atau mencegah berkembang biaknya
     bahan pencemar.


     Prinsip utama perawatan diare adalah penggantian cairan serta garam dan
     mineral yang hilang melalui kotoran, muntah dan demamnya. Perkiraan
     jumlah cairan yang hilang dan beratnya muntah serta diare akan
     menentukan jenis terapi yang akan diberikan oleh dokter. Biasanya satu-
     satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah minum cairan yang cukup.
     Pada penderita yang muntah pun, harus minum sedikit demi sedikit untuk
     mengatasi dehidrasi, yang selanjutnya bisa membantu menghentikan
     muntahnya. Jika muntah berlangsung terus dan terjadi dehidrasi berat,
     mungkin diperlukan infus cairan dan elektrolit. Karena anak-anak lebih
     cepat jatuh ke dalam keadaan dehidrasi, mereka harus diberi larutan garam
     dan gula. Cairan yang biasa digunakan seperti minuman bersoda, teh,
     minuman olahraga dan sari buah, tidak tepat diberikan kepada anak-anak
     dengan diare. Bila muntahnya hebat, bisa diberikan suntikan atau
     supositoria (obat yang dimasukkan melalui lubang dubur) (Kris, 2009).


     Jika gejalanya membaik, penderita secara bertahap mendapatkan makanan
     lunak seperti gandum, pisang, bubur nasi, selai apel dan roti panggang. Jika
     makanan tersebut tidak menghentikan diare setelah 12-24 jam dan bila
     tidak terdapat darah pada tinja, berarti ada infeksi bakteri yang serius, dan
     diberikan obat-obat seperti difenoksilat, loperamide atau bismuth
                                                                          10




     subsalisilat. Karena antibiotik dapat menyebabkan diare dan merangsang
     pertumbuhan organisme yang resisten terhadap antibiotik, maka antibiotik
     jarang digunakan meskipun diketahui penyebabnya adalah bakteri (Ciesla,
     W.P. Jr., Guerrant, R.L., 2001).


2.1.8. Pencegahan
     Basuh tangan dengan sabun setiap kali selepas menggunakan tandas dan
     setiap kali sebelum dan selepas mengendalikan atau menyediakan
     makanan. Gunakan air panas dan bersabun untuk membersihkan perkakas
     memasak, papan memotong dan lain-lain permukaan yang digunakan.
     Apabila membeli-belah, menyediakan atau menyimpan makanan, asingkan
     daging mentah, ternakan, ikan dan makanan bercangkerang daripada
     makanan lain bagi mengelakkan pencemaran silang (CDC, 2005).


     Masak makanan pada suhu yang selamat. Cara terbaik bagi memastikannya
     adalah dengan menggunakan termometer makanan. Anda boleh membunuh
     organisma yang boleh menjejaskan yang terdapat dalam kebanyakan
     makanan dengan memasak pada suhu antara 63° C hingga 74° C. Sejukkan
     atau dinginkan makanan yang mudah rosak dalam tempoh dua jam
     pembelian atau penyediaannya. Jika suhu bilik lebih 32° C, sejukkan
     makanan yang tidak tahan lama itu dalam masa sejam. Letakkan makanan
     di dalam pembeku jika tidak mahu memakannya dalam masa dua hari.
     Mencairbekukan makanan dengan selamat. Jangan lembutkan makanan
     pada suhu bilik. Cara terbaik untuk melembutkan makanan adalah dengan
     mencairbekukan makanan di dalam peti sejuk atau mikro gelombang.
     Melalukan air sejuk ke atas makanan untuk melembutkannya juga selamat
     (CDC, 2005)


     Buangkan sahaja makanan itu kalau anda ragu-ragu dengan cara
     penyediaan, penyimpanan atau hidangannya. Makanan yang dibiarkan pada
     suhu bilik dengan terlalu lama mungkin mengandungi bakteri atau racun
                                                                     11




yang tidak boleh dimusnahkan lagi walaupun dengan memasaknya. Jangan
kecap makanan itu jika anda tidak pasti mengenai tahap keselamatan dan
kebersihannya. Walaupun ia mungkin kelihatan (atau berbau) masih baik,
ia mungkin tidak selamat lagi untuk dimakan. Berwaspadalah semasa
menghidangkan makanan. Bakteri berbahaya boleh membiak dengan cepat
semasa menyediakan makanan tanpa pemanasan atau pendingin sempurna
terutamanya semasa majlis luar atau bufet. Buang sisa makanan yang
berada pada suhu kamar lebih dua jam atau dalam cuaca panas, lebih empat
jam. Lain-lain termasuk telur separuh masak atau makanan yang
mengandungi telur seperti adunan biskut dan eskrim buatan sendiri, ulam-
ulaman mentah; jus, tuak, susu dan produk susu yang tidak dipasteur
(dibasmi kuman), keju lembut, mentega didinginkan dan beberapa lagi
(CDC, 2005).
                                                                                  12




                                        BAB 3
         KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1    Kerangka Konsep
       Pada penelitian ini kerangka konsep tentang hubungan persepsi mahasiswa
       Universitas Sumatera Utara (USU) dengan kebersihan makanan di warung
       tepi jalan di sekitar lingkungan USU.


         Persepsi mahasiswa
         Universitas Sumatera
            Utara (USU)
                                                    Gambaran kebersihan
       - Kebersihan warung                          makanan di warung tepi
       - Kebersihan peralatan                       jalan di sekitar lingkungan
         masak dan makanan                          Universitas Sumatera Utara
       - Kebersihan penyaji                         (USU)
         dan pekerja
       - Kebersihan makanan
         dan minuman



                                 Gambar 3.1 Kerangka konsep


3.2.   Definisi Operasional
       Variabel-variabel yang akan diteliti adalah persepsi mahasiswa USU dan
       gambaran kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar lingkungan
       USU.

3.2.1. Persepsi diukur daripada mahasiswa/i daripada semua fakultas dalam
       Universitas Sumatera Utara (USU) yang belajar di peringkat S1. Persepsi
       mahasiswa mengenai kebersihan yang diaplikasi di warung tepi jalan,
       khususnya pada warung, peralatan masak dan makanan yang digunakan,
       kelengkapan penyaji dan pekerja dan         makanan serta minuman yang
       disajikan akan dinilai.
                                                                          13




3.2.2. Gambaran kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar lingkungan
      Universitas Sumatera Utara dinilai daripada aspek pencucian tangan,
      kebersihan lingkungan, kondisi dan kebersihan peralatan masak,
      kelengkapan pekerja, sumber air untuk minum dan memasak, pencucian
      piring dan lain-lain. Gambaran kebersihan makanan dinilai daripada
      jawaban yang diberi oleh mahasiswa/i yang makan di warung tepi jalan di
      sekitar lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU).
                                                                              14




                                    BAB 4
                           METODE PENELITIAN


4.1. Rancangan Penelitian
    Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang
    bersifat cross sectional. Penelitian deskriptif ini dilakukan terhadap
    sekumpulan objek biasanya cukup banyak, dalam jangka waktu tertentu yang
    memiliki tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang
    persepsi mahasiswa/i tentang kebersihan makanan di warung tepi jalan di
    sekitar   lingkungan    Universitas   Sumatera   Utara    (USU).    Menurut
    Sastroasmoro (2008) penelitian cross sectional merupakan penelitian yang di
    mana peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu saat.
    Satu saat di sini artinya, setiap subjek hanya diobservasi satu kali saja dan
    pengukuran variabel subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut.


4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilakukan di kawasan sekeliling Universitas Sumatera Utara
    (USU). Hal ini dikarenakan Universitas Sumatera Utara adalah salah satu
    universitas negeri yang memiliki jumlah mahasiswa yang benar. Mahasiswa
    USU berasal dari 12 jenis fakultas dan mahasiswanya memiliki beragam
    kebiasaan dalam hal kebersihan dan pemilihan tempat untuk makan.
    Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Maret - Desember 2010.
    Pengumpulan data dilakukan selama bulan Agustus - Oktober 2010.


4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
    Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah mahasiswa USU .
    Kriteria inklusi :
    a) Telah terdaftar sebagai mahasiswa yang belajar di peringkat S1 di salah
       satu 12 fakultas dalam Universitas Sumatera Utara (USU).
    b) Telah makan di warung tepi jalan dalam waktu 1 bulan terakhir.
                                                                            15




    Kriteria eksklusi :
    a) Mahasiswa yang belajar di universitas selain Universitas Sumatera Utara
       (USU).
    b) Mahasiswa yang belajar di peringkat S2 dan S3 di salah satu 12 fakultas
       dalam Universitas Sumatera Utara (USU).
    c) Mahasiswa yang makan di warung tepi jalan kali terakhir dalam waktu
       lebih dari 1 bulan.
    d) Mahasiswa yang tidak bersedia untuk menjawab kuesioner.


  Tabel 4.1. Tabel Jumlah Responden Yang Menjawab Kuesioner Di Setiap
               Fakultas Di Universitas Sumatera Utara (USU)

                   Fakultas                         Jumlah
                   F.Kedokteran                       9
                   F.Kedokteran Gigi                  9
                   F.Psikologi                        9
                   F.Farmasi                          8
                   F.Ilmu Sosial dan Ilmu Politik     8
                   F.Teknik                           8
                   F.Matematika dan I.P.Alam          8
                   F.Hukum                            8
                   F.Sastra                           8
                   F.Kesehatan Masyarakat             9
                   F.Pertanian                        8
                   F.Keperawatan                      8

Tingkat pengetahuan dinilai daripada kuesioner yang diedarkan kepada
mahasiswa (sampel). Sebanyak 15 soalan atau pertanyaan akan diajukan dengan 2
pilihan jawaban iaitu jawaban “ya” atau “tidak”. Jawaban “ya” diberi skor 1 dan
jawaban “tidak” diberi skor 0. Pengukuran persepsi mahasiswa tentang kebersihan
makanan di warung tepi jalan dan berdasarkan pertanyaan yang diberikan
responden menggunakan skala pengukuran Pratomo (1990) maka dapat dibahagi
menjadi tiga kategori yaitu:
                                                                           16




a) Persepsi baik apabila jawaban responden benar lebih dari 75% dari nilai
   maksimum.
b) Persepsi sedang apabila jawaban responden benar antara 40% sampai 75%
   dari nilai maksimum.
c) Persepsi kurang apabila jawaban responden benar kurang dari 40% dari nilai
   maksimum.


   Dengan demikian, penilaian terhadap persepsi responden berdasarkan sistem
   skoring total, yaitu:
a) Skor 12 hingga 15           : Baik
b) Skor 6 hingga 11            : Sedang
c) Skor dibawah 6 (<6) : Kurang


Perkiraan besar sampel yang minimal pada penelitian ini diambil berdasarkan
rumus dibawah ini, dimana tingkat kepercayaan yang dikehendaki sebesar 95%
dan tingkat ketepatan relatif 10% (Sastroasmoro dan Ismael, 2008). Maka
diperoleh 97 sampel. Jumlah sampel ini dibulatkan menjadi 100 sampel:


                           2
                n=Z            pq         dimana: p = 0.5   q = 0.5
                       d2                         d = 0.1   Z   = 1.96




4.4. Metode Pengumpulan Data
    Pada penelitian ini data diperoleh melalui data primer dengan menggunakan
    kuesioner yang dibagikan kepada mahasiswa USU yang menjadi objek
    penelitian. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling.
    Pengambilan sampel dilakukan secara subjektif oleh peneliti ditinjau dari
    sudut kemudahan, tempat pengambilan sampel, dan jumlah sampel yang akan
    diambil. Data yang diharapkan adalah persepsi mahasiswa/i USU tentang
    kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar lingkungan USU dalam
    rentang waktu Januari 2010 hingga Oktober 2010.
                                                                              17




4.4.1. Uji Validitas
      Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar
      mengukur apa yang diukur. Kuesioner yang telah selesai disusun akan diuji
      validitasnya dengan SPSS 17.0 (Statistical Products and Service Solutions).
      Kuesioner penelitian ini yang telah disusun sebelumnya dengan jumlah
      pertanyaan sebanyak 20 , kemudian dilakukan uji validitas dan didapati
      sebanyak 15 soal yang valid. Pengujian ini menggunakan perangkat lunak
      SPSS 17.0. Uji validitas ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2010.


      Uji validitas dilakukan dengan korelasi Pearson, skor yang didapat dari
      setiap pertanyaan dikolerasikan dengan skor total untuk setiap variabel.
      Setelah semua korelasi untuk setiap pertanyaan dengan skor total diperoleh,
      nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai r tabel. Nilai r tabel untuk
      jumlah responden 20 orang dengan taraf signifikasi 0.1 adalah 0.444. Jika
      nilai koefisien korelasi Pearson dari suatu pertanyaan tersebut berada di
      atas nilai r tabel, maka pertanyaan tersebut valid.


4.4.2. Uji Reliabilitas
      Reliabilitas merupakan indeks yang dipakai untuk menunjukkan sejauh
      mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan kuesioner yang
      telah selesai disusun akan diuji reliabilitasnya dengan menggunakan SPSS
      17.0. Kuesioner penelitian ini yang disusun sebelumnya telah dilakukan uji
      reliabilitas dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 17.0. Uji
      reliabilitas ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2010. Uji reliabilitas
      dilakukan pada seluruh pertanyaan yang valid dengan koefisien Reliabilitas
      Alpha pada aplikasi SPSS 17.0. Jika nilai alpha lebih besar dari nilai r
      tabel, maka pertanyaan tersebut reliabel.
                                                                              18




                                    Tabel 4.2
       Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas Untuk Tiap Pertanyaan Dalam
                           Kuesioner Yang Diedarkan

    Variabel      Nomor          Total         Status      Alpha   Status
                Pertanyaan      Pearson
                               Correlation
    Persepsi          1          0.526          Valid      0.909   Reliabel
                      2          0.535          Valid              Reliabel
                      3          0.471          Valid              Reliabel
                      4          0.533          Valid              Reliabel
                      5          0.535          Valid              Reliabel
                      6          0.519          Valid              Reliabel
                      7          0.535          Valid              Reliabel
                      8          0.580          Valid              Reliabel
                      9          0.565          Valid              Reliabel
                     10          0.618          Valid              Reliabel
                     11          0.519          Valid              Reliabel
                     12          0.630          Valid              Reliabel
                     13          0.599          Valid              Reliabel
                     14          0.467          Valid              Reliabel
                     15          0.467          Valid              Reliabel



4.5. Metode Analisis Data
    Pengolahan data hasil penelitian dilakukan secara manual dan menggunakan
    program komputer untuk mempermudah analisis data. Data yang diperoleh
    akan dianalisis dengan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama editing
    yaitu mengecek nama dan kelengkapan identitas maupun data responden
    serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk. Tahap
    kedua adalah proses coding yaitu memberi kode atau angka tertentu pada
    kuesioner untuk mempermudah waktu mengadakan tabulasi dan analisis.
    Tahap ketiga adalah entry data yaitu memasukkan data dari kuesioner ke
    dalam program komputer dengan menggunakan program SPSS. Tahap
    keempat adalah melakukan cleaning yaitu mengecek kembali data yang telah
    dientry untuk mengetahui adanya kesalahan atau tidak. Hasil penelitian akan
    ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
                                                                            19




                                     BAB 5
                    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


5.1.   Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
       Penelitian ini dilakukan di kampus Universitas Sumatera Utara yang
       terletak di Jalan Dr. T. Mansyur No.9 Medan. Pada tanggal 20 November
       1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno
       menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia. Kampus USU
       Padang Bulan sebagai kampus utama berlokasi di Kelurahan Padang Bulan,
       Kecamatan Medan Baru. Kampus ini mulai digunakan sejak tahun 1957,
       sebelumnya beberapa fakultas di lingkungan USU menggunakan sejumlah
       gedung yang tersebar di kota Medan termasuk di antaranya berlokasi di
       Jalan Seram, Jalan Cik Ditiro, Jalan Sempali, dan Jalan Gandhi.


       Kampus Padang Bulan yang pada awalnya terdapat di pinggiran kota
       Medan, kemudian dengan perkembangan kota Medan sehingga sekarang
       berada di tengah – tengah kota. Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha,
       dengan zona akademik seluas sekitar 100 Ha yang berada di tengahnya.
       USU memiliki 12 fakultas yaitu : Fakultas Kedokteran, Hukum, Psikologi,
       Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Matematika
       dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sastra, Kedokteran Gigi, Teknik dan
       Pertanian.


       Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu Perguruan Tinggi Negeri
       (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara
       (BHMN). Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan
       yang kelima di Indonesia. Sampel penelitian diambil di seluruh fakultas
       yang ada.
                                                                                 20




5.1.2   Deskripsi Karakteristik Responden
5.1.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
        Jumlah responden yang terlibat dalam studi ini adalah sebesar 100
        responden yang merupakan mahasiswa jenjang studi S1 dari 12 fakultas
        yang ada di USU. Jumlah sampel ini adalah sama dengan jumlah sampel
        yang diperlukan yaitu 100 orang. Lebih dari setengah responden yang
        terpilih adalah perempuan dengan persentase 52% atau 52 orang
        sedangkan laki-laki berjumlah 48 orang dengan persentase 48%, seperti
        pada tabel 5.1.


5.1.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Responden
        Berdasarkan umur, mayoritas responden berusia 22 dan 19 tahun dengan
        persentase 24% dan 18%. Sedangkan usia responden dengan jumlah yang
        paling kecil adalah 23 tahun atau hanya 4% saja, seperti terlihat pada tabel
        5.2. Usia responden yang termuda adalah 18 tahun dengan persentase 13%
        dan usia responden tertua adalah 24 tahun dengan persentase 8%.


5.1.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Fakultas Mahasiswa
        Yang menjadi responden atau sampel dalam penelitian ini merupakan
        mahasiswa jenjang studi S1 yang berasal dari 12 fakultas di Universitas
        Sumatera Utara. Responden dipilih secara sama rata, yaitu 8 orang setiap
        fakultas dengan 8% kecuali untuk Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi,
        Kesehatan Masyarakat dan Psikologi respondennya 9 orang, yaitu 9%.


           Tabel 5.1 Karakteristik Mahasiswa Universitas Sumatera Utara
                         (USU) Berdasarkan Jenis Kelamin

                    Jenis               Frekuensi              Persen (%)
                  Kelamin
                Pria                        48                     48
                Wanita                      52                     52


                Total                       100                    100
                                                                           21




     Tabel 5.2 Karakteristik Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU)
                              Berdasarkan Umur

             Umur                Frekuensi              Persen (%)
            18 tahun                 13                     13
            19 tahun                 18                     18
            20 tahun                 16                     16
            21 tahun                 17                     17
            22 tahun                 24                     24
            23 tahun                  4                      4
            24 tahun                  8                      8
             Total                  100                    100

5.1.3 Persepsi Mahasiswa
     Dari keseluruhan responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu
     sebanyak 100 responden, terdapat 26 responden dengan persentase 26%
     mempunyai persepsi yang buruk mengenai kebersihan makanan di warung
     tepi jalan di sekitar lingkungan USU. Sedangkan mayoritas responden,yaitu
     63 orang dengan persentase 63% mempunyai persepsi yang sedang
     mengenai kebersihan makanan di warung tepi jalan. Sedangkan jumlah
     yang paling kecil adalah responden yang mempunyai persepsi baik
     terhadap kebersihan makanan di warung tepi jalan dengan jumlah 11
     orang,atau hanya 11%. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 5.3.


5.1.3.1 Persepsi Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin
      Daripada 48 responden lelaki yang mengambil bahagian dalam penelitian
      ini, 16 daripada mereka, yaitu dengan persentase 16% menyatakan
      persepsi yang buruk. Sedangkan 30 orang, persentase 30% menyatakan
      persepsi yang sedang dan hanya 2 orang,yaitu persentase terkecil 2%
      menyatakan persepsi yang baik mengenai kebersihan makanan. Manakala
      dari 52 responden wanita yang mengambil bahagian dalam penelitian ini,
      10 daripada mereka yaitu 10% menyatakan persepsi yang buruk.
      Sedangkan 33 orang, persentase 33% menyatakan persepsi yang sedang
      dan 9 orang, yaitu 9% menyatakan persepsi yang baik mengenai
                                                                           22




      kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar lingkungan USU. Data
      tersebut dapat dilihat pada tabel 5.3.


5.1.3.2 Persepsi Mahasiswa Berdasarkan Fakultas Mahasiswa
      Penelitian telah dibuat di 12 fakultas Universitas Sumatera Utara (USU),
      Medan.      Daripada kesemua fakultas, mayoritas responden yang
      menyatakan persepsi buruk adalah dari Fakultas Kedokteran,yaitu 7 orang
      dengan persentase 7% manakala tiada responden dari Fakultas Hukum,
      Keperawatan dan Pertanian yang menyatakan persepsi buruk. Sedangkan
      mayoritas responden yang menyatakan persepsi yang sedang berasal dari
      Fakultas Hukum dan Psikologi dengan jumlah responden 7 orang setiap
      fakultas manakala jumlah responden terkecil yang menyatakan persepsi
      yang sedang berasal dari Fakultas Kedokteran, yaitu 2 orang dengan
      persentase 2%. Sedangkan jumlah reponden terbanyak yang menyatakan
      persepsi baik berasal dari Fakultas Keperawatan dan Sastra dengan jumlah
      2 orang setiap fakultas dengan persentase 2%. Tiada responden yang
      menyatakan persepsi yang baik terhadap kebersihan makanan di warung
      tepi jalan di Fakultas Farmasi, Kedokteran dan Pertanian. Data tersebut
      dapat dilihat pada tabel 5.4.


      Tabel 5.3. Persepsi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU)
     Mengenai Kebersihan Makanan Di Warung Tepi Jalan Di Lingkungan
                      USU Berdasarkan Jenis Kelamin

        Jenis Kelamin                   Persepsi              Total
                             Buruk       Sedang     Baik

       Laki-Laki               16              30    2          48
       Perempuan               10              33    9          52

       Total                   26              63   11         100
                                                                       23




 Tabel 5.4. Persepsi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU)
Mengenai Kebersihan Makanan Di Warung Tepi Jalan Di Lingkungan
              USU Berdasarkan Fakultas Mahasiswa

           Fakultas               Persepsi            Total
                             Buruk Sedang      Baik
     Farmasi                   3      5         0      8
     Hukum                     0      7         1      8
     Ilmu Sains dan            3      4         1      8
     Politik
     Kedokteran                 7         2     0      9
     Kedokteran Gigi            3         5     1      9
     Kesehatan                  2         6     1      9
     Masyarakat
     Keperawatan                0         6     2      8
     Sastra                     2         4     2      8
     Teknik                     4         3     1      8
     Matematika dan             1         6     1      8
     Pengetahuan
     Alam
     Psikologi                  1          7     1     9
     Pertanian                  0          8     0     8
     Total                     26         63    11    100


Daripada 100 responden yang mengambil bahagian, sebanyak 58 responden
atau dengan persentase 58% mengaku bahwa lingkungan sekitar warung
yang mereka makan itu bersih. Sedangkan sisanya yaitu 42 responden
dengan persentase 42% mengaku lingkungan sekitar warung tidak bersih


Sebanyak 34 responden atau dengan persentase 34% menyatakan warung
yang mereka makan itu bebas dari lalat. Sedangkan sisanya sebanyak 68
orang dengan persentase mengaku bahwa di warung yang mereka makan
itu, terdapat lalat-lalat berterbangan.


Sebanyak 15 responden atau dengan persentase 15% menyatakan bahwa
warung yang mereka makan itu bebas dari debu. Sedangkan 85 orang lagi
dengan persentase 85% mengatakan terdapat debu di warung yang mereka
makan itu.
                                                                       24




Kurang dari setengah responden yang mengambil bahagian dalam
penelitian, yaitu 26 orang dengan persentase 26% mengatakan bau di
sekitar warung menyenangkan. Sedangkan sisanya 74 orang dengan
persentase 74% mengatakan bau di sekitar warung tidak menyenangkan
dan mengganggu mereka.


Sebanyak 37 orang responden dengan persentase 37% mengatakan tidak
terdapat parit atau selokan di sekitar warung yang mereka makan.
Sedangkan 63 orang lagi dengan persentase 63% mengatakan terdapatnya
parit atau selokan.


Sebanyak 43 responden, yaitu dengan persentase 43% mengatakan bahwa
kain lap yang digunakan untuk mengelap piring makan di warung adalah
bersih. Sedangkan 57 orang lagi dengan persentase mengatakan yang
sebaliknya,yaitu kain lap yang digunakan adalah tidak bersih.


Dari 100 responden yang mengambil bahagian, 67 daripada mereka, yaitu
dengan persentase 67%         mengatakan bahwa terdapatnya air yang
disediakan untuk mencuci tangan di warung yang mereka makan.
Sedangkan sisanya 33 orang atau persentase 33% mengatakan di warung
yang mereka makan itu, tidak disediakan air untuk mencuci tangan mereka.
Dari jumlah yang sama, 54 responden dengan persentase 54% mengatakan
air yang disediakan untuk mencuci tangan itu bersih dan bebas dari minyak.
Manakala sisanya 46 orang dengan persentase 46% mengatakan air yang
disediakan itu tidak bersih dan berminyak.


Sebanyak 44 responden, yaitu dengan persentase 44% melihat juru masak
tidak batuk dan bersin ke arah makanan yang akan disajikan. Sedangkan
sisanya 56% melihat juru masak batuk dan bersin ke arah makanan yang
akan disajikan.
                                                                     25




Sebanyak 89 responden,yaitu dengan persentase yang tinggi 89% mengakui
bahwa makanan yang mereka makan itu dimasak sehingga matang.
Sedangkan 11 responden lagi, dengan persentase 11% mengatakan
makanan yang mereka makan itu tidak dimasak dengan betul dan matang.


Daripada 100 responden, 67 orang atau dengan persentase 67% mengatakan
bahwa air yang mereka minum di warung dimasak sehingga mendidih
sebelum diminum. Sedangkan sisanya 33 orang dengan persentase 33%
mengatakan air yang diminum itu tidak dimasak.


Sebanyak 69 responden, yaitu persentase 69% mengatakan makanan yang
dimakan itu baru dimasak sebelum dihidang. Manakala sisanya 33
responden, dengan persentase 33% mengakui bahwa makanan yang mereka
makan di warung itu dimasak semalaman.


Sebanyak 61 responden dengan persentase 61% mengatakan sayur-sayuran
di warung yang mereka makan itu dicuci dengan bersih. Sedangkan sisanya
pula mengatakan sayuran tidak dicuci dengan bersih. Daripada jumlah yang
sama, setengah daripada responden, yaitu 50 orang dengan persentase 50%
mengatakan makanan yang dibeli di warung disimpan dalam wadah yang
tertutup. Sedangkan sisanya mengatakan makanan tersebut tidak disimpan
dalam wadah yang tertutup.


Secara umumnya, 93 orang responden atau dengan persentase 93% yaitu
persentase tertinggi antara kesemua soalan mengakui bahwa kualitas atau
mutu makanan adalah lebih penting daripada harga makanan yang murah.
Sedangkan sisanya, 7 orang dengan persentase 7% yaitu persentase
terendah mengatakan sebaliknya. Data mengenai distribusi frekuensi
jawaban responden dapat dilihat pada tabel 5.5.
                                                                         26




       Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Jawaban Mahasiswa Universitas
      Sumatera Utara (USU) Mengenai Kebersihan Makanan Di Warung
                        Tepi Jalan Di Lingkungan USU

NO                  PERTANYAAN                            JAWAPAN
                                                       YA      TIDAK
                                                     F %       F   %
1.      Adakah lingkungan sekitar warung yang        58 58     42 42
        anda makan bersih ?
2.      Adakah warung yang anda makan bebas          34   34   68   68
        dari lalat?
3.      Adakah sekitar warung bebas dari debu?       15   15   85   85
4.      Adakah bau di sekitar warung                 26   26   74   74
        menyenangkan ?
5.      Adakah di sekitar warung yang anda           37   37   63   63
        makan, tidak terdapat parit/selokan ?
6.      Apakah kain lap yang digunakan untuk         43   43   57   57
        mengelap piring adalah bersih ?
7.      Adakah air disediakan untuk cuci tangan di   67   67   33   33
        warung yang anda makan?
8.      Apakah air cuci yang disediakan bersih dan   54   54   46   46
        tidak berminyak ?
9.      Adakah anda melihat juru masak tidak         44   44   56   56
        batuk dan bersin ke arah makanan yang
        akan disajikan ?
10.     Apakah makanan yang anda makan telah         89   89   11   11
        dimasak sehingga matang ?
11.     Adakah air yang anda minum dimasak           67   67   33   33
        sehingga mendidih ?
12.     Adakah makanan yang anda makan di            69   69   31   31
        warung itu baru dimasak ?
13.     Apakah sayuran yang anda makan di            61   61   39   39
        warung itu dicuci dengan bersih ?
14.     Adakah makanan yang anda makan atau          50   50   50   50
        beli di warung tersimpan dalam wadah
        yang tertutup ?
15.     Bagi anda, adakah kualitas (mutu)            93   93   7    7
        makanan adalah lebih penting daripada
        harga makanan yang murah ?
                                                                                27




5.2.   Pembahasan
5.2.1 Persepsi Mahasiswa
       Jumlah responden yang terlibat dalam penelitian adalah berjumlah 100
       orang yaitu sama dengan jumlah sampel minimum penelitian yaitu 100
       orang. Lebih dari setengah daripada jumlah sampel merupakan wanita yaitu
       sebanyak 52% seperti yang dapat dapat dilihat pada tabel 5.1. Hal ini
       kemungkinan disebabkan ketidakmerataan dalam pengambilan sampel dan
       juga dipengaruhi perbandingan jumlah mahasiswa wanita dan pria di USU.


       Berdasarkan tabel 5.2, dapat kita lihat bahwa umur responden sebagian
       besar yaitu 24% berusia 22 tahun. Hal ini dikarenakan usia mahasiswa yang
       masih aktif rata-rata berusia 19-22 tahun. Pada usia ini, mahasiswa sudah
       biasa dengan penelitian-penelitian seperti ini dan        akan memberikan
       kerjasama yang baik jika dibandingkan dengan mahasiswa yang baru
       masuk universitas dan tidak begitu terbiasa dengan kuesioner dan
       penelitian.


       Berdasarkan tabel 5.3, wanita lebih memberi persepsi yang baik mengenai
       kebersihan makanan di warung tepi jalan daripada lelaki. Hal ini
       dikarenakan wanita suka memilih warung yang bersih sebelum makan.
       Mereka lebih mementingkan kebersihan dan hanya makan di warung yang
       bersih. Oleh itu,persepsi mereka adalah lebih positif daripada lelaki.


       Daripada tabel 5.4, mahasiswa dari Fakultas Kedokteran menunjukkan
       persepsi yang lebih ke arah negatif atau buruk. Hal ini mungkin karena
       mahasiswa Fakultas Kedokteran lebih prihatin dan mengetahui tentang
       tahap kebersihan makanan yang diamalkan dan penyakit - penyakit yang
       dapat ditimbulkan daripada kebersihan makanan yang kurang. Jumlah
       mahasiswa yang member persepsi baik adalah sangat kurang, yaitu 11
       orang dengan persentase 11% dan mayoritas mahasiswa dengan persepsi
       baik datangnya dari Fakultas Keperawatan dan Sastra. Secara umumnya
                                                                         28




sebagaimana yang kita ketahui, tahap kebersihan makanan di warung tepi
jalan di sekitar lingkungan USU adalah kurang memuaskan dan mahasiswa
sering ke sana untuk makan karena dekat dan senang untuk ke kuliah
seterusnya.

Menurut Depkes (2005), makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi
kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak
menimbulkan penyakit, diantaranya:
a) Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki
b) Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan
   selanjutnya.
c) Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai
   akibat dari pengaruh enzim, aktifitas mikroba, hewan pengerat,
   serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan
   dan pengeringan.
d) Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit
   yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness) .


Di Indonesia, pada umumnya setiap makanan dapat dengan leluasa beredar
dan dijual tanpa harus terlebih dahulu melalui kontrol kualitas, dan kontrol
keselamatan sehingga masih lebih 70 % makanan yang dijual dihasilkan
oleh produsen yang masih tradisional yang dalam proses produksinya
kebanyakan masih jauh dari persyaratan kesehatan dan keselamatan,
sehingga kasus keracunan makanan meningkat (Zaenab, 2008).

Sebanyak 68 responden mengatakan bahwa terdapat lalat di warung yang
mereka makan dan 85 responden juga telah mengatakan bahwa terdapat
debu di warung yang mereka makan karena ia terletak di pinggir jalan dan
terdedah kepada pencemaran. Ini jelas menunjukkan bahwa makanan yang
dimakan oleh mereka tidak sehat dan tidak dimasak dengan betul sehingga
tidak memenuhi kriteria agar tidak menimbulkan penyakit.
                                                                         29




Menurut Zaenab (2008), Pengolahan makanan menjadi makanan siap
santap merupakan salah satu titik rawan terjadinya keracunan, banyak
keracunan terjadi akibat tenaga pengolahnya yang tidak memperhatikan
aspek sanitasi. Pengolahan makanan yang baik adalah yang mengikuti
kaidah dan prinsip-prinsip hygiene dan sanitasi, yang dikenal dengan istilah
Good Manufactering Practice (GMP) atau cara produksi makanan yang
baik. Terjadinya kasus keracunan makanan disebabkan karena tempat
pengolahan makanan dan peralatan masak .


Seorang tenaga pengolah makanan, atau penjamah makanan baik dalam
mempersiapkan, mengolah, menyimpan, mengangkut, maupun menyajikan
dan memperhatikan hygiene perorangannya. Salah satu contoh adalah
kebersihan tangan. Biasakan mencuci tangan sebelum makan atau
mengolah makanan (Zaenab, 2008).


Lebih dari setengah responden mangakui bahwa kain lap yang tidak bersih
digunakan untuk mengelap piring yang telah dicuci dan juru masak batuk
atau bersin ke arah makanan yang akan disajikan. Hal ini menunjukkan
bahwa pengolah makanan tidak mementingkan hygiene dalam penyediaan
dan penyajian makanannya. Ini boleh menyebabkan terjadinya keracunan
makanan pada mahasiswa yang makan di warung tersebut.


Daripada jawaban responden, lebih dari 50% menyatakan bahwa air untuk
mencuci tangan disediakan dan dalam keadaan bersih. Hal ini jelas
menunjukkan pengolah makanan sadar akan kepentingan mencuci tangan
dalam mencegah terjadi kontaminasi makanan. Dari tabel 5.5, kita dapat
melihat bahwa sayuran yang dimakan oleh 61 orang responden atau dengan
persentase 61% telah dicuci dengan bersih dan ini merupakan salah satu
usaha pengolah makanan dalam mencegah timbulnya penyakit.
                                                                       30




Penyimpanan bahan makanan sebelum diolah perlu perhatian khusus mulai
dari wadah tempat penyimpanan sampai dengan cara penyimpanannya
perlu diperhatikan dengan maksud untuk menghindari terjadinya keracunan
karena kesalahan penyimpanan (Zaenab, 2008). Separuh daripada
responden mengakui bahwa makanan yang dimakan tidak disimpan dalam
wadah yang tertutup. Ini mungkin karena warung di tepi jalan adalah kecil
dan tidak mempunyai kemudahan untuk menyimpan makanan yang
banyak.


Makanan masak merupakan campuran bahan yang lunak dan sangat disukai
bakteri. Bakteri akan tumbuh dan berkembang dalam makanan yang berada
dalam suasana yang cocok untuk hidupnya sehingga jumlahnya menjadi
banyak (Zaenab, 2008). Dari tabel 5.5 dapat diketahui bahwa makanan
yang dimakan oleh 89 responden yaitu dengan persentase 89% telah
dimasak dengan matang dan lebih separuh daripada jumlah responden
mengatakan makanan yang mereka makan itu baru dimasak. Jadi, makanan
tersebut tidak akan mudah rusak dan menimbulkan keracunan makanan.


Dari keseluruhan responden yang mengambil bahagian, kepentingan
mereka mengenai kualitas (mutu) makanan terlihat sudah baik, hal ini dapat
dilihat dari tabel 5.5. Responden yang menyatakan kualitas (mutu)
makanan lebih penting daripada harga makanan paling tinggi persentasenya
yaitu 93% manakala persentase yang paling kecil yaitu 7% responden,
menyatakan yang sebaliknya. Dengan demikian menunjukkan bahwa
kesadaran responden tentang kualitas makanan adalah sangat bagus.
                                                                          31




                                     BAB 6
                         KESIMPULAN DAN SARAN


6.1.   Kesimpulan
         Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
         mayoritas responden yaitu dengan persentase 63% memberi persepsi
         yang sedang, manakala 26% responden selebihnya memberi persepsi
         buruk dan diikuti 11% responden yang memberi persepsi baik mengenai
         kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar lingkungan
         Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.
6.2.   Saran

       1. Masih rendahnya persepsi yang baik mengenai kebersihan makanan di
         kalangan mahasiswa USU menunjukkan masih perlunya penyuluhan
         tentang kebersihan dan kesehatan kepada para pedagang warung di tepi
         jalan.

       2. Sebaiknya para pedagang warung di tepi jalan yang menjual makanan
         dan minuman terutama yang berada di sekitar kampus USU lebih
         memperhatikan kebersihan cara pengolahan dan tempat penyimpanan
         makanan serta kebersihan diri agar makanan dan minuman yang dijual
         tidak terkontaminasi bakteri.

       3. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki pengetahuan akan kebersihan
         yang baik, harusnya lebih memperhatikan aspek kebersihan dalam
         memilih makanan dan tempat dimana memperoleh makanan.
                                                                                  32




                               DAFTAR PUSTAKA


Budiarto, E, 2002. Biostatika untuk kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
       Jakarta : EGC. 11-28.


Camilleri, M., Murray, J.A., 2008. Diarrhea and Constipation. In. Fauci, A.S., et
       al Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th edition. New York: The
       McGraw-Hill Companies. 247-249


Ciesla, W.P. Jr.,Guerrant, R.L., 2001. Infectious Diarrhea. In. Wilson, W.R., et al.
       Current Diagnosis & Treatment in Infectious Diseases. New York : Lange
       Medical Books.255-268


CureResearch.com , 2008. Statistics by Country for Food poisoning , Health
       Grades, Inc. Available from :
       http://www.cureresearch.com/f/food_poisoning/stats-country.htm.
       [Accessed 8 April 2010]


Dahlan, M.S., 2005. Besar Sampel dalam Penelitian kedokteran dan Kesehatan.
       Jakarta : Arkans. 19-36


Departemen Kesehatan Republik Indonesia , 2005. Intoksinasi Makanan ,
       Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan


Department of Health and Human Services , 2005 , Foodborne Illness ,       Centre
       of Disease Control and Prevention . Available from :
       http:www.cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/foodborneinfections_g.htm.
       [Accessed 16 April 2010]


Kris , 2009 , Diare Akibat Infeksi , Institute Of Tropical Disease , Airlangga
       University. Available from :
                                                                                   33




       http://itd.unair.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=633/.
       [Accessed 13 April 2010]


Notoadmojo, S., 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka
       Cipta. 79-92,112-115,117-136


Pratomo, H. 1990. Pedoman Usulan Penelitian Bidang Kesehatan Masyarakat.
       Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.


Sastroasmoro, S., Gatot, D., Kadri, N., Pudjiarto, P.S., 2008 Usulan Penelitian.
       Dalam : Sastroasmoro, S., Ismael, S., Dasar – dasar Metodologi
       Penelitian Klinis. Edisi Ketiga. Jakarta : Sagung Seto. 46-51


WHO Media centre , 2007 , Food safety and foodborne illness , World Health
       Organization (WHO) . Available from :
       http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs237/en/. [Accessed 8 April
       2010]


Zaenab, 2008 , Kasus Keracunan Makanan , Kesehatan Lingkungan Makassar .
       Available from : http://keslingmks.wordpress.com/2008/12/26/makalah-
       tentang-kasus-keracunan-makanan/. [Accessed 13 April 2010]
                                                                            34




LAMPIRAN 1 : RIWAYAT HIDUP PENELITI


                         DAFTAR RIWAYAT HIDUP




Nama                     : Logapragash Kandasamy
Tempat / Tanggal Lahir    : Sabah / 9 Juli 1988
Agama                    : Hindu
Alamat                   : Tasbi 2, Blok 6/74, Medan
Riwayat Pendidikan        : SRK Methodist (ACS) Sitiawan, Perak, Malaysia
                           SMK Methodist (ACS) Sitiawan, Perak, Malaysia
                           Foundation In Science – Nirwana College, K.Lumpur
                                                                      35




LAMPIRAN 2 : Kuesioner Penelitian


PERSEPSI MAHASISWA/I USU TENTANG KEBERSIHAN MAKANAN
      DI WARUNG TEPI JALAN DI SEKITAR LINGKUNGAN USU


Bahagian I : Demografi
Nama Mahasiswa:___________________________
Tanggal Lahir: ___/___/___
Alamat:__________________________________________
Fakultas:___________________________
Stambuk:__________________________
Tanggal diisi kuesioner: __________________________
Adakah anda pernah makan di warung tepi jalan : _______________
dalam masa 1 bulan terakhir ini?


Tandakan (√) pada ruangan yang sesuai.




                      PERTANYAAN                           YA     TIDAK


 Bahagian A : Kebersihan di sekitar warung tepi jalan
 1.   Adakah lingkungan sekitar warung yang anda makan
      bersih ?
 2.   Adakah warung yang anda makan bebas dari lalat?
 3.   Adakah sekitar warung bebas dari debu?
 4.   Adakah bau di sekitar warung menyenangkan ?
 5.   Adakah di sekitar warung yang anda makan, tidak
      terdapat parit/selokan ?
                                                         36




Bahagian B : Kebersihan peralatan masak dan makan
6.   Apakah kain lap yang digunakan untuk mengelap
     piring adalah bersih ?
7.   Adakah air disediakan untuk cuci tangan di warung
     yang anda makan?
8.   Apakah air cuci yang disediakan bersih dan tidak
     berminyak ?
Bahagian C : Kebersihan penyaji dan pekerja
9.   Adakah anda melihat juru masak tidak batuk dan
     bersin ke arah makanan yang akan disajikan ?
Bahagian D : Makanan dan minuman
10. Apakah makanan yang anda makan telah dimasak
     sehingga matang ?
11. Adakah air yang anda minum dimasak sehingga
     mendidih ?
12. Adakah makanan yang anda makan di warung itu baru
     dimasak ?
13. Apakah sayuran yang anda makan di warung itu
     dicuci dengan bersih ?
14. Adakah makanan yang anda makan atau beli di
     warung tersimpan dalam wadah yang tertutup ?
15. Bagi anda, adakah kualitas (mutu) makanan adalah
     lebih penting daripada harga makanan yang murah ?
                                                                               37




LAMPIRAN 3 : Informed Consent


                          FAKULTAS KEDOKTERAN
                          UNIVERSITAS SUMATERA UTARA




                            INFORMED CONSENT


       Saya Logapragash Kandasamy, mahasiswa Kedokteran Universitas
Sumatera Utara tahun 2007 akan melakukan penelitian mengenai persepsi
mahasiswa USU mengenai kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar
lingkungan USU. Penelitian ini dilakukan dengan meminta responden untuk
mengisi kuesioner yang diedarkan.


       Penelitian   ini   bertujuan   untuk   mengetahui    bagaimana    persepsi
mahasiswa/i USU tentang kebersihan makanan di warung tepi jalan di sekitar
lingkungan USU. Setiap maklumat pribadi saudara yang terdapat dalam kuesioner
ini tidak akan disebarluaskan dan akan dijamin kerahasiaannya. Adapun informasi
yang saya terima tersebut hanya akan digunakan sebagai data penelitian. Dan
sangat diharapkan saudara/i untuk menjawab kuesioner ini dengan jujur.


       Setelah mengetahui tujuan penelitian di atas, jika saudara/i bersedia untuk
mengisi kuesioner ini, mohon untuk tandatangan di tempat yang telah disediakan.


                                                       Medan,      Oktober 2010,
Peneliti,                                                       Responden,




( LOGAPRAGASH KANDASAMY )                                (....……………………)

				
DOCUMENT INFO