Docstoc

Definisi kehilangan

Document Sample
Definisi kehilangan Powered By Docstoc
					Definisi kehilangan

Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah
suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti
sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa
tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau
total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.

Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan
(Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah
dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah
mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam
bentuk yang berbeda.

Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan
atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan
merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada
menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung:

1. Arti dari kehilangan
2. Sosial budaya
3. kepercayaan / spiritual
4. Peran seks
5. Status social ekonomi
6. kondisi fisik dan psikologi individu

2.1.2 Tipe Kehilangan

Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu:

1. Aktual atau nyata

Mudah dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, misalnya amputasi, kematian orang
yang sangat berarti / di cintai.

2. Persepsi

Hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan, misalnya; seseorang yang
berhenti bekerja / PHK, menyebabkan perasaan kemandirian dan kebebasannya menjadi
menurun.

2.1.3 Jenis-jenis Kehilangan
Terdapat 5 katagori kehilangan, yaitu:

      Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai

Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti adalah
salah satu yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tioe kehilangan, yang
mana harus ditanggung oleh seseorang.

Kematian juga membawa dampak kehilangan bagi orang yang dicintai. Karena
keintiman, intensitas dan ketergantungan dari ikatan atau jalinan yang ada, kematian
pasangan suami/istri atau anak biasanya membawa dampak emosional yang luar biasa
dan tidak dapat ditutupi.

      Kehilangan yang ada pada diri sendiri (loss of self)

Bentuk lain dari kehilangan adalah kehilangan diri atau anggapan tentang mental
seseorang. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan, diri sendiri,
kemampuan fisik dan mental, peran dalam kehidupan, dan dampaknya. Kehilangan dari
aspek diri mungkin sementara atau menetap, sebagian atau komplit. Beberapa aspek lain
yang dapat hilang dari seseorang misalnya kehilangan pendengaran, ingatan, usia muda,
fungsi tubuh.

      Kehilangan objek eksternal

Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama,
perhiasan, uang atau pekerjaan. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap
benda yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut.

      Kehilangan lingkungan yang sangat dikenal

Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk
dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara
permanen. Misalnya pindah kekota lain, maka akan memiliki tetangga yang baru dan
proses penyesuaian baru.

      Kehilangan kehidupan/ meninggal

Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan, pikiran dan respon pada kegiatan
dan orang disekitarnya, sampai pada kematian yang sesungguhnya. Sebagian orang
berespon berbeda tentang kematian.

2.1.4 Rentang Respon Kehilangan

Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptance
1. Fase denial
a. Reaksi pertama adalah syok, tidak mempercayai kenyataan
b. Verbalisasi;‖ itu tidak mungkin‖, ― saya tidak percaya itu terjadi ‖.
c. Perubahan fisik; letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung
cepat, menangis, gelisah.

2.                  Fase                  anger                 /                marah
a.                Mulai                sadar              akan                kenyataan
b.          Marah             diproyeksikan          pada           orang           lain
c. Reaksi fisik; muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
d.                                    Perilaku                                  agresif.
3.           Fase            bergaining           /          tawar-           menawar.
a. Verbalisasi; ― kenapa harus terjadi pada saya ? ― kalau saja yang sakit bukan saya ―
seandainya saya hati-hati ―.

4. Fase depresi
a. Menunjukan sikap menarik diri, tidak mau bicara atau putus asa.
b. Gejala ; menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido menurun.

5. Fase acceptance
a. Pikiran pada objek yang hilang berkurang.
b. Verbalisasi ;‖ apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh‖, ― yah, akhirnya
saya harus operasi ―

2.2 Berduka

2.2.1 Definisi berduka

Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang
dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan
lain-lain.

Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA
merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka
disfungsional.

Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam
merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya
kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.

Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang
responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial,
hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke
tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
2.2.2 Teori dari Proses Berduka

Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Konsep dan
teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan
emosional klien dan keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka
memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. Peran perawat adalah untuk
mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap
perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.

   1. Teori Engels

Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat
diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.

      Fase I (shock dan tidak percaya)

Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas,
atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare,
detak jantung cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.

      Fase II (berkembangnya kesadaran)

Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami
putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba
terjadi.

      Fase III (restitusi)

Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong, karena
kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang
bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.

      Fase IV

Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa
merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap
almarhum.

      Fase V

Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. Sehingga pada fase
ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah
berkembang.

   1. Teori Kubler-Ross
Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada
perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut:

a)          Penyangkalan (Denial)

Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk
mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti ―Tidak, tidak mungkin
seperti itu,‖ atau ―Tidak akan terjadi pada saya!‖ umum dilontarkan klien.

b)         Kemarahan (Anger)

Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin ―bertindak lebih‖ pada setiap orang
dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang akan lebih
sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping
individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya
menghadapi kehilangan.

c)          Penawaran (Bargaining)

Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk
mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari pendapat orang lain.

d)         Depresi (Depression)

Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan
tersebut. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan
dan mulai memecahkan masalah.

e)          Penerimaan (Acceptance)

Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan
sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya
menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa.

     1. Teori Martocchio

Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang
tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung
pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Reaksi yang terus menerus
dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin
berlanjut sampai 3-5 tahun.

     1. Teori Rando

Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori:
   1. Penghindaran

Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.

   1. Konfrontasi

Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang
melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling
akut.

   1. Akomodasi

Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki
kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk
menjalani hidup dengan kehidupan mereka.

PERBANDINGAN EMPAT TEORI PROSES BERDUKA
ENGEL (1964)             KUBLER-ROSS   MARTOCCHIO RANDO (1991)
                         (1969)        (1985)
Shock dan tidak percaya  Menyangkal    Shock and disbelief Penghindaran
Berkembangnya kesadaran Marah          Yearning        and
                                       protest
Restitusi                Tawar-menawar Anguish,            Konfrontasi
                                       disorganization and
                                       despair
Idealization             Depresi       Identification   in
                                       bereavement
Reorganization / the out Penerimaan    Reorganization and akomodasi
come                                   restitution

BAB III

ASKEP BERDUKA DISFUNGSIONAL

Pengkajian

Data              yang              dapat              dikumpulkan               adalah:
a.                    Perasaan                      sedih,                    menangis.
b.               Perasaan           putus                   asa,                kesepian
c.                           Mengingkari                                     kehilangan
d.               Kesulitan               mengekspresikan                       perasaan
e.                             Konsentrasi                                     menurun
f.                 Kemarahan                     yang                         berlebihan
g.     Tidak    berminat    dalam      berinteraksi   dengan             orang      lain.
h.       Merenungkan       perasaan        bersalah      secara              berlebihan.
i.             Reaksi              emosional                 yang                 lambat
j. Adanya perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur, tingkat aktivitas

Diagnosa keperawatan: Berduka disfungsional

Definisi: sesuatu respon terhadap kehilangan yang nyata maupun yang dirasakan dimana
individu tetap terfiksasi dalam satu tahap proses berduka untuk suatu periode waktu yang
terlalu lama, atau gejala berduka yang normal menjadi berlebih-lebihan untuk suatu
tingkat yang mengganggu fungsi kehidupan.

Kemungkinan Etiologi (“yang berhubungan dengan”)

      Kehilangan yang nyata atau dirasakan dari beberapa konsep nilai untuk individu
      Kehilangan yang terlalu berat (penumpukan rasa berduka dari kehilangan multiple
       yang belum terselesaikan)
      Menghalangi respon berduka terhadap suatu kehilangan
      Tidak adanya antisipasi proses berduka
      Perasaan bersalah yang disebabkan oleh hubungan ambivalen dengan konsep
       kehilangan.

Batasan Karakteristik (“dibuktikan dengan”)

      Idealisasi kehilangan (konsep)
      Mengingkari kehilangan

ü Kemarahan yang berlebihan, diekspresikan secara tidak tepat

ü Obsesi-obsesi pengalaman-pengalaman masa lampau

ü Merenungkan perasaan nersalah secara berlebihan dan dibesar-basarkan tidak sesuai
dengan ukuran situasi.

      Regresi perkembangan
      Gangguan dalam konsentrasi
      Kesulitan dalam mengekspresikan kehilangan
      Afek yang labil
      Kelainan dalam kebiasaan makan, pola tidur, pola mimpi, tingkat aktivitas, libido.

Sasaran/Tujuan

Sasaran jangka pendek

Pasien akan mengekspresikan kemarahan terhadap konsep kehilangan dalam 1 minggu.

Sasaran jangka panjang
Pasien akan mampu menyatakan secara verbal perilaku-perilaku yang berhubungan
dengan tahap-tahap berduka yang normal. Pasien akan mampu mengakui posisinya
sendiri dalam proses berduka sehingga ia mampu dengan langkahnya sendiri terhadap
pemecahan masalah.

Intervensi dengan Rasional Tertentu

   1. Tentukan pada tahap berduka mana pasian terfiksasi. Identifikasi perilaku-
      perilaku yang berhubungan dengan tahap ini.

Rasional

Pengkajian data dasar yang akurat adalah penting untuk perencanaan keperawatan yang
efektif bagi pasien yang berduka.

   1. Kembangkan hubungan saling percaya dengan pasien. Perlihatkan empati dan
      perhatian. Jujur dan tepati semua janji

Rasional

Rasa percaya merupakan dasar unutk suatu kebutuhan yang terapeutik.

   1. Perlihatkan sikap menerima dan membolehkan pasien untuk mengekspresikan
      perasaannya secara terbuka

Rasional

Sikap menerima menunjukkan kepada pasien bahwa anda yakin bahwa ia merupakan
seseorang pribadi yang bermakna. Rasa percaya meningkat.

   1. Dorong pasien untuk mengekspresikan rasa marah. Jangan menjadi defensif jika
      permulaan ekspresi kemarahan dipindahkan kepada perawat atau terapis. Bantu
      pasien untuk mengeksplorasikan perasaan marah sehingga pasien dapat
      mengungkapkan secara langsung kepada objek atau orang/pribadi yang dimaksud.

Rasional

Pengungkapan secara verbal perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam
dapat membantu pasien sampai kepada hubungan dengan persoalan-persoalan yang
belum terpecahkan.

   1. Bantu pasien untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam dengan
      berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas motorik kasar (mis, joging, bola voli,dll)

Rasional
Latihan fisik memberikan suatu metode yang aman dan efektif untuk mengeluarkan
kemarahan yang terpendam.

   1. Ajarkan tentang tahap-tahap berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan
      dengan setiap tahap. Bantu pasien untuk mengerti bahwa perasaan seperti rasa
      bersalah dan marah terhadap konsep kehilangan adalah perasaan yang wajar dan
      dapat diterima selama proses berduka.

Rasional

Pengetahuan tentang perasaan-perasaan yang wajar yang berhubungan dengan berduka
yang normal dapat menolong mengurangi beberapa perasaan bersalah menyebabkan
timbulnya respon-respon ini.

   1. Dorong pasien untuk meninjau hubungan dengan konsep kehilangan. Dengan
      dukungan dan sensitivitas, menunjukkan realita situasi dalam area-area dimana
      kesalahan presentasi diekspresikan.

Rasional

Pasien harus menghentikan persepsi idealisnya dan mampu menerima baik aspek positif
maupun negatif dari konsep kehilangan sebelum proses berduka selesai seluruhnya.

   1. Komunikasikan kepada pasien bahwa menangis merupakan hal yang dapat
      diterima. Menggunakan sentuhan merupakan hal yang terapeutik dan tepat untuk
      kebanyakan pasien.

   1. Bantu pasien dalam memecahkan masalahnya sebagai usaha untuk menentukan
      metoda-metoda koping yang lebih adaptif terhadap pengalaman kehilangan.
      Berikan umpan balik positif untuk identifikasi strategi dan membuat keputusan.

Rasional

Umpan balik positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang
diharapkan.

10. Dorong pasien untuk menjangkau dukungan spiritual selama waktu ini dalam bentuk
apapun yang diinginkan untuknya. Kaji kebutukan-kebutuhan spiritual pasien dan bantu
sesuai kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.

Hasil Pasien yang Diharapkan/Kriteria Pulang

   1. Pasien mampu untuk menyatakan secara verbal tahap-tahap proses berduka yang
      normal dan perilaku yang berhubungan debgab tiap-tiap tahap.
   2. Pasien mampu mengidentifikasi posisinya sendiri dalam proses berduka dan
      mengekspresikan perasaan-perasaannya yang berhubungan denga konsep
      kehilangan secara jujur.
   3. Pasien tidak terlalu lama mengekspresikan emosi-emosi dan perilaku-perilaku
      yang berlebihan yang berhubungan dengan disfungsi berduka dan mampu
      melaksanakan aktifitas-aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan
atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan
merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada
menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.

Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA
merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka
disfungsional.

Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam
merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya
kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.

Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang
responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial,
hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke
tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.

Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali
pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.

Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu: Aktual atau nyata dan persepsi. Terdapat 5 katagori
kehilangan, yaitu:Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai, kehilangan lingkungan
yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal, kehilangan yang ada pada diri
sendiri/aspek diri, dan kehilangan kehidupan/meninggal.

Elizabeth Kubler-rose,1969.h.51, membagi respon berduka dalam lima fase, yaitu :
pengikaran, marah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan.
                               DAFTAR PUSTAKA



Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC.

Suseno, Tutu April. 2004. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia: Kehilangan,
Kematian dan Berduka dan Proses keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.

Townsend, Mary C. 1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatn Psikiatri, Pedoman
Untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.

stikes.fortdekock.ac.id

Stuart and Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa, ed.3. Jakarta: ECG.
                                 Kecemasan
1. Pengertian.

     Cemas adalah suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan yang

     sulit (ketakuta) dan aktifasi saraf otonom dalam berespon terhadap ketidakjelasan,

     ancaman tidak spesifik ( Lynda Juall Carpenito, 2000 ).

2. Faktor predisposisi.

     Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal cemas ( Gail Wiscarz Stuart,

     1995 ).

a.   Dalam pandangan psiko analitik kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara

     dua elemen kepribadian dan super ego. Iq mewakili dorongan insting dan impuls primitif

     seseorang, sedangkan super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan

     oleh norma-norma budaya seseorang Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua

     elemen yang bertentangan dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada

     bahaya.

b. Menurut pandangan inter personal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak

     adanya penerimaan dan penolakan inter personal. Cemas juga berhubungan dengan

     perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan kelemahan

     fisik orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami cemas yang berat.

c.   Menurut pandangan perilaku cemas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang

     mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar

     prilaku lain menganggap cemas sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan

     keinginan dari dalam menghindari kepedihan.
d.   Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa

     ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan kecemasan dan

     antara gangguan cemas dan depresi.

e.   Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodia

     zepines. Reseptor ini mungkin membantu mengatur cemas. Penghambat asam amino

     butirik gama neroregulator ( GABA ) juga mungkin memainkan peran utama dalam

     mekanisme biologis berhubungan dengan cemas, sebagaimana halnya dengan endorfin.

     Selain itu, telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata

     sebagai predisposisi terhadap cemas. Cemas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan

     selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor. ( Gail Wiscarz

     Stuart, 1995 ).

3. Tingkat kecemasan

a.   Cemas ringan

     Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan

     seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Cemas dapat

     memotivasi belajar dan menghabiskan pertumbuhan dan kreativitas.

b. Cemas sedang

     Memungkinkan      seseorang   untuk   memusatkan     pada   hal    yang   penting   dan

     mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif

     namun dapat melakukan seseuatu yang lebih terarah.
c.   Cemas berat.

     Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu

     yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Semua prilaku

     ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan

     untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.

d. Panik

     Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian terpecah dario

     proporsinya karena mengalami kehilangan kendali orang yang mengalaminya ( Gail

     Wiscarz Stuart, 1995 ).

4. Tanda dan gejala kecemasan

a.   Cemas ringan.

1. Respon fisiologis

-    Sesekali nafas pendek.

-    Nadi dan tekanan darah naik.

-    Gejala ringan pada lambung.

-    Muka berkerut dan bibir bergetar

2. Respon kognitif

-    Lapang persepsi meluas

-    Mampu menerima rangsangan yang komplex

-    Konsetrasi pada masalah.

-    Menyelesaikan masalah secara efektif.

3. Respon prilaku dan emosi
-   Tidak dapat duduk tenang.

-   Tremor halus pada tangan.

-   Suara kadang-kadang meninggi

     b. Cemas sedang.

     1. Respon fisiologis

-   Suara nafas pendek.

-   Nadi dan tekanan darah naik.

-   Mulut kering

-   Anorexia

-   Diare atau konstipasi

-   Gelisah

     2. Respon kognitif

     -    Lapangan persepsi yang menyempit.

     -    Rangsangan luar tidak mampu diterima.

     -    Berfokus pada apa yang menjadi perhatian.

     3. Respon perilaku dan emosi

     -    Gerakan tersentak-sentak.

     -    Bicara banyak dan lebih cepat.

     -    Susah tidur.

     -    Perasaan tidak aman.



     c.   Cemas berat

     1. Respon fisiologis
-   Nafas pendek.

-   Nadi dan tekanan darah naik.

-   Berkeringat dan sakit kepala

-   Penglihatan kabir

-   Ketegangan

         2. Respon kognitif

     -   Lapangan persepsi sangat sempit.

     -   Tidak mampu menyelesaikan masalah

         3. Respon perilaku dan emosi

     -   Perasaan ancaman meningkat

     -   Verbalisasi cepat

     -   Blocking

     d. Panik

     1. Respon fisiologis

-   Nafas pendek.

-   Nadi dan tekanan darah naik.

-   Rasa tercekik dan palpitasi

-   Sakit dada

-   Pucat.

-   Hipotensi



         2. Respon kognitif

     -   Lapangan persepsi sangat sempit.
-    Tidak berfikir logis

     3. Respon perilaku dan emosi

-    Mengamuk dan marah

-    Ketakutan dan marah

-    Kehilangan kendali

-    Persepsi kacau

5.   Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea.

a.   Umur.

     Usia ± 20-21 tahun mencapai keseimbangan psikis, kepribadian sudah terbentuk.

     Berfikir, merasa dan berbuat sudah teringrasi dan harmonis. Banyak tenggang rasa, teman

     hidup sudah mulai tetap dan sudah mampu menilai orang. Berani menetapkan diri dan

     bertanggung jawab atas segala keputusannya ( Suryanah, 1996 ).

     Ibu yang melahirkan dengan operasi akan merasa bingung dan cemas terutama jika

     operasi tersebut dilakukan karena keadaan yang darurat. Ketidakstabilan emosi bisa

     meningkat atau berlangsung lebih lama, apabila muncul perasaan lain       ( Dini Kasdu,

     2003 : 85 ). Kedewasaan seorang istri sebagai calon ibu biasanya berkembang seiring

     umur yang cukup matang. Semakin cukup umur tingkat kematangan seseorang lebih

     matang dalam berfikir. ( Nursalam, 2000 ).

b. Pendidikan

     Pndidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kamampuan, sikap dan

     bentuk-bentuk prilaku lainnya di masyarakat dimana ia hidup ( Ihsan, 2001 ).

     Pendidikan berpenagruh secara tidak langsung melalui peningkatan status sosial dan

     kedudukan seseorang, peningkatan pilihan terhadap kehidupan sehingga juga
     mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang pendidikan menengah biasanya lebih

     mengerti dan lebih dapat menerima adanya perubahan dalam masalah kehidupan

     seseorang yang tidak berpendidikan akan rentan terhadap penjelasan yang tidak rasional (

     Erica, 1998 ).

c.   Informasi pre operasi

     Gangguan kecemasan akan meningkat apabila penjelasan tentang prosedur suatu tindakan

     tidak atau kurang jelas diterima oleh klien dan keluarga. Hal ini terjadi bila suatu

     keterangan atau penjelasan yang sederhana tidak diberikan oleh petugas kesehatan yang

     berkomentensi atau tidak menjelaskan maksud dan tujuan atau dijelaskan tapi

     menggunakan istilah yang tidak dimengerti oleh klien dan keluarga ( Eisemberg, 1996 ).

d. Tempat tinggal

     Suasana rumah yang dihuni oleh klien akan menpengaruhi tingkat kecemasan yang

     dialami klien. Tempat tinggal klien akan berpengaruhi terhadap tingkat stresorr yang

     dirasakan klien. ( Ramaiah, 2003).

e.   Herediter.

     Sekalipun gangguan emosi ada yang ditemukan dalam keluarga-keluarga tertentu, ini

     bukan merupakan penyebab penting dari kecemasan ( Ramaiah, 2003 ).

f.   Emosi yang ditekan

     Kecemasan bisa terjadi jika anda tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaan

     dalam hubungan personal. Hal tersebut terjadi jika menekan rasa marah dan frustasi

     dalam jangka waktu yang lama sekali ( Ramaiah, 2003 ).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5331
posted:2/12/2011
language:Indonesian
pages:18