wudhu

					Do'a berwudhu
Sebelum wudhu disunatkan membaca syahadat terlebih dahulu kemudian membaca
basmalah.
1.do'a membasuh kedua belah tangan sampai pergelangan:
ALLAHUMAH FADZYADAYA MIMMA ASIKA KULLIHA
2.do'a berkumur :
ALLAHUMA A'INI ALA DZIKRIKA WASYUKRIKA WAHUSNI IBADATIKA
3.do'a membersihkan lubang hidung :
ALLAHUMA ARIHNI RO'IHATAL JANNATI WA ANTA ANI RODIN
4.do'a mencuci muka :
nawaetul wudhu-a lirof'il hadatsil ashghori fardol lillahi taala,
niat didalam hati :
AKU NIAT BERWUDHU UNTUK MENGHILANGKAN HADATS KECIL FARDU
KARENA ALLAH.
(note:ketika mencuci muka jangan lupa niat didalam hati yg plng penting)
lalu membaca :
ALLAHUMA BAYYID WAJHI YAUMA TABYADDU WUJUHUW WATAS WADHU
WUJUUH
5.Do'a membasuh tangan kanan :
ALLAHUMA A'THINI KITAABI BIYAMINI WAASIBNI HISABA YAA SIRO
6.do'a membasuh tangan kiri :
ALLAHUMA LATUTINI KITAABIE BISIMALI AUMIW WARO'I DZOHRI
7.Do'a membasuh kepala :
ALLAHUMA HARIM SYA'RI WA BASYARI ALANNAARI
8.Do'a membasuh telinga :
ALLAHUMAJ ALNI MINALLADZINA YASTAMIUNA KAULA PAYATTABIUNA
AHSAANAHU
9.Do'a membasuh kaki kanan :
ALLAHUMA TSABBIT KODAMI ALASSIROOTHIM MUSTAKIM YAUMA
TUTSABITU PIHI AKDAMA IBADAKA SOLIHIN
10.Do'a membasuh kaki kiri :
ALLAHUMA LATAZILA KODAMI ALLA SHIROTIM FINNARI YAUMA TAZILU
PIHI AKDAMA MUNAFIKIN WAL MUSYRIKIN.

DO'A SESUDAH WUDHU :
ALLOHUMAJ ALNI MINATTAWABINA WAJ'ALNI MINAL MUTTATOHIRINA
WAJ'ALNI MIN IBADIKA SOLIHIN SUBHANAKA ALLOHUMA WABIHAMDIKA
ASTAGFIRUKA WAATUBU ILAIK
DOA KETIKA DAN SESUDAH BERWUDHU
Oleh : H. Mohamad Fatoni Asyhari, S.Ag

1. Membasuh dua telapak tangan.



Segala puji bagi Allah Yang Menjadikan air ini bersih/suci.

2. Berkumur.



Ya Allah, curahkan segelas air dari telaga Nabimu Muhammad SAW yang tidak akan
kehausan setelah itu selama-lamanya.

3. Membasuh hidung.



Ya Allah, janganlah Engkau haramkan aku mencium harumnya surgaMu.

4. Membasuh muka.



Ya Allah, putihkan wajahku pada hari terdapat beberapa wajah menjadi putih dan hitam.

5. Membasuh tangan kanan.




Ya Allah, berikanlah kitabku dengan tangan kananku dan hitunglah amalku dengan
perhitungan yang mudah.

6. Membasuh tangan kiri.



Ya Allah, janganlah Engkau berikan kitabku dengan tangan kiriku dan jangan dari belakang
punggungku.

7. Menyapu rambut kepala.



Ya Allah, haramkan rambutku dan kulitku dari neraka dan lindungilah aku dari ArsyMu pada
hari tidak ada perlindungan kecuali perlindunganMu.

8. Membasuh dua telinga.



Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan kata dan mengikuti
sesuatu yang terbaik.

9. Membasuh dua telapak kaki.



Ya Allah, mantapkan kedua kakiku di atas titian (shirothol mustaqim) pada hari dimana
banyak kaki-kaki yang tergelincir.

DOA SESUDAH WUDHU



                                                                    .
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang tidak sekutu bagiNya dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-
orang yang bertaubat, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri dan
jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang shaleh.



Do'a Saat Berwudhu

Adakah disyariatkan do'a saat berwudhu'?

Alhamdulillah, tidak ada hadits yang shahih dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang
menetapkan doa saat mencuci atau membasuh anggota-angota wudhu'. Sementara doa-doa yang
disebutkan dalam masalah ini adalah bid'ah tidak ada asalnya. Doa yang dikenal ialah membaca
basmalah (Bismillah) di awalnya dan mengucapkan kalimat syahadatain setelah selesai serta
mengucapkan:

"Allahummaj 'alni minat tawwabiin waj'alni minal mutathahhiriin."

"Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri."
Diucapkan setelah mengucapkan syahadatain.

Fatawa Lajnah Daimah V/205.
Cara Berwudhu
Fiqih Islam
26/7/2008 | 23 Rajab 1429 H | Hits: 6.470
Oleh: Tim dakwatuna.com




Ta’rif Hukum Wudhu dan Keutamaannya

dakwatuna.com - Wudhu adalah bersuci dengan air yang dilakukan dengan cara khusus.
Kewajiban berwudhu ditetapkan dengan firman Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan
jika kamu junub, maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali
dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan
kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Ma‟idah: 6)

Sedangkan dari hadits kita dapati sabda Nabi saw. yang berbunyi, “Allah tidak akan
menerima shalat salah seorang di antaramu jika berhadats sehingga berwudhu.” (As
Syaikhani)

Abu Hurairah r.a. telah merilis tentang keutamaan wudhu. Bahwasannya Rasulullah saw.
bersabda, “Tidakkah aku tunjukkan kepadamu tentang amal yang menghapus kesalahan dan
meninggikan kedudukan?” Mereka menjawab, “Mau, ya Rasulullah.” Nabi saw. bersabda,
“Menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang tidak menyenangkan, memperbanyak langkah
ke masjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath, itulah ribath, itulah ribath.” (Malik,
Muslim, At Tirmidzi, dan An-Nasa‟i)

Ribath adalah keterikatan diri di jalan Allah. Artinya, membiasakan wudhu dengan
menyempurnakannya dan beribadah menyamai jihad fi sabilillah.

Furudhul Wudhu

   1. Membasuh muka, para ulama membatasinya mulai dari batas tumbuh rambut sampai
      bawah dagu, dari telinga ke telinga
   2. Membasuh kedua tangan sampai ke siku; yaitu pergelangan lengan
   3. Mengusap kepala keseluruhannya menurut Imam Malik dan Ahmad, sebagiannya
      menurut Imam Abu Hanifah dan Asy Syafi‟iy
   4. Membasuh kedua kaki sampai ke mata kaki, sesuai dengan sabda Nabi kepada orang
      yang hanya mengusap kakinya: “Celaka, bagi kaki yang tidak dibasuh, ia diancam
      neraka”. Muttafaq alaih

Itulah empat rukun yang tercantum secara tekstual dalam ayat wudhu di Al-Ma‟idah ayat 6.
Tapi, masih ada 2 tambah, yaitu:

   1. Niat. Ini menurut Imam Syafi‟i, Malik, dan Ahmad sesuai dengan sabda Nabi saw.,
      “Sesungguhnya semua amal itu tergantung niat.” (Muttafaq alaih). Urgensi niat adalah
      untuk membedakan antara ibadah dari kebiasaan. Namun, tidak disyaratkan
      melafalkan niat karena niat itu berada di dalam hati.
   2. Tertib. Maksudnya, berurutan. Dimulai dari membasuh muka, tangan, mengusap
      kepala, lalu memabasuh kaki. Menurut Abu Hanifah dan Malikiyah, melakukan
      wudhu dengan tertib hukumnya sunnah.

Sunnah Wudhu

   1. Membaca Basmalah. Ini adalah sunnah yang harus diucapkan saat memulai semua
      pekerjaan. Rasulullah saw. bersabda, “Berwudhulah dengan menyebut nama Allah.”
      (Al-Baihaqi)
   2. Bersiwak. Ini sesuai dengan sabda Nabi saw., “Jika tidak akan memberatkan umatku,
      akan aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu.” (Malik, Asy Syaf‟iy,
      Al-Baihaqi, dan Al-Hakim). Disunnahkan pula bersiwak bagi orang yang berpuasa,
      seperti dalam hadits Amir bin Rabi‟ah r.a. berkata, “Aku melihat Rasulullah saw.
      tidak terhitung jumlahnya bersiwak dalam keadaan berpuasa.” (Ahmad, Abu Daud,
      At-Tirmidzi). Menurut Imam Syafi‟i, bersiwak setelah bergeser matahari bagi orang
      yang berpuasa, hukumnya makruh.
   3. Membasuh dua telapak tangan tiga kali basuhan di awal wudhu, sesuai hadits Aus bin
      Aus Ats-Tsaqafiy r.a. berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. berwudhu dan
      membasuh kedua tangannya tiga kali.” (Ahmad dan An Nasa‟i)
   4. Berkumur, menghisap [1] air ke hidung dan menyemburkannya keluar. Terdapat
      banyak hadits tentang hal ini. Sunnahnya dilakukan secara berurutan, tiga kali,
      menggunakan air baru, menghisap air ke hidung dengan tangan kanan dan
      menyemburkannya dengan tangan kiri, menekan dalam menghisap kecuali dalam
      keadaan puasa.
   5. Menyisir jenggot dengan jari-jari tangan. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah
      meriwayatkannya dari Utsman dan Ibnu Abbas r.a.
   6. Mengulang tiga kali basuhan. Banyak sekali hadits yang menerangkannya
   7. Memulai dari sisi kanan sebelum yang kiri, seperti dalam hadits Aisyah r.a.,
      “Rasulullah saw. sangat menyukai memulai dari yang kanan ketika memakai sandal,
      menyisir, bersuci, dan semua aktivitasnya.” (Muttafaq alaih)
   8. Menggosok, yaitu menggerakkan tangan ke anggota badan ketika mengairi atau
      sesudahnya. Sedang bersambung artinya terus menerus pembasuhan anggota badan
      itu tanpa terputus oleh aktivitas lain di luar wudhu. Hal ini diterangkan dalam banyak
      hadits. Menggosok menurut madzhab Maliki termasuk dalam rukun wudhu, sedang
      terus menerus termasuk dalam rukun wudhu menurut madzhab Maliki dan Hanbali.
   9. Mengusap dua telinga, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmad dan At-
       Thahawiy dari Ibnu Abbas dan Al-Miqdam bin Ma‟ di Kariba
   10. Membasuh bagian depan kepala, dan memperpanjang basuhan di atas siku dan mata
       kaki. Seperti dalam hadits Nabi saw., “Sesungguhnya umatku akan datang di hari
       kiamat dalam keadaan putih berseri dari basuhan wudhu.”
   11. Berdoa setelah wudhu, seperti dalam hadits Ibnu Umar r.a., Rasulullah saw. bersabda,
       “Tidak ada seorangpun di antara kalian yang berwudhu dan menyempurnakannya,
       kemudian berdo‟a:                                                        Aku
       Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Maha Esa tiada
       sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-
       Nya. Pasti akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan itu, dan
       dipersilahkan masuk dari mana saja.” (Muslim)
   12. Sedangkan doa ketika berwudhu, tidak pernah ada riwayat yang menerangkan
       sedikitpun.
   13. Shalat sunnah wudhu dua rakaat, seperti dalam hadits Uqbah bin Amir r.a. berkata,
       Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorangpun yang berwudhu dan
       menyempurnakan wudhunya, kemudian shalat dua rakaat dengan menghadap wajah
       dan hatinya, maka wajib baginya surga.” (Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

Cara Berwudhu

Dari Humran mantan budak Utsman bin Affan r.a. bahwa Utsman minta diambilkan air
wudhu, kemudian ia basuh kedua tangannya tiga kali, kemudian berkumur, menghisap air ke
hidung, menyemburkannya, lalu membasuh mukanya tiga kali, membasuh tangan kanannya
samapai ke siku tiga kali, kemudian yang kiri seperti itu, kemudian mengusap kepalanya, lalu
membasuh kaki kanannya sampai ke mata kaki tiga kali, dan yang kiri seperti itu. Kemudian
Utsman berkata, “Saya melihat Rasulullah saw. berwudhu seperti wudhuku ini dan
Rasulullah saw. bersabda, „Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat
dua rakaat, maka akan diampuni dosanya.‟” (Muttafaq alaih)

Yang Membatalkan Wudhu

   1. Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan pembuangan (kencing, tinja, angin, madzi,
      atau wadi), kecuali mani yang mengharuskannya mandi. Dalilnya adalah firman Allah
      swt. “… atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan….”
      (Al-Ma‟idah: 6) dan sabda Nabi saw., “Allah tidak menerima shalat salah seorang di
      antaramu ketika berhadats sehingga ia berwudhu.” (Muttafaq alaih). Hadats adalah
      angin dubur baik bersuara atau tidak. Sedangkan madzi adalah karena sabda Nabi
      saw., “Wajibnya wudhu.” (Muttafaq alaih). Sedangkan wadiy adalah karena ungkapan
      Ibnu Abbas, “Basuhlah kemaluanmu, dan berwudhulah sebagaimana wudhu untuk
      shalat.” (Al-Baihaqi dalam As-Sunan).
   2. Tidur lelap yang tidak menyisakan daya ingat, seperti dalam hadits Shafwan bin
      „Assal r.a. berkata, “Rasulullah saw. pernah menyuruh kami jika dalam perjalanan
      untuk tidak melepas sepatu kami selama tiga hari tiga malam, sebab buang air kecil,
      air besar maupun tidur, kecuali karena junub.” (Ahmad, An Nasa‟i, At-Tirmidzi dan
      menshahihkannya). Kata tidur disebutkan bersama dengan buang air kecil dan air
      besar yang telah diketahui sebagai pembatal wudhu. Sedang tidur dengan duduk tidak
      membatalkan wudhu jika tidak bergeser tempat duduknya. Hal ini tercantum dalam
      hadits Anas r.a. yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi‟i, Muslim, dan Abu Daud, “Adalah
      para sahabat Rasulullah saw. pada masa Nabi menunggu shalat Isya‟ sehingga kepala
      mereka tertunduk, kemudian mereka shalat tanpa berwudhu.”
   3. Hilang akal baik karena gila, pingsan, mabuk atau obat. Karena hal ini menyerupai
      tidur dari sisi hilangnya kesadaran.

Tiga hal itu disepakati sebagai pembatal wudhu, tapi para ulama berbeda pendapat dalam
beberapa hal berikut ini:

1. Menyentuh kemaluan tanpa sekat, membatalkan wudhu menurut Syafi‟i dan Ahmad,
seperti dalam hadits Busrah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang
menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwudhu.” (Al-Khamsah dan disahihkan oleh At-
Tirmidziy dan Ibnu Hibban). Al-Bukhari berkata, “Inilah yang paling shahih dalam bab ini.”
Telah diriwayatkan pula hadits yang mendukungnya dari tujuh belas orang sahabat.

2. Darah yang mengucur, membatalkan wudhu menurut Abu Hanifah, seperti dalam hadits
Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang muntah atau mengeluarkan
darah, maka berpaling dan berwudhulah.” (Ibnu Majjah dan didhaifkan oleh Ahmad, dan Al-
Baihaqi). Dan menurut Asy-Syafi‟i dan Malik bahwa keluarnya darah tidak membatalkan
wudhu. Karena hadits yang menyebutkannya tidak kuat menurutnya, juga karena hadits Anas
r.a., “Bahwa Rasulullah saw. dibekam dan shalat tanpa wudhu lagi.” Hadits ini meskipun
tidak sampai pada tingkat shahih, tapi banyak didukung hadits lain yang cukup banyak. Al-
Hasan berkata, “Kaum muslimin melaksanakan shalat dengan luka-luka mereka.” (Al-
Bukhari)

3. Muntah yang banyak dan menjijikkan, seperti dalam hadits Ma‟dan bin Abi Thalahah dari
Abu Darda‟, “Bahwa Rasulullah saw. muntah lalu berwudhu.” Ia berkata, kemudian aku
berjumpa dengan Tsauban di Masjid Damaskus, aku tanyakan kepadanya tentang ini. Ia
menjawab, “Betul, saya yang menuangkan air wudhunya.” (At-Tirmidzi dan
mensahihkannya). Demikiamlah Madzhab Hanafi. Dan menurut Syafi‟i dan Malik, muntah
tidak membatalkan wudhu karena tidak ada hadits yang memerintahkannya. Hadits Ma‟dan
di atas dimaknai istihbab/sunnah.

4. Menyentuh lawan jenis atau bersalaman, membatalkan wudhu menurut Mazhab Syafi‟i
dengan dalil firman Allah swt. Al-Ma‟idah ayat 6. Tidak membatalkan menurut Jumhurul
Ulama karena banyaknya hadits yang menyatakan tidak membatalkannya. Diantaranya hadits
Aisyah r.a., “Bahwa Rasulullah saw. mencium isterinya, kemudian shalat tanpa berwudhu.”
(Ahmad dan Imam empat). Juga ucapan Aisyah r.a., “Saya tidur di hadapan Rasulullah dan
kakiku ada di arah kiblatnya, jika ia hendak sujud ia memindahkan kakiku.” (Muttafaq alaih).
Tidak ada bedanya dalam pembatalan ini, apakah wanita itu isteri atau bukan. Sedang jika
menyentuh mahram, tidak membatalkan wudhu.

5. Tertawa terbahak ketika shalat yang ada rukuk dan sujudnya, membatalkan wudhu
menurut Madzhab Hanafi karena ada hadits, “… kecuali karena tertawa terbahak-bahak,
maka ulangilah wudhu dan shalat semuanya.” Sedang menurut jumhurul ulama, tertawa
terbahak-bahak membatalkan shalat, tetapi tidak membatalkan wudhu karena hadits tersebut
tidak kuat sebagai hadits yang membatalkan wudhu. Juga karena hadits Nabi saw., “Tertawa
itu membatalkan shalat, dan tidak membatalkan wudhu.” Demikian Imam Bukhari
mencatatnya sebagai hadits mauquf dari Jabir. Pembatalan wudhu karena tertawa
membutuhkan dalil, dan tidak ditemukan dalil yang kuat.
6. Jika orang yang berwudhu ragu apakah sudah batal atau belum? Tidak membatalkan
wudhu sehingga ia yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang membatalkan wudhu. Karena
hadits Nabi saw. menyatakan, “Jika salah seorang diantaramu merasakan sesuatu di perutnya,
lalu dia ragu apakah sudah keluar sesuatu atau belum, maka janganlah keluar masjid sehingga
ia mendengar suara atau mendapati baunya.” (Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi). Sedang
jika ragu apakah sudah wudhu atau belum, ia wajib berwudhu sebelum shalat.

Kapan Wudhu Menjadi Wajib dan Kapan Sunnah

Wudhu menjadi wajib jika:

   1. Untuk shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah. Meskipun shalat jenazah, karena
      firman Allah swt., “…jika kamu mau shalat, maka hendaklah kamu basuh.” (Al-
      Maidah: 6)
   2. Thawaf di Ka‟bah, karena hadits Nabi saw., “Thawaf adalah shalat.” (At-Tirmidziy
      dan Al-Hakim)
   3. Menyentuh mushaf, karena hadits Nabi saw., “Tidak boleh menyentuh Al-Qur‟an
      kecuali orang yang suci.” (An-Nasa‟i dan Ad-Daruquthni). Demikianlah pendapat
      jumhurul ulama. Ibnu Abbas, Hammad, dan Zhahiriyah berpendapat bahwa
      menyentuh mushaf boleh dilakukan oleh orang yang belum berwudhu, jika telah
      bersih dari hadats besar. Sedangkan membaca Al-Qur‟an tanpa menyentuh mushaf,
      semua sepakat memperbolehkan.

Wudhu menjadi sunnah:

1. Ketika dzikrullah. Pernah ada seseorang yang memberi salam kepada Nabi saw. yang
   sedang berwudhu, dan Nabi tidak menjawab salam itu sehingga menyelesaikan wudhunya
   dan bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku menjawab salammu,
   kecuali karena aku tidak ingin menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan suci.” (Al-
   Khamsah, kecuali At Tirmidzi).
2. Ketika hendak tidur, seperti hadits Nabi saw., “Jika kamu mau tidur hendaklah berwudhu
   sebagaimana wudhu shalat.” (Ahmad, Al-Bukhari dan At Tirmidzi)
3. Bagi orang junub yang hendak makan, minum, mengulangi hubungan seksual, atau tidur.
   Demikianlah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh Bukhari, Muslim dan
   muhadditsin lainnya.
4. Disunnahkan pula ketika memulai mandi, seperti yang disebutkan dalam hadits Aisyah
   r.a.
5. Disunnahkan pula memperbaharui wudhu setiap shalat, seperti yang diriwayatkan oleh
   Bukhari, Muslim dan kebanyakan ulama hadits. []
Berdoa Setiap Kali Mencuci Anggota Wudhu

   Tidak jarang kita melihat ada orang yang berwudhu, ketika berkumur-kumur, membaca,




   “Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-
   lamanya.”

   Lalu ketika mencuci wajah, dia membaca ,




   “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”

   Kemudian ketika mencuci tangan, dia membaca ,




   “Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”

   Selanjutnya ketika mengusap kepala, dia membaca ,




   “Ya Allah, haramkanlah rambut dan kulitku dari api neraka.”

   Lalu ketika mengusap telinga, dia membaca ,




   “Ya Allah, jadikanlah saya dari orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang
   terbaiknya.”

   Terakhir ketika mencuci kaki, dia membaca ,




   “Ya Allah, kokohkanlah kedua kakiku di atas jembatan (hari kiamat).”

   Doa ini banyak disebutkan oleh orang-orang belakangan di kalangan Syafi’iyah, dan ini adalah
   perkara yang aneh karena tidak ada sama sekali landasan dalilnya. Bahkan Imam Besar ulama
   Syafi’iyah, yang dikenal dengan nama Imam An-Nawawy, menegaskan bahwa doa ini tidak ada
   asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.

   Maka, dengan ini, tidak diragukan bahwa doa ini termasuk bid’ah sesat dalam wudhu yang harus
ditinggalkan. Lihat Al-Majmu’ 1/487-489.

   Wallahu Ta’ala A’lam Wa Fauqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim
 Persyaratan air dengan ukuran 2 kullah – bukan 1 kullah – merupakan mazhab Syafi’i. Ukuran 2
kullah ada yang berpandangan sekitar 80 cm3. Sementara yang lain menyebutkan kurang lebih
sekitar 216 liter, dan bila diukur dari wadahnya, berukuran 60 cm X 60 cm X 60 cm.
 Menurut pandangan mazhab Syafi’i apabila air kurang dari 2 kullah, maka harus diambil dengan
gayung supaya wudhu’ menjadi sah. Sayyid Sabiq mengutip pandangan Ibnu Abdil Barr di dalam
kitab at-Tahmid yang mengatakan, pendirian Syafi’i mengenai hadits 2 kullah adalah mazhab yang
lemah dari segi penyelidikan dan tidak berdasarkan kepada alasan yang kuat. Selama air yang
dipergunakan untuk berwudhu itu suci dan menyucikan, warna bau dan rasanya tetap terjaga, maka
dapat digunakan untuk berwudhu seberapa pun banyaknya.
                       DOA YANG DIBACA SAAT BERWUDU
Apa doa yang dibaca saat berwudu?

Alhamdulillah.

Terdapat riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam doa-doa yang dibaca saat
memulai wudu dan setelah selesia berwudu.

Adapun yang dibaca saat memulai wudu, hanya tasmiah saja, yaitu membaca Bismillah.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

                                                                 ‫الله ل ه‬             ‫ك‬             ‫وض لم‬
                                                                 ِ ْ‫ال ُ ُوءَ ِ َنْ لَمْ يَذْ ُرْ اسْمَ َّ ِ عََي‬

Tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebu nama Allah padanya.

(HR. Tirmizi, no. 25, dia berkata, 'Dalam bab ini diriwayatkan dari Aisyah, Abi Said, Abu
Hurairah, Sahl bin Sa'ad dan Anas. Ahmad bin Hambal berkata, 'Dalam bab ini saya tidak
mengetahui ada hadits dengan sanad yang baik.' Demikian kata Tirmizi. Sementara Al-
Albanya menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Tirmizi)

Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam kita Shahih Tirmizi.

Telah disebutkan sebelumnya dalam jawaban soal no. 21241, bahwa kesahihan hadits ini
diperdebatkan para ulama.

Imam Nawawi dalam kita Al-Majmu, 1/385, mengutip perkataan Baihaqi,

'Riwayat yang paling sahih dalam masalah tasmiah (membaca basmalah dalam berwudu)
adalah hadits Anas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasukkan tangannya dalam
wadah berisi air, kemudian beliau berkata, 'Berwudulah kalian dan bismillah' Dia (Anas)
berkata, 'Lalu aku lihat air mengalir di antara jemarinya, sementara orang-orang berwudu
yang orang terakhir dari mereka, jumlah mereka sekitar tujuh puluh orang.' Sanad hadits ini
jayid (baik). Baihaqi berdalil dengan hadits ini dalam kitabnya Ma'rifatus-Sunan wal Aatsar,
lalu beliau menyatakan dha'if hadits-hadits yang lainnya.'

Adapun bacaan setelah berwudu, terdapat beberapa hadits yang diriwayatkan. Berdasarkan
keseluruhan dari riwayat yang ada, bacaannya adalah,

Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, sesungguhnya
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Setiap kalian yang berwudu, lalu dia
menyempurnakan wudunya, setelah itu membaca, Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa
syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh, niscaya akan dibukakan
baginya pintu surga yang delapan, dia dapat masuk dari pintu mana saja yang dia suka.' (HR.
Muslim, no. 234)

Tirmizi, no. 55 menambahkan dalam riwayatnya (bacaan),

Allahummaj'alnii minat-tawwaabina, waj'alnii minal-mutathahhirin.
Tambahan ini dinyatakna dhaif oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah, bahwa dia berkata,
tambahan yang terdapat dalam riwayat Tirmizi tidak kuat dalam hadits ini' Demikian dikutip
dari Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah, 2/19

Namun Al-Albanya menyatakan shahih dalam Shahih Tirmizi, dan Ibnu Hazm memastikan
bahwa riwayat ini benar berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun bacaan,

Subhaanallahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik,

Ini diriwayatkan oleh Nasa'i dalam Kitab Amalul-Yaumi wal-Lailah, juga oleh Hakim dalam
Kitab Al-Mustadrak, dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu. Para perawi berbeda
pendapat, apakah hadits ini marfu (sampai) ke Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau dia
hanya perkataan Abu Said radhiallahu anhu?

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

'Sanad riwayat ini tidak diragukan kesahihannya, akan tetapi diperselisihkan apakah hadits ini
marfu (sampai kepadan Nabi) atau mauquf (hanya perkataan sahabat). Nasa'I sebagaimana
metodenya menguatkan perkara yang lebih hati-hati, karenanya dia menghukumi hadits ini
salah (bukan perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Sedangkan metode Syaikh
pengarang (maksudnya Imam Nawawi) yang mengikuti metode Ibnu Shalah dan lainnya
bahwa menetapkan marfu menurut mereka lebih dipilih, karena dengan menetapkan
demikian, akan bertambahnya ilmu. Dan dengan perkiraan bahwa amal dengan cara tertentu
bukan perkara yang dapat disimpulkan oleh pandangan akal semata, maka yang lebih kuat
riwayat ini adalah marfu' (Al-Futuhat Ar-Rabaniyah, 2/21)

Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 225, dan
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2333.

Lihat Tamamul-Minnah, hal. 94-98

Demikianlah zikir-zikir yang dibaca saat berwudu berdasarkan riwayat yang kuat dari Nabi
shallallahu alaihi wa sallam. Adapun berdoa di sela-sela membasuh anggota wudu, tidak ada
satu pun riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Azkar, hal. 30, berkata, 'Adapun doa yang dibaca saat
membasuh anggota wudu, tidak ada satupun riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Qoyim berkta dalam kitab Zadul Ma'ad, 1/195

Tidak ada satupun riwayat bahwa beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) membaca sesuatu
saat berwudu selain tasmiah (bismillah). Semua hadits tentang zikir-zikir di tengah wudu
(saat membasuh masing-masing anggota wudu) yang diriwayatkan adalah dusta dan dibuat-
buat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak membacanya, tidak pula mengajarkannya
kepada umatnya, dan tidak ada riwayat yang kuat dalam masalah ini selain tasmiah di
awalnya, dan ucapan, Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna
Muhammadan abduhu wa rasuuluh, Allahummaj'alnii minat-tawwaabina, waj'alnii minal-
mutathahhirin. di akhirnya. Begitu pula dalam hadits lain dalam Sunan Nasa'i, disebutkan
pula zikir yang dibaca setelah wudu, yaitu, Subhaanallahumma wa bihamdika asyhadu allaa
ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.'

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Da'imah, 5/221

'Tidak ada riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan
adanya doa yang dibaca ketika sedang berwudu. Doa-doa yang dibaca kalangan awam setiap
membasuh anggota wudu adalah bid'ah. Seperti ucapan mereka ketika membasuh muka,
Allahumma bayyidh wajhii yauma taswaddal-wujuh' (Ya Allah, putihkan mukaku pada hari
muka-muka menjadi hitam), lalu ketika membasuh kedua tangan, 'Allahumma a'tini kitaabi bi
yamini, wa laa tu'tini kitabi bi syimali' (Ya Allah, berikan catatan amalku dengan tangan
kananku, jangan berikan catatan amalku dengan tangan kiriku), dan doa-doa lainnya yang
dibaca saat membasuh anggota wudu.'.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1451
posted:2/12/2011
language:Malay
pages:14