Docstoc

Manusia & Pendidikan dalam Perspektif Teologi

Document Sample
Manusia & Pendidikan dalam Perspektif Teologi Powered By Docstoc
					KHALÎFAH: EKSPOSISI NARATIF STATUS DAN PERAN
        MANUSIA DALAM PENDIDIKAN
                             Dadan Rusmana
                      dadanrusmana1973@yahoo.com.


A. Pendahuluan
        Kata khalîfah merupakan kata yang familiar dan tidak asing di
telinga umat Islam. Hal ini karena kata khalîfah muncul dalam berbagai
teks yang hidup (the living text) di kalangan umat Islam, terutama dalam al-
Qur’an. Kata ini tersusun dari akar katanya kh-l-f yang memiliki variasi
makna, baik makna yang umum dan khusus. Makna kata khalîfah sendiri
pun dalam al-Qur’an muncul dalam bentuk umum (‘am) dan khusus
(khash), yakni pengemban amanat dan pengelola wilayah, sebagaimana
akan dijelaskan dalam makalah ini. Namun, karena pengaruh banyak
faktor, makna khalîfah, dalam sejarah peradaban Islam, kemudian
tereduksi pada pemaknaan spesifik-politis (khashah siyasiyyah), menjadi
identik pemimpin kekuasaan politis (khilâfah), seperti sulthan, amir, atau
wazir. Padahal, karakteristik khalîfah dapat didudukkan dalam perspektif
yang multidimensi, bukan hanya pada ranah politik saja, tetapi juga dapat
diimplikasikan (tathbiq) pada banyak ranah, termasuk ranah pendidikan.
        Makna khalîfah, sebagaimana dijelaskan dalam makalah ini, identik
dengan status primordial yang disandang manusia ketika dihubungkan
dengan bumi. Hal ini dihubungkan dengan ayat “inni ja’il fi al-ardh
khalîfah”. Namun demikian status primordial ini baru berupa potensi
yang dimiliki (to have im potencially), dan harus diwujudkan dalam
kehidupan keseharian manusia (to be, being). Penubuhan (ekteriorisasi)
nilai khalîfah ini pada gilirannya sangat terkait dengan kepemimpinan
(leadership), pengetahuan (knowledge), skill (syakilah), dan manajerial
(nidzamiah). Jika pemaknaan ini diterima, maka makna kekhalîfahan terkait
erat dengan dunia pendidikan, karena semua hal tersebut melekat dalam
pendidikan.
        Reaktualisasi pemaknaan khalifah ini, terutama dalam konteks
pendidikan, menjadi penting, terlebih di tengah-tengah perubahan
paradigm dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Samuel
Huntington dalam The Clash of Civilisation, John Naisbit dalam Megatrend,
Alvin Tofler dalam The Turning Point, Francis Fukuyama dalam The End of
History and the Last man dan The Great Disruption, serta Bassam Tibi dalam
The Crisis of Developing Countries bersepakat bahwa dunia kini mulai
memasuki masa post-sekuler, post-modernism, post-industri, dan post-
kapitalisme-modern. Salah satunya, masa ini ini ditandai dengan kembali
                                                                                   2


menggeliatnya spiritualitas dalam berbagai dimensi kehidupan manusia,
termasuk di Barat (Eropa Barat dan Amerika). Tatanan dunia baru (new
world institution) yang ingin dikritiknya adalah modernism, humanism, dan
sekulerisme, karena ketiganya merupakan biang dari matinya Tuhan
(seperti dilakukan Nietzsche), matinya manusia (seperti dilakukan oleh
strukturalisme), dan destruksinya alam (seperti dilakukan oleh kapitalisme
modern).
         Dari sudut pandang konseptual, paradigma baru (new paradigm) ini
mencita-citakan adanya upaya menyadarkan kembali (reconciousness)
manusia akan hak-hak Allah dalam dimensi aktivitas manusia serta
keharmonisan antara manusia dan alam, termasuk dalam dunia
pendidikan. Dimensi pertama, kemudian, melahirkan adanya paradigm
“teo-humanistik”          atau       “teologi/spiritualitas-pendidikan”         dalam
Sedangkan dimensi kedua melahirkan konsep “teologi atau spiritualitas-
lingkungan”. Isu-isu tentang climate change, global warming, dan kepedulian
lingkungan, merupakan sebagian isu yang digulirkan oleh kelompok ini,
termasuk dalam dunia pendidikan.
         Tidak dapat dipungkiri bahwa paradigm dan motivasi
penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan bersifat variatif atau tidak
membentuk realitas tunggal. Sebagian manusia mengelola dunia
pendidikan (dan alam) didasari oleh kepentingan eksistensial pribadi (self-
existential) dan atau kebermanfaatan sendiri (self-utility). Ia berprinsip
bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia, sebagai tenaga
kependidikan, merupakan hasil usaha sendiri (self effort), tanggung jawab
(self responsibility), dan untuk kepentingan dirinya sendiri (self interest atau
egoism, ananiyyah). Sebagian manusia pun mengelola dunia pendidikan
hanya didasari oleh alasan-alasan HAM (human right), kemanusiaan
(humanism), dan tanggung jawab terhadap konstituennya (demokrasi).
Dalam konteks seperti ini, segala aktivitas kependidikannya didasarkan
kepada sesuatu yang imanen, historis, dan sekuler. Aktivitas kependidikan
seperti ini menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat transendental,
transhistoris, sunnatullah, irfani (illuminatif), dan burhani (divine demonstrative).
         Pada sisi lain, terdapat aktivitas kependidikan yang hanya
didasarkan pada nilai-nilai spiritualitas “ekstrem”, menjauhi aspek
duniawi, dan konsekuensinya mengabaikan (standar) nilai-nilai
manajerial, leadership, dan tata kelola yang rasional, efektif, dan efisien.
Aktivitas kependidikan mereka asal jalan, karena prinsip mereka bahwa
keikhlasan akan secara otomatis akan menjadikan jalan/proses
pendidikan akan sesuai dengan sunnatullah, kehendak Allah, dan
mardhatillah. Pada sisi lain, aktivitas kependidikan mereka pun sering
diwarnai suasana pesimisme dan determinisme. Pesimisme mereka
didasarkan pada pandangan tentang evolusi moral yang pesimistik,
                                                                                                      3


seperti pemahaman harfiah terhadap hadits “Khairu qurn qarni, tsumma
yalunahum, tsumma yalunahum”. Sedangkan, determinisme-negatif
dimaksudkan sebagai kepasrahan terhadap persepsi “takdir”, bahwa
segala hal telah menjadi “takdir” dari Allah dan tidak dapat diubah.
       Berdasarkan paparan di atas, maka upaya untuk mendudukkan
makna otentik dari kata/frase khalîfah dan isti’mar al-Ardh menjadi penting
dalam usaha rekonstruksi konseptual teologi pendidikan, terutama dalam
konteks “keseimbangan relasi-konseptual” antara Allah, manusia, dan
dunia (alam; khususnya dunia pendidikan). Upaya ini menjadi penting
untuk menyadarkan manusia, terutama pengambil kebijakan,
penyelenggara, pelaksana, dan tenaga pendidikan, akan kedudukannya
sebagai khalîfah di muka bumi ini, terutama dalam dunia pendidikan.
Ketidakseimbangan dan ketidakproporsionalan ketiga peran atau fungsi
manusia, terutama pendidik, telah mempolitomikkan manusia (muslim)
menjadi ignorance muslim, muslim-humanisme, dan saintis-sekulerisme.


B. Pemaknaan Term Khalîfah dalam Konteks al-Qur’an dan
   Kaitannya dengan Pendidikan
1. Penggunaan Kata khalîfah dan derivasinya dalam al-Qur’an
      Kata khalîfah, seperti disebutkan dalam Mu’jam Mufahrats li Alfadz al-
Qur’an karya Raghib al-Asfahani dan dalam A Corcondance of the Qur’an
karangan Hanna E. Kassis (1983), berasal dari akar kata kh-l-f. Dalam al-
Qur’an, akar kata kh-l-f ini disebut sebanyak 127 kali dan membentuk 12
kata derivatifnya. Maknanya berkisar di antara kata “menggantikan,
meninggalkan, pengganti, atau pewaris”; tetapi juga terdapat arti lain,
yakni “telah menyimpang, berselisih, menyalahi janji, atau beraneka
ragam”. Makna-makna tersebut dapat terlihat sebagaimana ada dalam
table berikut:


 NO     KATA                                      MAKNA KATA
                 Menggantikan (to succed), menjadi pengganti (to be successor), mengambil,
                 menjemput (to come after), menggantikan tempat seseorang (to do in some one
 1.   Khalafa
                 else’s place) setelah seseorang meninggalkan sesuatu tempat (after one leave),
                 seseorang yang tertinggal, ketinggalan, ditinggalkan (one who stays behind)
                 Pergantian (a succession), generasi penerus (succeeding generation), terbelakang
 2.   Khalf
                 (behind), dari belakang (from behind), sesudah (after)
 3.   Khalîfah   Wakil (a viceroy), pengganti (successor)
 4.   Khulafa’   Bentuk jamak (plural) dari Khalîfah
                 Mereka yang ditinggalkan di belakang, tertinggal (those who stay behind); yang
 5.   Khawâlîf   tidak berguna (the useless), (wanita) yang tertinggal di belakang ([the woman] who
                 stay behind)
                 Sesudah (after), belakang (behind), sebagai pengganti (alternaterly), bertolak
 6.   Khilâf
                 belakang (on the opposite), di bagian yang lain (on the alternate side)
 7.   Khilfah    Bergantian, silih berganti (a succession)
                                                                                                                                   4

                             Meninggalkan (to leave behind), khullifa (ditinggalkan); (orang) yang
 8.       Khallafa
                             ditinggalkan (mukhallafa)
                             Menyalahi seseorang (to come behind another, to do something behind another’s back);
 9.       Khâlafa
                             menentang (to appose, go against); yukhtalifu (menyalahi)
                             Gagal (to fail), mengingkari janji (to break one’s word); orang yang gagal atau
 10.      Akhlafa            menyalahi janji (one who fail or break his word); mengingkari janji (yukhlifu);
                             menghindari (yukhlafu); orang yang menyalahi janji (mukhlif)
 11.      Takhallafa         Tidak ikut menyertai (yatakhallfu)
                             Berlainan (to be at variance); menemukan sebab perbedaan (to find cause of
                             disagreement); berbeda (to differ); mencari sebab perselisihan (to seek cause of
                             dispute); penggantian (alternation); perbedaan (difference); sesuatu yang berbeda
 12.      Ikhtalafa
                             (that which is different), beraneka ragam (diverse); seseorang yang memiliki
                             perbedaan (who is at varience); yang diperselisihkan (yakhtalifu); penggantian
                             (ikhtilâf); tidak sama, berbeda (mukhtalif)
                             Menunjuk sebagai pengganti (to make one successor); seseorang yang ditunjuk
 13.      Istakhlafa         sebagai pengganti atau pewaris (one who is made a successor or inheritor);
                             mengganti dengan (yastakhlifu); menjadikan seseorang menguasai (mustakhlaf).

     Sebagai contoh pemaknaan asal kata kh-l-f terdapat dalam QS al-
A’raf (7):17:

              

                                                                                                                
      Kemudian aku (syetan) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang
      mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati
      kebanyakan mereka bersyukur (taat) (QS al-A’raf (7):17).

Dalam ayat tersebut terdapat kata khalf yang artinya belakang, sebagai
lawan dari kata muka (amamah). Ini berkaitan dengan godaan setan yang
membujuk manusia, baik secara terang-terangan maupun sembunyi agar
manusia tidak bersyukur kepada Allah.
      Kata yang terkait langsung dengan khalîfah dan derivasinya dalam al-
Qur’an terdiri dari tiga buah, yakni khalîfah, khalâif, dan khulafâ. Tidak
dapat disangkal oleh para mufassir bahwa perbedaan bentuk-bentuk kata
di atas (khalîfah, khalâif, dan khulafâ'), masing-masing mempunyai konteks
makna tersendiri, yang sedikit atau banyak berbeda dengan yang lain.
Mengenai hal ini, Amin al-Khulli dan Asiyah Bint Syathi berpandangan
sama yakni “sinonimitas hanya berlaku pada makna tertentu, bersifat
relatif, atau dengan kata lain tidak ada sinonimitas yang bersifat mutlak”.
      Kata Khalîfah dalam bentuk tunggal (singular; mufrad) terulang dua
kali dalam Al-Quran, yaitu dalam al-Baqarah (2):30 dan Shad (38):26.
Konteks khalîfah dalam QS al-Baqarah (2):30 terkait dengan kisah Adam;
sedangkan dalam QS Shad (38):26, terkait dengan kisah Daud a.s.
Sementara itu, terdapat dua bentuk derivatif-plural yang digunakan oleh
al-Quran, yaitu: (a) Khalaif yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada
surah al-An'am (6):165, Yunus (10):14 & 73, dan Fathir (35):39; (b)
                                                                                                                                                    5


Khulafa' terulang sebanyak tiga kali pada surah-surah. Al-A'raf (7):69 &
74, dan al-Naml (27):62. Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata
khulafa' yang pada mulanya berarti "di belakang". Dari sini, kata khalîfah
seringkali diartikan sebagai "pengganti" (karena yang menggantikan selalu
berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya), “mereka
yang dating kemudian”, “sesudah kamu”, “yang diperselisihkan”, “silih
berganti”, “berselisih”, dan “yang diperselisihkan”.

2. Khalîfah sebagai Status Primordial Manusia
     Penunjukkan manusia sebagai khalîfah di muka bumi didasarkan
pada QS al-Baqarah (2) ayat 30 dan ayat-ayat selanjutnya. Beberapa ayat
ini diyakini mengandung perjanjian primordial mengenai “pelimpahan
wewenang” (otorisasi) atau “representasi” pengelolaan bumi dari Allah
kepada manusia, yang dalam ayat tersebut direpresentasikan dengan
Adam. Beberapa bagian dari ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
                  

                  

                  

                   

                 

                

                                                                                                                         
   30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya
   aku hendak menjadikan seorang khalîfah di muka bumi." mereka berkata:
   "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalîfah) di bumi itu orang yang akan
   membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
   Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
   Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu
   ketahui." (31) dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda)
   seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman:
   "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
   orang-orang yang benar!" (32) mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak
   ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
   Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (33)
   Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama
   benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda
   itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa
   Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa
   yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (34) dan (ingatlah)
                                                                              6


   ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam,"
   Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia
   Termasuk golongan orang-orang yang kafir.

      Melihat pada konteks QS al-Baqarah (2):30, Allah akan menciptakan
seorang khalîfah di bumi. Tetapi siapa yang dimaksud sebagai khalîfah
tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun, dilihat dari munasabahnya
pada ayat berikutnya, maka khalîfah tersebut dapat dimaknai sebagai
Adam. Penafsiran terhadap kata Adam ini pun cukup banyak variatifnya,
baik secara literal, kontekstual, maupun metaforis; hanya saja terdapat
kesepakatan bahwa Adam di sini adalah representasi dari “manusia”. Ia,
oleh Allah, diberi kemampuan menyebut al-asma, yang dengan
kemampuannya itu manusia mempunyai pengetahuan konseptual dan
makna bahasa untuk komunikasi.
      Dengan demikian, berdasarkan pada beberapa ayat yang dikutip di
atas, maka dapat dikatakan bahwa secara esensial dan primordial semua
manusia dan keturunannya (Adam, dzurriyyat Adam, atau bani Adam)
adalah khalîfah atau berpotensi menjadi khalîfah. Dengan demikian,
semua makhluk yang bernama manusia adalah pengganti atau wakil Allah
di bumi. Jika khalîfah adalah karakter atau potensi universal bagi manusia,
maka karakter ini tidak terbatasi oleh batasan ras, suku, bangsa, etnik,
agama (keyakinan), sebagaimana pula tidak terbatasi oleh waktu dan
zaman manusia.



                                 Allah



                                Tarbiyyah




                                              Alam (bumi,
                                              jagad raya,
                                                  dll)
                      Manusia




     Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara teologis setiap
individu manusia merupakan khalîfah di muka bumi ini. Ia merupakan
pengganti dari pengelola bumi sebelumnya atau menjadi wakil Allah di
muka bumi ini. Dengan demikian, dapat diuraikan bahwa kekhalîfahan
                                                                                                    7


mempunyai beberapa unsur yang saling kait-berkait. Sejumlah unsur
tersebut adalah:
    1. Subjek I, Allah, yang memberikan penugasan (istikhlaf). Dialah
       yang memberi penugasan itu dan dengan demikian yang ditugasi
       harus memperhatikan kehendak yang menugasinya. Fokus unsur
       pertama ini terdapat dalam redaksi phrase inni jail/inna ja'alnaka
       khalifat yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah SWT.
    2. Subjek II, Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalîfah, sebagai
       peran.
    3. Istihlâf, pelimpahan tugas dan wewenang (dari Allah dan manusia)
    4. Domain khilâfah (objek; media) yang ditunjuk oleh ayat al-Baqarah
       sebagai ardh1 (bumi atau jagat raya).
    5. Tugas/Fungsi khilâfah adalah isti’mar al-Ardh
    6. Persyaratan (Potensi/kompetensi); pengetahuan (knowledge), ilmu
       (knowing, science), demonstrative (doing, modeling), dan kompetensi
       (being, comptetence)
    7. Tanggung jawab (responsibility); Relasi triadik antara Allah-manusia-
       alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia. Hubungan ini,
       walaupun tidak disebutkan secara tersurat dalam ayat di atas,
       tersirat karena penunjukan sebagai khalîfah tidak akan ada artinya
       jika tidak disertai dengan penugasan (istikhlaf).

      Al-Raghib al-Isfahani, dalam Mufradat fi Gharib al-Qur'an,
menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu
atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun
sesudahnya. Lebih lanjut, al-Isfahani menjelaskan bahwa kekhalîfahan
tersebut dapat terlaksana akibat 1) ketiadaan di tempat secara temporal
atau permanen, 2) kematian, 3) ketidakmampuan orang yang digantikan,
dan dapat juga akibat 4) penghormatan yang diberikan kepada yang
menggantikan. Tentunya, dari keempat alasan yang diajukan oleh al-
Isfahani tersebut point nomor empat yang mendekatan konteks
kekhalîfahan manusia secara umum, jika dihubungkan dengan konsep
khalîfah sebagai “wakil Allah”. Sedangkan alasan pertama hingga ketiga
merupakan alasan pengangkatan manusia sebagai khalîfah, jika
dihubungkan dengan makhluk-makhluk pengelola bumi yang digantikan
manusia.
      Berkaitan dengan Status dan tugas manusia sebagai khalîfah Allah
(wakil Allah) ini, pendidikan berperan untuk menyadarkan manusia akan

       1 Dalam al-Qur’an, kata al-Ardh selalu muncul dalam bentuk tunggal, dan jamaknya al-arâdhî

hanya muncul satu kali dalam al-Qur’an. Hal ini dapat diinterpretasi bahwa 1) planet yang seperti bumi
itu hanya satu, 2) hal ini juga menunjukkan bahwa planet yang diwariskan kepada manusia hanya satu,
tidak meliputi planet-planet seperti bumi yang lain.
                                                                                                                              8


status dan tugasnya sebagai wakil Allah. Sebagai wakil Allah, maka
manusia harus melakukan hal-hal berikut. Pertama, ia harus mampu
menjadi seperti yang diwakilinya, yakni Allah, dengan berusaha untuk
mencontoh segala sifatnya atau takahllaqu bi akhlaq Allah. Kedua, ia harus
berusaha sekemampuannya (ijtihad) mewujudkan segala keinginan (iradah)
Allah, terutama berkaitan dengan pencapaian tujuan penciptaan manusia
dan alam. Ketiga, ia harus menempuh jalan yang telah ditentukan oleh
Allah, yakni melalui sunnat Allah dan pemihakan kepada kebenaran.

3. Khalîfah sebagai generasi pengganti pengelola (penguasa) di Bumi
     Pemaknaan kata khalîfah ini tidak dapat dipisahkan dari beberapa
derivatif-plural lainnya yang digunakan oleh al-Quran, yaitu: (a) Khalaif
yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada surah al-An'am (6):165,
Yunus (10):14 & 73, dan Fathir (35):39; (b) Khulafa' terulang sebanyak
tiga kali pada surah-surah. Al-A'raf (7):69 & 74, dan al-Naml (27):62.
Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khulafa' yang pada mulanya
berarti "di belakang". Dari sini, kata khalîfah seringkali diartikan sebagai
"pengganti" (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di
belakang, sesudah yang digantikannya).
     Sebagai contoh istilah khulafa yang dapat dimaknai sebagai
“pengganti” terdapat dalam ayat 69 QS al-A’râf:
               

                                             
                

                                                                                                                     
  Apakah kamu (tidak percaya/heran bahwa datang kepadamu peringatan dari
  Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi
  peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah
  menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya
  kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu
  (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu
  mendapat keberuntungan (QS al-A’râf [7]:69).

      Dalam ayat di atas, kata khulafâ dapat dimaknai sebagai “penggati”,
yakni generasi yang menggantikan generasi sebelumnya. Generasi
pengganti itu adalah kaum Hûd, yakni bangsa ‘Ad yang terkenal perkasa
yang menggantikan generasi Nûh. Generasi Hûd itu disebutkan sebagai
bangsa yang lebih kuat, solid, dan berperawakan besar dan kuat. Dalam
ayat selanjutnya, yakni ayat al-A’raf [7]:72, dijelaskan bahwa “Kaum Hûd
telah diselamatkan Allah bersama-sama dengan rahmat besar yang
                                                                                                              9


diberikan kepada umat ini, Dan telah ditumpas orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Allah.”2
     Pada ayat selanjutnya, yakni QS al-A’râf (7):74, kata khulafâ pun
muncul dengan makna yang sama, yakni “pengganti”
                                        
              

              

                                                                            
   Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti
   (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi.
   kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat
   gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah
   dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

     Kaum Nabi Shalih adalah generasi pengganti kaum ‘Ad yang
mampu mengungguli kualitas kaum sebelumnya. Mereka merupakan
bangsa yang unggul dan berhasil membangun peradaban yang tinggi
seperti ditandai oleh kemampuan mereka membuat bangunan-bangunan
dan istana-istana yang megah dan mewah di tanah-tanah datar dan
memahat gunung-gunung. Kepada kaum Nabi Shalih ini diingatkan
bahwa mereka telah mendapatkan nikmat dari Allah dank arena itu,
janganlah membuat kerusakan. Tetapi, seperti diceritakan dalam ayat-ayat
selanjutnya, umat ini mengingkari amanat yang disampaikan Nabi Shalih.
Mereka menyatakan diri tidak mau beriman.
     Pada kisah lainnya, yakni pada QS al-A’raf (7) ayat 142 yang terkait
dengan kisah Musa dan Harun, term kh-l-f muncul dalam derivasi
ukhlufni. Kata ini mengandung arti “jadilah penggantiku” di antara
kaumku, yang merupakan perintah Nabi Musa kepada Nabi Harun ketika
Nabi Musa ingin bepergian ke gunung Tursina untuk bermunajat kepada
Allah. Kedua Nabi ini mengemban misi kenabian kepada bangsa Mesir
yang juga berhasil membangun peradaban tinggi di bawah para Firaun.




        2 Dalam ayat ini terlihat bahwa generasi terpilih selalu memiliki karakter, yakni 1) mampu

memaksimalkan keunggulan (rahmat) dari Allah, 2) mampu meminimalisir sisi negative. Dengan kata
lain, meminjam pendekatan SWOT, mereka adalah generasi yang mampu memaksimalkan strength dan
opportunity, dan waktu bersamaan mampu meminimalisir weakness dan threaty.
                                                                                                                        10


             

                             
            

                                                                                               
  Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu
  waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan
  sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan
  Tuhannya empat puluh malam. dan berkata Musa kepada saudaranya Yaitu
  Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan
  janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan" (QS al-
  A’raf [7]:142).

     Dalam konteks spesifik pendidikan, pemaknaan manusia sebagai
khalufah dalam artian pengganti generasi pengelola sebelumnya, maka
fungsi/tujuan pendidikan diarahkan untuk. Beberapa hal. Pertama,
menyiapkan calon khalifah atau generasi penerus yang lebih baik dan
sesuai dengan ketentuan Allah. Kedua, memanage proses suksesi
kekhalifahan agar dapat berjalan sesuai dengan sunnatullah dan tidak
menimbulkan konflik destruktif. Ketiga, upaya memahamkan dan
menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan dan keunggulan dari generasi
terdahulu serta penyadaran berbagai kelemahan yang menyebabkan
keruntuhan generasi terdahulu.

4. Khalifah sebagai Khalifat al-Ard dan Perannya dalam Isti’mar al-Ard
     Konteks pembahasan mengenai Khalifah ini dapat dikaitkan dengan
relasi trikotomik antara Allah, manusia, dan alam. Secara simplistic
Relasi-Trikotomik Allah, Manusia, dan Alam terjadi dalam varian sebagai
berikut:
   a. Relasi Allah dan Manusia (terutama dalam kaitan dengan teo-
       humanistik)
   b. Relasi Allah dan Alam
   c. Relasi Manusia dan Alam (terutama dalam kaitan dengan relasi
       resiprokal dan paradoks antara Teo-Humanistik dan Humanisme)
   d. Relasi Allah, manusia, dan Alam (relasi tripartite, menuju teologi
       lingkungan)

      Secara sederhana, berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa
khalîfah merupakan status dan peran manusia dalam trikotomi relasional
antara Allah-Manusia-Alam. Dengan demikian, maka peran manusia
sebagai khalifat al-Ardh, ‘abd, dan musta’mir al-Ardh merupakan peran yang
tidak dapat dipisahkan. Selama manusia benar-benar menyadari arti
                                                                                                                                    11


kekhalîfahannya, maka tidak perlu dikuatirkan ia akan melakukan
tindakan    kesewenang-wenangan        atau   melampuai       batas-batas
kekhalîfahan tersebut. Allah sendiri memerintahkan kepada para
khalîfah-Nya untuk selalu introspeksi, bermusyawarah, berlaku adil, dan
member manfaat sebesar-besarnya bagi alam (rahmat li al-‘alamin).
      Sehubungan dengan fungsi manusia sebagai deputi (khalîfah atau
wakil) di bumi ini, al-Quran menjelaskannya melalui surat Hud/11: 61:

                      

                   

                                                                                                                           


      “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh
      berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu
      Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
      menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya,
      kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat
      (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

       Ayat ini memberikan pengertian bahwa manusia yang dijadikan
khalîfah oleh Allah, bertugas memakmurkan atau membangun bumi
(ista’mar al-ardh) sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Atas
dasar itu, maka tujuan pendidikan dalam al-Quran adalah manusia dapat
menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalîfah-Nya, guna
membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah yang
dalam bahasa al-Quran itu sendiri kerap menyebutnya dengan bertakwa
kepada Allah3
       Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa kekhalîfahan manusia
dalam fungsinya memakmurkan bumi merupakan tawaran yang
kemudian diterima oleh manusia; atau Penawaran dari Allah tersebut
disambut dengan penerimaan dari manusia, sebagaimana yang tergambar
dalam surah Al-Ahzab ayat 72:
           

                                                                       
      Sesungguhnya kami menawarkan al-amanah kepada langit, bumi dan
      gunung-gunung, namun mereka semua enggan dan kuatir, lalu (Kami
          3Muhammad         Quthub, Minhaj al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, Maktabah al-‘Ashriyyah, 1980, halaman
13.
                                                                                                                                       12


  tawarkan kepada manusia) maka mereka                                                        pun         menerimanya,
  sesungguhnya mereka sangat aniaya lagi bodoh.

      Memang, dalam sejarah, terdapat khalîfah-khalîfah yang berlaku
sewenang-wenang dengan alasan bahwa ia adalah wakil Allah di bumi
atau bahkan memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-
a’la). Dalam konteks ini, ia sangat keliru dalam memahami dan
mempraktekkan kekhalîfahan itu. Hubungan antara manusia dengan
alam atau hubungan manusia dengan sesamanya, bukan merupakan
hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan, atau antara Tuan dengan
hamba, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah
SWT. Karena, kalaupun manusia mampu mengelola (menguasai), namun
hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi akibat Allah
“menundukkan”, “menjinakkan”, dan “mengadaptasi” alam untuk
manusia. Pengertian seperti demikian tergambar antara lain dalam
firman-Nya, pada surah Ibrahim [14] 32 dan al-Zukhruf [43] 13.
                 

                              
     Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air
     hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai
     buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera
     bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan
     Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (QS Ibrahim (24):32)
                

                                                                   
     Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat
     Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu
     mengucapkan: "Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi
     Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya (QS al-
     Zukhruf [43]:13

     Demikian itu, sehingga kekhalîfahan menuntut adanya interaksi
antara manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sesuai
dengan petunjuk-petunjuk Ilahi yang tertera dalam wahyu-wahyu-Nya.
Semua itu harus ditemukan kandungannya oleh manusia sambil
memperhatikan perkembangan dan situasi lingkungannya. Dalam ayat 32
surah al-Zukhruf [43] ditegaskan bahwa,
                                                                                                                                13


                  

                 

                                                                                                           
  Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan? Kami telah menentukan
  antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan kami telah
  meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar
  sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain (agar mereka dapat
  saling mempergunakan). Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka
  kumpulkan.

      Menurut Quraish Shihab, kata sukhriya dalam ayat tersebut dapat
harus selalu dimaknai” dengan “menundukkan” dalam artian relasi
hegemonic-negatif. Kata sukhriyya dapat pula dimaknai dengan al-taskhir,
dalam arti semua dalam kedudukan yang sama dan yang membedakan
mereka hanyalah partisipasi dan kemampuan masing-masing. Namun,
dalam pembagian peran dan fungsi, hal yang logis apabila yang "kuat"
lebih mampu untuk memperoleh bagian yang melebihi perolehan yang
lemah. Ayat di atas mengisyaratkan bahwa keistimewaan tidak
dimonopoli oleh suatu lapisan atau bahwa ada lapisan masyarakat yang
ditundukkan oleh lapisan yang lain. Karena, jika demikian maknanya,
maka ayat tersebut di atas tidak akan menyatakan agar mereka dapat
saling mempergunakan.
      Ayat di atas menggunakan kata sukhriya bukannya sikhriya, seperti
antara lain dalam surah Al-Mu'minun yang menggambarkan ejekan,
tekanan, hegemonic, dan eksploitatif, yang dilakukan oleh satu kelompok
kuat terhadap kelompok lain yang dinamai oleh Al-Quran mustadh'afin.
Ayat yang menjelaskan hubungan interaksi yang diridhai Allah adalah
ayat yang menggunakan kata sukhriya. Al-Baydhawi menafsirkan ayat al-
Zukhruf di atas dengan menyatakan bahwa "Sebagian manusia
menjadikan sebagian yang lain secara timbal-balik (resiprokal) sebagai
sarana guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka."
      Dalam konteks spesifik pendidikan, pemaknaan manusia sebagai
khalifat al-ardh atau musta’mir al-ardh mempunyai implikasi terhadap
fungsi dan tujuan pendidikan sebagai berikut. Pertama, proses pendidikan
dapat dimaknai sebagai upaya menyiapkan tenaga ahli professional dan
kompeten yang mampu memakmurkan alam (isti’mar al-ardh). Kedua,
salah satu tujuan antara pendidikan adalah upaya penyadaran manusia
dalam hubungannya dengan alam, yakni sebagai media dalam penunaian
khalifat Allah dan ‘abd Allah; dengan demikian, manusia tidak akan
bertindak eksploitatif, destruktif, otoriter, dan egois.
                                                                                                                        14



5. Makna Khalîfah Sebagai Pengelola (Penguasa) Wilayah
     Pemaknaan khalîfah sebagai pengelola wilayah seringkali diambil
dari QS Shâd (38:26 yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan
Nabi Daud. Pemaknaan khalîfah, dalam arti sempit yakni, sebagai
penguasa politik masyarakat muslim pun, salah satunya, banyak
disandarkan kepada ayat ini.
              

                

                                                                                        
  Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalîfah (penguasa) di muka
  bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan
  janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari
  jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan
  mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (QS
  Shad (38):26)

       Pemaknaan khalîfah dalam QS Shad [38]:26 ini terkait dengan
pengelolaan wilayah. Dalam ayat ini, makna khalîfah dapat diartikan
sebagai penguasa atau pengelola wilayah, sekaligus sebagai “wakil” Allah
di muka bumi. Jika dibuat perbandingan di antara QS al-Baqarah [2]:30
maka dapat ditemukan bahwa penggunaan khalîfah pada keduanya
terdapat persamaan-persamaan, baik persamaan dalam redaksi maupun
dalam makna dan konteks uraian. Adam dinamai khalîfah, demikian pula
Daud. Keduanya juga diberi pengetahuan --Wa 'allama Adam al-asma'
kullaha-- yang kekhalîfahan keduanya berkaitan dengan al-Ardh: Inni ja'il
fi al-ardhi khalîfah (Adam) dan Ya Daud inna Ja'alnaka khalifat(an) fi al-ardh
(Daud). Nabi Daud a.s. sebagaimana diceritakan oleh al-Quran, berhasil
membunuh jalut: Dan Daud membunuh jalut. Allah memberinya
kekuasaan/kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Dia kehendaki
       Menarik untuk diperbandingkan bahwa pengangkatan Adam
sebagai khalîfah dijelaskan oleh Allah dalam bentuk tunggal inni
(sesungguhnya Aku) dan dengan kata ja'il yang berarti akan mengangkat.
Sedangkan pengangkatan Daud dijelaskan dengan menggunakan kata
inna (sesungguhnya Kami) dan dengan bentuk kata kerja masa lampau
ja'alnaka (Kami telah menjadikan kamu). Kalau kita dapat menerima
kaidah yang menyatakan bahwa penggunaan bentuk plural untuk
menunjuk kepada Allah mengandung makna keterlibatan pihak lain
bersama Allah dalam pekerjaan yang ditunjuk-Nya, maka ini berarti
bahwa dalam pengangkatan Daud sebagai khalîfah terdapat keterlibatan
                                                                                                15


pihak lain selain Allah, yakni masyarakat (pengikut-pengikutnya). Adapun
Adam, maka di sini wajar apabila pengangkatannya dilukiskan dalam
bentuk tunggal, bukan saja disebabkan karena ketika itu kekhalîfahan
yang dimaksud baru berupa rencana (Aku akan mengangkat) tetapi juga
karena ketika peristiwa ini terjadi tidak ada pihak lain bersama Allah yang
terlibat dalam pengangkatan tersebut. Ini berarti bahwa Daud --dan
semua khalîfah-- yang terlibat dengan masyarakat dalam
pengangkatannya, dituntut untuk memperhatikan kehendak masyarakat
tersebut, karena mereka ketika itu termasuk pula sebagai mustakhlif.
          Komparasi Kisah Adam dan Daud dan relasinya terhadap konsep khalîfah


     NO       ASPEK                   KISAH ADAM                       KISAH DAUD
     1.   Redaksi awal         Inni Ja’il (Mufrad) – otoritas    Inna Ja’alnaka (Jamak)—
                               penuh Allah                       pelibatan mediator
     2.   Domain               Fi al-Ardh (termasuk dunia        Fi al-Ardh(termasuk dunia
          Khalîfah             pendidikan)                       pendidikan)
     3.   Potensi/Kompet       'allama Adam al-asma' kullaha,    ‘allamnahu hikmata
          ensi Khalîfah        tsumma ‘aradahum
     4.   Tantangan/Pem        1. Malaikat      (pada     awal   Jalut dan pengikutnya
          banding                   kisah)
          Kompetensi           2. Iblis (pada akhir kisah)
     5.   Uji Kompetensi       Demonstrasi al-asma kepada        Perang dan mengalahkan Jalut
                               Malaikat (dan Jin)
     6.   Hasil          uji   Adam                   mampu      Daud mampu mengalahkan
          kompetensi           mendeskripsikan        al-asma,   Jalut, dan menjadi Penguasa
                               malaikat bersujud, dan Iblis      politik dan agama
                               masih menjadi kompetitor
                               abadi



      Uraian di atas menunjukkan bahwa khalîfah dapat dimaknai sebagai
“siapapun yang diberikan kekuasaan untuk mengelola wilayah, baik luas
maupun terbatas”. Dalam wilayah politik, pengelola wilayah adalah
presiden hingga ketua RT. Sedangkan, jika wilayah itu dibatasi sebagai
wilayah pendidikan, maka orang atau pihak yang diberi kekuasaan untuk
mengelola wilayah pendidikan adalah Presiden, Menteri Agama, Menteri
Pendidikan Nasional, Rektor, ketua Yayasan, Kepala Sekolah, kepala
dinas, guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Setiap nama-nama di atas
memiliki posisi, peran, fungsi, dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
      Dalam konteks tujuan dan fungsi pendidikan, pemaknaan khalifah
sebagai pengemban amanah wilayah (pendidikan) mempunyai implikasi
sebagai berikut. Pertama, proses pendidikan merupakan upaya
menciptakan pemimpin (khalifat atau imam) yang menyadari posisinya di
antara Allah dan alam. Kesadaran ini akan memunculkan sikap dan
perilaku yang berwawasan dan berbasis nilai-nilai keilahiyahan. Kedua,
proses pendidikan dimaksudkan sebagai upaya menciptakan pengambil
                                                                       16


kebijakan yang mempunyai kompetensi pengelolaan wilayah (leadership
[kepemimpinan]dan isti’mar [managerial], yang baik dan proporsional
sehingga mampu menciptakan system pendidikan yang berwawasan dan
berbasis nilai-nilai keilahiyahan.

C. Ke-khalîfah-an Sebagai Pengemban Amanat atau Pengelola
    Pendidikan
1. Khalifah, Khalaif, dan Khulafa
         Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat dikatakan bahwa makna
asal khalîfah dapat didudukkan dalam dimensi yang variatif. Pertama,
khalîfah merupakan status primordial manusia yang inherent dan internal
(given, to have); hal ini dihubungkan dengan ayat “inni ja’il fi al-ardh
khalîfah” (QS al-Baqarah [2]:30). Kedua, karena status primordial ini baru
berupa potensi yang dimiliki (to have), dan harus diwujudkan dalam
kehidupan keseharian manusia (to be, being), maka khalîfah didudukkan
sebagai tujuan-fungsional dari amanat dari Allah yang diemban oleh
manusia sebagai aktualisasi dari ketundukkan (‘abd)nya kepada Allah
(khalifat Allah). Ketiga, atau dapat pula ia didudukkan sebagai peran
tertinggi yang harus diwujudkan (to be; being) manusia dalam hubungannya
dengan alam, sebagai pengelola atau pemakmur alam (khalifat al-Ardh dan
atau isti’mar al-ardh).
       Semua pemaknaan khalîfah ini jelas tidak dapat dilepaskan dalam
konteks upaya sadar manusia untuk menyadari posisi, peran, dan
fungsinya sebagai khalîfah dan mampu menjadikan dirinya sebagai
khalîfah paripurna, setidaknya menjadi insan kamil. Selain itu, makna
khalîfah pun sangat terkait dengan kepemimpinan (leadership),
pengetahuan (knowledge), ilmu (science), skill (syakilah), dan manajerial
(nidzamiah). Jika pemaknaan ini diterima, maka makna kekhalîfahan terkait
erat dengan dunia pendidikan, karena semua hal tersebut melekat dalam
pendidikan, terutama karena pendidikan meliputi upaya sadar untuk
menyadarkan totalitas diri manusia dalam relasinya dengan Allah dan
dunia (alam). Dalam konteks spesifik, pendidikan pun dapat ditempatkan
sebagai bagian atau dunia itu sendiri, sehingga seringkali orang
menyebutkan kata “dunia pendidikan” atau “alam pendidikan.”
       Jika memperhatikan hasil komparasi QS al-Baqarah [2]:30 dan QS S
had [36]:26 di atas maka dapat ditemukan bahwa kekhalîfahan yang
dianugerahkan kepada Adam dan Daud a.s. bertalian dengan kekuasaan
mengelola wilayah tertentu. Makna "pengelolaan wilayah tertentu", atau
katakanlah bahwa pengelolaan tersebut berkaitan dengan kekuasaan
politik, dipahami pula pada ayat-ayat yang menggunakan bentuk khulafa,
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dalam konteks pendidikan,
kekuasaan politik pendidikan di tingkat Negara melekat pada presiden,
                                                                          17


menteri pendidikan nasional, dan menteri agama. Namun demikian,
dengan skala dan proporsi yang hirarki menurun, kekuasaan politik
pendidikan pun dimiliki oleh kepala daerah (gubernur dan
bupati/walikota), kepala kanwil kemenag, kepala dinas diknas, kepala
sekolah, rektor, ketua yayasan, guru, dan tenaga kependidikan lainnya.
Oleh karena itu, dalam diri mereka melekat status khalîfah, dan dengan
demikian mereka harus menyadari bahwa mereka merupakan wakil Allah
dan atau pengemban amanat dari Allah.
      Pemaknaan khulafa ini berbeda dengan kata khala'if, yang tidak
mengesankan adanya kekuasaan semacam itu, sehingga pada akhirnya
kita dapat berkata bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan
politik dinamai oleh Al-Quran khala'if; tanpa menggunakan bentuk
mufrad (tunggal). Tidak digunakannya bentuk mufrad untuk makna
tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalîfahan yang diemban oleh
setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda
dengan khalîfah yang bermakna penguasa dalam bidang kebijakan-politik
pendidikan itu.

2. Penciptaan Karakteristik Terpuji Khalîfah Sebagai bagian dari Tujuan
    Pendidikan Islam(i)
       Kekhalîfahan seperti telah dikemukakan di atas mengandung arti
bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya; dengan
demikian kekhalîfahan terkait erat dengan fungsi pendidikan. Oleh karena
itu, salah satu tujuan utama dari pendidikan adalah menciptakan peserta
didik memiliki karakter/kompetensi ‘abd, khalîfah, dan musta’mir al-ardh.
Dalam hal ini, khalîfah ditempatkan sebagai tujuan (goal, aim) pendidikan
yang dilakukan. Pendidikan pun dimaksudkan sebagai pedoman (guide
line), pembiasaan (modeling), dan kontrol (controlling) agar fungsi-fungsi
kekhalîfahan dapat berjalan pada koridor Ilahiyah (sunnatullah).
       Perlu disadari bahwa dalam upaya menjalankan peran/fungsi
kekhalîfahannya, manusia ada yang berhasil dengan baik dan ada pula
yang gagal. Kesimpulan ini diperkuat pula oleh isyarat yang tersirat dari
jawaban Allah atas pertanyaan malaikat, “Apakah engkau akan
menjadikan di sana (bumi) siapa yang merusak dan menumpahkan darah
sedang kami bertasbih dan memuji engkau? Tuhan berfirman
(menjawab): "Aku tahu apa yang kalian tidak ketahui." (QS 2:30). Hal ini
dapat mewujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam
bentuk otoriter atau diktator. Selebihnya, Adam dan Daud pun
digambarkan oleh Al-Quran sebagai pernah tergelincir tetapi diampuni
Allah. (Baca masing-masing QS 2: 36, 37, dan QS 38:22-25). Oleh karena
itu, perlu dijelaskan mengenai apa saja sifat-sifat khalîfah yang terpuji dan
apa pula ruang lingkup tugas-tugas mereka.
                                                                           18


       Dalam konteks Adam dan Dawud, kekhalîfahan diperolehnya
berkat anugerah Ilahi yang mengajarkan kepadanya al-asma (Adam) dan
al-hikmah (Daud); keduanya berkorelasi positif dengan penguasaan ilmu
dan pengetahuan. Oleh karena itu, penguasaan ilmu (sains) dan
pengetahuan (knowlwdge) merupakan salah satu kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang atau calon khalîfah, termasuk dalam konteks khalîfah
bidang pendidikan. Dari ilmu dan pengetahuan ini, Dawud mengolahnya
dan menghasilkan al-hikmah, yang menjadi sumber dari sistem
pengelolaan (tata kelola, manajemen) dan sistem kepemimpinan
(leadership). Hal-hal ini pun harus dimiliki oleh penyelenggara, pengelola,
dan pelaksana pendidikan.
       Dalam konteks nabi Ibrahim, makna khalîfah terkait dengan makna
imâm. Al-Tabrasi, dalam tafsirnya, mengemukakan bahwa kata imâm
mempunyai makna yang sama dengan khalîfah. Hanya saja -katanya lebih
lanjut-- kata imâm digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari
kata yang mengandung arti "depan" yang berbeda dengan khalîfah yang
terambil dari kata "belakang". Ini berarti bahwa kita dapat memperoleh
informasi tentang sifat-sifat terpuji dari seorang khalîfah dengan
menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata imâm.
       Dalam Al-Quran, kata imâm terulang sebanyak tujuh kali dengan
makna yang berbeda-beda. Namun, kesemuanya bertumpu pada arti
"sesuatu yang dituju dan atau diteladani" Arti-arti tersebut adalah: (a)
Pemimpin dalam kebajikan, yaitu pada Al-Baqarah ayat 124 dan Al-Furqan
ayat 74; (b) Kitab amalan manusia, yaitu pada Al-Isra' ayat 71; (c) al-Lawh
al-Mafhuzh, yaitu pada Yasin ayat 12; (d) Taurat, yaitu pada Hud ayat 17
dan al-Ahqaf ayat 12; (e) Jalan yang jelas, yaitu pada Al-Hijr ayat 79.
       Dari makna-makna di atas terlihat bahwa hanya dua ayat yang dapat
dijadikan rujukan dalam persoalan yang sedang dicari jawabannya ini,
yaitu ayat al-Baqarah: 124 dan al-Furqan:74. Pada QS al-Furqan (25):4,
sebagaimana terlihat, hanya mengandung permohonan untuk dijadikan
imâm (teladan) bagi orang-orang yang bertakwa sehingga tinggal ayat al-
Baqarah [2]:124 yang diharapkan dapat memberikan informasi. Pada ayat
tersebut, Nabi Ibrahim a.s. dijanjikan Allah untuk dijadikan Imâm (inni
ja'iluka li al-nas imâma), dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini
diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah SWT menggarisbawahi suatu
syarat, yaitu la yanalu 'ahdiya al-zhalimin (Janji-Ku ini tidak diperoleh oleh
orang-orang yang berlaku aniaya). Keadilan adalah lawan dari
penganiayaan. Dengan demikian, dari ayat di atas dapat ditarik satu sifat,
yaitu sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia dan lingkungan,
maupun terhadap Allah.
       Perlu sekali lagi diingatkan bahwa para khalîfah yang disebut
namanya dalam Al-Quran (Adam dan Daud a.s.) keduanya pernah
                                                                                                                                 19


melakukan penganiayaan, baik terhadap diri maupun terhadap orang lain.
Namun, mereka berdua bertobat dan mendapat pengampunan. Peristiwa
Adam dan penyesalannya cukup populer (baca antara lain QS 7:23),
sedangkan "penganiayaan" yang dilakukan oleh Daud dapat terlihat pada
kisah dua orang yang bertikai dan datang kepadanya meminta putusan
(QS 38:22, dan seterusnya). Menarik untuk dianalisis bahwa kedua orang
yang bertikai itu berkata kepada Daud,
                              
    Berilah keputusan antara kami dengan hak/adil dan janganlah
    menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan lurus.

     Dari ucapan kedua orang yang bertikai itu (yang pada hakikatnya
tidak bertikai tetapi cara yang dilakukan Allah untuk memperingatkan
Daud), terlihat betapa Allah menekankan pentingnya keadilan sampai-
sampai permintaan untuk memberi putusan yang hak diikuti lagi dengan
peringatan agar tidak menyimpang dari kebenaran yang pada dasarnya
mengandung makna yang sama dengan permintaan pertama --bahkan
walaupun Daud telah bertobat dan diterima tobatnya (QS 38:24-25).
Namun, perintah untuk berlaku adil yang dikaitkan dengan tidak
mengikuti hawa nafsu masih tetap ditekankan:
             


                                                                                                            
    Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalîfah di bumi, maka
    berilah putusan antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti
    hawa nafsu, karena hal tersebut akan menyesatkamu dari jalan Allah (QS
    Shad [38]:26)

      Dalam ayat di atas, Daud sebagai seorang khalifah harus berbuat
adil. Dalam konteks pendidikan, adil juga merupakan sesuatu yang
mutlak diperlukan, agar tidak terdapat kaum yang tertindas (oppressed
people). Kaum tertindas ini bisa bermacam- macam, tertindas rezim
otoriter, tertindas oleh struktur sosial yang tak adil dan diskriminatif,
tertindas karena warna kulit, jender, ras, dan sebagainya. Paling tidak ada
dua ciri orang tertindas. Pertama, mereka mengalami alienasi dari diri dan
lingkungannya. Mereka tidak bisa menjadi subyek otonom, tetapi hanya
mampu mengimitasi orang lain. Kedua, mereka mengalami self-
depreciation, merasa bodoh, tidak mengetahui apa-apa. Padahal, saat
mereka telah berinteraksi dengan dunia dan manusia lain, sebenarnya
                                                                                                                                                                   20


mereka tidak lagi menjadi bejana kosong atau empty vessel, tetapi telah
menjadi makhluk yang mengetahui.
      Namun, memberi keputusan yang adil saja dan tidak mengikuti
hawa nafsu, belum memadai bagi seorang khalîfah. Tetapi, ia harus
mampu pula untuk merealisasikan kandungan permintaan kedua orang
yang berselisih itu, yakni Wa ihdina ila sawa' al-shirath. Memahami
penggalan ayat ini, dalam kaitannya dengan sifat-sifat terpuji seorang
khalîfah, baru akan menjadi jelas bila dikaitkan dengan ayat-ayat yang
berbicara tentang imâm/a'immah, dalam kaitannya dengan pemimpin-
pemimpin yang menjadi teladan dalam kebaikan. Untuk maksud tersebut,
terlebih dahulu, perlu kajian mendalam terhadap al-Quran untuk melihat
ayat-ayat yang dimaksud.
      Kata a'immah terdapat dalam lima ayat Al-Quran. Dua di antaranya
dalam konteks pembicaraan tentang pemimpin-pemimpin yang diteladani
orang-orang kafir, yakni al-Taubah [9]:9, dan al-Qashash [28]:4.
Sedangkan tiga lainnya berkaitan dengan pemimpin-pemimpin yang
terpuji, yaitu al-Anbiya' [21]:73, al-Qashash [28]:5, dan al-Sajdah [32]:24.
Kalau ayat-ayat di atas diamati, nyatalah bahwa QS al-Qashash [28]:5
tidak mengandung informasi tentang sifat-sifat pemimpin. Hal ini
berbeda dengan kedua ayat lainnya, al-Anbiya' [21]:73 dan Sajdah [32]:24,
yang saling melengkapi.
                

                                                                                                                                            

                                                       

      Ada lima sifat pemimpin terpuji yang diinformasikan oleh gabungan
ayat al-Anbiya' [21]:73 dan Sajdah [32]:24, yaitu:
   1. Yahduna bi amrina (mempunyai ilmu, kompetensi, dan interrelasi
        irfani-burhani).
   2. wa awhayna ilayhim fi'la al-khayrat (doing the best, maksimal,
        optimal, efisien, efektif, dan futuris).
   3. 'abidin (termasuk iqam al-Shalat dan ita'al-zakat), ikhlash,
        penghambaan kepada Allah, pemihakan kepada kebenaran, dan
        manajemen berdasarkan Sunnatullah.
   4. yuqinun (yakin, optimism, penuh perhitungan).
   5. shabaru (ketekunan dan ketabahan).
      Beberapa kriteria di atas dapat dimaknai, bahwa seorang pemimpin
(imâm), pengemban amanat pendidikan itu harus berusaha secara
sungguh-sungguh untuk mencapai kompetensi-kompetensi di atas.
Seorang pengemban amanat pendidikan (khalîfah) ideal juga haruslah
memiliki sifat-sifat luhur yang telah melekat (malakah atau being) pada
                                                                                                   21


dirinya Dari kelima sifat tersebut al-shabr (ketekunan dan ketabahan),
dijadikan Allah sebagai konsideran pengangkatan wa ja’alnahum aimmat
lamma shabaru, yakni sebagai salah satu sifat yang amat pokok bagi
seorang khalîfah, sedangkan sifat-sifat lainnya menggambarkan sifat
mental yang melekat pada diri mereka dan sifat-sifat yang mereka
peragakan dalam kenyataan.. Yuqinun dan 'abidin merupakan dua sifat
yang berbeda. Yang pertama menggambarkan tingkat keimanan yang
bersemi di dalam dada mereka, sedangkan yang kedua menggambarkan
keadaan nyata mereka. Kedua sifat ini sedemikian jelasnya sehingga tidak
perlu untuk diuraikan lebih jauh.
      Selebihnya salah satu kriteria khalîfah di atas adalah wa ihdina ila
sawa al-shirath (QS Shad [38]:26), yang merupakan salah satu sikap yang
dituntut dari seorang khalîfah, setelah memperhatikan kandungan ayat-
ayat yang berbicara tentang a'immat. Dalam surah Shad (38) tersebut,
redaksinya berbunyi wa ihdina ila sawa al-shirath, sedang dalam ayat-ayat
yang berbicara tentang a'immat yang dikutip di atas, redaksinya berbunyi
yahduna bi amrina. Salah satu perbedaan pokoknya adalah pada kata yahdi.
Yang pertama menggunakan huruf ilâ, sedang yang kedua tanpa ilâ. Al-
Raghib al-Isfahani menjelaskan bahwa kata hidâyat apabila menggunakan
ilâ, maka ia berarti sekadar memberi petunjuk; sedang bila tanpa ila, maka
maknanya lebih dalam lagi, yakni "memberi petunjuk dan mengantar
sekuat kemampuan menuju apa yang dikehendaki oleh yang diberi
petunjuk". Ini berarti bahwa seorang pengambil kebijakan dan
pelaksanan pendidikan, sebagai khalîfah, minimal mampu menunjukkan
jalan kebahagiaan kepada peserta didik dan yang lebih terpuji adalah
mereka yang dapat mengantarkan umatnya ke pintu gerbang
kebahagiaan. Dengan kata lain, seorang pengambil kebijakan pendidikan
dan tenaga pendidik, sebagai khalîfah tidak sekadar menunjukkan tetapi
mampu pula memberi contoh sosialisasinya (demonstratif dan modeling).Hal
ini mereka capai karena kebajikan telah mendarah daging dalam diri
mereka (being). Dengan kata lain, mereka memiliki al-akhlak al-karimah
sebagaimana yang dapat dipahami dari sifat kedua yang disebutkan di
atas, yakni wa awhayna ilayhim fi'la al-khayrat.4
      Inilah prinsip pokok yang merupakan landasan interaksi antar
sesama manusia dan keharmonisan hubungan itu pulalah yang menjadi
tujuan dari segala etika agama. Keharmonisan hubungan inilah yang
menghasilkan etika itsar, sehingga etika agama tidak mengenal prinsip

       4 Jika seorang berkata, "yu'jibuni an taqum", maka ini berarti bahwa lawan bicaranya ketika itu
belum berdiri dan ia akan senang melihatnya berdiri. Pengertian ini dipahami dari adanya huruf an
pada susunan redaksi tersebut. Sedangkan bila dikatakan, "Yu'jibuni qiyamuka", maka redaksi yang
tidak menggunakan an ini mengandung arti bahwa lawan bicaranya sudah berdiri dan si pembicara
menyampaikan kepadanya kekagumannya atas berdirinya itu. Demikian uraian Abdul-Qadir Al-Jurjani
yang disederhanakan dari Dala'il al-Ijaz.
                                                                       22


"Anda boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar hak orang lain",
tetapi memperkenalkan "Mereka mendahulukan pihak lain atas diri
mereka walaupun mereka sendiri dalam kebutuhan." (QS 59:9). Di atas
juga telah dikemukakan bahwa hanya kemampuan (kekuatan) yang dapat
membedakan seseorang dari yang lain, dan dari keistimewaan inilah
segala sifat terpuji dapat lahir. Kesabaran dan ketabahan merupakan etika
atau sikap terpuji, karena ia adalah kekuatan, yaitu kekuatan seseorang
dalam menanggung beban atau menahan gejolak keinginan negatif.
Keberanian merupakan kekuatan karena pemiliknya mampu melawan
dan menundukkan kejahatan. Dan kasih sayang dan uluran tangan adalah
juga kekuatan; bukankah ia ditujukan kepada orang-orang yang
membutuhkan dan lemah?
     Demikianlah segala macam sikap terpuji atau etika agama. Benar
bahwa semakin kokoh hubungan manusia dengan alam raya dan semakin
dalam pengenalannya terhadapnya, akan semakin banyak yang dapat
diperolehnya melalui alam itu. Namun, bila hubungan itu sampai disitu,
pastilah hasil lain yang dicapai hanyalah penderitaan dan penindasan
manusia atas manusia. Inilah antara lain kandungan pesan Allah yang
diletakkan dalam rangkaian wahyu pertama. Sebaliknya, semakin baik
interaksi manusia dengan manusia, dan interaksi manusia dengan Allah,
serta interaksinya dengan alam, pasti akan semakin banyak yang dapat
dimanfaatkan dari alam raya ini. Karena, ketika itu mereka semua akan
saling membantu dan bekerjasama dan Allah di atas mereka akan
merestui. Hal ini terungkap antara lain melalui surah al-Jin ayat 16, “Dan
bahwasanya, jika mereka tetap berjalan lurus di jalan itu (petunjuk
petunjuk Ilahi), niscaya pasti Kami akan memberi mereka air segar
(rezeki yang melimpah).
     Demikian itu dua dari hukum-hukum kemasyarakatan (kekhalîfahan)
dari sekian banyak hukum kemasyarakatan yang dikemukakan Al-Quran
sebagai petunjuk pelaksanaan fungsi kekhalîfahan, yang sekaligus menjadi
etika pembangunan. Keharmonisan hubungan melahirkan kemajuan dan
perkembangan masyarakat, demikian kandungan ayat di atas.
Perkembangan inilah yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakat
religius yang Islami sebagaimana digambarkan oleh Al-Quran pada akhir
surah Al-Fath, yang mengibaratkan masyarakat Islam yang ideal, “...
sebagai tanaman yang tumbuh berkembang sehingga mengeluarkan
tunasnya dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi
besar dan tegak lurus di atas pokoknya … (QS Al-Fath [48]:29). Dengan
demikian, salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah terciptanya
kemajuan dan perkembangan masyarakat ke arah yang lebih baik dan
pemihakan pada kebenaran.
                                                                        23


      Keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali jika dilandasi oleh
rasa aman. Karena itu pula, setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru
dapat dinilai sesuai dengan etika agama apabila rasa aman dan sejahtera
menghiasi setiap anggota masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan
yang dihiasi oleh etika agama adalah "yang mengantar manusia menjadi
lebih bebas dari penderitaan dan rasa takut". Kalau hal ini dikaitkan
dengan kisah kejadian manusia, maka dapat pula dikatakan bahwa
keberhasilan pembangunan dalam pandangan agama adalah pada saat
manusia berhasil mewujudkan bayang-bayang surga di persada bumi ini.
      Arah yang dituju oleh istikhlaf adalah kebebasan manusia dari rasa
takut, baik dalam kehidupan dunia ini atau yang berkaitan dengan
persoalan sandang, pangan dan papan, maupun ketakutan-ketakutan
lainnya yang berkaitan dengan masa depannya yang dekat atau yang jauh
di akhirat kelak. Ayat-ayat yang berbicara tentang la khawf 'alayhim wa la
hum yahzanun tidak harus selalu dikaitkan dengan ketakutan dan
kesedihan di akhirat, tetapi dapat pula mencakup ketakutan dan
kesedihan dalam kehidupan dunia ini. Untuk mencapai rasa aman
tersebut, ada sekian banyak sikap yang dituntut oleh agama dari para
pemeluknya. Terdapat lima hal pokok untuk mencapai hal tersebut: 1)
Kebutuhan dasar setiap masyarakat harus terpenuhi dan ia harus bebas
dari ancaman dan bahaya pemerkosaan; 2) Manusia terjamin dalam
mencari nafkah, tanpa harus keterlaluan menghabiskan tenaganya 3)
Manusia bebas untuk memilih bagaimana mewujudkan hidupnya sesuai
dengan cita-citanya. 4) Ada kemungkinan untuk mengembangkan bakat-
bakat dan kemampuannya; dan 5) Partisipasi dalam kehidupan sosial
politik, sehingga seseorang tidak semata-mata menjadi objek penentuan
orang lain. Hal-hal ini pun menjadi prasyarat bagi pelaksanaan
pendidikan yang kondusif, efektif, dan efisien.

3. Rumusan Nilai Teologi khalîfah dalam Konteks Pendidikan
      Secara umum, khalîfah terkait dengan makna “pengganti”. Pertama,
khalîfat Allah yakni sebagai wakil (pengganti) Allah. Hal ini berarti bahwa
Allah menjadikan manusia sebagai wakil Allah untuk mengelola bumi.
manusia Kedua, khalîfat al-ardh (pemimpin di muka bumi); yakni manusia
dijadikan “pemimpin” di atas bumi dan pemakmur bumi (isti’mar al-ardh).
Ketiga, makna khalîfah sebagai pengganti sebagai pengganti dari pengelola
bumi sebelumnya (jin atau lainnya). Ini mempersyaratkan adanya
makhluk yang mengelola bumi sebelumnya yang kemudian digantikan
oleh manusia. Makna inipun dapat dikorelasikan juga dengan makna
ikhtalafa atau khallafa yang bermakna berlainan; hal ini berarti bahwa
manusia dijadikan pengganti khalîfah sebelumnya dan sekaligus memiliki
ciri berlainan dengan khalîfah sebelumnya. Keempat, khalîfah pun dapat
                                                                           24


dimaknai saling bergantian, dalam arti bahwa kepemimpinan manusia di
bumi pun saling bergantian (saling mengalahkan).
      Berdasarkan empat pemaknaan khalîfah, maka rumusan (alternatif)
nilai-nilai teologis “khalîfah” dalam konteks pendidikan yang dapat
diajukan adalah:
1. In potensia dan im presensia, manusia adalah khalifat Allah, yakni wakil
    Allah di muka bumi. Sebagai khalifat Allah, maka manusia harus
    mengoptimalkan semua potensi yang diberikan oleh Allah, baik
    berupa jasmani (semua instrument fisik beserta potensinya), jiwa
    (semua dimensi dan potensinya), maupun akal (beserta semua dimensi
    dan potensi) agar mampu mewujudkan totalitas “diri”nya sesuai
    dengan khalîfah yang dikehendaki oleh Allah (Dzat yang memberikan
    kewenangan khilâfah kepada manusia, istikhlaf). Dengan kata lain,
    manusia harus mampu menjadi representasi Allah di muka bumi ini
    dengan cara mewujudkan (malakah, being) semua sifat Allah dalam
    dirinya secara proporsional atau takhallqu bi akhlaq(i)llah. Menjadi
    khalîfah Allah yang total, maka secara otomatis menjadi ‘abd yang
    total pula.
2. Peran Khalîfah dan ‘Abd manusia ini harus diwujudkan oleh manusia
    dalam hubungannya dengan alam sebagai sebuah keharusan sebagai
    pengelola dan pemakmur alam (ist’mar al-ardh); karena fungsi ini pula,
    maka manusia pun dapat pula disebut sebagai khalifat(u) al-ard
    (pemimpin dan manajemen di bumi). Peran tree in one manusia, yakni
    sebagai khalîfah, ‘abd, dan musta’mir ‘alam ini seperti benda tiga dimensi
    yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga peran ini harus
    diimplementasikan dalam semua ranah dunia, termasuk dunia
    pendidikan. Dalam perspektif ini, semua manusia harus menyadari
    bahwa dirinya adalah khalifah, dengan proporsi kekuasaan,
    kewenangan, dan tanggung jawab yang berbeda. Sebagian berperan
    sebagai semua pemangku kebijakan politik (Khalîfah dalam artian
    penguasa politik; misalnya presiden dan menteri), sebagian berperan
    sebagai pemangku kebijakan pelaksana (tekhnis) pendidikan (khalâif;
    misalnya kepala daerah, rektor, ketua yayasan, kepala dinas, kepala
    sekolah, guru), dan pendukung pelaksanaan pendidikan (khulafâ;
    misalnya masyarakat)
3. Oleh karena perannya sebagai khalîfah, ‘abd, dan musta’mir al-ardh ini
    sangat berat, maka upaya menyadarkan manusia pada peran dan
    fungsinya ini harus terus diupayakan. Upaya tersebut berwujud
    pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berfungsi sebagai 1) proses
    (upaya) sadar (atau menyadarkan) manusia tentang kedudukan, peran,
    dan fungsinya dalam hubungannya dengan Allah (habl min Allah) dan
    alam (habl min al-nas dan habl min al-alam). 2) proses pendidikan pun
                                                                          25


     diarahkan untuk menyiapkan manusia untuk memiliki karakteristik
     khalîfah, ‘abd, dan musta’mir selanjutnya, yang memenuhi kriteria yang
     digariskan Allah swt.
4. Karakteristik khalîfah, ‘abd, dan musta’mir al-ardh yang dikehendaki oleh
     Allah adalah (gabungan QS al-Baqarah [2]:30, QS Shad (36):26, al-
     Anbiya' [21]:73, dan Sajdah [32]:24)
    i. ‘allama Adam al-asma, yahduna bi amrina, dan wa ihdina ila sawa al-
         shirath (mempunyai ilmu, kompetensi, dan interrelasi irfani-
         burhani).      Frase ini pun dapat dimaknai, bahwa seorang
         pemimpin (imâm), pengemban amanat pendidikan itu harus
         memahami kehendak Allah (sunnatullâh)
   ii. Kemampuan demonstratif dan modeling (tsumma ‘aradhahum ‘ala al-
         malaikah, yahduna bi amrina, wa ihdina ila sawa al-shirath dan wa
         awhayna ilayhim fi'la al-khayrat (doing the best, maksimal, optimal,
         efisien, efektif, dan futuris).
  iii. Imân dan amanah
  iv. Imâm (leadership dan modeling)
   v. ‘Adl (proporsional; fahkum baina al-nas bi al-haqq)
  vi. 'abidin (termasuk iqam al-Shalat dan ita'al-zakat), ikhlash,
         penghambaan kepada Allah, pemihakan kepada kebenaran, dan
         manajemen berdasarkan Sunnatullah.
 vii. yuqinun (yakin, optimism, penuh perhitungan).
viii. shabaru (ketekunan dan ketabahan)
  ix. Tâibîn (terbuka, akuntabilitas, responsif, dan rekonstruktif).
5. Proses pendidikan adalah upaya untuk mengenalkan (knowing) dan
     menginternalisasikan (doing dan being) nilai-nilai ‘abd, khalifah, dan
     musta’mir al-ardh agar melekat dan menjadi karakter pada setiap
     manusia. Indikator dari semua itu adalah jika manusia sudah mampu
     memberi manfaat sebanyak-banyaknya pada alam dan kemanusiaan
     serta mampu memihak dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada
     sesamanya dan kepada alam, tanpa melepaskan dirinya dari
     keterikatan kepada Allah.

D. Penutup
     Pemaknaan otentik terhadap term Khalîfah diperlukan agar dapat
dipahami secara komprehensif. Dari empat pemaknaan yang diajukan
menunjukkan bahwa term Khalîfah tidak hanya terbatas pada pemaknaan
spesifik politik saja, tetapi meliputi dimensi yang luas, termasuk konteks
pendidikan. Konsekuensinya, dari variasi pemaknaan kata Khalîfah
tersebut terlihat adanya status dan peran yang berbeda dari eksistensi
manusia, termasuk para pengemban amanah pendidikan.
                                                                       26




                         DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.
Ashfahâniy, al-Raghib al-.1972. Mu’jam al-Mufradât li Alfâdz al-Qur’ân.
     Beirut: Dâr al-Fikr., Al-
Ashfahâniy, al-Raghib al-.1974. Mu’jam Mufradât fi al-Gharîb al-Qur’ân.
     Beirut: Dâr al-Ma’ârif.
Baqi, Muhammad Fu’ad ‘Abd al-,. 1987. Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-
     Qur’an al-Karim. Beirut: Dar al-Fikr.
Fadli, al-Imāmu 'alāmatu Jamālu ad-Dīn Abi al-. T.T.. Lisanul Arabi( ‫ﻟﺴﺎن‬
     ‫ ,)اﻟﻌﺮب‬jilid 4. Mesir: Daarul Kitab Al-'Alamiyah.
Fairûzâbâdi, Abi Thâhir ibn Ya’kub al-. T.T. Tanwir al-Miqbâs min Tafsîr
     ibn Abbas. Beirut: Dâr al-Fikr.
Munawwir, Ahmad Warson. 1984 al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia.
     Yogyakarta: Munawwir.
Shadiq, Muhammad Baqir Ash. 1980. Al-Madrasah al-Qur’aniyyah wa al-
     Sunnah al-Tarikhiyyah fi al-Qur’an al-Karîm.
Thabâthbâiy, al-Allamah. T.T. Al-Mîzân fiy al-Tafsîr al-Qur’ân, jilid XII,
     Mu’assasat li al-Mathbu’ât.
Zamakhsyari, Abi al-Qâsim Jâr Allah Mahmûd ibn ‘Umar al-
     Khawarizmiy, al. T.T. Al-Kasysyâf ‘an Haqâiq al-Tanzil wa ‘Uyûn
     Aqâwil fiy Wujûh al-Ta’wîl. Beirut: Dar al-Fikr.
                                           Tabel: Relasi, Status, Peran Manusia, dan Tujuan Pendidikan

No     Relasi    Status      Peran                                                          Tujuan Pendidikan
                Manusia     Manusia
1    Allah      Khalîfat   Wakil Allah    Pendidikan berperan untuk menyadarkan manusia akan status dan tugasnya sebagai wakil Allah. Sebagai wakil Allah, maka
                Allah                     manusia harus melakukan hal-hal berikut.
                                          1) Pertama, ia harus mampu menjadi seperti yang diwakilinya, yakni Allah, dengan berusaha untuk mencontoh segala
                                              sifatnya atau takahllaqu bi akhlaq Allah.
                                          2) Kedua, ia harus berusaha sekemampuannya (ijtihad) mewujudkan segala keinginan (iradah) Allah, terutama berkaitan
                                              dengan pencapaian tujuan penciptaan manusia dan alam.
                                          3) Ketiga, ia harus menempuh jalan yang telah ditentukan oleh Allah, yakni melalui sunnat Allah dan pemihakan kepada
                                              kebenaran.

2    Makhluk    Khalîfah   Pengganti      1)    Pertama, menyiapkan calon khalifah atau generasi penerus yang lebih baik dan sesuai dengan ketentuan Allah.
     Sebelum    (Khalf)    Generasi       2)    Kedua, memanage proses suksesi kekhalifahan agar dapat berjalan sesuai dengan sunnatullah dan tidak menimbulkan
     Manusia               Sebelumnya           konflik destruktif.
                                          3)    Ketiga, upaya memahamkan dan menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan dan keunggulan dari generasi terdahulu serta
                                                penyadaran berbagai kelemahan yang menyebabkan keruntuhan generasi terdahulu.

3    Manusia    Khalâif    Pemimpin       1)    Pertama, proses pendidikan merupakan upaya sadar dan sistemik untuk menciptakan pemimpin (khalifat atau imam)
                           Wilayah              yang menyadari posisinya di antara Allah dan alam. Kesadaran ini akan memunculkan sikap dan perilaku yang
                           (Politik)            berwawasan dan berbasis nilai-nilai keilahiyahan.
                Khulafâ    Pendukung      2)    Kedua, proses pendidikan dimaksudkan sebagai upaya menciptakan pengambil kebijakan yang mempunyai kompetensi
                           Kesuksesan           pengelolaan wilayah (leadership [kepemimpinan]dan isti’mar [managerial], yang baik dan proporsional sehingga mampu
                           Pengelola            menciptakan system pendidikan yang berwawasan dan berbasis nilai-nilai keilahiyahan.
                           Wilayah
4    Alam       Khalîfat   Isti’mâr al-    1)    Pertama, proses pendidikan dapat dimaknai sebagai upaya menyiapkan tenaga ahli professional dan kompeten yang
                al-Ardh    Ardh                  mampu memakmurkan alam (isti’mar al-ardh).
                           (memakmur       2)    Kedua, salah satu tujuan antara pendidikan adalah upaya penyadaran manusia dalam hubungannya dengan alam,
                           kan bumi)             yakni sebagai media dalam penunaian khalifat Allah dan ‘abd Allah; dengan demikian, manusia tidak akan bertindak
                                                 eksploitatif, destruktif, otoriter, dan egois.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:810
posted:2/12/2011
language:Indonesian
pages:27
Description: Tujuan pendidikan sangat bergantung pada teologi/ filsafat yang dikonstruk manusia, terutama relasi trikotomik antara Manusia, Tuhan, dan Alam.