Docstoc

ADAT JAWA

Document Sample
ADAT JAWA Powered By Docstoc
					                       ADAT ISTIADAT JAWA
                   (manusia Jawa sejak dalam kandungan sampai wafat)


Wus pinasti wanito puniki,Dadi wadah wijining tumitah,Den aji aji wajibe
Watak suwargo nunut,Nunut iku gese njalari,Dadyo nomo suwargo
Yen tetesing luhur,Winastono neroko
Lamun hamadhani asor asorin budi,wiji haneng poro prio


Lahir dan mendewasakan anak
  Mupu, artinya mungut anak, yang secara magis diharapkan dapat menyebabkan hamilnya si
  Ibu yang memungut anak, jika setelah sekian waktu dirasa belum mempunyai anak juga atau
  akhirnya tidak mempunyai anak. Orang Jawa cenderung memungut anak dari sentono (masih
  ada hubungan keluarga), agar diketahui keturunan dari siapa dan dapat diprediksi perangainya
  kelak yang tidak banyak menyimpang dari orang tuanya.
  Syarat sebelum mengambil keputusan mupu anak, diusahakan agar mencari pisang raja sesisir
  yang buahnya hanya satu, sebab menurut gugon tuhon (takhayul yang berlaku) jika pisang
  ini dimakan akan nuwuhaken (menyebabkan) jadinya anak pada wanita yang memakannya.
  Anhinga, bisa dimungkinkan hamil, dan tidak harus memungut anak.
Pada saat si Ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya, disimpulkan
bahwa anaknya adalah laki-laki, dan demikian sebaliknya jika anaknya perempuan.
  Sedangkan di saat kehamilan berusia 7 (tujuh) bulan, diadakan hajatan nujuhbulan atau
  mitoni. Disiapkanlah sebuah kelapa gading yang digambari wayang dewa Kamajaya dan
  dewi Kamaratih(supaya si bayi seperti Kamajaya jika laki-laki dan seperti Kamaratih jika
  perempuan), kluban/gudangan/uraban (taoge, kacang panjang, bayem, wortel, kelapa parut
  yang dibumbui, dan lauk tambahan lainnya untuk makan nasi),dan rujak buah.
Disaat para Ibu makan rujak, jika pedas maka dipastikan bayinya nanti laki-laki. Sedangkan saat
di cek perut si Ibu ternyata si bayi senang nendang-nendang, maka itu tanda bayi laki-laki.
Lalu para Ibu mulai memandikan yang mitoni disebut tingkeban, didahului Ibu tertua, dengan air
kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga dan kantil), dimana yang mitoni
berganti kain sampai 7 (tujuh) kali. Setelah selesai baru makan nasi urab, yang jika terasa pedas
maka si bayi diperkirakan laki-laki.
                                                                                                1
Kepercayaan orang Jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan
mikul duwur (menjunjung derajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik di dalam
masyarakat). Dan untuk memperkuat keinginan itu, biasanya si calon Bapak selalu berdo’a
memohon kepada Tuhan.
  Slametan pertama berhubung lahirnya bayi dinamakan brokohan, yang terdiri dari nasi
  tumpeng dikitari uraban berbumbu pedas tanda si bayi laki-laki) dan ikan asin goreng tepung,
  jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah-putih,
  sayur lodeh kluwih/timbul agar linuwih (kalau sudah besar terpandang). Ketika bayi berusia 5
  (lima) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan.
  Bedanya dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi
  nama, misalnya bernama T. Dewantoro.
  Saat diteliti di almanak Jawa tentang wukunya, ternyata T. Dewantoro berwuku tolu, yakni
  wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 (tiga puluh). Menurut wuku tolu maka
  T.Dewantoro berdewa Batara Bayu, ramah-tamah walau bisa berkeras hati, berpandangan
  luas,cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli di bidang pekerjaannya, kuat bergadang
  hingga pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, terkadang suka pujian dan sanjungan
  yang berhubungan dengan kekayaannya.
Slametan selapanan yaitu saat bayi berusia 35 (tiga puluh lima) hari, yang pada pokoknya sama
dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut
tumbuh lebat. Setelah ini, setiap 35 (tiga puluh lima) hari berikutnya diadakan acara peringatan
yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dengan irisan telur
ayam rebus dan bubur merah-putih.
Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit
istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan
kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga
diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka
ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka
ia akan kaya raya, dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi
dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit
(menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh
berkah dari upacara tedak siten.




                                                                                                2
Setelah si anak berusia menjelang sewindu atau 8 (delapan) tahun, belum juga mempunyai adik,
maka perlu dilakukan upacara mengadakan wayang kulit yang biasa acara semacam ini
dinamakan ngruwat agar bebas dari marabahaya Biasanya tentang cerita Kresno Gugah yang
dilanjutkan dengan cerita Murwakala.
Saat menjelang remaja, tiba waktunya ditetaki/khitan/sunat. Setibanya di tempat sunat (dokter
atau dukun/bong), sang Ibu menggendong si anak ke dalam ruangan seraya mengucapkan
kalimat : laramu tak sandang kabeh (sakitmu saya tanggung semua).
Orang Jawa kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan
windu, yaitu setiap 8 (delapan) tahun. Peristiwa ini dinamakan windon, dimana untuk windu
pertama atau sewindu, diperingati dengan mengadakan slametan bubur merah-putih dan nasi
tumpeng yang diberi 8 (delapan) telur ayam rebus sebagai lambang usia. Tapi peringatan harus
dilakukan sehari atau 2 (dua) hari setelah hari kelahiran, yang diyakini agar usia lebih panjang.
Kemudian saat peringatan 2 (dua) windu, si anak sudah dianggap remaja/perjaka atau
jaka,suaranya ngagor-agori (memberat). Saat berusia 32 (tiga puluh dua ) tahun yang biasanya
sudah kawin dan mempunyai anak, hari lahirnya dirayakan karena ia sudah hidup selama 4
(empat) windu, maka acaranya dinamakan tumbuk alit (ulang tahun kecil). Sedangkan ulang
tahun yang ke 62 (enam puluh dua) tahun disebut tumbuk ageng.
Saat dewasa, banyak congkok atau kasarnya disebut calo calon isteri, yang membawa cerita dan
foto gadis. Tapi si anak dan orang tuanya mempunyai banyak pertimbangan yang antara lain:
jangan mbokongi (menulang-punggungi sebab keluarga si gadis lebih kaya) walau ayu dan luwes
karena perlu mikir praja (gengsi), jangan kawin dengan sanak-famili walau untuk nggatuake
balung apisah(menghubungkan kembali tulang-tulang terpisah/mempererat persaudaraan) dan
bergaya priyayi karena seandainya cerai bisa terjadi pula perpecahan keluarga, kalaupun seorang
ndoro (bangsawan) tapi jangan terlalu tinggi jenjang kebangsawanannya atau setara dengan si
anak serta sederhana dan menarik hati. Lagi pula si laki-laki sebaiknya harus gandrung
kapirangu (tergila-gila/cinta).


Melamar
Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga
perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna
mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu
tentang perkawinan.


                                                                                                3
Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan
dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran
dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana
tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya
zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan
2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan
yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan
barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup.
Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau
mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen.


Perkawinan
Orang Jawa khususnya Solo, yang repot dalam perkawinan adalah pada pihak wanitanya,
sedangkan pihak laki-laki biasanya cukup memberikan sejumlah uang guna membantu
pengeluaran yang dikeluarkan pihak perempuan, di luar terkadang ada pemberian sejumlah
perhiasan, perabot rumah maupun rumahnya sendiri. Selain itu saat acara ngunduh (acara
setelah perkawinan dimana yang membuat acara pihak laki-laki untuk memboyong isteri ke
rumahnya), biaya dan pelaksana adalah pihak laki-laki, walau biasanya sederhana.
Dalam perkawinan harus dicari hari "baik", maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli
hitungan hari "baik" berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah diketemukan hari baiknya,
maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk
menjalani hidup perkawinan, dengan diurut dan diberi jamu oleh ahlinya. Ini dikenal dengan
istilah diulik, yaitu mulai dengan pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi tepat
agar dalam persetubuhan pertama dapat diperoleh keturunan, sampai dengan minum jamu Jawa
yang akan membikin tubuh ideal dan singset.
Selanjutnya dilakukan upacara pasang tarub (erat hubungannya dengan takhayul) dan biasanya
di rumah sendiri (kebiasaan di gedung baru mulai tahun 50-an), dari bahan bambu serta
gedek/bilik dan atap rumbia yang di masa sekarang diganti tiang kayu atau besi dan kain terpal.
Dahulu pasang tarub dikerjakan secara gotong-royong, tidak seperti sekarang. Dan lagi pula
karena perkawinan ada di gedung, maka pasang tarub hanya sebagai simbolis berupa anyaman
daun kelapa yang disisipkan dibawah genting. Dalam upacara pasang tarub yang terpenting
adalah sesaji. Sebelum pasang tarub harus diadakan kenduri untuk sejumlah orang yang ganjil
hitungannya (3 - 9 orang). Do’a oleh Pak Kaum dimaksudkan agar hajat di rumah ini selamat,
                                                                                              4
yang bersamaan dengan ini ditaburkan pula kembang setaman, bunga rampai di empat penjuru
halaman rumah, kamar mandi, dapur dan pendaringan (tempat menyimpan beras), serta di
perempatan dan jembatan paling dekat dengan rumah. Diletakkan pula sesaji satu ekor ayam
panggang di atas genting rumah. Bersamaan itu pula rumah dihiasi janur, di depan pintu masuk
di pasang batang-batang tebu, daun alang-alang dan opo-opo, daun beringin dan lain-lainnya,
yang bermakna agar tidak terjadi masalah sewaktu acara berlangsung. Di kiri kanan pintu
digantungkan buah kelapa dan disandarkan pohon pisang raja lengkap dengan tandannya,
perlambang status raja.


Siraman (pemandian) dilakukan sehari sebelum akad nikah, dilakukan oleh Ibu-ibu yang sudah
berumur serta sudah mantu dan atau lebih bagus lagi jika sudah sukses dalam hidup, disiramkan
dari atas kepala si calon pengantin dengan air bunga seraya ucapan "semoga selamat di dalam
hidupnya". Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang (rebusan
sayur taoge serta irisan kol dan kacang panjang yang disiram bumbu terbuat dari tempe dan
tempe busuk yang dihancurkan hingga jadi saus serta diberi santan, salam, laos serta daun jeruk
purut yang dicampuri irisan pete dan krupuk kulit), dengan pelengkap sosis dan krupuk udang.


Midodareni
adalah malam sebelum akad nikah, yang terkadang saat ini dijadikan satu dengan upacara temu.
Pada malam midodareni sanak saudara dan para tetangga dekat datang sambil bercakap-cakap
dan main kartu sampai hampir tengah malam, dengan sajian nasi liwet (nasi gurih karena
campuran santan, opor ayam, sambel goreng, lalab timun dan kerupuk).


Upacara akad nikah,
harus sesuai sangat (waktu/saat yang baik yang telah dihitung berdasarkan Primbon Jawa) dan
Ibu-Ibu kedua calon pengantin tidak memakai subang/giwang (untuk memperlihatkan
keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa ngentasake/mengawinkan anak, yang
sekarang jarang diindahkan yang mungkin karena malu). Biasanya acara di pagi hari, sehingga
harus disediakan kopi susu dan sepotong kue serta nasi lodopindang (nasi lodeh dengan
potongan kol, wortel, buncis, seledri dan kapri bercampur brongkos berupa bumbu rawon tapi
pakai santan) yang dilengkapi krupuk kulit dan sosis. Disaat sedang sarapan, Penghulu beserta
stafnya datang, ikut sarapan dan setelah selesai langsung dilakukan upacara akad nikah.


                                                                                               5
Walau akad nikah adalah sah secara hukum, tetapi dalam kenyataannya masih banyak perhatian
orang terpusat pada upacara temu, yang terkadang menganggap sebagai bagian terpenting dari
perayaan perkawinan. Padahal sebetulnya peristiwa terpenting bagi calon pengantin adalah saat
pemasangan cincin kawin, yang setelah itu Penghulu menyatakan bahwa mereka sah sebagai
suami-isteri. Temu adalah upacara adat dan bisa berbeda walau tak seberapa besar untuk setiap
daerah tertentu, misalnya gaya Solo dan gaya Yogya.
Misalnya dalam gaya Solo, di hari "H"nya, di sore hari. Tamu yang datang paling awal biasanya
sanak-saudara dekat, agar jika tuan rumah kerepotan bisa dibantu. Lalu tamu-tamu lainnya, yang
putri langsung duduk bersila di krobongan, dengan lantai permadani dan tumpukan bantal-bantal
(biasanya bagi keluarga mampu), sedang yang laki-laki duduk di kursi yang tersusun berjajar di
Pendopo (sekarang ini laki-laki dan perempuan bercampur di Pendopo semuanya). Para penabuh
gamelan tanpa berhenti memainkan gending Kebogiro, yang sekitar 15 (lima belas) menit
menjelang kedatangan pengantin laki-laki dimainkan gending Monggang. Tapi saat pengantin
beserta pengiring sudah memasuki halaman rumah/gedung, gending berhenti, dan para tamu
biasanya tahu bahwa pengantin datang. Lalu tiba di pendopo, ia disambut dan
dituntun/digandeng dan diiringi para orang-tua masih sejawat orang tuanya yang terpilih
Sementara itu, pengantin perempuan yang sebelumnya sudah dirias dukun nganten (rambut
digelung dengan gelungan pasangan, dahi dan alis di kerik rambutnya, dsb.nya) untuk akad
nikah, dirias selengkapnya lagi di dalam kamar rias. Lalu setelah siap, ia dituntun/digandeng ke
pendopo oleh dua orang Ibu yang sudah punya anak dan pernah mantu, ditemukan dengan
pengantin laki-laki (waktu diatur yaitu saat pengantin pria tiba di rumah/gedung, pengantin
perempuan pun juga sudah siap keluar dari kamar rias), dengan iringan gending Kodokngorek.
Sedangkan pengantin laki-laki dituntun ke arah krobongan.
Ketika mereka sudah berjarak sekitar 2 (dua) meter, mereka saling melempar dengan daun sirih
yang dilipat dan diikat dengan benang, yang siapa saja melempar lebih kena ke tubuh diartikan
bahwa dalam hidup perkawinannya akan menang selalu. Lalu yang laki-laki mendekati si wanita
yang berdiri di sisi sebuah baskom isi air bercampur bunga. Di depan baskom di lantai terletak
telur ayam, yang harus diinjak si laki-laki sampai pecah, dan setelah itu kakinya dibasuh dengan
air bunga oleh si wanita sambil berjongkok. Kemudian mereka berjajar, segera Ibu si wanita
menyelimutkan slindur/selendang yang dibawanya ke pundak kedua pengantin sambil berucap:
Anakku siji saiki dadi loro (anakku satu sekarang menjadi dua). Selanjutnya mereka dituntun ke
krobongan, dimana ayah dari pengantin perempuan menanti sambil duduk bersila, duduk di
pangkuan sang ayah sambil ditanya isterinya: Abot endi Pak ? (berat mana Pak ?), yang dijawab
                                                                                               6
sang suami: Pada dene (sama saja). Selesai tanya jawab, mereka berdiri, si laki-laki duduk
sebelah kanan dan si perempuan sebelah kiri, dimana si dukun pengantin membawa masuk
sehelai tikar kecil berisi harta (emas, intan, berlian) dan uang pemberian pengantin laki-laki yang
dituangkan ke tangan pengantin perempuan yang telah memegang saputangan terbuka, dan
disaksikan oleh para tamu secara terbuka. Inilah yang disebut kacar-kucur.
Guna lambang kerukunan di dalam hidup, dilakukan suap-menyuap makanan antara pengantin.
Bersamaan dengan ini, makanan untuk tamu diedarkan (sekarang dengan cara prasmanan)
berurutan satu persatu oleh pelayan. Setelah itu, dilakukan acara ngabekten (melakukan
sembah) kepada orang tua pengantin perempuan dan tilik nganten (kehadiran orang tua laki-laki
ke rumah/gedung setelah acara temu selesai yang langsung duduk dikrobongan dan disembah
kedua pengantin).
Lalu setelah itu dilakukan kata sambutan ucapan terima kasih kepada para tamu dan mohon
do’a restu, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa suara gending-gending dari
gamelan, misalnya gending ladrang wahana, lalu tayuban bagi jamannya yang senang acara itu,
dsb.nya.


Mati/Wafat
  Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian
  mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi, adalah
  saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya, orang meninggal
  selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit diterima bagi orang yang
  mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul mayat dari kayu) yang digunakan
  secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang dikubur bersama-sama dengan mayatnya).
  Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu
  dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua
  sampai dengan termuda.
Sedangkan meskipun slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun
pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama
saja, yaitu sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong
kambing untuk disate dan gule.
Nyewu dianggap slametan terakhir dengan nyawa/roch seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan
menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam
takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah
                                                                                                 7
mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan
teratur rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah
menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari kata pokok bubar
yang berarti selesai berpuasanya.




                                                                                            8
                         BUSANA-JAWA
         Makna Yang Tersirat Dalam Busana Tradisional Jawa Lengkap




Busana adat Jawa biasa disebut dengan busana kejawen mempunyai perlambang tertentu bagi
orang Jawa. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi ( ajaran tersamar ) kaya akan ajaran
Jawa. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini
secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan
sesama manusia, diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya.
Pakaian adat yang dikenakan pada bagian kepala adalah, seperti iket, udheng : dibagian tubuh
ada rasukan ( baju ) : jarik sabuk, epek, timang dibagian belakang tubuh yakni keris dan
dikenakan dibagian bawah atau bagian kaki yaitu canela.


Penutup Kepala
Untuk bagian kepala biasanya orang Jawa kuna ( tradisional ) mengenakan "iket" yaitu ikat
kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. Cara mengenakan iket
harus kenceng ( kuat ) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Makna iket dimaksudkan manusia
seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng, tidak mudah terombang-ambing hanya karena
situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.
Hampir sama penggunaannya yaitu udheng juga, dikenakan di bagian kepala dengan cara
mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. Jika sudah dikenakan di atas kepala, iket dan
udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. Udheng dari kata kerja Mudheng atau
mengerti dengan jelas, faham. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh,
mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu
udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat
menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Dengan kata
lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional.


Busana
Sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, seyogyanya orang ( jawa ) " ngrasuk " atau menganut
agama dan selalu menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan iman dan takwa. Hendaknya
orang Jawa takut kepada Allah dan bersedia untuk selalu melaksanakan apapun kehendak Allah.
                                                                                              9
Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik ( kancing baju ) disebelah kiri
dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang ( jawa ) dalam melakukan
semua tindakannya apapun selalu diniknik, diperhitungkan dengan cermat. Apapun yang akan
dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat , menjaga antara kepentingan
pribadi dan kepentingan umum.
Sabuk ( ikat pinggang ) dikenakan dengan cara dilingkarkan ( diubetkan ) ke badan. Ajaran ini
tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi
kebutuhan hidupnya. Untuk itulah manusia harus ubed ( bekerja dengan sungguh-sungguh ) dan
jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk ( impas/tidak ada keuntungan ). Kata sabuk
berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne. Jadi harus ubed atau gigih.
Epek bagi orang jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus epek (
apek, golek, mencari ) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakan untuk
tekun, teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas.
Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang,
tidak akan ada rasa samang ( khawatir ) samang asal dari kata timang.
Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai
mata kaki. Jarik bermakna aja gampang serik ( jangan mudah iri terhadap orang lain ).
Menanggapi setiap masalah harus hati-hati, tidak grusa-grusu ( emosional )
Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru ( meripel ) pinggiran yang vertikal atau sisi
saja sedemikian rupa. Wiru atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat ( mewiru ).
Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru, dimaksudkan wiwiren aja
nganti kleru, kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang
menyenangkan dan harmonis.
Bebed adalah kain ( jarik ) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan, bebed
artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "
tumindak nggubed ing rina wengi " ( bekerja sepanjang hari )
Canela mempunyai arti " Canthelna jroning nala " ( peganglah kuat dalam hatimu ) canela sama
artinya Cripu, Selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di
kaki-NYA. Dalam hati hanyalah sumeleh ( pasrah ) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.




                                                                                              10
                                 RUWATAN
Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas
dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya


Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-
tahun menjadi pandangan hidup dan sikap hidup umumnya orang Jawa. Sikap hidup masyarakat
Jawa memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi direferensi nasehat-nasehat
nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam
ungkapan Jawa, menjadi isian jiwa seni dan budaya Jawa.
Dalah ungkapan " Crah Agawe Bubrah - Rukun Agawe Santosa " menghendaki keserasian dan
keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Perlambang dan ungkapan-ungkapan
halus yang mengandung pendidikan moral, banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya :
1. Ojo Dumeh : Merasa dirinya lebih
2. Mulat sarira, Hangrasa wani : Mawas diri, instropeksi diri
3. Mikul Duwur, Mendem Jero : Menghargai dan menghormati serta menyimpan – rahasia
 orang lain.
4. Jer Basuki Mawa Beya : Kesuksesan perlu atau butuh pengorbanan
5. Ajining diri saka obahing lati : Harga diri tergantung ucapannya
Prinsip pengendalian diri dengan " Mulat Sarira " suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha
tidak menyakiti perasaan orang lain, serta " Aja Dumeh " adalah peringatan kepada kita bahwa
jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang
masih mempunyai arti sangat luas.
Kepercayaan terhadap keberadaan roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap
kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama dan
bahkan memberi warna khususu dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat
Jawa, yaiku : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta
Optimistik.
Berbagai ungkapan dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bisa
bermakna " Piwulang " atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan
kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati.


                                                                                           11
Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian
wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang
kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju
setelah mengenal segala bentuk kesenian dari India dan menjadi sempurna begitu masuk agama
Islam di Pulau Jawa.
Paham mistik Jawa yang berpokok " Manunggaling Kawula Gusti " ( persatuan manusia dengan
Tuhan ) dan " Sangkan Paraning Dumadi " ( asal dan tujuan ciptaan ) bersumber pada
pengalaman religius, berawal dari sana manusia itu rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin
menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa
dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh agama besar seperti Hindu, Budha dan
Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan
Suluk.
Wayang sebagai pertunjukan, merupakan ungkapan-ungkapan dan pengalaman religius yang
merangkum bermacam-macam unsur lambang, bahasa gerak,suara, warna dan rupa. Dalam
wayang terekam ungkapan pengalaman religius yang " kuno " seperti tampak bahwa pada tahap
perkembangannya dewasa ini, masih berperan pula mitos dan ritus, misalkan pada lakon Ruwat
atau Murwa Kala.
Secara tradisional, wayang merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwarisi secara
turun temurun, tidak hanya sekedar tontonan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah
laku dalam kehidupannya, namun juga merupakan tatanan yang harus dititeni kanti titis. (
merupakan hukum alam yang maha teratur yang harus diketahui dan disikapi secara bijaksana )
untuk menuju kasunyatan serta mencapai kehidupan sejati. Bagi manusia jawa ( manusia yang
mengerti sejati ) wayang merupakan pedoman hidup, bagaimana mereka bertingkah laku dengan
sesama dan bagaimana menyadari hakekatnya sebagai manusia serta bagaimana dapat
berhubungan dengan sang penciptanya.
Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana
pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan
didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di
jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi
pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi
suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin
dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil
tema/cerita Murwakala.
                                                                                              12
  Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada
  dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut
  ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya
  Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang
  tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah
  laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama
  salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk
  meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau
  sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara
  Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa
  (asalmuasal manusia) ,dan
pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri
manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah
kedaden).
Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb :
   1. Alat musik jawa (Gamelan)
   2. Wayang kulit satu kotak (komplit)
   3. Kelir atau layar kain
   4. Blencong atau lampu dari minyak
Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:
   1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang
       ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan
       daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang,
       daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu
       depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang
       mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman
       dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara
       Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.
   2. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan
       dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.
   3. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang
       pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga


                                                                                            13
   mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai
   tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.
4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan
   kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan
   dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).
5. Bermacam-macam nasi antara lain :

   a. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel
       ayam, sayur menir, dsb.

   b. Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar
       merah dan hijau brambang, kedele hitam.

   c. Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng
       asmaradana.

6. Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang
   baro-baro (aneka bubur).
7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak,
   sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna
   merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih,
   kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele,
   kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).
8. Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab
   walaupun siang tetap memakai lampu blencong.
9. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek
   sepasang.
10. Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari
   pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros.
   Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya
   seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut
   dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.
11. Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso
   yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan
   mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa
   (puji/mantra) mohon keselematan.
                                                                                         14
   12. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk
       mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.
  Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung
  rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin,
  kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan
  kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.


           YANG PERLU ATAU HARUS DI RUWAT.
Menurut kepustakaan " Pakem Ruwatan Murwa Kala " Javanologi gabungan dari beberapa
sumber, antara lain dari Serat Centhini ( Sri Paku Buwana V ), bahwa orang yang harus diruwat
disebut anak atau orang " Sukerta " ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut :


1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan


2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak
  anak yang meninggal


3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang
  anak yang ke 2 perempuan


4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan
  sedang anak yang ke 2 laki-laki


5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus
   bayi ( placenta )


6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar "dampit" yaitu
  seorang laki-laki dan seorang perempuan ( yang lahir pada saat bersamaan )


7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya
  perempuan



                                                                                             15
8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang
  perempuan


9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki


10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan


11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anakyang semuanya laki-laki


12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan


13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-
   laki
14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan


15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam


16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari


17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang


18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal


19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir


20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus


21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan


22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah


23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macem warna,
   misalnya hitam dan putih
                                                                                              16
24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih " bule "


25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam


26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil


27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok


28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta


29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek


30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya " Candikala " yaitu ketika
   warna langit merah kekuning-kuningan


31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas ( tikar )


32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan " Dandhang " ( tempat menanak nasi )




                                                                                          17
                               Bibit-Bobot-Bebet

Fatwa leluhur tersebut bermaksud agar orangtua malaksanakan pemilihan yang seksama akan calon
menantunya atau bagi yang berkepentingan memilih calon teman hidupnya. Pemilihan ini jangan
dianggap sebagai budaya pilih-pilih kasih, tapi sebenarnya lebih kepada kecocokan multi dimensi
antara sepasang anak manusia. Kriteria yang dimaksud yaitu :
Bibit : yang berarti biji / benih
Bebet : yang berarti jenis / tipe
Bobot : yang berarti nilai / kekuatan
Untuk memilih menantu pria atau wanita, memilih suami atau isteri oleh yang berkepentingan,
sebaiknya memilih yang berasal dari benih (bibit) yang baik, dari jenis (bebet) yang unggul dan yang
nilai (bobot) yang berat.
Fatwa itu mengandung anjuran pula, janganlah orang hanya semata-mata memandang lahiriyah yang
terlihat berupa kecantikan dan harta kekayaan. Pemilihan yang hanya berdasarkan wujud lahiriah dan
harta benda dapat melupakan tujuan “ngudi tuwuh” mendapatkan keturunan yang baik, saleh, berbudi
luhur, cerdas, sehat wal afiat, dsb.


CINTA, WASPADA, DAN PERTUNANGAN
Peribahasa mengatakan: “cinta itu buta”. Berpedoman, bahwa hidup suami isteri itu mengandung
cita-cita luhur yaitu mendapatkan keturunan yang baik, maka janganlah menuruti kata peribahasa
tersebut. Pada hakekatnya peribahasa itu sendiri pun mengandung “peringatan”. Memperingtkan,
agar supaya dalam bercinta tidak buta mata hati, mata kepala, dan pikiran.
Cinta kasih yang berhubungan erat dengan cita-cita justru harus diliputi oleh waspada dalam hati dan
pikiran. Waspada akan tingkah kelakuan satu sama lain dan waspada akan penggoda di dalam hatinya
sendiri. Kewaspadaan itu menghendaki pengamatan dan penghayatan satu sama lain mengenai sikap
dan pendirian terhadap hal-hal yang penting yang sudah pasti dijumpai dalam hidup antara lain soal
keluarga, agama, kemasyarakatan, dan sebagainya.
Perbedaan sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting (prinsip) seperti diatas, niscaya akan
mengakibatkan kesukaran dikemudian hari. Persesuaian haruslah timbul dari keyakinan dan tidak
dengan membohongi diri sendiri, misalnya dengan berjanji atau memberi berkesanggupan dengan
sumpah lisan atau tulisan, pernikahan di muka kantor pencatatan sipil, dan lain sebagainya tetapi di
dalam hati masih ada keraguan.

                                                                                             18
Pertunangan dengan atau tanpa tukar cincin adalah usaha untuk mendekatkan pria dan wanita yang
menjalin kisah dan hendak hidup sebagai suami isteri. Pertunangan tidak boleh diartikan lalu boleh
bergaul sebebas-bebasnya hingga perbuatan sebagai suami isteri. Dalam hal itu calon isteri haruslah
teguh hati, mencegah jangan sampai terjamah kehormatannya. Ingatlah, bahwa calon suami atau istri
itu bukan atau belum suami atau istrinya. Sekali terjadi peristiwa dan sang wanita hamil tidak
mustahil menjadi persoalan sebagai pangkal persengketaan. Kalau sang pria ingkar, pertunangan
putus, sang wanita menjadi korban.
            Gegaraning wong akrami dudu banda dudu rupa,namung ati pawitane




                                                                                            19
                                   Tahun Jawa

1. TAHUN JAWA
Tahun Jawa yang berlaku sekarang ini menurut perhitungan tahun Saka, ialah tahun ketika raja
Saliwahana (Adji Saka) diHindustan naik tahta kerajaan. Tahun kenaikan raja itu diperingati
tahun 1. Ketika itu tahun masehi kebetulan tahun 78.
Ketika tahun masehi 1633, perhitungan tahun Saka disesuaikan dengan tahun Hidjrah (tahun
Arab), hanya angka tahun yang masih tetap, ialah tahun 1555.
Cara menyesuaikan itu tidak seluruhnya, masih banyak hal-hal yang terus dipakai hingga
sekarang. Nama hari dan bulan meniru nama Arab hanya ucapannya yang berubah.
Tahun Jawa itu dibagi menjadi kelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok umurnya 8 tahun.
Tiap-tiap 8 tahun dinamakan : 1 windu.
Windu
Windu itu ada 4. Satu windu dinamakan : tumbuk satu kali. Empat windu adalah tumbuk 4 kali
(32 tahun). Demikian seterusnya.
Tumbuk ini biasanya untuk memperingati umur orang. Umpamanya: lahir pada hari Sabtu
Pahing tanggal 25 Rajab 1878. Delapan tahun kemudian ialah pada tahun 1886 pada bulan Rajab
tanggal 25 tepat pada hari Sabtu Pahing, ialah hari kelahirannya.
Windu empat itu mempunyai arti dan watak sendiri-sendiri ialah :
1. Windu Adi = utama : banyak tingkah laku
                                                  3. Sengara = banjir : banyak air, sungai banjir
baru.
                                                  4. Sanjaya = kekumpulan : banyak teman biasa
2. Kunthara = kelakuan : banyak tingkah laku
                                                  menjadi teman karib
baru
Nama tahun
Tahun Jawa dalam 1 windu itu ada namanya sendiri-sendiri ialah
1. Alip                 3. Jimawal               5. Dal                   7. Wawu
2. Ehe                  4. Je                    6. Be                    8. Jimakir
Dalam 1 windu (8 tahun) ada tahunnya Kabisat 3 ialah pada tahun ke 2 (Ehe), ke $ (Je) dan ke 8
(Jimakir).
Oleh karena menurut perhitungan tahun Jawa dalam 1 windu ada tahunya Kabisat 3, dalam 120
tahun (15 x 8 tahun), tahunnya Kabisat ada 15 x 3 = 45. Sedang menurut perhitungan tahun Arab


                                                                                                20
tiap-tiap 30 tahun, tahunnya Kabisat ada 11. Dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat ada 11 x 4 = 44.
Jadi perhitungan tahun Jawa dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat lebih satu dari pada tahun Arab.
Agar perhitungan tahun Jawa sama dengan perhitungan tahun Arab, tiap-tiap 15 windu (120
tahun), ada tahunnya kabisat Jawa 1 yang dihilangkan. Hilangnya tahun kabisat 1 itu
menyebabkan gantinya huruf, ialah hari pertama pada windu. Jadi huruf itu gantinya tiap-tiap
120 tahun.
Perhitungan tahun Jawa 120 tahun itu rupa-rupanya tidak begitu ditaati. Buktinya dalam tahun
1674 (tahun masehi 1748/49) tahun Jawa telah disesuaikan lagi dengan tahun Arab, ialah dengan
membuang tahun kabisat 1. Pada tahun 1748 (tahun masehi 1820/210), jadi belum 120 tahun,
telah disesuaikan lagi dengan membuang satu hari lagi (hari mulai windu-churup).
Pada waktu itu yang berlaku ialah churup Jamngiah. Pada tanggal 11 Desember 1749 churup itu
dijadikan churup Kamsiah dan pada tanggal 28 September 1821 disesuaikan lagi jadi churup
Arbangiah.
Walaupun tahun Jawa telah disesuaikan dengan tahun Arab tiap-tiap 120 tahun sekali, akan
tetapi tanggalnya tidak tentu berbarengan. Karena, kecuali beda kelompoknya, tahun Kabisat
Jawa itu jalannya tidak berbarengan dengan tahun Kabisat Arab.
Lain dari pada itu ada pula yang harus kita ingatkan, ialah umur bulan dalam tahun Je dan Dal.
Mulai tahun 1547 (churup Jamngiah) hingga tahun 1674 (akan ganti churup Kamsiah), tahun Je
belim dijadikan tahun Kabisat, masih jadi tahun wastu. Umurnya bulan tidak berganti-ganti 30
dengan 29 hari, akan tetapi : 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari.
Sejak churup Kamsiah, tahun Je baru dijadikan tahun Kabisat. Sebab demikian, agar tanggal 12
Mulud dalam tahun Dal (grebeg Mulud) jatuh pada hari Senin Pon.
Adapun tahun Dal dalam churup Jamngiah (1547-1674) dijadikan tahun Kabisat. Akan tetapi
mulai churup Kamsiah (1677-1748) tahun Dal lalu dijadikan tahun Wastu. Mulai churup
Arbangiah (1749) umur bulan dalam tahun itu dirobah lagi, tidak berganti-ganti 30 dengan 29
hari, akan tetapi : 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari
Mulai churup Salasiah (1867), menurut perhitungan, tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal sudah
tidak jatuh pada hari Senin Pon.
Nama tahun Jawa itu kecuali seperti yang tersebut di atas, masih ada namanya lain. Nama tahun
seperti yang tersebut dibawah ini adalah untuk mengetahui banyak sedikitnya hujan dalam tahun
itu.




                                                                                             21
Untuk mengetahui nama tahun itu, ialah : jika Senin, dinamakan tahun : Somawertija (tahun
tanggal 1 Sura jatuh pada hari:                   cacing). Wataknya : sedikit hujan.
Jumat, dinamakan tahun : Sukraminangkara Selasa, dinamakan : Anggarawrestija (tahun
(tahun udang). Wataknya : sedikit hujan.          kodok). Wataknya : banyak hujan.
Sabtu, dinamakan tahun : Tumpak-maenda Rabu,               dinamakan    :   Buda-wiseba   (tahun
(tahun kambing). Wataknya : sedikit hujan.        kerbau). Wataknya : banyak hujan.
Ahad, dinamakan tahun : Ditekalaba (tahun Kamis, dinamakan : Respati-mituna (tahun
kalabang). Wataknya : sedikit hujan.              mimi). Wataknya : banyak hujan.


2. TAHUN MASEHI
Tahun Masehi dimulai dari lahirnya nabi Yesus Kristus. Perhitungan tahun ini menurut jalannya
matahari. Umurnya 365 atau 366 hati. Tahun yang berumur 365 hari dinamakan tahun : Wastu
(tahun pendek). Bulan Februari umurnya hanya 28 hari. Tahun yang berumur 366 hari
dinamakan tahun : Wuntu (tahun kabisat). Bulan Februari umurnya 29 hari.
Tahun Masehi itu tiap-tiap 4 tahun ada tahunnya kabisat satu. Untuk mengetahui hal ini : jika
angka tahun ini ceples dibagi empat, umpamanya : tahun 1904, 1908, 1912, dsb.
Akan tetapi jika angka satuan dan puluhan berwujud 0, umpamanya : tahun 1700, 1800, 1900,
dsb., walaupun angka tahun itu ceples dibagi empat, bukan tahun kabisat, akan tetapi tahun
Wastu.


3. TAHUN ARAB
Tahun Arab (Hidjrah) dimulai dari tahun Masehi 622 ialah hidjrahnya K.N. Muhammad s.a.w.
dari Mekah ke Madinah.
Perhitungan tahun Arab itu menurut jalannya bulan. Tahun Wastu umurnya 354 hati. Tahun
Kabisat umurnya 355 hari.
Tahun Arab itu berkelompok 30 tahun. Tiap-tiap 30 tahun ada tahunnya Kabisat 11, ialah tahun
ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29.
Bagi hari yang perlu dirayakan, umpamanya : hari mulai bulan puasa dan hari Idul Fitri, sering
tidak cocok dengan penanggalan, hal ini sering terjadi perbedaan rukjat.




                                                                                              22
                                Nujum DINA
                             (Menghitung makna hari jawa)


PERHITUNGAN UNTUK PERKAWINAN
Neptu hari dan Pasaran
Dalam melakukan hajat perkawinan, mendirikan rumah, bepergian dan sebagainya. Kebanyakan
orang jawa dahulu, mendasarkan atas hari yang berjumlah 7(senin-minggu) dan pasaran yang
jumlahnya ada 5, tiap hari tentu ada rangkapannya pasaran, jelasnya : tiap hari tentu jatuh pada
pasaran tertentu.
Masing-masing hari dan pasaran mempunyai “ neptu “, yaitu “ nilai “ dengan angkanya sendiri-
sendiri sebagai berikut :
Nama hari Neptu ( nilai ) Nama Pasaran Neptu ( nilai )
1. Ahad 5 1. Legi 5
2. Senen 4 2. Paing 9
3. Selasa 3 3. Pon 7
4. Rabu 7 4. Wage 4
5. Kamis 8 5. Kliwon 8
6. Jum’at 6
7. Sabtu 9


Neptu hari atau pasaran kelahiran untuk perkawinan.
Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten yaitu anak perempuan dan anak lelaki
masing-masing dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang ( dikurangi ) sembilan
Misalnya :
Kelahiran anak perempuan adalah hari Jumat (neptu 6) wage (neptu 4) jumlah 10, dibuang 9 sisa
1
Sedangkan kelahiran anak laki-laki ahad (neptu 5) legi (neptu 5) jumlah 10 dikurangi 9 sisa 1.
Menurut perhitungan dan berdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini:
Apabila sisa:
1 dan 4 : banyak celakanya         3 dan 3 : melarat
1 dan 5 :bisa                      3 dan 4 : banyak celakanya
1 dan 6 : jauh sandang pangannya 3 dan 5 : cepat berpisah

                                                                                                 23
1 dan 7 : banyak musuh                 3 dan 6 : mandapat kebahagiaan
1 dan 8 : sengsara                     3 dan 7 : banyak celakanya
1 dan 9 : menjadi perlindungan         3 dan 8 : salah seorang cepat wafat
2   dan     2   :   selamat,   banyak3 dan 9 : banyak rejeki
rejekinya                              4 dan 4 : sering sakit
2 dan 3 : salah seorang cepat wafat 4 dan 5 : banyak godanya
2 dan 4 : banyak godanya               4 dan 6 : banyak rejekinya
2 dan 5 : banyak celakanya             4 dan 7 : melarat
2 dan 6 : cepat kaya                   4 dan 8 : banyak halangannya
2 dan 7 : anaknya banyak yang4 dan 9 : salah seorang kalah
mati                                   5 dan 5 : tulus kebahagiaannya
2 dan 8 : dekat rejekinya
2 dan 9 : banyak rejekinya
5 dan 6 : dekat rejekinya
5 dan 7 : tulus sandang pangannya
5 dan 8 : banyak bahayanya
5 dan 9 : dekat sandang pangannya
6 dan 6 : besar celakanya
6 dan 7 : rukun
6 dan 8 : banyak musuh
6 dan 9 : sengsara
7 dan 7 : dihukum oleh istrinya
7 dan 8 : celaka karena diri sendiri
7 dan 9 : tulus perkawinannya
8 dan 8 : dikasihi orang
8 dan 9 : banyak celakanya
9 dan 9 : liar rejekinya
Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan, ditambah neptu
pasaran hari perkawinan dan tanggal (bulan Jawa) semuanya dijumlahkan kemudian dikurangi/
dibuang masing tiga, apabila masih sisa :
1 berarti tidak baik, lekas berpisah hidup atau mati
2 berarti baik, hidup rukun, sentosa dan dihormati
3 berarti tidak baik, rumah tangganya hancur berantakan dan kedua-duanya bisa mati.
                                                                                          24
Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan, dijumlah
kemudian dikurangi / dibuang empat-empat apabila sisanya :
1 Getho, jarang anaknya ,2 Gembi, banyak anak ,3 Sri banyak rejeki ,4 Punggel, salah satu akan
mati
Hari kelahiran mempelai laki-laki dan mempelai wanita, apabila :
Ahad dan Ahad, sering sakit    Senen dan Senen, tidak baik          Selasa dan Selasa, tidak
Ahad dan Senin, banyak sakit Senen dan Selasa, selamat              baik
Ahad dan Selasa, miskin        Senen       dan   Rebo,       anaknyaSelasa dan Rebo, kaya
Ahad dan Rebo, selamat         perempuan                            Selasa dan Kamis, kaya
Ahad dan Kamis, cekcok         Senen dan Kamis, disayangi           Selasa dan Jumat, bercerai
Ahad dan Jumat, selamat        Senin dan Jumat, selamat             Selasa dan Sabtu, sering
Ahad dan Sabtu, miskin         Senin dan Sabtu, direstui            sakit


Rebo dan Rebo, tidak baik      Kamis dan Kamis, selamat            Jumat dan Jumat, miskin
Rebo dan Kamis, selamat        Kamis dan Jumat, selamat            Jumat dan Sabtu celaka
Rebo dan Jumat, selamat        Kamis dan Sabtu, celaka             Sabtu dan Sabtu, tidak baik
Rebo dan Sabtu, baik
Memilih Saat Ijab, Ijab kabul yang unik.
Dalam perkawinan Dra. Pharmasi Endang Ontorini Udaya dengan Sutrisno Sukro di Sala, ayah
penggantin putri Bpk. Samsuharya Udaya telah memilih saat ijab kabul secara unik, yaitu pada
malam Ahad Legi (27 Mei 73) jam 2.30 pagi.
Ketetapan itu didasarkan saat lahirnya temanten putri. Segala waktunya berjalan baik, lancar dan
selamat.
Mungkin hal tersebut suatu ajaran : kalau tidak memakai perhitungan, pakailah hari kelahiran
untuk hal-hal yang penting pindah rumah dsb.
Hari yang membawa kelahirannya selamat, demikian pulalah untuk hal lain-lain dalam hidupnya.


HARI-HARI UNTUK MANTU DAN IJAB PENGANTIN
I (baik buruknya bulan untuk mantu):
1. Bulan Jw. Suro : Bertengkar dan menemui kerusakan (jangan dipakai)
2. Bulan Jw. Sapar : kekurangan, banyak hutang (boleh dipakai)
3. Bulan Jw Mulud : lemah, mati salah seorang (jangan dipakai)
4. Bulan jw. Bakdamulud : diomongkan jelek (boleh dipakai)
                                                                                                 25
5. Bulan Jw. Bakdajumadilawal : sering kehilangan, banyak musuh (boleh dipakai)
6. Bulan Jw. Jumadilakhir : kaya akan mas dan perak
7. Bulan Rejeb : banyak kawan selamat
8. Bulan Jw. Ruwah : selamat
9. Bulan puasa : banyak bencananya (jangan dipakai)
10. Bulan Jw. Syawal : sedikit rejekinya, banyak hutang (boleh dipakai)
11. Bulan Jw. Dulkaidah : kekurangan, sakit-sakitan, bertengkar dengan teman (jangan dipakai)
12. Bulan Jw. Besar : senang dan selamat


BULAN TANPA ANGGARA KASIH
Hari anggara kasih adalah selasa kliwon, disebut hari angker sebab hari itu adalah permulaan
masa wuku. Menurut adat Jawa malamnya (senin malam menghadap) anggara kasih orang
bersemedi, mengumpulkna kekuatan batin untuk kesaktian dan kejayaan siang harinya (selasa
kliwon) memelihara, membersihkan pusaka wesi aji pandai empu mulai membeikin keris dalam
majemur wayang.
Bulan –nbulan anggoro kasih tidak digunakan untuk mati, hajat-hajat lainnya dan apa saja ynh
diangggap penting.
Adapun bulan-bulan tanpa anggara kasih adalah:
1.dalam tahun Alib bulan 2 : Jumadilakhir dan besar 5dalam tahun Dal bulan 2 yaitu sapar dan
2.dalam tahun ehe bulanl 2 dan : jumadlakhir         puasa
3.dalam tahun jimawal bulan 2 : Suro dan rejeb       6.dalam tahun Be bulan 2 mulud dan
4.dalam tahun Je bulan 2 Spar datush                 syawan
                                                     7.dalam tahun wawu bulan 2 Bakdomulud \
                                                     syawal
                                                     8.dalam     tahuin   Jimakir   bulan   2    :
                                                     Jumadilawal dan Dulkaidkah


SAAT TATAL
Saat tatal dibawah ini untui memilih waktu yanhg bauk untuj mantu juga untuk pindas tumah,
berpergioan jauh dan memulai apa saja yang dianggap penting
Kerentuan saat itu jatuh pada pasa ran (tidak pada harinya ) :
1 pasaran legi : mulai jam 06.00 nasehet.mulai jam 08.24 Rejeki : mulai jam 25.36 rejeki mulai
dri jam 10 48 selamat, mulai jam 13.12 pangkalan atau (halangan) mulai jam 15.36 pacak wesi
                                                                                                26
2. pasaran pahing : mulai jam 06.00 rejeki, jam 08.24 selamat, jam 10.48 pangkalan, jam 13.12
pacak wesi, jam 15.36 nasehat.
3. pasaran pon : mulai jam 06.00 selamat, jam 08.24 pangkalan, jam 10.48 pacak wesi, jam 13.12
nasehat, jam 15.36 rejeki
4. pasaran wage mulai jam 06.00 pangkalan, jam 08.24 pacak wesi, jam 13.12 nasehat
jam 15.36 selamat.
5. pasaran kliwon, mulai jam 06.00 pacak wesi, jam 08.24 nasehat, jam 10.48 rejeki, jam 13-12
selamat jam 13.36 pangkalan.


HARI PASARAN UNTUKPERKAWINAN
Neptu dan hari pasaran dijumlah kemudian dikurangi/dibuang enam-enam apabila tersisa:
1 jatuh, mati, (tidak baik) asalnya bumi
                                                  4 jatuh, cerai atau tidak baik asalnya timur
2 jatuh, jodoh (baik) asalnya jodoh dengan
                                                  5 jatuh, prihatin (tidak baik) asalnya selatan
langit
                                                  6 jatuh, mati besan (tidak baik) asalnya utara
3 jatuh , selamat atau baik asalnya barat
Usaha Yang Menggunakan Petung Lebih Baik Hasilnya Daripada Yang Tidak
Dalam berdagang orang jawa mempunyai petungan (prediksi) khusus untuk mencapai sukses
atau mendapatkan angsar (pengaruh nasib) yang baik, sehingga menjadikan rezekinya mudah.
Diantaranya petungan tersebut sebagai berikut :
Dalam kitab primbon (pustaka kejawen) terdapat berbagai cara dan keyakinan turun-temurun
yang harus dilakukan orang yang akan melakukan kegiatan usaha perdagangan. Untuk memulai
suatu usaha perdagangan orang jawa perlu memilih hari baik, diyakini bahwa berawal dari hari
baik perjalanan usahapun akan membuahkan hasil maksimal, terhindar dari kegagalan.
Menurut pakar ilmu kejawen abdi dalem Karaton Kasunanan Surakarta, Ki KRM TB Djoko MP
Hamidjoyo BA bahwa berdasarkan realita supranatural, menyiasati kegagalan manusia dalam
usaha perlu diperhatikan. Prediksi menurut primbon perlu diperhatikan meski tidak sepenuhnya
diyakini. Menurut Kitab Tafsir Bahwi, dina pitu pasaran lima masing-masing hari dan pasaran
karakter baik. Jika hari dan pasaran tersebut menyatu, tidak secara otomatis menghasilkan
karakter baik. Demikian juga dengan bulan suku, mangsa, tahun dan windu, masing-masing
memiliki karakter baik kalau bertepatan dengan hari atau pasaran tertentu.
Golek dina becik (mencari hari yang baik) untuk memulai usaha dagang pada hakekatnya adalah
mencari perpaduan hari, pasaran, tahun, windu dan mangsa yang menghasilkan penyatuan


                                                                                                   27
karakter baik. Misalnya pada hari rebo legi mangsa kasanga tahun jimakir windu adi merupakan
penyatuan anasir waktu yang menghasilkan karakter baik.
Menurut Ki Djoko, suatu karya yang terjadi pada hari yang karakternya tidak baik,
diperkirakakan karakter itu akan mengganggu usaha yang dilakukan. Akibatnya usaha
dagangnya juga banyak kendala, bahkan mengalami kegagalan.
Aura pencemar tersebut dalam primbon disebut naas, sangar tahun, sangar sasi dan sangar dina.
Sedangkan anasir pencemar tersebut dikenal sebagai naga dina, naga tahun dan sebagainya.
Menurut Ki Djoko sampai kapan pun kebiasaan atau tradisi memilih dina becik (hari baik)
seyogyanya dilakukan. Tentunya kalau tidak ingin berspekulasi dengan resiko kegagalan.
Setiap karya akan berhasil sesuai dengan kodrat, jika dilakukan dalam kondisi waktu yang netral
dari pencemaran, sengkala maupun sukerta. Manusia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk
beriktiar menanggulangi sukerta dan sengkala dengan melakukan wiradat. Misalnya dengan
ruwatan atau dengan ajian rajah kalacakra, sehingga kejadian buruk tidak menjadi kenyataan.
Orang yang akan membuka usaha pun dapat melakukan upaya sendiri pada malam hari sebelum
memulai usaha, yaitu berdoa mendasari doa kepada Tuhan sambil mengucapkan mantera rajah
kalacakra Salam, salam, salam Yamaraja jaramaya, yamarani niramaya, yasilapa palasiya,
yamidora radomiya, yamidasa sadamiya, yadayuda dayudaya, yasilaca silacaya, yasihama
mahasiya. Kemudian menutup dengan mantera Allah Ya Suci Ya Salam sebanyak 11 kali.
Untuk usaha perdagangan orang jawa yang masih percaya pada petung, akan menggunakannya
baik untuk menentukan jenis barang maupun tempat berdagang dan sebagainya. Petung tersebut
didasarkan weton ( kelahiran dari yang bersangkutan )
Menurut Dosen Jurusan Sastra Daerah - Fakultas Sastra UNS Drs. Usman Arif Mpd, peluang
merupakan filsafat kosmosentris bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Manusia
merupakan bagian dari alam semesta sehingga geraknya tidak dapat lepas dari gerak alam,
sebagaimana waktu dan arah mata angin.
Orang jawa mempunyai keyakinan bahwa saat dilahirkan manusia tidak sendirian karena disertai
dengan segala perlengkapannya. Perlengkapan itu merupakan sarana untuk bekal hidup
dikemudian hari, yaitu bakat dan jenis pekerjaan yang cocok. Di dalam ilmu kejawen
kelengkapan itu dapat dicari dengan petung hari lahir, pasaran, jam, wuku tahun dan windu.
Menurut Usman petung sekedar klenik atau gugon tuhon melainkan merupakan hasil analisa dari
orang-orang jawa pada masanya. Hasil analisa itu ditulis dalam bentuk primbon. Dengan
petungan jawa, orang dapat membuat suatu analisa tentang anak yang baru lahir berdasarkan


                                                                                              28
waktu kelahirannya. Misalnya anak akan berhasil jika menjadi wartawan, atau sukses jika
menjadi pedagang.
Petung yang demikian itu juga digunakan di dalam dunia perdagangan. Orang jawa masih
mempercayainya, akan menggunakan petung dengan cermat. Dari menentukan jenis dagangan
waktu mulai berdagang diperhitungkan. Semua sudah ada ketentuannya berdasar waktu
kelahiran yang bersangkutan.
Penerapan petung untuk usaha perdagangan akan menambah kemungkinan dan percaya diri
untuk meraih sukses. Kepercayaan diri akan membuat lebih tepat dalam mengambil keputusan.
Prediksi menurut petung di dalam perdagangan bukan hanya ada pada budaya orang jawa saja.
Dalam budaya Cina misalnya, hingga kini perhitungan itu masih berperan besar, sekali pun
pengusaha Cina itu sudah menjadi konglomerat.
Di Cina petung itu ada dalam Kitab Pek Ji atau Pak Che ( delapan angka ) yang juga berdasarkan
kelahiran seseorang, yaitu tahun kelahiran memiliki nilai 2, bulan nilai 2, hari memiliki nilai 2
dan jam kelahiran nilai 2.
Meskipun orang lahir bersamaan waktu, rezeki yang diperoleh tidak sama karena yang satu
menggunakan petung sedangkan yang lainnya tidak.
Banyak pula orang yang tidak mempercayai petung. Mereka menganggapnya klenik atau
tahayul. Mereka berpendapat dengan rasionya dapat manipulasi alam. Anggapan demikian belum
pas, meskipun manusia dapat merekayasa, alam ternyata akan berjalan sesuai dengan
mekanismenya sendiri.




                                                                                               29
                           PRANATA MANGSA
                                ( aturan waktu musim kuno )


  Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para petani pedesaan,
  yang didasarkan pada gejala naluriah alam dan mencoba memahami asal-usul dan bagaimana
  uraian satu-satu kejadian cuaca di dalam setahun. Petani di Jawa dahulu masih memakai
  patokan untuk mengolah pertanian dengan prantan ini. Uraian mengenai Pranata Mangsa ini
  diambil dari buku sejarah para raja di Surakarta, yang tersimpan di musium Radya-Pustaka.
  Yang menurut riwayatnya, sebetulnya baru mulai dikenalkan pada tahun 1856, saat kerajaan
  Surakarta diperintah oleh Pakoeboewono VII, yang memberi
patokan bagi para petani agar mempunyai hasil panen yang baik dalam bertani, tepatnya dimulai
tanggal 22 Juni 1856, dengan urut-urutan :
Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari. Para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan
di masa ini dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan
berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya : lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-
kayuan).
Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari. Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah
mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya : bantala (tanah) rengka (retak).
Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab
panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh.
Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran).
Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim
kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai
berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya : waspa kumembeng
jroning kalbu (sumber).
>Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan
membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai
tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya : pancuran (hujan) emas
sumawur (hujannya)ing jagad.
Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di
pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis


                                                                                              30
mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya : rasa mulya kasucian
(sedang banyak-banyaknya buah-buahan).
Kapitu, mulai 23 Desmber, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan,
banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya : wisa kentar ing ing maruta (bisa larut
dengan angin, itu masanya banyak penyakit).
Kawolu, mulai 4 Pebruari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret
mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya : anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan,
musimnya kucing kawin).
Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah,
jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara.
Penampakannya/ibaratnya : wedaring wacara mulya ( binatang tanah dan pohon mulai bersuara).
  Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak
  hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya :
  gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil).
  Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memanen padi. Penampakannya/ibaratnya:
  sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan).
  Saya, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke
  lumbung. Di sawah hanya tersisa dami. Penampakannya/ibaratnya : tirta (keringat) sah
  saking sasana (badan) (air pergi dari sumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang
  berkeringat, sebab sangat dingin).




                                                                                            31
                    MENGENAL SENGKALAN
1.   Pengertian Umum


Sengkalan adalah kalimat atau susunan kata-kata yang mempunyai waktak bilangan untuk
menyatakan suatu angka tahun. Ada pendapat yang menyatakan bahwa jika angka tahun itu
dinyatakan dalam tahun bulan ( rembulan/lunar/qomariah/candra ) maka sengkalan itu disebut
Candra Sengkala, sedangkan jika dinyatakan dalam tahun matahari ( sonar/syamsyiah/surya )
maka sengkalan itu disebut Surya Sengkala.


Namun demikian sebenarnya ada pendapat lain yang menyatakan bahwa dalam arti luas Candra
Sengkala sudah mencakup pengertian Surya sengkala ( tahun matahari ) dan Candra sengkala
(tahun rembulan),


dengan alasan bahwa Candra sengkala bersal dari kata candra yang berarti praceka ( pernyataan
) dan sangkala ( angka tahun), sehingga candrasengkala berarti pernyataan yang mengandung
makna angka tahun.


Oleh karena itu, untuk menampung kedua pendapat yang kedua-duanya memiliki alasan yang
kuat, di dalam tulisan ini digunakan istilah sengkalan.


Sengkalan itu sebagian besar ditemukan di dalam tulisan-tulisan karya sastra Jawa, benda-
benda bersejarah, bangunan, karya seni,        dan   lambang/simbul suatu kota, lembaga atau
organisasi sebagai tanda atau sandi peringatan kala atau waktu tahun kejadian peristiwa penting
yang terkait.   Sengkalan     juga digunakan di dalam surat-surat pada jaman dahulu untuk
menyatakan kala atau waktu tahun penulisannya.


Walaupun sempat menghilang, akhir-akhir ini malah banyak orang yang membuat sengkalan di
dalam menyatakan tahun.




                                                                                             32
Contoh sengkalan :


¨ Kaya Wulan Putri Iku, menyatakan tahun 1313 tertera pada makam Putri Campa Darawati di
Trowulan.


¨ Rupa Sirna Retuning Bumi menyatakan tahun 1601 sebagai peringatan peristiwa penangkapan
serta gugurnya Trunojoyo.


¨ Surud Sinare Magiri Tunggil menyatakan tahun 1750 sebagai peringatan peristiwa
Mangkatnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana V.


¨ Tata Guna Swareng Nata menyatakan tahun 1735 tertulis di dalam Serat Wulang Reh, sekar
Girisa pupuh 25 gatra 4, yang menunjukkan tahun selesainya penyusunan Serat Wulang Reh
oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV.


¨Lawang Trus unaning Janma tahun 1399 (tahun saka) sebagai peringatan pembangunan Masjid
Demak.


¨ Anggatra Pirantining Kusuma Nagara menyatakan tahun 1959 Masehi, sebagai peringatan
peresmian Museum Perjuangan Yogyakarta.


¨ Sangsaya Luhur Salira Sang Aji menyatakan tahun 1805, merupakan ucapan selamat datang
yang disampaikan oleh Sri Paduka Mangkunegoro IV kepada Sampeyandalem Ingkang Sinuhun
Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IX.


¨ Muji Dadya Angesti Sang Prabu menyatakan tahun 1847 yang merupakan tahun penulisan
surat balasan Kanjeng Pangeran Harya Kusumayuda kepada Sampeyandalem Ingkang Sinuhun
Kanjeng Susuhunan Paku Buwono X.


Sengkalan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 700 (saka), yaitu pada saat penduduk tanah
Jawa ini sudah mulai memiliki peradaban dan kemampuan fikir, serta kemampuan atau minat
terhadap bahasa sanskerta yang tinggi. Hal ini terlihat dari kata-kata di dalam sengkalan ini


                                                                                           33
berasal dari bahasa sankserta, walaupun seiring perkembangan jaman kata-kata yang digunakan
di dalam sengkalan ini sudah bercampur dengan bahasa Jawa Baru.


2. Susunan Kata di Dalam Sengkalan


Susunan kata di dalam sengkalan menunjukkan susunan angka bilangan tahun secara berturut-
turut dari kiri ke kanan dengan susunan sebagai berikut :


¨     Kata pertama menunjukkan angka satuan dari tahun


¨     Kata kedua menunjukkan angka puluhan dari tahun


¨     Kata ketiga menunjukkan angka ratusan dari tahun


¨     Kata keempat menunjukkan angka ribuan dari tahun


Contoh :


KGPAA Mangkunegara I ( Pangeran Sambernyawa ) mendirikan Pura Mangkunegaran pada
tahun 1682(tahun jawa). Peristiwa itu ditandai dengan sengkalan Tali salira hangrasa wani
(menurut serat Sastramiruda) atau secara umum di lingkungan Pura Mangkunegaran ditandai
dengan sengkalan Mulat salira hangrasa wani.


Kata-kata di dalam sengkalan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :


¨ Kata tali mempunyai watak bilangan sama dengan kata mulat yaitu 2 ( dua ) --- sebagai angka
    satuan


¨ Kata salira mempunyai watak bilangan 8 ( delapan ) --- sebagai angka puluhan


¨ Kata hangrasa mempunyai watak bilangan 6 ( enam ) --- sebagai angka ratusan


¨ Kata wani mempunyai watak bilangan 1 ( satu ) --- sebagai angka ribuan
                                                                                           34
Jadi Sengkalan Tali salira hangrasa wani sama dengan sengkalan mulat salira hangrasa wani
menunjukkan angka tahun 1682.


Dari beberapa contoh di atas dapat disadari bahwa untuk            dapat membaca/menafsirkan
sengkalan ke dalam angka tahun, atau untuk menyusun sengkalan suatu tahun harus memahami
kata- kata yang memiliki watak bilangan-bilangan dari 0 (nol) sampai dengan 9 (sembilan).


2.    Watak Bilangan


Pedoman baku yang berupa rumusan matematis untuk menentukan watak bilangan di dalam
penurunan kata-kata sebagai unsur sengkalan memang belum ada.           Watak bilangan pada
umumnya ditetapkan berdasarkan       kesesuaiannya terhadap jumlah unsur sifat, unsur bahan
pembentuk, atau jumlah segala sesuatu yang melekat pada benda, manusia, binatang, atau
kejadian alam lainnya.


Sebagai contoh :


¨    Kata – kata yang memiliki watak 0 ( nol/das )


Nir ( tanpa, hilang, habis ) memiliki watak 0 karena kata nir dan semua padan katanya ( tanpa,
hilang, habis ) mengandung pengertian kosong ( tidak ada ).


¨    Kata-kata yang memiliki watak 1 ( satu/siji/setunggal/eka )


Kata yang memiliki watak satu terdiri atas kata yang menunjukkan benda, orang, binatang, atau
kejadian alam lain yang mengandung nilai 1, misalnya Bumi. Bumi memiliki sifat satu, karena
adanya bumi hanya satu di lingkungan tata surya kita. Demikian pula untuk Surya ( matahari),
Candra ( rembulan ), Jagad yang juga menunjukka jumlah satu. Demikian pula Gusti ( Allah,
Raja ), yang sifatnya hanya ada satu di dalam ruang lingkupnya.


¨    Kata-kata yang memiliki watak 2 (dua/loro/kalih/dwi ).


                                                                                            35
Kata yang memiliki watak 2 ( dua ) adalah kata-kata yang berkaitan dengan segala sesuatu yang
mengandung unsur dua atau sepasang, misalnya asta ( tangan ). Asta ( tangan ) manusia yang
normal berjumlah 2 ( dua ). Dengan demikian asta memiliki watak 2 (dua ).


Netra ( mata ) manusia yang normal berjumlah dua, maka mata memiliki watak 2.


Nyembah, nembah juga memiliki watak dua, karena orang yang normal di dalam adat budaya
Jawa, jika menyembah menggunakan kedua tangannya.


¨    Kata yang memiliki watak 3 (tiga/telu/tiga/tri ).


Bahni atau geni atau api dikatakan memiliki watak tiga karena api dapat terjadi jika ada tiga
unsur pembentuk api itu, yaitu :


v   Alat pematik ( batu thithikan, korek )


v   Sarana ( arang, kayu, sumbu kompor, benda yang dapat terbakar )


v   Udara.


Uta ( lintah ) dikatakan memiliki watak 3 karena lintah memiliki sifat yang menunjukkan
bilangan 3 yaitu memiliki gigi berjumlah tiga ( gigi bawah dua, gigi atas satu ). Di samping itu
lintah memiliki 3 kemampuan, yaitu kemampuan menempel, kemampuan bergerak, dan
kemampuan menghisap darah.


¨   Kata yang memiliki sifat 4 ( empat/papat/sekawan/catur )


Sagara ( laut ) dikatakan memiliki watak 4 ( empat ) karena laut dianggap merupakan peampung
air yang berasal dari empat asal yaitu :


v    Air dari mata air di sungai kecil v     Air dari bengawan v     Air dari pancuran v    Air
hujan


                                                                                              36
¨    Kata yang memiliki watak 5 ( lima/gangsal/panca )


Bana ( hutan besar/rimba raya ) dikatakan memiliki sifat lima karena rimba raya itu dianggap
mengandung 5 ( lima ) macam bahaya, yaitu :


v    Ketemu ular v       Ketemu harimau v     Ketemu srigala v      Ketemu raksasa v   Ketemu
banteng


¨    Kata yang memiliki watak 6 ( enam/enem/sad )


Hoyag ( gerak ) dikatakan memiliki sifat enam karena gerakan badan manusia dianggap terdiri
atas enam macam gerakan yaitu :


v   Gerakan tangan v      Gerakan kaki v    Gerakan lidah/mulut v     Gerakan mata v   Gerakan
leher v   Gerakan bulu


¨    Kata yang memiliki watak 7 ( tujuh/pitu/sapta )


Resi ( pendeta suci ) dikatakan memiliki watak 7 ( tujuh ) karena ada anggapan bahwa pada
jaman purwa ada tujuh orang pendeta suci yaitu :


v    Resi Kanwa v      Resi Parasurama v     Resi Janaka v    Resi Wasistha v     Resi Carika v
Resi Wrahaspati


v   Resi Naraddha


¨    Kata yang memiliki watak 8 ( delapan/wolu/hasta )


Pujangga dikatakan memiliki watak 8 (delapan) karena pujangga dianggap memiliki delapan
kelebihan yaitu :


v   Paramasastra ( kemampuan di dalam kesusasteraan )


                                                                                             37
v   Paramakawi ( kemampuan di dalam bahasa kawi )


v   Mardibasa ( kelebihan di dalam olah kata )


v   Mardawalagu ( kemampuan di dalam bidang lagu-lagu tembang dan gending )


v   Hawicarita ( kepandaian di dalam bercerita )


v   Mandraguna ( berilmu pengetahuan luas )


v      Nawung Kridha ( kemampuan mengarang/menggubah suatu karya yang memiliki nilai
filosofi tinggi )


v   Sambegana ( kekuatan daya ingat )


¨    Kata yang memiliki watak 9 ( sembilan/sanga/nawa )


Bolongan/butulan ( lubang ) dikatakan memiliki watak sembilan, karena lubang pada badan
manusia berjumlah sembilan (babahan hawa sanga/ babahan nawa sanga) yaitu :


v   Dua lubang mata


v   Dua lubang telinga


v   Satu lubang mulut


v    Dua lubang hidung


v   Satu lubang kemaluan


v   Satu lubang anus




                                                                                     38
Dari contoh-contoh tersebut di atas terlihat bahwa belum ada pedoman baku dalam penilaian
watak bilangan kata-kata. Namun demikian, karena sengkalan itu pada dasarnya merupakan
tanda peringatan serta merupakan perangkat komunikasi yang harus dapat dijadikan alat untuk
menyampaikan pesan tentang angka tahun kepada orang lain, maka seyogyanya menggunakan
kata-kata yang sudah biasa digunakan dalam penyusunan sengkalan terdahulu.


3.      Kata-Kata Yang Sudah Biasa Digunakan Sebagai Unsur Pembentukan Sengkalan


Untuk memberikan gambaran          tentang kata-kata unsur pembentuk sengkalan, di bawah ini
dituliskan kata-kata yang telah biasa digunakan di dalam sengkalan beserta        terjemahan
terdekatnya dalam bahasa Indonesia.


3.1. Kata Yang Memiliki Watak 1 ( Satu )


Tunggal            : Berkumpul, Satu
Gusti             : Raja, Ratu, Allah
Sujanma            : orang baik, manusia terpelajar
Semedi             : bertapa, berkhalwat
Badan             : raga
Nabi              : nabiyullah, pusar
Rupa              : jenis
Maha              : lebih, sangat,sengaja
Budha             : sang Budha Gautama, Budi
Niyata            : nyata, benar-benar
Luwih              : lebih, luar biasa
Pamase            : raja
Wong              : orang, manusia
Buweng             : bulatan, lingkaran
Rat               : dunia, alam semesta
Lek               : hari pertama, bulan
Iku               : itu, ekor
Surya             : matahari


                                                                                          39
Candra          : bulan
Kartika         : bintang
Urip            : hidup
Ron             : daun
Eka             : Satu
Prabu           : raja, bertanggungjawab, pantas
Kenya           : gadis
Nekung          : bertapa
Raja            : raja
Putra           : anak
Sasa            : bintang, cepat
Dhara           : bintang, gadis, perut.
Peksi           : burung
Dara            : merpati, perut
Tyas            : hati, perasaan
Wungkul          : utuh, lengkap
Sudira          : berani
Wani            : mau, berani
Hyang           : dewa, Allah, Tuhan
Budi            : pikiran, pemikiran
Jagat           : alam semesta, dunia, bumi
Nata            : raja.




3.2. Kata Yang Memiliki Watak 2 ( Dua )


Asta            : tangan, memegang
Kalih, ro       : dua
Nembah          : menyembah
Ngabekti        : berbakti
Netra           : mata
Kembar          : sama sepasang, rangkap


                                                   40
Myat,             : melihat
Mandeng           : memandang, menatap, mulat
Nayana           : air muka, mata
Swiwi             : sayap
Lar               : bulu, sayap
Sikara           : pengacauan, tangan, campur tangan.
Dresthi           : alis, khianat, ingkar janji
Dwi               : dua
Kanthi            : dengan, rangkai, teman
Buja              : makanan
Bujana            : hidangan, suguhan.
Gandheng          : rangkai, sambung
Paksa            : harus
Apasang           : memasang, sepasang
Sungu             : tandhuk
Athi-athi         : bulu/rambut pada pelipis
Talingan           : telinga


3.3. Kata Yang Memiliki Watak 3 ( Tiga )


Bahni             : api
Ujwala            : sinar, nyala, cahaya
Kaeksi           : tampak, kelihatan,terlihat
Katon             : tampak, kelihatan,terlihat
Murub             : berkobar
Dahana            : api
Payudan           : peperangan
Katingalan : tampak, kelihatan
Kaya             : seperti, penghasilan
Benter            : panas
Nala              : hati, api
Uninga            : mengetahui, obor
Kawruh            : pengetahuan
                                                        41
Lir             : seperti
Wrin            : mengetahui
Weda            : pegangan pokok, ajaran,ilmu
Naut            : menyahut, menjawab
Nauti           : cacing, menjawab, mengulangi
Teken           : tongkat
Siking          : upet ( pematik ), tongkat
Pawaka          : api
Kukus           : asap, uap
Api             : api
Apyu            : api
Brama           : api
Rana            : perang, tirai, penyekat, perempuan
Rananggana       : peperangan, medan perang
Utawaka         : api
Uta             : lintah
Ujel            : belut
Kobar           : terbakar, menyala
Agni            : api
Wignya           : dapat, pandai
Guna            : luar biasa, dapat, manfaat, tipu.
Tri             : tiga
Jatha           : rambut lengket, taring, wadah.


3.4. Kata Yang Memiliki Watak 4 ( Empat )


Catur           : bicara, pembicaraan, empat
Warna           : gubahan puisi, syair, air, bangsa,
Wahana          : kendaraan, uraian, arti, makna
Pat             : empat
Warih           : air
Waudadi         : laut


                                                       42
Dadya       : menjadi, jadi, jadilah
Keblat      : kiblat, penjuru mata angin.
Papat       : empat
Toya        : air
Suci         : bersih, suci, jernih
Udaka       : air
We          : air
Woh         : buah, hujan
Nadi        : sungai, laut
Jaladri     : laut
Sindu        : air
Yoga        : anak, sebaiknya, jaman
Gawe        : buat, membuat, perbuatan.
Tlaga       : danau, telaga
Her         : air
Wening       : jernih
Udan        : hujan
Bun         : embun, kabut tipis
Tirta       : air
Marta       : jernih, dingin
Karya       : membuat, perbuatan, buatan
Sumber      : sumur, mata air, asal sesuatu
Sumur       : sumur, perigi
Masuh       : membasuh
Marna       : berkata, menggubah puisi
Karti       : membuat, perbuatan, buatan
Karta       : makmur, sejahtera, kecukupan.
Jalanidhi    : laut
Samodra     : samudera
Udaya       : laut
Tasik       : bedak, laut
Tawa        : tawar, tawar terhadap bisa, menawarkan


                                                       43
Segara           : laut
Wedang          : air yang telah mendidih.


3.5. Kata Yang Memiliki Watak 5 ( Lima )


Pandhawa        : anak-anak Pandudewanata
Lima             : lima
Wisikan           : bisikan, sebutan, terbaring
Gati             : aturan, keperluan, perbuatan, ulah
Indri            : angin yang bertiup lembut. Indriya             : hati, perasaan, pancaindera.
Warastra        : barang tajam, panah Wrayang           : panah
Astra            : senjata, panah.
Lungid           : tajam, runcing
Sara            : senjata, panah
Sare            : tidur
Guling           : tidur, berguling
Raseksa         : raksasa
Diyu             : diyu
Buta            : raksasa
Galak           : galak, ganas
Wil              : anak raksasa
Yaksa           : raksasa
Yaksi            : raksasa betina
Saya             : makin, tipuan, alat, perkakas
Bana            : hutan, panah
Jemparing        : panah
Cakra           : panah bermata roda, renung
Hru             : panah
Tata            : atur, angin, cara
Nata            : mengatur, memuat
Bayu            : urat, otot, angin.
Bajra            : senjata, angin


                                                                                             44
Samirana         : angin
Pawaka          : angin
Maruta          : angin
Angin            : angin
Panca           : lima
Marga           : jalan
Margana          : panah, Arjuna.


3.6. Kata Yang Memiliki Watak 6 ( Enam )


Rasa            : rasa, perasaan
Nenem           : enam
Rinaras          : mapantas-pantaskan, dirasakan, diselaraskan
Artati           : manis, syair lagu Dandanggula.
Lona            : pedhas
Tikta           : pahit
Madura          : manis
Sarkara         : gula, manis.
Amla             : masam
Kayasa          : rasa sepet
Karaseng         : terasa oleh ( terasa pada )
Hoyag           : bergerak, gerak, goyang
Obah            : bergerak
Nem             : enam
Kayu            : kayu, batang pohon.
Wreksa          : kayu, batang kayu, pohon.
Glinggang        : tebangan pohon
Prabatang        : kayu rebah, pohon tumbang
Oyig             : bergerak, bergoyang
Sad             : enam
Anggas           : belalang, tebangan pohon
Anggang-anggang: serangga mengapung di atas air.


                                                                 45
Mangsa           : waktu, makan ( untuk binatang buas )
Naya             : air muka, musim keenam.
Retu             : pahit, huru-hara, kekacauan
Wayang            : wayang, bergerak, gerak
Winayang          : digerakkan
Anggana           : sendiri, lebah
Ilat             : lidah
Kilatan          : kilat
Lidhah            : lidah, kilat
Lindhu            : gempa
Carem            : puas, senggama
Manis            : manis, bagus, baik, perempuan
Tahen            : kayu, menahan, menderita
Osik             : bergerak, tergerak hatinya
Karengnya : terdengar, didengarkan.


3.7. Kata Yang Memiliki Watak 7 ( Tujuh )


Sapta            : tujuh
Prawata          : gunung
Acala            : gunung
Giri              : gunung, luar biasa, sangat
Ardi             : gunung
Gora             : lebah, gunung
Prabata          : gunung
Himawan           : gunung
Pandhita         : pendeta, pertapa
Pitu             : tujuh
Kaswareng        : terkenal, tersebut
Resi              : pendeta, orang suci
Sogata           : hidangan, guru, pendeta
Wiku             : pendeta


                                                          46
Yogi            : sebaiknya, baik, pendeta.
Swara           : suara, bunyi
Dwija           : guru, pendeta
Suyati          : pendeta sakti, pendeta pandai
Wulang           : nasihat, petunjuk, pelajaran
Weling           : pesan
Wasita          : nasihat, petunjuk, pelajaran
Tunggang         : naik, menaiki, menunggang
Turangga        : kuda
Gung            : besar
Swa             : kuda
Aswa            : kuda
Titihan          : kuda, kendaraan, tunggangan
Kuda            : kuda
Ajar            : pendeta, pelajaran, ajaran
Arga            : gunung, harga
Sabda           : berbicara, suara, bersabda
Nabda           : berbicara, bersuara, bertitah
Angsa           : angsa, keturunan, terlanjur
Muni            : berbunyi, berbicara, pendeta
Suka            : Gembira, memberi
Biksu            : sapi, pendeta
Biksuka         : sapi, pendeta


3.8. Kata Yang Memiliki Watak 8 ( Delapan )


Astha           : delapan
Basu            : kokek, ular, delapan dewa
Anggusti         : membicarakan, merundingkan
Basuki          : selamat, raja ular
Slira           : tubuh
Murti           : sangat


                                                  47
Bujangga    : pujangga, ular besar
Manggala    : pemuka, pemimpin, pembesar, gajah.
Taksaka     : ular besar, naga
Menyawak    : biawak
Tekek       : tokek
Dwipa       : gajah
Dwipangga   : gajah
Bajul       : buaya
Gajah       : gajah
Liman       : gajah
Dwirada     : gajah
Dirada      : gajah
Esthi       : gajah, pemikiran, kehendak, perasaan
Estha       : kehendak
Matengga    : menunggu, menantikan, gajah
Brahma      : api, brahmana
Brahmana    : brahmana
Wewolu      : delapan, sebanyak delapan
Baya        : halangan, buaya, barangkali, janji
Bebaya      : halangan, bahaya
Kunjara     : penjara, gajah
Tanu        : bunglon
Sarpa       : ular
Samaja      : gajah
Madya       : tengah, sedang,cukup, pinggang
Mangesti    : berniat, memikirkan, merenungkan
Panagan     : sarang naga, hitungan jalan naga
Ula         : ular
Naga        : ular besar.




                                                     48
3.9. Kata Yang Memiliki Watak 9 ( Sembilan )


Bolong           : berlubang, tembus
Nawa            : sembilan, menawar
Dwara            : pintu, gerbang
Pintu            : pintu
Kori            : pintu
Bedah           : terbelah
Lawang           : pintu
Wiwara           : liang, pintu
Gapura           : gerbang
Rong             : berlubang, liang sarang binatang, rongga
Song            : lubang, liang sarang binatang
Wilasita         : liang, liang kumbang
Angleng          : jelas pada pendengaran, masuk liang.
Trustha          : gembira, puas, berlubang tembus
Trusthi          : berlubang tembus
Trus            : terpenuhi, bocor, langsung tembus
Butul            : berlubang, tembus
Dewa            : dewa
Sanga            : sembilan
Wadana          : muka, wajah
Jawata           : dewa-dewa
Manjing          : masuk
Arum             : harum, cantik, perempuan
Ganda           : bau
Kusuma           : bunga, perempuan, terhormat
Muka            : wajah, depan
Rudra            : galak, marah
Masuk            : memasuki
Rago            : gua, halangan
Angrong          : masuk ke dalam liang


                                                              49
Guwa              : gua
Menga             : terbuka
Babahan           : lubang, galian jalan pencuri
Leng              : liang
Ambuka            : membuka, menyingkap
Gatra             : macam, warna, gambar, tiruan
Anggangsir         : membuat lubang untuk mencuri.
Nanda             : bicara, bersuara, musim kesembilan
Wangi             : harum


3.10.     Kata Yang Memiliki Watak 0 ( Nol )


Byoma         : langit
Musna          : hilang, lenyap
Nis            : hilang, pergi
Mletik         : terpercik, meloncat, melesat
Langit         : langit
Sirna         : hilang, habis
Ilang          : hilang
Kombul         : terangkat, terapung, terkenal
Awang-awang : angkasa
Mesat          : pergi, menghindar, melesat
Muluk          : melambung, terangkat, naik
Gegana : angkasa, langit
Ngles         : menghindar, pergi menjauh
Tumenga        : menengadah, melihat ke atas
Nenga         : menengadah, melihat ke atas
Luhur          : tinggi, di atas, agung, mulia
Suwung         : kosong
Sonya          : sepi, pertapaan
Muksa          : moksa, hilang, menghilang
Doh            : jauh


                                                         50
Tebih           : jauh
Swarga          : surga, kahyangan
Tanpa           : tanpa
Barakan         : ternak curian, berkata, sebaya
Tan             : tidak
Rusak           : rusak
Brastha         : rusak, lenyap, lebur, hancur
Swuh            : rusak, lenyap, lebur, hancur, sepi
Walang          : belalang, khawatir
Kos             : angkasa, bersinar
Pejah           : mati
Akasa           : langit, angkasa
Tawang          : langit, angkasa
Wiyat           : langit, angkasa
Oncat           : pergi, naik, menghindar, lari
Windu           : basi, sangat, hitungan delapan tahu
Widik-widik     : langit, angkasa, segan-segan
Nir             : hilang, rusak, habis, tiada
Wuk             : rusak, busuk, tak jadi, urung
Sat             : kering, kering air
Surud           : berkurang, tinggal, meninggal
Sempal          : terbabat, patah.


4.      Penyusunan Sengkalan


Agar dapat ditafsirkan secara tepat, maka sebaiknya di dalam penyusunan sengkalan digunakan
kata-kata yang sudah biasa digunakan untuk menyusun sengkalan.


Sengkalan sebaiknya membentuk suatu susunan kata yang sesuai dengan peristiwa yang terjadi
pada saat itu. Namun demikian ada pula sengkalan yang hanya berupa kata-kata dan tidak
membentuk suatu kesatuan kalimat.


Susunan kata di dalam sengkalan dapat berupa berita, harapan, pujian atau doa.
                                                                                         51
Walaupun tidak mempunyai makna atau keterkaitan, sebaiknya kata-kata yang disusun di dalam
sengkalan itu tidak bertentangan dengan peristiwa yang terjadi.


Contoh :


¨      Surud Sinare Magiri Tunggil menyatakan tahun 1750 sebagai peringatan peristiwa
Mangkatnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana V. Surud
artinya mangkat; sinare artinya dimakamkan; magiri mengandung makna Imogiri; tunggil ada
yang menafirkan bahwa bersamaan tahun wafatnya Ngersadalem Kanjeng Sultan Hamengku
Buwana IV, namun ada yang menafsirkan bahwa magiri tunggal itu di gunung/kahyangan/sorga
milik Hyang Maha Tunggal.        Terlepas dari penafsiran makna tunggil itu, sengkalan yang
dibentuk tersebut sangat tepat untuk mencatat peristiwa mangkatnya seorang raja.


¨    Di dalam suatu syair penutup sekar pucung di dalam serat Kamardikan yang selesai ditulis
pada tahun 2002 tertulis,      muga-muga dresthi sirna nir sikara. Dresti sirna nir sikara
menunjukkan angka tahun masehi 2002. Dresthi ( 2 ) mengandung makna khianat; sirna ( 0 )
mengandung makna hilang ; nir ( 0 ) mengandung makna habis, hilang; sikara ( 2 ) pengacauan,
campur tangan. Jadi dresthi sirna nir sikara mengandung makna segala bentuk penghianatan
terhadap bangsa Indonesia ini hilang dan hilang pula campur tangan asing yang turut serta
menyusup dan meyebabkan kesengsaraan rakyat.          Kalimat terakhir itu memang merupakan
harapan penulis serat kamardikan, yang menggambarkan perjalanan kemerdekaan Indonesia
sampai dengan tahun 2002 yang seolah-olah selalu bergejolak baik secara nyata atau
terselubung, dan selalu diganggu oleh campur tangan asing yang terang-terangan atau
terselubung. Oleh karena itu penulis menutup dengan doa atau harapan tersebut.


¨   Estining Pujangga Trus Manunggal        menunjukkan tahun 1988


¨   Estining Kusuma Dewaningrat      menunjukkan tahun 1998


¨   Estining Panembah Trusing Gusti          menunjukkan tahun 1928




                                                                                           52
5.   Jenis Sengkalan


Sengkalan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :


¨    Sengkalan Methok ¨     Sengkalan Miring ¨     Sengkalan Memet


5.1. Sengkalan Methok


Sengkalan methok adalah sengkalan yang tersusun dari kata-kata yang sudah jelas semuanya.


Contoh :


Panca Lima Hasta Tunggal yang menyatakan tahun 1855. Disebut methok, karena semua kata-
katanya sudah jelas menunjukkan angka. Panca (5), Lima (5), Hasta (8), Tunggal (1).


5.2. Sengkalan Miring


Sengkalan Miring adalah sengkalan dengan kata-kata penyusun yang tidak semuanya jelas.


Contoh :


Panca Marganing Salira Tunggal menunjukkan tahun 1855.           Marganing (5) dan Salira (5)
merupakan kata miring.


5.3. Sengkalan Memet


Sengkalan memet adalah sengkalan yang tidak dinyatakan dalam bentuk kata-kata secara
langsung, tetapi dinyatakan dalam bentuk gambar, atau benda lain.


Contoh:


¨      Di atas kusen Dhempel (kusen) pintu Brajanala Kraton Surakarta ada hiasan berupa
selembar kulit sapi. Benda tersebut dapat dibaca lulang sapi siji. Jika diuraikan menjadi Lu (8),
                                                                                               53
Lang (0), Sapi (7), Siji (1). Jadi benda tersebut merupakan sengkalan yang menunjukkan angka
tahun 1708.


¨    Di dalam Gunungan pada wayang kulit ada gambar Gapura. Dari Gambar pada gunungan
tersebut dapat dapat dibaca Gapura Lima Retuning Bumi, jika diuraikan menjadi Gapura (9),
Lima (5), Retuning ( 6), Bumi ( 1 ), jadi menunjukkan angka tahun 1659.


¨    Di dalam Gamelan Sekaten Kyai Guntur Sari di Karaton Surakarta juga terdapat sengkalan
memet. Di atas gayor ( gawangan penggantung ) Gong Besar dan di atas gayor Bedug ada
gambar naga dua serta cakra, yang dapat dibaca sebagai Naga Loro Cinakra Ing Ratu, yang jika
diuraikan menjadi naga (8), Loro (2), Cinakra (5), ing Ratu (1), sehingga menunjukkan angka
tahun 1528.


Pengelompokan tersebut di atas bukan untuk memilah-milah secara tegas. Dalam kenyataannya,
sengkalan disusun sebagai gabungan antara dua atau malah tiga dari tiga jenis tersebut, walaupun
memang ada yang bukan merupakan gabungan.


6.   Penutup


Mudah-mudahan dapat      menjadi tambahan wawasan terhadap salah satu dari karya budaya
bangsa kita, bagi para pemerhati keluhuran budi.


Daftar Pustaka


Ø    SISKS Paku Buwono IV, Serat Wulang Reh, Dahara Prize, Semarang,1994


Ø        KGPAA Mangkunagara, Sekar Sekaran ( Bloemlezing ), N.V. Albert Rusche & Co,
Surakarta, 1920.


Ø       R. Bratakesawa, Keterangan Candrasengkala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1980.


Ø    R.M. Sajid, Serat Kawruh Bab Candra Sangkala, Sala.
                                                                                              54
Ø    Ciptawidyaka, Serat Kamardikan, Paguyuban Wikarya, Bandung, 2002.


*) Biografi Penyusun


Ciptawidyaka ( nama kecil : Ronni I.S.-nama sepuh:Krt.Rono Hadinagoro. adalah Pembantu
Dekan I Bidang Akademik Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung – Cimahi. Sarjana
Teknik Sipil ITB dan Magister Teknik Jalan Raya ITB yang pernah mejadi ketua Perkumpulan
Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB kini aktif dan menaruh perhatian serta minat di bidang
keagamaan dan kebudayaan. Di samping sebagai Pembina Masjid Al-Hidayah dan Masjid Nurul
Iman, sampai saat ini masih membina Karawitan Jawa.       Pernah bekerja sebagai tenaga
kependidikan di Universitas KatholIk Parahyangan, Universitas Langlangbuana, IKIP Negeri
Bandung.




                                                                                      55
Lahir- Kawin dan Kematian Dalam Adat Jawa.

Orang Jawa sangat memperhatikan masalah hidup dan peri kehidupannya, demikian besar
perhatian mereka sehingga peri kehidupan yang dianggap sangat penting itu diatur dengan cara
dan tata laksana tertentu, dan dijadikan sebuah tatacara dan upacara adat.
Tata cara yang menyangkut hidup manusia diletakkan pada masa manusia dalam kandungan,
setelah lahir dan setelah mati. Menurut Drs. R. Subalidinata dari Fakultas Kebudayaan UGM
dalam ceramahnya di Lembaga Javanologi Yogyakarta tentang kajian hidup dan tatacara Jawa
bisa ditempuh lewat keagamaan, budaya, sastra dan tatacara adat. Tata cara adat bida dikaji
dengan mengangkat sumber tertulis dan lisan, serta mengamati penerapan tatacara itu.


Waktu Kehamilan.
Manusia hidup pada masa tinggal dalam kandungan ibu, pada masa itu kehidupan bayi dan ibu
menjadi perhatian besar. Kehidupan mereka diatur dengan sebuah tatacara dan upacara yang
sedapat mungkin dipatuhi oleh ibu yang mengandung dan suaminya. Ibu hamil harus
memperhatikan larangan dan pantangan demi keselamatan bayi dan dirinya. Sang suami atau
keluarga mengadakan selamatan dan sesaji, demi keselamatan mereka, tatacara selamatan (
wilujengan ) dilakukan sejak kandungan berusia satu bulan bulan sampai sembilan bulan ( 10
bulan )
Tatacara bisa dilakukan kecil-kecilan ( climen ) sederhana dan besar-besaran, yang disebut akhir
ini biasanya dilaksanakan bila kandungan menginjak usia tujuh bulan, dan dilaksanakan pada
tanggal ganjil yang jatuh pada hari rabu atau sabtu sebelum bulan purnama itu disebut
Tingkeban. Tingkeban bisa dilakukan dengan selamatan ala kadarnya dan bagi yang mampu
dengan kemasan upacara yang dilakukan sepanjang satu hari satu malam. Yang diperhatikan
ialah masalah sesaji, mandi ( siraman ) dan pahargyan ( pesta ) segala sesuatu dilaksanakan atas
petunjuk orang tua ahli adat atau hukum adat.
Setelah bayi lahir keluarga mengadakan selamatan dengan tatacara yang diatur masyarakat
lingkungannya, seperti : penguburan tembuni ( ari-ari ), brokohan ( selamatan pada hari pertama
kelahiran ) sepasaran ( selamatan hari ke lima dan pemberian nama bayi ) selapanan ( selamatan
pada hari ke ke tiga puluh lima hari ) dan siraman ( memandikan sang ibu, jatuh pada hari ke 40,
sesudah melahirkan juga disebut upacara Wiladah )


                                                                                              56
Waktu Hidup
Tatacara sesudah melahirkan dilakukan pada masa kanak-kanak, menjelang masa dewasa dan
masa lanjut usia. Tatacara pada masa kanak-kanak yaitu tedhak siten ( anak berusia 7 X 35 hari )
hari ulang tahun pertama dan menyapih ( menghentikan disusui ibu )
Tatacara pada masa menjelang dewasa disebut : tetesan ( bagi wanita ) supitan ( bagi anak laki-
laki ) ruwatan ( bagi wanita atau pria yang disebut Sukerta misalnya : anak tunggal ( hanya satu
). Anak lima semua wanita atau semua pria dll, kemudian pangur ( gosok gigi ) dan tarapan bagi
anak wanita yang selesai datang bulan.
Tatacara pada masa dewasa yaitu perkawinan, yang prosesnya meliputi : congkok nakekake (
minta keterangan mengenai anak yang akan dilamar ) nontoni ( memperkenalkan calon istri-
suami ) melamar, meningseti ( menyampaikan tanda pengikat ) srah-srahan ( penyerahan tanda
pengikat ) ijab-kabul ( di depan pejabat agama yang berwenang ) dan pawiwahan ( syukuran atau
resepsi )
Yang sering diperhatikan terutam upacara perkawinan, sebelum ijab sering dilakukan upacara
be;ah tumpeng, putus benang, pati tumper. Upacara sesudah ijab ialah panggih ( bertemunya
temanten pria dan wanita ) dengan tatacara : balangan suruh ( saling melempar daun sirih ) wijik
( mencuci kaki ) munggah pasangan, pangkon ( timbang bobot ) asrah kaya ( memberikan
sejumlah uang kepada temanten putri ) dhahar klimah ( saling menyuapi nasi ) sungkeman (
mohon doa restu orang tua )
Tatacara pada masa dewasa ( 32 tahun ) disebut Tumbuk sepisan, bila berusia 64 disebut
Tumbuk agung ( 8 windu = 8 X 8 ). Upacaranya antara lain :
1. Selamatan
2. Angonputu ( nenek/kakek pergi bersama anak-cucu pergi kepasar dan membeli makanan
sepuasnya )
3. Congkokan ( bertelekan batang tebu ) yang dibawa anak-cucu
4. Andrawina ( kakek/nenek membagi nasi pada anak dan cucu )
5. Nyebar udhik-udhik ( menyebar uang recehan )
6. Memberi wasiat ( nasehat )
7. Sungkeman ( anak-cucu mohon restu )
8. Dhahar kembul ( makan bersama )
9. Pertunjukkan jika memungkinkan.




                                                                                              57
Waktu Kematian
Tatacara kematian dilakukan dengan mengadakan selamatan pada hari pertama sewaktu
meninggal ( surtanah ) hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100, setelah setahun , setelah dua tahun dan
1000 hari. Bisa pula pada tiap tahun hari kematian atau dengan nyekar ( pasang batu nisan )
Manawi kita gagas-gagas, lampahing ngagesang punika kenging winastan karoban dening
panyêluding wisaya. Boten rumiyin, boten sapunika, boten rampung-rampung, tansah sami
cocongkrahan, labêt sami rêbat lêrês dhatêng gagandhulan tuwin tekadipun piyambak-piyambak.
Wisaya punika wontên ingkang gampil kasumuruban, lan wontên ingkang botên gampil
anggenipun nyumêrêbi. Wisaning sawêr botên sanes namung dumunung wontên ing untu, lan
panyêmburipun. Wisaning kalabang lan kalajêngking wonten ing êntupipun. Ananging ing
samangke, lah dumunung wontên ing pundi, menggah wisaning sadaya s^erat-sêrat piwulang,
ingkang sampun sumebar dados wawaosianing ngakathah? Punika botên sanes kajawi dumunung
wontên ing pangertosan kita pribadi.
Kados pundi ing jagad, kawontênan panggêlaring piwulang ingkang sami kasêbut ing sêrat-sêrat,
punapa inggih wontên pigunanipun ingkang langkung agêng tumrap ing gêsang kita, murih tata
têntrêm lan karaharjan? Lha punika nyumanggakakên, amargi piwulang kasêbut ing dalêm sêrat-
sêrat wau, sagêd nuwuhakên pangertosan warni kalih, sapisan: pengêrtosan ingkang ngênggeni
wontên ing sasananing kalêrêsan. Dene ingkang kaping kalih: pangertosan ingkang ngênggeni
wontên ing panasaran.
Manawi kita sagêd mangêrtos nampeni suraosing piwulang wau, punika kados dene kita
manggih usada ingkang sampun sumêrêb abên-abênan lan tumanjanipun. Manawi makatên
sampun tamtu kita sagêd manggih kawilujêngan lan kemulyan. Kosokwangsulipun pangertosan
kita ingkang saking sêrêp panampinipun, punika kados dene kita manggih usada ingkang abên-
abênan tuwin tumanjanipun dereng kita sumêrêbi. Ingkang makatên punika sagêd ugi
andadosakên ing wisaya. Langkung-langkung yen pangêrtosan ingkang sêling sêrêp
panampinipun wau, lajêng katularakên ing ngasanes, sarana lesan utawi sarana sêrat-sêrat,
sampun tamtu badhe langkung agêng ing wisayanipun.
Kasêbut ing sêrat Paniti Sastra bab 10 ungêlipun makatên: ingkang dados wisaning tiyang nêdha
punika bilih kirang telatos pamamahing têtêdhan, yen botên lêmbut ingkang dipun têdha yêkti
dados sêsakit. Mênggah pikajênganipun makatên: têmbung: tiyang nêdha, mangêrtosipun nêdha
kawruh. Pamamahing têtêdhan: pikajênganipun: panyuraosing kawruh. Mênggah gamblangipun
makatên: tiyang ngudi kawruh punika kêdah telatos panyuraosipun, murih mangêrtos ing lair
batos. Sêbab yen botên makatên, kawruh ingkang sajatosipun langkung miraos tumrap raosing
                                                                                              58
manah, botên siwah kadidena raosing madu pinasthika, têmah lajêng malik garêmbyang dados
raos pait asêngak kadidene tuwak sajêng ingkang angêndêmi, ing wusana lajêng andadosaên
wisaning jiwa raga.
Kuwontênan ingkang makatên wau, sanyatanipun botên nama aneh, yen kita kajlungupa ing
jurang panasaran. Sabab miturut panggêlaring sadaya sêrat-sêrat piwulang, punika prasasat
mbotên wontên têmbung ingkang ukaranipun kadamêl prasojo, nanging wontên têmbung
paribasan, pasemon, pralambang, tuwin pralampita. Dados prasasat kita sami kinen ambatang
adêging cacangkriman. Dene mênggah pikajênganipun: Sapisan perlu kangge ngadegakên tuwin
ngluhurakên. Kaping kalihipun pêrlu kangge dhadhasaring pamarsudi tumrap para siswa,
supados tansah sami anandangakên kalimpadan alusing pambudi. Mila siswa ingkang kirang
lantip, inggih botên sagêd nampeni piwulang wau..
sing temen bakal tinemu-sing salah bakal seleh-
sing teka nggawa lego,mulih nggendong prayoga




                                                                                       59
                 PEMBERIAN NAMA JAWA
                              KEPADA ANAK
1.   Nama atau Tetenger.


Nama orang, jeneng, aran, atau tetenger merupakan sebutan terhadap pribadi seseorang.


Pada umumnya nama ini diberikan kepada seorang anak oleh orang tuanya. Namun demikian,
kadang-kadang, pada keadaan tertentu, nama itu diberikan oleh bukan orang tuanya, misalnya
diberikan oleh ulama, pemuka masyarakat, atau anggota keluarga lain yang dipertuakan atau
dihormati di lingkungannya.


Di lingkungan sebagian masyarakat Jawa, biasanya pemberian nama itu dilakukan bersamaan
dengan upacara sepasaran, yaitu selamatan pada hari ke lima setelah kelahiran.         Sebagian
masyarakat Jawa yang menganut agama Islam ada yang memberikan nama itu sejak lahir, dan
diumumkan kepada tetangga, dan sanak saudara setelah tujuh hari bersamaan dengan upacara
hakikah (kekahan). Seiring      kemajuan teknologi       di bidang peralatan medis, dengan
menggunakan ultra sonografi ( USG ), jenis kelamin bayi sudah dapat dilihat pada saat bayi
masih berada di dalam kandungan.Dengan demikian, banyak orang tua yang sudah
mempersiapkan nama anaknya sebelum anak itu lahir. Sebagian masyarakat Jawa, di samping
nama yang disandang sejak kecil ( nama kecil/ nama alit ), dikenal pula nama tua ( nama sepuh ),
yang biasanya diberikan oleh orang tuanya setelah yang bersangkutan menikah.


Bagi Abdi Dalem Kraton, di samping nama kecil dan nama tua, juga menyandang nama yang
diberikan oleh Raja ( peparing dalem ) berkaitan dengan pangkat/jabatan/kedudukan/ tugas yang
diembannya.
Ada sementara orang yang berpendapat bahwa nama itu sekedar sebutan. Orang yang
berpendapat seperti ini sering menyatakan “ Apalah artinya sebuah nama “. Tetapi ada pula yang
berpendapat bahwa nama itu mempengaruhi kehidupan masa depan seseorang.


Terlepas dari kedua pendapat tersebut, yang perlu diingat, dan dijadikan bahan pertimbangan di
dalam pemberian nama adalah bahwa nama itu melekat pada seseorang, sehingga jangan sampai

                                                                                              60
kelak di kemudian hari orang yang menyandang nama itu malu menggunakan nama yang telah
disandangnya.


Nama itu cerminan kesan, harapan, atau doa dari seseorang kepada orang yang diberi nama.


2. Makna Sebuah Nama


Berdasarkan arti/ maknanya, nama dapat dikelompokkan sebagai berikut.


2.1. Sebagai Tanda Peringatan


Nama ini sekedar menjadi tanda peringatan hari lahir, atau kejadian lain. Nama dari golongan ini
tidak memiliki makna harapan atau doa ( netral ).


Contoh :


¨ Surajimah merupakan singkatan dari Sura, siji, jemuah, artinya anak itu lahir pada hari Jum’at
( Jemuah ), tanggal satu bulan Sura ( Muharam ).


¨ Saparbe artinya anak itu lahir pada bulan Sapar tahun Be.


¨ Sarbakdiyam, merupakan singkatan dari Besar, Bakda siyam, artinya anak itu lahir setelah
siyam bulan besar yaitu setelah siyam sunah bulan besar atau setelah tanggal 9 Besar. Jadi anak
itu lahir pada tanggal 10 bulan Besar.


¨ Ramelan, artinya anak itu lahir pada bulan Ramelan atau bulan Romadlon ( bulan Puasa ).


¨ Merdekawati, artinya anak itu lahir bertepatan dengan Proklamasi kemerdekaan, atau
bertepatan dengan tanggal 17 Agustus.


¨ Prahara, artinya anak itu lahir pada saat terjadi prahara/kerusuhan/ pemberontakan.


¨ Prihatin, artinya lahir pada saat kedua orang tuanya sedang prihatin.
                                                                                              61
¨ Eko Riyadi, terdiri dari Eko ( Eka satu ), Riyadi ( hari raya Idul Fitri ), artinya anak itu
merupakan anak pertama yang lahir pada tanggal 1 Syawal ( Idul Fitri ).


¨ Dwi Ramdani, terdiri atas Dwi ( dua ), Ramdani ( bulan Ramadlon ), artinya anak itu
merupakan anak kedua yang lahir pada bulan Puasa.


2.2. Sebagai Turunan dari Nama Orang Tuanya


Nama ini merupakan turunan atau modifikasi dari nama orang tuanya. Nama ini kadang-kadang
mempunyai makna harapan atau doa, tetapi kadang-kadang hanya sekedar singkatan. Menurut
istilah orang Jawa sering disebut Nunggak Semi.


Contoh :


¨   Dalimin, merupakan singkatan dari Daliyem ( nama ibunya ) dan Paimin ( nama bapaknya ).


¨   Tukijo, merupakan singkatan dari Tukinem ( nama ibunya ) dan Sukarjo ( nama bapaknya ).


¨   Ratnasih, merupakan singkatan dari Suratna ( nama bapaknya ) dan Sumarsih (nama ibunya
). Nama ini merupakan singkatan, tetapi memiliki makna Ratna ( perempuan, intan, permata,,
sari, utama ) dan sih ( kasih, cinta, kekasih, harum ), sehingga dapat ditafsirkan sebagai
perempuan yang harum namanya, tersmasyhur, atau sebagai manusia kekasih yang utama.


¨   Mulyadi, merupakan modifikasi dari Mulyana ( nama bapaknya ).


¨     Martana ( kehidupan ), merupakan modifikasi dari Martadi ( hidup yang baik/ nama
bapaknya ).


2.3. Sebagai Ungkapan Harapan atau Doa


Nama ini merupakan ungkapan harapan ( kekudangan ), doa, atau cita-cita orang tua kepada
anaknya.
                                                                                            62
¨    Rahayu, artinya selamat, baik. Nama ini merupakan doa atau harapan orang tuanya agar
anak tersebut selamat dan baik.


¨   Slamet, artinya selamat.


¨   Jaka Waskita, artinya anak laki-laki yang pandai, cermat, dan waspada. Nama ini merupakan
harapan dan doa orang tua agar anaknya kelak menjadi orang yang pandai, cermat, dan waspada.


¨     Mulyarta, terdiri atas kata Mulya ( mulia ) dan Arta ( uang/harta/kekayaan ). Nama ini
merupakan doa atau harapan orang tuanya agar kelak di kemudian hari anak itu hidup mulia,
menjadi orang yang terhormat/terpandang, dan kaya raya.


¨     Harimurti, artinya sinar matahari atau gelar dari Prabu Bathara Kresna. Nama tersebut
diberikan oleh orang tuanya agar anaknya di kemudian hari dapat menerangi kehidupan seperti
Prabu Bathara Kresna yang bijaksana serta mampu menjadi pelindung serta pembela kebenaran
/ perilaku utama.


¨   Suharja, terdiri atas Su ( bagus, sangat, lebih ) dan Harja (bagus, indah, mulia, jernih). Nama
ini mengandung harapan agar anak tersebut di kemudian hari menjadi orang yang sangat bagus
atau cemerlang di segala bidang.


¨    Raditya, artinya matahari. Nama ini mengandung harapan agar kelak di kemudian hari anak
tersebut menjadi orang mulia, orang besar yang berguna sehingga mampu menjadi penerangan
bagi sesama manusia.


¨     Pradipta Arya Wismaya, terdiri atas Pradipta ( cahaya ), arya ( baik/besar ), Wismaya (
waspada ). Nama tersebut diberikan kepada seorang anak, dengan harapan agar anak tersebut
kelak di kemudian hari anak tersebut seperti cahaya yang baik serta waspada.


¨     Daniswara ( kaya dan mulia ). Nama ini diberikan kepada seorang anak, dengan harapan
atau doa agar kelak di kemudian hari anak itu menjadi orang kaya raya dan mulia.




                                                                                                63
¨     Harjanti ( unggul ). Nama ini diberikan kepada seorang anak, dengan harapan.agar anak
tersebut di kemudian hari menjadi orang yang unggul di segala bidang.


3. Pemberian Nama Kepada Anak


Seperti halnya bangsa-bangsa timur lainnya ( Arab, Cina, dsb. ) sebagian besar masyarakat Jawa
memberikan nama kepada anaknya dengan berbagai macam perhitungan serta makna-makna
yang baik. Di samping merupakan pencerminan harapan atau doa, nama yang diberikan kepada
seseorang juga sangat bergantung pada tingkat kemampuan fikir atau latar belakang kehidupan
orang yang memberikan nama itu.


Pada saat ini, banyak orang yang merasa malu dengan nama yang diberikan oleh orang tuanya.
Di kota-kota besar, banyak orang berganti nama, misalnya Paikem menjadi Ike; Suminem
menjadi Sumini; Tukijo menjadi Ukky Jauhary; Dalijo menjadi Dally Joseph, dsb., walaupun
nama-nama Ukky, Dally, Ike itu sendiri tidak jelas arti/maknanya.


Kadang-kadang, tanpa berfikir jauh, ada orang yang berpendapat bahwa orang yang mengganti
namanya sendiri itu dianggap sebagai anak yang durhaka karena mengubah nama pemberian
orang tuanya.


Padahal jika diperhatikan, kadang-kadang ada orang tua yang memang memberikan nama
kepada anaknya terkesan asal-asalan, sehingga di kemudian hari anak itu merasa tidak enak atau
malu menyandang namanya itu, misalnya : Ratman Lentho ( Lentho adalah makanan dari kacang
dan kelapa yang dicetak dengan kepalan tangan, kemudian digoreng ), Jimin Gudel ( gudel
adalah anak kerbau ), Dalimin ( dari bahasa Arab dlolimin artinya orang yang kejam, berlaku
aniaya ); Musrikin ( dari bahasa Arab musyrikin yang artinya orang yang menyekutukan Allah );
Jaka Duratmaka ( Pemuda Pencuri ).


Kemungkinan besar kekeliruan itu terjadi karena keterbatasan pengetahuan orang tua yang
memang tidak disadari.


KN. Muhammad S.A.W., pernah bersabda bahwa salah satu kewajiban orang tua adalah
memberikan nama yang baik kepada anaknya.
                                                                                            64
Karena nama itu merupakan cerminan kesan, harapan atau doa, dan dipakai seseorang sepanjang
hidupnya bahkan akan dikenang orang setelah yang bersangkutan meninggal, maka sebaiknya
nama itu memiliki makna yang baik, atau sekurang-kurangnya tidak membuat yang
menyandangnya malu di kemudian hari.


Nama dapat terdiri atas satu kata atau lebih. Kata-kata tersebut dapat berupa kata dasar atau kata
bentukan, yang dapat berupa :


v   tanda peringatan waktu, bilangan, atau kejadian, atau


v   turunan atau modifikasi dari nama orang tuanya, atau


v   kesan, harapan atau doa yang baik, atau


v   dapat pula merupakan gabungan.


Contoh :


¨    Tri Wahyu Utomo, terdiri atas kata Tri ( tiga ), Wahyu ( anugerah Tuhan ), Utama (baik,
unggul). Nama tersebut merupakan peringatan bilangan ( anak ke tiga ), disertai harapan atau
doa bahwa anak tersebut merupakan anugerah Tuhan yang mudah-mudahan di kemudian hari
dapat menjadi orang yang baik dan unggul di berbagai bidang.


¨    Dwi Wahyu Sardana, terdiri atas kata Dwi ( dua ), Wahyu ( anugerah Tuhan ), Sardana (
kaya ). Nama tersebut merupakan gabungan antara peringatan bilangan (anak ke dua) dengan
harapan atau doa agar anak yang merupakan anugerah Tuhan tersebut di kemudian hari menjadi
orang yang kaya.


¨       Anindita, artinya tanpa cacat, unggul.     Nama yang hanya terdiri atas satu kata ini
mengandung harapan atau doa agar anak tersebut sempurna dan unggul di berbagai bidang.


Kata-kata pembentuk nama Jawa biasanya diambil dari bahasa Jawa Kuna atau Jawa baru.


                                                                                               65
Di bawah ini adalah beberapa kata dalam bahasa Jawa yang sering digunakan di dalam
pembentukan nama.


3.1. Penunjuk Bilangan


Kata Jawa
Arti Indonesia
Kata Jawa
Arti Indonesia


Eka
Satu
Sad
Enam


Dwi
Dua
Sapta
Tujuh


Tri
Tiga
Hasta
Delapan


Catur
Empat
Nawa
Sembilan


Panca
Lima
Dasa
                                                                                66
Sepuluh




3.2. Kata-Kata Lain


Kata Jawa
Arti Indonesia
Kata Jawa
Arti Indonesia


Abyasa
Pandai
Raditya
Matahari


Adi
Lebih, Bagus,


Baik, Ayu
Raharja
Selamat


Aditya
Matahari
Rahayu
Selamat, baik


Agung
Agung, besar
Ramya
Asri, Cantik


Aji
                      67
Raja
Raras
Asri, Indah, Cantik


Ambar
Wangi
Ratna
Perempuan, intan, permata, sari


Anindita
Sempurna, unggul
Ratih
Nama bidadari.


Asri
Indah
Rawi
Matahari


Bagus
Bagus, indah
Reja
Ramai, baik, Bagus


Bagya
Bahagia, senang
Reksa
Menjaga


Bambang
Pemuda
Resmi
Asri, indah, hiasan
                                  68
Barata
Perjalanan hidup
Respati
Gagah, pantas, Kamis


Baskara
Matahari
Rukmi
Emas


Baswara
Terang, gemerlap
Sadali
Bintang


Cahya
Cahaya
Sadana
Harta, sandang


Cakra
Roda, Cipta
Sadara
Sopan santun


Cipta
Kalbu, Cipta
Sadarpa
Asri


Citra
Warna
Sambada
                       69
Lebih, Pantas, handal


Daniswara
Kaya, mulia
Samita
Bintang


Danu
Cahaya
Sampurna
Sempurna


Danuja
Ksatriya utama
Sarwa
Lengkap, sarwa


Danumaya
Gemerlap
Sasanti
Pujian


Danurdara
Kaya ilmu
Sasmaka
Permata


Dewi
Dewa perempuan
Sasmaya
Bagus, indah, suci




                        70
Dipa
Raja, cahaya, terang
Sasangka
Rembulan


Dirja
Sangat selamat.
Sasri
Asri


Hardana
Harta, uang
Satmaka
Hidup


Harimurti
Sinar matahari
Satriya
Keturunan Raja


Harjanti
Unggul
Satya
Setia, benar.


Harjasa
Indah, asri
Sidyana
Adil


Harjaya
Selamat
Sitaresmi
                       71
Rembulan


Harsana
Gembira
Sri
Pantas, asri, cantik


Harsaya
Gembira
Su
Sangat, unggul, baik


Hartaka
Harta, uang
Subadya
Sentosa, kokoh, handal


Hartana
Harta, uang
Subagya
Keberuntunganterkenal


Hartati
Manis, sangat
Suci
Suci


Her
Air
Suciatma
Jiwa suci




                         72
Heru
Mahkota,mustika
Sudana
Kaya


Himawan
Gunung
Sudarga
Tulus


Iswara
Fatwa luhur, Raja
Sudarma
Sangat bagus.


Jaka
Pria perjaka
Sudarman
Kebaikan


Jati
Jujur, benar
Sudarpa
Sangat asri


Jaya
Unggul, kuat
Sudarsa
Teladan, kemauan tulus


Karja
Membuat
Sudarsana
                         73
Teladan


Karma
Cipa, tata basa
Sudira
Pemberani


Karna, Karni
Telinga
Sudibya
Unggul/sakti


Karsa
Mau, kemauan
Suganda
Bau harum


Karsana
Gembira
Sujana
Orang pandai


Karta
Selamat, tenteram, trampil
Sujita
Keturunan orang sakti


Karti
Pekerjaan
Sukarja
Sangat Bergembira




                             74
Kartika
Bintang
Sulaksana
Sangat selamat


Kasiran
Kegembiraan
Sulanjari
Cerdas


Kasusra
Terkenal
Surastri
Bidadari


Kesawa
Gelar Bathara Wisnu.
Surya
Matahari


Kuncara
Terkenal
Susila
Sangat baik


Kunthara
Nama windu ke dua, perbuatan
Susmana
Awas


Kusuma
Bunga
Sutapa
                               75
Pendeta


Laksana
Lewat
Suteja
Cahaya


Laksita
Perjalanan
Sutikna
Tajam


Laksmi
Asri, cantik, mustika
Suyati
Pandita


Lestari
Langgeng, lestari, istiqomah
Tanaya
Anak


Marsudi
Berusaha
Tarasari
Bunga bersusun


Marta
Air, hidup, tata, jernih, ajar
Tari
Bintang


Martaka
                                 76
Sempurna
Titi
Jujur, Benar, lebih


Martana
Kehidupan
Tiyasa
Lebih


Martani
Menghidupi, mendidik
Tranggana
Bintang


Martyani
Berbuat baik
Tresna
Asih, Cinta


Marwata
Memuat
Tunjung
Bunga Teratai


Mursita
Mencipta, berkata
Turasih
Welas asih


Murti
Unggul, sangat
Tyas
Kalbu
                       77
Mustika
Mustika
Wahana
Kendaraan, keterangan


Naradi
Orang yang unggul.
Waluya
Sembuh, pulih


Nindya
Lebih
Warih
Air


Nindita
Unggul, lebih
Wardaya
Hati, Kalbu


Nugraha
Anugerah
Warti
Tutur


Padma
Bunga
Warsita
Pelajaran


Padmana
Hati yang berkembang
                        78
Wasista
Bijaksana


Praba
Cahaya, terang
Wasita
Fatwa


Prabaswara
Cahaya, terang
Waskita
Waspada


Prabawa
Pengaruh, kesaktian
Waspada
Terlihat, waspada


Pradipta
Terang, cahaya
Wastuti
Penyembahan


Prakosa
Sentosa
Wasundari
Air jernih


Prama
Lebih, unggul, suci
Widagda
Cerdas


                      79
Pramana
Waspada
Widada
Selamat


Pramatya
Bersinar, melebihi
Wignya
Pandai


Pramudita
Pandai, orang luhur
Wicaksana
Bijaksana


Pramusita
Kelapangan hati.
Widya
Bakti, benar


Pranata
Penata, penyembah
Wijaya
Unggul, menang


Pranawa
Hati yang Terang
Widyastuti
Darma Bakti


Pradana
Ganjaran, kekayaan
Wijayanti
                      80
Sangat unggul, kuat


Pradapa
Bersemi
Wikrama
Lebih, sakti


Purnama
Terang
Windriya
Mulia


Purwa
Permulaan
Wirya
Mulia, luhur


Purwaka
Permulaan
Widayat
Pertolongan Allah


Puspa
Bunga
Yudayana
Panglima Perang


Puspita
Bunga
Yuwana
Tulus




                      81
4. Pertimbangan Spiritual


Di dalam masyarakat Jawa, sering dijumpai istilah Kabotan Jeneng ( Keberatan nama ). Menurut
pendapat sebagian masyarakat terutama kalangan pemerhati masalah spiritual, orang yang
kabotan jeneng itu biasanya akan mendapatkan ujian, cobaan, atau godaan di dalam hidupnya.
Bahkan ada yang mengatakan terkena sangkal/sengkala ( rintangan hidup ) akibat kekuatan
spiritual nama yang disandangnya itu. Jika seseorang tidak kuat menyandang sebuah nama,
orang itu dikatakan memiliki nama yang tidak cocok atau terlalu berat (kabotan jeneng). Oleh
karena itu kadang-kadang ada orang yang sering sakit-sakitan atau hidupnya selalu sengsara,
setelah diganti namanya terus menjadi sehat wal afiat atau terlepas dari kesengsaraan.


Berdasarkan nilai atau bobot makna spiritualnya, nama Jawa dapat digolongkan menjadi empat
tingkatan yaitu, ringan, sedang, berat, dan sangat berat.


4.1. Nama Ringan


Nama ini memiliki bobot spiritual ringan.


Contoh : Prawira, Reja, Diharja, Harja, Paimin, Paijo, Sukardi.


4.2. Nama Sedang


Nama ini memiliki bobot spiritual sedang.


Contoh : Sura, Jaya, Dijaya, Yuda, Sastra, Wardaya, Suma, Danu, Mangun, sudira, Wira,
Puspita, Sasmita, Wasita, Warsita, Wirya, Taruna, Krama, Yasa, Purwa.


4.3. Nama Berat


Nama ini memiliki bobot berat.


Nama ini merupakan nama yang memuat kata-kata : Darma, Sudarma, Cakra, Brata, Subrata,
Dibrata, Surya, Candra.
                                                                                          82
Nama ini mengandung risiko, karena di dalamnya terkandung makna spiritual atau tuah yang
menuntut penyandangnya harus mampu menghadapi tantangan hidup serta mampu mengemban
amanat yang terkandung di dalam kata-kata tersebut.       Sebagian masyarakat Jawa mengatakan
bahwa yang mampu menyandang nama ini adalah orang yang siap melakukan olah cipta, rasa,
dan karsa, serta mampu melakukan tapa brata.


4.4. Nama Sangat Berat


Nama ini memiliki bobot yang sangat berat.


Nama ini merupakan nama yang memuat kata-kata : Nata, Pranata, Dinata, Winata, Jaga, Praja,
Mangku, Sujana, Sarjana.


Nilai spiritual dari makna nama tersebut lebih berat dari pada nama yang berbobot berat (butir
4.3). Menurut sebagian masyarakat Jawa, orang yang mampu menyandang nama ini adalah
orang-orang yang siap melakukan olah rasa, cipta, dan karsa, serta mampu melakukan tapa brata
dan memiliki jiwa suci serta kasih sayang kepada sesama.


Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka               sebagian    masyarakat Jawa
menganjurkan agar di dalam membuat nama menghindari penggunaan unsur nama berbobot
berat dan atau sangat berat sebagaimana tersebut di dalam butir 4.3, dan butir 4.4.


Pendapat tersebut di atas kadang-kadang dianggap diskriminatif. Mungkin memang sepintas
demikian, akan tetapi jika kita memperhatikan serta memahami makna kata-kata itu,
kemungkinan besar kita akan dapat memaklumi betapa berat tuntutan moral yang disandang oleh
seseorang yang pada kenyataannya berbeda jauh antara nama dengan realita.


Contoh:


¨     Orang menyandang nama Darma Pranata.            Darma ( Kewajiban, keutamaan, perbuatan
mulia, fatwa, pranata kesusilaan, hukum, kesucian ) berarti suatu perbuatan yang mengandung
nilai luhur, dilandasi kesucian, etika, keluhuran budi, serta pengabdian yang tulus. Pranata (
                                                                                             83
tunduk, peribadatan, sembah, penata, pengatur) berarti Penata atau pengatur yang tulus ikhlas di
dalam semua tindak tanduknya.      Nama itu sangat ideal, tetapi memerlukan pengorbanan yang
tinggi.     Apalah artinya jika suatu doa itu malah akan memberatkan orang yang didoakannya.
Lebih-lebih jika ternyata orang itu setelah dewasa malah sewenang-wenang, kejam, atau malah
sering melakukan tindakan yang nista.


¨    Orang menyandang nama Bagus Sulistya. Bagus artinya bagus, Sulistya ( sangat bagus ),
tetapi kenyataannya orang itu tidak tampan ( jelek ), hal ini malah akan membuat si penyandang
nama itu merasa malu. Oleh karena itu sebaiknya di dalam memberikan nama juga melihat
secara jujur bentuk fisik seseorang.


Di dalam sebuah hadist, KN Muhammad S.A.W. melarang umatnya menggunakan nama Abu
Qasim ( Bapak Pembagi-bagi ). Padahal nama ini adalah gelar Beliau. Hal ini bukan berarti
beliau tidak mau disamai oleh umat/pengikutnya, tetapi beliau sadar bahwa tidak semua orang
mampu menjadi Abu Qosim ( orang yang bersedia membagikan atau memberikan hartanya
walaupun tinggal satu, dan setelah diberikan dirinya tidak memiliki lagi ).


Terlepas dari pandangan spiritual ini, semuanya terpulang kembali kepada Allah S.W.T., Tuhan
Sang Pencipta Alam, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Bijaksana. Manusia wajib
mempunyai harapan, doa serta kesungguhan berusaha yang merupakan perwujudan dari cita-
cita, tetapi kepada-Nya lah terpulang semuanya.


Daftar Pustaka :


Ø          KPH. Tjakraningrat, Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, Penerbit Soemodidjojo
Mahadewa, Yogyakarta, 1993.


Ø       CF. Winter Sr., R.Ng. Ranggawarsita, Kamus Kawi – Jawa, Gajah Mada University Press,
1988.


Ø         Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta, Kamus Basa Jawa ( Bausastra Jawa ), Penerbit
Kanisius, 2001.


                                                                                              84
                              Rumah Jawa

Bangunan adat rumah jawa
Bangunan pokok rumah adat Jawa ada lima macam, yaitu: panggung pe, kampung, limasan,
joglo dan tajug. Namun dalam perkembangannya, jenis tersebut berkembang menjadi berbagai
jenis bangunan rumah adat Jawa, hanya bangunan dasarnya masih tetap berpola dasar bangunan
yang lima tersebut (Narpawandawa, 1937-1938).
Di dalam bangunan rumah adat Jawa tersebut juga ditentukan ukuran, kondisi perawatan rumah,
kerangka, dan ruang-ruang di dalam rumah serta situasi di sekeliling rumah, yang dikaitkan
dengan status pemiliknya. Di samping itu, latar belakang sosial, dan kepercayaannya ikut
berperanan. Agar memperoleh ketentraman, kesejahteraan, kemakmuran, maka sebelum
membuat rumah di’petang’ (diperhitungkan) dahulu tentang waktu, letak, arah, cetak pintu utama
rumah, letang pintu pekarangan, kernagka rumah, ukuran dan bengunan rumah yang akan dibuat,
dan sebagainya. Di dalam suasana kehidupan kepercayaan masyarakat Jawa, setiap akan
membuat rumah baru, tidak dilupakan adanya sesajen, yaitu bensa-benda tertentu yang disajikan
untuk badan halus, danghyang desa, kumulan desa dan sebagainya, agar dalam usaha
pembangunan rumah baru tersebut memperoleh keselamatan (R. Tanaya, 1984:66-78).
Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan rumah adat Jawa berkembang sesuai dengan
kemajuan. Berdasarkan tinjauan perubahan atapnya, maka terdapatlah bangunan rumah adat
Jawa sebagai berikut.
Bangunan model/bentuk Panggung Pe dalam perkembangannya terdapat bangunan Panggung Pe
(Epe), Gedong Selirang, Panggung Pe Gedong Setangkep, Cere Gancet, Empyak Setangkep,
Trajumas, Barongan, dan sebagainya. Dari bangunan rumah kampung berkembang menjadi
bangunan rumah kampung, Pacul Gowang, Srotong, Daragepak, Klabang Nyander, Lambang
Teplok, Lambang Teplok Semar Tinandhu, Gajah Jerum, Cere Gancet Semar Tinnadhu, Cere
Gancet Semar Pinondhong, dan sebagainya. Dari bangunan Rumah Limasan berkembang
menjadi bentuk rumah Limasan Lawakan, Gajah Ngombe, Gajah Jerum, Klabag Nyonder,
Macan Jerum, Trajrumas, Trajrumas Lawakan, Apitan, Pacul Gowang, Gajah Mungkur, Cere
Goncet, Apitan Pengapit, Lambang Teplok Semar Tinandhu, Trajrumas Rambang Gantung,
Lambangsari, Sinom Lambang Gantung Rangka Usuk Ngambang, dan sebagainya. Dari
perkembangan bangunan rumah Joglo terdapatlah bangunan rumah Joglo, Joglo Limasan
Lawakan atau Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Jampongan, Joglo Pangrawit, Joglo

                                                                                            85
Mangkurat, Joglo Wedeng, Joglo Semar Tinandhu, dan sebagainya. Dari jenis tajug dalam
perkembangannya terdapatlah bangunan rumah tajug (biasa untuk rumah ibadah), tajug lawakan
lambang teplok, tajug semar tinandhu, tajug lambang gantung, tajug semar sinonsong lambang
gantung, tajug lambang gantung, tajug semar sinonsong lambnag gantung, tajug mangkurat,
tajug ceblakan, dan sebagainya (Narpawandawa 1936-1936).
Disamping bentuk bangunan rumah baku tersebut, masih terdapat bangunan rumah untuk
musyawarah (rapat), rumah tempat menyimpan padi (lumbung) atau binatang ternak (kandang,
gedhongan, kombong), untuk alat-alat (gudang) dan sebagainya (Gatut Murdiatmo, 1979/1980;
Koentjaraningrat, 1971; almanak Narpawandawa, 1935-1938; Sugiyanto Dakung, 1982/1982;
Radjiman, 1986.


Komposisi dan Lingkungan Rumah Tempat Tinggal
Yang dimaksudkan dengan komposisi rumah ialah susunan dan pengaturan cetak bangunan lain
terhadap bangunan rumah tempat tinggal (induk). Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan
di sini ialah rumah tempat tinggal dan rumah-rumah kelengkapan dengan tata susunannya dalam
suatu rumah tangga sebuah keluarga
Dalam masyarakat Jawa, susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa
bangunan rumah. Selain rumah tempat tinggal (induk), yaitu tempat untuk tidur, istirahat anggota
keluarga, terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga
tersebut. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa, terletak di depan rumah tempat
tinggal, digunakan untuk menerima tamu. Rumah belakang (omah mburi) digunakan untuk
rumah tempat tinggal, di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. Pringgitan
ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit, bila yang
bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan, khitanan, dan sebagainya). Dalam pertunjukan
tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa, sedang tamu wanita ditempatkan di rumah
belakang. Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa, misalnya
Istana Ratu Boko di dekat Prambanan.
Bagi warga masyarakat umum yang mampu, disamping bangunan rumah tersebut, tempat
tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya, misal: lumbung, tempat
menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan.
Letaknya agak berjauhan. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri),
tempat memasak. Lesung, rumah tempat menumbuk padi. Terletak di samping kiri atau kanan
rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Kadang-kadang terdapat lesung
                                                                                              86
yang terletak di muka pendapa samping kanan. Kandang, untuk tempat binatang ternak (sapi,
kerbau, kuda, kambing, angsa, itik,ayam dan sebagainya). Untuk ternak besar disebut kandang,
untuk ternak unggas, ada sarong (ayam), kombong (itik, angsa); untuk kuda disebut gedhongan.
Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa, namun ada pula yang diletakkan di muka
pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau
ke kanan kandhang. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari
pendhapa.
Kadang-kadang terdapat peranginan, ialah bangunan rumah kecil, biasanya diletakkan disamping
kanan agak berjauhan dengan pendapa. Peranginan ini bagi pejabat desa bisa digunakan untuk
markas ronda atau larag, dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya.
Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang, berupa rumah kecil
ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Demikian
pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Biasanya
untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur, rumah belakang, sumur dan pendhapa.
Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol.
Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. Hal
tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Secara lengkap kompleks rumah tempat
tinggal orang Jawa adala rumah belakang, pringgitan, pendapa, gadhok (tempat para pelayan),
lumbung, kandhang, gedhogan, dapur, pringgitan, topengan, serambi, bangsal, dan sebagainya.
Jaman dahulu besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta status sosial
pemiliknya didalam masyarakat
 Masyarakat Jawa lama disusun atas dasar kedudukan sosial, teritorial, komunal, dan religius.
 Dasar tersebut dalam proses pembentukan masyarakat Jawa akan terpancar dalam ciri-ciri dasar
 masyarakat Jawa yang tetap mereka pertahankan dan mereka lestarikan keberadaannya dalam
 wujud pandangan dunia orang Jawa. Pandangan dunia dimaksudkan sebagai keseluruhan
 keyakina deskriptif tentang kenyataan suatu kesatuan antara alam, masyarakat, dan alam gaib,
 yang daripada Nya manusia berusaha memberi suatu struktur yang bermakna bagi
 pengalamannya.
Bagi orang Jawa, baik sebagai individual maupun anggota masyarakat, realita itu tidak dibagi-
bagi secara terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu sam lain, melainkan ia dilihat sebagai satu
kesatuan yang menyeluruh.
Bagi orang jawa dunia masyarakat dan dunia gaib, atau dunia Adi Kodrati bukanlah tiga bidang
yang berdiri sendiri-sendiri, dan masing-masing mempunyai hukumnya sendiri, melainkan
                                                                                            87
merupakan satu kesatuan pengalaman. Pada hakekatnya, orang Jawa tidak membedakan antara
sikap religius atau tidak religius dan interaksi-interaksi sosial religius, tetapi tetapi ketiganya
merupakan penjabaran manusia Jawa tentang sikapnya terhadap alam, seperti halnya sikap alam
yang sekaligus mempunyai relevansi sosial. Di sini antara pekerjaan, interaksi, dan doa tidak ada
perbedaan yang hakiki (Mulder, 1975:36).
Tolok ukur anti pandangan dunia orang Jawa adalah nilai pragmatisme atau kemanfaatannya
untuk mencapai keadaan senang, tenteram dan seimbang lahir dan batin antara dunia sini dengan
dunia sana. Oleh karena itu, apabila kita membicarakan pandangan dunia orang Jawa tidak
terbatas pada bidang agama, kepercayaan dan mitos, melainkan juga sistem pertanian, perayaan
pameran, kehidupan keluarga Jawa, seni dan budaya Jawa, sistem tempat tinggal dan lingkungan
tempat tinggal mereka. Maka perubahan yang terjadi akan meliputi pandangan hidup dan filsafat,
budaya politik Jawa, ekonomi, sosial dan budaya Jawa. Dalam hal ini Clifford Geertz telah
mengungkapkannya sebagai agama Jawa dala bentuk varian santri, abangan dan priyayi dalam
masyarakat Jawa (Cl. Geertz 1985). Sedangkan Magnis Suseno (1885: 83-85), mengutarakan,
terdapat empat lingkaran bermakna dalam pandangan dunia orang jawa, yaitu :
Lingkaran Pertama, lebih bersifat ekstrovet, ialah bersifat terhadap dunia luar yang dialami
sebagai satu kesatuan gaib yang Illahi, yang Adi Kodrati antara alam, masyarakat, dan alam adi
kodrati yang kudus yang dilaksanakan dalambentuk ritus, dan upacara-upacara inisiasi yang
diterima tanpa kritik dan tanpa refleksi eksplisit terhadap dimensi batin sendiri. Orang Jawa
mengatakan: “bisoa ngaji, nanging aja dadi modin”. Meksud pernyataan itu ialah bahwa agama
merupakan alat untuk mencapai tujuan. Tujuan akhir hidup manusia adalah manunggal dengan
sang Pencipta, Al Kholik.


Type dan sub type Joglo :Type dan sub type LimasanType dan sub type Kampung
1.TawonGoni                  1.Enom                          1.Pokok
2.Ceblokan                   2.Ceblokan                      2.Trajumas
3.Jompongan                  3.CereGancet                    3.GedhangSelirang
4.Pangrawit                  4.GotongMayit                   4.Sinom
a.Hageng                     5.Semar                         5.Apitan
b.LambangGantung             6.EmpyakSetangkep               6.Gajah
c.Mangkurat                  7.Bapangan                      7.GotongMayit
5.Lambangsari                8.KlabangNyander                8.CereGancet
6.Kepuhan                    9.Trajumas                      9.DaraGepak
                                                                                                88
a.Lawakan                10.Lambang               10.BayaMangap
b.Limolasan              11.Sinom                 11.PaculGowang
c.KepuhanApitan          12.Apitan                12.Srontongan
7.Apitan                                          13.KlabangNyander
8.Wantah                 Type dan sub type Panggang14.Jompongan
9.Sinom                  Pe                       15.Semar
10.Trajumas              1.Pokok                  16. Lambang Teplok
                         2.Trajumas
Type dan sub type Tajug /3.Kios
Masdjid                  4.Gedhang
                         5.CereGancet
1.TawonGoni              6.EmpyakSetangkep
2.Ceblokan               7.Barengan
3.Lawakan
4.Lambang
5. Semar




                                                                       89
                           Ramalan & Kejawen
Dihalaman ini kami sajikan ilmu ilmu dari aliran Jawa (Kejawen). Tiada maksud lain kecuali
ingin melestarikan apa yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia, khususnya dari aliran/ suku
Jawa.
Aliran ini banyak dikenal didaerah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, ada
kemungkinan berasal dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Ilmu pengetahuan yang kami sajikan kami sarikan dari buku buku kuna yang memuat segala
pengetahuan dari nenek moyang bangsa Jawa.
Semoga berguna bagi kita semua. dan untuk semakin mengagungkan kebesaran Illahi akan
keluasan Ilmu-Nya dan Kekuasaan-Nya. Amien


   Perwatakan bayi :
   Menurut tanggal lahirnya :
   Tanggal Sifat
   1        Angkuh, punya kemauan besar, mudah mundur jika ada halangan
   2        Banyak anak, banyak kawan, pelupa
            Ramah, sederhana, kaku namun mudah memaafkan, mudah sakit hati dan
   3
            perhatian.
   4        Pinta bicara, banyak pikiran positif, tidak mudah lupa
   5        Banyak bicara, suka memukul, cerewet dan tidak kikir
   6        Mudah lupa, ceroboh
   7        Pinta bicara
            Pandai menimbang baik / buruk, banyak saudara, rukun, berfikirnya kearah
   8
            positif.
   9        Mudah tersinggung, mudah memaafkan, berpikiran sederhana, iklas
   10       Pelupa, pandai berfikir, mudah mengadu baik dan buruk
   11       Mudah curiga namun bisa membedakan baik dan buruk sesuatu
   12       Pandai segala macam hal
   13       Pandai menebak, mudah memaafkan namun agak kasar
   14       Pandai bicara,objectif menilai sesuatu mudah percaya
   15       Tenang dalam berfikir,berbakat menjadi pujangga, banyak bicara
   16       Ceroboh dalam berfikir, bersifat malas
                                                                                        90
17       Banyak menimbang baik dan buruk, rukun
18       Punya kecenderungan main wanita dan hal buruk lainnya pandai bicara
19       Mudah tesinggung mudah memaafkan
20       Pendek pikirannya, pelupa mudah diadu domba
21       Mudah curiga namun tahu baik dan buruk
22       Jika diam semakin baik, jika banyak bicar pandai menebak.
23       Brangasan / kasar namun cuma sebentar
24       Suci, banyak bicara, pengetahuannya nyata
25       Pikirannya sederhana, cenderung jadi pujangga, banyak bicara
26       Ceroboh, malas cenderung berbuat buruk
27       Banyak pertimbangan baik dan buruk, rukun terhadap teman/ saudara
28       Bicaranya pedas, banyak bicara
29       Mudah tersinggung, gampang reda amarahnya
30       Angkuh, banyak keberuntungannya , jika ada halangan berani nekad




Ramal Nabi
Perhitungan ramal nabi adalah perhitungan orang jawa yang perhitungannya diambil dari
neptu orang tsb. Neptu adalah jumlah angka kelahiran dan jumlah weton.Misalnya orang
yang lahirnya Sabtu kliwon , neptunya 17, sebab sabtu = 9 dan kliwon = 8 , (9+8=17).
Ramal nabinya sbb:
Jumlah neptu      Ramal nabi            Watak
7                 Yunus                 Banyak anak, banyak godaan.
                                        Banyak makan, banyak bertengkar.Dan hindari
8                 Ayub
                                        makan sembarang telur.
                                        Menang perang, mudah menceritakan hal hal yg
9                 Musa                  memalukan pada saudara saudaranya, panas hati.
                                        Hindari daging kambing.
                                        Baik pekerjaannya berdagang dan tani.Hindari
10                Nuh
                                        makan ikan yg bisa terbang.



                                                                                       91
                                       Jauh dari bahaya, senang berbuat kebajikan.
11             Idris
                                       Hindari makan emping.
                                       Jangan mengambil harta yg bukan miliknya sebab
12             Ibrahim
                                       bisa membuat bahaya. Hindari makan otak
                                       Keberuntungannya banyak, banyak anak            yg
13             Adam
                                       sifatnya baik. Hindari makan ikan yg bisa terbang.
                                       Banyak harta, namun anaknya sedikit, banyak
14             Sulaiman
                                       musuh
15             Daud                    Banyak anak, banyak prihatin.
16             Isa                     Beruntung, banyak orang yg kasihan.
                                       Tidak punya harta, cenderung berbuat baik, tidak
17             Muhammad                suka foya foya, banyak musuhnya,
                                       keberuntungannya besar.
18             Yusuf                   Banyak beruntung, banyak harta




Bulan baik & bulan buruk untuk ijab perkawinan
Bulan Jawa           Akibatnya bila mengadakan ijab kabul
                     Pengantin sering bertengkar, sering menemui kesusahan (jangan
Sura
                     dilanggar)
Sapar                Keluarga kekurangan, banyak hutang ( boleh dilanggar)
Maulud               Keluarganya ada yang bakalan mati salah satunya ( jangan dilanggar)
Rabiul Akhir         Sering diomongin orang / dicela ( boleh dilanggar)
                     Bakalan sering dibohongi, banyak kehilangan, banyak musuh ( boleh
Jumadilawal
                     dilanggar)
Jumadilakhir         Kelurganya bakalan kaya
Rejeb                Bakalan banyak anak dan selamat
Ruwah                Selamat sentosa segalanya
Puasa                Banyak halangan besar (jangan dilanggar)
Sawal                Bakalan kekurangan, banyak utang ( boleh dilanggar)


                                                                                       92
    Dulkaidah                 Kurus, banyak bertengkar (jangan dilanggar)
    Sawal                     Kaya, banyak menemui kemuliaan
    Keterangan :
    Bulan yang baik untuk melaksanakan ijab pengantin ialah pada bulan : Jumadilalir. Rejeb,
    Ruwah, Besar jika dalam bulan bulan tsb ada hari hari : Selasa kliwon, Jum'at kliwon
    Namun jika hari hari tsb tidak ada maka bulan diatas termasuk bulan yang jelek buat
    mengadakan ijab pengantin.
    Lebih baik melanggar bulan bulan yang tidak begitu jelek pengaruhya yaitu : Sapar,
    Rabiulalkhir, Jumadilawal, Jumadilalhir , Sawal jika dalam bulan bulan tsb ada hari Selasa
    Kliwon dan atau Jum'at Kliwon.




Ilmu Nujum
Salan satu keilmuan orang jawa adalah ilmu nujum. Dibawah ini kami sajikan salah satu cara
yang digunakan untuk nujum, meramalkan sesuatu pekerjaan yang akan dilakukan.
Mohon digunakan sebagai bahan penambah wawasan saja, sebab untuk menghindari syirik dan
musyrik perlu dilakukan penataan niat batin . Dan hasilnya hanya dijadikan sebagai kehati
hatian untu melangkah lebih jauh. Ketahuilah hanya ALLAH SWT yang Maha Tahu dan Maha
Berkuasa atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini. Allahu Akbar
Jika mempunyai keinginan untuk melakukan suatu pekerjaan / keinginan dan ingin mengetahui
apakah bisa terlaksana / terkabul. Digunakan cara sebagai berikut :
Ambil kerikil / isi/ biji sawo atau barang lainnya satu genggam tangan, kemudian membaca AL
Fatekah 1x, Al Iklas 3x , kemudian isi tsb dihitung delapan -delapan ( dibagi delapan). Nah sisa
dari biji bjian ini jika sisa :
Sisa           Nama / Disebut                Pertanda
1              Bintang Juhra                 Jalan yag ditempuh lancar dan berhasil keinginannya
                                             Keinginannya tdk terkabul, lebih baik bersabar
2              Bintang Marih                 dahulu, sabar jika nekad, akibatnya tidak bakalan
                                             baik.
3              Bintang Sumsu                 Keinginannya terkabul dan baik
4              Bintang Jukal                 Sulit terkabul, selalu gagal usahanya



                                                                                              93
                                           Sulit terkabul keinginannya perlu usaha esktra keras
5             Bintang Mustari
                                           jika tetap ingin maju.
                                           Jika     keinginanya     berhubungan   dengan   wanita
6             Bintang Kamar                /kekasih akan berhasil, jika keinginannya hal yg lain ,
                                           sulit.
7             Bintang Nataris              Jika tahan godaan akan terkabul
8             Bintang Jukal                Tdk berhasil terlaksana


    Pengobatan cara kejawen :
    Dibawah ini beberapa cara pengobatan / penyembuhan cara Jawa :
    Jenis masalah                  Cara penyembuhan
                                   Tiap pagi dan sore hari, dibedaki dengan ramuan beras
    Setelah wanita melahirkan
                                   kencur selama sepekan.
                                   Minum jamu laos, bawang putih, garam goreng / disangrai ,
                                   diramu dikasih air dan diminum.
    Agar ibu bayi air susunyaAkar padi, akar kangkung, adas pulawaras, keningar dipipis (
    keluar banyak                  ditumbuk kasih air sedikit) dibuat bedak di payudara.
                                   Bunga delima putih, lebih baik jika mendapatkan yg
    Agar wanita disenangi orang
                                   bersusun, kunir, jinten hitam dipipis ditambah garam dan
    banyak
                                   diminum.
                                   Bengle, bawang putih, jongrahab, manisjangan, kencur,
    Ingin mempunyai anak
                                   suruh dipipis lalu diminum.
                                   Cabe, lempuyang, jahe dipipis lalu diminum, ampasnya
                                   dibuat bedak diperut dan dua kaki.
                                   Jika sakit panas : babal. daun plencing / daun so, adas
                                   pulawaras dipipis kemudian diratakan seluruh badan sampai
    Bayi sakit cacar air / panas   kaki.
                                   Cacar air : madu dan air kelapa hijau dicampur dan diminum
                                   kira kira satu cangkir.
                                   Adas satu jumput, bawang merah satu, kedhawung sepasang
    Bayi kembung
                                   dibakar semua lalu dipipis dan dibalutkan diperut.



                                                                                               94
                             Buah pala dan bunganya, santen kanil, jinten putih, kulit
Bayi muntah muntah
                             delima, jahe 3 iris dcampur air anggur dibalutkan diulu hati.




       "Sesuatu kebahagiaan yang sering lupa disyukuri yaitu kesehatan"




                                                                                         95
                                              Jamu
Pada waktu penjajahan Belanda ada                    Pada jaman pendudukan Jepang dan pada
beberapa jenis tumbuh-tumbuhan obat                  waktu revolusi fisik, obat-obatan moderend
memang sudah dilakukan penelitian-                   sudah sukar didapat, dan kalaupun ada
penelitian        dan     hasilnyapun     tidak      harganya sudah tidak terjangkau oleh daya
mengecewakan. Diantaranya memang                     beli rakyat jelata. Terdorong rasa turut
sudah       ada    yang     mempunyai      nilai     bertanggung    jawab    dan   hasrat   ingin
terapeotik yang menyakinkan misalnya :               membantu rakyat dengan obet yang mudah
kumis       kucing,       temulawak,     kunyit,     dan murah didapat, beberapa orang dokter
babakan pulai dan lain-lainnya. Dengan               telah mengambil prakarsa mencoba obat-
sendirinya         diutamakan           tumbuh-      obat asli ini langsung secara klinis terhadap
tumbuhan obat yang mempunyai segi-                   kasiatnya yang diperkirakan. Dari hasilhasil
segi komersil yang baik.                             percobaan ini antara lain terbitla buku “
                                                     Formularium medicamentorum Soloensis”
yaitu suatu buku yang memuat ramuan dari obat-obat asli yang sangat bermanfaat bagi
pengobatan penyakit-penyakit yang banyak diderita rtakyat dewasa itu. Setelah diperoleh
kemerdekaan, dan obat-obat moderen membanjiri pasaran. Percobaan klinis tidak dilakukan lai
terhadap obat-obat asli. Hal ini sangat disayangkan mengingat potensi-potensi yanh masih
tersembunyi didalam Jamu-Jamu kita. Padahal cara-cara yang telah dikerjakan oleh dokter-
dokter kita, sampai sekarang nasis duilakukan oleh dokter-dokter dinegara Tetangga kita seperti :
India, RRC, terhadap obat-obat asli dari negaranya masig –masing dapam rangka penggalian
sumber-sumber alam untuk keperluan farmasi. Berbeda dengan di Indonesia., dikedua negara
tetangga tersebut ilmu pengi=obatan tradisionil telah pula disesuaikan dengan perubahan jaman.
Marilah kita tinjau sejenak sejarah perkembangan ilmu pengobatan tradisional tersebut di negara
tersebut:


Negeri India
Dalam peninggalan-peninggalan tertua yang ditemukan adalah kitab “ RIGVEDHA”
diperkirakan ditulis sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Selain menguraikan ilmu pengobatan
dari jaman iyu, juga mencantumkan ssejumlah bahan yang digunakan sebagai obat, menyusul
kemudian kitab “Ayurvedha” berasal kira-kira dari tahun 1500 sebelum masehi dan yang terdiri
dari beberapa jilid. Kitab ini secara terperinci juga menguraikan suatu sistem ikmu pengobatan

                                                                                               96
yang dikenal dengan sistem Ayurvedha yang antara lain meguraikan tentang teori “Tridosha”.
Teori ini terdiri dari Vayu, pitta dan kapha.
Vayu atau angin mewakili susunan syaraf pusat. Pitta atau empedu, seluruh metabolisme didalam
tubuh. Kapha atau lendir mewakili pengaturan suhu tubuh oleh cairan-cairan tubuh. Kapha atau
lendir mewakili pengaturan suhu tubuh. Kitab inipun meuat kurang lebih 1500 jenis bahan obat
yang sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan selebihnya dari hewan dan mineral, lengkap
dengan pemiaraannya, pengolahannya, dan penggunaannya. Sistem pengobatan Ayurvedha
inilah yang kemudian berkembang sedemikian rupa sehingga pemerintah India mengaggap perlu
mendirikan perguruan tinggi khusus untuk mempelajari sistem ilmu pengobatan ini.
Dengan masuknya bagsa-bangsa lain ke India yang pada umumny merekapun membawa sistem
ilmu pengobatan dari negara masing masing-masing, maka selain dari sistem pengobatan
Ayurvedha di India, tedapat pula antara lain ilmu pengobatan Yunani dan Tibbi. Akhirnya
sedikit banyak ilmu-ilmu pengobatan ini bercampur dan menjadi ilmu pengobatan tradisionil
India dewasa ini. Kitab-kitab yang kemudian menyusul adalah kitab “ Sushruta Samhita “ kira-
kira berasal dari tahun 1000 sebelum masehi dan kitab “ Charaka Samhita “ kira-kira berasal dari
tahun 350. Kitab terakhir ini memuat kira-kira 2000 jenis bahan obat yang sebagian besar lagi,
terdiri atas tumbuh-tumbuhan dan sebagian kecil terdiri dari hewan dan mineral, lengkap dengan
penanamannya, pengumpulan bagian-bagian yang dipakai, khasiatnya beserta ramuan-ramuan
yang dibuat dari materia medica itu.
Penyelidikan-penyelidikan secara moderm dan sistematis baru dimulia pada tahun 1928. Salah
seorang pionir dalam bidang adalah Prof. Dr. Sir Ramnath Chopra, pada waktu itu profesor
dalam farmakologi dari School for tropical medicine di Calcutta.


Negeri Cina
Peninggalan yang tertua adalah kitab “ Pen Tsao “ dari 3500 tahun sebelum masehi. Kitab ini
adalah hasil karya seorang Kaisar bernama Shen Nung yang menulis ilmu pengobatan dari
zaman itu serta penggunaan dari 350 jenis tumbuh-tumbuhan sebagai obat. Selanjutnya ilmu
pengobatan kuno ini dari zaman ke zaman dan dari dinasti ke dinasti terus berkembang serta
menghasilkan pula tabib-tabib yang kenamaan.
Pada zaman dinasti han 350 tahun sebelum masehi, kitab Pen Tsao kaisar Shen Nung mngalami
revisi besar-besaran serta disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengobatan dan ditambah
dengan hasil-hasil penelitian dan penyelidikan-penyelidikan yang baru. Kitab ini disebut Shen


                                                                                             97
Nung Materia Medica. Ilmu pengobatan ini semakin berkembang sehingga menelorkan hasil-
hasil karya seperti :
Tang Materia Medica, Shu Materia Medica , Kai Pao Materia
Chia Yu Materia dan The Classified Materia Madica.
Kitab yang terakhir ini ditulus oleh Tang Shen Wei seorang tabib ternama dari dinasti Sung, kira-
kira pada tahun 1200.
Dari 350 jenis tumbuh-tumbuh obat yang tertera dalam Pen Tsao dari kaisar Shen Nung sekarang
telah menjadi 1000 jenis bahan obat lengkap dengan pemeriannya, penanamannya, pengumpulan
khasiatnya, ramuan, dan penggunaannya. Setelah dinasti Sung tidak ada lagi catatan-catatan
tentang perkembangan ilmu pengobatan tradisional.
Baru baru abad ke 16 yaitu sewaktu dinasti Ming tampil sebagai seorang tabib dan ahli farmasi
bernama Lie Shih Chen yang banyak jasanya dalam membantu berkembangnya ilmu pengobatan
tradisionil dengan car-cara penyelidikannya yang orisinil, ia diberi julukan “ The Great
Pharmocologist Of Ancient China “ semua pengalaman dari hasil penyelidikannya dibukukan
dalam sebuah kitab yang berjudul “ Pen Tsao Kang Mu “ atau “ The Compendium of Materia
Madica “
Kitab ini merupakan suatu “ masterpiece “ dan sampai sekarang masih merupakan bahan
pelajaran mahasiswa kedokteran kuno maupun modern dan menjadi pegangan bagi sarjana-
sarjana yang melekukan penelitia-penelitian ilmiah dari obat-obat asli Cina. Pen Tsao Kang Mu
memuat 1892 jenis bahan obat lengkap dengan cara pemiaraan, penanaman, pengumpulan,
penelitian, khasiat ramuannya, penggunaannya dll. Setelah dinasti Ming ilmu pengobatan
tradisionil tidak ada yang mnegmbangkan lagi. Ini sebagian disebabkan oleh karena masuknya
ilmu pengobatan barat ke negeri Cina.
Dewasa ini negeri Cina sedang giat melakukan penelitian-penelitian ilmiah secara sistematis dan
itensif terhadap obat-obat asli ini. Di tiap ibu kota propinsi terdapat laboratoria dan lembaga
penelitian yang lengkap dengan alat-alatnya yang modern.


Kekurangan kita.
Setelah kita melihat perkembangan ilmu pengobatan tradisinal di dua negara tetangga tersebut,
nyatalah bahwa kekurangan kita bahwa sejak semula di Indonesia ilmu ini tidak ada yang
membukukan hanya diturunkan secara lisan dari orang tua ke anak. Baru pada jaman kolonial
mulai ada orang –orang mencatat antara oleh Jacobus Bontius 1627 dengan hasil karyanya “
histiria Naturalist et Medica Indiae “ yang memuat 60 buah lukisan tumbuh-tumbuhan obat
                                                                                              98
Indonesia serta pemerian dan penggunaannya. Georgius Everhardus Rhumphius ( 1628 – 1702 )
yang menetap di Maluku dan mengadakan penyelidikan terhadap flora dan fauna kepulauan ini.
Hasil karyanya adalah “ Amboinisch Kruidboek “ dan Herbarium Amboinense.
Kemudian berturut-turut banyak lagi penulis-penulis tentang obat-obat asli indonesia, terlalu
banyak untuk diuraikan satu persatu.


Penelitian secara alamiah
Penelitian secara alamiah baru dilakukan pada akhir abad ke 19, antara lain oleh Gresshoff,
Vordermann, Boorsman dan lain-lain. Yang menghasilkan buku-buku anatar lain “ Onderzoek
Naar De Planten stoffen Van Ned – Indie :” 1890 “ Javaanse Geneesmiddelen “ 1894 “
Aanteekening Over Oostersche Geneesmiddelleer op Java “ 1913. Sebagimana kita lihat
inventarisasi dari obat-obat asli dan penyelidikan permulaannya sudah dilakukan. Usaha ini
harus diteruskan, karena merupakan titik tolak yang penting dalam penggalian sumber-sumber
alam untuk keperluan farmasi.


Follow Up
Sebagai follow up nya dari hasil inventarisasi harus dilakukan checking dab screening secara
sistematis terhadap hasil karya para penulis dan penyelidik terdahulu, disamping tentunya
mencari potensi-potensi baru dari sumber-sumber alam, bukan hanya dari Jawa tetapi juga dari
daerah-daerah luar Jawa, misalnya tabat barito dan pasak bumi yang dewasa ini sedang populer
dan berasal dari Kalimantan, belum pernah diadakan secara ilmiah. Penggunaannya sama halnya
dengan sebagian besar dari jamu-jamu kita, masih berdasarkan impiri.
Banyak lagi potensi-potensi yang tersembunyi diantara obat-obat asli kita. Jamu masih tetap
merupakan salah satu mata rantai penting dalam membantu meningkatkan kesehatan rakyat dan,
perlu sekali diadakan penelitian secara alamiah yang sistematis dan terkoordinir sehingga
manfaat dari jamu akan lebih dirasakan oleh rakyat. Untuk mengadakan penelitian-penelitian ini
kerjasama yang baik antara industri-industri jamu dan fakultas-fakultas farmasi, kedokteran dan
lain-lain adalah suatu keharusan sehingga tercapailah cita-cita kita untuk :
Menyelidiki obat-obat asli kita dengan tujuan menemukan obat baru dan dapat digunakan dalam
ilmu pengobatan modern. Indonesia berswasembada dalam bahan-bahan obat menggunakan
sumber-sumber alamnya sendiri. Mengusahakan agar obat-obat ini murah dan mudah didapat
oleh rakyat Indonesia.


                                                                                            99
Contoh tananam obat di Jawa.


Alamanda
Pohon setengah keras, menjalar atau merambat pada pohon lain. Daunnya berbentuk mata
tombak pendek, tetapi halus mengkilat, warna hijau tua, bunganya kuning. Pohon bergetah
tumbuh ditanah datar maupun pegunungan. Biasanya ditanam dipagar taman kota atau tepi jalan,
menanamnya dapat secar stek. Gunanya : untuk obat sakit paru-paru. Caranya : daun sebanyak
10-15 lembar, 3 gelas air direbus sehingga tinggal 1 gelas dan diminum dalam 1 hari. Untuk
anak-anak dapat setengahnya atau menurut umur, bunganya dikeringkan lalu ditumbuk halus.
Untuk dewasa satu atau dua sendok the tiga kali sehari. Untuk anak-anak setengah atau satu
sendok the tiga kali sehari.


Apokat
Jenis tanaman keras, tinggi pohon mencapai enam meter. Batangnya bercabang-cabang, bentuk
daun bulat telur, bentuk buah lonjong. Warna buah ada dua jenis, Yaitu : 1. Hijau jika masih
mentah dan cokelat kalau sudah masak. 2. Baik sudah masak maupun mentah tetap berwarna
hijau. Buahnya berdaging tebal, warna kuning kehijauan. Tumbuh baik di dataran rendah
maupun dataran tinggi, gunanya buahnya untuk buah ( mengandung vitamin A dan D ) dan
daunnya untuk obat sakit perut. Caranya : 10 lembar daun direbus dengan tiga gelas air hingga
tinggal satu gelas diminum dalam satu hari.


Asem Jawa
Jenis tanaman keras, tinggi pohon mencapai 12 meter, daun bersirip kecil, buahnya bergerombol,
kecil berpolong-polong berwarna cokelat. Rasa buah masam, tumbuh baik di dataran rendah
maupun tinggi. Gunanya daun muda untuk obat menstruasi ( apabila terasa sakit ). Buahnya
untuk bumbu masak, campuran manisan dan sirup. Caranya : untuk obat menstruasi, satu
genggam daun yang muda dicampur dengan dua jari kunyit dan setengah gelas air masak, lalu di
tumbuk halus, tumbukan itu ditambah air secukupnya kemudian disaring dan diminum.


Awar-awar.
Jenis tanaman keras, tinggi pohon mencapi dua meter. Bentuk daun seperti daun nangka, tetapi
lebih lebar, kalau disobek berbau manis dan sedap. Batangnya kecil dan berwarna putih.
Buahnya bulat kecil bergerombol dan menempel pada cabang ( seperti buah elo ) berwarna
                                                                                           100
kuning jika masih muda dan merah jika sudah matang. Tumbuh liar baik di dataran rendah
maupun tinggi. Gunanya : daunnya untuk obat ginjal, usus dan ambeien. Caranya : 15 lembar
daun tua direbus dengan empat gelas air hingga tinggal dua gelas, diminum empat kali dalam
sehari.


Blimbing lingir
Jenis tanaman perdu, tinggi pohon mencapai lima meter, warna batang cokelat kehitam-hitaman,
banyak cabang. Bentuk daun taji. Bunga kecil bergerombol berwarna merah keuanguan, bentuk
buah belimbing ( berlekuk-lekuk dengan penampang melintang ) terletak di ujung cabang.
Warna buah jika masih muda berwarna hijau, jika sudah masak berwarna kuning. Rasanya manis
segar, tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi, hanya jika didataran tinggi rasa buah kurang
manis. Gunanya : selain untuk buah, buahnya dapat membantu percernaan, dan menurunkan
darah tinggi. Dauan dan kulit kayunya juga dapat untuk menyembuhkan tekanan darah tinggi dan
membantu pencernaan. Caranya : 10 buah belimbing yang belum masak benar ( masih terasa
asam dan sepet ) di makan dalam satu hari atau 60 lembar daun atau satu tapak tangan kulit kayu
direbus dengan dua gelas air diminum empat kali sehari.


Camcau
Jenis tanaman lunak batangnya menjalar pada pohon lain. Bentuk daun seperti seperti daun waru,
berbulu halus. Tumbuh liar baik di dataran rendah maupun tinggi. Gunanya : untuk makanan (
agar-agar ) dan untuk obat sakit ( paru-paru, ginjal, hati dan usus ). Caranya : 20 lembar daun
diremas-remas dalam air masak sebanyak satu liter, kalau airnya sudah menjadi hijau lalu
diendapkan, lalu jadilah agar-agar tersebut.


Cengkeh
Jenis tanaman keras, tinggi pohon mencapai 15 meter bentuk daun mirip sawo manila. Kuncup
bunga berwarna hijau. Buahnya berpolong berbau sedap. Tumbuh baik di dataran rendah
maupun tinggi. Gunanya : bunga yang sudah kering untuk ramuan rokok kretek, ramuan jamu,
dan bumbu masak. Daun yang kering dapat diambil minyaknya untuk ramuan obat gosok.


Ceplok piring
Jenis tumbuhan yang pohonnya keras, tingginya sampai dua meter dapat tumbuh di dataran
rendah dan tinggi. Penangkarannya dengan di cangkok. Daunnya mirip daun alamanda, hanya
                                                                                            101
bentuknya lebih kecil. Bunganya berwarna putih seperti bunga mawar. Gunanya untuk
menurunkan sakit panas, caranya : daun 12-15 lembar direbus dengan air tiga gelas hingga satu
gelas. Untuk orang dewasa satu gelas satu hari, sedangkan untuk anak-anak minum setengah
gelas satu hari.



Adas (Fennel) Foeniculum Vulgare Mill
Alang-alang (Coarse grass) Imperata Cylindrica L.
Aren (Palm Sugar) Arenga Pinnata
Asam Jawa (Tamarind) Tamarindus Indica L .
Bangle (Purple Ginger) Zingiber Purpureum Roxb.
Bawang Merah (Red Onion) Allium Cepa L.
Bawang Putih (Garlic) Allium Sativum L.
Belimbing Manis (Ridged Longitudinally) Averhoa Carambola L.
Belimbing Wuluh (Sour Carambola for cooking) Averrhoa Bilimbi L.
Beluntas (k.o. Gardenia with edible leaves used to hedges) Pluchea Indica Less.
Brotowali - Tinospora Crispa Miers. Hook. F.& Thems
Cengkih (Clove) Eugenia Aromatica O.K., sinonim SyzygiumAromaticum L.
Dadap Ayam-Erythrina Variegata L.
Daun Asem Kecil (Yellow Oxalis) Oxalis corniculata
Daun Dewa - Gynura Divaricata Dc.
Daun Jati Belanda (Bastard Cedar) Guazuma Ulmifolia Lamk.
Daun Kupang (Ringworm Shrub) Cassia Alata
Daun Poko (Marah Mint) Mentha Arvensis
Daun Sariawan-Simlocy Cortex
Daun Wungu - Handeuleum-Graptophylum Pictum Griff
Daun Jintan - Plectranthus amboinicus (L.) Spreng.
Delima Putih (Pomegranate) Punica Granatum L.
Gambir (Gambier) Uncaria Gambir Roxb.
Iler - Coleus Atropurpureus L.
Jagung (Corn) Zea Mays L.
Jahe (Ginger) Zingiber Officinale Rosc.
Jambu Klutuk (Guava) Psidium Guajava Linn.
Jambu Monyet (Cashew) Anacardium Occidentale L.
                                                                                          102
Jarong (k.o. tree) Achyranthes Aspera L.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/jeruknipis_citrusaurantifolia.htmJeruk Nipis (Calamondin)
Citrus Aurantifolia Swingle
Jintan Hitam (Black Cummin) Nigella Sativa L.
Jungrahab- Baeckea Frutenscens
Kacang Hijau (Mung Bean) Phaseolus Radiatus L.
Kapulaga (Cardamom) Amomum Cardamomum Wild.
Kasturi (Musk, Civet) Hibiscus abelmoschus
Katuk B (k.o. bush yielding edible leaves and berries) Sanopus Androgynus (L) Merr.
Kayu Putih (Cajuput) Melaleuca L.
Kayu Rapat-Parameriae barbata Schum
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/kedaung_parxia roxburghii.htmKedaung (k.o. large forest
tree, the bark, leaves and seeds of which are used medically) Parkia Roxburghii G. Don
Kedelai (Soybean) Glycine max (L) Merr.
Kelapa Hijau (Coconut) Cocos Nucifera, L.
Kembang Lawang (China Cinnamon, Cassia) Lauraceae L.
Kembang Pukul Empat (Four o'clock Flower / Marvel of Peru) Mirabilis Jalapa L.
Kemloko - Pyllanthus Emblica Linn.
Kemukus - Cubeba Officinalis Miq.
Kemuning (yellow, k.o tree producting beautiful yellow wood) Murraya Paniculata Jack.
Kencur (Greater Galingale) Kaemferia Galanga L.
Kumis Kucing (Cat's Whiskers, Javaten, India Kidney Tea) Orthosiphon Aristatus BI. Miq.
Kunyit (Turmeric Plant, Saffron) Curcumae Domestica Val.
Keningar-Cinnamomum Burmani Bl.
Labu Merah (Pumpkin) Cucurbita Moschata
Lada (Paper) Piper Ningrum Linn.
Lada Panjang (Long Paper) Piper Retrofactum
Lempuyung Wangi (a medical plant of the ginger family) Zingiber Aromaticum
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/lengkuas_alpiniagalanga.htmLengkuas (Greater Galingale)
Alpinia Galanga Stuntz
Lidah Buaya (Aloe Vera) Aloe Vera L.
Melati (Jasmine) Jasminum Sambac Ait.
Mengkudu (Morinda) Mirinda Citrifolia L.
                                                                                           103
Meniran (Child pick a back) Phyllanthus Urinaria Linn.
Mentimun (Cucumber) Cucumis Sativus
Ngokilo - Strobilantes Crispus Bl
Padi (Reis) Oryza Sativa Linn.
Pala (Nutmeg Imace, Mace) Myristica Fragrans Houtt.
Pare (Bitter Melon or Momordica) Momordica Charantia L.
Patikan Kerbau-Euphorbia Hirta L.
Pegagan (Small Leaved Horsehoof Grass) Centella Asiatica Urban
Pepaya (Papaw) Carica Papaya L.
Pulosari - Alyxia Reinwardti
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/saga_abrusprecatorius.htmSaga (k.o. tall pinate tree and its
red seeds) Abrus Precatorius L.
Salam (Laurellike leaf used in cooking) Eugenia Polyantha Wight.
Sambiloto - Andrigraphis Paniculata
Seledri (Selary) Apium Graveolens L.
Sembung (Wild Heliotrope) Blumea Balsamifera D.C.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/sirih_piperbetle.htmSirih (Betle Peper) Piper Betle L.
Sosor Bebek (k.o. Flower) Kalanchoe Pinnata Pers.
Tapak dara (Perwinkle) Catharatus Roseus L.G. Don
Tapak Liman (Pricky Leaved Elephant's Foot) Elephantopi Scaber L.
Teki (Nut Grass, Field Sedge) Cyperus Rotundus L.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/tempuyung_sonchusarvensis.htmTempuyung-Sonchus
Arvensis L.
Temu Hitam - Curcuma Aeruginosa Roxb.
Temu Kunci (k.o. Root used for Spice and Medicine)
Temulawak (k.o. Wild Ginger) Curcuma Xanthorizza Roxb.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/tomat_solanumlycopersium.htmTomat (Tomato) Solanum
Lycopersicum




                                                                                           104
                  TEMBANG/LAGU RAKYAT
PUTERI SALA
Penyanyi :Waljinah
Putri Sala…
Dasare keparanyata……Pancen Pinter Alelewa….Dasar PutriSala……
Nganggo Selendang Pelangi…..Sumampir ana pundake…
Cunduke kembangmelati….Dadi lan pantese…….
Mung lakune kaya macan luwe……..
Sandal jepit pengangite……Kiyet kiyet suwarane…..
kelapkeliplah suwenge…Dasar putri sala………….
Putri Sala…….
Yen ngguyu dekik pipine ..ireng manis kulite…….
Dasar Putri sala….




WALANG KEKEK
Penyanyi :Waljinah                                 Ojo ngenyek yo..mas,karo wong
Caut jadi man ..paman…..Wong bedang                wedok…..
kepalang….                                         Yen ditinggal lungo….setengah mati….
Kali putung wote…..                                e..yaeyo….        yaeyo………          ,e
Putong wote…putung wote he..he….                   yaeyo……….
Tak sungguh ,pucung atine..dari mana……             yae……yaeyo eyaeyo…
Walang kekek menclok neng tenggok…                 Manuk sriti kecemplung banyu…Bengi
Kabur maneh menclok neng pari….                    ngimpi,awane ketemu……
Yen seneng ojo mung mandeng…Golekono               Walang      kekek      menclok   neng
ngendi omahe……                                     koro..Walang ijo walange putih……..
Walang kekek walange kayu…..Walang                 Bujang maneh..ora kluyuran…..Wong
kayu tibo neng lemah…                              sing duwe bojo..ora tau mulih.
Yen kowe seneng karo aku…                          Biso nggambang ora biso nyuling…Biso
Yen mung trimo..tak kon tunggu omah….              nyawang ora biso nyanding
Walang kekek….walange kadung…                      Walang            kekek        mabur
Walang kekek sampun rampung                        mbrengengeng..Walang ireng dowo
                                                   sotange…




                                                                                      105
NDE ANDE LUMUT                            YEN ING TAWANG ANA LINTANG
Putraku si ande ande lumut….                   Yen ing tawang ono lintang cah ayu….aku
Tumuruna     ana   putri   kang       unggah   ngenteni tekamu
unggahi…..                                     Marang mego ing angkoso,nimas…
Putriku kang ayu rupane………                     Sun takokne pawartamu
Kleting kuning kang dadi asamane……             Janji janji aku iling,cah ayu…
Bu…si Bu… kulo mboten purun…..                 Sumedot rasaning ati
Puti niku sisane si yuyu kangkang…             Linang lintang ngiwi iwi,nimas..
                                               Tresnaku sundul ing ati
                                               Dek sakmono janjimu disekseni
                                               Mego kartiko kairing
                                               Raso tresno asih
                                               Rungokno tangising ati
                                               Ginarung swaraning ratri,nimas..
                                               Ngenteni mbulan ndadari


CUBLAK CUBLAK SUWENG
Cublak cublak suweng…..suwenge ting gelenter……..
Mambu kutundung gudel…pak hempong, lera.. lere…
Sopo ngguyu ndelekake…………
Sir …sir…. pong ,dele gosong………..


SLUKU SLUKU BATOK
Sluku sluku batok batoke ela.. elo…
Siromo menyang solo
Oleh olehe payung muta
Mak jentit, lolobah,wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah,
Yen urip golek duwit




                                                                                   106
YO.. ! DOLANAN DAKON
Yo ..dolanan dakon….
Watu item…
Cacahe pitu……..
Neng alun alun….
Karo sarijem…….


BANG BANG TOT                 GUNDUL PACUL                ABRIT AKING
Bang bang tot,cendelo ewoGundul           gundul     paculBritaking….brit.aking,kandan
ewo …                         cul..gembelengan..          g Jeruk kan emas,
Sopo wani ngentut,ditumbakNyunggi                  nyunggiSokobomo
rajabrono……                   wakul..kul… gembelengan     sokaboma…bomane         rade
Nyangkali ngiseni kendi,      Watu    ngglimpang    seganejanoko…
Jeruk purut adah entut….!     dadi sak latar………           Jenta jentit jonoloka…………


GAMBANG SULING
Gambang suling kepenak unine…
Tulat tulit..kumandang swarane ..
u…unine mung..nrenyuhake..
Bareng lan kencrung…
Ketipung suling…
Sigrak kendandangane…..


NDOK IYEK
Ndok iyek …ndok….
Mbokmu lunga mbatik….
Di dicegat londo burik……
Jer jer mencokko pager




                                                                                   107
                                 PADANG MBULAN
KODOK NGOREK                     Yo..prokonco       dolanan   ono
Kodok       ngorek…       kodoknjobo..                               KIDANG
ngorek…..                        Padang         mbulan   padangeKidang…talun…
Ngorek neng blumbangan….. koyo rino…                                 Mangan kacang talun.
Teot…teblung             ,teot….Rembulane…                           Mil ketemil mil ketemil
teblung..                        Sing ngawe ..awe..                  Si kidang mangan lembayung
Teot teot …teblung………… Ngelekake…ojo                  podo    turu
                                 sore….


1. Maskumambang
Gambarake jabang bayi sing isih ono kandhutane ibune, sing durung
kawruhan lanang utawa wadhon, Mas ateges durung weruh lanang utawa
wadhon, kumambang ateges uripe ngambang nyang kandhutane ibune.


2. Mijil
ateges wis lair lan jelas priya utawa wanita.


3. Kinanthi
saka tembung kanthi utawa tuntun kang ateges dituntun supaya bisa
mlaku ngambah panguripan ing alam ndonya.


4. Sinom
tegese kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone
remaja supaya bisa ngangsu kawruh sak akeh-akehe.


5. Asmaradana
tegese rasa tresna, tresna marang liyan ( priya lan wanita lan kosok
baline ) kang kabeh mau wis dadi kodrat Ilahi.




                                                                                               108
6. Gambuh
saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yen wis jumbuh / sarujuk
njur digathukake antarane priya lan wanita sing padha nduweni rasa
tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.


7. Dandanggula
Nggambarake uripe wong kang lagi seneng-senenge, apa kang digayuh
biso kasembadan. Kelakon duwe sisihan / keluarga, duwe anak, urip
cukup kanggo sak kaluarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong
atine, bisa diarani lagu ndandanggula.


8. Durma
Saka tembung darma / weweh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripe,
banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyane kang lagi
nandhang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepengin darma / weweh
marang sapadha - padha. Kabeh mau disengkuyung uga saka piwulange
agama lan watak sosiale manungsa.


9. Pangkur
Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka.
Kang dipikir tansah kepingin weweh marang sapadha - padha.


10.Megatruh
Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi
wancine katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.


11.Pocung / Pucung
Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong
sak durunge dikubur.




                                                                        109
                              Mata uang kuno

RUPEE
Berbentuk bulat pada sisi muka tertera tulisan Jawa KEMPENI HINGLI-JASA HING SURA-
PRINGGA,di bagian atas ada huruf Z dan dibawahnya ada gambar sekuntum bunga.
Mata uang ini di buat di surabaya 1228 pada saat Inggris menguasai kepulauan indonesia 1811-
1816..
Dari ungkapan sejarah ternyata sejak jaman dahulu bangsa Indonesia telah menganel uang
sebagai alat tukar, hal ini dapat dibuktikan dengan bentuk-bentuk uang kuno yang diketemukan
yang terdapat di museum pusat Jakarta pada bagian NUMISMATIKA.
Disini dapat sisaksikan koleksi mata uang dari dahulu hingga kini ditinjau dari bahannya mata
uang tersebut dapat dibedakan menjadi 4 jenis : Emas, Perak, tembaga dan Timah. Dari
bentuknya dapat digolongkan : bentuk setengah bulat, bulat dan segi empat, ciri-ciri yang
menyatakan bahwa itu mata uang dapat diketahuai dari ukuran timbangan yang sama, bentuk
yang standar, praktis, serta mempunyai tanda tera sebagai tanda pengesahan dari raja / kerajaan
yang mengeluarkannya. Adanya berbagia macam uang yang dipergunakan di nusantara ini
sekaligus menunjukan hubungan antara kerajaan-kerajaan dalam perdagangannya telah
berkembang dengan baik, adapun sistem pembayaran dan penukaran dengan mata uang di
Indonesia melalui masa-masa sbb :


1. Pada Zaman Hindu jawa : dikenal mata uang seperti : Kresnala yang berasal dari kerajaan
Jenggala ( 896 – 1158 ) terbuat dari emas murni. Selain itu ada mata uang hindu berukuran kecil
serta uang gobong yang berbentuk bundar terbuat dari kuningan dan tembaga konon uang
tresebut di datangkan dari pegadang Cina yang pada waktu itu, awalnya belum diketahui
kegunaaannya, di duga sebagai syarat kelengkapan korban di kuil-kuil zaman Majapahit.


2. Pada Zaman Abad 16 dan sesudahnya, didareh Banten mata uang terbuat dari tembaga
bentuknya bulat berlubang, persegi enam ditengahnya dan bertuliskan “ Pangeran Ratu “ .mata
uang ini tidak diketahui tahun pembuatan dan zamannya. Namun jelas berlaku sebelum
masuknya agama Islam. Selain itu terdapat juga yang berbentuk lebih kecil dengan tulisan arab “
Pangeran ratu Ing Bantam “. uang ini berlaku zaman masuknya agama Islam pada zaman Sultan
Hassanudin dari kerajaan Goa Sulawesi tahun 1667, yang terkenal karena perjanjian Bongaaisch-
                                                                                            110
nya, yang terbuat dari emas putih namun jarang diketemukan. Sedang di kota Makasar tahun
1700 juga tredapat mata uang dari kerajaan Goa yang berbahan emas murni. Di Sulawesi
Tenggara kerajaan Buton yaitu Bida dan Kampua terdapat mata uang yang berbahan kain yang
ditenun oleh putri-putri raja ( Lapjesgeld ) mata uang ini setiap tahun diganti dan uang lama
ditarik dan dimusnahkan, sedang yang memalsukan diancam hukuman mati.
Di Kalimantan ditemukan mata uang terbuat dari tembaga 1812 dari zaman kerajaan
Banjarmasin. Di Madura ( sultan sumenep ) mempergunakan potongan-potongan mata uang
Spanyol ( Spaanse realen ) mata uang Belanda dan mata uang lainnya. Serta masih ada mata
uang yang berjenis lain yang dibubuhi stempel yang bermotif kembang, angka 600 dan tanda
pengenal saudagar.
Di aceh terdapat Acehsche mas yaitu mata uang emas dari kerajaan Pasai ( 1297 – 1326 )
dikeluarkan zaman Sultan Muhamad Malik Anzahir, ada juga mata uang yang terbuat dari perak
yang ditulis dengan teks arab ( 1172 ) mata uang tersebut didapt oleh P.C Arends dari salah
seorang perwira. Yang ternyata uang semacam itu dilebur uang dibuat peluru.


3. Pada zaman VOC ada mata-uang yang berasal dari Cina bentuknya berlubang persegi empat.
Mata-uang ini tidak dianggap sebagai alat pembayaran, tetapi alat pembayaran, tetapi sebagai
“tempel penningen” yaitu benda untuk upacara pengorbanan pada kuil-kuil. Mata uang ini masuk
ke Pulau Jawa bersamaan dengan mata-uang cina lainnya sebelum masuknya bangsa Portugis
dan Belanda. Sedangkan tujuan dari mata uang ini tidak diketahui dengan pasti namun sudah
tersebar luas diseluruh kepulauan Indonesia dan pengaruhnya sangat besar terutama pada
upacara-upacara sosial. Selain mata uang tersebut diatas, masih ada lagi mata uang dengan
ukuran besar terbuat dari tembaga dicampur dengan timah putih, uang inipun berasal dari Cina.
Pada tahun 1596 bangsa Belanda datang di Batam dan merekalah yang menemukan mata uang
ini, sedangkan waktu itu mata uang pribumi belum ada. Sebelum tahun itu saudagar-saudagar
Cina memasukkan mata uang ini sebagai alat pembayaran atas rempah-rempah, sedangkan asal
usul sesungguhnya mata uang ini tidak diketahui. Selain itu diperkirakan pada tahun 1600 bagsa
Spanyol dan Portugis datang ke pulau Jawa dengan mambawa “Real Batu” yaitu mata uang
perak yang bentuknya kasar dan tak teratur.


4. Sejak jaman penjajahan Belanda di Indonesia pada abad ke-18 di Indonesia beredar mata uang
ringgit dari negeri Belanda yakni:
- Seri Raja Willem der Nederladen tahun 1840
                                                                                           111
- Seri Raja Willem II der Nederladen tahun 1848
- Seri Raja Willem III der Nederladen tahun 1865
- Seri Ratu Wilhelmina der Nederladen tahun 1930
Mata uang-mata uang ini terbuat dari logam, selain dipakai didunia perdagangan, digunakan
untuk pembayaran-pembayaran khusus didalam upacara adat perkawinan di Sumatera Selatan.
Karesidenan Palembang (daerah Komering dan Pasemah). Pemakaian uang asing lainnya
berdasarkan atas adat didaerah tersebut dianggap oleh masyarakat sebagai turun gengsi.
Berhubung dengan adat kebiasaan macam inilah, maka sering kali uang logam ini disewakan
pada orang yang tak mampu dan kemudian dikembalikan pada pemiliknya pada upacara adat
telah selesai.
Juga ada uang logam (ringgit) yang dicap oleh suatu Perusahaan Dagang yang besar dengan
maksud sebagai “jaminan”. Suatu hal yang menarik dalam abad ke-19 yaitu adanya mata uang
tertentu dimana Pemerintah Hindia Belanda dalam tahun 1934 berkeinginan untuk mengedarkan
pecahan uang logam yang bernilai seperempat (0,25) Cent. Uang logam yang amat rendah
nilainya ini meskipun sudah dicetak dan dibuat, akhirnya tidak jadi diedarkan, karena
dikhawatirkan akan adanya dan juga untuk menghindari tuduhan bahwa Pemerintah Jajahan pada
saat itu ingin lebih menekan lagi kehidupan rakyat Indonesia yang sebelum itu telah dikuras
penghasilannya sehingga bertambah miskin dan tertindas. Perlu diketahui bahwa satu-satunya
mata uang Pemerintah Belanda di Indonesia yang terbuat dari perak bernilai 1/20 (seperdua
puluh) Gld = 5 Cent (tahun 1815). Sesudahnya mata uang jenis ini dibuat lagi dari nikkel yakni
pada tahun 1913, 1921 dan 1922. Hal lain yang menarik ialah adanya mata uang yang khusus
berlaku dilingkungan perkebunan, misalnya :
1. Kisaran : Unternehmung (Deli-Sumatera) dengan nilai nominal setengah tahun1888 dolar
2.Soembar doeren: di Pasuruhan-jawatimur dengan nilai 50 cent terbuat dari tembaga


Mata uang sekarang
Sidang kabinet terbatas atau sidang stabilisasi ekonomi tanggal 10 agustus 1971 menetapkan
bahwa setiap departemen hanya mempunyai satu hari bersejarah saja yang layak diperingati
setiap tahun.
Berdasarkan keputusan tersebut kemuadian Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan
keputusan No. Kep 202/MK/11/4/1973 tanggal 7 april 1972 menetapkan tanggal, 26 oktober
sebagai “ Hari Keuangan “ Penetapan tanggal tersebut diambil dari sejarah mulai berlaku dan


                                                                                          112
beredarnya uang ORI ( Oeang Repoeblik Indoensia ) pada tanggal, 26 oktober 1946, peringatan
pertama kali hari keuangan diadakan pada tahun 1972 yang lalu
Untuk sejenak mengenang kembali kejadian tanggal, 26 oktober 1946 yang lalu, marilah kita
ikuti kisahnya.
Tepat pada jam 12 tengah malam tanggal 26 oktober 1946, menteri keuangan republik Indonesia
pada waktu itu menetapkan uang ORI mulai berlaku dan beredar diseluruh wilayah republik
Indonesia, berdasarkan undang-undang no.17 tahun 1946 dan No.19 tahun 1946, dengan
penetapan tersebut maka negara republik Indoensia telah mempunyai mata uang sendiri sebagai
salah satu atribut suatu negara yang merdeka dan berdaulat.
Sejak tanggal, 26 oktober 1946 tersebut, uang ORI mengalami perkembangan yang
mengesankan dan dicetak di pusat-pusat perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia sesuai
dengan gerak dinamika perjuangan bangsa, maka uang ORI yang beredar di Indonesia waktu itu
bermacam-macam jenisnya, tidak seperti pada dewasa ini dimana hanya beredar satu jenis mata
uang saja yaitu “ Rupiah “ pada saat itu kita mengenal uang ORI yang beredar di Jawa, uang
ORIPS di Sumatera, ORITA di Tapanuli, ORIPSU dan ORIPBA di Aceh. Meski uang tersebut di
cetak dengan alat sederhana dan menggunakan klise dari kayu namun uang ORI telah
melambangkan kesatuan tekad bangsa dan dapat menjalin perasaan seperjuangan serta telah
berfungsi dengan baik sebagai alat tukar serta mendaptkan kepercayaan sepenuhnya dari rakyat.
Dengan terbentuknya RIS ( republik Indonesia Serikat 1950 ) uang ORI tidak berlaku lagi dan
diganti yang sekarang




                                                                                          113
                                        Perkutut




"klangenan memelihara burung perketut"
Kegemaran memelihara burung perkutut /klangenan Perkutut merupakan warisan budaya jawa
yang hingga kini masih dilestarikan, hal ini dimungkinkan di dalamnya mengandung nilai-nilai
ajaran yang adiluhung sifatnya. Para leluhur kita, khususnya orang Jawa, telah menempatkan
burung Perkutut begitu terhormat dibanding jenis burung yang lain. Burung Perkutut dianggap
punya tuah mistis yang bisa disejajarkan dengan tuah mistis pusaka (keris dan azimat lainnya).
Berkaitan dengan tuah mistis Perkutut tersebut leluhur Jawa mewariskan ilmu tentang
"katuranggan Perkutut"(ilmu hal ihwal perkutut). Berdasar ilmu katuranggan tersebut, bisa
diketahui pengaruh burung Perkutut (yang mempunyai ciri-ciri tertentu) terhadap pemiliknya.
Ada burung yang setengah dianjurkan untuk dipelihara, ada juga jenis yang tidak boleh
dipelihara oleh sembarang orang. Memelihara Perkutut dulunya lebih cenderung kepada suatu
klangenan. Artinya barang (dalam hal ini, burung) yang dimiliki bisa memberikan rasa senang
dalam batin atau bisa mempersembahkan keindahan kepada pemiliknya. Dalam bahasa Jawa
Kuno mempersembahkan keindahan istilahnya kalangon atau kalangwan. Barangkali pula kata
klangenan dalam bahasa Jawa kini berasal dari kata kalangon atau kalangwan tadi. Sudah barang
tentu yang bisa mempunyai klangenan pada waktu dulu adalah golongan masyarakat priyayi,
berduit, atau punya kedudukan penting di tengah masyarakat. Dengan demikian pengetahuan
tentang Perkutut tidak bisa merambah ke rakyat biasa. Alasannya, rakyat kebanyakan belum pas
mempunyai klangenan,dikarenakan kesibukannya dalam mencari nafkah. Bagi rakyat biasa
biasanya hanya sebagai penangkap burung (tukang pikat). Dikarenakan Perkutut sebagai
klangenan, maka para penangkap burung memburu burung yang bagus kualitas suaranya
memenuhi pesanan para priyayi yang tinggal di kota. Sebaliknya para pemelihara yang
menganggap burung yang dipelihara sebagai klangenan, maka tidak terpikirkan untuk


                                                                                             114
membudidayakan atau mengembang biakkan dengan cara diternak. Akibatnya Perkutut di alam
bebas semakin langka yang bagus, bahkan cenderung punah.
Jaman sekarang kegemaran memelihara Perkutut sebagai klangenan khas Jawa ini ,rupanya telah
menular kepada etnis Tionghoa yang tinggal di bumi Jawa. Barangkali oleh orang Tionghoa
yang bernaluri bisnis tinggi ,menganggap Perkutut bisa dijadikan sarana berhubungan dengan
kekuasaan yang ada. Dan kalau hubungan dengan kekuasaan terjadi, maka lancarlah bisnisnya.
Orang-orang Tionghoa memang sangat jeli melihat peluang bisnis. Begitu mengetahui burung
Perkutut di alam bebas Indonesia mendekati kepunahan, mereka mendatangkan burung Perkutut
dari Thailand. Semula Perkutut Bangkok kurang menarik bagi penggemar di Indonesia, karena
suaranya kurang memenuhi selera. Kesannya hanya besar tapi tanpa lagu. Para pedagang burung
Thailand (yang awalnya kebetulan juga etnis Tionghoa) sangat kreatif untuk memenuhi selera
pasar di Indonesia. Disamping mereka mengekspor burung ke Indonesia, juga membeli burung
dari Indonesia. Perkutut Indonesia itu kemudian disilangkan dengan Perkutut Bangkok. Bahkan
persilangan begitu berkembang dengan berbagai jenis Perkutut yang ada di Asia Tenggara. Dan
hasilnya burung Perkutut Bangkok yang di ekspor ke Indonesia bisa memenuhi selera penggemar
di Indonesia. Sampai saat ini hubungan silang menyilang Perkutut antara Indonesia dan Thailand
terus berlanjut. Maka semakin menarik dan menjadi tantangan bagi kita, Bangsa Indonesia,
untuk menggeluti Budidaya Perkutut agar warisan budaya ini bisa dilestarikan.
Pada awal pertama seseorang berminat untuk memelihara burung Perkutut seyogyanya berusaha
memahami lebih dahulu tentang dasar suara burung Perkutut. Pada masa sekarang, bunyi yang
diminati para penggemar sudah mengalami perubahan. Meskipun demikian tetap saja
menggunakan 5 (lima) pokok dasar penilaian suara : 1. Suara depan : hoor, kini telah
berkembang dari nilai rendah ke atas : Hoor, Klaar, Wee, Kleo, dan Klao. 2. Suara tengah : kete,
berkembang dalam beberapa jenis : - telon : te , sehingga bunyinya : hoor te kuung - engkel :
tete, sehingga bunyinya : hoor tete kuung - satu setengah : tetete, sehingga bunyinya : hoor tetete
kuung - double : tete tete, sehingga bunyinya : hoor tete tete kuung - double setengah : tete tetete,
sehingga bunyinya : hoor tete tetete kuung - triple : tete tete tete, sehingga bunyinya : hoor tete
tete tete kuung 3. Suara belakang : kuung merupakan yang terbaik, dibawahnya kooo, kemudian
kuuk yang terendah nilainya. 4. Irama : merupakan perpaduan suara depan, tengah, dan
belakang. Yang bagus lelah atau laras (Jawa). Ketukan iramanya terdengar merdu menyentuh
rasa keindahan, seolah-olah menjadi perantara antara yang ada dan suwung.
Ibarat suara gamelan dalam Pathet Manyura atau Pathet 9 yang mempunyai pengaruh
menenangkan. Sedang irama yang kurang baik adalah yang groyok dan rentet, suaranya
                                                                                                 115
mempengaruhi perasaan menjadi gelisah. 5. Dasar suara atau latar. Jenisnya beberapa macam,
diantaranya : - Cowong tembus : bening merdu dan mendengung, kira-kira seperti suaranya
Pavaroti atau Nyi Condro Lukito. - Cowong : merdu jangkauan suaranya sedang, Kristal :
melengking tinggi dan terdengar jelas bunyi (ng). - Arum : suara sedang tanpa bunyi (ng) - Alus
atau ulem (Jw.) - Kaku atau keras (atos, Jw.), belakangnya terkunci bunyi (k) : hoor kete kuuk -
Tebal (Kandel) : mantap terdengarnya. - Tipis (lemah) : lirih suaranya.
Perpaduan lima dasar penilaian suara tersebut yang menentukan bagus tidaknya suara Perkutut.
Hal ini sulit dijelaskan dengan tulisan, maka kami anjurkan untuk mendengar langsung secara
praktek kalau ada lomba atau latihan lomba. Pada dasarnya suara burung Perkutut tidak ada yang
sama persis meskipun berasal dari induk yang sama. Maka memilih suara butung Perkutut untuk
klangenan subyektif sekali sifatnya. Kecocokan hati setiap orang terhadap suatu jenis suara
burung perkutut tidak sama.
Maka suatu anjuran yang sederhana dan sekiranya bisa dijadikan pedoman adalah memilih suara
burung yang cocok dengan hati dan perasaan kita masing-masing. Dengan demikian semakin
mengendap kemampuan spiritual seseorang akan semakin mudah menemukan suara burung
Perkutut yang sesuai dengan citarasanya. Maka bisa dipahami juga kalau pada para penghayat
Spiritualisme Jawa kebanyakan juga penggemar Perkutut. Memang pada dasarnya untuk bisa
memahami tentang suara Perkutut dituntut pula pemahaman tentang hidup yang selaras dan
tenteram serta menjauhi semua kemungkinan persengketaan dengan siapapun termasuk dengan
alam. Yang diinginkan adalah keindahan yang selaras sebagaimana kebanyakan orang Jawa
berpandangan hidup. Seperti telah kami singgung bahwa dalam bahasa Jawa Kuno dikenal kata
Kalangwan atau Kalangon yang artinya mempersembahkan keindahan. Dari akar kata Kalangon
itulah muncul kata Klangenan yang barangkali artinya menangkap atau bergumul dengan
keindahan.


PERKUTUT PUTIH.
Menurut wacana kejawen, perkutut putih dipercaya membawa kekuatan magis. RM Ng
Prodjosudardjo yang paranormal menyebutkan sebagi burung siluman, jelmaan roh. Konon bisa
membawa keberuntungan bagi yang memelihara, tak heran berung jenis ini tidak hanya diburu
para hobi. tetapi juga mereka yang meyakini akan manfaat tuahnya
Sayangnya perkutut putih amat sangat langka, jangankan yang sudah " kung " belum bisa apa
pun asal seluruh bulunya warna putih orang sudah berani menawar dengan harga tinggi. Terlepas
dari kata tidaknya, unsur magis menurut Ir. Suharno Budi Santosa, perkutut putih sebenarnya
                                                                                            116
merupakan kasus penyimpangan gen. Ini kasus langka dalam khasanah perkutut. Prosentasenya
sangat kecil dan belum tentu satu kasus dari seribu perkutut.
Berdasarkan ciri fisik, akibat penyimpangan gen, perawakan maupun suara perkutut putih lebih
jelek ketimbang perkutut biasa. Serba lebih kecil. Yang kata, perkutut putih tidak bisa
ditangkarkan , karena rata-rata perkutut putih itu mandul.
Mengamati kebiasaan serta perilakunyajenis perkutut ini , sebenarnya tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang mencolok dibanding perkutut normal. Sehingga kadang mengherankan, kenapa
perkutut macam begini harganya bisa setinggi langit, bisa puluhan juta rupiah.
Perkutut putih tidak setiap saat bisa didapat, di pasar burung trasional apalagi.!Begitu sulitnya
mencari perkutut putih, sementara kenyataan permintaan pasar cukup tinggi, sering membuat
orang berbuat curang, sehinga bagi pemula sulit membedakan perkutut putih asli dengan yang "
sudah dipermak "
Adapun sebagai acuan ciri ciri yang asli sbb:
Paruhnya harus juga putih,namun agak kemerahan,kaki merah muda,bulu ekor bagian bawah
walaupun segaris/se titik biasanya ada unsur warna coklat,demikian juga bulu sayap ada motif
bintik bintik (blirik) transparan coklat kemerahan.




                                                                                             117
                             Pasinaon Basa Jawa

Siapa sangka, ternyata cukup banyak orang yang tidak bisa berbahasa Jawa. Bahkan orang Jawa-
pun ada yang termasuk dalam kelompok ini.
Berangkat dari kenyataan itulah kami mencoba memberikan bimbingan pelajaran bahasa Jawa
dalam format yang mudah dicerna. Penyajian dibagi dalam tiga kelompok:
1. cerita aktual (kejadian aktual)
2. melengkapi kalimat (dalam konteks berkomunikasi)
3. menjawab pertanyaan
Semuanya tetap dipandu dengan adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia di bagian bawah.
Kami berharap bantuan kecil ini paling tidak dapat menyegarkan kembali ingatan kita pada
bahasa Jawa yang --mungkin-- telah kita kuasai di masa lampau.
Selamat belajar dan semoga sukses


BASA NGOKO
Tembung basa ngoko sejatine mung cekakan kanggo nggampangake pangrembug. Dene
komplite yaiku basa ngoko lugu. Mulane basa ngoko temen-temen basa sing lugu. Tembung lugu
tegese asli, murni, bares, lan tumemen. Dadi bisa diarani yen basa ngoko iku basa sing isih asli.
Asli miturut kodrating manungsa lan asli miturut kapribadene wong Jawa.


I. Wewatone Basa Ngoko:
a. Tembung-tembung kapilih sing apik lan prayoga, antarane:
1. tembung ngoko sing utama utawa susila (normatif), sopan (etis), ora kasar, ora saru, lsp.;
gampangane apik lan prayoga.
2. Tembung ngoko sing umum, dudu dialek, dudu tembung nggon-nggonan.
3. Sabisa-bisa nggunakake tembung Jawa asli. Menawa ora ana tembunge Jawa, lagi kena
nganggo tembung Indonesia utawa tembung asing, kejaba tembung Indonesia utawa asing sing
wis dadi tembung Jawa (kata serapan).
4. Kabeh nggunakake tembung ngoko, ora kacampur tembung krama utawa krama inggil.
Tumrap tembung andhahan, ater-ater lan panambange uga tetep ngoko.
b. Pangrakiting ukara gampang dingerteni, sabisa-bisa miturut paugeran basa utawa
paramasastra. Tuladhane tataning jejer (subyek), wasesa (predikat), lesan (obyek) lsp.
                                                                                             118
c. Nganggite basa gampang dimangerteni lan nyenengake (komunikatif).
d. Susunane panalaran (logika) runtut, ora pating blasur.
Wewaton kasebut wigati banget, amarga basa ngoko minangka landhesan tumrap undha-usuking
basa liyane. Lire, basa ngoko alus, basa krama, lan basa krama alus tansah mbutuhake dhasar
basa ngoko sing apik lan prayoga.


II. Paedahe Basa Ngoko
a. Basa ngoko kanggo rembugan wong sing statuse sadrajad utawa luwih cendhek, contone guru
karo murid, wong tuwa karo bocah enom, lsp, uga karo wong sing wis kulina banget. Perlu
kagatekake yen paedahe basa ngoko sing kanggo sesambungan tumrap sapadha-padha, iku basa
ngoko lumrah sing ngemu subasita miturut kapribadene wong Jawa. Tembunge basa Indonesia:
interaksi sosial yang normatif.
b. Kanggo sesorah, menehi andharan lsp marang wong akeh (audiensi) sing tangkepe
(interaksine) wis akrab, lan dirasakake luwih kepenak menawa nganggo basa ngoko.
c. Kanggo nulis ing kalawarti, bulletin, buku, lsp sing asipat umum, kayata: wara-wara, plang
(papan nama), tawa dagangan (iklan) lsp. Kejaba sing kudu mbutuhake basa krama.


III. Basa Ngoko Baku lan Ora Baku
Miturut teori, basa ngoko baku yaiku basa ngoko sing netepi wewaton kaya kapacak ing angka
romawi I dhuwur. Dene sing ora, diarani basa ngoko ora baku utawa kurang baku. Nanging cak-
cakame (dalam praktek) basa ngoko sing bener-bener baku iku arang-arang, amarga wewaton
kasebut mung satunggale ancer-ancer sing diidham-idhamake (kaidah yang ideal). Wewaton mau
paedahe minangka pandom (pedoman) supaya padha ngudi nyedhaki basa ngoko baku.
Lumrahe basa ditulis luwih gampang nyedhaki basa ngoko baku katimbang basa lesan, amarga
tumrap basa tinulis wong sing ana wektu sing longgar kanggo nglelimbang anggone netepi
wewaton kasebut.
(ana candhake)


BAHASA NGOKO
Istilah bahasa ngoko sebenarnya hanya singkatan untuk memudahkan penyebutan. Lengkapnya
bahasa ngoko lugu. Maka bahasa ngoko benar-benar bahasa yang lugu/lugas. Kata lugas berarti
asli, murni, apa adanya, dan nyata/benar. Jadi dapat dikatakan jika bahasa ngoko itu bahasa yang
masih asli. Asli menurut kodrat manusia dan asli menurut kepribadian orang Jawa.
                                                                                             119
I. Dasar Bahasa Ngoko:
a. Kata-kata dipilih yang baik dan benar, antara lain:
1. Kata ngoko yang utama atau susila (normatif), sopan (etis), halus, lsp.
2. Kata ngoko yang umum, bukan dialek, bukan kata yang dipakai di tempat tertentu saja.
3. Sedapat mungkin menggunakan kata Jawa asli. Aapabila tidak ditemukan, baru menggunakan
kata Indonesia atau kata asing, kecuali kata Indonesia atau asing yang sudah menjadi kata
serapan.
4. Semua menggunakan kata ngoko, tidak dicampur kata krama atau krama inggil. Bagi kata
bentukan, awalan dan akhiran juga tetap menggunakan ngoko.
b. Pembentukan kalimat mudah dipahami, sedapat mungkin sesuai dengan kaidah tata bahasa.
Contohnya Urut subyek, predikat, obyek, lsp.
c. Pembentukan bahasa mudah dimengerti dan menyenangkan (komunikatif).
d. Penyusunan kalimat runtut sesuai logika, tidak tumpang tindih.
Dasar tersebut sangat penting, sebab bahasa ngoko sebagai patokan bagi tataran bahasa lainnya.
Yang jelas, bahasa ngoko alus, bahasa krama, dan bahasa krama alus selalu membutuhkan dasar
bahasa ngoko yang baik dan benar.


II. Manfaat Basa Ngoko
a. Bahasa ngoko untuk bercakap-cakap bagi orang yang mempunyai status sama atau lebih
rendah, seperti guru dengan murid, orang tua dengan anak muda, dst, juga dengan orang yang
sudah akrab. Perlu diperhatikan, jika manfaat bahasa ngoko yang dipakai untuk komunikasi
sesama, itu bahasa ngoko wajar yang mengandung kesopanan menurut kepribadian orang Jawa.
Istilah dalam bahasa Indonesia: interaksi sosial yang normatif.
b. Untuk pidato, memberi uraian dan sebagainya bagi khalayak (audiensi) yang komunikasinya
sudah akrab, dan dirasakan lebih menyenangkan jika menggunakan bahasa ngoko.
c. Untuk menulis di majalah, bulletin, buku, dst yang bersifat umum, seperti: pengumuman,
papan nama, iklan dst. Kecuali yang harus membutuhkan bahasa krama.


III. Bahasa Ngoko Baku dan Tidak Baku
Menurut teori, bahasa ngoko baku yaitu bahasa ngoko yang sesuai dasar seperti dalam angka
romawi I di atas. Sedangkan yang bukan, disebut bahasa ngoko tidak baku atau kurang baku.




                                                                                            120
Tetapi menurut praktek, bahasa ngoko yang benar-benar baku itu sangat jarang, sebab dasar
tersebut hanya salah satu kaidah yang ideal. Dasar tadi bermanfaat sebagai pedoman agar
berusaha mendekati bahasa ngoko baku.
Pada umumnya bahasa tulis lebih mudah mendekati bahasa ngoko baku dibanding bahasa lisan,
sebab bagi bahasa tulis orang ada waktu luang untuk menyempurnakannya.




                                           BUYA IMA IBNU FACHRU ROZI




                                                                                      121

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:65661
posted:2/11/2011
language:Malay
pages:121
About good man