Sejarah Perkembangan Sastra Arab by z41n5ul

VIEWS: 1,229 PAGES: 16

									Sejarah Perkembangan Sastra Arab -Masa awal Islam-

Islam telah menggoreskan sejarah perubahan yang menyeluruh pada sistem kehidupan manusia,
baik dari segi spiritual, sosial, politik maupun sastra dan budaya, perubahan tersebut tidak hanya
terbatas bagi bangsa arab saja, namun

mencakup seluruh bangsa yang tersentuh oleh dakwah islam, sehingga bangsa tersebut tersinari
oleh cahaya dan keutamaan iman.

Ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad sendiri lahir pada suatu lingkungan yang memiliki
budaya dan nilai tertentu, maka benturan islam terhadap nilai-nilai tersebut pun tak dapat
terelakkan, sehingga islam datang untuk membatalkan seluruh nilai yang tidak sesuai ajarannya
yang tinggi namun tetap mempertahankan hal-hal yang sejalan dengannya.

Sastra Pada periode ini dengan jelas menggambarkan kepada kita tentang kehidupan masyarakat
islam yang bergitu gemilang jauh dari kekacauan, sebuah lembaran sejarah yang paling indah, kita
baca baris-barisnya yang akan menghembuskan aroma keikhlasan, memperlihatkan cahaya tauhid
dan menampakkan sebuah semangat yang mampu merontokkan gunung, dan menundukkan
berbagai macam kesulitan. Lembaran sejarah itu telah ditulis dengan darah para syuhada yang
kelak pada hari kiamat akan menebarkan bau wangi bak minyak misik, baris-baris mutiara itu
ditulis oleh tangan-tangan yang suci dan hati yang sehat nan tulus. sebuah masa dimana
kehidupan begitu tenteram dikarenakan keimanan yang ada pada hati-hati mereka. Pada periode
ini sastra pun berkembang sesuai dengan ruh keislaman.

Natsr atau prosa

Khutbah : Pada periode ini kedudukan syair mulai tergantikan oleh khutbah dikarenakan beberapa
hal, antara lain :

    1. Semangat untuk menyebarkan cahaya islam dengan dakwah dan jihad.
    2. Pengaruh Al-Qur’an dan Hadits terhadap kefasihan sastra arab.
    3. Berkembangnya diskusi antar masyarakat dalam berbagai pembahasan baik sosial-politik
       pendidikan dan sebagainya.
    4. Penjelasan kebijakan politik dan hukum para khalifah.

Contoh Khutbah Pada periode ini:

Khutbah Abu Bakar Ash-Siddiq Ketika Diangkat Sebagai Khalifah

Sesaat setelah Meninggalnya Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- kaum muslimin memilih
Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka karena berbagai keutamaan yang ada
padanya, ia adalah lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah, teman beliau didalam gua
tsaur dan teman setia beliau ketika berhijrah ke Mekkah, Rasulullah juga pernah
memerintahkannya untuk menjadi imam menggantikan beliau ketika beliau sakit.
Ketika diangkat sebagai Khalifah beliau berkhutbah kepada sekalian kaum muslimin dengan
terlebih dahulu memuji Allah dan berkata :

                    ‫, وإن رأ‬                         ‫آ , ن رأ‬              ‫و‬                ‫و‬           ‫ا س, إ‬        ‫أ‬
        ,           ‫يا‬       ‫, أ إن أ اآ‬                        ‫, ذا‬           ‫ا‬        ‫أ‬                ‫دو , أ‬
.       ‫ا‬            ‫يا ي‬              ‫,وأ‬       ‫ا‬

    ‫و‬       ‫ا‬       ‫ه ا,وأ‬        ‫أ ل‬

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku sekarang telah memimpin kalian, namun aku
bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika kalian melihatku berjalan diatas kebenaran maka
bantulah aku, sedangkan jika kalian melihatku diatas kebatilan maka luruskanlah langkahku,
taatilah aku selama aku mentaati Allah, dan apabila aku melakukan sebuah kemaksiatan maka
kalian tidak boleh taat terhadapku akan hal itu, ketahuilah… Bahwasanya orang yang paling kuat
diantara kalian dimataku adalah orang yang lemah hingga ia memperoleh haknya, sebaliknya
orang yang terlemah dimataku adalah orang yang kalian anggap paling kuat hingga ia
mengembalikan hak-hak orang lain. Demikianlah apa yang aku sampaikan kepada kalian seraya
memohon ampun atas diriku dan kalian semua kepada Allah.”

Kitabah atau Surat

Pada periode ini Kegiatan surat menyurat mulai berkembang dalam rangka dakwah islamiyah,
pengaturan hukum dan kebijakan politik pemerintahan islam serta penulisan piagam perdamaian
antar negeri.

Surat Rasulullah kepada Khalid bin Walid

Semenjak Allah memerintahkan Beliau untuk berdakwah kejalan Allah, Beliau begitu bersungguh-
sungguh dalam upaya menyebarkan cahaya Islam dan mengajak manusia kembali kepada tauhid.
Beliau tak pernah lelah dalam mendakwahi manusia kejalan Allah dengan penuh kebijaksanaan,
nasihat yang baik dan akhlak yang terpuji.

Diantara kabilah Arab yang didakwahi oleh Beliau adalah kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b, Beliau
pun mengutus Khalid bin Walid untuk mengajak mereka kepada Islam. Sampai akhirnya Khalid bin
Walid mengirimkan surat kepada Rasulullah bahwa kabilah tersebut menerima dakwah Islam.
Rasulullah membalas surat tersebut memerintahkan Khalid bin Walid untuk kembali bersama
utusan dari mereka untuk pembelajaran tentang keislaman Dalam suratnya Beliau berkata :

  ‫ا ا ي‬         ‫إ‬    ‫أ‬       ,     ‫م‬    ,    ‫ا‬         ‫لا إ‬     ‫ر‬      ‫ا‬            :           ‫ا‬         ‫ا ا‬     ‫ـ‬
. ‫إ إ ه‬

      ‫, وأ ا إ‬     ‫أن‬              ‫ا‬   ‫أ‬     ‫ا رث آ‬     ‫أن‬        ‫ر‬                  ‫ء‬                  ‫: نآ‬      ‫أ‬
     ‫ه وأ ره , وأ وا‬               ,     ‫ا ا ور‬   ‫وا أن إ إ ا , وأن‬                ‫م,و‬              ‫ا‬      ‫إ‬      ‫د‬
    ‫ور ا و آ‬       ‫م‬             ‫و ه , وا‬
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad
sang Nabi utusan Allah, semoga keselamatan selalu bersamamu, Aku panjatkan puji kepada Allah
untukmu. Amma ba’du : Telah sampai kepadaku surat yang engkau kirimkan bersama utusanmu,
menjelaskan bahwa kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b telah masuk islam dengan damai tanpai terjadi
pertempuran, mereka telah mengikuti apa-apa yang engkau dakwahkan dari Agama ini, mereka
bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan Allah, maka berilah kabar gembira atas keislaman mereka dan berilah mereka
peringatan, dan kembalilah engkau wahai Khalid bersama utusan dari kabilah tersebut. Semoga
keselamatan, rahmat serta barakah senantiasa Allah limpahkan kepadamu.”

Syair

Sikap Islam terhadap syair.

Sesungguhnya Agama yang mulia ini senantiasa menyeru kepada kebaikan dan keutamaan dan
selalu mencegah suatu yang hina. Oleh karena itu Islam akan selalu bersikap kagum terhadap
syair-syair yang berisikan kebenaran dan akhlak yang mulia, Rasulullah pernah bersabda ((
Sesungguhnya didalam syair terdapat hikmah )), Rasulullah juga pernah meminta Hassan bin
Sabit untuk mencela musuh-musuh islam dengan syairnya, beliau berkata (( Celalah mereka dan
Jibril bersamamu )) Rasulullah juga pernah merasa kagum dengan syair Hassan bin Sabit yang
mencela kaum musyrikin dan berkata (( Hassan telah mencela dengan sangat mengena )),
sebagaimana Rasulullah juga pernah memuji syair Umayyah bin Abi As-Sholt, Khonsa’ dan juga
Ka’b bin Zuhair dengan Qoasidahnya “Banat Su’ad.”

Namun demikian islam memerangi syair-syair yang menghancurkan islam dan mengajak manusia
kepada sesuatu yang hina dan menyebabkan kerusakan ditubuh masyarakat. Rasulullah bersabda
terkait dengan syair jenis ini (( Lebih baik dada kalian dipenuhi oleh nanah daripada harus dipenuhi
dengan syair yang demikian ))

Allah berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 224-227 Yang artinya : “Dan penyair-penyair itu
diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwa mereka mengatakan apa yang
mereka sendiri tidak mengerjakannya? Dan mereka pun suka mengatakan apa yang mereka
sendiri tidak mengerjakannya. Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal
shaleh serta banyak menyebut Allah. Mereka pun mendapat kemenangan sesudah menderita
kezaliman. Adapun orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan
kembali.

Allah juga berfirman dalam surat Ibrahim: 24-26“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah
membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin
Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan
akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun

Pada periode ini muncul jenis syair baru yaitu syair dakwah islamiyah, syair pembangkit semangat
juang, syair untuk mengingat kebaikan para syuhada serta pendeskripsian alat-alat perang. Para
periode ini pula jenis-jenis syair yang telah ada sejak zaman Jahiliyah semakin diperkuat dengan
ruh islami.

Contoh Syair Pada periode ini:

Hassan bin Sabit Menantang Kaum Musyrikin Sebelum Fathu Mekkah.

Kaum Quraisy membuat kesepakatan damai salama sepuluh tahun dengan Nabi pada tahun ke 6
Hijriah, akan tetapi mereka mengkhianati perjanjian tersebut, maka Rasulullah pun menyiapkan
bala tentara untuk memerangi kaum musyrikin Quraisy dan membuka kota Mekkah.

Pada syair berikut ini Hassan bin Sabit menggambarkan persiapan pasukan kaum muslimin dalam
rangka menghadapi musuh mereka dengan memuji Rasulullah dan para sahabatnya serta
mencela dan menantang musuh mereka, Ia berkata :

                                 ‫ـ ه آـ ا‬        ‫وه ـ ــ ا ـ ـ ـ ـ‬   ‫ـ ـ ـ إن ـ‬     ‫ـ ـ‬

                             ‫ء‬        ‫ا‬          ‫وا‬    ‫وآنا‬          ‫ــ ض ـ ا‬           ‫ــ ـ‬

                                 ‫ــ ـ ء‬     ‫ــ‬   ‫ــ‬   ‫ـ وا ـ ـ د ـ م ـ ـ ـ ا‬       ‫ــ‬     ‫وإ‬

                             ‫آ ء‬             ‫ـ وروح ا ـ ـ س ـ ـ‬      ‫و ـ ـ ـ ر ــ ل ا ـ‬

                             ‫ـ ا ـ ـ ل ا ـ ـ إن ـ ـ ا ـ ء‬             ‫ـ أر ـ ـ‬     ‫و ــ ل ا‬

                             ‫ـ ــ ء‬       ‫ــ ـ م و‬      ‫ــ ـ ـ ـ‬      ‫ـ ا‬   ‫ـ ت ـ ـ‬

                             ‫ا ء‬                  ‫ــ ت ـ ـ ا هـ ا ـ ـ ر‬        ‫ـ‬   ‫و ــ ل ا‬

Kami akan musnahkan kuda-kuda kami

jika kalian tidak melihatnya menghempaskan debu menuju Kada’

Walaupun kalian menghalangi jalan kami, kami akan tetap berumroh

dan membuka kota Mekkah hingga tersingkaplah kebenaran

Namun jika kalian tetap menghalangi maka bersabarlah terhadap hari yang ganas

dan Allah selalu menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya

Jibril Sang Utusan Allah selalu bersama kami
dan Ruhul Qudus takkan ada yang menandinginya

Allah berkata bahwa ia telah mengirimkan utusan-Nya

demi menyampaikan kebenaran bagi siapa yang membutuhkannnya

Aku disini bersaksi atas kerasulannya maka mari berdiri dan bersaksilah

namun kalian mengatakan “kami tidak akan berdiri dan tak mau bersaksi”

Allah telah berkata bahwa ia telah mengirimkan pasukan

mereka adalah kaum Anshar yang kepiawaiannya bertempur

Sejarah Perkembangan Sastra Arab -Dinasti Bani Umayyah-

Desember 23, 2006 oleh ichsanmufti

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah merupakan
pemerintahan yang penuh dengan kegoncangan, terjadilah pertikaian politik yang hebat antara
Dinasti Umayyah dengan musuh-musuhnya, pemberontakan terhadap penguasa mulai merajalela,
pada periode ini pula mulai tumbuh dan berkembangnya dengan pesat beberapa firqoh dalam
islam seperti syi’ah, khawarij, murjiah dan sebagainya, sehingga perkembangan sastra pada fase-
fase tertentu periode ini cenderung diwarnai oleh nuansa politis dimana masing masing firqoh
berlomba-lomba membuahkan produk sastra demi mendukung pemikiran mereka.

Khutbah

Khutbah Al-Batro’ Ziyad bin Abihi kepada Penduduk Bashroh

Pada tahun 45 H Terjadi kekacauan dan perselisihan yang hebat di Bashroh dibawah
kepemimpinan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, melihat keadaan yang begitu parah Mu’awiyah
mengangkat Ziyad bin Abihi sebagai gubernur Bashroh karena Ziyad memang terkenal dangan
kekuatan, kepemimpinan serta kebijaksanaannya.

Ketika Ziyad mendatangi Bashroh ia pun mengumpulkan manusia untuk menyampaikan
Khotbahnya yang terkenal dengan nama Al-Batro’. Dinamai dengan Al-Batro’ karena
kedahsyatannya dan ketegasannya bagai pedang yang menyayat jiwa penduduk Bashroh.

Khutbah ini begitu menggentarkan penduduk Bashroh yang dikenal dengan kerusakan moral
mereka saat itu, membuat nyali mereka ciut dan takut, Ziyad bin Abihi berkata yang diantaranya :

‫ءا ا ي‬              ‫, و ود‬   ‫نا ا يأ‬                  , ‫ذادة‬       ‫,و‬                ‫س: إ أ‬        ‫ا‬    ‫أ‬
,               ‫و‬        ‫ا‬      , ‫و‬        ‫ا ل‬          ‫,و‬     ‫أ‬            ‫وا‬   ‫ا‬             ,
    ‫,و‬         ‫ر‬         ‫و أ‬                            :‫ث‬              ‫أ‬    ‫ت‬            ‫اأ‬           ‫وا‬
‫ا ي‬     ‫د ن, وآ‬     ‫ا‬                   ‫ح‬            ‫, د اا‬        ‫ا‬     ‫,و‬    ‫إ‬     ‫ء و رز‬
‫ا‬                 ‫وون, و‬    ‫إ‬

“Wahai sekalian manusia: sesungguhnya kami telah menjadi pemimpin kalian, dan sebagai
pembela kalian, kami pimpin kalian dengan kekuasaan yang Allah berikan kepada kami, dan kami
lindungi kalian dengan perlindungan Allah yang kami upayakan, maka wajib bagi kalian untuk
dengar dan patuh terhadap apa yang kami perintahkan, dan wajib bagi kami untuk terus bersikap
adil terhadap rakyat kami, maka balaslah keadilan yang kami berikan dengan nasihat kalian
kepada kami, dan ketahuilah betapapun aku bahwa aku tidak akan meremehkan tiga perkara : aku
tidak akan terhalang oleh siapapun diantara kalian yang memiliki keperluan denganku walau ia
datang kepadaku ditengah malam gulita, dan akau tidak akan menghalangi kalian dari pemberian
dan rizki yang menjadi hak kalian, dan aku tidak akan menahan pasukan perang di daerah
perbatasan dalam waktu yang lama sehingga mereka bisa kembali kepada keluarganya,
doakanlah kebaikan kepada pemimpin kalian, karena mereka adalah pengatur kehidupan kalian
yang akan mendidik kalian, mereka adalah gua tempat kalian berteduh, apabila mereka baik maka
kalian pun akan baik .”

Kitabah atau Surat

Surat Abdul Hamid Al-Katib kepada Para Penulis

Tulisan adalah petunjuk terhadap peradaban suatu bangsa dan perkembangan pemikiran mereka,
ia adalah suatu bentuk seni yang memiliki dasar dan kaidah-kaidah, barang siapa yang ingin
menjadi penulis islam yang baik maka ia hendaknya ia membaca dan memahami Al-Qur’anul
Karim dan Hadist-hadist Rasulullah yang shohih, hendaknya pula ia membaca buku-buku sastra
dan memperbaiki tulisannya serta menjaga diri dari segala perkara yang membawanya kepada
kehinaan dan selalu bersemangat untuk menggapai keutamaan hidup. Hal tersebut telah
dijelaskan oleh Abdurrahman Al-Katib dalam sebuah surat kepada para penulis dimasanya, ia
berkata dalam tulisannya :

‫- وا اءض‬      ‫آ با - و‬         ‫ا , وا ءوا‬             ‫ا‬    ‫ف ا داب, و‬      ‫ا ب‬        ‫ا‬
,  ‫ب وا‬     ‫, وأ م ا‬   ‫و‬         ‫ا‬      ‫ر , وا‬       ‫, وارووا ا‬   ‫آ‬      ‫؛‬   ‫؛ أ وا ا‬     ‫وا‬
,            - ‫و‬     - ‫ا‬     ‫ا‬      ‫, و‬      ‫ه‬   ‫إ‬                        ‫و ه, ن ذ‬      ‫وأ د‬
‫م‬           ‫وا لوا‬       ‫ه ا‬       ‫يه أ‬               ‫ا‬   ‫و ا‬

“Berlombalah kalian wahai para penulis dalam menghasilkan karya sastra, pelajarilah ilmu agama
kalian, mulailah dengan ilmu Kitabullah beserta ilmu warisnya dan kaidah-kaidah bahasa arab,
karena ia adalah pengasah lisan kalian, kemudian perindahlah tulisan tangan kalian karena ia
adalah perhiasan bagi karya kalian, riwayatkanlah syair-syair dan serta pahamilah kata-kata asing
dan maknanya, pelajarilah sejarah bangsa arab dan bangsa-bangsa selainnya, kesusastraan serta
sejarah mereka, karena sesungguhnya itu akan membantu kalian dalam menggapai impian, saling
berkasih sayanglah karena Allah dalam berkarya wahai para penulis, saling menasehatilah kalian
dengan hal-hal yang telah dilakukan oleh para pemilik keutamaan, keadilan serta kemuliaan
diantara pendahulu kalian.”

Syair
Pujian dan Permohonan Jarir bin Utaibah kepada Umar bin Abdul Aziz

Beberapa penyair pada periode ini memiliki kebiasaan memuji Khalifah untuk memperoleh hadiah
dari mereka, ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah para penyair mendatanginya dan berdiri
didepan pintu istananya menunggu izin untuk masuk, diantara mereka yang terpilih adalah Jarir bin
Qutaibah dari Yamamah yang sedang dilanda kekeringan, ketika Jarir berdiri dihadapan Umar bin
Abdul Aziz, Umar berkata kepadanya (( Bertakwalah kepada Allah wahai Jarir, jangan kau katakan
sesuatu kecuali kebenaran )). Kemudian Jarir pun melantunkan syairnya mengadukan keadaan
kaumnya yang sedang dilanda kekeringan panjang.

Diantaranya ia berkata :

       ‫ت وا‬           ‫ا‬                      ‫ـ ـ ء أر ـ وآ‬             ‫آــ ـ ـ ـ ـ‬

      ‫وـ ـ‬        ‫ـ‬               ‫ا‬      ‫خ‬    ‫ــ وـ آ‬                   ‫ـ ــ ك‬   ‫ــ‬

 ‫ــ دار ـ ـ ـ ـ‬              ‫ون ـ ـ ــ ـ ـ إ ـ ــ ـ و‬           ‫ـ ذا ـ‬      ‫ـ ــ ا‬

‫ـ ـ ـ ر‬       ‫ا ـ ىوـ ما ـ‬                              ‫ي ـ‬       ‫ا ـ رك وا‬           ‫أ‬

 ‫ــ‬    ‫ــ ب ا ـ ـ وا ـ‬                ‫ز ـ ـ وز ـ‬            ‫ر‬       ‫ا‬                     ‫أ‬

‫ـ رة ـ ـ وا ــ ا ـ ر‬                     ‫وا ـ ـ ـ‬                 ‫اا‬      ‫ال‬

 ‫ـ‬     ‫ا‬      ‫ـ‬           ‫ــ ـ‬   ‫ــ ا ــ ـ ـ‬        ‫ـ‬   ‫أ‬       ‫إذا ـ ا‬               ‫إ‬

‫ــ هـــ ا ا ر ــ ا ـــ آ ؟‬               ‫ــ ـ‬                                  ‫ه ا را‬

Betapa banyak janda-janda tua di Yamamah

Juga anak-anak yatim yang telah lemah suara dan tatapan mereka

Cukuplah kematian ayah dari anak-anak yang sering menyebut kebaikanmu itu

Bagai anak burung dalam sangkarnya, tak mampu berdiri apalagi terbang

Wahai Khalifah Allah, apa yang kau perintahkan kepada kami..

Tidaklah kami pergi menemuimu melainkan dari tempat yang jauh

Kau adalah sosok dengan kisah hidup yang penuh barokah dan hidayah

Kau maksiati hawa nafsumu dan berdiri ditengah malam melantunkan Ayat-ayat Allah

Kau bagaikan perhiasan yang menghiasi mimbar para raja
Dan menghiasi kubah-kubah dan bilik istana

Tetaplah kau jaga agama ini sepanjang hayatmu wahai Khalifah

Sebagaimana orang sebelummu menjaganya dengan penuh cahaya

Sesungguhnya yang kami inginkan bila hujan tak kunjung datang

Hanyalah pemberian yang kan kau hujankan kepada kami

Itulah permohonan mereka para janda wanita itu

Maka apa yang akan engkau berikan kepada duda yang berdiri dihadapanmu ini ?

Pada periode ini juga tercatat nama-nama penyair handal lainnya seperti Al-Ahthol dan Farazdaq.
Salah satu bait Farazdaq yang terkenal seperti :

       ُ
ُ َ َ ُ‫ؤ‬   ‫ُآ‬   ‫ا‬     ***** ِ ِ      ّ‫ُإ‬     ‫ل‬



Sejarah Perkembangan Sastra Arab -jahiliyah-

Desember 4, 2006 oleh ichsanmufti

Dalam diskusi tentang kesusastraan Islam, Sastra Jahiliyah hampir tak pernah luput dari
pembicaraan. Berdasarkan studi komparatif antara Sastra Arab pada periode Jahiliyah dan
periode-periode setelah munculnya islam akan dapat ditarik kesimpulan mengenai peran islam
yang begitu besar dalam perubahan sosio-kultural bangsa arab. Kita akan menyaksikan
bagaimana sebuah bangsa yang sekian lama terjerembab dalam paganisme dan dekadensi moral
yang demikian parah dapat diselamatkan oleh Islam menuju kehidupan yang penuh petunjuk dan
kemuliaan.

Karya sastra pada periode jahiliyah menggambarkan keadaan hidup masyarakat dikala itu, dimana
mereka sangat fanatik dengan kabilah atau suku mereka, sehingga syair-syair yang muncul tidak
jauh dari pembanggaan terhadap kabilah masing-masing. Begitu juga dengan khutbah yang
kebanyakan berfungsi sebagai pembangkit semangat berperang membela kabilahnya, namun
demikian karya-karya sastra pada periode Jahiliyah juga tidak luput dari nilai-nilai positif yang
dipertahankan oleh Islam seperti hikmah dan semangat juang. Hampir seluruh syair-syair dan
khutbah pada masa jahiliyah diriwayatkan dari mulut ke mulut kecuali yang termasuk kedalam Al-
Mu’allaqot, hal ini disebabkan masyarakat jahiliyah sangat tidak terbiasa dengan budaya tulis
menulis, pada umumnya syair-syair jahiliyah dimulai dengan mengenang puing-puing masa lalu
yang telah hancur, berbicara tentang hewan-hewan yang mereka miliki dan menggambarkan
keadaan alam tempat mereka tinggal. Beberapa kosa kata yang terdapat dalam karya-karya sastra
jahiliyah sulit dipahami karena sudah jarang dipakai dalam bahasa arab saat ini.
Natsr atau Prosa.

Pada periode ini terdapat beberapa jenis Natsr, diantaranya: Khutbah, wasiat , Hikmah dan Matsal.

Khutbah: Yaitu serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang disampaikan kepada khalayak
ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting.

Sebab-sebab munculnya khutbah pada periode Jahiliyah

    1. Banyaknya perang antar kabilah.
    2. Pola hubungan yang ada pada masyarakat Jahiliyyah seperti saling mengucapkan
       selamat, belasungkawa dan saling memohon bantuan perang.
    3. Kesemrawutan politik yang ada kala itu.
    4. Menyebarnya buta huruf, sehingga komunikasi lisan lebih banyak digunakan daripada
       tulisan.
    5. Saling membanggakan nasab dan adat istiadat.

Ciri khasnya

    1.       Ringkasnya kalimat.
    2.       Lafaznya yang jelas.
    3.       Makna yang mendalam.
    4.       Sajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama).
    5.       Sering dipadukan dengan syair, hikmah dan matsal.

Contoh Khutbah :

                          Khutbah Hani’ Bin Qobishoh pada Pertempuran Dzi-Qorin

Kisra ( Raja Persia ) memaksa Hani bin Qobishoh Asa-Syaibani agar menyerahkan harta amanah
yang dititipkan kepadanya oleh Nu’man ibnul Mundzir-salah seorang penguasa Irak-. Hani
menolak permintaan tersebut demi menjaga amanah yang dititipkan kepadanya sehingga
terjadilah perang antara tentara Persia dengan kabilah Bakr yang dipimpin oleh Hani, pertempuran
tersebut berlangsung pada sebuah tempat dekat Bashrah di Irak yang bernama Dzi-Qorin,
pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan oleh Kabilah Bakr, sebelum pertempuran tersebut
berlangsung Hani’ membakar semangat para pasukannya dengan perkataannya :

         ‫,ا‬         ‫با‬    ‫أ‬         ‫ا ر, و إن ا‬        ‫ر‬   ‫ج ور, إن ا‬       ‫ور‬         ‫,ه‬
:        ‫أ‬     ,‫ر‬        ‫زوا‬    ‫ا‬        ‫ر, أآ م‬   ‫ا‬         ‫ر ,وا‬      ‫ا‬   ‫ت‬     ‫لا‬        ‫,ا‬       ‫و ا‬
                                                                             ‫بد‬                  ‫ا‬

“Wahai sekalian kaum Bakr, orang yang kalah secara terhormat lebih baik dari orang yang selamat
kar’na lari dari medan juang, sesungguhnya ketakutan tidak akan melepaskan kalian dari
ketentuan Tuhan, dan sesungguhnya kesabaran adalah jalan kemenangan. Raihlah kematian
secara mulia, jangan kalian memilih kehidupan yang hina ini. Menghadapi kematian lebih baik
daripada lari darinya, tusukan tombak di leher-leher depan lebih mulia dibanding tikaman
dipunggung kalian, wahai kaum Bakr….. Berperanglah!!!! Karena kematian adalah suatu
kepastian.. “

Wasiat: yaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seorang
yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu.

Wasiat memiliki banyak persamaan dengan khutbah hanya saja umumnya wasiat lebih ringkas.

Contoh Wasiat :

                         Wasiat Disaat Dzul Isba’ Al-‘adwani kepada anaknya Usaid

Disaat Dzul Isba’ Al-‘adwani merasakan ajalnya ia memanggil anaknya Usaid, ia menasihati
anaknya dengan beberapa nasihat demi mewujudkan kedudukan yang mulia ditengah manusia
dan menjadikannya seorang yang mulia, terhormat dan dicintai oleh kaumnya. Ia berkata :

‫دوك,أآ م‬       ‫ء‬                  ‫ك, و‬          ‫و‬             ‫ك, وا‬           ‫ك, و ا‬                  ‫أ‬
 ‫, وأآ م‬   ‫ن‬       ‫ا‬      ‫رك وأ‬   ‫,وأ ز‬              ‫ره , وا‬          ‫د‬         ‫م آ ره و‬       ‫ره آ‬
                                                    ‫ددك‬               ,   ‫أ‬                ‫و‬   ‫,و‬

“Berlemah lembutlah kepada manusia maka mereka akan mencintaimu, dan bersikap rendah
hatilah niscaya mereka akan mengangkat kedudukanmu, sambut mereka dengan wajah yang
selalu berseri maka mereka akan mentaatimu, dan janganlah engkau bersikap kikir maka mereka
akan menghormatimu. Muliakanlah anak kecil mereka sebagaimana engkau mencintai orang-
orang dewasa diantara mereka, maka anak kecil tadi akan tumbuh dengan kecintaan kepadamu,
mudahkanlah hartamu untuk kau berikan, hormatilah tetanggamu dan tolonglah orang yang
meminta pertolongan, muliakanlah tamu dan selalulah berseri ketika menghadapi orang yang
meminta-minta, maka dengan itu semua sempurnalah kharismamu.”

Hikmah: Yaitu kalimat yang ringkas yang menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup
yang dalam, didalamnya terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat.

Contoh_Hikmah:

                                            ‫ى‬       ‫ا أي ا‬

                         “Perusak akal sehat manusia adalah hawa nafsunya.”

                                         ‫وقا‬              ‫ل‬    ‫رع ا‬

                   “Kehancuran seorang lelaki terletak dibawah kilaunya ketamakan“

Matsal : Yaitu kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau peristiwa tertentu, digunakan
untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa tertentu
        dengan keadaan atau peristiwa asal dimana matsal tersebut diucapkan.

Contoh Matsal :

        ‫ا ل‬       ‫ا‬

                               “Pedang telah mendahului celaan.”

Bermakna “nasi sudah menjadi bubur” dimana celaan tidak akan mampu merubah kejadian yang
telah terjadi.

Kisah Matsal: Seorang Arab mengutus anaknya untuk mencari untanya yang hilang, namun
anaknya tak kunjung pulang, maka pergilah sang ayah untuk mencari anaknya tersebut pada
bulan haram, ditengah perjalanan ia bertemu dengan seorang pemuda dan menemaninya, sang
pemuda tersebut kemudian berkata: beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang pemuda
dengan ciri-ciri begini dan begini dan aku rampas pedang ini darinya, sang ayah pun berfikir dan
melihat pedang tersebut, barulah ia sadar bahwa pemuda inilah yang membunuh anaknya, sang
ayah pun menebas pemuda tadi hingga mati, ketika masyarakat mengetahui hal tersebut mereka
mengatakan “ mengapa kau membunuh di bulan haram, sang ayah berkata :

                                            ‫ا ل‬      ‫ا‬

                           “pedangku telah mendahului celaan kalian.“

Matsal ini kita ucapkan kepada seorang yang menyesali perkara yang telah lalu.

                                              ‫ا‬            ‫ا‬

                  “Musim panas yang lalu engkau telah menyia-nyiakan susu yang ada.”

Kisah Matsal : Pada suatu musim panas seorang lelaki tua menikahi gadis muda yang cantik jelita,
lelaki tadi memiliki begitu banyak unta dan kambing yang senantiasa memproduksi susu. Akan
tetapi wanita ini tidak mencantai lelaki tua itu dan meminta untuk diceraikan, maka merekapun
bercerai. Wanita tadi akhirnya menikah dengan seorang pemuda yang tampan namun miskin, tidak
punya kambing apalagi unta, pada musim dingin wanita tadi melihat sekawanan kambing milik
lelaki tua mantan suaminya dan memohon agar diberikan susu dari kambing-kambing tersebut,
namun lelaki tua itu menolak dan berkata         ‫ا‬           ‫ ا‬musim panas yang lalu kau telah
menyia-nyiakan susu yang aku beri

Matsal ini diucapkan kepada seorang yang telah menyia-nyiakan kesempatan dimasa lalu namun
kini mengharapnya kembali.

Syair

Dalam kehidupan masyarakat jahiliyah syair memiliki kedudukan yang penting dan pengaruh yang
kuat sehingga masing-masing kabilah saling berbangga dengan kemunculan seorang penyair
handal dari kalangan mereka, mereka pun kerap kali mengadakan acara khusus untuk
menyaksikan dan menikmati syair-syair tersebut.

Jenis-jenis syair pada masa jahiliyah :

    1.   Al-Madh atau pujian.
    2.   Al-Hija’ atau cercaan.
    3.   Al-Fakhr atau membangga.
    4.   Al-Hamaasah atau semangat yakni untuk membangkitkan semangat ketika ada suatu
         peristiwa semacam perang atau membangun sesuatu
    5.   Al-Ghozal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih
    6.   Al-I’tidzar atau permohonan maaf.
    7.   Ar-Ritsa’ atau belasungkawa
    8.   Al-Washf atau pemerian yaitu penjelasan perhadap sesuatu dengan sangat simbolistik
         dan ekspresionistik

Al-Mu’allaqot

Adalah Qasidah panjang yang indah yang diucapkan oleh para penyair jahiliyah dalam berbagai
kesempatan dan tema. Sebagian Al-Mu’allaqot ini diabadikan dan ditempelkan didinding-dinding
Ka’bah pada masa Jahiliyah. Dinamakan dengan Al-Mu’allaqot ( Kalung ) karena indahnya syair-
syair tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita. Para pujangga Al-
Mu’allaqot berjumlah tujuh orang, yaitu :

    •    ‫ي‬        ‫ا‬                ‫ا ؤا‬
    •                 ‫أ‬       ‫زه‬
    •         ‫ا‬
    •             ‫اد ا‬    ‫ة‬
    •    ‫آ م‬          ‫و‬
    •    ‫ة‬           ‫ا رث‬
    •      ‫ر‬

Contoh Syair Al-Mu’allaqot :

Diantara Hikmah Zuhair Bin Abi Sulma

Perang yang begitu dahsyat berkecamuk antara kabilah ‘Abs dan kabilah Dzubyan hanya
dikarenakan pacuan kuda, perang ini berlangsung hingga 40 tahun lamanya, maka dua orang
pembesar dari kabilah lain yaitu Haram bin Sinan dan Al-Harits bin ‘Auf berupaya mendamaikan
kedua kabilah tersebut dengan menanggung kerugian akibat perang yang dialami oleh kedua
belah pihak, dan akhirnya perangpun berhenti. Hal ini memberikan kekaguman yang luar biasa
bagi diri Zuhair bin Abi Sulma sehingga ia menciptakan sebuah Qosidah yang begitu indah dalam
rangka memuji kedua orang tersebut. Zuhair berkata :

         ‫ـم‬       –       ‫أ‬   -           ‫ـ‬   ‫اـ ةو‬   ‫ـ ـ‬
         ‫ـ‬     ‫ـ‬                            ‫ـ و‬           ‫ا م وا ـ‬       ‫ـ‬    ‫وأ ـ‬

         ‫ــ‬        ‫ـ وـ ـلأ با ـ ء‬                       ‫و ـ هـ ب أ ـ ب ا ـ ـ‬

        ‫ـ م‬         ‫ــ‬   ‫ــ ذـ‬       ‫ـ ــ‬       ‫أه‬           ‫وف‬      ‫ا‬            ‫و‬

               ‫ا س‬                          ‫و‬        ‫ـ‬       ‫ا ئ‬                  ‫و‬

         ‫اــ‬        ‫ن ـ ن ا ـ ـ ء ـ ـ ـ ح ــ ـ إذا ه أ ى ـ ـ ل‬

        ‫ـ رة ا ـ وا م‬            ‫إ‬          ‫اد و‬              ‫و‬              ‫نا‬

Aku telah letih merasakan beban kehidupan

Sungguh aku letih setelah hidup delapan puluh tahun ini

Aku tahu apa yang baru saja terjadi dan kemarin hari

Namun terhadap masa depan sungguh aku buta

Barang siapa yang lari dari kematian sungguh akan menemuinya

Walau ia panjat langit dengan tangganya

Barang siapa yang memuji orang yang tak pantas dipuji

Maka esok hari pujiannya itu akan disesali

Seorang manusia tentu memiliki tabiat tertentu

Walau ia sangka tertutupi pasti orang lain akan mengetahui

Itu karena lidah seseorang adalah kunci hatinya

Lidahnyalah yang menyingkap semua rahasia

Lidah itu adalah setengah pribadi manusia dan setengahnya lagi adalah hati

Tidak ada selain itu kecuali daging dan darah sahaja

Sejarah Perkembangan Sastra Arab -prologema-

Desember 4, 2006 oleh ichsanmufti
Menyebarnya sastra arab sangat erat kaitannya dengan bersinarnya islam secara luas ke berbagai
belahan dunia terutama pada abad ke 7 hijriah, hal ini dikarenakan ia adalah bahasa Al-Qur’an
yang mulia. Bahasa yang indah ini menyebar ke berbagai penjuru timur dan barat, sehingga
sebagian besar peradaban dunia pada masa itu sangat terwarnai oleh peradaban Islam. Mereka
yang berperan mengembangkan sastra arab pada masa kejayaan islam berasal dari berbagai
suku bangsa, diantara mereka berasal dari Jazirah Arab, Mesir, Romawi, Armenia, Barbar,
Andalusia dan sebagainya, walau berbeda bangsa namun mereka semua bersatu diatas Islam dan
Bahasa Arab, mereka berbicara dan menulis karya sastra serta berbagai kajian keilmuan lainnya
dengan Bahasa Arab .

Dan tidaklah Allah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran melainkan karena ia adalah
bahasa terbaik yang pernah ada. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Sesungguhnya Kami telah
jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.”(Yusuf : 2). Allah Subhanahu
wa Ta’ala juga berfirman, “Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta
Semesta Alam ,dia dibawa turun oleh Ar ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar
kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa
Arab yang jelas“(Asy Syu’ara:192-195).

Allah juga berfirman “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.
Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan
kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari
permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

Pembahasan ini mencoba untuk membangkitkan semangat para generasi muda islam untuk
mengkaji kembali kebudayaan islam yang agung dan indah ini, kebudayaan yang pernah
memimpin dunia, yang mampu menyentuh bagian hati manusia yang paling dalam dengan cahaya
imannya, menjadi penawar bagi jiwa yang luka, menghidupkan kembali hati yang mati.

Sastra Arab dan Pembagian Periode Perkembangannya

Kata ‫ ا دب‬sendiri telah mengalami berbagai macam perubahan makna seiring berjalannya waktu
dan bergantinya peradaban bangsa arab, dahulu kala kata ‫ ا دب‬bermakna undangan untuk
makan. Pengertian Adab terus berubah hingga akhirnya menjadi sesuatu yang kita pahami saat
ini.

Pengertian Adab

Adab memiliki dua makna ; makna khusus dan makna umum

Secara umum ‫ ا دب‬berarti berhias diri dengan akhlak yang luhur seperti jujur, amanah dsb, orang
bijak mengatakan :       ‫د‬             ‫ر‬    ‫“أد‬Robbku telah mendidikku dengan sebaik-baiknya
pendidikan.” Dalam definisinya, Al-Jurjani meletakkan Adab sebagai sesuatu yang setara dengan
Ma’rifah yang mencegah pemiliknya dari terjerumus kedalam berbagai bentuk kesalahan.
Secara Khusus “Al-Adab” berarti :



‫ا‬        ‫ا أم‬       ‫اء آ ن‬           ،   ‫ا اء وا‬       ‫ا‬           ‫ا‬   ‫إ‬   ‫ا ي‬   ‫ا‬      ‫ما‬    ‫ا‬



“Yaitu perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang
mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa. “

         1.       Perkataan tersebut haruslah memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :
         2.       Lafaznya haruslah mudah dan indah
         3.       Memiliki kedalaman makna
         4.       Menyentuh jiwa

Jenis-jenis Adab

         1. Natsr atau prosa: yaitu ungkapan yang indah namun tidak memiliki wazan<!--[if
            !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]--> maupun qofiyah<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--
            [endif]-->, seperti khotbah, surat, wasiat, perkataan hikmah, matsal, dan kisah.
         2. Syair: yaitu ungkapan indah yang memiliki wazan maupun qofiyah, seperti :

    ‫ـه‬          ‫آـ ه‬             ‫أ‬            ‫ء‬    ‫ا‬           ‫ـ‬

              ‫ا‬           ‫إذ ا‬                 ‫ا م‬         ‫وإن آ‬

Jenis-jenis syair seperti: deskripsi atau pemerian, pujian, ejekan, kedukaan, hikmah dsb.

Sejarah Adab

Ilmu sejarah adab merupakan suatu ilmu untuk mengetahui kondisi sastra di berbagai periode
perkembangannya, baik dari segi kuat atau lemahnya maupun sedikit atau banyaknya. Melalui
ilmu ini kita juga dapat mengetahui kehidupan para sastrawan, baik dari segi masa dimana ia
hidup, tempat dan karya-karyanya.

Periode Perkembangan Adab

Periode perkembangan dalam sastra arab dibagi kedalam enam periode :

         1. Periode Jahiliyah : Sejak dua abad atau satu setengah abad sebelum islam hingga masa
            dimana islam muncul.
         2. Periode awal Islam : Sejak munculnya islam hingga berakhirnya kepemimpinan
            Khulafa’urrasyidin tahun 40 H.
         3. Periode Daulah Umayyah : Sejak berdirinya Dinasti Umayyah tahun 40 H hingga masa
            keruntuhannya tahun 132 H.
   4. Periode Daulah Abbasiyah : Sejak berdirinya Dinasti Abbasiyah tahun 132 H hingga
      masa keruntuhannya akibat serangan pasukan Tatar tahun 656 H.
   5. Periode Keruntuhan: Periode ini dibagi dua fase yaitu sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah
      tahun 656 H dan ketika Dinasti Utsmaniyyah menguasai Kairo pada tahun 923 H dan
      berakhir hingga runtuhnya Dinasti Utsmaniyyah pada awal abad ketiga belas hijriah.
   6. Era baru: Ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan kebangkitan islam dibeberapa
      negara arab pada awal abad ketiga belas hijriah hingga saat ini.

Nash-nash Adab

Yaitu kutipan dari karya-karya sastra yang terpilih yang merupakan ucapan maupun tulisan dari
para sastrawan dari berbagai masa dan tema. Bersambung….

Abu Fairuz Ichsan Mufti : Disampaikan pada Kajian Sastra Islam 7 des 2006 di Mushala FMIPA
UGM. Penyelenggara “Forum Kajian Islam Mahasiswa Yogyakarta”.

								
To top