Docstoc

Al ghazali

Document Sample
Al ghazali Powered By Docstoc
					                                       PENDAHULUAN



         Al-Ghazali adalah ulama yang sangat produktif. Berbagai tulisannya menarik perhatian

banyak kalangan muslim maupun non-muslim dan sering dijadikan referensi. Tokoh Filsafat

Skolastik seperti Raymond Martin, Thomas Aquinas, dan Pascal banyak dipengaruhi oleh

pemikiran Al-Ghazali. Karya-karya Al-Ghazali banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa

seperti Latin, Spanyol, Yahudi, Inggris, Perancis, dan Jerman.

         Diperkirakan, Al-Ghazali telah menghasilkan sekitar 300 karya tulis yang meliputi

berbagai disiplin ilmu seperti logika, filsafat, moral, tafsir, fiqih, ilmu Al-Qur‟an, tasawuf, politik,

administrasim dan perilaku ekonomi. Beberapa karya Al-Ghazali yang terkenal dan tercatat hingga

kini diantaranya: Ihya ‘Ulumuddin, Al-Munqidz min Al-Dhalal, Tahafut Al-Falasifah, Minhaj Al-

Abidin, Qawa’id Al-Aqa’id, Al-Mustashfa min ‘Ilm Al-Ushul, Mizan Al-‘Amal, Misykat Al-Anwar,

Kimia Al-Sa’adah, Al-Wajiz, Syifa Al-Ghalil, Tibr Al-Masbuk fi Nasihat Al-Muluk, dan Makatibul

Ghazali, Maqasidul Falasifah, Mi’yarul ‘Ilm, Mihakkun Nazhar, dan Al-Mankhul.
                               PEMBAHASAN

A. Riwayat Singkat Al Ghazali

         Al-Ghazali dibesarkan dalam suasana keluarga yang pietis. Ayahnya
   adalah seorang pemintal sekaligus penjual wool terkenal. Kata Al-Ghazali
   berasal dari ghazzal atau pemintal benang yang dinisbatkan pada pekerjaan
   ayahnya. Kata tersebut juga dapat berasal dari Ghazalah yang dinisbatkan
   pada nama kampung kelahirannya. Meskipun buta huruf, Ayah Ghazali sangat
   memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ayahnya mempercayakan Ghazali
   dan saudaranya Ahmad untuk dibesarkan dan dididik oleh seorang sufi saleh.

         Saat itu, banyak pemuda meninggalkan rumah mereka untuk memulai
   perjalanan beribu-ribu mil bahkan lebih sampai lintas benua untuk mencari
   guru. Perjalanan-perjalanan yang sangat jauh dari Spanyol ke Mekkah, dan
   dari Baghdad ke Maroko, dilakukan oleh anak-anak muda tanpa uang sepeser
   pun, untuk berguru dihadapan seorang syaikh.

         Sejak muda, Al-Ghazali sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan. Ia
   pertama kali belajar bahasa Arab dan fiqih di kota Tus, kemudian pergi ke
   kota Jurjan untuk mempelajari dasar-dasar Usul Fiqih. Setelah kembali ke
   kota Tus selama beberapa waktu, ia pergi ke Naisabur untuk melanjutkan
   rihlah ilmiahnya. Di kota ini, Al-Ghazali belajar kepada AI-Haramain Abu AI-
   Ma‟ali AI-Juwaini.

         Setelah itu, ia berkunjung ke kota Baghdad, ibu kota Daulah Abbasiyah,
   dan bertemu dengan Wazir Nizham AI-Mulk. Darinya, Al-Ghazali mendapat
   penghormatan dan penghargaan yang besar. Pada tahun 483 H (l090 M), ia
   diangkat menjadi guru di Madrasah Nizhamiyah.

         Selain mengajar, Al-Ghazali juga melakukan bantahan-bantahan
   terhadap berbagai pemikiran Batiniyah, Ismailiyah, filosof, dan lain-lain. Pada
   masa ini, Al-Ghazali masih merasakan kehampaan dan keresahan sekalipun
   telah menjadi guru besar. Maka untuk memenuhi kebutuhan rohaninya, ia
   kemudian beralih kepada kehidupan sufistik.

         Karena itulah, pada tahun 488 H (l095 M), Al-Ghazali meninggalkan
   Baghdad dan pergi menuju ke Syria untuk merenung, membaca, dan menulis.
   Dari situ, ia kemudian pindah ke Baitul Maqdis, Palestina untuk melakukan
   aktifitas yang sama. Setelah menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa
   waktu di Mesir, Al-Ghazali kembali ke tempat kelahirannya, Tus, pada tahun
   499 H (1105 M) untuk melanjutkan aktifitasnya, berkhalwat dan beribadah.

         Pada tahun yang sama, atas desakan wazir Fakhr AI-Mulk, Al-Ghazali
   kembali mengajar di Madrasah Nizhamiyah di Naisabur. Namun pekerjaannya
   itu hanya berlangsung selama dua tahun. Ia kembali lagi ke kota Tus untuk
   mendirikan sebuah madrasah bagi para fuqaha dan mutashawwifin. Di kota
   inilah, Al-Ghazali menghabiskan waktu dan energinya untuk menyebarkan
   ilmu pengetahuan, hingga akhir hayatnya pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505
   H atau 19 Desember 1111 M.

B. Pengaruh Ismaili Terhadap Al-Ghazali

             Kita ketahui bahwa pilihan al-Ghazali akhirnya ke tasawuf. Pilihan
   ini ada kaitannya dengan klasifikasi yang keempat dari life orientism
   knowledge, yaitu Ismailisme. Meskipun paham Ismailisme ditolak Sunni, dan
   karena itu juga oleh al-Ghazali, tetapi pengaruhnya tutup melekat pada al-
   Ghazali. Ide bahwa suatu kebenaran hanya terwujud dalam pengalaman
   pribadi – yang dalam konteks al-Ghazali berarti tasawuf – sebetulnya diambil
   dari Ismailisme. Inilah yang disebut dzawq, dan kita mengetahui bahwa kaum
   Ismailiah inilah yang disebut kaum kebatinan (al-bathînîyûn), yaitu kelompok
   masyarakat Islam yang memandang bahwa di balik hal-hal yang lahir dari
   ajaran agama terdapat makna-makna yang batin.

             Siapa sebenarnya kaum Ismailisme itu? Mereka adalah bagian dari
   Syiah Ismailiah atau Syiah Tujuh, yaitu Syiah yang percaya kepada adanya
Imam yang ketujuh. Salah satunya, atau yang terakhir, bernama Ismail. Maka
ia disebut Syiah Ismailiah yang sampai sekarang masih hidup di bawah Aga
Khan. Kalau Ismailisme ini dianggap sebagai representasi dari Syiisme, maka
sebetulnya Syiisme yang sekarang dominan memiliki paham Ja‟fariah yang
ada di Iran (dulu di bawah kepemimpinan Imam Khomeini). Dan Syiah
Ja‟fariah yang ada di Iran ini sebetulnya mirip sekali dengan kaum Sunni.
Perbedaannya, Ismailiah agak lebih radikal dibanding Sunni, juga jika
dibanding Syiah Ja‟fariah atau Syiah Itsna Asyariah           (Syiah yang
mempercayai 12 Imam).

          Perbedaannya adalah: dibandingkan Syiah Ja‟fariah atau Syiah 12
Imam, Syiah Ismailiah memiliki kepercayaan lebih kuat bahwa kebenaran
agama bersifat mutlak dan tidak seorang pun bisa memahaminya, sehingga
selalu diperlukan pemimpin suci, yaitu Imam. Imamlah yang akan
menerangkan apa itu ilmu. Di sini ada unsur otoritarianisme. Kaum Ismaili
sekarang, meskipun mempercayai Al-Quran, mereka tidak mempelajarinya.
Mereka juga percaya kepada Nabi, tetapi yang mereka anut dan praktikkan
sehari-hari adalah apa yang difatwakan oleh Aga Khan, Imam mereka.

          Bagi mereka, Al-Quran memang di sini, tapi siapa yang bisa
memahaminya? Kita semua manusia biasa, dan untuk bisa memahami Al-
Quran diperlukan seseorang yang mempunyai hubungan khusus dengan
Tuhan, yaitu Imam, terutama Imam yang memiliki keturunan langsung dengan
Nabi, yang disebut ahl al-bayt. Di situlah salah satu fungsi Aga Khan.
Kadang-kadang dari Aga Khan tidak keluar argumen atau pun pelarangan,
tetapi penafsiran yang sudah merupakan bukti kebenaran agama. Mengapa
demikian? Karena, agama seolah-olah menyatu dengan diri dan tingkah laku
Aga Khan. Oleh karena itu, kebenaran agama harus dipahami melalui
pengalaman pribadi sang pemimpin.

          Orang-orang Ismaili – melalui Imamnya – mengamalkan yang
batin. Maka shalat, misalnya, bagi seorang Ismailiah, dianggap tidak perlu.
Demikian juga haji. Apa yang kemudian di Indonesia disebut sebagai
kebatinan sedikit-banyak berasal dari kaum Ismaili ini. Artinya, ada unsur ke-
Syiah-an di dalam ide-ide tentang ilmu pengetahuan, terutama yang sangat
menekankan interpretasi metaforis.

           Al-Ghazali sebetulnya sampai kepada kesimpulan yang sama.
Akan tetapi, tentu saja, ia adalah seorang Sunni, dan karenanya harus
menempatkan diri tetap di golongannya. Maka, ia tidak mungkin menyetujui
seluruh teori Ismaili, dan karenanya, ia menisbatkan keimaman kepada Nabi;
bahwa pemimpin kharismatik ialah Nabi sendiri. Ketika al-Ghazali sampai
kepada dzawq ini, dia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dalam arti yang
mendalam bukanlah berarti sains atau ilmu pengetahuan seperti dalam
akronim iptek, tetapi kira-kira sama dengan ngelmu menurut orang Jawa
bilang – artinya sesuatu yang bersifat batini.

           Di sini kita akan lihat bahwa sebetulnya tuduhan kepada al-Ghazali
sebagai orang yang bertanggung jawab bagi mundurnya ilmu pengetahuan
tidaklah betul. Karena, persoalannya tidak sesederhana seperti yang sering
dideskripsikan oleh, misalnya, Sutan Takdir Alisyahbana (alm). Takdir sangat
tidak suka kepada al-Ghazali, karena dia adalah failasuf, sedangkan al-Ghazali
melabrak falsafah. Maka Takdir mengatakan bahwa al-Ghazali-lah yang
bertanggung jawab atas terhentinya ilmu pengetahuan spekulatif dalam Islam;
ia bertanggungjawab atas kemunduran Islam karena hanya mementingkan
perasaan. Sementara di Barat, Ibn Rusyd – musuh polemik al-Ghazali – sangat
mementingkan akal. Maka Takdir pernah membuat satu gambaran simplistik
karikatural yakni, "penjajahan Barat terhadap Timur adalah penjajahan Ibnu
Rusyd terhadap al-Ghazali, yaitu penjajahan akal terhadap intuisi." Tuduhan
itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan di era pasca-modern sekarang ini orang
justru kembali ke intuisi atau dzawq. Di dunia manajemen, misalnya, para
manajer disinyalir banyak sekali yang membuat keputusan melalui intuisi,
tidak dengan hitungan rasional.
C. Pokok Perdebatan al-Ghazali

         Berikut ini percikan filsafat al-Ghazali dalam menolak pendapat filosof
   tentang beberapa masalah. Pertama; masalah qadim-nya alam, bahwa tercipta
   dengan tidak bermula, tidak pernah tidak ada di masa lampau. Bagi al-Ghazali
   yang qadim hanyalah Tuhan. Selain Tuhan haruslah hadits (baru). Karena bila
   ada yang qadim selain Tuhan, dapat menimbulkan paham:

      1. Banyaknya yang qadim atau banyaknya Tuhan; ini syirik dan dosa
          besar yang tidak diampuni Tuhan; atau

      2. Ateisme; alam yang qadim tidak perlu kepada pencipta

         Memang, antara kaum teolog dan filosof terdapat perbedaan tentang arti
   al-ihdats dan qadim. Bagi kaum teolog al-ihdats mengandung arti menciptakan
   dari “tiada" (creatio ex nihilo), sedang bagi kaum filosof berarti menciptakan
   dari “ada”. Kata Ibnu Rusyd, „adam (tiada) tidak akan bisa berubah menjadi
   wujud (ada). Yang terjadi adalah “wujud‟ berubah menjadi “wujud” dalam
   bentuk lain. Oleh karena itu, materi asal, yang dari padanya alam disusun,
   mesti qadim. Dan materi pertama yang qadim ini berasal dari Tuhan melalui
   al-faidh (pancaran). Tetapi menurut al-Ghazali, penciptaan dari tiadalah yang
   memastikan adanya Pencipta. Oleh sebeb itu, alam pasti “baru” (hadits) dan
   diciptakan dari “tiada”.

         Dalam pemikiran al-Ghazali, sewaktu Tuhan menciptakan alam, yang
   ada hanyalah Tuhan. Disinilah Sulaiman Dunya mencacat al-Ghazali sebagai
   baina al-falasifah wa al-mutakallimin, karena secara substansial al-Ghazali
   berfikir sebagai teolog, tetapi secara instrumental berfikir sebagai filosof.
   Tetapi, karena itu juga, di lain pihak justru al-Ghazali dinilai “kacau” cara
   berfikirnya oleh Ibn Rusyd. Apalagi tampak jelas kekacauan al-Ghazali itu,
   kata Ibnu Rusyd, ketika berbicara tentang kebangkitan jasmani yang terlihat
   paradoksal antara al-Ghazali sebagai teolog dan filosof dan sebagai sufi.
       Kedua, mengenai Tuhan tidak mengetahui juz`iyyat. Ibnu Rusyd
menjelaskan bahwa pertentangan antara al-Ghazali dan para filosof tentang hal
ini timbul dari penyamaan pengetahuan Tuhan dengan pengetahuan manusia.
Jelas bahwa kekhususan (juz`iyyat) diketahui manusia melalui panca indera,
sedangkan keumuman (kulliyah) melalui akal. (Baca Ibnu Rusyd, Tahafut al-
Tahafut, ed. Sulaiman Dunya, Cairo, Dar al-Maarif, 1964, hal. 711).
Penjelasan Ibnu Rusyd selanjutnya: Tuhan bersifat immateri yang karenanya
tidak terdapat panca indera bagi Tuhan untuk pengetahuan juz`iyyat.
Selanjutnya, pengetahuan Tuhan bersifat qadim, sedang pengetahuan manusia
bersifat baru. Pengetahuan Tuhan adalah sebab, sedang pengetahuan manusia
tentang kekhususan adalah akibat. Kaum filosof, kata Ibnu Rusyd, tidak
mengatakan bahwa pengetahuan Tuhan tentang alam bersifat juz`i atau pun
kulli. (Ibnu Rusyd, Tahafut al-Tahafut, hal. 702-703). Begitulah tanggapan
Ibnu Rusyd untuk menanggapi pendapat al-Ghazali dalam Tahafut al-
Falasifah itu.

       Ketiga, tentang kebangkitan jasmani. Kritik al-Ghazali bahwa para
filosof tidak percaya adanya kebangkitan jasmani, menurut Ibnu Rusyd salah
sasaran. Yang benar, kata Ibnu Rusyd, bahwa para filosof tidak menyebut-
nyebut hal itu. Ada tulisan mereka yang menjelaskan tidak adanya
kebangkitan jasmani dan ada pula yang sebaliknya. Di pihak lain, Ibnu Rusyd
menuduh bahwa apa yang ditulis al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah
bertentangan dengan apa yang ditulisnya mengenai tasawwuf. Dalam buku
pertama (hal. 28, dst) semua orang Islam menyakini kebangkitan jasmani.
Sedang dalam buku kedua ia mengatakan, pendapat kaum sufi yang ada nanti
ialah kebangkitan rohani dan bukan kebangkitan jasmani tidak dapat
dikafirkan. Padahal al-Ghazali mendasarkan pengkafirannya kepada ijma‟
ulama. Tiga pemikiran itulah yang menjadi bahasan utama al-Ghazali dalam
kitabnya Tahfut al-Falasifah, dan selanjutnya ia mengkafirkan para filosof
lantaran pendapat mereka tentang tiga hal tersebut berbeda dengan
pemikirannya. Tindakan pengkafiran inilah yang dianggap mempengaruhi dan
   membuat orang Islam enggan bahkan takut mempelajari filsafat, dus menjadi
   biang kemunduran pemikiran di kalangan umat Islam.

         Kitab Tahafut melukiskan suatu isi pertentangan antara agama dan
   filsafat. Pertentangan ini dalam Islam telah muncul dalam berbagai wujud dan
   bentuk yang berbeda sejak filsafat memasuki kehidupan umat Islam. Agama
   samawi didasarkan pada wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan rasul
   yang ditugaskan menyampaikn risalah kepada umat manusia. Sendi akidah
   dalam Islam ada tiga : wujud dan keesaan Allah, mengutus para rasul dan
   kebangkitan ukhrawi. Tetapi al-Ghazali hanya menyinggung dua sendi saja,
   yaitu : yang pertama dan ketiga.

D. Agama dan Filsafat

         Adapun filsafat maka pegangan dasarnya adalah akal bukan wahyu.
   Terkadang sds kepercayaan kepada Tuhan dan ada juga yang tidak. Dalam
   kalangan filosof, ada yang beriman dan ada yang kufur yang hanya percaya
   kepada apa yang dapat diamati oleh indera serta dikuatkan oleh akal.
   Perbedaan agama dan filsafat adalah mendasar, baik metoda maupun
   permasalahan (mudu'). Metoda agama jelas berbeda dengan filsafat. Telah
   berlaku kebiasaan dalam kalangan umat Islam memperbandingkan dua metoda
   tersebut dengan mengatakan : mendengar dan akal (as-sam'u wa'l-aql),
   dinukilkan   dan    dipikirkan,    syari'at   dan   hikmah   dan   sebagainya.
   Penggabungan dua metoda tersebut telah terjadi sejak filsafat muncul dalam
   kehidupan umat Islam. Pertentangan antar para filosof tidak pernah berakhir
   sejak abad kedua sampai dengan abad ketujuh Hijriyah. Pertentangan tersebut
   mencapai puncaknya di akhir abad kelima dengan munculnya kitab Tahafut
   al-Falasifah dan merupakan permulaan kemenangan agama dan kehancuran
   filsafat sehingga akhirnya filsafat menghilang sama sekali dalam kehidupan
   budaya umat Islam karena keluarnya fatwa yang mengharamkan belajar dan
   mengajar ilmu tersebut.
E. Al-Ghazali dan Kebenaran

         Secara naluri, semenjak muda usia al-Ghazali telah terbiasa melakukan
   refleksi untuk mencari dan menemukan kebenaran. Ia tidak begitu saja
   bertaklid kepada pendapat-pendapat yang dikatakan orang benar. Ada empat
   kelompok aliran dalam Islam yang menjadikan sasaran kritik al-Ghazali dalam
   upayanya mencari dan menemukan kebenaran, yaitu, pertama, kelompok
   teolog Islam, yang dikatakan sebagai kelompok intelektual dan pemikir.
   Kedua, kelompok Bathiniyyah atau Ta‟limiyyah, sebuah aliran dalam Syi‟ah
   Isma‟iliyyah yang selalu bergantung kepada Imam al-Muntazhar dan
   mendapat pengajaran dari padanya secara ghaib. Ketiga, kelompok filosof,
   yang dikatakan sebagai ahli logika dan mengutamakan akal. Keempat,
   kelompok ahli tasawuf, yang dikatakan sebagai kalangan elitis Tuhan
   (khawwash al-hadrah).

         Melihat bahwa semuanya sama-sama sedang menempuh jalan mencari
   kebenaran hakiki dan belum menemukannya, al-Ghazali pernah selama dua
   bulan mengalami penyakit syak (keraguan). Tetapi dia tetap meneruskan
   pencariannya setelah sembuh dari penyakitnya.

         Sementara ahli menyatakan bahwa syak yang dialami al-Ghazali adalah
   syak dalam pengertian skeptik-metodik. Hampir sama dengan teori Francis
   Bacon (1561-1626) yang menyatakan; ada dua syarat untuk memperoleh
   kebenaran obyektif. Pertama; selalu menggunakan induksi, dan kedua; selalu
   menghindari “idola‟ (ide yang berprasangka) sebelum mengambil kesimpulan,
   yaitu dengan menguji teori yang berkembang sebelumnya dengan menaruh
   keraguan. Maka, al-Ghazali menyelidiki secara mendalam keempat aliran
   tersebut sampai secara induktif dapat menyimpulkan kebenaran hakiki.

         Menurut al-Ghazali, kebenaran hakiki ialah pengetahuan yang diyakini
   betul kebenarannya tanpa sedikit pun keraguan. Kata-nya: “Jika ku ketahui
   sepuluh adalah lebih banyak dari tiga dan orang yang mengatakan sebaliknya
   dengan bukti seajaib tongkat yang dapat dirubah menjadi ular dan itu memang
terjadi dan kusaksikan sendiri, hal itu tak akan membuat aku ragu terhadap
pengetahuan bahwa sepuluh lebih banyak dari tiga; aku hanya akan merasa
kagum terhadap kemampuan orang tersebut. Sekali-kali hal itu tidak akan
membuat aku ragu tehadap pengetahuanku”. Dengan kata lain, di samping
mengandung pengertian tentang keyakinan, al-Ghazali di pihak lain,
membenarkan pengetahuan yang tidak empirik, yaitu pengetahuan yang
didasarkan pada intuisi, yang dimulai dengan kekaguman dan keraguan
(skeptik-metodik).
                                       PENUTUP



       Antara kaum teolog dan filosof terdapat perbedaan tentang arti al-ihdats

dan qadim. Bagi kaum teolog al-ihdats mengandung arti menciptakan dari “tiada",

sedang bagi kaum filosof berarti menciptakan dari “ada”. Kata Ibnu Rusyd, „adam

(tiada) tidak akan bisa berubah menjadi wujud (ada). Yang terjadi adalah “wujud‟

berubah menjadi “wujud” dalam bentuk lain. Oleh karena itu, materi asal, yang

dari padanya alam disusun, mesti qadim. Dan materi pertama yang qadim ini

berasal dari Tuhan melalui al-faidh (pancaran). Tetapi menurut al-Ghazali,

penciptaan dari tiadalah yang memastikan adanya Pencipta. Oleh sebeb itu, alam

pasti “baru” (hadits) dan diciptakan dari “tiada”.

       Dalam pemikiran al-Ghazali, sewaktu Tuhan menciptakan alam, yang ada

hanyalah Tuhan. Secara substansial al-Ghazali berfikir sebagai teolog, tetapi

secara instrumental berfikir sebagai filosof. Karena itu, di lain pihak justru al-

Ghazali dinilai “kacau” cara berfikirnya oleh Ibn Rusyd (Tahafut al-Tahafut).

Apalagi tampak jelas kekacauan al-Ghazali itu, kata Ibnu Rusyd, ketika berbicara

tentang kebangkitan jasmani yang terlihat paradoksal antara al-Ghazali sebagai

teolog dan filosof dan sebagai sufi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:551
posted:2/10/2011
language:Indonesian
pages:11