Docstoc

Pencernaan Biokimia

Document Sample
Pencernaan Biokimia Powered By Docstoc
					                                  ACARA IV
                                PENCERNAAN


                              Tujuan Praktikum
       Untuk mengetahui sistem pencernaan, proses pencernaan dalam
lambung, fungsi saliva, pencernaan oleh pankreas, fungsi empedu, dan
penghidrolisisan dalam pencernaan.


                              Tinjauan Pustaka
       Perombakan bahan makanan yang kompleks oleh enzim menjadi
senyawa – senyawa yang lebih sederhana dan merupakan bagian proses
metabolisme merupakan pengertian dari pencernaan berdasarkan kamus
biologi umum (Mien, 2004).
       Sistem pencernaan atau sistem gastro intestinal merupakan pintu
gerbang masuknya bahan makanan, vitamin, mineral dan cairan ke dalam
tubuh(Ganong, 2003).
       Saluran pencernaan itu secara garis besar terdiri atas : mulut-farinx-
oesophagus-ventrikulus-usus halus dan usus besar, selain itu mulut memuat
gigi untuk mengunyah makanan dan lidah yang membantu untuk citra rasa
dan penelanan. Beberapa kelenjar atau kelompok kelenjar menuangkan
cairan pencerna penting ke dalam saluran pencernaan, contohnya kelenjar
salivari (kelenjar ludah), kelenjar pankreas, hati (hepar) (Evelyn, 1993).
       Pencernaan bahan makanan utama merupakan proses yang teratur
yang melibatkan sejumlah besar enzim pencernaan. Enzim kelenjar saliva
dan kelenjar lingualis mencerna karbohidrat dan lemak, enzim lambung
mencerna protein dan lemak, DNA dan RNA. Enzim lain yang melengkapi
proses pencernaan di temukan di dalam membran luminal dan sitoplasma
sel-sel dinding usus halus. Kerja berbagai enzim tersebut dibantu oleh enzim
asam hidroklorida yang disekresikan lambung dan empedu yang disekresi
oleh hepar (Ganong, 2003).
      Di dalam mulut terdapat gigi yang terdiri dari : gigi seri, gigi taring,
geraham pertama (premolar), geraham (molar). Gigi berfungsi sebagai
pemotong dan menghancurkan makanan secara fisik, selain gigi ada juga
kelenjar ludah yang membantu dalam menelan makanan dan memindahkan
makanan selama proses penghancuran. Kelenjar ludah terdiri atas glandula
parotis (menghasilkan cairan), glandula sublingualis (mengeluarkan air dan
lendir) dan glandula submaxilaris (mengeluarkan air dan lendir). Pada mulut
terjadi pencernaan secara kimiawi (enzimalis) dan mekanis, pencernaan
secara kimiawi dibantu oleh enzim amilase. Pencernaan karbohidrat pada
rongga mulut hanya terjadi sebagian kecil saja dan pH mulut berkisar 6,8-7,
makanan dari rongga mulut dengan bantuan lidah masuk ke kerongkongan
(Oman, 1994).
      Pharinx terdiri dari Oropharinx, Nesopharinx dan Laringopharinx
(Ganong, 2003). Setelah melalui pharinx maka makanan akan masuk ke
oesophagus, di dalam oesophagus terjadi pencernaan. Setelah itu makanan
akan masuk ke lambung (ventrikulus). Dinding lambung menghasilkan HCl,
Prosenin,   Pepsinogen.   Adapun    fungsi HCl    adalah    1)   Mengaktifkan
pepsinogen menjadi pepsin dan protein menjadi asam amino, 2) Prorenin
menjadi renin dan protein susu menjadi kasein, 3) Membunuh bibit penyakit
yang masuk ke lambung, 4) Membantu dalam membuka dan menutup
pylorus (Oman, 1994).
      Usus halus terdiri dari duodenum (12 jari), jejenum, ileum. Turunnya
makanan yaitu dengan gerak peristaltik, gerak perbedaan tekanan dan
basanya usus. Pencernaan dalam usus halus merupakan makanan dan HCl
dari lambung merangsang dinding usus untuk menghasilkan : 1). Hormon
sekretin yang akan merangsang pankreas untuk mengeluarkan NHCO 3 /
KHCO3 untuk menetralkan suasana sama pada usus, amilase yang berfungsi
mengubah      amilum menjadi maltosa dan tripsinogen dengan bantuan
enterokinase diubah menjadi erepsin (Ganong, 2003).
       Pada usus halus tejadi penyerapan makanan yang terjadi pada
duodenum, jejenum dan ileum, tetapi pada duodenum hanya sebagian kecil
saja. Sari makanan terdiri dari : asam amino, glukosa, asam lemak dan
gliserol sedangkan sari makanan yang tak dicerna di sini adalah vitamin dan
garam mineral (Thomy, 1998).

       Pada usus besar atau colon sisa makanan yang tak dapat dicerna
bersama dengan lendir dan sel-sel yang mati dari dinding usus dibutuhkan
menjadi tinja. Bakteri Escherechia coli selain membutuhkan sisa makanan
juga membentuk vitamin K yang diabsorbsi bersama air. Defikasi terjadi jika
usus terisi makanan dan merupakan rangsangan untuk melakukan proses
tersebut yang bersifat refleksi gastrokolik (Evelyn, 1993).


                              Materi dan Metode
                                    Materi
       Alat. Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung
reaksi, pipet tetes, gelas ukur, api spirtus, kertas saring, penangas air 37ºC,
corong, labu Erlenmeyer, mangkuk, dan droplet.
       Bahan. Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
larutan NaCl 0,9%, saliva encer, air bersih, larutan amilum 1%, larutan Iod,
larutan Benedict, larutan HCl encer, karmen fibrin, larutan pepsin, larutan HCl
0,4%, larutan HCl pekat, larutan ekstrak pankreas netral, kongo merah fibrin,
Na2CO3 2%, larutan empedu, susu, fenol red, serbuk belerang, larutan
MgSO4, larutan BaCl2 10%, R Fouchet, dan larutan HNO3 pekat.
                                   Metode

Fungsi saliva dalam mulut
       Daya amilolitik saliva. Mula-mula seorang praktikan berkumur
dengan air bersih, kemudian berkumur dengan 20 ml larutan NaCl 0,9%.
Hasil kumuran ditampung dalam sebuah labu, digojok, kemudian disaring
sehingga diperoleh saliva encer. Setelah itu, larutan saliva encer dimasukkan
ke dalam 3 tabung reaksi masing-masing 2,5 ml. Pada tabung 1, saliva
tersebut dididihkan dan didinginkan. Pada tabung 2, ditambahkan 2,5 ml
larutan HCl encer. Kemudian ketiga tabung tersebut masing-masing
ditambahkan 2,5 ml larutan amilum 1% dan ditempatkan pada penangas air
37ºC selama 10 menit. Setelah 10 menit, ketiga tabung tersebut diuji Iod. Jika
pada tabung 3 tidak lagi menunjukkan reaksi positif setelah diuji Iod,
perlakuan dihentikan dan dilakukan uji Benedict pada tabung 3. Setelah itu,
hasilnya dicatat.

Pencernaan dalam lambung
       Hidrolisis protein oleh pepsin. Tiga buah tabung reaksi masing-
masing diisi dengan 1 ml larutan pepsin. Pada tabung 1, ditambahkan 1 ml
larutan HCl 0,4%. Pada tabung 2, ditambahkan 1ml air. Pada tabung 3,
larutan pepsin dididihkan selama 1 menit kemudian didinginkan dan
ditambahkan 1 ml larutan HCl 0,4%. Setelah itu, pada tabung 1, tabung 2,
dan tabung 3 ditambahkan 1 potong karmen fibrin. Ketiga tabung tersebut
ditempatkan pada penangas air 37ºC selama 10 menit. Kemudian hasil
pengamatan dicatat.
Pencernaan oleh pankreas
       Hidrolisis protein. Mula-mula disiapkan 3 tabung, lalu pada tabung 1
dan tabung 2 dimasukkan 1 ml ekstrak pankreas netral, sedangkan pada
tabung 3 dimasukkan 1 ml air. Ketiga tabung masing-masing ditambahkan 2
tetes Na2CO3 2% dan ditambahkan 1 potong kongo merah fibrin pada tabung
1, tabung 2, dan tabung 3. Pada tabung 2 ditambahkan 2 tetes larutan
empedu. Kemudian ketiga tabung ditempatkan pada penangas air dengan
suhu 37ºC selama 10 menit. Setelah itu, hasil pengamatan yang terjadi pada
ketiga tabung dicatat.
       Hidrolisis amilum. Sebanyak 5 ml amilum 1% ditambahkan 5 ml
ekstrak pankreas netral dan diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 10 menit.
Kemudian diuji Iod, lalu diuji Benedict. Hasil pengamatan dicatat.
       Hidrolisis lemak. Sebanyak 2 ml susu ditempatkan pada 3 tabung.
Pada tabung 1 dan tabung 2, ditambahkan 1 ml ekstrak pankreas netral,
sedangkan pada tabung 3 ditambahkan 1 ml air. Pada tabung 2 ditambahkan
2 tetes larutan empedu. Ketiga tabung ditambahkan 4 tetes fenol red dan 4
tetes Na2CO3 2% sampai berwarna merah muda. Kemudian diinkubasikan
pada suhu 37ºC selama 10 menit. Perubahan yang terjadi diamati dan
dicatat.
Fungsi empedu
       Penurunan tegangan muka oleh garam kholat. Pada tabung 1,
sebanyak 2 ml air ditambahkan serbuk belerang, sedangkan pada tabung 2,
sebanyak 2 ml larutan empedu ditambahkan serbuk belerang. Yang terjadi
pada perlakuan tersebut diamati dan dicatat.
           Uji Gmelin. Sebanyak 3 ml HNO3 pekat ditambahkan 1ml empedu
encer melalui dinding tabung. Kemudian diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
       Uji Fouchet. Sebanyak 3 ml empedu masak ditambahkan 1 tetes
MgSO4, dan 1 ml BaCl2 10%. Kemudian dimasak sampai terbentuk endapan
dan disaring. Endapan yang berada pada kertas saring ditambahkan 1 tetes
R. Fouchet. Yang terjadi diamati dan dicatat.
                          Hasil dan Pembahasan


Fungsi saliva dalam mulut
        Daya amilolitik saliva. Salah satu praktikan yang akan digunakan
air liurnya berkumur dengan air bersih kemudian berkumur dengan 0,2%
NaCl. Hasil kumuran ditampung dalam sebuah mangkuk, digojog, kemudian
disaring dan diperoleh saliva encer. Berkumur dengan NaCl akan
merangsang keluarnya kelenjar saliva. Kedalam 3 buah tabung reaksi diisi
masing-masing 5 ml larutan saliva encer. Pada tabung pertama, setelah diisi
saliva encer kemudian didihkan untuk selanjutnya didinginkan dan ditambah
amilum 1%, begitu juga untuk tabung kedua dan ketiga namun tanpa
dipanaskan. Tabung kedua ditambah dengan HCl untuk mensuasanakan
asam. Ketiga tabung tersebut kemudian dipanaskan untuk diinkubasi pada
suhu 37o C. Selama 10 menit dan diuji dengan larutan Iod. Tabung pertama
menunjukkan hasil positif, yaitu warna larutan tidak sama dengan larutan Iod
yang menunjukkan bahwa tidk terjadi hidrolisis amilum. Tabung kedua juga
positif. Tabung ketiga diuji Iod sampai reaksi negatif kemudian diuji benedict
membentuk endapan merah bata. Pada tabung pertama, saliva mengalami
kerusakan dengan adanya pemanasan (pendidihan). Saliva merupakan
enzim, enzim tersusun atas protein. Protein apabila dipanaskan akan
terdenaturasi sehingga tidak terhidrolisis. Pada tabung kedua, adanya HCl
menjadikan saliva tidak dapat menghidrolisis amilum karena saliva bekerja
pada pH netral sehingga dengan adanya HCl         yang menjadikan suasana
asam saliva tidak dapat melakukan hidrolisis. Menurut Podjiadi, enzim ptialin
dalam saliva adalah suatu enzim amilase yang berfungsi untuk memecah
molekul amilum menjadi maltosa dengan proses hidrolisis. Enzim ptialin
bekerja secara optimal pada pH 6,6. Saliva mempunyai pH antara 5,75
sampai 7,05 (1994;235-236). Pada tabung ketiga terjadi hidrolisis, pada
waktu uji Iod warna larutan sama dengan warna Iod. Kemudian diuji Benedict
yang bertujuan untuk mengetahui apakah hidrolisis amilum sudah selesai apa
belum (mencapai tahap glukosa apa belum). Hasilnya terbentuk endapa
merah bata menunjukkan larutan yang sudah diuji Iod dan hasilnya negatif
telah mencapai tahap glukosa. Menurut podjiadi, hidrolisis yang dapat
dilakukan dengan bantuan enzim amilase. Dalam ludah dan dalam cairan
yang dikeluarkan pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum
yang terdapat dalam makanan kita.       Oleh enzim amilase amilum diubah
menjadi maltosa dalam bentuk  maltosa (1994;37). Adapun inkubasi pada
suhu 37o C bertujuan untuk menyamakan suhu yang bekerja pada larutan
sama dengan suhu tubuh.
Pencernaan dalam lambung
        Hidrolisis protein oleh peptin. Digunakan tiga buah tabung dengan
tabung pertama diisi oleh pepsin, HCl 0,4% dan karmen fibrin. Tabung kedua
diisi air, HCl 0,4% dan karmen fibrin. Dan tabung ketiga diisi pepsin kemudian
didihkan dan didinginkan baru ditambah dengan HCl 0,4% dan karmen fibrin.
Ketiga tabung kemudian diinkubasi pada suhu 37 o C selama 10 menit.
Hasilnya larutan berwarna kuning kecoklatan pada tabung pertama. Tabung
kedua tidak berwarna begitu juga tabung ketiga. Pepsin merupakan enzim
yang disekresikan oleh lambung. Lambung mempunyai suasana yang asam.
Pada tabung pertaama digunakan HCl untuk mensuasanakan asam seperti
dalam lambung. Prinsip terjadinya reaksi harus ada enzim dan subtrat.
Subntratnya adalah karmen fibrin. Karmen fibrin merupakan darah ayam
yang diolah menjadi sedemikian rupa dan dicat karmen yang bekerja spesifik
pada suasan asam. Darah ayam merupakan protein. Sehingga pada tabung
pertama terjadi reaksi yaitu karmen fibrin terhidrolisis sehingga karmennya
pecah dan menimbulkan warna kuning kecoklatan. Pada tabung kedua tidak
terjadi hidrolisis dan larutannya tidak berwarna sedangkan karmen fibrinnya
mengembang karena dipanaskan pada suhu 37 o C. Pada tabung ini tidak
terjadi hidrolis karena tidak ada enzim sehingga tidak memenuhi prinsip
terjadinya reaksi. Pada tabung ketiga terdapat enzim dan subtrat, namun
pemanasan     pepsin   yang    dilakukan   menyebabkan    pepsin   tersebut
terdebaturasi. Pepsin merupakan enzim. Penyusun enzim merupakan
protein. Protein jika dipanaskan akan terdenaturasi. Sehingga kerja enzim
tidak optimal dan hasilnya tidak terhidrolisis secara sempurna. Menurut
Podjiadi, dalam lambung terdapat cairan yang berfungsi terutama untuk
pencernaan protein, yaitu pemecahan molekul protein dengan cara hidrolisis.
Zat organik yang ada dalam lambung adalah HCl, NaCl, KCl, dan fosfat
sedangkan zat organik yang terdapat dalam lambung adalah enzim peptin,
renin, lipase (1986;35). Pepsin adalah suatu enzim yang berguna untuk
memecah molekul protein menjadi molekul yang lebih kecil yaitu pepton dan
proteosa. Pepsin merupakan katalis untuk reaksi hidrolisis protein dan
membentuk pepton dan proteosa yaitu polipeptida yang lebih kecil daripada
protein (Podjiadi,1994;238).
Pencernaan oleh pankreas
        Hidrolisis protein. Pada percobaan ini digunakan tiga buah tabung.
Tabung pertama diisi dengan ekstrak pankreas netral, Na2CO3 2% dan kongo
merah fibrin. Tabung kedua diisi dengan ekstrak pankreas netral, Na2CO3
2%, kongo merah fibrin dan larutan empedu. Tabung ketiga diisi dengan air,
Na2CO3 2% dan kongo merah fibrin. Ketiga tabung diinkubasi pada suhu 37 o
C selama 10 menit. Prinsip terjadinya reaksi adalah harus ada enzim,
pensuasana basa dan substrat. Sebagai penghasil enzimnya adalah ekstrak
pankreas netral, sebagai pensuasana basa adalah Na 2CO3 2%, dan sebagai
substratnya adalah kongo merah fibrin (substrat protein). Hasilnya, pada
tabung pertama larutan berwarna coklat tua. Pada tabung kedua warna
larutannya lebih tua dari pada tabung pertama. Pada tabung ketiga
larutannya tidak berwarna. Pada tabung pertama terjadi hidrolisis protein
karena terdapat enzim, substrat dan pensuasana basa. Pada tabung kedua
hasilnya berwarna lebih tua karena dengan adanya larutan empedu maka
hidrolisis protein berjalan lebih cepat. Menurut Poedjiadi, beberapa fungsi
asam empedu antara lain ialah 1) sebagai emulgator dalam pencernaan
lemak dan usus, 2) dapat mengaktifkan lipase dalam cairan pankreas, 3)
membantu absorbsi asam-asam lemak, kolesterol, vitamin D dan K serta
karoten, 4) sebagai perangsang aliran cairan empedu dari hati, 5) menjaga
agar kolesterol tetap larut dalam cairan empedu, sebab bila perbandingan
asam empedu dengan kolesterol rendah akan menyebabkan endapan
kolesterol (1994;244). Pada tabung ketiga larutan tidak berwarna karena
tidak ada enzim sehingga tidak terjadi hidrolisis.
        Hidrolisis    amilum.    Amilum,    ekstrak   pankreas    dan   Na2CO3
dimasukkan pada sebuah tabung kemudian diinkubasi pada suhu 37 o C
selama 10 menit. Setelah itu diuji Iod. Hasilnya positif, yaitu terjadi perubahan
warna yang berbeda dari warna larutan Iod. Pankreas bersifat basa. Menurut
Podjiadi, cairan yang dikeluarkan oleh pankreas dan empedu mempunyai
sifat basa (1994;240). Sehingga ketika ditambahkan Na2CO3 adalah sama-
sama bersifat basa. Ketika larutan Iod ditetesi dengan larutan amilum yang
ditambah ekstrak pankreas dan Na2CO3 warnanya menjadi biru yang berarti
tidak terjadi hidroisis amilum. Pengujian iod ini dilakukan selama dua puluh
kali dengan selang waktu masing-masing 3 menit dan tabung tetap berada
dalam inkubator penangas air. Hal ini ini tidak sesuai dengan pernyataan
Podjiadi, (1994;243) bahwa amilase yang terdapat dalam cairan pankreas
sama dengan amilase dalam saliva, yaitu berfungsi sebagai katalis dalam
proses hidrolisis amilum, dekstrin dan glikogen menjadi maltosa.
        Hidrolisis lemak. Digunakan tiga buah tabung. Tabung pertama diisi
dengan susu, ekstrak pankreas netral, fenol red dan Na2CO3 2%. Tabung
kedua diisi sama dengan tabng pertama dan ditambah larutan empedu.
Tabung ketiga diisi dengan susu, air, fenol red dan Na 2CO3 2%. Masing-
masing tabung divortek dan diinkubasi dalam penangas air pada suhu 37o C
selama 10 menit. Hasilnya pada tabung pertama berwarna coklat, tabung
kedua berwarna coklat yang lebih tua dari tabung pertama dan tabung ketiga
berwarna tetap merah muda. Pada awalnya semua larutan berwarna merah
muda. Ekstrak pankreas menghasilkan lipase yang menghidrolisis lemak
susu menjadi asam lemak dan gliserol. Fenol red yang digunakan berfungsi
sebagai indikator warna. Fenol red dalam suasana basa berwarna merah
muda sedang dalam suasana asam berwarna kuning. Susu yang
ditambahkan merupakan sumber substrat, ekstrak pankreas sebagai
penghasil enzim dan Na2CO3 2% sebagai pensuasana basa. Diinkubasi pada
suhu 37o C untuk menyesuaikan dengan suhu tubuh. Sehingga pada tabung
pertama hasilnya positif. Pada tabung kedua ditambah larutan empedu dan
hasilnya larutan berwarna lebih tua. Dengan penambahan larutan empedu
membantu kerja ekstrak pankreas dalam menghidrolisis lemak. Menurut
Poedjiadi. Pencernaan lemak dengan cara dengan cara hidrolisis dibantu
oleh garam asam empedu yang terdapat dalam cairan empedu dan berfungsi
sebagai emuilgator sehingga lemak dan usus dapat dipecah-pecah menjadi
partikel-partikel kecil sebagai emulsi dan luas permukaan lemak bertambah
besar. Hal ini menyebabkan proses hidrolisis berjalan lebih cepat (1994;243).
Pada tabung ketiga tidak terjadi hidrolisis lemak karena tidak terdapat enzim.
Lemak susu tidak terhidrolisis oleh enzim pankreas dan dengan adanya
penambahan Na2CO3 2% sebagai pensuasana basa, tetap tidak terjadi
hidrolisis lemak. Menurut Poedjiadi, lipase dalam cairan pankreas berfungsi
sebagai bahan katalis dalam proses hidrolisis lemak menjadi asam lemak,
gliserol, monoagliserol dan diasilgliserol (1994;243).
Hal fungsi empedu
        Penurunan tegangan muka oleh garam kholat. Pada percobaan
ini dibandingkan antara serbuk belerang yang berada diatas permukaan air
dan diatas permukaan larutan empedu. Hasilnya pada air, serbuk belerang
tetap mengapung dan pada larutan empedu serbuk belerang larut. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya garam kholat dalam empedu menurunkan
tegangan muka empedu. Menurut Poedjiadi, asam-asam empedu yang
penting ialah asam kholat dan asam deoksikholat. Salah satu fungsi asam
empedu adalah sebagai emulgator dalam proses pencernaan lemak dalam
usus (1994;244)
         Uji Gmelin. Uji ini bertujuan untuk mengetahui pigmen empedu
bilirubin. HNO3 pekat dalam tabung reaksi dialiri larutan empedu melalui
dinding tabung. Hasilnya terbentuk cincin coklat kehijauan. Hal ini
menunjukkan adanya bilirubin dalam empedu. HNO3 pekat mengoksidasi
larutan empedu sehingga terbentuk cincin coklat kehijauan. Menurut
Poedjiadi (1994;244) bahwa cairan empedu mengandung zat-zat organik,
yaitu HCO3, Cl, Na dan K serta zat-zat organik yaitu asam-asam empedu
bilirubin dan kolesterol.
         Uji Fouchet. Tujuan uji ini adalah untuk mengetahui pigmen empedu
biliferdin. Larutan empedu yang telah dimasal ditambah dengan aquades,
MgSO4 dan BaCL2 10% kemudian dimasak dan disaring. Hasilnya berwarna
hijau. Kemudian endapan pada kertas saring tersebut ditetesi dengan reagen
Fouchet dan hasilnya berwarna biru kehijauan. Endapan yang terjadi berasal
dari reaksi MgSO4 dan BaCl2 membentuk BaSO4 berupa endapan. Dengan
penetesan reagen Fouchet terbentuk warna biru kehijauan menunjukkan
bahwa dalam empedu terdapat pigmen empedu biliferdin.
                                      Kesimpulan
         Pencernaan makanan adalah proses pengubahan molekul besar
menjadi molekul yang lebih kecil sehingga dapat diarbsorpsi oleh usus halus
dan dimanfaatkan oleh tubuh. Pada mulut saliva bekerja pada pH normal
(suasana netral ) yang berfungsi untuk menghidrolisis amilum menjadi
maltosa. Pepsin dalam lambung bekerja pada pH rendah (suasana asam)
yang berfungsi untuk menghidrolisis protein menjadi pepton dan proteosa
dengan katalisator HCl (pensuasana asam). Pankreas bekerja pada pH tinggi
(suasana basa). Pankreas dapat menghidrolisis protein, menghidrolisis
amilum dan menghidrolisis lemak oleh enzim amilase dan lipase. Pada
hidrolisis protein dan lemak oleh pankreas dibantu oleh empedu, yang
berfungsi    sebagai     emulgator,    membantu    mengaktifkan   lipase   dalam
pankreas, dan menetralkan asam lemak. Empedu dapat menurunkan
tegangan muka dan dalam empedu terdapat pigmen-pigmen yaitu bilirubin,
biliferdin dan bilisianin .
                              Daftar Pustaka

Evelyn, P. 1993. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia:
        Jakarta.

Ganong, F.W. 2003. Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran:
        Jakarta.
Martoharsono, Soeharsono. 1986. Biokimia. Yogyakarta: Gadjah Mada
        Universiti Press
Oman, K. 1994. Biologi Umum. Ganeca Exact: Bandung.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Indonesia University Press:
        Jakarta.
Rifai, Mien.A. 2004. Kamus Biologi. Balai Pustaka: Jakarta
Tillman, Allen, et.all. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
        University Press: Yogyakarta.
Thomy, Z. 1998. Biologi Bintap. Yrama Widya: Bandung

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:7311
posted:2/9/2011
language:Indonesian
pages:13