Kaidah Cabang by z41n5ul

VIEWS: 258 PAGES: 2

									                                                KAIDAH CABANG
                                       
                                          (Kesulitan Mendatangkan Kemudahan)

      Sejak semula agama islam membawa kemudahan bagi pemeluk ajarannya, untuk itu kesulitan atau
kesempitan itu dibatasi. Kemudahan disini diperuntukkan bagi masyaqqat a’la yang dapat mengancam unsur
kemaslahatan yang ada lima, atau setidaknya masyaqqat itu berada dalam posisi tengah yang lebih mendekati
masyaqqat atas bukan mendekati masyaqqat bawah. Hal ini kemudiaan memunculkan metode ulama yang
disebut dengan metode Taqriry (hukum relatifitas), dengan sendirinya hukum relatifitas tersebut membawa
konsekuensi adanya tiga kaidah cabang dari “al-Masyaqqat tajlib al-Taisir” sebagai berikut:
      Kaidah pertama, 1
      
       “Ketika suatu perkara telah menjadi sssempit maka harus diperlonggar”
       kaidah ini dinyatakan oleh imam Syafii saat menjawab tiga pertanyaan yang diajukan oleh para
sahabatnya.2 Pertama, apabila seorang wanita tidak mempunyai wali (atau ada wali tetapi berada ditempat
jauh) melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan dia berkeinginan untuk menikah. Hanya saja dia tidak
menemukan wali yang bisa menikahkannya. Oleh karena itu, ia mengangkat seorang laki-laki untuk dijadikan
wali. Bagaimanakah hukum pengangkatan wali tersebut? Imam Syafii menjawab: “ ”. Maksudnya karena
kondisi wanita tersebut dalam keadaan sulit maka ia diperbolehkan melakukan hal itu dan hukum pernikahannya
adalah sah.
       Kedua, tempat air terbuat dari tanah yang tercampur kotoran hewan. Bolehkah wudllu menggunakan air
dalam tempat tersebut? Imam Syafii menjawab: “tidak najis karena ”.
       Ketiga, seekor lalat hinggap diatas benda yang najis, kemudian terbang dan hinggap di baju seseorang.
Najiskah baju orang tersebut? Imam Syafii menjawab: “apabila saat terbang dari benda yang najis tersebut
kedua kakinya kering maka suci. Jika basah maka dimaafkan”.
       Maksud dari kaidah yang digunakan oleh imam Syafii sebagai jawaban ini adalah kondisi sulit dan sempit
seperti itu (sulit menelitinya) menyebabkan seseorang boleh melakukan sesuatu yang semestinya tidak boleh.
Dengan arti lain apabila seseorang berada pada suatu kondisi sulit dan berat maka ia diperbolehkan melakukan
sesuatu yang tidak diperbolehkan pada kondisi normal. Hukum asalnya tidak boleh menjadi boleh jika berada
pada kondisi berat dan sulit. Untuk membatasi kaidah pertama ini yang menjadi tandingannya yaitu kaidah
kedua.
       Kaidah kedua, 3
      
      “ketika suatu perkara telah menjadi longgar maka harus dipersempit”
      kaidah kedua ini menyebutkan apabila kondisinya sudah kembali normal atau kesulitan dan keresahan
sudah bisa dihilangkan maka tidak diperbolehkan lagi melakukan sesuatu yang dilakukan pada saat sulit
melainkan harus kembali pada hukum asalnya.
      Kedua kaidah di atas bertumpu pada firman Allah surat an-Nisa’ ayat 101-103:4




      “101. Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika
      kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
      102. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat

1
  Taj Al-Din Abd Al-Wahab Ibn Ali Ibn Abd Al-Kafi Al-Subkiy, Al-Asybah Wa Al-Nadhair, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiiyyah,
1991), cet I, hlm. 48.
2
  Jalaluddin Abd Al-Rohman Al-Suyuthi, Al-Asybah Wa Al-Nadhair, (Beirut: Dar Al-Fikr,1996), Cet.II, hlm. 111.
3
  Abdullah Ibn Said Muhammad Al-Lahji Al-Hadrami, Idhah Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah, (Surabaya: Dar Al-Rahman, 1410
H), hlm. 43; lihat pula Abdul Haq, Ahmad Mubarrak, Agus Rauf, Formulasi Nalar Fiqh; Telaah Kaidah Fiqh Konseptual,
(Surabaya: Khalista, 2006), hlm. 205.
4
  Al Quran Al-Kaarim, Surat Al-Nisa’, Ayat 101-103.

                                                                                                                       1
      bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang
      senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka
      hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua
      yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan
      menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu
      mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu
      mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu.
      Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. 103. Maka apabila
      kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.
      Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat
      itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. “

      Dua ayat pertama menjadi dasar legitimasi kaidah pertama, dimana Allah memberikan keringanan kepada
orang-orang mukmin ketika dalam ketakutan. Mereka diperbolehkan melakukan qashar sholat dan boleh
merubah runtutan sholat yaitu sholat khouf. Ayat ketiga menjadi legitimasi kaidah kedua, dimana Allah
menekankan kepada orang-oraang mukmin apabila kondisi sudah normal dan perasaan takut sudah hilang dari
benak mereka maka harus kembali melaksankan sholat dangan sempurna dan sesuai dengan runtutannya.
      Contoh aplikasi kedua kaidah ini:
      a. Dipeerbolehkan mengusir atau mengenyahkan pencuri dari masyarakat sampai masyarakat terhindar
         dari dampak perbuatannya walaupun hal itu harus dilakukan dengan cara membunuh. Namun jika
         keresahan masyarakat bisa dihilangkan dengan cara mengusirnya maka tidak boleh dengan cara yang
         sampai melukainya karena apabila keresaan dan ketidaktenangan masyarakat sudah biisa dihilangan
         dengan cara mengusirnya, maka tidak boleh berbuat lebih dari mengusir. Apabila tidak cukup
         mengusirnya maka boleh dengan cara melukainya. Bila sudah cukup dengan cara melukainya maka
         tidak boleh dengan cara membunuhnya, karena apabila masyaqat masyarakat bisa dihilangkan dengan
         cara melukai orang yang meresahkan (pencuri) maka tidak boleh berbuat lebih dari melukainya dan
         begitu seterusnya.
      b. Tidak boleh menolak dan bertentangan dengan penguasa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan
         penuh meskipun ia seorang penguasa yanng dhalim. Hal ini jika bertentangan dengan penguasa
         tersebut justru mengakibatkan kesulitan yang terus menerus.
      c. Boleh mengambil upah pada amal-amal ibadah, seperti mengajar al Quran, menjadi muadzin, khatib,
         imam, dan lain-lain. Hal ini memang jika kondisi menuntut yang demikian dan hal itu dimaksudkan
         untuk memajukan syiar islam.
      d. Bila dalam keadaan benar-benar terpepet, misalnya rasa lapar yang sudah tidak tertahan lagi, maka
         boleh memakan harta orang lain secukupnya (cukup untuk menahan laparnya saja), dengan syarat ada
         janji dalam dirinya bahwa nanti apabila sudah mampu akan dikembalikan.
      e. Menjadikan wanita dan anak-anak sebagai saksi pada kasus kejadian yang berhubungan dengan
         tempat-tempat yang umumnya tidak didatangi lelaki, misalnya tempat pemandian wanita. 5
      f. Ketika melaksanakan sholat kita tidak diperbolehkan melakukan gerakan. Sebab kondisi kita saat itu
         tidak menuntut dilakukannya suatu gerakan. Akan tetapi jika gerakan itu dilakukan untuk
         menghindari serangan ular berbisa, kalajengking, dan binatang berbisa lainnya maka gerakan tersebut
         diperbolehkan. Dengan kata lain, sholat yang kita lakukan tanpa adanya gangguan termasuk katagori
         keadaan lapang (ittasa’a), sehingga hukumnya menjadi sempit dan terbatas (dhaqa), yakni tidak
         boleh melakukan pergerakan yang berlebihan.
      Kaidah ketiga,
      
      “setiap sesuatu yang sudah melewati batas kewajaran memiliki hukum yang sebaliknya”
      kaidah yang ketiga ini adalah hasil sintesa (perpaduan) dua kaidah sebelumnya, artinya kaidah ini
memandang sempit dan luasnya suatu keadaan, akan berakibat, ketika kondisi sulit berarti hukumnya ringan,
saat kedaan lapang akan membuat hukum menjadi ketat. Al-Ghazalli lah yang melakukan upaya sintetik
tersebut. yakni melalui perpaduan dua kaidah cabang sebelumnya, yang jika dilihat sepintas agaknya bertolak
belakanng padahal kenyataanya mempunyai substansi yang senada




5
 Abd Al-Aziz Muhammad Azzam, Qowaid Al-fiqh Al-Islami, (Kairo: Al-Risalah Al-Dauliyyah, 1999), hlm.149; lihat pula
Ahmad Sudirman Abbas, Qowaid Fiqhiyyah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, dengan Anglo Media, 2004), Cet. I, hlm. 109.

                                                                                                                 2

								
To top