Docstoc

Fonologi - DOC

Document Sample
Fonologi - DOC Powered By Docstoc
					                                    BAB XII
                    PEMEROLEHAN FONOLOGI


     Pada bab-bab terdahulu telah dibicarakan teori-teori mengenai pemerolehan
sintaksis dan pemerolehan semantik bahasa-ibu oleh kanak-kanak. Berikut ini akan
dikemukakan beberapa teori mengenai pemerolehan fonologi oleh kanak-kanak
sebagai bagian dari pemerolehan bahasa-ibu seutuhnya.
1. Teori Struktural Universal
     Teori struktural universal ini dikemukakan dan dikembangkan oleh Jakobson
0968). Oleh karena itu, sering juga disebut teori Jakobson. Pada intinya teori ini
mencoba menjelaskan pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur universal
linguistik, yakni hukum-hukum struktural yang mengatur setiap perubahan bunyi.
     DAIam, penelitiannya Jakobson mengamati pengeluaran bunyi-bunyi oleh
bayi-bayi pada tahap membabel (babling) dan menemukan bahwa bayi yang normal
mengeluarkan berbagai ragam bunyi dalam, vokalisasinya baik bunyi vokal maupun
bunyi konsonan. Namun, ketika bayi mulai memperoleh "kata" pertamanya (kira-
kira 1 : 0 tahun) maka kebanyakan bunyi-bunyi ini menghilang. Malah sebagian
dari bunyi-bunyi itu bare muncul kembali beberapa . tahun kemudian. Dari
pengamatannya, Jakobson menyimpulkan adanya dua tahap dalam pemerolehan
fonologi, yaitu (1) tahap membabel prabahasa, dan (2) tahap pemerolehan bahasa
murni.
Pada tahap prabahasa bunyi-bunyi yang dihasilkan bayi tidak menunjukkan suatu
urutan perkembangan tertentu, dan , sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan
masa pemerolehanbahasa berikutnya. Jadi, pada tahap membubel ini bayi 'hanya
melatih alas-alas vokalnya dengan cara mengeluarkan bunyi-bunyi tanpa tujuan
tertentu, atau bukan untuk berkomunikasi. Sebaliknya, pada tahap.pemerolehan
bahasa yang sebenarnya bayi mengikuti suatu pernerolehan bunyi yang relatif
universal dan tidak berubah.
     Menurut Jakobson di antara, kedua tahap itu terdapat masa tidak adanya
kegiatan yang menunjukkan tidak adanya kesinambungan di antara kedua tahap itu,
meskipun masanya sangat singkat dan tidak tampak jelas. Banyak pakar
psikolinguistik perkembangan menerima teori Jakobson mengenai masa senyap ini.
Beberapa bukti yang memperkuat teori Jakobson ini adalah sebagai berikut.
1. Bunyi likuida [1] dan [r] yang sexing muncul pada tahap membabel, hilang pada
   tahap mengeluarkan bunyi bahasa yang sebenarnya. Bunyi ini bare muncul lagi
   ketika bayi berumur tiga setengah tahun (3 : 6), atau empat tahun (4 0), bahkan
   ketika berumur lima tahun. (5 : 0).
2. Bayi-bayi yang pekak membabel dengan cara, yang sama dengan Yang normal.
   Namun, setelah tahap membabel ini selesai bayi-bayi ini pun akan berhenti
   mengeluarkan bunyi-bunyi.
3. Menurut penelitian Port dan Preston (1972), VOT (voice onset time = waktu
   antara pelepasan bunyi hambat dan bergetarnya pita, suara) seperti konsonan [d]
   dan [t] tidak sama pada tahap membabel dengan VOT pada tahap mengeluarkan
   bunyi bahasa yang sebenarnya; dan VOT ketika berusia satu tahun (1 : 0) sama
   dengan VOT orang dewasa. Perbedaan VOT ini membuktikan adanya masa
   peralihan di antara tahap membabel dengan tahap mengeluarkan bunyi yang
   sebenarnya.
      Jika tahap pemerolehan Bahasa yang sebenarnya dimulai, maka akan terdapat
urutan peringkat perkembangan yang teratur , dan tidak berubah, meskipun taraf
kemajuan tiap individu tidak sama. Perkembangan peringkat ini ditentukan oleh
hukum-hukum yang bersifat universal yang oleh Jakobson disebut "the laws of
irreversible solidarity" (1968 : 68).
      Perkembangan itu bergerak dari bentuk yang sederhana kepada bentuk yang
kompleks dan rumit, Kerumitan suatu bunyi ditentukan oleh jumlah fitur (oposisi)
yang dimiliki oleh bunyi itu di dalam satu sistem. Jadi, sebenarnya yang diperoleh
oleh bayi bukanlah bunyi satu demi satu, melainkan berupa oposisi-oposisi atau
kontras-kontras fonemik, atau fitt, fitur yang berkontras.
Menurut Jakobson meskipun bunyi-bunyi babasa-bahasa yang ada di dunia ini
berbeda-beda, namun hubungan-hubungan tertentu yang ada pada bunyi-bunyi ini
sifatnya tetap. Umpamanya, apabila suatu bahasa memiliki bunyi hambat velar
seperti [g] maka bahasa itu pasti mempunyai bunyi hambat alveolar seperti [t], dan
juga hambat bilabial seperti [b], Jika suatu bahasa mempunyai bunyi hambat
alveolar [t] dan [d], maka bahasa itu. juga pasti mempunyai hambat bilabial [b] dan
[p]; 'tetapi belum tentu bahasa itu memiliki bunyi i velar [g] dan [k]. Begitu juga
apabila suatu bahasa mempunyai konsonan frikatif [v] dan [s], maka bahasa itu
pasti mempunyai konsonan hambat seperti [t] dan [b].
     Berdasarkan keterangan di atas Jakobson memprediksikan bahwa bayi-bayi
akan memperoleh kontras atau oposisi antara hambat bilabial dengan hambat dental
atau hambat alveolar lebih dahulu daripada kontraskontras di antara bilabial dan
velar atau di antara dental dengan velar. Lebih jauh, Jakobson juga meramalkan
bahwa konsonan hambat akan dahulu diperoleh daripada frikatif dan afrikat. Yang
terakhir diperoleh adalah bunyi-bunyi likuida seperti [1] dan [r]; dan bunyi luncuran
(glide) [y] dan [w].
     Urutan pemerolehan bunyi yang diramalkan Jakobson pada dasarnya sejalan
dengan data yang dikumpulkan oleh sejumlah pakar seperti , Dark dan Dark (1977),
Ervin – Tripp (1966), dan Foss dan Hakes (1978). Data yang dikumpulkan itu
menunjukkan bahwa kanaK-kanak lebih dahulu dapat membunyikan [b], [pl, [d],
dan [t] daripada bunyi [f] dan [s]. Oleh karena itu, sering terjadi [f] ditukar dengan
[p], seperti kanak-kanak mengucapkan [pis] untuk <fish>; atau bunyi [s] ditukar
dengan [t] seperti kata <suit> yang diucapkan menjadi [tut].
     Dalam bukunya yang lain, Jakobson (Jakobson dan Hall, 1958) menyatakan
bahwa pemerolehan bunyi konsonan dimulai dari bunyi bibir (bilabial); sedangkan
pemerolehan bunyi vokal dimulai dengan satu vokal lebar, biasanya bunyi [a]. Jadi,
pada waktu yang lama konsonan bilabial, biasanya [p], dan vokal lebar, biasanya [a]
membentuk satu model silabel yang universal yaitu KV (konsonan + vokal) yang
mencerminkan apa yang disebut "konsonan optimal + vokal optimal". Berdasarkan
pola inilah nanti akan muncul satuan-satuan bermakna dalam ucapan kanak-kanak
yang biasanya terjadi dalam bentuk reduplikasi, misalnya [pa + pa].
     Menurut Jakobson urutan pemerolehan kontras fonemik bersifat universal.
Artinya, bisa terjadi dalam bahasa apa pun dan oleh kanak-kanak mans pun. Maka
setelah konsonan bilabial dan vokal lebar di atas, akan muncul oposisi bunyi oral
dan bunyi nasal seperti [pa-pa] [ma-ma]. Kemudian diikuti oleh oposisi labial dan
dental/alveolar, seperti [pa-pa] – [ta-ta] atau [ma-maj – [na-na]. Jadi, menurut
Jakobson, urutan pemerolehan konsonan adalah bilabial-dental (alveolar) – palatal –
velar. Ini berarti, apabila seorang kanak-kanak telah dapat membunyikan konsonan
frikatif, berarti dia juga telah mampu membunyikan bunyi-bunyi hambat.
Munculnya konsonan belakang dalam ucapan kanak-kanak menandakan bahwa dia
juga telah menguasai konsonan depan. Inilah yang oleh Jakobson disebut hukum-
hukum implikasi. Namun, harus diingat bahwa yang diperoleh kanak-kanak
bukanlah bunyi-bunyi secara satu per satu, melainkan dalam oposisinya
(kontrasnya) dengan bunyi-bunyi lain dalam sistem hukumhukum di atas.
     Kontras vokal pertama yang diperoleh kanak-kanak adalah kontras vokal lebar
[a] dengan vokal [i]. Kemudian, diikuti oleh kontras vokal sempit depan [i] dengan
vokal sempit belakang [u]. Sesudah itu bare antira. vokal [e] dan vokal fuj; vokal
[o] dengan vokal [e].
     Akhirnya menurut Jakobson, seringnya sesuatu bunyi diucapkan seorang
dewasa terhadap kanak-kanak tidak menentukan munculnya bunyi tersebut dalam
ucapan kanak-kanak. Yang menentukan urutan munculnya bunyi-bunyi adalah
seringnya bunyi-bunyi itu muncul dalam bahasa-bahasa dunia. Jika suatu bunyi
wring muncul dalam bahasa-bahasa dunia, make bunyi-bunyi itu akan lebih dulu
muncul dalam ucapan kanak-kanak, meskipun bunyi itu jarang muncul dalam data
masukan yang didengar oleh kanak-kanak.
2. Teori Generatif Struktural Universal
     Teori Struktural universal yang diperkenalkan oleh Jakobson di atas telah
diperluas oleh Moskowitz (1970, 1971) dengan cara menerapkan unsur-unsur
fonologi generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle (1968). Yang paling
menonjol dari teori Moskowitz ini adalah "penemuan konsep" dan "pembentukan
hipotesis" berupa rumus-rumus Yang dibentuk oleh kanak-kanak berdasarkan data
linguistik utama (DLU), yaitu kata-kata dan kalimat-kalimat yang didengarnya
sehari-hari.
     Salah satu kesimpulan Moskowitz setelah mengkaji teori Jakobson dengan
eksperimen adalah penolakannya terhadap pendapat bahwa pemerolehan tahap
fonetik berlaku dengan cara-cara. yang same bagi semua kanak-kanak di dunia.
(Moskowitz, 1970). Namun, di batik penolakan ini beliau mengakui juga bahwa
tentu ada satu set sekatan yang harus dikenakan pada urutan'pemerolehan
representasi fonologi yang kurang jelas karena adanya interferensi fonetik.
     Ada satu kesimpulan Moskowitz yang tidak sejalan dengan teori Chomsky
yaitu mengenai konsep-konsep yang harus ditentukan oleh kanak-kanak untuk
mengasimilasikan DLU lebih berkaitan dengan proses struktur nurani yang
dihipotesiskan. Namun, kesimpulan lain menunjuk ' kan adanya keselarasan yang
tinggi dengan teori Chomsky yakni karena Moskowitz menentang teori
pemerolehan bahasa ,dengan peniruan, serta menekankan pentingnya faktor
kreativitas dalam pemerolehan bahasa pada umumnya dan proses pemerolehan
fonologi khususnya. Dalam proses pemerolehan bahasa kanak-kanak menemukan
konsep-konsep serta menerapkan konsep-konsep itu untuk menciptakan bahasa.
Proses seperti ini terjadi' berulang-ulang, dan setup kali bahasanya semakin
mendekati bahasa orang dewasa.
     Moskowitz mengatakan bahwa dalam pemerolehan fonologi tidak dapat
dipastikan apakah kanak-kanak telah menguasai rumus-rumus fonologi atau tidak.
Oleh karena itu, ada alasan untuk mengatakan bahwa kanakkanak telah
menciptakan rumus-rumus fonologinya sendiri sejak tahap awal pemerolehan
fonologinya yang berlainan dengan rumus-rumus fonologi orang dewasa. Namun, di
sini Moskowitz tetap menggunakan rumus-rumus atau kerangka fonologi generatif
untuk menganalisis data yang dikumpulkannya.
     Moskowitz juga berpendapat bahwa sejak awal proses pemerolehan
bahasanya, bayi telah menyadari akan perbedaan 'antara bunyi bahasa manusia
dengan bunyi-bunyi lain yang bukan suara manusia. Hal ini termasuk "kemampuan
nurani" yang dimiliki bayi sejak dilahirkan. Kemudian,.- pada masa membabel bayi
mengembangkan kemampuan linguistiknya, dengan cara menyesuaikan ucapan-
ucapannya dengan persepsi bunyi yang didengarnya. Hal ini membuat si bayi
semakin mampu mengenal dirinyasebagai anggota masyarakat manusia di
sekitarnya.
     Keberhasilan utama yang dicapai si bayi pada tahap membabel adalah
penemuan unit-unit kalimat yang merupakan unit linguistik yang pertama. Ini
ditandai dengan munculnya intonasi dan hentian-hentian dalam ucapannya; dan ini
merupakan permulaan analisis bahasa segmental. I Penemuan unit kalimat ini juga
mencerminkan satu langkah utama ke arah sosialisasi, yakni pembelajaran semantik
karena kalimat sebagai suatu' rangkaian bunyi panjang yang terbatas memiliki
makna tertentu. Pada tahapan penemuan unit kalimat ini muncullah satu proses
pemerolehan fonologi yang bertingkat-tingkat sebagai tergambar pada bagan
halaman berikut.
     Proses dimulai dengan masuknya data linguistik ' (berupa bunyi ucapan) ke
dalam kotak 1. Data yang tidak dapat segera dipindahkan ke dalam kotak 2 akan
terbuang dari kotak 1; sedangkan yang lain segera dipindahkan ke dalam kotak 2.
Data ini akan diingat dengan lebih lama.
                             Data linguistik sebagai keluaran




4.                           Data yang diingat terus




3.                           Data yang diingat semakin lama




2.                           Data yang lebih lama diingat




1.                           Data yang dilupakan


                             Data linguistik sebagai masukan


       Selanjutnya, data ini dipindahkan ke kotak 3 agar data tersebut dapat tinggal
lebih lama lagi. Andaikata karena sesuatu sebab data itu tidak bisa tinggal lebih
lama di dalam kotak 3, maka data itu akan kembali ke kotak 1, dan mengalami
proses yang sama dengan data baru lainnya. Data yang telah lama ada di kotak 3
akan dikirim ke kotak 4 dengan syarat data seperti itu terus muncul berulang-ulang.
Data yang telah sampai ke kotak 4 ini akan terns dapat dikeluarkan sebagai
keluaran.
     Implikasi fonologi seperti yang digambarkan di atas adalah bunyibunyi bahasa
yang secara umum sering muncul sebagai data masukan akan lebih dahulu diperoleh
kanak-kanak. Sebaliknya, kalau suatu bunyi kemunculannya terbatas, maka baru
bisa diperoleh kemudian oleh kanakkanak setelah die menguasai bunyi-bunyi yang
umum. Jadi, teori ini bertentangan dengan teori Jakobson dalam hal urutan
pemerolehan bunyi.
      Moskowitz (Simanjuntak, 1987 : 221) menjelaskan bahwa sesudah kanak-
kanak "menemukan" unit kalimat ditandai oleh kontur intonasi, make kanak-kanak
akan menemukan unit utama kedua, yaitu unit suku kata, yakni bagian dari kata
yang merupakan satu "satuan bunyi" di bawah kata ini. Unit suku kata ini dipahami
kanak-kanak sebagai satu fitur suku kata, bukan sebagai fitur-fitur fonem atau fon.
Peranan unit suku kata ini sangat penting di dalam proses pemerolehan bahasa.
Bentuk unit suku kata yang pertama muncul adalah bentuk KV (konsonan-vokal),
kemudian diikuti oleh bentuk KVK, VK, dan V. Sesudah itu bare diikuti oleh
bentuk pengulangan penuh KVKV dalam bentuk kata seperti mama, papa, mimi,
dan sebagainya.
      Sesudah menguasai unit suku kata barulah kanak-kanak menguasai unit
segmen, yakni konsonan atau vokal. Urutan pemerolehan segmen ini tidak sama
antara seorang kanak-kanak dengan kanak-kanak lain. Pemerolehan unit segmen
segera diikuti oleh pemerolehan unit yang lebih kecil yaitu unit fitur distingfif
berupa oposisi atau kontras-kontras yang bisa membedakan makna. Urutan
pemerolehannya teratur dan sesuai, dengan urutan menurut teori Roman Jakobson
di atas.
      Moskowitz juga memperkenalkan apa yang disebutnya idiom-idiom fonologi
(phonological idioms). Menurut perkembangannya idiom-idiom fonologi ini terdiri
dari idiom progresif dan idiomregresif. Yang dimaksud dengan idiom progresif
adalah apabila bentuk bunyi suatu kata pada tahap awal telah menyamai bentuk
yang sebenarnya menurut fonologi orang dewasa. Kemudian, dalam perkembangan
selanjutnya, bentuk semakin dekat, dan seterusnya menjadi tepat. Sedangkan yang
dimaksud dengan idiom regresif adalah apabila bentuk yang telah menyamai bentuk
orang dewasa itu berubah ke bentuk yang lebih primitif. Misalnya, pada suatu
peringkat seorang kanak-kanak telah mengucapkan kata "pretty" dengan tepat .
sebagai [priti], padahal sebenarnya pada peringkat itu die belum menguasai gugus,
konsonan. Namun, beberapa waktu kemudian kanakkanak itu membuang bunyi [r]
dari gugus konsonan [prj itu, dan mengucapkannya menjadi [piti] sesuai dengan
sistem fonologinya pada tahap itu. Kemudian, setelah mencapai tahap penguasaan
gugus konsonan barulah bentuk [piti] itu berubah kembali seperti [priti].


3. Teori Proses Fonologi Alamiah
       Teori ini diperkenalkan oleh David Stampe (1972 - 1973), yakni satu teori
yang disusun berdasarkan teori fonologi alamiah yang juga telah diperkenalkan
sejak 1965. Menurut Stampe proses fonologi kanak-kanak bersifat nurani yang
hares mengalami penindasan (supresi), pembatasan, dan pengaturan sesuai dengan
penuranian (internalization) representasi fonemik orang dewasa.
     Suatu proses fonologi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang saling bertentangan.
Umpamanya, terdapat satu proses yang menjadikan semua bunyi hambat menjadi
tidak bersuara dalam semua konteks, karena halangan oralnya menghalangi arus
udara yang diperlukan untuk menghasilkan bunyi-bunyi ini. Namun, bagaimanapun
bunyi-bunyi ini akan menjadi bersuara oleh proses lain dengan cara asimilasi
tertentu. Jika kedua proses ini terjadi bersamaan, maka keduanya akan saling
menindih, dan saling bertentarugan: sebuah bunyi hambat tidak mungkin secara,
serentak bersuara dan tidak bersuara pada lingkungan yang sama. Masalah yang
bertentangan ini dapat dipecahkan dengan tiga cara berikut.
a. Menindas salah satu dari kedua - proses yang bertentangan itu. Umpamanya bila
   kanak-kanak telah menguasai bunyi-bunyi hambat bersuara dalam semua
   konteks, maka berarti dia telah berhasil menindas proses penghilangan suara
   yang ditimbulkan oleh balangan oral bunyi itu.
b. Membatasi jumlah segmen atau jumlah konteks yang ierlibat dalam prose s itu.
   Misalnya, proses penghilangan suara dibatasi hanya pada bunyi-bunyi hambat
   tegang saja, sedangkan bunyi-bunyi hambat longgar tidak dilibatkan.
c. Mengatur terjadinya proses penghilangan bunyi suara dan proses pengadaan
   bunyi suara secara berurutan. Urutannya boleh dimulai dengan proses
   penghilangan bunyi suara; lalu diikuti dengan proses pengadaan bunyi bersuara.
   Kedua proses ini tidak mungkin terjadi secara bersamaan.
       Berikut diberikan contoh usaha kanak-kanak dalam proses pemerolehan
fonologi itu dari ketiga cara, di atas.
a. Penindasan proses-proses
   Seorang kanak-kanak lelaki berumur dua tahun (2 : 0) yang diamati Stampe
   (1972) membunyikan kata "kitty" berturut-turut sebagai berikut dari: [ki] ke
   [kii] ke [kri] ke [kiri] ke [kiti]. Hal ini dilakukan kanak-kanak dengan dasar
   proses ketegangan vokal, kemudian penindasan penjatuhan suku kata setengah
   vokal, setelah itu penindasan proses pengguguran getar, dan akhirnya
   penindasan proses penggetaran.
b. Pembatasan proses-proses
   Seorang kanak-kanak bernama Hildegard membunyikan semua bunyi hambat
   tak bersuara sebagai bersuara apabila berada di depan segmen bersuara vokal.
   (baba] untuk "papa":
   Beberapa waktu kemudian dia membatasi penyuaraan ini pada hambat yang,
   berada di antara vokal saja:
   [paba] untuk "papa".
   Setelah pembatasan ini barulah kanak.-kanak itu melakukan penindasan [papa]
   untuk "papa".
c. Pengaturan proses-proses
   Kanak-kanak yang bernama Hildegard di atas sewaktu berusia satu tahun
   delapan bulan (1 : 8) mengucapkan :
   [du (r)] untuk "juice"
   [du] untuk "june"                      d   d
   [do : i] untuk "joey"
      Dari ketiga ucapan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Hildegard tidak
mengucapkan [d ] sehingga menukarnya dengan bunyi [d]. Namun, jika diteliti
lebih jauh sebenarnya dia mampu membunyikan [d              ] sebagai terbukti dari
ucapannya.
      [d ui] untuk "church"
      [d u d u] untuk "choo-choo"              t    d
      Maka Stampe mengambil kesimpulan bahwa Hildegard telah melakukan
pengaturan proses-proses berikut.
(a)    d              d
(b)    t              d
(c)    hambat  + suara /  vokal


4. Teori Prosodi–Akustik
      Teori prosodi-akustik ini diperkenalkan oleh Waterson (1976) sesudah dia
merasa tidak puss dengan pendekataii fonemik segmental yang dikatakannya tidak
memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai, pemerolehan fonologi.
Pendekatan fonemik segmental menganggap bahwa kanak-kanak memperoleh
fonologi berdasarkan fonem, sehingga banyak bahan fonetik yang berkaitan telah
dikesampingkan. Karena kelemahan tersebut, maka Waterson (1971) menggunakan
pendekatan nonsegmental, yaitu pendekatan prosodi, yang dianggapnya lebih
berhasil. Pendekatan ini diperkuat dengan analisis akustik sebab analisis prosodi
hanya melihat dari analisis artikulasi saja.
      Waterson (1970) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa adalah satu proses
sosial sehingga kajiannya lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang
sebenarnya    daripada     pengkajian   data-data   eksperimen,   lebih-lebih   untuk
mengetahui pemerolehan fonologi.
      Dalam proses pemerolehan fonologi multi-multi kanak-kanak memperhatikan
lingkungannya, mengamati persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang
penting baginya dalam lingkungan itu. Dalam hal ini kanak-kanak sangat peka
terhadap sifat-sifat suara manusia tertentu yang didengarnya berulang-ulang dalam
konteks yang sama seperti poly-poly tekanan, irama, ritme, dan fitur-fitur lain yang
berhubungan dengan keadaan-keadaan yang berulang-ulang itu. Pada suatu saat
kanak-kanak itu mulai menyadari bahwa ucapan-ucapan yang didengarnya ada
hubungannya dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa dalam lingkungannya.
Pada tahap permulaan ini kanak-kanak hanya menerima dan mengamati bunyi-
bunyi yang mempunyai arti baginya. Lalu dari bunyi-bunyi yang mempunyai arti ini
kanak-kanak membentuk pol y bunyi tertentu tanpa morfologi dan sintaksis. Jadi,
menurut Waterson (1976) pemerolehan bahasa oleh kanakkanak dimulai dari
pemerolehan semantik dan fonologi, logi, kemudian barn ada pemerolehan
sintaksis.
     Sesudah menganalisis data ucapan kanak-kanak Waterson berkesimpulan
bahwa prinsip-prinsip dasar pemerolehan morfologi kanak-kanak adalah sama,
meskipun mereka menggunakan strategi yang berlainan. Pada umumnya kanak-
kanak mulai berbahasa dengan menggunakan suku kata tunggal. Apabila dia
mencoba mengucapkan dua suku kata, maka yang diucapkan adalah pengulangan
daripada suku kata tunggal itu. Jika dia "berjumpa" dengan kata-kata yang terdid
dari dua suku kata, maka dia lebih mudah untuk mengucapkan suku kata yang
mendapatkan tekanan suara daripada suku kata yang tidak mendapat tekanan.
     Mengapa kanak-kanak lebih mudah mengulang-ulang.suku kata yang
bertekanan daripada mengucapkan kata dwisuku? Menurut Waterson, walau yang
dibutuhkan prang dewasa untuk mengucapkan kata ekasuku dari dwisuku adalah
sama, yaitu 0,7 detik. Maka perubahan artikulasi dan akustik untuk persepsi dan
pengeluaran jauh lebih sedikit pada ekasuku daripada dwisuku karena masa
pengucapannya adalah sama. Jadi, cara yang paling mudah bagi kanak-kanak adalah
mengulang suku kata yang mendapat tekanan keras daripada mengucapkan kedua
suku pada kata itu.
     Waterson (1971) juga menemukan adanya hubungan akustik antara bentuk-
bentuk ucapan kanak-kanak dengan fitur-fitur bentuk ucapan orang dewasa. Kanak-
kanak hanya mengucapkan kembali - bagian ucapan yang makan waktu lebih
kurang 0,2 detik, dan bagian yang diucapkan kembali. adalah elemen vokal dan
konsonan yang mencapai, artikulasi kuat.
     Satu hal, lagi dari pemerolehan fonologi adalah masalah sejauh mans kanak-
kanak dihambat oleh pembatasan-pembatasan dalam persepsi dan pengeluaran
bunyi. Karena masalah ini menyangkut pengeluaran dan persepsi, maka pengkajian
pemerolehan fonologi haruslah pula dari sudut artikulasi dan akustik. Namun, dari
sudut akustik sangat sukar karena kita tidak tahu apa sebenamya yang diamati
kanak-kanak sedangkan kita tidak bisa bertanya kepadanya. Umpamanya seorang
kanak-kanak mengucapkan <plate> yang berbunyi [pleit] menjadi berbunyi [beip],
apakah dia bisa membedakan tempat artikulasi [p] dan [b], kita tidak tahu. Apakah
dia mengucapkan [pleit] menjadi [beip]. Karena lebih mudah mengucapkannya atau
karena dia tidak tahu perbedaannya. Untuk memecahkan masalah ini, Waterson
merujuk pada pengucapan orang dewasa: orang dewasa lebih banyak "membuat
kesalahan" dalam tempat artikulasi daripada cara artikulasi. Kanak-kanak tidak
menaruh perhatian pada tempat artikulasi untuk setiap pengucapan karena mereka
tidak mampu menghadapi segalagalanya pada waktu yang sama pada setiap
peringkat.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2328
posted:2/9/2011
language:Malay
pages:13