Linguistik Umum tentang Fonologi

Document Sample
Linguistik Umum tentang Fonologi Powered By Docstoc
					                                       BAB I
                                 PENDAHULUAN
1.1. Latar Balakang
          Makalah tentang Fonologi ini kami susun untuk memenuhi tugas akhir
    mata kuliah Linguistik Umum, karena fonologi ini merupakan salah satu
    pembahasan yang terhadap dalam mata kuliah linguistik.
          John Rupert Firth (1890-1969) seorang linguis Inggris yang mendirikan
    sekolah linguistik deskriptif di London mengatakan, dalam kajian lingusitik yang
    paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth, macam-macam konteks yakni
    fonologi, morfologi, leksikan dan situasi.
          Dalam pembahasan ini kami akan mencoba mengupas tentang fonologi
    dan hal-hal yang berhubungan dengan fonologi.
1.2. Rumusan Masalah
          Dalam pembahasan tentang fonologi ini kami akan mengupas beberapa
    hal, yakni:
      1. Apa yang dimaksud dengan fonologi?
      2. Apa saja yang termasuk cabang dari fonologi?
      3. Sebutkan beberapa teori mengenai fonologi oleh kanak-kanak sebagai
         bagian dari pemerolehan bahasa ibu seutuhnya?
1.3. Batasan Masalah
          Dalam batasan masalah ini kami akan mencoba menguraikan tentang
    fonologi dan beberapa cabangnya serta teori-teori yang berhubungan dengan
    fonologi.
1.4. Tujuan Penulisan
          Tujuan penulisan ini supaya para pembaca mengetahui tentang fonologi
    serta hal-hal yang berhubungan dengan fonologi, yakni:
      1. Definisi fonologi
      2. Pembagian fonologi
      3. Teori-teori yang berhubungan dengan fonologi


                                          1
                                      BAB II
                                   FONOLOGI
       Bidang lingusitik yang mempelajari, menganalisa dan membicarakan runtutan
bunyi-bunyi bahasa disebut dengan fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari
dua kata, fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Menurut hierearki satuan bunyi yang
menjadi objek studinya fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Secara
umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari
fungsi bahasa sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang
studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi
tersebut sebagai pembeda makna. Untuk jelasnya, kalau kita memperhatikan baik-
baik ternyata bunyi [i] yang terdapat pada kata [intan], [angin] dan [batik] adalah
tidak sama. Begitu juga bunyi [p] pada kata Inggris <pace>, <space> dan <map> juga
tidak sama. Ketidaksamaan bunyi [i] dan [p] pada deretan kata-kata diatas itulah
sebagai salah satu contoh objek atau sasaran studi fonetik. Dalam kajiannya, fonetik
akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-
sebabnya. Sebaliknya perbedaan bunyi [p] dan [b] yang terdapat, misalnya, pada kata
[baru] dan [paru] adalah menjadi contoh sasaran studi fonetik, sebab perbedaan bunyi
[b] dan [p] itu menyebabkan berbedanya makna kata [paru] dan [baru] itu.
       Sebelum kita membicarakan cabang fonologi itu secara lebih luas, perlu
kiranya diketahui dahulu, bahwa pakar yang menggunakan istilah fonologi untuk
pengertian yang dini kita sebut fonetik. Jadi, mereka membagi bidang fonologi itu
bukan menjadi fonetik dan fonemik, seperti yang kita lakukan disini, melainkan
menjadi fonetik dan fonologi.
2.1. Fonetik
Seperti sudah disebutkan di muka, fonetik adalah bidang lingusitik yang mempelajari
bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai
pembeda makna atau tidak.




                                         2
2.1.1. Jenis-Jenis Fonetik
Menurut segi bunyi bahasa diselidiki, fonetik dapat dibagi menjadi tiga jenis (cf.
Bloch & George L. Trager, 1942: 11; Verhar, 1977: 12; Sommerstein, 1977: 1),
seperti dibawah:
   1. Fonetik organis
       Fonetik organis (fonetik artikulatoris atau fonetik fisiologis) ialah fonetik
       yang mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara yang ada dalam
       tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa (Gleason, 1955: 239-256;
       Malmbreg, 1963: 21-28; Mol, 1970: 15-18). Bagaimana bunyi bahasa itu
       diucapkan dan dibuat, serta bagaimana bunyi bahasa dikalsifikasikan
       berdasarkan artikulasinya. Fonetik jenis ini banyak berkaitan dengan
       linguistik sehingga oleh para lingusi khususnya para ahli fonetik cenderung
       dimasukkan kedalam linguistik.
   2. Fonetik Akustis
       Fonetik Akustis mempelajari bunyi bahasa dari segi bunyi sebagai gejala fisis
       (Malmbreg, 1963: 25-20). Bunyi-bunyi diselidiki frekuensi getarannya,
       amplitudo, intensitas, dan timbrenya. Ilmu yang mempelajari hakikat bunyi
       dan mengkalsifikasikan bunyi berdasarkan hakikat bunyi tersebut. Fonetik
       jenis ini banyak berkaitan dengan fisika dalam laboratorium fonetis, berguna
       untuk pembuatan telephon, perekaman piringan hitam, dan sejenisnya.
   3. Fonetik Auditoris
       Fonetik Auditoris mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima
       bunyi bahasa sebagai getaran udara (Bronstein & Beatirice F. Jacobyn, 1967:
       70-72). Bidang fonetik jenis ini cenderung dimasukkan kedalam neurologi
       ilmu kedokteran.
2.1.2. Terjadinya Bunyi
       Sumber energi utama dalam hal terjadinya bunyi bahasa ialah adanya udara
dari paru-paru. Udara dihisap kedalam paru-paru dan dihembuskan keluar bersama-
sama waktu sedang bernafas. Udara yang dihembuskan (atau dihisap untuk sebagian


                                         3
kecil bunyi bahasa) itu kemudian mendapatkan hambatan dibergai tempat alat bicara
dengan berbagai cara, sehingga terjadilah bunyi-bunyi bahasa.
       Syarat proses terjadinya bunyi bahasa secara garis besar dapat dibagi menjadi
empat, yaitu: Proses mengalirnya udara, proses fonasi, proses artikulasi dan proses
oro-nasal (Ladefoged, 1973: 2-3).
2.1.3. Alat-alat Bicara
       Telah disebutkan diatas, bunyi bahasa terjadi jika udara mengalami hambatan
pada alat-alat bicara. Secara terperinci bagian-bagian tubuh yang ikut menentukan
baik langsung maupun tidak langsung dalam hal terjadinya bunyi bahasa itu ialah
alat-alat bicara seperti dibawah:
   1. Paru-paru (lungs)
   2. Batang tenggorokan (trache)
   3. Pangkal tenggorokan (larync)
   4. Pita-pita suara (vocal cords)
   5. Krikoid (cricoid)
   6. Tiroid (thyroid) atau lekum
   7. Aritenoid (arythenoids)
   8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
   9. Epiglotis (Epiglotiss)
   10. Akar lidah (root of the tongue)
   11. Punggung lidah, lidah belakang, pangkal lidah (hump, back of tongue,
       dorsum)
   12. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
   13. Daun lidah (glade of tongue, lamina)
   14. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
   15. Anak tekak (uvula)
   16. Langit-langit lunak (soft palate, velum)
   17. Langit-langit keras (hard palate, palatum)
   18. Gusi dalam, gusi belakang, ceruk gigi, lengkung kaki gigi (alveola, alveolum)


                                          4
   19. Gisi atas (upper teeth, denta)
   20. Gigi bawah (lower teeth, denta)
   21. Bibir atas (upper lip, labia)
   22. Bibir bawah (lower lip, labia)
   23. Mulut (mouth)
   24. Rongga mulut (oral cavity, mouth cavity)
   25. Rongga hidung (nose cavity, nasal cavity).
2.1.4. Fungsi dan Cara Kerja Alat Bicara
1. paru-paru
          Fungsi pokok paru-paru adalah untuk pernafasan. Bernafas pada dasarnya
   adalah mengalirkan udara kedalam paru-paru, proses ini disebut menarik nafas;
   dan mengeluarkan udara yang telah kotor keluar, proses ini disebut
   menghembuskan nafas.
          Selama manusia masih hidup, proses mengembang (pembesaran ruangan
   paru-paru) dan mengempis (pengecilan ruangan paru-paru)-nya paru-paru yang
   dikerjakan oleh otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada berjalan terus secara
   teratur. Arus udara yang dari paru-paru inilah yang menjadi sumber syarat
   terjadinya bunyi.
2. Pangkal tenggorok (larynx)
          Pangkal tenggorok (larynx) adalah rongga pada ujung pipa pernafasan.
   Rongga ini terdiri dari empat komponen, yaitu: tulang rawan krikoid, dua tulang
   rawan aritenoid, pasang pita suara, dan tulang rawan tiroid (Malmbreg, 1963: 22;
   Lapoliwa, 1981: 8). Tulang rawan krikoid berbentuk seperti lingkaran sebagai
   tumpuhannya terletak di belakang. Dua tulang rawan aritenoid bentuknya kecil
   seperti tiramid terletak diatas tulang rawan krikoid. Sistem otot aritenoid dapat
   bergerak mengatur gerakan pada sepasang piat suara. Pita suara bagian muka
   terkait pada tulang rawan tiroid, sedang bagian belakang pada tulang rawan
   aritenoid. Sepasang pita suara dapat membuka lebar, membuka, menutup dan
   menutup rapat. Fungsi utama pita suara ini adalah sebagai pintu klep yang


                                         5
   mengatur pengawasan arus udara antara paru-paru denga mulut atau hidung.
   Tulang rawan tiroid atau lekum yang dapat dilihat berbentuk menonjol pada kaum
   laki-laki sebenarnya tidak begitu mempunyai peranan yang berarti dalam
   pembentukan bunyi bahasa.
3. Rongga kerongkongan (pharinx)
           Rongga kerongkongan (pharinx) ialah rongga yang terletak antara
   tenggorok denga rongga mulut dan rongga hidung. Fungsi utamanya adalah
   sebagai saluran makanan dan minuman. Dalam pembentukan bunyi bahasa
   peranannya terutama hanyalah sebagai tabung udara yang akan ikut bergetar bila
   pita suara bergetar. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh faring disebut faringal
   (Blooch & George L. Trager, 1942: 16).
4. Langit-langit lunak (soft palate, velum)
           Langit-langit lunak (velum) beserta bagian ujungnya yang disebut anak
   tekak (uvula) dapat turun naik sedemikan rupa. Dalam keadaan bernafas normal
   maka langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menurun, sehingga udara dapat
   keluar masuk melalui rongga hidung. Demikian pula pada waktu terbentuknya
   bunyi nasal. Dalam kebanyakan pembentukan bunyi bahasa, yaitu bunyi non
   nasal, atau pada waktu kita menguap, langit-langit lunak beserta anak tekaknya
   terangkat ke atas menutup rongga hidung. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh
   langit-langit lunak ini disebut bunyi velar. Dalam pembentukan bunyi ia sebagai
   artikulator pasif (dasar atau basis artikulasi), sedangkan artikulator (aktif)-nya
   ialah pangkal lidah. Bunyi yang dibentuk pangkal lidah (dorsum) disebut dorsal.
   Gabungan keduanya menjadi dorso-velar. Untuk bunyi yang dihasilkan anak
   tekak (uvula) disebut uvular.
5. Langit-langit keras (hard palate, palatum)
           Langit-langit keras merupakan susunan bertulang. Pada bagian depan
   mulai langit-langit melengkung cekung keatas dan bagian belakang berakhir
   dengan bagian yang terasa lunak bila diraba. Dalam pembentukan bunyi bahasa,
   langit-langit keras ini sebagai artikulator pasif, sedangkan artikulator aktifnya


                                          6
   adalah ujung lidah atau tengah lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh langit-langit
   keras (palatum) disebut palatal. Bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah (apex)
   disebut apekal; dan bunyi yang dihasilkan dengan hambatan tengah lidah
   (medium) disebut medial. Gabungan yang pertama menjadi apiko-palatal,
   sedangkan gabungan yang kedua menjadi medio-palatal.
6. Gusi dalam (alveala, alveolum)
           Gusi dalam (gusi belakang, ceruk gigi, lengkung kaki gigi, lekuk gigi)
   adalah bagian gusi tempat letal akar gigi depan atas bagian belakang, terletak
   diatas serta dibelakang gigi yang melengkung kedalam menghadap lidah. Dalam
   pembentukan bunyi bahasa gusi ini sebagai artikulator pasif, sedangkan
   artikulator aktifnya adalah ujung lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh gusi (alveola),
   alveolum disebut alveolar. Sehingga bunyi yang dihasilkan dengan hambatan
   ujung lidah denga gusi disebut apiko-alveolar. Selain itu, dapat juga gusi bekerja
   sama dengan daun lidah sebagai artikulator aktifnya. Bunyi yang dihasilkan daun
   lidah (lamina) disebut laminal. Gabungan dari keduanya menjadi bunyi lamino-
   alveolar.
7. Gigi (teeth denta)
           Gigi terbagi menjadi dua, yaitu gigi bawah dan atas. Walaupun gigi bawah
   dapat digerakkan ke bawah dan ke atas namun dalam pembentukan bunyi bahasa
   tidak banyak berperan, hanya bersifat membantu saja. Yang berfungsi penuh
   sebagai artikulator atau dasar artikulasi adalah gigi atas bekerjasama dengan bibir
   bawah atau ujung lidah. Bunyi yang dihasilkan gigi atas (denta) disebut dental.
   Bunyi yang dihasilkan oleh bibir (labia) disebut labial. Bunyi yang dihasilkan
   oleh hambatan gigi atas dengan bibir bawah disebut labio-dental, dan yang
   dihasilkan oleh hambatan gigi atas dengan ujung lidah disebut apiko-dental.
   Fungsi pokok gigi untuk mengunyah.
8. Bibir (lip, labia)
           Bibir terbagi menjadi dua, yaitu bibir bawah dan atas. Fungsi pokok kedua
   bibir adalah sebagai pintu penjaga rongga mulut. Dalam pembentukan bunyi


                                         7
   bahasa bibir adalah sebagai artikulator pasif bekerjasama dengan bibir bawah
   sebagai artikulator aktifnya. Dapat juga bibir bawah sebagai artikulator aktif itu
   bekerjasama dengan gigi atas, hasilnya ialah bunyi labio-dental.
9. Lidah
           Fungsi pokok lidah adalah sebagai alat perasa, dan untuk memindahkan
   makanan yang akan atau sedang dikunyah. Dalam pembentukan bunyi bahasa
   lidah sebagai artikulator aktif mempunyai peranan yang amat penting. Lidah
   dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu: akar lidah (root), pangkal lidah
   (dorsum), tengah lidah (medium), daun lidah (lamina) dan ujung lidah (apex).
2.1.5. Klasifikasi Bunyi Bahasa
        Bunyi-bunyi bahasa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
   1. Vokal, konsonan, dan semi-vokal
       Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas: vokal, konsonan, dan semi-vokal
       (cf. Jones, 1958: 12). Pembedaan ini didasarkan pada ada tidaknya hambatan
       (proses artikulasi) pada alat bicara. Bunyi disebut vokal, bila terjadinya tidak
       ada hambatan pada alat bicara, jadi tidak ada artikulasi. Hambatan untuk
       bunyi vokal hanya pada pita suara saja. Hambatan yang hanya terjadi pada
       pita suara tidak lazim disebut artikulasi (Verhaar, 1977: 17). Karena vokal
       dihasilkan dengan hambatan pita suara maka pita suara bergetar. Glotis dalam
       keadaan tertutup, tidak rapat sekali. Dengan demikian semua vokal adalah
       bunyi suara.
       Bunyi disebut konsonan, bila terjadinya dibentuk dengan mengahambat arus
       bicara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi. Proses hambatan atau
       artikulasi ini dapat disertai dengan bergetarnya pita suara, glotis dalam
       kedaaan terbuka, maka bunyi yang dihasilkan adalah konsonan tak bersuara.
       Bunyi semi-vokal ialah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan tetapi
       karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni, maka
       bunyi-bunyi itu disebut semi-vokal atau semi-konsonan. Namun istilah semi-
       konsonan jarang dipakai. Misalnya bunyi [w] bilabial, [w] labio-dental,


                                          8
   masing-masing tempat artikulasinya adalah bibir atas dengan bibir bawah.
   Cara terbentuknya jika dibandingkan dengan vokal [u], sebagai vokal yang
   dihasilkan dengan posisi bibir tertutup bulat; kedua [w] ini cara terbentuknya
   terjadi dengan pembentangan serta penutupan sedikit dari posisi bibir yang
   tertutup bulat itu. Pembentukan bibir itu tidak sampai terbentang lebar
   sehingga yang terjadi adalah bunyi [i], dan penutupan bibir itu pun tidak
   sampai tertutup sama sekali sehingga yang terjadi adalah bunyi konsonan,
   misalnya [p, b, f, v.]. Bunyi [y] medio-palatal tempat artikulasinya adalah
   tengah lidah dengan langit-langit keras. Cara terbentuknya jika dibandingkan
   dengan vokal [i] sebagai vokal yang dihasilkan dengan posisi lidah yang
   paling tinggi, [y] ini terbentuk dengan meninggikan sedikit tengah lidah dari
   posisi lidah mengucapkan [i]. Tetapi peninggian itu tidak sampai menempel
   pada pangit-langit keras sehingga yang terjadi adalah konsonan, misalnya [c,
   j, ∫, 3].
2. Nasal dan oral
   Bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi nasal (sengau) dan oral. Pembedaan
   ini didasarkan pada kelaurnya atau disertainya udara melalui rongga hidung.
   Jika udara keluar atau keluarnya melalui rongga hidung, dengan menurunkan
   langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menaik menutupi rongga hidung
   sehingga udara hanya melalui rongga mulut saja, maka bunyi yang dihasilkan
   disebut bunyi oral. Karena itu, maka vokal sering dibedakan menjadi vokal
   nasal dan vokal oral. Vokal nasal banyak terdapat dalam bahasa Aceh dan
   Perancis. Konsonan juga dibedakan atas konsonan nasal, seperti: [m, n, n] dan
   konsonan oral atau non-nasal seperti: [p, b, k, g, d, t].
3. Keras (fortes) dan lunak (lenes)
   Bunyi bahasa dibedakan atas bunyi keras atau fortis (fortes) dan lunak atau
   lenis (lenes). Pembedaan ini didasarkan pada ada tidaknya ketegangan
   kekuatan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan (Mallbreg, 1963:



                                        9
   51-52). Bunyi bahasa disebut keras bila pada waktu diartikulasikan disetai
   ketegangan kekuatan arus udara. Jika tidak disetai ketegangan kekuatan arus
   udara maka disebut bunyi lunak.
4. Bunyi panjang dan pendek
   Bunyi bahasa dibedakan atas bunyi panjang dan pendek (cf. Jones, 1958:
   136). Pembedaan ini didasarkan pada lamanya bunyi itu diucapkan, atau
   lamanya bunyi itu diartikulasikan atau lamanya bunyi itu diartikulasikan.
   Vokal dapat dibagi atas vokal panjang dan pendek demikian pula konsonan.
   Tanda untuk panjang biasanya dengan tanda garis pendek diatas atau dengan
   titik dua disamping kanan bunyi panjang itu misalnya, [a] panjang ditulis [a:]
   atau [ā], [u] panjang ditulis [u:] atau [ū] dan sebagainya.
5. Bunyi rangkap dan tunggal
   Bunyi dibedakan atas bunyi rangkap (padu, ganda) dan tunggal. Bunyi
   rangkap adalah bunyi yang teridiri dari dua bunyi dan terdapat dalam satu
   suku kata. Jika terdapat dalam dua suku kata yang berbeda bukan bunyi
   rangkap melainkan bunyi tunggal saja. Bunyi rangkap vokal disebut diftong,
   sedangkan bunyi vokal tunggal disebut monoftong. Ciri diftong adalah
   keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vokal yang satu dan yang lain
   berbeda. Bunyi rangkap konsonan disebut gugus konsonan atau klaster. Ciri
   gugus konsonan atau klaster ialah cara diartikulasikan atau tempat artiklusi
   kedua konsonan itu saling berbeda.
6. Bunyi nyaring dan tidak nyaring
   Bunyi dibedakan atas bunyi nyaring (lantang) dan tidak nyaring pada waktu
   terdengar oleh telinga (cf. Malmbreg, 1963: 66). Jadi, pembedaan bunyi
   berdasarkan derajat kenyaringan itu sebenarnya adalah tinjauan menurut
   aspek auditoris. Derajat kenyaringan itu sendiri ditentukan oleh luas
   sempitnya atau besar kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu
   diucapkan. Makin luas ruang resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan,
   makin luas rusang resonansi saluran bicara pada waktu membentuk bunyi


                                      10
       bahasa makin tinggi derajat kenyaringannya. Sebaliknya, makin sempit ruang
       resonansinya, makin rendah derajat kenyaringannya.
       Diantara vokal-vokal, maka vokal yang paling tinggi justru derajat
       kenyaringannya (kelantangan, sonoritas)-nya paling rendah karena ruang
       resonansinya pada waktu diucapkan paling sempit jika dibandingkan denga
       vokal-vokal yang lain. Makin ke bawah derajat kenyaringan untuk vokal itu
       berturut-turur dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi ialah: vokal
       tertutup [i, u:], vokal semi-tertutup (semi-terbuka) [e, , o, ε]; vokal terbuka
       [a] (Malmbreg, 1963: 66).
       Dalam kata, bunyi yang merupakan puncak kenyaringan adalah bunyi yang
       derajat kenyaringannya tinggi, bunyi-bunyi yang demikian disebut silabis.
       Bunyi yang mengandung bunyi (tersebut) atau bunyi itu sendiri dapat
       membentuk suku kata. Dua vokal yang masing- masing mempunyai derajat
       kenyaringan tinggi, jika kemudian berdistribusi beruntun berdekatan,
       keduanya adalah silabis. Dua vokal itu merupakan dua suku kata. Misalnya
       dalam bahasa Indonesia: [i-a] dalam kata ia, [a-i] dalam kata air, [a-u] dalam
       kata mau dan sebagainya. Dalam bahasa Jawa [a-i] dalam kata baita. Dan
       sebagainya.
   7. Bunyi dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus Ingresif
       Arah arus udara dalam pembentukan bunyi bahasa dapat dibedakan atas
       egresif dan ingresif (Ladefoged, 1973: 23). Dalam kebanyakan bunyi bahasa,
       pembentukan bunyi itu dilaksanakan dengan arus udara keluar dari paru-paru,
       arus udara demikian disebut egresif. Namun, dalam bahasa-bahasa tertentu
       dapat juga bunyi itu terbentuk dengan arah udara masuk ke dalam paru-paru,
       jika demikian arah udara disebut ingresif.
2.1.6. Klasifikasi Konsonan
       Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga patokan atau
kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Dengan tiga
kriteria itu juga orang memberi nama akan konsonan itu.


                                         11
Berdasarkan posisi pita suara, dibedakan adanya bunyi bersuara dan tidak bersuara.
Bunyi bersuara terjadi apabila piat suara terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran
pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi bersuara, antara lain, bunyi [b ] , [ d ], [ g ]
, dan [ c ]. Bunyi tidak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar,
sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi tidak bersuara,
antara lain, bunyi [ s ], [ k ], [ p ], dan [ t ].
Tempat artikulasi tidak lain dari pada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan
bunyi itu. Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain, konsonan:
    1. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah
        merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi
        [b], [p] dan [m]. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bunyi [p] dan [b] adalah
        bunyi oral, yaitu bunyi yang dikeluarkan melalaui rongga mulut, sedangkan
        [m] adalah bunyi nasal, yakni bunyi yang dikelurakan melalui rongga hidung.
    2. Labiodental. Yakni konsonan yang terjadi pada bibir bawah dan bibir atas,
        bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental
        adalah bunyi [f]dan [v].
    3. Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; dalam
        hal ini, daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan
        Laminoalveolar adalah bunyi [t] dan [d]
    4. Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau
        langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsoveral adalah bunyi [k] dan
        [g].
        Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atau hambatan
        yang dilakukan arus udara itu, dapat kita bedakan adanya konsonan sebagai
        berikut:
        1) Hambat (letupan, plosit, stop). Disini artikulator menutup sepenuhnya
            aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu.
            Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan



                                               12
   terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan ini antara lain bunyi
   [p], [b], [t], [d], [k] dan [g].
2) Geseran atau frikatif. Disini artikulator aktif mendekati artikulator pasif,
   membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan
   di celah itu. Contoh yang termasuk konsonan geseran adalah bunyi /f/, /s/,
   dan /z/.
3) Paduan atau frikatif. Disini artikulator aktif menghambat sepenuhnya
   aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Cara
   ini merupakan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk
   konsonan paduan, antara lain, bunyi /e/, dan /j/
4) Sengauan atau nasal. Disini artikulator menghambat sepenuhnya aliran
   udara melalui mulut, tetapi membiarkanny keluar melalui rongga hidung
   dengan bebas (lihat kembali bagan 14). Contoh konsonan nasal adalah
   bunyi /m/, /n/, dan /ŋ /, /ñ/
5) Getaran atau trill. Disini artikulator aktif melakukan kontk beruntun
   dengan artikultor pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang.
   Contohnya adalah konsonan /r/
6) Sampingan atau lateral. Di sini artikulator ktif menghambat aliran udara
   pada bagian tengah mulut, lalu membiarkan udara keluar melalui samping
   lidah. Contohnya adalah konsonan /l/.
7) Hampiran atau aproksinan. Disini artikulator aktif dan pasif membentuk
   ruang yang mendekati posisi terbuka sepeti dalam pembentukan vokal,
   tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran. Oleh
   karena itu bunti yang dihsilkan sering juga disebut semi vokal. Disini
   hanya ada dua buah bunyi, yaitu /w/ dan /y/
Kemudian, berdasarkan posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi,
dapatlah kita membut bagan atau peta konsonan sebagai berikut, tetapi dengan
catatan (a) dalam buku atau kepustakaan lain mungkin akan anda temui peta
konsonan yang lebih rumit, dengan nama-nama tempat artikulasi yang lebih


                                   13
    terperinci; (b) konsonan yang diterakan dalam peta berikut hanyalah contoh
    yang sederhana, setiap kotak di situ tentu ada konsonannya yang mungkin
    akan kita jumpai dalam bahasa tertentu, (c) dalam peta yang berisi dua bunyi,
    maka konsonan yang di sebelah kiri adalah yang tak bersuara dan yang
    disebelah kanan yang bersuara.

    Peta Konsonan

               Tempat




                                                                      laminoalveolar
             artikulasi




                                                                                       laminopalatal
                                                        apikodental
                                     labiodental




                                                                                                       dorsovelar


                                                                                                                    faringal
                          bilabial




                                                                                                                               glotal
Cara
artikulasi

Hambat                     pb                                              td                            kg                        ?

Geseran                                 fv                     o          sz                                 x           n

                                                                                               c
Paduan
                                                                                                 j

Sengauan                      m                                                n               n             n

Getaran                                                                         r

Sampingan                                                                       l

Hampiran                      w                                                                y




    Dari peta di atas kita dapat mengatakan bahwa /p/ adalah konsonan hambat
    bilabial tak bersuara, sedangkan /b/ adalah konsonan hambat bilabial bersuara.
    Perbedaan bunyi /p/ dan /b/ terletak pada bersuara dan tidaknya bunyi itu.


                                                   14
       Dalam hal ini, /p/ adalah bunyi tak bersuara dan /b/ adalah bunyi bersuara.
       Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia, kedua bunyi itu pada posisi akhir
       silabel seringkali bertukar-tukar tanpa berbeda maknanya. Disamping /sabtu/
       lazim juga orang melafalkan /saptu/; disamping /lembap/ lazim juga /lembab/.
       Bahasa Arab tidak mempunyai bunyi /p/. Maka itu bunyi /p/ yang berasal dari
       bahasa asing diserap ke dalam bahasa Arab denga bunyi /b/. Misalnya, kota
       Paris di Prancis dalam bahasa Arab menjadi Baris, dan polisi menjadi (al)-
       bulis. Sebaliknya, dalam kebanyakan orang Indonesia bunyi /f/ adalah bunyi
       asing, yang ada dalam bahasa Arab, Belanda, atu Inggris, maka oleh karena
       itu, bunyi tersebut akan diganti dengan bunyi /p/, yakni bunyi yang letaknya
       paling dekat dengan bunyi /f/itu. Itulah sebabnya kata fitnah menjadi fitnah,
       kata fikir menjadi pikir, dan kata revolusi menjadi repolusi.

2.1.7 Unsur Suprasegmental
       Sudah disebutkan di muka bahwa arus ujaran merupakan suatu runtunan
       bunyi yang sambung-bersambung terus menerus diselang-seling dengan jeda
       singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi
       rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu
       ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental,
       tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi
       tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi
       suprasegmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur
       suprasegmental itu biasanya dibedakan pula atas, seperti yang dibicarakan di
       bawah ini.

2.1.8 Tekanan atau stres (aksen)
       Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental
       yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan
       apmlitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya,
       sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat


                                         15
      sehingga apmlitudo menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.
      Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola,
      mungkin juga bersifat distiftig, dapat membedakan makna, mungkin juga
      tidak distingtif. Dalam bahasa Inggris tekanan ini bsia distingtif, tetapi dalam
      bahasa Indonesia tidak. Umpamanya, kata blackboard diberikan tekanan pada
      unsur black maka maknaya adalah “papan tulis”, kalau tekanan diberikan pada
      unsur board berarti papan hitam. Dalam bahasa Indonesia kata orang tua bila
      tekanan dijatuhkan baik pada unsur orang maupun tua maknanya tetap sama
      saja. (Lebih jauh lihat 4.2.4)

2.1.9 Nada atau Pitch
      Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi, bila suatu bunyi
      segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai
      dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi
      getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah. Nada ini
      dalam bahasa-bahasa tertentu bisa fonemis maupun morfemis, tetapi dalam
      bahasa-bahasa lain, mungkin tidak.

      Dalam bahasa-bahasa bernada atau bahasa tonal, seperti bahasa Thai dan
      Vietnam, nada ini bersifat morfemis, dapat membedakan makna. Dalam
      bahasa tonal, biasanya, dikenal adanya lima macam nada, yaitu :

      1) Nada naik atau meninggi yang biasanya diberi tanda garis ke atas
      2) Nada datar, biasanya diberi tanda garis lurus mendatar / - /
      3) Nada turun atau merendah, biasanya doberi tanda garis menurun / ..... /
      4) Nada turun naik ykni nada yang merendah lalu meninggi, biasanya diberi
          tanda sebagai / ....... /
      5) Nada naik turun, yaitu nada yang meninggi lalu merendah, biasanya
          ditandai dengan / ....... /




                                        16
       Nada yang menyerupai bunyi segmental di dalam kalimat disebut intonasi.
       Dalam hal ini biasanya dibedakan adanya empt macam nada, yaitu :

       1) Nada yang paling tinggi, diberi tanda dengan angka 4
       2) Nada tinggi, diberi tanda dengan angka 3
       3) Nada sedang atau biasa, diberi tanda dengan angka 2
       4) Nada rendah, diberi tanda dengan angka 1
       (Tentang intonasi kalimat, lihatlah Bab 6)

2.1.10 Jeda atau Persendian
       Jeda atau persednian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.
       Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena di
       tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu
       dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat penuh dan dapat juga bersifat
       sementara. Biasanya dibedakan adanya sendi dalam atau internal juncture dan
       sendi luar atau open juncture

       Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain.
       Sendi dalam ini, yang menjadi batas silabel, biasanya diberi tanda tambah (+)
       Misalnya :

              /am+bil/

              /lam+pu/

              /pe+lak+sa+na/

       Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam
       hal ini, biasanya dibedakan :

       1) Jeda antarkata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
       2) Jeda antarfrase dalam kalusa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
       3) Jeda antar kalimat dalam wacana diberi tanda berup garis silang ganda (#)


                                         17
       Pada 3.5 sudah disinggung bahwa tekanan dan jeda dalam bahasa Indonesia
       sangat penting karena teknan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat,
       seperti tampak dari contoh yang diberikan, dan kita tampilkan kembali disini
       dengan menggunakan lambang pesrendian.

                 # buku // sejarah / baru #

                 # buku / sejarah // baru #

       Makna kedua konstruksi itu tentu sudah jelas dari uraian pada 3.5 di atas.

2.1.11 Silabel
       Pada awal bab ini sudah disebutkan bhwa runtunan bunyi bahas itu, sebagai
       wujud dari pertuturan, dapat disegmentasikan berdasarkan jeda-jeda dan
       tekanan yang ada dalam runtunan bunyi itu, menjadi satuan-satuan bunyi
       tertentu. Salah satu dari satuan bunyi itu adalah silabel atau suku kata.

       Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu rus ujaran
       atau runtunan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau
       satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel sebagai satuan ritmis
       mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada
       sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, yang menjadi puncak silabel,
       terjadi karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung,
       atau rongga-rongga lain, di dalam kepala dan dada.

       Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi itu adalah bunyi
       vokal. Karena itulah, yang dapat disebut bunyi silabis atau puncak silabis
       adalah bunyi vokal. Perhatikan kata Indonesia / dan /. Kata ini terdiri dari
       bunyi /d/, /a/, dan /n/. Bunyi /d/ dan bunyi /n/ adalah bunyi konsonan,
       sedangkan bunti /a/ adalah bunyi vokal. Bunyi /a/a pada kata itu menjadi
       puncak silabis dan puncak kenyaringan, sebab seperti sudah disebutkan di
       atas, bunyi /a/ sebagai vokal ketika diproduksi mempunyai ruang resonansi


                                              18
yang lebih besar. Secara relatif ketiga bunyi yang membentuk kata /dan/ itu
dapat digambarkan sebagai berikut :




        d a n

Bunyi vokal memang selalu mungkin menjadi puncak silabis atau puncak
kenyaringan dalam suatu silabel. Namun, dalam satuan ritmis tertentu, sebuah
konsonan, baik yang bersuara maupun yang tidak, mempunyai kemungkinan
juga untu menjadi puncak silabis. Perhatikan kata /agak / dalam dialek
Jakarta, yang terdiri dari empat bunyi, yaitu /n/, /g/, /a/ dan /?/. Kata itu terdiri
dari dua silabel, yitu /n/, dan /nga ?/, kenyaringan pada silabel pertama
terletak pada satu-satunya bunyi silabel itu, yaitu konsonan /n/. Kata /kelapa/
dalam bahasa Indonesia, terdiri dari enam bunyi, yaitu /k/, /a/, /l/, /a/, /p/ dan
/a/, serta tiga buah silabel, yaitu /ka/, /la/, dan /pa/. Namun, kata kelapa sering
dilafalkan menjadi /klapa/, sehingga silabel pertama hanya beru

Bunyi konsonan, yaitu /k/. Contoh lain, kata Inggris bottel dilafalkan /botl/
dengan dua buah silabel, yaitu /bot/ dan /l/ disini kita lihat silabel kedua yang
hanya berupa sebuah konsonan.

Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar
karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik,
morfologi, dan ortografi. Misalnya, kata Indonesia /makan/, silabelnya adalah
/ma/ dan /kan/; tetapi kata /makanan/, silbelnya adalah /ma/, /ka/, /nan/. Kita
lihat bunyi /n/ yang menjadi koda pada silabel /kan/ pada kata /makan/
berpindah tempat menjadi onset pada silabel /nan/ pada kata /makanan/.



                                     19
      Padahal secara ortografi menurut ketentuan ejaan bahasa Indonesia, silabelnya
      adalah ma + kan + an. Contoh lain, kata bundar dan keprok secara fenotis
      bersilabel /bu+ndar/ dan /ke+prok/, tetapi secara ortografis bersilabel bun +
      dar dan ke + prok. Bagaimana pula dengan silabel kata seperti demonstrasi ?
      Menjadi /de+mons+tra+si/ atau /de+mon+stra+si/ ? Kita lihat bunyi /s/ bisa
      menjadi onset pada silabel /stra/ dan menjadi koda pada silabel /mons/. Bunyi
      yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada dua buah silabel yang
      berurutan disebut interlude.

      Barangkali perlu ditambahkan, yang dimaksud dengan onset adalah bunyi
      pertama pada sebuah silabel, seperti bunyi /s/ pada silabel /sum/ pada kata
      sumpah, atau bunyi /m/ pada silabel /man/ pada kata paman. Sedangkan yang
      dimaksud dengan kod adalah bunyi akhir pada sebuah silabel, seperti bunyi /n/
      pada silabel /man/ pada kata paman, atau bunyi /m/ itu pada silabel [sum] dari
      kata sumpah.

2.2.Fonemik
          Sudah disebutkan di muka bahwa objek penelitian fonetik adalah fon,
   yaitu mempunyai bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi
   tersebut mempunyai fungsi sebagai pemdeda makna kata atau tida. Sebaliknya,
   objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau
   berfungsi membedakan makna kata. Kalau dalam fonetik, misalnya, kita meneliti
   bunyi-bunyi /a/ yang berbeda pada kata-kata seperti lancar, laba, dan lain; atau
   meneliti perbedaan bunyi [i] seperti yang terdapat pada kata-kata ini, intan dan
   pahit; maka dalam fonemik kita meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai
   fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna,
   maka bunyi tersebut kita sebut fonem, dan jika tidak memebdakan makna adalah
   bukan fonem.




                                        20
2.2.1 Identifikasi Fonem
                Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus
      mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi
      tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip
      dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu
      berbeda maknanya, maka berarti bunti tersebut adalah sebuah fonem, karena
      dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua staun bahasa itu. Misalnya,
      kata Indonesia laba dan raba. Kedua kata itu mirip benar. Masing-masing
      terdiri dari empat buah bunyi. Yang pertama mempunyai bunyi /l/, /a/, /b/, dan
      /a/ dan yang kedua mempunyai bunyi /r/, /a/, /b/ dan /a/. Jika kita bandingkan

      /l/, /a/, /b/, /a/

      /r/, /a/, /b/, /a/

                Ternyata perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi /l/
      dan bunyi /r/. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bunyi /l/ dan
      bunyi /r/ adalah dua buah fonem yang berbeda di dalam bahasa Indonesia,
      yaitu fonem /l/ dan fonem /r/. Contoh lain, dalam bahasa Indonesia kata baku
      dan bahu yang masig-masing terdiri dari empat buah bunyi, maka bunyi /k/
      pada kata pertama dan bunyi /h/ pada kata kedua, masing-masing adalah fonm
      yng berlainan, yaitu fonem /k/ dan fonem /h/. Kedua bunyi itu menyebabkan
      kedua kata yang mirip itu berbeda maknanya.

                Dua buah kata yang mirip, seperti kata laba dan raba atau kata baku
      dan bahu disebut kata-kata yang berkontras minimal, atau dua buah yang
      merupakan pasangan minimal (minimal pair). Jadi, untuk membuktikan
      sebuah bunyi fonem atau bukan haruslah dicari untuk membuktikan sebuah
      bunyi fonem atau bukan haruslah dicari pasangan minimalnya. Tetapi kadang-
      kadang pasangan minimal ini tidak mempunyai jumlah bunyi yang persis
      sama. Mislany, kata muda dan mudah juga merupakan pasangan minimal,


                                         21
sebab tiadanya bunyi /h/ pada kata mudah juga merupakan pasangan minimal,
sebab tiadanya bunyi /h/ pada kata kedua menyebabkan kedua kata itu
berbeda maknanya. Jadi, dalam hal itu, bunyi /h/ dalah sebuah fonem.

       Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.
Misalnya, dalam bahasa Mandarin (Cina) ada fonem /t/ dan fonem /th) arena
ada pasangan minimalnya, yaitu kata /tin/ yang artinya ‘paku’ dan kata /thin/
yang berarti ‘mendengar’. Dalam bahasa Inggris juga ada bunti /t/ seperti kata
pada top dan bunyi /th/ seperti pada kata stop, tetapi kedua bunyi itu bukan
merupakan fonem yang berbeda, melainkan sebuah fonem yang sama, sebab
top dan stop bukan pasangan minimal. Contoh lain, bunyi /S/ dan bunyi /e/
dalam bahasa Belanda adalah dua buah fonem yang berbeda, sebab ada
pasangan minimal yang membuktikannya, yaitu kata en lafalnya /Sn/ yang
artinya ‘dan’ dan kat een yang lafalnya /en/ yang artinya ‘satu’. Dalam bahasa
Indonesia kedua bunyi itu juga adam seperti terdapat pada kata bebek lafalnya
/bebek/ dan kata bebe lafalnya /bebe/; tetapi kedua bunyi itu bukan dua buah
fonem yang berbeda, melainkan hanya sebuah fonem yang sama, sebab bebek
dan bebe bukan merupakan pasangan minimal.

       Fonem dari sebuah bahasa ada yang mempunyai beban fungsional
yang tinggi, tetapi ada pula yang rendah. Yang memiliki beban fungsional
yang tinggi, artinya banyak ditemui pasangan minimal yang mengandung
fonem tersebut. Dalam bahasa Inggris, misalnya, pasangan minimal yang
mengoposisikan fonem /k/ dan fonem /g/ banyak sekali, seperti pasangan back
: bag, beck : beg, bicker : bigger, dan cot : got. Dalam bahasa Indonesia
beban fungsional fonem /l/ dan /r/ jug tamaknya tinggi, sebab banyak
pasangan minimal kita dapati, seperti lawan : rawan, bala : bara, para : pala,
sangkal : sangkar, dan bantar : bantal. Sebaliknya, oposisi /k/ dan /?/
barngkali hanya pada /sakat/ dan /sa?at/. Jadi, beban fungsionalnya rendah.



                                  22
2.2.2 Alofon
               Di atas sudah dibicarakan bahwa bunyi /t/ dan th/ dalam bahasa Inggris
      bukanlah dua buah fonem yang berbeda, melainkan dua buah bunyi dari
      sebuah fonem yang sama, yitu fonem /t/. Bunyi-bunyi yang merupakan
      realisasi dari sebuah fonem, seperti bunyi /t/ dan /th/ untuk fonem /t/ bahasa
      Inggris di atas disebut alofon. Seperti juga dengan identitas fonem, identitas
      alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu, sebab seperti juga sudah
      dibicarakan di atas bunyi /t/ dan bunyi /th/ dalam bahasa Mandarin bukan
      merupakan fonem yang berbeda, yaitu fonem /t/ dan fonem /th/

               Dalam bahasa Indonesia fonem /j/ setidaknya mempunyai empat buah
      alofon, yaitu bunyi /i/ seperti dalam kata cita, bunyi /i/ seperti pda kata tarik,
      bunyi /i/ seperti pada kata ingkar, dan bunyi /i/ seperti pada kali. Contoh lain,
      fonem /o/ setidaknya mempunyai dua buah alofon, yaitu bunyi /            / seperti
      pada kata tokoh, dan bunyi [o] seperti pada kata toko.

               Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis.
      Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita
      melihatnya dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling
      berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer, mungkin
      juga bersifat bebas.

               Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau bisa juga
      disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak
      bisa dipertukarkan, meskipun dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan
      perbedaan makna. Distribusi komplementer ini bersifat tetap pada lingkungan
      tertentu. Umpamanya, fonem /p/ dalam bahasa Inggris mempunyai tiga buah
      alofon, yaitu yang beraspirasi seperti terdapat pada kata pace /phaeis/, yang
      tidak beraspirasi seperti terdapat pada kata space [speis]; dan yang tidak
      diletupkan seperti terdapat pda kata space [speis]; dan yang tidak diletupkan



                                         23
      seperti terdapat pada kata map [maep]. Dalam bahasa Inggris ketiga macm
      alofon fonem /p/ itu tidak dapat dipertukarkan. Yang beraspirasi adalah kalau
      terletak pada awal kata; yang tidak beraspirasi adalah kalau terletak di tengah
      kata; dan yang tidak diletupkan adalah kalau fonem itu terletak pada akhir
      kata. Distribusi komplementer ini dapat kita lihat juga dalam bahasa
      Indonesia. Umpamanya, fonem /o/ seperti pada kata toko dan loyo; dan yang
      berada pada silabel tertutup diucapkan /        / seperti terdapat pada kata tokoh
      dan bodoh.

             Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bhwa alofon-alofon itu
      boleh digunakantanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Umpamanya,
      kalau bunti /o/ dan /    / adalah alfon dari fonem /o/, maka ternyata pada kata
      obat dapat dilafalkan /obat/ dan bisa juga / bat/. Begitu juga kata orang dapat
      dilafalkan /orang/, tetapi biasa juga / ran/.

             Dalam hal distribusi bebas ini ada oposisi bunyi yang jelas merupakan
      dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, tetapi dalam
      pasangan yang lain ternyata hanya merupakan varian bebas. Misalnya, bunyi
      /o/ dan bunyi /u/, identitasnya sebagai dua buah fonem dapat dibuktikan dari
      pasangan kalung : kalong atau lolos : lulus, tetapi dalam pasangan kantung :
      kantong, lubang : lobang, atau telur : telor hanya merupakan variasi bebas.

             Kalau diperhatikan bahwa alofon adalah realisasi dari fonem, maka
      dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah
      abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu. Dengan kata lain, yang konkret,
      atau nyata ada dalam bahasa adalah alofon itu, sebab alofon atau alofon-lofon
      itulah yang diucapkan.

2.2.3 Klasifikasi Fonem
             Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan car
      klasifikasi bunyi yang telah dibicarakan pada 1.1.4 ada bunyi vokal dan


                                          24
konsonan, maka juga ada fonem vokal dan fonem konsonan. Bedanya kalau
bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan
fonem konsonan ini agak terbatas, sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat
membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Itu pun hanya dalam
bahasa tertentu saja. Seperti sudah kita bicarakan di atas, misalnya, bunyi /t/
dan /th/ dalam bahasa Mandarin merupakan dua buah fonem yang berbeda,
yaitu fonem /t/ dan fonem /th/. Sedangkan dalam bahasa Inggris kedua bunyi
itu hanya merupakan alofon dari fonem yang sama, yaitu fonem /t/.

       Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang dapat sebagai hasil segmentasi
terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa
unsur suprsegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.
Jadi, pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti tekanan, durasi, dan
nada bersifat fungsional alias dapat memebdakan makna. Umpamanya, dalam
bahasa Batak Toba kata tutu (dengan tekanan pada duku pertama) bermakna
‘batu gilas’, sedangkan pada kata tutu (dengan tekanan pada suku kedua)
berarti ‘betul’. Dengan membedakannya letak tekanan pada kedua kata itu,
yang merupakan unsur segmentalnya, menyebabkan kedua kata itu berbeda
maknanya. Dengan kata lain, tekanan dalam bahasa Batak Toba bersifat
fungsional atau bersifat fonemis. Di dalam bahasa Inggris letak tekanan dapat
pula membedakan makna. Salah satu diantaranya, yang membedakan suatu
konstruksi adalah kata majemuk atau bukan adalah pada tekanan itu. Klau
tekanan dijatuhkan pada unsur pertama, maka konstruksi itu adalah kata
majemuk, kalau tekanan dijatuhkan pada unsur kedua, maka konstruksi itu
bukan kata majemuk. Misalnya, kata greenhouse bila tekanan dijatuhkan pada
unsur green maka berarti ’rumah kaca’ tetapi bila dijatuhkan pada unsur house
berarti ’rumah hijau’, pada kata black board bila tekanan dijatuhkan pada
unsur black berarti ’papan tlis’, tetapi bila tekanan dijatuhkan pada unsur
board bermakna ’papan hitam’


                                  25
       Dalam bahasa-bahasa tonal (bahasa bernada) seperti bahasa Thai,
bahasa Burma, dan bahasa Mandarin, nada dapat membedakan makna.
Misalnya, dalam bahasa Mandarin kata yang berbunyi /wei/ bila diberi nada
naik berarti ’bahaya’ kalau diberi nada turun lalu naik berarti ’menjawab
dengan serta merta’, dan bila diberi naik lalu turun berarti ’takut’. Jadi :

       wei     ’kutu kayu’

       wei     ’bahaya’

       wei     ’menjawab dengan serta merta’

       wei     ’takut’

Dalam bahasa Ticuna di Amazone atas kata canamu mempunyai empat
macam makna sesuai dengan kombinasi nada yang dipakai. Mulai dengan
angka 5 yang menyatakan nada tertinggi sampai angka 1 yang menyatakan
nada terendah, maka canamu berarti :

       -       ca        na    mu         ’saya menganyamnya’
               3         3     3
       -       ca        na    mu         ’saya mengirminya’
               3         3     4
       -       ca        na    mu         ’saya memohonnya’
               3         3     5
       -       ca        na    mu         ’saya menambahnya’
               3         3     3-5
       Dalam bahasa Gorontalo di Sulawei Utara, unsur durasi atau
pemanjangan bersifat fonemis. Perhatikan contoh berikut !

       tilo    ‘kapur’         X          ti : lo ‘ibu’
       tuo     ‘muntah’        X          tu : o ‘disembunyikan’
       leto    ‘saputangan’ X             le:to   ‘keburukan’


                                     26
            Dalam bahasa Indonesia unsur suprasegmental tampaknya tidak
     bersifat fonemis maupun morfemis, namun, intonasi mempunyai peranan pada
     tingkat sintaksis. Umpamanya, kalimat Dia membaca komik, dengan tekanan
     pada kata dia berarti ‘yang membaca bukan orang lain’, dengan tekanan pada
     kata membaca berarti dia bukan menulis atau menjual komik, dan dengan
     tekanan pada kata komik berarti ‘yang dibaca bukan koran’. Begitu juga tanpa
     perubahan struktur, hanya dengan memberi intonasi tanya, maka kalimat itu
     menjadi kalimat tanya, dan dengan memberi intonasi seruan, maka kalimat itu
     menjadi kalimat seru. Dalam bahasa Melayu dialek Jakarta kata tau yang
     diucapkan dengan intonasi biasa berarti ‘saya mengetahui’, tetapi bila
     diucapkan dengan pemanjangan pada bunyi /ta/, maka berarti ‘saya tidak
     mengetahui’

            Kalau kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang
     dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penanaman fonem pun sama
     dengan penanaman bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar,
     maka juga ada atau akan ada fonem vokal depan tinggi bundar, kalau ada
     bunyi konsonan hambat bilabial bersuara, maka juga akan ada fonem
     konsonan hambat bilabial bersuara. Perhatikan kembali peta vokal pada bagan
     9 dan peta konsonan pada bagan 15

2.2.4 Khazanah Fonem
            Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem
     yang terdapat dalam satu bahasa. Beberapa jumlah fonem yang dimiliki suatu
     bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain. Menurut
     catatan para pakar, yang tersedikit jumlah fonemnya adalah bahasa penduduk
     asli di Pulau Hawaii, yaitu hanya 13 buah, dan yang jumlah fonemnya
     terbanyak, yaitu 75 buah, adalah sebuah bahasa di Kaukasus Utara. Begitu
     juga dengan perimbangan jumlah fonem vokal dan fonem konsonannya.



                                      27
     Bahasa Arab hanya mempunyai 3 buah fonem vokal, sedangkan bahasa
     Indonesia mempunyai 6 buah fonem vokal.

            Ada kemungkinan juga, karena perbedaan tafsiran, maka jumlah
     fonem dalam suatu bahasa menjadi tidak sama banyaknya menurut pakar yang
     satu dengan pakar yang lain. Misalnya, fonem vokal bahasa Arab di atas
     siebutkan ada tiga buah, tetapi ada yang menghitung fonem vokal dalam
     bahasa Arab ada enam buah, yakni tiga fonem vokal biasa ditambah tiga buah
     fonem vokl panjang. Jadi, unsur pemanjangan tidak dihitung satu, melainkan
     sebanyak dimana pemanjangan itu berada atau berdistribusi dengan fonem
     segmental.

            Berapa jumlah fonem bahasa Indonesia? Dalam hal ini, ada yang
     menghitung hanya 24 buah, yang terdiri dari 6 buah fonem vokal (yakni a, i,
     u, e, a dan o) dan 18 buah fonem konsonan (yakni p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n,
     n, s, h, r, l, w dan y). Ada juga yang menghitung ada 28 buah, yakni dengan
     menambahkan 4 buah fonem yang menghitung 31 buah, yaitu dengan
     menambahkan 3 buah fonem diftong, yakni [aw], [ay], dan [oy]. Akhirnya,
     ada juga yang mendaftarkan adanya fonem glotal stop /?/, tetapi ada pula yang
     tidak, karena hanya menganggapnya sebagai alofon dari fonem lain, yaitu
     fonem /k/.

2.2.5 Perambahan Fonem
            Untuk sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada
     lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.
     Misalnya, seperti sudah dibicarakan di muka, fonem /o/ kalau berada pada
     silabel tertutup akan berbunyi /   / dan kalau berada pada silabel terbuak akan
     bernunyi /o/. Namun, perubahan yang terjadi pada kasus fonem /o/ itu
     menjadi fonem lain. Dalam beberapa kasus lain, dalam bahasa-bahasa tertentu
     da dijumai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi



                                        28
       fonem yang lain. Berikut ini akan dibicarakan beberapa kasus perubahan
       fonem.

2.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi
                Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi
       yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga
       bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi
       yang mempengaruhinya. Umpamanya, kata Sabtu dalam bahasa Indonesia
       lazim diucapkan /saptu/, dimana terlihat bunyi /b/ berubah menjadi /p/ sebagai
       akibat pengaruh bunyi /t/. Bunyi /b/ adalah bunyi hambat bersauara sedangkan
       bunyi /t/ adalah bunyi hambat tak bersauara. Oleh karena itu, bunyi /b/ yang
       bersauara itu, karena pengaruh bunyi /t/ yang tak bersuara, berubah menjadi
       bunyi /p/ yang juga tidak bersuara.

                Kalau perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah
       fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fonemis. Dalam kasus bunyi /b/
       berubah menjadi bunyi /p/ pada kata Sabtu di atas, karena dalam distribusi
       lain dapat dibuktikan bahwa bunyi /b/ dan /p/ adalah dua buah fonem yang
       berbeda, yaitu fonem /b/ dan fonem /p/, maka perubahan tersebut merupakan
       asimilasi fonemis. Kalau perubahan itu tidak menyebabkan berubahnya
       identitas sebuah fonem, maka perubahan itu bukan similasi fonemis,
       melainkan mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Dalam
       bahasa Belanda bentuk op de weg dilafalkan /obdeweg/, dimana bunyi /p/
       dilafalkan menjadi bunyi /b/ sebagai akibat pengaruh bunyi /d/ pada kata de.
       Disini terlihat /d/ bunyi hambat bersuara mempengaruhi bunyi /p/ yang tidak
       bersuara, sehingga menjadi bunyi hambat bersuara /b/. Karena dalam bahasa
       Belanda bunyi /b/ dan /p/ adalah fonem-fonem yang berbeda, maka perubahan
       itu juga merupakan asimilasi fonemis. Asimilasi bukan fonemis terdapat pada
       kata Belanda zakdoek ’sapu tangan’ yang ucapanny /zagduk/. Bunyi /k/ pada
       silabel zak yang tidak bersuara diubah menjadi bunyi /g/ yang bersuara


                                         29
sebagai akibat dari pengruh bunyi /d/ yang bersuara. Karena bunyi /g/
hanyalah alofon dari fonem /k/ dalam bahasa Belanda, maka perubahan dari
bunyi /k/ ke bunyi /g/ hanyalah bersifat alofonis, bukan fonemis, jkadi
asimilasinya bukan asimilasi fonemis.

       Biasanya dibedakan adanya asimilasi progresif, asimilasi regresif, dan
asimilasi resiprokal. Pada asimilasi progresif bunyi yang diubah itu terletak di
belakang bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, dalam bahasa Jerman
bentuk mit der Frau diucapkan /mit ter Frah/. Kita lihat bunyi /d/ pada kat der
berubah menjadi bunyi /t/ sebagi akibat dari pengaruh bunyi /t/ pada kata mit
yang ada di depannya. Pada asimilasi regresif, bunyi yang diubah itu terletak
di muka bunyi yang mempengaruhinya. Contohnya adalah berubahnya bunyi
/p/ menjadi bunyi /b/ pada kata Belanda op de weg yang sudah disebutkan di
atas. Sedangkan pad asimilasi resiprokal perubahan itu terjadi pada kedua
bunyi yang saling mempengaruhi itu, sehingga menjadi fonem atau bunyi
yang lain. Misalnya, dalam bahasa Batak Toba, kata bereng ’lihat’ dan kata
hamu ’kamu’ dalam konstruksi gabungan bereng hamu ’lihatlah oleh kamu’,
baik bunyi /ng/ pada kata bereng maupun bunyi /h/ pada kata hamu keduanya
berubah menjadi bunyi /k/, sehingga konstruksi bereng hamu itu diucapkan
/berek kamu/. Karena buntyi /n/, /h/ dan /k/ merupakan fonem yang berbeda
dalam bahasa Batak Toba, maka perubahan tersebut termasuk asimilasi
fonemis.

       Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang
berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka
dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang
sama menjadi berbeda atau berlainan. Contoh yang ada dalam bahasa
Indonesia ialah kata citta. Kita lihat, bunyi /tt/ pada kata citta berubah menjadi
bunyi /pt/ pada kata cipta dan menjadi bunyi /nt/ pada kata cinta.



                                   30
2.2.5.2 Netralisasi dan Arkitfonem
            Sudah dibicarakan di muka bahwa fonem mempunyai fungsi sebagai
       pembeda makna kata. Misalnya, bunyi /p/ dan /b/ adalah dua buah fonem
       yang berbeda dalam bahasa Indonesia karena terbukti dari pasangan minimal
       seperti paru vs baru atau pasangan minimal rabat vs rapat. Namun, dalam
       kasus pasangan /sabtu/ dan /saptu/ atau /lembab/ dan /lembap/, kedua bunyi
       itu tidak membedakan makna. Di sini tampaknya fungsi pembeda makna itu
       menjadi batal. Secara tradisional dalam studi bahasa Indonesia kasus ini
       sering dijelaskan dengan keterangan yang benar adalah bentuk /sabtu/ karena
       berasal dari Bahasa Arab. Begitu pula, yang betul adalah bentuk lembab
       karena berasal dari bahasa Melayu asli.

            Kita beralih kepada contoh lain. Dalam bahasa Belanda ada kata yang
       dieja hard ’keras’ dan dilafalkan /hart/ disamping itu ada kata lain yang dieja
       hart ‘jantung’ dan diucapkan /hart/. Jadi, pelafalan kedua kata yang dieja
       berbeda itu adalah sama. Anda tentu bertanya : mengapa ? karena dalam
       bahasa Belanda, konsonan hambat bersuara seperti /d/ itu adalah tidak
       mungkin. Oleh karena itu, diubah menjadi konsonan yang homorgan tak
       bersuara yakni /t/. Oposisi antara bunyi /d/ dan /t/ adalah antara bersuara dan
       tak bersuara. Pada posisi akhir oposisi itu dinetralkan menjadi bunyi tak
       bersuara. Jadi, adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja hard itu
       adalah hasil netralisasi itu. Mungkin disini timbul pertanyaan, bukanlah
       masalah hard yang dilafalkan /hard/ dan hart yang lafalny juga /hart/ adalah
       masalah ejaan ? Bisa dijawab disini bukanlah masalah ejaan, sebab kata hard
       itu bil diberi akhiran –er akan menjadi harder ’lebih keras’, bukan menjadi
       harter.

            Padahal kata hart bila diberi akhiran –en akan menjadi harten ’banyak
       jantung’. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam
       peristilahan   linguistik   disebut    arkifonem.   Dalam   hal   ini   biasanya


                                             31
      dilambangkan dengan huruf besar /D/. Mengapa dipilih /D/ dan bukannya /T/
      ? Karena bentuk ”aslinya” yang tampak dalam bentuk harder adalah /d/,
      bukannya /t/. Dalam bahasa Indonesia ada kata jawab yang diucapkan /jawap/
      atau juga /jwab/; tetapi bila diberi khiran –an bentuknya menjadi jawaban.
      Jadi, di sini ada arkifonem /B/, yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /p/.

2.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmont Vokal
               Kat umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini
      mempunyai pengertian perubahan vokal sedemikan rupa sehingga vokal itu
      diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat daro vokal yang
      berikutnya yang tinggi. Misalnya, dalam bahasa Belanda bunyi /a/ pada kata
      hndje lebih tinggi kualitasnya bila dibandingkan dengan bunyi /a/ pada kata
      hand. Penyebabnya adalah bunyi /y/ yang posisinya lebih tinggi dari bunyi /a/
      pada kata hand. Peninggian vokal /a/ disini hanya bersifat alofonis. Namun,
      dalam perubahan kata hand ’tangan’ menjadi behending ’cekatan’, terampil’,
      kita lihat bunyi /a/ pada hand diubah menjadi /e/ akibat pengaruh bunyi /i/
      pada akhiran ajektif –ing yang diimbuhkan pada kat hand tersebut.

               Ablaut adalah perubhan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa
      Indo Jerman untuk menandai pelbagi fungsi gramatikal. Misalnya, dalam
      bahasa Jerman vokal /a/ menjadi /a/ untuk mengubah bentuk singularis
      menjadi bentuk pluralis, seperti pada kata Haus ’rumah’ menjadi Hauser
      ’rumah-rumah’. Contoh lain, penandaan kala dalam bahasa Inggris, seperti
      sing menjadi sang dan sung, atau dalam bahasa Belanda duiken ’terjun’
      menjadi dook dan gedoken. Ablaut berbeda dengan amlaut. Kalau umlaut
      terbatas pada pninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, maka ablaut
      bukan akibat pengaruh bunyi berikutnya, dan bukan pula terbatas pada
      peninggian bunyi, bisa juga pada emnjangan pemendekan, atau penghilangan
      vokal.



                                         32
                 Perubahan bunyi yang disebut harmoni atau keselarasan vokal terdapat
       dalam bahasa Turki. Perhatikan contoh berikut ! Katya at ’kuda’ bentuk
       jamaknya adalah atlar ’kuda-kuda’, kata oda ’kamar’ bentuk jamaknya adalah
       odalar ’kamar-kamar’ dan kata ev ’rumah’ bentuk jamaknya adalah evler
       ’rrumah-rumah’. Kita lihat bunyi [a]; lalu, bunyi /e/ pada bentuk tunggal juga
       menyebabkan bentuk jamaknya berbunyi /e/.

                 Dalam bahasa Turki harmoni vokal itu berlangsung dari kiri ke kanan,
       atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul. Sebaliknya,
       ada pula harmoni vokal dari kanan ke kiri. Dalam bahasa Jawa, misalnya, ada
       perubahan vokal /o/ menjadi vokal /a/ dalam proses pengimbuhan akhiran –e
       atau akhiran –ne. Misalnya, kata amba ucapannya /o-mbo/ ’lebar’ menjadi
       ambane lafalnya /a-mbane/ ’lebarnya’; sega lafalnya /se-go/ ’nasi’ menjadi
       segane afalnya /s-gane/.

2.2.5.4 Kontraksi
                 Dalam percaapan yang cepat atau dalam situasi yang informal
       seringkali penurut menyingkat atau memperpendek ujarannya. Umpamanya,
       dalam bahasa Indonesia ungkapan tidak tahu diucapkan menjadi ndak tahu,
       ungkapan yang itu tadi menjadi yang tutadi. Dalam bahasa Inggris kita jumpai
       bentuk shall not menjadi shan’t, bentuk will not menjadi won’t, bentuk are
       not menjadi ren’t, dan bentuk it is menjadi it’s. Dalam bahasa rab bentuk
       /kayfa haluka/ diucapkan menjadi /kayfa haluk/ atau /keif hal/.

                 Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah
       fonem atau lebih, ada yang berupa konstraksi. Dalam kontraski, pemendekan
       itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri. Misalnya, shall
       not yang menjadi shan’t dimana fonem /e/ dari shall dubah menjadi /a/ dalam
       shan’t.




                                          33
2.2.5.5 Metatesis dan Epentesis
               Proses metatesis bukan mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang
       lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.
       Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam
       bahasa tersebut sebagai variasi. Dalam bahasa Indonesia kita temukan contoh,
       selain bentuk sapu, ada bentuk apus, dan usap, selain berantas ada banteras,
       selain jalur ada jalur, dan selain kolar ada koral.

               Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang
       homogen dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Dalam
       bahasa Indonesia ada sampi disamping sapu; ada kompak disamping kapak,
       dan ada jumblah disamping jumlah, ada bunyi /b/ yang disisipkan di tengah
       kata.

               Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakan di atas hanya terjadi
       pada bahasa-bahasa tertentu, yang tidak harus terjadi pada bahasa lain. Begitu
       pun mungkin terdpat pula perubahan bunyi dalam bentuk lain, selain yang
       dibicarakan di atas.

2.2.5.6 Fonem dan Grafen
               Pada 3.4 telah dibicarakan mengenai bahasa tulis dan sistem aksara,
       dan pada 1.1.3 dibicarakan mengenai tulisan fonetik serta perbandingannya
       dengan tulisan fonemik dan tulisan ortografis. Dalam bagian ini, mengingat
       sering banyak dikacaukannya konsep fonem dan huruf, maka perlu
       dibicarakan lagi mengenai hakikat fonem dan huruf, serta hubungan antara
       keduanya.

               Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satun
       bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.
       Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus
       dicari yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama. Bila ternyata kedua kata


                                          34
itu memiliki makna yang berbeda, maka kedua kata itu adlah dua fonem yang
berbeda. Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang didalam pertuturan
direalisasikan oleh alofon, atau alofon-alofon, yang sesuai dengan lingkungan
tempat hadirnya fonem tersebut.

       Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merelisasikan sebuah fonem
itu, dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi
fonetik. Dalam transkripsi fonetik ini setiap alofon, termasuk unsur-unsur
suprasegmentalnya, dapat digambarkan secara tepat, tidak meragukan. Dalam
transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang aurat, sebab
alofon-alofon, yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem
dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang dilambangkan adalah
fonemnya, bukan alofonnya. Misalnya, alofon /o/ dan /       / dari fonem /o/
bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf yang sama, yaitu huruf <o>.
Begitu juga alofon /k/ dan /?/ dari fonem /k/ dilambangkan dengan huruf <k>
pada kata rakyat dan raksasa.

       Yang paling tidak akurat adalah trnskripsi ortografis, yakni penulisan
fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu
bahasa. Berikut ini, agar biasa dipahami dengan lebih baik, didaftarkan semua
fonem bahasa Indonesia, alofon-alofonnya (tentunya juga tidak semua alofon
yang dimiliki), beserta grafemnya (huruf yang digunakan dari aksara Latin),
dan contohnya.




                                  35
Fonem   Alofon              Grafen            Contoh

  /i/        [i]              i      i ni, ni la

             [i]                              il ham, ba tik

 /u/     [u]                  u      su su, ka mu

         [u]                                  un tuk, buk ti

 /e/     [e]                  e      sa te, be be

         [E]                                  ro bek, mo nyet

 /d/     [d]                         ke ra, be tul

 /o/     [o]                  o      so to, bak so

         [         ]                 to koh, bo doh

 /a/     [a]                  a      a pa, ka dal

 /ay/    [ay]                 ai     an dai, gu lai

 /aw/    [aw]                 au     au la, ker bau

 /oy/    [oy]                 oi     am boi, se koi

 /y/     [y]                  y      ya kin, sa ya

 /w/     [w]                  w      wa ris, ka wan

 /p/     [p]                  p      pa sar, a sap

 /b/     [p]                  b      sab tu, ja wab

         [b]                         bu ka, sa bun




                       36
/f/   [f]        f    fa sih, si fat

                 v    va ri a, vi tal

/m/   [m]        m    ma ri, a mal

/t/   [t]        t    ta ri, da pat

/d/   [t]        d    ji had, la had

      [d]             da ri, a dat

/c/   [e]        c    ca ri, a car

/j/   [j]        j    ja ri, a jar

/s/   [s]        s    sa ri, be sar

/z/   [z]        z    za kat, zi a rah

/r/   [r]        r    ra ja, la par

/n/   [n]        n    n si, bi nal

/f/   [f]        sy   sya rat, in syaf

/n/   [n]        ny   nya ring, ba nyak

/k/   [k]        k    ka bar, de kat

      [?]             nik mat, rak yat

/g/   [g]        g    gu dek, gu buk

                      ga ji, tu gas

/x/   [x]        kh   khot bah, a khir




            37
    /n/                [n]                  ng             nga nga, a ngan

    /h/                [h]                  h              ha sil, pa hat

     /l/               [l]                  l              la ri, ba tal




Catatan :

1. Grafem e dipakai untuk melambangkan dua buah fonem yang berbeda,
   yaitu fonem /e/ dan fonem /   /
2. Grafem p selain dipakai untuk melambangkan fonem /p/, juga dipakai
   untuk melambangkan fonem /b/ untuk alofon /p/
3. Grafem v digunakan juga untuk melambangkan fonem /f/ pada beberapa
   kata tertentu
4. grafem t selain digunakan juga untuk melambangkan fonem /t/ digunakan
   juga untuk melambangkan fonem /d/ untuk alofon /t/
5. Grafem selain digunakan untuk melambangkan fonem /k/ digunakan juga
   untuk melambangkan fonem /g/ untuk alofon /k/ yang biasanya berada
   pada posisi akhir
6. Grafem n selain digunakan untuk melambangkan fonem /n/ digunakan
   juga untuk melambangkan fonem /n/ pada posisi di muka konsonan /j/ dan
   /c/
7. Gabungan grafem masih digunaklan : ng untuk fonem /n/, ny untuk fonem
   /n/, kh untuk fonem /x/, dan y dan sy untuk fonem /l/
8. Bunyi glotal stop diperhitungkan sebagai alofon dari fonem /k/, jadi,
   dilambangkan dengan grafem k.




                                 38
2.3 Pemerolehan Fonologi

     Pada bab-bab terdahulu telah dibicarakan teori-teori mengenai pemerolehan
sintaksis dan pemerolehan semantik bahasa-ibu oleh kanak-kanak. Berikut ini akan
dikemukakan beberapa teori mengenai pemerolehan fonologi oleh kanak-kanak
sebagai bagian dari pemerolehan bahasa-ibu seutuhnya.

1. Teori Struktural Universal

     Teori struktural universal ini dikemukakan dan dikembangkan oleh Jakobson
(1968). Oleh karena itu, sering juga disebut teori Jakobson. Pada intinya teori ini
mencoba menjelaskan pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur universal
linguistik, yakni hukum-hukum struktural yang mengatur setiap perubahan bunyi.

     DAIam, penelitiannya Jakobson mengamati pengeluaran bunyi-bunyi oleh
bayi-bayi pada tahap membabel (babling) dan menemukan bahwa bayi yang normal
mengeluarkan berbagai ragam bunyi dalam, vokalisasinya baik bunyi vokal maupun
bunyi konsonan. Namun, ketika bayi mulai memperoleh "kata" pertamanya (kira-kira
1 : 0 tahun) maka kebanyakan bunyi-bunyi ini menghilang. Malah sebagian dari
bunyi-bunyi   itu   bare   muncul   kembali   beberapa.   tahun   kemudian.   Dari
pengamatannya, Jakobson menyimpulkan adanya dua tahap dalam pemerolehan
fonologi, yaitu (1) tahap membabel prabahasa, dan (2) tahap pemerolehan bahasa
murni.

Pada tahap prabahasa bunyi-bunyi yang dihasilkan bayi tidak menunjukkan suatu
urutan perkembangan tertentu, dan, sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan
masa pemerolehanbahasa berikutnya. Jadi, pada tahap membubel ini bayi 'hanya
melatih alas-alas vokalnya dengan cara mengeluarkan bunyi-bunyi tanpa tujuan
tertentu, atau bukan untuk berkomunikasi. Sebaliknya, pada tahap.pemerolehan
bahasa yang sebenarnya bayi mengikuti suatu pernerolehan bunyi yang relatif
universal dan tidak berubah.



                                        39
      Menurut Jakobson di antara, kedua tahap itu terdapat masa tidak adanya
kegiatan yang menunjukkan tidak adanya kesinambungan di antara kedua tahap itu,
meskipun masanya sangat singkat dan tidak tampak jelas. Banyak pakar
psikolinguistik perkembangan menerima teori Jakobson mengenai masa senyap ini.
Beberapa bukti yang memperkuat teori Jakobson ini adalah sebagai berikut.

1. Bunyi likuida [1] dan [r] yang sexing muncul pada tahap membabel, hilang pada
   tahap mengeluarkan bunyi bahasa yang sebenarnya. Bunyi ini bare muncul lagi
   ketika bayi berumur tiga setengah tahun (3 : 6), atau empat tahun (4 0), bahkan
   ketika berumur lima tahun. (5 : 0).
2. Bayi-bayi yang pekak membabel dengan cara, yang sama dengan Yang normal.
   Namun, setelah tahap membabel ini selesai bayi-bayi ini pun akan berhenti
   mengeluarkan bunyi-bunyi.
3. Menurut penelitian Port dan Preston (1972), VOT (voice onset time = waktu
   antara pelepasan bunyi hambat dan bergetarnya pita, suara) seperti konsonan [d]
   dan [t] tidak sama pada tahap membabel dengan VOT pada tahap mengeluarkan
   bunyi bahasa yang sebenarnya; dan VOT ketika berusia satu tahun (1 : 0) sama
   dengan VOT orang dewasa. Perbedaan VOT ini membuktikan adanya masa
   peralihan di antara tahap membabel dengan tahap mengeluarkan bunyi yang
   sebenarnya.
      Jika tahap pemerolehan Bahasa yang sebenarnya dimulai, maka akan terdapat
urutan peringkat perkembangan yang teratur , dan tidak berubah, meskipun taraf
kemajuan tiap individu tidak sama. Perkembangan peringkat ini ditentukan oleh
hukum-hukum yang bersifat universal yang oleh Jakobson disebut "the laws of
irreversible solidarity" (1968 : 68).

      Perkembangan itu bergerak dari bentuk yang sederhana kepada bentuk yang
kompleks dan rumit, Kerumitan suatu bunyi ditentukan oleh jumlah fitur (oposisi)
yang dimiliki oleh bunyi itu di dalam satu sistem. Jadi, sebenarnya yang diperoleh
oleh bayi bukanlah bunyi satu demi satu, melainkan berupa oposisi-oposisi atau


                                         40
kontras-kontras fonemik, atau fitt, fitur yang berkontras.

Menurut Jakobson meskipun bunyi-bunyi babasa-bahasa yang ada di dunia ini
berbeda-beda, namun hubungan-hubungan tertentu yang ada pada bunyi-bunyi ini
sifatnya tetap. Umpamanya, apabila suatu bahasa memiliki bunyi hambat velar seperti
[g] maka bahasa itu pasti mempunyai bunyi hambat alveolar seperti [t], dan juga
hambat bilabial seperti [b], Jika suatu bahasa mempunyai bunyi hambat alveolar [t]
dan [d], maka bahasa itu. juga pasti mempunyai hambat bilabial [b] dan [p]; 'tetapi
belum tentu bahasa itu memiliki bunyi i velar [g] dan [k]. Begitu juga apabila suatu
bahasa mempunyai konsonan frikatif [v] dan [s], maka bahasa itu pasti mempunyai
konsonan hambat seperti [t] dan [b].

     Berdasarkan keterangan di atas Jakobson memprediksikan bahwa bayi-bayi
akan memperoleh kontras atau oposisi antara hambat bilabial dengan hambat dental
atau hambat alveolar lebih dahulu daripada kontraskontras di antara bilabial dan velar
atau di antara dental dengan velar. Lebih jauh, Jakobson juga meramalkan bahwa
konsonan hambat akan dahulu diperoleh daripada frikatif dan afrikat. Yang terakhir
diperoleh adalah bunyi-bunyi likuida seperti [1] dan [r]; dan bunyi luncuran (glide)
[y] dan [w].

     Urutan pemerolehan bunyi yang diramalkan Jakobson pada dasarnya sejalan
dengan data yang dikumpulkan oleh sejumlah pakar seperti, Dark dan Dark (1977),
Ervin – Tripp (1966), dan Foss dan Hakes (1978). Data yang dikumpulkan itu
menunjukkan bahwa kanaK-kanak lebih dahulu dapat membunyikan [b], [pl, [d], dan
[t] daripada bunyi [f] dan [s]. Oleh karena itu, sering terjadi [f] ditukar dengan [p],
seperti kanak-kanak mengucapkan [pis] untuk <fish>; atau bunyi [s] ditukar dengan
[t] seperti kata <suit> yang diucapkan menjadi [tut].

     Dalam bukunya yang lain, Jakobson (Jakobson dan Hall, 1958) menyatakan
bahwa pemerolehan bunyi konsonan dimulai dari bunyi bibir (bilabial); sedangkan
pemerolehan bunyi vokal dimulai dengan satu vokal lebar, biasanya bunyi [a]. Jadi,


                                           41
pada waktu yang lama konsonan bilabial, biasanya [p], dan vokal lebar, biasanya [a]
membentuk satu model silabel yang universal yaitu KV (konsonan + vokal) yang
mencerminkan apa yang disebut "konsonan optimal + vokal optimal". Berdasarkan
pola inilah nanti akan muncul satuan-satuan bermakna dalam ucapan kanak-kanak
yang biasanya terjadi dalam bentuk reduplikasi, misalnya [pa + pa].

     Menurut Jakobson urutan pemerolehan kontras fonemik bersifat universal.
Artinya, bisa terjadi dalam bahasa apa pun dan oleh kanak-kanak mans pun. Maka
setelah konsonan bilabial dan vokal lebar di atas, akan muncul oposisi bunyi oral dan
bunyi nasal seperti [pa-pa] [ma-ma]. Kemudian diikuti oleh oposisi labial dan
dental/alveolar, seperti [pa-pa] – [ta-ta] atau [ma-maj – [na-na]. Jadi, menurut
Jakobson, urutan pemerolehan konsonan adalah bilabial-dental (alveolar) – palatal –
velar. Ini berarti, apabila seorang kanak-kanak telah dapat membunyikan konsonan
frikatif, berarti dia juga telah mampu membunyikan bunyi-bunyi hambat. Munculnya
konsonan belakang dalam ucapan kanak-kanak menandakan bahwa dia juga telah
menguasai konsonan depan. Inilah yang oleh Jakobson disebut hukum-hukum
implikasi. Namun, harus diingat bahwa yang diperoleh kanak-kanak bukanlah bunyi-
bunyi secara satu per satu, melainkan dalam oposisinya (kontrasnya) dengan bunyi-
bunyi lain dalam sistem hukumhukum di atas.

     Kontras vokal pertama yang diperoleh kanak-kanak adalah kontras vokal lebar
[a] dengan vokal [i]. Kemudian, diikuti oleh kontras vokal sempit depan [i] dengan
vokal sempit belakang [u]. Sesudah itu bare antira. vokal [e] dan vokal fuj; vokal [o]
dengan vokal [e].

     Akhirnya menurut Jakobson, seringnya sesuatu bunyi diucapkan seorang dewasa
terhadap kanak-kanak tidak menentukan munculnya bunyi tersebut dalam ucapan
kanak-kanak. Yang menentukan urutan munculnya bunyi-bunyi adalah seringnya
bunyi-bunyi itu muncul dalam bahasa-bahasa dunia. Jika suatu bunyi wring muncul
dalam bahasa-bahasa dunia, make bunyi-bunyi itu akan lebih dulu muncul dalam



                                         42
ucapan kanak-kanak, meskipun bunyi itu jarang muncul dalam data masukan yang
didengar oleh kanak-kanak.

2. Teori Generatif Struktural Universal

        Teori Struktural universal yang diperkenalkan oleh Jakobson di atas telah
diperluas oleh Moskowitz (1970, 1971) dengan cara menerapkan unsur-unsur
fonologi generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle (1968). Yang paling
menonjol dari teori Moskowitz ini adalah "penemuan konsep" dan "pembentukan
hipotesis" berupa rumus-rumus Yang dibentuk oleh kanak-kanak berdasarkan data
linguistik utama (DLU), yaitu kata-kata dan kalimat-kalimat yang didengarnya sehari-
hari.

        Salah satu kesimpulan Moskowitz setelah mengkaji teori Jakobson dengan
eksperimen adalah penolakannya terhadap pendapat bahwa pemerolehan tahap
fonetik berlaku dengan cara-cara. yang same bagi semua kanak-kanak di dunia.
(Moskowitz, 1970). Namun, di batik penolakan ini beliau mengakui juga bahwa
tentu ada satu set sekatan yang harus dikenakan pada urutan'pemerolehan
representasi fonologi yang kurang jelas karena adanya interferensi fonetik.

        Ada satu kesimpulan Moskowitz yang tidak sejalan dengan teori Chomsky yaitu
mengenai      konsep-konsep   yang   harus     ditentukan   oleh   kanak-kanak   untuk
mengasimilasikan DLU lebih berkaitan dengan proses struktur nurani yang
dihipotesiskan. Namun, kesimpulan lain menunjuk ' kan adanya keselarasan yang
tinggi dengan teori Chomsky yakni karena Moskowitz menentang teori pemerolehan
bahasa ,dengan peniruan, serta menekankan pentingnya faktor kreativitas dalam
pemerolehan bahasa pada umumnya dan proses pemerolehan fonologi khususnya.
Dalam proses pemerolehan bahasa kanak-kanak menemukan konsep-konsep serta
menerapkan konsep-konsep itu untuk menciptakan bahasa. Proses seperti ini terjadi'
berulang-ulang, dan setup kali bahasanya semakin mendekati bahasa orang dewasa.



                                          43
        Moskowitz mengatakan bahwa dalam pemerolehan fonologi tidak dapat
dipastikan apakah kanak-kanak telah menguasai rumus-rumus fonologi atau tidak.
Oleh karena itu, ada alasan untuk mengatakan bahwa kanakkanak telah menciptakan
rumus-rumus fonologinya sendiri sejak tahap awal pemerolehan fonologinya yang
berlainan dengan rumus-rumus fonologi orang dewasa. Namun, di sini Moskowitz
tetap    menggunakan       rumus-rumus    atau   kerangka   fonologi   generatif   untuk
menganalisis data yang dikumpulkannya.

        Moskowitz juga berpendapat bahwa sejak awal proses pemerolehan bahasanya,
bayi telah menyadari akan perbedaan 'antara bunyi bahasa manusia dengan bunyi-
bunyi lain yang bukan suara manusia. Hal ini termasuk "kemampuan nurani" yang
dimiliki    bayi   sejak    dilahirkan.   Kemudian,.-   pada   masa    membabel     bayi
mengembangkan kemampuan linguistiknya, dengan cara menyesuaikan ucapan-
ucapannya dengan persepsi bunyi yang didengarnya. Hal ini membuat si bayi
semakin mampu mengenal dirinyasebagai anggota masyarakat manusia di sekitarnya.

        Keberhasilan utama yang dicapai si bayi pada tahap membabel adalah penemuan
unit-unit kalimat yang merupakan unit linguistik yang pertama. Ini ditandai dengan
munculnya intonasi dan hentian-hentian dalam ucapannya; dan ini merupakan
permulaan analisis bahasa segmental. I Penemuan unit kalimat ini juga
mencerminkan satu langkah utama ke arah sosialisasi, yakni pembelajaran semantik
karena kalimat sebagai suatu' rangkaian bunyi panjang yang terbatas memiliki makna
tertentu. Pada tahapan penemuan unit kalimat ini muncullah satu proses pemerolehan
fonologi yang bertingkat-tingkat sebagai tergambar pada bagan halaman berikut.

        Proses dimulai dengan masuknya data linguistik' (berupa bunyi ucapan) ke
dalam kotak 1. Data yang tidak dapat segera dipindahkan ke dalam kotak 2 akan
terbuang dari kotak 1; sedangkan yang lain segera dipindahkan ke dalam kotak 2.
Data ini akan diingat dengan lebih lama.




                                            44
                               Data linguistik sebagai keluaran

4.                             Data yang diingat terus




3.                             Data yang diingat semakin lama

2.                             Data yang lebih lama diingat




1.                             Data yang dilupakan

                               Data linguistik sebagai masukan

         Selanjutnya, data ini dipindahkan ke kotak 3 agar data tersebut dapat tinggal
lebih lama lagi. Andaikata karena sesuatu sebab data itu tidak bisa tinggal lebih lama
di dalam kotak 3, maka data itu akan kembali ke kotak 1, dan mengalami proses yang
sama dengan data baru lainnya. Data yang telah lama ada di kotak 3 akan dikirim ke
kotak 4 dengan syarat data seperti itu terus muncul berulang-ulang. Data yang telah
sampai ke kotak 4 ini akan terns dapat dikeluarkan sebagai keluaran.

     Implikasi fonologi seperti yang digambarkan di atas adalah bunyibunyi bahasa
yang secara umum sering muncul sebagai data masukan akan lebih dahulu diperoleh
kanak-kanak. Sebaliknya, kalau suatu bunyi kemunculannya terbatas, maka baru bisa
diperoleh kemudian oleh kanakkanak setelah die menguasai bunyi-bunyi yang umum.
Jadi, teori ini bertentangan dengan teori Jakobson dalam hal urutan pemerolehan
bunyi.

     Moskowitz (Simanjuntak, 1987 : 221) menjelaskan bahwa sesudah kanak-
kanak "menemukan" unit kalimat ditandai oleh kontur intonasi, make kanak-kanak
akan menemukan unit utama kedua, yaitu unit suku kata, yakni bagian dari kata yang
merupakan satu "satuan bunyi" di bawah kata ini. Unit suku kata ini dipahami kanak-


                                          45
kanak sebagai satu fitur suku kata, bukan sebagai fitur-fitur fonem atau fon. Peranan
unit suku kata ini sangat penting di dalam proses pemerolehan bahasa. Bentuk unit
suku kata yang pertama muncul adalah bentuk KV (konsonan-vokal), kemudian
diikuti oleh bentuk KVK, VK, dan V. Sesudah itu bare diikuti oleh bentuk
pengulangan penuh KVKV dalam bentuk kata seperti mama, papa, mimi, dan
sebagainya.

      Sesudah menguasai unit suku kata barulah kanak-kanak menguasai unit
segmen, yakni konsonan atau vokal. Urutan pemerolehan segmen ini tidak sama
antara seorang kanak-kanak dengan kanak-kanak lain. Pemerolehan unit segmen
segera diikuti oleh pemerolehan unit yang lebih kecil yaitu unit fitur distingfif berupa
oposisi atau kontras-kontras yang bisa membedakan makna. Urutan pemerolehannya
teratur dan sesuai, dengan urutan menurut teori Roman Jakobson di atas.

      Moskowitz juga memperkenalkan apa yang disebutnya idiom-idiom fonologi
(phonological idioms). Menurut perkembangannya idiom-idiom fonologi ini terdiri
dari idiom progresif dan idiomregresif. Yang dimaksud dengan idiom progresif
adalah apabila bentuk bunyi suatu kata pada tahap awal telah menyamai bentuk yang
sebenarnya menurut fonologi orang dewasa. Kemudian, dalam perkembangan
selanjutnya, bentuk semakin dekat, dan seterusnya menjadi tepat. Sedangkan yang
dimaksud dengan idiom regresif adalah apabila bentuk yang telah menyamai bentuk
orang dewasa itu berubah ke bentuk yang lebih primitif. Misalnya, pada suatu
peringkat seorang kanak-kanak telah mengucapkan kata "pretty" dengan tepat.
sebagai [priti], padahal sebenarnya pada peringkat itu die belum menguasai gugus,
konsonan. Namun, beberapa waktu kemudian kanakkanak itu membuang bunyi [r]
dari gugus konsonan [prj itu, dan mengucapkannya menjadi [piti] sesuai dengan
sistem fonologinya pada tahap itu. Kemudian, setelah mencapai tahap penguasaan
gugus konsonan barulah bentuk [piti] itu berubah kembali seperti [priti].




                                          46
3. Teori Proses Fonologi Alamiah

       Teori ini diperkenalkan oleh David Stampe (1972 - 1973), yakni satu teori
yang disusun berdasarkan teori fonologi alamiah yang juga telah diperkenalkan sejak
1965. Menurut Stampe proses fonologi kanak-kanak bersifat nurani yang hares
mengalami penindasan (supresi), pembatasan, dan pengaturan sesuai dengan
penuranian (internalization) representasi fonemik orang dewasa.

     Suatu proses fonologi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang saling bertentangan.
Umpamanya, terdapat satu proses yang menjadikan semua bunyi hambat menjadi
tidak bersuara dalam semua konteks, karena halangan oralnya menghalangi arus
udara yang diperlukan untuk menghasilkan bunyi-bunyi ini. Namun, bagaimanapun
bunyi-bunyi ini akan menjadi bersuara oleh proses lain dengan cara asimilasi tertentu.
Jika kedua proses ini terjadi bersamaan, maka keduanya akan saling menindih, dan
saling bertentarugan: sebuah bunyi hambat tidak mungkin secara, serentak bersuara
dan tidak bersuara pada lingkungan yang sama. Masalah yang bertentangan ini dapat
dipecahkan dengan tiga cara berikut.

a. Menindas salah satu dari kedua - proses yang bertentangan itu. Umpamanya bila
   kanak-kanak telah menguasai bunyi-bunyi hambat bersuara dalam semua konteks,
   maka berarti dia telah berhasil menindas proses penghilangan suara yang
   ditimbulkan oleh balangan oral bunyi itu.
b. Membatasi jumlah segmen atau jumlah konteks yang ierlibat dalam prose s itu.
   Misalnya, proses penghilangan suara dibatasi hanya pada bunyi-bunyi hambat
   tegang saja, sedangkan bunyi-bunyi hambat longgar tidak dilibatkan.
c. Mengatur terjadinya proses penghilangan bunyi suara dan proses pengadaan
   bunyi suara secara berurutan. Urutannya boleh dimulai dengan proses
   penghilangan bunyi suara; lalu diikuti dengan proses pengadaan bunyi bersuara.
   Kedua proses ini tidak mungkin terjadi secara bersamaan.




                                         47
        Berikut diberikan contoh usaha kanak-kanak dalam proses pemerolehan
fonologi itu dari ketiga cara, di atas.

a. Penindasan proses-proses
    Seorang kanak-kanak lelaki berumur dua tahun (2 : 0) yang diamati Stampe
    (1972) membunyikan kata "kitty" berturut-turut sebagai berikut dari: [ki] ke [kii]
    ke [kri] ke [kiri] ke [kiti]. Hal ini dilakukan kanak-kanak dengan dasar proses
    ketegangan vokal, kemudian penindasan penjatuhan suku kata setengah vokal,
    setelah itu penindasan proses pengguguran getar, dan akhirnya penindasan proses
    penggetaran.

b. Pembatasan proses-proses
    Seorang kanak-kanak bernama Hildegard membunyikan semua bunyi hambat tak
    bersuara sebagai bersuara apabila berada di depan segmen bersuara vokal.

    (baba] untuk "papa":

    Beberapa waktu kemudian dia membatasi penyuaraan ini pada hambat yang,
    berada di antara vokal saja:

    [paba] untuk "papa".

    Setelah pembatasan ini barulah kanak.-kanak itu melakukan penindasan [papa]
    untuk "papa".

c. Pengaturan proses-proses
    Kanak-kanak yang bernama Hildegard di atas sewaktu berusia satu tahun delapan
    bulan (1 : 8) mengucapkan :

    [du (r)] untuk "juice"

    [du] untuk "june"                     d        d

    [do : i] untuk "joey"


                                              48
      Dari ketiga ucapan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Hildegard tidak
mengucapkan [d ] sehingga menukarnya dengan bunyi [d]. Namun, jika diteliti lebih
jauh sebenarnya dia mampu membunyikan [d ] sebagai terbukti dari ucapannya.

      [d ui] untuk "church"

      [d u d u] untuk "choo-choo"                   t   d

      Maka Stampe mengambil kesimpulan bahwa Hildegard telah melakukan
pengaturan proses-proses berikut.

(a)    d               d
(b)    t               d
(c)    hambat      + suara /    vokal



4. Teori Prosodi–Akustik

      Teori prosodi-akustik ini diperkenalkan oleh Waterson (1976) sesudah dia
merasa tidak puss dengan pendekataii fonemik segmental yang dikatakannya tidak
memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai, pemerolehan fonologi.

Pendekatan fonemik segmental menganggap bahwa kanak-kanak memperoleh
fonologi berdasarkan fonem, sehingga banyak bahan fonetik yang berkaitan telah
dikesampingkan. Karena kelemahan tersebut, maka Waterson (1971) menggunakan
pendekatan nonsegmental, yaitu pendekatan prosodi, yang dianggapnya lebih
berhasil. Pendekatan ini diperkuat dengan analisis akustik sebab analisis prosodi
hanya melihat dari analisis artikulasi saja.

      Waterson (1970) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa adalah satu proses
sosial sehingga kajiannya lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang
sebenarnya daripada pengkajian data-data eksperimen, lebih-lebih untuk mengetahui
pemerolehan fonologi.


                                               49
     Dalam proses pemerolehan fonologi multi-multi kanak-kanak memperhatikan
lingkungannya, mengamati persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang
penting baginya dalam lingkungan itu. Dalam hal ini kanak-kanak sangat peka
terhadap sifat-sifat suara manusia tertentu yang didengarnya berulang-ulang dalam
konteks yang sama seperti poly-poly tekanan, irama, ritme, dan fitur-fitur lain yang
berhubungan dengan keadaan-keadaan yang berulang-ulang itu. Pada suatu saat
kanak-kanak itu mulai menyadari bahwa ucapan-ucapan yang didengarnya ada
hubungannya dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa dalam lingkungannya.
Pada tahap permulaan ini kanak-kanak hanya menerima dan mengamati bunyi-bunyi
yang mempunyai arti baginya. Lalu dari bunyi-bunyi yang mempunyai arti ini kanak-
kanak membentuk pola bunyi tertentu tanpa morfologi dan sintaksis. Jadi, menurut
Waterson (1976) pemerolehan bahasa oleh kanakkanak dimulai dari pemerolehan
semantik dan fonologi, logi, kemudian barn ada pemerolehan sintaksis.

     Sesudah menganalisis data ucapan kanak-kanak Waterson berkesimpulan bahwa
prinsip-prinsip dasar pemerolehan morfologi kanak-kanak adalah sama, meskipun
mereka menggunakan strategi yang berlainan. Pada umumnya kanak-kanak mulai
berbahasa dengan menggunakan suku kata tunggal. Apabila dia mencoba
mengucapkan dua suku kata, maka yang diucapkan adalah pengulangan daripada
suku kata tunggal itu. Jika dia "berjumpa" dengan kata-kata yang terdid dari dua suku
kata, maka dia lebih mudah untuk mengucapkan suku kata yang mendapatkan
tekanan suara daripada suku kata yang tidak mendapat tekanan.

     Mengapa    kanak-kanak    lebih   mudah    mengulang-ulang.suku     kata   yang
bertekanan daripada mengucapkan kata dwisuku? Menurut Waterson, walau yang
dibutuhkan prang dewasa untuk mengucapkan kata ekasuku dari dwisuku adalah
sama, yaitu 0,7 detik. Maka perubahan artikulasi dan akustik untuk persepsi dan
pengeluaran jauh lebih sedikit pada ekasuku daripada dwisuku karena masa
pengucapannya adalah sama. Jadi, cara yang paling mudah bagi kanak-kanak adalah



                                         50
mengulang suku kata yang mendapat tekanan keras daripada mengucapkan kedua
suku pada kata itu.

     Waterson (1971) juga menemukan adanya hubungan akustik antara bentuk-
bentuk ucapan kanak-kanak dengan fitur-fitur bentuk ucapan orang dewasa. Kanak-
kanak hanya mengucapkan kembali - bagian ucapan yang makan waktu lebih kurang
0,2 detik, dan bagian yang diucapkan kembali. adalah elemen vokal dan konsonan
yang mencapai, artikulasi kuat.

     Satu hal, lagi dari pemerolehan fonologi adalah masalah sejauh mans kanak-
kanak dihambat oleh pembatasan-pembatasan dalam persepsi dan pengeluaran bunyi.
Karena masalah ini menyangkut pengeluaran dan persepsi, maka pengkajian
pemerolehan fonologi haruslah pula dari sudut artikulasi dan akustik. Namun, dari
sudut akustik sangat sukar karena kita tidak tahu apa sebenamya yang diamati kanak-
kanak sedangkan kita tidak bisa bertanya kepadanya. Umpamanya seorang kanak-
kanak mengucapkan <plate> yang berbunyi [pleit] menjadi berbunyi [beip], apakah
dia bisa membedakan tempat artikulasi [p] dan [b], kita tidak tahu. Apakah dia
mengucapkan [pleit] menjadi [beip]. Karena lebih mudah mengucapkannya atau
karena dia tidak tahu perbedaannya. Untuk memecahkan masalah ini, Waterson
merujuk pada pengucapan orang dewasa: orang dewasa lebih banyak "membuat
kesalahan" dalam tempat artikulasi daripada cara artikulasi. Kanak-kanak tidak
menaruh perhatian pada tempat artikulasi untuk setiap pengucapan karena mereka
tidak mampu menghadapi segalagalanya pada waktu yang sama pada setiap
peringkat.




                                        51
                            SOAL-SOAL LATIHAN



1. Apakah yang dimaksud dengan fonologi ? Jelaskan !
2. Jelaskan perbedaan objek studi fonetik dan objek studi fonemik !
3. Apa yang dimaksud dengan bahasa tonal ? berikan contoh !
4. Apa yang menyebabkan sebuah fonem berbeda-beda ?
5. Apa yang dimaksud dengan silabel ?
6. Teori struktural universal dikemukakan oleh siapa ?
7. Teori tersebut mencoba menjelaskan pemerolehan fonologi berdasarkan apa ?


                               KUNCI JAWABAN


1. Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi ujaran satu bahasa
2. Fonetik obyek studinya setiap bunyi bahasa dilambangkan dengan huruf
   fonemik obyek studinya membedakan makna berdasarkan lambangnya
3. Bahasa yang bernasa. Contohnya bahasa Thai, bahasa Burm dan bahasa Mandarin
4. Sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat bergantung pada lingkungannya
   atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya
5. Silabel adalah satun ritmis terkecil dlam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi
   ujaran
6. Jacobson (1968)
7. Teori ini menjelaskan pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur
   universal linguistik




                                        52
                                  BAB III
                                 PENUTUP




Kesimpulan
        Pengetahuan fonologi suatu bahasa mempunyai berbagai manfaat. Dalam
pengajaran bahasa pembandingan fonologi bahasa pelajar dan fonologi bahasa
yang diajarkan sangat berguna dalam penyusunan pelajaran lafal. Misalnya
menurut derajat kesulitannya. Dalam keterampilan melakukan analisis fonemik
suatu sistem ejaan yang praktis dapat dibuat untuk bahasa itu atau untuk
memperbaiki sistem ejaan yang sudah ada.


Saran
        Setelah menyusun makalah ini kami mempunyai saran kepada mahasiswa
khususnya Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia untuk lebih memperdalam
pengetahuan tentang fonologi. Karena fonologi sangat berhubungan dengan ilmu
bahasa lain seperti Morfologi dan Sintaksis




                                     53
                              DAFTAR PUSTAKA




Abdul Chaer. Psiko Linguistik. Rineka Cipta. Jakarta. 2003

Marsono. Fonetik. Gakjah Mada University Press. 1986. Yogyakarta

JWM Verhaar. Pengantar Linguistik. Gajah Mada University Press. 1992.
   Yogyakarta

Chaedar Al-Wasilah. Linguistik Suatu Pengantar. Angkasa. Bandung. 1993




                                        54
                              MAKALAH
                           LINGUISTIK UMUM
                                Tentang
                              FONOLOGI

                          DOSEN PEMBIMBING

                        NUR WAHYUNINGSIH, S.Pd.




                               Disusun Oleh :

1.   ADI UTOMO            (086.003)    8.    ANIS SUFATMI         (086.017)
2.   ANISYAH              (086.018)    9.    ADI SURYA            (086.004)
3.   ANIS NURIL LAILI     (086.016)    10.   ADI PUTRA            (086.002)
4.   ANIFATUL KH.         (086.015)    11.   ANTON KAHARUDIN      (086.020)
5.   ALI YAZIDIL IMAN     (086.009)    12.   ANGGRA WIDYASTUTIK   (086. )
6.   ANA FADHILAH         (086.010)    13.   ANDIK                (086. )
7.   ANITA KH.            (086.019)    14.   NUNUK KUNTUM UTARI   (056.061)




             PRODI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
        SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
             PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
                            2009
                              KATA PENGANTAR




Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat Hidayah dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini untuk
memenuhi tugas akhir mta kuliah Linguistik Umum yang berjudul ”FONOLOGI”
         Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan yaitu kepada :
1. Bapak Winardi, SH.M.Hum., selaku Ketua STKIP PGRI Jombang
2. Ibu Susi Darihastining, M.Pd., selaku Ketua Prodi Bahasa dan sastra Indonesia
3. Ibu Nur Wahyunigsih, S.Pd., selaku dosen pembimbing mata kuliah linguistik
   umum
4. Serta teman-teman yang telah membantu kami


         Demikianlah makalah ini kami susun. Kami sadar dalam makalah yang
kami susun ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran sehat dari
pembaca sangat kami harapkan demi tercpainya kebaikan yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya. Amien.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.




                                              Jombang, 05 Februari 2009
                                                       Penyusun




                                         ii
                                                 DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL ........................................................................................               i
KATA PENGANTAR ......................................................................................               ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................     iii
BAB I           : PENDAHULUAN .....................................................................                 1
                    1.1 Latar Belakang ......................................................................       1
                    1.2 Rumusan Masalah ................................................................            1
                    1.3 Batasan Masalah ..................................................................          1
                    1.4 Tujuan Penulisan ..................................................................         1
BAB II          : FONOLOGI ...............................................................................          2
                    2.1 Fonetik ................................................................................    2
                          2.1.1 Jenis-Jenis Fonetik....................................................             3
                          2.1.2 Terjadinya Bunyi .....................................................              3
                          2.1.3 Alat-Alat Bicara .......................................................            4
                          2.1.4 Fungsi dan Cara Kerja Alat Bicara ...........................                       5
                          2.1.5 Klasifikasi Bunyi Bahasa .........................................                  8
                          2.1.6 Klasifikasi Konsonan ...............................................               11
                          2.1.7 Unsur Suprsegmental ...............................................                15
                          2.1.8 Tekanan tau Stress ...................................................             15
                          2.1.9 Nada atau Pitch ........................................................           16
                          2.1.10 Jeda atau Persendian ................................................             17
                          2.1.11 Silabel .....................................................................     18
                    2.2 Fonemik ..............................................................................     20
                          2.2.1 Identifikasi Fonem....................................................             21
                          2.2.2 Alofon .....................................................................       23
                          2.2.3 Klasifikasi Fonem ....................................................             24
                          2.2.4 Khazanah Fonem .....................................................               27


                                                          iii
                        2.2.5 Perambahan Fonem .................................................                 28
                 2.3 Pemerolehan Fonologi .........................................................              39
                 SOAL-SOAL LATIHAN............................................................                   52
BAB III      : PENUTUP .................................................................................         53
  Kesimpulan..................................................................................................   53
  Saran          53


DAFTAR PUSTAKA




                                                        iv

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:19132
posted:2/9/2011
language:Indonesian
pages:58