Peradaban Islam Masa Khulafaurrasyidin by z41n5ul

VIEWS: 6,730 PAGES: 14

									              PERADABAN ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN
                          KHULAFA AR-RASYIDIN




Pada masa ini terbagi menjadi empat khulafa yakni :
1. Khalifah Abu Bakar As-Shidiq 11 – 13 H (632 – 661 M)
2. Khalifah Utsman bin Affan 13 – 23 H (634 – 664 M)
3. Khalifah Umar bin Khattab 23 – 35 H (644 – 656 M)
4. Khaifah Ali Bin Abi Thalib 35 – 40 H (656 – 661 M)


A. KHALIFAH ABU BAKAR AS SHIDDIQ
          Abu Bakar As-Shiddiq (Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin
   Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Lu’ay bin
   Ghalib bin Fihr at-Taimi al-Qurasyi berarti bertemu dengan nasab pada Murrah
   bin Ka’ab). Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salmah binti Sahr bin
   Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya bertemu pada
   neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.
   1. Beliau dilahirkan pada tahun 573 M. Dia dilahirkn di lingkungan suku yang
       sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar.
   2. Beliau dilahirkan 2 tahun lebih beberapa bulan setelah kelahiran Rosulullah
       SAW
   3. Beliau selalu menemani Rosulullah SAW, sejak sebelum diangkat menjadi
       nabi
   4. Beliaulah orang yang pertama kali beriman kepada Rosulullah SAW dari
       kalangan orang pria dewasa
   5. Beliau adalah sahabat nabi SAW tertua dan terpandang
   6. Beliau terkenal sebagai seorang yang jujur dan berhati suci




                                        1
Kesulitan-Kesulitan yang Dihadapi Abu Bakar
      Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama pengganti Rosulullah
SAW, mendapatkan reaksi yang beragam dari kaum muslimin, pada masa
khalifah Abu Bakar telah terjadi pembelotan yang dilakukan oleh beberapa
kabilah yang baru masuk Islam. Mereka tidak lagi mengakui pemerintahan Abu
Bakar di Madinah. Motif pemberontakan ini beraneka ragam, ada yang keluar
dari Islam (murtad), ada yang menolak membayar zakat. Ada pula yang hanya
karena fanatisme kesukuan. Beberapa orang malah menyatakan diri sebagai
nabi-nabi baru, seperti Tulaihah dan Musailamah. Nabi-nabi palsu ini umumnya
didukung oleh suku asal mereka. Bahkan ’uyainah pernah berkata : ”Seorang
Nabi dari suku Asad dan Ghafhfan lebih aku sukai daripada seorang Nabi dan
suku Quraisy.
      Setelah   Nabi   Muhammad        berpulng   ke   Rahmatullah   murtadlah
kebanyakan mereka dari agama Islam. Dan orang-orang yang lemah imannya itu
selalu saja memperlihatkan ketidak patuhan mereka kepada agama Islam.
      Peristiwa wafat Nabi mereka jadikan suatu kesempatan untuk
menyatakan terus terang apa yang selama ini tersembunyi dalam hati mereka.
Mereka menyatakan kemurtadan mereka dari agama Islam.
      Di kala Nabi telah wafat, dan kelihatan oleh bangsa Arab bahwa suku
Quraisy tetap mempertahankan kekuasaan itu, dan tidak dibiarkannya terlepas
dari mereka, bertambah kuatlah gerakan untuk melepaskan diri dari Islam, dan
tampillah di antara suku-suku bangsa Arab orang-orang yang mengaku dirinya
Nabi. Orang-orang ini didukung oleh warga sukunya semata-mata karena
perasaan kesukuan, kendatipun jelas oleh mereka bahwa orang-orang itu bohong
dan pendusta.
      Orang-orang yang salah menafsirkan sejumlah ayat-ayat al Qur’an atau
salah memahamkannya. Mereka menempuh jalan sesat yaitu jalan yang bukan
ditempuh oleh kaum muslimin terbanyak. Dan orang yang tak mau lagi




                                   2
membayar zakat, mereka berontak terhadap zakat yang oleh mereka dinamakan
”upeti” atau ”pajak”
       Setelah berhasil meyakinkan kaum muslimin, dipersiapkanlah pasukan
besar yang diproyeksikan untuk menumpas semua jenis pemberontakan.
Peperangan pertama :
Untuk menggempur nabi palsu, Thulalhah. Pasukan Abu Bakar ini berhasil
menumpas pasukan Thulalhah dalam waktu relatif singkat.
Peperangan kedua :
Untuk menaklukkan kabilah-kabilah yang melakukan pemberontakan/menolak
membayar zakat
Peperangan ketiga :
Untuk melawan pasukan musallamah yang memiliki 40 ribu tentara. Dalam
pertempuran ini, nabi palsu musallamah tewas.
Peperangan keempat :
Pada peperangan ini dibawah empat Jenderal yaitu :
1. Abu Ubaidah
2. Amr Ibn ’Ash
3. Yazid Ibn Abi Sufyan
4. Syurahbil
       Awalnya yang memimpin itu Usamah yang masih berusia 18 tahun
untuk memperkuat tentara ini Khalid bin Walid beserta pasukannya memerangi
pasukan Romawi yang begitu besar jumlahnya dibanding pasukan Islam. Tapi
peperangan ini belum berakhir ketika Abu Bakar sudah meninggal.
       Secara umum, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Abu Bakar
melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, baik kebijksanaan dalam kenegaraan
maupun pengurusan terhadap agama, diantara kebijaksanaannya ialah sebagai
berikut :
a. Kebijaksanaan pengurusan terhadap agama
b. Kebijaksanaan kenegaraan



                                    3
  Faktor Keberhasilan Khalifah Abu Bakar
         Faktor keberhasilan Abu Bakar yang lain adalah dalam membangun
  pranata sosial di bidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut
  tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan
  yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut membicarakan berbagai
  masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai
  lembaga legislatif.


  Peradaban pada Masa Abu Bakar
         Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa dan merupakan satu
  kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah
  penghimpunan al-Qur’an. Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan kepada Zaid
  bin Tsabit untuk menghimpun al-Qur’an dari pelepah kurma, kulit binatang, dan
  dari hapalan kaum muslimin. Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga
  kelestarian al-Qur’an setelah syahidnya beberapa orang penghapal al-Qur’an
  pada   perang    Yamamah.     Umarlah    yang   mengusulkan     pertama    kali
  penghimpunan al Qur’an ini. Sejak itulah al-Qur’an dikumpulkan dalam satu
  mushaf. Inilah untuk pertama kalinya al-Qur’an dihimpun.


B. KHALIFAH UMAR IBN AL-KHATHTHAB
  1. Pengangkatan Umar bin al-Khaththab sebagai khalifah
            Abu Bakar sebelum meninggal pada thun 634 M/13 H. Menunjuk Umr
     Ibn al-Khaththab sebagai penggantinya. Ada beberap faktor yang
     mendorong Abu Bakar untuk menunjuk Umr menjadi khlifah. Pertama,
     kekhawatiran peristiwa yang menegangkan di tsaqifah Bani Sa’idah yang
     nyaris menyeret umat Islam ke jurang perpecahan akan terulang kembali,
     bila ia tidak menunjuk seorang yang akan menggantikannya. Kedua, kaum
     Anshar dan Muhajirin saling mengklaim sebagai golongan yang berhak
     menjadi khalifah. Ketiga, umat Islam pada saat itu baru saja selesai



                                       4
  menumpas kaum murtad dan pembangkang. Sementara sebagian pasukan
  mujahidin sedang bertempur di luar kota Madinah melawan tentara Persia di
  satu pihak dan tentara Romawi di pihak lain.


  Ekspresi Islam masa Pemerintahan Khalifah Umar Ibn al-Khaththab
         Selama sepuluh tahun pemerintahan Umar (13 H/634 M – 23 H/644
  M) sebagian besar ditandai oleh penaklukan-penaklukan untuk melebarkan
  pengaruh Islam keluar Arab. Sejrah mencatat, Umar telah berhasil
  membebaskan negeri-negeri jajahan imperium Romawi dan Persia yang
  dimulai dari awal pemerintahannya, bahkan sejak pemerintahan sebelumnya.
         Faktor-faktor yang melatarbelakangi timbulnya konflik antara umat
  Islam dengan bangsa Romawi dan Persia yang pada akhirnya mendorong
  umat Islam mengadakan penklukan negeri Romawi dan Persia, serta negeri-
  negeri jajahannya karena; pertama, bangsa Romawi dan Persia tidak
  menaruh hormat terhadap maksud baik Islam; kedua, semenjak Islam masih
  lemah Romawi dan Persia selalu berusaha mengancurkan Islam; ketiga,
  bangsa Romawi dan Persia sebagai negara yang subur dan terkenal
  kemakmurannya, tidak berkenan menjalin hubungan perdagangan dengan
  negeri-negeri Arab; keempat bangsa Romawi dan Persia bersikap ceroboh
  menghasut suku-suku Badui untuk menentang pemerintahan Islam dan
  mendukung musuh-musuh Islam; dan Persia sangat strategis untuk
  kepentingan keamanan dan pertahanan Islam.
         Dengan demikian, dapat dikatakan Islam pada masa pemerintahan
  Umar Ibn al-Khaththab kekutan dua adikuasa dunia dapat diruntuhkan. Hal
  ini sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan sejarah Islam.


2. Peradaban pada Masa Khalifah Umar
         Peradaban yang paling signifikan pada masa Umar, selain pola
  dministratif pemerintahan, peperangan dan sebagainya adalah pedoman



                                   5
     dalam peradilan. Pemikiran khalifah Umar bin Khaththab khususnya dalam
     peradilan yang masih berlaku sampai sekarang dikutip M. Fauzan sebagai
     berikut :
     Naskah asas-asas Hukum acara dari Umar Amirul Mukminin kepada
     Abdullah bin Qais, mudah-mudahan Allah melimphkan kesejahteran dan
     rahmad-Nya kepada engkau
     1) Kedudukan lembaga peradilan
     2) Memahami kasus persoalan, baru memutuskannya
     3) Samakan pandangan anda kepada kedua belah pihak dan berlaku adilah
     4) Kewajiban pembuktian
     5) Lembaga damai
     6) Perundangan persidangan
     7) Kebenaran dan keadilan adalah masalah universal
     8) Kewajiban menggali hukum yang hidup dan melakukan penalaran logis
     9) Orang Islam haruslah berlaku adil
     10) Larangan bersidang ketika sedang emosional


C. KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
  1. Utsman diangkat jadi Khalifah
            Di waktu Umar kena tikam, beliau tiada bermaksud hendak
     mengangkat penggantinya. Faktor-faktor yang mendorong Abu Bakar untuk
     menunjuk penggantinya sudah tidak ada lagi. Bala tentara Islam telah
     mendapat kemenangan, dan kedilan stabil.
            Tetapi kaum muslimin khawatir kalau-kalau terjadi perpecahan
     sesudah Umar meninggal dunia karena itu mereka mengusulkan agar Umar
     menunjuk siapa yang akn menjadi pengganti beliau sehingga Umar
     memanggil tiga calon penggantinya, yaitu Utsman, Ali dan Sa’ad bin Abi
     Waqqash. Disamping itu Umar telah membentuk dewan formatur yang
     bertugas memilih penggantinya kelak. Dewan formatur yang dibentuk Umar



                                      6
     berjumlah 6 orang. Mereka adalah Ali, Utsman Sa’ad bin Abi Waqqash
     Abd. Ar-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.
            Mekanisme pemilihan khalifah ditentukan sebagai berikut : Pertama,
     yang berhak menjadi khalifah dalah yang dipilih oleh anggota formatur
     dengn suara terbanyak; kedua, apabila suara terbagi secara berimbang
     Abdullah bin Umar yang berhak menentukannya; ketiga, apabila campur
     tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon yang dipilih oleh Abd. Ar-
     Rhman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah
            Setelah itu, Ar-Rahman memanggil Ali dan menanyakan kepadanya,
     seandainya dia dipilih menjadi khalifah, sanggupkah dia melaksanakan
     tugasnya berdasarkan al-Qur’an, sunah Rasul, dan kebijaksanaan dua
     kholifah sebelum dia ? Ali menjawab diriny berharap dapat berbuat sejauh
     pengetahuan dan kemampuannya. Abd. Ar-Rahman berganti mengundng
     Utsman menjawb, ”Ya ! saya sanggup”. Berdasarkan jawaban itu, Abd. Ar-
     Rahman menyatakan Utsman sebagai khalifah ke-3 dan segeralah
     dilaksanakan Baiat.


  2. Perluasan Islam di masa Utsman
            Perluasan Islam di masa Utsman dapat disimpulkan pada dua bidang :
     1) Menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa
        negeri yang telah masuk di bawah kekuasaan Islam di zaman Umar.
     2) Melanjutkan perluasan Islam ke daerah-daerah yang sampai disana yang
        telah terhenti perluasan Islam dimasa Umar.


D. KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB
  1. Proses Pengangkatan Ali bin Abi Thalin
            Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga
     orang khalifah sebelumnya. Ali dibai’at di tengah-tengah suasana berkabung
     atas meninggalnya Utsman, pertentangan dan kekacauan, serta kebingungan



                                     7
umat Islam Madinah. Sebab, kaum pemberontak yang membunuh Utsman
mendaulat Ali supaya bersedia dibai’at menjadi khalifah. Setelah Utsman
terbunuh, kaum pemberontak mendatngi para sahabt senior satu per satu
yang ada di kota Madinah, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad
bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar bin Khaththab agar bersedia
menjadi khalifah, namun mereka menolak. Akan tetapi, baik kaum
pemberontak maupun kaum Anshr dan Muhajirin lebih menginginkan Ali
menjadi Khalifah. Ia didatangi beberapa kali oleh kelompok-kelompok
tersebut agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Namun, Ali menolak.
Sebab, ia menghendaki agar urusan itu diselesaikan melalui musyawarah
dan mendapat persetujuan dari shabat-sahabat senior terkemuka. Akan
tetapi, setelah mas rakyat mengemukakan bahwa umat Islam perlu segera
mempunyai pemimpin agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar,
akhirnya Ali bersedia dibai’at menjadi khalifah.
       Pada masa awal pemerintahannya, Ali berhasil mengembalikan
suasana menjadi lebih kondusif dan stabil. Stabilitas keamanan yang sempat
kacau pasca terbunuhnya Utsman berhasil dikendalikan sehingga roda
pemerintahan dapat berjalan normal. Namun kondisi tersebut tidak
berlangsung lama, karena banyak diantara sahabat, terutama pihak keluarga
Utsman, yang menuntut balas atas kematian Utsman. Sementara Ali sendiri
tidak ingin mengungkit-ungkit masalah tersebut dan lebih memilih
mendiamkannya agar persoalan tidak berkepanjangan dan umat Islam dapat
bersatu kembali. Sayangnya, sikap Ali yang demikian justru menimbulkan
kekecewaan beberapa pihak.
       Tidak lama setelh itu, Ali bin Abi Thalib menghadapi pemberontakan
Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum
para pembunuh Utsmn dan mereka menuntu bela terhadap darah Utsman
yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin sekali
menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar



                                  8
keduany mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai.
Namun, ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun
berkobar. Perang ini dikenal dengan nama “Perang Jamal (Unta)” karena
Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta. Ali berhasil mengalahkan
lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri,
sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
       Timbul pertnyaan : Apakah penuntutan bela yang dilakukan Aisyah,
karena didorong oleh kepiluan hatinya atas kematian Utsman ? Sebetulnya
tidak ! Tetapi ada faktor-faktor lain yang lebih penting dari itu, antaranya :
1) Sejak dari dahulu telah da ketegangan antara Ali dan Aisyah. Aisyah
   sendiri pernah berkata : ”Sebenarnya, demi Allah antara saya dengan Ali
   Tak Ubahnya sebagai orang dengan mertuanya” Mungkin ketegangan ini
   disebabkan oleh pendirian Ali memberatkan Aisyah dalam peristiwa
   Aisyah tertuduh (Haditsatul : fk)
2) Ali pernah menyaingi Abu Bakar dalam pemilihan khalifah dulu. Lama
   Ali baru memberikan bai’ahnya kepada Abu Bakar. Sekarang mengapa
   Aisyh akan lekas saja membai’ah Ali. Dan mengapa akan dibiarkannya
   saja Ali menikmati jabatan itu ?
3) Ada lagi faktor lain yang lebih penting, yaitu faktor Abdullah Ibnu
   Zubair, putera saudaranya yang perempuan bernama Asma. Abdullah
   ibnu Zubair ini diambil Aisyah dari Asma, dijadikan anak angkatnya,
   diasuh dan dididiknya di rumahnya sendiri, karena telah ditakdirkan
   Tuhan Aisyah tidak dikaruniai Tuhan anak. Oleh karena itu Aisyah biasa
   dipanggil Ummu Abdillah (Ibunda Abdullah).


       Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah, dan
Aisyah. Ali bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar
tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin.
Pertempuran terjadi disini yang dikenal dengan nama Perang Shiffin. Perang



                                   9
ini diakhiri dengan tahkim (arbritse),                tapi tahkim ternyata tidak
menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga,
al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya, di ujung
masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, umat Islam terpech menjadi tiga
kekutan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut) Ali, dan al-Khawarij
(orang-orang    yang   keluar       dari    barisan    Ali).   Keadaan   ini   tidak
menguntungkan Ali. Muncullah kelompok al-Khawarij menyebabkan
tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat.
       Beberapa kecaman yang dapat dihadapkan kepada Ali. Kecaman-
kecaman itu antara lain ialah :
1) Ali berkepercayaan bahwa beliaulah yang berhak menjadi khalifah kaum
   muslimin sesudah Rsulullah meninggal dunia. Menurut beliau, tidak ada
   orang yang berhak menduduki kuris khalifah itu selain daripada beliau.
   Maka memberikan jabatan itu kepada orang lain berarti melanggar hak
   beliau, dan merupakan suatu perbuatan yang tidak menurut hukum.
2) Ali kurang mempermusyarahkan urusan-urusan yang penting dengan
   orang-orang terkemuka di masanya. Sekiranya ada diantara mereka yang
   mengemukakan pikiran, nasehat-nasehat dan pemandangan-pemandangan,
   maka nasehat-nsehat itu tidak diperhatikan. Pernh Thalhah dan Zubair
   mencela sikap Ali yang seperti ini dan Ali menjawab : ”Apakah yang tiada
   saya ketahui. Makanya saya harus musyawarahkan ?”
3) Keinginan Ali hendak mengdili perkara Ubaidillah yang membunh
   Hurmuzun dan hendak menjatuhkan hukuman mati kepadanya,
   mempunyai efek yang panjang. Utsman sudah mengadilinya du belas
   tahun    yang   lalu,   tetapi     Ali    mau      menghidupkannya     kembali,
   menyebabkan Ubaidillah melarikan diri ke Syam, lalu menggabungkan
   diri ke dalam lasykar Mu’awiyah. Ubaidillah menjadi panglima ulung
   dalam lasykar Mu’awiyah




                                     10
     4) Ali mudah percaya dan gampang menerima hasutan, sehingga kepala
         daerah-kepala daerah yang diangkatnya dicurigainya. Abdullah ibnu
         Abbas tak luput dari curiga, was-was dan syak wasangkany,
         menyebabkan ia terpaksa melarikan diri dari tempat kedudukannya, yaitu
         Basrah dan mengasingkan diri ke Mekkah.


E. BERAKHIRNYA KHULAFA AR-RASYIDIN
         Al Khulafaur Rasyidin dipilih dengan cara musyawarah, tetapi sesudah
  berakhirnya zaman al Khulafaur Rasyidin, mengangkat khalifah tidak
  dipermusyawarahkan lagi. Khalifah itu telah merupakan kerajaan yang diwrisi
  oleh anggota suatu keluarga.
         Asa syarat-syarat yang harus cukup pad orang-orang yang hendak dipilih
  menjadi khalifah, atau orang-orang yang ingin jendak menduduki kursi jabatan
  itu, tetapi syarat-syarat ini telah kabur sesudah zaman Al Khulafaur Rasyidin.
         Seorang Khalifah di zaman al Khulafaur Rasyidin tidak pernah bertindak
  sendirinya saja waktu negara menghadapi sesuatu kesulitan, tetapi kesulitan itu
  dimusyawarahkan dengan para cerdik pandai dan alim ulama, sebagaimana yang
  dikerjakan oleh Rasulullah dengan sahabat-sahabatnya. Tetpi setelah periode al
  Khulafaur Rsyidin berakhir, timbullah berbagai macam kesewenang-wenangan
  dan kedikttoran, seakan-akn di tangan khalifah-khalifah itulah segala sesuatu.
         Al Khulafaur Rasyidin menganggap diri mereka sebagai abdi negara
  Islam. Tetapi khalifah-khalifah yang datang kemudian hanya berebut kekuasaan,
  dan kemewahan hidup. Mereka menganggap dirinya tuan, dan orang lain hamba
  sahaya mereka.




                                       11
                             DAFTAR PUSTAKA




Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Penerbit
     Rajawali Pers

Syeh Muhyiddin Al Khoyyat, sejarah Kebangkitan islam dan Situasi Dunia Arab,
     Penerbit Al Hidayah Surabaya, Cetakan II, tahun 1999

Dedi Supriyadi, M.Ag., Sejarah Peradaban Islam, Penerbit : CV Pustaka Setia,
     2008

Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, PT. Al Husna Zikra, 1997

Kaum Sarungan




                                      12
PERADABAN ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN
         KHULAFA AR-RASYIDIN



             DOSEN PENGAMPU :
        Drs. H. A. FARUQ ZAWAWI, M.Ag.




                 Disusun Oleh :

          1. JAZILATUR ROHMAH
          2. TRISNA SOLIH KHASANAH




 SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH
      TAMBAKBERAS JOMBANG
               2009


                      13
                                            DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL .....................................................................................    i


A. KHALIFAH ABU BAKAR AS SHIDDIQ................................................                       1

B. KHALIFAH UMAR IBN AL-KHATHTHAB...........................................                           4

C. KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN .......................................................                   6

D. KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB .......................................................                 7

E. BERAKHIRNYA KHULAFA AR-RASYIDIN ........................................                           11




                                                    14
                                                    ii

								
To top