Syirik Karena Keikhlasanku
“Pamanmu kerja disana, jadi akan lebih mudah untuk meneruskan sekolah disana” Jelas seorang pria tengah baya yang semenjak sejam yang lalu duduk didepanku, berusaha membujuku agar aku mau menerima tawarannya untuk melanjut sekolah di Bogor. Pria yang semenjak aku kecil ku panggil dengan sebutan Ayah ini seharusnya sudah bosan setiap hari harus membujuku untuk meneruskan sekolah sma di kota hujan itu. Jelas aku belum pernah kesana, tapi sungguh tidak ada sedikitpun niatku untuk bersekolah kesana, entah kenapa seakan aku merasa aku akan kehilangan sesuatu yang menurutku sangat berharga. Tapi sungguh aku tidak tahu apa yang akan hilang dariku jikapun aku pindah jauh ke pulau seberang itu. “Walaupun kamu tetap disini, maka kamu akan sendiri disini, semua teman kamu akan melanjut sekolahnya ke Medan, itulah yang paling dekat.” Sambung ibuku yang baru selesai sholat Juhur. Jika dipikir-pikir memang benar juga apa yang mereka sarankan, tapi tetap aku seakan tidak ingin meninggalkan kampung ini, satu-satunya mungkin menjadi alasanku adalah Hawa. Wanita yang sekelas denganku di SMP, dia adalah wanita yang cantik, mungkin hanya menurut pandangan mataku, tapi dia memang cantik, kami sudah jadian beberapa bulan yang lalu. Tapi kayaknya kurang tepat jika aku tetap disini karena dia, karena dia sendiri akan melanjutkan sekolah kekota. Jadi apa sebenarnya alasanku tetap disini? Sepertinya memang benar apa yang orangtuaku sarankan, satu-satunya pilihan adalah melanjutkan sekolah ke Bogor, itu adalah pilihan yang baik. “Baguslah akhirnya kamu mau untuk melanjut kesana, itu pilihan yang baik” terlihat wajah ibu yang berseri, dia terlihat senang sekali dengan pindahnya aku kesana, jarang sekali aku dapat menikmati wajah ibu seperti itu. Tapi apakah aku bisa senyum seperti mereka sementara aku tahu aku akan jauh dari mereka, aku tidak akan mendapatkan belaian ibu yang penuh kasih sayang, aku tidak akan pernah melihat keringat ayah yang membanjiri bajunya setiap kali dia pulang dari ladang dengan sebuah pacul yang diletakan dipundak kanannya. Aku tidak tahu, apakah
1
aku akan rindu ini semuanya atau tidak, yang jelas, nanti, disana, diseberang sana, jauh dari pandangan orangtuaku, aku akan hidup bersama orang lain. Memang dulu aku pernah hidup jauh dari orang tuaku, waktu aku masih duduk dibangku SMP kelas satu. Tapi setelah memasuki kelas dua aku memilih untuk tinggal bersama orangtua. Karena memang tidak enak tinggal dengan orang lain, apalagi orang itu bukan saudara dekatku, aku hanya kos disana. Tapi setidaknya aku tidak terlalu khawatir, karena di Bogor nanti aku akan tinggal dengan bibi, yang merupakan adik kandung ayahku. Juga dengan pamanku, yaitu suami dari bibiku. Itu sudah cukup dekat dengaku jika dihitung dari persaudaraan. Tapi jika dilihat dari kekompakan sangat tidak. Karena aku memang jarang berkunjung kerumahnya, terang saja, Bogor itu memang jauh, jika sekarang aku jadi kesana, maka inilah pertamakalinya aku berkunjung ke rumahnya. Tak terasa malam ini adalah malam terakhir aku di desa ini, desa yang mungkin penuh dengan kenangan manis, juga kenangan pahit tentunya bersama teman-temanku. Saat-saat kami pergi keladang bersama untuk bekerja membantu ayah, walaupun aku termasuk anak yang paling malas berhubungan dengan ladang. Juga saat aku dudukduduk di malam yang sepi bersama dua orang temanku menatap kearah langit lepas sambil bercerita tentang pacar kami masing-masing, itu yang paling sering kami ceritakan, dan merupakan hal yang paling
menyenangkan untuk diceritakan. Malam ini aku ingin menghabiskan waktuku untuk diam bercerita habis-habisan bersama kedua teman itu, tapi sayang aku harus segera pulang untuk mempersiapkan
keberangkatan besok pagi-pagi sekali. Baju-bajuku, alat-alat pribadi, dan tak ketinggalan buku harianku yang tak pernah meninggalkanku saat sedih dan saat senangku. Saat-saat seperti ini juga aku ingat Hawa, dia tidak tahu kalau aku akan pindah ke Bogor, aku sengaja
merahasiakannya, entah apa maksutku. Mungkin menghilangkan jejak atau apalah. Fredy salah satu dari teman sepermainanku pernah berkata kepada aku “Bal kota yang akan kamu tuju itu adalah kota yang
2
menyimpan banyak sekali wanita cantik, kamu yakin masih tetap menjalin hubungan dengan Hawa, atau mendingan kamu putusin aja dan kamu cari lagi aja nanti disana, aku yakin pasti di sana akan ada lebih banyak wanita cantik, dan tentu kaya jika kamu mau.” Tapi tidak, aku ini adalah orang yang setia, itu yang aku ketahui tentang aku, tapi aku sendiri tidak tahu juga sih, aku tidak yakin pada kesetiaanku, jika apa yang Fredy katakan itu benar. Apa mungkin aku akan meninggalkan Hawa, karena aku mendapat wanita yang lain disana, tapi itu sepertinya tidak akan terjadi, sepertinya tidak ada yang lebih spesial dari Hawa, dia adalah wanita terbaik yang pernah aku temui. Aku yakin, bahkan sangat yakin. Jam enam pagi aku, ayah, ibu, dan adik-adikku sudah berdiri di pingir jalan menunggu mobil yang akan mengantarkanku ke kota asing itu. Aku melihat Amanda, adiku yang paling muda sudah siap pergi kesekolah, karena beberapa saat lagi dia akan masuk sekolah, jadi tidak dapat menunggu ku sampai menaiki mobil. Juga aku melihat Rizki, dia adalah anak bibiku yang tinggal disamping rumahku. Dia masih kecil, jadi dia belum pergi kesekolah, aku tahu ini adalah terakhir kali nya aku akan melihat dia, jadi mungkin satu jam lagi aku tidak akan bisa bertemu dia lagi, itu pasti. ****** Hari ini adalah hari pertama aku menginjakan kakiku di sekolah ini, sebagai siswa disini. Atau mungkin aku belum menjadi siswa disini, tapi aku sudah menjadi anggota mos (Masa Orarientasi Siswa). Memang ada sedikit kebanggaan tersendiri aku bisa diterima disekolah ini, karena dari 650 siswa yang mendaftar aku bisa terpilih salah satunya dari 300 siswa yang diterima. Walaupun sebelumnya aku sudah putus asa tak akan diterima disini, melihat banyaknya siswa yang mendaftar dan hanya setengah dari itu yang diterima. “Bagi siswa yang ingin mengikuti MASA, Majalah Sekolah, silahkan memasuki ruang 3 IPA 2, begitu pulang sekolah, dan tidak ada kata terlambat” seorang pria muda dengan seragam abu-abunya seakan mengundang siswa mos yang ingin memasuki ekstrakulikuler masa agar berkumpul dikelas ipa 2. dari
3
penjelasannya 15 menit yang lalu, sepertinya aku tertarik juga dengan ekstrakulikuler ini. Banyak sekali tawaran yang diberikan bagi siswa yang ikut bergabung. Dalam hatiku sudah tertanam satu nama ekskul. „MASA, aku tak akan mau ketinggalan, aku harus mengikuti ekskul ini.‟ Tekatku dalam hati. “Apa kamu suka ekskul itu?” Farhan teman semejaku saat mos bertanya menyelidik kepadaku. “Ya... sepertinya aku memang suka, dari apa yang dijelaskan oleh kakak itu membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama!” “Pendengaran pertama kali...!” canda Farhan sambil mengeluarkan buku tebal berwarna kuning. “Han buku apaan tuh?” pertanyaan ini sebenarnya hanya iseng saja, karena tidak ada lagi yang bisa aku bisa bicarakan dengan dia. Tapi mungkin pertanyaanku salah, hingga membuat aku harus menunggu dia selesai mengiklankan bukunya kepadaku. “Ini adalah buku karangan Muhammad Reza, seorang penulis tentang dunia ekonomi Islam. Judulnya adalah „Ekonomi Islam yang sebenarnya‟, didalamnya menerangkan tentang cara perekonomian Islam, tata cara mengatur pengeluaran dan pemasukan agar terjaga, dan juga menentukan perbankan yang baik. Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan solusi bagi orang yang selalu merasa kerugian dalam mengatur keuangannya. Dan buku ini dulunya dipegang oleh ayahku, kemudian diturunkan ke pamanku, dan sekarang kembali ke aku.” Aku hanya bisa bengong menunggu dia selesai mempresentasikan buku karangan Muhammad Reza seakan buku itu adalah bukunya sendiri. “Han kamu bisa meresensi buku ya..., ajarin dong” “Oh.. enggak, hanya suka saja membaca buku ini, dan karena itu aku ingin juga bisa menulis buku seperti ini” “Trus apa aja usaha kamu yang sudah kamu lakukan, dan yang akan kamu lakukan?” “Yang sudah aku lakukan adalah, mengarang banyak cerpen, memperbanyak ilmu dengan sering membaca, kemudian yang akan saya lakukan adalah memasuki ekskul masa, dan kirsmart.” Benar-benar dia berbakat dalam presentasi. Dari caranya mengatur kalimat, dari cara dia membusungkan dada, seakan penuh wibawa, dan juga dari cara dia mengatur tinggi rendah nada dalam menjeaskan isi pikirannya. “Han kamu memang berbakat deh!”. Farhan adalah orang
4
pertama yang aku kenal disekolah ini, dan beruntungnya dia juga ingin memasuki ekskul masa, jadi aku akan seperjuangan dengan dia. Selain masa Farhan juga ingin memasuki ekskul kirsmart, yang katanya adalah sebuah ekskul yang baru lahir setahun yang lalu, ekskul yang beraliran tulis-menulis. Sepertinya aku juga suka ekskul ini, jadi jika aku ikut sepertinya akan lebih bagus. Kami sepakat akan memasuki masa dan kirsmart bersamaan. Dimasa aku terpilih sebagai layout, dan di kirsmart aku terpilih sebagai humas. Aku bisa menikmati perjuangan ini, aku merasakannya betapa menyenangkan mengikuti kedua ekskul ini. Kak Yohan sebagai ketua masa saat itu sangat pandai dalam memberikan motivasi kepada siswanya, sehingga tidak heran jika jumlah siswa masa hampir mendekati konstan, walaupun ada saja yang terus „terseleksi alam‟ atau mengundurkan diri. Lain lagi dengan kak Eko sebagai ketua KIRSmart. Dia membiarkan kami yang ingin keluar agar keluar segera. “KIR tidak membutuhkan orang-orang yang hanya ingin cari teman di kir. Kir membutuhkan orang yang serius untuk mendapatkan ilmu menulis dari kir, jadi bagi yang merasa hanya ingin mendapatkan teman saja disini, silahkan tinggalkan kir. Tapi bagi anda yang serius untuk mendapatkan ilmu menulis silahkan konsisten dan teruskan perjuangan!” kata-kata kak Eko yang membuat siswa yang berjumlah 45 orang menyusut menjadi 20 orang keesokan harinya, dan hebatnya memang jumlah siswa kir menjadi konstan. Akhir smester satu, masa mengadakan kegiatan main keluar, jelasnya Fila Nurur, salah seorang siswa masa juga. Ivan, sebagai sekretaris masa mengajukan izin kepada kepala sekolah dan pembina osis. “Tidak...!” tegas pak diding yang saat itu menjabat sebagai pembina osis, dia memang dikenal cukup tegas disekolah, hampir semua keptusannya tidak pernah dicabut kembali. Yang jelas tanpa alasan yang jelas dia tidak mengizinkan kami untuk melakukan kegiatan ini. Keputusan yang memang mengecewakan, Yohan terlihat kesal, terbayang olehku apa yang ada dibenaknya, kecewa, marah, merasa tidak adil, atau apalah, yang jelas tidak ada ketenangan dalam hatinya, karena acara ini sudah kami rencanakan semenjak dua bulan yang lalu. “Ilegal!” Yohan tiba-tiba
5
terbangun dari duduknya dan berniat mengajak kami untuk melakukan kegiatan ini secara underground atau ilegal. Aneh memang, kegiatan ini akan terus dilaksanakan, tetapi akan dilakukan dengan label ilegal, tanpa sepengetahuan sekolah. Yang jelas resiko ditanggung oleh diri sendiri. Tapi aneh juga tidak ada sedikitpun rasa takut dalam hati, kami semua seakan dihipnotis oleh Yohan, kami dipaksa untu mengangguk dengan ikhlas. Tapi kami memang ikhlas, jujur saja, acara ini sudah direncanakan dua bulan yang lalu, dan tidak mungkin hanya karena pembina osis kami harus menggagalkan rencana ini. “Ani”, “Ada!”, “Iqbal”, “Hadir!” Yohan mulai mengabsen siswa yang mau ikut acara underground ini dari samping pintu angkot yang semenjak jam enam pagi tadi sudah menunggu untuk dinaiki. Tak terpikir sedikitpun apa yang akan terjadi nanti jika acara ini diketahui oleh sekolah, mungkin masa akan dibubarkan, atau mungkin kami yang ikut acara ini akan mencapat hukuman yang berat atau apalah, yang jelas tidak ada rasa takut sedikitpun, hanya rasa senang yang ada dihatiku saat ini. Aku, Farhan, Ahya, Syambas, Friko, dan Awal, berada dalam satu angkot, dan angkot yang satunya lagi ditumpangi oleh Yohan, Ivan, Fiqh, Febby, dan beberapa anak perempuan. Perjalanan kami cukup panjang, kami berangkat jam tujuh pagi tapi sekarang sudah jam enam sore kami belum sampai juga ditujuan. Angkot yang kami tumpangi sudah jauh terpisah dengan angkot yang Yohan tumpangi, terang saja kami semua jadi khawatir, tidak ada satupun dari kami yang tahu tempat yang akan kami tuju, kami hanya tahu bahwa tujuan kami adalah Fila Nuruh, aku sendiri belum pernah berkunjung kesana, karena memang tempatnya cukup jauh dari daerah kami. Kami tidak tahu kami sekarang ada dibelakang ataukah sudah jauh didepan angkot Yohan. Keadaan menjadi sedikit panik, sopir yang sejak tadi tak henti menatap kearah spion mulai melambatkan mobilnya, dan berhenti!. “Lebih baik kita telepon dulu” usul Friko, “Tapi siapa yang harus kita telpon” sanggah Syambas, agak putus asa, sepertinya dia sudah putus asa, atau mungkin juga sudah ngantuk, tapi apa bernar dia bisa ngantuk dalam keadaan seperti ini, “Ya udah kita
6
telepon Filanya aja!” Awal memberikan ide, ide yang buruk, bagaimana kami bisa telepon kesana, sebelumnya kami tidak mencatat nomor telepon yang ditulis di papan tulis sehari sebelum keberangkatan kemarin. Aku tahu diantara kami tidak ada yang suka mencatat nomor telepon, mungkin hanya Ivan, tapi saat ini dia tidak ada bersama kami, dia ada di angkot yang satunya lagi. “Ya udah kita telpon pak Marwan saja.” Aku memberi usul, karena aku masih menyimpan nomor telepon nomor pak Marwan saat aku ingin berkunjung kerumahnya. Pak Marwan, dia adalah orang yang menjamin kami semua, mungkin jika dia tidak ada, maka kegiatan ini tidak akan berjalan, walaupun ilegal. Dia bekerja di Koran Harian kota Bogor, oleh karena itu kami, lebih tepatnya masa mempunyai hubungan yang khusus dengannya. Tapi aku hanya mempunyai telepon rumahnya. Jadi rencana kami, kami harus menanyakan nomor telepon pak Marwan kepada istrinya, mungkin ini adalah cara satu-satunya yang terpikir olehku. Rata diantara kami bukan orang yang memiliki HP, jadi mungkin agak susah juga menghubungi kami. “Ya, kalian sudah dekat kok, setelah kalian melewati tugu merah putih kalian akan melihat jalan yang masih belum diaspal, masuk kesana dan kami akan menunggu kalian di pinggir jalan!” Deskripsi Yohan yang dari setengah jam yang lalu sudah sampai di Fila. Lega rasanya, kami segera menaiki angkot dan langsung menuju tujuan yang digambarkan oleh Yohan. Kami sudah tak sabar sampai di Fila Nurul dan ingin membersihkan tubuh yang memang sudah bau keringat, karena sudah seharian duduk diatas angkot dengan ac alam ini. Tapi rasanya kok angkot jadi sepi, kok jadi longgar tempat duduknya. Oh tidak jumlah kami berkurang satu, tapi siapa. “Pak! Stop... stop..., ada yang ketinggalan” seru Friko. “Absen sekarang, siapa yang tidak ada disini”. “Syambas!” seru Awal. Mata langsung tertuju pada Awal, ya... Syambas tidak ada di sana, sebelumnya dia duduk di samping Awal. Segera saja mataku tertuju pada seseorang yang sedang berlari menuju angkot kami jauh dari belakang sana.
7
Mungkin ini adalah salah satu resiko yang kami hadapi, tapi ini akan menjadi suatu kenang-kenangan yang berharga disuatu saat nanti, aku tahu itu. Pagi itu, masih sangat pagi, aku bisa tahu karena aku belum bisa menemukan cahaya dari arah luar Fila, Fiqh sudah membangunkan kami semua, mengajak untuk segera bersujud kepada Zat Sembahan kami. Terasa sangat dingin suasana pagi ini, aku sudah menggunakan jaket, tapi rasa dingin masih terasa menembus selah jaket. “Ayo solat... solat... solat...” serunya. Memang agak berat membuka mata ini, mungkin karena perjalan kemarin yang melelahkan atau karena rasa dingin yang selalu memaksa untuk berlindung di bawah selimut tebal yang dari kemarin sudah menemani tidurku. Mungkin jauh, tapi memang tak terdengar suara azan, atau mungkin juga karena aku yang terlalu lelap dalam tidurku, sehingga tak dapat mendengar seruan untuk melaksanakan solat. Setidaknya ajakan dari Fiqh sudah bisa membangunkan aku untuk segera bergegas meninggalkan kehangatan kasur, dan membasuh tubuh dengan wudhu, dan melaksanakan kewajiban pertamaku kepada Allah pagi ini. Kupaksa mata ini terbuka, ya... aku memang sanggup memaksanya, tapi terus terang ini sangat berat, apa lagi aku harus menunggu teman-teman yang lain yang masih berada di dalam kamar mandi, mungkin mandi atau hanya mengambil wudhu. yang jelas rasanya masih ngantuk sekali. “Bal bangun... wudhu sana!” Friko yang baru keluar dari kamar mandi segera membangunkan aku. Memang berat rasanya, ingin kembali saja ke kasur, aku tidak menyangka kalau aku akan tertidur di depan kamar mandi, tanpa sandaran, tapi anehnya aku bisa tertidur berdiri. Aku baru tahu kalau aku bisa tertidur berdiri, karena memang aku belum pernah mencoba sebelumnya. Tapi kalau dipikir sekali lagi memang enggak ada gunannya aku mencoba untuk tidur berdiri, akan lebih menyenangkan jika aku dapat tidur di tempat tidur itu, walaupun aku masih bisa menikmati tidur berdiri seperti ini, tapi tidur di kasut itu akan tetap lebih nyaman, apalagi ditindih oleh selimut tebal yang dari tadi sudah tidak dihuni lagi. “Bal, bangun dong..., wudhu sana!” sekali lagi aku dapat teguran dari
8
Friko. Oh tidak, aku ternyata tertidur lagi setelah dibangunkan beberapa saat yang lalu. “Iya... iya... ini baru mau” elakku. Kucoba menyentuh air yang tepat ada di depanku. Tapi air ini memang sangat dingin sekali, apa aku sanggup berwudhu dengan air sedingin ini. Tapi tidak, aku harus berwudhu segera, teman-temanku sudah menunggu disana, untuk segera melakukan sholat subuh bersama. Atau mungkin juga mereka tidak menungguku lagi, karena sudah terlalu lama aku ditempat ini. Kami dipersilahkan duduk disebuah meja yang berbentuk huruf U. Di depan aku melihat pancaran sinar dari sebuah benda aneh, aku sebelumnya memang belum pernah melihat benda itu, tapi yang aku tahu benda itu adalah Infokus. Itu yang terakhir aku dengar dari Yohan saat menyuruh Ivan untuk menyalakan benda itu. Disamping benda itu terletak sebuah komputer kecil, notebook mungkin, atau apalah namanya yang masih sejenis. Aku kenal gambar yang terpancar ke arah dinding itu, gambar yang terpancar dari Infokus yang sudah menyala sejak beberapa menit yang lalu. Gambar yang ditampilkan di dinding itu adalah gambar Windows milik billgates. Aku jadi mengerti apa fungsi dari Infokus itu, ya... untuk memperbesar layar. Tapi apa maksutnya memperbesar layar itu. Apakah agar kami semua dapat melihat apa yang akan dia lakukan disana? “Assallamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh” Yohan
membuka pembicaraan sambil berdiri didepan komputer kecil itu. Serempak kami semua yang masih terbuai dengan rasa kantuk yang mendalam menjawab, jelas saja kami masih berada dalam keadaan kantuk. Hari masih sangat gelap. Aku jadi terbayang dengan rumah, „aku tidak akan merasakan seperti ini kalau aku ada di rumah sekarang, mungkin aku masih tertidur di tempat tidur jam segini. Apalagi suasana malam yang mendukung untuk melanjutkan semediku di sana. Panjang lebar Yohan menjelaskan sesuatu yang dari tadi tidak bisa aku mengerti, dari pengamatanku dia menerangkan tentang animasi-animasi yang tertampak di layar besar itu. Atau mungkin juga terbalik, bisa saja penjelasannya itu di gambarkan oleh komputer ini. “Ko, kak Yohan menjelaskan tentang apa sih, kok dari dati aku tidak bisa ngerti-ngerti sih”
9
tanyaku kepada Friko yang dari tadi sepertinya mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Yohan. “Dia menjelaskan tentang Pascal, dan logika yang dipakai untuk memahami Pascal.” Mungkin sok tahu atau memang tahu, yang jelas apa yang diterangkan Friko membuat aku sedikit kesal. Awalnya menurutku kami kesini adalah untuk Refreshing, tapi kenapa malah belajar Matematika. Tapi dari penjelasan Yohan sepertinya itu
bukan Pascal, karena yang dia jelaskan berbeda sekali dengan penjelasan guru matematikaku beberapa minggu yang lalu saat kami masuk kebab Pascal. “Ko, paskal enggak seperti itu kali.” Agak sedikit sok tahu tentang pascal. “Maksutku ini adalah pelajaran tentang Program Pascal, bukan pascal seperti yang kita pelajari di sekolah, ini adalah sebuah program komputer, kebetulan nama program ini adalah pascal.” Jelas Friko panjang lebar, sepertinya dia banyak tahu tentang pascal, tapi penjelasannya itu malah membuat aku semakin pusing, semakin tidak mengerti. Yang jelas kata-kata yang masih aku ingat sampai saat ini dan yang masuk ke logikaku adalah saat dia berkata „Untuk memindahkan isi gelas A ke gelas B dan isi gelas B ke gelas A, maka kita membutuhkan gelas C‟ mungkin hanya itu saja yang tertinggal di otakku. Karena memang aku belum ngerti sama sekali tentang ilmu pascal ini. Aku hanya tahu bahwa pascal adalah salah saru bab yang harus aku pahami di sekolah, bukan seperti yang diterangkan oleh yohan itu. Terakhirnya yohan bertanya kepada kami semua “Ngerti enggak? Apa ada pertanyaan?” sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti, dan aku juga tidak tahu apa yang harus ditanyakan, mungkin kerena tidak mengerti sama sekali. Memang ada sih pertanyaan didalam benakku, „Yohan itu sebenarnya menerangkan apaan sih?‟ tapi kayaknya pertanyaan ini tidak sepantasnya diajukan, ini adalah pertanyaan bodoh. Akhirnya dia
menghentikan presentasinya dan melanjutkan dengan pelajaran yang lainnya. Banyak sekali yang dia jelaskan, entah sekarang tentang apa, yang jelas masih dalam perkomputeran, sekali lagi aku coba bertanya kepada Friko. “Ko, sekarang dia menerangkan apaan?”. Dengan sedikit memiringkan badangku kearahnya. Tidak ingin ada orang yang tahu aku
10
bertanya seperti itu. “Sekarang dia menjelaskan tentang tata cara membuat e-mail!” terangnya pelan. Tapi sayangnya semakin Friko mencoba menjelaskan, menurutku itu malah semakin gelap. Layar menjadi biru, komputer dimatikan, suasana menjadi sepi, Yohan duduk di sebuah kursi dipojok ruangan. Febby yang semenjak subuh tadi sudah duduk di belakang ruangan beranjak maju dan duduk di sebuah kursi di samping komputer yang sudah tertutup rapi. Memberi salam dan mulai berbicara, aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan, karena memang saat ini aku masih dalam keadaan mengantuk. Semua teman-teman menundukkan kepalanya, aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya mereka lakukan. Menunduk, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang ini, seperti yang dilakukan oleh teman-teman yang lain. Ayunan nada suara Febby, isi dari kata-katanya, dan situasi malam itu begitu sesuai, aku terhanyut dalam kalimat-kalimatnya. Tak terasa air mata tertetes, terasa getaran hati yang mungkin selama ini sudah tertutup oleh kebodohan diri. Semua kalimatnya mengingatkanku kepada kebodohanku, mengingatkanku kepada setiap dosaku,
mengingatkanku akan ketidak sanggupanku untuk menjadi seorang manusia, mengingatkanku kepada ketidak sadaranku. Sungguh aku tidak pernah menyadari itu semua, aku tidak pernah sadar betapa bodohnya aku, aku tidak pernah sadar betapa borosnya aku, aku tidak pernah bisa menghargai waktuku. “Coba banyangkan saat anda menginjakan kaki dirumah anda dan anda hanya menemukan sesosok mayat ibu anda yang sejak tadi menunggu kepulangan anda, untuk makan malam bersama. Coba bayangakan saat pagi anda tidak lagi bisa mendengarkan indahnya panggilan ibu anda untuk segera melakuakan solat subuh. Coba bayangkan saat anda tidak lagi dapat menikmati masakan ibu yang anda cintai.” Lantunan suara Febby dan isi dari kalimatnya sungguh membuat aku merasa diri ini terlalu sering meninggalkan ibu tercinta dirumah, waktu itu, dimana aku tidak lagi dapat menemukan tawa ibu dirumah, mungkin itu yang diceritakan oleh pria berjenggot tipis itu. Sungguh, aku tidak mau hal itu terjadi. Aku masih ingin bersama dengan kedua orang tuaku.
11
Menikmati hidup ini lagi. Aku masih tidak ingin kehilangan mereka. Ya Allah jangan kau ambil mereka sekarang, aku masih ingin hidup bersama mereka ya Allah. Panjangkanlah umur mereka, dan berilah aku selalu senyum mereka. Aku terhanyut dalam gelombang kalimat Febby, menenggelamkan hati di dalam penyesalan, dan membunuh rasa angkuh dalam hati. ****** “Farhan, Ahya, Iqbal, kalian satu kelompok ya...” pak marwan membagi kami menjadi beberapa kelompok kecil. Farhan, dia cukup pintar dalam presentasi, jadi sudah sepantasnya aku mengandalkannya untuk mempresentasikan hasil karya tulis kami nanti, sedangkan Ahya bisa diandalkan dalam tulis-menulis, dia dikenal cukup pintar dalam tulis menulis, itu yang aku ketahui dari teman-temannya. Sedangkan aku tidak mampu untuk berpresentasi, begitu juga menulis, mungkin aku hanya bisa membantu mereka untuk menyelesaikan tugas ini. Membuat karya tulis populer, dengan tema bebas, dan tidak terlepas dari lingkungan Fila tempat kami berteduh dari dinginnya malam tadi. Semua kelompok memencar berkelompok, ada yang serius dengan pengamatannya dibawah pohon jati kecil disamping Fila tempat perempuan. Adan juga yang masuk kelapangan tenis, kelihatannya mereka masih mencari objek untuk dijadikan tema, di depan Fila juga ada satu kelompok yang duduk di depan kolam kecil, mungkin nasipnya masih sama dengan kami, masih mencari objek untuk dijadikan tema. “Susah ya kalau tidak ditentukan temanya!” dengan sedikit kesal dihati, “Tapi tetap lebih susah kalau mereka yang menentukan temanya, kalau kita diberi hak untuk menentukan temannya, maka kita masih bisa membuat karya tulis yang sesuai dengan ilmu yang kita ketahui!” sangga Farhan panjang lebar. Setelah mencari di sekeliling Fila beberapa menit, rasa capek mulai merayu kami untuk menghentikan pencarian, “Kita berhenti dulu deh, aku jadi capek nih” keluhku berusaha membujuk mereka untuk berhenti sebentar. “Ya udah, kita duduk di belakang Fila saja,” Usul Ahya. Tanpa kompromi kami langsung beranjak kesana, dan aku langsung duduk di
12
dekat sebuah parit kecil. Mengambil beberapa batu dan melemparkanya kedalam parit itu. “Ngapain Bal...?” tanya Farhan agak serius, dan sepertinya tertarik dengan apa yang aku lakukan. “Seperti di TV-TV, kalau lagi sedih pasti melempar batu ke kolam!”. Aku masih heran melihat pandangan Farhan kepada batu-batu yang aku lemparkan ke parit itu. “Kanapa coba, batu yang di lemparkan memutar ke danau, maka batu itu tidak langsung tenggelam, tapi biasanya akan memantul dulu, baru tenggelam?” tanya Ahya yang masih duduk dibelakangku sambil memegang buku yang sepertinya sudah menunggu untuk kami isi denga ide-ide untuk pembuatan karya tulis ini. “Aku Tahu!” Seru Farhan sambil berdiri dan berlaga seperti orang jenius, memperbaiki kerahnya. “Kita bikin karya tulis tentang air!” terangnya dengan penuh percaya diri. “Gimana caranya?” tanyaku sambil mengkerutkan sedikit kening. “Ya dibikin aja, kita bikin karya tulis yang menjelaskan bagaimana sebuah batu yang terlempar kedalam air bisa menimbulkan gelombang yang melingkar disekitarnya.” Jelas Farhan. Ahya menatap kearahku, aku juga. Tak lama kami berdua tertawa tergelitik. Farhan terlihat bingun, mungkin dia tidak mengerti alasan tertawa kami, yang jelas dia hanya tersenyum dan menunggu penjelasan dari kami. Aku tidak tahu, apakah Ahya menertawakan apa yang aku tertawai, yang jelas aku menertawai jawaban Farhan tentang pertanyaan Ahya, sungguh tidak bisa disambungkan. Jelas saja, Ahya bertanya tentang batu yang tidak langsung tenggelam kedalam air, tapi jawaban Farhan adalah sebuah ide karya tulis. Tapi kami segera menghentikan tawa kami dan mulai serius tentang pembuatan karya tulis bertema lingkaran gelombang air. Farhan terlihat beberapa kali melemparkan batu kearah parit kecil itu, sambil sesekali menulis kesebuah buku kecil yang dari tadi sudah menempel ditangan kanannya. Pulpen yang dari tadi menempel di daun telinganya, kini sudah mulai difungsikan. Ahya yang terlihat beberapa kali menggigit ujung pulpennya seakan memberitahuku bahwa dia sedang berpikir tentang sesuatu yang masih ada hubungannya dengan karya tulis ini. Mereka begitu serius, bahkan aku yang hanya diam saja dari tadi tidak lagi mereka perdulikan.
13
“Baiklah, setelah kita melihat presentasi kelompok Awal, sekarang kita akan menyaksikan presentasi dari kelompok Farhan, Saudara Farhan kami persilahkan!” Ivan sebagai pembawa acara dalam kegiatan ini mempersilahkan Farhan dari kelompokku untuk mulai mempresentasikan hasil pengamatan kami hari ini. Farhan berdiri, dia terlihat begitu percaya diri, mungkin karena dia sudah menguasai materi yang akan dia sampaikan, atau mungkin juga karena dia memang tidak pernah gugup berdiri didepan banyak orang. Ditangan kanannya menempel sebuah kertas kecil, mungkin itu yang akan dia presentasikan beberapa saat lagi. baju kaos yang dia gunakan masih terlihat bercak becek karena ulah Ahya saat melakukan pengujiam melemparkan batu yang lebih besar kearah parit. Aku duduk di kursi antara Febby dan Ahya, serius memperhatikan presentasi Farhan yang sanggup mempermainkan suasana ruangan, bahasa yang dia gunakan, tatanan kalimat yang dia rangkai, dan tinggi rendah intonasi bicaranya membuat suasana ruang menjadi cair. Gaya bicaranya cepat, lincah, dan langsung ketujuan. Dia memang pernah bilang “Kerja otak menusia itu cepat sekali, jadi dengan memberikan materi yang cepat, tepat, dan langsung, akan mempermudah pendengar untuk mengerti apa yang kamu presentasikan.” Walaupun masih sangat susah untuk aku lakukan, jangankan untuk berbicara secepat dia saat berpresentasi, bahkan untuk berdiri di posisi Farhan saja mungkin terlalu berat untuku. “Sering-sering berlatih dan mencoba!” jawab Farhan dengan tenang saat aku tanyakan apa rahasia untuk menjadi Presentator yang baik. ***** “Iqbal, Awal, Ahya, Friko, malam ini kakak tunggu di Yasmin 5 ya... malam ini akan ada pelatihan Internet untuk kalian ber empat” Yohan memilih kami untuk dilatih malam ini. Dalam kumpul masa hari ini dikhususkan pembagian kelompok latihan internet, mungkin hanya sekedar latihan internet tapi entahlah, aku belum pernah menjamah internet, dan bahkan belum mengerti apa yang dimaksut dengan internet, anehnya kenapa latihan internet mesti malam hari? Apakah tidak ada
14
waktu
untuk
latihan
disiang
hari?
Memang
sih
hati
ini
ingin
menannyakannya, tetapi pertanyaan ini aku simpan sampai nanti malam, mungkin aku bisa menjawab sendiri, atau mungkin juga jawabannya akan aku dapatkan dari yohan langsung. “Aku tunggu di depan bank BRI!” kata-kata Ahya yang masih teringat jelas diotakku, aku sebelumnya tidak tahu jelasnya Yasmin 5, tetapi Ahya mengaku sudah pernah kesana. Angkot berhenti, selembar uang limaribuan sudah semestinya aku bayarkan kepada sopir, pria yang mungkin dari tadi pagi sudah menyetir angkot ini mengembalikan uangku sebanyak tigaribu lagi, wajar, jarak dari rumahku memang cukup jauh ke kampus IPB, tempat yang dijanjikan Ahya kepadaku. Menoleh kekanan dan kekiri, mataku masih belum bisa menemukan sosok Ahya yang dari tadi sudah berusaha menemukannya. Ragu, aku memang jadi ragu kepadanya, atau mungkin juga aku ragu pada diriku sendiri, karena aku memang menyuruhnya untuk menunggu disana jam lima sore ini. Tapi aku turun dari angkot sudah jam lima lewat limabelas, aku sebenarnya tidak ingin terlambat, tapi macet, itulah satu-satunya alasan yang tepat untuk menjelaskan kesalahanku yang tidak aku sengaja ini. Ahya terbilang disiplin, jika dia janji akan selalu dia tepati, dan dia hampir tidak pernah terlambat, dia pernah berkata “Tanyakan arti sedeti pada pemain bola yang kebobolan saat detik terakhir!” aku memang tidak terlalu mengerti maksutnya, tapi mungkin dia bermaksut bahwa waktu itu sangat berharga. Atau mungkin juga aku salah tempat, apa mungkin aku salah mendengar kata-kata Ahya tadi, apa bernar dia janji di BRI yang sudah ada dihadapanku ini, atau mungkinkan bank BRI yang dia maksut bukan BRI yang ini, aku masih kurang menguasai daerah ini, bisa dibilang daerah ini masih asing bagiku. Ingin menelpon Ahya, tapi aku tidak tahu nomor HP atau nomor Telpon nya, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Menunggu! Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang. Setelah hampir limabelas menit berdiri ditempat asing ini, akhirnya aku melihat Awal baru turun dari angkot diseberang sana, arah rumahnya berlawanan dengan arah rumahku. Tatapan matanya langsung
15
tertuju kearahku, walaupun aku tidak mengerti apa arti tatapannya itu. Dia melambaikan tangannya kearahku. Lega, mungkin kata itu yang pantas aku katakan untuk menggambarkan suasana hati saat ini, karena aku sudah putus asa menunggu Ahya disini, aku yakin dia sudah ada di Yasmin 5, dia sangat menghargai waktu... sebelumnya aku sudah bermaksut untuk pulang tapi untung ada Awal. “Bal kenapa belum berangkat? Kamu masih menunggu seseorang?” kata-kata awal pertama kali yang aku dengar, pasti lain jika yang datang adalah Farhan, karena Farhan selalu mengawali pertemuan kami dengan ucapan salam, kemudian berjabat tangan. Aku belajar berjabat tangan dari Farhan. “Jangan banyak ngomong deh, ayo kita kesana sekarang!” ajakku, menghindar dari rasa putus asa. Dari perusahaan penyimpanan uang itu kami berjalan tegak lurus dengan jalan raya, kata Awal itu adalah jalan pintas menuju Yasmin 5. Tapi entahlah, aku belum pernah kesana, jadi aku hanya bisa mengikuti apa yang Awal katakan. Limabelas menit berjalan bukan hal yang luarbiasa untukku, saat dikampung aku sering berjalan ke ladang selama tigapuluh menit, jadi tentu ajakan Awal tidak aku takutkan, mungkin sombong tapi aku yakin aku bisa berjalan lebih lama dibanding Awal. Dari luar ruangan berdinding kaca itu terlihat Yohan telah duduk disamping Ahya, mungkin diskusi, atau sudah mulai mengajari
penggunaan Internet. Didepannya terpampang seunit komputer yang tengah menyala. Dibagian dalam pintu itu terdapat tulisan „OPEN‟ dan „KOSONG‟ juga dibagian pojok pintu itu terdapat tulisan hitam agak besar „RENTAL KOMPUTER\INTERNET‟. Tulisan itu menjelaskan semuanya kepadaku, aku jadi tahu kalau kami akan belajar Internet di rental komputer, atau tepatnya rental Internet. Pintu terbuka, sejuk ruangan ini sangat terasa, mungkin karena diluar ruangan ini masih terasa panas, padahal ini sudah terbilang sore. Yohan dengan pakaian kaos oblong dan dengan celana panjang hitamnya segera menghampiri kami dan langsung membawa kami kearah operator. “Ini mas Aji, dia juga lulusan sekolah kita.” Aji namanya, dia lulusan sekolah kami juga, sodoran tangannya
16
kearah kami mengajak untuk berjabat tangan tidak mungkin aku tolak. Pandangan matanya cukup tajam, hanya senyum memandang kami.
Entah apa arti senyuman itu, yang jelas itu bukan senyuman sinis. Hanya senyuman sinis yang mungkin bisa aku kenal. Cukup panjang Yohan menjelaskan tentang internet, mulai dari membuka situs web, e-mail, dan chating. Memang menyenangkan juga bermain dengan dunia maya. Tak lama aku, tepatnya kami dipanggil kedalam sebuah ruangan oleh Yohan, entah apa maksutnya yang jelas kami sebagai adik kelas yang menghormati kakak kelas hanya bisa mengikuti apa yang dia katakan. Disana, dipojok ruangan yang berukuran empat kali empat meter itu telah duduk seorang pria dengan baju kokonya, mungkin baru selesai sholat, tapi tidak juga, sekarang sudah lewat waktu ashar, dan belum sampai waktu maghrib. Entahlah apa yang baru dia lakukan yang jelas kami disuruh untuk duduk melingkar bersama pria bernama Aji yang memegang sebuah buku kecil, dan sebuah quran kecil. Salam, sudah pasti... itu tidak akan lepas dari pembukaan berbicara orang yang aktif dalam Islam. Setidaknya itu yang aku tahu. Tapi apa maksutnya mengumpulkan kami dengan alumni sekolahan kami ini? mungkin beberapa saat lagi aku akan mengetahui jawabannya. ***** Aku jadi mengerti, ternyata tujuan utama pelatiha internet itu adalah agar aku dan teman-teman segera mengaji, tapi memang menyenangkan. Aku memang awam dalam Islam mungkin karena itu aku jadi suka mengikuti pengajian ini. Kholakhoh, itu adalah sebutan untuk pengajian seperti ini. Apalagi bahasan yang dikaji terbilang pas untuk siswa seumuran kami, tidak hanya itu, mungkin juga karena cara
penyampaiannya yang benar, sehingga kami seakan terhanyut didalam setiap kata-kata yang dipakai oleh mas Aji. Hal yang pertama aku dapat dari pengajian adalah larangan berpacaran. Cukup tegas mas Aji melarang berpacaran, dia juga menjelaskan dengan alasan-alasan dilarangnya. Pejelasannya cukup memuaskan hati kami yang
mendengarkannya, buktinya kami bisa langsung menyerujui bahwa
17
pacaran itu tidak ada dalam Islam, lebih tegasnya dia juga memberikan ayat quran yang melarang perbuatan mendekati jina, yang salah satunya digambarkan adalah berpacaran. Tak tertinggal kalimat terakhir mas Aji untuk mengakhiri kholakohan malam itu adalah „sampaikanlah walau satu ayat.‟ Kalimat yang seakan membakar api semangat dihatiku untuk menyerukan hal itu kesemua teman-temanku di kelas, dan tentunya juga kepadaku sendiri yang paling utama. Perjuangan dakwahku dimulai sejak saat itu, aku jadi mengerti bahwa berdakwah itu adalah kewajiban setiap orang yang mengakui bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Bukan seperti pandangan pertamaku, yang menganggap bahwa dakwah itu adalah urusan ustadustad. Cukup lancar juga jalan dakwah yang aku hadapi dekelas saat itu. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan, teman-teman memberi respon yang baik terhadap apa yang aku katakan. Mungkin ini juga didukung oleh lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang yang sudah mengaji juga, tapi entah ngaji kemana aku tidak tahu. Akbar contohnya, dia selalu menegurku saat aku jalan berbarengan ama Eva, wanita yang duduk didepanku, dia selalu mau berjalan bareng dengan aku, begitu juga aku. Aku tahu bahwa sangat dilarang mendekati jina, tapi pandanganku saat itu berjalan berdua itu tidak dilarang, karena kami berjalan didepan banyak orang, dan juga kami tidak pacaran. ***** Tak terasa aku di kota hujan ini telah satu tahun. Semester satu lewat begitu saja, dan baru beberapa hari yang lalu aku menerima raport untuk semester kedua, dengan nilai yang sepertinya kurang memuaskan. Aku berencara pulang ke sumatra, mungkin rindu dengan senyum ibu, atau mungkin juga rindu dengan bau keringat ayah. Tapi jauh dibalik itu semua, mungkin juga aku ingin menikmati hari liburku bersama dengan kampung halaman. Itu memang menyenangkan, jelas saja desa itu adalah tempat aku dibesarkan, aku tumbuh remaja disana, sudah sewajarnya aku rindu dengan semua suasana kampung. Tiupan angin yang mengundang tarian batang-batang pohon disamping sebuah gubuk ditengah ladang
18
milik kami, desiran air sungai diperbatasan desa, tangisan adik ketika ayah tak memberi uang jajan lebih, dan suara-suara burung yang menemani tenggelamnya tuan Matahari setelah menyelesaikan tugasnya menerangi perkampunganku. Hampir semuanya tidak lagi aku temui disini, dikota hujan ini. “Bal... ni ada surat buat kamu!” “Dari siapa?” bibiku hanya tersenyum sambil memberikan surat berwarna putih polos itu. Tak lama pandangan mataku langsung tertuju pada sebuah nama pengirim yang ada di bagian tengah surat, tertulis jelas disana nama seorang wanita yang dulu pernah aku cintai, oh... tapi sepertinya tidak, mungkin hanya aku sukai. Sampai sekarang aku masih belum mengerti tentang cinta yang sesungguhnya. Seperti seorang pecinta yang mendapatkan surat cinta dari kekasihnya, senang... mungkin itu yang aku rasakan sekarang, itu manusiawi bukan?, atau mungkin juga tidak. Langsung menuju karam dan tidak sabar ingin mengetahui isi dari amplop dengan tiga buah prangko itu. Didalamnya terdapat tiga lembar kertas merah muda, dan memang hanya itu. Kalimat demi kalimat aku baca dan aku artikan sendiri, ini jelas tulisannya, kalimatnya, dan juga pantun-pantunnya, aku masih sangat hapal dengan tulisan, kalimat, dan pantunnya yang masih tidak berubah seperti surat-suratnya saat kami di kampung. Disana dituliskan akan kesetiaannya kepadaku, dia masih ingin kembali kepadaku, padahal seperti yang dia ceritakan dalam surat ini, dia sekarang melanjut di madrasah. Tapi anehnya kenapa dia masih ingin melanjutkan hubungan kami? Apakah dia tidak memperlajari tentang larangan berpacaran? sekali-kali tulisannya seakan meragukan kesetiaanku
Walaupun
kepadanya. Ada niat untuk membalasnya, tapi sayang dua hari lagi aku akan berangkat dengan pesawat madala, bahkan aku kirim surat sekarnagpun maka aku akan sampai lebih dulu daripada suratku. Jadi aku memutuskan tidak jadi mengirimkan surat kepadanya. Jam duabelas aku sudah berada di terminal, diatas sebuah bus yang menuju kebandara. Disampingku duduk sosok seorang pria tengah baya yang aku panggil dengan sebutan paman. Selama ini aku tinggal
19
bersamanya. Saat jarum jam ditanganku menunjukan angka dua, yang artinya jam dua tepat, kami sudah sampai di bandara, paman segera pulang karena dia masih punya pekerjaan lain, dan aku masih harus menunggu jam tiga sore ini, pesawat yang akan aku tumpangi berangkat jam tiga pas. Tapi aneh, sepertinya ada perubahan keberangkatan, di dalam selembar kertas yang baru diberikan oleh seorang pegawai disini tertuliskan keberangkatan pesawat jam 16:45. Menunggu lama di tempat ini memang tidak menyenangkan, apalagi aku hanya bisa menonton
acara tv yang tidak menyenangkan. Bosan, memang terasa juga setelah aku duduk dikursi merah ini sendirian, hanya melihat orang yang saling bercerita dengan teman-temannya yang duduk di sampingnya, lain denganku, aku tidak punya teman disini, aku hanya duduk sendirian di tempat yang sungguh masih asing ini. dengan udara yang sejuk oleh tiga buah ac yang semenjak aku datang sudah mulai dinyalakan, tv yang tergantung disudut ruangan masih setia dengan tampilan film kartun sore, calon-calon penumpang pesawat yang dari tadi berlalu lalang didepanku, mungkin bosan, atau mungkin juga karena masih punya kerperluan yang lain. Sebuah buku, mungkin itu adalah satu-satunya pelarian yang bisa aku jalani, tapi sayang, semua bukuku tersusun rapi ditas yang sudah diserahkan kepada wanita yang bekerja di bidang penimbangan barangbarang bawaan penumpang itu. Hingga waktu yang ditunggu telah tiba, aku masih duduk sendiri di depan tv, bukan menonton tv, karena aku hanya terlarut dalam lamunanku yang sedari tadi sudah terbang tinggi dilangit luas, entah akan mendarat dimana yang jelas suara panggilan bagi penumpang pesawat menuju Medan telah memanggil kami. Seorang pria tempan, tegap, dan mengenakan pakaian kaos putih telah berdiri di pintu keluar bandara ini. Dia adalah pamanku, adik kandung ibuku yang berkerja di Medan. Lega... itu wajar, sedari tadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika dia tidak aku temukan disini, menelepon, mungkin itu yang akan aku lakukan, karena itu memang jalan satu-satunya, aku sama sekali tidak mengetahui daerah-daerah Medan, karena aku memang belum pernah tinggal disini sebelumnya. Lain dengan
20
daerah Bogor, mungkin seluk-beluk Bogor sudah aku kuasai, wajar saja aku tinggal disana dan hampir setiap minggu main ke kota, kadang dengan teman, dan kadang sendiri, kadang hanya main, juga sering ke toko buku. Saat itu sudah jam 7 malam, kurang lebih dua jam perjalanan di pesawat tidak terlalu capek, hanya saja tidak menyenangkan. Rencananya malam ini aku akan tinggal dirumah paman, dan besok pagi aku segera berangkat ke kampung, sudah tidak sabar, ingin melihat suasana desa kembali. Jam sebelas pagi ini aku sudah siap untuk melanjutkan perjalanan dengan mobil berukuran sedang yang akan melewati perkampunganku, paman mengantarku samapi terminal, dari sana aku berangkat sendiri diatas mobi kecil itu. Yah... seperti kemarin, aku masih saja duduk sendiri diatas mobil ini, membosankan. Aku sudah tidak sabar sampai kedesa. Aku belum sampai di desa, tetapi khayalku sudah sampai dari sejam yang lalu. Pikiranku sudah terbayang kesana, sudah membayangkan temantemanku yang mungkin sudah ada disana, juga terbayang adik-adikku yang sudah setahun ini tidak lagi aku temui. Lima jam diatas benda kecil beroda empat ini sungguh tidak menyenangkan, sumpek, sesak, bosan, dan entah kata apalagi yang bisa aku katakan untuk ketidak sukaanku dengan benda bersopir ini. Jam enam sore itu aku sudah samapi di kampung halaman, disana sudah ada Ayah, Ibu, dan adik-adikku dengan wajahnya yang tidak asing untukku. Jelas saja, mereka bersamaku semenjak aku kecil, jadi aku sudah sering melihat wajah penuh senyum seperti itu. Senyum kebahagiaan. Pertama sekali aku menghampiri Ibu tercinta yang sudah menunggu di luar pintu kecil itu. Mencium tangannya yang masih berbau sabun, mungkin beberapa saat yang lalu dia baru selesai mencuci bajubaju adik. Atau mungkin juga baru selesai mencuci piring. Baru setelah itu aku menghampiri ayah yang sedari tadi sudah siap menunggu aku, mungkin... tapi yang jelas ayah begitu rapi. Sudah lama aku tidak melihatnya mengenakan pakaian itu, oh Ayah... engkau begitu tampan, tidak salah ibu menerimamu sebagai suaminya. Mencium tangannya yang
21
agak kasar... itu yang diperintah oleh otakku saat ini. tapi tidak, aku ingin sekali memeluknya, ayah peluklah anakmu ini ayah, aku menunggu dekapanmu. Entah mendengar atau tidak yang pasti ayah membukakan tangannya bermaksut menapungku terjatuh kedalam pelukannya, itu yang aku harapkan, sebiah dekapan dari ayah. Setelah setahun lamanya aku tidak bisa menikmati kasih sayangnya dari jarak dekat. Mendekap erat, mungkin rindu, memang terasa sesak, tapi aku tahu itu adalah bukti cintanya kepadaku. Oh Ayah aku mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu... ingin aku selalu berada dalam dekapanmu seperti ini, terasa aman, terjaga dari kejamnya dunia, dan terasa bagaikan dibawa terbang ke atas lagit yang luas, walaupun sebelumnya aku sudah dibawa terbang oleh pesawat yang mengantarkan aku dari jawa ke sumatra, tetapi rasanya lebih terasa indah berada dalam pelukan ayah. ***** Sudah satu hari aku di desa ini, tapi sayang apa yang harapkan tidak sesuai dengan kenyataanya, kedua temanku belum pulang dari Medan. dan entah dimana mereka semuanya, yang jelas dihari pertama ini aku sudah merasa sepi di desa sendiri. Mungkin hal ini wajar, aku masih harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungaku, sungguh... bukan pura-pura, tapi memang aku merasa susah menggunakan bahasa daerahku sendiri. Terasa kaku mulutku untuk mengucapkannya, tapi aku memang masih tidak lupa dengan bahasa daerah ini, buktinya aku masih bisa mengerti apa yang orang-orang disini katakan, hanya saja saat aku ingin mengatakan sesuatu kepada mereka, aku harus berpikir sejenak mengingat terjemahan dari bahasa Indonesia kebahasa daerahku. Hal ini wajar, aku sudah lama tinggal di negara orang sunda, jadi wajar aku meninggalkan bahasaku sendiri, dan juga karena aku tidak punya teman untuk berbicara bahasa daerah di dunia Bogor itu. Jadi wajar saja, bahkan paman dan bibiku juga menggunakan bahasa Indonesia jika ngobrol dengaku. Sore itu aku mengisi ruang kosongku dengan bermain bola dengan orang-orang disana, memang aku kurang akrab dengan mereka, tetapi
22
rasa kekeluargaan yang membuat aku berani bergabung dengan mereka walaupun hanya sebagian sedikit dari orang-orang itu yang aku kenal. Ditengah pertandingan yang seru, mataku tertuju kepada seorang remaja berkisar tujuhbelasan baru turun dari mobil persis seperti mobil yang aku naiki saat aku berangkat dari Medan menuju kampung halaman ini, mungkin satu perusahaan tapi entahlah. Yang jelas pria itu adalah Saut, dia adalah salah satu teman akrabku. Belum pulang kerumahnya sendiri dia langsung menuju kearah kami yang tengah asyik menendang sebuah bola kaki yang sejak sejam yang lalu sudah jadi perebutan kami untuk memasukannya ke gawang milik lawan, yah seperti pemain bola yang lain, yang bertanding distadium internasional. Aku langsung keluar ganti dengan Irfan yang kebetulan menjadi penonton waktu itu, biasanya Irfan menjadi pemain setiap kali ada pertandingan, hanya saja sore ini dia terlambat, jadi dia harus menunggu permainan ini usai jika dia ingin ikut bermain bola. Tapi mungkin tidak, dia tidak perlu menunggu sampai target gol yang kami sepakati terpenuhi, karena aku sudah ingin bertemu dengan Saut. Aku lebih memilih ganti dan bertemu dengan Saut, kangen... mungkin itu kata yang tepat aku katakan untuk menggambarkan perasaanku saat ini. wajar saja, semenjak aku pergi ke Bogor, kami benar-benar putus hubungan. Tidak ada kabar sama sekali. Mungkin lain dengan Fredy, sekali-kali dia menelpon aku di Bogor. Jadi walaupun kami jauh, hubungan kami tetap terjalin. Tapi anehnya sampai detik ini aku masih belum melihat Fredy, entah dia kemana. “Hallo Ud... gimana kabarnya, dah lama ga ketemu lagi.” sambil membukakan tanganku, bermaksut berjabat tangan dengannya. Saut, dia adalah pria yang berumur kurang lebih 17 tahun waktu itu, kami satu sekolah waktu di SLTP, dan dia merupakan sahabat dekatku. Bisa dibilang kami ini adalah satu perjuangan. Dia beragama kristen. Aktif? Tidak juga, aku sering mancing bersama setiap hari minggu dengannya, bukan ingin
menghalanginya untuk melakukan ibadah, tapi dia sendiri yang selalu mengajak. Dari kami bertiga, hanya Saut yang tidak memiliki pacar, entah kenapa, tapi dia sendiri tidak pernah menceritakan tentang wanita selama
23
kami berada di bawah bintang-bintang yang berhamburan di langit menghiasi tuan bulan yang setia menerangi kami diatas tiker dilapangan yang biasa kami pakai untuk bermain bola. Lain dengan Fredy, diantara kami bertiga dialah yang pertama memiliki pacar, dan mungkin ilmu berpacarannya di wariskan kepadaku hingga aku juga terhanyut dalam dosa mendekati zina itu. Waktu itu aku memang belum tahu kalau tidak ada berpacaran dalam Islam, aku hanya tahu bahwa berpacaran itu menyenangkan, dengan memiliki pacar maka aku akan diakui sebagai pria yang hebat. Aku jadi memiliki orang yang bisa aku banggakan kepada Fredy dan Saud di larutnya malam ketika kami membaringkan badan diatas tikar milik pak Corah, yang biasa digunakan untuk menutup jagung yang dari pagi sudah muali dijemur. Pak Corah masih merupakan darah biru di desa kami. Dia juga lah pemilik lapangan kecil ini, yang biasa kami gunakan untuk menendang-nendang bola yang jelas-jelas tidak bersalah, tapi itu adalah permainan, itu memang sudah menjadi peraturan pertandingan bola kaki. Saut tidak aktif dalam agamanya, bahkan hampit tidak pernah melaksanakan ajaran agamanya, mungkin hanya setahun sekali dia mengunjungi gereja milik tuhan mereka. Begitu juga Fredy, dia juga beragama kristen, hari-harinya tidak pernah terisi dengan beribadah. Aku? Mungkin tidak jauh berbeda saat aku belum ke Bogor dulu. Satu solatpun tidak pernah aku lakukan sehari-hariku, sholat hanya aku lakukan setahun sekali. Ya... sholat id idul fitri, mungkin hanya itu sholat satu-satunya yang aku lakukan. lainnya? Jangan dibahas deh. Tapi memang lain ketika aku tinggal di Bogor, aku benar-benar tidak mau ketinggalan satu sholat wajib pun. Sungguh perubahan yang sangat luar biasa yang aku alami saat disana. „awam Islam‟ mungkin iya buktinya banyak sekali ilmu Islam yang aku ketahui setelah aku tinggal disana, aku jadi mengerti apa alasanku memasuki agama indah ini. sebelumnya aku menjadi Islam hanya karena orangtuaku juga adalah orang Islam, lainnya tidak sama sekali. Tapi semenjak aku dididik oleh mas Aji disana, dan juga teman-temanku tentunya. Aku jadi sadar bahwa aku memang tepat menjadi Islam, aku jadi
24
merasa sangat bersyukur telah dilahirkan dengan agama sempurna ini. sebelumnya aku merasa semua agama di Indonesia ini adalah agama yang benar, tapi lain setelah aku tinggal setahun di tanah sunda itu. Seorang teman seperjuanganku di tanah asing itu pernah berkata kepadaku dengan sedikit nada canda “Iqbal, selamat datang di Islam!” entah apa maksutnya. Sebelum aku berangkat ke sumatra kembali, tidak sedikitpun terpikir olehku tentang lingkunganku yang akan merubahku lagi di sumatra. Tapi itu menjadi kenyataan, baru tiga hari aku di tanah kelahiran ini, aku mulai meninggalkan sholatku. Sebenarnya aku tidak niat meninggalkannya, hanya saja aku lupa, mungkin itu alasan satu-satunya untuk mengelak dari tuduhan. Subuhku sekarang telah ditelan oleh tidur yang terbiasa bangun jam delapan pagi. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku bangun jam delapan pagi, menudian mandi dan mengambil motor milik ayah, ingin bermain dengan teman-teman, kelilingkeliling kampung, dan berkunjung kekampung tetangga, mungkin hanya itu yang selalu kami lakukan. Jadi tidak heran jika Djuhurku juga dimakan oleh motor. Biasanya kami main dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore, setelah itu kami berkumpul dilapangan pak Corah, tidak lain adalah menendang bola milik Swandi, rumahnya dekat dengan lapangan, jadi mudah untuk menghubunginya jika ingin bermain bola. Tidak heran jika asharku dibunuh oleh bola. Berkisar jam enam kami pulang kerumah masing-masing. Mandi bersama dipancuran kampung, itu adalah
kebiasaan yang menyenangkan, walaupun aku memiliki kamar mandi sendiri, tetapi tetap lebih menyenangkan mandi bersama Saut. Tanpa sengaja maghribku dicuci oleh mandi. Isya? Masih ingat kah, baru jam tujuh malam Saut sudah mengajak aku untuk berkumpul dengan temanteman wanita, aneh memang bagaimana ini bisa terjadi, saat di Bogor aku sangat menghindari perkumpulan seperti ini, tapi kenapa saat disini aku tidak menghindarinya sama sekali. Seperti dihipnotis tapi tidak, jelas ini adalah keinginanku sendiri. *****
25
Tak terasa seminggu aku tinggal didesa, dan tentunya jumlah sholat yang aku lakukan bisa terhitung dengan jari, yah... dibawah sepuluh, itu yang jelasnya. Mungkin imanku masih dipertanyakan, bagaimana mungkin aku hidup disini selama seminggu tanpa sholatku, tapi tidak ada sedikitpun rasa bersalah di dalam hatiku, semuanya seakan sudah semestinya berjalan seperti ini. Aku sama sekali tidak merasa ketakutan akan siksa Allah nanti di Nerakanya. Lingkungan, mungkin hanya ini alasanku, tapi memang benar, aku bergaul dengan mereka. Mereka yang tidak mengenal sholat. Mungkin salah jika aku katakan tidak mengenal sholat, yang benar adalah tidak melakukan sholat, karena memang sholat tidak ada didalam agama mereka. Kadang terasa masih ingin tetap didesa ini, tapi beberapa hari lagi aku akan masuk sekolah lagi. Pagi itu aku sudah menemukan Ibu dengan pakaiannya yang bagus, Ayah juga sama. Mereka berniat mengantar aku ke Medan. Dengan tidak sengaja aku pernah mendengar Ibu berbicara dengan Ayah “Nanti ibu ikut nganter Iqbal ke Medan ya...” Langsung terasa olehku kasih sayang mereka. Ya Tuhanku, aku sungguh beruntung berorangtuakan mereka, jadikan aku anak yang berbakti ya Allah. Dan sanggupkan aku menjadi seperti mereka ketika aku sudah memiliki keluarga nanti. Wajah ibu terlihat berseri, tapi entahlah apa yang dia pikirkan, beberapa saat nanti aku akan meninggalkan Desa ini. meninggalkan orangtuaku untuk meneruskan keinginan mereka, menuntut ilmu di pulau orang. Ayah adalah contoh orang yang aku kenal sebagai orang yang pemberani. dia berasal dari kota Mandailing, dan dia berjuang sendiri meneruskan sekolah di Medan tanpa ada rumah yang akan dituju di Medan, dari ceritanya yang aku dengar langsung darinya, dia hanya membawa sebuah peta. Dengan peta itu dia mampu menguasai kota Medan, dan akhirnya bertemu dengan Ibuku, kemudian sekarang melanjutkan hidupnya di tanah kelahiran ibu. Ayah hebat, aku yakin keberaniannya masih ada padaku, apalagi sudah ada yang menunggu aku di sana, di Jakarta tentunya. Memang kurang menantang seperti yang ayah lakukan, aku hanya naik bus, dan begitu turun disana, sudah ada
26
yang menungguku disana, berbeda dengan keberanian Ayah. Yah tapi tidak apalah, aku memang tidak bisa seperti dia, tapi dia memang orang yang hebat. ALS No 255, sebuah teks kecil tertulis terang dikarcing yang diberikan oleh Ayah kepadaku, waktu itu jam baru yang dibelikan Ayah beberapa menit yang lalu menunjukan pukul sebelas tigapuluh, sementara karcis berlatar hijau itu menuliskan keberangkatan jam tigabelas pas. Aku masih harus menunggu beberapa lama disini. Tapi tidak apalah, aku masih punya waktu untuk bercerita dengan ibu, ayah, dan Ilham, adek terkecilku. Aku tahu hari ini akan menjadi hari terakhir aku bertemu dengan mereka, aku tidak ingin menghabiskan waktu ini dengan berdiam diri di kursi merah tempat menunggu keberangkatan. Ibu membekaliku dua batang coklat, satu batang makanan sejenis bolu, entahlah apa namanya, selama ini aku belum pernah memakan makanan seperti itu. Dan juga tidak ketinggalan beberapa perman. Hanya untuk mengganjal perut ketika lapar diatas bus nanti. Begitulah pesan Ibu. Aneh, waktu terasa begitu cepat berjalan. Sebuah suara dari speaker hitam dipojok ruangan telah memanggil kami yang akan berangkat ke jakarta dengan ALS 255. Ayah masih mengantarku hingga tepat ditempat dudukku, entah apa maksutnya. Tapi yang jelas aku suka itu, aku merasa kasih sayangnya yang luar biasa disaat seperti itu. “Mas.. namanya siapa?” sambar Ayah kepada seorang pria berkisar duapuluhan yang duduk disampingku sambil menjajakan tangannya mengajak untuk berjabat tangan, aneh memang tapi inilah ayahku, orang yang paling aku banggakan “Andi!” jawab pria berbaju hijau tua itu singkat. “Tujuannya kemana ?” masih ayahku bertanya yang aneh-aneh. “Oh... saya mau ke riau...” “Oh... nitip Iqbal ya...” Oh... akhirnya aku tahu maksut Ayah berkenalan dengan orang yang mengaku bernama Andi ini. menitipkanku kepadanya, mungkin Ayah belum percaya kepadaku, atau apalah alasannya. Penumpang yang tidak ikut dalam perjalanan ini turun, pintu ditutup otomatis, cahaya matahari masih terasa menembus kaca bus yang menghangatkan tubuh diruangan ber ac ini. Ayah, Ibu, Ilham melambai
27
kearahku. Bus mulai melaju, semakin cepat, dan semakin menjauhi mereka, kedua orangtuaku. Lenyap. Andi adalah orang Riau, tapi liburan ini dia menghabiskan waktunya di Medan, bukan berlibur, tapi bekerja. Ternyata waktu liburan seperti ini masih ada yang bekerja. Andi salah satunya. Dari
keterangannya yang panjang lebar, dia adalah seorang distributor, tapi entahlah distributor apa, karena memang aku sudah lelah. Aku tahu perjalanan ini akan berakhir empat hari yang akan datang. Ngantuk! Yah begitulah, mendengar cerita-cerita Andi yang seakan meninabobokanku, ditambah dengan ruangan yang full ac, kemudian suasana tenang didalam bus membuat klopak mata yang sudah tujuhbelas tahun menempel dimata ini terasa sangat berat. Ini yang mereka sebut ngantuk. Tapi tidak, aku tidak boleh tertidur. Kasian juga Andi yang masih serius dengan ceritanya, aku merasa tidak sopan jika aku meninggalnya tidur. Ceritanya yang semakin tidak jelas terdengar olehku membuat aku harus berusaha manunjukan kepadanya bahwa aku masih mendengarkannya. Ya... senyum! Sesekali saat dia menghentikan ceritanya dan menatap kearahku, aku hanya bisa tersenyum. Itu yang biasa dilakukan oleh orang yang tengah asik mendengar cerita dari teman ngobrolnya, memang lain denganku, aku tersenyum hanya agar dia merasa dihormati, walaupun aku tidak mengerti apa yang dia ceritakan. “Bal... Bal... Bangun!” Terbangun dan oh... ada Andi disana, memang aku tidak kuat menahan rasa kantuk itu. Tapi tidak terasa lagi ayunan bus yang sedari tadi seakan mengayunkanku untuk tertidur lebih jauh, tidak juga terdengar suara bus yang mestinya masih menjadi nyanyian nina bobo dalam tidurku. Dan semua penumpang tidak ada dikursinya. “Makan malam dulu yu!” ajak pria yang masih terlihat cerah itu. Oh... ini sudah malam, sudah waktunya makan malam. Mandi juga belum, juga masih belum sholat Maghrib, tapi tunggu... apa aku tadi sudah sholat Ashar ya? Seingatku belum. Hari kedua, hari ketiga terlewatkan begitu saja. Saat ini, aku sudah ada di penyeberangan. Ya... selat Sunda, itu yang tertulis di Peta
28
Indonesia yang masih teringat jelas di otakku. Ini yang pertama kalinya aku menaiki kapal penyebrangan seumur hidupku, tapi tidak. Ini adalah pertamakalinya aku menaiki kapal, ini yang benar. Karena memang sebelumnya aku belum pernah menaiki kapal. Karena aku memang tidak pernah tinggal didekat perairan. Bus berhenti dipenimbangan, ya.. bus ini ditimbang dulu sebelum dimasihkan ke Kapal penyebrangan itu. Dari sana bus mesuk kedalam kapal. Penumpang turun dari bus, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Menunggu? Oh tidak, itu bukan ide yang baik, diruangan ini sungguh tidak nyaman, hanya ada sopir yang mungkin melepas lelahnya, dan juga getaran-getaran bus yang terasa sesekali. Nekat! Aku tahu Ayah bisa bertemu ibu karena dia nekat pergi ke Medan dengan modal peta. Jadi apa salahnya aku juga melakukan hal yang sama. Keluar dari bus ini dan mencoba untuk naik keatas kapal, tapi sebelumnya aku harus benar-benar ingat letak busku, dan aku juga harus ingat betul jalan-jalan yang aku lalui. yah sebagai antisipasi. Saat itu suasana hari masih sangat gelap, tapi kegelapan itu bisa dikalahkan oleh terangnya lampu-lampu rumah yang masih menyala malam seperti ini. Jam dua malam, seperti inilah kondisi malam pelabuhan. Tinggal beberapa saat lagi, aku akan bertemu dengan pamanku yang dari kabar terakhir yang aku ketahui sudah menunggu disini semenjak beberapa jam yang lalu. Tidak lama di atas bus, kami akhirnya sampai di terminal ALS Jakarta, setengah dari isi penumpang tertumpah disana, mengambil tas dan seperti orang-orang yang lainnya, aku mencari paman di terminal yang tidak terlalu besar penampilannya dari arah luar. Terminal ini memang cukup kecil, baru saja aku berjalan, bahkan tidak jauh dari busku, aku sudah menemukan paman yang
kelihatannya sudah sangat lelah. Tidak heran, karena sekarang ini masih jam lima pagi. Mungkin begadang, atau mungkin tertidur di terminal ini, tapi entahlah. ***** Teman baru, kelas baru, dengan suasana baru. Bangga mungkin, aku sekarang telah menduduki kelas II. Edwar, dia adalah teman
29
semejaku kali ini, dan mungkin untuk setahun kedepan. Heni dan Rindi pas duduk dibelakang mejaku, dan Ani dengan Okta duduk didepan mejaku. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang belum aku kenal, kecuali Rindi, kami satu kelas waktu kelas satu. Heni, dia ikut pmr, satu-satunya ekskul yang dia ikuti. Wajar aku tidak mengenalnya, aku tidak pernah satu kelas dan juga tidak pernah berhubungan dengan pmr, maksutnya tidak pernah ikut ekskul pmr. Ani, dari pengakuannya dia ikut KIRSmart dulunya, tapi aku sama sekali tidak kenal dia. Tapi memang benar, dari data KIRSmart angkatan 3, namanya tertulis jelas dan lengkap pada urutan ke lima. Mungkin dia keluar sebelum aku kenal, jadi wajar saja kalau aku tidak kenal. Okta, dulu dia masuk masa, hanya saja dia lebih memilih masuk Tapak Suci dari pada masa, hingga dia meninggalkan masa, dan aktif di Tapak Suci. Aku kenal muka, hanya saja aku tidak tahu siapa namanya, tapi jelas dia kenal aku. Entahlah kenal dari mana, yang penting sebelum aku mengenalkan diri dia sudah kenal aku. Edwar, aku baru akrab dengannya dikelas ini, dia juga ikut KIRSmart. Sebenarnya kami sudah lama berjuang bersama dalam KIRSmart, hanya saja aku tidak pernah mengetahui namanya. Kini aku semeja dengannya, wajar saja kalau aku semakin akrab dengannya. “Baiklah, untuk menyelesaikan tugas ini, kita bagi kelompok menjadi sembilan kelompok!” Perintah seorang wanita tengah baya yang berkerudung merah muda di depan kumpulan siswa yang tengah asyik belajar Biologi. Dia adalah guru biologi baruku. Suaranya lembut, sepintas terlihat dia itu adalah guru yang baik. Selembar kertas yang diberikan kepada sembilan siswa pilihannya sendiri harus dikerjakan secara berkelompok. Kelompok dibagi oleh masih-masing siswa. Aku, Edwar, Heni, Rahma, Dede, Frandy, dan Amel bergabung dalam satu kelompok. Tidak panjang berdiskusi Frandy langsung dipilih sebagai ketua kelompok, Frandy termasuk orang yang tergabung dalam genk basket. Tidak ada lagu Avril yang tidak ada dalam HP nya, tidak hanya Avril. Koleksi musikmusik dalam HPnya semuanya beraliran hardrock. Terus terang aku tidak suka sama sekali dengan lagu-lagu seperti itu. Kelompok yang hebat,
30
semuanya bekerja dengan kemampuan masing-masing, atau tidak juga sih, Aku, Edwar dan Frandy tidak ikut berusaha menyelesaikan duapuluh soal pilihan berganda, dan lima soal essay yang diberikan guru biologi yang sudah meninggalkan kelas beberapa menit yang lalu. “Kerjakan ya... kalau sudah, kalian kumpulkan di ketua kelas !” kalimat terakhir yang diucapkan oleh guru itu. Aku, Edwar, Frandy seperti anak cowok lainnya yang tidak suka dengan tugas seperti ini mengambil selembar kertas dan membuat titik sebanyak mungkin, kami berencana bermain sos. Sebuah permainan kertas. Asyik memang, butuh pikiran yang panjang agar tidak dapat dikalahkan oleh lawan, mungkin itu yang membuat kami betah berlama-lama bermain permainan „kill time‟ ini. “Ok... setiap kelompok memilih satu diantaranya untuk
mempresentasikan hasil diskusinya dalam menyelesaikan soal yang sudah ibu berikan, mulai dari kelompok pertama! Ayo silahkan!” terlihat kelompok pertama yang tengah sibuk saling menunjuk untuk maju ke depan kelas dan mempresentasikan hasil diskusinya. Mungkin agak lain dengan kelompok ku. Kulihat mata Frnady mengarah kepadaku, begitu juga Rahma, dia memalingkan pandangannya kepadaku, seakan menjeratku agar mau mengambil selembar kertas yang sudah dari tadi terdamar di atas meja dengan tumpukan buku-buku Biologi lain disampingnya. Dede, Heni dan Amel tidak ketinggalan menjebaku, mereka semua seakan sudah diskusi sebelumnya untuk memilih aku ke depan mempresentasikan hasil diskusi ini. *****
31
Syuaa Ash Shiraata
32