PENENTUAN TINGKAT PENDAPATAN NASIONAL

Document Sample
PENENTUAN TINGKAT PENDAPATAN NASIONAL Powered By Docstoc
					            PENENTUAN TINGKAT PENDAPATAN NASIONAL


Pendahuluan
       Sampai saat ini kita baru membicarakan pendapatan nasional dari segi
perhitungannya, tetapi belum mempelajari apa yang menentukan tingginya pendapatan
nasional itu sebelum kita mempelajari penentuan tingkat pendapatan nasional. Pengertian
pendapatan nasional perlu kita sederhanakan terlebih dahulu, yaitu kita menganggab bahwa
penyusutan, pajak tidak langsung, pembayaran transfer oleh perusahaan dan subsidi dari
pemerintah. Semuanya tidak ada atau sama dengan nol ini berarti Produk Nasional Bruto
(PNB) sama dengan Produk Nasional Neto (PNN) dan sama dengan Pendapatan Nasional
(PN). Telah kita ketahui bahwa Produk Nasional Bruto di pakai untuk keperluan rumah
tangga (C), investasi sektor perusahaan (I), pengeluaran pemerintah (G) dan ekspor neto ke
luar negeri (y-m) atau kita dapat menyatakannya sebagai y = C + I + G + (y – m), dimana y
adalah PNB. Dari sisi lain produk nasional bruto dipakai untuk keperluan konsumsi (C), di
tabung (S), pembayaran pajak (T) dan pembayaran transefer (T) atau dapat ditulis sebagai y =
C + S + Tx + Tr .


Konsumsi dan Pendapatan Nasional
       Kita lukiskan sumbu hari santai untuk menunjukkan tingkat pendapatan nasional (y)
dan sumbu Vertikal menunjukkan tingkat konsumsi (C). Garis 450 yang berasal dari titik asal
(O) merupakan garis pertolongan yang menunjukan bahwa pada setiap titik tingkat
pendapatan nasional selalu sama dengan tingkat konsumsi.


       Bentuk dari fungsi konsumsi adalah c = a + by, yang berarti konsumsi merupakan
fungsi dari tingkat pendapatn nasional dan terdapat hubungan positif antara tingkat konsumsi
dan tingkat pendapatan nasional.
       Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan adalah nilai pendapatn nasional keseimbangan.
Selanjutnya besarnya tingkat konsumsi dapat dicari dengan mamasukkan nilai pendapatan
nasional tersebut ke dalam fungsi konsumsi.
       Pendapatan nasional itu setelah dikurangi dengan konsumsi (C), sisanya disimpan
dalam bentuk tabungan (S), berarti bahwa tabungan juga tergantung pada besarnya tingkat
pendapatan nasional. Dengan kata lain tabungan merupakan fungsi dari pendapatan nasional.
Fungsi tabungan itu dapat diturunkan sebagai berikut :
       y=c+s                  (3.1)
       c = a + by             (3.2)
       Kemudian persamaan (3.1) dapat kita tuliskan dengan memasukkan persamaan (3.2)
sebagai berikut :
       y = a + by + s, dan
       s = y – a – by atau
       s = -a + (1 – b)y      (3.3)


       Persamaan (3.3) adalah fungsi tabungan dengan -a sebagai inter cepenya adan (1 – b)
sebagai lerengnya yang kita sebut pula sebagai hasrat menabung. Bila kita ketahui sebuah
fungsi konsumsi c = 100 + 0,75y, maka kita akan dapat menghitung besarnya tingkat
konsumsi dan pendapatan nasional dalam keseimbangan (national income equilibrium)
sebagai berikut.
       y = c, nilai c kita subsidikan sehingga
       y = 100 + 0,75y
   0,75y = 100
       y = 400
       Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan adalah nilai pendapatan nasional keseimbangan
besarnya tingkat konsumsi dapat dicari dengan masukan nilai pendapatan nasional tersebut
kedalam fungsi konsumsi.
       c = 100 + 0,75 (400)
         = 400
       Tingkat pendapatan nasional keseimbungan dengan fungsi konsumsi yang sama c =
100 + 0,75y, sebelum ada investasi tingkat keseimbangan pendapat nasional kita yo = co =
400, kemudian dengan adanya investasi lo = 10, tingkat pendapatan nasional yang baru akan
meningkat kita mulai dengan identitas kesamaan berikut.
       y1 = c + 1
       y1 = 100 + 0,75y + 10
  0,75 y1 = 110
            y1 = 440
            Investasi meningkatkan pendapatan nasional keseimbangan. Secara umum keadaan
     keseimbangan dengan adanya konsumsi dan investasi yaitu keseimbangan pendapatan
     nasional naik dari yo ke y1. Perubahan dalam pemintaan agregrat tidak hanya terjadi karena
     perubahan investasi, tetapi juga di mungkinkan sebagai akibat perubahan tingkat konsumsi.


            Ke seimbangan pendapatan nasional dapat kita ketahui dengan menggunakan
     pendekatan tabungan dan investasi, yaitu melalui pengertian bahwa keseimbangan
     pendapatan nasional itu tercapai bila tingkat tabungan sama besarnya dengan tingkat
     investasi. Tabungan itu merupakan kebocoran dalam aliran pendapatan nasional sedangkan
     investasi merupakan injeksi dalam aliran pendapatan nasional. Apabila kebocoran sama
     dengan injeksi,maka pendapatan nasional akan seimbang. Hal ii dapat kita turunkan sebagai
     berikut.
            y = c = 1 dan
            y = c + s maka
            s=1
            Proses pengandaan bersifat simetris, artinya naik dan turun sama sifatnya. Dapat kita
     simpulkan bahwa analisis pengandaan itu memiliki 3 (tiga) kegunaan utama, yaitu :
1. Suatu perubahan dalam pengeluaran satuan pelaksanaan ekonomi mempunyai dampak yang
     lebih besar di dalam perekonomian di banding dengan pengeluaran yang mula-mula.
2.   Kita akan mengetahui efektif atau tidaknya tindakan yang di tempuh, entah itu kebijakan
     moneter atau kebijakan fiscal.
3.   dengan memandingkan angka pengganda yang di peroleh dari berbagai modal kita dapat
     memandingkan pula implikasi dari masing-masing model yang bersangkutan.
            Keseimbangan pendapatan nasional dan investasi terpacu akan perubahan modal
     dimana investasi bersifat pengganda investasi maupun angka pengganda konsumsi berubah
     menjadi lebih kecil, yaitu sebesar.



                                       K=
          Dengan fungsi konsumsi yang sama c = 100 + 0,75y, besarnya investasi          l = 50,
  dan besarnya pengeluaran pemerintah G = 20, maka tingkat keseimbangan nasional dapat di
  cari yaitu :
          y=c+1+G
            = 100 + 0,75y + 50 + 20
     0,75y = 170
          y = 680

          Jadi dalam keadaan keseimbangan kita mengetahui bahwa jumlah injeksi         (l + G)
  hraus sama dengan jumlah kebocoran (S) ternyata dari contoh diatas kita menemukan bahwa
  injeksi l + G = 50 + 20 sama dengan jumlah kebocoran S = 70.
          Apabila pemerintah menarik pajak maka pendapatan nasional cendeung menurun dan
  kita pun dapat menentukan angka pengganda pajak. Angka pengganda pajak (Ktx) diturunkan
  dengan cara yang sama seperti dalam mencari angka pengganda G, dimana ;



                              Ktx =




  Pajak dan Tingkat Keseimbangan Pendapatan
a. Pajak Lump-Sum
          Pajak di sini di asumsikan bersifat eksogen dan fungsi pajak Tx = Txo, sehingga pajak
  seperti ini disebut pajak Lump-Sum. Pajak akan menpengaruhi konsumsi sekarang tergantung
  pada pendapatan sesudah pajak atau disposable income (yd = y – Tx).
          Keseimbangan tercapai bila penawaran agregat sama dengan permintaan agregaf yaitu
  C + l + G = C + S + Tx atau l + G = S + Tx yang berarti injeksi sama dengan kebocoran.
  Bila di amsukkan yd akan turun dan konsumsi akan ikut turun pula dan karena konsumsi
  merupakan konponen dari permintaan agregat maka permintaan agregat juga akan turun.
  Akibatnya fungsi konsumsi dan permintaan agregat bergeser ke bawah dan tingkat
  keseimbangan pendapatan turun. Jadi dari analisis di atas terlihat bahwa kenaikan pajak
  mengakibatkan penurunan dalam tingkat keseimbangan pendapatan nasional.


          Contoh :
          Tx = 20
          C = 10 + 0,75yd
            L = 50
            G = 20
            Dimana :
            Tx : Pajak Lump-Sum
            C : Konsumsi
            yd : Pendapatan yang siap di belanjakan
            G : Pengeluaran pemerintah
            Tingkat keseimbangan pendapatan adalah :
                 y=C+l+G
                   = 100 + 0,75 (y – 20) + 50 + 20
                   = 100 + 0,75 – 15 + 50 + 20
            0,75y = 155
                y = 620

b. Pajak Proporsional
            Fungsi pajak dapat dinyatakan sebagai Tx = t . y, di manta merupakan proporsi pajak
     yang dinyatakan dalam persentase. Dalam hal ini fisien pengganda permintaan agregat (C, l,
     G) akan menjadi :




                                       Dengan prosedur yang sama dalam mencari angka
     pengganda kita        peroleh :



                                         K1 =              (a + l + G)




c.   APBN : Surplus Seimbang dan Defisit


                          Apabila APBN itu surplus berarti penerimaaan (pajak) lebih besar dari
     belanja Negara dan akibatnya perekonomian akan berkembang lebih lambah, karena
     koefisien pengganda pajak         akan mengakibatkan kontraksi perekonomian dan koesien
pengganda belanja pemerintah      akan bersifat ekspansif, namun meningkatnya pengahasilan
nasional akan banyak terhambat oleh penurunan pendapatan nasional.
       Jadi pendapatan nasional justru akan menurun sebesar 10 satuan dengan danya
anggaran belanja surplus akan mengurangi pendapatan nasional, tergantung pada besarnya
Surplus APBN tersebut. Anggaran belanja seimbang yaitu penerimaan Negara sama dengan
pengeluaran atau belanja Negara, maka akibatnya perekonomian hanya akan berkembang.
       Saat ini kita telah melihatkan tiga sector utama dalam analisis pendapatan nasional
yaitu sector rumah tangga, sector perusahaan dan sector pemerintah. Pda bagian ini kita
masukkan sector luar negeri. Oleh karena itu ekspor bersifat eksogen seperti halnya bersifat
endagen dan dapat di nyatakan sebagai, m = mo my, dimana :
       m : Impor
       mo : Impor minimal
       m : Marginal propensity to impor (hasrat mengimpor)
       y : Pendapatan nasional
       Lebih tepat lagi impor tidak hanya pengaruhi oleh pendapatan nasional Negara yang
bersangkutan tetapi juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kurs valuta asing atau kursdevisa
dan harga barang-barang sejenis didalam negeri. Jadi secara umum dapat dinyatakan bahwa :
       m = m (y, E, P) dimana :
       E = kur devisa
       P : tingkat harga barang sejenis
       m dan y seperti diatas, masing-masing menunjukkan impor dan pendapatan nasional.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:1325
posted:2/8/2011
language:Indonesian
pages:6