Strategi+Pemasaran+Bohorok

Document Sample
Strategi+Pemasaran+Bohorok Powered By Docstoc
					                                                                                                     1




ANALISIS STRATEGI PEMASARAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN
  BUKIT LAWANG ECOLODGE DI PUSAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
                     BOHOROK (PPLH BOHOROK)

  ANALYSIS OF MARKETING STRATEGY IN EFFORTS TO INCREASE REVENUE
   BUKIT LAWANG ECOLODGE IN ENVIRONMENTAL EDUCATION CENTER
                    BOHOROK (PPLH BOHOROK)

                                     T. Moriza1 dan Kusnadi 2
 1)
      Program Doktor PSL Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, Kampus USU Medan-20155
                              E-mail : 1moriza_tengku@yahoo.com
                                              Abstrak
          Dampak dari tragedi bom Bali 12 Oktober 2002 yang menewaskan ratusan wisatawan
mancanegara merupakan pukulan sangat berat bagi jajaran dunia pariwisata di tanah air. Tidak
ada orang yang menginginkan kejadian tersebut, walaupun peledakan bom bisa terjadi di mana-
mana di dalam negeri maupun di luar negeri. Tragedi Bali pasti membuat kalangan industri
pariwisata di Indonesia anjlok. Wisatawan mancanegera tidak mau datang lagi ke Indonesia
sehingga hotel-hotel berbintang dan melati akan semakin sepi pengunjung, souvenir dan makanan
tidak ada pembeli. Dalam upaya menyikapi kondisi tersebut maka perlu menggarap pasar lokal
semaksimal mungkin. Untuk itu diperlukan strategi pemasaran yang tepat, dalam upaya
peningkatan pendapatan Bukit Lawang Ecolodge yang berada dilokasi pariwisata Bukit Lawang.
         Dengan demikian hipotesis yang diajukan adalah bahwa setrategi pemasaran mempunyai
hubungan yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan dan strategi pemasaran yang
dilakukan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dalam upaya
peningkatan pendapatan belum optimal.
         Strategi pemasaran Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) yang
terdiri dari empat unsur, yaitu produc, price, place, promotion (marketing mix) belum optimal
dijalankan. Produk unggulannya saat ini penyewaan kamar dengan target pasar lokal maupun
manca negara. Dalam upaya meningkatkan pendapatan Bukit Lawang Ecolodge maka Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok mengadopsi hotel manajemen sistem dan gencar
melakukan terobosan pemasaran dengan mengoptimalkan bauran pemasaran.

Kata Kunci : Strategi Pemasaran, Pendapatan, Pusat pendidikan Lingkungan Hidup

                                               Abstract
         The impact of the tragedy of October 12, 2002 Bali bombings that killed hundreds of
foreign tourists is a very heavy blow to the ranks of world tourism in the country. Nobody wants
the event, although the bomb explosions can occur everywhere in the country and abroad. Bali
tragedy would make the tourism industry in Indonesia slumped. Tourists will not come again to
Indonesia so that the star-rated hotels and jasmine will be more quiet visitors, souvenirs and food
no buyers. In an effort to address these conditions it is necessary to work on local markets as
closely as possible. For it is necessary and appropriate marketing strategies, in an effort to increase
revenue Ecolodge Bukit Lawang is located in the location of Bukit Lawang tourism.
         Thus the hypothesis is that setrategy marketing has a significant relationship to increasing
incomes and marketing strategies undertaken Bohorok Environmental Education Center (PPLH
Bohorok) in an effort to increase revenue is not optimal.
         Marketing strategy Bohorok Environmental Education Center (PPLH Bohorok)
consisting of four elements, namely Productions, price, place, promotion (marketing mix) is not
optimally implemented. Competitive products currently renting a room with a target of local and
overseas markets. In an effort to increase the incomes of Bukit Lawang Ecolodge the Center for
Environmental Education to adopt Bohorok hotel management and incentive system to make a
breakthrough marketing by optimizing the marketing mix.

Keywords: Marketing Strategy, Revenue, Centre for Environment Education
                                                                                2




                               PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

         Bukit Lawang telah lama dikenal sebagai daerah kunjungan wisata, baik
oleh kalangan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Bukit
Lawang terletak di desa Bukit Lawang, kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat.
Bukit Lawang merupakan salah satu pintu masuk kawasan Taman Nasional
Gunung Leuser (TNGL). Potensi wisata yang menjadi daya tariknya antara lain
Orangutan, panorama yang indah, hutan alam yang asri yang sangat menarik buat
wisman untuk melakukan trekking, rafting, caving dan lain-lain kegiatan wisata
yang berbasis kepada alam bebas. Selain itu, berbagai jenis flora dan fauna yang
diantaranya tergolong langka, merupakan daya tarik tersendiri untuk menunjang
kegiatan wisata, khususnya ekowisata.
         Berkat potensi di atas, saat ini Bukit Lawang telah menjadi kawasan
wisata yang terkenal sampai keluar negeri. Beberapa fasilitas akomodasi
berkembang pesat disini terutama sebelum terjadinya krisis ekonomi. Keberadaan
fasilitas akomodasi ini mutlak diperlukan untuk menampung para turis.
Disamping itu, masyarakat sekitar yang sudah terbiasa bergaul dengan para
wisatawan dan terlibat langsung dalam kegiatan wisata merupakan kekuatan lain
yang sangat menunjang kegiatan wisata. Beberapa contoh keterlibatan masyarakat
tersebut antara lain adalah sebagai pemandu wisata, asisten (baca porter),
pedagang souvenir, pedagang makanan, karyawan hotel, dan lain-lain.
         Dunia bisnis perhotelan di Bukit Lawang juga berkembang seiring dengan
meningkatnya jumlah kunjungan baik lokal maupun mancanegara. Tamu-tamu
lokal pada umumnya berlibur diakhir pekan, mereka tinggal untuk satu sampai
dua hari. Keberadaan tamu lokal yang datang pada akhir pekan membuat kondisi
objek wisata Bukit Lawang terus hidup. Dilihat dari motifasi kunjungan tamu,
baik lokal maupun manca negara pada umumnya ingin menikmati keasrian alam.
Oleh karena itu, orientasi bisnis perhotelan harus menyesuaikan diri dengan selera
konsumen yang menikmati wisata alam. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
Bohorok (PPLH Bohorok) melalui devisi usaha dengan nama Bukit Lawang
Ecolodge mencoba menawarkan jasa penginapan/hunian yang sedikit berbeda
dengan bisnis penginapan lainnya. Letak perbedaanya ada pada pola pelayanan
dan fasilitas yang ada.
         Sampai saat ini ada tiga penginapan yang cukup besar di Bukit Lawang
yaitu Rindu Alam Hotel, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH
Bohorok) dengan devisi usaha Bukit Lawang Ecolodge, Sibayak Hotel. Ketiga
penginapan tersebut masih dalam katagori jenis melati satu. Informasi data
laporan keuangan Bukit Lawang Ecolodge adalah sebagai berikut; Pada tahun
1999 mengalami devisit sebesar Rp.152.073, pada tahun 2000 mengalami devisit
sebesar Rp.59.437.606 dan pada tahun 2001 mengalami surplus Rp.37.814.958.
Proyeksi manajemen Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH Bohorok)
                                                                              3




kedepan melalui divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge adalah meningkatkan
kemampulabaan sebesar       25% dari laba tahun 2001 atau sama dengan
Rp.47.268.697.
    Dalam penelitian ini penulis fokuskan pada Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dalam usaha memasarkan Bukit Lawang
Ecolodge sebagai tempat penginapan/hunian yang ekologis, serta bagaimana
Bukit Lawang Ecolodge dapat bersaing kedepan dengan pebisnis jasa penginapan
lainnya. Oleh karena itu penulis akan menulis judul penelitian ini dengan judul
“Analisis Stategi Pemasaran Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Bukit
Lawang Ecolodge di Pusat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok “.

B. Perumusan Masalah
        Dari uraian diatas dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan diteliti
dari penelitian ini yakni:
1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran Bukit Lawang
    Ecolodge?.
2. Apa strategi pemasaran yang akan digunakan Pusat Pendidikan Lingkungan
    Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dalam memasarkan Bukit Lawang
    Ecolodge?.

C. Tujuan Penelitian.
        Sejalan dengan uraian pada latar belakang dan perumusan masalah, maka
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran Bukit Lawang
    Ecolodge.
2. Strategi pemasaran apa yang akan digunakan Bukit Lawang Ecolodge.

D. Manfaat Penelitian
       Setelah selesainya penelitian ini , diharapkan akan memberikan manfaat
kepada berbagai pihak, yaitu :
1. Manajemen Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok)
   Bukit Lawang Ecolodge dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
   pemasaran, bagaimana menyusun strategi pemasaran serta bagaimana
   mengimplementasikan strategi yang telah dirumuskan tersebut.
2. Sebagai bahan refrensi untuk melakukan penelitian lanjutan.

E. Kerangka Pemikiran.

   Ditengah situasi bisnis kepariwisataan yang sedang tidak menentu arah.
Semenjak terjadi “Bom Legian Bali” yang dilakukan oleh segelintir orang dengan
sekenario konsfirasi tingkat tingginya membuat gonjang ganjing sektor
kepariwisataan. Nampaknya sektor wisata akan semakin besar tantangannya
                                                                                4




menghadapi kondisi ini, jika tidak maka akan bertumbangan (baca; bangkrut)
pelaku-pelaku bisnis yang bergerak disektor ini.
    Berkaitan dengan tragedi Bali (12 Oktober 2002), Pasific Asia Travel
Assosiacition (PATA) telah memutuskan untuk membatalkan penyelenggaraan
“The First PATA Sustainable Tourism Converence” di Banten pada 23 s/d 26
Oktober 2002. Bersamaan dengan itu dikeluarkannya “travel advisory” dari
beberapa negara yaitu Australia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat dan beberapa
negara maju lainnya.
    Ditengah situasi yang tidak menentu tersebut, Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) yang nota bene nya adalah sebuah lembaga
lingkungan diharapkan mampu eksis dan mampu menjadi agen perubahan dalam
suatu komunitas masyarakat wisata Bukit Lawang. Dalam upaya menjalankan
roda organisasi maka Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok menggenjot
divisi Bukit Lawang Ecolodge untuk meningkatkan keuntungannya. Untuk itu
maka performance terus diperbaiki. Sebagaimana dinyatakan oleh Rangkuti
(1997) bahwa performance suatu organisasi atau perusahaan dipengaruhi oleh
faktor internal seperti kondisi keuangan perusahaan, sumber daya manusia,
kegiatan operational dan kegiatan pemasaran serta faktor eksternal seperti kondisi
pasar termasuk minat masyarakat , kompetitor, pendapatan masyarakat, kondisi
perekonomian international, regional, nasional dan lokal (daerah), pertumbuhan
sektor-sektor perekonomian didaerah, persaingan dengan lembaga yang lain dan
kebijakan pemerintah.
    Dalam upaya peningkatan pendapatan divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge,
maka diperlukan suatu strategi pemasaran yang tepat. Strategi pemasaran yang
dilakukan harus terdiri dari empat unsur, yaitu produk, target pasar,peningkatan
pelayan dan promosi. Peningkatan pendapatan yang diperoleh melalui divisi usaha
Bukit Lawang Ecolodge pada akhirnya memberikan manfaat kepada Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dan masyarakat Bukit
Lawang. Dengan demikian, maka sama-sama memperoleh manfaat hadirya Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok).

                                       Gambar 1.

                   Kerangka Pemikiran Strategi Pemasaran PPLH Bohorok.


                                      PPLH Bohorok



                                          Jasa PLH
                                       Jasa Perhotelan



                                     Strategi Pemasaran
                                                                            5




         Produk           Target Pasar            Pelayanan   Promosi




                                         Masyarakat



                                    Dana Terhimpun



F. Hipotesis
       Dugaan sementara yang diajukan dalam penelitian ini terdiri atas dua,
   yaitu :
1. Strategi pemasaran mempunyai hubungan yang erat dalam upaya peningkatan
   pendapatan Bukit Lawang Ecolodge.
2. Strategi pemasaran yang dilakukan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
   Bohorok (PPLH Bohorok) dalam upaya peningkatan pendapatan belum
   optimal.

                         METODE PENELITIAN

A. Jenis Metode Penelitian.

    Jenis penelitian studi kasus dengan metode deskriptif korelatif di Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH Bohorok) divisi usaha Bukit Lawang
Ecolodge. Penggunaan metode ini dengan tujuan untuk memperoleh
gambaran yang luas dan lengkap mengenai subjek yang diteliti. Penelitian
difokuskan pada manajemen dan strategi pemasaran yang digunakan.

B. Lokasi Penelitian.

   Lokasi penelitian adalah divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge di Pusat
pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dengan alamat Desa
Bukit Lawang, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

C. Teknik Pengumpulan Data.

   Instrumen pengambilan data atau teknik pengumpulan data dalam thesis
nantinya menggunakan :
   a. Observasi (pengamatan langsung).
       Dilakukan secara langsung pada objek penelitian untuk memperoleh data-
       data atau informasi tentang Bukit Lawang Ecolodge.
                                                                               6




    b. Interview (Wawancara).
       Berisi tentang tanya jawab dengan personal-personal manajemn Pusat
       Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) khususnya
       divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge.
    c. Review kepustakaan (artikel review).
    Kegiatan dilakukan dengan membahas beberapa artikel yang berkaitan
langsung dengan operasional Ecolodge Bukit Lawang, buku-buku teks, majalah
ilmiah, jurnal, serta sumber lainnya yang ada hubungannya dengan isi
pembahasan.

D. Operasionalisasi Variabel.

      Agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran variabel dalam penelitian,
maka dibuat operasionalisasi variabel berikut:
1. Independen variabel (variabel x) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan Pusat
   Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dalam
   operasionalnya, yaitu biaya pemasaran dan total biaya yang dikeluarkan.
   a. Biaya pemasaran, yaitu jumlah biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
      perusahaan dalam satu tahun operasi yang ditunjukan dalam rangka
      penghimpunan dana, dihitung dalam satuan rupiah.
   b. Total buaya, yaitu jumlah seluruh biaya operasional yang dikeluarkan oleh
      Bukit Lawang Ecolodge , dihitung dalam satuan rupiah
2. Dependen variabel (variabel y) adalah peningkatan penghimpunan dana, yaitu
   perbedaan atau selisih jumlah dana yang dihimpun pada tahun tertentu dengan
   jumlah dana yang terhimpun pada tahun sebelumnya.

E. Teknik Analisis Data.

       Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :
       1. Analisis SWOT
          Metode analisis ini untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan
          perusahaan serta peluang dan ancaman yang dialami perusahaan,
          dilakukan melalui analisis matrik SWOT. Ilustrasi singkat matrik
          SWOT adalah sebagai berikut :
                                        Gambar 2.
                                       Matrix SWOT
                           IFE
                                          Strength (S)         Weaknesess (W)
          EFE

              Opportunities (O)           Strategi SO            Strategi WO

                 Treaths (T)                                     Strategi WT
                                          Strategi ST
                                                                               7




          Berdasarkan matrik SWOT tersebut akan diketahui strategi pemasaran
          yang paling menguntungkan perusahaan .
       2. Analisis korelasi
          Analisis korelasi ini digunakan untuk mengetahui hubungan masing-
          masing variabel dengan analisis korelasi Pearson. Sedangkan data-
          data yang di analisis adalah data pengeluaran biaya, termasuk biaya
          pemasaran didalamnya. Guna memudahkan prosses analisis maka
          menggunakan perangkat lunak komputer yaitu software SPSS versi 10.


                        HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Strategi Pemasaran.
     1. Produk.
         Produk yang dijual oleh Bukit Lawang Ecolodge adalah jasa penginapan
dengan menyewakan kamar-kamar layaknya seperti hotel pada umumnya. Ada
beberapa jenis type kamar yang disewakan berupa kamar ekonomi, standar room,
kamar vip.
     2. Kebijakan Promosi Bukit Lawang Ecolodge.
         Promosi merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan atau
memberitahukan kepada konsumen produk yang ditawarkan, sehingga konsumen
tertarik dan mau membeli produk yang diperkenalkan tersebut. Berbeda dengan
barang pemasaran produk karena ini pelayan jasa maka barang tidak berwujud .
Akan berwujud pada saat digunakan jasa tersebut.
         Kebijakan promosi yang dilakukan oleh Bukit Lawang Ecolodge belum
terpola dengan baik. Maksudnya tidak menerapkan program bauran promosi, yaitu
penggabungan secara simultan unsur-unsur promosi, yakni periklanan
(advertising), promosi penjualan (sales promotion), publisitas dan penjualan
perorangan (personal selling). Kalaupun ada kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan
secara situasional/temporer.

       a. Periklanan (Advertising).
               Periklanan merupakan alat promosi yang digunakan oleh setiap
       perusahaan untuk memperkenalkan barang/jassa kepada konsumen secara
       tidak langsung. Periklanan yang dilakukan Bukit Lawang Ecolodge terdiri
       dari dua media yaitu :
               1) Periklanan melalui media massa.
                   Periklanan melalui media masa yang digunakan pada umumnya
                   adalah melalui media cetak lokal seperti surat kabar dan
                   majalah.
               2) Periklanan melalui media terbatas.
                                                                         8




          Dalam hal ini periklanan dilakukan dengan menggunakan
          media-media terbatas seperti pencetakan agenda, kalender dan
          sebagainya.
       Pemasangan iklan tersebut belum dilakukan secara bergantian
dengan frekwensi pemasangan yang teratur. Hal ini disebabkan sangat
tergantung dengan situasi dan kondisi pasar serta posisi keuangan
perusahaan.

b. Promosi Penjualan
        Promosi ini dilakukan untuk merangsang konsumen agar tertarik
untuk melakukan pembelian. Kegiatan dilakukan melalui promosi
penjualan adalah berupa pameran-pameran dan juga brosur. Bentuk lain
sales promotion yang dilakukan perusahaan untuk dapat mendorong agar
target market dapat dicapai dengan baik adalah melalui after sales service
yaitu setelah pembeli menjadi penyewa kamar selama hari tersebut. Bukit
Lawang Ecolodge selalu memperhatikan dan melayani keluhan-keluhan
yang timbul. Sehingga dengan demikian pengguna jasa penginapan merasa
terpuaskan, dan menjadi promosi secara tidak langsung kepada calon
konsumen yang baru. Bukit Lawang Ecolodge berusaha untuk
menimbulkan kepercayaan dan kesan yang baik dari konsumennya.

c. Publisitas
        Publisistas adalah bentuk penyajian dan penyebaran ide, barang
dan jasa secara non personal, yang mana orang atau organisasi yang
diuntungkan tidak membayar             untuk itu. Publisistas merupakan
pemanfaatan nilai-nilai berita yang terkandung dalam suatu produk untuk
membentuk citra produk yang bersangkutan. Dibandingkan dengan iklan
publisitas mempunyai kredibilitas yang lebih baik, karena pembenaran
(baik langsung maupun tidak langsung) dilakukan oleh pihak lain selai
pemilik iklan. Disamping itu karena pesan publisitas dimasukan kedalam
berita atau artikel koran, tabloid, majalah radio, dan televisi, maka
khalayak tidak memandangnya sebagai komunikasi promosi. Dalam
publisitas memberi informasi yang lebih banyak dan terperinci dari pada
iklan. Namun demikian karena tidak ada perjanjian dengan antara pihak
yang diuntungkan dan pihak penyaji,maka pihak yang diuntungkan tidak
dapat mengatur kapan publisitas ini akan disajikan atau bagaimana
publisitas itu disajikan. Selain itu publisitas tidak mungkin diulang-ulang
seperti iklan.

d. Personal selling.
       Kegiatan personal selling dilakukan oleh Bukit Lawang Ecolodge
dengan mengadakan kontak/hubungan langsung dengan konsumen,
                                                                                             9




         sehingga ada komunikasi dua arah yang secara langsung dapat melihat dan
         mengetahui situasi dan reaksi dari pembeli. Tanggapan yang timbul dari
         konsumen berbeda-beda mulai dari negatif (mengetahui), effektif
         (terpengaruh) ataupun behavioral (tindakan).

B. Perkembangan Pendapatan Bukit Lawang Ecolodge

     Mengenai informasi perkembangan perolehan pendapatan Bukit Lawang
     Ecolodge adalah sebagai berikut :
                                                Tabel.1

               LAPORAN PENDAPATAN BUKIT LAWANG ECOLODGE
        UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PER 31 DESEMBER 1999,2000 DAN 2001

                                                                     TAHUN
               PENDAPATAN USAHA
No                                                  1999               2000            2001
 1                     Kamar                     45,729,400        218,081,000    240,362,500
 2                   Restauran                   79,903,050        351,726,025    393,852,575
 3                    Lain-lain                   1.500.000          1,951,325     19,642,490
 4                    Program                     1,742,950         10,148,550     31,191,500
                       Jumlah                   128,875,400        581,906,900    685,049,065
Sumber: Hasil Laporan Audit untuk Bukit Lawang Ecolodge, 2002

      Berdasarkan data tersebut diatas, untuk tahun 1999 manajemen PPLH
Bohorok baru memulai pada bulan September. Besarnya volume pendapatan
mengalami peningkatan secara keseluruhan untuk tahun 2000 dan tahun 2001.
      Perkembangan pendapatan berdasarkan sumber pendapatan Bukit Lawang
Ecolodge dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

                                    Tabel.2
                  Perkembangan Pendapatan Bukit Lawang Ecolodge

                                      Jenis Sumber Pendapatan
 THN            Kamar              Restauran               Lain-lain            Program          Jumlah
              Rp         %         Rp           %         Rp          %        Rp        %
 1999    45.729.400     35,5 79.903.050        62,0 1.500.000        1,2   1.742.950   1,4       128.875.400
 2000    218.081.000 37,5 351.726.025 60,4 1.951.325                 0,3   10.148.550 1,7        581.906.900
 2001    240.362.500 35,1 393.852.575 57,5 19.642.490 2,9                  31.191.500 4,5        685.049.065
Sumber : Pengolahan data Pendapatan Bukit Lawang Ecolodge.2002
Keterangan : Persen menunjukan persentase terhadap total pendapatan

        Berdasarkan tabel 2, diketahui secara keseluruhan pendapatan yang
berhasil di himpun sebagian besar berasal dari penyewaan kamar dan penjualan di
restauran. Selanjutnya perkembangan total pendapatan yang dihasilkan oleh Bukit
Lawang Ecolodge dapat dilihat dalam tabel berikut.
                                                                                         10




                                      Tabel.3
                            Perkembangan Total Pendapatan

                                                                Peningkatan
     Tahun              Pendapatan
                                                       Rp.                        %
      1999             128.875.400
      2000             581.906.900                 453.031.500                   351,5
      2001             685.049.065                 103.142.165                    17,7
Sumber : Pengolahan data Pendapatan Bukit Lawang Ecolodge.2002
Keterangan : Persen menunjukan persentase terhadap total pendapatan

       Berdasarkan tabel 3, diatas diketahui bahwa terjadi peningkatan
pendapatan yang sangat besar sekali untuk periode tahun 1999 ke periode tahun
2000. Hal ini disebabkan ditahun 1999 Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
Bohorok baru memulai kegiatannya di bulan September. Untuk periode tahun
2000 ke periode tahun 2001 terjadi peningkatan pendapatan usaha sebesar
Rp.103.142.165. Untuk mengetahui hubungan strategi pemasaran dengan
peningkatan pendapatan yang terhimpun dilakukan dengan metode korelasi
product moment dari pearson. Komponen strategi pemasaran yang disertakan
dalam analisa adalah biaya pemasaran dan total biaya pengeluaran yang
dihubungkan dengan peningkatan pendapatan.

                                    Tabel 4.
      Biaya operational dan peningkatan pendapatan Bukit Lawang Ecolodge

       Tahun     Biaya Pemasaran          Biaya Operasi         Peningkatan Pendapatan
                       (x1)                    (x2)                       (y)
       1999          737.500               127.527.473
       2000         6.419.295              641.344.506               453.031.500
       2001         5.078.120              648.497.324               103.142.165
    Sumber : Pengolahan data Pendapatan Bukit Lawang Ecolodge.2002.

       Untuk mengetahui hubungan antara biaya pemasaran, total pengeluaran
biaya hubungannya dengan peningkatan pendapatan Bukit Lawang Ecolodge
dilakukan dengan perhitungan korelasi pearson. Disebut korelasi pearson karena
didasarkan pada nama penemunya yaitu Karl Pearson. Korelasi ini digunakan
untuk mengetahui hubungan dari beberapa variabel. Berikut hasil perhitungan
dengan metode korelasi produk moment dari pearson.

                                       Tabel 5.
                    Analisa korelasi produk moment dari pearson.

                                                   B.Pemasaran        T.B.Operasi P.Pendapatan
Biaya Pemasaran             Pearson Correlation       1.000               .971        .825
                              Sig. (2-tailed)            .                .153        .382
                                     N                   3                  3           3
Total Biaya Operasi         Pearson Correlation        .971              1.000        .667
                              Sig. (2-tailed)          .153                 .         .535
                                     N                   3                  3           3
                                                                                11




Peningkatan Pendapatan Pearson Correlation            .825          .667     1.000
                              Sig. (2-tailed)         .382          .535        .
                                     N                  3             3        3
Sumber : Pengolahan data Pendapatan Bukit Lawang Ecolodge dengan SPSS.10.

        Nilai korelasi pearson untuk biaya pemasaran dengan total biaya
operasional Bukit Lawang Ecolodge sebesar 0,971. Korelasi biaya pemasaran
dengan peningkatan pendapatan sebesar 0,825. Nilai korelasi pearson untuk total
biaya operasi dengan peningkatan pendapatan sebesar 0,667. Dilihat dari hasil
analisis metode korelasi produk moment dari pearson, nilai r (rho) lebih besar
dari 0, artinya telah terjadi hubungan yang linier positif. Hubungan linier positif
adalah makin besar nilai variabel x (independen) maka, makin besar pula nilai
variabel y (dependen) atau sebaliknya.

C. Pembahasan Strategi Dengan Metode SWOT.

    Dalam proses pembahasan strategi dengan metode SWOT dimulai dengan
mengexplorasi faktor-faktor eksternal dan internal yang ada di Pusat Pendidikan
Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) termasuk divisi Bukit Lawang
Ecolodge. Informasi tersebut didapatkan dari review surat kabar dan interview
secara langsung para manajer dan direktur. Setelah masing-masing faktor
teridentifikasi dengan baik maka dilanjutkan dengan menyusun tabel matrik EFE
dan IFE. Proses berikutnya adalah menganalisa faktor-faktor tersebut dengan
metode SWOT hingga melahirkan beberapa alternatif strategi. Alternatif strategi
yang akan muncul adalah berupa strategi SO, strategi WO, strategi ST, strategi
WT. Setelah alternatif strategi berhasil dirumuskan maka melakukan pemilihan
alternatif yang tepat.

   1. Analisis Eksternal.
   Analisa eksternal akan dilihat dari beberapa faktor yang sangat berpengaruh,
yakni faktor ekonomi, sosial, politik, teknologi dan demografi.

    a. Faktor Ekonomi.
        Indikator ekonomi nasional, (Kompas 30/8/2002) Surabaya, Menteri
    Keuangan (Menkeu) Boedino menegaskan, pada tahun 2001 perbandingan
    antara utang dan Produk Domestik Bruto (PDB) masih sebesar 95 persen.
    Sekarang perbandingan itu turun menjadi 80 persen karena membaiknya
    indikator ekonomi, seperti terjadinya penurunan angka inflasi, turunnya suku
    bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan terjadinya penguatan kurs rupiah
    dalam kurun waktu yang lama. Demikian diungkapkan Menkeu Boediono
    dalam seminar mengenai tantangan kebijakan fiskal jangka menengah, di
    Surabaya, Sabtu (31/8). Seminar antara lain menampilkan Ketua Panitia
                                                                           12




Anggaran DPR Abdullah Zaini, pengamat ekonomi dari LPEM FE UI Moch
Ikhsan, Moh Chatib Basri, dan Dekan FE Unibraw Harry Susanto.

b. Faktor Sosial.
    Konflik horizontal di daerah pada tahun 1998 telah berlalu. Kondisi resesi
ekonomi yang menyebabkan laju inflasi terus berlanjut menyebabkan harga-
haraga barang naik, sementara kemampuan daya beli masyarakat menurun.
Recoveri ekonomi terus dilakukan oleh pemerintah untuk menekan infalsi
yang sedang terjadi.

c. Faktor Politik.
     Paska sidang istimewa tahunan, yang berakhir dengan pelengseran
persiden Abdul Rahman Wahid dan naiknya Megawati sebagai persiden untuk
menggantikannya sedikit memberi angin segar pada rakyat. Perubahan kabinet
dilakukan untuk memudahkan lancarnya roda pemerintahan negara republik
Indonesia. Pola stabilitas dan persatuan yang menjadi pegangan utama pada
era kepemerintahannya, membuat banyak pakar menilai bahwa pemerintahan
sekarang sama dengan perintahan dahulu era orde baru.
     Undang-undang mengenai otonomi daerah No.22/1999 dan No.25/1999
terus dicermati dan dievaluasi. Ada kesan keenganan pemerintah pusat dalam
merealisasikan undang-undang ini. Ide dasar undang-undang otonomi daerah
adalah adanya perimbangan keuangan antara daerah dan pusat.
     Sidang tahunan 2002, menghasilkan satu keputusan yang strategis bagi
sistem keperintahan negara republik Indonesia pada masa depan dengan
disetujuinya pemilihan persiden secara langsung oleh rakyat. Seiring dengan
itu, lahirnya partai-partai baru terus bermunculan. Agaknya harus diimbangi
dengan pendidikan politik rakyat. Sehingga pada tahun 2004 diharapkan
rakyat tidak di jadikan bola yang ditendang kesana kemari untuk kepentingan
elit politik.

d. Faktor Teknologi.
    Era teknologi sudah melanda seluruh negara di dunia, terutama para
negara maju. Perubahan teknologi informasi sangat cepat sekali. Melalui
perkembangan teknologi informasi, banyak sekali terjadi perubahan dalam
dunia bisnis. Perubahan tersebut mengarah kepercepatan akses informasi dan
pelayanan. Sektor TI dorong pertumbuhan ekonomi (kompas, senin 07/10/02)
Dalam survei yang dilakukan oleh Sallstrom Consulting, ditemukan
fakta bahwa sektor TI sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sebuah
negara secara menyeluruh. Dalam beberapa tahun terakhir, peran teknologi
informasi (TI) dalam mendukung roda bisnis perusahaan sudah tidak
diragukan lagi.
                                                                         13




    Untuk mempercepat pertumbuhan dalam sektor TI dan pertumbuhan
ekonomi secara menyeluruh, Sallstrom merekomendasikan kebijakan yang
ditargetkan untuk meningkatkan pertumbuhan layanan TI dan piranti lunak.
Kebijakan tersebut mencakup promosi kebijakan investasi umum yang
menargetkan sektor TI, pengeluaran untuk industri layanan TI dan piranti
lunak serta membangun infrastruktur hukum untuk dunia online.

e. Hukum dan Peraturan.
   Peraturan UU No 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup
sudah cukup jelas mengatur bagaimana lingkungan hidup dikelola sehingga
bermanfaat secara berkelanjutan (sustainable). Undang-undang No 9 Tahun
1990 tentang kepariwisataan serta Undang-undang untuk objek wisata cagar
budaya diatur dalam suatu UU No 5 Tahun 1992.
   Ketiga peraturan perundangan tersebut memberikan arah secara jelas
bagaimaa suatu daerah objek wisata dikelola dengan baik. Permasalahan yang
timbul seringkali para pengembang daerah wisata mengabaikan atauran main
yang digariskan dalam undang-undang tersebut.

f. Demografi.
    Pusat pendidikan lingkungan hidup Bohorok berlokasi di Desa Bukit
Lawang, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara.
Jarak dari ibukota Propinsi yaitu Medan 88 km dan jarak dari Kotamadya
Binjai 65 km. Area PPLH keseluruhan adalah  6 Ha dan secara administrasi
wilayah PPLH dibatasi:

Sebelah Utara     :      Desa Sei Musam Kendit
Sebelah Timur     :      Desa Perk Sei Musam
Sebelah Selatan   :      Desa Sampe Raya
Sebelah Barat     :      Desa Sampe Raya

    Desa Bukit Lawang terletak pada ketinggian 100 – 500 m di atas
permukaan laut dengan kemiringan lahan 40%. Wilayah ini memiliki iklim
tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2500 – 3000 mm/th dengan rata-rata
14 hari hujan/bulan. (Data berdasarkan Laporan survei IAI Sumatera Utara,
Juli 1999). Desa Bukit Lawang berbatasan langsung dengan kawasan
bufferzone Taman Nasional Gunung Leuser (BTNGL). Sampai saat ini, Bukit
Lawang merupakan tujuan akhir, maksudnya tidak ada jalan lain yang
menghubungkan Bukit Lawang.

g. Lingkungan bisnis dan operasi
    Pemerintah mencanangkan tahun 2002 sebagai tahun ekowisata
(ecoturism), keputusan itu diambil seusai rapat koordinasi (Rakor)
                                                                        14




perekonomian yang memfokuskan kepada perkembangan sektor pariwisata
Indonesia.
    "World Tourism Organization (WTO) telah mencanangkan tahun 2002
sebagai tahun internasional Ekowisata, dan konperensi puncak ekowisata
dunia akan diselenggarakan pada bulan Mei 2002 di Kanada," ujar Mahendra
Siregar, staf ahli Menko Perekonomian, di Jakarta, Rabu (13/2).
    Pemerintah telah memanfaatkan pencanangan WTO sebagai momentum
bagi pengembangan ekowisata karena Indonesia memiliki kekayaan alam dan
budaya yang beragam, sekaligus dapat menarik wisatawan mancanegara
berkunjung ke Indonesia.
    Tujuan yang diminati oleh wisatawan ekowisata adalah daerah alami
seperti kawasan konservasi berupa taman nasional, cagar alam, suaka
margasatwa, baik yang berada di kawasan perairan maupun di daratan.
Kawasan hutan, taman laut, sungai, danau, rawa, gambut di daerah hulu atau
muara sungai dapat pula dijadikan destinasi untuk kegiatan ekowisata.
    Mengingat keterbatasan dana promosi tahun 2002 maka Rakor
menyepakati penetapan prioritas dan fokus kepada pengembangan-
pengembangan daerah-daerah tujuan wisata utama yang tidak terlalu jauh
aksesnya dari Bandara, pelabuhan laut dan prasarana transportasi lainnya.
    Dalam Rakor itu terungkap jumlah Wisman ke Indonesia tahun 2001
adalah 5,2 juta, lebih rendah dari target 5,4 juta. Namun perolehan devisa
mencapai 5,4 milyar dollar AS, lebih besar dari target sebesar 5,3 milyar
dollar AS. (Kompas, minggu 6/10/02)

h. Peluang (opportunities)
   Dari beberapa aspek ekternal tersebut diatas, ada beberapa poin penting
yang dapat dijadikan peluang bagi Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
Bohorok (PPLH Bohorok) yaitu :
   1. Trend pertumbuhan wisata ekologis yang cenderung meningkat seiring
       meningkatnya kesadarana masyarakat tentang arti pentingnya
       lingkungan hidup.
   2. Pencanangan oleh WTO pada tahun 2002 sebagai tahun ekowisata.
   3. Pengembangan objek wisata Bukit Lawang menjadi daerah tujuan
       ekowisata.
   4. Dukungan dari pemerintah daerah, sehubungan dengan otonomi daerah
   5. Pertumbuhan piranti lunak teknologi informasi yang pesat.

i. Ancaman (threats)
   Tinjauan analisa eksternal tersebut diatas , juga menghasilkan beberapa
point yang dapat dijadikan ancaman bagi Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
Bohorok (PPLH Bohorok) adalah :
1. Kondisi politik paska pemilu 2004 yang tidak menentu.
                                                                                           15




      2.   Kompetitor yang mempunyai modal besar.
      3.   Perpindahan karyawan yang profesional.
      4.   Kerusakan hutan sekitar objek wisata.
      5.   Fasilitas jalan yang rusak.

                                           Tabel.6
                              Matrix Eksternal Faktor Evaluation

 No                                                                    Bobot   Rating   Nilai
           Variabel Eksternal
           Peluang
           Trend pertumbuhan wisata ekologis yang cenderung
  1        meningkat seiring meningkatnya kesadarana masyarakat         0.3       2       0.6
           tentang arti pentingnya lingkungan hidup.
           Pencanangan oleh WTO pada tahun 2002 sebagai tahun
  2                                                                     0.2       2       0.4
           ekowisata.
           Pengembangan objek wisata Bukit Lawang menjadi daerah
  3                                                                     0.2       2       0.4
           tujuan ekowisata.
           Dukungan dari pemerintah daerah, sehubungan dengan
  4                                                                     0.1       1       0.1
           otonomi daerah
  5        Pertumbuhan piranti lunak teknologi informasi yang pesat.    0.2       2       0.4
                                                                                          1.9
           Jumlah

           Ancaman
  1        Kondisi politik paska pemilu 2004 yang tidak menentu.        0.2       2       0.4
  2        Kompetitor yang mempunyai modal besar.                       0.2       2       0.4
  3        Perpindahan karyawan yang profesional.                       0.1       2       0.2
  4        Kerusakan hutan sekitar objek wisata.                        0.2       3       0,6
  5        Fasilitas jalan yang rusak.                                  0.3       3       0.9
                                                                                          2,5
       Jumlah
       Total Internal Faktor Evaluation (IFE)                                             4,4
Sumber: Pengolahan data faktor-faktor eksternal,2002

       Total nilai internal faktor evaluation berjumlah 4,4 menunjukan bahwa
PPLH Bohorok dapat dikatakan relatif kuat dengan kondisi perkembangan
dilingkungan usaha. Hanya sangat rentan dengan ancaman-ancaman yang
mengintai dari luar. Terutama fasilias jalan masuk ke Bukit Lawang sangat besar
sekalinya pengaruhnya dengan jumlah tingkat kunjungan tamu.

   2. Analisis Internal.
       Analisa internal akan menguraikan kekuatan dan kelemahan Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) beserta divisi usaha
Bukit Lawang Ecolodge.

      a.   Kekuatan (strengths).
      1.   Hubungan baik dengan Paneco sebagai funding utama.
      2.   Image Bukit Lawang Ecolodge sebagai penginapan ekologis.
      3.   Penggunaan Hotel Management Sistem.
                                                                           16




4. Berada ditepi sungai Bohorok
5. Merupakan anggota JPL dan anggota Walhi.

b. Kelemahan (weaknesess)
1. Dana investasi terbatas.
    Sehubungan dengan rencana pembangunan Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup Bohorok (PPLH bohorok), memerlukan investasi. Hingga saat ini dana
investasi tersebut belum mencukupi untuk membangunan secara keseluruhan.

2. Pemahaman visi dan misi organisasi masih rendah.
    Untuk membangun spirit organisasi perlu dipahami secara benar
keberadan visi dan misi organisasi. Maka diperlukan upaya in house training
secara terus menerus kepada seluruh personal Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup Bohorok.

3. Kemampuan divisi Bukit Lawang Ecolodge dan pengembangan program
masih rendah.
    Program perencanaan pemasaran belum disetting dengan baik, hal ini bisa
dilihat dari tidak adanya tenaga pemasaran yang secara khusus. Kemapuan
manajemen masih terbatas dalam pembayaran gaji, sehingga belum mampu
untuk mengikuti peraturan pemerintah daerah. Dilihat dari tabulasi
sumberdaya manusia, masih kurang tenaga profesional yang memanage Bukit
Lawang Ecolodge.
    Untuk divisi pengembanagn program komposisi sumberdaya manusia
hanya berjumlah empat orang, masih sangat kurang untuk mengoprasionalkan
divisi pengembangan program. Hal tersebut dikarenakan banyak kegiatan
seperti; pengembangan masyarakat, pendidikan lingkugan disekolah dan
pertanian organik serta beberapa kegiatan internal berupa paket-paket program
yang belum juga dapat dipasarkan.

3. Divisi ekoarsitektur belum berjalan.
   Walaupun secara keseluruhan master plan dan rancang bangun sudah ada
namun proses pembangunan belum dapat dilaksanakan karena posisi
konsultan dan manajer teknik belum ada dan proses pemilihan bahan baku dan
pengawetan bahan baku yang memerlukan perlakuan khusus.

4. Fasilitas pendukung masih kurang.
    Baik fasilitas divisi Bukit lawang Ecolodge maupun fasilitas divisi
pengembangan program masih sangat kurang. Untuk divisi Bukit Lawang
Ecolodge fasilitas yang masih harus dilengkapi/diperbaiki adalah; room call,
kapasitas genset, interior kamar, fasilitas parkir, ruang seminar/aula, asrama
siswa, dapur dan restoran. Sedangkan untuk divisi pengembangan program
                                                                                  17




      yang harus diadakan/dilengkapi adalah pembangunan kantor dan fasilitas
      perpustakaan termasuk buku-buku perpustakaan, media contoh-contohan
      pendidikan lingkungan hidup, media elektonik. Disamping itu lokasi PPLH
      Bohorok yang tidak dipagar sehingga menjadi daerah lintasan pengangkutan
      hasil kebun karet, hal ini menyulitkan proses keamanan dan pengangkutan
      tersbut menghasilkan aroma yang tidak nyaman bagi penghuni ecolodge.

                                             Tabel.7
                                Matrix Internal Faktor Evaluation

 No                          Variabel Internal                 Bobot   Rating   Nilai
        Kekuatan
  1     Hubungan baik dengan Paneco sebagai funding utama.      0.4      4      1.6
        Image Bukit Lawang Ecolodge sebagai penginapan yang
  2                                                             0.1      2      0,2
        ekologis
  3     Penggunaan Hotel Manajemen Sistem                       0.3      3      0.9
  4     Lokasi berada ditepi sungai Bohorok                     0.2      3      0.6
        Merupakan anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan dan
  5                                                             0.2      2      0.4
        Wahana lingkungan hidup
                                                                                3,7
        Jumlah

        Kelemahan
  1     Dana investasi terbatas.                                0.2      3      0.6
  2     Pemahaman visi dan misi organisasi masih rendah.        0.3      3      0.9
        Kemampuan divisi Bukit Lawang Ecolodge dan
  3                                                             0.4      2      0.8
        pengembangan program masih rendah
  4     Divisi ekoarsitektur belum berjalan                     0.3      2      0.6
  5     Fasilitas pendukung masih kurang                        0.2      3      0.6
                                                                                3.6
        Jumlah
                                                                                7.3
      Total Internal Faktor Evaluation (EFE)
Sumber: Pengolahan data faktor-faktor internal,2002.

        Nilai total internal faktor evaluation sebesar 7,3 berarti PPLH Bohorok
masih cukup kuat dalam menghadapi dinamika organisasi yang berkembang
dalam lingkungan. Permasalahan yang sangat mendasar dan menjadi titik
kelemahan utama adalah kemampuan sumberdaya manusianya yang belum
profesional.
3. Matrix Analisa SWOT.
    Setelah matrik analisa lingkungan eksternal dan matrik analisa lingkungan
internal telah dapat disusun maka selanjutnya adalah membuat matrik swot.
Dengan swot matrik ini akan menghasilkan beberapa pilihan alternatif strategi.
Penyusunan matrix swot nya.
                                                                                                      18




                                             Tabel.8
                                           Matrix SWOT

     Intenal Faktor Evaluation                Strength (kekuatan)                Weakness (kelemahan)
                                      1. Hubungan Baik dengan Paneco       1.Dana investasi terbatas.
                                         sebagai funding utama.            2.Pemahaman visi dan misi
                                      2. Image Bukit Lawang Ecolodge         organisasi masih rendah.
                                         sebagai penginapan yang           3.Kemampuan divisi Bukit Lawang
                                         ekologis.                           Ecolodge dan pengembangan
                                      3. Penggunaan hotel managemen          program masih rendah.
                                         sistem.                           4.Divisi ekoarsitektur belum
                                      4. Lokasi berada ditepi sungai         berjalan.
                                         Bohorok.                          5.Fasilitas pendudukang masih
                                      5. Merupakan anggota jaringan          kurang.
                                         pendidikan lingkungan hidup dan
                                         Wahana lingkungan hidup.
External Faktor Evaluation
Opportunities (peluang)              SO Strategies (menggunakan            WO        Strategies     (menutupi
1.Trend pertumbuhan wisata           kekuatan     utk     memanfaatkan     kelemahan         dengan       cara
  ekologisyang cenderung             peluang).                             memanfaatkan peluang).
  meningkat.                          1. Melalui Paneco, melakukan         1. Melakukan             penajaman
2.Pencanangan oleh WTO pada              kampanye pemasaran di eropha.         pemahaman       tentang konsep
  tahun 2002 sebagai tahun            2. Gencar melakukan bauran               ekowisata.
  ekowisata.                             promosi di indonesia, sumatera    2. Peningkatan kemampuan SDM
3.Pengembangan objek wisata              utara khusunya.                       divisi pengembangan program
  Bukit Lawang menjadi daerah         3. Melakukan kemitraan dengan        3. Peningkatan kemampuan divisi
  tujuan ekowisata.                      institusi pemerintah tingkat I        Bukit Lawang Ecolodge.
4.Dukungan dari pemerintah               dan II Sumatera utara.            4. Memanfaatkan           dukungan
  daerah, sehubungan dengan           4. Melakukan pemasaran bersama           pemerintah     daerah     untuk
  otonomi daerah.                        antara penggiat wisata di Bukit       penguatan setiap divisi.
5.Pertumbuhan piranti lunak              Lawang.                           5. Strategi             pelaksanaan
  teknologi informasi yang pesat.     5. Melakukan pemasaran melalui           pembangunan disetting dengan
                                         web site, jaringan.                   bantuan TI.

Treath (ancaman)                     ST Strategies (menggunakan            WT Strategies ( memperkecil
1.Kondisi politik paska pemilu       kekuatan untuk mengurangi             kelemahan dan menghindari
  2004 yang tidak menentu.           ancaman).                             ancaman).
2.Kompetitor yang mempunyai          1. Pendidikan kedewasaan dalam        1. Pemanfaatan dana investasi
  modal besar.                          berpolitik untuk masyarakat.           seeffektif mungkin yang
3.Perpindahan karyawan yang          2. Penguatan citra ekologis Bukit         diprioritaskan ke upaya
  profesional.                          Lawang Ecolodge.                       peningkatan pendapatan.
4.Kerusakan hutan sekitar objek      3. Perbaikan tingkat pendapatan       2. In house training secara terus
  wisata.                               staff.                                 menerus pada karyawan.
5.Fasilitas jalan masuk dari medan   4. Melalui Paneco dan jaringan        3. Membangun spirit organisasi
  ke Bukit Lawang yang rusak.           melakukan kampanye anti                ditubuh PPLH Bohorok.
                                        pengrusakan hutan.                 4. Segera memfungsikan divisi
                                     5. Membantu pemerintah tingkat            ekoarsitektur.
                                        II dalam memberikan masukan        5. Perbaikan fasilitas pendukung
                                        tentang konsep pengembangan            di PPLH Bohorok.
                                        ekowisata.

Sumber: Pengolahan data matrix SWOT,2002

    Berdasarkan formulasi matrix SWOT tersebut diatas melahirkan beberapa
alternatif strategi, baik strategi SO, WO, ST maupun WT.
                                                                             19




4. Perumusan Alternatif strategi.
    a. Strategi SO.
        Strategi dengan menggunakan seluruh kekuatan perusahaan untuk
        memanfaatkan peluang yang ada yaitu dengan melakukan :
        1. Melalui Paneco, melakukan kampanye pemasaran di eropha.
        2. Gencar melakukan bauran promosi di indonesia, sumatera utara
           khususnya.
        3. Melakukan kemitraan dengan institusi pemerintah tingkat I dan II
           Sumatera utara.
        4. Melakukan pemasaran bersama antara penggiat wisata di Bukit
           Lawang.
        5. Melakukan pemasaran melalui web site dan melalui media jaringan
           mempromosikan Bukit Lawang Ecolodge.

     b. Strategi WO.
        Strategi untuk memanfaatkan seluruh peluang yang ada dengan cara
        mengatasi kelemahankelemahan yang dimiki perusahaan, yaitu dengan :
        1. Melakukan penajaman pemahaman tentang konsep ekowisata.
        2. Peningkatan kemampuan SDM masing divisi pengembangan
             program dan divisi Bukit Lawang Ecolodge.
        3. Memanfaatkan dukungan pemerintah daerah untuk penguatan setiap
             divisi.
        4. Strategi pelaksanaan pembangunan disetting dengan bantuan TI.

     c. Strategi ST.
        Strategi dengan menggunakan         seluruh kekuatan perusahaan dan
        menghindari ancaman-ancaman yang ada, yaitu dengan :
        1. Pendidikan kedewasaan dalam berpolitik untuk masyarakat.
        2. Penguatan citra ekologis Bukit Lawang Ecolodge.
        3. Perbaikan tingkat pendapatan staff.
        4. Melalui Paneco dan jaringan melakukan kampanye anti pengrusakan
           hutan.
        5. Membantu pemerintah tingkat II dalam memberikan masukan tentang
           konsep pengembangan ekowisata.

     d. Strategi WT.
        Strategi yang ditunjukan untuk meminimalkan kelemahan yang ada serta
        menghindari ancaman-ancaman yang dihadapi perusahaan, yaitu dengan:
        1. Pemanfaatan dana investasi seeffektif mungkin yang diprioritaskan ke
           upaya peningkatan pendapatan.
        2. In house training secara terus menerus pada karyawan.
        3. Membangun spirit organisasi ditubuh PPLH Bohorok.
                                                                              20




        4. Segera memfungsikan divisi ekoarsitektur.
        5. Perbaikan fasilitas pendukung di PPLH Bohorok

      Berdasarkan keempat alternatif strategi diatas, terdapat beberapa strategi
yang mendesak yang harus dilakukan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
Bohorok (PPLH Bohorok) dalam upaya peningkatan pendapatan, yaitu dengan :
      1. Inhouse training secara terus menerus pada karyawan.
      2. Membangun spirit organisasi ditubuh PPLH Bohorok.
      3. Segera memfungsikan divisi ekoarsitektur.
      4. Perbaikan fasilitas pendukung di PPLH Bohorok.
      5. Penguatan citra ekologis Bukit Lawang Ecolodge.
      6. Perbaikan tingkat pendapatan staff.
      7. Peningkatan kemampuan divisi pengembangan program dan divisi
          Bukit Lawang Ecolodge.
      8. Gencar melakukan bauran promosi di Indonesia, Sumatera Utara
          khususnya.
      9. Melakukan pemasaran bersama antara penggiat wisata di Bukit
          Lawang.


                        KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan.
1. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh Pusat pendidikan Lingkungan Hidup
   Bohorok (PPLH Bohorok) dalam memasarkan jasa penginapan yang ada pada
   divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge untuk meningkatan pendapatan terdiri
   dari beberapa unsur yaitu :
   a. Produk, untuk divisi Bukit Lawang Ecolodge yaitu pelayanan jasa hunian
       (penyewaan kamar) termasuk didalamnya jasa loundry, penitipan (savety
       box) dan restauran. Nuansa hunian dan fasilitas yang ada saat ini belum
       cukup representatif dikatakan sebagai hunia yang ecologis. Sedangkan
       untuk divisi pengembangan program menghasilkan produk berupa paket-
       paket program pendidikan .
   b. Target pasar Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH
       Bohorok), sasaran secara umum adalah seluruh lapisan masyarakat, baik
       dari dalam maupun luar negeri, khususnya masyarakat Sumatera Utara.
       Secara khusus adalah lembaga pemerintah, sekolah, lembaga ilmiah dan
       penelitian, lembaga swadaya masyarakat, kelompok pengusaha, kelompok
       hobi, kelompok wanita kelompok pemuda. Hingga saat ini target pasar
       tersebut masih jauh dari harapan, terutama target pasar khusus.
   c. Dalam upaya peningkatan pelayanan bagi pemakai jasa di Pusat
       pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok( PPLH Bohorok) beberapa
       fasilitas terus dibangun. Seperti penggunaan hotel manajemen sistem,
                                                                              21




      pembangunan jalan setapak dari kamar ke kamar dan beberapa informasi
      penting tentang lingkungan hidup.
   d. Kebijakan promosi yang dipakai oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
      Bohorok (PPLH Bohorok) dalam memasarkan Bukit Lawang Ecolodge :
      1) Periklanan.
         Periklanan melalui media masa, maupun melalui media terbatas yang
         dilakukan tidak teratur dan terpola.
      2) Promosi penjualan.
         Divisi Bukit Lawang Ecolodge belum pernah mengikuti pameran yang
         diadakan oleh pemerintah maupun swasta sebagai ajang media
         promosi penjualan. Promosi penjualan yang dilakukan cenderung
         melalui pola pelayanan yang baik ( after sale service).
      3) Publisitas.
         Publisitas merupakan pemanfaatan nilai-nilai berita yang terkandung
         dalam suatu produk untuk membentuk citra produk yang bersangkutan.
         Dibandingkan dengan iklan publisitas mempunyai kredibilitas yang
         lebih baik, karena pembenaran (baik langsung maupun tidak langsung)
         dilakukan oleh pihak lain selai pemilik iklan. Dalam hal ini Pusat
         Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) terus
         menjalin hubungan baik dengan para penggiat media masa lokal
         maupun nasional.
      4) Personal Selling.
         Personal selling, dilakukan secara langsung kepada konsumen pada
         saat konsumen datang kelokasi penginapan. Upaya meyakinkan
         konsumen dilakukan oleh receptionis ecolodge, pada saat komunikasi
         terjadi.

2. Perkembangan pendapatan usaha Bukit Lawang Ecolodge cenderung
   meningkat semua dari beberapa pos pendapatan seperti kamar, restauran,
   program dan lain-lain. Ditahun 1999 untuk pendapatan dari pos penyewaan
   kamar mencapai 35,5%, restauran 62%, program 1,4% selebihnya adalah
   pendapatan dari pos lain-lain. Ditahun 2000 untuk pendapatan dari pos
   penyewaan kamar mencapai 37,5%, restauran 60,4%, program 1,7%
   selebihnya adalah pendapatan dari pos lain-lain. Ditahun 2001 untuk
   pendapatan dari pos penyewaan kamar mencapai 35,1%, restauran 57,5%,
   program 4,5% selebihnya adalah pendapatan dari pos lain-lain.

3. Nilai korelasi pearson untuk biaya pemasaran dengan total biaya operasional
   Bukit Lawang Ecolodge sebesar 0,971. Korelasi biaya pemasaran dengan
   peningkatan pendapatan sebesar 0,825. Nilai korelasi pearson untuk total
   biaya operasi dengan peningkatan pendapatan sebesar 0,667. Dilihat dari hasil
   analisis metode korelasi produk moment dari pearson, nilai r (rho) lebih besar
                                                                               22




   dari 0, artinya telah terjadi hubungan yang linier positif. Hubungan linier
   positif adalah makin besar nilai variabel x (independen) maka, makin besar
   pula nilai variabel y (dependen) atau sebaliknya.

B. Saran.
    Sehubungan dengan hasil penelitian ini, strategi pemasaran yang dilakukan
oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) dalam
memasarakan jasa penginapan di Bukit Lawang Ecolodge saat ini belum
terencana dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari anggaran yang dialokasikan tidak
secara spesifik diperuntukan untuk pemasaran. Kalaupun ada dana yang
dialokasikan untuk pemasaran bersifat sangat situasional. Maka dalam upaya
peningkatan pendapatan divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge pada Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) perlu melakukan upaya
terobosan-terobosan yang mendasar. Untuk itu Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) melalui divisi usaha Bukit Lawang Ecolodge
disarankan untuk melakukan :
            1. Dalam upaya memahami visi dan misi Pusat Pendidikan
               Lingkungan oleh seluruh karyawan yang ada perlu dilakukan
               Inhouse training yang secara terus menerus. Hal ini dimaksudkan
               untuk memberikan masukan dan pemahaman tentang pendidikan
               lingkungan hidup.
            2. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki sangat perlu
               untuk ditumbuh kembangkan dalam suatu organisasi. Untuk itu
               perlu upaya membangun spirit organisasi ditubuh Pusat
               Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok).
            3. Keberadaan divisi ekoarsitektur yang bertugas untuk melakukan
               pembangunan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok
               (PPLH Bohorok) harus segera difungsikan. Sehinga penyediaan
               fasilitas-fasilitas pendukung yang dibutuhkan oleh PPLH
               Bohorok dapat segera terealisasi.
            4. Untuk menjadi penginapan yang yang mempunyai nuansa
               ekologis, Bukit Lawang Ecolodge harus memperbaiki hal-hal
               berikut :
               a. Material pembuat bahan makanan semaksimal mungkin harus
                  dari bahan ekologis, dimasak secara ekologis dengan alat yang
                  ekologis disajikan dengan ekologis.
               b. Fasilitas penginapan harus mencerminkan citra ekologis.
            5. Membentuk mekanisme kenaikan gaji tahunan, penghargaan atas
               prestasi (reward), senioritas.
            6. Dalam upaya peningkatan kemampuan masing-masing divisi
               maka perlu dilakukan secara terencana studi banding, kursus,
                                                                              23




                mengikuti pelatihan, memfasilitasi karyawan untuk melanjutkan
                pendidikan.
             7. Dalam upaya meningkatkan pendapatan divisi usaha Bukit
                Lawang Ecolodge maka harus gencar melakukan terobosan
                pemasaran dengan mengoptimalkan bauran promosi.
             8. Dalam upaya memajukan Bukit Lawang sebagai daerah tujuan
                wisata, untuk itu perlu upaya melakukan pemasaran bersama
                antara penggiat wisata di Bukit Lawang.



                           DAFTAR PUSTAKA

Basu Swastha Dharmmesta,1985, Manajemen Pemasaran Modern. Rajawali
      Press,Yogyakarta

Fandy Tjiptono.1997. Strategi Pemasaran. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Jauch, Lawrence R. dan William F.Glueck,1999. Manajemen Strategi dan
       Kebijakan Perusahaan. Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta.

Jefkins, F, 1996 Periklanan. Edisi Ketiga. Erlanga Jakarta.

Kartajaya, Hermawan, 1996. Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan
       PersainganGlobal. PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Keegan, J.Warren. Manajemen Pemasaran Global ,1995. Trans. Alexander
       Sindoro.ED.Bob Widhyahartono. PT.Prenhallindo, Jakarta.

Kotler, Phillip, 1990. Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan dan
        Pengendalian. Jilid I, Edisi Kelima. Erlangga, Jakarta.

Kotler, Phillip dan Gary Amstrong. Dasar-dasar Pemasaran.Trans.Wilhelmus W.
        Bakowatun,SE. Midas Surya Grafindo. Jakarta.

Kotler, Phillip, 1993. Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan dan
        Pengendalian. Volume II, Edisi Ketujuh. LPFE-UI, Erlangga. Jakarta.

Mulyadi dan Jhony Setyawan. Sistem Perancanaan dan pengendalian
      manajemen, Salemba Empat. Jakarta.

McDonald, Malkom.1992, Strategic Marketing Planning. PT.Elex Media
     Komputindo. Jakarta.

Porter,    Michael E,1993 Keunggulan Bersaing Menciptakan                 dan
          Mempertahankan Kinerja Unggul. Erlangga, Jakarta.
                                                                          24




Rangkuti, Freddy, 1997. Analisa SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis.
      PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Santoso, Singgih. SPSS Ver 10. 2001 Mengelola Data Statistik Secara
       Propesional. PT.Elex Media Komputindo, Jakarta.

Setiawan Haripurnomo dan Zulkieflimansyah. 1999. Manajemen Strategi
       Sebuah Konsep Pengantar. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
       Universitas
       Indonesia. Jakarta.


Sofyan Assauri, 1997, Manajemen Pemasaran : Dasar, Konsep dan Strategi.
      Rajawali Press, Jakarta.

Stanton,W.J., 1989, Prinsip Pemasaran.Alih bahasa : Y. Lamarto.
       Jilid I Erlangga, Jakarta

Umar, Husein. Riset Pemasaran dan Prilaku Konsumen. 2000. Jakarta Business
       Reserch Center. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:369
posted:2/7/2011
language:Indonesian
pages:24