Docstoc

Tetanus TETANUS Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan

Document Sample
Tetanus TETANUS Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan Powered By Docstoc
					TETANUS

Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh eksotoksin yang dihasilkan
oleh Clostridium tetani.

Epidemiologi
Tetanus terjadi secara sporadis. Walaupun tetanus dapat dicegah dengan imunisasi, tetanus masih merupakan penyakit yang sering terjadi di
Negara beriklim tropis dan Negara sedang berkembang. Umumnya, penyakit ini terjadi di daerah pertanian, perdesaan, daerah dengan iklim hangat.
Tetanus bersifat endemic pada Negara sedang berkembang dan WHO memperkirakan kurang dari 1.000.000 kematian pada tahun 1992, dengan
210.000 kematian terjadi di Asia tenggara. Trauma yang menyebabkan tetanus dapat luka besar ataupun luka kecil, sering tidak diperhatikan.
Tetanus dapat merupakan komplikasi penyakit kronis, ulkus, abses dan gangrene. Dapat pula berkaitan dengan luka bakar, infeksi telinga tengah,
pembedahan, aborsi dan persalinan.

Patofisiologi
Dalam keadaan anaerob, pada jaringan terinfeksi atau nekrotik, basil tetanus mengsekresi dua macam toksin: tetanospasmin dan tetanolisin.
Tetanolisin secara lokal merusak jaringan yang masih hidup dan mengelilingi sumber infeksi dan membantu mengoptimalkan multiplikasi bakteri.
Tetanospasmin menghasilkan sindrom klinis tetanus. Toksin ini merupakan polipeptida rantai ganda, terdiri dari rantai berat dan ringan. Ujung
karboksil rantai berat terikat pada membrane saraf dan ujung amino sehingga toksin masuk ke dalam sel. Rantai ringan bekerja pada presinaptik
untuk mencegah pelepasan neurotransmitter.
Toksin akan menyebar dan ditransportasikan dalam axon dan secara retrograde ke dalam badan sel saraf di batang otak dan saraf spinal. Toksin
kemudian bermigrasi dari sinaps ke terminal presinaps, dimana ia akan menghambat keluaran neurotransmitter inhibitorik glisin dan GABA. Selain
menghambat pengeluaran neurotransmitter, tetanospasmin juga memecah sinaptobrevin, suatu protein membran yang berfungsi untuk pelepasan
vesikel yang mengandung neurotransmitter. Tanpa adanya inhibisi, resting fire motor neuron meningkat, sehingga terjadi rigiditas. Toksin juga
dapat mengenai neuron simpatetik preganglionik lateral pada korda spinalis dan pusat parasimpatik. Hilangnya inhibisi dari neuron simpatetik
preganglionik menyebabkan hiperaktivitas simpatis dan peningkatan level dari katekolamin. Aliran eferen yang tak terkendali dari saraf motorik
pada korda dan batang otak akan menyebabkan kekakuan dan spasme muskuler, yang dapat menyerupai konvulsi.

Manifestasi klinis
Tetanus Generalisata
Tetanus ini terjadi apabila toksin yang dilepaskan dalam luka memasuki aliran limfa dan darah dan menyebar luas mencapai ujung saraf terminal.
Tetanus generalisata merupakan bentuk paling umum dari tetanus (80%), dengan trias klinis berupa rigiditas, spasme otot, dan disfungsi otonomik
(bila berat). Pasien pertama kali akan merasakan peningkatan tonus pada otot masseter (trismus). Spasme secara progresif meluas ke otot wajah,
menyebabkan ekspresi wajah yang khas ,risus sardonicus, dan meluas ke otot-otot unutuk menelan yang menyebabkan disfagia. Rigiditas otot
leher menyebabkan retraksi kepala. Rigiditas tubuh menyebabkan opistotonus dan gangguan respirasi dengan menurunnya kelenturan dinding
dada. Spasme ini muncul berulang dan dapat terjadi secara spontan atau dipicu oleh suatu stimulasi, seperti sentuhan, visual, auditori, atau
emosional. Spasme dapat bervariasi berdasarkan keparahan dan frekuensi tetapi dapat sangat kuat hingga menyebabkan fraktur atau ruptur
tendon.

Tetanus lokal
Muncul ketika terjadi trauma perifer dan sedikitnya toksin yang dihasilkan. Spasme dan rigiditas terbatas pada area yang berdekatan dengan luas.
Prognosisnya baik, kecuali pada tetanus sefalik, dimana tetanus lokal berasal dari luka pada kepala yang mempengaruhi saraf cranial.

Tetanus neonatorum
Terjadi dalam bentuk generalisata dan biasanya fatal bila tidak ditangani. Tetanus neonatorum berasal dari anak yang lahir dari ibu yang tidak
diimunisasi secara adekuat, terutama akibat perawatan bekas potongan tali pusat yang tidak steril. Onset biasanya 2 minggu pertama kehidupan.
Rigiditas, sulit menelan ASI, iritabilitas dan spasme merupakan gambaran khasnya.

Perjalanan klinis
Periode inkubasi rata-rata 7-10 hari dengan rentang 1-60 hari. Onset bervariasi antara 1-7 hari. Inkubasi dan onset yang pendek berkaitan dengan
tingkat keparahan penyakit. Minggu pertama ditandai dengan rigiditas dan spasme otot yang semakin parah. Spasme akan berkurang setelah 2-3
minggu, tetapi kekakuan tetap bertahan.

Derajat keparahan
Klasifikasi beratnya tetanus oleh Ablett :
          Derajat I (ringan): trismus ringan hingga sedang, spastisitas generalisata, tanpa gangguan pernafasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa
           disfagia
          Derajat II (sedang): trismus sedang, rigiditas nampak jelas, spasme singkat ringan hingga sedang, gangguan pernafasan sedang dengan
           frekuensi pernafasan lebih dari 30, difagia ringan
          Derajat III (berat): trismus berat, spastisitas generalisata, spasme refleks berkepanjangan, frekuensi pernafasan lebih dari 40, serangan
           apnea, disfagia berat dan takikardi lebih dari 120
          Derajat IV (sangat berat): derajat tiga dengan gangguan otonom berat melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan takikardi
           terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap.
Diagnosis
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa :
         Gejala klinik
          Trismus, dysphagia, risus sardonicus, hipertonus otot, spasme lokal atau generalisata paroksismal.
          Adanya luka yang mendahuluinya
          Kultur: C. tetani (+)
         Lab : leukositosis

Diagnosis Banding
Penyakit                                                                 Gambaran diferensial
INFEKSI
Meningoencephalitis                                                      Demam, trismus tidak ada, abnormal CSF
Polio                                                                    Trismus tidak ada, paralisis tife flaccid, abnormal CSF
Rabies                                                                   Gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya orofaringeal spasme
Lesi orofaringeal                                                        Hanya lokal, rigiditas seluruh tubuh atau spasme tidak ada
Peritonitis                                                              Trismus atau spasme seluruh tubuh tidak ada
PENYAKIT CNS
Status epileptikus                                                       Depresi sensori
Hemoorhage atau tumor                                                    Trismus tidak ada, depresi sensori
KELAINAN PSIKIATRIK
Histeria                                                                 Trismus inkonstan
KELAINAN MUSKULOSKELETAL
Trauma                                                                   lokal

Komplikasi




Terapi
Tatalaksana Umum
Sasaran utama terapi yaitu mengeliminasi sumber toksin, menetralisir toksin yang belum berikatan, mencegah spasme otot dan juga memonitor
kondisi pasien hingga pulih.
         Merawat dan membersihkan luka : irigasi luka, debridement luka.
         Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan.
         Isolasi untuk menghindari rangsangan dari luar
         Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit
         Fisioterapi untuk mencegah kontraktur
        Heparin dan antikoagulan untuk mencegah emboli paru
        Oksigen, pernafasan buatan dan trakheostomi bila perlu.

Terapi Obat
        Antibiotik : menganggu pembentukan polipeptida dinding otot selama multiplikasi aktif, menghasilkan aktivitas bakterisidal terhadap
         mikroorganisme yang rentan. Diperlukan terapi 10-14 hari. Dosis besar dapat menyebabkan anemia hemolitik dan neurotoksisitas.
         Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya.
        Antitoksin : diberikan untuk menetralisir toksin yang telah bersirkulasi dan yang berada pada luka. Antitoksin yang dapat digunakan
         Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara
         intravena karena TIG mengandung anti complementary aggregates of globulin, yang mana ini dapat mencetuskan reaksi alergi yang
         serius.

Daftar Pustaka
                                              th
Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17 Edition [e-book]
Ismanoe G. Tetanus. Dalam: Sudoyo AW, Sotiyohadi B, Alwi I (editor). Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III. Edisi IV. Jakarta: Pusat penerbitan
departemen IPD;2006.p.2911-23.
Ritarwan K. Tetanus. Bagian neurologi FKUSU. USU digital library;2004.

				
A Sari A Sari
About