IMUNISASI Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya Salah satu ancaman terhadap manusia adalah
Document Sample


IMUNISASI
Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk
mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. Salah satu ancaman
terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh
berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh mempunyai cara
dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Beberapa jenis penyakit
seperti pilek, batuk, dan cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal
ini dikatakan bahwa sistem pertahanan tubuh (sistem imun) orang tersebut cukup baik
untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman
penyakit itu ganas, sistem pertahanan tubuh (terutama pada anak-anak atau pada
orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah) tidak mampu mencegah kuman
itu berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa
kepada cacat atau kematian.
Apakah yang dimaksudkan dengan sistem imun? Kata imun berasal dari bahasa Latin
„immunitas‟ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator
Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa
dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga
pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik
lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang
terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara
kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit
atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.
Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka
sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada
umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena
tubuh belum mempunyai "pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan
seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut
sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam
jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang
dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit
tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
1
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan
tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah
imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah
antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah
penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan.
Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut
menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa
kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.
"Lindungi diri anda dan keluarga dari serangan berbagai penyakit yang berbahaya"
Data statistik menunjukkan makin banyak penyakit menular bermunculan dan
senantiasa mengancam kesehatan anda. Jangan biarkan anak anda dan diri anda
sendiri terserang oleh infeksi yang dapat membahayakan hidup anda. Lindungi anda
dan keluarga dari infeksi dengan melalui vaksinasi terkontrol.
"Pencegahan lebih baik dari pada mengobati"
Setiap tahun diseluruh dunia, ratusan ibu anak-anak dan dewasa meninggal
Karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan
kurangnya informasi tentang pentingnya Imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-
anak usia muda yang bersekolah dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi
terserang penyakit-penyakit menular yang mematikan seperti ; Diferi, Tetanus,
Hepatitis B, Influenza, Typhus, Radang selaput otak, Radang paru-paru, dan masih
banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu muncul dan mematikan. Untuk itu salah
satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi-bayi, anak-anak muda dan
orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan Imunisasi.
Mengapa perlu Imunisasi?
Untuk melindungi tubuh agar tetap sehat dan bahagia selalu
Siapa yang perlu Imunisasi?
¤ Bayi dan anak balita, anak sekolah, remaja
2
¤ Orang tua, manula
¤ Top management / Executive perusahaan
¤ Calon jemaah haji/umroh
¤ Anda yang akan bepergian ke luar negeri
¤ Dll.
B C G ( BACILLUS CALMETTE-GUERIN )
Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya
percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai
organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang,
sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian imunisasi BCG
sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi
ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan
satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini "berhasil," maka setelah beberapa minggu
di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan
bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas.
Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.
Pemberian Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit
Tuberkulosis ( TBC ), Imnunisasi ini diberikan hanya sekali sebelum bayi berumur
dua bulan. Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa
perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan yang akan berubah menjadi pustula
kemudian pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 –
12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut, reaksi lainnya adalah berupa
pembesaran kelenjar ketiak atau daera leher, bial diraba akan terasa padat dan bila
ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa
pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh
spontan.
3
D P T
DIFTERI
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas
bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan
terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup
jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal
jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui
benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus
dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang
penyuntikan satu – dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan
aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek
samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada
permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas .
PERTUSIS
Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “
adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis.
Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah
atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan
tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking.
Penularan umumnya terjadi melalui udara ( batuk / bersin ). Pencegahan paling
efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri
sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang pentuntikan.
TETANUS
Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena
mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Bagaimana gejala dan apa penyebabnya?
Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan
trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit
dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke
otot perut, lengan atas dan paha.
4
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus
menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan
steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan
kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan di negara-
negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat
kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain itu antibodi dari ibu kepada
jabang bayinya yang berada di dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi
tersebut.
Apa yang menyebabkan infeksi tetanus? Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri
yang disebut dengan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut
dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka
dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi
gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim
pesan ke otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar,
aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit)
maupun frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup
di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat
berkembang biaknya bakteria tetanus.
Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang
mulai timbul di hari ketujuh. Dalam neonatal tetanus gejala mulai pada dua minggu
pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun tetanus merupakan penyakit berbahaya,
jika cepat didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat
disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat
dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah
lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa.
Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya
diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.
POLIO
Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh
pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis
vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin
(kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara
5
dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan
sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6
minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin
hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang
DPT Pemberian imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit
Poliomielitis. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu
tidak kurang dari satu bulan
imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah ( 5 – 6 tahun ) dan
saat meninggalkan sekolah dasar ( 12 tahun ).Cara memberikan imunisasi polio
adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut
anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi
ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat. Efek samping yang mungkin
terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang
RABIES
Rabies adalah penyakit zoonotik yang disebarkan oleh Virus Rabies ( Rhabdovirus ).
Penyakit zoonotik lainnya adalah Toxoplasmosis, Japanese Encephalitis,
Leptospirosis. Kota Jakarta sebenarnya sudah tidak ada rabies, namun terdapat resiko
penduduk terkena Rabies melalui gigitan anjing, kucing atau kera dari uar Jakarta dan
menunjukan gejala Rabies di Jakarta. Angka kematian ( fatalitas ) masih 100%.
Penderita Rabies diisolasi secara ketat dalam ruangan khusus.
1. Penyakit Rabies disebabkan oleh virus rabies.
2. Rabies di Jawa Barat pertama kali ditemukan pada hewan tahun 1894, sampai
saat ini masih belum dapat diberantas secara tuntas dan menyebabkan Jawa
Barat merupakan satu-satunya propinsi di Pulau Jawa yang belum bebas dari
penyakit rabies.
3. Penyakit rabies menular pada manusia melalui gigitan hewan penderita rabies
atau dapat pula melalui luka yang terkena air liur hewan penderita rabies.
PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
6
1. Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan
ke Kantor Kepala Desa / Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
2. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2
meter.
3. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai tidak
lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus
(beronsong).
4. Pemilik anjing wajib untuk menvaksinasi rabies.
5. Anjing liar atau anjing yang diliarkan harus segera dilaporkan kepada petugas
Dinas Peternakan atau Pos Kesehatan Hewan untuk diberantas / dimusnahkan.
6. Kurangi sumber makanan di tempat terbuka Untuk mengurangi anjing liar atau
anjing yang diliarkan.
7. Daerah yang terbebas dari penyakit rabies, harus mencegah masuknya anjing,
kucing, kera dan hewan sejenisnya dari daerah tertular rabies.
8. Masyarakat harus waspada terhadap anjing yang diliarkan dan segera
melaporkannya kepada Petugas Dinas Peternakan atau Posko Rabies.
PENANGANAN HEWAN RABIES
1. Hewan yang telah menggigit manusia harus diusahakan tertangkap dan jangan
dibunuh, laporkan kepada petugas Dinas Peternakan, Pos Kesehatan Hewan
atau diserahkan langsung kepada Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan
observasi selama 14 hari.
2. Hewan yang telah menggigit manusia dan tertangkap tetapi terpaksa dibunuh
atau mati, kepalanya harus diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat
sebagai bahan pemeriksaan laboratorium.
GEJALA PENYAKIT RABIES
1. Hewan yang menjadi garang atau ganas ( furious rabies)
2. Sikap hewan tenang ( dum rabies )
7
TINDAKAN PADA ORANG YANG DIGIGIT HEWAN TERSANGKA RABIES
1. Cuci luka bekas gigitan dengan sabun kemudian keringkan dengan lap yang
bersih atau kapas.
2. Luka yang sudah bersih dan kering diberi alkohol 70% kemudian diberi obat
merah , Iodium atau Betadine.
3. Penderita segera dikirim ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat
CAMPAK
Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh sebuah
virus yang bernama Virus Campak. Penularan melalui udara ataupun kontak langsung
dengan penderita.Gejala-gejalanya adalah : Demam, batuk, pilek dan bercak-bercak
merah pada permukaan kulit 3 – 5 hari setelah anak menderita demam. Bercak mula-
mula timbul dipipi bawah telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan
anggota tubuh lainnya.
Komplikasi dari penyakit Campak ini adalah radang Paru-paru, infeksi pada
telinga, radang pada saraf, radang pada sendi dan radang pada otak yang dapat
menyebabkan kerusakan otak yang permanen ( menetap ). Pencegahan adalah dengan
cara menjaga kesehatan kita dengan makanan yang sehat, berolah raga yang teratur
dan istirahat yang cukup, dan paling efektif cara pencegahannya adalah dengan
melakukan imunisasi. Pemberian Imunisasi akan menimbulkan kekebalan aktif dan
bertujuan untuk melindungi terhadap penyakit campak hanya dengan sekali suntikan,
dan diberikan pada usia anak sembilan bulan atau lebih.
CAMPAK DI INDONESIA
Program Pencegahan dan pemberantasan Campak di Indonesia pada saat ini
berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB. Hasil
pemeriksaan sample darah dan urine penderita campak pada saat KLB menunjukkan
Igm positip sekitar 70% – 100%. Insidens rate semua kelompok umur dari laporan
rutin Puskesmas dan Rumah Sakit selama tahun 1992 – 1998 cenderung menurun,
terutama terjadi penurunan yang tajam pada kelompok umur = 90%) dan merata
8
disetiap desa masih merupakan strategi ampuh saat ini untuk mencapai reduksi
campak di Indonesia pada tahun 2000. CFR campak dari Rumah Sakit maupun dari
hasil penyelidikan KLB selama tahun 1997 – 1999 cenderung meningkat,
kemungkinan hal ini terjadi berkaitan dengan dampak kiris pangan dan gizi, namun
masih perlu dikaji secara mendalam dan komprehensive.
Sidang WHO tahun 1988, menetapkan kesepakatan global untuk membasmi
polio atau Eradikasi Polio (Rapo), Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN) dan Reduksi
Campak (RECAM) pada tahun 2000. Beberapa negara seperti Amerika, Australia dan
beberapa negara lainnya telah memasuki tahap eliminasi campak. Pada sidang
CDC/PAHO/WHO tahun 1996 menyimpulkan bahwa campak dimungkinkan untuk
dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) atau reservoir campak hanya pada
manusia dan adanya vaksin dengan potensi yang cukup tinggi dengan effikasi vanksin
85%. Diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai 10 – 15 tahun setelah eliminasi.
Program imunisasi campak di Indonesia dimulai pada tahun 1982 dan masuk
dalam pengembangan program imunisasi. Pada tahun 1991, Indonesia dinyatakan
telah mencapai UCI secara nasional. Dengan keberhasilan Indonesia mencapai UCI
tersebut memberikan dampak positip terhadap kecenderungan penurunan insidens
campak, khususnya pada Balita dari 20.08/10.000 – 3,4/10.000 selama tahun 1992 –
1997 (ajustment data rutin SST). Walaupun imunisasi campak telah mencapai UCI
namun dibeberapa daerah masih terjadi KLB campak, terutama di daerah dengan
cakupan imunisasi rendah atau daerah kantong.
Tahapan pemberantasan Campak
Pemberantasan campak meliputi beberapa tahapan, dengan kriteria pada tiap tahap
yang berbeda-beda.
a. Tahap Reduksi.
Tahap reduksi campak dibagi dalam 2 tahap: Tahap pengendalian campak. Pada tahap
ini terjadi penurunan kasus dan kematian, cakupan imunisasi >80%, dan interval
terjadinya KLB berkisar antara 4 – 8 tahun.
Tahap pencegahan KLB. Pada tahun ini cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi
dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, dan interval terjadinya KLB
relative lebih panjang.
b. Tahap Eliminasi
Pada tahap eliminasi, cakupan imunisasi sudah sangat tinggi (>95%), dan daerah-
9
daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus
campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah ternadi. Anak-anak yang dicurigai
tidak terlindung (susceptible) harus diselidiki dan mendapat imunisasi tambahan.
C. Tahap Eradikasi
Cakupan imunisasi tinggi dan merata, dan kasus campak sudah tidak ditemukan.
Transmisi virus sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah memasuki
tahap eliminasi. Pada TCG Meeting, Dakka, 1999, menetapkan Indonesia berada pada
tahap reduksi dengan pencegahan terjadinya KLB.
Tujuan Reduksi Campak
Reduksi campak bertujuan menurunkan angka insidens campak sebesar 90%
dan angka kematian campak sebesar 95% dari angka sebelum program imunisasi
campak dilaksanakan. Di Indonesia, tahap reduksi campak diperkirakan dengan
insiden menjadi 50/10.000 balita, dan kematian 2/10.000 (berdasarkan SKRT tahun
1982).
Strategi Reduksi Campak
Reduksi campak mempunyai 5 strategi yaitu:
Imunisasi Rutin 2 kali, pada bayi 9-11 bulan dan anak Sekolah Dasar Kelas I (belum
dilaksanakan secara nasional) dan Imunisasi Tambahan atau Suplemen. Surveilans
Campak.
Penyelidikan dan Penanggulangan KLB Manajemen Kasus
Pemeriksaan Laboratorium
Masalah pokok Surveilans dalam reduksi campak di Indonesia.
Surveilans dalam reduksi campak di Indonesia masih belum sebaik surveilans
eradikasi polio. Kendala utama yang dihadapi adalah, kelengkapan data/laporan rutin
Rumah Sakit dan Puskesmas yang masih rendah, beberapa KLB campak yang tidak
terlaporkan, pemantauan dini (SKD – KLB) campak pada desa-desa berpotensi KLB
pada umumnya belum dilakukan dengan baik terutama di Puskesmas, belum semua
unit pelayanan kesehatan baik Pemerintah maupun Swasta ikut berkontribusi
melaporkan bila menemukan campak. Dukungan dana yang belum memadai,
terutama untuk melaksanakan aktif surveilans ke Rumah Sakit dan pengembangan
surveilans campak pada umumnya. Surveilans campak sangat penting untuk menilai
10
perkembangan pemberantasan campak dan untuk menentukan strategi
pemberantasannya di setiap daerah.
Angka Insidens
Insidens campak di Indonesia selama tahun 1992 – 1998 dari data rutin Rumah
sakit dan Puskesmas untuk semua kelompok umur cenderung menurut dengan keleng
- kapan laporan rata-rata Puskesmas kurang lebih 60% dan Rumah sakit 40%.
Penurunan Insidens paling tajam terjadi pada kelompok umur Kejadian Luar Biasa
(KLB).
Dampak keberhasilan cakupan imunisasi campak nasional yang tinggi dapat menekan
insidens rate yang cukup tajam selama 5 tahun terakhir, namun di beberapa desa
tertentu masih sering terjadi KLB campak. Asumsi terjadinya KLB campak di
beberapa desa tersebut, disebabkan karena cakupan imunisasi yang rendah (90%) atau
kemungkinan masih rendahnya vaksin effikasi di desa tersebut. Rendahnya vaksin
effikasi ini dapat disebabkan beberapa hal, antara lain kurang baiknya pengelolaar:
rantai dingin vaksi yang dibawa kelapangan, penyimpanan vaksin di Puskesmas cara
pemberian imunisasi yang, kurang baik dan sebagainya.
Dari beberapa hasil penyelidikan lapangan KLB campak dilakukan oleh Subdit
Surveilans dan Daerah selama tahun 1998 – 1999, terlihat kasus-kasus campak yang
belum mendapat imunisasi masih cukup tinggi, yaitu kurang lebih 40% – 100%
(Grafik: 9). Dari sejumlah kasus-kasus yang belum mendapat imunisasi tersebut, pada
umumnya (>70%) adalah Balita. Frekuensi KLB campak berdasarkan laporan yang
dikirim dari seluruh propinsi Indonesia ke Subdit Surveilans melalui laporan (W 1)
selam tahun 1994 – 1999 terlihat ber fluktuasi, dan cenderung meningkat dari tahun
1998 – 1999 yaitu dari 32 kejadian menjadi 56 kejadian (grafik: 2). Angka frekuensi
tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas laporan W1 dari Propinsi atau
Kabupaten/Kota. Daerah-daerah dengan sistern pencatatan dan pelaporan Wl yang
cukup intensive dan mempunyai kepedulian yang cukup tinggi terhadap pelaporan Wl
KLB, mempunyai kontribusi yang besar terhadap kecenderungan meningkatnya
frekuensi KLB campak di Indonesia (Jawa Barat, NTB, Jambi Bengkulu,
Yogyakarta). Dari sejumlah KLB yang dilaporkan ke Subdit Surveilans, diperkirakan
KLB campak yang sesungguhnya terjadi jauh lebih baik. Dengan pengertian lain,
masih cukup banyak KLB campak yang tidak terlaporkan oleh Daerah dengan
berbagai kendala. Walaupun frekuensi KLB campak yang dilaporkan mengalami
11
peningkatan, namun jumlah kasusnya cenderung menurun dengan rata-rata kasus
setiap KLB selam tahun 1994 – 1999 sekitar 15 – 55 kasus pada setiap kejadian.
Berarti besarnya jumlah kasus setiap episode KLB campak selama periode tahun
tersebut rata-rata tidak lebih dari 15 kasus (grafik: 3 dan 4).
Dari 19 lokasi KLB campak yang diselidiki o1eh Subdit Surveilans dan Daerah
serta mahasiswa FETP (UGM) selama tahun 1999, terlihat Attack Rate pada KLB
campak dominan pada kelompok umur Balita, (Grafik 5 dan 6'). (pie diagram). Angka
proporsi penderita pada KLB campak tahun 1998 – 1999 juga menunjukkan proporsi
terbesar pada kelompok umur 1 – 4 tahun dan S – 9 tahun dibandingkan pada
kelompok umur yang lebih tua (10 – 14 tahun) grafik:7.
Pada kelompok KLB campak telah dilakukan pengambilan spesimen serologis
dan urine untuk memastikan diagnosa lapangan dan mengetahui virus campak. Hasil
pemeriksaan sampel serologis dan urine penderita campak pada 12 lokasi KLB
campak di beberapa Daerah selama tahun 1998 – 1999 yang diperiksa oleh Puslit.
Penyakit Menular Badan Litbangkes RI, menunjukkan IgM positif sekitar 70% –
100%, (tabel: l). Angka tersebut mengindikasikan ketajaman diagnosa campak
dilapangan pada saat KLB berlangsung.
Angka Fatalitas Kasus (AFP atau CFR) campak di Rumah Sakit maupun pada
saat KLB terjadi selama tahun (1997 – 1999) cenderung meningkat, masing-masing
dari 0,1% – 1,1% dan 1,7% – 2,4% (grafik 8). Kecenderungan peningkatan CFR ini
perlu pengkajian yang mendalam dan koprehensive.
Kesimpulan.
Insidens Rate Campak dari data rutin selama tahun 1992 – 1998 di Indonesia
cenderung menurun untuk semua kelompok umur. Penurutan paling tajam pada
kelompok umur
12
HEPATITIS
Masalah Hepatitis B makin maningkat. Prevalensi pengidap di Indonesia tahun 1993
bervariasi antar daerah yang berkisar dari 2,8% - 33,2% . Bila rata-rata 5% penduduk
Indonesia adalah carier Hepatitis B maka diperkirakan saat ini ada 10 juta orang. Para
pengidap ini akan makin menyebar ke masyarakat luas. Negara dengan tingkat HbsAg
>8% dihimbau oleh WHA untuk menyertakan Hepatitis B ke dalam program
imunisasi nasional. Target di tahun 2007 adalah Indonesia bebas dari Hepatitis B.
Sebesar 50% dari Ibu hamil pengidap Hepattis B akan menularkan penyakit tersebut
kepada bayinya. Data epidemiologi menyatakan sebagian kasus yang terjadi pada
penderita Hepatitis B ( 10 % ) akan menjurus kepada kronis dan dari kasusu yang
kronis ini 20%-nya menjadi hepatoma. Dan kemungkinan akan kronisitas kan lebih
banyak terjadi pada anak-anak Balita oleh karena respon imun pada mereka belum
sepenuhnya berkembang sempurna.
INFLUENZA
Influenza adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan disebabkan oleh virus
influenza, yang menyerang saluran pernapasan. Penularan virus terjadi melalui udara
pada saat berbicara, batuk dan bersin, Influenza sangat menular selama 1 – 2 hari
sebelum gejalanya muncul, itulah sebabnya penyebaran virus ini sulit dihentikan.
Berlawanan dengan pendapat umum, influenza bukan batuk – pilek biasa yang tidak
berbahaya. Gejala Utama infleunza adalah : Demam, sakit Kepala,sakit otot diseluruh
badan, pilek, sakit tenggorok, batuk dan badan lemah. Pada Umumnya penderita
infleunza tidak dapat bekerja / bersekolah selama beberapa hari.
Dinegara bermusim empat, setiap tahun pada musim dingin terjadi letusan influenza
yang banyak menimbulkan konmplikasi dan kematian pada orang-orang beresiko
tinggi :
o Usia lanjut ( > 60 tahun )
o Anak – anak penderita Asma
o Penderita penyakit kronis ( Paru , Jantung, Ginjal, Diabetes )
o Penderita gangguan sistem kekebalan tubuh.
Dinegara-negara tropis seperti Indonesia, influenza terjadi sepanjang tahun. Setiap
13
tahun influenza menyebabkan ribuan orang meninggal diseluruh dunia. Biaya
pengobatan, biaya penanganan komplikasi, dan kerugian akibat hilangnya hari kerja (
absen dari sekolah dan tempat kerja ) sangat tinggi.
Berbeda dengan batuk pilek biasa influenza dapat mengakibatkan komplikasi yang
berat. Virus influenza menyebabkan kerusakan sel-sel selaput lendir saluran
pernapasan sehingga penderita sangat mudah terserang kuman lain, seperti
pneumokokus, yang menyebabkan radang paru ( Pneumonia ) yang berbahaya. Selain
itu, apabila penderita sudah mempunyai penyakit kronis lain sebelumnya ( Penyakit
Jantung, Paru-paru, ginjal, diabetes dll ), penyakit-penyakit itu dapat menjadi lebih
berat akibat influenza.
Setiap orang dapat terserang influenza tanpa membedakan usia dan tingkat sosial.
Cara mencegah agar kita tidak terserang penyakit Influenza adalah dengan
memelihara cara hidup sehat, yakni dengan makanan sehat dan berolah raga teratur
serta istirahat yang cukup. Cara yang lain adalah dengan melakukan Vaksinasi, cara
ini paling efektif dan aman dan dapat memberikan perlindungan selama satu tahun
terhadap serangan penyakit Influenza..
Bagi ummat Islam yang akan menunaikan Ibadah haji baik ibadah haji Umroh
maupun ibadah haji biasa sebaiknya dilakukan imunisasi influenza ini, karena bila
jamaah terjangkit penyakit influenza maka pelaksanaan ibadah hajinya tentu akan
terhambat, sementara dengan melakukan Imunisasi ( pencegahan ) kiranya lebih
mudah daripada bila jamaah haji sudah terkena penyakit influenza ini.
MENGENAL INFLUENZA PADA JEMAAH INDONESIA
Dalam musim haji tahun ini, jamaah haji Indonesia perlu mewaspadai
kemungkinan tertular penyakit Influenza selama di Arab Saudi. Hal ini mengingat
penyakit Influenza berpotensi sebagai salah satu masalah kesehatan jamaah berbagai
bangsa yang sedang berhaji termasuk jamaah haji Indonesia.
WHO melaporkan penyakit ini telah beberapa kali menimbulkan pandemi yang
dikenal dengan Spanis Flu ( 1918 ), Asian Flu ( 1968 ), Hongkong Flu( 1968),
Russian Flu( 1977 ) dan Flu Burung di Hongkong ( 1997 ). WHO menekankan pula,
adanya kecenderungan peningkatan jumlah baik kesakitan dan kematian karena
Influenza akhir-akhir ini di Eropah dan Amerika serta penyakit ini diperkirakan akan
merebak ke seluruh dunia termasuk Arab Saudi.
Beberapa kondisi yang diidentifikasi dapat berhubungan dengan kejadian
14
Influenza pada jemaah Indonesia. Adapun kondisi tersebut, seperti; besarnya jumlah
jemaah yang datang berhaji dari seluruh dunia haji pada setiap tahunnya, peningkatan
jumlah kasus Influenza dapat terjadi pada musim hujan atau dingin disuatu negara,
kualitas fisik jemaah yang memperihatinkan dan ruas perjalanan haji yang panjang
serta berbagai pengaruhnya kepada kesehatan. Disamping itu, lebih kurang dua
perlima dari jemaah haji Indonesia termasuk golongan risti. Perdefinisi risti adalah
kondisi/ penyakit pada calon jemaah haji/ jemaah haji yang dapat memperburuk
kesehatannya selama perjalanan ibadah haji. Kondisi risti ini juga dikenal sebagai
kelompok berisiko tinggi bagi penyakit Influenza. Kesemua hal ini dapat berdampak
tidak menguntungkan bagi kesehatan jemaah haji Indonesia.
Tulisan ini memuat gambaran ringkas tentang penyakit Influenza, perlunya
kewaspadaan serta upaya pencegahan yang dilakukan oleh jemaah haji. Melalui
tulisan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan jamaah haji tentang Influenza
sekaligus mampu berprilaku semestinya selama perjalanan haji.
Apa yang disebut penyakit Influenza?
Penyakit Influenza adalah suatu infeksi saluran pernafasan yang bersifat akut dan
menular. Apa penyebab penyakit ini? Penyebab penyakit inluenza adalah Virus
Influenza( yang termasuk dalam kelompok virus Orthomyxoviruses ). Ada 3( tiga )
type virus penyebab penyakit Influenza, yaitu; A, B, dan C. Type A dikenal bersifat
sangat menular dan dapat tersebar pada kelompok penduduk secara lokal, nasional
atau bahkan secara global.
Bagaimana cara penularan dan perjalanannya ditubuh manusia? Penularan
penyakit Influenza dapat terjadi secara kontak langsung ataupun tidak langsung.
Umumnya, penularan terjadi melalui percikan air ludah /liur yang keluar dari
penderita sewaktu bercakap-cakap atau percikan batuk maupun bersin.
Adapun periode masuknya virus penyebab sampai timbulnya gejala dan tanda
penyakit Influenza rata-rata 2 hari dengan rentang jarak 1 – 4 hari, sedangkan
kemungkinan penularan mulai dapat terjadi 1-2 hari sebelum dan 4-5 hari setelah
gejala penyakit.
Apa gejala dan tanda penyakit Influenza?
Gejala berupa;
- Demam mendadak disertai menggigil
15
- Sakit kepala
- Badan lemah
- Nyeri otot dan sendi
Gejala ini bertahan selama 3 – 7 hari. Bila penyakit bertambah berat, gejala tersebut
diatas akan berganti dengan gejala penyakit saluran pernafasan seperti batuk, pilek
dan sakit tenggorokan. Kadang-kadang juga disertai gejala sakit perut, mual dan
muntah. Pada pemeriksaan fisik : muka kemerahan, mata kemerahan dan berair serta
kelenjar getah bening leher dapat teraba.
Apa yang dapat diakibatkan Penyakit Influenza? Akibat penyakit Influenza yang
ditakutkan adalah timbulnya infeksi sekunder, seperti; radang paru-paru( Pneumonia
), myositis, sindroma Reye, gangguan syaraf pusat. Disamping itu, penderita/
pengidap penyakit kronis dapat bertambah berat bila terkena penyakit Influenza.
Beberapa penyakit kronis tersebut, seperti; Asma, paru–paru kronis, jantung, kencing
manis, ginjal kronis, gangguan status imunitas tubuh, kelainan darah dll.
Mengapa Jemaah Haji Indonesia Perlu Mewaspadai Tertular Penyakit Influenza
Selama Perjalanan Haji? Jemaah haji Indonesia perlu mewaspadai tertular Penyakit
Influenza, karena: penyakit inluenza bersifat menular dan kepadatan manusia dalam
musim haji dapat memudahkan penularan penyakit diantara jemaah; jemaah haji
terpajan musim dingin dimana penderita penyakit ini biasanya meningkat; status
kesehatan jemaah berpenyakit risti dan usia lanjut cukup besar yang dikategorikan
sebagai kelompok berisiko tinggi tertular penyakit influenza, kualitas fisik jemaah
haji cukup memperhatinkan dan perjalanan haji yang panjang menjadikan jemaah
cukup rentan tertular penyakit. Untuk kesemua hal diatas jemaaah haji patut
meningkatkan kewaspadaan dari tertular penyakit Influenza.
Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan jamaah haji untuk mencegah dari risiko
tertular penyakit Influenza?
1. Upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan jemaah haji, yaitu:
Memelihara kebersihan diri dan lingkungan pondokan secara baik.
2. Istirahat yang cukup, banyak mengkonsumsi buah-bahan segar dan sayur-
sayuran hijau.
3. Minum air yang cukup dan upayakan membawa air minum serta tempat
minum( mangkuk/ gelas ) masing-masing.
16
4. Membiasakan diri untuk membersihkan ingus memakai kertas tissu atau sapu
tangan yang dapat menyerap cairan hidung dan membuangnya di tempat
sampah.
5. Selalu memakai masker(penutup) hidung dan mulut yang bersih selama berada
di Arab Saudi. Pemakaian masker bertujuan untuk mencegah jamaah haji dari
terkena percikan air ludah/ liur yang keluar dari penderita sewaktu bercakap-
cakap atau terkena percikan dahak, ingus, batuk dan bersin.
6. Bagi jemaah haji yang terkena penyakit Influenza agar tetap menggunakan
masker baik di pemondokan atau diluar pemondokan agar tidak menularkan
kepada jemaah haji yang sehat.
7. Mengurangi keluar dari pondokan bila tidak perlu.
8. Menghindari diri agar tidak kontak dekat dengan penderita bergejala dan tanda
penyakit Influenza.
9. Sedapat mungkin menghindari kerumunan kepadatan manusia atau tempat -
tempat yang dipadati orang terutama pada tempat yang tidak ada kaitannya
dengan kegiatan ibadah haji.
10. Hindari hidup berdesakan dalam satu kamar pondokan di luar jumlah yang
sudah ditentukan selama di Arab Saudi.
11. Bila merasa sakit, segera berobat ke TKHI Kloter atau BPHI setempat.
DEMAM TIFOID (TIFUS)
Penyakit Demam Tifoid adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella Typhi
yang masuk melalui saluran pencernaan dan menyebar keseluruh tubuh ( sistemik),
Bakteri ini akan berkembang biak di kelenjar getah bening usus dan kemudian masuk
kedalam darah sehingga meyebabkan penyebaran kuman dalam darah dan selanjutnya
terjadilah peyebaran kuman kedalam limpa, kantung empedu, hati, paru-paru, selaput
otak dan sebagainya. Gejala-gejalanya adalah : Demam, dapat berlangsung terus
menerus. Minggu Pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningat setiap hari,
biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore / malam hari. Minggu
Kedua, Penderita terus dalam keadaan demam. Minggu ketiga, suhu tubuh
berangsung-angsur turun dan normal kembali diakhir minggu. Gangguan Pada
Saluran Pencernaan, Nafas tak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi
selaput lendir kotor, ujung dan tepinya kemerahan. Bisa juga perut kembung, hati dan
17
limpa membesar serta timbul rasa nyeri bila diraba. Biasanya sulit buang air besar,
tetapi mungkin pula normal dan bahkan dapat terjadi diare. Gangguan Kesadaran,
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa dalam, yaitu
menjadi apatis ( acuh tak acuh) sampai somnolen ( mengantuk )
Bakteri ini disebarkan melalui tinja. Muntahan, dan urin orang yang terinfeksi
demam tofoid, yang kemudian secara pasif terbawa oleh lalat melalui perantara kaki-
kakinya dari kakus kedapur, dan mengkontaminasi makanan dan minuman, sayuran
ataupun buah-buahan segar. Mengkonsumsi makanan / minuman yang tercemar
demikian dapat menyebabkan manusia terkena infeksi demam tifoid. Salah satu cara
pencegahannya adalah dengan memberikan vaksinasi yang dapat melindungi
seseorang selama 3 tahun dari penyakit Demam Tifoid yang disebabkan oleh
Salmonella Typhi. Pemberian vaksinasi ini hampir tidak menimbulkan efek samping
dan kadang-kadang mengakibatkan sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan
segera hilang kemudian
.
18
PEMBERIAN VAKSINASI ANTI RABIES TERHADAP KASUS GIGITAN
HEWAN PENULAR RABIES
SECARA INTRADERMAL DAN INTRAMUSKULAR DI SUMATERA BARAT
DAN DKI JAKARTA TAHUN 2003
Ditinjau dari segi epidemiologi, secara geografis tahun 2001 di seluruh dunia
diperkirakan terdapat 30.000 – 40.000 orang yang meninggal karena Rabies dan
sebagian besar terjadi di negara berkembang. Penyebab kematiannya adalah karena
tidak mendapatkan vaksin anti rabies dan ini disebabkan karena masyarakat tidak tahu
tentang bahaya akibat gigitan hewan tersangka rabies dan cara menghindari diri dari
terjangkitnya kasus rabies. Petugas kesehatan belum mengerti cara penanganan kasus
gigitan hewan tersangka rabies dan faktor yang lain adalah vaksin anti rabies memang
jumlahnya terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian vaksinasi
secara intradermal dibandingkan dengan cara intramuskular terhadap kasus gigitan
hewan penular Rabies, hasilnya akan sangat diharapkan bermanfaat bagi masyarakat
umum, Pemerintah, karena efisiensi biaya dan akan efektif dalam menetralisasi virus
rabies.
Pemberian VAR saat ini yang dilakukan pada program Pemberantasan Rabies
pada manusia secara nasional adalah dengan cara intramuskular diberikan empat kali
dengan dosis masing-masing 0,5 ml, jumlah dua cc, cara pemberiannya yaitu pada
hari pertama berkunjung ke Puskesmas / Rumah Sakit diberikan dua kali ( 0,5 ml ) di
lengan kiri sebelah atas ( deltoid kiri ) dan dilengan kanan sebelah atas ( deltoid kanan
), selanjutnya pada hari ke tujuh diberikan satu kali ( 0,5 ml ) kanan atau kiri,
sedangkan pada hari ke duapuluh satu diberikan lagi satu kali pada deltoid kanan atau
kiri. Pemberian secara intradermal jadwal pemberian vaksin anti rabies sama, hanya
dosisnya lebih sedikit ( yaitu 0,2 ml ) per kali pemberian. Besar sample yang akan
dipilih adalah 200 sample kasus gigitan hewan penular rabies, semua umur, kemudian
diperiksa keadaan luka gigitannya ( gigitan anjing, kucing atau kera ), selain itu juga
diperiksa secara fisik keadaan kesehatan secara umum oleh seorang dokter /
paramedis yang berpengalaman dan sudah dilatih bekerja di Rabies Center, dan
sample juga tidak sedang menderita HIV/AIDS, Malaria dan penyakit berat lainnya.
19
Dari 200 sample tersebut akan dibagi dua yaitu 100 sample diberikan VAR
secara intradermal dan 100 sample sebagai kontrol diberikan VAR intramuskular.
Lokasi penelitian Rabies Center di Sumatera Barat dan DKI Jakarta. Penelitian serupa
telah dilaksanakan di Negara lain, dan vaksin rebies jenis Purified Vero Rabies
Caccine ini telah dinyatakan aman untuk dipakai dalam pemberian VAR, terhadap
kasus gigitan hewan penular rabies yang bersedia ikut dalam penelitian ini terlebi
dahulu akan diambil darahnya sejumlah tiga ml – lima ml oleh dokter / paramedis /
petugas Laboratorium yang telah berpengalaman dalam pengambilan darah tersebut,
pengambilan darah menggunakan jarum suntik sekali pakai untuk setiap pasien guna
mencegah infeksi. Pengambilan darah dilakukan lima kali yaitu pada hari ke 0, 7, 14,
28 dan 90, setelah itu pasien baru diberikan vaksin anti rabies yaitu pada hari ke 0, 7,
dan 21, 90. ( sesuai penjelasan tersebut diatas ).
Seperti imunisasi pada umumnya akan terjadi demam, kemerahan sekitar
suntikan, gatal, ada suatu pengeran setelah suntikan tetapi itu akan sembuh dalam
beberapa hari ( reaksi imunologik ). Apabila ada demam pasien sebelumnya akan
dibekali obat penurun panas ( Paracetamol ) dan juga pasien akan dibekali vitamin.
Pemberian vaksinasi anti rabies dengan vaksin purified vero rabies ini oleh kasus
gigitan hewan tersangka rabies akan sangat terlindung dari penyakit rabies yang
bersifat fatal.
Penelitian dilakukan oleh Ditjen PPM & PL Depkes dan RSPI – SS.
PROTEIN DENGUE PERANGSANG ANTIBODI
Tim peneliti Universitas Airlangga menemukan vaksin baru Imunisasi Demam
Berdarah. Berhasil diuji coba pada kera, Berbeda dengan vaksin Thailand. Adela
masih tergolek di bangsal anak Rumah sakit Dr. Sutomo, Surabaya Jawa Timur,
Hingga Rabu pekan lalu , bocah tiga tahun ini belum diizinkan meninggalkan Rumah
Sakit. Adela terpaksa dirawat inap sejak pekan sebelumnya. Orang tuanya, Adi
Winarko, 36 tahun, dan Winarti, 30 tahun, panik. Mereka tak menduga putra
pertamanya terjangkit demam berdarah. Padahal, rumah mereka di jalan Barata Jaya,
Surabaya, setiap hari dibersihkan. Bak mandipun dua hari sekali dikuras, Kani 52
tahun, yang setiap hari menunggui Adela di rumah sakit, menduga nyamuk
Aidesaegypti, pentebab demam berdarah, yang menyerang cucunya berasal dari
waduk Kali Wonokromo, hanya 10 meter dari rumahnya. Serangan demam berdarah
20
memang sering datang tak terduga, Apalagi di musim hujan, “ Jumlah nyamuk
penyebab demam berdarah berlipat ganda bila hujan tiba, “ kata Rita Kusriastuti,
Kepala subdirektorat Arbovirusis, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular, Departemen Kesehatan. Korban meninggal sejak penyakit ini dotemukan
pun tetap tinggi. Adela mungkin tidap perlu terlalu lama menginap di rumah sakit,
bila vaksin pencegah demam berdarah yang mumpuni. Sejak penyakit ini diketahui
pertama kali, berbagai negara berupaya membuat vaksin, Misalnya Thailand, Para
ahli “ negari gajah Putih “ ini memulai proyek pembuatan vaksin, 10 tahun lalu.
Hasilnya sudah diujicobakan pada manusia. “ Namun, efektifitasnya belum
sempurna,” kata Rita. Meski terlambat, ahli-ahli Indonesia tak mau ketinggalan. Tim
peneliti Pusat Riset Penyakit Tropis Universitas Airlangga Surabaya, telah
menemukan serum baru untuk imunisasi demam berdarah, Hasilnya dipaparkan di
Singapura, dalam simposium Demam berdarah dan TBC, 22 Januari lalu. Tim
dipimpin guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Soegeng Soegijanto,
bersama empat koleganya sefakultas, yakni Fedik A, Rantam, Soetjipto, Ketut
Sudiana, dan Yos Priyatna. Mereka menghabiskan dana hibah dari Departemen
Pendidikan Nasional Rp. 800 juta.
Tahun lalu, tim ini mendatangkan enam ekor kera dari Institut Teknologi
Bandung, untuk percobaan. Dua ekor dipakai sebagai kontrol, Empat lainnya disuntik
dengan bahan imunisasi berupa E-Protein ( envelope Protein ) recombinant, yang
didapat dari empat virus dengue : DEN 1 hingga DEN 4. Menurut Soegeng, protein E
dari virus demam berdarah yang ditemukan timnya dapat merangsang peningkatan
antibodi. Keempat ekor kera diimunisasi tiap dua minggu dengan tiga kali suntikan,
hasilnya, kera yang disuntik E-Protein recombinant memiliki tingkat kekebalan
terhadap virus dengue hinga level 460 unit. Jauh diatas batas yang dipatok, level 10
unit, sedangkan kekebalan pada kera kontrol dibawah level 10 unit.
Setelah proses imunisasi, kera-kera itu diinjeksi dengan virus dengue, yang
memiliki masa inkubasi 7 – 10 hari, Setelah masa inkubasi, ternyata level veremia (
virus dalam jumlah banyak di dalam darah ) pada kera kontrol meningkat sampai 220.
“ Sedangkan kera percobaan memiliki Level Veremia nol karena dinetralisasi antibodi
“ kata Soegeng. Vaksin temuan timnya, menurut Soegeng, berbeda dengan yang
diteliti di Thailand. Vaksin ala Thailand itu berasal dari virus dengue yang
dilemahkan, sedangkan vaksin Surabaya berasal dari E-Protein, bagian virus dengue
21
yang merangsang peningkatan antibodi. “ Tapi masih harus diteliti dampak
negatifnya,” ujar Soegeng.
Agar vaksin ini bisa diterapkan pada manusia, masih dibutuhkan tiga tahun lagi.
Bila kelak berhasil, penderitaan seperti yang dialami Adela tak akan menimpa anak-
anak Indonesia.
PENYEBAR MAUT DARI MANILA
Penyakit Demam berdarah Dengue ( DBD ) pertama kali ditemukan di Manila,
Filipina tahun 1953, selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Dalam perkiraan Pusat
Pengendalian Dan Pencegahan Penyakit ( Center For Disease Control and Prevention
) Amerika Serikat, setiap tahun diseluruh dunia terjadi 50 hingga 100 juta kasus
Demam Dengue, dan ratusan ribu kasus demam berdarah dengue.
Di Indonesia, penyakit ini pertama kali mewabah di Surabaya dan DKI Jakarta pada
1968, kemudian menyebar keseluruh provinsi, sejak 1968 hingga 1998, setiap tahun
rata-rata 18.000 orang dirawat di rumah sakit. Dari jumlah itu tercatat, 700 – 750
penderita meninggal dunia.
KASUS DEMAM BERDARAH
DI INDONESIA 1998 - 2001
Tahun Jumlah Kasus Kematian
1998 72.133 14.114
1999 21.134 422
2000 33.443 472
2001 45.688 492
( Sumber : Gatra )
22
PENGAMATAN GERAKAN LEPTOSPIRA DALAM URINE
DENGAN CARA SEDERHANA
A. Halim Mubin* Gatot Lawrence**
* Sub Bagian Penyakit Infeksi/Menular,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNHAS;
** Bagian Patologi FK UNHAS; PETRI UjungPandang
ABSTRAK
Pemeriksaan sederhana dengan mikroskop biasa dapat dideteksi adanya Leptospira
dalam urine tanpa atau dengan pewarnaan.
Pada preparat hidup dapat dilihat gerakan-gerakan maju, mundur atau rotasi mulai
dari gerakan lambat sampai yang cepat. Umumnya bentuk spiralnya sulit tampak
dengan pembesaran 10 x 40 kali. Leptospira yang bergerak cepat pada akhirnya
berhenti bergerak dengan sendirinya. Sebagaian tampak membelah diri dengan cara
terpotong melintang, sehingga terpisah menjadi mother dan daughter leptospira.
Hanya sebagaian kecil yang bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.
Morfologi leptospira lurus atau melengkung, bentuk spiralnya sulit kelihatan dan
begitu pula ujungnya berupa kait (hook). Ukurannya panjangnya bervariasi antara
pendek, sedang dan panjang. Beberapa tampak seperti Streptokokus.
Dengan pewarnaan Giemsa berwarna kemerah-merahan, dan dengan gram merah
kebiru-biruan (gram negatif).
Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk menetapkan diagnosis leptospira pada
seseorang.
ABSTRACT
Simple diagnostic method by using light microscopy can be used for detecting
leptospira in the urine with or without staining. In a living specimen we can observe
the movement i.e. forward, backward and rotating, as well as slow and fast. The
morphology of leptospira is spiral and difficult to be observed under 10x40
magnification. The fast moving leptospira usually stop by itself. Some of them have a
segmented body and evetually separated. Thereby a mother and daughter leptospira
can be seen. The morphology usually straight, spiral with hook ending. The size
varied from short, intermediate, and long. Some of them look like streptococcus. With
23
Giemsa staining the germ looks pink, and Gram staining it will look blue ( Gram
negative). Further study is needed to evaluate the characteristic and diagnostic
approach of leptospira in human (J Med Nus 1996; 17:72-76).
Leptospira merupakan kelompok kuman yang dapat menyebabkan leptospirosis,
termasuk penyakit zoonosis, yang patogen disebut Leptospira interrogans dan yang
tidak petogen disebut Leptospira biflexa. Disebut interrogans karena bentuknya
menyerupai tanda tanya (?) (interrogative : menanyai) (Sanford, 1984). Ada 3 serovar
yang sering menyebabkan infeksi pada manusia yaitu Leptospira
ictrerohaemorrhagiae pada tikus, Leptospira canicola pada anjing dan Leptospira
pomona pada sapi dan babi. Yang paling sering menyebabkan penyakit berat
(penyakit Weil) adalah Leptospira ictreromorrhagiae. Leptospira masuk ke tubuh
melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan urine yang mengandung
Leptospira. Disamping itu dapat juga melalui kulit yang lecet atau melalui konyuktiva
(Jacobs RA, 1995). Leptospira yang masuk tubuh manusia adalah patogen (Leptospira
interrogans).
Untuk mengamati gerakan Leptospira digunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield
microscope). Alat ini sulit disiapkan di daerah perifer, sehingga diagnosis sangat sulit
dilacak, walaupun secara klinis prevalensi Leptospira dewasa ini semakin meningkat.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Bahan penelitian
Bahan pemeriksaan adalah urine segar penderita yang suspek penyakit Weil.
Cara pemeriksaan :
A. Pemeriksaan urine langsung
1. Sebanyak 5 ml urine segar dimasukkan ke dalam tabung sentrifus.
2. Urine dipusing dengan kecepatan 1000-1500 rpm selama 5-10 menit.
3. Supernatan tabung sentifus dibuang, sehingga endapan tersisa bersama dengan
urine sebanyak 1-2 tetes. Dalam prakteknya tabung dituang saja selama 3 detik
lalu kemudian tabung diletakkan pada rak tabung yang telah disediakan.
24
4. Dengan hati-hati satu tetes urine tersebut disedot dengan pipa pasteur, lalu
diletakkan ke atas gelas obyek kemudian ditutup dengan kaca penutup yang
agak kecil (berukuran 22x22 mm). Harus dijaga agar tetesan tidak terlalu
banyak, supaya urine tidak melimpah setelah ditutup dengan kaca penutup.
5. Preparat tersebut langsung diperiksa tanpa pewarnaan di bawah microskope
dengan pembesaran 10 x 40.
6. Cahaya diatur jangan sampai terlalu terang yang menyilaukan atau justru
cahaya terlalu gelap, karena pada kedua keadaan tersebut leptospira tidak akan
tampak. Jadi kekuatan cahaya yang diatur sedemikian rupa kira-kira sama
kuatnya bila hendak melihat sedimen urine.
7. Karena Leptospira bergerak, maka untuk mengamatinya secara cermat
sewaktu-waktu diperlukan perubahan fokus.
8. Leptospira yang tidak bergerak terlalu cepat dapat dilihat bentuknya lebih jelas
pada pembesaran 10 X 100 dengan minyak emersi.
B. Pemeriksaan dengan pewarnaan
1. Dilakukan seperti langkah 1 sampai 3 di atas.
2. Urine yang diteteskan di atas kaca obyek dibuat preparat halus yang tipis lalu
dikeringkan.
3. Setelah kering difiksasi dengan methanol
4. Setelah kering dengan methanol diberi pengecetan Giemsa atau Gram.
HASIL PENGAMATAN
Hasil dapat diperoleh dari pemeriksaan tanpa pewarnaan atau dengan pewarnaan.
A. Pemeriksaan tanpa pewarnaan
Pada pemeriksaan Leptospira tanpa pewarnaan akan tampak beberapa keadaan
sebagai berikut :
Bentuk leptospira
1. Ukuran Leptospira tidak sama, bervariasi antara 2? - 24?. Ada tiga ukuran
panjang yaitu:
2. Berukuran mini, hanya menyerupai kuman berbentuk batang, ukurannya 4-6?
(lebar 0,1-0,2?).
25
3. Ukuran sedang 2-3 X ukuran mini
4. Ukuran terpanjang, biasanya ukurannya 2 x ukuran sedang
5. Sebagaian leptospira berbentuk menyerupai streptokokus, dimana yang
berukuran mini hanya terdiri dari 2 koki
Gerakan Leptospira
1. Ditemukan bentuk-bentuk batang yang bergerak maju sesuai dengan sumbu
memanjang.
Ada yang bergerak sangat lincah, sehingga cepat melintasi lapangan
penglihatan pada pembesaran 10x40 apalagi pada pembesaran 10x100. (pada
pembesaran 10x100 Leptospira sulit dilihat). Kadang-kadang ada yang tampak
bergerak secara rotasi bila mengambil arah vertikal. Umumnya yang bergerak
lincah berukuran mini.
Ada yang bergerak sangat lemah, hanya dengan pengamatan yang teliti dapat
diamati gerakannya terutama pada pembesaran 10x 100.
Ada yang tidak bergerak. Kalau diamati agak lama, maka beberapa Leptospira
yang aktif akhirnya akan berhenti bergerak.
2. Hanya sebagaian kecil leptospira yang bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.
Beberapa bentuk leptospira dari urine penderita Penyakit Weil
Leptospira yang berukuran panjang bila bergerak sekali cukup laju dan jauh
jangkauannya. Mereka kadang-kadang bergerak kesatu arah, tetapi bila mengalami
hambatan sering bergerak ”mundur” tanpa mengubah haluan, namun kecepatan
geraknya secepat gerakan maju. Bila diamati terus, maka Leptospira ukuran
terpanjang ini merupakan dua Leptospira yang akan membelah secara melintang,
dimana “kepalanya” lebih dahulu lahir. Setelah “aterm” keduanya aktif untuk
memisahkan diri dengan adanya pemisahan antara kedua “ekor”. Rupanya adanya
gerakan “ maju” dan “ mundur” tersebut di atas sebagai akibat dari gerakan individu
pertama ke depan, sementara individu kedua tertarik saja, dan bila “mundur” berarti
individu kedua yang maju sedangkan individu pertama diam dan mengikut saja. Jadi
sebelum keduanya berpisah untuk membentuk individu masing-masing, mereka dapat
26
bergerak bergantian atau bersamaan dengan arah yang berlawanan.
Gerakan-gerakan inilah yang akhirnya memisahkan antara mother dan dauhter
Leptospira tersebut. Spiralisasi gerakan badannya tidak begitu jelas, kadang-kadang
hanya tampak seperti bergetar saja.
B. Dengan Pewarnaan Giemsa dan Gram
Dengan pewarnaan Giemsa Leptospira akan tampak sebagai batang-batang kecil yang
lurus atau melengkung berwarna kemerah-merahan, tidak berbentuk spiral. Dengan
pengecetan Gram berwarna merah kebiru-biruan (Gram Negatif). Kita mesti hati-hati
dengan hyphe jamur yang kadang-kadang juga ditemukan.
DISKUSI
Kebanyakan penulis mengemukakan bahwa Leptospira hanya dapat dilihat dengan
mikroskop lapangan gelap (dark-field microscopy), fase kontrast (phase contrast) atau
dengan cara imunofluoresens dan tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa (light
microscopy) (Alexander, 1983; McClain, 1985; Kempe, 1987). Leptospira muncul
dalam urine pada minggu kedua penyakit dan dapat bertahan satu bulan atau lebih
(Kempe, 1987).
Tidak jelasnya bentuk spiral dari Leptospira sewaktu bergerak mungkin karena
spiralnya sangat halus (very fine spiral) (Jawetz, 1982). Tetapi jika diamati beberapa
preparat akan tampak beberapa Leptospira bergerak dengan spiral jelas. Dan gerakan
rotasi jelas tampak pada waktu Leptospira bergerak secara vertikal. Gerakan maju
mundur (move forward and backward) dalam urine dapat ditemukan sebagaimana
dikemukan oleh Alexander (1983), bila Leptospira berada dalam medium cair yang
lain.
Dengan pemeriksaan lapangan redup pada mikroskop biasa morfologi leptospira
secara umum dapat dilihat. Hal mana akan terlihat lebih jelas pada pemeriksaan
khusus dengan darkfield microscope (Jawets, 1982). Dengan scaning mikrograf
elektron akan tampak kait dan spiralnya (Boyd and Hoerl, 1986). Dengan
menggunakan mikroskop biasa struktur yang yang lebih kecil masih sulit terlihat
dengan jelas.
Dalam keadaan tidak bergerak tanpa pewarnaan atau dengan pewarnaan atau dengan
pewarnaan Giemsa atau Gram sebahagian Leptospira terkesan seperti streptokokus,
sesuai dengan yang dikemukan potrais (pendekatan pribadi, seorang peneliti Belgia).
27
Ukuran Leptospira bervariasi antara 4-20? (Sparling dan Basemen, 1980; Joklik,
1984). Hal yang sama ditemukan pada penelitian ini ada yang berukuran mini, sedang
dan panjang. Ukuran bervariasi dari 4 ? sampai 25 ?.
Dengan pemeriksaan sederhana ini memungkinkan mengamati Leptospira pada
pemeriksaan rutin urine dengan cukup mudah sambil dapat mengikuti gerakan-
gerakannya.
KESIMPULAN
1. Leptospiruria mudah dideteksi dengan menggunakan mikroskop biasa dengan
mengatur lapangan penglihatan redup (agak gelap) pada pembesaran minimal
10x40 atas preparat tanpa pewarnaan.
2. Adanya Leptospiruria dianggap positif bila ditemukan Leptospira yang
bergerak minimal satu dalam satu lapangan penglihatan 10x40.
3. Leptospiruria belum dapat memastikan apakah Leptospira interrogans atau
Leptospira biflexa.
4. Dengan pewarnaan Giemsa dan Gram sulit memastikan Leptospira karena
bentuknya menyerupai hyphe jamur
5. Pemeriksaan leptospiruria tanpa pewarnaan lebih mudah mendeteksi
Leptospira dari pada dengan pewarnaan Giemsa atau Gram.
Informasi tentang gerakan-gerakan Leptospira dalam urine dapat pula dilihat dalam
Jurnal Medika Nusantara, 1996, vol 17, halaman 72-76.
BERATNYA LEPTOSPIRURI ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
BERAT-RINGAN JUMLAH/LP 10X40 POSITIFITAS
RINGAN <50 +
SEDANG >50-100 ++
BERAT >100 +++
28
RUJUKAN
1. Alexander AD : Leptospirosis, in infection diseases, Hoeprich PD (Ed), 3rt
Ed, Harper & Row Publishers, Philadelphia, 1985, 751-759.
2. Boys RE and Hoerl BG : Spirochetal and curved rods, In Basic Medical
Micribiology, 3rd, Little Brown co, Toronto, 1986, 593-612
3. Jacobs RA: International Disease Spirochetal, In Current Medical Diagnosis &
Treatment, Tierney LM (Eds), 34th Ed, A Lange Medical Book, London 1995,
1197-1214.
4. Jawetz E, Melnick JL and Adelbergh EA: Spirochetes & Other Spiral
Microorganisme, Review of Medical Microbiology, 15th Ed., Lange Medical
Publications, California, 1982, 253-260.
5. Joklik WK, Willett HP, and Amos DB: Treponema Borrelia, and Leptospira,
In Zinsser Microbiology, 18th Ed, Appleton–Century-Crofts, Norwalk, 1984,
728-739.
6. Kempe CH, Silver HK, O‟brien O, et al: Leptospirosis, In Current Pediatric
Diagnosis & Treatment 1987, 9th Ed, Appleton & Lange, Norwalk, 1987, 893-
894.
7. McClaim JB : Leptospirosis, In Cecil Textbook of Medicine, Myngaarden JB
and Smith LH (Eds), Vol-2, WB Saunder Co, Tokyo, 1985, 1666-1668.
8. Sanford JP : Leptospirosis, In Hunter‟s Tropical Medicine, 16th Ed, Stricland
GT (Ed), WB Saunders Co, Tokyo, 1984, 262-270.
9. Sparling PF and Baseman JB: The Spirochetes, In Microbiology, 3rd Ed,
Davis BD (Eds), Harper International Ed, Philadelphia, 1980, 751-762
29
Get documents about "