Docstoc

Perkembangan Islam Klasik

Document Sample
Perkembangan Islam Klasik Powered By Docstoc
					1. Sumber Ajaran Islam
1.1 Al Qur’an
A. Pengertian Al qur’an
      Allah Subhanahu wa Ta‟ala menamai kitab sucinya yang diturnkan kepada
nabi dan rasulNya yang terakhir, Muhammad (SAW) dengan Alqur‟an. Al qur‟an
menurut bahasa (etimologi) berasal dari kata           (masdar) berarti bacaan atau
(isim maf‟ul) yang dibaca. “Bacaan sempurna” yaitu suatu nama pilihan Allah yang
sangat tepat, karena tiada satu bacaanpun didunia ini sejak manusia mengenal baca
tulis lima ribu tahun silam yang dapat menandingi Al qur‟an al Karim (Qurays
shihab, 1993); Bacaan sempurna lagi mulia.
      Kata Al qur‟an yang berarti bacaan itu diterangkan dalam beberapa ayat Al
qur‟an, yaitu:


Artinya: “Kitab yang menjelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab,
untuk kaum yang mengetahui”. (QS. Fushshilat 41:3).
      Syeikh Muhammad Khudari Beik dalam buku “Tarikh at-Tasyri‟ al-Islami”
menerangkan bahwa definisi Al qur‟an ialah:


Artinya: “Al qur‟an ialah firman Allah berbahasa Arab yang diturunkan kepada
           Nabi Muhammad SAW untuk difahami isinya dan selalu diingat,
           disampaikan dengan cara mutawattir, tertulis dalam mushaf, dimulai dari
           surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.”
      Definisi lain dikemukakan oleh Syeh M. Abduh, yaitu:


Artinya: “Kitab Al qur‟an ialah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang
           terpelihara dalam hafalan-hafalan kaum muslimin yang berminat untuk
           memeliharanya.”
      Berdasarkan definisi demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa Al qur‟an:
a. adalah wahyu atau kalam Ilahi
b. diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bukan karangan beliau.
c. merupakan mu‟jizat bagi Nabi Muhammad SAW sebagai kebenaran kenabian
     atau kerasulan Muhammad SAW.
d. diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara Mutawattir
e. merupakan bacaan yang mulia, membacanya merupakan Ibadah.
f. tertulis dalam mushaf-mushaf, dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan
     surat an-Naas.
g. Lafadznya berbahasa Arab.
h. Senantiasa terpelihara dari berbagai bentuk kesalahan dan pemalsuan.
i.   tidak akan ada seorangpun yang akan mampu membuat yang serupa dengannya.
j.   mengandung kebenaran Ilmu pengetahuan tentang alam semesta.


B. Nama-nama Al qur’an
       Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad                   SAW selain
dinamakan Al qur‟an juga mempunyai nama-nama lain, yaitu:
a. Al-huda (petunjuk). Dalam Al qur‟an terdapat tiga kategori tentang posisi Al
     qur‟an sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Allah
     berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al qur‟an yang
     berfungsi sebagai           petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
     mengenai petunjuk itu…” (QS. al-Baqarah [2]: 185). Kedua, Al qur‟an adalah
     petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman, “Kitab Al qur‟an ini
     tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al
     Baqarah [2]: 2) Bahwa Al qur‟an berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang
     takwa dijelaskan pula dalam ayat lainnya, antara lain surat ali Imran [3] ayat
     138.   ketiga,   petunjuk   bagi   orang-orang   beriman.   Allah     berfirman:
     “…katakanlah: „Al qur‟qn itu petunjuk dan penawar bagi orang-orang
     beriman…” (QS. Fushshilat [41]: 44). Begitu juga, bahwa Al qur‟an adalah
   petunjuk bagi orang-orang beriman disebutkan pula pada ayat-ayat lainnya,
   antara lain dalam surat Yunus [10] ayat 57.
b. Al-furqan (pemisah). Dalam Al qur‟an dikatakan bahwa ia adalah ugeran untuk
   membedakan dan bahkan memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau
   antara yang benar dengan yang salah.
c. Al-syifa (obat). Dalam Al qur‟an dikatan bahwa ia berfungsi sebagai obat bagi
   penyakit-penyakit yang ada dalam dada (mungkin yang dimaksud disini adalah
   penyakit psikologis). Allah berfirman, “Hai manusia, sesunggguhnya telah
   datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembah bagi penyakit-
   penyakit (yang berada) dalam dada…” (QS. Yunus [10]: 57]
d. Al-mau‟izhah (nasihat). Dalam Al qur‟an dikatakan bahwa ia berfungsi sebagai
   nasihat bagi orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman, “Al qur‟an ini adalah
   penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-
   orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3]: 138)


       Demikian fungsi Al qur‟an yang diambil dari nama-namanya yang
difirmankan Allah dalam Al qur‟an. Sedangkan fungsi Al qur‟an dari pengalaman
dan penghayatan terhadap isinya bergantung pada kualitas ketakwaan individu yang
bersangkuutan. Karena bersifat personal, maka pengalaman tersebut hampir
dipastikan berbeda-beda, meskipun persamaan-persamaan pengalaman itu pun tidak
dapat diabaiakan. Bagi kalangan tertentu, misalnya, Al qur‟an dapat berfungsi
sebagai media untuk menjaga diri, dan karena itulah kita sering melihat “isim” atau
jimat yang diambil dari Al qur‟an.


C. Kandungan Al qur’an
      Al qur‟an tidak hanya untuk umat tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia
sampai hari akhir , yang isisnya selalu exsis dengan keadaan zaman, untuk seluruh
lapisan masyarakat diseluruh dunia tanpa melihat dan membedakan warna kulit.
Secara umum isi kandungan Al qur‟an mencakup:
a. Aqidah
b. Akhlaq utama
c. Ibadah
d. Mu‟amalah
e. Syari‟ah
f. Tarikh (sejarah)
g. Janji dan ancaman
h. Hukum amaliah. (Al-Hikmah: 2005)


1.2 Hadits
A. Pengertian Hadits
Menurut Ulama‟ Mutaqaddimin Ilmu hadits ialah:
Artinya: “Ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan
            hadits sampai kepada Rasulullah SAW. Dari segi hal Ihwal para
            perawinya, kedlabitannya, keadilan dan dari bersambung tidaknya sanad
            dan sebagainya.”
Menurut Ulama‟ Mutaakhirin hadist dibagi dua yaitu:
1. Ilmu hadits Riwayah


Artinya: “Ilmu yang mencakup pembahasan tentang segala sesuatu yang
              dinukilkan/diriwayatkan dari Nabi SAW. Baik mengenai perkataan,
              perbuatan, ketetapan maupun sifat-sifat beliau.”


B. Pembagian hadits menurut jumlah rawinya.
1. Hadits Mutawattir
      Hadits tentang sesuatu yang mahsus (yang dapat ditangkap oleh Panca
Indera), disampaikan oleh sejumlah besar perawi yang menurut kebiasaan mustahil
mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta .
Hadits Mutawattir dibagi menjadi tiga bagian:
a) Hadits Mutawattir Lafdhi
b) Hadits mutawattir Maknawi
c) Hadits Mutawattir Amali
2. Hadits Ahad
      Hadits yang perawinya tidak mencapai jumlah rawi hadits Mutawattir,
ringkasnya bahwa hadits Ahad adalah hadits yang tidak memenuhi hadits
mutawattir.
a) Hadits Masyhur (Mustafid)
b) Hadits Aziz
c) Hadits Gharib


C. Pengkodifikasian Hadits.
      Pengkkodifikasian hadits adalah kegiatan menulis, mengumpulkan, dan
   membukukan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW sehingga terkumpul menjadi
   kitab hadits. Pembukuan hadits ini dilaksanankan pada masa Umar ibn Abdul
   Aziz pada tahun 100 H dengan memerintahkan kepada gubernurnya agar
   membukukan hadits yang ada pada para Ulama‟ di wilahnya masing-masing.
   Akhirnya pengkodifikasian hadits berhasil terlaksanakan pada abad ke-2 H. Dari
   sistem pengkodifikasian hadits, maka muncullah tingkatan kitab-kitab hadits.
1- Al-Ushul Al- Khamsah
   yang termasuk tingkatan Usul al Khamsah, ialah: sahahih Bukahari, Sahih
   Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Nasa‟i.
2- Al-kutub Al-Shittah
   Ulama‟ yang berhasil mengikuti jejak penyususun kitab Ushul al Khamsah ialah
   Ibnu Majah, sehingga kodifikasi hadits yang dibukukannya disebut Sunan Ibnu
   Majah.
      Sedangkan dari segi penerimaan dan penolakannya hadits juga terbagi atas
tiga bagian:
1- hadits shahih : Hadits yang musnad dan sanadnya bersambung diriwayatkan oleh
                         orang yang berwatak adil dan dhabit dari orang yang berwatak
                         seperti itu sampai puncaknya.
2- hadits hasan      :    Hadits ini hampir sama dengan hadits shahih, bedanya pada
                         periwayat yang tingkat dhabitnya, kecermatan dan hafalan
                         kurang sempurna.
3- hadits dlo‟if :       Hadits yang kualifikasinya dibawah standard shahih dan hasan.
                  (Syamsul: 2006)


1.3 Ijtihad
A. Pengertian Ijtihad
       Ijtihad berasal dari kata “Jahda” secara etimologi berarti mencurahkan segala
kemampuan (berfikir) untuk mengeluarkan suatu hukum syara‟. Ta‟rif ini dilihat
secara umum menurut berbagai Ulama‟, yaitu:
a) Ahli tahqiq mengatakan bahwa Ijtihad ialah Qiyas dan mengeluarkan
     (mengistimbatkan) hukum dari kaidah-kaidah syara‟ yang umum.
b) Ulama ushul mengatakan Ijtihad ialah mepergunakan segala kesanggupan untuk
     mengeluarkan hukum syara‟ dari kitabullah dan hadits rosul.
c) Ahli fiqh mengatakan Ijtihad ialah pencurahan segenap kesanggupan (secara
     maksimal) seorang ahli fiqh untuk mendapatkan pengertian tingkat dhonny
     terhadap hukum syari‟at.
d)    Ibrahim Husein mengidentikkan makna Ijtihad dengan Istimbath. Istimbath
     sendiri berasal dari kata nabath (air yang mula-mula memancar dari smber yang
     digtali), oleh karena itu menurut bahasa Istimbath sebagai murodif Ijtihad, yaitu
     mengeluarkan sesuatu dari persembunyiannya.
     Demikian masuklah kedalam Ijtihad, mengistimbathkan hukum dengan jalan:
1) Istidlal
2) Istishab
3) Istihsan
4) Maslahah mursalah (Istishlah)
5) Baroah Ashliyah
6) Syadduzh dzari‟ah
7) Urf


B. Pembagian Ijtihad
  Adapun pembagian Ijtihad itu ada dua:
1) Mengambil hukum dari dhohirnya nash
2) mengeluarkan hukum dari memahami nash
  Secara ringkas Ijtihad itu ada dua tingkatannya:
1) Ijtihad “Darokil ahkam” (menghasilkan hukum yang belum ada)
2) Ijtihad “Tatbiqil ahkam” (menerapkan hukum atau kaidah atas segala tempat
    yang menerimanya)


C. Syarat-syarat Ijtihad
         Orang yang dipandang mujtahid ialah orang yang melengkapi syarat-syarat
seorang mujtahid atau mempunyai alat-alat Ijtihad yang lengkap, maka syarat-syarat
atau alat-alat Ijtihad itu ialah:
1) Mengetahui segala ayat dan hadits yang berhubungan dengan hukum
2) Mengetahui masalah-masalah yang telah diijma‟kan oleh para ahlinya
3) Mengetahui nasakh-mansukh
4) Mengetahui dengan sempurna bahasa Arab serta Ilmu-ilmunya
5) Mengetahui asrorus syari‟ah (rahasia-rahasia tasyri‟)
6) mengetahui qawaidl fiqih (kaidah-kaidah fiqih yang kullyah yang diisbatkan dari
    dalil-dalil kulli dan maksud-maksud syar‟i)


D. Fungsi Ijtihad
1) Fungsi Al-ruju‟ (kembali): mengembalikan ajaran-ajaran Islam kepada Al qur‟an
    dan sunnah dari segala Interpretasi yang mungkin kurang relevan.
2) Fungsi Al ihya‟ (kehidupan): menghidupkan kembali bagian-bagian dari nilai
   dan semangat Islam agar mampu menjawab tantangan zaman
3) Fungsi Fungsi Al intabah (pembenahan) memenuhi ajaran-ajaran Islam yang
   telah diijtihadkan oleh Ulama‟ terdahulu dan dimungkinkan adanya kesalahan
   menurut konteks zaman dan kondisi yang dihadapi Hukum-hukum Ijtihad


E. Hukum-hukum Ijtihad
      Pada dasarnya setiap muslim diharuskan untuk berijtihad dalam semua
bidang hukum syari‟ah apabila sudah memenuhi syarat-syarat Ijtihad, dan hukum
Ijtihad dibagi menjadi tiga:
1) wajib ain
2) wajib kifayah
3) sunnah


F. Periode-periode Ijtihad sesudah sesudah Nabi Muhammad SAW.
   Dengan meneliti perjalanan Islam, Istimewa sejarah tasyri‟nya bahwa Ijtihad
   sesudah wafatnya Nabi ada tiga periode:
   1) Periode sahabat besar, periode Khulafaur Rasyidin
   2) Periode sahabat kecil, pemuka tabi‟in dimasa Bani Umayyah
   3) Periode Tabiin dan Imam Mujtahidin dimasa permulaan masa Bani
   Abbasiyah


G. Tingkatan Mujtahid
        Ulama Ushul fiqh membedakan derajat para mujtahid dalam beberapa
   martabat menurut kadar keilmuannya:
   1) Mujtahid muthlaq (mustaqil)
       Mujtahid yang memiliki sumbernya menggali hukum syari‟ah langsung dari
       sumbernya yang pokok (Al qur‟an dan Hadits)
    2) Mujtahid madzhab/muqoyyad: mujtahid yang ikut atau terikat pada Imam
        madzhab dan tidak mau keluar dari madzhab itu baik dalam masalah Ushul
        atau Furu‟, seperti Hanifah. Imam Al haromain (Juwaini), Abu Ishaq as
        Syairozi dan Syafi‟iyah.
    3) Mujtahid Murojih yaitu mujtahid yang tidak menisbathkan hukum-hukum
        furu‟ akan tetapi, mereka hanya membandingkan beberapa pendapat Imam
        Mujtahid yang telah ada kemudian memilih salah satu yang paling rojih.


H. Wilayah Ijtihad
      Dalam pandangan Ulama‟ salaf wilayah Ijtihad terbatas pada masalah-
masalah fiqhiyyah, akan tetapi pada akhirnya wilayah tersebut berkembang pada
berbagai aspek keislaman yang meliputi aqidah, filsafat, tasawwuf dan Fiqh.
      Tidak semua masalah hukum bisa menjadi obyek Ijtihad, hal-hal yang tidak
boleh diijtihadkan antara lain:
1) Masalah Qothiyah: masalah yang sudah ditetapkan hukumnya dengan dalil yang
    pasti.   baik dalil aqli ataupun dalil naqli
2) Masalah-masalah yang diijma‟kan oleh Ulama‟ mujtahid dari suatu masa.
    (Hasyim dkk: 2008)

4. Aqidah
    a. Pengertian Aqidah
        Secara etimologi aqidah artinya kepercayaan, keyakinan sedangkan menurut
        istilah (terminologi), aqidah Islam ialah sesuatu yang dipercayai, diyakini
        kebenrannya oleh hati manusia, sesuai ajaran Islam dengan berpedoman
        kepada Al Qur‟an dan al hadits. 1 Sedang menurut Louis Ma‟luf ialah
        Ma‟uqidah „alayh al-qaib wa al-dlamir (                               ) yang
        artinya sesuatu yang mengikat hati atau perasaan.


1
      Menurut Mahmud Syaitul, akidah ialah sisi teoritis yang harus pertama kali
      diimani atau diyakini dengan keyakinan yang mantp tanpa keraguan
      sedikitpun. Lebih lanjut, Syaltut mengelaborasi bahwa dalam ajaran Islam,
      aqidah merupakan landasan atau aar (al-ashl) sedangkan syariah merupakan
      batang, cabang-cabangnya (al-far). Hal ini berimplikasi bahwa syari‟ah tidak
      biasa berdiri sendiri atau tumbuh tanpa akar yang berupa aqidah. Dan syar‟i
      tanpa aqidah bagaikan bangunan yang melayang karena tidak ada
      pondasinya2 karena keterkaitan kedua hal tersebut maka dapat dikatakan
      bahwasanya ajaran Islam terdiri dari dua pokok, yakni :
      Pertama : Aqidah / iman yang terdiri dari enam rukun iman, yang
                  landasannya adalah dalil-dall qath‟iy (al Qur‟an dan hadits
                  mutawatir)
      Kedua     : Syari‟ah/amal sholeh mengatur dua aspek kehidupan manusia
                  yang pokok yaitu mengatur hubungan manusia dengan
                  sesamanya atau aktifitasnya dalam masyarakat yang disebut
                  “mu‟ammalah”


    b. Rukun Iman
              Kalau kita berbicara tentang akidah maka yang menjadi topik
      pembicaraan adalah masalah keimanan yang berkaitan dengan rukun-rukun
      iman dan peranannya dalam kehidupan beragama.
              Diantara rukun-rukun Iman itu antara lain iman kepada Allah dan
      sifat-sifat-Nya, para Rasul-Nya, para malaikat-Nya, kitab-kitab yang
      diturunkan kepada rasu-rasul-Nya, hari akhir dan qadha‟ serta qadar. Hal ini
      dijelaskan dalam beberapa ayat dalam al Qur‟an antara lain Firman Allah
      dalam QS Al Baqarah 2 : 285 yaitu :



2
              Rasul telah beriman kepada yang diturunkan kepadanya oleh
       tuhannya dan juga orang-orang yang beriman. Semu telah beriman kepada
       Allah, malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya. Kmai tidak membedakan
       salah seorang rasul itu dari lainnya.
              Juga terdapat dalam QS Al Baqarah 2 : 177 :




       Adapun yang berasal dari hadits Nabi terdapat dalam sebuah hadits yang
       menceritakan dialog antara Nabi dan malaikat Jibril yang menyamar sebagai
       manusia. Ketika ditanya tentang iuman, Nabi SAW menjawab :


       Artinya :
       Iman ialah engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitb-kitab-Nya,
       para utusan-Nya, hri kemudian dan engkau percaya kepada taqdir baik dan
       buruknya.3


5. Syariah
    a. Pengertian Syariah
              Menurut bahasa syariah merupakan hasil dari proses tasyri,
       sedangkan tasyri sendiri berarti menciptakan dan menetapkan syariah.
       Dalam istilah terdapat beberapa pengertian, antara lain :
          Ulama‟ fiqih kata syariah bermakna menetapkan norma-norma hukum
           untuk menata kehidupan manusia baik dalam hubungannya dengan
           tuhan, maupun dengan umat manusia lainnya.




3
      Syeikh Mahmud Syaltut, mendefinisikan bahwa syariah mengandung arti
       hukum-hukum dan tata aturan yang Allah syariatkan bagi hambanya
       untuk diikuti
      Manna Al-Qathan, syariah berarti segala ketentuan Allah yang
       disyariatkan bagi hamba-hambanya baik menyangkut aqidah, ibadah,
       akhlaq maupun muammalah.
   Dari keempat definisi di atas dapat disimpulkan bahwa syariah itu identik
   dengan agama. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada Surat Al-Maidah :
   48, Al-Syura : 13 dan Al-Jasiyah : 18
   Selain keempat definisi tersebut Yusuf al Qardaqi mempunyai konsep
   syariah dan membagi syariah menjadi dua bagian sebagai berikut :
   1. Hukum-hukum yang telah ditetapkan langsung oleh nas al Qur‟an dan
       sunnah secara jelas
   2. hukum yang telah ditetapkan melalui ijtihad oleh para ulama fiqh
       (fuqoha) dengan merujuk pada ketentuan al Qur‟an, sunnah atau merujuk
       kepada hukum yang tidak ada nashnya misalnya melalui qiyas, istihsan,
       istishab maslahah mursalah dan lain-lain.
b. Tujuan syariah
          Tujuan utama syariah untuk melaksanakan dan menjamin kebaikan
   bersama atau kepentingan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan baik
   sebagai individu maupun sebagai badan kolektif dan menjadi agar bahaya dan
   kerusakan terhindar dari mereka semua. Hal ini dilakukan dengan :
   1. Menjamin kebutuhan vitalnya (sururiyat)
   2. Memenuhi kebutuhan yang lebih besar (haajiyat)
   3. Memberikan perbaikn, penambahan dan peningkatan (tahsinat) kualitas
       hidupnya
c. Pembagian Tasyri berdasarkan subjek hukumnya
          Dengan melihat pada subyek penetap hukumnya, para ulama
   membagi tasyri‟ menjadi dua, yaitu :
     1. Tasyri‟ samawi (illahy) : Penetapan hukum yang dilakukan langsung
         oleh Allah dan rasulnya dalam al Qur‟an dan al-sunnah sifatnya abadi
         dan tidak berubah
     2. Tasyri‟ wadhi : penentuan hukum yang dilakukan para mujtahid baik
         mujtahid mustambith maupun muthabig sifatnya bisa beurbah-ubah
  d. Sumber syariah
            Sebagaimana kaum muslimin pada umumnya, an-Naim meyakini
     bahw Al-Qur‟an dan sunnah merupakan sumber syariah yan fundamental.
     Disamping itu an-Naim juga mengakui keberadaan ijma‟ dan qiyas serta
     beberapa ijtihad tambahan, seperti ihtisan, istishlah (maslahat mursalah)
     istihsab dan urf.
     1. Al Qur‟an
     2. Sunnah
     3. Ijma‟
     4. Qiyas (Binti, dkk : 2008)


6. Akhlak
  a. Pengertian Akhlak
            Secara etimologis, kata akhlak berasl dari bahasa arab (           ) yang
     merupakan bentuk jama‟ dari (            ) yang artinya budi pekerti/peringai
     tingkah laku atau tabiat.
     Secara terminologis, ada beberapa definisi tentang akhlaq antara lain :
        Menurut Ibrahim Anis, akhlaq adala sifat yang tertanam dalam jiwa yang
         dengannya lahirlah perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah,
         tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan
        Menurut Abd. Al Karim Zaidan, akhlaq adalah kumpulan nilai dan sifat-
         sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotn dan timbangannya
         seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian
         terus melakukan atau meninggalnya.
             Kedua definisi di atas sepakat menyatakan bahwa akhlq atau khuluq
     adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga ia akan muncul
     secara spontan bilana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau
     pertimbangan, serta tidak memerlukan adanya dorongan dari luar dirinya.
  b. Beberapa madzhab akhlak
     1. Adat istiadat
     2. Manfaat materi
     3. Hedonimse / kesenangan
     4. Intuisi
     5. Moderat
  c. Sumber akhlaq menurut Islam
             Yang dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi ukuran
     baik dan buruk atau mulia dan tercela sebagaimana karkteristik keseluruhan
     ajaran Islam, maka sumber akhlaq adalah al Qur‟an dan sunnah dan bukan
     akal pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan
     moral


7. Tasawuf
  a. Pengertian Tasawuf
             Kembali kepada Allah adalah masalah yang harus kita persiapkan
     untuk menghadapinya. Dalam mempersiapkannya ada lima unsur yang
     penting yaitu ruh, ghaib, jasad anggota badan dan syahwat atau nafsu. Dari
     lima unsur tersebut ada kekuatan yang menguasai anggota badan yaitu ruh
     spiritual) sebagai kekuatan positif dan nafsu sebagai kekuatan negatif. Untuk
     menahan nafsu, itu memerlukan mujahadah. Mujhadah memiliki tujuan
     utama yaitu penyucian jiwa atau ruh dan perbaikan hati. Metode dan media
     yang digunakan untuk menggapai tujuan tersebut adalah tasawuf dan
     termasuk di dalamnya apa yang disebut tarekat.
          Secara etimologis, para ahli berselisih tentang asal kata tasawuf,
   sebagian menyataan tasawuf berasal dari kata shuf, shafa, shuffa, shaf,
   shufana dan juga sofia. Sedang menurut istilah, kata tasawuf memiliki
   beberapa pengertian, antara lain :
   a. Menurut Ibnu Taimiyah dan Ibnu qayyim al-Jauziah mengemukakan
      bahwa tasawuf merupakan etika Islam
   b. Menurut syaikh Abu Bakar al-Katami, tasawuf adalah akhlaq mulia,
      kejernihan dn kesaksian
   c. Menrut ibnu Sina dalam kitabnya al-isyarah menyebutkan bahwa Zahid
      adalah abid, tetapi abid dan Zahid belum tentu seorang sufi
   d. Menurut al-Syibi, tasawuf permulaannya adalah ma‟rifat dan diakhri
      dengan peng-Esaan-Nya
   e. Sedangkan menurut Abudun Nata dalam bukunya Metodologi Studi
      Islam mengemukakan bahwa tasawuf memiliki 3 sudut pandang :
      pertama, sudut pandang manusia, sebagai makhluk terbatas. Kedua,
      manusia sebagai makhluk yang harus berjuang dan ketiga, sudut pandang
      manusia sebagai makhluk ber-Tuhan.
   Dari beberapa pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa tasawuf adalah
   penyucian jiwa dan pembeningan akhlaq yang merupakan terminologi dari
   ajaran Islam yaitu ihsan yang bertujuan untuk taqarrub kepada Allah dan
   meraih ma‟rifat kepada-Nya agar mendapat kebehagiaan dan ketenangan
   karena mendapat ridlo Allah dengan cara memakhlukkan jasmani manusia
   agar tunduk kepada rohani manusia dan bergerak menyempurnakan akhlak.
b. Tujuan tasawuf
   1. Berupaya menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan bathil
   2. Melepaskan diri dari penyakit kalbu
   3. Menghiasai diri dengan akhlaq yang mulia
   4. Menstabilkan aqidah ilahiyah (persahabatan ketuhanan)
c. Ajaran tasawuf
           Dalam pembahasan mengenai tasawuf, terdapat tiga permasalahan
   yang dibicarakan oleh semua agama di dunia. Pertama, tentang Tuhan,
   kedua tentang manusia dan ketiga tentang dunia Islam dan lebih spesifik lagi
   tasawuf memiliki konsep tersendiri tentang tiga hal tersebut. Konsep-konsep
   itu antara lain :
   1. Konsep ketuhanan
   2. Konsep manusia dalam tasawuf
   3. Konsep tasawuf mengenai pandangan tentang dunia
d. Pendekatan Pemikiran tasawuf
   Pendekatan tematik    : penelusuran ajaran tasawuf dalam tema-tema
                              tertentu dengan tujuan untuk taqarub kepada Allah
                              melalui zuhud atau maqom-maqom lainnya
   Pendekatan tokoh      : penelusuran      mengenai     tokoh-tokoh    tasawuf
                              tertentu berikut ajaran-ajarannya yang spesifik
                              sesuai dengan pengalaman subyektif
   Pendekatan kombinasi : merupakan gabungan antara pendekatan tematik
                              dan tokoh dengan menggunakan al Qur‟an dan al-
                              hadits sebagai standar dalam memahami tema-
                              tema dari ajaran tasawuf beserta pengenalan tokoh-
                              tokohnya dan menganalisis sesuai denagn konteks
                              kesejarahan
e. Tokoh-tokoh tasawuf
           Tokoh-tokoh ahli tasawuf dalam islam antra lain dzununun al-
   Mishry, al-Rumi, Ibnu Aroby, Al-Bushomy, dan Robiatul Adawiyah dan
   sebagainya (Hasan Bisri)
  SEJARAH PERADABAN ISLAM DILIHAT DARI SEGI UMAT-UMAT


1. Periodisasi Islam masa Klasik
          Periode Islam klasik dimulai sejak nabi Muhammad hingg runtuhnya
   Baghdad. Secara umum periode klsik terbagi menjadi dua, periode pertama
   adalah masa kemajuan dan keemasan Islam yang terjadi mulai sekitar 650 M
   sampai tahun 1000 M. Sedang periode kedua adalah masa kemunduran dan
   disintegrasi yang dimulai tahun 1000 M hingga runtuhnya Baghdad pada tahun
   1258 M. Pada periode pertama, yang mana pemerintahan dipegang Nabi
   Muhammad hingga Bani Umayah, mengalami keemasan dalam pemerintahan
   perluasan wilayah Islam berjalan begitu pesat. Sedang periode kedua masa Bani
   Abbasiyah yang selanjutnya lambat laun mengalami keruntuhan yang begitu
   memilukan.
          Adapun kejayaan-kejayaan yang dapat dirasakan hingga saat ini dari
   usaha-usaha pemerintahan periodisasi masa klasik :
   1) Pembukuan mushaf al Qur‟an oleh Utsman bin Affan
   2) Pembukuan mushaf hadits oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz
   3) Penerjemahan buku-buku Yunani
   4) Kemajuan pemikiran-pemikiran teologi pada masa itu


2. Periodisasi Islam masa pertengahan
          Periode ini ditandai adanya kemunduran total imperium serta kehancuran
   pusat peradaban dan ilmu pengetahuan yakni kota Baghdad. Penyerangan itu
   dilkukan oleh sang penakluk kota Baghdad Jengis Khan yang mana ia
   meneruskan tradisi kakeknya Jengis Khan dengan membawa kehancuran dunia
   Islam. Penderitaan umat islam belum berakhir akibat serangan tentara Mongol,
   malapetaka juga datang kembali oleh serangan Timur Lenk (807 H/1404 M)
   yang juga keturunan Mongol, bedanya dengan jengis raja Tiur Lenk adalah
   seorang muslim. Ia juga termasuk raja yang ganas dan kejam akan tetapi meski
   demikian ia tetap memperhatikan pengembangan islam.
          Selain kekuasaan Jengis Khan dan Timur Lenk yang berusaha menguasai
   Islam, pada abad pertengahan ini terdapat tiga kerajaan Islam besar (1500 –
   1800) yang berusaha bangkit dari keterpurukan dan kehancuran.


3. Kerajaan Besar Islam itu antara lain :
   1) Kerajaan Usmani
              Didirikan oleh Ustman bin Artagol tahun 699 H/1300 H. Pusat
      pemerintahannya adalah Iskisyahr mengalami masa kejayaan pada masa
      Sultan Sulaiman al Qonuni karena beliau berhasil membuat undang-undang
      pemerintahan kerajaan Turki usmani sehingga beliau memperoleh gelar Al-
      Qonuni.
              Adapun kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Turki
      usmani antara lain :
      a. Bidang militer
          Berhasil menyusun kekuatan yang terbentuk dalam pasukan militer yng
          diberi nama Jemssaris (Inkrisiyah) dan Thaujiah
      b. Bidang Pemerintahan
          Terbentuknya sistem pemerintahan yang teratur dengan adanya perdana
          menteri, gubernur, dan bupati sebagai pembantu sultan
      c. Bidang seni dan kebudayaan
          Seni yang terkenal pada mas Turki Usmani adalah seni arsitektur Islam
          yang berupa masjid yang indah dan dihiasi kahraji yang terbuat dari
          kristal
      d. Bidang keagamaan
          Dalam bidang keagamaan Turki usmani mengangkat Mufti sebagai
          pejabat tinggi urusan agama dan pengembangan tarekat Bektasya dan
          tarekat Maulani
   2) Kerajaan Syafawi (1252)
            Dipelopori oleh ishak Syafiudin, seorang pemimpin sebuah tarekat
      safawiyah di Ardabil, kota Azarbejan, kemajuannya tercapai pada masa
      Sultan Abbas Syah yakni Sultan kelima dari kerajaan Syafawi dengan gelar
      sultan Abbasiyah yang agung.
   3) Kerajaan Mughol
            Dinasti ini didirikan oleh Zahirudin Babur (1530 /937 H). Ia
      merupakan keturunan Timur Lenk, kerajaan Mongol islam di India mampu
      bertahan selama 200 tahun dan diperintah oleh 14 Sultan. Diantara Sultan-
      sultan yang terkenal adalah :
      a) Sultan Zahrudin babur (1526 – 1530 M)
      b) Sultan Humayun (1530 – 1539 M)
      c) Sultan Akbar Agung (1556 – 1605 M)
      d) Sultan Jihangir (1605 – 1628 M)
      e) Sultan Syah Jihan (1628 – 1658 M)
      f) Sultan Aurangzab (1658 – 1707 M)


4. Periode Islam pada Masa Modern
          Periode ini ditandai dengan penetrasi Barat atas dunia Islam pada saat itu
   Mesir yang berada di bawah kekuasaan Inggris berusaha juga diduduki oleh
   bangsa Perancis. Ekspedisi ini dilakukan oleh Napoleon Bonaparte yang
   akhirnya membawa dampak positif bagi rakyat Mesir khususnya dari dunia
   Islam pada umumnya. Ekspedisi ini terjadi pada tahun 1798 M sebagai dampak
   dari ekspedisi Napoleon terhadap Mesir adalah penyebaran ilmu pengetahuan
   dan teknologi. Sehingga dengan adanya ekspedisi dapat membuka mata umat
   islam seluruhnya. Dan akhirnya umat Islam sadar bahwa umat Islam banyak
   mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dan muncullah para penguasa dan
   pemikir Islam yang mulai berfikir untuk mengembalikan citra keunggulan Islam
   terhadap Barat. Maka kemudian lahirlah aliran modernisasi dalam Islam, dengan
   pemikirannya yang berusaha mengemablikan kejayaan Islam pada masa klasik
   (Tim Penyusun IAIN Surabaya : 2005)
                                    BAB VIII
                                        HAM
       Hak asasi manusia adalah hak-hak yang telah dimiliki seseorang sejak ia lahir
dan merupakan pemberian dari Tuhan. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi
kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum
dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29
ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1. Contoh hak asasi manusia (HAM):
      Hak untuk hidup.
      Hak untuk memperoleh pendidikan.
      Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain.
      Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama.
      Hak untuk mendapatkan pekerjaan.


   1. PENGERTIAN DAN DEFINISI HAM :
       HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia
sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat
siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak
azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain
sebagainya.
       Melanggar HAM seseorang bertentangan dengan hukum yang berlaku di
Indonesia. Hak asasi manusia memiliki wadah organisasi yang mengurus
permasalahan seputar hak asasi manusia yaitu Komnas HAM. Kasus pelanggaran
ham di Indonesia memang masih banyak yang belum terselesaikan / tuntas sehingga
diharapkan perkembangan dunia ham di Indonesia dapat terwujud ke arah yang lebih
baik. Salah satu tokoh ham di Indonesia adalah Munir yang tewas dibunuh di atas
pesawat udara saat menuju Belanda dari Indonesia.
       Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia :
1. Hak asasi pribadi / personal Right
       - Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
       - Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
       - Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
       - Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan
          kepercayaan yang diyakini masing-masing


2. Hak asasi politik / Political Right
       - Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
       - hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
       - Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik
          lainnya
       - Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi


3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right
       - Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
       - Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
       - Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum


4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths
       - Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
       - Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
       - Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
       - Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
       - Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak


5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights
       - Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan
       - Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan
          penyelidikan di mata hukum.
6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right
       - Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
       - Hak mendapatkan pengajaran
       - Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat



                                     BAB IX
                                PLURALIS
       Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia,
mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah
pluralism.
       Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism.
definisi [eng]pluralism adalah : "In the social sciences, pluralism is a framework of
interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that
they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation." Atau dalam
bahasa Indonesia : "Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan
rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi
(pembauran / pembiasan)."
       Belakangan, muncul fatwa dari MUI yang melarang pluralisme sebagai
respons atas pemahaman yang tidak semestinya itu. Dalam fatwa tersebut, MUI
menggunakan sebutan pluralisme agama (sebagai obyek persoalan yang ditanggapi)
dalam arti "suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan
karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk
agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan
agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama
akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga". Kalau pengertian pluralisme
agama semacam itu, maka paham tersebut difatwakan MUI sebagai bertentangan
dengan ajaran agama Islam.
       Bagi mereka yang mendefinisikan pluralism - non asimilasi, hal ini di-salah-
paham-i sebagai pelarangan terhadap pemahaman mereka, dan dianggap sebagai
suatu kemunduran kehidupan berbangsa. Keseragaman memang bukan suatu pilihan
yang baik bagi masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, bermacam ras, agama dan
sebagainya. Sementara di sisi lain bagi penganut definisi pluralisme - asimilasi,
pelarangan ini berarti pukulan bagi ide yang mereka kembangkan. Ide mereka untuk
mencampurkan ajaran yang berbeda menjadi tertahan perkembangannya.
       Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi
beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan
toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan
hasil tanpa konflik asimilasi.
       Pluralisme adalah dapat dikatakan salah satu ciri khas masyarakat modern dan
kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama
kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.
       Dalam sebuah masyarakat otoriter atau oligarkis, ada konsentrasi kekuasaan
politik dan keputusan dibuat oleh hanya sedikit anggota. Sebaliknya, dalam
masyarakat pluralistis, kekuasaan dan penentuan keputusan (dan kemilikan
kekuasaan) lebih tersebar.
       Dipercayai bahwa hal ini menghasilkan partisipasi yang lebih tersebar luas
dan menghasilkan partisipasi yang lebih luas dan komitmen dari anggota masyarakat,
dan oleh karena itu hasil yang lebih baik. Contoh kelompok-kelompok dan situasi-
situasi di mana pluralisme adalah penting ialah: perusahaan, badan-badan politik dan
ekonomi, perhimpunan ilmiah.
       Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme proses ilmiah adalah faktor
utama dalam pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, pertumbuhan
pengetahuan dapat dikatakan menyebabkan kesejahteraan manusiawi bertambah,
karena, misalnya, lebih besar kinerja dan pertumbuhan ekonomi dan lebih baiklah
teknologi kedokteran.
   2. KRISTALISASI POLEMIK
       Dengan tingkat pendidikan yang kurang baik, sudah bukan rahasia lagi bahwa
kebanyakan penduduk indonesia kurang kritis dalam menangani suatu informasi.
Sebuah kata yang masih rancu pun menjadi polemik karena belum adanya kemauan
untuk mengkaji lebih dalam. Emosi dan perasaan tersinggung seringkali melapisi
aroma debat antar tiga pihak yaitu :
   1. Penganut pluralisme dalam arti asimilasi
   2. Penganut pluralism dalam arti non asimilasi
   3. Penganut anti-pluralisme (yang sebenarnya setuju dengan pluralism dalam
       arti non-asimilasi)



                                       BAB X
                   MULTIKULTURALISME
   1. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
       Beberapa hal yang dibidik dalam pendidikan multikultural ini adalah:
       Pertama, pendidikan multikultural menolak pandangan yang menyamakan
pendidikan    (education)    dengan    persekolahan   (schooling)   atau   pendidikan
multikultural dengan program-program sekolah formal. Pandangan yang lebih luas
mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan juga bermaksud membebaskan
pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer dalam mengembangkan
kompetensi kebudayaan semata-mata berada di tangan mereka melainkan tanggung
jawab semua pihak.
       Kedua, pendidikan ini juga menolak pandangan yang menyamakan
kebudayaan dengan kelompok etnik. Hal ini dikarenakan seringnya para pendidik,
secara tradisional, mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok
sosial yang relatif self sufficient. Oleh karena individu-individu memiliki berbagai
tingkat kompetensi dalam berbagai dialek atau bahasa, dan berbagai pemahaman
mengenai situasi-situasi di mana setiap pemahaman tersebut sesuai, maka individu-
individu memiliki berbagai tingkat kompetensi dalam sejumlah kebudayaan. Dalam
konteks ini, pendidikan multikultural akan melenyapkan kecenderungan memandang
individu secara stereotip menurut identitas etnik mereka. Malah akan meningkatkan
eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di
kalangan anak-didik dari berbagai kelompok etnik.
       Ketiga, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa
kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi seseorang pada suatu waktu
ditentukan oleh situasinya. Meski jelas berkaitan, harus dibedakan secara konseptual
antara identitas-identitas yang disandang individu dan identitas sosial primer dalam
kelompok etnik tertentu.
       Keempat, kemungkinan bahwa pendidikan meningkatkan kesadaran mengenai
kompetensi dalam beberapa kebudayaan akan menjauhkan kita dari konsep dwi-
budaya (bicultural) atau dikotomi antara pribumi dan non-pribumi. Karena dikotomi
semacam    ini     bersifat   membatasi   kebebasan   individu   untuk   sepenuhnya
mengekspresikan diversitas kebudayaan.
       Dalam melaksanakan pendidikan multikultural ini mesti dikembangkan
prinsip solidaritas. Yakni kesiapan untuk berjuang dan bergabung dalam perlawanan
demi pengakuan perbedaan yang lain dan bukan demi dirinya sendiri. Solidaritas
menuntut untuk melupakan upaya-upaya penguatan identitas melainkan berjuang
demi dan bersama yang lain. Dengan berlaku demikian, kehidupan multikultural yang
dilandasi kesadaran akan eksistensi diri tanpa merendahkan yang lain diharapkan
segera terwujud.
       Itulah sikap multikultural yang terwujud. Dengan menghormati tata cara
saudara kita yang beragama Konghucu, bukannya kita langsung menjadi beragama
Konghucu, karena kita tetap pada jatidiri kita masing-masing.
       Yang beragama Islam tetap beragama Islam, yang beragama Katolik tetap
beragama Katolik, yang beragama Kristen Protestan tetap beragama Kristen
Protestan, yang beragama Buddha tetap beragama Buddha dan yang beragama Hindu
tetap beragama Hindu.
       Pelaksanaan Grebeg Maulud di Yogya, Grebeg Idul Adha di Demak serta
berbagai Grebeg secara adat Jawa yang dilaksanakan di berbagai tempat dengan arak-
arakan yang membawa gunungan lanang dan gunungan wadon. Setiap peserta dengan
tanpa memperhatikan dirinya beragama apa dan lahir dari ethnis mana, dengan tekun
dan tulus mengikuti seluruh upacara. Mana yang mau dilakukan dan mana yang tidak
mau dilakukan ketika berada dalam perhelatan termaksud, tidak ada yang
menyalahkan atau mengharuskan.
       Nagara kita mempunyai berbagai corak budaya dan ethnis. Perbedaan tersebut
justru menghiasi keindahan di negeri Kesatuan Republik Indonesia.
       Sejak zaman dulu rakyat Indonesia terkenal ramah dan mudah menghargai
perbedaan. Konon ketika orang India datang, rakyat di Nusantara belajar budaya
Hindustan. Ketika orang Kamboja datang, dikenal Angling Darma, ketika orang
Tionghoa datang, dikenal berbagai cara bertani dan pengolahan hasil pertanian
menjadi tahu, mi dan lain sebagainya.
       Bangsa Indonesia diciptakan menjadi bangsa yang multi etnis, agama, budaya,
tradisi, suku, dan ras. Apa yang dulu kita sebut SARA, sejatinya merupakan sendi
dari bangsa ini. Hanya dalam beberapa tahun, SARA pernah mendapatkan
stigmatisasi negatif, sehingga idiom SARA sangat negatif.
       Pada saat ini, perbincangan soal SARA tidak lagi serem seperti tatkala rezim
Orde Baru berkuasa. Bahkan SARA kemudian didudukkan sebagai bagian dari urat
nadi bangsa ini sebagaimana founding fathers memproklamasikan negara ini bukan
menjadi negara agama atau negara sekuler. Di sinilah urgensi perbincangan SARA
menemukan momentumnya.
       Demi mengakomodir dan memperdebatkan SARA secara terbuka, saya kira
pendidikan multikultural sangat penting untuk diketengahkan pada masyarakat kita.
Hemat saya pendidikan multikultural merupakan salah satu bagian dari “pencerahan
kembali” pada masyarakat akan khazanah bangsa yang telah dihilangkan dalam nalar
kritis anak-anak didik kita.
       Pendidikan memang sangat penting. Pendidikan sangat strategis untuk
membangun masa depan bangsa yang lebih baik, asalkan pendidikan diselenggarakan
dengan cara-cara berkualitas, menjunjung tinggi prinsip keilmuan, seperti kejujuran,
akuntabilitas, saling menghormati, dan menghargai kepelbagaian antar-manusia
(antar peserta didik).
       Hal yang lebih penting dari gagasan pendidikan multikultural adalah adanya
penghormatan pada kaum minoritas dan hak-haknya di bidang politik, agama,
kebudayaan, serta kebiasaan. Kaum minoritas sekaligus menjadi bagian tak
terpisahkan dari proses partisipasi publik ketika negara hendak mengeluarkan sebuah
kebijakan. Jika itu semua diterapkan dalam sebuah gagasan pendidikan, maka masa
depan bangsa yang lebih beradab akan semakin menemukan bentuknya. Tetapi,
ketika pendidikan multikultural dicurigai sebagai pendidikan yang mengajarkan
“kesesatan iman” maka tumbuhnya pikiran, serta sikap saktarian dan parochiat akan
semakin kelihatan.
       Pendidikan yang seperti itulah, yang kemudian kita kenal sebagai pendidikan
berbasis multikultural. Yakni pendidikan yang menghargai kepelbagaian agama,
etnis, gender, dan suku. Pendidikan yang seperti ini merupakan pendidikan yang akan
memberikan manfaat          tatkala basis sosial     siswa berbeda-beda. Pendidikan
multikultural akan bermanfaat tatkala kita mendambakan sebuah perilaku sosial siswa
yang    dapat    berinteraksi     dengan     perilaku     masyarakat   yang     beragam.
Oleh sebab itulah, gagasan untuk memberikan kurikulum pendidikan yang bersifat
multikultural, sebagai perbaikan sikap peserta didik merupakan model pendidikan
yang mampu mengakomodir kepelbagaian dari siswa. Sebab, inilah keaslian
Indonesia,   sangat      plural   dalam    hal   etnis,   agama,   gender,    dan   suku.
Dengan kurikulum pendidikan berbasis multikulturalisme untuk siswa-siswi
sekurang-kurangnya sejak SMP-SMU dan dimasukkan ke dalam beberapa mata
pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Sosial, Kewarganegaraan (PKN), Bahasa
Indonesia, dan Sejarah agaknya akan mendukung terjadinya proses demokratisasi
dalam pendidikan dan pembentukan sikap citizenship yang moderat
       Dalam perdebatan wacana ini, tentu saja beda pendapat dan konflik sosial pun
acapkali tidak bisa dihindari. Bahkan, klaim kebenaran (truth claim), tuduh-menuduh,
penghakiman dan pengkafiran seolah menjadi santapan sehari-hari dalam kehidupan
beragama di negeri ini.
       Potret di atas merupakan realitas empirik yang sering dijumpai beberapa tahun
lalu, meski akhir-akhir ini wacana tersebut agak redup akibat kalah isu dengan
wacana politik, infotainment selebriti dan peristiwa bencana alam di berbagai pelosok
tanah air. Namun begitu, bukan berarti perdebatan Islam di nusantara menjadi
stagnan, justru dengan ramainya wacana tersebut menjadikan perdebatan agama terus
menguat dan kian ramai. Setidaknya hal itu ditandai dengan munculnya banyak
kelompok kajian, aliran keagamaan, dan golongan-golongan dalam semua agama,
khususnya di Islam.


   2. Islam Multikultural
       Dalam konteks tersebut, memperbincangkan diskursus Islam multikultural di
Indonesia menemukan momentumnya. Sebab, selama ini Islam secara realitas
seringkali ditafsirkan tunggal bukan jamak atau multikultural. Padahal, di Nusantara
realitas Islam multikultural sangat kental, baik secara sosio-historis maupun glokal
(global-lokal). Secara lokal, misalnya, Islam di nusantara dibagi oleh Clifford Geertz
dalam trikotomi: santri, abangan dan priyayi; atau dalam perspektif dikotomi Deliar
Noer, yaitu Islam tradisional dan modern; dan masih banyak lagi pandangan lain
seperti liberal, fundamental, moderat, radikal dan sebagainya. Secara sosio-historis,
hadirnya Islam di Indonesia juga tidak bisa lepas dari konteks multikultural
sebagaimana yang bisa dibaca dalam sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang
dibawa oleh Walisongo.
                                    BAB XI
             PEMBERDAYAAN EKONOMI
       Konsep pemberdayaan ekonomi secara ringkas dapat dikemukakan sebagai
berikut:
1.    Perekonomian rakyat adalah perekonomian yang deselenggarakan oleh rakyat
      yang berakar pada potensi dan kekuatan masyarakat secara luas untuk
      menjalankan roda perekonomian mereka sendiri. Pengertian rakyat adalah
      semua warga negara.
2.    Pemberdayaan ekonomi rakyat adalah usaha untuk menjadikan ekonomi yang
      kuat, besar, modern, dan berdaya saing tinggi dalam mekanisme pasar yang
      benar. Karena kendala pengembangan ekonomi rakyat adalah kendala
      struktural, maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dilakukan melalui
      perubahan struktural.
3.    Perubahan structural yang dimaksud adalah perubahan dari ekonomi tradisional
      ke ekonomi modern, dari ekonomi lemah ke ekonomi kuat, dari ekonomi
      subsisten ke ekonomi pasar, dari ketergantungan ke kemandirian. Langkah-
      langkah proses perubahan struktur, meliputi:
           a. Pengalokasian sumber pemberdayaan sumberdaya;
           b. Penguatan kelembagaan;
           c. Penguasaan teknologi; dan
           d. Pemberdayaan sumberdaya manusia.
4.    Pemberdayaan ekonomi rakyat, tidak cukup hanya dengan peningkatan
      produktivitas, memberikan kesempatan berusaha yang sama, dan hanya
      memberikan suntikan modal sebagai stumulan, tetapi harus dijamin adanya
      kerjasama dan kemitraan yang erat antara yang telah maju dengan yang masih
      lemah dan belum berkembang.
5.    Kebijakannya dalam pembedayaan ekonomi rakyat adalah:
             a. Pemberian peluang atau akses yang lebih besar kepada aset produksi
                 (khususnya modal);
             b. Memperkuat posisi transaksi dan kemitraan usaha ekonomi rakyat,
                 agar pelaku ekonomi rakyat bukan sekadar price taker;
             c. Pelayanan pendidikan dan kesehatan;
             d. Penguatan industri kecil;
             e. Mendorong munculnya wirausaha baru; dan
             f. Pemerataan spasial
6.       Kegiatan pemberdayaan masyarakat mencakup:
             a. peningkatan akses bantuan modal usaha;
             b. Peningkatan akses pengembangan SDM; dan
             c. Peningkatan akses ke sarana dan prasarana yang mendukung langsung
                 sosial ekonomi masyarakat lokal.



                                       BAB XII
                              RADIKALISME
          Radikalisme dapat merujuk kepada:
         Ekstremisme, dalam politik berarti tergolong kepada kelompok-kelompok
          Kiri radikal, Ekstrem kiri atau Ekstrem kanan.
         Radikalisasi transformasi dari sikap pasif atau aktivisme kepada sikap yang
          lebih radikal, revolusioner, ekstremis, atau militan.
          Sementara istilah "Radikal" biasanya dihubungkan dengan gerakan-gerakan
ekstrem kiri.
          Beberapa tahun belakangan ini, isu radikalisme agama sangat menguat dan
mengguncangkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kelompok agama
fundamental berjuang sekuat tenaga dan dengan segala cara, memperjuangkan visi
dan misi mereka, tanpa peduli akan kenyataan dalam masyarakat bahwa bangsa ini
adalah pluralis.
       Semua orang menyambut baik ketika pengadilan Denpasar, Bali, menvonis
“Trio Bom Bali” hukuman seumur hidup dan hukuman mati atas tindakan yang
telah melenyapkan ratusan nyawa. Tetapi apakah itu efektif. Sebagian orang masih
meragukan efektivitas hukuman itu untuk mengatasi aksi kekerasan atau terorisme.
Cara itu masih menyisakan sejumlah persoalan karena penyelesaian hukum tidak
menyentuh masalah terorisme itu secara komprehensif. Hukuman hanyalah sebuah
shock therapy (kejutan sesaat) saja.
       Terorisme sesungguhnya terkait dengan beberapa masalah mendasar, antara
lain, pertama, adanya wawasan keagamaan yang keliru. Kedua, penyalahgunaan
simbol agama. Ketiga, lingkungan yang tidak kondusif yang terkait dengan
kemakmuran dan keadilan. Kempat, faktor eksternal yaitu adanya perlakuan tidak
adil yang dilakukan satu kelompok atau negara terhadap sebuah komunitas.
Akibatnya, komunitas yang merasa diperlakukan tidak adil bereaksi. Menurut Ketua
Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU) KH Hasyim Muzadi, dalam sebuah
pernyataannya yang dimuat majalah Kompas 2/9/03, terorisme hanya bisa dicegah
secara fundamental kalau kita bisa menyelesaikan hingga keempat pokok masalah
tadi
       Studi tentang terorisme memperlihatkan bahwa pandangan agama yang
keliru dan penyalahgunaan simbol agama menjadi dalang utama aksi teroris. Demi
alasan agama, orang bisa berkorban bahkan nyawa sekalipun. Bahkan ada yang
lebih ekstrem, demi menjaga kemurnian agama sendiri, komunitas lain harus
dihabisi karena berseberangan pandangan.
       Pandangan ini tetap hidup dalam kelompok sempalan beberapa agama dan
semuanya berakar pada radikalisme dalam penghayatan agama. Secara teoretis,
radikalisme muncul dalam bentuk aksi penolakan, perlawanan, dan keinginan dari
komunitas tertentu agar dunia ini diubah dan ditata sesuai dengan doktrin
agamanya.
Menurut Horace M Kallen, radikalisme ditandai oleh tiga kecenderungan umum.
Pertama,   radikalisme   merupakan    respons   terhadap   kondisi   yang    sedang
berlangsung. Respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau
bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide,
lembaga, atau nilai-nilai yang dapat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan
keadaan yang ditolak.
       Kedua, radikalisme tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus
berupaya mengganti tatanan lain. Ciri ini menunjukkan bahwa di dalam radikalisme
terkandung suatu program atau pandangan dunia (world view) tersendiri. Kaum
radikalis berupaya kuat untuk menjadikan tatanan tersebut sebagai ganti dari tatanan
yang sudah ada. Dan ketiga, kaum radikalis memiliki keyakinan yang kuat akan
kebenaran program atau ideologi yang mereka bawa. Dalam gerakan sosial, kaum
radikalis memperjuangkan keyakinan yang mereka anggap benar dengan sikap
emosional yang menjurus pada kekerasan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1727
posted:2/7/2011
language:Indonesian
pages:32