Docstoc

Filsafat Ilmu Epistemologi Barat dan Epistemologi Islam

Document Sample
Filsafat Ilmu Epistemologi Barat dan Epistemologi Islam Powered By Docstoc
					                                    BAB I
                              PENDAHULUAN




       Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap
proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Baik Barat
maupun Islam yang dalam perkembangannya masing-masing mempunyai kajian
sendiri-sendiri yang mana akan dibahas dalam makalah ini.




                                       1
                                     BAB II
        EPISTEMOLOGI BARAT DAN EPISTEMOLOGI ISLAM


A. Epistemologi Barat
            Dalam epistimilogi barat dikenal dengan empat jenis epistimologi,
   yaitu : 1. Empirisme, 2. Rasionalisme, 3.Kritisme, 4. intuitisme yang akan
   dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.
   1. Empirisme
              Empirisme berasal dari kata Yunani "empiris" yang berarti
      pengalaman indrawi baik pengalaman lahiriyah yang menyanhkut dunia
      maupun pengalaman batiniyah yang menyangkut pribadi manusia. Aliran
      ini muncul di Inggris yang awalnya dipelopori oleh Fransis Bacon.
      Empirisme adalah aliranyang menjadikan pengalaman sebagai sumber
      pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa pengatahuan diperoleh
      melalui pengalaman dengan cara observasi/pengindraan)
              Kelemahan dari aliran ini adalah keterbatasan indra manusia
      sehingga muncullah aliran Rasionalisme. Adapun akan dijelaskan
      mengenai tokoh-tokoh yang menganut aliran ini beserta pendapat-
      pendapatnya.
      a. Fransis Bacon (1210-1292 M)
          Menurut     Fransis   Bacon      pengetahuan   yang     sebenarnya   ialah
          pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dan
          dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pegetahuan yang sejati.
      b. Thomas Hobbes (1588-1676 M.)
          Sebagaimana umumnya penganut empirisme, Hobbes beranggapan
          bahwa     pengalaman     merupakan     permulaan      segala   pengenalan.
          Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan, yaitu
          pnggabungan data-data indrawi yang sama dengan cara berlain-lainan
      c. John Locke (1632-1704 M)
          Salah seorang penganut empirisme, yang juga "Bapak Empirisme"
          mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, keadaan akalnya



                                           2
                                                                        3




   masih bersih, ibarat kertas yang kosong yang belum tertuliskan apapun
   (tabularasa). Pengetahuan baru muncul ketika indra manusia menimba
   pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian
   dalam    kehidupan. Kertas tersebut mulai tertuliskan berbagai
   pengalaman indrawi. Seluruh sisa pengetahuan diperoleh dengan jalan
   menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari
   pengindraan serta refleksi yang pertama dan sederhana.
   Menurutnya ada dua pengalaman :lahiriyah (sensation) dan batiniyah
   (reflextion). Kedua sumber pengalaman inimenghasilkan ide-ide
   tunggal (simple ideas)
   Selanjutnya, dia juga mengakui bahwa dalam dunia luar ada subtansi-
   subtansi, tetapi kita hanya mengenal ciri-cirinya saja. Inilah yang
   kemudian dikenal dengan subtansi material.
d. George Berkeley (1665-1753 M)
   Berkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada subtansi-subtansi
   materiil, yang ada hanyalah pengalaman dalam roh saja. Esse
   estpercipi (Being is being perceived) yang artinya bahwa dunia
   materiil sama saja dengan ide-ide yang saya alami. Sebagaimana
   dalam bioskop gambar-gambar film pada layar putih silihat para
   penonton sebagai benda-benda yang real dan hidup.
   Ia mengakui bahwa "aku" merupakan suatu subtansi rohanu. Dia juga
   mengakui adanya tuhan, sebab tuhan merupakan asal-usul ide-ide yang
   saya lihat.
e. David Hume (1711-1776 M)
   Menurut para penulis sejarah filsafat empirisme berpuncak pada David
   Hume sebab ia mengunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara
   yang paling radikal, terutama pengertian subtansi dan kausalitas
   (hubungan sebab akibat) yang menjadi objek kritiknya. Ia tidak
   menerima subtansi, sebab yang dialami ialah kesn-kesan saja tentanf
   beberapa ciri yang selalu terdapat bersama-sama (misalnya :
   putih,licin, berat, dsb) akan tetapi, atas dasar pengalaman tidak dapat
                                                                              4




      disimpulkan bahwa dibelakang ciri-ciri itu maish ada suatu subtansi
      tetap (misalnya : sehelai kertas yang mempunyai cir-ciri tadi)
   f. Herbert Spenser (1820-1903 M)
      Spencer mengatakan bahwa idea-idea keilmuan pada akhirnya adalah
      penyjian realitas yang tidak dapat dipahami, sehingga menjadi teka-
      teki besar.


2. Rasionalisme
          Rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal
   (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut
   aliran rasionalitas, suatu pengetahuan diperoleh dengn cara berpikir.
          Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman
   rsionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad
   ke-XVIII.
          Rasionalisme     tidak   mengingkari     kegunaan     indra      dalam
   memperoleh pengetahuan. Pengalaman indra digunakan untuk merangsang
   akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja.
   Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak
   didasarkan bahan indra sama sekali.
          Rasionalisme mempunyai kritik terhadap empirisme, bahwa :
   a. Metode empiris tidak memberi kepastian, tetapi hanya sampai pada
      probabilitas yang tinggi
   b. Metode empiris baik dalam sains maupun dalam kehidupan sehari-
      hari, yang biasanya sifat-sifatnya sepotong-potong.
   Adapun tokoh-tokoh dan pendapatnya :
   1. Rene Descrates (1596 – 1650)
               Descrates mengemukakan metode baru, yaitu metode kergu-
      raguan. Jika orang ragu-ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-
      raguan itu, jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu
      tentu ada dan jelas terang benderang. Cogito Ergo Sum (saya berpikir
      mak saya ada)
                                                                         5




           Prinsip-prinsip itu kemudian oleh Descrates, dikenalkan
   dengan istilah substansi, yang tak lain adalah ide bawaan (innate
   ideas) yang sudah ada dalam jiwa sebagai kebenaran yang clear and
   instinct, tidak bisa diragukan lagi. Adat tida ide bawaan yang diajarkan
   Descrates, yaitu : 9a) pemikiran. Saya memahami diri saya sebagai
   makhluk yang berpikir, maka harus diterima juga bahwa pemikiran
   merupakan hakikat saya. (b) Tuhan sebagai wujud yang sama sekali
   sempurna. Karena saya mempunyai ide ’sempurna’, mesti ada sesuatu
   penyebab sempurna untuk ide itu, karena suatu akibat tidak bisa
   melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain dari
   pada Tuhan. (c) Keluasaan. Saya mengerti materi bagai keluasaan atau
   ekstensi (extension), sebagaimana hal itu lukisan dan dipelajari oleh
   ahli-ahli ilmu ukur. Pengakuannya tentang adanya tiga prinsip dasar
   ini, karena ketiganya tidak bisa lagi diragukan ’keberadaan’nya.
2. Spinoza (1632-1677)
           Menerapkan prinsip yang sama seperti Descrates. Namun ia
   hanya mengatakan ada satu substnsi meski ia tidak menyebut bahwa
   substansi itu sebagai tuhan, tetapi ia mengakui bahwa substansi
   bersifat ilahi.
3. Leibnis (1946-1716)
           Ia menyebut substansi dengan ”monade” sebagai principles of
   nature an grace founded on reason. Ia memaknai nomaale dengan
   “The true atom of nature” yang ia maksudkan adalah “pusat-pusat
   kesadaran”. Ia juga mengakui adanya prinsip-prinsip rasional yang
   bersifat apriori dari prinsip rasional inilah ia menyusun pemikiran
   filsafatnya dan yang paling terkenl adalah logika modern (ada dasar
   pikiran yang jika diterapkan secara tepat akan cukup menentukan
   struktur realitas yang mendasar yang telah mengantarkannya untuk
   dijuluki sebagai “Bapak Logika Modern”
           Ilmu alam adalah perwujudan dunia yang tampil matematis.
   Dunia yang terlihat dengan nyata ini hanya dapat dikenal melalui
                                                                            6




       penerapan dasar “pertama pemikiran. Tanpa itu orang tidak dapat
       melakukan penyelidikan dasar ilmiah pandangan ini berkaitan dengan
       estimologi leigniz yang kemudian membedakan.
   4. Jenis pengetahuan
       Pertama, pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran
       enternal (abadi) dalam hal ini, kebenaran logis.
       Kedua, pengetahuan yang didasarkan pada observasi atau pengamatan
       hasilnya disebut “kebenaran kontingen” atau “kebenaran fakta”


3. Kritisme
           Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak
   belakang atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan Kritisme
   (aliran yang kritis)
           Immanuel       Kant   memandang     rasionalisme   dan   empirisme
   senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai
   sumber pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengenalan manusia
   merupakan sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur-unsur aposteriori.
           Dengan kritisme yang diciptakan oleh Immanuel Kant, hubungan
   antara rasio dan pengalaman menjadi harmonis, sehingga pengetahuan
   yang benar bukan hanya apriorinya, tetapi juga aposteriori, bukan hanya
   para rasio, melainkan juga pada hasil indrawi. Immanuel Kant memastikan
   adanya pengetahun yang benar-benr “pasti”, artinya menolak aliran
   skeptisisme yang menyatakan tidak ada pengetahun yang pasti.
           Menurut Juhaya S. Pradja (200: 76) kritisisme adalah gagasan
   Immanuel Kant tentang teori pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul
   pada pikiran Immanuel Kant. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah : (1)
   apa yang dapat saya ketahui ? (2) apa yang harus saya ketahui; (3) apa
   yang boleh saya harapkan.
           Kritisisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
   1. Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan
       bukan pada objek;
                                                                             7




   2. Penegasan tentang keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk
      mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu
      menjangkau gejalanya;
   3. Menjelaskan bahwa pengenlan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas
      perpaduan antara peranan unsur a priori yang berasal dari rasio serta
      berupa ruang dan waktu dari pernana unsur aposteriori yang berasal
      darti pengalaman yang berupa materi.


4. Intuisionalisme
          Intuisionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap
   bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.
   Intuisi termasuk salah satu kegiatan berpikir yang tidak didasarkan pada
   penalaran. Jadi, intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu
   pola berpikir tertentu dan sering bbercampur aduk dengan perasaan.
   Tokoh-tokoh aliran ini adalah Plotinos (205-270) dan Henri Bergson
   (1859-1994)
          Menurut    bergson,    intuisi   merupakan    suatu   sarana   untuk
   mengetahui secara langsung dan seketika unsur utama bagi pengetahuan
   adalah kemungkinan adanya suatu bentuk penghayatan langsung (intuitif),
   disamping pengalaman oleh indra.
          Secara epistimologi, pengetahuan intuitif berasal dari intuisi yang
   diperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai objek lahir
   melainkan mengenai kebenaran dan hakikat suatu obyek.
                                                                                8




B. Epistimologi Islam
   1. Epistimologi Bayani
               Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas
      otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung
      artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung
      mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran, secara tidak langsung berarti
      memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan
      penalaran untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, metode bayani
      menempuh dua jalan. Pertama, berpegang pada redaksi (lafat) teks,
      dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahw dan shaeraf.
      Kedua, berpegang pada makna teks dengan menggunakan logia, penalaran
      atau rasio sebagai sarana analisa.
                            Sketsa Epistemologi Bayani
 Struktur Fundamental                      Epistemologi Bayani
1. Origin (sumber)         Nash/Teks/Wahyu (Otoritas Teks) Al-Akhbar, Al-
                           Ijma’ (Otoritas-Salaf) Al-‘Ilm al-Tauqifi
2. Metode (proses dan Ijtihadiyyah
   prosedur)               Istinbathiyyah/istintajiyyah/istidlaliyyah/qiyas Qiyas
                           (Qiyas al-gahib ‘ala al-syahid)
3. Approach                Lughawiyyah (bahasa), Dalalah lughawiyyah
4. Theoretical             Al-Ashl – al far’, Istinbathiyyah (Pola pikir deduktif
   Framework               yang berpangkal pada teks), Qiyas al-‘llah (Fi-kih),
                           Qiyas al-dalalh (ka-lam), al-Lafdz – al-Makna, ‘Am –
                           khash, Mustrak, Haqiqah, Majaz, Muhkam, Mufassar,
                           Zahir, Khafi, Musykil, Muj-mal, Mutasyabih
5. Fungsi dan peran akal   Akal sebagai pengekang/pengatur hawa nafsu (lihat
                           Lisan al-‘Arab Ibn Man-dzur), Justifikasi – repetitif –
                           taqlidi (pengukuh kebenaran/otoritas teks), al ‘Aql al-
                           Diniy
                                                                                        9




6. Types of Argument        Dialektik     (jadaliyyah);        al-‘Uqul     al-Mutanafisah
                            Defensif – Apologetik – Polemik – Dogmatik.
                            Pengaruh pola logika Stoic (bukan logika Aristoteles)
7. Tolok ukur Validitas Keserupaan / kedekatan antara teks (Nash) dengan
   Keilmuan                 realitas
8. Prinsip-prinsip Dasar    Infishal (discontinue) = Atomistik
                            Tajwiz      (keserba-bolehan        =   tidak    ada   hukum
                            kausalitas,     Muqarabah          (kedekatan,     keserupaan
                            Analogi deduktif, Qiyas)
9. Kelompok      ilmu-ilmu Kalam        (Teologi),     Fikih     (Jurisprudensi)/Fuqaha;
   Pendukung                Ushuliyyun, Nahwu (Grammar), Balaghah
10. Hubungan subjek dan Subjective (Theistic atau Fideistic Subjectivism)
   objek


   2. Epistimologi Irfani
               Pengetahuan irfan tidak didasarkan atas teks seperti Bayani, tetapi
       kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu,
       pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan
       olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan
       melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Pengetahuan irfani
       setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan (1) persiapan, (2) penerimaan,
       (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.
               Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan
       pengetahuan    (kasyf),   seseorang     harus    menempuh          jenjang-jenjang
       kehidupan spiritul. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani,
       mulai dari bawah menuju puncak (1) Taubat, (2) Wara’, menjauhkan diri
       dari segala sesuatu yang subhat, (3) Zuhud, tidak tamak dan tidak
       mengutamakan kehidupan dunia. (4) Faqir, mengosongkan seluruh fikiran
       dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Tuhan
       swt, (5) sabar, menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela, (6)
       Tawakkal, percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya. (7) Ridla,
                                                                              10




      hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya
      gembira dan sukacita.
               Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu
      dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan
      langsung dari Tuhan secara ilmuninatif. Pada ini seseorang akan
      mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf),
      sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat relaitas dirinya sendiri
      (musyahadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran
      dan realitas yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda
      tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga obyek yang diketahui
      tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula
      sebaliknya (ittihad) yang dalam kajian Mehdi Yazdi disebut ’ilmu huduri’
      atau pengetahuan swaobjek (self-objcet-knowledge).
               Ketiga, pengungkapan, yakni pengalaman mistik diinterpretasikan
      dan diungkapakan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun,
      karena pengetahuan irfani bukan masuk tatann konsepsi dan representasi
      tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan
      kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka
      tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.


                            Sketsa Epistemologi Irfani
 Struktur Fundamental                        Epistemologi Irfani
1. Origin (sumber)              Experience
                                Al-Ru’yah al-Mubasyirah
                                Direct experience; al-’ilm al-huduri
                                Preverbal, prelogical knowledge
2. Metode (proses dan           Al-Dzauqiyyah (al-Tajribah al-Bathiniyyah)
   prosedur)                    Al-Riyadlah;    al-Mujadah;   al-Ksyfiyyah;   al-
                                ‘israqiyyah; al-Laduniyyah; Penghayatan batin /
                                tasawuf
                                                                            11




3. Approach                  Psiko-Gnosis; Intuitif, Dzauq (Qalb)
   (Epistemologi)            Al-Laduniyyah
4. Theoretical               Dhahir – Bathin
   Framework                 Tanzil – Ta’wil
                             Nubuwwah – Wilayah
                             Haqiqi – Majazi
5. Fungsi dan peran akal     Partisipatif
                             Al-Hads wa al-Wijdan
                             Bila wasithah; Bila Hijab
6. Types of Argument         ’Athiyyah – Wijdaniyyah
                             Spirituality (esoterik)
7. Tolok ukur Validitas      Universal Reciprocity
   Keilmuan                  Empati
                             Simpati
                             Understanding others
8. Prinsip-prinsip Dasar     Al-Ma’rifah
                             Al-ittihad/al-fana’ (al-Insan yadzubu fi Allah);
                             al-Insan (partikular) yadzubu fi al-nas (universal)
                             Al-Hulul (Allah nafsuhu yagh-zu al-nafs al-
                             insaniyyah fa ya-hulla fuha wa yataha-walu al-
                             insan hina idzin ila kainin jadidin)
9. Kelompok      ilmu-ilmu   Al-Mutashawwifin
   Pendukung                 Ashhab al-Irfan/Ma’rifah (Esoterik)
                             Hermes/’Arifun
10. Hubungan subjek dan      Intersubjective
   objek                     Wihdat al-Wujud; Unity in Difference; Unity in
                             Multi-plicity
                             Ittihd al’Arif wa al-Ma’ruf (lintas Ruang dan
                             Waktu); ittihad al’Aql, al’Aqil wa al-ma’qul
                                                                        12




3. Epsitimologi Burhani
          Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan
   teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani
   menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-
   dalil logika. Perbandingan ketiga epistimologi ini adalah bahwa bayani
   menghasilkan pengetahuan lewat analogi furu’ kepada yang asal; irfani
   menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan,
   burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas
   pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya. Dengan
   demikian sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau
   intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap
   informasi yang masuk lewat indera.
          Selanjutnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhani
   menggunakan aturan silogisme. Aristoteles, penarikan kesimpulan dengan
   silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat, (1) mengetahui latar
   belakang dari penyusunan premis, (2) adanya konsistensi logis antara
   alasan dan kesimpulan, (3) kesimpulan yang diambil harus bersifat pasti
   dan benar, sehingga tidak mungkin menimbulkan kebenaran atau
   kepastian lain.
          Al-Farabi mempersyaratkan bahwa premis-premis burhani harus
   merupakan premis-premis yang benar, primer dan diperlukan. Premis yang
   benar adalah premis yang memberikan keyakinan, meyakinkan. Suatu
   premis bisa dianggap meyakinkan bila memenuhi tiga syarat (1)
   kepercayaan bahwa sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi
   spesifik, (2) kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan
   sesuatu yang lain selain darinya, (3) kepercayaan bahwa kepercayaan
   kedua tidak mungkin sebaliknya. Selain itu, burhani bis juga
   menggunakan sebagian dari jenis-jenis pengetahuan indera, dengan syarat
   bahwa obyek-obyek pengetahuan indera tersebut harus senantiasa sama
   (konstan) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan tidak ada yang
   menyimpulkan sebaliknya.
                                                                                 13




               Derajat di bawah silogisme burhani adalah ”silogisme dialektika”,
      yang banyak dipakai dalam penyusunan konsep teologis. Silogisme
      dialektik adalah bentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang
      hanya bertarap mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan
      seperti dalam silogisme demonstratif. Materi premis silogisme dialektik
      berupa opini-opini yang secara umum diterima (masyhurat), tanpa diuji
      secara rasional. Karena itu, nilai pengetahuan dari silogisme dialektika
      tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari metode silogisme
      demonstratif. Ia berada dibawah pengetahuan demonstratif.
                           Sketsa Epistemologi Burhani
 Struktur Fundamental                        Epistemologi Irfani
1. Origin (sumber)             Realitas / al Waqi’ (alam, sosial, Humnitas
                               Al-‘Ilm al – Husuli
2. Metode (proses dan          Abstraksi (al-maujudah al-bari’ah min al-maddah)
   prosedur)                   Bahtsiyyah    –   Tahliliyyah   –   Tarkibiyyah    –
                               Naqdiyyah (Al Muhakamah al ’Aqliyyah)
3. Approach                    Filosofis – Saintifik
   (Epistemologi)
4. Theoretical                 Al-Tashawwur al-Tashdiq; al-Hadd-Al-Burhan
   Framework                   Premis-Premis Logika (al-Manthiq)
                               Silogisme (2 Premis _ Konklusi)
                                    A=B
                                    B=C
                            Jadi    A=C
                               Tahlil al-’anasir al-asasiyyah li tu’idah bina’ahu bi
                               syakilin yubar rizu ma huwa jauhariyyun fihi
                               Kulli – Juz’i; Jauhar – ’Ardl
5. Fungsi dan peran akal       Heuristik – Analitik – Kritis (al – Mu’a-nah wa al
                               mukabadah wa ialah al-nazi)
                               Idraku al-sabab wa al-musabbab
                                                                                          14




      6. Types of Argument              Demonstratif (Eksploratif, Verifi-katif; Esplanatif);
                                        Pengaruh pola logika Aristotle dan Logika
                                        Keilmuan pada umumnya
      7. Tolok ukur Validitas           Korespondensi (hubungan antara akal dengan
         Keilmuan                       realitas)
                                        Koherensi (konsistensi logik)
                                        Pragmatik (Falibility of knowledge)
      8. Prinsip-Prinsip Dasar          Idraka al-sabab (Nidham al-sababaiyyah al-tsabit)
                                        Al-Hatmiyyah (kepastian; certainty)
                                        Al-Mutbaqah baina al-’aql wa nidzam al-tabi’ah
      9. Kelompok Ilmu-Ilmu             Falasifah (Fakkar/scholars)
         Pendukung                      Ilmuwan (alam, sosial, Huanitas)
      10. Hubungan Subyek dan           Objective (Al-Nadzrah al Maudlu’iyyah)
         Objek                          Objective Rationalism (terpisah antara subjek dan
                                        objek)


                            Perbandingan Epistemologi Islam
                             BAYANI                      IRFANI                  BURHANI
Sumber                   Teks Keagamaan/               Ilham / Intuisi              Rasio
                                 Nash
Metode                  Istinbat dan Istidlal       Kasyf (experience)       Tahlili (analitik) dan
                                                                                  Diskursus
Pendekatan              Linguistik / Dilalat          Psikho-Gnostik                Logika
                          al-Lughawiyah
Tema Sentral               Ashl – Furu’                Zahir – Batin         Essensi – Aksistensi
                          Kata – Makna              Wilayah – Nubuwah          Bahasa – Logika
Validitas Kebenaran       Korespondensi                Intersubjektif             Koherensi
                                                                                 Konsistensi
Pendukung                Kum Teolog, ahli               Kaum Sufi                Para Filosof
                       Fiqh dan ahli Bahasa
                                                                               15




C. Hubungan Epistemologi Barat dengan Epistemologi Islam
          Dalam filsafat Islam banyak kemiripan dengan pandangan orang-orang
   Yunani, terutama Aristoteles, dimana teori-teorinya tentang pembagian filsafat
   diikuti oleh filsuf-filsuf Islam. Bahkan, dikalangan filosof Islam, Filsafat
   mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik, dan falak, yang
   kesemuanya ini sebenarnya tidak lain adalah cabang-cabang Filsafat.
          Diantara contoh-contohnya ialah :
   1. Aliran Pythagoras menerapkan matematika sebagai jalan ke arah ilmu
      filsafat sesuai dengan itu al-Kindi dalam salah satu risalahnya menyatakan
      perlunya matematika untuk filsafat dan pembuatan obat-obatan
   2. Emanasi adalah teori tentang keluarganya suatu wujud yang mumkin
      (alam makhluk) dari dari Zat yang wajib-ul-wujud (Zat yang mesti
      adanya; Tuhan), Teori emanasi           disebut juga dengan nama "teori
      tingkatan wujud'
          Menurut Al-Farabi, Ethan adalah pikiran yaag bukan berupa benda.
      Bagaimana hubungannya dengan alam yang beitipa benda ini? Apakah
      alam keluar daripadanya dalaram proses waktu, ataukah alam itu qadim
      seperti qadim-nya Tuhan juga?
              Persoalan emanasi telah dibahas oleh aliran Neoplatonisme yang
      menggunakan kata-kata simbolis (kiasan) sehingga tidak bisa didapatkan
      hakikatnya     yang    sebenarnya.      Akan     tetapi,   Al-Farabi   dapat
      menguraikannya secara ilmiah, dan ia miengatakan bahwa, segala
      sesuatti keluar dari Tuhan, karena Tuhan mengetahui Zat-Nya dan
      mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang, sebaik-
      baiknya. Jadi ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang
      diketahuinya-Nya. Bagi Tuhan, culmp dengan mengetahui Zat-Nya yang
      menjadi sebab adanya alam, agar alam ini terwujud. Dengan demikian,
      keluarnya alam (makhluk)dari Tuhan terjadi tanpa gerak atau alat, karena
      emanasi adalah pekerjaan akal semata-mata. Akan tetapi, wujud alam
      (makhluk) tersebut tidak memberi kesempurnaan bagi Tuhan, karena
      Tuhan tidak membutahkannya. Alam tersebut tidak merupakan tujuan
      bagi Tuhan dan wujud-Nya pun bukanlah karena lainnya
      Hal itu memang wajar karena pada hakikatnya kemunculan epistemologi
      barat lebih dulu dari pada epistemologi Islam.
                                         BAB III
                                    PENUTUP




a. Dalam epistemologi barat terdapat empat aliran yang menyumbangkan
     alirannya, yaitu Empirisme, rasionalisme, kritisme, dan intuisionisme. Dua
     aliran pertama mempunyai perbedaan yang cukup ekstrim yakni empirisme
     (Pengetahuan bersumber dari pengalaman).
     Sedang aliran yang ketiga berupaya mendamaikan kedua aliran sebelum-Nya.
     Dan aliran yang keempat adalah aliran yang saat ini sedang mencari dukungan
     epistemologis dan juha metodologi untuk satu pengetahuan yang bersumber
     (origin) dari pengalaman (batini)
b.   Tiga epistemologi Islam ini mempunyai ”basis” dan karakter yang berbeda.
     Pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci, irfani pada intuisi sedang
     burhani pada rasio.




                                           16
                                                                       17




                           DAFTAR PUSTAKA




Ali Maksum. 2008. Pengantar Filsafat. Ar-Ruzz Media. Jogjakarta

Atang Abdul Hakim dan Beni A. Soebani. 2008. Filsafat Umum. Pustaka Setia.
     Bandung

Mohammad Muslih. 2004. Filsafat Ilmu. Belukar. Jakarta
      EPISTEMOLOGI BARAT DAN
        EPISTEMOLOGI ISLAM

          Diajukan dalam diskusi Mata Kuliah
                     Filsafat Ilmu




               DOSEN PENGAMPU :

            M. SHOLACHUDDIN, M.Pd.I


                    KELOPOK 8

         LAILATUL IZZAH (2008.1260.20021)
         NAILIS SA’ADAH (2008.1260.20028)


PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA)



  SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH
       TAMBAKBERAS JOMBANG
                2009



                          i
                                               DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL ...................................................................................               i
DAFTAR ISI ..............................................................................................      ii


BAB I           : PENDAHULUAN ................................................................                  1


BAB II          : EPISTEMOLOGI BARAT DAN EPISTEMOLOGI ISLAM .                                                   2
                    A. Epistemologi Barat ..........................................................            2
                         1. Empirisme..................................................................         2
                         2. Rasionalisme .............................................................          4
                         3. Kritisisme ..................................................................       6
                         4. Intuisisme ..................................................................       7
                    B. Epistemologi Islam .........................................................             8
                         1. Bayani........................................................................      8
                         2. Irfani .........................................................................    9
                         3. Burhani .....................................................................      12
                    C. Hubungan Epistemologi Barat dan Epistemologi Islam ...                                  15


BAB III         : PENUTUP ............................................................................         16




DAFTAR PUSTAKA




                                                        ii

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5554
posted:2/7/2011
language:Indonesian
pages:19